A/N : di sini saya mau pake episode 16 sebagai setting-nya. Cuma saya akan ganti beberapa poin isinya. Biar beda dikit, ehehehe~ OK, selamat membaca!
Chapter 6
The Courtyard, Military Headquarter
Lapangan yang biasanya dipakai untuk berbaris dan berlatih itu kemudian berubah fungsi menjadi perapian besar untuk membakar jenazah korban peperangan di Trost. Satu persatu jenazah dimasukkan rangka kotak kayu itu bersamaan, kemudian disiram dengan minyak tanah dan dibakar bersamaan. Setidaknya ada 3-4 rangka kotak kayu yang diletakkan di sana. Semua prajurit yang masih hidup berkumpul mengelilinginya. Tidak sedikit di antara mereka yang meratapi kepergian teman-teman mereka.
Termasuk aku…
Semua orang di sini menyesali segalanya. Isak tangis terdengar di mana-mana. Aku sebisa mungkin mengendalikan diriku untuk tidak larut dalam suasana duka seperti ini. Jika sedari awal aku tidak memutuskan menjadi prajurit di divisi mana pun, aku tidak perlu mengetahui bahwa situasi yang kuhadapi sekarang benar-benar mengerikan. Sekarang aku sudah terlanjur terlibat di dalam kengerian ini. Entah kenapa aku merasa lelah, dan hanya itu yang bisa kupikirkan. Aku tidak tahu berapa di antara mereka yang masih hidup kini berada di situasi yang sama denganku. Keragu-raguan itu menguasaiku setelah mengetahui kematian Marco. Ditambah lagi aku sedang dihantui segudang pertanyaan yang dia tinggalkan di botol isi pikirannya.
Aku sudah terlalu lelah untuk memikirkan bagaimana menjawabnya…
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menggerakkan anggota tubuhnya melihat pembakaran jenazah ini berlangsung. Mereka berdiri mematung, ada pula yang berjongkok seperti Connie dan menangis sesenggukan.
Di saat semua terdiam, aku bergerak mendekati perapian. Aku berlutut dan memungut serpihan tulang di sekitar rangka kotak itu. Tulang siapa yang kuambil? Aku bahkan tidak tahu ke kotak mana mereka memasukkan tubuh Marco. Aku tidak akan pernah tahu siapa di antara kami di sini yang akan masuk ke perapian selanjutnya. Sehebat apa pun aku mengayun pedangku dan melompat dengan 3D Maneuver Gear, jika aku tidak bisa bertahan hidup, maka aku akan menjadi orang selanjutnya yang masuk ke perapian.
Every living being dies someday
Whether we are ready to die or not
Malam itu berlalu begitu cepat. Di hari berikutnya, kami mendapat berita bahwa Komandan Besar Pasukan Pengintai, Irvin Smith, akan datang ke Markas Militer untuk membuka pendaftaran kepada prajurit baru yang akan masuk ke divisinya. Kami dikumpulkan di lapangan sore itu untuk menunggu pengumuman selanjutnya.
"Jean, apa kau sudah menentukan pilihanmu?" tanya Connie kepadaku.
"Ya, aku sudah memutuskan," jawabku. Entahlah, aku sendiri masih tidak tahu sebenarnya.
"Oh, baguslah. Kau tetap masuk ke jajaran Polisi Militer kan?"
"Apa menurutmu aku layak berada di sana, Connie?" sekarang giliranku bertanya. "Kau sendiri akan masuk mana?"
"Meski aku tinggal selangkah lagi untuk masuk Polisi Militer, aku masih ragu-ragu juga," jawabnya sambil menggaruk belakang kepala botaknya. "Apa kau akan berubah pikiran, Jean?"
Pertanyaan Connie mengingatkanku kepada tulisan Marco yang kubaca sebelum pembakaran jenazah. Aku tidak mengerti mengapa Marco tiba-tiba berubah pikiran. Dan dia takut aku akan marah padanya, atau bahkan membencinya. Apa dia sudah punya keinginan untuk masuk divisi lain dan dia tidak berani membahasnya denganku? Dia hanya bilang ingin kembali merasakan serunya berperang bersamaku. Jika dia mempunyai keinginan itu, maka Polisi Militer bukanlah tempatnya. Hanya ada 2 pilihan tersisa, yaitu Pasukan Penjagaan dan Pasukan Pengintai.
"Kau mau tahu jawabanku, Connie?" aku mencoba menjelaskan kepadanya. "Aku akan meyakinkan diriku untuk bergabung ke Pasukan Pengintai."
"Hah?! Kenapa tiba-tiba…" dia terkejut dengan jawabanku. Bukan hanya dia yang terkejut, Sasha dan Armin pun sama terkejutnya dengan dia.
"Jean, tidakkah kau takut…" tanya Sasha ragu-ragu.
"Bodoh, aku masuk ke sana bukan karena aku tidak takut dengan Titan!" tukasku cepat.
"Lalu kenapa kau memilih masuk ke sana?" tanya Armin ingin tahu. "Aku pikir kau sudah mantap akan masuk Polisi Militer. Bukankah kau dan Marco punya keinginan yang sama?"
Aku menghela nafas, "Aku mohon jangan bicarakan tentang Marco lagi, Armin. Kami memang mempunyai keinginan yang sama. Tetapi kami telah melihat betapa mengerikannya raksasa pemakan manusia itu menebar terror di negeri ini."
"Ya, kau benar," laki-laki berambut pirang sebahu itu menjawab sambil menunduk sedih. "Dan kau kehilangan dia sebagai rekanmu, Jean."
"Kematiannya sudah memberikan pukulan keras di kepalaku," kataku. "Kehilangan dia, sudah sama dengan kehilangan ratusan prajurit di peperangan Trost. Kau pun tahu bagaimana rasanya kehilangan Eren. Iya kan, Armin?"
"Ta-tapi dia kembali hidup, Jean!" dia mengelak.
"Sayangnya, Marco tidak bisa hidup kembali," aku berusaha untuk tegar setiap kali menyebut nama Marco. "Mau memohon bagaimana pun, dia tidak akan kembali untukku. Rasanya tidak adil jika hanya aku yang melanjutkan keinginan untuk masuk Polisi Militer. Impian itu aku ukir bersamanya. Dan dia sudah keburu mati. Apa menurutmu aku layak masuk Polisi Militer dan meninggalkan sahabatku begitu saja?"
Tidak ada satu pun yang berani menjawab pertanyaanku. Aku meneruskan, "Kita tidak bisa melakukan tugas berat ini kecuali bukan dari keinginan kita sendiri. Aku pun masih harus mencari alasanku sendiri mengapa aku masuk Pasukan Pengintai. Bukan berarti aku tidak menghormati keinginan Marco. Aku hanya tidak ingin mengkhianatinya. Kalau pun dia masih hidup, dia pasti akan ikut melangkah bersamaku masuk ke Pasukan Pengintai."
"Kau benar," jawab Armin. "Kita tidak bisa selamanya hidup dalam ketakutan. Kita sudah melihat bagaimana orang lain berkorban demi melawan ketakutan itu. Aku rasa akan lebih baik jika kita melanjutkan perjuangan mereka. Itu kan maksudmu, Jean?"
"Hmph, menurutmu apa aku punya penjelasan lain dari itu, Armin? Ayo kita merapat ke panggung. Komandan Besar Irvin sudah datang," aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini dan mengajak teman-temanku merapat ke panggung. Seorang prajurit Pasukan Penjagaan menyuruh kami membentuk barisan dan memberi hormat ketika Komandan Irvin naik ke panggung.
Pria berambut pirang dan bermata biru itu tidak sendirian. Dia membawa setidaknya 10 orang prajurit Pasukan Pengintai untuk mendampinginya berpidato. Sambil menjelaskan apa itu Divisi Pasukan Pengintai, dia juga menyampaikan sebuah berita yang mencengangkan semua orang di sini.
"Kami akan menjalankan sebuah misi berbahaya ke luar Wall Rose," jelasnya. Kedua mata birunya memandang setiap prajurit yang berbaris di depannya, "Kalian sudah tahu bahwa Eren Jaeger akan menjadi senjata pamungkas kami menaklukan para Titan. Kami akan bergerak menuju Zhiganshina untuk pergi ke ruang bawah tanah di rumahnya. Di sanalah kami akan membongkar asal usul Titan yang menjadi ancaman umat manusia."
Terdengar gumam heran dan tidak percaya dari semua orang. Bahkan orang-orang yang dibawa Komandan Irvin pun berusaha menghentikannya berbicara lebih jauh mengenai misinya. Namun dia bersikeras untuk tetap membicarakan semuanya. "Aku tidak akan menutupi apa pun mengenai misi ini," jelasnya lebih lanjut. "Kalian sudah tahu. Misi berbahaya ini akan memakan korban cukup banyak. 4 tahun yang lalu, lebih dari 60% pasukan kita mati. Dan di misi kali ini, aku pastikan 30% dari pasukan kita akan mati."
Dia komandan gila! Seberani itu dia membicarakan detail misinya di acara pendaftaran ini. Sudah pasti banyak orang yang menolak untuk ikut! Dia tidak akan bisa menjalankan misinya hanya dengan segelintir orang! Apa yang ada di pikiran pria berambut pirang ini? Semua orang ketakutan mendengar beritanya. Aku bahkan jadi gentar karena tidak begitu berani terjun dalam misi ini.
"Siapa pun yang siap mengorbankan nyawanya dalam misi ini, aku persilakan untuk tetap pada barisan," lanjutnya. "Tetapi kalian harus bertanya pada diri kalian sendiri. Apakah kalian sanggup meletakkan keyakinan kalian kepada umat manusia? Apa kalian sanggup menyerahkan segala jiwa raga kalian untuk kepentingan umat manusia?"
Keheningan pun menyelimuti semua orang di sini. Tidak ada satu pun yang berani menjawab pertanyaannya. Mulutku bahkan gemetar ingin mengucapkan sesuatu, tetapi aku tidak punya cukup nyali untuk berseru menjawab pertanyaannya. Aku melihat pria itu menutup kedua matanya, lalu kembali membukanya dan mengakhiri pidatonya.
"Siapa saja yang memilih divisi lain, aku izinkan untuk membubarkan diri."
Tepat ketika dia mengatakan itu, hampir semua prajurit yang berbaris di sini membubarkan diri dari barisan. Aku dilanda ketakutan ketika melihat mereka, yang juga teman-temanku pergi membubarkan diri. Aku tidak tahu berapa jumlah mereka yang pergi, tetapi aku yakin tidak akan banyak juga orang yang tinggal. Mengapa tidak ada yang tinggal? Mengapa mereka memilih pergi?
"Oh tidak…" aku mencengkeram dadaku. Kepalaku pusing dan aku hampir kehilangan keseimbangan. Kedua kakiku terasa lemas dan tidak kuat menopang tubuhku yang gemetar hebat. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak tahu bagaimana mengusir keragu-raguan ini dari dalam diriku. Aku tidak punya kekuatan lagi.
Jean…
Tiba-tiba aku tersentak tepat saat aku hendak jatuh. Sebuah tangan menahanku dan mencegahku jatuh. Tangan kiri itu mencengkeram lengan kananku. Aku merasakan sosok seseorang tengah berdiri mendekapku dari belakang dan menguatkanku. Aku mendengar namaku disebut. Di antara lautan orang yang membubarkan diri, aku seperti berdiri pada kenyataan dan khayalanku.
"Tetaplah pada pendirianmu, Jean…" suara yang tidak asing ini terdengar jelas di telingaku.
"Tidak mungkin…Marco…" aku berbicara lirih dan mencoba menoleh ke belakang. Demi Tuhan, aku benar-benar melihat sosok Marco yang transparan berdiri di belakangku. Aku hanya berani melihat satu sisi wajahnya. Aku tidak tahu apakah dia utuh menampakkan dirinya padaku.
I could see your face
I could hear your voice
"Letakkan tanganmu di jantungmu," katanya sambil mengangkat kepalan tangan kananku untuk diletakkan di dadaku sebelah kiri. "Teguhkan keyakinanmu pada keselamatan umat manusia. Teruslah melangkah, karena aku akan melangkah bersamamu, Jean."
"Marco…uuurgh…" air mataku tidak bisa lagi dibendung. "Aku ini lemah dan tidak cukup berani! Aku bukanlah seseorang yang pantas menjalankan misi ini!"
"Kelemahanmu adalah kekuatanmu, Jean," aku ingin bunuh diri begitu mendengar suara Marco berbisik di telingaku. Kepalan tangannya tidak lepas dari kepalan tanganku yang kuletakkan di dada kiriku. "Aku akan berperang bersamamu. Aku akan menguatkanmu. Aku akan selalu berada di sampingmu. Aku akan terus hidup untukmu."
"Maafkan aku, Marco. Uuurgh…" aku seperti merasa sudah berada di ujung lelahku. Kepalaku mendadak penuh dan tidak bisa dipakai untuk berpikir dengan jernih. "Aku harus berada di pilihanku yang sekarang walau aku tidak cukup teguh dalam pendirianku. Maafkan aku, Marco. Demi Tuhan…aku tidak ingin mengkhianatimu!"
"Kau tidak pernah mengkhianatiku, Jean. Sekarang berdirilah yang tegap," tangan Marco yang transparan itu menegakkanku. "Gunakan pedangku untuk melawan semua ketakutanmu. Kau adalah ksatriaku, pemimpinku, sahabatku yang sangat kusayang."
"Marco…Marco!" oh, Tuhan. Aku sudah tidak kuat lagi.
"Hiduplah, Jean. Hiduplah…" sosok itu kemudian berangsur menghilang.
"Marcooo! Huwaaaaaa~!"
I'm standing alone
Calling out your name
Suasana di lapangan ini sudah mulai tenang. Hanya tinggal beberapa orang saja yang berada di sini. Aku memandang sekelilingku, kedua mataku dikaburkan oleh air mataku. Orang-orang yang tinggal adalah mereka yang kukenal. Mikasa, Armin, Connie, Reiner, Bertholdt, Sasha, juga ada Krista dan Ymir. Jika aku boleh menebak, setidaknya hanya ada puluhan orang saja yang tinggal. Apakah dengan sekian orang ini misi kemanusiaan Komandan Besar Irvin akan terlaksana?
"Apa kalian siap mati jika diperintah?" tanya Komandan Irvin kepada kami. Seseorang kemudian menjawab, "Saya tidak mau mati!"
"Aku suka melihat raut wajah kalian," katanya sambil tersenyum. "Aku mengucapkan selamat datang kepada kalian di divisi Pasukan Pengintai. Aku meletakkan segala hormatku kepada kalian. Serahkan jiwa raga kalian untuk keselamatan umat manusia!"
"Yes, Sir!" kami menjawab kata-katanya sambil meletakkan kepalan tangan kanan kami di dada kiri kami.
Pertemuan dengan Komandan Irvin pun berakhir malam itu. Kami diperintahkan untuk bersiap-siap berangkat ke markas besar Pasukan Pengintai. Besok pagi kami akan memulai pelatihan, dan selama sebulan kami akan dipersiapkan untuk menjalani misi yang direncanakan olehnya.
"Jean…hey, Jean! Hey!" aku tersentak setelah Reiner berseru menyadarkanku sambil mengguncang bahuku. Di lapangan itu, aku masih berdiri dan mengepal tangan kananku di dada kiriku. "Kau baik-baik saja, sobat?"
"Ya…ya, aku baik-baik saja," jawabku kebingungan sambil menghapus air mataku. "Aku mau kembali ke kamar, Reiner."
"Aku mendengarmu berteriak memanggil nama Marco, Jean," pria berbadan besar itu menatapku cemas.
"Oh, aku memang menyerukan namanya," kataku sambil berpaling darinya. "Aku memanggilnya untuk ikut bersamaku masuk ke divisi ini."
"Dia tidak akan meninggalkanmu. Percayalah, sahabatmu itu akan selalu ada untukmu."
"Tidak perlu bilang begitu karena aku sudah tahu, Reiner. Marco tidak akan meninggalkanku…"
Para prajurit yang ikut ke divisi Pasukan Pengintai dipersilakan kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang yang harus dibawa ke sana. Malam ini juga kami akan berangkat ke sana. Aku sudah membulatkan tekadku untuk tidak lagi menoleh ke belakang. Pilihanku sudah benar untuk masuk Pasukan Pengintai. Aku akan berperang melawan rasa takutku. Aku akan memusnahkan setiap ancaman dalam hidupku.
"Hey, Marco. Apa rasanya kembali ke medan perang tanpamu?" gumamku saat sedang membereskan barang-barangku di kamar. Aku duduk di tempat tidur Marco dan membelai bilah pedang miliknya yang tidak jadi kukembalikan kepadanya. "Meski kau bilang akan ikut melangkah denganku, tetapi aku masih tidak bisa melihatmu. Akan lebih baik jika sekarang aku bisa memegang tanganmu atau mendekap tubuhmu."
Bilah pedang itu kuangkat dan aku menatap pantulan diriku di salah satu sisinya. Kemudian aku mendekapnya, "Hanya ini yang kupunya darimu, Marco. Aku akan menjaga baik-baik pedang ini. Aku janji tidak akan merusaknya. Pedang ini melengkapiku, seperti kau yang selalu melengkapiku."
Aku teringat dia pernah mencium sisi tumpul bilah pedang ini sebelum dia pergi memimpin pasukan di barat. Entah kenapa karena itu, aku jadi ikut melakukannya. Aku mencium pedangnya, dan dadaku terasa sesak begitu merasakan dinginnya lempeng besi ini di bibirku. "Terima kasih, Marco. Terima kasih…"
Ketika aku hendak meninggalkan kamar, aku hampir melupakan satu barang yang harusnya aku bawa juga. Aku kembali ke tempat tidur Marco dan mengangkat kasurnya. Botol kaca berisi gulungan kertas itu kubawa serta ke markas Pasukan Pengintai.
"Jean, ayo kita pergi," seru Connie dari luar. Dia dan Armin sudah menungguku. Aku mengiyakannya, dan aku pun keluar bersama mereka. "Apa itu di tanganmu, Jean?" tanya Armin.
"Kau bisa lihat ini botol, kan, Armin?" kataku sambil mengangkat botol itu.
"Maksudku, kenapa kau bawa-bawa botol itudi tanganmu? Letakkan di tas atau kau akan memecahkannya."
Alih-alih menjawab, aku hanya tersenyum dan melangkah lebih cepat dari yang lainnya. Aku yang tadi sangat emosional, kini mencoba bersikap seakan semuanya baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Anggap saja, aku akan berjuang dari nol. Semuanya akan terasa berbeda nantinya. Misi kemanusiaan ini tidak akan sama dengan yang kuhadapi di Trost. Aku akan mengakhiri segala kengerian ini dan membebaskan diri ini dari rasa takut.
Demi kemenangan umat manusia…
Demi semua orang yang sudah lebih dulu mati di peperangan…
Demi Marco Bott…
"Hey, Marco. Aku boleh pakai botol ini untuk menuangkan isi pikiranku kan?"
With sorrow and confidence in our hearts
We show the will to move on…
-the end-
A/N : Alhamdulillah akhirnya tiba di akhir cerita! Lega juga rasanya bisa kelar dalam 6 chapter. Saya gak nyangka bakal bisa lebih singkat dari dugaan. Saya pikir bakalan nyampe 10 chapter gitu. Hahahaha~
Terima kasih buat para pembaca yang udah mau meluangkan waktu buat baca fic abal begini. Masih pemula, masih kaku nulis di fandom ini terutama. Yang udah ngasih review, terima kasih juga. Maaf kalo masih banyak kekurangan.
Habis ini saya coba bikin Levi/Eren. Walau mereka bukan OTP saya, tapi kebetulan nemu ide cerita lucu tentang mereka. Jadi pengen bikin juga. Wkwkwkwk~
Lyric credits :
1. The Reluctant Heroes - Shingeki no Kyojin OST
2. Vogel Im Kafig - Shingeki no Kyojin OST
3. Call Your Name - Shingeki no Kyojen OST
