BLACK PEARL
Yuka Yutaka and Near Kouyuu
.
.
.
.
Five
Run and Gun
.
.
.
"ohneureun doo gaeui dari doo-doo gae go gaeui dari ohneureun doo gaeui doo gaeui da-da-da-dari ddeu-ddeuneun bam… Two moons, two moons, two moon two moon two moons (exo) tteona oneul bame (exo) tteona oneul bame (exo) two moons, two moons, two moon two moon two moons"
Seruan dua orang itu masuk ke gendang telinganya. Sosok itu mengerucutkan bibirnya begitu melihat dua orang itu tertawa-tawa sambil melakukan hal gila seperti nge-rap bersama, sampai dance poco-poco(?) bersama. Lay mendengus kesal.
Sudah jam berapa ini? Pikirnya mengamati bangunan-bangunan pencakar langit memenuhi pandangannya. Langit mulai memerah.
"Sebenarnya kalian ini mau membawaku ke mana sih?" tanya Lay akhirnya setelah dua orang itu berhenti bersikap konyol.
"Ke thuatu tempat…" jawab namja berkulit putih sambil menyeringai.
"Tempat apa?"
"Tempat asik, dan kau pasti suka Tuan Zhang Yi Xing…" balas Kai sambil menyeringai juga diiringi tawa aneh Sehun.
"Bagaimana kalian tahu namaku?"
"Kami bukan orang bodoh. Kami menculik cucu dari seorang konglomerat se-China. Hahaha!" Kai masih tertawa saat mereka mulai memasuki komplek yang sepi. Sebuah bangunan berdiri megah, tapi bagi Lay, itu sangat menakutkan.
'Kris… aku takut…' batin Lay sambil menatap kalung di lehernya.
.
.
.
.
Kris berlari lagi dari tempat itu. Berlari untuk menuju kantor Polisi. Semoga kantornya tidak pindah. Kris akhirnya sampai di sebuah tempat. Kris memberanikan diri memasukinya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya seorang namja manis bergigi kelinci, yeah setidaknya itu dipikiran Kris.
"Ya,seorang-temanku-diculik-dan-sekarang-aku-tidak -tahu-dimana-dia-dan-aku-harus-mencarinya-karena-a ku-sudah-janji-padanya,-aku-harus-menemukannya-aku -butuh-bantuan-kalian-aku-mohon…." Ucap Kris begitu cepatnya hingga membuat orang didepannya itu sedikit kebingungan.
"Ah… tenang Tuan. Kami akan berusaha menemukannya. Kira-kira bagaimana ciri-cirinya?"
Kris mulai menceritakan dari pakaian yang Lay pakai sampai kebiasaan buruk Lay yang suka melongo kalau lagi dilanda lemot. Kris mengakhirinya dengan desahan lesu.
"Baik tunggu di sini Tuan. Saya akan kembali bersama Letnan Kim Su Ho…" jawab pria bername tag Lee Sung Min itu sambil masuk ke dalam.
Kim… Su Ho?
Kris menautkan kedua alisnya mendengar nama yang sudah 5 tahun tak ditemuinya. Tak lama kemudian kedua bola matanya tertuju pada sesosok namja putih yang juga terkejut melihatnya. Pemuda 21 tahun itu melihat Kris dengan kaget.
"K-Kris?"
"Suho?"
.
.
.
.
"HYAAA! Kau di mana sih Kris? Dasar naga bau jelek! Kalau sedang dibutuhkan kenapa tidak dataaannngg?" teriak Lay.
Saat itu dia tengah diikat di sebuah kursi di tengah ruangan gelap. Suaranya menggema. Ruangan luas itu kosong tak berpenghuni. Setelah ditinggal 2 orang aneh itu dia diikat dan biarkan sendiri.
Kemudian ekor matanya bergerak melirik ke kiri mendapati 2 sosok berjas hitam melangkah masuk dan mendekatinya. Seseorang dengan surai hitam acak-acakan mendekatinya kemudian berhenti tepat di depannya. Menunduk hanya untuk melihat wajah Lay secara detil.
"Zhang Yi Xing. Hmph! Bulshit!" ucap namja itu sambil mengamati wajah Lay yang menatapnya dengan tatapan setajam silet(?).
Namja lain yang juga bersurai hitam mulai mendekatinya lalu berdiri di samping namja yang lain. Namja itu kemudian berjongkok di depan Lay hanya untuk menepuk-nepuk ringan pipi Lay.
"Ya! Huang Zhi Tao, Kim Jong Dae apa yang kalian inginkan? Apa tidak cukup perusahaan kakek memberi kalian 3 mutiara hitam sekaligus? Kalian sama saja dengan kakek kalian!" umpat Lay dan sukses membuat Tao memandangnya jijik.
"Kau pun sama saja dengan kakekmu Xing!" ucap namja bernama Kim Jong Dae itu sambil tersenyum tipis.
"Sekarang di mana mutiara hitam yang kau miliki?" tanya Tao berusaha sabar.
"Memangnya untuk apa?" tanya Lay tak kalah sinis.
"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" tanya Chen sambil mencolek-colek pipi Lay pelan.
"give the Ba to the Nget, BANGET!" ucap Lay akhirnya. *authorsarap*
"No No No! tidak secepat itu kau akan mengetahuinya, sekarang katakan pada kami dimana mutiaranya?" dan bersamaan dengan perkataan Chen tadi guyuran hujan tiba-tiba turun melanda Seoul dan sambaran petir tercetak jelas di pandangan Lay.
Hening.
Hanya ada gunturan halilintar yang terus saja menderu seiring berjalannya waktu. Mereka bertiga beradu tatap untuk waktu yang sangat lama.
"Aku hanya membawa satu." Ucap Lay dusta.
"Katakan di mana yang lainnya!" bentak Tao lagi dan guyuran hujan semakin deras seolah ikut menghakimi Lay.
"Aku…"
.
.
.
.
Mobil polisi itu terus saja menyusuri jalanan Seoul. Rasa dingin yang masuk melalui celah jendela tak menyurutkan niatan Kris yang saat ini tengah mengemudi bersama Suho. Mereka sudah menghubungi keluarga Lay yang juga keluarga kekasih Suho yang kini ikut mengikuti mobil itu.
"Bagaimana menurut alat itu?" tanya Suho yang tengah mengemudi pada Kris yang masih memegang alat pendeteksi itu.
"Ke arah utara." Jawab Kris singkat.
Mereka pun melaju ke arah utara menurut alat pendeteksi itu. Kris merasakan jantungnya berdegup lebih kencang setiap saat dia ingat dengan Lay. Orang yang baru dikenalnya 4 hari itu memberikannya sesuatu yang aneh. Apa mungkin…
"Tunggulah sebentar lagi Lay… aku pasti datang…" ucap Kris nyaris berbisik memandang hamparan jalan yang kini basah akan hujan.
.
.
.
.
"Hiks… ini semua salahku Xiu-ge…" ucap Luhan masih menangis di pelukan Xiumin.
Saat itu yang bisa Xiumin lakukan hanya mengelus pelan punggu Luhan sambil membisikkan kata-kata bahwa adiknya akan baik-baik saja. Membisikkan bahwa Lay masih hidup. Dia masih bisa diselamatkan…
"Lalu kenapa kau tinggalkan dia?" Tanya Xiumin masih sambil mengelus punggung Luhan.
"Karena aku pikir… dia sudah pulang saat kami bersiap di bandara… ternyata… ternyata… hiks." Luhan mengeratkan pelukannya.
"Sudahlah… dia pasti ketemu Lu… aku janji." Xiumin mengecup puncak kepala Luhan lembut.
Dia pasti selamat… aku janji.
.
.
.
.
"Eh Yeollie… kalau kita bisa menyelamatkan anak unicorn itu, kita pasti dapat uang banyak!" ucap Baekhyun sambil menatap layar TV sebesar langit yang terpampang luas di sebuah gedung yang memberitakan hilangnya Lay.
"Kau benar Baekkie, dan kita bisa pulang ke Jepang. Uangnya pun.. HALAL" ucap Chanyeol mengucap kata Halal dengan wajah creepy sambil memasang tangan di dagu ala Cherry belle(?).
"Yoyoi.. eh kau masih ingat plat mobilnya?" Tanya Baekhyun seraya memandang Chanyeol.
"EXO 1578…"
"Oke sekarang kita bisa melacaknya. Hmm… ayo cari kantor polisi!" ucap Baekhyun kemudian melangkah.
"Baekkie… mereka sudah ada di sini." Kata Chanyeol diiringi telanan ludah melihat sosok jangkung dan beberapa orang lainnya berdiri tepat di depannya.
"Bantu kami mencarinya!"
"*gasp* Ba-Baiklah…"
.
.
.
.
'BUAGHH!'
Darah segar kembali mengucur bebas dari bibirnya. Membuat nyeri di kepalanya makin bertambah. Chen tertawa dengan suara nyaring 10 oktafnya seperti Nyai Lampir(?). Suara pukulan-pukulan dahsyat Tao menggema di seluruh ruangan. Tangan kuat Tao ternodai oleh cairan merah bernama darah yang keluar setiap kali ia memukul pria di depannya ini.
"Cukup Tao! Aku tidak ingin dia mati. Cukup sekarat saja. Sekarang, kita harus mempersiapkan mutiara hitam yang sudah berhasil kita ambil dari anak ini untuk dikirim ke Amerika." Jelas Chen sambil mendekati Lay yang sudah berlumuran darah.
"Ya. Aku rasa memang harus selesai bermainnya. Aku sudah sangat ingin menikmati rasa kokkain yang sudah dicampur dengan morfin tingkat tinggi itu… shh…" Tao meremas tangannya sendiri.
"Anak manis… jaga diri ya." Kata Chen kemudian melangkah keluar diiringi Tao yang sebelumnya menghadiahi Lay dengan sediti tamparan kecil di kedua pipinya.
"Sial! Hh…" ucap Lay membuang kepalanya ke belakang bersandar pada penyangga kursi.
Suho melihat alat itu sekali lagi. Memastikan bahwa tempat yang mereka tuju tidaklah salah. Benar. Kata Baekhyun dan Chanyeol pun terbukti. Mobil dengan plat nomor EXO 1578 itu terparkir indah di depan gedung. Lantai 35 adalah tujuan mereka selanjutnya.
"Biar kami saja yang naik ke sana!" ucap BaekYeol bersamaan.
Sesaat, Kris memandang mereka tidak percaya, "Apa yang bisa kalian jaminkan?" tanyanya sinis.
"Hatiku…" ucap Chanyeol sambil meringis dan sukses mendapat jitakan special pakai sambel oleh Baekhyun.
"Ehehhehe~ maafkan dia. Dia memang rada korslet ^^" kata Baekhyun mencoba meyakinkan Kris.
"Hhh… baiklah." Kata Suho akhirnya.
Mereka pun berlari menuju gedung meninggalkan Kris dan Suho yang menghela nafas berat. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam terparkir di depan mereka. Dua sosok itu pun keluar dengan raut wajah khawatir.
"Luhan?"
.
.
.
.
"Yeollie… lewat sini!" bisik Baekhyun pada Chanyeol yang nyaris masuk toilet.
Sesaat kemudian mereka tertarik pada satu ruangan gelap. Baekhyun dan Chanyeol mendekati ruangan itu dan mengintip isinya. Astaga! Anak itu!
"*gasp* anak itu di sana Chan!" kata Baekhyun menepuk bahu Cahnyeol berkali-kali membuat Chanyeol meringis sakit.
"Iya iya… psssttt! Lay~ Laaayyy~~~" bisik Chanyeol.
"Ya! Mana dengar?" umpat Baekhyun pelan sambil memukul pelan kepala Chanyeol.
Lay masih merasakan sakit di kepalanya saat dia merasa beberapa orang mengawasinya. Diedarkannya pandangan buramnya ke segala arah dan berhenti di jendela satu-satunya di ruangan itu. Melihat sosok-sosok yang sangat di kenalnya tersenyum ke arahnya sambil melambai.
"Ya! Ya… Lay ini kami~~ yuhuuu~~~" panggil Baekhyun melambai(?).
Lay memutar bola matanya. Lebih baik aku pingsan, pikirnya. Dia menjatuhkan kepalanya membuat dua orang itu berteriak histeris.
"EEHHH~~~~~" kemudian mereka bergegas memasuki ruangan itu lewat jendela.
"ugh! Agak ke sana Baekkiee~~"
"Argh! Kau yang ke sana Yeollliiiee~ ugh~"
"Geser Beekk!"
"Lu aja Yeol!"
"Ugh! Gak muat Baekkk~"
"Makannya sonoan ah…"
Lay memutar bola matanya untuk ke sekian kalinya melihat dua makhluk yang entah berasa dari mana itu berhasil masuk entah bagaimana caranya. Mereka berdua bergegas melepaskan ikatan di tubuh lemah Lay kemudian menaikkannya ke punggung lebar Chanyeol dan segera lari.
Mereka keluar melalui jendela yang sama. Setelah berhasil keluar, mereka pun berlari keluar dengan Baekhyun yang memiliki alat pendeteksi itu di depan sedang Chanyeol dan Lay di belakang.
'KROMPYANG~(?)" tak sengaja Chanyeol menendang sebuah tong besi yang dipasang author tadi malam(?) supaya nyambung ama ceritanya. #abaikan tolong.
"Ooppss…"
Dan bersamaan dengan suara Baekhyun itu, alarm berbunyi membuat mereka stuck di lorong panjang itu selama beberapa detik.
"YA! ITU MEREKA!"
"KAI SEHUN! KALIAN SEDANG APA CEPAT KEJAR MEREKA!"
"SIAP!"
"Bagus sekali Yeollie…" ucap Baekhyun dan dibalas dengan wajah creepy Chanyeol.
1 detik.
"LARIII!" teriak Bakehyun dan terjadilah aksi kejar-kejaran.
Diam menyelimuti. Dua sosok namja yang ditinggal namja lainnya untuk memeriksa tempat itu pun saling terdiam. Kris menghela nafas berat untuk mencairkan suasana.
"Jadi… kau dengan lelaki bernama Xiumin itu?" Tanya Kris.
"Ya. Tapi… aku tidak bermaksud…"
"Fine… aku baik-baik saja kok. Aku sudah punya penggantimu." Jawab Kris.
Mereka diam. Lagi.
"Kris mereka butuh bantuan!" ucap Suho dari dalam gedung.
Dua namja itu pun bangkit dari duduknya menghampiri Suho dan Xiumin. Kris berlari masuk diikuti Suho dan Xiumin menunggu Luhan di luar.
.
.
.
.
"KREEEAAASEEEEEE!" teriak Baekhyun begitu melihat Kris dan Suho berlari ke arah mereka.
Kris terhenti, "Namaku Kris." Katanya dan Baekyeol hanya tersenyum.
Mereka berhenti di depan KrisHo sambil terengah-engah. Mengatakan bahwa para mafia itu sedang mengejar mereka dan akhirnya Suho dan Kris masuk ke dalam gedung itu. Beruntung, bantuan datang lebih awal dari yang mereka kira.
"SIAL!" umpat Tao saat dirinya diborgol oleh Suho.
"Huang Zhi Tao dan Kim Jong Dae… akhirnya… setelah 5 tahun kami berhasil menangkap kalian!" ucap Suho mengingat kejadian yang menimpa Kris 5 tahun lalu.
Kris membopong tubuh lemah Lay dipunggungnya seraya terus mengajak orang itu bicara. Entah membicarakan apa, yang penting Lay masih bernafas meski hanya dijawab dengan 'hm..' atau 'ya..' yang sangat lemah.
"YIXING!" ucap Luhan berlari ke arah Lay dan Kris yang mendekat padanya.
"Astaga! Apa yang terjadi? Yixing… ayo bawa dia ke rumah sakit!" suruh Luhan kemudian memasukkan Lay ke mobil dan masuk ke dalamnya. Di depan sudah ada D.O yang siap mengantar sepupunya itu ke manapun.
"Rumah sakit?" kata Kris bingung.
"Lay punya masalah dengan pembekuan darah, dan lukanya tadi benar-benar parah." Jawab Xiumin yang tidak turut dalam perjalanan itu.
"Apa?"
.
.
.
.
.
.
.
*To Be Continued*
R/R pleaseeeeeeeee~~~ *bows*
