Chapter 4
Trost, Wall Rose – after the hole sealed
Jean's POV
Lubang besar di Trost akhirnya bias ditutup berkat tindakan kooperatif Titan Eren membantu semua prajurit yang berperang di hari itu. Setelah melewati sekian lama masa sulit, akhirnya dia berhasil membawa batu besar untuk menutup lubang itu.
Peperangan masih berlanjut karena cukup banyak Titan yang bergerak masuk ke Trost. Pasukan Pengintai pun ikut bergabung dengan kami ketika itu. Berkat bantuan mereka, peperangan pun bisa diselesaikan dengan cepat. Aku dengar mereka pun berhasil menangkap dua Titan setinggi 4 dan 7 meter hidup-hidup untuk kepentingan penelitian. Wilayah Trost berhasil diselamatkan, dan peperangan pun berakhir. Kami kehilangan begitu banyak prajurit di peperangan ini. Korban tewas jauh lebih banyak dari yang terluka.
Tetapi dari sekian banyak orang yang terluka dan mati, aku tidak menemukan Marco di mana pun.
Sejak kami berada di pasukan yang berbeda, aku tidak pernah lagi melihat keberadaannya. Seingatku, dia ditugaskan ke barat. Namun ketika aku menyisir wilayah barat, aku tidak melihat dia bersama pasukannya. Aku tidak sempat mencari dia lebih lanjut karena pekerjaanku sendiri masih banyak. Kupikir aku akan menunggunya pulang ke markas. Aku yakin dia akan kembali ke markas begitu tugasnya selesai.
"Kau yakin sudah mencari dia sampai ke wilayah barat, Jean?" tanya Connie, ketika kami berkumpul untuk makan malam di ruang makan.
"Aku bahkan meminta tolong beberapa orang Pasukan Penjagaan untuk mencarinya." kataku sambil menegak habis minumanku. "Tetapi dia tidak berada di mana pun…"
"Mungkin dia belum bisa kembali ke sini karena harus mengurus segala sesuatunya di sana, Jean. Jarak dia ditempatkan dengan markas kita cukup jauh, kurasa."
"Aku akan mencarinya lagi besok pagi," kataku sebelum akhirnya meninggalkan ruang makan.
"Hey, Jean," aku mendengar Reiner memanggilku saat aku hendak pergi ke kamar tidur. Dia dan Bertholdt kemudian menghampiriku.
"Kusarankan kau pergilah ke bangsal rumah sakit," kata pria berambut pirang itu padaku. "Mereka akan memajang nama-nama korban terluka dan korban tewas-"
"Aku akan mencarinya ke wilayah barat!" tiba-tiba saja aku tidak mau mendengar saran dari Reiner. "Dia diperintahkan di barat. Mungkin sekarang dia sedang berada di markas Pasukan Penjagaan di sana. Dia terlalu lelah untuk kembali ke sini."
"Aku tidak ingin menduga yang tidak-tidak, Jean," kata Bertholdt agak ragu. "Tetapi Reiner benar, kau pergilah ke bangsal rumah sakit besok."
"Aku akan pergi ke sana jika pencarianku tidak berhasil," jawabku tanpa melihat keduanya.
"Jean, kau yakin Marco masih hi-" kata-kata Bertholdt kemudian dihentikan oleh Reiner. "Jangan tanya begitu, Bert!"
"Aku yakin dia masih hidup," kataku dengan tegas. "Aku punya hutang padanya. Aku harus membayar hutangku. Jika aku bertemu dengannya, aku hanya perlu menyeretnya kembali ke sini. Iya kan?"
Aku meninggalkan Reiner dan Bertholdt yang masih berusaha berbicara denganku. Aku tidak mau mendengarkan kata-kata mereka, atau siapa pun mengenai kemungkinan Marco masih hidup atau tidak. Aku yakin dia masih hidup. Aku harus meyakinkan diriku sendiri kalau si bodoh itu masih hidup. Andaikan dia berada di dekatku sampai akhir peperangan, aku tidak perlu merasa cemas seperti ini.
Tiba di kamar, aku sudah akan naik ke ranjangku dan beristirahat. Namun kemudian aku berhenti. Pandanganku tertuju kepada bilah pedang yang kuletakkan di ranjang Marco. Aku sudah membersihkan bilah pedang itu dari segala macam noda. Bilah pedang itu siap dikembalikan ke selongsongnya.
"Sial! Kau ke mana sih, Marco?!" kataku kemudian melompat turun dari pijakan tangga terakhir ranjangku. Karena kesal, aku menendang pinggiran tempat tidur Marco dan tak sengaja telah menjatuhkan sesuatu di bawah tempat tidurnya. Benda itu terguling dan keluar dari sana.
"Tsk! Kenapa bisa jatuh sih? Untung saja tidak pecah," aku pun memungut botol itu dan kuletakkan di tempat tidur Marco.
Botol ini digunakan Marco untuk menyimpan gulungan kertas yang berisi segala macam pikirannya. Dia bilang ini satu-satunya cara untuk bisa menenangkannya. Sampai sekarang, botol itu belum terisi penuh. Marco tidak pernah menulis lagi karena dia sibuk di luar untuk berperang. Seingatku, dia pernah menulis lagi dan menyimpannya di saku jaketnya. Itu berarti dia punya hutang kepada dirinya sendiri.
Aku sudah hendak membuka tutup gabus di botol itu, namun kemudian aku tidak jadi melakukannya. "Cih! Cepatlah kembali, bodoh! Kalau tidak, aku akan membuka paksa tutup botol ini dan membaca semua gulungan kertasmu!"
Alih-alih naik ke tempat tidurku sendiri, aku malah memilih tidur di tempat tidur Marco. Kutarik selimutnya sampai menutupi kepalaku, berharap malam ini cepat berlalu dan aku akan melakukan pencarian lagi besok pagi.
-000-
But things changed, suddenly…
Entah kenapa pagi itu aku memilih mengikuti saran Reiner dan Bertholdt untuk pergi ke bangsal rumah sakit. Di sana sudah ramai dengan para prajurit yang hendak mengunjungi teman-teman mereka yang terluka, atau mencari jenazah teman mereka yang gugur di medan perang. Bagaimana aku akan mencari Marco dari sekian banyak orang di bangsal berbau anyir darah dan lendir ini? Aku bahkan sudah menutup mulut dan hidungku dengan kain penutup wajah, juga melapisi tanganku dengan sarung tangan karet.
"Jean, kemarilah," tiba-tiba Connie mengajakku keluar dari bangsal. Dia menunjukkan padaku sebuah papan pengumuman yang diletakkan di pintu masuk bangsal.
"Apa ini, Connie?" tanyaku.
"Ini adalah nama-nama orang yang terluka dan meninggal saat peperangan kemarin. Kita berharap saja nama Marco ada di sini," jelasnya.
"Maksudmu Marco sudah mati, Connie?"
"Aku tidak bilang begitu, bodoh! Kau mencari dia kan? Ini adalah cara lain untuk mencarinya sementara kita belum diperbolehkan keluar untuk ikut menyisir bekas medan perang."
"Tapi, Connie…"
"Aku bantu mencarinya," katanya tegas. "Kau cari namanya di sebelah sini, sementara aku di sebelah sana. Teliti, jangan sampai terlewat!"
"Grr…jangan memerintahku!"
Aku mulai menelusuri satu per satu nama prajurit yang terpajang di papan pengumuman ini. Jariku bergerak turun, membaca baik-baik nama mereka dengan teliti. Aku sebenarnya tidak berharap nama Marco tercantuk di papan ini. Bersyukur jika aku menemukan namanya di list nama prajurit yang terluka. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksiku jika aku menemukan namanya di list nama prajurit yang meninggal.
Tidak…tidak! Aku yakin dia masih hidup!
"Aku tidak menemukannya, Jean. Bagaimana denganmu?" Connie kemudian menghampiriku lagi.
"Ya, aku juga tidak menemukannya. Mungkin dia masih berada di barat," kataku, masih penasaran.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku akan pergi ke kota," jawabku, kemudian meninggalkan Connie yang masih berada di bangsal rumah sakit.
Perlukah aku merasa lega? Entahlah, aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaanku sekarang. Aku tidak mau memikirkan kemungkinan terburuknya. Aku hanya perlu menelusuri semua sudut kota yang menjadi pertempuran berdarah kemarin. Aku tidak sendiri, ada beberapa prajurit lain yang ikut petugas medis berkeliling kota. Kami hanya berjalan kaki, karena akan lebih memudahkan pencarian ketimbang harus mengendarai kuda atau kereta.
Aku baru berjalan kira-kira 15 menit, kemudian bertemu dengan Reiner dan Bertholdt. "Kalian ikut juga?" tanyaku kepada mereka.
"Kami mau membantumu mencari Marco," kata Bertholdt. "Apa sebaiknya kita berpencar saja, Reiner?"
"Ya, kita berpencar," kata Reiner. "Kau baik-baik saja, Jean?"
"Hah? Memangnya aku kenapa, Reiner?" tanyaku agak sinis.
"Kau terlihat tidak bersemangat, kawan," Bertholdt yang menjawab. "Reiner, aku boleh mendampingi Jean?"
"Tidak, kau pergi saja dengan Reiner, Bert," aku menolak karena aku ingin mencarinya sendiri.
"Biar Bert menemanimu, Jean," ujar laki-laki berbadan besar itu sambil berjalan ke arah lain. "Nanti kukabari jika aku bertemu Marco."
Aku dan Bertholdt kembali menyusuri jalanan kota. Sesekali kami berhenti menarik keluar jenazah prajurit yang tewas dan tertimbun bangunan. Kondisi mereka sangat mengenaskan, bahkan ada yang anggota tubuhnya tidak lagi utuh. Setiap kali kami melakukan itu, aku selalu berdoa bahwa bukan tubuh Marco yang kuseret atau kuangkat. Sejauh kami berjalan, kami belum menemukannya.
"Aku akan melaporkan jenazah-jenazah ini kepada petugas medis di sebelah sana, Jean," kata Bertholdt. "Kau teruskan dulu."
"OK," aku membiarkan Bertholdt pergi dan meneruskan perjalananku.
Kurang lebih 10 sampai 15 jenazah yang terdata, dan tangan-tanganku sudah lelah menarik mereka. Aku tidak menemukan satu pun yang hidup. Aku tidak lagi bersemangat melakukan pencarian ini. Lebih buruknya, aku tidak menemukan Marco di mana pun.
Jean…
"Hm?" tiba-tiba aku tersontak karena ada hembusan angin dingin mengenai tengkuk dan telingaku. Aku bersumpah barusan angin tadi seperti bersuara dan menyebut namaku. Aku harap ini hanya perasaanku saja karena aku sudah mulai lelah.
Jean…
Sekali lagi angin berhembus, dan kali ini mendorongku untuk mengikuti ke mana arah hembusan itu akan membawaku. Aku berbelok di salah satu blok bangunan, dan akhirnya langkahku berhenti ketika melihat sesosok jenazah tergeletak bersandar di dinding rumah.
"Tidak…tidak mungkin…" aku bergumam sambil melangkah perlahan mendekati jenazah itu.
Aku hampir tidak bisa mengenali wajahnya karena sosok jenazah itu tidak utuh. Bagian dari ujung kepala sampai pinggangnya hanya tinggal separuh, sementara pinggang ke kakinya masih lengkap. Teapi kemudian bintik di wajahnya yang tinggal separuh itu membuatku mengenal siapa prajurit ini.
"Marco…kaukah itu, kawan?" aku sampai jatuh berlutut karena lemasnya. Jantungku seperti berhenti berdetak, kedua tanganku terasa lunglai di kedua sisi tubuhku. Perasaan dalam hatiku begitu bergejolak.
"Hey, Marco. Apa yang terjadi?" kedua mataku terbelalak, hampir terasa kering karena tidak mampu mengedip barang sekali atau dua kali. "Siapa yang…apa yang terjadi…oh tidak…"
"Jean, apa kau menemukannya?" aku mendengar Bertholdt berlari menghampiriku. "Aku sudah menyisir blok perumahan sebelah sana, tetapi tidak menemukannya."
"Ya…" jawabku, nada bicaraku terdengar gemetar dan sedikit tertahan. "Dia di sini, Bert. Ini dia…"
"Demi Tuhan…" dia terkejut.
"Marco…hey, kenapa diam? Hey…ini aku, Jean Kirschtein. Coba lihat aku, Marco…" aku mulai berbicara di luar kesadaranku.
"Jean, tenangkan dirimu," satu tangan Bertholdt diletakkan di punggungku.
"Bert, dia kedinginan. Ambilkan selimut. Siapa pun, ambilkan dia selimut. Aku mau membawanya pulang. Mana petugas medis? Dia perlu pertolongan. Bert-"
"Hentikan, Jean! Marco sudah mati! Dia bahkan tidak mendengarmu berbicara!" tiba-tiba suara Bertholdt menyadarkanku. Dia memegang kedua bahuku dan mengguncangnya. "Jangan terbawa perasaanmu!"
"Lepaskan aku!" aku menepisnya. "Siapa bilang dia sudah mati?! Dia memanggil namaku barusan! Lihat, dia hanya kelelahan dan perlu istirahat! Aku yang akan membawanya pulang! Panggil seseorang untuk membawakan dia selimut, Bert! Kau dengar aku, hah?!"
"Jean, jangan seperti ini sikapmu! Hentikan!" dia tidak melepaskan genggaman tangannya dari pundakku. Aku sampai beradu mulut dengannya. Kemudian seorang petugas medis dan Reiner datang melerai kami.
"Keributan apa yang terjadi sini? Kalian prajurit baru, jangan bertindak macam-macam selama penyisiran! Hey kau, siapa nama jenazah yang baru saja kau temukan?" perempuan berjas putih dengan papan di tangannya bertanya kepadaku. Aku hanya terdiam dan terus menatap jenazah itu tanpa sekali pun mengedipkan mataku.
"Namanya Marco Bott," Reiner yang menjawab. "Dia prajurit angkatan 104, dan menjadi pemimpin pasukan di barat."
"Marco ya? Baiklah, sudah kucatat namanya," kata perempuan itu sambil menulis nama Marco di papannya. "Setelah kau kumpulkan jenazahnya, kita lanjutkan penyisiran."
Aku masih duduk menekuk lutut di depan jenazah Marco. Kemudian aku merangkak mendekatinya, menarik tubuh yang sudah berlumuran darah itu dan mendekapnya. Aku tidak sekali pun merasa jijik dengan kondisi tubuhnya yang seperti ini. Reiner dan Bertholdt bahkan tidak membujukku lagi.
"Hey, Marco…" aku berbisik di telinganya. "Hey, jawab aku…Marco, kau dengar aku kan?"
"Jean," suara Reiner terdengar samar-samar di dekatku. "Kita bawa Marco pulang, OK? Kucarikan selimut, setelahnya kita bersihkan dia di markas. Kau setuju denganku?"
"Ya, tolonglah," jawabku lirih. "Biar aku yang membawanya pulang."
"Ayo, Bert. Kita carikan selimut," keduanya pun lalu meninggalkanku.
Aku mendengar suara-suara di kepalaku yang mengatakan bahwa Marco sudah mati. Tetapi hatiku mengatakan hal yang sebaliknya. Terjadi peperangan di dalam diriku. Kedua tanganku gemetar mendekap tubuh Marco yang dingin. Aku tidak mengerti apa yang kurasa sekarang. Jika aku sedih, aku sudah menangis sejak tadi. Jika aku tidak merasakan apa pun, seharusnya aku tidak usah demikian emosional. Tetapi aku tidak mau memperlakukan Marco seperti prajurit lain yang kutemukan sudah tak bernyawa hari ini.
"Kau memanggilku, Marco?" tanyaku sambil menurunkan sedikit kepalaku. Aku membelai rambutnya yang hitam legam, "Aku tahu kau memanggilku karena aku mendengar suaramu, Marco. Aku datang padamu. Tetapi kenapa kau diam? Hey, Marco. Kenapa? Apa kau tidak lagi mengenali suaraku?"
Dadaku mulai terasa sesak. Setiap kali aku hendak bernafas dan berbicara, aku merasa seperti ada yang menyangkut di tenggorokanku. Air mata ini terkumpul semua di pelupuk mataku. Sebisa mungkin aku tidak meneteskannya.
Tidak di depan siapa pun, bahkan di depan jenazah Marco…
Tak lama kemudian Reiner kembali membawa selimut. Dia tidak dengan Bertholdt, melainkan dengan beberapa petugas medis yang hendak mengambil Marco dariku. "Jean, biar mereka yang membawanya," kata Reiner.
Tubuhku sudah sangat lelah dan tidak bisa lagi memberontak ketika Reiner dan Bertholdt menarikku perlahan menjauh dari Marco. Aku bahkan tidak punya cukup kekuatan untuk menyingkirkan para petugas medis yang akan membawa tubuh Marco. Kepalaku terasa sangat pusing dan pandanganku sudah tidak tetap. Mereka menyelimuti tubuh penuh lumuran darah itu dengan kain putih, dinaikkan ke tandu, dan langsung di bawa ke markas.
Aku yang seharusnya membawa Marco pulang ke markas…
Hanya aku yang boleh melakukannya…
"Jean! Hey, Jean! Bertahanlah!"
I lost my dreams in this disaster…
-to be continue-
A/N : sesuai janji, saya akan update hari senin. Terima kasih buat yang udah sabar mau nunggui kelanjutannya. Eniwei, dari chapter ini sampe terakhir (gak tau mau berapa panjang ini cerita hahahaha~) saya akan selipkan beberapa lirik lagu dari OST Shingeki no Kyojin. Pastinya udah pernah denger donk ^^
satu lagi, saya perlu tekankan ini cerita dengan genre Angst. di summary sudah saya bilang, bahwa Marco akan mati. jadi saya minta maaf, Marco gak hidup di sini TT^TT
Chapter 5 coming up next!
