Rikka's back with chapter 3!
Gomen for late update w(QwQw)
Abis males ngelanjutinnya -_-"
Yah, pokoknya hope you like it ajalah ^^
Disclaimer
I don't own any of these, except the story of course
WARNING : TYPO(s), Bahasa Gaul, dsb.
Don't like, don't read!
Our Memory © KagamineRikka
Chapter 3
Lenka POV
"Yo… Lenka-chan!" seru sesosok berambut kuning berpony tail, yang agak sho— #DicekekLen — sebut saja Kagamine Len.
Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum sebagai balasan. Aku melihat ada orang lain yang berjalan di belakang Len. Orang itu berambut kuning, poninya dijepit dengan jepit rambut dan terlihat bis— #DigorengRinto— ehem, oke, dia adalah Kagami Rinto. Wajahnya kusut sekali, sepertinya belum di setrika(?).
"MINNA!" teriak seorang gadis berambut kuning, memakai pita putih besar, berwajah unyu-unyu(?). (Rin : Aduh, gue dibilang unyu *tebar sepona(?)* | Hikari : unyuu…..an gue tah B) | Rein : AKU LAPAR! | Rin & Hikari : ?!) Dia tak lain dan tak bukan adalah Kagamine Rin, yang sedang berlari dalam mode slow motion (?). Rin berada sekitar 2 mil jauhnya dari tempat ku berada. (Rin : Ebuset, jauh amat… | Ao : Gak pa-pa biar kurus xp #DitonjokRin). Jadi, Rin terus berlari dengan selownya, dan saat dia tiba di depanku, dia langsung jatuh tersungkur dengan gaya yang 'elit banget'. Aku, Len dan Rinto yang melihatnya langsung tertawa.
Kalian ingin tau dimana aku berada? Mau tau aja atau mau tau banget? Hehehe *tawa GJ* Cuma bercanda kok. Sekarang aku berada di sebuah taman bermain—entah apa namanya, si author baka malas menyebutkan— bersama Len, Rind an tentu saja Rinto. Yaa… aku menerima tawaran Len untuk kencan dengannya. Kenapa? Tentu saja karena ada Rinto. Kenapa bias ada Rinto? Mari kita flashback.
~Flashback~
"Jadi… bagaimana Lenka-chan? Apa… kau mau kencan denganku minggu ini?" Tanya Len dengan gugup.
"E-eh…ano…soal itu… aku…" jawabku sama gugupnya dengan Len. Aku agak tidak enak untuk menolaknya.
"Ah… tenang saja, Rinto dan Rin juga ikut kok…" kata Len, kali ini dia terlihat lebih bersemangat.
Rinto-kun ikut? Err… apa kuterima saja tawarannya ya? Kurasa tidak masalah kalau Rinto-kun ikut. Lagipula… aku tidak mau membiarkan Rin bersama Rinto tanpa kuawasi.
"Err… b-baiklah… aku mau…" jawabku setelah berpikir panjang kali lebar sama dengan luas (?)
"Benarkah? Bagus. Kalau begitu hari Minggu jam 10 ya!" kata Len sambil nyengir lebar, lebih lebar daripada lapangan golf (?)
~End of Flashback~
Jadi… intinya aku ikut untuk mengawasi Rinto dan Rin. Aku tidak mau membiarkan mereka luput dari pengawasanku. Yah, aku tau aku kejam, tapi beginilah aku. Aku tidak menyukai Len, tidak, sama sekali tidak. Sebagai teman, ya, tapi tidak lebih dari itu. Yang kusukai hanya orang itu.
"Lenka-chan! Kau mau ke wahana apa dulu?" Tanya Len dengan senyumnya yang bias membuat para gadis melting—tapi tidak berpengaruh sama sekali padaku— sambil menggenggam tanganku.
"Eh? Yang ekstrim-ekstrim dulu deh…" jawabku yang sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan adrenalin. Kulihat Rin mulai ber-sweatdrop-ria. Jangan-jangan Rin tidak suka—lebih tepatnya takut, mungkin—dengan hal-hal yang ekstrim-ekstrim? Aku jadi agak merasa tidak enak dengan Rin yang sweatdrop tanpa henti(?)
"Eh… tapi kalau kalian tidak mau menaiki wahana yang ekstrim-ekstrim juga tidak apa-apa kok…" kataku. Mengalah. "Apalagi Rin-chan terlihat tidak suka menaiki wahana yang ekstrim-ekstrim… mmm… bagaimana kalau kita ke labirin cermin saja?" lanjutku, kali ini bicara pada Rin.
"E-eh? T-tidak juga kok… jangan sungkan-sungkan Lenka-chan…" kata Rin. Agaknya dia merasa tidak enak denganku.
"Tidak apa-apa kok… ayo!" jawabku sambil tersenyum pada Rin. Diam-diam aku melirik Rinto, yang berada di sebelah Rin. Dia sedang memperhatikan Rin. Entah kenapa, aku merasa benci melihat pemandangan itu.
Saking sibuknya dengan pikiranku sendiri, tanpa kusadari, kami berempat telah tiba di loket untuk memasuki Labirin Cermin. Setelah membeli tiket—tentu saja Len yang membayarnya—kami berempat masuk ke Labirin Cermin.
—5 menit kemudian—
DUK
GUBRAK
KOMPYANG
KLENENG
MEONG(?)
SUSU MURNI NASIONAL(?)
Aku dan Len menabrak sebuah cermin—yang kupikir salah satu jalan di labirin ini—dengan gaya yang bias jadi TTWW di twitter(?). (Ao : Apa coba ini bawa-bawa twitter sagala… | Hika : Biasalah, author baka | Author : *pundung(?)*). Oke, mari kita abaikan percakapan aneh bin gak penting ketiga orang diatas. BACK TO STORY!
Rin dan Rinto yang melihat pose 'fantastis'ku dan Len pun langsung tertawa terbahak-bahak-cetar-membahana-badai-ulala(?). Saking kerasnya mereka tertawa, tawa mereka sampai bergema. Tak lama kemudian 2 security—kan gak kece gitu kalo desibut satpam—datang dari pintu masuk.
"Duh… gawat nih…" kataku saat melihat 2 security yang kepalanya bagaikan bohlam—saking botak kinclongnya, sampai memantulkan cahaya lampu di atas kepala mereka—yang 'Silau,man!'.
"Wah, efek rumah kaca tuh…" gumam Rinto yang sedari tadi cengar-cengir gak jelas—sepertinya dia sedang menahan tawa.
—5 menit kemudian—
GUBRAK
PRAK
KRESEK
AWW…
NGOK(?)
2 security penyebab efek rumah kaca itu menabrak cermin yang mereka kira sebagai salah satu lorong di labirin cermin ini. Saking fantastisnya tabrakan mereka, sampai-sampai ada seekor babi nyasar ke labirin cermin(?).
Kami berempat yang menyaksikan secara live kedua security berkepala silau itu langsung tertawa terbahak-bahak. Tapi, tak lama kemudian 2 security itu bangkit dan langsung men-death-glare kami. Aku bergidik dan dengan persetujuan tanpa kata, kami ngibrit entah kemana. Untungnya kami berlari menuju pintu keluar, sehingga aman dari security kinclong tadi. Setelah keluar dari labirin cermin, aku berhenti berlari—capek tentunya—untuk mengatur nafas.
"Hosh…hosh…hosh… istirahat sebentar….. ya?" tanyaku—ngos-ngosan. Len dan Rin mengangguk bersamaan, sedangkan Rinto… dia hanya melirik sekilas.
Aku berjalan menuju sebuah bangku taman yang terletak tak jauh dari labirin cermin dan duduk di sana. Rin dan Rinto mengikuti dan duduk di sampingku, sedangkan Len hilang entah kemana. Untuk sesaat keheningan melanda, tapi tak lama kemudian Rin dan Rinto mulai mengobrol—tentang jeruk kurasa—sedangkan aku, aku hanya menerawang jauh—entah kemana—sambil menghela nafas panjang.
Rinto POV
Aku dan Rin—yang kebetulan duduk bersebelahan—mulai mengobrol tentang jeruk. Maklumlah, jika duo maniak jeruk bersatu, pasti akan membicarakan jeruk. Aku mengobrol dengan Rin sambil sesekali melirik Lenka. Well, dia terlihat imut dengan dress pink selutut, cardigan abu-abu dan legging putih. Rambutnya… seperti biasa, diikat ponytail. Aku ingin tau bagaimana penampilannya jika ia membiarkan rambutnya tergerai. Kulihat ia sempat menghela nafas panjang beberapa kali. Apa yang sedang dia pikirkan ya? Apa dia sedang memikirkan si 'Kagami Rinto' yang dibicarakannya waktu itu? Atau 'Kagami Rinto' yang dibicarakannya itu memang aku? Argh... sudahlah, semakin dipikirkan, aku jadi semakin pusing.
"Rinto-kun, daijoubu? Dari tadi kau melamun terus" kata Rin, terlihat khawatir.
"A-ah, aku baik-baik saja kok... hehe" jawabku sambil tertawa garing. Kulihat Lenka melirik sekilas padaku, lalu dia kembali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Lenka... dia terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"Nee, kalau Lenka-chan, kenapa dari tadi diam saja? Kau sakit?" tanya Rin pada Lenka.
"Eh, aku tidak sakit kok... aku baik-baik saja. Mmm... habis kalian tadi terlihat asik sekali dengan obrolan kalian, jadi aku tidak ingin mengganggu" jawab Lenka, berusaha tersenyum. Tapi aku tau kalau senyumnya itu senyum terpaksa. Aku yakin sekali dia sedang memikirkan hal itu.
Tiba-tiba Len yang sedari tadi menghilang pun datang. Sepertinya dia habis membeli minuman untuk kami. Dia langsung menyodorkan kantung kresek berisi minuman kaleng itu pada Rin. Rin langsung mengeluarkan isinya, yaitu 2 kaleng jus jeruk dan sekaleng jus pisang. Rin memberikan satu jus jeruk padaku dan jus pisang pada Lenka, sedangkan jus jeruk yang satunya, tentu saja untuk dirinya sendiri.
"Setelah ini, kita mau ke mana?" tanya Len pada kami bertiga.
"RUMAH HANTU!" jawab Lenka dengan semangat, sedangkan aku, Len dan Rin ber-sweatdrop-ria. Sepertinya Lenka kembali bersemangat setelah meminum jus pisang.
"Errr... baiklah... kalian setuju tidak, Rin... Rinto?" tanya Len sambil menelan ludah. Wajahnya agak pucat. Fuh... dasar Lenka... Len kan penakut.
"TENTU SAJA AKU SETUJU!" ucap (baca : teriak) Rin tidak kalah semangatnya dengan Lenka sambil ber-evil-smirk-ria. Pasti dia ingin mengerjai Len.
"Aku setuju..." timpalku sambil tersenyum joker. Akan kubuat kau ngompol di celana, Kagamine Len!
"B-b-baiklah, kalau b-begitu, ayo..." kata Len yang wajahnya sudah pucat pasi.
Lalu, kami berempat berjalan menuju loket Rumah Hantu untuk membeli tiket. Setelah membeli tiket kami masuk ke dalam rumah hantu. Di dalam kami naik sebuah kereta yang akan berkeliling rumah hantu ini. Len duduk bersebelahan dengan Lenka, sedangkan aku, tentu saja dengan Rin. Aku sedikit merasa kecewa, karena aku ingin duduk bersebelahan dengan Lenka. Eh?! Tunggu, apa yang kupikirkan tadi?! Ingin duduk bersebelahan dengan Lenka?! Coret kalimat itu, CORET! (Author : cieee Rinto malu-malu... *dibuang ke laut sama Rinto(?)*). Dan, kereta pun mulai berjalan. Lenka dan Rin terlihat excited sekali ketika kereta ini mulai berjalan. Sedangkan Len, dia sedang berakting berani dan cool, padahal sebenarnya dia ketakutan. Aku? Aku hanya memasang wajah datar, karena rumah hantu ini tidak begitu menyeramkan, biasa saja menurutku. Tapi aku ingin tau, seberapa lama Len akan bertahan dengan akting cool dan beraninya.
—5 menit kemudian—
Len mulai gemetaran, tapi dia masih mempertahankan akting cool dan beraninya di depan Lenka.
"Kok rumah hantunya tidak seram sih?" kata Lenka sambil memasang wajah kebingungan.
"Iya ya, tidak seram..." timpal Rin sambil melirik evil pada Len. "Iya kan, Len?" lanjut Rin. Aku berusaha menahan tawa melihat Len yang sedang dikerjai oleh Rin. Oke, mari kita dengar apa jawaban Len. :D
"I-iya... ini sih tidak ada apa-apanya!" kata Len dengan sok beraninya. Oke, mari kita buktikan ucapanmu itu, Kagamine Len!
—10 menit kemudian—
Len mulai berker-sweatdrop-ria. Sepertinya Lenka kembali bersemangat setelah meminum jus pis
"Wah... itu ada suster ngesot! Hai mbak suster!" kata Lenka sambil melambaikan tangannya pada si pemeran suster ngesot itu dan dibalas pula dengan lambaian dari si suster ngesot.
"Halo mbak suster! Jangan lupa makan permen mintz ya mbak!" timpal Rin sambil ikut-ikutan melambaikan tangannya pada si suster ngesot. "Akan saya makan permennya..." jawab si suster ngesot dengan suara horor nya. "Hei Len, kau tidak melambaikan tanganmu pada si suster ngesot?" tanya Rin dengan evil smirknya, yang disambut anggukan Lenka. Oke, aku masih berusaha menahan tawaku. Tapi, aku yakin, sekarang aku sedang cengar-cengir gak jelas karena menahan tawa.
"I-iya... h-halo mbak suster..." kata Len gelagapan dan keringat dingin yang terus mengucur dari dahinya.
Berapa lama kau akan bertahan Kagamine Len? :D
—15 menit kemudian—
"Wah... ada kuntilanak! Sini mbak Kunti, ikut naik kereta ini yuk!" kata Lenka dengan wajah berseri-seri sambil menyuruh salah satu pemeran Kuntilanak naik ke kereta. Lenka! Kau hebat! Benar-benar hebat! Kau membuatku ingin tertawa sekencang-kencangnya sekarang juga.
Dan Kuntilanak itu benar-benar mendekati kereta dan naik. Oh... lihatlah wajah Len sang pelawak masa depan bung. Wajahnya sudah benar-benar ketakutan dan pucat, lucu sekali! Aku melihat ke arah Rin. Ia juga sedang berusaha menahan tawanya.
"Pffffttt... wah... mbak Kunti mau ikutan uji nyali ya mbak? Wah seru nih..." kata Rin sambil cengar-cengir menahan tawa.
"Hihihihihihihihihihihihihihihi..." jawab mbak Kunti dengan tawanya yang aneh. Len langsung merinding mendengarnya. Hahahaha... ayolah Len, lepas topengmu itu dan tunjukkan dirimu yang penakut.
"H-h-huwaaaaaaaaaaaaaaaa! Hentikan! Aku takut! Aku takut! Hentikan! Aku mau turun! AKU MAU TURUN!" teriak Len yang sudah ketakutan setengah hidup(?) sambil... menangis!
"HAHAHAHAHAHAHAHAA!" aku dan Rin langsung tertawa sekencang-kencangnya. Sedangkan Lenka, ia terlihat sedang menahan tawa. Sepertinya ia merasa iba untuk menertawakan Len.
Tak lama kemudian, kereta pun sampai di ujung wahana. Dan... permainan selesai! Kami semua—termasuk si Mbak Kunti—langsung turun dari kereta. Len terlihat lemas sekali, sampai-sampai Lenka menanyakan pertanyaan 'Daijoubu?' berulang-ulang. Setelah itu kami keluar dan duduk-duduk sebentar untuk menenangkan diri—lebih tepatnya Len yang menenangkan diri. Setelah itu kami menaiki wahana 'Giant Swing'.
Setelah puas naik 'Giant Swing' 8 kali—lebih tepatnya aku dan Lenka yang naik Giant Swing 8 kali—kami menaiki wahana Vertigo, yang tidak kalah serunya dari Giant Swing. (Author : Yang pernah ke trans studio bandung pasti tau deh...). Setelah naik Vertigo, berturut-turut kami menaiki wahana Rumah Raksasa, Roller Coaster, Bom-bom car, Giant Flyingfox, The Jungle(Author : bukan the jungle yang kolam renang itu ya...), dan Dragon Rider—yang benar-benar membuat geli saat menaikinya.
Tak terasa kami sudah menaiki berbagai macam wahana. Kami istirahat di sebuah taman kecil karena lelah. Kami duduk sambil berbincang-bincang. Pada saat sedang mengobrol, tiba-tiba Len berdiri.
"Lenka... bisa bicara sebentar?" tanya Len pada Lenka.
"Tentu. Ada apa?" jawab Lenka.
"Aku... tidak bisa bicara di sini..." kata Len sambil memalingkan wajahnya.
"Ah... aku mengerti..." kata Lenka sambil berdiri, lalu berjalan mengikuti Len ke suatu tempat, meninggalkanku berdua dengan Rin.
Lenka POV
Aku berjalan menuju suatu tempat yang tidak terlalu ramai dengan Len. Apa yang ingin dibicarakannya sih? Kenapa harus ke tempat yang sepi begini? Apakah ini hal yang sangat rahasia dan penting?
Tiba-tiba Len berhenti dan membalikka tubuhnya sehingga ia menghadapku.
"Lenka... jadi... bagaimana? M-maukah kau... menjadi... p-pacarku?" tanya Len dengan tergagap namun serius.
Aku dengan otakku yang lemotnya gak nahan belum merespons. Aku diam karena otakku yang lambat belum memahami maksud Len.
Hening~
Hening~
Hening~
EH?! J-jadi pacarnya Len?! Oh iya! Kan dia yang mengajakku kencan hari ini. Oh gawat... aku benar-benar lupa kalau ini adalah kencan! Aku sama sekali belum mempersiapkan jawabanku untuknya!
God, aku harus BAGAIMANA?!
TO BE CONTINUED
Yosh, chapter 3 akhirnya selesai.
Gomen updatenya lama, males ngelanjutinnya.
Ini pendek? Biarlah yang penting udah di update! /heh
Ini dia balesan review kalian!
From : Itsunomi de Rogers86
Rintonya hilang ingatan. Tapi ntar ada bagian dia pura-pura lupa kok /spoiler
Ini udah update, keep reading!
From : Yuzumi Suzu'o
Tsu: ini udah lanjut!
Ao: Keep reading!
From : Chang Mui Lie
Ao: aku keren? Makasih :D /geplaked
Rein: ini udah lanjut ne~
Author: rinto kan sama lenka, kalo len sama saya! /heh *ditabok len* ato nggak len incest sama rin :3 *dibuang ke laut sama len* keep reading!
Nah segitu dulu dari Rikka.
All: Arigato buat yang udh review. Boleh minta review lagi? xoxo
