xXxX Remember XxXx
A/N : Tadaimaaaaaaaaaa~ Misa kombek(?) buat lanjutin fict ini (w)/ tenang-tenang fict ini tidak terlupakan ko XD /ditimpuk karna kelamaan/
Apa kalian nungguin? *kepedean
Gomennasai ne, bukan maksud Misa buat ngabaiin fict ini. Tapi tiba-tiba idenya kandas entah kemana dan mood hilang. Ditambah BANYAK ANIME KEREN DI MUSIM INI DAN MUSIM KEMARIN /capsjebol/ *dzigh
Jadi galau bukannya ngetik tapi malah jadi keasikan nonton anime =w=v
Jadi, mohon pengertiaannya T^T
Btw Akashi Seijuro di anime Kurobas punya Misa =)3= /OOT heh/
Yosh langsung aja~
Setelah baca chapter ini jangan lupa tinggalkan ripiu kalian~ *wink* (?!)
MiSaRu : Selamat membaca ~
Disclamer : Naruto, Masashi Kishimoto
Remember copyright : Misaru Keigo
Rated : T
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst
Warning : AU, OOC(?), Typo(s), Miss typo(s), Poetry, Gaje, de el el
Chapter 4 : 'Watashitachi wa koko ni iru'
.
.
Enjoy!
.
.
Apa kau ingat saat kita bersama?
(Tidak)
Hari-hari yang selalu di penuhi warna.
(Aku tidak ingat)
Tawa dan keceriaan milikmu takkan terlupakan.
(Kau yakin itu aku?)
Kau yang selalu memberikan semangat pada kami.
(Kami?)
Walaupun aku tahu kau tidak lagi mengingatnya…
Aku tidak akan menyerah.
Karna aku—
Akan membuatmu mengingat segalanya.
.
.
Esoknya. Cuaca di sekitar Konoha terasa gelap dan sediki mendung di karenakan awan menutupi kecantikan dan sinar yang di pancarkan matahari. Di atap bangunan yang cukup kuno namun kokoh terlihat sosok pemuda beriris huzel tengah menatap keindahan Kami-sama yang tak bisa di ungkapkan oleh kata-kata.
Sosok itu terdiam. Dan masih terdiam. Merasakan hembusan angin yang menerpa helaian rambut merah miliknya. Dengan helaan nafas cukup panjang, dia menyembunyikan pancaran huzel di balik bayangan rambut darah miliknya. Sekilas dia tersenyum miring, tapi—ekspresi itu seketika terganti dengan raut wajah sendu. Dia diam bukan berarti bisu. Namun, dia diam—karena tenggelam dalam pikirannya. Apa keputusannya saat ini tepat? Apa ini yang terbaik? Atau—ini adalah jalan yang dapat membuatnya menyesal? Dan... Terpuruk?
Pikiran ini. Usul ini. Ide sialan ini. Dia tidak mau berbicara. Tapi—tidak ada cara lain—mungkin—maka keputusan ini. Semoga yang terbaik. Benar bukan, Sasori?
"Ada apa?" Suara khas baritone menghentikan keheningan secara sepihak. Sosok pemuda lain berambut raven yang baru saja menapakkan kakinya di atap, menatap intens punggung pemuda berambut merah yang berdiri memegang pagar pembatas di hadapannya.
Dia—Uchiha bungsu ini sangat ingat seseorang telah mengirimkan email tepat tadi malam yang memintanya untuk menemui sosok itu esok hari saat jam pulang sekolah di atap. Dan orang itu tentu saja—Akasuna Sasori.
Sasori yang menyadari hawa kehadiran orang lain dan tengah bertanya padanya menyempatkan diri untuk menoleh. Dan benar saja, sosok Uchiha bungsu tengah berdiri tegak sembari mengintimidasi huzel nya dan berdecih seolah enggan meladeni Akasuna yang satu ini. Sosok yang dengan mudah membuat Sasori kehilangan kesabaran hanya dengan mengetahui namanya. Nama? Ya, hanya dengan nama dapat membuatnya menjadi benci. Sangat benci.
"Ada apa?!"
Pertanyaan itu lagi-lagi seolah berteriak meminta penjelasan.
"Jangan dekati Sakura…" ucap Sasori dengan nada rendah. Membuat Sasuke menyiritkan alisnya tanda dia kurang paham dengan apa yang di maksud Sasori.
"Ku bilang jangan dekati Sakura!" Berbeda dari sebelumnya, Sasori mengenakan nada cukup tinggi dan menekan setiap suku kata yang di ucapkannya. Begitu pula huzel nya yang berbalik memimpin mengintimidasi onyx milik Sasuke.
Sasuke yang berhasil dengan cepat menangkap maksud dari Sasori, refleks onyx miliknya memperlihatkan secarik getaran yang dikarenakan shock. Shock? Tentu saja dia cukup kaget mendapati pernyataan yang menyuruhnya menjauhi Sakura. Siapa dia yang berani memerintah Uchiha? Apalagi semua ini berkaitan dengan Sakura. Siapapun dia. Apapun drajatnya. Uchiha yang satu ini tidak—ah ralat, sangat amat tidak suka di perintah oleh orang lain. Apalagi berhubungan dengan Sakura. Jangan harap. Memang dia baru saja berpikir untuk menyerah. Tapi karena pernyataan konyol dari Sasori, membuatnya lagi-lagi berpikir untuk membuang kalimat menyerah dari kamus miliknya. Lagi pula untuk apa… untuk apa—
"Untuk apa kau mengaturku?"
Ya, untuk apa kau mengaturnya—Sasori?
Hening sejenak. Hembusan angin seolah sengaja bermain dengan helaian rambut yang berhembus dengan irama tenang. Setenang degup jantung pemilik huzel dan onyx.
Sasori masih mencoba mengunci bibir tipis miliknya. Hingga dia cukup yakin—ini adalah jalan yang terbaik.
"Kau yang memulai semua ini. Berawal dari kebodohanmu."
"Apa maksudmu, eh?"
"Sakura… dia orang yang penting untukku. Sangat penting. Kau tau? Kesalahan fatalmu yang membuatnya menderita! Membuatnya menjadi seperti ini! Aku—akulah yang akan melindunginya! Jadi wajar bila aku mengaturmu untuk kepentingan Sakura!"
Sasori semakin kencang mengepal kedua telapak tangannya. Hingga Sasuke membuka mulutnya. Sampai saat ini—mungkin memang ini yang terbaik.
"Kau tidak pandai menjelaskan, eh? Penjelasan anehmu tidak dapat ku mengerti,"
"Aku tidak memintamu untuk mengerti—
—aku hanya memintamu untuk… menjauhinya."
Sasori terus menatap Sasuke dengan tatapan yang menyiratkan secarik rasa memohon. Perasaannya sangat kacau—terlebih saat sekilas dia melihat Sasuke tersenyum sinis kearahnya. Ah, yang benar saja Sasori tahu bahwa keegoisan Uchiha sangat susah untuk di runtuhkan. Haruskah dia memohon hingga bersujud agar pemuda di hadapannya bisa mengerti? Haruskah? Tidak mungkin.
"Mengertilah Sasuke, ini demi kebaikan Sakura."
"Mendengar penjelasanmu, kau—mengetahui hubungan ku dengan Sakura bukan?"
Untuk kali ini saja. Sasori merasa amat sangat bodoh dengan keputusannya. Membuat pendirian dan rasa percaya dirinya menjadi sedikit runtuh. Sasuke benar, Sasori bukan hanya sekedar memerintah. Tapi—tapi dia tahu semuanya. Semua tentang Sasuke dan Sakura. Dia tahu.
Dan Sasuke juga tahu kalau dia—akan menang.
Dengan itu.
Sasuke—
—Tersenyum puas.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Sa-so-ri se-n-pa-i? Hn?" Tanya Sasuke yang melangkah kearah Sasori untuk memperdekat jarak diantara mereka. Sehingga terlihat jelas kilatan mata yang lebih percaya diri.
Lagi-lagi keduanya membisu. Sasuke terus menatap tegas meminta penjelasan. Sedangkan Sasori? Dia tengah terpaut dengan pikirannya. Terus bergulat dengan apa yang ada di benaknya. Dia seperti dipaksa untuk memilih—haruskah dia menjelaskan semuanya, atau—
"Aku perlu tahu bila memang ini berawal dari kebodohanku."
Sasuke benar.
Sasori tersentak. Dia seperti tengah berada di ambang batas kebingungan saat seringai milik Sasuke memudar. Dia tulus. Onyx milik Sasuke benar-benar menuntut kejujuran. Dan sekilas tampak kekhawatiran terpancar di wajah Uchiha bungsu ini walaupun tertutupi oleh keegoisan.
"Aku hanya akan menceritakan intinya,"
Huzel itu menyerah.
Namun tetap kokoh dan tegas.
"Hn,"
"Sakura amnesia, dia menderita depresi cukup tinggi. Dan penyebab semua ini berawal dari kau, Uchiha Sasuke."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak akan mengulang kata-kataku,"
Uchiha yang satu ini lagi-lagi menyiritkan keningnya bertanda dia kesal. Tak puas dengan jawaban yang di lontarkan Akasuna di hadapannya yang tampak serius.
"Kau berbohong kan?" Tanya Sasuke.
"Untuk apa aku berbohong? Ini kenyataannya, kau yang mencampakkannya dan membuat dia seperti sekarang. Kau menyesal eh? Dia amnesia dan depresi karena kau."
"…"
Sasuke mengeram. Dia mengepalkan telapak tangannya. Apa mungkin yang di katakan Sasori benar? Sakura depresi—dan amnesia karena dia? Benarkah? Apa itu yang membuat Sakura seakan tidak mengingatnya? Ah, dia memang tidak mengingatnya. Tapi—benarkah? Sakura…
Tampak dari luar Sasuke tengah menunduk dan bergulat dengan pikirannya. Sasori yang melihatnya seakan mengerti. Walaupun sejujurnya dia masih sangat kesal pada pemilik rambut raven ini. Karena dialah penyebab keceriaan Sakura—memudar.
"Kau paham? Jangan dekati Sakura, dia sudah banyak menderita. Jadi cukup untuk saat ini—"
Pemilik iris huzel itu beranjak pergi. Meninggalkan Sasuke dalam pemikirannya dan keheningan.
Namun, sebelum benar-benar pergi—
"Ah, jangan coba-coba membuat Sakura mengingat masa lalunya—
—atau kau akan benar-benar menyesal. Dan aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu. Uchiha Sasuke!"
Punggung pemilik huzel itu menghilang.
Hanya tertinggal keheningan, angin, dan tentu saja—kemarahan Uchiha.
"Cih. Biar aku yang bertanggung jawab. Seperti apa yang kau katakan tadi, semua berawal dari kebodohanku. Maka aku juga yang akan mengakhirinya, karena—
—Sakura milikku."
Keegoisan.
xXxX Remember XxXx
"Ada apa denganmu Teme? Tumben sekali kau yang memintaku untuk menginap dirumahmu, kau masih normal kan? Haha"
"Jangan bicara yang aneh-aneh bodoh!"
Ya, saat ini Naruto tengah berada di kediaman keluarga Uchiha. Lebih tepatnya berada di kamar milik Sasuke yang memang berdominan dengan warna biru dan putih. Sahabat Uchiha bungsu yang satu ini memang tidak bisa mengenal suasana karena terpaut dengan playstation yang terpajang rapih di depan sofa yang memang terletak di tengah-tengah kamar Sasuke yang terbilang luas. Sedangkan sang pemilik kamar hanya menghela nafas cukup panjang. Dia terlalu bosan untuk memarahi sahabat bodohnya itu. Karena dia tahu, itu hanya akan menguras waktu dan tenaga dengan percuma. Biarlah.
"Dobe, aku butuh bantuanmu." Ucap Sasuke langsung pada intinya, tanpa berbasa-basi. Seperti biasa, itu memang sifatmu. Sasuke.
"Jadi, itu tujuanmu memintaku kemari, Teme? Ada apa?"
Sasuke terdiam cukup lama. Membayangkan reaksi apa yang akan diberikan oleh pemilik iris mata seindah lautan ini. Sehingga suasana hanya didominasi oleh suara-suara yang di timbulkan Naruto yang tengah sibuk dengan permainannya.
"Teme?"
Menyadari onyx nya tengah di perhatikan oleh sapphire membuat Sasuke gerah dan akhirnya membuka pembicaraan kembali.
"Bantu aku membuat Sakura mengingat masa lalunya, mengembalikan Sakura yang kita kenal—cerianya, senyum tulusnya itu, dan…"
Jeda sebentar. Sebelum akhirnya—sebuah tekad telah di putuskan.
"Dan buat dia mengingat keberadaanku."
Apa kau serius Sasuke? Hei, ingatkah kau dengan ucapan Sasori padamu? Apa kau tidak takut menyesal dengan keputusanmu? Jangan mengambil keputusan bodoh untuk kedua kalinya. Sasuke. Apa kau tetap akan mengubah takdir? Apa kau benar-benar tidak bisa menerima bila Sakura bukanlah gadis yang selama ini kau kenal—gadismu? Kalau kau gagal dan memperburuk keadaan, apa kau siap? Atau kau akan menyesal dan mengutuk dirimu sendiri. Pikirkanlah kebahagiaan Sakura—bukan keegoisanmu. Uchiha.
Pemuda beriris sapphire itu seketika menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh kearah Sasuke. Iris mata Naruto tegas meminta Sasuke untuk menjelaskan semuanya—hingga sekejap suasana dan iris mata tegas itu berganti menjadi—memelas?
"Teeemmmmeeeeee~ ada apa dengan Sakura? Dia kenapaaaa?"
Memelas. Seperti anak rubah berekor sembilan yang tengah mengibaskan ekornya cepat tak sabar menunggu penjelasan dari pemiliknya.
"Sakura amnesia. Aku ingin membuatnya mengingat kembali memorinya yang hilang."
"A-amnesia?"
"Hn, itu yang dikatakan oleh si Merah-kuso itu padaku,"
"Sasori senpai? Apa sebenarnya hubungan mereka berdua?"
Sasuke mengangkat kedua bahunya pelan.
"Entahlah Dobe, aku hanya ingin mengambil sesuatu yang telah direbut."
"Jadi, kau ingin memintaku menolongmu membuat Sakura mengingat masa lalunya?"
"Hn, aku butuh bantuanmu karena kau sahabatnya. Dan juga—aku butuh bantuan gadis itu."
"Teme apa kau yakin semua akan berjalan lancar?"
Pemuda berwajah tampan itu hanya tersenyum miring.
"Hn, tidak pernah seyakin ini. Besok kita akan menemui gadis itu, karna gadis itu—"
"Yah, aku tau Teme,"
—Sahabat terdekat Sakura.
.
.
.
Minggu yang sejuk. Sangat tepat untuk waktu menghilangkan penat dan rasa lelah dengan mengistirahatkan diri di futon, atau tempat nyaman lainnya. Namun, ada pula yang memilih keluar ruangan sekedar jalan-jalan, kencan, bermain, atau bahkan bekerja. Seperti kedua pemuda dengan salah satu dari mereka yang mempunyai style rambut seperti chikenbutt dan seorang lagi yang mempunyai rambut layaknya buah durian ini yang tampak terdiam di depan sebuah toko yang menjual banyak bunga-bunga cantik dan harumnya yang memikat. "Konoha Flowers"
Kedua sosok itu masih berdiri tegak dan terus memandang toko bunga yang cukup terkenal di Konoha karena kesegaran bunga yang dimiliki oleh toko tersebut. Mereka diam seraya menunggu toko itu memulai bisnisnya di minggu pagi, atau—menunggu seseorang? Pemilik toko? Entahlah. Sudah cukup lama mereka berdiri tegak di tempat itu, hingga akhirnya—
"Akh, Naruto? Sasuke-kun? Benarkah?"
Sosok bak bidadari keluar dari toko bunga tersebut. Parasnya yang cantik, rambut blonde indah yang dikuncir kuda serta poninya yang menutup sebelah keindahan iris mata aquamarine. Gadis berkulit putih dan memiliki badan ideal layaknya seorang model professional itu sering jadi bahan pembicaraan karena kesempurnaannya. Namun, itu hanya imajinasi yang melintas saat melihatnya.
"Hn, ini kami."
"Hai, Ino-chan. Lama tak jumpa."
Dia—gadis yang memiliki nama Ino. Yamanaka Ino ini hanya seorang gadis penjaga toko bunga biasa yang memang mendapat kesempurnaan. Dia hanya gadis biasa, bukan model. Maupun bidadari.
"Ya, lama tak jumpa. Jadi apa yang membuat kalian datang ketempatku? Mau membeli bunga atau—bertemu denganku?"
"Mungkin yang kedua, atau—ketiga?" jawab Naruto asal.
"Ketiga? Ada apa?"
Ino terus menatap Naruto antusias dan penuh tanya. Sedangkan Naruto hanya menunjukan deretan giginya yang putih bersih dan melirik Sasuke yang sedari tadi hanya terdiam seolah memberi isyarat pada Ino untuk bertanya pada Sasuke.
"Jadi, siapa yang akan menjelaskan padaku tentang tujuan kalian saat ini. Bagaimana kalau… Sasuke-kun?" Ucap Ino penuh percaya diri sembari merapihkan helaian rambut blonde-nya dan meletakkan kedua tangan ke pinggang ramping miliknya.
"Aku butuh bantuanmu." Jawab Sasuke singkat.
"Bantuan apa?"
"Ini soal Sakura."
"Sakura? Sakura sudah pulang? Tapi, kenapa dia tidak mengabariku?! Argh.. si Forehead itu!" ucap Ino geram.
Naruto hanya bisa mengunci bibir tipisnya. Tanpa bertingkah atau menunjukan sedikit emosinya. Sedangkan Sasuke seperti biasa—memasang tampang stonic namun, menunjukan raut yang sedikit menyedihkan.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa ekspresi kalian tidak seperti biasanya?"
Ino tahu. Ada yang aneh. Ini salah. Dimana wajah ceria yang selalu di tunjukan Naruto? Dan wajah angkuh Sasuke kenapa terasa menyedihkan? Kenapa? Ada apa dengan kalian?
Sakura.
DEG!
"Sakura kenapa?! Wajah kalian seperti itu… Dan apa yang kalian maksud dengan bantuan? Apa semua ini ada hubungannya dengan Sakura?!"
Kedua pemuda itu hanya membisu. Tidak bisa mengelak apa yang dikatakan sahabat kecilnya itu. Memang tentang Sakura. Ya, Sakura.
"Hn.. Sakura, sejak pulang dia tidak mengenal tempat ini atau siapapun. Termaksud kau Ino."
Spontan pupil mata aquamarine itu mengecil. Takut dengan apa yang ada dipikirannya saat ini. Hingga dia berusaha membuang jauh-jauh pemikiran bodohnya itu. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.
"A-apa maks—"
"Dia amnesia." Potong Sasuke.
Tubuh itu bergetar. Seirama dengan suara dan iris mata indah miliknya.
"Amne—si-a? Ke-kenapa? Kenapa kalian baru mengabariku soal ini hah?!"
Kekhawatiran sangat terpancar dalam raut wajah Ino. Gadis bermarga Yamanaka itu terus menerus bertanya pada sosok pemuda yang mendatanginya. "Kenapa? Kenapa? Sakura… Amnesia—kenapa harus sakura?" gadis it terus menggerutu dengan suara yang semakin merendah dan bergetar. Hingga kelopak mata itu tidak bisa terus menahan bendungan air mata yang memaksa keluar. Aquamarine yang tampak indah. Namun, perasaan tidak bisa dibohongi. Khawatiran.
Beruntung bagi mereka, saat ini daerah khusus pertokoan di Konoha terbilang sepi. Hingga tidak ada yang memperhatikan atau melihat kerapuhan yang berasal dari ketiga remaja ini. Semua hanya diam mendengar isak tangis yang dikeluarkan oleh gadis blonde yang sekarang tengah terduduk pasrah ditanah sembari meremas baju yang di kenakannya. Dia merasa bodoh. Sangat bodoh. Dia merasa tidak berguna sebagai sahabat, kenapa dia tidak mengetahui kabar tentang Sakura? Amnesia? Apa yang terjadi padanya? Tidak adakah yang bisa menjawab? Sebodoh itu-kah? Apa kau tidak mengingatku Sakura? Aku—aku sahabatmu…
"Aku mengerti perasaanmu Ino, tapi kuatkanlah dirimu. Tujuan kita ingin membuat Sakura mengingat semuanya. Persahabatan kita, kau ikut kan?" Tanya Naruto yang mencoba menenangkan sahabat kecilnya itu dengan mengelus lembut pucuk kepala Ino dan menghapus jejak air mata yang terus menetes.
"Ino… Sakura membutuhkanmu." Ucap Sasuke yang berusaha menahan emosi.
"Hiks… Kalian bodoh hah?! Aku tahu! Aku… merindukan ocehan bodohnya itu! Aku mau dia mengingatku…"
Senyuman tipis terpancar di bibir milik Naruto dan Sasuke. Jawaban yang cukup memuaskan, walaupun sulit bagi Ino untuk menerima kenyataan bahwa sahabat terbaiknya melupakan keberadaannya dengan mudah. Semudah membalikkan telapak tangan. Air mata itu terus menetes lembut. Terus menangis. Menyedihkan. Menusuk. Dan—mereka akan mengembalikan semua ingatan seseorang yang mereka sayangi. Kau sangat beruntung Sakura. Banyak orang yang menyayangi dan membutuhkanmu.
Yokatta…
"Satu lagi yang perlu kau ketahui Ino." Ucap Sasuke yang menatap tegas gadis rapuh yang tengah terduduk dan menatap onyx dengan penuh tanya.
"Sakura tidak bicara," lanjut Sasuke.
"Bi-bisu?"
"Entahlah. Namun kurasa tidak,"
Gadis itu pun berdiri dengan tatapan yang penuh percaya diri. Hingga bibir itu berucap—
"Aku yang akan membuatnya bicara!"
Keputusan lain telah terpilih. Membuat kedua pemuda tersenyum puas.
Itulah persahabatan.
xXxX Remember XxXx
Konoha High School, biasa di singkat dengan KHS. Salah satu sekolah ternama di wilayah Konoha. Matahari telah terbit dari ufuk timur menyinari sebagian wilayah di dunia, dan salah satunya; Jepang. Seperti biasa, setiap pagi salam sapa kehangatan terekam dalam suasana ceria di lingkungan KHS ini. Masa-masa yang mungkin sulit untuk dilupakan. Suasana ceria, dan kebersamaan besama teman atau seseorang yang special; tidak mungkin akan terulang hal yang sama untuk kedua kalinya. Untuk itulah memori bekerja—untuk mengingat semua hal yang kita lakukan. Namun, bagaimana bila ada seseorang yang terkena amnesia? Kehilangan beberapa atau bahkan semua ingatan yang mungkin tersimpan berbagai kenangan penting di dalamnya. Tak pernah terpikirkan, bila saat terbangun dari tidur—tidak ada satu potongan ingatan pun yang tersimpan. Semua terlupakan. Menyesakkan bukan?
"Ada apa denganmu Sakura? Wajahmu pucat, kau kurang sehat?" ucap pemuda baby-face dengan iris mata huzel-nya yang indah tengah memperhatikan gadis bermahkota soft-pink yang berjalan tepat disampingnya, menuju satu tempat; sekolah.
Gadis yang ditanya hanya menggelengkan pelan kepalanya—mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja, lalu tersenyum lembut untuk meyakinkan pemuda yang mengkhawatirkannya. Membuat pemilik huzel itu menyiritkan alisnya singkat, "kau yakin?"
Kali ini gadis bernama Sakura itu mengangguk cepat, memasang wajah yang seolah mengatakan 'percayalah padaku' membuat pemuda bermarga Akasuna ini terkekeh kecil.
Walaupun sebenarnya—gadis itu berbohong di balik senyumnya. Kebohongan manis. Tubuhnya saat ini terasa lemas, kepalanya pusing, dan rasa sakit yang paling terasa adalah di bagian dadanya—detak jantungnya bergemuruh tak karuan. Gadis itu selalu memendam apa yang dia rasakan, agar Sasori—pemuda yang dia sayangi, tidak mengkhawatirkannya lebih dari ini. Namun, gadis itu sudah terlalu banyak memendam semua. Mungkinkan hal buruk akan terjadi?
"Baiklah kalau begitu, pulang sekolah tunggu aku di gerbang ya?"
Sakura. Senyumnya terlihat manis—namun menyedihkan.
.
.
Pelajaran pertama, kedua, ketiga—hingga sampai akhirnya bel istirahat berbunyi. Hening berganti gaduh. Namun, berbeda dengan keadaan di sekitar gadis bermata lavender dan emerald. Suasana sepi dan sunyilah yang di pilih oleh mereka.
Memang sudah seperti kebiasaan bagi Sakura dan Hinata memilih menyantap makanannya dan beristirahat di atap sekolah, karena di tempat itulah mereka merasa nyaman dan leluasa bertingkah dan bersikap dengan apa yang mereka inginkan. Ditambah dengan hembusan angin yang terasa lembut dan pemandangan indah yang disuguhkan.
"Sakura-chan, ka-u kena-pa? Wajahmu pucat."
Dan untuk kesekian kalinya untuk hari ini gadis itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan. Apa benar kau baik-baik saja?
"Tadi aku dengar hari ini Anko-sensei berhalangan mengajar. Lebih baik Sakura-chan pergi ke UKS untuk istirahat."
Hening sejenak. Itu bukanlah ide yang buruk. Tubuhnya kini memang butuh istirahat, cukup baginya untuk berpura-pura kuat. Dan akhirnya—Sakura pun menurut dan mendengarkan perkataan gadis manis dihadapannya untuk segera pergi ke UKS. Bel tanda istirahat telah berakhir pun berbunyi. Pelajaran selanjutnya akan segera di mulai.
Setelah beberapa kali menuruni tangga, kedua gadis itu berpisah. Hinata menuju kelas dan Sakura menuju UKS. Lorong sekolah terasa sepi, hanya langkah kakinya yang terdengar. Sudah cukup untuk unruk hari ini dia menjadi gadis yang berpura-pura seolah kuat. Gadis bermahkota soft-pink itu pun berjalan tak menentu seolah melayang. Hingga akhirnya dia terus melangkah dengan bertumpu pada tembok di sisinya. 'Sedikit lagi,' pikir gadis itu saat melihat ruang UKS ada di depan mata. Sampai saat dia membuka knop pintu dan merebahkan dirinya; membuat hasil jerih payah dan perjuangan nya telah usai. Sakura berhasil tanpa harus merepotkan orang lain. Walaupun UKS itu terasa sepi dan tak ada pengawas. Dia tak peduli. Yang di pedulikannya saat ini; dia harus mengistirahatkan tubuhnya. Hanya itu—cukup.
Sakura menutup kedua kelopak matanya, berharap semua rasa sakit ini segera hilang. Dadanya masih terasa nyeri. Hingga tanpa sadar butiran keringat dingin keluar melalui pori-pori kulit putih mulus bak porselen miliknya. Hembusan nafas Sakura tak menentu, membuat dia mau tak mau bernafas melalui mulutnya. Hembusan demi hembusan secara perlahan. Melihat gadis bersurai pink ini terasa begitu menyakitkan. Didalam hatinya dia tidak ingin membuat seseorang yang di sayanginya menghawatirkan kondisi Sakura saat ini. Namun, pikirannya menyangkal bahwa dia butuh bantuan orang lain. Mungkinkah—Sasori?
Tidak. Sudah cukup keberadaan dia membebani Sasori. Sekarang? Dia membutuhkan sosok pemuda itu menemaninya saat ini. Egois kah? Sejujurnya emerald itu merasa takut. Entah apa yang ditakutinya. Kesepian? Kesendirian? Ah, Kehilangan? Dan butiran keringat-pun bercampur dengan air mata. Terus menetes membasahi benda yang menjadi alas pucuk kepalanya. Tangan kanan gadis ini meremas helaian rambut kepalanya dan tangan kirinya meremas kerah kemeja miliknya. Betapa tersiksanya dia saat ini.
Hingga tanpa sadar. Setelah puas menangis dan lelah.
Gadis itu—Sakura, terlelap dengan wajah yang sulit di artikan.
Manis dan—menyedihkan.
.
.
.
'Sakura…'
Siapa?
'Sakura…'
Terdengar. Suara itu terdengar. Bahkan di dalam—mimpi? Suara itu mampu menenangkan Sakura. Suara tegas dan terasa lembut.
'Sakura'
Orang itu memanggil. Dimana? Sosok itu.
Suara itu berkali-kali menyebut namanya. Terus menerus, hingga semakin lama suara itu menusuk gendang telinganya. Membuat Sakura terasa resah dalam tidurnya—
"Sakura?!"
—Hingga suara itu dapat membuat emerald menampakkan wujudnya.
Gadis itu terbangun.
Kesadaran Sakura belum sepenuhnya pulih. Penglihatannya masih terasa buram, di tambah dengan jejak air mata yang masih menetes perlahan. Tapi di balik itu dia dapat melihat samar-samar ada beberapa orang yang mengelilingi tempat dimana dia tertidur. Ada apa? Apa Sakura membuat kesalahan?
"Ne, Sakura… kau sakit?" tanya gadis berambut blonde dengan iris mata indah aquamarine miliknya. Gadis cantik yang baru pertama kali dilihatnya. Apa dia salah satu siswi di sini? Kakak kelas kah?
Penglihatan Sakura mulai membaik dan sepenuhnya sadar dan pulih dari ruang mimpinya. Menyadari dia tertidur sembari menangis; dengan cekatan Sakura menghapus air mata menggunakan punggung tangan miliknya. Dia tidak ingin terlihat lemah.
Tapi dari pada itu—siapa mereka? Emerald miliknya memeriksa semua sosok yang berada di ruangan yang sama dengannya.
Satu…dua…tiga... Dua sosok laki-laki yang mungkin pernah dilihatnya. Sosok pemuda berambut pirang dan temannya yang Sakura yakin pernah mendorong pemuda bermata onyx—yang kini tengah bersardar di tembok yang berada di hadapannya sembari menatap intens emerald tak bersalah itu. Dan seorang lagi. Sosok gadis bak model yang belum pernah di lihatnya. Siapa?
Onyx, sapphire dan aquamarine. Menatap emerald penuh perhatian. Untuk kesekian kalinya Sakura memaksa memorinya untuk mengingat apa kesalahan yang dibuatnya hingga ketiga sosok itu menemuinya di saat jam pelajaran masih berjalan. Perasaan apa ini? Berdebar dan bergemuruh. Apa dia akan di bully lagi?
Tidak. Ini bukan perasaan takut mau pun cemas. Tapi, apa ini? Perasaan tenang dan rindu saat di kelilingi oleh ketiga sosok itu. Tidak terasa beban. Gadis berparas cantik itu hanya terus terdiam dan secara bergantian menatap satu-persatu tamu yang tak diundang. Terus seperti itu sampai-sampai rasa gemuruh itu semakin menguasai perasaannya. Kenapa? Kenapa perasaan tenang ini? Dan emerald itu lagi-lagi mengeluarkan tangisan tanpa perintah. Berbeda dari sebelumnya. Tangisan ini. Entah kenapa… dia senang.
"Sakura?! Kenapa? Ada yang sakit? Beritahu aku!" Ucap gadis beriris aquamarine yang disusul oleh kedua pemuda yang mendekat kearah Sakura dan menatapnya khawatir dan penuh tanya.
"Sakura bicaralah, kau kenapa?"
Pancaran mata itu—
—benar-benar terlihat tulus mengkhawatirkannya. Pancaran yang sama dengan huzel milik Sasori.
Saat ini Sakura benar-benar terlihat kebingungan. Entah dia harus menjawab apa dan bagaimana. Rasanya rindu dan menenangkan.
"Kami mengkhawatirkanmu Sakura… kami merindukanmu bodoh—" Gadis bermarga Yamanaka ini tak kuat menahan perasaan cemas terhadap sahabat kecilnya. Sehingga dia refleks memeluk erat gadis kuat namun ceroboh dihadapannya. Dan Ino dapat mencium jelas aroma khas cherry blossom yang dirindukannya. Dia benar-benar Sakura.
Sakura yang mendapat perlakuan lembut dari orang yang di anggap asing olehnya, terasa canggung. Pelukan gadis blonde ini terbilang cukup erat, dan dapat Sakura rasakan gadis ini menangis dalam diam. Menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Sakura. Dan itu lagi-lagi membuat Sakura binggung harus bersikap seperti apa. Karena—sampai saat ini hanya Sasori dan Hinata lah yang dekat dengannya.
Emerald itu menyerah dan berhenti berpikir. Dia menatap kedua sosok pemuda yang terlihat memalingkan wajahnya. Tidak berani menatap Sakura saat ini eh? Membuat Sakura hanya menghela nafas dan akhirnya—
Membalas pelukan gadis asing yang sepertinya tengah terpuruk. Tidak ada salahnya bukan membalas pelukan orang lain yang membutuhkan?
Ino yang menyadari telapak tangan mungil milik Sakura membalas pelukan, membuatnya merasakan kehangatan yang telah lama memudar. Rasa senang, bersyukur dan sakit; tercampur menjadi satu.
"Kau kemana saja, Forehead?" Ucap Ino yang terus menangis, namun bibirnya menyungging senyuman.
Tanpa sadar emerald itu terbelalak. 'Forehead' kalimat itu seakan mengingatkan Sakura akan sesuatu yang membekas di memori nya. Tapi apa? Kalimat itu. Ketiga sosok ini. Apa berhubungan dengan sesuatu yang tidak di ingatnya? Namun kehadiran mereka seolah memaksa pemilik tubuh beraroma cherry blossom ini untuk mengingat semua yang terlupakan. Tapi di balik semua itu—
"Akh?!" Sakura menjerit pelan, semakin dia mengingatnya maka—
—semakin terlupakan dan tersakiti.
Pemilik emerald itu memberontak melepas pelukan. Membuat Ino sedikit terdorong dan segera menyeimbangkan tubuhnya. Sakura segera meremas pucuk rambut soft-pink miliknya. Merasakan rasa sakit dan ngilu yang membuatnya susah untuk mengendalikan diri. Membuat ketiga sosok itu yang berawal kaget menjadi panik dan segera menenangkan Sakura.
"Sakura!" Teriak pemuda beriris onyx yang terlihat panik—amat sangat panik. Topeng yang selalu dikenakan olehnya seolah terlepas. Egonya menghilang. Yang di fokuskannya saat ini adalah gadis emerald yang tengah berusaha di tenangkan.
Pemuda itu—Sasuke, terlihat miris melihat keadaan Sakura yang terus menerus memberontak. Kakinya yang menendang tanpa arah segera di ambil alih oleh Naruto dengan cara memegang erat telapak kaki Sakura; agar berhenti bergerak. Sedangkan Ino menenangkan tubuh Sakura dengan mencengkram kuat pundak mungil milik Sakura.
Dan Sasuke—cukup melihat gadisnya tersiksa mampu membuatnya rapuh. Sakura tidak berteriak. Suaranya tertekan namun bibirnya terbuka seolah meminta pertolongan. Pupil matanya mengecil, alis matanya menyirit menahan sakit dan helaian rambut soft-pink miliknya seketika menjadi kusut berantakan.
Dan dengan cekatan, Sasuke menggenggam telapak tangan Sakura dengan lembut. Lalu mendekatkan kening miliknya ke arah kening milik Sakura. Berharap gadis itu lekas tenang dengan perlakuan lembutnya.
Sakura saat ini terlihat terkunci tak bisa menggerakan tubuhnya yang refleks ingin memberontak. Membuat Ino tidak bisa berhenti menangis dan Naruto yang terus menunjukan wajah sedih dikarenakan keadaan Sakura saat ini. Ini adalah salah satu hal menyakitkan bagi mereka. Dengan membayangkan keadaannya pun, dapat membuat rapuh. Lemah? Tidak, Sakura kuat. Dia terlalu kuat untuk mencoba menahan semuanya.
xXxX Remember XxXx
Sasuke menggertakan gigi grahamnya berusaha tenang. Kening miliknya masih setia bersandar diatas kening milik Sakura. "Sakura," pemuda bermata onyx itu angkat bicara. Sasuke menutup kelopak matanya; menyembunyikan kepekatan onyx miliknya. Membiarkan Sakura menatap lekat paras wajah milik Sasuke.
"Sakura tenanglah… ini aku—"
"Aku, Ino dan si bodoh Dobe itu… Kau tidak perlu takut Sakura."
Aquamarine milik ino masih mengaliri air mata, namun bibirnya dengan susah payah mencoba tersenyum. "Kau tidak mungkin melupakanku kan? Forehead? Hiks… aku sedih bodoh melihatmu seperti ini,"
Naruto menghapus wajah sedih miliknya dan berganti menjadi wajah ceria, wajah yang memang lebih pastas untuk ke pribadiannya. Walaupun didalam hatinya tersayat kepedihan. Namun tidak ada salahnya untuk berusaha, bukan?
"Sakura-chan kita ini bersahabat… Kau jahat kalau melupakan semua hal tentang persahabatan kita."
Disisi lain selagi semua mencoba menenangkan Sakura; gadis bermahkota soft-pink sedikit demi sedikit saraf otot miliknya mulai terasa tak menegang dan menyesuaikan diri. Pupil mata milik Sakura pun mulai terlihat normal. Tidak ada pemberontakan lagi. Berbagai kalimat-kalimat yang diucapkan untuknya seolah menjadi obat penenang tersendiri. Namun, walaupun semuanya terlihat normal pikiran Sakura tengah melayang. Sedikit demi sedikit potongan ingatan miliknya terlintas.
Sakura—gadis itu sudah terlihat tenang, namun pancaran mata miliknya terlihat kosong. Berbagai potongan ingatan miliknya membuat dia tak sadar akan dunia nyata dan pergi ke dasar ingatan.
Di dalam mimpinya dia melihat gadis kecil bersurai soft-pink yang tengah tertawa lepas di tengah-tengah bukit berbunga sembari berlari kecil. Dia juga dapat melihat ketiga sosok lain yang tampak kurang jelas bagaimana parasnya; berlari mendahului gadis kecil bermahkota bak bunga sakura. Mereka tak henti bercanda dan tertawa lepas seolah tak ada beban. Manis.
"Sakura-chan cepat!"
"Lari mu memang lambat Forehead!"
"Tidak bisakan kau lebih cepat sediki bodoh!"
"Jangan kasar padanya Sasuke!"
"Hahahaha, aku baik-baik saja…"
Air matapun… menetes.
Ingatan apa ini?
Kejadian ini?
Tawa?
Dan—apakah gadis itu…
.
Sakura yang tidak bisa memberontak lagi membuat onyx, aquamarine, sapphire melepaskan pegangannya. Sakura memang terlihat tenang. Namun dibalik itu yang mereka lihat hanyalah tubuh gadis yang terpisah antara jiwa dan raganya. Tubuh milik Sakura yang terlihat normal. Tapi tatapan itu masih kosong. Bahkan saat ini yang terlihat emerald-nya menitihkan air mata. Deras dan suci. Semua yang melihat hanya membatu. Entah apa yang harus dilakukan. Mereka terlalu takut dan panik. Takut mengambil tindakan yang salah. Tapi haruskah Sakura didiamkan begitu saja, eh?
Dan tanpa sadar bel tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi. Dengan hitungan detik suara derap langkah kaki dan berbagai suara bising terdengar dan terlintas sekedar melewati ruang bertuliskan 'UKS.' Dan tanpa mereka sadari diantara puluhan bahkan ratusan langkah kaki, ada sepasang kaki jenjang yang berjalan kearah UKS. Pemuda berambut merah dan beriris huzel, membopong dua tas dalam satu tangan. Terus berjalan hingga akhirnya—
SRREEETT…
—pintu UKS terbuka. Dan tertutup kembali.
"Sakura apa kau sudah sehat? Teman mu memberitahukan ku bahwa kau ada di—"
DEG!
Kedua tas yang di pegangnya terjatuh. Huzel-nya terbelalak kaget melihat gadis yang di jemputnya berbaring lemas dengan tatapan kosong. Dan dengan cekatan pemuda bermarga Akasuna itu berlari menerjang Sasuke dan memeluk gadis bersurai soft-pink.
"Sakura sadarlah, kumohon!" ucap Sasori sembari memukul lembut pipi porselen milik Sakura dengan menghapus air mata yang tak kunjung henti.
Kelopak mata itu terus menampakkan keindahan emerald.
Tanpa berkedip.
Tatapan itu masih terasa kosong.
Dengan air mata yang menghiasinya.
Terus terjatuh.
Pemuda berparas baby-face itu menggertakan giginya tanda bahwa dia marah dan diambang batas kesabaran. Lalu huzel itu menatap dingin satu persatu sosok lain yang berada di ruangan yang sama dengannya. Telapaknya mengepal keras. Kesabarannya seolah telah habis.
"KUSO!"
Mendengar ucapan kasar keluar dari bibir tipis milik Sasori membuat Ino, Naruto dan tak terkecuali Sasuke memalingkan wajahnya. Menyesal? Tentu saja, mereka terlihat amat sangat menyesal. Bahkan untuk kali ini, keegoisan Sasuke pun runtuh sesaat. Dan untuk kali ini juga Sasuke mengurung emosinya dalam-dalam. Kau kecewa eh, Sasuke? Kau gagal. Membuatmu frustasi bukan?
"Sudah kukatakan padamu jangan melakukan hal semacam ini, Sasuke!"
Hening. Sasuke masih terdiam. Di dalam hatinya dia kesal. Ingin mengatakan semua hal yang memang ingin dikatakan olehnya. Dia tidak ingin kalah dari siapapun, termasuk pemuda beriris huzel yang tengah mengintimidasi onyx miliknya. Namun untuk saat ini. Biarlah. Dia tahu kalau dia salah. Walaupun enggan untuk mengakui. "Cih."
"Gomen ne, aku hanya merindukan Sakura…" ucap Ino sembari menyembunyikan aquamarine miliknya dan menghapus air mata dengan punggung tangannya. Mewakili Naruto dan Sasuke yang Ino tahu tidak akan mengucapkan sepatah katapun.
"Pergi,"
Tanpa basa basi.
"Ta-tapi—"
Huzel itu mencoba tenang.
"Tak apa, pergilah. Aku yang akan mengurusnya." Ucap Sasori yang tidak mungkin lagi bisa dibantah. Pemuda berparas baby-face ini tidak ingin memperburuk keadaan yang sudah terlalu buruk baginya.
Tanpa bicara panjang lagi Ino dan Naruto bergegas keluar UKS tanpa membantah. Sedangkan Sasuke? Jangan tanya. Dia masih menatap kesal kearah Sasori yang tengah berusaha menyadarkan Sakura. Perkataan dan perhatian lembut Sasori kepada Sakura membuat Sasuke memanas. Dia tidak rela. Tak akan rela. Namun untuk kali ini saja. Apa boleh buat. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Yang dibutuhkan Sakura saat ini mungkin adalah Sasori. Bukan dia. Onyx itu mengalah. Berdecih dan beranjak pergi. Namun sebelum benar-benar pergi—
"Untuk kali ini, tolong jaga Sakura."
Sasori yang mendengarnya hanya tersenyum remeh.
"Tanpa disuruh olehmu pun, aku setia menjaga nya."
"Hn, aku tahu."
" Dan tolong—jangan lakukan yang lebih dari ini."
Sasuke menghentikan langkahnya diambang pintu.
"Cih. Kau bodoh eh? Aku tidak akan menyerah… Apa kau lupa?"
"…"
"Sakura milikku!"
SRREEEET.
Sasuke meninggalkan UKS dan menyusul kedua temannya yang masih menunggu di depan ruangan. Tanpa sadar pancaran emerald itu telah kembali. Dia tersadar dari mimpi yang membuatnya menjadi tersakiti. Tangisan itu semakin menjadi. Tubuh Sakura pun refleks memeluk Sasori. Menghirup aroma maskulin dan menikmati kehangatan yang diberikan Sasori padanya. Perasaan takut akan kesepian itu datang.
"Sasori-nii, tatsukete—onegai… kowai yo ne, hiks…"
"Daijoubu Sakura, aku akan menjagamu."
Gadis itu bicara.
Ya, dia tidak bisu.
.
.
.
Apa kau benar-benar melupakan semuanya?
Bahkan kau seolah tak ingin mengingat ku.
Kau ketakutan.
Apa aku penyebabnya?
Di saat bersama 'dia' kau seolah tenang.
Saat bersamaku kau seperti tersakiti.
Apa kau tahu aku juga tersiksa?
Aku cemburu.
Tapi demi kebahagiaan mu.
Aku rela membiarkan 'dia' memelukmu lebih lama.
Tapi setelah kau mengingat kembali.
Mengingatku.
Mengingat semuanya.
Aku tidak akan melepaskanmu.
Bahkan membiarkanmu di sentuh oleh siapapun.
Aku tidak akan membiarkannya.
.
.
.
"Sakura sudah sadar?"
"Kau sudah dengar sendiri kan Ino-chan?"
"Dan dia tidak bisu… Aku merindukan suaranya."
"Kenapa saat Sasori-senpai datang dia segera sadar? Apa dia tidak membutuhkan kita lagi?"
"Jaga ucapanmu bodoh! Arrrggh… Jadi apa yang harus kita lakukan, Sasuke?!"
"Aku akan merebut apa yang telah terambil dari genggamanku."
"Yah, itu memang sifatmu… Tapi aku akan membantumu, karena Sakura adalah sahabatku."
"Bukan, kau salah Ino-chan, Sakura adalah—
—Sahabat kita."
"Hn, kita pulang sekarang."
.
.
.
xXx To Be Continued xXx
A/N : gimana gimana? Puas sama chapter ini? Bikin penasarankah? O.o
Semoga kalian puas plus penasaran.. nyahahaha *smirk
Gomen kalo masih ada typo(s) atau misstypo yang bertebaran dimana-mana =w="
Manusia tak luput dari kesalahan /ngeles/
Tapi Misa bakal terus berusaha semaksimal mungkin menghapus typo dan memberi greget di fict Misa (OwO)9
Kalo kalian punya ide/saran untuk fict ini kasih tau ya… itu bisa jadi masukan atau perubahan di fict ini, dan supaya Misa dapet pencerahan(?) :9
Ah, karna di chap kemarin Misa ga sempet bales ripiu.. Sekarang Misa bakalan bales ripiu kalian dari chap.2… Arigatou ^o^
xX Replies for Reviews Xx
Nina317Elf : gomen baru bales ripiu nya (/\)
Hn, kenapa Sasu dulu cuek? Kenapa yaaaa~ *ngeselin
Nanti dijelasin, tenang aja ;3
Riview terus ya ne xD
Kuroruyama : gomen baru bales ripiu nya juga (/\)
Gregetan? Arigatou XD
yokatta suka sikap Sakura di sini ^o^
Cemburu buta? OAO ide bagus! Nanti Misa usahain..
Sankyu Kuro-san x3
Haruno Erna Chan : Misa apdet lagiii~
Kalo chap 2 kurang panjang, gimana sama chap 3 dan 4 nya? Udah cukup panjang? O,o
Hubungan SasoSaku itu…. Himitsu /bisik2/ *dzigh
Tebak-tebak aja dulu xD suka bikin orang penasaran
Sankyu, review terus ya ne ;3
Icha Momo : Gomen kalo chap.2 nya pendek (/\)
Tapi sekarang udah engga kan? u.u
Masih penasaran kah? xD
Yosh! Sankyuu…
Icha yukina clyne : gomen baru bales ripiu nya (/\)
Misa bingung bales ripiu Icha-chan(?) di chap 2… Misa terharu bacanya *mewek dikamar* TAT
Arigatou semangatnya… Misa bakal usahain apdet kilat!
Terus ripiu yaaa.. dan semoga fict ini makin menarik x3
Hidan cantik : SasuSaku ya? Sejauh ini emang pair SasuSaku paling banyak vote nya..
Tapi vote SasoSaku jg ga kalah banyaknya lho xD
Jadi penentuan masih di kalian (w)
Terus vote dan ripiu ya ;3
rura seta : chap 3 dan 4 udah cukup panjang kan? ;3
Sip! Semangat!
sh6 : udah di lanjutin… gomen telat bales ripiu (/\)
Ikutin terus cerita nya ya ne, sankyuu
: gomen baru bales ripiu nya (/\)
Boleh ko manggil Misa-chan :3
Misa boleh panggil Rien-chan?
Iya Sasu egonya tinggi, tapi tetep keren xD
Hn.. hubungan SasoSaku itu… *piiip(?)
Ada, nanti rencananya bakal ada flashback.. tunggu ya ;3
Arigatou, ikutin terus perkembangan ceritanya
Yoruichi Shihouin Kuchiki : tapi chap 3 & 4 nya udah cukup panjang kan? TAT
Sip.. maaf soal typo nya, tapi itu jadi masukan buat Misa.. Arigatou udah kasih tau ne, semoga di fict selanjutnya ga ada typo.. amin
PM? Okeh :3
Sankyuu
Hoshino Kumiko : Udah apdeett XD
me : Iya Sakura amnesia…
oke Misa usahain selanjutnya apdet kilat :3
CN Bluetory : Fictnya bagus? QAQ Arigatoouuuu /haggu/
Sip.. ikutin terus ya ~
Luci Kuroshiro : salam kenal juga Kuroshiro-san OwO/
Nanti Misa usahain bikin flashbacknya.. jadi pantengin terus ya dan jangan lupa ripiu ;3
Ai Asami : Sasu udah berusaha lembut ko u.u
Hubungan mereka…. *ctarr (?)
Udah apdet, maaf lama.. gomen ne
Cerita mesra SasuSaku ya? Mungkin nanti ada… tapi sekarang masih sedikit :/
Happy End atau Sad End? Himitsu.. *wink /dzigh/
Sankyuu (w)/
Fiyui-chan : ok.. udah apdeeettt xD
Diiaam : Gimana sekarang? Udah cukup puas? :3
Lissiana Clyne : Sankyuuuu /haggu/
Makasi vote nya :3
Yosh, ganbatte!
YolachiEdlyn : gomen kalo Saku kebanyakan nangis… T^T
Dia kuat ko, tapi kadang dia ga bisa nahan diri dan akhirnya nangis..
Ok.. Sankyuu baca terus ya xD
Trancy Anafeloz : Salam kenal juga XD
Hontou? Sankyuu xD
Wakaarimashita.. gomen typo yang sebelumnya.. tapi sekarang udah lebih baik kan? makasih udah ingetin u.u /tepuk kepala sendiri/
Sankyuu.. terus baca n ripiu ya xD
Scy Momo Cherry : Udah adpeeettt xD
Mikyo : Semangat! Arigatou ;3
Misa usahain apdet kilat
Deauliaas : okeh xD
Udah apdet dan akan diusahain apdet kilat xD
Un, salah satu tujuan flashback ngungkapin tentang Saku yang Cuma ngomong sama Saso..
Tunggu yaaa ;3
Guest : /pukpuk/ (?) TAT
Guest-san merasakan apa yang Sasu rasakan? /heh
Icha yukina clyne : Nyaaaaaan /haggu/ Sankyuu udah setia baca fict Misa n ngeripiu x3
Yeeeeiiiyyy xD (?)
Perlakuan kaka beradik ya? Tapi Saso bakalan ngelakuin hal yang sama dengan Sasuke buat Sakura lho ne ~
Sasu ga nyerah ko :3
Iyap, dan itu Ino-chan XD
Misa usahain apdet kilat T^T /ngurung diri(?)/
Ucucubi : Gomen ne apdetnya lama, lain kali Misa usahain apdet kilat..
Dukung terus ya neeeee~
Yoruichi Shihouin Kuchiki : hello lagi o.o /heh/
SasuSaku banyak pendukungnyaaaa sugeeeeee XD
Sankyuuuu /peluk/
Ikutin n review terus yaaa x3
me : bisu? Engga ko :3
Hani Narahashi : Misa usahain selanjutnya apdet kilat :3
Okeh.. Sankyuu
Ikutin terus ceritanya ya ;3
Mitchiru1312jo : Saso juga baik ko ne TAT
Tapi kalo vote nya SasuSaku, okey
Udah ada warning OOC ko QAQ /mewek dikamar/ (?)
Sankyuu
Raicchy : Sankyuuuu xD
/poor for Sasu/
Baca terus yaaaaa ~
Hikaru No Yukita : Yeeeeiiiy usulan Misa di dukung XD
Okeh, Sankyuu
Terus baca ya ne ;3
Rizuka Sasusaku Hanayuuki : Daijoubu ne…
Un, vote di terima..
Arigatou~
Elizabeth Himawaaari : WICHAAAAAAA AKHIRNYA BACA JUGA QAQ /gigit/
Jangan pensiun dong jeng QAQ
WICHA BOONG BANGET! PADAHAL WICHA UDAH MASTER, MISA MASIH PEMULA WQAQW
TOLONG AJARKAN SAYA SENSEI!
/capsjebol/
Ripiu lagi jeng.. kengen QAQ (?)
Saccah, Rue~ dapet salam dari Wichaaaa /teriak pake toa colongan(?)/
Muacih Wichuuuu :* /kichu/
anggerSS : wakatta o.o7
Sul Sul : Nanti di certain kenapa Saku amnesia.. di chap khusus flashback
Sampai kapan Saku amnesia? Hn… mungkin ga semudah itu bikin ingatan Saku kembali, jadi butuh perjuangan dulu ._.
Yosh.. arigatou xD
.
.
.
xXxX Remember XxXx
Sankyuuuuu buat RnR minna-sama (w/)
Misa seneng banget, walaupun lama apdet =w=v
Sampai saat ini vote SasuSaku lebih unggul OAO
Terus vote yaaaaa~
Ide flashback pun diterima, jadi ditunggu yaaa :3
Sedikit bocoran, banyak yang nanya hubungan antara SasoSaku..
Hubungan mereka special lhooo.. jangan tertipu dengan panggilan 'nii' jadi untuk sekarang coba tebak tebak aja ;3
Gomen kalo masih ada typo…
Misa akan usahain apdet secepatnya, jadi jangan lupa Riview terus yaaaa
Riview kalian buat Misa makin semangat!
Yang punya ide buat kebaikan(?) fict ini bilang ya, di ripiu bole di PM jg bole..
Mungkin itu bisa bantu Misa mencari pencerahan (?)
Ah, gomen juga karna ga ada potongan adengan chap selanjutnya lagi kehabisan ide..
Sou, semoga fict ini makin menarik…
Jangan lupa vote pair dan review nya ya minna ^o^/
Karna review kalian yang nentuin berlanjutnya fict ini ;3
Jaa naaaa~
R
E
V
I
E
W
?
