[A/N] Disclaimer: Sherlock Holmes adalah milik Arthur Conan Doyle dan Hetalia adalah milik Hidekazu Himaruya. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiction ini.

Listening To: White Winter Hymnal - Fleet Foxes


Kriing!

Aku menarik bel rumah Mr. Arthur Kirkland ini. Sambil menunggu jawaban, aku mengamati rumah Mr. Kirkland. Rumah ini berdesain Bavaria; megah dan dramatis. Di lantai 2 rumah ini memiliki balkon. Kegagahan rumah ini sangat kontras dengan pintu rumahnya itu sendiri. Pintu ini tergolong kecil, tingginya tak mungkin lebih dari 180 sentimeter (dan aku langsung geli membayangkan Holmes yang harus merunduk jika ingin memasuki rumah ini) dan lebarnya sekitar 60 sentimeter.

Tak lama setelah aku merenungkan arsitektur rumah yang agak aneh ini, seseorang membuka pintu. Rupanya seorang pria berambut pirang yang... Hei, tunggu! Ini pria yang kemarin jatuh di sebelahku di gereja.

"Dr. John Watson?" tanya pria itu. Aku mengangguk. "Syukurlah. Akulah Arthur Kirkland. Silakan masuk." Pria itu mempersilahkanku masuk ke dalam rumahnya yang ternyata terlihat jauh lebih luas di dalam.

Meski didesain ala Jerman, perabotan dalam rumah Kirkland sangatlah Inggris. Senapan berburu, foto Ratu Victoria, medali veteran perang Afghanistan, ... Medali veteran perang Afghanistan? Jadi orang ini berada dalam perang yang sama denganku?

"Duduklah," kata Kirkland sambil menunjukkanku ruang tamunya. Ia duduk di hadapanku, di kursi berlengan yang sama persis dengan kursi lengan yang aku duduki. Hanya ada meja bulat berukuran sedang dengan hidangan minum teh di atasnya.

"Aku ingin memperjelas situasi kita di sini—apapun yang terjadi di ruangan ini, kau tidak boleh memberitahukan sepatah kata pun kepada siapa pun. Bahkan kepada Holmes. Justru ia yang paling tidak boleh tahu tentang hal ini. Aku akan membeberkan rahasia Inggris di hadapanmu, Dokter, dan juga rahasiaku. Kalau sampai informasi ini jatuh ke tangan yang salah, percayalah kepadaku, perang takkan terelakkan. Kau paham itu?" Kirkland memberitahuku tentang 'peraturan' yang harus kupatuhi.

"Aku paham itu, dan aku akan melaksanakannya. Tapi mengapa aku? Mengapa bukan Holmes? Dan mengapa sekarang?" tanyaku bertubi-tubi.

"Karena," Kirkland menahan napas, "karena sekarang Holmes sedang menikahi musuh Inggris nomor satu. Dan hanya kau, satu-satunya sahabatnya, yang bisa menyelamatkannya dan menyelamatkan seluruh Eropa."

Aku hampir membuka mulut ketika Kirkland mulai bicara lagi. "Mungkin kau bertanya-tanya mengapa bukan Mycroft. Ya, tentu saja Mycroft sudah tahu mengenai hal ini. Ia memutuskan mundur dan merekomendasikan kau sebagai penggantinya. Ia mundur karena Ia merasa bahwa kau lebih pantas dan lebih kompeten dalam hal ini. Dalam hal menyelamatkan Holmes. Dalam hal menyelamatkan Eropa."

Entah apa yang ada di pikiran Mycroft, pria itu sudah gila, pikirku. Aku hanyalah mantan dokter militer di Afghanistan yang akhirnya pulang ke Inggris dengan cedera parah, pria yang kedua pernikahannya gagal, dan entah berapa banyak kegagalan apa lagi yang ada dalam hidupku. Aku hanya tidak ingin menambahkan 'Menyelamatkan Eropa' sebagai salah satunya.

"Tunggu," kataku yang baru mencerna seluruh perkataan Kirkland. "Kau bilang Holmes menikahi musuh nomor satu Inggris? Apakah maksudmu Natalia Arlovskaya adalah musuh Inggris?"

Kirkland mengangguk perlahan. "Kau tentu memahami konflik yang sedang berlangsung antara aku dan Ivan. Adik Ivan, Natalia, mencoba mendekati salah satu figur Inggris, Sherlock Holmes. Ternyata mereka malah menikah. Hal itu menyulitkanku."

Aku semakin tidak mengerti alur pembicaraan kami. "Kau tiba-tiba menyebut Ivan dan Natalia, aku tidak mengerti. Siapa sebenarnya mereka?"

Kirkland tiba-tiba terbelalak, seolah tersadar dari igauannya selama ini. "Oh, aku lupa memberitahumu bagian terpenting dari cerita ini. Mari, lewat sini." Ia menuntunku berjalan menuju ruangan lain.

"Ini perpustakaanku," kata Kirkland sambil menunjukkanku ruangan lain yang sama besarnya dengan ruangan tadi. Bedanya, ruangan ini terisi buku-buku dalam jumlah yang sangat banyak (kalau tidak begitu, dia tidak akan menyebutnya perpustakaan, kan?).

"Lihat foto ini," kata Kirkland sambil menunjuk sebuah potret lukisan di dinding perpustakaan. Seorang bocah lelaki dengan umur berkisar 11 tahun, mirip sekali dengan Kirkland. "Ini lukisan dirimu ketika kau masih kecil ya?"

Kirkland hanya tersenyum "Coba kau lihat tahun dibuatnya lukisan itu." Aku menatap aneh kepadanya, namun kemudian tetap kulihat tahunnya. Nyaris tersedak aku dibuatnya. Lukisan ini dibuat 200 tahun yang lalu!

Kirkland tersenyum melihat reaksiku. "Nah, coba lihat potret di sebelahnya." Aku bergeser untuk melihat potret yang ditunjukkan Kirkland. Kali ini anak itu sudah lebih dewasa, mungkin 17 tahunan. "Nah, sekarang lihat tahun dibuatnya." Ketika aku melihatnya, rasa kagetku tak kalah dengan sebelumnya. Yang ini dibuat 150 tahun yang lalu.

"Jadi, kau tetap hidup selama, katakanlah, 300 tahun?" tanyaku tak percaya. Di luar dugaan, ia mengangguk. "Ya. Karena akulah Kerajaan Inggris."

Terjadi keheningan sejenak. Kata-kata Kirkland menggema di ruang di dalam kepalaku. Kerajaan Inggris? Entah, pria ini mungkin sudah gila. Bagaimana caranya aku hidup di dalam seorang manusia, seseorang yang berspesies sama denganku? Ini, semua hal yang berhubungan dengan hal ini, semuanya gila.

"Buktikan," kataku sambil masih menatap Kirkland dengan skeptis. Kirkland mengangguk dan mengambil sesuatu dari dalam jasnya. Ternyata itu adalah senjata. Ia memberikannya kepadaku.

"Aku sudah ikut banyak perang, dan aku sudah sangat sering tertembak. Tapi aku tidak pernah mati. Karena jika aku mati, maka Kerajaan Inggris akan runtuh dan hilang selama-lamanya. Nah, sekarang coba tembak aku di dada dan buktikanlah hal itu. Buktikanlah bahwa aku memang Kerajaan Inggris."

Aku menatap kaget kepada pria ini. Entah sudah berapa banyak dosis ketidakwarasan dalam tubuhnya. Bahkan aku tidak pernah melihat atau mendengar orang gila yang minta dibunuh! Orang ini pasti sudah jatuh ke dalam jurang ketidakwarasan yang sangat.

"Dengan segala hormat, Mr. Kirkland, bahkan orang tergila yang kutemui membunuh orang, bukannya meminta orang untuk membunuhnya. Dan mengapa aku harus melakukannya? Apakah ini jebakan agar saya melakukan tindakan kriminal?"

Kirkland tertawa mendengar ucapanku. "Dan Dr. Watson, kebanyakan orang waras yang kutemui merendahkan orang gila, bukan menghormatinya. Kau harus melakukan ini, Dr. Watson. Aku bisa meyakinkanmu bahwa kau tidak melakukan tindak kriminal apapun. Tembaklah, Watson. Tembaklah aku."

Aku, yang sudah bingung dan marah, memutuskan dengan bulat. "Persetan," gumamku. Kutodongkan senjata itu tepat ke jantung Kirkland dan kutarik pelatuknya.

DOR!

Peluru itu menembus tubuh Kirkland. Lebih tepatnya, menembus jantung Kirkland. Ia langsung limbung dan jatuh. Aku segera menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.

Kirkland menggenggam tanganku. Ia menaruhnya di atas jantungnya yang berdarah-darah. Aku bisa merasakan denyutnya melemah, lalu hilang.

Oh tidak, pikirku. Orang ini telah membuatku melakukan tindakan kriminal.

"Watson," bisik Kirkland tiba-tiba. Nyaris saja kumuntahkan jantungku karena kaget. "Kamu! Kamu kan sudah mati!"

Kirkland tertawa mendengar ucapanku. Ia lalu duduk dengan tegap. "Sudah kubilang, dan kau masih tak mau percaya. Aku ini Kerajaan Inggris. Aku tidak bisa mati. Nah, sekarang tanganmu sudah berlumur darahku. Coba kau cium bau darahnya."

Aku memandang Kirkland aneh. "Sudah, lakukan saja," kata Kirkland yang menangkap keraguan di mataku. Aku pun akhirnya mencium darah Kirkland. Dan untuk kesekian harinya dalam sore ini, aku terkejut.

Ini bukan bau darah. Ini bau Sungai Thames!

"Nah, sudah kubilang kan," kata Kirkland. "Sekarang biar kujelaskan..."

DUAR!

Setelah ledakan itu, aku tak ingat apa-apa.


Aku terbangun dalam kondisi kebingungan. Seluruh tempat sudah menjadi puing-puing. Segalanya hancur tak bersisa. Rumah megah Kirkland sudah porak poranda. Oh iya, Kirkland! Aku langsung mencarinya di tengah puing-puing. Alih-alih menemukan Kirkland, aku malah menemukan secarik kertas di genggamanku.

Arthur ada pada kami. Kalau kau mau dia kembali, kau harus korbankan segala hal yang kau cintai.

Natalia