R.H.E.I.N.

13.05.13

Present~

THE ARCHER (Lamp Light)

DON'T LIKE? KEEP READ!

Casts : YJ and the gank

Rated : T

Disclaimer : I own nothing except the story

Warning : BL, YAOI, OOC, typo. NO PLAGIARISM.

NB : There's some content I brought from novel 'Love the One You're With' by Emily Giffin.

(Imagine Yunho and Changmin in Taxi reality show, Jaejoong in Heaven's Postman movie)

Yakinkan dia, buat dia menjadi milikku.

JJ

.

.

"Jaejoong-a…"

"Appa…"

GREP!

Sesosok manis itu menerjang dan mendekap ayahnya penuh kerinduan. Sedang sosok tua yang masih terlihat bugar menepuk-nepuk punggung anaknya. Anak semata wayang dengan almarhum istrinya terdahulu.

Terlepas dari apa yang terjadi pada Jaejoong saat ini, bukan alasan untuk membenci ayahnya. Sempat ada rasa kecewa, namun ia percaya Kim Yoonjung sangat menyayanginya dan menginginkan yang terbaik untuknya.

Dengan apa dia harus berbakti kalau bukan menuruti permintaan sang ayah –apalagi dalam hal kebaikan.

"Joongie…"

"Ne appa…"

"Kau sudah menjenguk ibumu?" tanya Yoonjung.

"Eeung, belum. Mungkin besok, aku sangat lelah hari ini."

"Besok malam keluaga Jung akan berkunjung dan makan malam bersama kita. Dan besok malamnya lagi akan ada pesta untukmu dan Yunho. Jadi bersiaplah." Ujar Yoonjung lembut.

"Baik appa…"

"Maafkan appa, mungkin kau kesal pada appa Joongie…"

"Tidak, sama sekali tidak. Semakin kesini aku berpikir bahwa appa sudah melakukan hal yang tepat untukku. Aku akan berusaha melakukannya dengan baik," kata Jaejoong menenangkan. Sejujurnya, ia sendiri tidak yakin.

"Baiklah. Hari ini kau harus istirahat yang cukup. Besok pergilah menjenguk ibumu." Suruh Tuan Yoonjung.

"Aku mengerti appa…"

"Joongie…?"

"Ne appa?"

"Aku menyayangimu nak,"

"Aku juga menyayangimu, ayah." Mereka berpelukan sesaat sebelum akhirnya Kim appa keluar dari kamar Jaejoong.

Jaejoong terpekur. Hatinya menghangat mengingat perlakuan appa-nya tidak berubah.

Hatinya menghangat mendengar appa-nya memanggilnya 'Joongie'. Panggilan khusus diantara mereka bertiga –Kim Yoonjung, Han Minrin, dan dirinya sendiri.

Jaejoong terlelap dengan nyaman…

.

.

.

Sinar hangat matahari menggelitik kelopak mata doe eyes tersebut. Jam tubuhnya mengatakan bahwa sudah saatnya bangun.

Jaejoong bangun dari tempat tidur ukuran Queen size-nya dan beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah itu berganti baju dengan kaos hijau bergaris putih dengan celana santai tiga perempat.

Lalu ia turun menuju ruang makan.

"Pagi Lizey!" sapa Jaejoong pada Lizey yang sedang asik makan Ppeppero.

"Pagi oppa!"

"Lizey, panggil appamu, sarapan sudah siap!" teriak Ellen dari dapur. Adanya maid dan koki di rumah mewah itu bukan alasan bagi Ellen untuk tidak menyiapkan sarapan bagi keluarganya sendiri.

Ia tidak menyiapkan semuanya sendiri, tapi setidaknya ia ikut andil.

Ellen menata beberapa makanan dalam tatanan yang apik, tersenyum pada suaminya yang kini mendekat ke arah meja makan.

"Pagi appa!" koor Jaejoong dan Lizey.

"Pagi semuanya,"

Cup!

Yoonjung mengecup sayang pipi kanan Ellen, memberi tahu bahwa ia bahagia dengan sikapnya itu.

"Mama! Appa! Au cemburu, uh!" Lizey menatap appa dan mama nya tidak suka –pura-pura.

"Sini, oppa cium."

Cup!

"He-he."

Mereka makan dengan lahap. Termasuk Jaejoong, sudah lama ia tidak makan dengan banyak jenis seperti ini –khas Korea.

Candaan dan pembicaraan akrab mewarnai sarapan pagi yang nikmat.

"Aku sudah selesai. Terimakasih atas makanannya," Lizey bangkit dan membawa piring kotor ke dapur.

Tak berapa lama ia kembali dengan sudah mengenakan seragam dan menyampirkan tas sekolahnya.

"Appa, mama, oppa, Lizey berangkat dulu!"

"Ne, hati-hati sayang,"

"Jaejoong-a, hari ini kau menjenguk ibumu?" tanya Ellen. Kini tinggal mereka bertiga di meja makan.

"Hum!" jawab Jaejoong singkat.

"Nanti pulangnya, mampir ke Schőnnen Boutique bisa? Ini kartu pesanannya, kau harus ambil jas untuk makan malam nanti dan pesta besok malam." Pinta Ellen.

"Oke mama," jawab Jaejoong.

"Permisi tuan, nyonya, dan tuan muda… ada tuan muda Jung di depan. Apa saya persilahkan menunggu di ruang tamu dulu?" seorang maid menghampiri mereka. Sontak Jaejoong kaget, sedang Ellen dan Yoonjung tersenyum.

"Oh oh…menemui istrinya di pagi hari rupanya…bagaimana Jaejae? Apa kau membiarkan suamimu menunggu di ruang tamu?" tanya Ellen, menggoda Jaejoong.

Jaejoong tersenyum kikuk. Malu dan salah tingkah. Yunho ada apa ke rumahnya pagi-pagi? Bukankah nanti malam? Demi tuhan Jaejoong belum siap mental bertemu suami dadakannya tersebut!

"Jae? Baiknya kau temui dia…" ujar Yoonjung memecah lamunan Jaejoong.

"Y-ye appa…" katanya sambil beranjak, ntahlah, tapi ia menyadari pipinya menghangat.

Jaejoong berjalan menuju ruang depan, seorang lelaki tegap menunggunya.

"Kim…Jaejoong?" suara baritone keluar dari bibir lelaki tersebut, menyentak sudut hati Jaejoong.

"Ne…kau…Jung Yunho?" jawabnya, memastikan.

"Senang bertemu denganmu," Yunho mengulurkan tangannya, dan Jaejoong menyambutnya.

Tangannya besar, hangat, dan mantap. Jaejoong bagai tak punya tulang di hadapan lelaki tersebut.

"Mari, silahkan duduk…"

Tubuhnya tegap berisi, kulitnya kecoklatan seksi, matanya bagai musang, hidung dan rahangnya terlihat serasi dan kokoh. Bibir bagian bawahnya tebal, menambah poin lebih.

Dan garis urat yang terlihat di punggung tangan lelaki bermarga Jung tersebut cukup memberitahu Jaejoong bahwa Yunho merawat tubuhnya dengan baik.

Benar kata Lizey, laki-laki ini begitu manly. Jas kerja dan celana kain berwarna hitam begitu pas untuk sesosok Yunho di depannya ini. Apakah ia akan berangkat kerja?

"Yunho-sshi, apa anda akan berangkat kerja?" tanya Jaejoong memecah keheningan.

"Sebenarnya ya, tapi aku ingin mengunjungi istriku terlebih dahulu." Jawabnya.

Jaejoong menunduk, masih terasa asing baginya sebutan 'suami-istri'. Dan lagi, apakah dia yang menjadi posisi 'istri' dalam pernikahan ini? Seperempat hatinya memberontak, ia seorang lelaki, mengapa harus dia yang istri? Mengapa tidak lelaki bernama Jung Yunho ini saja?

Aku merasa ingin membanting selusin piring keramik! –batin Jaejoong frustasi.

Ia melirik sedikit pada Yunho, tapi jika Yunho yag menjadi istri, akan sangat terlihat lucu. Dia begitu…terlihat gagah dan sangat lelaki.

Dan berdasar pengalamannya di New York City beberapa waktu lalu –dikira seorang lady oleh sopir taxi (chapter 1), mungkin ada benarnya ia yang harus berperan sebagai istri -_-

"Baiklah…eeung, maaf, aku ganti baju dulu." Pamit Jaejoong, tapi Yunho mencegah.

"Kenapa? Tidak ada yang salah denganmu."

"Aku merasa tidak sopan."

"Bicara apa kau? Tidak benar, kau terlihat…manis kok," ucap Yunho sedikit kaku.

Yunho menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Gesture khasnya jika sedang kikuk atau bohong.

Tapi benar ia kikuk, bukan bohong!

Kulit pucat Jaejoong semakin cerah dengan kaos hijau dan keadaan pagi yang cerah.

Yunho menelan ludah gugup memperhatikan betis mulus Jaejoong yang terekspos.

Mata bulat besar, hidung bangir, dan cherry lips kissable nya sempurna memikat Yunho.

Tapi semua itu tak terucap.

"Oh baiklah…"

Hening…

"Yunho-sshi, apa anda sudah sarapan?" tanya Jaejoong ditengah keheningan yang sangat meng-kikuk-kan.

"Aku tidak terbiasa sarapan."

"Tapi itu tidak baik Yunho-sshi…sarapan pagi sangat membantu kinerja otak, kau tahu. Kau kan bekerja, seharus…."

"Kalau begitu kenapa kau tidak siapkan sarapan untukku, is-tri-ku?" potong Yunho cepat. Jaejoong terbelalak kaget, tepatnya pada saat Yunho menekankan kata 'istriku'. Jaejoong benar-benar awkward dengan panggilan itu. Rasanya aneh dan memalukan, tapi juga menggelitik perutnya. Kikuk kembali mendera mereka.

Sebenarnya bukan hanya Jaejoong, sejujur-jujurnya dari hati yang paling dalam, mengatakan 'istriku' pada seseorang yang sebenarnya belum terlalu dikenal, namun sudah terikat oleh pernikahan…errrr Yunho sedikit kagok juga.

Namun hebatnya dua manusia ini jago dalam hal memasang poker face, clap!

"Eeung, Yunho-sshi…kalau kau tidak keberatan…mmm…aku sedikit aneh ketika kau memanggilku dengan sebutan istriku…kau tahu? Aku tidak bermaksud, hanya saja…aku berpikir…"

"Ah-ha-ha…maaf, apa kau merasa tidak nyaman? Sesungguhnya akupun begitu…hanya saja, mutter menyuruhku memanggilmu seperti itu. Kalau kau tidak nyaman…aku bisa…"

"Ah! Baiklah kalau begitu…kau bisa memanggil namaku saja, bagaimana?" jawab Jaejoong kikuk. Ujung jemarinya mendingin karena gugup sekarang. Oh God please!

"Baik,"

"Ya, itu bagus."

"Jadi…apa aku bisa sarapan sekarang?"

.

.

.

Kim Yoonjung sudah berangkat ke kantor lima belas menit yang lalu. Kini tinggal mereka berdua di dapur dan Ellen yang entah sedang melakukan apa di kamar.

Yunho mengamati dapur keluarga Kim yang terlihat nyaman. Dapurnya lumayan luas dengan perabotan yang –sepertinya, lengkap. Kompor dan pemanggang berjajar rapi membentuk huruf 'L' dengan nakas gantung berwarna putih di atasnya. Sedang di tengah terdapat meja marmer berwarna abu-abu gelap cenderung hitam yang berfungsi double sebagai buffet pendek.

Yunho duduk di sebuah kursi kayu berukir. Suara berisik Teflon Jaejoong yang beradu dengan spatula memecah lamunannya.

Yunho menopang dagunya di meja. Mengamati sosok Jaejoong dari belakang. Terlihat lucu dengan apron coklat muda dengan boneka kepala beruang di bagian saku depannya.

"Kau masak apa?" tanya Yunho, menghampiri Jaejoong dan berdiri di samping laki-laki manis itu.

"Umm…pancake. Kupikir kau tidak terbiasa sarapan, jadi aku membuat pancake, lebih ringan daripada nasi." Jawab Jaejoong.

"Pancake?"

"Ya, dan di sana ada madu, selai strawberry, coklat, nanas, kau bisa pilih." Tunjuk Jaejoong ke semangkuk besi besar yang berisi banyak toples selai.

"Aku…"

"Atau kau mau ku gorengkan telur? Telur dadar atau biasa? Atau omelet?" cerocos Jaejoong, membuat Yunho terkekeh geli.

"Madu saja," jawab Yunho.

"Tapi kau butuh protein lebih, akan kugorengkan telur. Tunggu sebentar, kau duduklah dulu." Jaejoong menggiring Yunho duduk kembali di tempatnya sambil menyajikan selembar pancake. Aroma mentega yang meleleh menguar nikmat. Setelah itu Jaejoong melumuri pancake tersebut dengan keju secukupnya.

"Nah, ini makanlah, ini sendok dan garpunya." Yunho hanya bisa menurut dan memulai memakan pancake tersebut.

Tidak aneh sebenarnya seorang lelaki hebat dalam memasak, toh dimana-mana banyak chef terkenal yang ber gender laki-laki.

Yunho memuji masakan Jaejoong dalam hati. Pancakenya tidak terlalu tebal maupun tipis, dan adonannya sangatlah lembut, hingga hampir melumer dimulutnya.

"Jja, ini telurnya. Kau harus habiskan semua." Aroma telur yang digoreng menyeruak dalam indra penciuman Yunho, sepiring telur plus kentang goreng dan semangkuk kecil salad buah dengan mayonnaise keju terhidang di depannya.

"Jae, ini bukan makanan yang ringan…" kata Yunho.

"He-eh, yaah setidaknya harus ada appetizer, main course, dan dessert kan?" kini Jaejoong duduk di depan Yunho, mengamatinya makan.

"Kau…terlihat lucu, Jae." Yunho menunjuk Jaejoong.

"Aku? Apanya?"

"Itu, apronmu, terlihat kekanakan"

"Ini punya Lizey, adikku. Aku belum membeli apron untukku sendiri." Jawab Jaejoong.

"Oh,"

"Umm…Yunho-sshi, bagaimana? Apa enak? Maaf, mungkin aku memasak terlalu banyak." Yunho berhenti menyendok salad buahnya dan menusuk sepotong buah dengan lumuran mayonnaise keju dan menyodorkannya pada Jaejoong, sedang Jaejoong mengernyit heran.

"Apa?" tanya Jaejoong.

"Kalau tidak enak, tidak mungkin kuhabiskan. Dan ini tidak terlalu banyak…porsi makanku lebih banyak dari ini sebenarnya. Buka mulutmu, aaa…"

"Jae! Yunho! Hai! Pagi semua!" tanpa diundang, dan kehadirannya yang tiba-tiba, sapaan Ellen mengejutkan mereka.

"Mama…"

"Kim omonim…"

"O-oh! Kalian…sedang makan bersama? Oh, pasti Jaejoong yang memasakkan? Dan kalian kini sedang suap-suapan? Oh ayo Jae, makan itu." Ellen menghampiri mereka, dan Jaejoong memakan potongan buah yang ada di garpu Yunho dengan kikuk.

"Kalian mesra sekali…aku senang melihatnya."

Yunho dan Jaejoong menunduk, mesra? Mesra apanya? Kami hanya sarapan biasa, kami bahkan belum saling kenal –batin Jaejoong.

Yunho? Poker face. As always.

"Eeung, Yunho, kau tidak berangkat kerja? Ini sudah hampir jam setengah sembilan." Jaejoong melirik pada jam dinding.

"Ah, iya…baiklah, maaf aku sudah mengganggumu pagi-pagi. Kka, aku berangkat dulu." Yunho bangkit dan merapikan jasnya.

"Eoh? Yunho berangkat kerja? Sayang sekali…Jaejoong akan mengunjungi ibunya pagi ini, aku berharap kau bisa mengantarnya." Kata Ellen.

"Begitukah?" Yunho berbalik menatap Jaejoong.

"A-ah…tidak apa, aku bisa berangkat sendiri. Kau berangkatlah kerja."

"Kebetulan sekali hari ini aku tidak ada meeting dan survey job. Aku bisa mengantarmu Jae," jawab Yunho.

"Lagipula Porsche-mu belum tiba Jae, mungkin tiga hari lagi, benar kan?" imbuh Ellen.

"Umm…baiklah."

Akhirnya…

.

.

.

Jaejoong berjalan mendahului Yunho. Jins hitam dan mantel coklat tua selutut berkibar diterpa angin bukit. Yunho berjalan pelan mengamati sosok mengagumkan tersebut. Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh, mungkin sekitar dua puluh lima kilometer.

Dan kini mereka sedang berjalan di sebuah jalan setapak selebar tiga meter dengan alang-alang yang cukup tinggi di sebuah bukit.

Sebuah areal pemakaman pribadi.

"Eomma…Joongie datang." Bermacam jenis bunga yang dirangkai indah dalam satu buket Jaejoong letakkan diatas sebuah gundukan.

"Eomma apa kabar?"

"Joongie tiba kemarin, maaf baru bisa menjenguk eomma hari ini…"

"Joongie bawa bunga untuk eomma…"

"Joongie rindu eomma…"

"Eomma…"

Jaejoong memainkan segenggam pasir di sekitar gundukan itu, gundukan tanpa tanda maupun nisan.

"Jae…"

"Ohya eomma, kenalkan, ini Yunho…Jung Yunho…" Yunho mendekati Jaejoong yang sedang berjongkok di samping gundukan tersebut.

"Omonim…Jung Yunho imnida…"

"Eomma…Yunho adalah eeung…pasangan Joongie…" Jaejoong terdiam memikirkan identitas apa yang seharusnya disandang oleh Yunho.

"Omonim, naega…suami Joongie…" Yunho berjongkok disamping Jaejoong dan merengkuh bahu lelaki manis tersebut.

"Yunho…" Jaejoong menundukkan kepalanya sedalam yang ia bisa. Aku ingin memecahkan selusin piring keramik! –batin Jaejoong.

Demi apa, sungguh ia ingin berteriak, hatinya ingin meledak, malu semalu-malunya, dan sekaligus ingin menggetok kepala namja bermarga 'Jung' tersebut. Terus kalau dia suami, ia istri begitu? Bahkan belum ada perjanjian lisan yang menyepakati tentag hal tersebut.

Dan rengkuhan Yunho pada bahunya sungguh membuncahkan hatinya. Ini suatu skinship paling intim yang pernah ia rasakan selain bersama keluarganya. Jaejoong sensitive terhadap sentuhan.

Dan seribu ton deathglare yang tak tersampaikan untuk Yunho karena sudah begitu terlihat tampan dan menarik. Hampir saja Jaejoong lupa bernafas.

Satu sisi Jaejoong yang dua chapter kemarin tidak terungkap, ya…Jaejoong bisex…frankly speaking. Awalnya dia menolak dan berusaha 'kembali', hanya saja keberadaan Yunho disampingnya kini cukup membuktikan, bahwa dia sudah…nnggg…begitulah.

"Wae Jae? Kau keberatan?" suara baritone Yunho menginterupsi Jaejoong, membawanya dari lamunan.

"A-aku tidak…ngg…maksudku, a-aku…"

Sret!

Yunho berdiri sambil menarik lengan Jaejoong, otomatis ia ikut berdiri.

"Jaejoong…Kim Jaejoong…" entah mungkin karena efek taburan serbuk cinta dewi Amor, suara gesekan alang-alang dan desiran angin sepoi, membuat suara Yunho terdengar begitu seksi di pendengarannya. Jaejoong begidik.

Yunho terkekeh kecil di balik poker face-nya. Jaejoong terlihat manis. Ia terlihat bersinar di bawah sinar matahari di bukit ini.

Perlahan Jaejoong mendongakkan kepalanya, Yunho ini kenapa tinggi sekali sih? –batinnya. Semburat merah merambati pipi putih mulus Jaejoong. Akibat apa ini? Akibat rahang tegas Yunho, bibir tebalnya, hidung mancungnya, dan mata musangnya.

"Jae, kau mendengarku?" ulang Yunho.

"Y-ye?"

Posisi mereka berdiri berhadapan, dengan saling menatap, saling mengagumi.

Tangan kanan Yunho terulur menggapai jemari kanan Jaejoong dan menggenggamnya.

"Kim Jaejoong…"

Srrrrtttt…srrr…seerrrr…srrrrttttttt…

Kepala Jaejoong mendadak pening sesaat. Ia tidak mendengar perkataan Yunho selengkapnya, tapi ia menangkap maksud namja tampan tersebut.

Sudut hatinya bagai dipenuhi pukulan gong yang bertalu-talu.

Yunho sedang melamarnya…

Tapi kan kita sudah menikah!? –batin Jaejoong. Jaejoong butuh selusin piring keramik untuk dipecahkan.

"Yaa…anggap saja itu sekalian janji suci pernikahan…bagaimana?" tanya Yunho. Hampir saja Yunho kelepasan tertawa melihat raut geram di wajah Jaejoong.

"Hn…baiklah…" ucap Jaejoong akhirnya.

"Kau menyesal?" tanya Yunho.

"Tidak."

"Mengapa? Kalau…aku boleh tahu?"

"Kau baik,"

"Hanya itu?"

"Sementara hanya itu."

"Oh,"

"Bagaimana denganmu?" tanya Jaejoong balik.

"Mutter menyuruhku, aku bisa apa?"

"Jadi karena terpaksa?"

"Begitulah,"

Jaejoong merutuk, harusnya ia bilang ia terpaksa juga menikah dengan pria tampan itu! Hell!

"Selain itu…" Yunho tersenyum memandang Jaejoong.

"Apa?"

"Ah ya! Aku lupa sesuatu," mendadak Yunho mengalihkan pembicaraan dan merogoh sesuatu dari saku celananya.

Jemari kanan Jaejoong ia angkat, dan menyematkan sebuah cincin perak polos dengan enam permata kecil berbentuk bunga dengan bagian tengah yang lubang di jari manisnya. Indah.

"How? Do you like it?"

"Fit." Balas Jaejoong pendek. Ia tersenyum dan menunduk, tak menyangka di balik poker face Yunho, ternyata ia romantis – batin Jaejoong.

Sret!

Yunho terkejut ketika Jaejoong balik menarik jemari kanannya.

"Aku juga harus melakukannya padamu kan?" Jaejoong tersenyum manis dan melepas sebuah cincin perak di jari manis kanan Yunho. Cincin milik yunho lebih simple, hanya ada sebuah permata kecil ditengahnya. Jaejoong berpikir,

"Kau benar, ini cincin couple. Bagian yang lubang di tengah cincinmu akan terisi dengan cincinku." Jelas Yunho.

Dan Jaejoong hanya bisa ber oh-oh ria.

Suatu memori menyeruak dalam satu bagian otaknya. Mendadak hatinya perih, matanya memanas.

Sebulir air mata meluncur. Yunho tersentak. Apakah ia menyakiti Jaejoong?

"Jae-Jaejoong? Are you alright? Am I hurt you?" runtutan pertanyaan Yunho dijawab gelengan oleh Jaejoong.

"No, of course not. I'm sorry, I just remind about conversation between me and my mother, when she still alive." Jelas Jaejoong sambil menyeka air matanya.

"May I know?"

"Hmm…?"

"I'm your husband now,"

Jaejoong mengambil nafas,

"Salah satu impian, tujuan hidupnya, dan keinginan terbesarnya adalah…melihatku menikah dan bersanding dengan pasangan hidupku dan bahagia dengannya. Sayang…ia pergi sebelum aku sempat mewujudkannya. Such a bad kid right?" kekeh Jaejoong sedih.

"Jae, tatap aku…" perintah Yunho.

"Yunho…aku…"

"Kim Jaejoong!"

"A-aku…"

"KIM JAEJOONG TATAP AKU!" Yunho mencengkram bahu kanan dan kiri Jaejoong. Memaksa Jaejoong menatap mata musang Yunho yang kini nyalang tajam.

Jaejoong menciut dan mendadak benci dengan Yunho. Ada hak apa ia membentakku seperti itu? Bukan berarti ia 'suami' lalu seenaknya membentakku seperti itu! –batin Jaejoong.

"Lepaskan aku!" Jaejoong balas teriak, meronta ingin lepas dari cengkramaan Yunho yang tak hanya menyakiti lengan, namun juga hatinya. Ia sudah yakin bahwa Yunho baik dan romantis. Cuih! Perangai aslinya keluar kini!.

Srett!

CUP!

Doe eyes Jaejoong mengerjap lucu. Bibir tebal Yunho menempel di bibir cherry kissable-nya. Posisi wajah Yunho yang miring, membuat deru nafas lelaki tampan tersebut mengelus pipi Jaejoong, membuatnya semakin bergidik.

Hatinya berkata ini salah, seharusnya ia marah kepada Yunho, namun badannya menolak. Sentuhan itu mengalirkan listrik dari ujung jari kaki hingga ubun-ubunnya. Fantastis.

Setidaknya ia tidak bohong ketika berkata pada Ellen bahwa ciuman pertamanya untuk Yunho.

Jaejoong berjengit ketika sesuatu yang lembut menjilati bibir bawahnya. Sontak jemarinya mencengkram jas Yunho.

Yunho merasai bibir manis Jaejoong yang atas dan bawah. Tak dipungkiri hatinya berrdegup kencang kini. Bisa dirasakan Jaejoong membalasnya. Cengkraman jemari Jaejoong berpindah menjadi rengkuhan erat di lehernya. Dalam ciuman itu Yunho menyeringai senang.

Mereka saling memagut dan melumat, merasai bibir masing-masing, menyalurkan rasa di hati dan hasrat secara bersamaan.

Jaejoong memeluk leher Yunho semakin erat. Tangan kiri Yunho memeluk punggung belakang Jaejoong, membuatnya semakin menempel pada tubuhnya, sedang tangan kanannya mengelus lembut tengkuk Jaejoong, menekan-nekannya lembut hingga ciuman mereka semakin dalam.

"Mmmhh….."

"Nnghhhh…"

"Cppkkk…mmmhhhh"

"Yun-ahhhh…"

"Jae….nngghhhh…"

DOR!

To be continue ;)

Puaaahh XD limabelas halaman, 2.8k+ words, chapter terpanjang ._.

Bagaimana?

Ini hanya FF ringan, mungkin tidak akan ada konflik (angst mood : off xDv), hanya YUNJAE scenes. Tapi mungkin juga ada konflik, entahlah. Yang sudah reviews, saya ucapkan TERIMAKASIH :D apa yang bisa saya lakukan untuk anda? :') #plakk

R.H.E.I.N.

13.05.13

Present~

THE ARCHER (Lamp Light)