Disclaimer: 07-ghost adalah milik Amemiya Yuki dan Ichihara Yukino. Sekedar tambahan bahwa saya mengambil sedikit plot dari novel legendaris berjudul The Lady of the Camellias, karya Alexander Dumas Jr.
~*oO Lembar Akhir Oo*~
.
[Bagneres, Perancis. Pertengahan musim semi tahun 1871]
.
"Yang harus saya hadapi ketika pulang adalah kenyataan," Castor memandang makanan yang ia pesan. Makanan yang baru saja sampai, bersamaan dengan permohonan maaf sang pelayan karena telah lama menunggu lama. "Malamnya, saya menangis..."
Castor masih mengingat hari itu.
Sapaan aku pulang tidak disambut hangat. Biasanya, Labrador akan langsung berlari dan menyambutnya dengan pelukan hangat. Sedingin apapun udara di luar. Kemudian, ia akan menanamkan kecupan manis yang penuh dengan perasaan. Castor dan Labrador akan tertawa satu sama lain, padahal tidak ada hal yang bersifat jenaka. Perasaan bahagia begitu meluap, tidak tertahankan.
Labrador berusaha menyambut kedatangan Castor seperti biasa. Namun, tubuhnya—tubuhnya berteriak sakit, tidak ingin menjalani komando kala itu. Tubuhnya berteriak minta tolong. Dingin dan nyeri. Cairan anyir itu menekan dari dalam, mengusahakan diri agar bisa keluar dari tubuh Labrador walaupun dengan cara kasar. Darah yang keluar dari mulutnya menodai karpet ruang tamu. Meninggalkan noda yang tidak mudah dihilangkan, sama dengan noda di hati Castor. Castor panik. Begitu panik. Pemandangan tersebut sungguh mengerikan. Labrador dengan wajah bermandikan darah. Kedua matanya mengatakan permohonan agar Castor menolongnya. Agar membunuh sesuatu yang menusuk dirinya dari dalam.
"Sakit" adalah ucapan terakhir Labrador hari itu, sebelum kesadaran pergi dari dalam dirinya. Tidak kuat mengalami penyiksaan yang begitu berat. Castor menepuk-nepuk pipi wanita yang kini tirus itu hanya untuk mendapatkan kekosongan hasil. Wanita itu segera ia larikan ke rumah sakit, tidak peduli dengan udara yang dingin. Castor merasa kulit tubuhnya menebal dan menolak semua udara yang mencekat.
Yang lebih muda tidak berani berbicara lebih lanjut. Dalam keadaan seperti ini, lebih baik tidak membuka kembali luka lama milik Castor. Setidaknya, akan lebih baik bila Castor yang bersedia membuka lukanya sendiri. Ia pasti dapat menahannya.
Sejak Castor lahir, bayang-bayang yang menghantui adalah wajah sedih sang Ibu dan wajah kaku sang Ayah. Ayah, yang melarangnya mendekati sang Ibu, mendidiknya terlalu keras. Ayahnya percaya bahwa bila Castor menerima kasih sayang seorang ibu, Castor akan sulit melewati sebuah jalan bernama kehidupan. Namun, tetap saja, Castor ingin memeluk orang yang melahirkannya, namun, tidak pernah bisa. Castor dan ibunya hanya bisa memandang satu sama lain dari kejauhan. Hati berteriak untuk dipertemukan. Perasaan ibu dan anak itu terpendam begitu dalam. Castor hanya bisa membuat replika sang Ibu yang selalu diam, boneka. Anak itu percaya bahwa sang Ibu bukanlah yang pantas untuknya.
"Ibu, hanya milik Ayah."
Impian untuk memeluk sang Ibu pun terwujud ketika pemakaman berlangsung. Jasad sang Ibu yang begitu kurus dan pucat, tidak bernapas di dalam peti mati. Bila saja yang di dalam peti mati adalah boneka replika ibunya, ia masih ingat cara bernapas hari itu. Namun, tangisan pilu sang Ayah yang begitu tenang menyadari Castor akan satu hal. Ia sudah kehilangan sang Ibu. Castor kecil tidak memedulikan kacamatanya yang retak karena bertemu lantai. Ia naik ke atas peti mati, berharap ikut dengan sang Ibu. Castor mendekap ibunya begitu erat, berharap tangan sang Ibu akan bergerak dan balik mendekapnya. Ia menangis dalam diam dan tidak ada satu orang pun yang menghentikannya. Terus begitu hingga kesadaran menghilang dari dalam dirinya.
Sejak saat itu, Castor tidak pernah mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh. Biarpun ada teman-teman rekan kerja serta kekasih, Castor berusaha agar perasaan yang ada tidak menjelma lebih dalam. Hukum tersebut terhapus begitu ia bertemu Labrador.
"Dia, wanita pertama yang saya cintai dengan sungguh-sungguh," suara pria itu begitu parau, tersirat kesedihan yang mendalam. "Ketika saya percaya bahwa dunia sudah runtuh, dia datang. Dia menerima saya apa adanya."
"Tuan Cast—"
"—dia sekarat. Saya pun sekarat. Malam itu, dokter menyarankan agar Lab tinggal di Bagneres untuk menjalani pengobatan dengan air. Saya pun segera berhenti dari teater dan pergi ke Bagneres bersama Lab."
"Lalu, apa yang Nona katakan?"
"'Kau tidak perlu ikut denganku ke Bagneres. Aku bisa hidup sendiri. Hartaku banyak dan bisa membiayai pengobatan seorang diri. Kau tidak perlu mengorbankan segala sesuatu hanya demi pelacur ini. Kau hanya akan menyesal, Castor.'."
"Tuan..."
"Tapi, bukankah lebih baik daripada hidup sendiri?"
.
[Bagneres, Perancis. Awal musim panas tahun 1844]
.
Era musik romantik adalah era yang tepat untuk berdansa. Alunan musik klasik dari radio adalah pembunuh sepi di rumah baru mereka. Melodi yang lembut, mengajak untuk bermain bersamanya.
"Puisque j'ai mis ma lèvre à ta coupe encore pleine. Puisque j'ai dans tes mains pose mon front pali,"
Mungkin puisi pada era romantik pun cocok menjadi lirik musik klasik. Dengan suara yang tinggi, jernih, mengalir, Labrador mengucapkan satu kalimat cantik. Castor yang mendengarnya tersenyum.
Pada pukul sepuluh malam, Castor menawarkan tangannya sebagai penumpu tubuh sang wanita. Yang disambut baik oleh Labrador. Castor menuntun wanitanya ke tengah-tengah ruang tamu, setelah ia menyingkirkan sofa dan meja. Lukisan-lukisan, vas, dan benda mati lainnya dalam ruangan tersebut adalah saksi bisu. Saksi bisu yang melihat kedua manusia yang saling mencintai berpegangan tangan, berputar, menukarkan afeksi satu sama lain lewat pandangan mata.
"Puisque j'ai respirè parfois la douce haleine. De ton âme, parfum dans l'ombre enseveli," kini, giliran Castor yang meneruskan kalimat cantik tersebut. Kebahagiaannya begitu meluap. "Puisqu'il me ut donnè de t'entendre me dire. Les mots où se rèpand le coeur mystèrieux. Puisque j'aive pleurer, puisque j'ai vu sourire. Ta bouche sur ma bouche et tes yeux sur mes yeux."
Labrador bukanlah pedansa yang buruk, bila mengingat kondisi tubuhnya. Labrador mengikuti ritme dengan baik. Beberapa gerakan Labrador ciptakan untuk menyeimbangkan diri dengan musik serta pasangannya.
"Puisque j'aivu briller sur ma tête ravie. Un rayon de ton aster, hélas! Voilé tounjours. Puisque j'aivu tomber dans l'onde de ma vie. Une feuille de rose arrachée à tes jours," wanita itu mempererat tautan tangan mereka. Ia menutup kedua matanya dan mulai memusikalisasikan kalimat lebih lanjut. "Je puis maintenant dire aux rapides annèes, passez! Passez toujours! Je n'ai plus à vieillir! Allez-vouz-en avec vos fleurs toutes fanèes. J'ai dans l' âme une fleur que nul ne peut cueillir!"
Tempat tersebut bukanlah ruang dansamewah yang berhiaskan lampu gantung cantik. Itu hanyalah ruang tamu kecil yang disulap menjadi tempat dansa oleh hati mereka. Setidaknya bagi mereka, sebuah lampu hias malam yang berbentuk bulat sempurna, telah menggantikan sebuah lampu gantung. Radio tua itu adalah orkestra mewah. Sofa yang digeser adalah sofa mewah untuk tamu agung. Cangkir-cangkir murah di atas meja kecil adalah cangkir-cangkir mahal berisi minuman berkualitas tinggi. Setangkai bunga mawar di pot bunga adalah rangkaian bermacam-macam bunga mewah.
"Votre aile en le heurtant ne fera rien rèpandre. Du vase où je m'abreuve et que j'ai bien rempli. Mon âme a plus de feu que vous n'aves de cendre! Mon coeur a plus d'amour que vous n'avez d'oubli!" (6) ketika bait terakhir datang, pasangan itu menyeimbangkan suara. Mengucapkannya kalimat cinta dengan hati, tanpa rasa beban.
"Mon chéri, Labrador." (7)
Pria itu melakukan hal yang mengejutkan Labrador. Tatkala berputar, Castor menarik tangan Labrador sedikit kasar. Wanita itu bisa saja terjatuh bila tidak ada Castor yang menumpunya. Pria itu tertawa seraya menerima pukulan ringan dari kekasihnya. Castor pun menyandarkan dirinya ke depan, berusaha mencuri bibir wanita itu. Namun, suatu penghalang datang. Labrador menggunakan satu jarinya untuk menghentikan pergerakan Castor.
Kini, giliran Labrador yang tersenyum lebar. Ia menggerakkan jarinya ke kanan dan ke kiri. Membuat suatu pernyataan ketidakbolehan dalam berbuat. Tangan Labrador kembali memegang pundak dan tangan Castor, mengisyaratkan untuk memulai kembali hal yang tertunda. Kembali, pasangan tersebut menebar kepolosan dalam suatu percintaan. Tidak perlu kata-kata manis. Tidak perlu berbuat vulgar. Cukup dengan kedua pasang mata yang saling memberikan kasih sayang. Seakan-akan, ruangan tersebut adalah dunia ciptaan mereka. Siapa saja tidak bisa masuk dan mengganggu.
"Nanti kau tertular," ucap Labrador sambil menyentuh wajah Castor. Tentu saja tidak menghentikan dansa mereka. "Siapa yang akan merawatmu nanti?"
"Dari dulu, aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Bukan main."
"Kau meragukanku?" kedua tangan yang lebih tua menggelitik sisi tubuh Labrador. Wanita itu tidak tahan, ia begitu geli.
Berkali-kali Labrador meminta agar Castor menghentikan candaannya. Namun, Castor tetap tidak berhenti. Wanita itu berusaha membalasnya, akan tetapi tidak mempan. Castor begitu kuat menahan geli. Pertandingan yang dimenangkan satu sisi sejak awal. Labrador lelah tertawa. Sepertinya mulai saat ini, ia tidak akan meragukan kemampuan Castor untuk mengurus diri.
Mereka tersenyum satu sama lain ketika candaan tersebut berhenti. Senyuman yang tulus, refleksi dari senyuman hati. Castor menyapu keringat dingin yang hampir jatuh dari wajah Labrador. Nampaknya, ia sedikit keterlaluan. Ia tahu Labrador membutuhkan banyak istirahat karena sedang menjalani pengobatan. Castor tidak bisa menghentikan diri tatkala ia bersama kekasihnya. Labrador bagaikan benda berharga yang menarik mata dan membuat diri tidak bisa dikendalikan.
Ia tidak pernah menyangka akan menetapkan hati pada seorang pelacur—ya, mungkin mantan pelacur sekarang. Kembali datang putaran memori-memori. Pertama kali bertemu, Castor bersikap apatis ketika Labrador datang menghampiri. Lalu, keapatisan tersebut menghilang tatkala Labrador—tanpa dosa—menyebutkan bahwa dirinya adalah pelacur, yang tentu meninggalkan kesan buruk di mata Castor. Setiap malam bertemu di bar, perlahan hati Castor mulai jinak. Lama-lama, perasaan nyaman karena sering bersama menjadi tumbuh. Setelah benar-benar menetapkan hati, Castor menyatakan cintanya. Yang ternyata disambut baik oleh Labrador. Mereka pun menjalin kasih setelah beberapa bulan—semenjak awal musim gugur tahun lalu—sejak pertama bertemu.
Tentu. Status adalah hal penting di mata masyarakat. Pandangan orang-orang mengenai diri Castor yang mempunyai kekasih seorang pelacur tidaklah mengenakkan. Dengan cepat, kabar burung mengenai Castor tinggal bersama seorang pelacur menyebar. Bahkan, hingga teater tempat Castor bekerja. Pria berambut merah tersebut tidak peduli. Ya. Ia tidak peduli. Yang ia tahu hanyalah ia mencintai Labrador dan itu cukup.
Ia mencintai wanita di hadapannya dengan sungguh-sungguh.
"Lab, cepatlah sembuh," ucapnya sambil membenamkan wajah di atas kepala Labrador. Bau khas rumah sakit masih menempel walau tercium samar-samar. "Kemudian, kita pulang ke Paris. Kita tinggal bersama lagi."
Labrador tidak tahu, respon terbaik apa yang dapat diberikannya. Permohonan Castor yang begitu biasa terdengar mustahil di telingannya.
"Aku akan berjuang," Labrador melingkarkan kedua tangannya di leher Castor, mengeratkan pelukan yang ada. Tubuh dan hati mereka berteriak memohon agar mereka tidak terpisah. "Kautahu, Castor. Hanya demi seorang pelacur, kau berkorban banyak untukku. Aku merasa, bukan apa-apa. Aku merasa, tidak pantas menerima kebaikanmu."
"Aku tidak peduli. Aku tidak peduli," Castor mengatakannya dengan suara berat, kesedihan mendalam tersirat kuat. "Apakah kau pelacur atau pembunuh. Baru kali ini aku mencintai seorang wanita dengan sungguh-sungguh. Jadi, aku akan memastikan bahwa wanita itu tidak akan pernah menderita bersamaku. Jangan pernah mengira kalau kau adalah suatu beban untukku. Jangan pernah, Lab."
"Hm," biarpun Castor tidak melihatnya, senyuman yang Labrador hadapkan tepat ke jantung Castor dapat terasa. "Aku mencintaimu."
"Aku juga, Lab."
Begitu terdengar lemah namun penuh ketulusan. Begitu terdengar rapuh namun penuh perasaan. Hati Castor diremas oleh perasaan Labrador yang begitu dalam. Sudah lama ia tidak merasa dicintai, setidaknya oleh seseorang. Perasaan Labrador yang begitu cantik. Yang begitu kuat. Semua, telah menghangatkan hati seorang pria. Walaupun tempat tersebut bukanlah altar tetapi, Castor siap bersumpah sehidup-semati dengan wanita di hadapannya.
Pria itu memeluk kekasihnya lebih kuat. Pelukan Labrador pun tidak longgar. Kedekatan fisik yang tidak bisa mengalahkan kedekatan hati mereka. Sampai sekarang, Castor maupun Labrador tidak tahu bagaimana membalas perasaan tulus kekasih masing-masing. Castor tidak tahu bagaimana membalas kebaikan dan ketulusan Labrador dalam merawatnya. Biarpun sakit, biarpun genting. Labrador sendiri juga begitu, ia tidak mengetahui bagaimana membalas pengorbanan Castor. Biarpun hal yang dikorbankan sangat besar.
Mereka adalah teman. Sahabat. Kekasih. Tunangan. Pasangan. Belahan jiwa.
Castor membutuhkan Labrador untuk mengisi kekosongan hatinya, sebagai wanita hebat yang ada di belakang. Mendukungnya dengan ketulusan tiada batas. Biarpun senang, biarpun susah. Kala suka, kala duka. Ketika tidak ada orang yang mengerti dirinya, Labrador menjadi wanita pertama yang ia cari. Ia nyaman bersama Labrador. Wanita tersebut memberikannya kesetiaan tanpa syarat yang tidak pernah Castor dapat. Labrador adalah bagian dari Castor, baik tubuh maupun jiwa.
Castor, begitu bersyukur bertemu Labrador.
Sedangkan Labrador membutuhkan Castor untuk menjadi kenyataan. Seorang pelacur yang tidak berharga diri, selalu menemani banyak laki-laki. Sejak kecil, Labrador memimpikan seorang pria yang akan menjemputnya. Menariknya dari relung kesedihan tak berdasar. Melukis ulang ruang kesedihannya menjadi ruang kebahagiaan. Pria yang tidak memandang sekeliling. Pria yang hanya memandang dirinya dan dirinya seorang. Bukan sebagai barang, bukan sebagai sampah. Namun, sebagai wanita—manusia—yang membutuhkan belahan jiwa.
"Castor," Labrador yang sedaritadi bisu, kini angkat bicara. Masih dengan kelembutan suara yang mengandung begitu banyak perasaan. "Terima kasih."
Alunan musik romantik tidak pernah berhenti menemani mereka malam itu. Bulan pun tersenyum mendengar sumpah sejati sepasang kekasih.
.
[Bagneres, Perancis. Pertengahan musim semi tahun 1871]
.
"Aku tahu aku akan meninggalkanmu, Castor. Aku takut mati. Tetapi, aku lebih takut… aku lebih tersiksa membayangkan bagaimana jadinya dirimu setelah aku tiada." (8)
Awal musim panas tahun 1844. Satu hari setelah kejadian tersebut. Kondisi Labrador memburuk dengan cepat.
Akhir musim panas tahun 1844. Berat badan turun drastis, anoreksia.
Pertengahan musim gugur tahun 1844. Demam tinggi hingga empat puluh satu derajat selama empat hari.
Pertengahan musim dingin tahun 1844. Frekuensi demam semakin sering. Malam dibanjiri oleh keringat.
Awal musim semi tahun 1845. Sesak napas menghalau tidur datang selama satu minggu.
Pertengahan musim panas tahun 1845. Frekuensi batuk-batuk serta muntah darah meningkat.
Akhir musim gugur tahun 1845. Sesak napas hebat. Tidak sadarkan diri selama dua hari.
Pertengahan musim dingin tahun 1845. Tidak mampu untuk menggerakkan tubuh. Sudah tidak mampu berkata-kata.
Kemudian, pada awal musim semi tahun 1846. Menghembuskan napas terakhir.
"Saya merenovasi ulang rumah sakit ini beberapa tahun yang lalu. Tetapi, ruangan yang ada kurang lebih masih sama," Hakuren menjelaskan sambil menuntun Castor menaiki tangga. Tubuh tua itu semakin rentan. "Para perawat yang dulu sudah pensiun, digantikan oleh yang baru. Mereka terkadang main ke sini dan membantu. Mereka juga masih mengingat Anda juga kekasih Anda."
Bahkan, Hakuren kecil pun selalu mengingatnya. Pasangan kekasih yang lebih terlihat seperti pasangan sehidup-semati. Seorang pria tampan berambut merah dan seorang wanita cantik cerminan bunga lembayung. Castor dan Labrador. Hakuren ingat, setiap ia mengunjungi rumah sakit, Hakuren akan menemukan Castor menuntun kekasihnya untuk berjalan-jalan di taman. Kemudian, setelah sore, mereka akan kembali ke dalam rumah sakit. Mereka selalu satu paket; bila ada Castor maka ada Labrador. Tidak pernah terlepas satu sama lain. Bahkan, ketika dokter mengatakan bahwa penyakit Labrador sudah semakin menggerogotinya—yang tersisa dalam diri Labrador adalah tulang dan kulit—Castor tetap menemani kekasihnya. Segawat apapun keadaan Labrador.
Para penghuni rumah sakit baru pertama kali melihat seorang pria yang mencintai wanita dengan sungguh-sungguh.
Ingatan Castor telah bercampur aduk. Ia sudah tidak ingat lagi separah apa raga Labrador saat itu. Bila ia sepuluh tahun lebih muda, mungkin ia dapat mengingatnya dengan jelas. Yang tersisa hanyalah ingatan mengenai senyum terakhir yang Labrador tinggalkan, serta ucapan cinta dan terima kasih tertulus yang pernah ada. Terima kasih karena Castor mau menerima Labrador yang seorang wanita penghibur. Terima kasih karena Castor mau mendampingi Labrador hingga wanita tersebut tak mampu lagi menghirup. Serta terima kasih karena Castor mau menemani Labrador selama dua tahun lebih, kala susah maupun senang.
Penghuni Père Lachaise telah bertambah satu orang. Hanya sedikit orang yang menghadiri pemakaman tersebut, sayang Castor tidak ingat berapa. Yang pasti bisa dihitung dengan jari dan Castor hanya mengenal Frau di pemakaman tersebut. Temannya itu tidak mengejeknya seperti biasa. Frau terus diam hingga pemakaman selesai. Ia dan Castor melihat satu hal yang sama dengan perasaan yang berbeda kuatnya.
Labrador begitu cantik. Biarpun wanita itu tidak memakai hiasan apapun, ia tetaplah seperti boneka di dalam peti mati. Boneka yang terlihat memejamkan mata sebentar, mengantuk dan sudah lelah. Ia akan membuka kedua matanya di alam lain.
Melihat peti mati yang perlahan menyatu dengan tanah adalah hal yang menyakitkan. Tidak Castor sangka, ia akan melewatkan dua momen penting yang sama dalam satu kehidupan, juga dua wanita yang penting dalam kehidupannya.
"Anda begitu kuat, Tuan Castor," kata Hakuren. Pria itu tersenyum tulus. "Bila saya berada di posisi Anda, sulit rasanya menerima kenyataan. Namun, saya ingat. Saat-saat terakhir Nona Labrador. Tangan kecil yang begitu kurus Anda genggam. Semua. Tanpa suara, tanpa bunyi napas, dan tanpa tangisan… Anda melepas kepergian kekasih Anda. Dia bahagia, terbukti bila Anda melihat ekspresi terakhir yang Nona Labrador tinggalkan di dunia."
"Saya tidak sekuat itu. Ada kalanya saya merasa begitu kosong. Padahal, sudah dua puluh lima tahun berlalu. Saya tidak terbiasa ketika tidak ada yang menyambut saya pulang. Sampai saat ini. Kehadiran Lab di sisi saya, begitu kental."
Labrador yang tersenyum lemah. Dengan sisa tenaga terakhir, menyentuh pipi Castor. Gerakan tubuh yang menyatakan lagi sebuah kenyataan bahwa wanita itu sebentar lagi akan meninggalkannya. Tepat di ruangan ini. Meskipun ruangan telah direnovasi dan perabotan telah berubah, suasana yang sama masih ia rasakan. Cat putih yang masih terlihat baru. Selimut yang hangat, selalu diganti sewaktu-waktu. Posisi ranjang yang dekat dengan jendela, sinar matahari bisa masuk kapan saja. Ah, Castor seperti melihat bayangan Labrador yang duduk di atas ranjang sambil melihat ke luar.
Di sini, kah? Saat-saat terakhir kekasihnya terbaring tak berdaya. Castor mengelus pelan ranjang tersebut. Ranjangnya mungkin sudah diganti yang baru, mengingat semua perabotan telah diganti. Akan tetapi, seperti yang Castor katakan. Kehadiran Lab di sisinya begitu kental. Bagai putaran film, Castor dapat melihat diri mudanya menggenggam tangan Labrador. Biarpun Castor muda tahu, wanita tersebut sudah tidak bernapas. Tubuhnya yang ribut, yang selalu berkata, "Aku sudah tidak kuat lagi. Biarkan aku beristirahat dengan tenang..." akhirnya diam. Wanita tersebut telah terbebas dari derita fisik dan batin.
Labrador yang terlahir sebagai penghuni jalanan, hidup sebagai wanita bayaran, dan meninggal sebagai wanita yang menemukan cinta dan kasih sayang.
"Izinkan saya meninggalkan Anda sendiri untuk sementara." Ucap Hakuren sambil menutup pintu. Ia yakin, pria tua tersebut butuh waktu sendirian dengan bayangan sang kekasih.
Pintu yang memekik, tidak membangunkan lamunan Castor akan masa lalu. Awal musim semi dua puluh lima tahun lalu.
"Kaubenci opera, bukankah begitu? Karena itu, aku tidak akan mengucapkan kalimat-kalimat manis," Castor tersenyum. "Kaulihat raga ini, Lab? Sudah tidak sekuat dulu. Aku sudah tidak bisa meneguk alkohol yang kaubenci lagi, apa kau senang? Rasanya dengan raga ini, aku bisa memelukmu kapan saja..."
Seperti dulu. Ia menjadikan lengannya sebagai bantal ketika Labrador tidur. Sehingga, mau tidak mau ia harus berbaring di atas ranjang. Wanita itu tidak bisa tidur nyenyak sejak penyakit tersebut semakin menghancurkannya. Bahkan untuk memejamkan mata saja, ia tidak bisa tenang karena sesak napas hebat dan demam. Satu-satunya cara untuk menenangkan Labrador adalah memeluknya. Mendekatkan hati dan raga demi merasakan penderitaan yang Labrador rasakan. Segera, Castor menemukan dirinya tengah tertidur bersama Labrador. Dengan angkasa yang selalu tersenyum sedih pada mereka. Berharap bisa membantu barang sedikit saja.
Suasana serta perasaan yang sama.
Hanya raga yang berbeda.
Hanya fisik yang berbeda.
Hanya jumlah manusia dalam ruangan yang berbeda.
"Terlalu drama, bukan? Bila kumohon agar kau menungguku di sana," suara tawa hambar dapat terdengar. "Sayang sekali kau mempunyai kekasih seorang pemain opera, Lab."
Tidak ada yang tersisa dari Castor. Raga yang sudah keriput, kedua mata dengan warna yang mulai memudar, dan tenaga minim yang tidak bersahabat. Namun, perasaan Castor kepada Labrador masih tersisa banyak, hingga gelas ukur perasaan sudah tidak kuat menampungnya. Perasaan meluap yang akan semakin meluap bila mereka bertemu lagi. Yang Castor rasa akan segera terlaksana.
Rasanya, hati sedang diremas. Dicengkram sesuatu yang kuat.
Ia ingin segera bersama sang kekasih lagi. Waktu yang ia jalani tanpa Labrador lebih lama dari waktu yang ia jalani bersama Labrador. Ia hanya ingin sebaliknya. Ia ingin menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya bersama Labrador dan mengulang kata-kata penuh kasih setiap harinya. Tidak peduli Labrador akan bosan apa tidak. Ia akan terus mengulang dan mengulangnya. Karena, perasaannya yang begitu meluap tidak dapat tertampung oleh kata-kata.
"Je t'aime, mon chéri." (9) Di atas ranjang, adalah Castor muda. Castor yang sedang mengelus wajah sang kekasih. Tersenyum tanpa rasa beban.
Pada akhirnya, ia adalah Castor. Pria yang pernah dan telah mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh—
—dan hal itu membuat Labrador tersenyum.
.
.
"Je t'aime, Castor." (10)
.
.
Catatan :
untuk pipit. maaf, ya, kadonya telat dan kayaknya gaje m(_ _)m » entah kenapa rasanya pengin ngasih untuk tahun ini. lol. maaf juga kalau kurang greget romensnya. jujur, nggak biasa bikin romens, jadi kayak maksa begini. oh, iya, yang emak ambil dari novel cuma tempat (bagneres dan paris), pekerjaan lab di sini, sama tbcnya aja. walau kurang lebih endingnya sama karena heroin dalam cerita sama-sama meninggal karena tbc lol, tapi emak ga jiplak banget.
terus buat judulnya… ya… itu judul. –puk-
semoga berkenan ya. kalau kurang puas, maafkan sekali lagi. endingnya gaje -_-'
untuk para pembaca, kalau semisalnya saya ada salah-salah mengenai perancis atau seluk-beluk tbc, sekiranya ada yang mengetahui sesuatu tolong beritahu, ya. sejarah perancis tidak sedetail inggris, saya sedikit kesusahan mencari referensi. terima kasih bagi yang sudah membaca karya ini, semoga menghibur.
beberapa penjelasan singkat :
(1) Bagneres. Bagneres ada dua, Bagneres-de-Luchon dan Bagneres-de-Bigorre (sepertinya dalam cerita ini lebih ke yang Bagneres-de-Bigorre). Wilayah ini berada kira-kira 688 kilometer dari Paris. Era abad ke-19, cukup banyak penderita TBC yang ke sana untuk melakukan pengobatan dengan air.
(2) Père Lachaise. Pemakaman umum terbesar yang ada di Paris (sekitar 44 hektar). Berdiri sejak tahun 1804.
(3) Labrador Tea. Salah satu nama jenis teh. Rasanya, pengertian 'Labrador' sebagai jenis teh lebih cocok daripada jenis anjing, hehe.
(4) L'Invitation au Voyage. Sebuah puisi dari Perancis karya Charles Baudelaire. Puisi ini bukan puisi cinta. Arti puisi ini dapat Anda dapatkan di internet.
(5) Tuberkulosis atau TB atau TBC. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru, tulang, dan sebagainya.
(6) Puisque j'ai mis ma Levre. Sebuah puisi dari Perancis karya Victor Hugo. Puisi cinta yang romantis. Arti puisi ini dapat Anda dapatkan di internet.
(7) "Mon chéri, Labrador."Artinya sayangku, Labrador.
(8) Diambil dari kata-kata Labrador di buku volume 9. Hanya saja, di buku ditujukan untuk Lem.
(9) "Je t'aime, mon chéri." Artinya, aku mencintaimu, sayangku.
(10) "Je t'aime, Castor." Walaupun sepertinya pembaca sudah mengetahuinya. Artinya, aku mencintaimu, Castor.
