The One

By: 0312_luLuEXOticS

Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Kim Jogin (munculnya entah di chap berapa =_=)

Pairing: HunHan, slight!KaiHun/HunKai

Genre: Boys Love, Fluff, Romance, Hurt&Comfort

Rate: T

Lenght: 3 of ?

Disclaimer: Semua cast milik orang tuanya masing-masing. Liyya hanya meminjam namanya saja. Cerita murni dari hasil imajinajis(?) Liyya ^^

Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje

.

.

HAPPY READING^^

.

.

Preview Chapter:

"Hyung, aku mempunyai seorang kekasih!"

Dan hanya dengan satu kalimat itu, kebahagiaan yang dirasakan Luhan selama 2 bulan berkenalan dengan Sehun berubah. Dan saat itu juga, Luhan sadar kalau sesungguhnya dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Sehun.

~O.O~

Luhan merasa seakan ditimpa batu yang sangat berat saat mendengar kalimat tersebut, tepat di bagian dadanya. Dia tercekat. Dadanya terasa sangat sesak. Sungguh, rasanya dia bisa mendengarkan suara hatinya yang hancur saat itu. Matanya mulai berair, namun dia berusaha untuk menahannya. Untuk beberapa saat, Luhan hanya mampu terdiam. Dia takut, kalau dia mencoba untuk berbicara, maka yang keluar dari mulutnya bukanlah kalimat, melainkan isakannya.

"..."

"Hyung, kau masih di sana?" suara Sehun kembali terdengar.

"eoh? Mianhae, Sehun-ah, aku hanya terkejut." Luhan berusa membuat suaranya agar terdengar senormal mungkin. "Jadi, siapa gadis beruntung itu, hmm?" tanya nya.

"Mmm," Sehun terdengar ragu. Luhan hanya diam saja, memberi sinyal pada Sehun kalau dia menunggu Sehun untuk melanjutkan ceritanya.

"Na-namanya J-jongIn, Hyung! Dan d-dia, dia seorang nam-ja!" ucap Sehun.

Luhan kembali terdiam. Luhan merasa menjadi orang paling bodoh sedunia. Sehun menyukai seorang namja? Dan di sini dia mencoba menahan perasaannya untuk Sehun karena takut kalau Sehun akan merasa jijik dan membencinya. Luhan ingin berteriak. Dia ingin sekali memaki kebodohannya saat itu. Kini, air matanya tidak hanya menggenang di mata indahnya. Tetes demi tetes air matanya mengalir di pipi pucatnya. Luhan menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas. Takut-takut kalau Sehun bisa mendengar tangisannya.

"Hyung!" panggil Sehun. "Hyung, apa kau marah padaku? Apa sekarang Hyung merasa jijik padaku karena yang aku sukai ternyata bukan seorang yeoja, tetapi namja? Apa sekarang Hyung membenciku? Apa setelah ini Hyung tidak akan mau berhubungan lagi denganku?" tanya Sehun berturut-turut. Suaranya terdengar khawatir, ragu-ragu, takut, dan terluka.

Hening. Luhan masih belum berani membuka suaranya.

"Hyung!" lirih Sehun, "Luhan Hyung, mi-mianhae. Aku, mengecewakan mu," lanjutnya pelan.

Luhan yang menyadari nada sedih dan teluka dari suara Sehun buru-buru menjawabnya. Luhan benci ketika Sehun bersedih. Apalagi kalau itu karena dirinya.

"A-aniya Sehun-ah! Aku tidak marah apalagi membencimu. Aku juga tidak merasa jijik. Tentu saja aku senang karena kau bahagia!" jawabnya setelah menghapus kasar airmatanya. "Cinta itu bukan tentang she ataupun he. Cinta itu tentang hatimu. Bagaimana perasaanmu padanya. Kau mencintainya kan? Itu sudah cukup. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan berhenti berteman denganmu hanya karena masalah ini. Hanya saja,"

"Waeyo Hyung? Hanya saja kenapa?" tanya Sehun tak sabar.

Luhan menghela nafasnya. "Ani, hanya saja, kenapa kau baru mengatakannya sekarang Sehun-ah? Bukankah tidak ada rahasia diantara kita? Apa kau tidak mempercayaiku?"

"Bukan begitu Hyung!" sahut Sehun cepat, "Tentu saja aku mempercayaimu, aku hanya takut kalau Hyung tidak bisa menerima keadaanku yang 'berbeda' ini."

Luhan mendesah pelan. Bibir mungilnya sudah terasa perih karena dia terus menggigitnya agar tidak menangis terisak. Dia hanya terdiam, membiarkan Sehun terus melanjutkan apa yang ingin disampaikannya padanya.

"Mianhaeyo Hyung, aku yang salah. Aku melakukan kesalahan besar karena sempat meragukanmu. Maafkan aku baru mengatakannya sekarang. Seharusnya aku bisa lebih mempercayaimu dan mengatakannya lebih awal. Mianhae, aku membuatmu kecewa," sesal Sehun.

Keduanya kembali terdiam. Larut dalam pikirannya masing-masing.

'Kau benar Sehun-ah. Kau memang melakukan kesalahan yang sangat besar padaku. Bukan karena kau meragukanku. Tapi karena baru mengatakannya sekarang. Saat aku sudah terlarut dalam harapan kosong yang kau berikan tanpa kau sadari. Seharusnya kau mengatakannya lebih awal. Agar aku bisa menahan diriku. Agar aku bisa membunuh perasaan ini jauh sebelum dia berkembang. Seharusnya kau mengatakannya lebih awal agar aku tidak jatuh cinta padamu. Agar aku tidak berharap kau juga mencintaiku. Sekarang aku harus bagaimana, Sehun-ah? Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu sampai membuatku gila. Sangat mencintaimu sampai rasanya aku sulit bernafas. Begitu mencintaimu aku tidak bisa mencintai yang lain. Katakan padaku, Sehun-ah. Aku harus bagaimana? Nan eottokhae, Sehun-ah? What should I do? Apa yang harus aku lakukan sekarang?'

Luhan mencintai Sehun. Tidak ada keraguan di dalamnya. Tapi dia juga tahu lebih dari apapun. Sehun tidak mencintainya. Dan dia tidak boleh egois. Mati-matian dia menahan airmatanya agar tidak keluar lagi. Dia tidak boleh membuat Sehun bersedih. Sehun terlalu berharga baginya.

"Hyung! Luhan Hyung?" panggil Sehun pelan.

"Gwaenchanna, Sehun-ah. Aku mengerti. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama kalau aku berada di posisimu. Yang harus kau tahu, aku tidak marah, aku tidak benci, apalagi jijik. Karena apapun yang terjadi, kau tetaplah Sehun. Oh Sehun, temanku, sahabatku, adikku," dan cintaku.

"Jeongmalyo Hyung? Gomawo!" suara Sehun terdengar sedikit lebih riang sekarang, dan itu membuat Luhan sedikit lebih lega.

"Tentu saja," jawabnya, "Nah, sekarang ceritakan padaku, siapa namja beruntung itu, hmm?" Luhan merutuk dirinya karena menanyakan pertanyaan itu pada Sehun. Dia menyesal, karena begitu Luhan menanyakannya, cerita itu pun mengalir dari bibir Sehun. Cerita yang amat sangat tidak ingin didengarkannya.

Kim JongIn, namja yang sangat beruntung –menurut Luhan- yang telah berhasil merebut hati dan cinta Sehun. Dia teman sekelas Sehun. Mereka berteman sejak duduk di kelas satu Senior High School. Sebenarnya, Sehun sudah lama merasa tertarik padanya, karena itu, begitu Jongin menyatakan perasaannya, Sehun langsung menerimanya. Mereka resmi menjadi sepasang kekasih tepat dua minggu setelah Luhan dan Sehun berkenalan.

Dari cerita Sehun, sepertinya Jongin anak yang baik. Dan sepertinya Sehun sangat mencintainya. Setidaknya itu yang disimpulkan Luhan, karena dia terdengar sangat bahagia saat menceritakan tentang Jongin. Kebahagiaan Sehun adalah kebahagiaannya juga kan? Seharusnya begitu kan? Tapi mengapa dia sama sekali tidak merasa bahagia? Mengapa rasanya sakit sekali? Luhan meremas dadanya erat. Seolah-olah dengan begitu, rasa sakit di dadanya akan sedikit berkurang.

Sehun terus saja bercerita hingga rasanya kepala Luhan akan segera meledak karena mendengarkannya. Cerita Sehun membuat hatinya semakin sakit. Luhan benar-benar sudah tidak sanggup lagi mendengarnya. Telinganya panas. Matanya berat. Bibirnya perih. Luhan befikir, mencari alasan yang tepat untuk menghentikan cerita Sehun tanpa harus membuatnya tersinggung apalagi bersedih. Pukul 23.30. Luhan tidak pernah merasa sebahagia ini saat melihat jam.

"Sehun-ah!" Luhan memotong cerita Sehun, "Hampir tengah malam. Bukannya besok kau harus sekolah pagi-pagi sekali?" ujarnya.

"Ahh, kau benar Hyung. Sepertinya aku terlalu bersemangat bercerita sampai lupa waktu. Kekeke," Sehun terkekeh.

'Terlalu bersemangat bercerita sampai lupa waktu', apa kau sebahagia itu Sehun-ah?

"Kalau begitu aku tidur dulu Hyung, kau juga tidurlah. Jangan tidur larut, arasseo!" lanjutnya.

Luhan hanya memutar bola matanya, "Yaaaaaahh! Aku ini Hyung mu! Seharusnya aku yang berkata seperti itu," ucap Luhan cemberut.

"kekeke, can't help it Hyung, kau terlalu cute. Kau pasti sedang mem-pout-kan bibirmu kan Hyung? Aku bahkan bisa melihatnya dari sini," goda Sehun.

BLUSSSHHH. Luhan pabbo. Bahkan saat hatimu sedang porak-poranda seperti ini pun, kau masih bisa tersipu karena perkataan Sehun!

"Hyung!" tiba-tiba nada bicara Sehun terdengar lebih serius.

"W-wae?" tanyanya bingung dengan perubahan sikap Sehun.

"Aniya,, hanya ingin bilang terima kasih, Hyung. Karena Hyung masih mau menerimaku yang seperti ini. Aaaahhhh! Senangnya aku mempunyai Hyung yang baik dan pengertian seperti Hannie Hyung," ucapnya riang.

'Hyung'. Hanya Hyung eoh? Hhhhh. Memangnya apalagi yang kau harapkan Luhan? Sehun hanya menganggapmu seperti Hyung impiannya. Hyung yang tak pernah dia miliki. Tidak lebih. Kau saja yang terlalu banyak berharap. Hhhh. Lagi-lagi Luhan mendesah dan menggigit bibirnya.

"Aniya Sehun-ah! Kan sudah ku bilang. Itu tidak masalah. Apapun yang terjadi, seperti apapun dirimu, kau tetaplah Oh Sehun. Tidak ada yang berubah."

"Hyuuuuuuung! Kau membuatku terharu," ujar Sehun manja yang berhasil membuat Luhan tersenyum tipis.

"Ah, sudah semakin malam Hyung, aku harus segera tidur sebelum Eomma datang dan memarahiku, kekeke. Jaljayo Luhannie Hyung! Saranghae~" ucap Sehun sebelum sambungan telefonnya terputus.

'Nado Sehun-ah. Nado Saranghae. Neomu saranghae. Jeongmal Sarenghae. I love you so much it hurts! It really does!'

Luhan sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi kali ini. Dia menangis dengan kencang. Tidak perduli kalaupun semua orang bisa mendengar isakannya. Dia hanya ingin melampiaskan semua kesedihannya. Luhan terus menangis. Tidak perduli dengan matanya yang terasa panas karena terlalu banyak airmata yang diteteskannya. Tak perduli teriakan-teriakan khawatir Baekhyun dan Kyungsoo yang terdengar dari luar kamarnya yang terus mengetuk pintu dan menanyakan keadaannya. Yang dipikirannya saat itu hanya satu. Seseorang lebih tepatnya. Seseorang yang telah menggugurkan cintanya, bahkan sebelum dia sempat bersemi.

"Sehun-ah! Nan eottokhae? Sehun-ah. Sehun-aaahh, hiks, hiks," kalimat itu terus terdengar disela-sela tangisnya.

Luhan menangis. Terus menangis seolah-olah semua rasa sakit dan sedihnya bisa menguap seiring dengan airmatanya yang terus saja membanjiri wajah manisnya dan membasahi bantalnya. Dia tidur sambil memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Luhan terus menangis, terisak, dan sendiri di dalam kamarnya. Sampai akhirnya dia lelah dan terlelap dalam tangisannya.

Entah mengapa, musim dingin kali ini terasa lebih dingin dari sebelumnya.

~O.O~

"Eeuunngghhh," Luhan terusik dari tidurnya ketika merasakan ada dua lengan yang memeluknya dari sisi kanan dan kirinya. Perlahan Luhan membuka matanya yang terasa sangat perih untuk melihat sang pemilik tangan. Di sana, di sampingnya, Baekhyun dan Kyungsoo menatapnya dengan tatapan khawatir mereka. Jangan tanya kapan mereka masuk dan bagaimana mereka bisa masuk, karena dia juga tidak tahu.

"Kau sudah bangun Hyung? Bagaimana perasaanmu?" tanya Baekhyun khawatir sambil mengusap kepala Luhan. Luhan hanya terdiam. Pertanyaan Baekhyun membuatnya teringat kembali akan pengakuan Sehun tadi malam. Luhan menatap kosong ke langit-langit kamarnya dan air matanya kembali mengalir.

"Hyung, lihat aku!" ujar Kyungsoo pelan. Luhan beralih menatap Kyungsoo. "Kau tahu kan kalau kami menyayangimu?" tanya Kyungsoo yang dijawab oleh anggukan lemah dari Luhan yang masih menangis. "Kau juga tahu kan kalau kami selalu ada di sini untukmu?" Tanya nya lagi sambil membawa Luhan dalam rangkulannya. Luhan mengangguk lagi dan menenggelamkan kepalanya di dada mungil Kyungsoo. "Kami tidak akan bertanya mengapa, Hyung. Kami akan menunggu sampai Hyung siap dan mau menceritakan apa yang terjadi semalam. Apa yang membuatmu menangis seperti ini. Jadi Hyung, jangan merasa kalau kau sendirian, ne?! Karena aku ada di sini. Baekhyun Hyung juga," tuturnya lembut.

Luhan menggenggam erat baju yang dikenakan Kyungso dan menangis tertahan. "Kyungsoo-ya, hiks, S-Sehun, hiks, dia, Jongin, hiks," hanya itu yang mampu diucapkan Luhan. Dia bahkan tidak mampu untuk mengucapkan satu kalimat dengan benar. Tubuhnya bergetar hebat karena mencoba menahan tangisnya.

"Shhh, Hyung, tidak perlu ditahan. Menangislah kalau memang ingin menangis," ucap Baekhyun sambil memeluknya dari belakang.

"Menangislah kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Kami di sini Hyung, bersamamu. Jangan pernah merasa sendiri. Kesedihanmu, bebanmu, berbagilah dengan kami, Hyung. Kami akan menerimanya. Membantumu menguranginya. Aku, aku, hiks, hiks," Baekhyun tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia menangis sambil memeluk Luhan erat dari belakang.

Sungguh, dia tidak bisa melihat Luhan seperti ini. Luhan tidak pernah menangis selama ini, setidaknya tidak di depan mereka. Luhan selalu berusaha terlihat ceria dan tegar agar kedua dongsaengnya tidak khawatir. Tapi kali ini, Luhan yang menangis seperti ini terlihat sangat rapuh. Dia terlihat sangat lemah dan itu membuat hatinya sakit, membuatnya seperti ikut merasakan sakit yang dirasakan Luhan. Dia sangat menyayangi Luhan. Karena baginya, Luhan itu seperti kakak kandungnya sendiri.

Kyungsoo pun tak jauh berbeda sebenarnya. Dia juga ingin sekali menangis saat ini. Apalagi ketika dia mendengar isakan Baekhyun. Tapi dia tidak bisa menangis, lebih tepatnya tidak boleh ikut menangis. Salah satu dari mereka bertiga harus bisa lebih kuat untuk menenangkan keduanya.

Kyungsoo hanya bisa mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap pelan punggung Baekhyun. Baju bagian depannya sudah sangat basah karena air mata Luhan. Tapi dia tidak memperdulikannya. Dia hanya diam sambil terus merangkul Luhan dan Baekhyun. Menunggu agar keduanya bisa lebih tenang. Berharap Luhan mau menceritakan masalah yang membuat dia menangis hebat seperti ini. Sebenarnya dia sudah bisa menduga kalau ini ada hubungannya dengan Sehun. Tapi mengapa? Bukannya kemarin mereka masih baik-baik saja? Bahkan kemarin siang dia masih melihat Luhan tersenyum manis pada layar hp nya seperti biasa. Apa yang sebenarnya terjadi?

Luhan terus menangis. Sebenarnya dia merasa sangat malu saat Baekhyun dan Kyungsoo melihatnya dalam keadaan seperti ini. Dia membenci dirinya sendiri yang terlihat rapuh dan menyedihkan di hadapan keduanya. Bagaimanapun, dia yang paling tua diantara mereka. Seharusnya dia tidak boleh menangis layaknya anak kecil seperti sekarang. Tapi Luhan tidak bisa. Dia tidak perduli. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ditahannya walaupun kepalanya terasa pening akibat terlalu lama menangis. Dan dia masih menggenggam erat baju Kyungsoo seolah-olah hidupnya bergantung padanya. Mungkin Luhan terlihat lebay karena menjadi seperti ini hanya karena putus cinta. Tapi siapa yang bisa menyalahkannya? Luhan belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Sehun adalah cinta pertamanya. Dan dia terlalu mencintai Sehun yang bahkan sama sekali tidak peka akan apa yang dirasakan Luhan.

Tak ada yang bersuara setelah itu. Hanya sesekali terdengar suara isakan Luhan yang mulai mereda. Baekhyun sendiri sudah bisa lebih mengatur emosinya dan berhenti menangis sejak tadi. Kyungsoo pun hanya diam, menunggu tangisan Luhan benar-benar reda.

~O.O~

Setelah merasa sedikit lega dan tenang akhirnya Luhan berhenti menangis. Luhan menghapus sisa-sisa airmata di pipinya. Dia terdiam beberapa saat, berusaha mengatur nafas dan emosinya. Setelah dirasa kalau dia benar-benar siap bercerita kepada BaekSoo, Luhan pun melepaskan genggamannya pada baju Kyungsoo. Dia mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada sandaran tempat tidurnya, memeluk lututnya dan mulai bercerita. BaekHyun dan Kyungsoo pun ikut bangun dan duduk di sampingnya. Mereka hanya terdiam mendengarkan semua cerita Luhan.

Sehun mempunyai seorang kekasih? Bagaimana mungkin?

Itulah yang dipikirkan keduanya. Mereka kaget. Jelas saja, selama ini mereka juga mengira kalau Sehun juga menyukai Luhan. Dengan semua perhatian Sehun ke Luhan selama 2 bulan terakhir ini, siapa yang tidak akan berfikir demikian? Ayolah! Teman mana yang selalu menghubungi temannya secara rutin siang dan malam setiap harinya kalau dia tidak memiliki perasaan khusus pada temannya itu! Jika memang benar Sehun punya pacar, BaekSoo bahkan yakin kalau dia lebih sering menghubungi Luhan daripada seseorang yang disebutnya sebagai kekasihnya itu.

"Aku benar-benar menyedihkan bukan?" ucap Luhan setelah mengakhiri ceritanya. "Menangis hanya karena hal seperti ini," lanjutnya lemah. Suaranya terdengar parau. "Aku bahkan salah menafsirkan semua perhatiannya padaku. Dan sekarang airmataku tidak bisa berhenti keluar, hiks hiks!"

Melihat Luhan yang mulai menangis lagi, Baekhyun langsung memeluknya dari samping, "Sshhh, Hyung, gwaenchanna. Semua orang menangis, Hyung!" kata Baekhyun sambil terus mengusap-usap punggung Luhan dengan sayang.

"Kau tidak tahu Hyung. The almighty Kyungsoo Eomma pun pernah menangis saaaaangat kencang hanya karena kue eksperimennya GaTot alias gagal total. Dia bahkan membutuhkan waktu 3 hari untuk kembali ke dapur dan mulai bereksperimen lagi," ujar nya dengan sedikit melebih-lebihkan, berharap Luhan akan tersenyum membayangkan wajah frustasi Kyungsoo saat itu. Dan dia berhasil. Luhan tersenyum, walaupun hanya sedikit.

"Jeongmal?" ucapnya sambil sedikit terkekeh pelan. "Aku tidak tahu kalau Eomma pernah gagal dalam urusan masak-memasak," lanjutnya lagi sambil menoleh pada Kyungsoo.

"Yaaaaaaahh! Baekhyun Hyung terlalu melebih-lebihkan!" Kyungsoo memukul lengan Baekhyun pelan, tidak terima karena rahasia masa kelamnya dibongkar begitu saja. "Muahahaha, seharusnya saat itu aku mengambil gambarmu Kyungsoo-ya. Aku yakin, Luhan Hyung pasti tidak akan tahan melihatnya, hahaha!"

"Tch, tertawalah sepuasmu Hyung. Apa kau lupa bagaimana kau menangis dengan jeleknya saat kau ketinggalan satu episode drama favoritmu karena ketiduran. Ck ck ck! Hari gini Hyung! Siapa yang menangis hanya karena hal seperti itu. Muahahahaha!" cerita Kyungsoo tak mau kalah.

"Yaaaaaaahh, kau—" "Muahahahaha!" Baekhyun bahkan belum sempat melanjutkan kalimat pembelaannya saat dia mendengar Luhan tertawa.

"Tuh lihat, Luhan Hyung saja tertawa. Apalagi aku yang jelas-jelas menyaksikan adegan itu. Kekekeke."

"Aiissshh, kalian! Suka sekali bersenang-senang diatas penderitaanku!" ujar Baekhyun pura-pura sebal. Padahal dia senang sekali karena berhasil membuat Luhan tertawa lagi. Biarlah kali ini dia ternistakan oleh cerita Kyungsoo. Apapun itu, asalkan Luhan tidak menangis lagi. Baekhyun menunjukkan senyumam 'kita berhasil'nya pada Kyungsoo, yang dibalas dengan senyuman yang sama.

"Ehem," Baekhyun berdehem untuk menarik perhatian Luhan dan Kyungsoo. "Sekarang sudah jam 9. Karena kita sudah melewati jam pertama mata kuliah hari ini, mau membolos sekalian? Jujur saja, aku agak malas, hehehe" tanyanya sambil menatap Kyungsoo, berharap sang Eomma dapat menangkap sinyal yang diberikannya dan menyetujui idenya.

"Aku tidak keberatan. Hmmm, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja hari ini? Kita ke Lotte World saja, eotte? Kita bersenang-senang seharian. Lagipula kita kan sudah lama tidak jalan-jalan bertiga, ya Hyung?!" Kyungsoo bertanya kepada Luhan dengan mata bolanya O.O agar Hyungnya mau menerima tawarannya. Dia tahu kalau Luhan sangat menyukai Lotte World dan ingin sekali pergi ke sana.

"Aku setujuuuuuuuuuuu!" ujar Baekhyun semangat. "Kau ikut kan Hyung?" Dia pun ikut-ikutan bertanya dengan jurus puppy eyes andalannya demi meluluhkan hati Luhan.

Luhan terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan. "Aku juga sedang tidak ingin kuliah hari ini. Jadi, kenapa tidak?" jawabnya sambil tersenyum tipis. Luhan tahu, dia tahu sekali kalau kedua dongsaengnya sedang berusaha menghiburnya dan mengalihkan perhatiannya dari pikiran-pikiran tentang Sehun. Dia faham sekali, karena Kyungsoo tidak pernah membolos kuliah selama ini. Dan Baekhyun, well, Luhan juga tahu, Baekhyun bukan penggemar Lotte World. Dia lebih suka menonton drama di rumah atau pun pergi shopping di waktu luangnya. Dan dia, tidak ingin mengecewakan kedua dongsaeng tersayangnya itu.

"Assaaaaaaaaaaa, kalau begitu aku akan mempersiapkan makanannya Hyung! Sekalian kita piknik dan makan diluar saja nanti. Kalian bersiap-siaplah Hyung!" ucap Kyungsoo, "aaahhhhh, kita piknik!" lanjutnya senang sambil berlalu meninggalkan kamar Luhan.

"Nah, Hyung! Ayo kita besiap-siap sebelum Eomma mengamuk karena melihat kita belum apa-apa, kekekeke. Kau mandilah dulu Hyung, aku akan membantu Kyungsoo menyiapkan makanan," ujar Baekhyun sebelum menyusul Kyungsoo ke dapur. Tapi saat dia sampai di pintu kamar Luhan, dia berbalik dan kembali menghampiri Luhan.

"Hyung! No more tears for today, OK!" Baekhyun tersenyum sambil mengusap sisa-sisa air mata di pipi manis Luhan kemudian mencium kening Luhan lembut. Mengisyaratkan pada Luhan, agar Luhan tidak perlu khawatir dan bersedih lagi. Karena dia menyayanginya. Karena dia akan selalu ada di sini untuknya.

Hari itu, untuk pertama kalinya Luhan bolos kuliah. Dia menghabiskan harinya bersama Kyungsoo dan Baekhyun. Jalan-jalan, ke Lotte World, piknik di taman kota. Luhan bahkan meninggalkan ponselnya di rumah. Karena dia benar-benar ingin sejenak melupakan Sehun. Lebih tepatnya melupakan kenyataan yang baru saja diketahuinya tadi malam. Dia hanya ingin bersenang-senang hari itu. Demi Kyungsoo yang sudah rela meninggalkan kuliahnya dan Baekhyun yang rela pergi ke tempat yang tidak begitu disukainya demi dirinya. Ya, demi kedua dongsaeng baik hatinya, dia ingin bahagia, atau setidaknya terlihat bahagia dan baik-baik saja di depan mereka.

"Gomawo Baekhyun-ah, Kyungsoo-ya! Jeongmal-jeongmal gomawo!" ucapnya sebelum tertidur dipelukan erat BaekSoo yang memaksa untuk tidur dengannya malam itu, dengan alasan 'Bukankah kita mengawali hari ini dengan bangun diranjang yang sama, jadi, kenapa tidak kita akhiri dengan cara yang sama juga?' yang diungkapkan Baekhyun dan disambut dengan anggukan tanda setuju dari Kyungsoo. Luhan hanya tersenyum. Berada di dekat BaekSoo membuatnya sedikit bisa melupakan kesedihannya. Dalam hatinya, ia sangat bersyukur karena mengenal Baekhyun dan Kyungsoo. Hhhh, Luhan bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dia saat ini kalu saja dia tidak mengenal keduanya.

~O.O~

3 minggu telah berlalu semenjak kejadian itu. Luhan sedikit menjaga jarak dari Sehun. Dia jarang membalas pesahan-pesan Sehun di ponselnya. Dia bahkan tidak membuka sama sekali pesan-pesan Sehun yang dikirimnya ke e-mailnya. Dia juga tidak mengangkat telfon Sehun. Bahkan saat tahun baru kemarin, Luhan hanya mengirikan pesan singkat –sangat singkat—pada Sehun.

Bukan. Luhan bukannya ingin memutuskan persahabatannya dengan Sehun. Sehun tetap sahabatnya. Sehun tetap adiknya. Sehun tetap orang yang sangat dicintainya. Dia juga ingin semuanya kembali seperti dulu. Saling bertukar kabar, tertawa bersama, bercerita tentang hari-hari yang dilalui masing-masing. Dia ingin sekali membalas semua pesan-pesan Sehun dan mendengar suaranya. Tapi tidak sekarang. Dia masih ingin menata hatinya kembali dulu. Di samping itu, dia juga masih belum siap untuk berbicara dengan Sehun. Tentu saja Luhan memberikan alasan yang bisa diterima oleh Sehun.

Ujian Semester.

Untungnya saat itu Luhan memang tengah menjalani masa-masa sibuknya ujian semester. Tugas-tugas yang menumpuk setidaknya mengalihkan perhatiannya dari memikirkan Sehun. Dia juga jadi memiliki alasan untuk tidak membalas pesan-pesan Sehun. Tapi, walaupun Luhan sama sekali tidak membalasnya, Sehun tetap rutin mengirim pesan padanya. Memberinya semangat dalam menjalani ujiannya, atau hanya sekedar menanyakan keadaan Luhan. Luhan sendiri bingung. Kenapa Sehun terus memberikan perhatian lebih padanya? Bukannya dia sudah memiliki kekasih? Seharusnya dia kan jadi memiliki banyak waktu luang bersama kekasihnya. Tapi kali ini Luhan tidak ingin menaruh harapan lagi. Dia, tidak ingin menangis lagi.

Seminggu setelah menyelesaikan semua tugas-tugas dan ujiannya, Luhan memberanikan dirinya membuka e-mailnya. Sudah tiga hari ini Sehun tidak 'mengganggunya'. 'Apa Sehun marah padaku?' pikirnya. Luhan membaca satu-persatu pesan-pesan yang dikirimkan Sehun untuknya. Ada banyak sekali pesan dari Sehun. Isinya hampir sama semua. Menanyakan kabar dan ujiannya. Tapi walaupun begitu, Luhan tetap membacanya. Sampai pada pesan yang terakhir dikirim Sehun, Luhan terkesiap. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba saja merasuki tubuhnya saat membacanya. Luhan merasa seperti anak kecil saat itu karena mengabaikan Sehun. Padahal, dia jauh lebih tua dari Sehun.

"Hyung, bagaimana kabarmu? Sudah hampir satu bulan kau tidak membalas pesanku dengan layak Hyung. Kau hanya membalas dengan "ya", "tidak", atau "mianhae, aku sibuk". Hyung bahkan tidak menulis "Sehun-ah" seperti biasanya. Apa kau begitu sibuknya Hyung? Apa Hyung merasa terganggu dengan pesan-pesan yang ku kirimkan selama ini? Atau, Hyung masih memikirkan tentang kejadian malam itu? Karena setelah aku memikirkannya lagi, Hyung mulai jarang membalas pesanku setelah kejadian itu. Waeyo Hyung? Bukankan Hyung sendiri yang bilang bahwa tidak akan ada yang berubah? Tapi kenapa aku merasa kalau Hyung mengabaikanku dan menjauh dariku? Apa kau benar-benar membenciku sekarang Hyung? Arasseo, Hyung. Mungkin aku memang menyebalkan dan membuatmu merasa terganggu. Mianhae! Kalau begitu, mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi Hyung. Gomawo sudah mau berteman denganku selama 3 bulan terakhir ini Hyung. Aku menyayangimu, Hannie Hyung, annyeong ^^"

Luhan panik. Apakah dia telah menjadi orang yang egois sekarang? Karena membiarkan perasaan pribadinya menang dan mengacaukan persahabatannya dengan Sehun? Karena membuat Sehun bersedih dan berfikiran seperti itu? Bukankah dia tidak ingin membuat Sehun sedih? Luhan bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Haruskah dia membalas pesan itu? Haruskah dia mengirim SMS kepada Sehun? Ataukah dia harus menelfon Sehun? Meminta maaf atas sikap kekanak-kanakannya? Menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi padanya? Tapi, jika begitu, Sehun akan mengetahui perasaannya. Dan Luhan juga tidak mau itu terjadi.

Dan di sinilah dia sekarang. Duduk diatas tempat tidurnya, ponsel menempel erat ditelinganya, mendengarkan nada sambung yang tidak kunjung berhenti. Yeah, dia memutuskan untuk menelfon Sehun, setelah mendapatkan death glare dari BaekSoo yang menyuruhnya untuk berhenti bersikap childish dan menjelaskan semuanya kepada Sehun.

Tuuuut,,,, Tuuuut,,, Tuuuut,,,,

Hhhh, sepertinya Sehun benar-benar marah padanya.

"Hyuuuuuung?!"

Atau tidak,

Luhan merasa kegugupannya bertambah saat mendengar suara ceria Sehun. Apa yang harus dikatakannya sekarang?

"Mmmmm, Se-Sehun-ah?" ucapnya ragu.

"Hyuuuung, hiks, hiks, " tiba-tiba saja suara diseberang sana berubah menjadi tangisan. "Luhan Hyuuuung!"

"Sehun-aah! Kau, mengapa menangis? U-uljima Sehun-ah!" panik Luhan. Terang saja, Luhan sudah bersiap-siap menerima semua amarah Sehun padanya karena 'mengabaikannya', tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Sehun justru akan menangis seperti ini.

"Hyuuung, hiks, aku kira Hyung hiks tidak mau berhubungan lagi denganku, hiks, hiks, aku kira hiks Hyung membenci-hiks-ku,"

Luhan tersenyum mendengarnya. "Yaaaahhh, kenapa menangis? Tentu saja aku tidak membencimu. Mianhae Sehun-ah, tapi aku benar-benar sibuk satu bulan terakhir ini," kata Luhan. "Kau tahu kan, tugas-tugasku tidak dengan tugas-tugasmu. Nanti kau akan merasakannya sendiri saat kau kuliah," lanjutnya.

Luhan tahu, alasan itu tidak cukup untuk menjelaskan keabsenannya selama sebulan ini. Tapi setidaknya Sehun percaya padanya dan berhenti menangis.

"Benar-benar karena itu? Bukan karena Hyung merasa terganggu? Hyung benar- benar tidak membenciku?"

"Eum, tentu saja tidak. Lagipula, mengapa aku harus membencimu? Aku bahkan sangat menyayangimu, Sehun-ah! Karena itu, jangan menangis lagi, ne!"

"Jeongmalyo? Aaaaahhhhh! Syukurlaaahhhh, aku kira kau terganggu dengan semua pesan-pesanku dan membenciku Hyung," ujarnya Senang. "Aku juga sangaaaaaattt menyayangimu, Hannie Hyung!"

Lagi-lagi Luhan hanya bisa tersenyum. Sehun is, indeed, still a boy. Dia masih anak-anak. Dan Luhan tidak bisa mengabaikannya. Biarlah perasaannya dikubur dalam-dalam, dan Sehun tidak perlu mengetahuinya. Bagi Luhan, asalkan itu bisa membuat Sehun tetap tersenyum. Apapun akan dilakukannya. Walaupun itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya Sendiri. Jika itu berarti kebahagian Sehun, Luhan bisa. Dia harus bisa. Dan Luhan pun kembali menjadi Luhan yang dulu.

Demi Sehun.

Dan mereka pun kembali seperti semula. Sahabat yang saling menyayangi. Saling bertukar kabar, tertawa bersama, dan bercerita tentang hari-hari yang dilalui masing-masing. Mungkin nanti akan ditambah dengan beberapa cerita tentang 'Jongin' dari Sehun. Tapi Luhan juga akan berusaha tidak akan terlalu memikirkannya.

Luhan berfikir, dengan adanya Baekhyun dan Kyungsoo -dua dongsaeng super jahil- yang menyayanginya dan selalu ada bersmaanya, serta Sehun -dongsaeng spesialnya- dengan semua cerita-ceritanya, mungkin musim dingin kali ini akan terasa sedikit lebih hangat dari musim-musim dingin sebelumnya.

.

.

.

.

.

TBC

~O.O~

A/N:

Haihaaaaiiiii!

#lambailambaibarengLuhan

Liyya kembali lagi, mian kalau tambah gaje, kepanjangan, membosankan, n gak dapet feelnya untuk chapter ini. Liyya sudah memeras otak dan inilah hasilnya. Sekali lagi mianhaeee,

#bowbarengBaekSoo

Liyya juga mau ngucapin beribu maaph buat yang gak suka KaiHun/HunKai, ataupun yang shippernya mereka, karena Kai di sini Liyya jadikan orang ketiganya HunHan. Untuk yang minta momentnya HunKai juga, Liyya gak janji ya, karena untuk bikin moment itu, jiwaLuhan(?) Liyya belom siap #nyengirkuda. Kai bakal muncul kok, tapi gak Tao di chap berapa. Hehehehe #dibakarHunkaiShipper

Chap ini juga masih flashback, chap depan baru kita kembali lagi ke masa sekarang. Siapa yang selalu menunggu dan excited dengan pertemuannya HunHan?!

#readers: gak adaaaaaaaa

#authorpundungdipojokan

Tidak henti-hentinya juga Liyya ucapin banyaaaaaaaakkk terimakasih buat Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan membaca apalagi yang berkenan nge-review dan nge-fav ff abal-abal Liyya. Kalian benar-benar penyemangatku! Jeongmal2, neomu2 gomawo, #bow90°

Balesan Review:

Hunhanshipper: kyaaaa,,,, maksih udah dibilang seru saengieee,,, yups,, 100 buat kamu yang telah berhasil menebak siapa kekasih Sehun,,, #lemparbias* aku juga kagak tega sebenarnya sama Luhan di sini, tapi mau gimana lagi, ini semua hanya tuntutan peran kok ^_^

Ini udah lanjut, mian HunHan nya belom bisa ketemu, sabar yaaaa,,, pasti ketemu kok ^^

Makasih udah ngereview^^

ajib4ff: Annyeong,, salam kenal juga eonnie^^,,, makasih udah bersedia mampir, baca, n dibilang bagus,,, iya noh,, ngapain coba dia udah punya kekasih,,,? O.O #digamparSehun

ini udah update eon,, moga gak mengecewakan ya,,,

Makasih udah ngereview^^

RirinSekairini: sweet yaaa,,,? Setelah baca chap ini,, apakah masih bisa bilang sweet,,,? #senyumevil* kekekeke... pengennya sih gt yaa,, si Cadel bilang kalo pacarnya itu 'Luhannie Hyung',, tapi apalah daya, Liyya sudah tanda tangan kontrak dengan Kkamjong buat jadi pacarnya Sehun o.O

Muahahaha,, Liyya juga sudah tua banget kok =_=,, btw ini udah lanjut, moga gak mengecewakan ya^^,,

Makasih udah ngereview^^

baby reindeer: kalimat terakhir bikin mata sakit ya,, mianhaeeee,,, #tiup lilin *eh maksud Liyya matanya ^_^,, kenpa Sehun sudah punya pacal,,,? Karena Kkamjong nembak dia duluan #plakk,, Luhannya gak kemana-mana kok, masih di sini, di hati aku #dilemparThehun,, heppi endo gak ya,,,? #ketawanista

Ini sudah update, moga gak mengecewakan ya,,,

Makasih udah ngereview^^

WinterHeaven: gomawo udah baca ^_^ ,, Sehun gak cari masalah kok saeng,,, dia cuma mencari cinta sejati *bahasanya euuuyyy,,, iyaaa,, satukan HunHaaannn *ikutandemo #authorikutansarap

Ini chap 3 nya udah meluncur(?), moga gak kecewa ya,,

Makasih udah ngereview^^

lisnana1: kamu gak suka HunKai/KaiHun,,,? Samaaaaaaa,,, Liyya juga gak sukaaaa (Kai: trus nape gue dikontrak disini? authorsarap),, kekeke,, ff nya tetep lanjut kookk, ini chap 3 nya udah datang, moga kamu gak kecewa sama chap ini ^^,,, makasih buat semangatnya yaaa,,, ^_^

Makasih udah ngereview^^

Kiela Yue: Rinaaaaa,, Liyya juga mau liat wajah tersipunya Luhan dari webcam,, kekeke #ngayal* Liyya juga gak tao noh apa tujuannya dia cerita ttg kekasihnya ke Lulu *authorgaje# iya tuh, Sehun kagak peka sama perasaannya Lulu,, tenang aja,, Lulu tetep sabar kok, kan ada Liyya yang selalu setia disampingnya #plakk #ditopanSehun #didemoHunHanShipper,,

Moga gak kecewa sama chap ini yaa,, mian kalo feelnya gak dapet,, #sembunyidipelukanLuhan

Makasih udah ngereview^^

TYSLAulia: Makasih banget udah bersedia baca,,, Ini sudah update,,, moga gak kecewa yaaa

Makasih udah ngereview^^

rinie hun: Kenapa Sehunnie jadi punya pacar,,,? Tanyakan pada rumput yang bergoyang #abaikan

ini sudah lanjut,,, semoga kamu suka yaaa

Makasih udah ngereview^^

Anyways, Liyya boleh minta review nya lagi yaaa :)

Satu lagi, jangan panggil author yaa, gimanaa gt rasanya -_-

Liyya umurnya sama kayak Luhan, jadi, bisa panggil nama aja, ato Chingu, Saeng, Eonnie, Adek, Kakak, apa aja deh asal jangan author^^

So, see U next chapter?

#Kecupbasah readers satu-satu ^_^