Title: Black Pearl
Author: Yuka Yutaka
Genre: YAOI! Fluff dengan sedikit angst
Cast/Couples: Kray and others ^^
Length: 2/6 chapters
Disclaimer: EXO bukan punya saya, tapi cerita ini punya saya, dan Cuma punya saya wkokokk~ hanya FF, tidak dalam kenyataan dan tidak benar-benar terjadi, serta murni dari otak gaje saya. Kesamaan alur, tokoh, judul serta cerita murni sebuah ketidak sengajaan. No copast, no repost, no bashing… sankyuu~ ^^
Pre Summary: "Jaket! Jaket! Astaga! Sabuk! Sepatu! Celanaku! Apa yang kau lakukan padakuuu?!"/"Can I kiss you?"/"Aku tidak mau!" /"Eat, or I'll rape you!"/"Kau baru pertama kali melihat bunga Sakura?"/"Itu terlihat seperti bentuk hati… hm~"/"Sudah sore. Ayo pulang jika tidak mau bangun siang seperti tadi…"
Notes: RCL yaa~~ :Dbb kami butuh saran untuk melanjutkannya.. TwT
BLACK PEARL
Two
The Adventure is Begin
Dua sosok itu berjalan menelusuri jalanan pagi di Tokyo. Jalanan sangat ramai. Mereka terselip di antara rombongan orang yang menyeberangi jalan. Lay berjalan di samping Kris sambil memerhatikan kerumunan orang di sampingnya. Saking terpukaunya dengan pemandangan Tokyo pagi itu, dia sampai tidak sadar kalau Kris berbelok.
"Eh? K-Krissss…. Tunggu!" ucapnya sambil melambai ke arah Kris yang berbalik dengan tampang datarnya.
"Kau ini… makanya focus ke jalanan, jangan mudah terpengaruh… dasar lemot…" omel Kris sambil menggriring Lay di sampingnya. Lay mengerucutkan bibirnya dibilang 'lemot' oleh Kris.
"Kris, kau akan mengantarku sampai rumah kan? Janji?!" tanya Lay menatap Kris yang terdiam beberapa saat.
"…"
"Iya. Aku janji…" Kata Kris akhirnya sambil tersenyum mengusap rambut Lay.
"Ugh! Kau membuat rambutku berantakan Kris!" ucap Lay mempoutkan bibirnya untuk kesekian kalinya memamerkan dimplenya membuat Kris mencubit pipi kanannya itu.
"Aw!"
"Hahahah…"
.
.
.
"Okay. Kita sampai…" ucap Kris berhenti di depan sebuah stasiun di daerah Shibuya.
Lay bersandar pada patung anjing bernama Hachiko yang terpampang di depan stasiun sambil mendesah lega. Kris menghampiri Lay yang menggaruk tengkuknya.
"Lay ke sini!" kata Kris mengayunkan tangannya menyuruh Lay mendekat. Ia menuruti keinginan Kris kemudian berdiri di depannya.
Tiba-tiba Kris mendekatkan kepalanya menunduk ke arah Lay yang melebarkan mata hazel-nya. Apa yang akan dilakukan makhluk berbahaya ini? Pikirnya sambil menutup matanya. Tiba-tiba Lay merasakan sesuatu yang dingin tertempel di lehernya. Kalung? Lay membuka mata menatap Kris yang tersenyum. Ini kali kedua Lay melihat senyum Kris yang sangat manis seperti itu.
"Apa ini?" tanya Lay sok innocent.
"Kalung, bodoh. Kau pikir itu apa?" jawab Kris dingin menghilangkan senyumnya.
Lay meraba kalung berbandul kepala unicorn yang terbuat dari logam itu. Mengkilap terkena sinar matahari. Lay tersenyum lagi memamerkan senyum berdimplenya.
"Terima kasih… btw, kenapa kau memberiku kalung?" tanya Lay menatap Kris yang memasang tampang dingin.
"Gara-gara kemarin kan aku membuang gelangmu, jadi sekarang aku ganti dengan ini. Sudah terima saja!" ucap Kris dingin lagi.
"Ehhh! Tapi ini berbeda sekali!" ucap Lay.
"Sudahlah… -.- terima saja. Dengar ya, kalau sampai kau menghilangkan kalung itu, aku membunuhmu! Itu sangat mahal tau? Dan hanya ada satu di toko kemarin." Ancam Kris sambil mengacungkan jari.
"Iuh… iya deh." Ucap Lay akhirnya.
"Tunggu di sini ya… aku mau cari gerbong kosong untuk kita. Kau tahu kan tiketnya sangat mahal, dan aku sudah kehilangan banyak uang untuk membeli kalung itu…"
'Salah sendiri kenapa juga membelikanku kalung…' batin Lay pundung.
"Dengar, jangan berbicara pada orang asing, apalagi mempercayainya, tunggu sampai aku kembali, mengerti?!"
Lay mengangguk, kadang dia berpikir bagaimana bisa orang kejam seperti Kris bisa berubah menjadi cerewet layaknya Ibu kos meminta bayar. Iuh… Lay memandang punggung Kris menghilang di balik tembok stasiun.
Tanpa dia sadari lagi, dia sedang diintai oleh dua orang bertubuh kontras. Yang satu pendek dan yang satu persis seperti menara eifel. Mereka bersembunyi di balik salah satu gerbong.
"Yeollie, aku punya rencana!" ucap si pendek sambil menyeringai.
"Baekki, astaga! Aku tidak pernah benar-benar berpikir kau akan melakukan hal buruk lagi…" desah seorang namja tinggi bernama Yeollie itu sambil mengusap tengkuknya.
"Kalungnya bagus sekali dan aku yakin harganya pasti sangat mahal. Begini rencananya!" Baekki membisikkan sesuatu ke telinga Yeollie sambil berjinjit karena dia jauh lebih pendek dari Yeollie. Yeollie pun mengangguk tanda setuju.
Lay menendang-nendang batu kerikil di depannya menunggu. Kenapa Kris lama sekali sih? Apa dia mandi dulu di dalam? Iuh~ tiba-tiba, Lay mendengar sesuatu dari balik gerbong tua di depannya.
"Tolong~ tolong aku akan diperkosa(?)" *authorngakak*
Lay yang melihat seseorang yang cantik sedang ditarik-tarik menuju belakang gerbong oleh seorang namja tinggi dengan wajah creeepy mesum yang persis seperti muka Kris pagi tadi. Aih! Lay merasakan pipinya memerah. eh? apa sih?
Lay langsung mendekati dua orang itu menarik lengan orang cantik itu yang ternyata adalah seorang namja. Lelaki tinggi berwajah creepy tadi pun kabur entah ke mana. Lay mengatakan sesuatu bahwa dia akan melaporkannya ke polisi jika dia tidak pergi.
"Ne… arigatou gozaimasu…" ucap pria cantik itu sambil membungkuk.
"Douitashimashite…" ucap Lay tersenyum memamerkan –sekali lagi- dimplenya.
"Ah~ aku sangat berterima kasih kau mau membantuku! Baekhyun desu…" ucap lelaki itu sambil menjulurkan tangannya.
Lay menerima uluran tangan itu, "Yixing desu… tapi teman-teman memanggilku Lay ^^"
"Ah… apa yang bisa aku bantu untukmu? Sepertinya kau kesusahan."
"Aku ingin kembali ke Korea…" jawab Lay dengan nada lesu.
Baekhyun mengamati betul kalung berbandul unicorn itu dengan seksama sambil tersenyum. Lalu muncul sebuah ide gila di kepalanya. Bahwa dia akan membantu Lay kembali ke Korea dengan membelikannya tiket kereta tapi dengan kalung itu sebagai ganti uang untuk membeli tiket. Lay mengangguk setuju kemudian melepas kalung pemberian Kris itu dan memberikannya pada Baekhyun yang cepat berlari ke dalam stasiun.
"Aku akan pulang…" ucap Lay tersenyum tipis.
.
.
.
"CHANYEOOLLLL!" teriak Baekhyun di balik gerbong tua.
"Baekki.. apa yang kau.. astaga kalungnya bagus sekali!" ucap Chanyeol tersenyum sambil mengamati kalung yang bersinar diterpa sinar matahari itu.
"Tentu…" Baekhyun berlari ke arah Chanyeol masih sambil menenteng kalung itu.
'BRUKK!'
'Wiiinggg~~~~'
Baekhyun terjatuh ke tanah menyebabkan kalung itu terlempar jauuuhhh~ sekali. Baekhyun dan Chanyeol menatapnya dengan tatapan miris.
Kris memasukkan tangannya ke dalam saku celananya setelah menemukan satu gerbong kosong di salah satu rel dan bertanya tujuannya ke pelabuhan yang akan berangkat ke Korea besok pagi. Dia kembali ke tempat di mana Lay berada.
"Kris~" panggil Lay pelan.
Kris berdiri di depannya dan mengatakan dia sudah menemukan tempat dan akan mengantar Lay ke sana.
"Aku juga menemukan jalanku untuk pulang." Ucap Lay dengan nada sedikit meninggi.
"Huh? Maksudmu?"
"Aku tadi bertemu dengan seseorang yang akan membantuku mencari tiket dengan-"
"Hey di mana kalungmu?" tanya Kris menyadari bahwa kalung itu tak lagi berada di leher Lay.
"Oh, tadi aku menukarkannya-"
"Ya Tuhan Lay! Berapa kali sudah ku bilang jangan percaya pada orang yang baru dikenal! Kau ini bodoh sekali!" umpat Kris sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Menukarnya dengan apa?" Tanya Kris lagi.
"Tiket!"
Kris menepuk dahinya kesal sambil meringis. Lay menatap Kris dengan perasaan sedikit… well, sedikit bersalah. Kris meletakkan tangannya di pinggang sambil menatap Lay.
"Mana ada stasiun yang menerima kalung sebaga ganti uang?!" kata Kris marah.
"Astaga kau ini bodoh sekali!" umpat Kris mengacak-acak rambutnya lagi.
"Aku kan…."
"Sudahlah! Ayo berangkat…" Kris mengusap rambutnya sendiri kemudian berbalik memunggungi Lay kemudian berjalan duluan.
Lay hendak melangkah saat matanya menangkap sesuatu yang mengkilap di tanah. Lay terkejut kemudian mengambil sesuatu itu.
"Kris! Aku…"
"Sudahlah! Ayo cepat!"
"Hum… ya sudah." Lay pun melangkahkan kakinya menyusul Kris.
.
.
.
Mereka berhenti di depan sebuah kereta yang akan berjalan. Suasananya sepi sekali. Sepertinya itu adalah kereta pengangkut barang selundupan. Terlihat dari beberapa karung beras besar dan kayu-kayu selundupan.
"Itu gerbongnya. Kau akan di antar ke pelabuhan nanti, kalau keretanya berhenti di pelabuhan, kau juga harus turun. Ini…" Kris memberikan beberapa lembar uang yen pada Lay untuk membeli tiket pelabuhan. Setidaknya, itu uang terakhirnya sejak membeli kalung itu.
"Naiklah sekarang!" ucap Kris menyuruh Lay naik.
"Kenapa nadamu itu seperti nada perpisahan?" tanya Lay.
"Karena kita memang akan berpisah." Ucap Kris seraya membantu Lay naik ke gerbong itu.
Lay menatap Kris dengan tatapan kecewanya dari atas. Membuat Kris memalingkan wajah saat Lay berkata.
"Tapi kau sudah janji…" ucapnya lirih sekali tapi masih bisa di dengar oleh Kris.
"Sudahlah… semoga berhasil dimple boy…" kata Kris tersenyum kemudian berbalik memunggungi Lay. Merasakan rasa sesak yang berat di dadanya. Merasakan… sesuatu yang aneh.
"Kris… tapi aku mendapatkan kalungnya kembali…" Lay berkata seraya menunjukkan kalung itu tapi Kris tidak melihatnya.
Kereta bergerak beberapa detik kemudian. Kris mendengar ucapan Lay tadi. Dia senang Lay menemukan kalungnya yang berarti dia akan terus mengingatnya.
"Kris…" kereta mulai bergerak menjauhi stasiun. Kris terdiam mendengar deruan mesin kereta itu.
"Astaga.. Kris jangan bodoh! Jangan berbalik…" kata Kris pada dirinya sendiri saat dirasanya sesuatu yang aneh di dalam dadanya.
"KRISSS!" Teriak Lay dari pintu kereta sambil menangkupkan kedua telapak tangannya yang menenteng kalung itu membuat seruannya makin keras.
"Oh Kris! Jangan berbalik… jangan berbalik! Oke, aku bisa. Jangan berbalik! Argh! JANGAN BERBALIK!" teriak Kris akhirnya kemudian benar-benar berbalik dan berlari ke mana arah kereta itu dengan cepat.
"LAAAAYYYYYYY!" teriak Kris sambil berlari.
Lay yang melihat itu pun tersenyum lebar sambil meneriakkan nama Kris yang kemudian mendekat ke gerbongnya. Lay mengulurkan tangannya.
"Kris! Ayo naik! Kau bisa!" Lay menyemangati temannya sambil berpegangan pada pintu gerbong itu.
Kris berusaha menggapai tangan Lay. Kadang-kadang dia bersyukur memiliki tangan yang panjang.
'GREP!'
"Kris! Ayo naik!" Lay menarik tangan Kris sekuat mungkin sambil bersandar di gerbong. Berpegangan pada pintu gerbong seraya menahan tubuh Kris yang.. astaga berat. =.="
Kris masih berlari saat dirasakannya genggaman tangan mereka melemah. Kris mendongak melihat wajah Lay yang sangat kesakitan. Kris sudah pasrah jika memang harus ditinggalkan oleh his lovely dimple boy.
"Kris~ jangan bodoh! Cepat naik!" suruh Lay tiba-tiba menggigit pergelangan tangan Kris sambil menariknya ke dalam.
"Aw!"
'BRUUUKKK!'
Tubuh Kris menindih tubuh mungil(?) Lay dan bersandar di dinding gerbong. Kris masih menutup mata sambil mencengram tangan Lay erat sekali. Lay merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya. Maksudnya pantat, karena tadi dia menghantam dasar gerbong yang amat keras.
"Kris… kris… hey~" ucap Lay menyadari Kris masih meringis sambil memejamkan mata.
"Kris kau sudah di dalam sekarang." Kata Lay kemudian Kris membuka matanya.
"Eh? Aduh~ tanganku sakit…" kata Kris sambil meringis.
"Iya. Dasar aneh! Dan menyingkir dari tubuhku! Kau itu berat tahu!" kata Lay mendorong pelan dada Kris.
"Iya iya… aku tahu tubuhmu ini…" Kris melirik tubuh Lay dari ujung kaki ke ujung kepala. Lay menatapnya dengan tatapan horror.
"… lebih kecil dari yang aku kira." Ucapnya kemudian mendapat satu jitakan tepat di kepalanya.
"Sialan!"
*To Be Continued*
Summary next chapter: "Xiumin-ge… kapan dia kembali? Di mana dia? Hiks…"/"Cepat susul mereka, ikuti bocah unicorn itu, dan bawa ke sini! Aku benar – benar mengincarnya!"/"Aku memang harus pergi!"/"Hayo~ tadi kau melakukan apa pada kepalaku? Huh? Hmmm~~ bilang saja tidak mau meninggalkan aku, iya kaannn~ ayolah mengaku saja…"/"Kau sudah janji kan Kris…?"/"Aku…"/"Bicaralah dengan normal Oh Bi Hun!"/"Sudahlah berhenti bertanya!"/"Pacarmu Lay?"/"Gottcha!"
A/N: Miaaaaaaaannnnn~ Ffnya tambah gaje tambah gaje~~~ *sobs* tetep RCL ya~ kami butuh saran untuk melanjutkannya :'3
