BLACK PEARL

.

.

Yuka Yutaka and Near Kouyuu

.

.

.

Four

.

.

Life is Like a Boat

.

.

.

.

.

.

Kris mendesah. Sekali lagi menghembuskan nafas lelah dari sepasang bibir pulm-nya. Menatap hamparan benda cair bernama air yang kini mewarnai pemandangan matanya. Angin samudra yang berhembus kecil membelai pipinya. Merusak tatanan rambutnya yang sudah setengah jam dia tata tadi.

Korea.

Negara yang akan dia tuju selanjutnya. Negara gingseng itu… mengingatkannya akan sesuatu. Kris memegang kaki kanannya, melirik setiap inch dari kaki jenjangnya. Kaki ini…

"Ugh… Kris kau tidak tidur?" sebuah seruan familiar membuat Kris menoleh ke arah namja berlesung pipi itu.

Lay menggaruk tengkuknya sambil berjalan mendekati Kris yang berdiri di pembatas kapal. Lay kemudian ikut menyandarkan tangannya ke pagar pembatas sambil menatap lautan yang berdesir pelan. Merasakan angin malam menyeruak di permukaan kulitnya.

"Kau sendiri kenapa tidak tidur?" Kris balik bertanya kemudian kembali menatap lautan.

"Aku tidak bisa tidur." Jawab Lay singkat.

Kris mengangguk tanda mengerti. Tiba-tiba, Kris merasakan rasa ngilu dan nyeri yang hebat di kaki kanannya. Membuatnya sedikit mengernyit kesakitan. Lay yang menyadari itu pun langsung bertanya kenapa, dan bagaimana keadaan Kris.

"Kenapa sepertinya kau khawatir sekali padaku?" Tanya Kris dengan suara mid-low-nya membuat Lay terkejut.

Lay menatap Kris, "Memang kenapa? Tidak boleh? Apa bukan kau yang mengkhawatirkan aku sampai tidak mau meninggalkan aku? Keke~" goda Lay mencolek-colek bahu Kris.

"Hentikan itu Lay!" suruh Kris berusaha garang tapi justru terdengar aneh.

"Cepat katakan, atau aku akan membunuhmu! Hahaha!" canda Lay membuat Kris menjitak kepalanya.

"Aw! Kenapa kau hobi sekali sih menjitak kepalaku? Kau suka?" Tanya Lay sambil memegangi kepalanya. Entah sudah keberapa kalinya Kris menjitaknya seperti itu. Memangnya tidak sakit apa?

"Dasar narsis(?) tingkat dewa(?)…" rutuk Kris.

Lay berhenti mengeluh kemudian bertanya kembali.

"Hey kau belum jawab. Kenapa?"

"Heeh… aku ini, dulu polisi." Kata Kris dengan nada serius.

"HA? POLISI? Manusia super dingin tapi pervert sepertimu ini polisi? Astaga!"

"SIALAN!"

"Oke, lanjutkan!" perintah Lay dan dibalas dengan dengusan kesal Kris.

"Waktu itu, aku sedang menjalankan tugas sebuah perampokan di Seoul… lalu…"

*Flashback*

Rintik hujan melanda Seoul malam itu. Setiap detik. Setiap menit. Setiap saat mengiringi rintik hujan yang makin deras itu. Makin menggila. Makin dingin. Sebuah operasi kepolisian berlangsung di sebuah bar. Penggerebekan itu dilakukan atas dasar laporan beberapa warga yang merasa terganggu dengan adanya beberapa mafia dari Hongkong yang pindah ke Korea.

"Kita lakukan sekarang Kris!" ucap namja berwajah angelic bername tag Kim Su Ho itu pada Kris yang tengah bersandar pada dinding luar bar tersebut.

Kris mengangguk kemudian melangkah maju mendobrak pintu belakang bar yang diiringi oelh teriakan dan hysteria para pengunjung saat itu. Kris dan Suho menyodorkan pistol sambil menyuruh semua orang di sana angkat tangan. Semua mafia itu masih saja berhamburan keluar. Suho menangkap seorang mafia yang berhasil kabur kemudian menahannya dengan kedua tangan.

"Kris! Kejar yang satunya lagi!" suruhnya sambil memborgol mafia itu.

"Yang di sini biar kami yang atasi!" ucap polisi lain dan Kris mengangguk.

Kris berlari menembus hujan yang makin deras demi mencari sosok buronan itu. Dia terus berlari mengerjar buronan yang makin berlari kencang sampai di jalan raya. Silau sebuah cahaya menyeruak matanya sebelum semua pandangannya menjadi gelap.

"KRIS!" teriak Suho.

*Flashback END*

"Aku koma lalu diberhentikan dari kepolisisan sejak itu. Puas?" Tanya Kris mengakhiri ceritanya menatap Lay yang menatapnya dengan jawdrop.

"WOW…." Ucap Lay kemudian sambil menyentuh dahinya sendiri tidak percaya bahwa Kris punya masa lalu yang keren seperti itu.

"Apanya yang WOW?!" teriak Kris gemes melihat tingkah bodoh Lay.

"hehh… jadi polisi itu cita-citaku sejak SD. Dan sekarang… aku menghancurkannya." Kata Kris menghela nafas sambil menatap lautan lagi.

Lay terdiam mendengar itu kemudian menepuk bahu Kris pelan, "Kau tidak menghancurkannya. Kau baru saja memulainya." Kata Lay.

"Memulainya?" Tanya Kris mengalihkan pandangannya pada Lay yang tersenyum. Kali ini bukan senyum jahil seperti biasanya.

Lay menatap Kris, "Memulai untuk memahami arti hidup sebenarnya. Jadi, ayo Kris Semangat neeee~~" ucapnya kemudian mengepalkan tangan ke udara. Kris tersenyum.

Memulai untuk memahami arti hidup sebenarnya.

"Terima kasih ya anak aneh…" ucap Kris tertawa melihat Lay yang mengerucutkan bibirnya dibilang aneh.

"Sudah ayo tidur!" kata Lay masuk kembali ke kapal diiringi tawa renyah Kris.

..

.

.

Kai merebahkan tubuh besarnya di kasur ukuran king size itu. Nyamanya~ memang enaknya kalau jadi anak buah Chen dan Tao itu, difasilitasi. Kai terkekeh sedikit kemudian mengalihkan pandangannya pada Sehun yang sedang mengeringkan rambutnya.

"Kai. Thepertinya mereka belum tidur." Ucap Sehun tiba-tiba sambil menatap Kai yang kemudian terduduk.

"Bagaimana kau tahu?"

"Lihat alat pendetekthi ini teruth thaja bergerak. Berarti mereka mathih bangun. Eh.. thekarang thudah berhenti." Kata Sehun panjang kali lebar sama dengan luas kemudian melihat Kai yang sudah merem melek gara-gara kantuk.

"Kai aku mau pulang." Ucap Sehun kemudian.

"Ha? Dasar… tugas kita itu untuk menculik anak unicorn itu sampai Boss menemukan mutiara hitamnya. Malah mau pulang…." Kata Kai kemudian menjatuhkan dirinya di kasur lagi.

"Tapi… tapi … aku kaaannn…"

"Sudahlah Sehun… separuh jiwaku sudah pergi ini…" omel Kai.

Sehun kemudian menyilangkan jarinya dan mulai bernyanyi, "Benar ku mencintaimu tapi tak beginiiii~~~~" ucap Sehun dan sukses mendapat satu jitakan tepat di kepalanya.

"Aw!"

..

.

.

Luhan langsung berdiri begitu mendengar dering telepon. Jantungnya berdegup sangat kencang saat menjawab telepon. Matanya melebar mengetahui itu dari sebuah perusahaan kapal. Dia menutup mulutnya yang menganga sambil menitikkan air mata.

"Terima kasih… kami benar-benar berterima kasih…!" ucap Luhan kemudian memeluk Xiumin erat yang sedari tadi di sampingnya.

Xiumin mengelus punggung Luhan pelan. Merasakan cengkraman Luhan yang mengerat di punggungnya. Merasakan air mata Luhan yang tumpah di kaosnya. Menyandarkan orang yang dicintainya itu di dadanya. Menghapus luka hatinya.

"Dia pulang Xiu-ge… Lay pulang hiks…" ucap Luhan tidak jelas tapi Xiumin masih bisa mendengarnya.

"Dia pasti pulang kan Lu…"

Luhan menangguk kemudian mendongak dan menarik kepala Xiumin mendekat padanya. Menyatukan dua pasang bibir itu dalam satu ciuman panjang. Manis. Tanpa desahan. Hanya cinta.

"Gomawo Xiu-ge…" bisik Luhan sangat pelan di sela ciuman mereka.

Xiumin tersenyum.

Untukmu… cintaku.

..

.

.

Tanah Seoul menyambut mereka pagi itu. Kerumunan orang keluar dari benda besar bernama kapal laut. Begitu pula Lay dan Kris. Mereka berdua berjalan keluar. Tangan saling bertaut.

"Kris. Aku lapar…" rengek Lay.

Kris mendesah, "Hehh Lay Lay. Aku hanya punya uang untuk kita pulang. Tapi asal kalau sudah sampai di rumahmu, aku harus kau gaji!" ucap Kris.

Lay mengangguk sambil tersenyum.

"KYAA! Itu kan Lay-ssi…" ucap salah seorang yeoja.

"Iya itu dia~ wah dia sudah kembali!"

"Iyaa… Lay-ssi…"

Tiba-tiba Kris merasa risih karena beberapa yeoja juga namja saling berdesakan di antara dia dan Lay. Lay hanya tersenyum.

"Lay-ssi… bolehkan aku minta tanda tangan?"

Tanda tangan? Kris menggaruk pelan tengkuknya.

"Aku minta foto donk…"

Foto? Kris semakin bingung.

"Selamat datang kembali Lay-ssi~~ kami mendukungmu!"

"Ya!"

"Ne… gomawo chingudeul…" dan bersamaan dengan kata-kata itu, para kerumunan itu pun pergi meninggalkan KrisLay.

Kris mengedip-edipkan matanya sambil melongo. Apa mungkin pria di sampingnya ini…

"Lay… kau artis?" Tanya Kris setelah menelan ludahnya dengan berat.

Lay menatapnya, "Ya… dan kau tidak tahu Kris? Astaga aku kadang berpikir betapa katroknya dirimu itu."

"Ya! Sialan mengataiku katrok. Sudah, aku belikan makanan dulu.. jangan ke mana-mana!" kata Kris dan Lay mengangguk.

Melihat itu semua, Kai dan Sehun pun beraksi. Keluar dari tempat persembunyian mereka di balik tumpukan beras. Dengan langkah sigap, mereka menutup mata Lay membuat Lay meronta. Sehun dan Kai pun langsung menarik Lay ke suatu tempat tersembunyi supaya tidak diketahui orang-orang. Mereka kemudian mengikat dan menutup mata Lay lalu memasukkannya ke dalam mobil van mereka.

"Kai, let's roll like a buffalo!" ucap Sehun memberi aba-aba Kai untuk berangkat.

"Goes back with news 'cause we got no time.." balas Kai kemudian melaju ke tujuan mereka.

..

.

.

Dua orang sejoli keluar mengendap-endap dari belakang balkon kapal. Mengendap dari balik tumpukan gandum kemudian mengadaptasikan diri dengan cahaya yang masuk. Korea.

"Ugh! Silau men!" ucap namja berambut acak-acakan.

"Iuh iuh~ Chanyeol kamu tuh KAMSEUPIL…" ucap Baekhyun dengan nada di alay-alaykan.

"Apa itu?" ucap namja bernama Chanyeol itu sambil memasang tampang bloonnya.

"Iuh iuh~ udah ah… sekarang, kita musti- weett! Itu anak unicorn yang kemarin! Wah~ mau ke mana tuh?" kata Bakehyun melihat Lay yang diikat kemudian dimasukkan dalam mobil.

"EXO-1578… plat mobil aneh." Baca Chanyeol.

"Yeollie~ aku marasakan firasat baik. Ayo pergi dari sini!" suruh Bakehyun dan mereka pun menghilang dari pelabuhan.

..

.

.

"Lay, ini mak-" perkataan Kris terpotong setelah menyadari orang yang menunggunya menghilang.

Kris memanggil-manggil nama Lay di pelabuhan yang nyaris sepi itu. Mengedarkan pandangannya hanya untuk mencari sosok itu. Nihil!

Kris menghela nafas berat. Lay… ke mana orang itu? Lebih dari keinginan mengantarnya pulang, lebih dari itu Kris ingin bersamanya. Melindunginya. Tapi…

"Lay…" kata Kris menajamkan pandangannya ke bawah, mendapati sesuatu.

Kris mengambil benda kotak bercasing hitam itu kemudian menatap layarnya. Sekarang, yang dia butuhkan hanya polisi, dan dia bisa menemukan Lay.

"Lay… tunggu aku."

.

.

.

.

.

*To Be Continued*

Summary next chapter: "Tempat asik, dan kau pasti suka Tuan Zhang Yi Xing…"/"Suho?"/"Zhang Yi Xing. Hmph! Bulshit!"/"Hiks… ini semua salahku Xiu-ge…"/"EXO 1578…"/"Cukup Tao! Aku tidak ingin dia mati. Cukup sekarat saja. Sekarang, kita harus mempersiapkan mutiara hitam yang sudah berhasil kita ambil dari anak ini untuk dikirim ke Amerika."/"Luhan?"/"Lay punya masalah dengan pembekuan darah, dan lukanya tadi benar-benar parah."

A/N: MIAN~ Cuma dikit *hard bows* idenya baru nyempil segitu :'( #aLAY but Review yaaaa~~~~