xXxX Remember XxXx

A/N : Hola hola~ Misa datang untuk mengupdate fict ini hahaha /datang dengan wajah innocent/ ga apdet kilat ya? Gomen neee /di buang readers/ Misa udah berusaha ko untuk apdet secepatnya.. apa lagi pas liat review minna-sama.. huweeeee semangat rasanya T^T Arigatou ~

Langsung aja ya ne, selamat membaca ;3

Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan review x3


Disclamer : Naruto, Masashi Kishimoto

Remember copyright : Misaru Keigo

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Warning : AU, OOC(?), Typo(s), Miss typo(s), Poetry, Gaje, de el el

Chapter 3 : 'I need you?'


.

.

Enjoy!

.

.

Aku akan membuktikan padamu.

(Membuktikan apa?)

Bukti bahwa kau membutuhkanku.

(Bagaimana?)

Dengan berada di sisimu.

(Apa bisa?)

Aku ingin menjagamu.

(Benarkah?)

Untuk itu, aku berjanji.

(Janji?)

Janji untuk melindungimu dan ada di dekatmu.

(…)

.

.

Esok harinya, seperti biasa kicauan nyanyian burung selalu terdengar merdu di telinga. Cuaca terlihat cerah saat ini. Mentari telah keluar dari persembunyiannya melalui ufuk timur. Berbagai sapaan dan salam setiap pagi mulai mengisi gendang telinga layaknya alarm yang tengah berdering.

"Ohayou, Sasuke-sama!"

"Apa Sasuke-sama sudah sarapan?"

"Sasuke-sama, tadi pagi aku membuatkan bekal khusus untukmu~"

"Aku juga!"

Suguhan yang selalu datang setiap paginya. Selalu saja gadis-gadis itu tidak pernah menyerah untuk mengelilingi sosok pemuda tampan yang terlihat datar namun terasa risih dengan sikap para gadis yang mengelilinginya. Entah apa yang terjadi bila suatu saat Sasuke absen dari sekolah. Sepi atau gaduh? Biarlah, toh apapun yang terjadi Uchiha bungsu ini tidak pernah merasa nyaman bila yang mereka lakukan hanyalah membuat risih dan mengganggu pendengarannya dengan berbagai ocehan dan suara memuja yang menurut Sasuke—"Berisik!"

"Kyaaaaaa~ Sasuke-sama yang sedang kesal terlihat tambah keren!"

Mendengar jawaban yang di berikan salah satu fansnya membuat dia berdecih kesal dan berharap ada seseorang yang dapat mengeluarkannya dalam lingkaran singa ini—melihat dia sudah cukup lelah dengan tingkah gadis-gadis yang menurutnya sangat mengganggu.

"TEEEMMEEEEEE!"

Dan tanpa di duga Kami-sama telah menurunkan malaikat penolong sesuai harapan Sasuke. Dan penolong itu—Uzumaki Naruto—tanpa ragu menerobos masuk kedalam benteng rasaksa dan membawa kabur sang pangeran. Ah, lagi-lagi itu hanya perumpamaan. Tak peduli bila semua pasak mata menatap Naruto dengan tatapan kesal. Dia—Naruto, dengan mudahnya menyelamatkan Sasuke dari parasit-parasitnya. Dan itu membuat Sasuke tersenyum kemenangan. Tak sedikit pula para gadis yang merona saat melihat senyuman maut yang jarang di perlihatkan oleh Sasuke. Suguhan manis di pagi hari, eh?

"Berterimakasihlah padaku Teme, aku telah menyelamatkanmu, bukan?" Ucap Naruto dengan pedenya sembari merangkul Sasuke layaknya pria sejati dan tersenyum khas rubah.

"Ku akui, saat seperti ini kau memang bisa diandalkan Dobe!" balas Sasuke Singkat.

"Ehehe…Kemarin kau kemana saja seharian? Bolos tapi tidak mengajakku Temee~" rengek Naruto dengan wajah kusut dan bibir bawah yang sedikit dimajukan (baca: cemberut) sembari melepas rangkulannya dari pundak Sasuke.

"Atap."

"Sudah ku duga, bagaimana perasaanmu sete—"

GYUUT. Tersontak langkah Sasuke terhenti karna sesuatu tengah menahannya dengan; menarik lengan baju Sasuke. Dan itu membuat Naruto yang berada di sampingnya ikut terhenti dan memutuskan pembicaraan—saat reflex mereka berdua di buat kaku oleh sosok yang tengah menahan Sasuke.

"Sakura? Kau benar-benar Sakura kan?" Tanya Naruto antusias seraya memegang pundak Sakura dengan wajah tak percaya.

"Jangan kasar padanya Dobe!" potong Sasuke yang menepis lengan Naruto yang berhubungan dengan Sakura.

'Kau masih cemburu rupanya…' inner Naruto—yang tidak mungkin di katakan secara langsung—atau dia akan berakhir mengenaskan di rumah sakit. "Hehe…maaf"

"Ada perlu apa?" Tanya Sasuke langsung to the point dengan wajah datar dan menatap heran sosok di hadapannya tengah tersenyum lembut. Aneh? Tentu saja. Bila di ingat, baru saja kemarin Sakura mendorongnya seolah menolak kehadiran Sasuke. Namun sekarang? Saat ini sosok yang menolak berubah menjadi hangat dan ramah. Awalnya—Sasuke ingin menjaga jarak dengan Sakura—tapi melihat senyum polos Sakura, membuatnya harus berpikir ribuan kali lagi sebelum mengambil keputusan. Karna senyuman itu dapat meredam tekat awal Sasuke. Tidak ingin kehilangan kesempatan, hn?

Disisi lain Sakura tengah sibuk merogoh saku kemejanya dan menarik secarik kertas yang sudah terlipat rapih, lalu di serahkan pada Sasuke dengan membungkuk cukup dalam. Mengetahui kertasnya sudah di pegang Sasuke. Sakura memberikan senyuman manisnya dan beranjak meninggalkan Sasuke dan Naruto yang masih tercengang dalam pikiran masing-masing. Detik kemudian—Sakura pun berangsur pergi sembari melambaikan tangannya dan berlari kecil kearah Sasori yang setia menunggunya di depan loker sekolah.

"Apa yang kau berikan padanya Sakura?" Tanya Sasori yang terbilang penasaran dengan apa yang baru saja Sakura lakukan tadi. Sedangkan yang ditanya—Sakura, hanya menggelengkan kepalanya dan merangkul manja di lengan Sasori. "Baiklah, akan kuantarkan kau sampai depan kelas,"

.

.

.

"Surat cinta kah, Teme?" Tanya Naruto yang sedikit menebak-nebak isi dari surat tersebut. Begitu pula Sasuke yang sedikit berharap apa yang di ucapkan Naruto benar. Onyx miliknya tidak pernah lepas dari pandangan sepucuk surat yang baru di terimanya. Dan detik berikutnya, Sasuke-pun membuka lipatan kertas dan membaca apa isi yang ada di dalamnya.

'Gomen ne atas kejadian kemarin—

—Arigatou ^o^'

Setelah membaca pesan singkat itu-pun Sasuke tersenyum kecil. Senyuman yang sangat jarang di keluarkan oleh bibir tipis pemuda tampan ini. Dan hal itu berhasil membuat Naruto kehilangan kesabaran atas rasa penasarannya; direbutlah dengan kilat kertas yang berada di tangan Sasuke—dan kertas yang dapat membuat Sasuke tersenyum.

"Gomen ne? Arigatou? Kemarin? Apa maksudnya Teme?"

"Bukan urusanmu Dobe. Ayo kita ke kelas."

"Aku perlu tau Teme!"

"Hn"

"Teme~"

"Hn"

"Berhentilah menggunakan kalimat itu Teme!"

"Hn"

Sasuke tersenyum. Surat itu seolah menyadarkan pikirannya yang merasa Sakura telah menolak kehadirannya. Ternyata apa yang ada di pikirannya salah. Dia merasa terlalu cepat mengambil keputusan yang masih belum pasti. Surat itu. Emerald itu. Senyum polosnya itu—seolah memberikan kesempatan bagus untuknya. Sasuke merasa cukup untuk sekarang. Jadi, bolehkah dia berharap ini isyarat yang diberikan oleh Sakura padanya? Ah, semoga ini bukanlah karma untukmu yang pernah menyakitinya, Sasuke.

"Teme kau pelit!"

"Hn"

"Errr… dasar kau TEEMEEEE—SEMEEE!"

BLETAK—

"I-ittai, Teme!"

.

.

.

"Kalian lihat?"

"Setelah memberikan surat pada Sasuke-sama, perempuan aneh itu langsung bergelayut manja pada Sasori-senpai!"

"Cih! Tidak tahu diri!"

"Jadi… Apa yang akan kita lakukan?"

"Tentu saja memperingatkan dia supaya kapok!"

"Ide mu menarik—

—Karin."

xXxX Remember XxXx

Aktifitas sekolah tetap berjalan seperti prosedur yang telah di buat. Semua tengah sibuk dengan apa yang sedang mereka lakukan. Belajar. Ya, belajar dan tidak sedikit dari mereka tengah mengerjakan soal-soal ulangan harian yang rutin di berikan oleh guru di masing-masing akademis. Ada yang serius menanggapi soal ujiannya atau bahkan ada yang terlampau santai dan pasrah menunggu hasil hingga—TENG TONG—bel istirahat pun berbunyi dengan lantang. Melibatkan siswa/i berlarian dalam koridor sekolah menuju kantin untuk segera memuaskan indra pengecap dan rasa lapar yang mereka tahan saat waktu belajar. Walaupun tidak jarang dari mereka yang lebih memilih membawa bekal dari rumah.

"A-ano… Saku-ra-chan, ka-u mau ke kan-tin?" Tanya seorang gadis berparas cantik berambut indigo dan bermata lavender yang notabenya adalah teman dekat Sakura semenjak awal semester dimulai. Mereka akrab dikarnakan; sama-sama terasingkan. Terasingkan? Ya, Sakura terasingkan karna fans fanatic Sasori selalu mengintimidasi dia, sehingga tidak ada yang mau terlibat dan menjadi terbully karna berteman dengan Sakura—walaupun Sakura sendiri tidak pernah ambil pusing hal yang menurutnya tak penting—ironis bukan?

Sedangkan gadis bermata seindah lavender ini terasingkan karna sikap pemalunya dan aura yang membuatnya seperti sulit untuk di dekati. Namun, siapa sangka di balik semua itu mereka adalah gadis yang cukup popular, dan di minati kalangan laki-laki karna kecantikan dan kepintarannya. Manusia itu memang munafik.

Dan dia—Sakura, yang tengah di ajak bicarapun tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya pelan—bertanda dia menerima tawaran yang di tawarkan gadis lavender untuknya. Dan hal itu dibalas senyuman manis gadis itu yang mempunyai nama; Hinata—Hyuuga Hinata. Detik kemudian mereka pun meninggalkan kelas untuk beranjak pergi ke tempat yang dapat menghilangkan rasa lapar mereka; kantin.

xXxX Remember XxXx

"Haaaaaah—kalau tau perjuangan mendapatkan makanan di kantin itu susah, lain kali aku bawa bekal dari rumah saja! Iya kan, Sakura-chan?" Ucap Hinata dengan raut wajah kesal yang dibalas dengan tawa kecil yang berasal dari Sakura. Gadis itu tertawa karna jarang sekali melihat Hinata yang dapat berbicara dengan lancar tanpa putus-putus atau pun rasa malu.

"Eh? Ma-maaf Sakura-chan, kita ja-di makan di a-tap…" Lanjut Hinata dengan pipi yang sedikit merona dan diselingi raut wajah kecewa; bila mengingat mereka baru saja berjuang membeli makan dan berjuang mencari tempat yang nyaman untuk makan bersama—karna kantin terlalu di padati dan sesak—dan halhasil; mereka tidak menemukan tempat bagus, karna semua tempat telah di jajah siswa/i yang juga mencari tempat nyaman untuk melahap santapannya atau sekedar mengobrol dengan teman, dan tidak sedikit juga yang tengah berpacaran.

Bila mengingat hal itu, hanya deru nafas yang terhembus dari kedua gadis berparas cantik ini. Dan detik kemudian mereka saling beradu pandang dan di selingi tawa kecil. Setelah itu mereka pun memutuskan untuk makan sembari merasakan hembusan angin yang lembut menyapu helaian rambut bubble-gum dan indigo. Perpaduan yang unik bukan?

BRAK!

"Ternyata kau bersembunyi di sini, eh? Sa-ku-ra Ha-ru-no?!"

Ah, ternyata kedamaian dengan cepat berangsur pergi. Namun, hal ini tidak mengagetkan Sakura yang terbilang sudah terbiasa menerima perlakuan seperti ini—bisa di lihat dari Sakura yang melanjutkan aktifitas makannya dan membiarkan tiga orang gadis—yang baru saja mendobrak pintu atap tadi berlaku sesuka hatinya. Berbeda dengan Hinata yang kehilangan nafsu makannya dan menunjukan getaran di mata lavendernya karna shock dan takut.

"Berani-beraninya kau mengacuhkan kami, Sakura!" bentak gadis berambut merah panjang dengan dandanan, errr… sexy untuk seukuran pelajar SMA. Dan sepertinya dialah pemimpin diantara kedua gadis yang berdiri di belakangnya. Namun gertakan itu hanya dibalas dengan tatapan intens oleh Sakura. Membuat gadis berambut merah darah itu merapatkan rahang giginya menahan kesal—karna kelinci buruannya sama sekali tidak menampakkan rasa takut atau getaran sedikit pun. Ya, Sakura tidak kalah menatap penuh kebencian terhadap gadis yang diketahui bernama Karin—ketua dari club fans Sasuke. Konyol.

Tetap pada pendiriannya. Gadis bubble-gum itu terus mengacuhkan lawan bicaranya yang terlihat semakin kesal. Hingga ketiga gadis itu memutuskan untuk semakin mendekat kearah Sakura—dan memberikan pelajaran, khusus?

Perlahan namun semakin dekat. Hingga akhirnya mereka berdiri tegap di hadapan Sakura yang tengah duduk manis—dan mengunyah makan siangnya. "Jangan dekati Sasuke-sama, gadis bodoh!" ucap Karin lantang dan penuh penekanan di setiap suku katanya.

Sedangkan Sakura, tidak merespon sama sekali—sekedar melirikpun enggan. Tentu saja itu membuat lawannya tersenyum remeh dengan sikap Sakura saat ini. Dan detik kemudian—

SREEETT. Rambut bak kelopak bunga sakura itu pun di jambak dengan kasarnya—membuat si empunya memicingkan mata dan meringis kecil menahan sakit.

"KYAAAAAAA~" lenking Hinata yang tak tahan melihat keadaan yang membuatnya cukup frustasi dan—ia pun memutuskan untuk berangsur pergi meninggalkan Sakura. Membuat salah satu dari ketiga gadis itu angkat bicara. "Lihat? Bahkan teman dekatmu tidak ingin berurusan dengan gadis bodoh sepertimu!" ucap nya sembari tersenyum miring.

Sakura hanya menatap punggung Hinata yang semakin jauh dan menghilang—hanya menyisakan derap kaki Hinata yang terdengar. Dan Sakurapun menutup kelopak mata—menyembunyikan emerald miliknya. Mencoba bertahan dengan keadaan yang tengah di hadapinya tanpa perlu mendengar suara tawa puas dari gadis yang tengah membullynya.

Lalu dia—Sakura, membuka kembali kelopak matanya kemudian berdiri menyeimbangi Karin dan menatap tegas mata merah milik Karin, dengan wajah yang tampak datar. Lagi-lagi hal itu membuat Karin berdecih karna kesal merasa di permalukan oleh kelinci buruannya.

.

.

.

"To—tolong, siapa pun tolong, Sakura!" ucap Hinata sembari berlari dengan nafas yang terengah-engah. Namun perjuangannya—tidak di respon oleh siswa/i lain yang hanya menatap Hinata dengan rasa belas kasihan. Ya, siapa yang tidak tahu kabar Sakura yang selalu di ganggu dan di bully oleh para gadis yang cukup di segani di sekolah ternama ini.

Di sisi lain Sasuke dan sahabat rubahnya—Naruto tengah asik berbincang di koridor sekolah menuju kelasnya. Namun, saat tengah menaikki anak tangga untuk kelantai atas, tanpa sengaja Naruto bersentuhan bahu dengan gadis berambut indigo yang tengah berlari dan tak sengaja menabrak bahu Naruto.

Naruto yang merasa mengenal siapa yang tadi menabrak bahunya, dengan lihai telapak tangan Naruto memegang lengan gadis berambut indigo dan bermata lavender itu. "Hinata?"

Hinata yang merasa namanya terpanggil dan lengannya tertarik, refleks menoleh ke asal suara—yang tak terdengar asing—memanggil namanya. Dan alhasil semburat merah muncul dari kedua pipi gadis manis tersebut setelah menyadari—siapa yang menarik lengannya. "Na—Naruto-kun?"

"Kau kenapa Hinata? Kenapa berlari tergesa-gesa begitu? Kau bisa di mara—"

"Ah! To-tolong... Kumohon tolong Sakura-chan!" Ucap Hinata yang memotong pembicaraan Naruto—karna dia tau ini bukan saatnya untuk terpesona pada sosok orang yang di sukainya sejak dulu. Dan dia tau Naruto—teman kecilnya—pasti mau mendengarkan dirinya dan membantu Sakura.

Mendengar gadis bermata lavender ini menyebutkan nama 'Sakura' dengan wajah panik, Sasuke yang sedari tadi hanya menatap kedua insan itu akhirnya angkat bicara. Karna dia cukup yakin—ralat, dia sangat yakin gadis yang mempunyai nama Sakura di sekolah ini hanyalah gadisnya—dulu. "Ada apa dengannya?! Dia dimana?"

Ucapan Sasuke berhasil membuat Hinata shock dan kebingungan—karna dia sering tidak sengaja mendengar gosip tentang pemuda bermata onyx yang sering di juluki dengan 'pangeran es' dan sekarang sosok yang dijuluki itu tengah menggenggam bahunya kuat dan mengintimidasi lavender-nya dengan wajah khawatir namun tegas. Apa ini bukan mimpi? Pangeran es seolah berubah menjadi hangat dan—memperdulikan orang lain selain dirinya sendiri?

"Di—di atap, Sakura-chan se-dang bersama ga-dis berambut me-merah,"

"Cih!" puas dengan jawaban Hinata, pemuda berambut raven itu pun tidak ingin membuang waktu dan segera berlari kearah atap untuk—siapa lagi kalau bukan untuk seorang putri yang kini tengah terancam?

Naruto dan Hinata yang sedari tadi membisu melihat tingkah Sasuke hanya saling beradu pandang dan akhirnya detik kemudian mereka mengangguk kecil dan berlari mengerjar Sasuke yang sudah menghilang dari jejaknya.

'Rambut merah? Karin?! Kenapa gadis bodoh itu mengganggu Sakura!' Batin Sasuke yang tidak bisa tenang. Takut-takut gadis pujaannya sedang tersungkur dan mengeluarkan darahnya lalu—Aaaaaaarrrgghh...! memikirkannya saja berhasil membuat emosi Uchiha bungsu ini meluap.

.

.

.

PLAK!

Mata onyx-nya terbelalak melihat pemandangan di depannya menggambarkan gadis-nya di tampar cukup kuat oleh gadis merah yang ia kenal sebagai fansnya—tepat saat Sasuke membuka pintu atap. Membuat Sasuke yang melihatnya menggeram kesal sembari mengepalkan kedua telapak tangan dan menatap benci kearah—siapa yang mengganggu Sakura.

"Apa yang kalian lakukan, hah?!"

Suara khas Sasuke yang terdengar keras dan penuh amarah berhasil membuat Karin dan kedua pengikutnya bergidik ngeri dan memberanikan diri untuk menoleh ke asal suara tadi—berharap sosok yang ada di pikirkannya salah—dan saat mengetahui suara itu berasal dari Sasuke ketiga gadis itu mulai ketakutan dan saling menyalahkan satu sama lain. Berbeda dengan Sakura yang masih diam di tempat sembari memegang pipinya yang pasti sangat merah—sama sekali tidak menoleh sedikitpun kearah Sasuke yang datang untuk menyelamatkannya—mata emelard-nya terus menyorotkan kebencian yang sangat dalam ke arah Karin.

Mengetahui tengah di pandangi oleh kedua iris mata yang berbeda warna dan arah, membuat gadis berambut merah dan pengikutnya serasa seperti terjebak hanya dengan tatapan yang di berikan oleh onyx dan emerald. Seakan-akan mereka tengah di telanjangi dengan tatapan penuh hina. Dan tanpa butuh waktu yang lama, ketiga gadis itu beranjak dari tempatnya dan pergi meninggalkan semua keadaan dalam bisu, walaupun sebelum benar-benar pergi ketiga gadis itu menyempatkan diri meminta maaf dengan Sasuke sampai ojigi cukup dalam. Bukankah kalian seharusnya meminta maaf ke Sakura?

Sasuke yang tidak menggubris permintaan maaf dan kepergian ketiga fans nya itu perlahan berjalan mendekati Sakura di karenakan cemas dengan keadaannya dan—pandangan dari emerald yang menunjukan amarah—pandangan yang untuk kedua kalinya di lihat oleh Sasuke; pertama saat di bully oleh fans Sasori dan kedua saat ini. Dan ini adalah pandangan yang sejak pertama dilihat sudah dibenci oleh onyx- nya. Pandangan yang seolah tidak mencerminkan jati dirinya yang sebenarnya. Hei, dimana gadisnya yang dulu selalu ceria dan tersenyum?

Kini iris mata Sasuke dapat melihat dengan jelas raut wajah Sakura yang mencerminkan kemarahan telah berganti menjadi—rapuh?

Masih di tempat yang sama, Sakura menundukan wajahnya—membuat seluruh permukaan paras cantiknya tertutup oleh helaian rambut bubble-gum yang tergurai indah; disapu oleh terpaan angin yang berhembus lembut.

Sasuke yang terus menatap Sakura seolah terhanyut dengan pemandangan yang setara dengan lukisan telah tergambar hanya dengan keberadaan dan kerapuhan Sakura. Ah, betapa cantik dan rapuhnya Sakura saat ini. Ingin sekali rasannya Sasuke memeluk gadis yang rapuh dihadapannya. Tapi itu tidak mungkin bukan? Dia masih bisa mengendalikan dirinya, dan masih mengingat betapa jaimnya Uchiha bungsu itu. Mungkin yang bisa ia lakukan saat ini hanya—hanya mengelus lembut pucuk kepala Sakura. Hanya sebentar. Ya, sebentar saja untuk menenangkannya—

"Sakura!"

Suara itu—

"Sakura kau tidak apa-apa kan?!"

Suara yang dapat menusuk hati dan perasaan Sasuke.

"Astaga Sakura pipimu—apa sakit?"

Suara yang dengan seketika menciutkan tekat Sasuke.

"Hiks...hiks..."

Tangan penuh kelembutan itu tak mencapai gadisnya.

Terhenti.

Dan—

—mengepal.

DEG. Saat sadar dari pikirannya. Gadis dihadapannya telah pergi meninggalkan Sasuke sendiri dan membisu. Gadis itu lebih memilih bersama huzel-nut dari pada dengan onyx miliknya. Suguhan yang sangat menyakitkan.

Saat ini Sakura dengan cepat memeluk Sasori dan menangis sekuat-kuatnya. Meninggalkan pemuda yang sebelumnya setia berada di sisi dan menolongnya. Apa kau tidak merasa bersalah Sakura? Hei, lihatlah. Walaupun hanya sebentar. Pemuda itu membutuhkanmu, Sakura.

Tubuhnya bergetar, emerald-nya yang mengeluarkan butiran air mata mengalir dengan deras, dan cengkraman kuat pada kemeja milik Sasori—membuat pemilik wajah baby-face itu berusaha menenangkan gadis yang tengah bersandar di pelukannya dengan mengelus lembut pucuk kepala Sakura sembari mengeluarkan kata-kata lembut untuk menenangkan gadis bermarga Haruno itu. Ah, kau benar-benar terlihat kesal Uchiha? Tidak ada yang bisa kau lakukan saat ini bukan? Kau tersakiti oleh perasaanmu sendiri—perasaan yang amat sangat menyakitkan.

Melihat hal itu membuat Sasuke merapatkan rahang giginya menahan kesal dan mengepal kan telapak tangannya sekuat tenaga. 'Untuk apa aku datang kesini bila orang yang di butuhkannya adalah—dia! Si Merah-kuso itu!' pikiran-pikiran itu sudah sepenuhnya menguasai si pemilik mata onyx ini, emosinya telah memutus kan untuk meninggalkan gadisnya bersama orang lain. Kemana perginya keegoisanmu itu Uchiha?

"Te—teme?"

"Kita pergi Dobe."

Ucap Sasuke yang mau tak mau di susul oleh Naruto yang sedari tadi hanya mematung dan membisu melihat pertunjukan yang terjadi antara onyx, emerald dan huzel-nut di ambang pintu bersama Hinata. Jangan tanya kenapa mereka sangat telat menyusul Sasuke keatap. Jawabannya tentu saja karna Hinata memaksa Naruto menemaninya untuk memanggil Sasori agar segera menolong Sakura. Dan alhasil; inilah yang terjadi. Membuat Sasuke terpaksa menelan kenyataan—membuat Naruto bersimpati kepada Sasuke dan membuat Hinata menjadi mengerti kenapa Sasuke si pangeran es peduli dengan Sakura hanya dengan menatap mata onyx-nya yang sangat menderita.

Semua itu karna adanya perasaan menyayangi dan—

—Cinta.

.

.

.

Apa aku berguna untukmu?

Keberadaan ku?

Senyumku?

Apa bisa menenangkanmu saat kau rapuh?

Saat kau menangis dalam diam?

Bisakah?

Aku berada di dekatmu?

Saat kau ingin dan tak ingin…

Aku ingin berada di sampingmu.

Bukan dia.

Dia—yang kau peluk saat ini…

Apa kau lebih membutuhkan dirinya?

Bukan aku?

Bisakah kau menjawab nya—

Sakura?

.

.

.

"Teme kau tidak apa-apa?"

"…"

"Maaf Teme, Hinata memaksaku untuk memanggil Sasori-senpai—dan kau tau bukan kalau aku tidak mungkin—tidak mungkin menolaknya."

"…"

"Teme kau marah?"

"…"

"Aku kan sudah bilang kalau aku minta ma—"

"Sudahlah Dobe, aku terlalu bodoh telah mengharapkan sesuatu,"

"Apa maksudmu?"

"Sakura—"

"Kenapa dengan Sakura?"

"… Mungkin aku akan menyerah…"

.

.

.

xXx To Be Continued xXx


A/N : gomennasaaaaiiii kalo chapter ini masih pendek dan ada typo(s) Dx

Huweeeeee… tapi berhasil buat kalian penasaran ga? T^T /plak

Maaf sekali lagi karna apdetnya lama ya =A=v

Setelah ini Misa akan lebih berusaha… Gambaarimaaasssuuuu xD

Dan Misa lagi ga bisa bales review kalian.. gomen, padahal pengen QAQ

Demo ne, kebanyakan dari readers nanya kenapa Sasuke dulu dingin dan sekarang penyayang? Terus ada yang nanya kenapa Sakura bisa amnesia? Dan apa hubungan Sakura dan Sasori? Jawabannya—ikutin terus perkembangan fict ini xD /dzigh/ Ampun (?) jawaban sebenarnya nanti bakalan muncul di chapter yang full untuk flashback mereka, masih dalam perencanaan sih.. Tapi bakal Misa usahain kupas tuntas mistery(?) di flashback nanti… jadi mohon harap sabar dan dukungannya, kalo setuju dengan ide ini tolong review dan bilang 'YAAHOOO' /di injek readers/ gomen (_ _)

Ah iya boleh curhat ga /di cuekin readers/ boleh ya QAQ? /maksa/

Ettou, apa kalian tau kalo akun ini ada 3 author? xD

Ada Misa /huuuu/ Sacchan dan Rue.. makanya nama akun ini MiSaRu; karna di ambil dari nama kita bertiga :3

Daaan mereka author yang hebat lhooo x3

Kalian bisa cek fict bikinan mereka dan fict collab kami bertiga ;3 *promo

Kalo kalian mau Misa bakalan ngenalin mereka ke kalian x3

Mereka orangnya asik :9

Mereka juga yang dukung Misa buat selesain fict ini plus review dari readers n senpai-senpai yang buat Misa semangaattt lanjutinnya.. Hountoni Arigatou Minna-samaaa.. /terharu(?)/

Dan maaf kalo telat ngucapin tapi Misa mewakili SaRu, minta maaf kalo ada salah yang di sengaja maupun engga.. mohon maaf lahir dan batin minna T^T /peluk satu2

.

.

xXxX Remember XxXx

Potongan adegan chapter selanjutnya :

Kegelisahan yang sulit untuk di sembunyikan.

.

"Jangan dekati Sakura…"

.

"Kenapa kau mengaturku?"

.

"… aku memang pantas untuk mengaturmu!"

.

Kenyataan yang sulit untuk di terima.

.

"Kau berbohong kan?"

.

"Untuk apa aku berbohong?!..."

.

"Cih… Biarkan aku yang bertanggung jawab."

.

Rasa sakit yang sulit untuk di terima.

.

"Jangan kau lakukan itu bila tak ingin menyakiti Sakura lebih dari ini!"

.

"… Aku yang mulai, maka aku yang akan mengambil resiko."

.

Permintaan yang tak mungkin di tolak.

.

"Teme apa kau yakin?"

.

"Hn, tolong bantu aku Dobe,"

.

Kekhawatiran

.

"Sakura-chan k-kau kena-pa? Wa-jah mu pucat."

.

"Sakura, dengarkan aku…"

.

Pertemuan yang terjalin kembali.

.

"… lama tak jumpa?"

.

"Sakura sudah pulang?"

.

"… Kenapa kalian baru mengabariku soal ini, hah?!"

.

Emosi mengalahkan semuanya.

.

"Sakura, bicaralah…"

.

"Jangan lakukan hal lain yang lebih dari ini,"

.

.


Yosh… jangan lupa vote SasuSaku atau SasoSaku yaaaa~

Bakal Misa usahain buat update secepat mungkin jadi jangan lupa Review minna~

Dan makasih yang udah kasih tau soal typo kemarin.. semoga chap ini lebih baik..

Arigatou ^ ^

R

E

V

I

E

W

?