Chapter 3
Trost District, Wall Rose
Jean's POV
Titan yang bertingkah aneh itu ternyata dikendalikan oleh Eren Jaeger. Peperangan di Trost kemudian dihentikan sementara karena Komandan Besar Pasukan Penjagaan, Dot Pixis, tengah merancang sebuah rencana gila untuk mengalahkan para Titan.
Para prajurit di minta kembali ke markas untuk mempersiapkan diri sambil menunggu perintah dari Komandan Pixis. Perlengkapan perangku masih dalam kondisi baik, jadi aku tidak perlu kembali ke sana. Aku berada di salah satu jalanan kota, bersama teman-temanku yang lain. Aku melihat sendiri bagaimana tubuh kecil Eren keluar dari tengkuk Titan setinggi 15 meter itu. Aku bukanlah satu-satunya orang yang melihat. Karenanya, aku, Reiner, Bertholdt, dan Annie diperintahkan oleh seorang petinggi Pasukan Penjagaan untuk tidak menceritakan hal ini kepada yang lain. Armin, Mikasa, dan Eren sekarang sedang dalam proses introgasi.
Dan aku tidak mau membayangkan apa yang sedang terjadi dalam proses itu…
Tidak jauh dari tempatku duduk, aku melihat Marco sedang berusaha menenangkan salah satu rekannya yang mulai panik dan takut. Dia berusaha sebisa mungkin menyuruh orang itu diam, tetapi nampaknya prajurit pengecut itu semakin termakan dalam ketakutannya. Aku menghampiri Marco dan mengajaknya pergi menjauh.
"Biarkan saja," kataku sambil mengajaknya duduk bersamaku. "Percuma kau buat dia tenang. Begitu ada perintah, dia akan menjadi orang pertama yang lari dari barisan."
"Apa kau tidak khawatir kita akan kekurangan orang untuk berperang, Jean?" tanya Marco sedikit cemas. Dia meremas-remas kedua tangannya.
"Jika aku ditugaskan memimpin pasukan, aku hanya perlu orang-orang pemberani untuk berperang denganku. Aku tidak butuh pengecut macam Dazz," jawabku tegas.
"Kau benar, kita tidak punya cara lain kecuali meyakinkan diri sendiri mengikuti misi ini."
Dazz bukan satu-satunya orang yang dilanda ketakutan. Prajurit lain pun sebenarnya sudah mulai jera dengan peperangan ini. Sementara aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Bukannya aku tidak peduli. Semakin dipikirkan, yang ada nanti aku akan berubah menjadi gila seperti Dazz. Yang aku tahu, bahwa tugasku belum selesai. Aku tidak akan bisa duduk tenang jika misi ini belum selesai, tidak bisa tenang seperti Marco yang sekarang kulihat sedang mengeluarkan secarik kertas dan pensil dari saku jaketnya.
"Kau bawa itu sepanjang peperangan ini, Marco?" aku memandangnya heran. "Kau benar-benar kurang kerjaan."
"Ahahaha…habisnya aku tidak punya cara lain untuk menenangkan diri, Jean," katanya sedikit tersipu.
"Aku berharap suatu hari kau mengizinkan aku membaca salah satu isi gulungan kertas itu. Ah, jangan bilang botolnya kau bawa juga!" tiba-tiba saja aku terpikirkan hal ini.
"Bagaimana aku membawa botol sementara 3D Maneuver Gear ini sudah membebaniku, Jean?" katanya sambil menunjuk 2 kotak berbahan logam ringan di pinggangnya. "Kertas ini akan kusimpan. Selesai perang, nanti kumasukkan ke dalam botol."
"Kau aneh, Marco. Aku berharap kau benar-benar bisa tenang setelahnya. Kalau kau panik, aku yang akan kerepotan menenangkanmu nantinya."
"Aku sudah lebih tenang sekarang, Jean," katanya sambil menggulung 3 kertas itu lalu dimasukan ke dalam saku jaketnya. "Karena aku akan mengikuti perintahmu."
"Tsk! Bahas itu lagi, aku akan marah!" aku membuang pandanganku ke arah lain, walau sebenarnya tujuanku adalah tidak ingin Marco melihat wajahku yang sedikit merona karena kata-katanya barusan.
Komandan Pixis lalu menyerukan perintah. Dia berseru dari pinggiran dinding, didampingi Eren. Dia menceritakan singkat apa tugas Eren di misi selanjutnya. Begitu tahu Eren bisa merubah dirinya menjadi Titan dan akan ikut turun dalam misi ini, para prajurit pun langsung dilanda kepanikan dan ketakutan sekali lagi. Komandan Pixis memerintahkan semua prajurit untuk menghalau para Titan yang akan mendekati Eren dan mengacaukan rencana ini. Meski sudah diperintahkan untuk tidak memberikan perlawanan, hawa kengerian pun mulai menguat dalam diri setiap prajurit.
Aku mendengar ada yang tidak mau turut serta dalam misi ini. Orang lain pun ada yang terpengaruh. Gumam rasa takut pun mulai terdengar di mana-mana. Aku melihat Marco mencoba menenangkan Dazz lagi. Karena tidak tahan melihat tingkah pengecut satu itu, aku menyeruak di antara kerumunan prajurit lain dan menarik Marco bersamaku.
"Jean, sebentar-" Marco berusaha melawan, namun aku tidak membiarkannya.
"Kau hanya akan buang-buang energi menyuruh si bodoh itu diam, Marco!" tukasku cepat.
"Tapi, Jean…"
"Sudah diam! Kau di sini saja denganku!" aku membentaknya, sambil tidak melepaskan genggaman tanganku darinya.
"Jean…tanganmu…oh, kau baik-baik saja, Jean?" tanya Marco, dia terdengar cemas.
Baik-baik saja? Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja dalam situasi seperti ini? Aku sadar sepenuhnya bahwa tanganku gemetar menggenggam tangan Marco. Orang-orang di sekitar kami semakin meracau dan tidak bisa disuruh tenang. Satu orang petinggi Pasukan Penjagaan mulai naik pitam dan akan membunuh siapa saja yang berani meninggalkan barisan. Hampir terjadi keributan di sini, sampai akhirnya komandan Pixis mengeluarkan pernyataan yang menggugah hati para prajurit.
"Aku akan memaafkan siapa pun yang mau meninggalkan barisan," serunya dengan lantang. "Pergilah, jika kalian memang takut berhadapan dengan para Titan. Aku izinkan kalian pergi, jika memang kalian ingin orang-orang tersayang kalian yang menjadi korban dalam kengerian ini!"
Seketika itu, barisan pun kembali sempurna. Orang-orang yang tadinya sudah hendak meninggalkan barisan, kembali lagi dan mulai bersiap untuk berperang.
Sinyal asap warna hijau mulai ditembakkan ke udara. Misi penyelamatan ini sudah mulai dilaksanakan. Sementara Eren mengerjakan tugasnya, para prajurit lain pun mulai disebar di beberapa titik penting di seluruh kota. Eren tidak boleh terganggu oleh ulah para Titan yang ingin memakannya. Para prajuritlah yang akan menghalau para Titan agar tidak mendekat kepadanya. Kami tidak harus melawan, hanya perlu menarik para Titan ke satu sudut tertentu. Mereka akan tertarik melihat sekelompok manusia, dan semoga saja rencana ini berhasil dijalankan.
Aku dan pasukanku mulai bergerak menghalau para Titan yang harus diarahkan ke dinding. Kami diperbolehkan berada di daratan, tetapi harus segera naik ke atap atau langsung ke dinding jika para Titan sudah mengikuti pergerakkan kami.
"Cepat, Connie! Melompatlah dan ikuti Annie!" aku menolong Connie yang mencoba menghalau Titan setinggi 10 meter. Dia lalu melompat ke dinding bersama Annie.
Titan itu kemudian mengikutiku. Aku menarik keluar pedangku dan akan menyerangnya. Ketika aku hendak menarik pelatuk mengeluarkan kawat baja, tiba-tiba alat itu tidak berfungsi. Kawatku tidak keluar. Tidak hanya satu sisi, melainkan kedua sisi alat ini tidak berfungsi. Titan ini mengejarku, dan ketambahan satu lagi.
"Sial! Kalian benar-benar menyebalkan!" aku tidak punya pilihan kecuali tetap berlari menghindari kejaran mereka. Tubuh mereka besar, dan pergerakkan mereka lamban. Aku bersyukur mereka bukan tipe yang agresif. Secepat mungkin aku menyelamatkan diriku dengan masuk ke salah satu rumah dan sebisa mungkin tidak terlihat oleh mereka.
"Di saat seperti ini, alatku rusak! Dan orang lain menunggu perintahku!" keluhku sambil bersandari di dinding rumah. Aku harus cepat bertindak. Aku tidak boleh selamanya berada di sini dan sembunyi.
Dari balik jendela, aku mengintip keluar. Satu Titan sedang mencariku, dan di sisi lain aku melihat tubuh seorang prajurit yang sudah mati. 3D Maneuver Gear miliknya masih terpasang di pinggangnya. Aku tidak tahu bagaimana kondisi alat itu. Tetapi jika aku sendiri tidak menggunakan alatku, maka aku akan mati di sini.
"Cih! Peduli setan dengan Titan itu!" ketika melihat Titan itu pergi menjauh, aku langsung keluar dari rumah dan secepatnya melepas 3D Maneuver Gear milik prajurit yang sudah mati ini.
Semua kait sudah kulepas, tetapi masih tidak bisa kutarik dari pinggangnya. Alat ini bisa rusak jika kutarik paksa, "Grrr…! Ayolah, aku tidak punya banyak waktu!"
"Jean!" aku mendengar suara seseorang memanggilku. Begitu aku menoleh ke belakang, aku melihat satu Titan tengah mendekatiku. Dilanda kepanikan, aku hampir tidak bisa fokus dengan urusanku sekarang. Kotak-kotak berbahan logam ringan ini tidak mau lepas juga.
"Tenanglah, Jean! Biar kuurus satu ini!" tepat ketika 3D Maneuver Gear ini lepas, aku melihat Marco melompat turun dan mengalihkan perhatian Titan itu dariku.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan, Marco?!" seruku sambil memasang alat ini di pinggangku.
"Sudah cepat pakai alatmu! Ikut aku!" Marco memancing Titan itu menjauh, dan aku pun mengikutinya.
Connie dan Annie juga ikut membantuku dan Marco melewati masa sulit ini. Kami berempat langsung melompat dan kembali ke dinding. Badanku masih gemetar karena panik dan takut. Aku hampir gagal dalam urusanku. Tetapi teman-temanku nekad membantuku. Padahal posisi mereka sudah aman.
"Kalian benar-benar gila!" seruku.
"Kau juga gila, Jean!" bantah Connie.
"Apa?!" bantahku balik.
"Kau hanya perlu memanggilku atau Connie, atau Annie saat itu. Tidak harus semuanya kau urus sendiri, Jean. Itu berbahaya!" Marco pun ikut menasehatiku.
"Grr…! Sudah diam! Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Hey, lihat itu!" tiba-tiba Annie mengalihkan perhatian kami.
Titan Eren terlihat berjalan membawa batu besar di jalanan kota. Batu itu bahkan lebih besar dari tubuhnya, tetapi dia cukup kuat mengangkatnya. Apa yang dilakukan si bodoh itu sampai baru sekarang menjalankan tugasnya? Pasti terjadi sesuatu, dan aku akan menendang bokongnya jika aku tahu dia bermasalah saat menjalankan tugasnya.
Kami tetap harus menghalau para Titan agar tidak mengganggu tugas Eren menutup lubang di Wall Rose. Semua pasukan diterjunkan tanpa terkecuali.
"Ayo, teman-teman! Kita tuntaskan pekerjaan ini!" aku memberi perintah kepada pasukanku. Kami sudah akan bergerak, sampai kemudian aku melihat Marco tengah dipanggil oleh salah seorang petinggi Pasukan Penjagaan. Selesai berbicara, dia lalu menghampiriku.
"Jean, maaf. Aku…" dia terlihat ragu-ragu. "Aku tidak bisa ikut pasukanmu."
"Apa?" kata-katanya membuatku terkejut. "Siapa yang menuruhmu tidak ikut pasukanku, Marco?"
"Aku diperintahkan mendampingi pasukan di wilayah Barat," jelasnya, dan dia terlihat cemas sekarang. "Banyak sekali Titan yang bergerak dari sana. Dan aku harus cepat. Mereka membutuhkan seseorang untuk mendukung pasukan mereka, Jean."
"Tidak…tidak…tidak boleh…" aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, karena tiba-tiba aku langsung mendekap tubuh Marco yang lebih tinggi dariku. "Tidak boleh! Kau tidak akan meninggalkan pasukanku, Marco!"
"Maafkan aku, Jean," suaranya terdengar lirih. "Karena di pasukan itu sudah tidak punya pemimpin, maka aku diminta bantuan untuk memimpin mereka di Barat."
"Aku melarangmu! Kau harus berada dalam barisan pasukanku, Marco!" aku semakin erat mendekapnya, dan suaraku terdengar gemetar.
"Jean, aku mohon izinkan aku…"
"Cih! Biar aku bicara pada orang yang memberimu perintah karena kau adalah bagian terpenting di pasukanku!"
"Tidak, Jean! Tidak perlu. Dengarkan aku," kedua tangan Marco pun akhirnya mendekap tubuhku juga. Aku mendengar dia berbicara di telingaku. "Aku akan tetap berada di pasukanmu setelah aku menyelsaikan tugasku yang satu ini."
"Marco…kenapa…" perlahan aku mulai melepaskan dekapanku. Kini aku bisa menatap wajahnya dengan jelas.
"Seperti yang kubilang, aku akan tetap berada di pasukanmu setelah aku menyelesaikan tugasku di Barat," jelas Marco, dan dia berusaha tenang. "Aku akan mengikuti langkahmu ke mana pun kau pergi."
Kedua tanganku masih tidak bisa lepas dari kedua lengan Marco, "Tidak…jangan…"
"Ayolah, Jean. Kau itu seorang pemberani. Kau pemimpin hebat! Lihat, pasukanmu sudah menunggu. Kau tidak boleh mengulur waktu lagi."
Orang-orang di belakangku tengah menunggu perintah dariku. Sementara aku masih larut dalam perasaanku yang aku sendiri tidak bisa mengendalikannya. Aku tidak takut dengan para Titan berbagai ukuran. Tetapi mendengar Marco akan meninggalkan barisanku, entah kenapa aku menjadi sangat ketakutan. Aku membutuhkannya, aku tidak bisa memimpin jika dia tidak ada di dekatku.
"Marco," kataku. "Kau bilang akan kembali ke pasukanku setelah kau menyelesaikan tugasmu kan?"
"Ya, itu pasti," jawabnya tegas.
"Aku akan memberimu perintah, Marco," sambil berkata begitu, aku menarik gagang pedangku dan melepas bilah pedangnya. Kemudian gagang itu kuarahkan ke salah satu bilah pedang Marco yang masih tersimpan di selongsongnya. Aku menarik keluar pedangnya.
"Apa yang kau lakukan, Jean?" tanya Marco tidak mengerti.
"3D Maneuver Gear yang kupakai sekarang telah kehilangan dua bilah pedang," jelasku. "Aku pinjam satu bilah pedangmu. Maka aku harus mengembalikannya kepadamu jika sudah selesai kupakai."
"Oh…" kedua matanya sedikit melebar.
"Dan yang perlu kau tahu," aku mengarahkan pedang ini kepadanya, "Aku harus mengembalikannya kepadamu. Bukan kepada anak buahmu, tetapi langsung kepadamu."
"…" dia terdiam dan mencoba mencerna kata-kataku.
"Perintahku ada dua. Tetaplah hidup, dan datanglah kepadaku untuk mendapatkan kembali pedangmu," demikian aku menjelaskan sambil menurunkan pedang ini ke sisi kanan tubuhku.
"Ya, Jean. Aku mengerti," dia tersenyum.
"Aku harap kau mengerti maksudku. Sekarang, pergilah. Pasukanmu juga sudah menunggumu."
"Sebelum pergi, izinkan aku, Jean…"
Marco tiba-tiba berlutut satu kaki di depanku. Kemudian dia mengangkat ujung pedangnya yang kupinjam tadi dan menciumnya sisi tumpulnya. Jantungku berdegup kencang melihat dia bertingkah seperti ini. Aku sampai tidak bisa menggerakkan tubuhku.
Dia kemudian berdiri, "Kemenangan atas umat manusia ada di tangan kita, Jean!"
Setelah itu, Marco langsung berlari dan bergabung dengan pasukan di Barat. Aku tidak boleh berlama-lama larut dalam kekalutanku. Aku pun harus segera bergabung dengan pasukanku sendiri. Titan Eren sudah bergerak mendekati lubang di Wall Rose.
Misi ini akan berhasil!
"Tetaplah hidup, Marco!"
-to be continue-
A/N : akhirnya sudah masuk chapter 3. Saya mesti delay dulu coz di kos gak ada PC ato laptop. Baru bisa lanjut hari Senin, sekalian ngetik sekalian post kalo udah jadi. Gomen kalo nunggu lama ^^a
Chapter 4 coming up next!
