[A/N] Buat yang udah baca The Switched House di blog gue, jangan protes ya... Ini emang bukan cuma gue remake, ini gue rombak total! Jadi yah, akhirnya nanti belum tentu sama...
Disclaimer: Sherlock Holmes adalah milik Sir Arthur Conan Doyle dan Hetalia adalah milik Hidekazu Himaruya. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiction ini.
Listening To: If I Let You Go - Westlife
"Aku menemukan seseorang!" teriak Gregson lantang. Mendengar suara Gregson, Lestrade yang sedang mengamati puing-puing reruntuhan rumah Kirkland pun mendongak dan berdiri. Lestrade kemudian berlari menuju sumber suara.
"Bangunlah kawan, bangun... Hei! Dr. Watson! Apakah itu kau?" kata Gregson ketika ia menyadari bahwa pria yang dia temui adalah aku. Aku mengangguk. "Oh, man, apa yang terjadi padamu? Kau tampak sangat kacau."
Aku menggeleng dan terduduk. "Yah, kau bisa lihat sendiri kan, Tobias. Banyak hal yang nampak kacau di sini." Gregson pun membantuku berdiri, tepat ketika Lestrade menghampiri kami berdua.
"Dr. Watson? Apa yang Anda lakukan di sini? Saya nyaris tidak bisa mengenali Anda karena wajah Anda karena tertutup abu," kata Lestrade setelah beberapa detik. Aku hanya tersenyum. "Aku hanya sedang mengobrol dengan sahabatku ketika tiba-tiba sesuatu meledak dan semuanya jadi berantakan." Aku mengantongi surat dari Natalia. Jika aku harus membicarakannya dengan Lestrade dan Gregson, maka tempat yang paling aman adalah di kantor polisi.
"Apakah kau keberatan kalau ikut dengan kami ke kantor polisi? Kami punya beberapa pertanyaan," kata Gregson. Aku mengangkat alis. Tentu, mengapa tidak?" Kami bertiga menuju mobil polisi ketika tiba-tiba seorang pria—nampaknya seorang Amerika—mencegat kami.
"Alfred F. Jones, FBI. Dr. John Watson, Anda harus ikut saya sekarang," kata pria itu dengan aksen Amerika. Orang itu berambut pirang, berkacamata, dan poninya melengkung di satu sisi.
"Maaf, Tuan FBI," kata Gregson dengan nada mengejek, "ini Inggris. Kau dan lencana bodohmu itu tidak berarti apa-apa kecuali di negara sampahmu itu. Apa namanya? Amerika? Iya, itu."
Jones malah balik tersenyum dengan tatapan yang menghinakan. "Katakan itu di depan ratu bodohmu ini." Jones memberikan secarik kertas kepada Gregson. Ternyata kertas itu berisi perjanjian dengan Amerika untuk bekerjasama untuk menyelesaikan kasus peledakan kediaman Kirkland. Surat itu ditandatangani oleh Presiden Amerika dan Yang Mulia Ratu.
"Itu artinya," kata Jones, "kau harus menyerahkan saksimu ini. Sekarang."
"Keparat tukang makan burger," gumam Gregson.
"Heh apa katamu?" tanya Jones marah.
"Kubilang, kau keparat tukang makan burger!" teriak Gregson dengan wajah puas.
"Brengsek!" Jones melayangkan tinjunya ke wajah Gregson, namun Lestrade menangkisnya.
"Sudah, kalian berdua. Jangan bertindak seperti anak kecil. Dr. Watson, Anda dipersilahkan mengikuti Tuan Jones," kata Lestrade. Aku mengangguk.
"Mari, Dokter, saya tahu anda lebih cerdas dan bertata krama lebih baik daripada bajingan kecil ini," kata Jones sambil membawaku pergi dan mendelik kepada Gregson. Gregson hanya menyeringai dengan mimik menghinakan. "Kau itu yang bajingan," gumamnya puas.
"Tobias!" hardik Lestrade. Gregson tetap tersenyum mengejek. Jones dan aku pun pergi dari tempat itu.
"Silakan masuk, Dr. Watson," kata Jones sambil membukakan pintu keretanya dan mempersilahkanku masuk. "Terimakasih," kataku. Aku pun masuk ke dalam kereta kuda itu dengan Jones mengikuti di setelahku.
Aku duduk di hadapan Jones. Ia lalu menarik penutup jendela. "Dengan segala hormat, Dr. Watson, tapi aku harus menutup jendelanya."
"Kenapa?" tanyaku. Jones tersenyum. "Atasanku tidak memperbolehkan kau mengetahui jalan menuju markas, sehingga kau tidak bisa melacak kami nantinya." Aku mengangguk saja.
Perjalanan menuju tempat yang disebut-sebut markas oleh Jones memakan waktu lebih dari dua jam. Entah tempat itu memang jauh atau kami hanya dibawa berputar-putar untuk menyesatkan tebakanku terhadap jarak rumah Kirkland ke markas.
Tiba-tiba kereta kami berhenti. Kusir mengetuk sekat antara kami 3 kali. Mungkin itu kode untuk 'Kita sudah sampai'. Jones kemudian mengeluarkan sebuah karung kecil. "Maaf, beribu-ribu maaf saya sampaikan, tapi markas kami ini sangat rahasia dan tidak boleh diketahui siapapun. Saya harus memakaikan ini untuk Anda." Ia memakaikan karung itu di kepalaku dan mengikatnya di sekitar leherku. "Anda bisa bernapas, Dr. Watson?" Aku mengangguk untuk 'iya'. "Apakah Anda bisa melihat? Tolong jawab pertanyaan ini dengan jujur."
Aku mencoba mengintip melalui celah-celah yang sangat kecil di karung tersebut. Tapi berhubung karung itu berwarna hitam dan seratnya cukup tebal, upayaku sia-sia. Aku menggeleng. "Bagus. Sekarang saya akan menuntun Anda untuk masuk ke dalam markas."
Aku mendengar bunyi pintu kereta dibuka. "Tangan Anda, kalau boleh?" Aku mengangguk. Aku mengulurkan tangan, lalu tanganku digenggam oleh Jones. "Hati-hati ada turunan," kata Jones. Karena aku sudah hafal dengan turunan kereta, jadi bagian itu tak terlalu menyusahkanku. Jones dan aku kemudian berjalan.
"Kau tak nampak kesulitan ketika turun dari kereta. Kau yakin tak bisa melihat apa-apa?" kata Jones. Ia mencoba terdengar mantap, tapi tetap saja terdengar sedikit kecurigaan dalam nada bicaranya. "Yah, aku ini dokter. Sering sekali pasien sudah parah sakitnya, dan aku yang harus menghampiri mereka karena mereka tidak bisa datang ke tempatku. Jadi aku sering naik kereta, dan aku jadi hafal bagian-bagian kereta."
"Oh, begitu," kata Jones. Setelah itu ia berhenti berjalan. Aku pun berhenti. Aku mendengar suara ketukan pintu. Mungkin Jones mengetuk pintu markasnya. Setelah itu terdengar suara pintu dibuka.
"Siapa itu?"
Terdengar suara pria beraksen Prancis.
"Saksi kita."
Orang itu—orang yang beraksen Prancis itu, nampaknya dia mempersilakan kami masuk, karena Jones menepuk tanganku, sebagai pertanda bahwa kita akan berjalan lagi.
Kakiku merasakan perubahannya. Kakiku berpindah dari tanah kering ke sebuah tempat berubin. Kini aku berada di dalam ruangan. Terdengar suara pintu ditutup di belakangku.
Di tempat ini terasa lebih sejuk. Mungkin karena sirkulasi di ruangan ini berjalan dengan baik dan mungkin ada ventilasi. Aku bisa merasakan Jones melepaskan genggamannya. "Tunggulah di sini. Dan omong-omong, kau bisa duduk. Di belakangmu sudah ada kursi kok," kata Jones. Aku mengangguk. Aku meraba-raba sesuatu di belakangku, dan nampaknya benar itu kursi. Aku pun duduk.
Setelah itu, tidak ada lagi yang mengajakku berbicara. Tempat ini tiba-tiba berubah menjadi sangat hening. Tidak ada siapapun di ruangan ini. Atau mungkin ada, tapi mereka semua terdiam. Saking sepinya ruangan itu, aku bisa mendengar suara jantungku berdetak sesuai irama.
Aneh sekali, pikirku. Aku dibawa kabur oleh seorang petugas FBI yang muncul tiba-tiba. Lalu aku dibawa ke sini dengan kereta yang ditutup jendelanya, dan ketika sampai, kepalaku ditutup dengan karung. Sebenarnya orang Amerika itu mau apa, pikirku lagi.
Tap, tap, tap.
Aku bisa mendengar seseorang masuk ke ruangan ini. Suara sepatu beradu dengan lantai terdengar jelas dan keras di telingaku. Hanya ada dua kemungkinan; Orang itu berukuran kaki besar, atau memang ruangan ini yang besar.
Kemudian terdengar bunyi sesuatu yang diseret. Entahlah, kursi? Atau meja? Entah benda apa itu, nampaknya orang itu duduk di atasnya. Dan aku bisa merasakan orang itu, siapapun dia, sedang menatap kepadaku. Tatapannya sangat menusuk, penuh keingintahuan. Rasanya ia ingin menelanjangi semua yang berada di pikiranku.
"Siapa kau?" tanya orang itu dengan aksen Cina yang kental.
"Dokter John Hamish Watson."
"Nama aslimu?"
Aku mengernyitkan dahi. "Itu nama asliku."
"Pembohong!" teriak pria itu. Kini aku bisa merasakan napasnya berada kira-kira sati jengkal di depan wajahku. "Kau mata-mata Ivan, kan?"
Aku menggeleng bingung. "Siapa itu Ivan?"
Kluk.
Sial, pikirku. Bunyi senjata dikokang, kira-kira dua jengkal di hadapanku.
"Katakan yang sebenarnya! Siapa kau?"
Kemarahanku mulai tersulut. "Aku John Watson! Tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya!"
DOR!
Terdengar bunyi tembakan. Bersamaan dengan bunyi tembakan itu, bahuku seketika terasa nyeri dan perih. Rupanya Cina sialan itu menembak bahuku.
"Jadi," kata pria Cina itu sambil meletakkan moncong pistolnya di dahiku. "Masih mau berbohong?"
