R.H.E.I.N.

25.05.13

Present~

THE ARCHER (Lamp Light)

DON'T LIKE? KEEP READ!

Casts : YJ and the gank

Rated : T

Disclaimer : I own nothing except the story

Warning : BL, YAOI, OOC, typo. NO PLAGIARISM.

NB : There's some content I brought from novel 'Love the One You're With' by Emily Giffin.

(yang tanya 'DOR' itu apa, 'DOR' itu suara TBC wkwkw)

(Imagine Yunho and Changmin in Taxi reality show, Jaejoong in Heaven's Postman movie)

Yakinkan dia, buat dia menjadi milikku.

JJ

.

.

.

Yunho menjilati bibirnya yang basah karena salivanya maupun saliva Jaejoong. Entah apa yang ada dalam pikirannya, seringai di bibir tebalnya tercetak jelas. Jaejoong bergidik.

Posisi tangan kiri Yunho masih menempel erat dan Yunho semakin mengeratkan pelukannya, membuat tubuhnya dan tubuh Jaejoong menempel erat. Dielusnya punggung 'istri' cantiknya tersebut.

"Jae…" tak sanggup Jaejoong mendongakkan wajahnya barang sesenti, jarak mereka sangat dekat dan nyaris bersentuhan. Sepoi angin bukit mendinginkan kulit wajahnya yang terasa hangat.

Tangan kanan Yunho membawa kepala Jaejoong bersandar di bahu tegapnya.

Batin Jaejoong berkecamuk. Kepalanya semakin tersuruk dalam dekapan Yunho. Kelebatan memori beberapa hari kebelakang tervisualisasi jelas di benaknya.

Pesan singkat dari Kim Yoonjung –appanya.

Pernikahan mendadak antara dirinya dan Yunho.

Yang bahkan Jaejoong tak tahu wujudnya.

Yang bahkan tak terselenggara secara resmi.

Yang bahkan tidak terselenggara secara fisik.

Dan kini…Yunho menciumnya. Ciuman pertama, first kiss.

Jaejoong bukan anak baru besar yang sedikit tabu untuk membicarakan hal ini. Umurnya 25 tahun kini. Bukan cukup dewasa, tapi sudah matang dan benar-benar dewasa.

Sudah saatnya untuk berkeluarga.

Dihadapannya, masa depannya, suaminya.

"Jae?"

"Nng?" Jaejoong mengerjap tersentak, keluar dari imajinasi pribadinya, berkat tepukan pelan Yunho di bahunya.

"Are you okay?"

"Yeah, as you can see."

"But you look pale…"

"I'm okay, seriously," Jaejoong tersenyum kecil. Antara ingin meledak dan memukul kepala Yunho. God's sake! Wajah Yunho terlalu dekat!

"Let's go home now, kka!" Yunho melepas tautan mereka dan berbalik, berjalan menuju mobil yang terparkir agak jauh di bawah bukit.

"Yunho…"

"Ne? Ah mian, ayo!" menyerngit bingung, namun akhirnya kembali berjalan ke arah Jaejoong, menggenggam tangan 'istri'nya tersebut dan kembali berjalan.

"Berhenti…"

Yunho berhenti. Tangannya masih saling menggenggam dengan jemari putih Jaejoong.

Nada suara Jaejong…

Mengetuk satu bagian hati Yunho.

"What's going on? Hmm?"

"Tentang kita…"

"…"

"Aku serius Yunho…"

"…"

"Kau, dan aku. Bukankah semua ini terlalu cepat? Aku bukannya membencimu…tapi baru hari ini aku melihat sosokmu, begitupun dirimu,"

"…"

"Jujur, aku belum pernah terlibat dalam hubungan secara serius. Aku belum terbiasa…"

"…"

"Maafkan aku…"

"…"

"Yunh-"

"Dengarkan aku."

Yunho menangkup wajah Jaejoong dan membawanya mendongak, sehingga mata bertemu mata.

Mereka sudah dewasa, dan dalam ikatan pernikahan kini. Bukan main-main.

"Mari sama-sama berusaha. Aku dan dirimu."

"Yunho…"

"Benar, kita baru bertemu hari ini, pagi ini. Ayo kita mencoba Jae, kau dan aku. Mulai dari awal. Kita bersama. Kau mau?"

"Yunho…aku…aku…aku ragu aku akan menjadi istri yang baik untukmu…"

"Aku janji aku akan membantumu. Bagaimana?"

"Baiklah…"

"Good!"

"Kita harus beradaptasi," debat Jaejoong.

"Ciuman tadi…termasuk dalam proses adaptasi kan?" goda Yunho sambil terkekeh geli.

"Yunho! Apasih!" Jaejoong menggeram kesal digoda begitu oleh Yunho.

"Kkaa! Istriku mulai marah, aku harus membelikannya makan kalau begitu." Ucap Yunho kembali menarik tangan Jaejoong menuju mobil mereka.

"Yunho!" Jaejoong melepas genggaman tangan Yunho dan menatap namja bermata musang tersebut dengan intens. Yunho yang ditatap begitu mengernyit bingung.

"Ada apa lagi?"

CUP!

Jaejoong mendekati Yunho dan berjinjit, mengecup sekilas bibir 'suaminya' tersebut dan berjalan cepat mendahului Yunho sambil menutup mulut dengan punggung tangannya, malu.

"JAE! Yak! Jung Jaejoong!"

.

.

.

"Jae, kau tad-"

"Yunho berhenti! Aku mau beli gula-gula di sana,"

"Aku tadi tidak menger-"

"Yunho, aku haus…menepi sebentar ya, aku beli coffee dulu…"

"Jung Jae-"

"Yunho, indicator bensin sudah di merah tuh, belok kiri, kita beli bensin dulu,"

"Jaejoong…"

"Yunho, kita ke kafe Ookii saja ya? Aku ingin beli tamago sushi"

"Jae…"

"Di sana ocha nya enak sekali, kau pernah coba?"

"Berhenti menyelaku atau kau kucium lagi." Yunho menepikan mobilnya hingga kini ia bisa focus berbicara dengan Jaejoong.

"Ada apa denganmu?" tanya Yunho.

Cklek!

Bruk!

Jaejoong membuka pintu mobil dan kembali masuk di bagian jok belakang, sedang Yunho mengernyit bingung.

"I-itu…"

"Apa?"

"Yunho! Kau membuatku malu!"

"Apa? Kau bahkan belum bercerita apapun padaku,"

"That was my first kiss. Oh, for God's sake…"

"Then?" sungguh tak mengerti. Ada apa dengan ciumannya? Apa tidak memuaskan? –batin Yunho.

"Yunho please…I'm sorry, but it's little hard to me. Bisa kita mulai semuanya dari dasar?" Jaejoong menatap Yunho memohon.

Mungkin ini yang disebut syndrome-after-marriage? Atau apalah itu namanya. Jika tak terbiasa dengan sebuah hubungan romance, dan tiba-tiba terjebak –sengaja atau tidak sengaja, dalam sebuah hubungan seserius per-ni-ka-han. Akan terjadi suatu gap. Tidak semua pasangan merasakan, but Jaejoong falling to this area…

"Apa yang kau inginkan?" tanya Yunho berusaha sabar.

"Kita berteman dulu…" hening…Jaejoong mengatur otaknya agar bisa mengatakan sesuatu yang tidak menyakiti Yunho.

"Tidak masalah."

"Jinjjayo?!" hampir terpekik girang Jaejoong. Tak ada raut marah di wajah Yunho. Justru terlihat sedikit acuh tak acuh, entahlah. Bebannya sedikit terangkat. Ada waktu untuknya beradaptasi. Berdasar keluhan colongan dari kakak sepupunya –Taeyeon, kewajiban istri dalam suatu hubungan rumah tangga tak kalah besar. Tantangan terberat adalah bagaimana membuat suami betah di rumah. Jaejoong berpikir, dengan apa?

Masak? Ia bisa, namun bukan ahlinya. Hanya makanan-makanan biasa.

Menata rumah? Yah, itu bisa dilakukan bertahap.

Menjadi teman ngobrol? Err…Jaejoong sedikit pendiam pada dasarnya.

Melakukan sesuatu yang menyenangkan? Apa?

Membaca buku? Itu hobi Jaejoong. Untuk Yunho? Jaejoong tak yakin.

Berkebun? Jaejoong suka. Yunho? Jaejoong makin tak yakin dengan background keluarga Yunho yang dengan imperium menjamurnya.

"Baiklah! Kita pergi ke restoran! Kita makaaan…jaa Yunho, terserah kau saja mau makan di mana," Jaejoong menyandarkan punggungnya di sandaran jok belakang. Terlewat olehnya sekelebatan wajah sedih Yunho. Tak ada kata yang terucap.

.

.

.

Schőnnen Boutique

Mengamati tiap lipit jahitan dengan teliti. Biar merk terkenal, kesalahan bukannya mustahil. Plakat tak terlihat yang tertulis di dahi Jaejoong sebagai direktur muda majalah fashion Hamptons dan Platform, sedikit banyak mempengaruhi pandangan dan seleranya mengenai fashion.

Baju menunjukkan seberapa tinggi strata seseorang, bukan? Tidak harus mahal bermilyar-milyar. Setidaknya modelnya harus pas dengan bentuk badan dan serasi dengan wajah si pemakai.

Schőnnen Boutique bekerja sama dengan majalah Hamptons-nya, hingga tak sulit bagi Jaejoong menemukan jas formal yang ia inginkan.

Memasuki ruang fitting khusus dengan menenteng dua jas berwarna hitam polos dengan aksen putih dan sebuah jas semi formal berwarna putih dengan ribbon bulu tipis di bagian tengkuk hingga dada.

"Seungmi-ah! Bawakan jas untuk Yunho-sshi. Paket nomer tujuh dengan stempelku…"

"Kau hubungi Yoohyun saja, mungkin ada di ruangannya. Kutunggu sekarang juga di tempat fitting."

Klik!

Jaejoong memutus sambungan telepon dan menoleh kepada Yunho.

"Yunho-ah, tunggu lima menit, bajumu akan segera datang. Jaa, aku masuk dulu."

"Aku temani," goda Yunho.

"Tidak. Kumohon Yunho…okey?" pinta Jaejoong, dan Yunho mengangguk.

.

.

Sekitar tujuh menit, dan Jaejoong keluar dalam balutan jas formal berwarna hitam. Yunho mengangguk-angguk mengamati.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Jaejoong. Yunho mengangguk sekilas.

"Kau terlihat tampan," jujur Yunho.

"Jaejoong-sshi, nuguseyo?" Mooyi menyenggol Jaejoong –Mooyi yang membantu Jaejoong di dalam ruang fitting tadi.

"Kami teman." Jawab Yunho jelas. Padat.

Menoleh cepat pada Yunho, apa yang kau katakana? Rengutan di kening Jaejoong terbalas gedikan bahu oleh Yunho. Aku mengikuti permainanmu Kim –seolah mereka benar-benar bisa ber-telepati melewati gerakan mata.

"Hosh…hosh…hosh…Jaejoong-sshi, ini yang kau minta." Ujar seorang yeoja berambut cepak, mengangsurkan sebuah kotak medium berwarna coklat keemasan.

"Kamsahamnida Seungmi-ah!"

"Ania, gwaenchanha. Sedikit merepotkan bekerja sama dengan Hamptons magazine ya, direkturnya begitu cerewet dan sangat teliti. Modelnya saja harus ada tes kepribadian, huu…" Seungmi melemparkan sebuah pony tail (ikat rambut) ukuran sedang dengan ribbon pink kemerahan pada Jaejoong.

"Nice shoot Seungmi! Terima kasih atas pujiannya." Jaejoong menimang jepit pink yang dilempar Seungmi, namun diambil alih oleh Yunho –Jaejoong tak ambil pusing.

"Ahya, kapan kau kembali ke New York?"

"Seminggu dua minggu lagi mungkin. Why?"

"Beritahu aku Mr. Kim, aku harus melakukan riset ke Hamptons Boutique juga. Okay, nan kka!" Satu bonus kedipan dari Seungmi untuk Jaejoong. Hanya ditanggapi senyum kecil, Seungmi is his another step-another-sister made by Kim Jaejoong.

"Jaejoong-sshi, masih ada satu stel pakaian lagi. Mau dicoba sekarang?" Mooyi menginterupsi dan diangguki Jaejoong.

Sepuluh menit kemudian…

Sedikit lebih lama dari jas semi formal yang tadi, karena Jaejoong harus memakai sebuah kemeja dan dasi sebelum dilapisi jas berbahan beludru hitam.

Factor penerangan yang cerah sedikit kuning remang –khas butik, membuat Jaejoong terlihat begitu elegan dan glamour.

"How?" pantulan Jaejoong dalam sebuah cermin seukuran manusia menjadi pusat Yunho. Terlihat bagus, sangat bagus.

"Bagus. Kau tampan."

"Ada kata lain lagi Mr. Jung?" bukan Jaejoong over percaya diri, kata 'tampan' tidak pernah lepas darinya.

"Sebenarnya aku ingin kau memakai gaun ini di pesta besok malam…di resepsi perkawinan kita…" sengaja Yunho berbisik di telinga Jaejoong. Supaya pegawai disana tidak dapat mendengar.

"Gaun…ga-gaun? Gaun apa?" sesaat rasa tawa ingin meledak dari perut Jaejoong. Face-lost-the-soul sesaat terpatri di wajah Jaejoong. Istilah kerennya, cengo. What the hell-shit-damn-crazy Yunho think about!

"Ini…" Jaejoong sampai tak memperhatikan sebuah gaun merah yang disampirkan ditangan Yunho –kini terbentang jelas dihadapannya.

Warnanya merah darah. Cocok untuk sebuah pesta malam. Sesuailah dengan harga yang tertera, gaun itu terlihat glamour.

Terbuat dari kain satin merah mengkilat dengan kain jaring berenda mawar merah sebagai luaran dan rangkaian bunga mawar hitam kecil di mengelilingi bagian pinggul juga tepi atas bagian dada membentuk suatu tali yang melingar di bagian leher.

Bagian bawah akan terlihat berisi karena lembaran sifon halus. Sepaket dengan sarung tangan panjang dari bahan kain jaring yang mencapai atas siku – juga dengan aksen bunga mawar hitam.

Yunho maju mendekati Jaejoong dan mengepaskan gaun tersebut. Curiga dengan Yunho, karena panjangnya terlihat pas ditubuh Jaejoong.

"Kau ingin aku memakai ini?" tanya Jaejoong sarkastik.

"Ya, tentu saja. Lihat, selain tampan kau juga manis…dan terlihat cantik." Ujar Yunho, jujur.

"Baka! Baka! Baka! Kau pikir aku yeoja? Boku wa otoko desu!" melotot. Jaejoong melotot. Apa-apaan?

[aku seorang lelaki!]

"Wakari Jae…demo, anata wa kirei de kawaii desu."

[aku tahu Jae…tapi kau itu cantik dan imut]

"Aku tidak mau Jung Yunho…" nada bicara Jaejoong menurun. Ia tidak ingin bertengkar.

"Setidaknyaa cobalah dulu…" bujuk Yunho. Jaejoong keukeuh.

"Aku bukan perempuan Yunho…aku tidak menggunakan gaun. Aku laki-laki, aku mengenakan jas. Okay?" Jaejoong berusaha sabar. Mengambil gaun itu dan memberikannya pada salah satu pegawai di sekitar merekaa.

"Tolong kembalikan. Maaf, kami tidak membeli yang itu," ucap Jaejoong manis kemudian maid tersebut tersenyum maklum dan menjauhi mereka berdua.

"Kenapa? Kau kan istriku. Memang harus aku yang memakainya? Ayolah Jae…aaku akan saangat senang melihatmu memakai itu."

"Yunho, ak-"

"Kau tahu Jae…aku memesan gaun itu. Aku tidak membelinya di took gaun atau butik manapun. Aku memesaan langsung pada designer-nya. Aku sangat berharap kau suka dengan model simple seperti itu…aku yakin akan cocok dan kau akan terlihat cantik. Kumohon Jae…" Jaejoong menghela nafas mendengar penuturan Yunho.

"Tidak masalah akan terlihat seperti apa aku nanti Jung Yunho! Aku-seorang-lelaki. Camkan itu. Aku bukan perempuan…selamanya aku tidak mau mengenakan pakaian perempuan! Kau membuat hatiku sakit Jung Yunho!"

Yunho terhenyak.

"Sesimpel apapun modelnya! Aku menghargai kau memesan gaun tersebut. Tapi bukan gaun! Demi Tuhan Yunho…apa kau menyesal menikah denganku yang seorang namja?"

Jaejoong menarik nafas dalam-dalam.

"Kau menyesal menikah dengan ku yang seorang laki-laki? Apa kau sebenarnya memang ingin menikah dengan perempuan?"

"Jangan kau pikir dengan statusku sebagai 'bawah' atau istri atau 'uke' –atau apapun itu sebutannya, lalu kau memaksaku untuk memakai pakaian wanita!"

"Aku laki-laki dan aku punya harga diri. Jika kau mau, kau saja yang pakai."

Manik mata Jaejoong berkilat marah. Badannya tegang, mengeluarkan segala unek-unek di hatinya. Cukup sudah kaget –meski akhirnya menerima –bahwa ia menjadi 'istri'. Dan kini Yunho malah memperlakukannya seolah-olah dia wanita. Apa Yunho menyesal menikah dengannya?

"Aku tidak bermaksud begitu!"

"Tidak tersurat memang, tapi tersirat dengan jelas!"

"Bukan itu maksudku Jae! Aku hanya-"

"Hanya apa? Memang itu yang kau inginkan. Sudah kukatakan kita butuh adaptasi, mungkin harus dari jarak yang lumayan jauh." Tegas Jaejoong.

"Apa maksudmu!?" Yunho beteriak.

"Kau merusak mood-ku Jung Yunho! Terserah kau saja! Aku tidak mau pakai gaun itu!"

"Aku tidak memaksamu Kim!" balas Yunho.

Mereka bukannya sedang berteriak-teriak layaknya pasangan sedang adu mulut yang tak terkendali. Hanya berupa desisan tajam.

"You forced me Jung!"

"No, I'm not!"

"Whatever! I don't care anymore. Bring me back to my parent!" final Jaejoong.

Tap tap tap tap!

Yunho memandang punggung Jaejoong yang melangkah keluar meninggalkan sekantong kertas belanjaan berisi dua stel jas yang tadi Jaejoong pesan –tentunya juga meninggalkan Yunho yang masih mematung di tempatnya.

Salah kalau dia ingin Jaejoong memakai gaun? Toh statusnya memang istri.

Sret~

Yunho menyambar kantong kertas belanjaan Jaejoong dan berjalan menuju basement. Di sana Jaejoong sudah menunggu.

Setidaknya Jaejoong tidak membuatnya repot dengan pulang sendiri. Ia nanti yang akan terkena masalah –pikir Yunho.

"Ini," Yunho mengangsurkan kantong belanjaan tadi.

"Trims."

"Kita pulang sekarang?"

"Um,"

Apa ia terlalu keterlaluan? Reaksinya terlalu berlebihankah? Tapi sungguh harga diri seorang laki-laki bukan permainan.

Membenarkan diri sendiri bahwa ia butuh lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan keadaan. Selama ini menyandang status bergender 'laki-laki' lalu tiba-tiba harus dalam posisi 'istri', siapa yang tidak kaget?

Harusnya ia jalani saja apa adanya. Tapi kembali lagi dari factor seorang Yunho di sampingnya, yang belum ia kenal.

Sekelebat pemikiran mengganggu benak hingga terasa sedikit sakit. Pernikahan ini, haruskah tetap dijalankan?

Baru berjalan dua hari.

Resepsi baru di gelar besok malam. Seandainya sekarang berakhir, tidak akan terjadi gempa besar kan? Toh pernikahan ini memang belum diumumkan.

Dalam diam, Ferrari putih metalik meluncur mulus keluar dari kompleks mall di sepanjang jalanan padat kota Seoul.

Sungguh Yunho memilih telinganya dipenuhi jeritan atau teriakan Jaejoong atau ocehan Jaejoong –tentang apapun. Merasa berada sendirian di dalam mobil bersama sebuah raga tak berjiwa.

Mengurut kening perlahan. Yunho pusing!

Bagaimana ia harus bersikap? Pada keadaan biasa mereka yang terlibat masalah dengannyalah yang memohon-mohon atau setidaknya berinisiatif berusaha mengembalikan keadaan.

Apa aku terlalu berlebihan memaksa Jaejoong? Sepantasnyalah istri menuruti kemauan suami, kan? Toh itu juga bukan hal yang buruk.

Seharusnya Jaejoong menurut padanya!

Sisi egois Yunho menekan-nekan sisi lapang hatinya.

Ferrari tersebut berdecit pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah begaya era Victoria di Inggris.`

"Terimakasih Yunho."

"Tidak mengapa,"

"Kau…tetap akan dating nanti malam kan?" Tanya Jaejoong hati-hati.

"Aku-"

"Aku benar-benar minta maaf Yun…saat ini aku belum bisa menjadi pasangan yang baik untukmu. Aku butuh waktu…" ujung kaos teremat oleh jemari Jaejoong. Sungguh ia tak ingin mengecewakan Yunho.

"Kita jalani saja dulu."

"Kau benar…"

"Maafkan aku karena terlalu egois. Bukan maksudku menyakiti atau merendahkan harga dirimu. Maaf…sampai-sampai tadi aku berpikir untuk mengakhiri hubungan ini…" pandangan Yunho masih lurus ke depan.

"Maaf…maaf…"

"Sshhh….tidak apa…tenanglah…" Yunho meraup Jaejoong dalam dekapannya. Mengelus punggung namja androgini tersebut dan menepuk puncak kepalanya pelan…menenangkan.

Tidak ada air mata yang keluar –tumben sekali, padahal Jaejoong termasuk manusia sensitive. Terkadang perasaan sedih memang seharusnya disalurkan dalam bentuk air mata.

"Aku mengecewakan…" Jaejoong memeluk badan tegap Yunho. Memeluknya erat.

"Sudahlah…"

"…"

"Jae, tatap aku…"

Jaejoong mendongak. Mata bertemu mata.

"Mari kita lakukan yang terbaik. Aku menyayangimu…"

Cup!

Pelukan Jaejoong berpindah pada leher Yunho. Mencari posisi nyaman dalam tautan mereka kali ini.

Direngkuhnya pinggang ramping Jaejoong semakin erat menempel pada tubuhnya.

"Mmh…."

Menciumi dan mengecup seluruh permukaan kissable lips Jaejoong.

"Nghhh…"

Satu desahan panjang Jaejoong lolos.

Diantara mereka berdua belum mampu membuka mata dalam keadaan seperti itu. Rasanya terlalu meletup hingga akan pecah seandainya dilakukan dengan mata terbuka.

Mereka menikmatinya.

R.H.E.I.N.

25.05.13

TBC

THE ARCHER (Lamp Light)

Update!

Dan…terlambat -_-

Saya sibuk Dx

Maaf jika mengecewakan~

Terimkasih sudah membaca. Salam dan peluk hangat dari sayaa

Reviews reply :

Yaya : yeah you're right. Maybe just 'soul-conflict' ._. wwkkw gatau deh, liat nanti. Mafkan atas segala typo u.u yang sam Sabrina itu JJ, bukan YH :))

Himawari Ezuki : thanks :) sesasi dong kissing di kuburan ._. #plak thanks yaaaa

meybi : wataknya YH berasa spontan gitu ya -_-v trims sudah review

Yaya 2 : iyaaaa lupa nyantumin footnote -_- Mutter : ibu [JM].

KimYcha Kyuu : DOR itu suara TBC Xdv trims sudah revieww :)

Youleeta :it's okay! Benarkah? Waaah~ saya jadi tersunjang ._. doakan moga sampe end! Wkwkw triims!

Vea : ah, you're welcome. Hehe...kadang bahasa jaman anak dulu(?) lebih puitis #apadeh. Vea-sshi sering" gabung sama anak muda deh kalo gitu wkkwkw trims

ichigo song : hai nee-chan! XD ya begitulah...as phenomenal couple wkwk yaa begitulah. Gimana sih rasanya gabisa wujudin keinginan orang tua..apalagi ortunya udah wafat...trims nee-chan! ^_^

CheftyClouds : ceritanya kurang jelas ya? ._. jadi mereka itu sudah menikah waktu JJ di NY oleh appanya JJ. Mereka menikah tanpa bertemu. Cerita lengkapnya mungkin bisa dilihat lagi di chap 1 :)

Eni oppa :

-maf typo, yang benar 'know'

-oh begitu. Haha, yaahh intinya sama dengan 'keep on person object'lah ._.v

-tidak sih, tapi bisa iya juga. Ada sedikit arab~

terimakasih oppa atas perbaikannya~ hehe kurang teliti nih.

YunHolic : iya, JJ dilamar YH...eonni kapan? (?) wkwkwk

Vic89 :wkwkwk iya bener eon...makasih yaa

gdtop : itu suara 'TBC' -_-v wkwk terimakasihhh