R.H.E.I.N.
14.07.13
Present~
THE ARCHER (Lamp Light)
DON'T LIKE? KEEP READ!
Casts : YJ and the gank
Rated : T
Disclaimer : I own nothing except the story
Warning : BL, YAOI, OOC, typo. NO PLAGIARISM.
NB : There's some content I brought from novel 'Love the One You're With' by Emily Giffin.
(Imagine Yunho and Changmin in Taxi reality show, Jaejoong in Heaven's Postman movie)
Yakinkan dia, buat dia menjadi milikku.
JJ
.
.
.
Kamuflase.
Semuanya kamuflase.
Sebenarnya tidak semuanya.
Tapi sebagian besar.
Jadi sebenarnya ini kamuflase bukan sih?
-aku, Kim Jaejoong yang sedang pusing.
Send!
Pik!
1 unread message
.
Dasar labil.
Umur sudah mau kepala tiga, ingat udah punya suami.
Trus punya anak, nanti cucu.
-Jung Yunho yang baru bangun tidur.
Bangunnya limabelas tahun lagi bisa?
Send!
Pik!
1 unread message
.
Keburu monopouse.
Dasar nyeleweng! Batin Jaejoong dalam hati.
Tak ambil pusing ah, orangnya tidak di sini. Mau dilemparin piring juga percuma.
Ponsel putih touch screen Jaejoong mendarat mulus di atas bantal brown nude-nya. Bibirnya mengerucut lucu. Dipikir mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan pada Yunho bisa sedikit menenangkan pikiran kalutnya.
Dilihat dari sela-sela gorden jendela, tidak ada awan, langit cerah. Bentang biru yang begitu luas. Masih lumayan subuh, jadi tidak panas. Tapi dua jam lagi pasti panas. Malas keluar!
Sabtu yang cerah, maunya pergi jalan-jalan. Pakai outfit yang kemarin diperagakan model di majalah Hamptons, pakai kacamata hitam besar, skinny jeans. Berkendara pakai BMW pinjam ke appa menuju Myeongdong.
Segelintir planning jalan-jalan Jaejoong.
Terlalu sering memperhatikan kondisi alam membuat Jaejoong sedikit banyak tahu tentang gejalanya.
Langit cerah tanpa awan bagus, bawaannya ceria. Tapi siang nanti pasti panas. Dan aku tidak mau mengambil resiko!–batinnya.
Sehabis mandi, pakai baju santai, Jaejoong turun ke bawah. Masih sepi. Hellyea, it's just 6 a.m.
Tugas pertama maids dari Jaejoong : menyiapkan peralatan alias tetek bengek ocha–teh Jepang, yang biasanya ada di chanouyu–tempat minum teh.
Dan membawa itu semua ke gazebo–rumah kayu–yang berada di halaman belakang. Sejak sampai di Korea, Jaejoong hampir tak punya waktu untuk dirinya merilekskan pikiran. Apalagi kalau bukan karena pernikahan–dan Yunho.
Gulp.
Perasaan Jaejoong segera tidak enak.
Pagi-pagi udah nongol di otak, malam aja bisa, kan? –rutuk Jaejoong.
Plak!
Jaejoong menepuk dahinya sendiri. Kelihatannya ia sendiri yang mulai sudah tak waras.
Gom semariga hanjibe isseo!
Appa gom~
Eomma gom~
Aegi gom!
Appa gomeun dungdunghae….
Yunho calling….
Pik!
"Heeung?"
"…"
"Tidak."
"…"
"Aku sedang di LA."
"…"
"Nanti sore pulang."
"…"
"Anggap saja kau tidak tahu aku berbohong!"
"…"
"Kau tahu, sebentar lagi seluruh dunia akan tahu aku….milikmu. Maka dari itu aku ingin menggoda para single untuk yang terakhir kalinya."
"…"
"Neeee…neee…naega, michin nom. Seem you married wrong man."
"…"
"Aku serius, aku sedang di LA sekarang…"
"…"
"Tidak! Tidak Yunho…kumohon~ aku butuh untuk diriku sendiri."
"…"
"Aku di LA."
"…"
"Anggap saja aku benar di LA!"
"…."
"…."
"…."
"Jangan salahkan aku jika nanti aku mengacuhkanmu. Terserah."
Pik!
Puwaaaahhhh!
Jaejoong menggigit kain serbet dengan kesal. Minta disumpahin apa sih Jung Yunho itu? Keras kepala banget!
Fiuuuuuuhhhh…healing….un healing…menarik nafas dan membuangnya perlahan. Lumayanlah pernah belajar dari Ellen sedikit tentang yoga, sedikit mengurangi emosi.
Pelan-pelan menyendokkan matcha–sejenis the hijau, lalu menuangkan air panas menggunakan hishaku–alat yang digunakan untuk menuang air panas–ke dalam chawan. Setelah itu dipindah ke mangkuk keramik.
Jaejoong meniup pelan dan menyeruputnya perlahan. Pahit memang, tapi inilah letak khasiatnya.
Baru saja merasakan kenikmatan, dan seseorang pembawa kecanggungan datang. Mr. Jung Yunho.
Cepat sekali datangnya? Pasti nelpon tadi sudah di depan rumah. Pikir Jaejoong.
Dilihat dari penampilan, orang pasti ragu jika orang ini punya kartu kredit di dompetnya. Lusuh dan berantakan.
Training hitam yang mbulak alias usang, dan kaos abu-abu yang banyak lubang kecilnya, terlihat terlalu sering dipakai dan dicuci–pikir Jaejoong.
Tapi persepsi kembali berubah melihat kacamata hitam yang membingkai wajahnya. Ditambah wajahnya yang arogan-jung-yunho-punya. Ganteng. Jaejoong kesal, wajahnya androgini. Hell.
Jalannya menunduk, menunduk pakai banget. Di geplak sedikit pasti sudah jatuh tersungkur.
"Hai Jae,"
"Hai mood breaker."
"Maunya nggak kesini, tapi malas di rumah. Taulah emak-emak kalau sudah riweuh semuanya diikutin riweuh. Kok di sini masih sepi? Appa sama umma belum bangun?" celoteh Yunho yang langsung berbaring di tatami sebelah Jaejoong dengan kaki menggantung.
Pakai sandal boneka pula! Namja macam apa kau ini Jung Yunho?
"Sandalnya bagus, beli di mana?" tanya Jaejoong yang nggak nyambung.
"Hadiah dari Lizey."
"Crazy -_-. Memang ada apa sama eommamu Yunho? Ellen masih tidur tuh. Nyiapin yang nanti malam yah? Itu memang tugasmu bukan sih?" kata Jaejoong, dibalas dengusan dari Yunho.
"Harusnya kalau resepsi begini pihak istri yang ngurusin." Kali ini cibiran Jaejoong,
"Dih, yang mau resepsi siapa coba? Aku sih nggak pakai ya nggak masalah."
"Sama. Yang mau ya para orang tua itu. Biar mereka yang repot." Ujar Yunho mengiyakan. Dan menyamankan tubuhnya, menutup mata dengan lengan. Sepertinya mencoba untuk terlelap.
"Jung…."
"Hmm…."
"Jung?"
"Hn.."
"Jung…?"
"…."
"Dasar!" inginnya dibiarkan, tapi kesal jugaa dibiarkan sendiri.
Ide jahil lewat, Jaejoong mendekati Yunho…lalu menjentikkan jarinya mengenai adam's apple alias jakun Yunho.
Cetakkk!
"Nggaahhhh! Aww!"
"Mppftttt…."
"Anjr*ttt!"
"Yunho-ah, wae?" Jaejoong terlihat tergopoh-gopoh demi melihat Yunho yang mengerang kesakitan. Acting.
"Apa itu tadi?" tanya Yunho segera bangun.
"Ini, tak sengaja futaoki–alas hishaku yang berbentuk seperti gelas kecil–milikku terjatuh di atas jakunmu…mianhae…" bohong besar.
"Alasan, kau mengganggu tidurku. Hhhh~" dengus Yunho berat, dan Jaejoong tidak membela diri, justru makin terkikik.
"Aku tidak mau punya suami pemalas. Jam segini masih molor. Apa jadinya perusahaan nanti?" kata Jaejoong.
"Aku tidur molor begini Jung's imperium sudah begitu besarnya. Bagaimana kalau aku tidak molor? Bisa-bisa saham Hamptons dan Platform magazine kubeli seratus persen." Kelakar Yunho sambil terkekeh. Didekatinya Jaejoong, mengamati apa yang tersedia di meja kecil itu.
"Whoaaaaa nodate!–upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan–. Apa tersedia sencha?–another kind of tea–" tanya Yunho.
"Tidak, hanya ada matcha." Jawab Jaejoong.
"Penonton kecewa…"
"Mau kubuatkan segelas Yunho?" tawar Jaejoong.
"Boleh…"
.
.
.
"Bagaimana dengan agency entertainment mu?" Tanya Ellen.
"Agency AKB48 baru saja menandatangani kontrak dengan perusahaan kami. Mungkin tiga bulan lagi grup idol sister AKB48 akan debut eomonim," jawab Yunho.
"Oppa-ya! Apa aku boleh ikut? Kau kan kakak ipar yang baik…aku cantik juga pintar menyanyi. Boleh aku bergabung?" celetuk Lizey mendekati Yunho dan bermanja pada salah satu lengan kekar Yunho. Jaejoong risih.
"Menjauh dari Yunho Lizey sayang, Yunho tidak bisa makan kalau kau begitu." Timpal Jaejoong.
"Geumanhalle, kan Jae eonni bisa suapin Yunho oppa, bweeee~" Lizey malah kedip-kedip genit ke arah Yunho. Jaejoong mendelik.
[I don't care]
"Malas. Beruang segede gini masa disuapin?" acuh Jaejoong. Makin kesal karena Lizey memanggilnya 'eonni'.
"Kalau tidak mau biar Lizey aja yang suapin Yunho oppa,"
"Cha Yunho, ini bulgoginya." Jaejoong memilih mengalah dan menyumpitkan beberapa potong bulgogi ke dalam mangkuk Yunho.
"Memang nama grupnya apa Yunho?" Tanya Mr. Kim nimbrung.
"JYH48 appanim…"
"WHAT? JYH48? BUWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA" tertawa terbahak tanpa terkendali. Jaejoong memegangi perutnya yang sakit karena banyak tertawa. Air matanya mengalir sedikit karena tidak tahan. Apa-apaan? JYH48? Jung Yun Ho fourty eight?
Jaejoong tidak bisa membayangkan Yunho memakai hot pink lingerie dan menari Heavy Rotation.
Beberapa saat kemudian saat tawa Jaejoong mereda plus kerutan yang semakin dalam di dahi Jung Yunho kembali seperti asal.
"Jaejoongie sayang…masa kau masih memanggil Yunho dengan namanya saja begitu? Yang mesra…yang so sweet gitu." Seketika Jaejoong sweat drop. Ellen malah berkata seperti itu. Seperti ada puluhan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.
Jaejoong mencuri pandang pada Yunho yang asik makan.
Yunho menoleh, 'apa?'
"Kami sudah nyaman dengan panggilan seperti ini. Bukan begitu Yunho-ya?" nada bicara Jaejoong melembut. Sambil memandang Yunho dengan penuh kasih sayang. Biar tidak ditanya macam-macam lagi!
"Ah, iya…uhuk!" Yunho tersedak. Jaejoong panik dan segera menyodorkan segelas air putih.
"Hati-hati kalau makan." Tutur Jaejoong menepuk-nepuk punggung suaminya tersebut.
"Ah, mesra sekali…meski sering terlihat bertengkar, tapi kalian ada sisi romantis yah? Kalau begini aku tidak khawatir kalian tinggal satu apartemen nanti…." Celoteh Ellen menangkupkan dua tangannya, bahagia.
"A-ah…kami…"
.
.
.
"Aku tidak mau tinggal satu apartemen denganmu."
"Menurutmu aku mau?"
"Jadi?"
"Entahlah."
"Lebih baik tinggal di rumahmu saja kalau begitu." Kata Jejoong.
"Sama saja, nanti kita pasti disuruh tidur satu kamar." Timpal Yunho.
"Mending begitu. Setidaknya kita tidak benar-benar berdua…"
"Memang kenapa sih? Kelihatan kau takut sekali denganku."
"Pantaslah aku takut. Wajahmu menakutkan, ber-aura pervert pula," dengus Jaejoong.
"Biasanya orang memujiku tampan. Kau perlu operasi lasik Jung Jaejoong."
"Aku tidak salah lihat. Kumis dan janggut tipismu sangat mengerikan. Sudah berapa lama terakhir bercukur?" Tanya Jaejoong merebahkan dirinya di kasur. Mereka sedang di kamar Jaejoong setelah pamit dari meja makan-pagi tadi.
"Sebulan dua bulan mungkin. Aku lupa. Yang begini ini namanya macho…" dengan percaya diri Yunho berpose di depan cermin human-size Jaejoong.
"Iya, mantan chowok…hahahahaha. Aku tidak suka lelaki berkumis." Kekeh Jaejoong kegelian. Yunho mendengus dan beranjak ke kamar mandi.
Jaejoong tak ambil pusing dengan kekesalan Yunho dan mencoba untuk melelapkan tidurnya…sampai…
"Jhiiijuung…!"
Oh?
"Jeiiijuuungiiii!" Jaejoong tergopoh ke kamar mandi mendengar Yunho memanggil namanya dengan suara yang aneh.
"Ada apa?"
"Inhiii…" Jaejoong melongok dan mendapati sekitar mulut Yunho yang tertutup foam putih untuk bercukur dan cukur itu sendiri berada di tangan kanannya.
"Aku tidak terbiasa menggunakan cukur manual. Punyaku otomatis. Bagaimana menggunakannya?" melas Yunho.
"Kau mau bercukur?" Tanya Jaejoong polos.
"Memang kau lihat aku sedang akan bercinta?"
PLAKKK!
Sebuah gelas plastic berwarna hijau terbentur telak di kepala Yunho. Yunho meringis.
"Dasar mesum!"
"Bantu aku bercukur!"
Jaejoong mengambil alih cukur di tangan Yunho, lalu beranjak ke westafel dan duduk di sana, membelakangi cermin.
"Mendekatlah," ujarnya pada Yunho. Jaejoong membuka kakinya lebar agar badan Yunho bisa lebih dekat. Meski bajunya lusuh, Jaejoong dapat merasakan aroma manly-nya.
Jaejoong bisa mengidentifikasi parfum yang digunakan Yunho. Ascendant Eau de Toilette. Maskulinitas abadi terpancar dalam Ascendant, wewangian yang melambangkan energy dan sensualitas. Keharumah wewangian yang menghanyutkan ini diawali sentuhan bergamot dan cardamom yang mengalir ke aroma tarragon. Keharumannya diakhiri dengan aroma vanilla yang menginterprestasikan wewangian klasik oriental….
Jaejoong memejamkan matanya, merasai betul efek parfum dan aroma tubuh Yunho sendiri. Jaejoong tahu betul parfum high class salah satu sponsor fashion magazine nya, Hamptons.
"Aku bisa memelukmu agar kau bisa menikmati aromaku sepuasmu Jaejoongie…." Suara baritone yang berat dan terkesan mendesah membuat hatinya bagai menciut dan berdebar di waktu bersamaan. Rasa sakit dan geli yang indah.
Pletak!
Satu jitakan tercipta di jidat Yunho.
"Katanya mau bercukur." Jaejoong poker face, mengabaikan aduhan Yunho dan jantungnya yang berdebar keras.
Yunho menurut saja ketika Jaejoong menarik kerah depan kaos abu-abunya. Tinggi badannya yang lebih pendek membuat Jaejoong duduk di atas westafel agar bisa sejajar.
Agar lebih nyaman Yunho meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri Jaejoong. Menumpukan berat badannya agar tidak memberati Jaejoong. Dibiarkannya Jaejoong perlahan mencukur dan mengilangkan foam putih yang ia gunakan tadi.
"Jangan mengamatiku seperti itu. Kau bisa jatuh cinta." Omel Jaejoong, jengah.
"Percaya diri sekali kau? Salah sendiri berada pada jangkauan pandanganku." Balas Yunho.
Jaejoong mendengus pendek plus pout lucu.
"Selesai! Yeeey!" kata Jaejoong girang.
"Trims,"
"Yaaa menjauh dari tubuhku Jung Yunho!"
Bukannya menjauh, Yunho malah menyudutkan Jaejoong sehingga ia makin memundurkan badannya.
"Gimme sweet kiss, Jung Jaejoongie…" pakai suara berat lagi! Merinding jadinya -_- batin Jaejoong.
"Hanya sweet kiss, ok! Lidahmu nggak usah ikut-ikut, geli tau!" pout Jaejoong, dan mengundang tawa Yunho.
"Itu namanya seni berciuman. Yasudah, aku kulum sama lumat bibir kamu aja yahh…" Yunho memulai dirty talk.
Plak!
Jaejoong memukul kepala Yunho.
"Mau ciuman aja berisik, tadi ka…"
Cup!
"Mmmhhhh…"
Yunho menyerang Jaejoong. Ia menempelkan bibirnya pada bibir plum Jaejoong dan menekannya kuat. Seketika Jaejoong mengalungkan lengannya pada leher kekar Yunho. Kakinya yang menggantung kini melingkar pada pinggang Yunho.
Yunho menggendong Jaejoong menuju kasur dan merebahkannya di sana. Seperti janji Yunho, ia hanya mengulum bibir atas dan bawah Jaejoong secara bergantian. Suara decakan terdengar jelas.
"Ngghhh…Yunho…"
Tautan terlepas, Yunho mengusap dagu Jaejoong yang terdapat saliva.
"Aku mau bibir bawahmu lagi," ujar Jaejoong seductive. Sebelum Yunho sadar, Jaejoong sudah menyambar bibir bawah Yunho. Dan mereka berciuman panas lagi.
Hampir sepuluh menit berlalu….dan….
"Jaejoongie…Yunho…sudah belum ciumannya? Eomma mau bicara sebentar. Ehem!"
Yunho dan Jaejoong seketika melepaskan pagutan dalam keadaan sweat drop.
"Maaf aku lancang masuk, tadi kamarnya tidak dikunci sih." Elak Ellen berdalih, terkikik kecil melihat keduanya salah tingkah.
"Eeung…eomonim…ada apa?" Tanya Yunho.
"Nanti malam kan resepsi kalian…dress code nya glamour red. Jadi…kuharap kalian sudah siap sedia untuk pakaian. Sudah ya, eomma tinggal dulu. Lain kali kalau berbuat jangan lupa dikunci. Kalau Lizey lihat lagi bagaimana? Kalian hot tau nggak sih? Hehe," Ellen keluar dari kamar Jaejoong sambil cengengesan, Jaejoong mengkerut -_-
"Aku tidak ada baju warna merah…" rengek Jaejoong.
"Pakai gaun yang waktu itu aja Jae…eotte?" tawar Yunho.
"Gaun? Kau masih mau memaksaku Jung Yunho? AKU TIDAK MAU. TITIK."
"Yasudahlah…aku tidak memaksamu. Kalau tidak mau yasudah…baiklah, aku pulang dulu. Sampai jumpa nanti malam."
Cup~
Yunho mengecup sekilas cherry lips Jaejoong yang membengkak kemerahan akibat ulahnya tadi.
R.H.E.I.N.
14.07.13
TBC
THE ARCHER (Lamp Light)
