[A/N] Hai! Sori gue udah lama gak nongol buat update TSH, salahin tuh Google Chrome lemot setengah mati! (red.: akhirnya upload pake Firefox -_-)
Disclaimer: Sherlock Holmes dan karakter-karakternya adalah milik Sir Arthur Conan Doyle dan Hetalia dan karakter-karakternya adalah milik Hidekazu Himaruya. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiction ini.
Listening To: Faking My Own Suicide - Relient K. Lagi jatuh cinta sama lagu ini, keren abis!
"Hentikan, Yao! Kau sudah keterlaluan!" kata si pria Prancis. "Lagipula, kalau dia mati, dia tidak ada gunanya buat kita, kan? Dia mau orang ini hidup-hidup."
Dia, pikirku. Dia itu siapa? Atasan kedua orang ini kah? Atau mungkin Jones? Atau Kirkland? Siapa? Siapa orang yang sudah membuatku tertembak?
Aku bisa mendengar orang Cina itu mendekat. Sekarang napasnya terasa di sebelah telinga kananku. "Kali ini, kau kuampuni." Lalu pria Cina itu menjauh.
Terdengar suara pintu dibuka. "Kawan-kawan, ia-Ya Tuhan! Kalian menembaknya?" Itu suara Jones. Langkah kakinya mendekatiku. Aku merasakan ikatan di leherku dibuka dan karung hitam itu dilepaskan dari kepalaku.
Sekarang aku bisa melihat ruangan ini. Ternyata memang ruangan ini sangat besar. Dindingnya terbuat dari kaca. Aku bisa melihat pantulan diriku. Di ruangan ini, ada tiga pria. Yang satu Asia, yang satu berambut pirang, bergelombang, dan panjang sebahu, dan satu lagi Jones. Di cermin, terlihat bahuku yang berdarah. Aku langsung menyentuh bahuku. Perih, tentu saja.
"Hei, kau tak apa?" tanya si pria Asia. Aku menengok apatis. "Menurutmu? Kau kan tadi yang menembakku?" Pria Asia itu hanya tersenyum malu.
"Sini, biar kuobati," kata pria berambut sebahu itu. Ia berpembawaan lebih tenang dari si pria Asia. Ia membersihkan lukaku dan memperbannya.
"Kenalkan, ini Wang Yao. Dan ini Francis Bonnefoy," kata Jones sambil menunjuk pria Asia dan pria berambut sebahu itu secara berurutan.
"Kalian bukan FBI, kan?" tanyaku. Jones menengok kepada Yao dan Bonnefoy. "Yah, kami bukan FBI," kata Jones. Aku mengangguk. "Lalu siapa kalian?"
"Soal itu ya?" Kali ini Bonnefoy yang bicara. "Lebih baik kamu tidak tahu. Tapi tujuan kami sama denganmu, menyelamatkan Eropa. Atau dunia, mungkin."
Kami semua terdiam sejenak. "Sudah selesai," kata Bonnefoy. "Kau tidak menjerit atau apa. Memang tidak sakit?" Aku menggeleng. "Aku veteran perang. Anglo-Afgan. Luka tembak seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari." Bonnefoy mengangguk.
"Apakah," aku berhenti sejenak. Yao masih menggenggam senjata. Bukannya tidak mungkin ia akan menembakkannya jika aku menanyakan pertanyaan seperti ini.
"Ada apa? Tanyakan saja," kata Jones.
"Apakah kalian seperti Kirkland? Apakah kalian... Sebuah negara, dan bukannya manusia?"
Sudah kuduga. Ketiga pria itu langsung terbelalak mendengar pertanyaanku. Yao nyaris mengangkat senjata, tapi Bonnefoy menurunkannya.
"Darimana kau tahu itu?" tanya Bonnefoy. "Kirkland yang memberitahuku," jawabku.
"Bagaimana?" tanya Yao. "Aku boleh menembaknya sekarang?" Jones menatap marah kepada Yao. Jones beralih kepadaku.
"Kirkland yang memberitahumu?" tanya Jones. Aku mengangguk. Jones berpaling kepada kedua rekannya. "Biarkan saja dia hidup."
Yao mengernyitkan dahi. "Tapi dia sudah tahu rahasia kita!" Jones menggeleng. "Jika Arthur percaya padanya, berarti kita bisa percaya padanya juga."
Yao dan Bonnefoy mengangguk. "Masuk akal," gumam Bonnefoy. "Aku Amerika. Yao adalah Republik Rakyat Cina, dan Bonnefoy adalah Prancis," kata Jones. Aku lalu mengeluarkan surat dari Natalia. "Saat rumah Kirkland meledak, aku pingsan, tentu saja. Ketika aku siuman, aku menemukan surat ini." Aku menyerahkan surat itu kepada Jones. Yao dan Bonnefoy merapat kepada Jones untuk ikut membaca surat itu.
"Apa-apaan..." Bonnefoy nampak syok. Yao sampai terduduk di lantai saking kagetnya. "Kau tahu siapa yang memberikan ini padamu?" tanya Jones yang nampak paling stabil diantara ketiga orang ini.
Aku menggeleng. "Andai saja aku tahu, itu akan memudahkan misi kita. Tapi sebelumnya, sebenarnya apa yang terjadi antara kalian dan Natalia?"
Jones menoleh kepada kedua rekannya, seolah memohon restu. Yao dan Bonnefoy mengangguk. "Dia sudah tahu terlalu banyak. Apa salahnya kalau dia tahu semuanya?"
Jones berpaling kepadaku lagi. "Kalau kami meminta bantuanmu, berarti kami harus percaya padamu kan?"
"Begini," kata Jones memulai cerita. "Aku, Yao, Bonnefoy, Kirkland, dan Braginski-itu nama belakang Ivan-adalah anggota Blok Sekutu. Braginski adalah Federasi Rusia. Natalia adalah Belarus, adik dari Ivan."
Aku mengernyitkan dahi. "Kukira namanya adalah Uni Soviet."
Jones mengangguk. "Di sinilah inti masalahnya. Natalia ingin memisahkan diri dari Uni Soviet dan membentuk suatu teritori baru. Ia memprovokasi Lithuania dan Ukraina untuk bergabung dengannya. Kami selaku sekutu Ivan tentu saja menentang pergerakan yang dimulai oleh Natalia ini.
"Rupanya Natalia punya rencana baru. Ia ingin menggoyahkan kami terlebih dahulu untuk mempengaruhi penilaian Ivan. Arthur adalah yang paling halus perasaannya diantara kami berempat. Natalia mencoba mendekati tokoh-tokoh besar Inggris, dan celakanya, Sherlock Holmes adalah salah satunya. Entah bagaimana bujuk rayu Natalia sehingga Holmes bisa terpikat dalam jebakannya."
Aku merasa ngeri ketika mendengar cerita dari Jones. "Lalu, apa yang akan mereka lakukan kepada Holmes?"
Jones menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. "Kau masih ingat kan, kata-kata Nataila di surat itu? 'Berikan segala yang kau cintai'. Yang ia maksud, tentu, Holmes. Apa yang akan ia lakukan padanya? Segala macam siksa. Ia akan membuat Holmes memohon untuk hidupnya. Dan ia akan membuat Arthur menyetujui gagasannya untuk memisahkan diri. Lalu ia akan membuat skandal di negara lain, terus begitu, hingga keinginannya dipenuhi."
Dadaku berdesir. Sebegitu mengerikannya kah? Hanya untuk menuntut kebebasan. Sebrutal itukah? Yah, Natalia memang memiliki tatapan psikopat yang mengerikan, tapi tak kukira ia bisa sekejam itu. "Bagaimana dengan Ivan?"
"Ia kritis," kata Yao dengan suara yang bergetar. "Natalia menembaknya di kepala. Meski hal itu tak akan membunuhnya, tetap saja akan melemahkannya untuk sementara waktu karena otak melambangkan pusat tubuh, pusat pemerintahan. Sekarang ia terkapar di rumah sakit."
Aku menggigit bibirku cemas. Oh, Holmes, kenapa ketika kau menikah, harus dengan wanita paling berbahaya di Eropa?
"Tunggu," kataku kemudian. "Jika kalian adalah sekutu Ivan, kenapa kalian sangat takut kalau aku adalah mata-matanya?"
Jones mengambil secarik kertas dari saku di dalam jasnya dan memberikannya padaku. Aku membacanya sekilas. Nampaknya aku pernah melihat yang seperti ini, tapi dimana? "Tunggu, bukankah ini..."
"Ya," kata Jones, "ini rancangan Bruce-Partington. Kasus itu tak selesai seperti yang kau kira. Sebenarnya ada sebelas lembar rancangan, bukan sepuluh. Ini adalah lembar ke-sebelas. Ini menjelaskan tentang kelemahan-kelemahan Bruce-Partington. Kami menemukan ini di meja Ivan, dan ia berencana mengirimkannya ke Ludwig Beilschmidt, Jerman. Dan kau tahu sendiri bagaimana hubungan kami dengan Jerman dan kedua badutnya itu, Italia dan Jepang."
"Seperti yang kubilang, ini memang konflik internasional. Kalau sampai lembar rancangan ke-sebelas itu jatuh ke tangan Blok Poros, Perang Dunia bisa meletus," kata Bonnefoy.
BRAK!
Pintu ruangan ini—yang aku yakini telah terkunci—didobrak dari luar. Cahaya lampu jalan di malam hari menerobos sosok lelaki yang membuka paksa pintu itu, membuat bayangannya terlihat semakin gagah. Pria itu langsing tinggi dan ia membawa senapan Bulldog. Aku langsung mengenalinya. Itu pasti Sherlock Holmes.
"Baker Street, sekarang!"
