Chapter 5

Military Headquarter, Hospital Wing

"Jean! Hey, Jean! Bangunlah!"

Sayup-sayup kudengar suara seseorang berteriak di dekatku. Aku mencoba membuka kedua mataku, dan mendapati diriku duduk bersandar pada dinding sebuah bangunan yang sepertinya tidak asing lagi bagiku. Setelah aku sepenuhnya sadar, aku sudah berada di markas. Dinding batu yang dingin ini malah membuat punggungku sakit.

"Bagaimana aku bisa di sini?" aku bertanya kepada Reiner. Dia orang pertama yang kulihat saat membuka mata. Dia menatapku cemas.

"Kau tidak ingat, Jean?" dia malah balik bertanya. "Kau tidak sadarkan diri saat hendak kembali ke markas."

"Kepalaku pusing, hanya itu yang kuingat. Setelahnya aku tidak tahu lagi," kataku sambil mengurut-urut keningku.

"Sebaiknya kau kembali ke kamar. Kau perlu istirahat, kurasa. Pencarian hari ini sudah cukup melelahkanmu, Jean."

"Ya, aku akan kembali…" gumamku. Namun seketika aku ingat sesuatu harus dilakukan sebelum aku kembali ke kamar. Hal ini membuatku langsung terlonjak bangun, "Di mana Marco?"

"Dia sudah ditangani petugas medis untuk di otopsi," jawab Reiner yang kemudian ikut berdiri. Dia sudah bersiap mencegahku berbuat yang di luar kendaliku.

"Tunjukkan aku di mana ruang otopsi itu, Reiner!" kataku sambil mencengkeram satu lengan kekarnya. Tetapi aku melihat dia menggelengkan kepala.

"Apa yang akan kau lakukan di sana, Jean?" tanya Reiner.

"Aku akan…! Aku…aku…uuurrgh…!" perasaan dalam hatiku kembali bergejolak dan aku hanya mampu mencengkeram lengan Reiner saking tidak mampunya menahan segala perasaan ini. "Demi Tuhan, antarkan aku ke sana, Reiner. Aku mohon, aku ingin berada di samping Marco…"

"Sebelum aku mengantarmu ke sana, aku harus bertanya kepadamu. Benarkah kau adalah Jean yang aku kenal?"

"Apa maksudmu bertanya begitu, Reiner? Ini tidak ada hubungannya-"

"Memang tidak ada," katanya sambil menarik lepas tanganku dari lengannya. "Kau harus tahu, bahwa sikapmu seperti ini adalah sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh Marco."

"Kau tahu apa soal Marco, hah?!" dikuasai amarahku, aku mencengkeram kerah Reiner tetapi dia menarik lepas tanganku dari kerahnya. Dia mendorongku dengan kasar ke tembok, dan aku kembali duduk bersandar sambil mengeluh sakit di punggungku.

"Jangan bodoh, Jean!" serunya. "Aku tahu bagaimana perasaanmu. Karena itu aku tidak mau mengantarmu ke sana sebelum kau bisa mendinginkan kepalamu dulu."

"Cih!"

"Marco bukanlah satu-satunya orang yang mati di peperangan Trost. Kita sudah kehilangan banyak teman akibat peperangan mengerikan ini. Tidak hanya kau yang merasa sedih, semua prajurit yang masih hidup pun sekarang dilanda duka," dia lalu berjongkok di depanku dan menatapku tajam.

"Tak ada gunanya kau menangisi kepergiannya, Jean," katanya tegas. "Marco tidak ingin melihatmu sedih. Perjalananmu masih panjang, dia ingin kau bahagia melanjutkan hidupmu."

"Aku hanya tidak habis pikir bagaimana dia tewas, Reiner," kataku sambil meletakkan satu tangan di keningku. "Seingatku dia bertugas di barat, tetapi kita menemukan jenazahnya tidak jauh dari wilayah kita."

"Kita bisa pikirkan hal itu nanti," kata Reiner, kemudian mengulurkan tangannya kepadaku. "Aku antar kau ke ruang otopsi. Tapi berjanjilah untuk tidak melakukan apa pun yang bodoh. Atau kau akan membangunkan mayat yang lain."

Aku tidak banyak berbicara ketika Reiner mengajakku pergi ke ruang otopsi. Ruangan itu terletak di dalam bangsal rumah sakit di markas. Perutku terasa mual begitu melihat banyak sekali mayat yang sudah tidak jelas bentuknya di dalam ruangan itu. Mereka menunggu giliran untuk diperiksa dan dibersihkan. Setelahnya, mereka akan dimasukkan ke perapian untuk dibakar.

"Mayat Marco ada di sebelah sana, Jean," kata Reiner sambil menunjuk ke salah satu sisi ruangan ini.

Melewati mayat-mayat ini, perlahan aku melangkahkan kakiku dengan hati-hati. Aku duduk di dekat jenazah Marco dan menatapnya. Para petugas di sini belum melakukan apa pun kepadanya. Mungkin dia masih menunggu giliran. Aku melihat Reiner menungguku dari kejauhan. Aku sudah berjanji tidak berbuat apa pun yang bisa mengacaukan ruangan ini.

"Jika boleh, aku mau sekali membawamu keluar dari sini, Marco," gumamku. Entah kenapa kedua tanganku kemudian bergerak membuka pakaian Marco. Mulai dari jaket seragamnya yang tidak utuh, semua sabuk dan tali kulit di seluruh tubuhnya, boots, dan celana panjangnya. Aku sempat bertanya-tanya mengapa dia tidak memakai 3D Maneuver Gear-nya. Bagaimana aku bisa mengembalikan pedangnya jika tidak ada selongsongnya?

"Aku benar-benar tidak mengerti makhluk macam apa yang sudah membuatmu terluka dan hancur seperti ini, Marco," aku berbicara pada diriku sendiri. "Seandainya saja kau tidak meninggalkan barisanku, mungkin aku bisa mencegah kematian itu datang padamu."

"Apa yang kau lakukan, prajurit?" seorang petugas medis kemudian menghampiriku. "Kau bisa terkena penyakit karena menyentuh jenazah itu. Kami harus membersihkannya."

"Jenazah ini adalah teman saya," kataku berusaha untuk tidak terpancing amarah. Aku tetap meneruskan urusanku membuka semua pakaian Marco. "Saya sudah berjanji kepadanya untuk mengambil kembali pakaiannya jika dia mati di peperangan. Dan dia pun berjanji hal yang sama kepada saya."

"Apa yang mau kau lakukan dengan seragam tidak lengkap itu?" tanya orang itu sambil terheran-heran melihat apa yang kulakukan.

"Saya akan menyimpannya bersama barang-barangnya yang lain di kamar," jawabku kemudian berjalan melewati petugas medis itu setelah selesai membuka pakaian Marco. "Maaf sudah mengganggu di sini. Saya segera pergi."

Aku keluar dari ruangan berbau anyir itu sambil bernafas lega. Di dekapanku, baju Marco akan kubawa ke kamar. Aku menyuruh Reiner meninggalkanku. Aku perlu menenangkan diriku setelah melewati masa sulit hari ini. "Malam ini semua jenazah korban perang akan dibakar. Kau akan hadir di acara pembakaran itu kan, Jean?" tanya Reiner.

"Ya," jawabku lirih. "Aku akan datang."

Kamar tidur terlihat kosong. Prajurit yang lain masih berada di luar. Aku duduk di tempat tidur Marco dan mulai melipat satu persatu pakaiannya. Perasaan ini tidak begitu menentu di hatiku. Kematian Marco masih menjadi sesuatu yang belum bisa kuterima sepenuhnya. Aku tidak percaya orang terdekatku, yang percaya padaku, yang menguatkanku, mengetahui segalanya tentangku, kini sudah tidak lagi ada untukku. Jaket seragamnya tidak lagi utuh. Banyak sabuk dan tali kulitnya yang putus. Noda darah terdapat hampir di seluruh pakaiannya.

Orang lain mungkin akan menyuruhku membuang saja semua pakaiannya. Mereka berpikir, tidak ada gunanya menyimpan pakaian orang mati. Tetapi mereka tidak tahu kalau semua ini adalah barang berharga untukku. Marco tidak menyuruhku melakukan apa pun soal seragamnya. Kami tak sekali pun membahas kematian sebelum pergi berperang. Karena kami yakin bahwa kami akan tetap hidup. Selesai berperang, kami akan langsung masuk ke jajaran Polisi Militer. Kami tidak perlu berhadapan dengan Titan lagi. Hidup kami akan lebih baik jika berada di sana.

Namun kenyataan berkata lain…

Peperangan itu mengubah segala takdir yang dimiliki setiap prajurit…

Bahkan aku…

Juga Marco…

"Hey, Marco," aku bergumam. "Kau bilang akan menuruti semua kata-kataku, kan? Perintah terakhirku adalah menyuruhmu untuk tetap hidup agar aku bisa mengembalikan bilah pedang itu padamu. Tetapi kenapa kau tidak menurutiku?" dadaku terasa sesak.

"Perintahku tidak sulit, bukan?" aku mulai tidak mengerti dengan diriku sendiri. "Kau hanya perlu bertahan hidup apa pun yang terjadi. Kau bisa bergerak lincah demi menghindari serangan Titan. Aku yang mengajarimu, ingat?"

Kedua tanganku gemetar setelah membereskan lipatan sabuk dan tali kulit Marco. Dadaku terasa mau pecah, bersama kepalaku yang sudah mulai pusing. Aku tidak bisa berpikir jernih, "Kau banyak menolongku di peperangan itu. Semua itu demi membuatku bertahan hidup. Sudah cukup, Marco. Kau tidak perlu melakukan apa pun karena aku bisa bertahan hidup dengan caraku sendiri. Tetapi mengapa kau tidak bisa bertahan?"

Aku seperti orang bodoh berbicara sendirian di kamar yang besar dan sepi ini, "Kalau kau tidak ada sekarang, untuk apa aku hidup? Kau sudah janji akan masuk Polisi Militer bersamaku kan? Bagaimana aku akan melanjutkan langkahku ke sana tanpamu? Untuk apa kita membuat janji waktu itu? Untuk apa, Marco? Jika pada akhirnya hanya aku yang bertahan hidup, untuk apa kita sepakati segalanya? Jawab aku, Marco! Untuk apa?!"

Remember the day we dreamt

It's painful for me…

BUAGH!

Tidak bisa mengendalikan diriku, aku meninju pinggiran kayu tempat tidur Marco dua kali. Aku mengacaukan lagi pakaian Marco yang sudah kulipat dengan rapi. Aku demikian emosionalnya, aku hampir berteriak kencang dalam tangisku yang tertahan. Aku membenci diriku sendiri yang mendadak berubah menjadi semacam pecundang karena tidak kuat menahan segala perasaan ini.

Aku, Jean Kirschtein, prajurit angkatan 104 yang telah berperang melawan para Titan dengan gagah berani, yang siap melanjutkan langkahnya ke jajaran Polisi Militer di dinding terdalam, kini harus membenamkan diri dalam derai air mata yang tidak bisa kubendung lagi.

Sakit hati itu…begini sakitnyakah, Tuhan?

"Kau sekarang sudah hidup tenang di alam sana, Marco," aku masih lanjut berbicara dengan diriku sendiri, dan kali ini diselingi isak tangis. Aku benar-benar menyedihkan, "Kau tidak perlu memikirkan apa pun sekarang. Ya, hiduplah dengan tenang. Kau tidak usah memikirkan aku, Marco. Hahahaha…aku baik-baik saja, bodoh. Tenanglah, sahabatmu ini bisa hidup sendiri tanpa perlu kau khawatirkan."

Aku hanya berharap tidak menjadi gila setelahnya, "Bajumu berantakan lagi. Kau mau aku melipatnya lagi atau tidak, Marco? Atau kau mau aku melakukan apa untuk bajumu? Menyimpannya? Membuangnya? Atau membakarnya bersama jenazahmu nanti, hm? Ucapkan sesuatu, sialan!"

BUAGH!

Aku meninju lagi dan yang terakhir ini sepertinya aku mendapat reaksi tidak langsung darinya. Botol yang dipakai Marco untuk menyimpan tulisannya tiba-tiba terguling dari tempat tidurku di atas dan mengenai kepalaku. Aku bahkan lupa kalau botol itu berada di atas sana. Aku mengambilnya dari lantai dan kubawa duduk di tempat tidur Marco. Aku sudah pernah akan membuka tutup gabusnya. Tetapi tidak jadi karena aku merasa belum saatnya mengetahui isinya. Pandanganku kemudian tertuju kepada bilah pedang yang masih tergeletak di tempat tidur.

"Izinkan aku membukanya, Marco," dan aku membuka tutup gabusnya.

Gulungan kertas dari botol itu kemudian kutuang di atas bantal. Aku tidak tahu berapa jumlahnya. Aku membuka satu persatu gulungan itu dan membaca isinya. Marco banyak menulis tentang isi pikirannya. Dari awal dia masuk akademi, sampai terakhir kami diikutkan dalam peperangan.

~Aku tidak menyangka seragam yang kupakai ini sedikit kebesaran! Tapi lebih baik dari pada kekecilan. Mau tukar juga rasanya tidak bisa. Komandan Keith bisa membentakku lagi nanti.~

~Ternyata banyak juga yang mau masuk Polisi Militer. Aku jadi bersemangat untuk mengikuti setiap pelatihan yang ada di sini. Semoga bisa mendapat nilai terbaik agar bisa masuk ke sana.~

~Eren Jaeger bercerita banyak tentang pengalamannya di Zhiganshina. Bulu kudukku berdiri mendengar ceritanya! Aku memang belum pernah melihat Titan membunuh manusia. Tetapi dari ceritanya saja sudah bisa terbayang bagaimana mengerikannya.~

~Aku lega bisa melerai Jean dari pertengkarannya dengan Eren. Aku tidak suka keributan, maka itu aku nekad mengajaknya pergi ke kamar dan tidur.~

~Aku sangat kagum dengan keahlian Jean menggunakan 3D Maneuver Gear. Dia melompati dua pohon sekaligus dan menyerang kurang lebih 5 replika Titan di sesi latihan tadi. Aku harus belajar darinya!~

~Aku suka sekali cara Jean menjelaskan bagaimana bisa begitu lihai menggunakan 3D Maneuver Gear. Mendengar dia bercerita, aku jadi semakin bersemangat.~

~Materi kelas hari ini agak sedikit membosankan. Tetapi aku tidak boleh bolos. Jean bilang, kita harus menjadi prajurit yang cerdas selain pintar mengayun pedang dan melompat dengan kawat-kawat baja 3D Maneuver Gear.~

~Jean bertengkar lagi dengan Eren. Aku tahu sebenarnya kenapa dia begitu sinis padanya. Jean suka dengan Mikasa. Dan Mikasa lebih dekat dengan Eren.~

~Hari ini Jean mencoba menarik perhatian Mikasa. Sayangnya perempuan itu tidak begitu peduli dengannya. Yang dipikirannya hanya Eren. Jean menolak makan malam karenanya, aku khawatir dia sakit.~

Aku tertawa membaca tulisannya mengenai perasaanku kepada Mikasa. Sial, dia peka juga rupanya! Aku memang suka kepada Mikasa sejak pertama kali masuk akademi ini. Perempuan cantik berwajah oriental itu ternyata lebih peduli kepada Eren. Banyak yang bilang Mikasa masih satu keluarga dengan Eren. Tetapi perlakuannya kepada si brengsek itu yang membuatku cemburu. Dan Marco menyadarinya.

~Aku tidak menyangka Jean itu yang mudah sekali bosan. Baru sekarang dia menolak makan di ruang makan bersama prajurit yang lain. Aku menemaninya makan roti di taman markas.~

~Tekadku sudah bulat untuk masuk jajaran Polisi Militer. Dan aku semakin bersemangat karena Jean akan ikut denganku.~

Dari sekian banyak gulungan kertas ini, Marco lebih banyak bercerita tentang aku sebenarnya. Seingatku, aku tidak begitu dekat dengannya. Tetapi yang perlu kau tahu adalah bahwa Marco selalu ada di dekatku ketika aku sedang mengalami masa sulit. Aku tidak pernah memintanya untuk ikut denganku makan siang di luar ketika aku sedang bosan. Aku tidak pernah menyuruhnya menenangkanku setelah aku gagal menyatakan perasaanku kepada Mikasa. Dia selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi. Bahkan saat di peperangan pun, dia menjadi orang pertama yang mengikuti langkahku.

"Aku lega kau meninggalkan banyak kenangan bagus, Marco," kataku, berusaha menghibur diriku sendiri. "Setidaknya, kau tidak perlu menyesali segala sesuatunya setelah kau mati. Hahahaha…"

~Apa aku masih bisa menulis lagi?~

Gulungan terakhir tadi membuatku berpikir sesuatu. Saat peperangan dihentikan karena ada proses interogasi antara para Pasukan Penjagaan dengan Eren yang berubah menjadi Titan, Marco sempat menulis sesuatu dan dia menyimpan kertasnya di saku jaketnya. Aku langsung mengambil jaketnya yang tergeletak di lantai. Ketika aku merogoh sakunya, aku bernafas lega ternyata di saku ini dia menyimpannya. Bukan di saku satunya yang sudah robek dan hilang entah ke mana.

"Oh…tidak…demi Tuhan, Marco…" aku kembali emosional setelah membaca isinya. Tanganku gemetar memegang 3 gulungan kertas itu.

~Aku ingin terus berperang di dalam pasukan pimpinan Jean. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti aku harus ditempatkan di pasukan lain. Aku sudah menemukan pimpinanku. Jean Kirschtein. Aku akan selalu mengikutinya. Aku sudah bertekad akan melangkah bersamanya ke mana pun dia pergi.~

~Aku sudah berjanji akan mengikuti Jean sampai masuk ke jajaran Polisi Militer. Namun jika aku bilang kepadanya bahwa aku berubah pikiran, apakah dia akan marah padaku? Apakah dia akan membenciku?~

~Jika aku masuk Polisi Militer, aku belum tentu bisa merasakan serunya berperang bersama Jean. Segala emosi itu hanya akan hilang begitu saja saat kami nanti masuk ke istana dan bekerja di sana.~

Berubah pikiran? Apa maksudnya dia berkata begitu? Kenapa tiba-tiba Marco ragu untuk masuk jajaran Polisi Militer? Apa yang dia pikirkan saat dia menulis ini? Kenapa dia tidak membahasnya denganku? Kenapa dia malah mati dan meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab? Siapa yang akan menjawabnya? Apakah dia menyuruhku menjawab semua pertanyaannya? Bagaimana aku akan menjawabnya?

"Uuurrgh…Marco…uuurgh! Sial! Kenapa, Marco! Kenapa! Huwaaa~!" aku tidak tahu apakah teriakanku terdengar orang lain dari luar kamar. Yang aku tahu, betapa sesaknya dada ini dan aku sudah merasa sangat lelah.

Give me your strength

Our lives are too short…

-to be continue-

Chapter 6 coming up next!