BLACK PEARL
Yuka Yutaka
.
.
.
Three
Dearest
.
.
.
.
Luhan melangkahkan kakinya mondar mandir di ruang tamu menunggu telepon dari siapapun itu yang menemukan Lay. Pihak keluarga dan manajemen telah mengumumkan ke media yang terus bertanya ke mana sebenarnya Lay berada sekarang ini bahwa dia sedang hiatus beberapa saat setelah album barunya keluar. Menyedihkan…
"Luhan… berhentilah mondar mandir seperti itu. Ayolah… makan dulu." Kata seseorang berpipi tembem pada Luhan yang kemudian terduduk di sofa berwarna putih yang sangat besar.
Orang itu pun ikut terduduk di samping Luhan, menariknya ke dalam pelukan hangat membiarkan Luhan menumpahkan keluhannya. Bahwa dia sangat khawatir pada Lay, dia sangat merindukan Lay, sangat mengharapkan Lay kembali. Hal itu secara tidak langsung membuat luka hati seseorang yang kini memeluknya itu.
"Xiumin-ge… kapan dia kembali? Di mana dia? Hiks…" keluh Luhan lagi sambil menitikkan air mata.
"Dia akan kembali Lulu… percayalah." Ucap namja di sampingnya kemudian mengecup puncak kepala Luhan pelan.
.
.
.
.
"BODOH!" umpat namja bersurai hitam sambil membuang buku dokumennya ke meja.
Ruangan besar itu terlihat lebih besar dengan hanya adanya 4 sosok namja di dalamnya. Ruangan itu remang karena hanya diterangi 4 lampu yang memang di design minimalis. Berlapis kaca-kaca bening super besar menampakkan sinar rembulan membuat wajah 4 pemuda itu sedikit terterangi.
"Sudahlah Tao…" ucap namja lain berambut cepak yang juga bersurai hitam.
Dua orang di depannya hanya menunduk. Takut oleh kekejaman bos mereka. Bisa-bisa mereka ditendang ke luar angkasa nantinya.
"Menurut alat, posisi mereka ada di mana sekarang?" tanya Chen tenang.
Pria berkulit gelap itu menjawab, "Um.. mereka.. ada di daerah Shibuya sekarang..".
"Cepat susul mereka, ikuti bocah unicorn itu, dan bawa ke sini! Aku benar – benar mengincarnya!" ucap Tao dengan tegas. Mereka berdua mengangguk dan segera pergi.
.
.
.
.
Dini hari. Bintang-bintang bertaburan layaknya biji wijen di atas onde-onde gosong(?) *abaikan tolong*. Sinar rembulan yang memantulkan cahaya matahari yang tadi terik pun menyinari dua sosok yang tengah terduduk dengan mata terpejam. Lay menjadikan lengan kokoh Kris sebagai sandaran kepalanya. Sedang Kris masih terjaga dengan sesekali melirik lelaki 20 tahun di sampingnya itu. Menyandarkan dagunya ke kepala Lay membuat Kris mampu menghirup harum segar rambut coklat Lay. Membuatnya mengecup pucuk kepala Lay sambil memejamkan matanya.
"Oke dimple boy… waktunya untuk berpisah…" bisik Kris sangat pelan di telinga Lay sambil melekatkan bibirnya di perpotongan leher Lay.
"Bila suatu saat nanti, kau sudah bahagia… ingat aku ya?" bisiknya lagi.
Mendorong pelan kepala Lay ke tumpukan gandum yang sekiranya empuk, Kris mulai melangkah ke tepi gerbong yang terbuka dan berdiri di batasnya. Kris berpegangan pada lubang besar bernama pintu membiarkan angin dingin menusuk kulit dan tulangnya. Apa dia harus melakukan ini? Kris mendesah pelan sebelum menggelengkan kepalanya. Tapi… dia sudah janji.
Dia harus melakukan ini.
Jika memang ini yang terbaik untuk mereka, akan dia terima semua itu demi cinta*ceileh*. Tunggu! Cinta? Cinta katanya? Sejak kapan seorang Wu Yi Fan percaya akan adanya cinta? Sejak kapan dia bisa luluh dan tertawa seperti hari kemarin? Hanya karena pria berdimple manis yang tengah terlelap di belakangnya itu… yang baru dia kenal 60 jam yang lalu itu?
"Oke… aku harus bisa… ayo Kris… tinggalkan dia… tapi…" Kris memegang kaki kanannya pelan sambil menatapnya dalam.
"Aku memang harus pergi!" ucap Kris kemudian bersiap melompat dari atas gerbong.
'BRUUK..' tubuh Kris benar-benar jatuh jauh dari pintu gerbong itu sekarang. Setidaknya, kereta tua itu hendak sampai di pelabuhan.
"Good luck dimple boy~" ucapnya sekali lagi sambil berusaha berdiri.
"KREEEAASSEEEE! AWAAAASSS!"
'BRUUUUKKKKK!'
"Ya Tuhan! Punggungku…" desah Kris merasakan beban berat menimpa punggungnya. Dia kembali tersungkur saat mendengar suara yang amat familiar di telinganya berkumandang.
"Kau lihat itu Kris? Aku… aku melompat Kris! Keren~ aku akan memamerkannya pada Xiu-"
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kris sangat dingin. Bersandar pada kedua lengannya menghadap Lay.
Lay terdiam melihat Kris menatapnya dengan tatapan yang… belum pernah dia lihat sebelumnya. Sesaat kemudian Lay tersenyum dengan dimplenya. Lay mencolek pipi Kris pelan.
"Hayo~ tadi kau melakukan apa pada kepalaku? Huh? Hmmm~~ bilang saja tidak mau meninggalkan aku, iya kaannn~ ayolah mengaku saja…" goda Lay sambil mencolek-colek bahu Kris pelan.
'Buukk!' Kris menjitak kepala Lay pelan membuat pemiliknya meringis sakit.
Kris menyembunyikan wajahnya yang entah sudah seperti tomat keburu busuk(?) saking merahnya *ploks! . Kris mendengus kesal melihat Lay masih memegangi kepalanya.
"Kau ini kepedean sekali sih?!" umpatnya masih dengan pipi memerah.
Kris agak terdiam melihat Lay yang kini duduk bersila sambil memainkan jari-jarinya. Menunduk, sambil menggumamkan sesuatu yang tidak dapat di cerna oleh indra pendengaran Kris.
"Kau tadi… mau meninggalkanku kan?" Tanya Lay akhirnya sambil menggerak-gerakkan pipinya.
"…"
Kris diam.
Itu benar. Memang benar. Tapi apa dia memang salah jika meninggalkan Lay sendirian? Kris masih diam saat Lay menatapnya dengan wajah innocent-nya.
"Kau sudah janji kan Kris…?" katanya.
Kris berusaha mati-matian untuk tidak menatap mata itu. Untuk tidak membiarkan dirinya larut dalam diri lelaki di depannya itu, sekali lagi. Kris mengangkat tangannya menyentuh surai coklat di kepala Lay. Mengikuti helai rambut lurus itu dari ujung kepalanya hingga ke dasar. Tangannya menurun menyentuh pipi putih susu Lay. Membelainya pelan menatap pemiliknya sambil tersenyum. Menarik dagu Lay perlahan mendekatinya. Mempersempit jarak di antara mereka.
Angin pagi menyambut dengan usilnya. Langit masih sangat gelap. Membelai rambut dua sosok namja yang kini saling berdekatan itu. Nafas hangat Kris menyapu permukaan kulit Lay yang tinggal beberapa mili lagi untuk bersatu dengan bibir Kris. Kris menutup matanya, ingin mengulangi hal yang gagal Ia lakukan kemarin pagi.
"Kris…" desah Lay pelan membuat Kris membuka matanya.
"Hm?"
"Aku…"
"Ya?" Tanya Kris masih menahan dagu Lay membuat bibir mereka hampir bersentuhan.
"Aku lapar."
'GUBRAAAAKK!' Kris menjatuhkan kepalanya ke belakang membuat Lay menatapnya bingung.
"Kenapa?"
"Kenapa kau tidak bisa di ajak serius sih Laaayyy?" Tanya Kris dengan tatapan deathglare.
'Buk'
"Aw! Kris sakit.. TwT"
.
.
.
.
Dua sosok namja berkulit kontras tampak mengendap-endap di balik tumpukan daging sapi yang akan diimport ke Korea. Mereka sudah ganti mobil agar Lay tidak tahu kalau di pelabuhan ada mereka. Oh Se Hoon memakai mantel hitamnya saat Kim Jong In mengeratkan topinya. Tangan mereka masing-masing membawa alat berbentuk seperti handphone. Alat pendeteksi.
"Mereka thudah ada di thini…" ucap Sehun pada Kai yang menatapnya datar.
"Oh Se Hoon. Berhenti melakukan hal konyol dan mencadelkan bicaramu itu!" perintah Kai.
Sehun mengerucutkan bibirnya, "Ya Kai-ah! Aku tidak bitha!"
"Bicaralah dengan normal Oh Bi Hun!" ucap Kai meledek sambil menjulurkan lidahnya.
'BUK!' terdengar suara jitakan tepat di kepala Kai.
"YA! NAMAKU OH SE HOON!" bentak Sehun.
"Lho~~ itu kau bisa mengucapkan S…" pergok Kai.
"Itu contoh!" ucap Sehun kesal.
Kai à =.="
Jauh dari tempat mereka mengendap, ada sebuah restoran. Restoran itu hampir seperti restoran kebanyakan. Hanya mungkin design yang masih tradisional dan harga yang paling miring di antara semuanya. Mengingat bahwa Kris punya alasan 'aku-menghabiskan-banyak-uang-hanya-untuk-membeli- kalung-itu'-nya. Lay mencapit potongan yakiniku dengan sumpit-nya lalu memasukkannya ke mulut.
"Heh… kalau makan pelan-pelan Lay!" suruh Kris mengambil tissue.
"Usap sendiri!" suruh Kris lagi.
Lay mempoutkan bibirnya. Menerima uluran tissue itu lalu mengusap tepi bibirnya. Menyebalkan sekali. Dia memandang Kris dengan tampang datar. Kris membalas tatapannya tak kalah datar.
"Apa?" Tanya Lay dingin.
"Bukankah aku yang harusnya bertanya apa?" balas Kris.
"Kenapa kau selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?"
"Sudahlah berhenti bertanya!"
"Memang kenapa? Masalah buat lo?" tantang Lay.
"Stop Lay.. stop! God…" Kris meletakkan sumpitnya lalu menepuk pelan dahinya. Kris mengatakan bahwa kapal akan melaju setengah jam lagi dan mereka harus cepat.
Lay mengikuti Kris keluar dari resto setelah membayar kemudian melangkah ke mana kapal mereka berada.
"Yeollie! Berhentilah berbicara tidak jelas. Aku muak denganmu!" Baekhyun membuang tangannya ke udara seraya mengacak-acak rambutnya.
"Tapi Baekkie~ bagaimana kalau polisi menemukan kita? Bagaimana kalau kita dipenjara? Aku tidak mau… bla.. bla… bla…" Chanyeol menjelaskan sambil mengayunkan tangannya ke udara seraya mengikuti Baekhyun dari belakang.
Mereka masih melangkah saat tiba-tiba Baekhyun menahan laju Chanyeol yang tidak jauh beda dengan kereta Shinkansen. Baekhyun mengamati betul pandangannya. Tidak blur. Benar-benar namja manis itu, pikirnya melihat sosok Lay berjalan di belakang namja bertubuh sangat tinggi bahkan melebihi Chanyeol.
"Unicorn…" desah Baekhyun pelan.
"Ha? Byun Baek Hyun, kau tidak sedang bermimpi kan? Ini bukan Poni Tail. Please deh!' ucap Chanyeol menepuk dahinya sendiri.
"Bukan pabo! Itu anak unicorn yang kemarin aku incar~" ucap Baekhyun memukul kepala Chanyeol pelan.
"Oh…"
Mata hazel Lay mengarah pada 2 sosok namja yang tengah berdiri jauh di samping mereka. Lay menerjabkan matanya. Oh, benar itu namja yang nyaris diperkosa(?) kemarin. Tunggu! Bukannya dia… kenapa dengan namja creepy yang akan memperkosanya itu?
"Baekkkiiiiieee!" teriak Lay melambaikan tangannya sambil berlari ke arah mereka.
"Lay!" panggil Kris melihat Lay yang berlari menjauhinya.
"*gasp* Yeollie~ dia ke sini!" ucap Baekhyun panic.
Lay akhirnya sampai di depan mereka. Mejabat tangan Baekhyun lalu bertanya kenapa mereka bisa bersama. Baekhyun menjawab bahwa mereka sudah saling memaafkan dan sekarang mereka adalah pasangan kekasih.
"Ah~ kalian ini! Eh.. semoga langgeng ya…" ucap Lay tersenyum menepuk bahu Chanyeol dan Baekhyun dengan kedua tangannya.
Kris berhenti berlari di samping Lay, kemudian sedikit mengomel karena Lay meninggalkannya tanpa pamit membuat ChanBaek tertawa.
"Pacarmu Lay?" Tanya Chanyeol dan membuat Lay dan Kris membulatkan matanya.
"Ha? Dia? Pacarku? No no no…" kata Lay mengacungkan jari telunjuknya kemudian mengayunkannya ke kanan kiri.
Kris men-deathglare-nya. Kemudian Lay mengatakan bahwa Baekhyun yang akan membelikannya tiket di stasiun waktu itu. Memang dasar Lay lemottt! Bagaimana mungkin dia beramah tamah dengan orang yang sudah menipunya?
Kris menepuk dahinya kemudian menatap Baekhyun dan Chanyeol yang sudah lari terbirit-birit entah kemana.
"Kris… mereka menghilang." Ucap Lay innocent membuat Kris menjambak poni Lay.
"Aw!" erangnya memegangi kepalanya. Aish! Memang Kris kejam!
"Sudah! Ayo ke kapal kalau tidak mau ketinggalan!" ucap Kris memegang Lay tepat di pergelangan tangannya kemudian mennggiringnya ke kapal.
Kai dan Sehun mengintai dua orang itu dari kejauhan. Sepertinya mereka akan naik di kapal yang sama. Dan benar. Sehun dan Kai menyeringai.
"Gottcha!"
.
.
.
.
.
.
V
*To Be Continued*
Mind to review guys? :D
