Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Typo, ooc dan kawan-kawan
Summer Holiday
Siang ini, udara terasa begitu panas. Matahari bersinar terik, menghantarkan rasa panas serta bau matahari yang menyengat. Itulah alasan mengapa Naruto mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas, kemudian menuangkannya ke dalam sebuah gelas kosong. Begitu selesai dengan kegiatannya, ia pun berbalik; menapaki anak tangga menuju kamarnya dengan langkah santai.
Sesampainya Naruto di kamar, ia mendapati istrinya yang tengah tertidur pulas. Ia tersenyum, kemudian menghampiri sang istri dengan senyum tipis yang terpatri di wajah tampannya.
Melihat kening Sakura yang dipenuhi peluh, Naruto berinisiatif untuk membuka pintu balkon kamarnya. Walaupun angin yang bertiup melalui pintu tersebut tidak terlalu kencang, tapi setidaknya dapat membantu menghilangkan rasa gerah.
Setelah pria berambut pirang itu selesai dengan kegiatannya, ia kembali menghampiri Sakura yang tengah tertidur. Ia duduk di sisi tempat tidur, kemudian menyusuri pipi putih Sakura dengan jemarinya.
"Sakura-chan," panggilnya lembut.
Merasakan sentuhan di pipi sekaligus suara yang memanggil namanya, Sakura membuka matanya perlahan. "Aku masih mengantuk," ujar Sakura dengan suara serak; dan menurut Naruto, itu seksi.
Pria itu tersenyum sebelum kembali berucap, "Tapi sekarang sudah siang. Sakura-chan, kan, belum makan."
Wanita besurai merah muda itu kembali mengerjapkan matanya. Beberapa detik kemudian, ia bertanya, "Memangnya sekarang pukul berapa? Masih pagi, 'kan?"
Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, Naruto malah tertawa. Begitu melihat Sakura mengernyitkan kening dengan heran, barulah ia berhenti tertawa. "Pagi? Ya ampun, Sakura-chan. Ini sudah pukul satu siang."
Sakura tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget di wajahnya, saat ia mendengar perkataan suaminya. Wanita bermanik emerald itu pun menoleh ke kiri –tempat di mana sebuah jam dinding terpasang.
"Ya ampun! Ini kan sudah lewat jam makan siang, apa kalian sudah makan?" tanya Sakura panik, mengingat ia baru saja bangun dan lupa memasak makanan untuk suami dan anak-anaknya.
"Tenang saja, aku sudah mengajak anak-anak untuk makan di luar. Habisnya aku tidak tega membangunkan Sakura-chan. Oh iya, aku juga membeli makanan untukmu, kok," jelas Naruto panjang lebar.
"Maaf," pinta Sakura sambil menatap Naruto dengan pandangan memelas.
Naruto mengelus kepala Sakura dengan lembut, kemudian menjawab, "Tidak apa-apa, Sakura-chan."
Wanita berkulit putih itu tersenyum, namun ia merutuk dalam hati. Ugh, biasanya ia tidak pernah lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Tapi … sekarang berbeda. Apa ia harus memberi tahu Naruto tentang alasan sebenarnya ia menjadi pemalas seperti ini? Sakura menggeleng cepat –merasa bahwa ini bukan saat yang tepat untuk memberitahu suaminya.
"Mana Ayumi dan Hoshi?" tanya Sakura.
"Ayumi sedang bermain di taman, kalau Hoshi sepertinya sedang tidur siang," kata Naruto.
Sakura mengangguk, kemudian bersandar di bahu Naruto. Belum lama ia bersandar, Sakura tiba-tiba menjauh. Ia merasa terganggu dengan wangi parfum yang melekat di pakaian suaminya. Sakura segera mengibaskan tangan di depan hidungnya, kemudian bertanya, "Naruto, kaupakai parfum apa, sih?"
"Ini parfum yang biasa aku pakai, kok. Bukannya Sakura-chan sendiri yang dulu memilhkan parfum ini untukku?" tanya Naruto heran.
Naruto memiringkan kepalanya, kemudian melanjutkan perkataannya, "Kau juga belum menjawab pertanyaanku yang semalam, Sakura-chan."
Sakura menggigit bibir bawahnya, teringat pertanyaan suaminya kemarin malam. Saat Naruto bertanya padanya –tentang tingkahnya yang agresif– ia memang memilih bungkam dan mengalihkan pembicaraan.
Wanita itu menggelengkan kepalanya –untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba mendera, kemudian berkata, "Usahakan untuk tidak memakai parfum itu lagi."
Menghiraukan perkataan bernada marah Sakura, Naruto malah menguap dan menjawab, "Ya sudah, aku lepas saja bajunya. Biar wangi parfumnya tidak tercium lagi."
Rasanya, Sakura ingin berteriak saat Naruto benar-benar melepas bajunya. Lagi-lagi, pria itu menghiraukan Sakura. Ia malah tidur dengan posisi telungkup.
Sakura kembali mendekat ke arah Naruto, kemudian memukuli lengan suaminya sambil berujar, "Narutooo! Pakai lagi bajumu!"
Sakura bersumpah, lebih baik ia membaui parfum Naruto yang saat ini membuatnya pusing, ketimbang melihat suaminya dalam keadaan topless seperti itu. Sakura tidak mau tingkah agresifnya muncul lagi siang ini.
Menanggapi perkataan Sakura, Naruto hanya tersenyum jahil sambil pura-pura tidur. Ia malah menarik tangan Sakura dan membuka matanya secara tiba-tiba.
Tanpa disangka-sangka, Naruto bangun dari posisi tidurnya dan mencium Sakura dengan cepat. Kedua tangannya menangkup wajah mungil Sakura.
Naruto memiringkan kepalanya ke kanan untuk memperdalam ciumannya. Sakura yang sedang membalas pagutan suaminya, merasa semakin antusias saat pria itu menggigit bibir bawahnya.
Saat lidah Naruto mulai memasuki rongga mulut sang istri, tiba-tiba terdengar suara debaman pintu dari lantai bawah. Pasangan suami istri itu langsung memisahkan diri dengan cepat. Sakura mengerang saat ciuman mereka terlepas, membuat Naruto menyeringai senang.
Kembali pada masalah debaman pintu tadi, tanpa melihat pun, Naruto dan Sakura sudah tahu pasti. Suara debaman itu disebabkan oleh anak perempuan mereka yang suka melakukan hal tersebut jika sedang kesal.
Sakura telah bersiap untuk beranjak dari tempat tidur, namun tangannya dicekal oleh Naruto. "Biar aku saja yang mengurus Ayumi." Setelah mengatakan hal tersebut, Naruto segera memakai kembali kaus birunya –yang tergeletak di dekat kakinya, melemparkan seringai mesum pada Sakura, kemudian keluar dari kamar.
Setelah meniti satu-persatu anak tangga, akhirnya Naruto sampai juga di ruang keluarga. Di sana, ia melihat seorang gadis kecil berambut merah yang sedang duduk di sofa; memunggungi dirinya. Ia pun segera menghampiri gadis tersebut.
Naruto mendudukkan dirinya di samping Ayumi, kemudian merangkul pundak kecil putrinyanya dan bertanya, "Kok cemberut begitu, sih, My Little Princess?"
Bibir Ayumi yang awalnya mengerucut, kini mulai mengendur. Ia mendongak dan menjawab pertanyaan ayahnya dengan cepat, "Teman-temanku mengejek rambut merahku lagi."
Naruto tersenyum lembut di hadapan putrinya. "Menurut ayah, rambutmu indah, kok. Ibumu juga lebih menyukai rambut merahmu, ketimbang rambut merah mudanya," jelas Naruto panjang lebar.
"Mereka membuatku jengkel." Kali ini, Ayumi mellipat kedua tangannya di depan dada.
Pria berkulit coklat itu menghela napas dan berkata, "Tapi mereka tidak menyakitimu, 'kan?"
Tanpa disangka-sangka, raut wajah Ayumi berubah menjadi cerah –seolah ia baru saja mendapatkan hadiah. Dengan antusias, ia menjawab, "Tentu saja tidak! Aku langsung meninju mereka dengan pukulan superku!"
Gadis itu mengacungkan tinjunya ke udara, sedangkan Naruto hanya bisa mengacak rambut pirangnya. Ayumi memang benar-benar cocok menjadi anak perempuan Uzumaki Sakura dan cucu Uzumaki Kushina. Ia meringis pelan saat mengingat dirinya yang dikelilingi oleh perempuan-perempuan keras kepala dan memiliki 'pukulan baja'.
"Kalau begitu aku mau ke kamar dulu, deh. Dah, ayah!," celoteh Ayumi riang. Mungkin tingkat kekesalannya berkurang setelah ia bercerita pada ayahnya.
Naruto menggelengkan kepala pelan, kemudian beranjak dari sofa.
Sakura sedang mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan, saat Naruto kembali ke kamar. Ia terlihat agak cemas –entah karena apa. Naruto memosisikan dirinya di samping Sakura, kemudian memandang istrinya lekat.
"Jadi, bisakah kita melanjutkan acara yang tadi tertunda?" tanya Naruto sambil memainkan alisnya naik-turun.
Sakura menyipitkan mata hijaunya dan berkata, "Tidak."
Naruto memandang istrinya heran. "Kenapa? Lagipula sudah lama kita tidak melakukan 'itu'. Semenjak sifatmu berubah, kalau tidak salah."
Mendengar hal ini, pipi Sakura kembali memerah. Mungkin memang sudah saatnya Sakura menjelaskan keadaannya pada Naruto. Keadaan yang membuatnya menjadi agresif, namun selalu menolak jika Naruto mengajaknya untuk melakukan 'itu'. Ia memejamkan mata, kemudian menghela napas panjang. "B-bagaimana kalau sampai aku hamil lagi?"
Naruto menaikkan sebelah alisnya, kemudian berucap dengan enteng, "Apa ada yang salah? Kita kan sudah menikah, Sakura-chan."
Mengabaikan Naruto yang saat itu tertawa, Sakura kembali berujar, "Bukannya begitu! Masalahnya, dulu kau pernah bilang ingin memilki dua anak saja. Itu sama saja artinya dengan kau tidak ingin punya anak ketiga!"
Naruto melingkarkan lengannya di bahu sang istri dan mengelusnya perlahan. "Dulu aku berkata seperti itu karena tidak ingin Sakura-chan kerepotan. Kupikir dua anak saja sudah membuatmu kerepotan."
Mendengar pernyataan suaminya, mata Sakura sedikit melebar. "Benarkah?"
Sebuah anggukan dan senyuman adalah respon yang Sakura dapat.
Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian menatap Naruto dengan serius. "Yakin? Walaupun kautahu kalau permintaanku saat hamil itu suka aneh-aneh?"
Naruto menunjukkan cengirannya ke arah Sakura sambil mengacungkan jempol. "Tentu saja, Sakura-chan!"
Sakura menyeringai dan menyahut, "Kalu begitu, bersiaplah!"
Raut bingung tercetak jelas di wajah Naruto kala itu. "Bersiap –untuk apa?"
Sakura tersenyum lebar dan berkata dengan cepat, "Bersiaplah untuk menuruti semua permintaan anehku–"
"–karena aku sedang mengandung anak ketiga kita." Sakura memalingkan wajah untuk menutupi rona merah yang semakin menjadi-jadi menghuni kedua pipinya.
Satu menit berlalu, sampai akhirnya Sakura memekik karena ciuman bertubi-tubi yang Naruto berikan di bibirnya.
Naruto merasa amat sangat senang dengan berita yang baru saja dilontarkan Sakura. Dan Naruto yakin, liburan musim panas selanjutnya akan lebih menyenangkan; karena akan ada anggota baru yang hadir di keluarga Uzumaki.
The End
Halo, readers! Akhirnya selesai juga. Maaf karena update-nya gak terlalu kilat, huhu.
Terima kasih untuk yang sudah me-review di chapter sebelumnya: Battousai Baruleudth, Nagasaki, NS, Michi Aozora, , uye, Nameakyk, OhhunnyEKA, gomugomu, Suuki Araku, Natsuyakiko32, Nawidy Njr92, L-Yunjae, 3, Dear God, Aurora Borealix, rey, Rinzu15 The 4th Espada, Sakura
Review? ;)
