"Sakura sudah sadar?"

"Kau sudah dengar sendiri kan Ino-chan?"

"Dan dia tidak bisu… Aku merindukan suaranya."

"Kenapa saat Sasori-senpai datang dia segera sadar? Apa dia tidak membutuhkan kita lagi?"

"Jaga ucapanmu bodoh! Arrrggh… Jadi apa yang harus kita lakukan, Sasuke?!"

"Aku akan merebut apa yang telah terambil dari genggamanku."

"Yah, itu memang sifatmu… Tapi aku akan membantumu, karena Sakura adalah sahabatku."

"Bukan, kau salah Ino-chan, Sakura adalah—

—Sahabat kita."

"Hn, kita pulang sekarang."


.

.

Aku tidak peduli berapa kali kau menolakku.

(Apa maksudmu?)

Aku tidak peduli berapa jauh kau membenciku.

(Aku membencimu?)

Aku tidak peduli kau melihatku sebagai masa lalu yang suram.

(Aku tidak mengerti)

Bila ini semua memang salahku.

(Salahmu?)

Izinkan aku menebus dosa yang telah ku perbuat.

(Dosa apa? Tentangku?)

Ini salahku yang meninggalkanmu.

(Siapa?)

Akan ku lakukan apapun yang dapat membuatmu bahagia.

Karena kau… Milikku—

Sakura.

.

.

Cerah. Satu kata yang mampu menuliskan nuansa yang terlihat melalui mata telanjang. Embun yang menetes. Ranting yang menari lembut. Dan desiran air yang mengalir di tepi sungai.

Hari berjalan layaknya hari-hari yang lain. Suara-suara yang bergeming memonopoli gendang telinga. Suasana terasa sunyi saat pelajaran tengah berlangsung. Hening. Hanya terdengar suara gesekan yang di sebabkan oleh kapur yang mendarat di permukaan papan tulis.

Di satu ruangan terdapat gadis bersurai cherry blossom yang sedang terpaku menatap sang guru yang tengah menerangkan. Disudut ruang lain sosok dingin beriris onyx menatap bosan kearah sekeliling. Pikirannya masih menerawang gadis merah jambu miliknya. Hatinya terasa sakit saat suara lirih gadis itu hanya dapat didengar oleh pemilik hazel. Bibir itu berucap tolong. Bukan dengannya. Bukan untuknya. Tetapi untuk pemuda lain. Gadis itu memeluk penuh kasih dan meminta perlindungan—kepada dia. Sasori.

Sasuke—pemuda itu menggeram dalam diam. Telapaknya mengepal keras. Tatapannya tersirat penuh kebencian. Dia muak. Bisakah dia menahan semua beban? Merelakannya? Mengiklaskannya? Bisakah? Ego terus menguasainya. Gadis itu hanya miliknya. Hanya untuknya. Namun, untuk gadis itu kehadiran Sasuke seperti beban untuknya. Memorinya telah menghapus ingatan tentang Sasuke—dan memulai ingatan yang baru dan dipenuhi oleh Sasori.

Siapa yang jahat? Sasuke? Dia ego ingin memonopoli Sakura menjadi miliknya. Hanya miliknya. Dan akan menyingkirkan siapa-pun yang mengganggu egonya. Sasori? Tujuannya hanya menjauhkan Sakura dari Sasuke. Dia ingin yang terbaik untuk Sakura. Dia ingin Sakura bahagia tanpa Sasuke. Namun, hal itu jelas-jelas melukai Sasuke. Sakura? Dia korban. Dia jahat. Melupakan semua. Melepaskan semua. Seolah tak peduli. Tak mau peduli. Jadi, hei siapa yang jahat diantara mereka?

Sasuke merogoh saku celana untuk mencari ponsel miliknya, dan membiarkan jari-jarinya mengetik sesuai dengan apa yang di pikirkannya. Tak peduli sang guru hanya menghela nafas berat. Uchiha.

Sosok beriris onyx itu mengirimkan pesan kepada pemuda bersurai merah yang notabenya adalah saingan berat. Mengajaknya berbicara saat jam istirahat nanti. Pikirannya terus menerus mengutuk meminta penjelasan. Yang diinginkannya adalah mengetahui masa lalu sang gadis—saat sosoknya tak berada di sisi. Dia membutuhkan jawaban sedetail mungkin. Bagaimanapun caranya.

Bahkan dia rela menunggu hingga saat jam istirahat nanti. Dia rela untuk bersabar. Membuat pemikiran dan benaknya terus bergulat. Ya, apapun akan dia lakukan untuk gadis itu. Apapun—yang dapat membuatnya mendapatkan kembali sang gadis—Sakura.

.

.

Disclamer : Naruto, Masashi Kishimoto

Remember copyright : Misaru Keigo

Rated : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Warning : AU, OOC(?), Typo(s), Miss typo(s), Poetry, Gaje, de el el

Chapter 5 : 'Yakusoku'

.

.

Enjoy!

.

.

"Ada keperluan apa kau memanggilku, Sasuke?" suara baritone terdengar datar.

Saat ini jam istirahat tengah berlangsung. Terdapat kedua sosok pemuda dengan fisik layaknya pangeran impian setiap kaum hawa tengah saling menatap tajam satu sama lain. Tepat dihalaman belakang sekolah yang memang jarang di kunjungi siswa/i itu sendiri. Tempat yang tepat untuk berbicara.

"Ceritakan semuanya, secara detail. Tentang Sakura." Onyx itu terus menatap meminta ketegasan.

"Kau belum menyerah juga?" bibir tipis itu tersenyum remeh.

"Tidak. Tapi mungkin aku akan bersikap lebih hati-hati bila kau menceritakannya."

Sasori menghela nafas. Namun, sosoknya tetap datar dan tegas. Tubuhnya mulai bersandar. Memunggungi tembok yang menjadi alasnya. Lalu segera menyembunyikan telapak tangan miliknya kedalam saku celana. Sasuke hanya menatap intens kearahnya. Onyx menatap hazel. Namun, hazel tengah terbenam oleh masa lalu. Masa yang pahit. "Kuharap kau mengerti alasanku menjauhimu. Ini demi kebaikan Sakura."

"Hn…"

.

.

-Flashback-

"Ne, Onii-chan. Besok kau akan menjemputku kan?" bibir itu mencoba tersenyum. Namun suara lirihnya tak dapat menipu. Sosok di seberang dengan ponsel menghias lekuk pipi hingga telinganya, menyiritkan sebelah alisnya tanda khawatir.

"Sakura kau kenapa?" seolah mengetahui sesuatu yang tak wajar dari seberang telepon. Pemuda itu menghiraukan pertanyaan awal.

"Na-nandemonai yo ne." Suara itu bergetar. Pelupuk matanya tak lagi dapat menahan bendungan.

"Sakura? Kau bohong. Ceritakan padaku, ada apa?" lembut. Suara dan perkataannya melembut. Membuat gadis itu terasa tenang hanya dengan mendengar pemilik suara lembut ini.

"Sasuke-kun… hiks" air matapun jatuh. Mengalir pada lekuk wajahnya tanpa tertahankan.

"Sasuke? Ada apa dengan pacarmu?" pemuda itu mencoba sabar menghadapi gadis di seberang telepon ini. Dia tahu gadis ini rapuh bila dia tengah menangis. "Dia berbuat jahat padamu?" telapak tangan itu mengepal kuat. Amarah mulai menguasainya perlahan.

"Hiks… Aku putus. Sasuke mengabaikan dan membiarkanku pergi. Hiks… dia tidak memperdulikanku lagi. Huuwaaaaaaa"

Kepalan tangan itu merenggang. Perasaan bebas, senang namun menyakitkan menjadi satu.

"Tenanglah. Ceritakan semuanya padaku saat kau berada di sini. Dan aku akan menjagamu." Bibir tipis itu tersenyum. Hatinya sakit mendengar suara tangisan yang memilukan dari gadis itu.

"Bisakah kau berjanji padaku?" Seolah kehilangan kepercayaan, gadis itu bertanya dengan suara bergetar. Hanya untuk memastikan.

Ya, untuk memastikan.

"Ya, aku berjanji akan menjagamu."

Dan benang merah pun terjalin. Melilit kuat di jari kelingking mereka. Senyuman menghiasi sang gadis. Perasaannya lebih tenang. Namun kehilangan kekasih adalah beban berat untuknya. Dia tak ingin hubungannya berakhir begitu saja. Hanya dengan hubungan jarak jauh. Dia ingin bertahan. Tetapi kekasih nya seolah melepaskan genggaman tangannya dan pergi menjauh dari sisinya. Memunggunginya. Mengabaikannya. Membiarkan semuanya menggantung tak jelas. Ini menyakitkan. Sangat sakit.

xXxX Remember XxXx

Esoknya. Hujan menurunkan tetesan-tetesan air kedalam daerah Konoha, seakan menggantikan perasaan gadis bersurai soft-pink yang tak dapat menerima kenyataan bahwa diakhir pertemuannya saat ini—Sasuke sama sekali tidak muncul atau-pun menghubunginya. Bukan. Ini bukan akhir. Dia pasti bisa bertemu Sasuke lagi walaupun harus bersabar dan berpisah dengannya. Untuk sementara. Ya, hanya sementara.

Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat saat butiran air mata menuruni lekuk pipinya sederas hujan diluar kaca jendela mobil yang ditumpanginya. "Tou-san, bisa kita berangkat sekarang?" ucapnya sendu sembari menghapus jejak butiran air mata itu menggunakan punggung tangannya.

Kedua pasang mata suami isteri Haruno itu hanya mengintip kemurungan anak semata wayang miliknya menggunakan kaca spion sembari menatap penuh khawatir. "Kau tidak apa-apa sayang? Bagaimana dengan Ino, Naruto dan Sasu—"

"Daijoubu, Kaa-san tidak perlu khawatir." Gadis manis bernama Sakura ini memotong perkataan ibunya cepat sembari tersenyum lembut. Walaupun ia tau dibalik senyumannya yang manis itu, air mata miliknya terus mengalir. Dan semakin deras. Untuk kali ini saja. Sakura tidak ingin mendengar namanya. Sakit. Setiap kali pikirannya memikirkan sosok itu hatinya berdenyut sakit tak tertahankan. Gadis itu sangat mencintai Uchiha bungsu. Namun, kenyataan pahit ini membuatnya tersiksa. Untuk saat ini. Jangan sebut nama itu. Sampai dia tenang. Sampai dia mempunyai tekat. Walaupun begitu dia tidak akan pernah melupakan Sasuke. Onyx-nya. Ego-nya. Senyumnya. Amarahnya. Semua tidak akan pernah terlupakan. Termasuk rambut emo bak chickenbutt miliknya. Ya, tidak akan. Sakura tertawa kecil kala mengingat saat-saat lucu bersama Sasuke. Walaupun ia sadar, saat-saat seperti itu telah mejadi kenangan. Gadis bersurai bubblegum itu bisa merasakan bahagia karena Sasuke. Dan Sasuke pulalah yang memberikan rasa sakit teramat dalam. Sasuke. Sasuke. Pikiran dan hatinya telah terpenuhi oleh sosok bermata onyx itu.

"Sayonara… Sasuke-kun."

.

.

.

xXxX Remember XxXx

"Sa…"

"…ra"

"Sakura?!"

"…Sakura?! Kumohon sadarlah Sakura!"

Sayup-sayup kelopak mata itu terbuka perlahan. Kemudian tertutup kembali. Pendengarannya terasa berdengung dan samar, tapi sosok itu merasakan namanya tengah terpanggil lirih. Seluruh tubuhnya serasa mati rasa. Namun telapak tangannya terasa hangat. Kenapa? Ada apa? Gadis itu terus bertanya dalam hati. Dia tidak bisa menggerakkan bibirnya. Bahkan kelopak matanya terasa berat dan tak bisa terbuka sepenuhnya.

Dia benar-benar tidak bisa merasakan apapun. Dia hanya dapat mendengar samar-samar seseorang tengah memanggil namanya khawatir. Namun gadis ini hanya bisa diam dan berbaring diranjang beralas putih dengan peralatan medis yang mengitarinya. Ya, dia tengah berada di salah satu kamar dirumah sakit yang berada tak jauh dari Suna.

Saat ini Sakura tengah berbaring kaku dengan tubuh dipenuhi luka akibat kecelakaan saat kendaraannya tengah melaju menuju Suna. Dan saat itu juga hujan deras terus mengiringi keberangkatan keluarga Haruno, membuat jalan terasa licin dan—mobil itu pun terjun kedasar tebing.

"Sakura…" Pemuda bersurai merah dengan wajah baby-face terlihat tengah memegang telapak tangan Sakura erat dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Sakura, bangunlah…"

Pemuda itu menyatukan keningnya dengan punggung tangan Sakura yang masih setia di genggamnya. Dia terus memohon, meminta kepada Kami-sama untuk melindungi gadis yang terbaring lemah dihadapannya. Memohon dan berdoa. Sosok itu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadis ini. Dia ingin gadis ini segera bangun dari mimpi buruknya dan lekas ceria. Menyebut namanya dan bermain dengan penuh semangat. Bisakah? Mungkin. Tapi itu membutuhkan waktu yang lama sampai dia mengetahui bahwa—kedua orang tua Sakura meninggal akibat kecelakaan. Sang ibu melindungi Sakura dengan memeluknya erat seolah tidak akan pernah dilepaskan, sedangkan sang ayah juga melindungi keluarga kecilnya—mengorbankan nyawanya sebagai taruhan. Dan perlindungan dari kedua orang tuanya sukses membuat Sakura terselamatkan. Namun memakan dua korban; orang tua Sakura sendiri. Jadi, bisakan Sakura ceria setelah mendengar hal yang menyedihkan tersebut? Kehilangan kedua sosok yang sangat berarti dalam hidupnya.

Sakura masih terdiam, bukan berarti dia tertidur. Dia sadar, namun kelopak matanya tertutup. Kini pendengarannya sudah mulai terbiasa menerima suara bising yang asing untuknya. Tapi—tubuhnya tetap mati rasa.

"Sakura, apa kau bisa mendengarku? Kau selamat dari kecelakaan… dan aku bersyukur kau selamat," bibir tipis itu tersenyum lemah. Suara pendeteksi jantung memonopoli satu ruangan dengan nada yang stabil. Pemuda itu mengunci bibirnya rapat seolah tak sanggup mengatakan apa yang harus di katakan olehnya. Kebenaran. "Sakura, kedua orang tua mu meninggal saat melindungimu di dalam mobil."

Degh. Terdengar. Sangat jelas terdengar. Ini bohong kan? Ini candaan kan? Ah, bukan. Ini pasti mimpi. Iya kan? Semuanya bohong kan? Gadis itu merutuki dirinya. Kenapa? Kenapa? Seandainya dia bisa berontak. Pasti saat ini dia tengah mengamuk tak peduli keadaan. Ingin rasanya berteriak. Tapi tak mampu. Selemah itukah? Hei, selemah itukah Sakura Haruno?

Tanpa terasa tetesan itu—air mata—menetes lembut membasahi lekuk pipi Sakura. Dia menangis—untuk yang kesekian kalinya. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ralat—dia tidak bisa melakukan apapun dalam kondisi seperti ini. Dan itu lah yang membuatnya benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi kedua orang tuanya. Ini terlalu berat, cobaan yang di berikan Kami-sama padanya terlalu berat untuk di tanggung pada punggung gadis bermarga Haruno ini. Setelah kehilangan Sasuke, sekarang? Dia harus kehilangan kedua sosok yang sangat berarti di hidupnya? Kaa-san… Tou-san… Kenapa?

'Kenapa aku selamat?—'

Sasori, pemuda yang dengan setia menunggu gadis cherry-blossom ini dengan cepat mengusap air mata milik Sakura menggunakan ibu jarinya. Perlahan dan lembut. Dia mengerti apa yang di rasakan oleh Sakura. Sakit. Pahit. Kenyataan yang sulit di terima. Dia mengerti. Dan dia rela. Rela menanggung semua beban yang memberati Sakura. Dia rela menjadi pelampiasan amarah Sakura saat ia tersadar sepenuhnya nanti. Apa-pun akan dia lakukan untuk membahagiakan gadis itu. Agar senyum itu kembali, memanggil namanya ceria—'Sasori-nii'—

"Aku akan menjagamu Sakura. Aku janji." Bibir tipis milik Sasori mendarat perlahan pada kening Sakura. Mengecup lembut penuh kasih. Mentransfer rasa sayang dan ketenangan pada gadis yang bernotabe sebagai—sepupunya.

xXxX Remember XxXx

Sebulan setelah Sakura terbangun dari masa kritisnya. Sosok itu terlampau rapuh. Lebih rapuh dari seonggok kertas yang terobek karena basah. Dia melupakan bagaimana caranya tersenyum. Dia bahkan tidak mengenal—apa itu tawa?—keseharian dia habiskan dengan lamunan yang membuat pancaran matanya tersirat penuh kekosongan. Sesekali isak tangis nya terdengar saat memori miliknya mengulang kejadian ketika dia kehilangan kedua orang tuanya. Miris.

Sakura. Gadis cherryblossom ini tidak sebatang kara. Sendirian, atau-pun tinggal dipanti asuhan. Tidak. Selagi Sasori yang melindunginya. Kini Sakura resmi di asuh oleh keluarga Akasuna yang bernotabe sebagai kerabat dekat keluarga Haruno. Dengan tangan terbuka dan penuh kasih, keluarga Akasuna menyambut Sakura hangat. Keluarga itu sangat menyayangi Sakura seolah anak kandung mereka sendiri. Adik kecil bagi Sasori. Bahkan mereka terpuruk, melihat Sakura tak menunjukan wajah cerianya lagi. Wajah mungil penuh tawa saat dia berkunjung ke Suna.

Sakura menerima, saat keluarga Akasuna mengangkatnya sebagai anak. Karena memang hanya keluarga itu yang rela menampungnya tanpa pamrih. Tapi dengan satu syarat. Syarat yang membuat keluarga Akasuna mengerti dan mengabuli permintaan pemilik iris kembar emerald ini tanpa perlu pikir panjang.

"Aku ingin margaku tidak diganti. Haruno… apa, boleh?"

Tentu.

.

Kaki jenjang itu menapak dengan pasti, membentur lantai marmer dengan sentuhan halus dari telapak kaki yang tak beralas apa-pun. Setapak demi setapak dia langkahkan. Irisnya yang indah menatap beberapa objek yang sudah tak asing dimatanya. Beberapa bingkai foto keluarga, lukisan-lukisan kuno yang menampakan keindahan padang pasir, boneka kayu hasil karya tangan yang sengaja di pajang jelas dengan ukirannya yang cantik. Jari-jarinya yang kokoh bermain dengan kasarnya dinding, membentuk nada yang di iringi oleh langkah kaki yang menuju satu titik. Akhir pemberhentiannya.

Sebuah pintu dengan aroma kayu jati dan ukiran indah di setiap sisinya, tengah tertutup rapat tepat di hadapannya. Dia terdiam. Hazel-nya menatap datar pintu yang seolah tak menerima kedatangannya. Tak butuh pikir panjang, telapak tangan miliknya mengepal lembut—mengarahkan pada pintu yang masih tertutup rapat. Dia mengetuk pintu itu. Dengan sentuhan pelan yang mengakibatkan dentungan halus—pertemuan antara telapak tangan dan kayu jati—mempertemukan nada yang dapat memberikan peringatan pada-siapa-saja-yang-ada-di-ruangan-itu.

"Sakura? Kau ada di dalam?" bibir tipis sang pemuda bergerak dengan ritme-nya. Menunggu jawaban yang akan terdengar oleh salah satu indra yang dimiliki-nya. Namun tak ada. Tidak ada balasan atau jawaban apapun yang akan menenangkan hati dan pikiran pemilik surai merah ini.

Untuk kesekian kalinya telapak tangan itu memberikan isyarat pada sosok yang ada di dalam ruangan. Menunggu dengan sabar walaupun terselimutkan kekhawatiran. Berbagai pemikiran tak wajar terngiang jelas. Keringat dingin-pun mulai keluar melalui lapisan pori-pori kulit maskulinnya. Walaupun penampilan itu tak akan melunturkan ketampanan baby-face miliknya.

Kesabaran sudah tergantikan dengan rasa keingintahuan. Diputarnya knop pintu—yang kebetulan tak terkunci—dan dengan tergesanya pemuda itu masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu pada pemilik ruangan. Dan benar saja, apa yang dilihat sukses membuat pupilnya mengecil.

Seorang gadis yang tengah duduk bersimpuh di samping ranjang berukuran size-queen terlihat tengah menyiksa dirinya sendiri. Surai bubblegum–nya yang dibiarkan tergerai berantakan terlihat kusut. Tatapannya kosong, emerald-nya tak menampakan pancaran kehidupan. Tidak sedikit pun. Kulit porselen layaknya Barbie itu semakin memucat disetiap waktunya. Tubuhnya yang ideal semakin terlihat kurus, disebabkan oleh nafsu makannya yang memburuk. Dan sekarang? Gadis itu tengah memengang pecahan kaca—yang diketahui berasal dari cermin yang kini sudah tak terbentuk lagi. Apa dia yang memukul cermin itu dan mengambil pecahan kaca yang tersisa lalu—

—menggoreskannya pada lengan kiri yang kini tengah berlumuran darah. Bahkan baju casual itu pun sudah menyatu dengan liquid kental berwarna merah.

Lagi. Dan lagi. Dia menggoreskan kaca itu pada kulitnya. Menggoreskannya secara perlahan—semakin dalam tusukannya dan—semakin panjang goresannya. Terus menerus dengan bibir kering yang terkatup rapat. Pancarannya tetap kosong, namun menitikan air mata kesakitan. Ah, bahkan rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di hatinya. Apa dengan cara menyiksa diri kau bisa melupakan masa lalumu eh, Sakura?

"Sakura?! Kau bisa mati kehabisan darah, bodoh!" tanpa pikir panjang pemuda bersurai merah ini berlari kearah Sakura yang masih bersimpuh dengan kepalanya yang bersandar pada sisi ranjang. Sasori—dia tak peduli serpihan kaca yang menyapa kasar telapak kakinya. Memberikan aksen perih dan panas yang menjalar pada pori-pori kulit yang tak beralas apa-pun. Sekali lagi—dia tidak peduli. Yang dipedulikannya adalah keselamatan nyawa Sakura.

Lengan kokoh itu mendekap erat tubuh sang gadis. Tak ingin dia lepaskan. Mungkin dia akan gila bila kehilangan sang gadis yang amat disayanginya. Dia akan melakukan apa pun agar Sakura bertahan hidup. Dia akan merelakan apa-pun demi kebahagiaannya. Dia akan melindunginya. Mendekapnya. Dan tidak akan menyakitinya. Tidak akan.

"Kenapa?" Bibir yang terkatup itu kini terbuka dengan suara lirih yang menyakitkan. "Kenapa Sasori-nii selalu menyelamatkan ku… kenapa?"

Hazel itu melembut. Tentu ini tugasnya bukan? Dan ingat—pemuda ini rela mempertaruhkan nyawa miliknya demi keselamatan dan kebahagiaan Sakura. Betapa beruntungnya kau Sakura.

"Kau bodoh?" Ya, kau bodoh Sakura. "Aku sudah janji akan menjagamu kan? Dan aku sudah bilang aku akan melindungimu kan? Tapi apa yang kudapat?! Lagi dan lagi kau mencoba bunuh diri Sakura!" emerald itu mengecil. Iris nya semakin berkaca-kaca. Dan tubuhnya menegang saat nada lawan bicaranya meninggi. Dia takut—terlihat dari tubuhnya yang gemetar.

Lagi dan lagi. Memang ini bukan pertama kalinya Sakura mencoba untuk bunuh diri. Meminum obat dengan dosis tinggi—yang bila dikonsumsi secara berlebihan akan menjadi racun bagi tubuh—menggantung dan melilitkan tali pada lehernya, berjalan dengan pikiran kosong di jalan raya, dan sekarang? Mencoba memotong urat nadi pada pergelangan tangannya. Berharap berakhir dengan kebahisan darah eh? Tetapi niatnya itu selalu digagalkan oleh Sasori. Membuat pemuda bermarga Akasuna ini mengeram frustasi. Dan jangan salahkan Sasori bila dia menjadi sangat-sangat-sangat-over protective.

"Ko-kowaii… Aku takut hiks.. aku takut Sasori-nii juga akan meninggalkanku. Aku takut sendirian." Sakura. Gadis itu melepaskan genggamannya pada pecahan kaca dan segera membalas pelukan dari Sasori. Membuat kemeja putih yang di pakai Sasori kini di penuhi darah yang berasal dari gadis cherryblossom ini.

"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian Sakura. Aku janji akan selalu berada di sisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan."

"Apa aku tidak boleh mati Saso—"

"Tidak! Aku tidak mengizinkanmu. Kau tahu, apa yang akan terjadi padaku bila kau meninggalkanku Sakura?"

Sakura meregangkan sedikit pelukannya pada Sasori, agar emerald itu dapat menatap hazel yang terlihat sendu. Dan dengan suara yang lirih bahkan nyaris tak terdengar, dia beranikan diri untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasori.

"Kau… akan… ke—sepian?" telapak tangan miliknya bergerak kaku dan mengusap lembut pipi pemilik wajah baby-face ini. Tak peduli dengan darah yang membekas di setiap pergerakannya.

"Kau benar, aku akan kesepian."

"Tidak… aku… tidak… mau…"

"Apa sekarang kau mengerti Sakura? Aku membutuhkanmu, dan tidak akan meninggalkanmu."

"Jan…ji?"

"Yakusoku…" bibir tipi situ tersenyum lembut.

"Nee, Sasori-nii… kepalaku… pusing…" Sakura memejamkan matanya perlahan. Pandangannya mulai memburam. "Apa… ini… karena aku… membenturkan… kepalaku… pada cermin…? Sa…kit…" Dan benar saja surai soft-pink itu kini berganti alih menjadi warna merah. Merah darah. Boleh di tambahkan bila, pendengaran Sakura terasa berdengung dan—tubuhnya sudah mati rasa?

"Sakura? Sakura buka matamu?!"

"….."

"Sakura?!"

"….."

"SAKURA?!

.

.

xXxX Remember XxXx

.

.

Suara pendeteksi detak jantung serasa memenuhi salah satu kamar yang menampakan seorang pasien tengah tertutupi masker oksigen—menyembunyikan paras cantik pada gadis itu. Sesekali terdengar suara tetesan air pada selang infus disetiap detiknya. Gadis itu tengah memejamkan matanya terlelap. Dengan perban yang melilit indah di kepalanya. Mengingat sang gadis menyiksa diri dengan membenturkan kepalanya dengan keras kearah cermin. Dan perban lain yang menghiasi lengan kirinya. Keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Inilah yang akan terjadi bila kau terus mencoba menyiksa dirimu, Sakura.

Disisi lain, diruang bernuansa putih. Terdapat kedua sosok—pria-dan-pemuda—yang tengah berdiskusi—sepertinya. Kedua sosok itu menampakkan wajah yang sulit diartikan. Emosi. Bimbang. Pahit. Kenyataan. Sang pemuda, Sasori seolah siap dengan apa-pun yang akan di katakan oleh dokter yang merawat Sakura. Ya, apa-pun. Seburuk apa-pun.

"Kau siap mendengarkan apa yang akan ku katakan, Akasuna-san?" terlihat dari kerutan di keningnya menampakan ke khawatiran terhadap sosok yang menjadi lawan bicaranya.

"Ya, jadi bagaimana kondisi Sakura?" inti. Tak perlu banyak basa basi lagi. Saat ini dia sudah cukup frustasi dengan keadaan Sakura di kamar pasien yang tak kunjung sadar.

"Dia selamat, walaupun saat ini dia kekurangan darah dan—" Dokter berumur lima puluh tahun itu menggantungkan kalimatnya. "—benturan pada kepalanya menyebabkan dia terkena Retrograde amnesia."

"Maksudmu?" Sasori menyiritkan keningnya bingung. Apa ada yang salah dengan pendengarannya? Apa itu tadi—Retro—Ah, lupakan.

"Retrograde amnesia atau; ketidak-mampuan mengingat peristiwa yang berlangsung sebelum kejadian trauma atau awal penyakit yang menyebabkan amnesia. Untuk kasus Haruno-san yang satu ini bisa dibilang dia melupakan masa lalunya. Masa sebelum trauma itu berlangsung. Masa yang membuatnya depresi. Kau tahu? Seperti masa kecilnya. Memori itu seolah terhapus atau teracak—tidak tersusun sesuai memori awal."

"Apa itu termasuk tentang kecelakaan pada orang tuanya dan—

—apa dia melupakanku?" Sasori meremas surai rambutnya frustasi. Dia tidak bisa menerima bila Sakura melupakannya. Melupakan tentang dirinya. Ah, sepertinya Sasori memang akan gila.

"Tidak, kemungkinan besar memorinya hanya tersusun saat kecelakaan itu dimulai. Ya, kau tahu? Seperti reka ulang adegan di sebuah film? Begitulah cara kerjanya. Yang dia ingat hanya berawal dari kecelakaan itu sampai sekarang. Dan dia tidak mengingat apa-pun tentang masa lalunya. Kemungkinan besar." Jeda sebentar.

"Lalu, bagaimana kalau aku mencoba mengembalikan ingatannya?"

"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukannya—walau itu harus. Karena itu akan membahayakan nyawanya."

"Apa yang akan terjadi?" Sasori memijat pelipis nya pelan. Hazel nya menatap intens seolah meminta penjelasan yang menuntut.

"Saraf pada otak nya akan rusak bila dia memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya yang teracak dalam permainan memori. Ditambah jantungnya yang lemah. Dia akan berdegup kencang saat Sakura mengingat kepingan masa lalunya. Dan hal itu dapat menjadi penyebab kematian. Kemungkinan besar akan terkena serangan jantung, peradangan otak atau stroke secara mendadak."

Sendi dan otot Sasori serasa melemas. Meninggal? Tidak. Tidak mungkin. Pemuda beriris kembar hazel itu memijit batang hidungnya seolah frustasi. Apa yang harus dia lakukan? Apa? Kenapa Kami-sama begitu jahat pada Sakura? Apa yang di lakukan adik kesayangannya yang membuat Kami-sama begitu marah pada Sakura? Oh, Tuhan. Apa yang bisa dia lakukan? Berharap semua penyakit berpindah secara ajaib kepadanya?—seandainya itu bisa.

Mungkin hanya inilah yang dapat di lakukannya. Berharap yang tidak-tidak dan menunggu—memohon pada bintang jatuh adalah hal yang dapat membuang waktu yang berharga secara sia-sia. Berharap dewi Fortuna menemaninya bukan hal buruk. Apapun yang terjadi dia akan melindunginya. Dipikirannya saat ini—tidak ada satu orang pun yang boleh mengembalikan kenangan pada masa lalunya. Dan dia—Sasori. Akan mempertaruhkan nyawanya demi janjinya pada Sakura.

Pasti.

"Apa sekarang kau mengerti Sakura? Aku membutuhkanmu, dan tidak akan meninggalkanmu."

"Jan…ji?"

"Yakusoku…"

.

Jari-jari mungil yang sudah terikat benang merah.

Tak akan terlepas.

Sampai nyawa-lah yang akan menjadi taruhannya.

.

"Nggh…"

"Kau sudah bangun?" jari telunjuk itu membentuk sebuah tanda tanya dan mengusapnya pada pipi porselen pucat itu dengan lembut dan hangat. "Jangan bergerak dulu Sakura, jangan buat aku cemas lebih dari ini…" kini jari-jari itu mengibas lembut helaian bubble-gum yang sedikit menutup paras wajah cantik nan pucat milik Sakura.

"Sasori-niiTou-san, Kaa-san… mereka—"

"Aku tahu, Sakura. Aku sudah berjanji kan padamu?—" emerald itu tak kuasa memendung air mata yang kini telah lolos dari sudut matanya. "Kumohon Sakura, jangan membuatku terluka lebih dari ini… Aku yang akan menanggung bebanmu, kau paham?"

Gadis itu menggerak kan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan lambat. Bertanda 'tidak'—tidak setuju dengan ucapan Sasori?

"Tidak mau," bibir soft-pink alaminya kini semakin mengering dan kelu. Kerongkongan miliknya serasa seperti padang pasir tak berpenghuni. "Aku sudah terlalu sering menyusahkan Sasori-nii" sudut bibirnya ditarik secara perlahan. Telapaknya yang lemah mencoba bergerak—mengarah pada wajah baby-face milik Sasori. "Keberadaanku hanya menyusahka—"

"Tidak. Sungguh." Jeda sejenak. "Percayalah Sakura, jangan pernah berpikiraan seperti itu. Kumohon."

"Aku tidak akan mengeluh lagi," gadis itu tertawa kecil—"Sasori-nii terlihat semakin manis saat mencemaskanku. Tapi aku tidak apa-apa. Kau tahu apa yang ku pikirkan? Mulai sekarang aku tidak akan mengeluh lagi dan selalu menuruti perkataan Sasori-nii. Aku tidak mau melihat Sasori-nii sakit karena mencemaskan kebodohanku." Pacaran emerald yang memabukkan hazel.

Sasori menatap penuh tanya—apa maksud dari Sakura—yang membuat Sakura lagi-lagi terkikih geli melihat ekspresi bingung yang diperlihatkan oleh kakak sepupunya ini. Oh, bahkan Sakura baru menyadari, betapa bahagianya dia bila selalu berada berdampingan dengan keluarga Akasuna. Di tambah Sasori sendiri yang selalu menjaganya tanpa pamrih. Seharusnya dia bersyukur masih ada yang memperhatikannya, mencemaskannya, melindunginya se-protective mungkin. Tapi dia seolah ragu. Ragu dengan selama ini, tapi bahkan dia tak tau—apa penyebabnya terlihat sangat depresi?—Orang tua? Kini gadis itu mencoba mengikhlaskannya dan mengambil lembar baru pada keluarga yang siap menerimanya. Lalu? Apa hal lain yang membuat gadis ini gelisah? Apa yang membuat dia menyakiti Sasori—secara tidak langsung—dan membuatnya sedih? Apa? Apa? Apa—

apa aku melupakan sesuatu yang penting?

Tidak.

Tidak mengingat apapun.

Jadi kau kenapa ragu, Sakura?

"Sakura?" pertanyaan yang membuat Sakura menggubris pemikirannya dan kembali pada dunia nyata dimana sosok pemuda bersurai merah tengah menatapnya lekat. Tatapan yang menghangatkan Sakura. "Jadi, apa maksud dari ucapanmu tadi?"

Gadis itu tersenyum penuh arti.

"Aku tidak akan mengeluh dan membuat Sasori-nii cemas…"

"Iya, aku tahu dan sudah mendengar itu sebelumnya, tapi—"

"Aku hanya akan berbicara pada Sasori-nii, aku hanya akan berkata, bercerita, tertawa, untuk Sasori-niiBa-chan dan juga Ji-chan… Aku tidak mau berbicara dengan yang lain—"

Belum sempat Sakura mengakhiri pembicaraannya suara maskulin itu kembali terdengar.

"Kenapa?"

Helaan nafas terdengar.

"Karena itu akan membuatku mengeluh. Kau tahu? Bercerita pada orang lain akan membuatku mengenang kenangan yang hanya ingin ku simpan. Itu akan membuatku menjadi gadis cengeng, pengeluh dan membuatmu cemas."

"Itu sama saja dengan bisu kan? Aku tidak mau ka—"

"Aku tidak masalah selama hal itu dapat membuatku menjadi gadis yang kuat."

Hening. Sasori benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran gadis ini? Menjadi bisu walau tak bisu? Ayolah, lelucon apa lagi sekarang? Apa setelah ini dia menjadi tuli walau tak tuli? Ah apa ini salah satu resiko karena amnesia yang di deritanya? Tidak mungkin. Atau saraf otaknya yang benar-benar terganggu?

"Ayolah Saso-nii jangan menatapku seolah aku gila. Sungguh, aku serius…"

"Kau yakin?" hanya untuk memastikan.

"Percayalah padaku. Aku akan menjadi gadis baik dan penurut untukmu."

"Janji?"

"Un!"

.

Benang itu semakin melilit.

Menuju lengan hingga pundaknya.

Tidak dapat lagi menarik perkataan yang sudah terikat janji.

.

-Flashback End-

"Kau puas Sasuke? Apa sekarang kau paham?" Sasori menegakan punggungnya—tak lagi bersandar pada tembok dingin dengan cat yang memudar. "Apa kau masih berpikiran untuk mengembalikan ingatannya eh, Uchiha?" menyindir.

Bukan raut wajah frustasi—seperti yang di pikirkan oleh Sasori. Namun seringai lah yang di tunjukan oleh adik dari Uchiha Itachi ini. Pikirannya terlampau sulit untuk di tebak. Apa lagi hal nekat yang akan kau lakukan, Sasuke?

"Bukan berarti aku menyerah." Onyx nya menatap lekat. Penuh penekanan. "Ceritamu sungguh menarik, Akasuna. Tapi ketahuilah. Aku tidak akan berhenti." Punggung yang kini membelakangi pemilik baby-face penuh percaya diri.

"Apa rencanamu?"

Seringai itu semakin jelas terlihat.

"Bila aku tidak bisa membuatnya mengingat kembali masa lalu—bukan berarti aku tidak bisa menanam kenangan baru dalam memorinya, bukan?"

"Kau bercanda?!"

"Tidak. Aku akan mendapatkan kembali apa yang telah direbut olehku—" berhenti sejenak. Mencoba meyakinkan tekat awal. "—walaupun harus berjuang dari awal."

Ah, tidak ada yang bisa menghentikan Uchiha bukan?

.

.

.

xXx To Be Continued xXx


A/N : ok sip, gimana caranya minta maaf? Heum….

GOMENNASAAAAIIIII! Aaaaaaa gak bermaksud menelantarkan fict ini! Tapi tapi—karna ujian dan wb yang saaaaannngggaaaattt menyebalkan jadi ya gitu /guling-guling/

Dou? Huwaaaaaa kalian gak lupa kan sama fict ini? /nangis di pojokan/

Gomennasai, sempet lupa jalan ceritanya sih… tp sekarang udah inget lagi ko (?)

Aa, Misa gak nepatin janji buat apdet kilat ya? Malah baru di apdet sekarang? Ok sip… Misa ngaku salah… dan butuh review kalian buat nyemangatin Misa /peluk satu-satu/

Janji udah buat flashback sudah terpenuhi yaaaa~ maaf kalo masih ada typo dan miss typo yang bertebaran. Dan alur nya terlalu cepat? Misa tau orz

Setelah baca chapter ini apa masih tetap mau vote SasuSaku atau~ mulai bisa menerima SasoSaku? xD

Yaaah pokonya apapun pilihan kalian Misa turutin buat bikin ending yang memuaskan!

Maaf juga belum bisa bales ripiu, mungkin chap depan *Berdoa semoga gak wb dan gak ngaret* jadi jangan lupa Review nya ya Minnaaaaaa ~

Sankyu nee, buat RnR dan SR~

Ah, satu hal lagi! Misa dan kedua author pemilik akun ini bikin project bareng di fandom Naruto… jangan lupa mampir dan review yaaaaa /promo/ masih setia dengan SasuSakuSaso… judulnya "Ningyou no Kokoro" penasaran? Udah ada prolognya, di publish.. kalo berkenan silahkan tentukan "Keep or Delete"

Dan ikutin terus fict 'Remember'

See you next chap~

R

E

V

I

E

W

?