[A/N] Hey! Mumpung libur, gue mencoba me-remake fic pertama yang gue buat. Gue publish fic ini dulu di blog karena belom punya account FFn. Yaudah kenapa jadi curcol coba -_-
Disclaimer: Sherlock Holmes adalah milik Sir Arthur Conan Doyle, dan Hetalia adalah milik Hidekazu Himaruya. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fic ini.
Listening To: Shut Up - Jhameel
Siang yang agak berawan ketika aku sedang menandatangani beberapa resep obat. Belakangan ini pasien jarang berkonsultasi, mereka biasanya sekedar meminta obat saja. Padahal aku sangat yakin pada kekuatan komunikasi antara dokter dan pasien. Bahwa hal itu bisa melakukan diagnosa yang lebih akurat dan mengobati lebih baik daripada obat itu sendiri. Aneh memang. Tapi aku menganut kepercayaan bahwa penyakit adalah hal yang bersifat psikologis, harus diobati oleh Tuhan dengan perantara dokter, daripada menggunakan bahan-bahan kimia.
Tiba-tiba bel rumahku berbunyi. "Mary, tolong bukakan pintunya!" kataku setengah berteriak.
Tiada jawaban.
"Mary!" teriakku lagi.
Aku pun teringat. Mary sudah tiada. Aku teringat kematian Mary yang disebabkan oleh sakit keras setahun yang lalu.
"Lepaskan aku, John. Aku sudah menderita."
"Tapi Mary..."
"John, kau mencintaiku, kan? Kau ingin melihatku menderita?"
"Tidak, Mary, sungguh, aku mencintaimu..."
"Kalau begitu lepaskan aku. Biarkan aku akhiri segala penderitaan ini."
"Baiklah Mary. Jika ini bisa membuatmu bahagia."
"Selamat tinggal, John..."
Lamunanku buyar ketika terdengar bel berbunyi untuk kedua kalinya. Aku segera berjalan menuju pintu. Ketika aku membuka pintunya, terlihat lelaki jangkung, berkulit pucat, bertubuh kurus, bermata elang dan berhidung mancung di hadapanku.
Siapa lagi kalau bukan Holmes?
"Holmes!" kataku senang. "Mari, silakan masuk!" kedatangan Holmes merupakan obat yang mujarab untuk kesepianku. Ia lalu tersenyum dan masuk ke dalam rumah. "Ayo duduk," kataku mempersilakan Holmes untuk duduk di ruang keluarga. Kami pun duduk.
"Halo, Watson," katanya sambil tersenyum penuh arti, "Kau harus perhatikan asupan gizimu, berat badanmu turun 2 kilogram!" kata Holmes. Aku hanya tersenyum. Kebiasaannya memang tak pernah hilang, pikirku.
"Omong-omong.." kata Holmes menimbang-nimbang. "Aku... Ah tidak," katanya. "Kau apa, Holmes?" tanyaku penasaran. Holmes terlihat agak cemas. Lebih seperti senewen menurutku. "Datanglah ke gereja hari Kamis pukul sebelas siang," kata Holmes pada akhirnya.
"Ada apa, Holmes?" tanyaku. "Sudahlah, pokoknya datang saja, ya? Tidak akan memberikan keburukan bagimu." kata Holmes. "Baiklah, aku akan datang." kataku. "Bagus!" kata Holmes lebih ceria. "Kalau bisa datanglah lebih awal." katanya lagi. Aku mengangguk. Ia lalu melangkah meninggalkan ruang keluarga.
"Kau tak ingin ngobrol dulu?" tanyaku. Holmes tersenyum dan menggeleng. "Besok ada acara penting di gereja. Aku harus mempersiapkan banyak hal. Termasuk istirahat." Aku pun mengangguk tanda mengerti. "Selamat siang," kata Holmes sambil keluar dari rumahku.
Istirahat? Manusia seperti Holmes? Istirahat? Aku bahkan aku tak lagi yakin bahwa Holmes itu manusia. Dalam Petualangan Detektif Sekarat, ia tidak makan dan minum selama tiga hari. Apakah itu istirahat? Atau dalam Hilangnya Batu Mazarin, ia tidak tidur, makan, maupun minum selama beberapa hari. Aku baru tahu kalau itu yang namanya istirahat. Tidak... Aku mencium sesuatu yang aneh. Ya sudahlah, pikirku. Aku lalu kembali menjalankan praktek.
Pada Kamis pagi aku terbangun. "Oh sial, sudah jam 10 lewat 30!" hardikku pada diriku sendiri. Aku menyiapkan jas terbaik yang biasanya kupakai untuk pergi ke gereja. Aku bergegas mengambil tongkat kayuku, 'suvenir' bagi veteran perang Afghanistan. Aku mencuci wajah, hanya untuk memberikan kesan bahwa aku sudah mempersiapkan segalanya untuk hari ini, padahal jam segini saja aku baru bangun. Aku mengenakan topi bowler kebanggaanku dan mengaitkan arloji ke jasku. Aku merogoh laci meja. Kulihat army-revolver-ku teronggok indah di sana. Nyaris saja kuambil barang itu, tapi kucegah. Pria gila macam apa yang akan membawa-bawa senjata ke gereja? Entah siapa pria hilang akal itu, yang pasti bukan aku. Setelah memakai suspender dan memakai jas, aku mematut diri di depan kaca. Entahlah, namun sesuatu di dalam diriku memaksa untuk berpakaian rapi hari ini. Setelah yakin dengan penampilanku, aku keluar rumah dan memanggil taksi.
Aku sudah sampai di depan gereja ketika kulihat keributan wartawan di depan sebuah gerbang yang berhiaskan bunga mawar. Sepertinya ada yang menikah, pikirku. Tapi pernikahan apa yang akan diliput begitu banyak wartawan seperti ini? Mungkin artis. Tapi beritanya tidak ada di koran. Sudahlah, aku terlalu banyak berpikir hari ini. Harusnya aku santai saja.
Tidak ada yang kukenal di sini. Mereka semua kebanyakan bangsawan paruh baya, atau malah orang miskin jelata. Yang pasti, tak ada wajah yang familiar bagiku. Itulah kenapa aku sangat lega ketika melihat Inspektur Lestrade dan Mrs. Hudson. "Oh, Watson!" kata Mrs. Hudson senang saat aku datang. "Siapa yang menikah, Mrs. Hudson? Kenapa ramai sekali? Apakah kita mengenal orang itu?" tanyaku. Mrs. Hudson hanya terkekeh puas. "Oh, Watson, kau mengajukan terlalu banyak pertanyaan! Pertanyaan itu akan gugur dengan sendirinya ketika... Oh, lihat, apakah itu mereka? Ya, itu mereka! Mereka datang!"
Dari kejauhan terlihat titik kecil. Karena bentuk bumi yang bulat, benda itu dengan segera muncul di horizon pengelihatanku. Itu adalah kereta kuda dan di atap kereta itu ada rangkaian bunga mawar yang indah. Pasti ini pasangan berbahagia itu, pikirku. Setelah kereta itu sampai tepat di depan gerbang gereja, kedua mempelai itu turun. Semua orang mengerubungi mereka. Dengan susah payah aku berusaha melihat si wanita.
Cantik, tentu saja. Ia memiliki kecantikan langka yang hanya dimiliki oleh wanita-wanita dari Eropa Timur. Tulang pipi menonjol, dagu yang arogan, hidung yang mancung dan runcing, dan wajah putih yang tidak berbintik. Oh, jangan lupakan rambut pirang yang sangat pucat itu. Meski begitu, tatapannya—entah hanya aku atau semua orang merasakannya—sangat mengerikan. Ia menatap kami semua seperti ingin segera membunuh kami saja.
Ketakutan, aku beralih kepada si pria. Nah, kalau yang ini jelas orang Inggris. Tingginya melebihi batas normal—mungkin nyaris mencapai 190 sentimeter. Hidungnya tak kalah mancung dengan si wanita. Dari dahinya yang lebar, semua orang bisa tahu bahwa wawasannya luas dan otaknya cerdas. Tapi tunggu, rasanya aku mengenali si mempelai pria. Ah, dimana aku pernah melihatnya? Tidak, aku sering sekali melihatnya! Ayolah, ingat! Jangkung, mancung, dan berdahi lebar... Tunggu... Ya Tuhan! Tidak mungkin! Benarkah? Aku memanggil si mempelai pria, semoga saja aku tidak salah orang. Aku menyiapkan keberanianku. Lalu aku memanggilnya;
"Holmes?"
[A/N] Belom keliatan ya crossovernya? Tunggu ya, di bab selanjutnya mulai keliatan kok~
