Title : Untraveling Time
Genre :Family/Adventure (Angst for Prologue)
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC, misstypo dkk
.
Sosok Pemuda misterius yang tampak muncul di masa Minato masih hidup tampak mencoba untuk menculik Kushina sebelum Naruto lahir. Tabrakan antara jurus Hiraishin dengan Kamui milik pemuda itu tampak menyebabkan peristiwa yang mengejutkan untuk semua orang.
{2}
Prologue Part 2, Death of a Hero
{2}
Tentu kabar kematian dari Rokudaime Hokage segera menyebar ke seluruh Konoha. Mungkin kalau saja itu adalah Uzumaki Naruto yang dulu—penduduk Konoha yang dibenci oleh semua orang mungkin saja tidak akan menimbulkan kegegeran (bahkan mungkin semua orang akan senang dengan kematiannya).
Namun, saat ini yang dibicarakan adalah kematian dari Uzumaki Namikaze Naruto—Rokudaime Hokage, seorang yang menyelamatkan mereka semua saat terjadi perang dunia Shinobi saat itu. Mengalahkan Uchiha Madara dan juga Uchiha Obito serta menghentikan Jyuubi. Kematiannya benar-benar memberikan pukulan bagi semuanya.
Sakura dan semua teman-teman Naruto tentu tidak mungkin tidak menangis mendengarnya. Sasuke tidak berbicara sama sekali sejak saat itu dan menghindar dari semuanya. Semuanya merasakan kesedihan yang sama saat mendengar kematian Hokage mereka.
Satu orang yang juga tidak tampak sejak kematiannya adalah Minato Namikaze. Ia hanya mengurung diri di ruangan Naruto dan tidak berbicara dengan siapapun bahkan Kakashi sekalipun. Mungkin saat ini hanya Kakashi yang dekat dengan Naruto yang bisa berfikir cukup tenang.
"Sensei—kami menemukan cara untuk mengembalikanmu kembali ke masamu," Kakashi tampak membuka ruangan itu untuk melihat Minato yang duduk di kursi yang ada di sana dan meletakkan kepalanya diatas meja seolah tidak mendengar Kakashi berbicara.
"Apa yang aku lakukan di masa ini Kakashi…? Seburuk apa yang aku lakukan hingga Naruto menatapku dengan tatapan seperti itu…"
…
Kakashi tidak lagi perduli dengan adanya time paradox atau apapun itu. Lagipula ia yakin kalau gurunya tidak akan mau mendapatkan penolakan dalam keadaan seperti ini. Menghela nafas, berharap kalau Tsunade tidak akan memenggal kepalanya setelah ini.
"Dua puluh tahun yang lalu, saat Kushina-san melahirkan Naruto—pria bertopeng yang muncul tadi menyerang Kushina-san karena tahu kalau segel Kyuubi akan melemah saat seorang Jinchuuriki perempuan melahirkan. Dan ia berhasil—Kyuubi terlepas dari Kushina-san dan menghancurkan hampir seluruh isi Konoha." Minato menegakkan kepalanya untuk mendengar lebih jelas tentang itu.
"Kau memindahkan Kyuubi jauh dari Konoha untuk menghindari kehancuran yang lebih parah. Kushina-san juga muncul dan mencoba untuk menghentikan Kyuubi. Aku tidak tahu jelasnya seperti apa—tetapi yang kudengar dari Sandaime-sama adalah, kau menggunakan Shiki Fujin untuk menyegel Kyuubi dalam tubuh Naruto," Shiki Fujin? Itu menjelaskan kenapa ia tidak ada disini. Tetapi kalau begitu—
"Ya, Naruto kehilangan kedua orang tuanya saat ia lahir." Seolah bisa mengetahui apa yang difikirkan oleh gurunya, Kakashi hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Siapa…yang membesarkannya?"
"Tidak ada, ia tinggal di panti asuhan hingga usianya 7 tahun dan tinggal sendirian setelah itu—Kyuubi menghancurkan desa dan orang-orang Konoha menganggap kalau Naruto adalah Kyuubi," Kakashi menyerengit saat melihat ekspresi dingin dari mantan gurunya itu saat mendengar apa yang ia katakan.
'Apa yang kulakukan—aku meninggalkannya…dan membuatnya mengalami semua itu?'
"Aku tidak pernah ada untuknya—tidak pernah memberikan apa yang seharusnya kuberikan sebagai orang tua. Tetapi—kenapa ia melakukan itu," menautkan kedua tangannya dan membenamkan wajahnya di atas kedua tangannya itu. Kalau didengarkan dengan baik, Kakashi juga akan mendengar isakan samar darinya, "ia tidak perlu melakukannya pada seorang ayah yang tidak pernah ada untuknya bukan..."
"Suatu hari, Naruto mengatakan padaku kalau kau muncul di dalam fikirannya. Ia tidak pernah mengetahui siapa orang tuanya—dan saat kau muncul dan mengatakan semuanya, ia mengatakan kalau ia senang mengetahui kalau pahlawannya sejak kecil sebenarnya adalah ayahnya," tersenyum tipis saat membayangkan Naruto yang tersenyum senang saat itu, "lalu saat ia mencoba mengendalikan chakra Kyuubi Kushina-san muncul dan membantunya…"
…
"Ia menganggap kalian berdua adalah sumber cahayanya—mataharinya. Kalian memberikannya kasih sayang dan cinta, dan ia ingin membalasnya untuk kalian…"
{2}
Di depannya sekarang tampak sebuah peti kayu yang dikelilingi oleh banyak bunga dan juga sebuah foto yang terpampang di atas peti itu. Foto sosok Naruto yang memakai pakaian Jounninnya yang berbalut jubah Hokage, tampak tersenyum lebar menunjukkan bagaimana senangnya ia cita-citanya sudah tercapai.
Minato berdiri dan menatap foto itu dalam-dalam. Rasanya aneh mengingat ia bahkan membayangkan bagaimana anaknya akan lahir nanti dan sekarang ia berdiri di depan peti mati dimana anaknya tertidur di dalamnya. Lagi-lagi ia hanya bisa membayangkan bagaimana ia hidup bersama dengan anaknya.
"Aku adalah ayah yang buruk huh? Menyegel seekor monster di tubuhmu, membiarkanmu sendirian menanggung semua itu, dan sekarang tidak bisa melakukan apapun saat kau tewas…"
…
"Ia melakukan itu juga untuk dirinya Hokage-sama," suara itu membuatnya menoleh untuk menemukan gadis berambut panjang dengan warna pirang pucat yang berjalan kearahnya. Minato melihat bayangan dari sahabatnya, dan tahu siapa gadis itu.
"Kau anak dari Inoichi?" Ino hanya tersenyum dan mengangguk, "bagaimana keadaan ayahmu sekarang?"
"Ia tewas dalam perang dunia shinobi bersama dengan paman Shikaku." Minato tampak tidak terlalu terkejut, lagipula Inoichi harusnya berada di ruangan T&I saat ia ditahan, "Naruto melakukan itu agar anda mengubah masa depannya saat kembali ke masa anda Yondaime-sama…"
"Bagaimana jika aku tidak bisa mengubahnya, dan malah membuatnya semakin buruk? Pria bertopeng itu memiliki chakra Kyuubi sekarang."
"Ia sepenuhnya percaya pada anda," mengeluarkan sebuah gulungan dan memberikannya pada Minato. Gulungan jutsu yang tampak disempurnakan oleh Naruto selama 1 bulan itu. Minato melihat gulungan itu, mengetahui apa gunanya karena ia sendiri yang menciptakannya.
"Heh, segel untuk menyimpan kenangan… siapapun yang membukanya akan mendapatkan bayangan dari kenangan orang yang dituju. Mengaktifkannya dengan Shintenshin, dan menyimpannya dalam gulungan ini—" Minato merancangnya bersama dengan Inoichi, dan tidak heran kalau Naruto meminta bantuan dari Ino. Awalnya ia melakukan itu untuk menggunakannya sebagai arsip yang lebih mudah saat menginterogasi seseorang.
"Ia ingin membagi semua kenangan pada anda… aku tidak akan berbohong saat mengatakan kalau semua kenangan itu bukanlah kenangan yang baik," mendengar penjelasan singkat dari Kakashi sudah bisa membuatnya membayangkan seperti apa kehidupan yang dialami Naruto, "tetapi kuharap anda tidak menyia-nyiakan apa yang dilakukan oleh Rokudaime Hokage kami yang bodoh itu. Kalau Naruto percaya pada anda, maka kami akan percaya sepenuhnya pada anda…"
{2}
"Reruntuhan Roran."
Satu hari setelah pemakaman dari Naruto, Tsunade memang sengaja menunggu sampai pemakaman itu selesai dan bertemu dengan Minato. Walaupun ia sudah bisa keluar dari ruangan Naruto, saat ini keadaannya tidak ayalnya seperti mayat hidup yang tidak sama sekali memiliki jiwa.
"Kau menyegel sebuah segel yang bisa mengirimmu kembali ke masamu bukan? Kami akan membantumu untuk mengaktifkan segel itu…"
"Tidak—" suara itu membuat Minato dan juga Tsunade menoleh dengan cepat dan menemukan Obito yang tampak berdiri disana. Tentu dengan topeng spiralnya yang menyembunyikan jati dirinya, "—segel itu tampaknya sudah tidak aktif lagi dan kau tidak akan bisa menggunakannya."
"Kau—"
"Jadi, satu-satunya cara adalah—menggunakan cara yang sama dengan yang kita lakukan saat tiba disini?" Minato menatap tajam kearah Obito saat itu dengan sorot mata yang kosong. Tabrakan antara Hiraishin dan juga Kamui yang membuat mereka mengalami kejadian itu.
"Tetapi Minato dia—"
"Aku akan membawanya kembali ke masa kami. Aku tidak ingin masa yang dilindungi oleh Naruto semakin kacau karena adanya orang ini…" berdiri dari tempatnya duduk, tampak menatap tajam kearah Obito saat itu, "meskipun ia kabur setelah itu, aku akan terus mencarinya. Dan aku akan mengalahkannya bagaimanapun caranya…"
"…" Tsunade melihat gulungan jutsu yang dibawa oleh Minato. Itu adalah gulungan fuin yang dikembangkan oleh Naruto dari fuin Minato yang belum selesai diciptakan, "aku sudah tidak bisa menghindar dari kekacauan masa kalian karena kau—" menoleh pada Obito yang menatap Tsunade, "yang mendapatkan catatan dari dirimu di masa ini, dan kau Minato—" menghela nafas melihat sang Yondaime Hokage, "aku akan membiarkanmu membawa gulungan itu."
…
"Jangan kecewakan apa yang Naruto percayai padamu…"
"Terima kasih—Tsunade-hime…"
{2}
Ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya—namun saat ia sadar kalau cahaya itu menyinarinya lagi, ia tahu kalau ia akan terkirim ke masanya lagi. Ia tahu itu bukan mimpi, ia tahu apa yang dilihatnya adalah kenyataan—dan masa depan itu tidak akan ia biarkan terjadi lagi.
…
"Haruskah aku membukanya sekarang?"
Minato melihat gulungan di tangannya—menoleh sekeliling dan menyadari kalau ia berada di atas patung pahatan dirinya. Tidak ada seseorangpun, dan itu membuatnya cukup nyaman untuk menemukan tempat sendirian tanpa ada pengawasan ANBU sekalipun.
"Bodohnya aku bertanya…"
Tersenyum tipis, ia bahkan tidak perduli apakah Obito muncul atau tidak di dekatnya. Ia hanya ingin melihatnya sesegera mungkin sebelum mengambil langkah selanjutnya. Membuka tali gulungan itu, membukanya dengan segera membuat dunianya terlihat gelap seketika.
{2}
Ia membuka mata untuk melihat kegelapan yang tampak mengelilinginya. Ia bahkan tidak bisa melihat apapun disana dan hanya ia yang ada di sana. Hening beberapa saat—sebelum suara tangis yang samar terdengar disana. Tangis seorang anak kecil yang sedang meringkuk di salah satu sisi kegelapan.
Ia tahu rambut kuning itu, ia melihat tubuh kurus yang penuh dengan lebam dan juga luka. Ingin ia memeluknya dan mencoba menenangkannya—namun ia tidak bisa melakukannya, semua ini hanyalah bayangan yang tidak nyata.
'Kenapa kau menangis Naruto...'
Suara pintu terbuka tiba-tiba saja terdengar mengagetkan Minato. Menemukan sosok seorang perempuan yang tampak menatap kamar dengan garang sambil berkacak pinggang. Melihat bagaimana reaksinya melihat Naruto, Minato benar-benar membayangkan hal yang buruk yang akan dilakukan oleh perempuan itu.
"Berhentilah menangis anak setan! Kau mengganggu dan menakuti semua orang!" Naruto, yang ia yakin saat itu baru berusia 2 tahun tampak ketakutan melihat perempuan itu.
"Te—tetapi aku tidak ingin tidur disini sendirian..."
"Monster sepertimu tidak berhak untuk bersama dengan yang lainnya! Sekarang diamlah atau aku akan menendangmu dari sini!" Dan suara pintu yang dibanting membuat Naruto tersentak dan menutup matanya erat. Menoleh pada kamar kecil yang bahkan tidak memiliki kasur, hanya selembar selimut tipis disana.
Dengan segera mengambil selimut tipis itu dan membalut tubuhnya dengan itu. Menoleh pada jendela kamarnya dan melihat kearah langit yang saat itu dipenuhi dengan bintang-bintang.
"Tou-chan dan kaa-chan—" menunjuk dua bintang yang paling terang disana, "Sandaime-jii berkata kalau kalian berubah menjadi bintang paling terang setiap malam. Kalian akan terus mengawas Naru bukan? Naru ingin bertemu dengan kalian..."
Minato hanya bisa menatapnya dengan senyuman sedih. Naruto benar-benar manis saat kecil—ia tidak sabar untuk menantikannya lahir. Bayangan itu bukan hal terburuk yang ia lihat setelah itu. Beberapa pukulan setiap hari, kurungan, dan juga makanan yang minim tampak menjadi makanan sehari-hari untuk Naruto.
Bayangan itu tampak menghilang seperti asap dan kini tergantikan dengan sebuah malam dimana Naruto tampak berada di sebuah kamar yang ia yakini sebagai apartmentnya. Sepertinya Naruto tidak memasukkan semua memorinya ke dalam segel ini—karena yang ia tahu dari Kakashi adalah Naruto pindah ke apartmentnya sendiri saat usianya 7 tahun.
"Hari ini ulang tahunku yang pertama kalinya disini! Hm—" melihat kantungnya yang berisi uang yang tidak banyak, menoleh kekiri dan kekanan sebelum ia berlari kearah luar sedikit mengendap-endap seolah menghindar dari kerumunan. Minato mengikutinya, menyadari kalau festival sedang diadakan disana untuk merayakan musnahnya Kyuubi malam itu.
Naruto masuk ke dalam salah satu toko untuk membeli paling tidak satu cup cake yang ada di sana.
"Maaf, apakah aku boleh membeli satu kue kecil itu?"
Perempuan tua itu tampak menatap kearah Naruto sebelum menyadari siapa yang ada disana. Berdiri dari tempatnya duduk, dan tampak menampar anak kecil itu (yang membuat Minato hampir saja lepas kontrol dan ingin menghabisinya saat itu juga.
"Kau sudah membunuh suami, kakak, dan juga anakku! Apakah kau fikir aku akan memberikanmu kue itu? Hanya untukmu merayakan keberhasilan saat membunuh semua orang!" Anak itu tampak takut, dan dengan segera tampak berlari namun ia terjatuh di depan toko. Saat semua penduduk melihat anak itu, mereka tampak menatapnya dengan dingin—dan bahkan apa yang dilakukan oleh mereka saat itu tidak bisa dilihat oleh Minato. Saat mereka memukuli Naruto yang tidak mengerti apa salahnya.
"Rasakan balasan kami atas apa yang kau lakukan monster!" Dan mereka segera pergi meninggalkan Naruto yang meringkuk dan memeluk lututnya. Gemetar dan tampak terisak—ketakutan dengan semua itu. Ia tidak mengerti apapun, kenapa para penduduk marah padanya dan kenapa ia selalu dipukuli.
Minato benar-benar tidak ingin melihatnya—yang menyakitkan adalah, ia berada disini namun tidak bisa melakukan apapun. Ia merasa benar-benar tidak berguna.
"Hei—" suara itu membuat Minato menoleh untuk menemukan seorang anak laki-laki berambut hitam dengan mata onyx. Menyadari, kalau yang ada disana adalah pemuda bernama Uchiha Sasuke yang kelak menjadi tangan kanan Naruto, "apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau terluka?"
"Ja—jangan dekati aku!" Anak laki-laki itu tampak sedikit tersentak. Anak laki-laki lainnya yang ada di jarak yang tidak jauh darinya tampak menatap Naruto dan menyadari siapa dia.
"Ototou..." Anak laki-laki itu menoleh pada kakaknya yang mengibaskan tangannya dan tampak menyuruhnya ketempatnya. Naruto merasa tidak ada lagi anak laki-laki itu dan tampak menengadahkan kepalanya untuk berdiri dan berjalan perlahan menuju ke apartmentnya.
"Hei-hei tunggu!" Naruto menoleh kearah suara, melihat anak laki-laki yang tadi menanyakan keadaannya berlari mendekatinya sambil membawa sebuah kotak kecil. Tersenyum, anak itu mengulurkan kotak itu kearah Naruto, "nii-san mengatakan kalau hari ini adalah ulang tahunmu! Walaupun aku tidak tahu darimana nii-san tahu. Dan ia mengatakan kalau aku bisa memberikan ini padamu!"
Naruto dengan takut-takut tampak mencoba untuk mengambil kotak itu dan melihat sepotong kue di dalamnya dengan sebuah lilin. Menoleh dengan tatapan kaget kearah anak yang ada di hadapannya, yang tersenyum padanya.
"Te—terima—"
"Ototou, ayo—tou-san dan kaa-san sudah menunggu," anak itu menoleh sebelum mengangguk dan berlari sebelum mendengar Naruto berterima kasih. Hanya menatap pada anak itu dan tersenyum lebar sebelum berlari kembali ke arah apartmentnya. Minato tersenyum, mungkin Naruto tidak sadar mengingat kenangan itu dan masuk ke dalam fuin itu. Ia senang saat ada satu atau dua orang yang masih perduli pada anak itu.
Dan ia hanya berharap kalau itu adalah kenangan yang bagus yang ia lihat pertama kalinya setelah melihat semua ingatan di fuin itu.
Namun sepertinya untuknya itu belum terwujud saat beberapa orang tampak sudah menunggu di depan apartment dan menatapnya tajam. Memukulinya sekali lagi, dan meremukkan kue di tangan Naruto yang ia coba untuk lindungi. Naruto hanya bisa menangis saat melihat kue itu sudah hancur di depannya, namun tetap membawanya ke dalam apartment.
Duduk di salah satu kursi, mencoba untuk menyalakan satu lilin diatas kue yang sudah hancur itu.
"Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun untukku... Selamat ulang tahun..." Mengusap air matanya dan tampak meniup lilin itu hingga padam. Ia tidak bisa lagi memakan kue yang sudah tidak berbentuk itu. Namun ia menyimpannya di kulkas kecil di ruangannya dan tampak akan tidur, namun tidak berani tidur di atas tempat tidurnya saat mendengar lemparan batu yang memecahkan kacanya. Tempat tidurnya ada di tepi jendela, dan ia memutuskan untuk lebih aman tidur di sudut kamarnya dengan hanya sehelai selimut yang menghangatkannya di musim dingin itu.
'Bagaimana ia bisa tetap tersenyum setelah semua ini...?' Minato hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan mengeratkan genggaman tangannya. Memori terus berputar, saat Naruto menginjak bangku akademi, dimana ia bertemu dengan teman-temannya. Walaupun Minato melihat teman-temannya dalam usia yang jauh lebih tua, tetapi ia masih bisa melihat kemiripan mereka.
Ia melihat saat Naruto gagal dalam test gennin karena tidak bisa menggunakan bunshin biasa. Tentu, pengendalian chakranya sangat minim hingga ia tidak bisa membuat bunshin biasa. Saat Naruto mendengar bisikan cemooh dari anak-anak yang diberikan selamat oleh kedua orang tuanya saat keluar dari gedung, ia hanya diam dan duduk di ayunan itu.
Ia meminta perhatian dari orang-orang dengan caranya sendiri. Seperti mewarnai patung monumen Hokage (yang membuat Minato tidak kuasa menahan tawanya).
Minato mungkin tidak sama sekali bahkan mengedipkan matanya untuk tidak melihat apa yang ada di dalam memori anaknya itu. Ia tersenyum saat melihat salah satu guru akademik yang memperlakukannya layaknya keluarga (Umino Iruka). Lalu, ia melihat bagaimana Teuichi memperlakukan Naruto dan memberikan Naruto sebuah tempat yang bisa ia katakan rumah.
'Minimal masih ada yang tersenyum untuknya...'
Ia melihat semua peristiwa disana, dari Mizuki, lalu misi tingkat C pertama Naruto yang berakhir menjadi misi tingkat B, ujian chuunin yang berakhir kacau dengan kedatangan Orochimaru, Jinchuuriki Ichibi, dan juga kematian Sandaime. Ia juga melihat bagaimana Naruto berhasil memanggil Gamabunta dan ingin sekali memukul mantan gurunya saat ia mendorong Naruto ke tebing saat itu.
Semua itu membuatnya terkadang sedih, terkadang tertawa, dan terkadang juga marah. Ia memberikan catatan mental untuk sedikit memberikan jarak pada Naruto saat bersama dengan Jiraiya saat melihat bagaimana Naruto melakukan jutsu Orioke no Jutsu itu.
Saat waktu berlalu, kenangan itu menjadi semakin serius—dimulai saat Akatsuki pertama kali muncul dan mengincar Naruto. Saat Sasuke memutuskan untuk pergi dari desa, dan saat Naruto hampir mati karena lubang di dadanya akibat Sasuke.
Ia melihat bagaimana perjalanan Naruto dan Jiraiya selama 2 tahun diluar Konoha dan saat ia kembali lagi ke Konoha. Melihat bagaimana hubungannya dengan anak yang menjadi Jinchuuriki Ichibi yang saat itu sudah menjadi Kazekage—saat anak itu diculik dan sempat mati karena Ichibi diambil dari tubuhnya dan diselamatkan oleh "Chiyo-baa-chan" yang disebutnya saat terakhir kali.
Semakin banyak peristiwa yang menegangkan dan juga membahayakan. Termasuk saat invasi Pain ke Konoha yang membuat Naruto lepas kendali dan hampir melepaskan segel Kyuubi—yang membuatnya menyadari perkataan Kakashi tentang dirinya yang muncul di alam fikiran Naruto. Begitu juga dengan Kushina yang menceritakan semua yang terjadi malam ketika Naruto lahir dan membantunya mengendalikan chakra Kyuubi.
'Naruto bahkan berhasil bersahabat dengan para bijuu—wow...'
Namun yang membuatnya terkejut adalah saat pertarungan melawan Juubi, saat pria bertopeng itu tampak membuka identitasnya.
...
'Obito—!' Dan Minato menyadari tatapan Kakashi yang mencoba menghentikannya membunuh pria itu. Ia tidak bisa menyelamatkan Rin, dan Obito sudah terlanjur termakan oleh omongan Madara Uchiha.
Semua kejadian itu tampak berputar dengan cepat, dan tanpa sadar Minato merasakan tubuhnya lemas dan matanya tertutup ketika kesadarannya menghilang.
{2}
Saat ia membuka mata, ia sudah kembali ke dunia nyata. Melihat gulungan yang terbuka di pangkuannya sebelum menghela nafas dan tampak menggulungnya kembali. Ia tidak akan melakukan hal itu—Naruto anaknya sudah mencegah Obito untuk menyerang desa, dan kali ini ia yang harus melanjutkan kepercayaan Naruto itu.
Tersenyum tipis, ia melakukan Shunshin menuju ke rumahnya dimana ia melihat Kushina yang sedang memakan ramen disana.
"Hei 'shina-chan," Kushina yang terkejut karena Minato yang datang tiba-tiba tampak menghentikan makannya dan menatap Minato. Memeluk Kushina, sebelum ia meletakkan tangannya di perut Kushina, "bagaimana keadaanmu dan juga Naruto hari ini?"
"Baik, ia tetap banyak bergerak—aku baru saja bangun dan ia sudah menendang perutku beberapa kali," Kushina tampak tertawa pelan, dan Minato tampak hanya tersenyum. Kushina bisa melihat mata Minato yang merah karena menangis dan menatapnya dengan khawatir, "ada apa Minato?"
...
"Tidak," Minato menghela nafas dan meletakkan telinganya di atas perut Kushina mengusapnya dengan lembut, "Naruto, tou-san ada disini... Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tou-san akan selalu bersamamu...dan akan membuatmu bahagia..."
Kushina semakin bingung dengan sikap Minato, namun hanya tersenyum melihat sikapnya.
"Ada apa kau tiba-tiba berbicara seperti itu Minato?"
"Tidak—hanya ingin mengatakannya saja..." Minato tampak tersenyum lebar dan berdiri sebelum mengecup dahi Kushina dan memeluknya dengan erat.
'Sekarang, aku yang akan melindungimu—Naruto...'
[To be Continue]
Nah, disini saya sedikit memberikan A/N :9 jadi, saya sedikit bosan dengan ffic tentang Naruto yang melakukan Time Travelling setiap kali ada cerita tentang Minato dan juga Naruto. Jadi, dengan sedikit bantuan disana dan di sini, saya buat cerita yang mungkin berbeda dari yang lainnya.
Cerita disini lebih pada Minato yang melakukan perjalanan ke masa depan secara tidak sengaja, dan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki apa yang ia ketahui dari masa depan.
Dan Obito bunuh Naruto? Dan segel apa yang ditanamkan di dalam Kyuubi oleh Naruto?
Kalau ada pertanyaan seputar apa yang saya tulis silahkan ditanyakan di Review saja ^^~
And if I say about review, I mean I really need a review and critic maybe suggestion #sok inggris lu#
Please~ *puppy eyes no jutsu*
