[A/N] Hai! Maaf baru sempet update sekarang, seharian gue baca Supernatural. Dan itu keren banget. Supernatural sekarang serial favorit kedua gue setelah Sherlock Holmes. Pokoknya lo semua harus baca.

Disclaimer: Sherlock Holmes dan karakternya adalah milik Sir Arthur Conan Doyle. Hetalia dan karakternya adalah milik Hidekazu Himaruya. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiction ini.

Listening To: Drops of Jupiter - Train


Holmes menengok ke arahku dan tersenyum. "Oh, kau datang juga, Watson. Kukira praktekmu akan penuh hari ini." Aku mengangkat bahu. "Aku menutup praktek hari ini. Aku minta kawanku dari artileri untuk menggantikanku." Holmes mengangguk. "Baik. Doakan aku beruntung!" Holmes kembali menatap calon istrinya dengan mesra dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam gereja.

Tubuhku membatu. Retinaku menangkap bayangan Holmes dan istrinya, menyalurkannya ke otak melalui saraf mata, dan bayangan visual Holmes dan istrinya menjadi jelas. Otakku melakukan semua itu dengan sangat lambat. Diperlambat lagi karena sebenarnya otakku sedang menolak informasi ini dengan sangat keras. Holmes sendiri yang berkata padaku di Empat Pemburu Harta, bahwa ia tak akan menikah jika tidak ingin mengacaukan penilaiannya. Lalu apa lagi ini? Yah, tentu saja aku ingat di Petualangan Charles August Milverton, ketika ia berpura-pura bertunangan dengan salah satu pelayan Milverton. Tapi itu hanya pura-pura, dan ia memberitahuku! Tapi di Kisah Penutup ia pun hanya memberitahu Mycroft. Apakah itu yang terjadi?

"Hei, mau masuk apa tidak?" kata Lestrade sambil menyikutku, membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk dan mengikutinya ke dalam gereja.

Ketika kami semua sudah duduk di dalam gereja, Mrs. Hudson yang duduk di sebelah kiriku berbisik padaku. "Kamu kaget ya?" Aku mengangguk. "Sangat." Mrs. Hudson tersenyum. "Aku juga. Sore tiga hari yang lalu, tiba-tiba sekelompok orang datang membawa meteran dan kain-kain. Mereka menanyakan Mr. Sherlock Holmes. Aku pun memanggilnya dan bertanya padanya, apa yang terjadi. Ia hanya tertawa, memberikanku secarik kertas yang terlipat, dan berkata, "Mereka penata busanaku. Suruh mereka masuk." Setelah mengantarkan sekelompok pria tersebut naik, aku membaca kertas itu. Dan aku sangat terkejut."

Mrs. Hudson memberikan kertas itu kepadaku. Aku pun membacanya.

William Sherlock Scott Holmes

Natalia Arlovskaya

Gereja St. King's Cross

Kamis, 21 Februari 1891

"Astaga!" kataku serta merta. "Apakah ia menyebar undangan ini?" Mrs. Hudson mengangguk. "Ketika membaca kertas ini, aku teringat beberapa minggu sebelumnya, ia pergi ke kantor pos sambil membawa-bawa banyak kertas semacam ini. Jadi sepertinya memang begitu."

Aku mengangguk. Mataku kembali tertuju pada kedua mempelai di depan. Semuanya terasa sangat aneh. Pendeta membacakan doa-doa dengan sangat lambat di mataku. Holmes menunjukkan sikap yang sangat ia tentang selama ini—antusiasme terhadap asmara. Dan semua itu sangat aneh.

Tiba-tiba, seseorang yang duduk beberapa baris di depanku berdiri dan berbalik menuju pintu depan gereja. Sepertinya ia mau keluar. Aku mengamati wajahnya. Terlihat seperti orang Inggris. Berambut pirang, berwajah putih, dan bintik-bintik samar di wajah. Tapi alisnya sungguh ganjil. Apakah hanya aku atau... Atau memang alisnya itu berlapis enam?

Pria itu lewat di sebelahku. Tiba-tiba pria itu jatuh tersungkur. "Aduh!" Pria itu memegangi lututnya. Nampaknya ia tersandung atau apalah. Semua mata kini tak lagi tertuju pada kedua mempelai, tapi kepada pria itu. Aku segera menolong pria itu dan membantunya berdiri.

"Terimakasih," katanya lemah. "Tak apa. Sudah baikan?" tanyaku. Ia mengangguk. "Sekali lagi terimakasih." Aku tersenyum dan ia melanjutkan langkahnya yang terseok-seok hingga keluar gereja.

Aku kembali duduk di tempatku semula. Sekarang perhatian semua orang sudah kembali kepada Holmes dan Miss Arlovskaya—atau Mrs. Holmes dalam hitungan beberapa menit lagi. Aku pun begitu. Namun ada sesuatu yang membuatku sangat-sangat terkejut.

Arlovskaya menatapku.

Ia menatapku dengan kebencian yang sangat. Mata birunya menatap jauh ke dalam anak mataku. Nampak sekali ia ingin membunuhku. Dan bukan membunuh yang hanya menodong bibir pistol di pelipisku dan menarik pelatuk senjata api itu. Nampak sekali ia ingin mengulitiku. Meminum tetes terakhir dari darahku. Memotong-motong organ dalamku dan memanggangnya menjadi sate. Tatapan wanita itu membuat perutku terasa mulas.

"Miss Arlovskaya?" tanya Pendeta dengan lembut. "Apakah Anda bersedia berjanji?"

Seketika saja Arlovskaya menarik tatapan psikopatnya dari mataku, beralih kepada Pendeta, dan mengubah pandangan itu menjadi tatapan lembut surgawi. "Tentu saja, Pendeta yang baik," katanya dengan suara—yang tak kuduga sebelumnya—sangat halus. "Aku berjanji."

Lalu pandangan si Pendeta beralih kepada Holmes. "Mr. Sherlock Holmes, apakah Anda bersedia berjanji?"

Holmes tersenyum tipis terhadap Arlovskaya dan menatapnya penuh kasih sayang. Aku sangat terkejut melihatnya. Ia hanya melemparkan tatapan seperti itu kepada anak-anak kecil, kaum papa, Mycroft, dan, yah, aku.

"Aku berjanji."

Aku masih tidak percaya. Lagi, otakku memproses kejadian ini tidak lebih cepat dari anak balita yang baru bisa membaca Hansel dan Gretel. Bahkan bukannya tidak mungkin kecepatan otakku sekarang ini disaingi oleh kecepatan kupu-kupu yang terbang di udara. Sherlock Holmes? Menikah? Man, dunia ini sudah cukup aneh, dan kurasa tidak akan ada tempat untuk keanehan yang lainnya. Seperti yang satu ini.

"Hey buddy, bukankah lebih baik kau pergi ke sana dan beri selamat pada temanmu?" kata Lestrade kepadaku sambil menunjuk pintu gereja. "Gereja sudah kosong, lho."

Aku menatap sekeliling. Lestrade benar. Gereja sekarang sudah kosong. Mungkin aku tadi melamun terlalu banyak, sehingga tidak menyadari bahwa para undangan sudah pulang ke rumah masing-masing.

"Oh, terimakasih karena sudah mengingatkan," kataku pada Lestrade. Lestrade mengangguk. "Aku juga kaget kok awalnya. Tapi justru bagus kan, kalau dia punya istri? Setidaknya ia tak akan berbuat terlalu gila."

Aku hanya tersenyum mendengar gurauan Lestrade yang satu ini. Aku segera keluar gereja dan memanggil taksi untuk membawaku pulang.


Di rumah, aku melepas jasku dan membersihkannya. Ketika aku membersihkannya, aku merasa ada sesuatu di kantong yang sebelah kiri. Aku mengeluarkannya. Ternyata sebuah kartu nama.

Kawanmu Holmes sedang dalam bahaya besar. Yah, sebenarnya seluruh Eropa juga. Kalau kau peduli kepada sahabatmu dan kepada tanah airmu, sebaiknya kau datang ke alamatku besok pukul enam petang.

Aku membalik kartu itu.

Arthur Kirkland

Penasehat Kenegaraan

25C Winchurch Street, Westminster, London, Greater London, UK