Chapter 2
Military Head Quarter, Wall Rose
Jean's POV
Pertanyaan itu pun terjawab 2 hari kemudian…
Dari wilayah Trost di Wall Rose, para Pasukan Penjagaan melaporkan bahwa terjadi serangan Colossal Titan yang telah menjebol dinding dan mengirim masuk para Titan lain. Terror pun dimulai, kengerian pun mulai dirasakan oleh para penduduk di kota.
"Kalian telah lulus menjadi prajurit sejati. Sekarang tunjukkan kepada semua orang bahwa kalian adalah prajurit pemberani yang siap berperang demi mempertahankan negeri ini! Bergabunglah dengan Pasukan Penjagaan di barisan tengah!"
Seruan salah seorang petinggi Pasukan Penjagaan membuat gentar hati para prajurit baru. Melihat teman-temanku jadi ketakutan, aku pun jadi terbawa suasana. Apa yang harus kulakukan? Ikut dengan perintah? Atau memilih tinggal di markas dan menjadi pasukan cadangan? Ketakutan melandaku, kecemasan menguasaiku. Kedua tanganku menggenggam erat gagang pedang yang masih kuletakkan di selongsongnya. Eren bahkan membentakku, menyuruhku ikut berperang dan melawan rasa takutku.
Sialan, dia memang banyak omong!
"Ya sudah, aku ikut perang! Kau pergilah duluan, Eren. Aku perlu mengisi tabungku dulu," aku melengos begitu dia selesai menceramahiku dengan omelannya.
Di dalam markas, semua prajurit sibuk mempersiapkan diri mereka untuk berperang. Tidak sedikit di antara mereka yang akan maju berperang dalam keragu-raguan. Hidup dan mati mereka ditentukan hari ini. Aku pun demikian. Jika aku berhasil selamat dalam peperangan, maka aku akan meneruskan langkahku ke jajaran Polisi Militer.
"Jean! Sebelah sini!" Marco memanggilku dari bagian pengisian tabung gas. Aku berlari menghampirinya. Aku memperhatikan kedua tangannya gemetar saat hendak mengisi gas di tabungnya.
"Kau…baik-baik saja, kawan?" tanyaku.
"Err…ya, eh…tidak sebenarnya," jawabnya tanpa melihat kepadaku.
"Cih! Kemarikan tabungmu, Marco! Kau pergilah mengambil pedang. Ambilkan juga untukku," aku langsung menyambar tabung yang dipegang Marco.
"Jean…" dia menatapku cemas.
"Kau dan aku pun merasakan hal yang sama. Tapi aku tidak mau berlarut-larut dalam keadaan ini. Lupakan sejenak ketakutan kita. Kau dan aku akan berada dalam satu barisan, Marco."
"Benarkah aku akan berada di barisan yang sama denganmu, Jean?" dia terlihat sedikit bersemangat setelah aku berkata demikian.
"Ya, kita akan berada dalam satu barisan. Cepat ambil pedangmu. Jangan lupa punyaku."
"Tunggu aku, Jean! Aku segera kembali!" dan dia pun langsung berlari ke ruang perlengkapan untuk mengambil pedang.
Aku mencoba menyemangati diriku sendiri dengan menyemangati orang yang paling dekat denganku. Bukan Eren, bukan Mikasa, bukan Connie, tetapi Marco. Sejak tergabung di Akademi Militer, dialah orang yang membantuku menyeimbangkan emosiku. Dia itu bodoh, dan hanya menurut kata-kataku. Tetapi dia adalah orang yang paling sukses menenangkanku jika aku sudah sangat emosional. Kadang dia lebih berani dan lebih bijak daripada aku. Membawa dia dalam barisan bersamaku, bisa menjadi penolong tersendiri untukku.
Setidaknya, menjadi penolong mentalku yang terkadang naik dan turun…
Peperangan di Trost begitu mengerikan. Para prajurit disebar ke beberapa titik dan bertindak di bawah arahan Pasukan Penjagaan. Mental mereka belum begitu mantap menghadapi para Titan. Tidak sedikit dari mereka yang mengalami kegagalan. Korban berjatuhan di mana-mana, tidak ada yang bisa menghalau para Titan masuk lebih dalam.
Bahkan pasukan di mana Eren bertugas pun, semuanya mati…
Dia pun dikabarkan mati…
Armin menceritakan bagaimana Eren dan teman-temannya tewas dalam peperangan. Ini pun segera menurunkan mental prajurit lain. Sebagai prajurit baru, Eren mempunyai pengaruh cukup besar. Mengetahui dia mati, semua orang pun lantas tidak punya lagi semangat untuk berperang. Armin adalah satu-satunya yang tersisa dari pasukan itu.
Mendengar hal ini, Mikasa yang dilanda kesedihan, langsung menyulut semangat para prajurit yang sudah patah arang. Dia bergerak sendirian melawan para Titan. Entah kenapa, aku pun terdorong untuk membantunya. Dia seorang perempuan, dan dia begitu berani. Sedangkan aku seorang laki-laki. Bagaimana mungkin aku begitu pengecut dan meratapi nasibku di sini? Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau berada dalam ketakutan ini!
"Semuanya! Ikuti Mikasa! Kita pergi ke markas bersama-sama!" aku nekad berseru demikian karena ketakutan ini semakin menguasaiku. Jika aku tidak melakukan sesuatu, aku bersumpah akan menjadi orang paling menyedihkan di dunia ini. Ketika aku melompat pergi, orang yang ikut melompat bersamaku adalah Marco dan Connie.
"Jean! Kau teruskan perjalanan ke markas!" seru Connie dari samping kananku. "Aku akan mendampingi Armin mencari Mikasa."
"Apa?! Aku ikut denganmu, Con-" aku baru akan meneruskan kata-kataku ketika laki-laki berkepala botak itu mencegahku mengikutinya.
"Jangan bodoh! Kau yang akan pimpin pasukan ini ke markas! Kami butuh kekuatanmu, Jean!" dan dia pun membelok mengikuti Armin.
Kepalaku mendadak penuh. Tetapi aku tidak punya waktu berpikir. Orang-orang di belakangku akan mengikutiku terus sampai ke markas. Yang menjadi masalah adalah aku tidak tahu apakah kami bisa selamat sampai tujuan, atau tidak. Kenyataannya, setiap kali kami melompati gedung, aku mendengar satu orang prajurit berteriak karena diserang Titan.
"Tidaaak!" itu teriakkan prajurit pertama.
"Kyaaa! Seseorang, tolong aku!" kemudian prajurit kedua.
Prajurit ketiga…
Keempat…
Dan seterusnya…
Aku terpaksa menghentikan pergerakkanku karena ketakutan itu kembali menguasaiku. Aku bahkan tidak bisa menghentikan para Titan memakan teman-temanku. Pasukan yang kubawa semakin berkurang. Entah berapa orang lagi yang bisa kubawa dengan selamat.
"Tidak mungkin…" aku jatuh berlutut, kedua tanganku masih menggenggam pedangku. Kedua mataku tertuju kepada sekelompok Titan yang begitu asyiknya menikmati badan rekan-rekanku. Jeritan terdengar di sana dan sini.
"Bagaimana ini? Kita semua akan mati di sini…"
"Kita tidak bisa lanjut ke markas…"
"Matilah kita di sini!"
Semuanya sudah berputus asa. Mereka bergantung pada perintahku. Kami tidak lagi punya pendamping senior dari Pasukan Penjagaan. Mereka mati lebih dulu. Dan yang kami punya adalah satu, yaitu suaraku untuk memimpin. Aku harus mengambil keputusan. Entah ini benar atau tidak, yang penting aku harus melakukan sesuatu. Setidaknya, untuk diriku sendiri!
"Sekarang saatnya! Mereka tidak akan melihat kita! Ayo bergerak!" sekali lagi aku memberanikan diri mengeluarkan perintah kepada rekan-rekanku. Aku terus melompat, begitu pula rekan-rekanku yang lain menyusul di belakangku. Para Titan itu terpusat di satu tempat, mereka tidak akan tahu kami pergi meninggalkan mereka.
"Jean!" aku mendengar Marco memanggil namaku. Laki-laki berambut gelap itu kemudian berlari di sampingku.
"Terima kasih, Jean!" katanya. "Berkat perintahmu, aku bertahan hidup!"
"Hah?" aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.
"Kau cocok jadi seorang pemimpin, Jean! Kau benar-benar seorang pemimpin!"
"Hmph! Diamlah, Marco. Berhenti memujiku. Urusan kita masih banyak. Ayo melompat denganku!"
"OK!"
Pandanganku terus tertuju ke menara-menara tinggi markas. Aku tidak akan menoleh ke belakang apa pun yang terjadi. Beberapa lompatan lagi, aku akan tiba di sana. Aku akan selamat, aku akan menyelamatkan diriku sendiri dan teman-temanku.
"Hiyaaaaaaaaaa~!"
PRANG!
Tubuhku yang sudah lemas ini menghantam kaca berteralis salah satu gedung markas. Aku jatuh terguling di lantai. Hal yang kupikirkan pertama adalah bahwa aku berhasil! Kemudian aku perlu menunggu siapa orang yang akan menghantam kaca berteralis ini berikutnya. Aku sangat berharap semuanya masuk, semuanya selamat.
Demi Tuhan! Semuanya harus selamat!
PRANG!
Orang berikutnya yang kulihat masuk adalah Marco. Begitu dia mendarat di lantai, aku berlari dan memeluknya. Kaki kami tidak bisa lagi menopang tubuh yang sudah lelah ini, akhirnya kami jatuh berlutut di lantai. Tubuhku gemetar memeluknya, dia pun sama gemetarnya denganku
"Marco…Marco…!" aku mendekapnya erat dan tidak ingin melepaskannya.
"Jean, ada apa?" dia pun mendekapku balik.
"Berapa orang…yang selamat, Marco?" tanyaku, gemetaran. "Berapa orang…? Oh, aku tidak bisa…"
"Jangan bahas itu sekarang, Jean," jawab Marco, menenangkanku. "Kau yang bilang, urusan kita masih banyak. Ingat?"
"Mereka mati, sepanjang mereka mengikuti perintahku. Aku tidak menyuruh mereka mati. Tetapi karena perintahku, mereka mati. Apakah tindakanku benar, Marco?"
"Sssh…sudahlah, kita bicarakan itu nanti. Berdirilah, Jean. Ayo," kedua tangan Marco memegang pundakku. Dia menatapku sambil tersenyum. Dadaku terasa sesak melihatnya tersenyum.
Pecahan kaca berikutnya menandakan orang-orang yang berhasil menyelamatkan diri. Bertholdt, Reiner, Annie, Sasha, dan setidaknya ada 8 orang lainnya selamat. Dari balik bahu Marco yang bidang, aku memperhatikan orang-orang ini.
Ancaman para Titan belum berakhir. Sampai ketika Mikasa, Connie, dan Armin ikut masuk ke markas, mereka membawa kabar mengejutkan. Ada Titan yang bertindak tidak normal, tidak membunuh manusia melainkan membunuh sesama Titan. Berkat itulah ketiganya selamat. Ini tidak masuk akal sebenarnya. Tetapi Mikasa, sebagai prajurit terbaik, membuktikan bahwa dia berhasil selamat berkat tingkah aneh Titan satu itu.
Semua orang di sini pun mempercayai cerita Mikasa, Armin, dan Connie mengenai Titan aneh itu. Dengan mengandalkan kekuatannya, kami yang berada di markas mempunyai banyak waktu untuk mengumpulkan kekuatan. Tabung-tabung kosong kami kembali terisi. Pedang-pedang kami yang sudah rusak sudah diganti dengan yang baru. Dengan begini, kami siap kembali ke medan peperangan.
"Hey Marco. Jangan sebut aku pemimpin," aku berbicara dengan Marco di bagian pengisian gas. Tiba-tiba saja, hal ini terlintas di kepalaku. "Aku ini egois, kau tahu?"
"Itu kan menurutmu, Jean," katanya dengan santai.
"Aku serius, aku tidak bisa menjadi seorang pemimpin."
"Jean, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi janji, kau tidak boleh marah."
"Apa?"
Marco mengambil tabung milikku yang kupegang di satu tanganku. Dia mengisinya, sambil berbicara padaku. "Kau itu lemah. Kau tidak sekuat yang kupikirkan. Tetapi dengan demikian, kau bisa tahu apa rasanya menjadi orang lemah."
Kata-katanya membuatku terdiam sejenak, "Apa hubungannya kelemahanku dengan kemampuanku memimpin pasukan, Marco?"
"Ketakutan dan kelemahanmu yang kemudian mendorongmu membaca situasi di saat genting," tabungku yang kedua pun diisinya. "Kau langsung tahu apa yang harus dilakukan. Lalu kau mengambil keputusan yang kemudian diikuti oleh semuanya. Akulah orang pertama yang ikut perintahmu."
"Bagaimana kau percaya dengan keputusanku, Marco? Bagaimana jika aku salah memimpin kalian?" tanyaku tidak begitu yakin.
"Aku selalu yakin kau itu benar, Jean. Kesalahan bukan berarti kegagalan. Dan aku membuktikannya darimu," Marco menyerahkan tabung itu kepadaku kemudian berdiri. "Mulai sekarang, aku sudah bertekad. Aku akan selalu mengikutimu."
Aku seperti mendapat pencerahan begitu mendengar Marco berkata demikian, "Benarkah kau akan selalu mengikutiku, Marco?"
"Ya, tentu saja," jawabnya dengan tegas. "Aku tidak peduli kau berada di bawah jauh dari Mikasa atau Eren. Mereka memang hebat, tetapi kau berbeda, Jean. Makanya aku lebih memilih untuk berada dalam satu barisan denganmu."
"Hmph…kau ini," aku mendengus tertawa. "Baiklah, mau dengar perintahku selanjutnya, Marco?"
"Ya, Jean!"
Aku menarik keluar pedangku, begitu pula dengan Marco, "Ayo kita berperang bersama-sama. Kau akan berada di sampingku. Kita lawan semua makhluk berbokong besar itu supaya bisa bertahan hidup!"
-to be continue-
Chapter 3 coming up next!
