Rikka's back!
Rinto : Lama banget baliknya-_-
Author : Gomen, sibuk ngapdet yang kisah kelas 2C.-.
Lenka : Hiks... jadi fic yang ini diabaikan? QwQ
Len : SIAPA YANG BIKIN LENKA NANGIS?! *ngamuk*
Rin : abaikan mereka, DISCLAIMER!
DISCLAIMER
Vocaloid bukan punya si author lemot
WARNING : TYPO(s), gaje, abal, aneh, dsb
Don't like, don't read, no flame!
Our Memory © scarletstache
Lenka POV
"Ah... ano... hontou ni gomennasai Len-kun! A-aku... aku benar-benar lupa kalau saat ini kita sedang kencan. Gomenne... kupikir... kupikir hari ini adalah hari dimana kita berempat akan bersenang-senang. Aku... aku..." kataku sambil membungkuk di depan Len. Lenka, kau benar-benar gadis yang kejam. Kau sudah menyakiti hati Len.
Wajah Len terlihat sedih dan tidak bersemangat. Aku jadi semakin merasa bersalah melihat wajah lesunya itu. Len menghela nafas panjang sambil memejamkan mata, dan itu membuat rasa bersalahku semakin besar. Baru saja aku hendak minta maaf lagi, Len sudah berbicara.
"Haaaah... sudah kuduga... lagipula... aku merasa kalau kau sudah menyukai orang lain... ya kan, Lenka?" tanya Len sambil memaksakan diri tersenyum, namun sayangnya ia gagal. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku ingin sekali mengangguk pada Len, namun sayangnya aku tidak bisa. Aku terlalu takut untuk menyakiti perasaan Len lebih dalam.
Len yang melihatku berdiam diri tidak menjawab pertanyaannya hanya tersenyum. Aku tau senyum itu senyum terpaksa. Setelah itu Len berjalan pergi sambil berkata "Ayo kembali... Rin dan Rinto pasti khawatir". Aku mengangguk kecil, walau aku tau Len tidak melihatnya, lalu mengikuti Len dari belakang. "Lebih tepatnya Rinto yang khawatir" gumam Len, namun masih terdengar sampai ke telingaku. Aku menghela nafas panjang.
Kami pun sampai di tempat Rin dan Rinto berada. Mereka berdua tidak berbicara, sibuk dengan aktifitas masing-masing. Rin sibuk membaca-baca majalah—yang sepertinya ia bawa dari rumah, atau mungkin ia membelinya tadi—dan Rinto sibuk mendengarkan lagu. Sepertinya mereka berdua tidak menyadari kedatanganku dan Len. Aku menepuk bahu Rin pelan. Ia langsung terlonjak kaget, sampai-sampai ia menjatuhkan majalah yang sedang ia baca.
"A-a-apa? Oh, t-ternyata kau Lenka. K-kau mengagetkanku... hehe" kata Rin, tertawa hambar sambil menggaruk-garuk kepalanya, yang kurasa tidak gatal. Rin lalu mengambil majalahnya yang terjatuh dan memasukkan ke dalam tas selempang yang ia pakai.
"G-g-gomenne Rin-chan... aku tidak bermaksud mengagetkanmu" kataku sambik menunduk sedikit. Lalu aku menoleh pada Len, ia sedang memperhatikanku. Pandangan kami bertemu. Len langsung memalingkan wajahnya, dan itu membuat rasa bersalahku kembali muncul.
"Hei... bagaimana kalau kita makan dulu, baru pulang? Kita kan belum makan siang dari tadi" kata Len tanpa menatapku. Kejadian tadi membuat kami menjadi canggung untuk berbicara pada satu sama lain. Aku jadi merasa sedikit sedih mengetahui Len tidak mau menatapku.
"Boleh juga" katau sambil tersenyum pada Len, berniat mengusir kecanggungan diantara kami. Namun sayangnya, kurasa usahaku gagal karena Len sama sekali tidak menatapku. Aku menghela nafas. Kurasa akan sedikit sulit untuk mengusir kecanggungan antara aku dan Len. Bukan, bukan sedikit sulit, hanya saja butuh waktu.
Kami berempat berjalan menuju sebuah restoran—entah apa nama restorannya. Di sana, aku memesan nasi goreng pisang dan jus pisang. (Author : gak kebayang rasanya kayak apa-") Rin dan Rinto memesan steak jeruk dan orange tea. (Author : ini juga gak kebayang rasanya kaya apa. Ecieeeh kompakan :3) Sedangkan Len memesan kare pisang dan es krim pisang. (Author : makanannya makin aneh-_-).
Kami menunggu sekitar 15 menit, hingga akhirnya pesanan kami pun dihidangkan di atas meja (author : ya iyalah, masa di atas wastafel-") oleh sang pelayan. Aku langsung memakan makanan yang kupesan dengan lahap, begitupula Rin, Rinto dan Len, mereka juga memakan pesanan masing-masing dengan lahap.
Setelah selesai makan, kami berempat keluar dari restoran itu—tentu saja setelah membayarnya—dan berjalan pulang. Sesampainya di depan gerbang taman bermain itu, kami berpisah, Len dan Rin berjalan ke kanan menuju halte bus, aku dan Rinto berjalan ke kiri.
Aku merasa agak canggung berjalan pulang berdua saja dengan Rinto. Habisnya... Rinto yang sekarang sangat berbeda dengan Rinto yang dulu. Yah, mungkin sifatnya masih sama, tapi ingatannya sudah berubah. Selama perjalanan, kami saling berdiam diri, hening. Aku benci situasi seperti ini, tapi aku juga tidak berani memulai percakapan.
"Ne, Lenka..." akhirnya Rinto berbicara padaku. Yah, setidaknya kalau kami mengobrol—meskipun agak canggung—suasananya tidak akan sehening tadi.
"A-apa?" Tanyaku, tidak berani menatapnya.
"Etto... bagaimana kalau kita ke taman dulu? Aku ingin...err... mengobrol denganmu... tapi kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa kok..." kata Rinto sambil menggaruk kepalanya yang kurasa tidak gatal. Aku mengangguk, kemudian menjawab "Boleh saja..."
Setelah itu, kami berjalan menuju taman yang dimaksud oleh Rinto. Sesampainya di sana, kami duduk di sebuah bangku taman di pinggir taman itu. Aku sengaja menjaga jarak dengan Rinto. Entah kenapa, aku sedang tidak ingin dekat-dekat dengannya. Setelah mendapatkan posisi duduk yang nyaman, aku bertanya pada Rinto. "Jadi... apa yang ingin kau bicarakan?"
"Etto... aku tidak bermaksud ingin mencampuri urusanmu, tapi... bolehkah aku tau janji apa yang kau maksud di hari pertama kita bertemu di ruang musik? Janji apa yang kau buat dengan si 'Rinto' itu?" tanya Rinto dengan pandangan ingin tau. (Author : Rinto kepo :v | Rinto : *tendang author*)
'Sudah kuduga dia akan menanyakan hal ini...' kataku dalam hati sambil menghela nafas panjang. 'Haruskah aku memberitahunya? Bagaimana kalau aku tidak mau memberitahunya? Apa dia akan marah?' Kataku lagi, dalam hati. 'Aku sedang tidak ingin mengingat atau menceritakan hal itu, tapi...' lanjutku dalam hati, masih berkutat dengan pemikiranku sendiri.
"Itu... aku tidak bermaksud untuk merahasiakan hal ini... tapi... aku sedang tidak ingin membicarakan kenanganku dengan 'Rinto'. Gomen..." kataku pelan, nyaris mencicit.
"Eh? Tidak perlu minta maaf, seharusnya akulah yang minta maaf padamu karena sudah menanyakan hal pribadimu. Gomen..." sahut Rinto sambil memandangku, lalu ia tersenyum kecil. Aku terdiam, tidak tau harus menjawab apa.
"Haah... sekarang sudah sore, ayo, kuantar kau pulang" kata Rinto sembari berdiri, dan berjalan. Aku mengangguk kecil—walau kutahu Rinto tidak melihat anggukanku—lalu berdiri, dan berjalan di belakang Rinto.
Keheningan kembali menyelimuti kami. Suasana menjadi semakin canggung. Entah mengapa, aku jadi merasa bersalah. Mungkin saja Rinto merasa tersinggung karena aku tidak mau memberitahunya tentang hal itu. Kalau memang begitu kenyataannya, berarti aku sudah menyinggung perasaan dua orang lelaki dalam satu hari. Aku memperhatikan punggung Rinto. Dan seketika, kejadian itu terulang kembali di otakku, bagaikan sebuah rekaman yang diputar berulang-ulang. Memori itu terulang, ketika aku sedang berjalan pulang setelah membeli beberapa bunga untuk ibuku. Ketika aku sedang menyebrangi jalan menuju komplek perumahanku. Ketika aku sama sekali tidak menyadari ada sebuah truk dengan kecepatan tinggi sedang menuju ke arahku. Ketika Rinto datang, berlari ke arahku, mendorongku, memelukku, berguling-guling di aspal yang keras sampai ia sendiri membuat kepalanya terbentur batu hingga berdarah, hanya untuk melindungiku. Ketika aku shock dengan apa yang terjadi, dan menangis melihat keadaan Rinto. Ketika Rinto mengucapkan janjinya padaku, kemudia ia pingsan, kekurangan darah.
BRUK
Karena terlalu sibuk dengan pemikiranku sendiri, aku menabrak punggung Rinto. Setelah itu, aku kembali tersadar, aku sedang melamun tadi. Dan tanpa kusadari, setitik air mata jatuh membasahi pipiku. Aku buru-buru menghapusnya. Rinto yang melihatku terlihat khawatir.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rinto dengan cemas. Aku mengangguk kecil dan berkata "Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya melamun..."
"Benar kau tidak apa-apa? Kau terlihat sedikit pucat" kata Rinto lagi.
"Iya, aku tidak apa-apa kok" kataku sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Jangan melamun lagi, karena kita akan menyebrangi jalan raya" kata Rinto. Aku mengangguk.
Ah... jalan raya ya? Aku merasa trauma untuk menyebrangi jalan raya. Aku takut... hal itu akan terulang kembali. Biasanya saat pulang sekolah, aku lebih memilih melewati jalan memutar, melewati gang kecil yang kotor, agar aku tidak perlu menyebrangi jalan raya. Bukan berarti aku ingin selamanya trauma dengan jalan raya, tapi... aku ingin menjauh dari jalan raya, setidaknya untuk saat ini.
Aku terlalu sibuk berkutat dengan pikiranku (lagi) sehingga aku baru sadar Rinto sedang menyebrangi jalan raya sambil mendengarkan musik dari i-Pod miliknya dan... ada sebuah bus yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi... KE ARAH RINTO!
Haruskah aku berdiam diri dan membiarkan Rinto terluka di hadapanku untuk yang kedua kalinya? Cukup rela-kah diriku untuk melukai Rinto lagi dengan berdiam diri saja? Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak ingin melukai Rinto lebih dari yang pernah kulakukan selama ini! Aku tidak peduli jika kejadian itu harus terulang. Jika memang harus terulang, aku tidak mau Rinto yang terluka. Setidaknya biarkanlah aku yang merasakan rasa sakit itu kali ini!
Kusingkirkan semua rasa takutku. Aku berlari ke arah Rinto sambil berteriak "RINTO-KUN! AWAAAAASSS!". Kemudian, aku mendorong tubuhnya agar ia tidak tertabrak. Setelah itu, aku berniat untuk lari sekencang-kencangnya agar aku juga tidak tertabrak. Tapi sayangnya, aku terlambat. Walau bus itu sudah mengerem sebisa mungkin, aku tetap tertabrak. Tubuhku terlempar ke udara, kemudian terjatuh di aspal yang keras. Kurasakan rasa sakit yang luar biasa, dan darah hangat mengalir di sekujur tubuhku.
Dalam hati aku berkata 'Jadi inilah yang Rinto rasakan ketika ia menyelamatkanku dulu...'. Kemudian, aku tersenyum kecil. Setidaknya, kali ini bukan Rinto yang terluka.
Hal terakhir yang kudengar adalah suara ribut-ribut orang-orang disekitar yang menyaksikan kecelakaan ini, suara sang supir bus yang terdengar sangat menyesal telah menabrakku dan teriakan Rinto yang memanggil namaku.
"LENKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Setelah itu, semua menjadi gelap, dan aku pun tertidur, pingsan.
TO BE CONTINUED
Akhirnya chapter 4 selesai juga :D
Gomen karena updatenya LAMA PAKE BANGET!
Gomen buat kalian2 yang udah nunggu kelanjutan fic ini, tapi kalian gak puas sama chapter 4 ini, gomennasai ;_;
Arigatou buat yang setia nunggu kelanjutan fic ini, LAF YU! Mumumumu :***** /ditendang
Gomen kalo pendek-_-
Gomen kalo gaje-_-
Cuma mau ngasih tau fic ini kemungkinan besar SAD ENDING '-'
Oke, balas review dulu!
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.- .
From : Chang Kagamine
Ini udah apdet ne!
Gomen updatenya LAMA PAKE BANGET!
Baguslah kalau kau tertawa, karena tertawa adalah sebagian dari olahraga(?) /plak xD
Lenka : aku tidak mau mentertawakan Len, kasian dia... /LenkaSokAngel(?)
Arigatou udah review!
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.- .-.
From : Mai S Alice
Penjual susu murni nasional : mau beli susu-nya mbak? Murah loh, cuma serebu xD
Rinto : merasa doki-doki? Itu membuktikan bahwa anda adalah makhluk hidup /ditendang
Udah lanjut ne! Gomen lama...
Arigatou udah review!
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.- .-.
Sekali lagi... boleh minta review buat fic gaje ini minna? :D
