The One
By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kris Wu
Pairing: HunHan, slight!KaiHun/HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: Boys Love, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 8 of ?
Disclaimer: Semua cast milik orang tuanya masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja. Cerita murni dari hasil imajinajis(?) saya ^^). Nama SNU (Seoul National University) cuma pinjem namanya aja. Kurikulum perkuliahan adalah kurikulum ciptaan saya sendiri,, hehehehe
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
.
.
HAPPY READING^^
.
.
Preview Chapter:
Sehun baru menyadarinya. Kesempatan itu selalu ada di dekatnya. Hanya saja, dia terlalu takut untuk meraihnya. Takut kalau setelah meraihnya, ternyata semua itu hanya kesalahpahaman belaka. Takut kalau-kalau pada akhirnya, dia akan terluka lagi, atau yang lebih parah lagi, dia akan melukai Luhan.
~O.O~
Luhan merapatkan jaket yang dipakainya saat keluar dari gedung fakultasnya. Akhir-akhir ini cuaca jadi semakin dingin. Apalagi, kurang dari sebulan lagi musim dingin akan datang. Luhan berjalan sendirian menuju kantin. Hari itu Sehun ada kelas tambahan, jadi mereka tidak bisa makan siang bersama. Sedangkan BaekSoo, Luhan sendiri tidak tahu kemana mereka pergi.
Hhhhh, Luhan mendesah pelan. Sebenarnya dia malas kalau harus ke kantin sendiri. Hanya saja, dia sangat lapar saat itu. Kalau tidak karena kuliahnya akan berlangsung sampai sore, dia lebih memilih untuk pulang saja dari pada harus makan sendirian di kantin. Setelah membeli seporsi french fries dan segelas capucino, Luhan pun duduk di meja biasanya.
Grepp
"Tebak siapaaaa," terdengar suara berat dari seseorang yang berada di belakang Luhan dan menutup matanya. Luhan tersenyum dan memakan fries nya sebelum menjawab.
"Tidak ada pekerjaan lain, tuan Wu?" tanya nya bercanda. Kris pun langsung menarik tangannya dan duduk di depan Luhan. Menatap Luhan dengan cengirannya.
"Aigooooo. Bagaimana kau bisa tahu kalau itu aku, Lu?" tanya nya sambil mencomot kentang goreng di depan Luhan.
"Cih! Siapa lagi yang punya tangan selebar tangan mu dan suara seberat itu? Tidak mungkin Chanyeol yang melakukannya," jawab Luhan santai. "Lalu, kenapa 'Princess' sendirian di sini? Kemana para pengikutmu? Dan yang terpenting, 'Pangeran' mu?" tanya Kris lagi. "Y-yaaaaahhh! Berhenti mengambil fries ku! Mereka sibuk!" omel Luhan berusaha menyembunyikan semburat di pipinya.
"Aeeeyyyy. Tidak perlu sewot hanya karena 'Pangeran' mu tidak bisa menemani sehari saja. Lagipula aku kan hanya ingin membantumu," kilah Kris. "Arasseo. Aku membeli makanan untukku dulu. Kau tetaplah di sini. Jangan kemana-mana sebelum aku kembali," ucap Kris sebelum berlalu.
"So, bagaimana perkembanganmu dengan 'Pangeran' Sehun, Lu?" tanya Kris to the point setelah membeli makanannya dan duduk kembali di depan Luhan.
"Uhuk, uhuk," Luhan langsung tersedak dan batuk-batuk saat mendengar pertanyaan Kris yang terkesan frontal itu. Bagaimana mungkin dia bertanya seperti itu? Darimana dia tahu? Seingatnya, dia tidak pernah bercerita tentang perasaannya pada Kris.
Kris lalu memberikan air mineral yang tadi dibelinya untuk meredakan batuk Luhan. "Makanya kalau makan pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru. Aku tidak akan kemana-mana kok," ucapnya innocent, seolah-olah bukan dia penyebab Luhan menjadi seperti itu.
"Uhuk, uhuk, aiiisshh! Ini gara-gara kau menanyakan pertanyan aneh secara tiba-tiba! Dasar naga jelek," sewot Luhan.
"Apa nya yang aneh? Aku kan hanya bertanya yang sebenarnya. Tidak usah menyangkal, Lu, aku tahu semuanya. Matamu menceritakan semuanya saat kau memandangnya. Pipimu mengatakannya saat kau tersipu karena perlakuan kecil darinya. Dan bibirmu menggambarkan semuanya saat kau tersenyum manis padanya!" ucap Kris panjang lebar.
Luhan menatap Kris tak percaya. Apakah dia benar-benar menunjukkan itu semua? Apa perasaannya pada Sehun benar-benar terlihat dengan jelas dari luar? Luhan membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi kemudian menutupnya lagi.
"Aigoo. Tidak perlu membuka tutup mulut manismu seperti ikan yang kehilangan airnya!" ucap Kris menggoda Luhan membuat Luhan lagi-lagi tersipu. "Apa terlihat dengan jelas?" tanya Luhan setelah terdiam cukup lama.
"Eoh?" Kris menatap Luhan bingung. "Perasaanku pada Sehun, apa terlihat dengan begitu jelas?"
"Tentu saja. You are literally drooling all over him," canda Kris. Tapi saat Luhan tidak menanggapi candaannya, dia tahu ada yang salah. "Wae? Apa ada yang salah?" tanya nya.
"Aniyo," jawab Luhan lemah. "Hanya saja, itu membuatku berfikir. Kalau kau saja bisa melihatnya, bagaimana mungkin dia tidak? Padahal aku lebih dekat dengannya," Luhan menghela nafasnya berat.
Pletakk
"Owwwwcchh, Yaaa! What was that for?" Luhan manyun dan mengusap jidatnya yang terasa panas setelah di sentil dengan penuh kasih sayang oleh Kris. "For being pathetic," Kris mengedikkan bahunya.
"Aku bisa melihatnya, karena aku pernah menatapmu dengan tatapan yang sama. Tersenyum padamu dengan senyum yang sama. Hanya saja, aku tidak pernah tersipu, hehehehehe," Kris memang pernah mencintai Luhan. Bahkan dia masih mencintainya. Tapi bukan berarti dia bisa memaksa Luhan untuk membalas perasaannya kan? Apalagi, Luhan sudah mencintai orang lain yang sepertinya juga membalas perasaannya.
"I'm not being pathetic Mr. Wu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Dia mencintai orang lain," jawab Luhan kesal. Kris menggelengkan kepalanya. Keduanya sama-sama bodoh, pikir Kris.
"Hei," panggil Kris. "Mau tahu apa yang aku pikirkan,?" tanya nya. Luhan tidak menjawab. Dia hanya menatap Kris dan menunggunya melanjutkan kata-katanya.
"Menurutku kalian berdua sama-sama bodoh," ucap Kris. Luhan ingin sekali menjitak kepala Kris saat itu juga. Tetapi mengingat tangannya yang pendek dan Kris yang berada lumayan jauh dari jangkauannya, dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk mendengar kalimat selanjutnya saja. "Mind to explain?" tanya nya.
"Sehun memiliki perasaan yang sama denganmu Luhan. Apa kau tidak bisa melihatnya?" Luhan terdiam. "Hhhhh. Jangan salahkan Sehun yang tidak bisa melihat perasaanmu. Kau sendiri juga tidak bisa melihat perasaannya. Dia selalu menatapku dengan tatapan membunuhnya tiap kali aku dekat denganmu. Well, kalau saja tatapannya benar-benar bisa membunuh, maka yang duduk di depanmu sekarang bukanlah Kris Wu, melainkan arwahnya."
"Maldo andwae! Sehun tidak mungkin menyukaiku. Dia mencintai Jongin." Luhan bersikeras.
"Dia berkata begitu?" tanya Kris. "Well, he did say it back then," jawab Luhan. "Seberapa lama 'back then' yang kita bicarakan?" tanya Kris lagi. "Emmmmm, sepertinya sekitar 6 bulan yang lalu?"
Pletakk
Kali ini Kris menjitak Luhan. "Yaaaakkk! Itu karena kita tidak pernah membicarakan Jongin semenjak mereka putus!" Luhan membela diri.
Hhhhhhhh. Kris menghela nafas. "Tapi itu bukan berarti dia masih mencintainya, dan tidak menutup kemungkinan kalau dia mencintaimu." Luhan terdiam. "Mengapa kalian tidak pernah membicarakannya?"
"Karena aku tidak pernah menanyakannya. Aku tidak mau dia mengingat kejadian pahit itu. Aku hanya tidak ingin dia terluka," jawab Luhan.
"Oke! Intinya kau tidak ingin mengungkit masalah itu." Kris menyimpulkan. "Mau dengar pendapatku?" tawar Kris. Luhan mengangguk.
"Tell him!" jawab Kris singkat. Luhan menatap Kris dengan tatapan 'are you crazy?' nya. "No, I'm not, Lu. Kau sendiri yang bilang kalau Sehun tidak tahu perasaanmu padanya. Tapi paling tidak kau mempunyai sedikit gambaran tentang perasaannya padamu sekarang. So, tell him, Lu. Confess to him. Katakan padanya. Dengan begitu dia akan membuka matanya dan melihat perasaanmu. Dengan begitu, kau bisa mengetahui bagaimana perasaannya padamu. Dengan begitu, kalian tidak akan jalan di tempat lagi. Kalau dia membalas perasaanmu, maka kalian akan selangkah lebih maju. Jika memang ternyata tidak, maka kau bisa melanjutkan hidupmu Luhan. Go find someone else."
"Tapi, aku tidak mungkin melakukannya Kris. Itu memalukan," ucap Luhan memegang pipinya yang mulai terasa hangat. Membayangkannya saja sudah membuat Luhan tersipu seperti ini. Apalagi kalau dia benar-benar melakukannya. Dia bisa gila.
"That's your choise, Lu. Atau kau bisa menunggu Sehun menyatakan perasaannya padamu. Tapi, dari apa yang aku perhatikan, Sehun tidak akan melakukannya. Paling tidak, tidak dalam waktu dekat ini." Luhan tidak berkata apa-apa. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Pikirkan baik-baik 'Princess'. Tapi jangan terlalu dipikirkan. Pelan-pelan saja." Ucap Kris melihat kegusaran di wajah Luhan. Kris lalu berdiri saat melihat bayangan seseorang yang berjalan ke arah mereka dari ekor matanya. 'Perfect Timing,' batinnya.
"Arrasseo. Aku harus pergi sekarang. Sepertinya seseorang akan segera membunuhku jika aku tidak segara pergi," ucapnya dan mengacak-acak rambut Luhan saat dia melihat Luhan kebingungan. "Ingat kata-kataku Luhan. Tell him, and you will know." Kris mengedipkan matanya pada Luhan dan berlari meninggalkan kantin.
Luhan kembali memikirkan apa yang dikatakan Kris padanya. Semakin dia memikirkannya, wajahnya semakin merona. Ide kalau Sehun juga menyukainya membuat pipinya memanas. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang kini sudah duduk manis di depannya, menatapnya intens.
"EHEM!" suara deheman yang memang agak keras itu menyadarkan Luhan dari lamunannya dan menatap si pelaku.
"Eh? Sehun? Sejak kapan ada di situ?" tanya Luhan bingung. "Sepertinya Kris Hyung dari sini. Kalian ngobrol apa Hyung? Wajahmu sampai tersipu seperti itu. Kau bahkan tidak menyadari kedatanganku." Sehun balik bertanya.
Luhan menangkup kedua pipinya yang semakin terasa panas karena pertanyaan Sehun. Apalagi, nada Sehun saat bertanya terkesan seperti cemburu. Benarkah dia cemburu?
"Hanya ngobrol biasa," jawab Luhan. "Sehunnie mengapa di sini? Bukankah tadi kau bilang ada kelas tambahan? Lagipula sebentar lagi waktu istirahat siang selesai kan?" tanya Luhan mengalihkan pembicaraan.
Sehun mengedikkan bahunya. "Kelasnya sudah selesai Hyung," jawabnya singkat. "Eumm, kalau begitu Sehunnie makan ya, aku akan membelikannya." Luhan bangkit hendak membelikan sesuatu untuk Sehun.
Sehun menahan Luhan dan menariknya untuk duduk di sampingnya. "Tidak perlu Hyung, aku hanya ingin melihatmu," jawab Sehun tersenyum manis kemudian mengambil fries Luhan dan memakannya. Luhan hanya menatap Sehun dalam diam. Perkataan Sehun lagi-lagi membuatnya memikirkan apa yang diucapkan Kris barusan. Benarkah Sehun memiliki perasaan yang sama sepertinya?
~O.O~
"Aku setuju dengan Kris Hyung," ucap Baekhyun saat Luhan menceritakan pembicaraannya dengan Kris di kantin tadi siang pada Baekhyun dan Kyungsoo. Mereka sedang bercengkrama sambil menonton televisi di ruang tamu. "Bahkan aku merasa kalau Sehun menyukaimu sejak pertama kali aku melihatnya di kafe waktu itu, Hyung," lanjutnya.
"Aku juga merasa begitu, Hyung," sahut Kyungsoo. "Tatapan yang Sehun berikan padamu berbeda Hyung."
"Tentu saja berbeda. Aku kan Hyungnya. Dia menyayangiku sebagai Hyungnya," sangkal Luhan. Entah kenapa, rasanya masih terlalu sulit untuk percaya bahwa Sehun menyukainya. Luhan takut kalau dia kembali menaruh harapan kosong lagi pada Sehun.
BaekSoo memutar bola matanya mendengar jawaban Luhan. "Aku juga setuju dengan pernyataan Kris Hyung kalau kalian sama-sama bodoh," ucap Kyungsoo kemudian. "Seharusnya kau bisa melihatnya Hyung."
"Bukan aku tidak bisa melihatnya. Aku hanya berhati-hati. Dulu kalian berdua juga mengatakan hal yang sama. Menganggap kalau Sehun menyukaiku. Tapi kenyataannya? Sehun mempunyai seorang kekasih. Aku tidak mau itu terulang."
Sejenak keduanya terdiam setelah mendengar penuturan Luhan. Terbesit rasa bersalah pada diri keduanya. Saat itu, memang sebagian salah mereka yang membuat Luhan berharap pada Sehun.
"Kami tahu Hyung. Mianhae. Tapi kali ini kami benar-benar yakin Hyung. Dia pasti menyukaimu. Segala tingkah lakunya mengatakan hal itu. Kalau Hyung tetap tidak mau berkata yang sejujurnya pada Sehun, Hyung tidak akan pernah tahu kenyataannya."
"Benar kata Eomma, Hyung," timpal Baekhyun. "Dan seandainya pun, ternyata dia tidak menyukaimu, paling tidak, Sehun akan tahu perasaanmu. Dengan begitu, dia bisa mengambil sikap Hyung. Dan kau pun tidak perlu berharap lagi," Luhan terdiam memikirkan kata-kata kedua dongsaengnya. Luhan akui, sedikit banyak mereka memang benar. Tapi...
"Tapi aku takut kecewa lagi," lirih Luhan. Kyungsoo meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat. "Hyung, Kalau itu terjadi, kami akan ada di sini, Hyung!" ujarnya. "Lagipula, dua dari dongsaengmu itu tidak dijuluki 'Happy Virus' tanpa alasan kan!" sahut Baekhyun. "Apa perlu kami memastikan dulu pada Sehun?"
"Andwaaaaaeee!" jawab Luhan seketika. "Aku, aku akan menanyakannya. Hanya saja, tidak sekarang. Nanti. Saat aku rasa waktunya sudah tepat, aku akan menanyakannya."
"Dan kami akan selalu di sini untuk mendukungmu Hyung." Kyungsoo tersenyum. "Lulu Hyung, Hwaiting!" Baekhyun mengepalkan tangannya memberi semangat.
~O.O~
Minggu yang cerah. Tidak seperti biasanya, Luhan bangun pagi-pagi sekali. Dia bahkan sudah selesai mandi. Hari ini, Sehun mengajaknya keliling kota Seoul. Bagaimana Luhan tidak senang? Sehari bersama Sehun. Hanya berdua! Luhan melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 7, Sehun akan datang pukul 9. Berarti Luhan mempunyai cukup waktu untuk bersiap-siap. Mungkin dia juga bisa melakukan hal lain dalam 2 jam ini. Seperti—
"Eommaaaaa! Eomma Eomma Eommaaaa! Nae Eommaaaa! Luhannie Eommaaaa!" Luhan bernyanyi sambil memeluk Kyungsoo yang sedang mondar-mandir di dapur dari samping. Jangan tanya apa yang dilakukan Kyungsoo di dapur jam 7 pagi di hari LIBUR. Kyungsoo memang tidak pernah bangun siang di hari libur sekalipun. Dia tetap akan bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan sarapan. Padahal, Luhan dan Baekhyun baru bangun pukul 9 paling cepat.
"Wae wae waeeee?" Kyungsoo menolehkan kepalanya pada Luhan. "Tumben kau sudah bangun Hyung. Apa tidurmu tidak nyenyak?" tanya Kyungsoo.
Luhan meletakkan dagunya di pundak mungil Kyungsoo. "Aniyo," jawabnya. "Lalu?" tanya Kyungsoo lagi. "Kyungieeee! Bantu aku menyiapkan bekal, ne!" pinta Luhan dengan puppy eyesnya.
"Kau mau kemana membawa bekal Hyung? Kau mau jalan-jalan? Kenapa aku dan Baekkie Hyung tidak diajak? Kau meninggalkan kami dan ingin bersenang-senang sendirian? Bagaimana bisa kau melakukan itu pada kami Hyung? Apa kami mengganggumu Hyung? Mengapa—" Omelan lebay Kyungsoo terhenti saat Luhan melepaskan pelukannya dan puppy eyesnya berganti dengan tatapan 'shut up atau kau akan menyesal'.
"Ehehehe," Kyungsoo nyengir. Angry Luhan is not a good thing. "Errrmmm, Lulu Hyung mau dibuatkan bekal apa? Aku akan membuatkannya. Kau mau aku buatkan Kimbap? Atauuu Omurice? Atau Hyung mau aku buatkan Nasi Goreng kimchi? Aku rasa kita masih mempunya Kimchi yang dibawakan Eommanya Baekkie Hyung waktu itu," tawar Kyungsoo.
Luhan kembali memasang wajah manisnya dan memeluk Kyungsoo. "Kita buat Kimbap saja Eomma. Lebih simpel, ne!" Kyungso menganggukkan kepalanya. "But seriously Hyung, kau mau kemana?" tanya Kyungsoo.
Luhan menangkup pipinya dengan kedua tangannya. Menyembunyikan semburat yang mulai mewarnai pipinya dan menatap Kyungsoo imut. "Mmmmmm, akuuuuuu ada janji dengan Sehun," ucap Luhan pelan.
Kyungsoo tersenyum melihat tingkah Luhan. Dia mengacak rambut Luhan pelan (siapa yang lebih tua sih sebenarnya?). "Aigoooooo, Luhan Hyung mau kencan, eoh? Arasseo! Aku akan membuatkannya. Kau bersiap-siaplah Hyung. Urusan bekal, serahkan padaku," ucapnya. Luhan tersenyum senang. " Eomma memang yang terbaiiiiikkkk!" Luhan berlari keluar dari dapur setelah mencium pipi Kyungsoo sebagai ucapan terima kasihnya.
Kyungsoo? Checked. Sekarang tinggal menuju persiapan kedua.
Luhan membuka pintu kamar Baekhyun perlahan. As expected, Baekhyun masih tertidur dengan pulas di kamarnya. Luhan menyeringai kecil dan membuka semua jendela kamar Baekhyun sebelum melompat keatas kasur. "Baekkie-yaaaaaaaaaaaa! Iiireeooonaaaa! Nae Dongsaeng Baekkieeeee!" Luhan mengguncang-guncangkan tubuh Baekhyun.
"Aiisssshhh, Hyuuuuuung! Tutup jendelanya. Silaauuu!" ucap Baekhyun dengan suara serak bangun tidur nya. "Andwaaaeee! Ireona Baekkie-yaaaaa!" Luhan terus membujuk Baekhyun untuk bangun. "Shiereoooo, aku ngantuk Hyuuuung!"
Luhan mem-pout-kan bibirnya. 'Baiklah kalau itu maumu Byun Baekhyun,' batin Luhan. Dia membuka selimut Baekhyun dan memulai aksinya.
"Ahahahahaha, geli Hyung, ahahahaha, stop stop!" Luhan terus menggelitik pinggang Baekhyun tanpa ampun. "Shireooo, kalau Baekkie tidak mau bangun, aku tidak akan berhenti."
"Arrasseo arrasseo. Ahahahaha, aku sudah bangun, Hyung!" Baekhyun membuka matanya lebar-lebar agar Luhan menghentikan aksinya. Dia duduk di kasurnya dan mengusap air mata di ujung matanya. "Aiiissshhh, Hyuuuung! Ini masih jam berapaa? Mengapa membangunkanku sepagi ini? Aku kan butuh tidur yang cukup untuk kecantikan(?) kulitku Hyung."
Luhan ingin sekali menjitak Baekhyun saat itu, tapi karena dia membutuhkan bantuannya, Luhan mengurungkan niat baiknya. "Baekkie-yaa, dowa juseyooooooo!" Luhan memberikan jurus puppy eyesnya pada Baekhyun. "Pilihkan aku baju. Aku mau jalan-jalan," pinta nya.
"MWOOOO?! Kau mau jalan-jalan Hyung? Kenapa aku dan Kyungie tidak diajak? Kau akan bersenang-senang sendirian? Kau meninggalkan kami Hyung? Tega seka—mmmmppphhh!" Luhan langsung membungkam mulut Baekhyun. Mengapa duo usil ini kompak sekali?
"Sehun mengajakku jalan-jalan," ucap Luhan singkat dan melepaskan tangannya dari mulut Baekhyun. Dia sudah pasrah saat melihat seringaian jahil di wajah Baekhyun.
"Ecieeeeeee, Hyung ku mau kencaaaaaannnn!" teriak Baekhyun. "Arrasseo! Kalau begitu aku mandi dulu Hyung. Fashion mode ku tidak akan keluar kalau aku belum mandi. Kau tunggulah di kamarmu Hyung!" Ucap Baekhyun dan berlalu menuju kamar mandi.
Luhan tersenyum senang. Baekhyun? Checked.
Satu setengah jam kemudian
Luhan sudah terbungkus rapi dengan pakaian yang dipilihkan Baekhyun. Luhan terlihat sangat manis dengan jaket simple yang dipilihkan Baekhyun. Dan beanie merah yang bertengger manis di kepalanya, membuatnya terlihat lebih imut. Kimbab buatan Kyungsoo pun sudah dikemas dengan rapi di dalam tasnya. Hanya tinggal menunggu Sehun datang menjemputnya. Sebenarnya, Luhan menyarankan untuk bertemu di halte saja. Toh mereka naik bis. Tapi Sehun bersikeras ingin menjemput Luhan.
"Ingat Hyung, NO ICE CREAM!" ujar Baekhyun mengingatkan Luhan. "Baekkie Hyung benar. Kali ini, tidak ada es krim Hyung. Aku tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi," timpal Kyungsoo.
Luhan memutar bola matanya. "Arrasseoyooooo!" Dia tidak habis pikir. Mengapa kedua orang ini sangat protektif padanya. Terkadang dia bahkan merasa kalau dia maknae di rumah ini.
Saat bel berbunyi, Luhan langsung berlari membukakan pintu dengan semangat. Sehun terlihat sangat tampan dengan kemeja hitam putih dan cardigan hitamnya. 'Aaaaahhh, mengapa semakin hari dia semakin tampan?'
"Kita pergi sekarang?" tanya Sehun membuyarkan lamunan Luhan. "Eh? Eumm, aku ambil tas ku dulu ne." Luhan pun masuk dan mengambil tasnya yang berisi bekal dari Kyungsoo.
"Hyung," panggil Baekhyun sebelum Luhan pergi. "Lakukan apa yang dikatakan Kris Hyung. Saat pulang dari kencanmu nanti, kami ingin mendengar 'berita bahagia'. Arrasseo! HWAITING HYUNG!" ucap Baekhyun yang diangguki oleh Kyungsoo. Luhan hanya tersenyum menanggapinya. Dia masih belum yakin akan melakukan apa yang dikatakan Kris sebulan yang lalu. Bagaimana kalau ternyata dia ditolak dan hubungan mereka jadi hancur?
~O.O~
Tempat pertama yang dituju HunHan adalah Lotte World. Luhan hampir saja berteriak dan lompat kesana kemari saat melihat pintu gerbang Lotte World. Kalau saja dia bersama BaekSoo, mungkin akan seperti itu kejadiannya. Tapi mengingat kalau dia kesana bersama Sehun, Luhan harus bisa menahan dirinya.
Namun, saat mereka masuk ke dalam, Luhan seolah-oleh lupa kalau dia harus menjaga sikapnya. Dia tanpa sadar terus menarik Sehun ke sana kemari. Mereka menaiki semua wahana yang ada. Walaupun Luhan takut ketinggian, tapi dia menikmatinya. Karena Sehun ada di sampingnya untuk menjaganya. Dia merasa aman. Antrian yang lumayan panjang -mengingat hari itu hari Minggu- pun sama sekali tidak melunturkan tekad mereka untuk mencoba wahana-wahana yang ada.
Saat menuju wahana berikutnya, Luhan langsung berteriak girang melihat stan 'permen kapas' yang ada di sana.
"Sehun-aaaaaahhh! Ayo kita beli 'permen kapas'. Karena Baekhyun dan Kyungsoo melarangku minum es krim, jadi kita beli itu saja, ne."
Sehun terkekeh melihat tingkah Luhan. Bagaimana mungkin seseorang berusia 23 tahun bisa seperti ini hanya karena 'permen kapas'? Dia lalu menggandeng tangan Luhan dan membawanya menuju stan tersebut. Tidak menyadari semburat di pipi Luhan saat jari mereka bertaut.
Mereka membeli 1 permen kapas -hanya untuk Luhan- dan duduk di bangku yang tersedia di sana. Luhan terus berceloteh betapa dia sudah lama sekali menginginkan permen kapas saat memakan miliknya. Luhan terlihat sangat senang. Sedangkan Sehun, dia hanya mendengarkan semua celotehan Luhan dengan senyum di wajahnya. Melihat Luhan senang, entah kenapa, sepertinya dia juga bisa merasakannya.
"Ah, aku hampir lupa. Tadi Kyungsoo membawakan bekal untuk kita," ucap Luhan menyerahkan permen kapasnya pada Sehun kemudian mengambil Kimbab yang terkemas rapi di dalam tasnya. "Kau mau?" tawar Luhan sambil menyodorkan tempat makanan yang berisi Kimbab itu pada Sehun.
"Eum," Sehun mengangguk. "Tapi aku mau Hyung menyuapiku. Aku kan sedang membawakan permen kapasmu Hyung. Aaaaaa!" ucap Sehun manja sambil membuka mulutnya. Menunggu Luhan menyuapinya. Seandainya dia tahu kalau sikapnya membuat Luhan merasa kepanasan di tengah musim dingin ini.
"Tch, dasar manja!" ujar Luhan kemudian menyuapi Sehun. "Aaahhh, mashittaaaa! Masakan Kyungsoo Eomma memang yang terbaik." Tidak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan semua Kimbab yang dibawakan Kyungsoo. Luhan meringkas kembali kotak makan yang sudah kosong ke dalam tas, mengambil parmen kapasnya dari tangan Sehun dan melanjutkan misi menghabiskan permen kapasnya.
Tujuan mereka selanjutnya yaitu Bianglala. Luhan tampak sangat antusias untuk mencoba wahana yang satu ini. Dia menyukai pemandangan kota Seoul yang terlihat sangat indah saat mereka berada di puncak teratas.
"Huwaaaa, indah sekaliiiii!" teriak Luhan melihat pemandangan di depannya. Lagi-lagi Sehun tersenyum melihat tingkah Luhan. Sepertinya hanya itu yang bisa dia lakukan ketika berada di dekat Luhan.
"Aku bahkan pernah melihat yang lebih indah dari ini Hyung," ucapnya untuk menarik perhatian Luhan. Dan berhasil. Kini pusat perhatian Luhan bukan lagi objek di luar sana, melainkan dirinya. "Benarkah? Dimana Sehunnie melihatnya? Bisakah aku melihatnya juga? Aku ingin melihatnya," tanya Luhan antusias.
"Tentu saja," jawab Sehun. "Kau bisa melihatnya di ponselku," lanjutnya. "Apa kita tidak bisa melihatnya langsung?" tanya Luhan.
"Aniyo. Aku bisa, tapi Hyung tidak bisa." Luhan memiringkan kepalanya bingung. Apa maksud Sehun kalau dia tidak bisa melihatnya langsung sedangkan Sehun bisa? "Mengapa begitu? Itu kan tidak adil namanya." Luhan sedikit menggembungkan pipinya dan mengerutkan keningnya karena kesal. Mengapa dia tidak bisa melihatnya secara langsung?
Setelah mengutak-atik ponselnya, Sehun pun memberikannya pada Luhan. Luhan tercengang dan tersipu saat melihat apa yang Sehun tunjukkan padanya. Dia menatap Sehun, "S-Sehun-ah, ini kan—"
"Yups. Karena itulah kau tidak bisa melihatnya secara langsung Hyung. Karena kau tidak bisa melihat dirimu sendiri tanpa perantara."
Luhan menatap kembali layar ponsel di tangannya. Kapan Sehun mengambil semua ini? Mengapa Luhan tidak menyadarinya? Disana terpampang fotonya dalam berbagai macam pose. Saat memakan permen kapas, saat menunggu penjual permen kapas membuatkan satu untuknya, saat memakan Kimbab, bahkan saat dia terpesona dengan pemandangan di luar barusan.
BLUSSSHHHH
Pipi Luhan semakin merona saat menyadari satu hal. Apakah itu berarti sesuatu yang lebih indah yang Sehun lihat itu adalah dirinya? Tidak mungkin kan kalau itu permen kapas nya?
"Kau bahkan terlihat lebih indah lagi saat tersipu seperti itu Hyung," goda Sehun.
"Yaaaaaaahhhh!" Luhan mengulurkan tangannya ingin memukul Sehun. Namun yang terjadi justru bilik mereka berguncang karena kehilangan keseimbangannya dan Luhan terjatuh ke depan. Menimpa tubuh Sehun. Membuat suasana menjadi amat sangat canggung dan wajah Luhan semakin merona. Bahkan Sehun pipi Sehun juga terlihat memerah saat itu.
Keduanya terdiam dan saling bertatapan. Seolah-olah kehilangan kata-kata untuk diungkapkan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja saat itu. Luhan ingin sekali menarik dirinya dari Sehun. Namun rasanya badannya lumpuh. Dia tidak bisa bergerak.
Keadaan Sehun juga tak jauh berbeda dengan Luhan. Dia tidak bisa berfikir tentang apapun saat itu. Perhatiannya lagi-lagi terpusat pada bibir cherry Luhan yang seolah-olah mengundangnya untuk mengecap manisnya bibir itu. Sehun terpaku. Lagi-lagi tubuhnya bergerak tanpa perintah dari otaknya. Hanya naluri. Perlahan Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan. Namun suara deheman dari luar menyadarkan keduanya.
Luhan membelalakkan matanya saat menyadari apa yang terjadi dan segera menjauhkan tubuhnya dari Sehun. Wajahnya sudah lebih merah dari kepiting rebus saat itu. Mengapa hal ini selalu terjadi padanya?
"Maaf anak muda, tapi ini sudah saatnya turun," ucap penjaga wahana canggung. Sehun segera membungkukkan badannya meminta maaf dan menarik Luhan keluar dari bilik Bianglala itu. Berjalan secepat mungkin menghindari tatapan dari para pengantri di sana.
'MEMALUKAAAAAAAANNNNNN!'
~O.O~
Saat ini Sehun dan Luhan tengah duduk di bangku yang tersedia di dekat sungai Han. Setelah seharian berkeliling kota Seoul, makan, nonton Bioskop, bermain di Lotte World, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di sana sebelum pulang. Seperti ada kesepakatan yang tidak terucap, keduanya memutuskan untuk tidak membahas kejadian memalukan yang terjadi di Lotte World tadi.
Luhan mengeratkan genggamannya pada boneka Bambi yang di peluknya. Sehun memenangkan boneka itu untuknya saat di Lotte World tadi. Angin malam terasa sangat menusuk, padahal Luhan sudah mengenakan jaket. Tapi siapa sangka kalau akan sedingin ini?
Sehun yang melihat Luhan sepertinya kedinginan segera menangkupkan tangannya pada di kedua pipi lembut Luhan. "Kau kedinginan Hyung?" tanya nya khawatir. "Emmm, hanya sedikit," jawab Luhan tersenyum. Sebenarnya dia sangat kedinginan.
"Tunggu sebentar, ne! Aku tidak akan lama," ucap Sehun kemudian meninggalkan Luhan di sana. Luhan menyentuh pipinya yang tadi dipegang Sehun. Hangat. Dia tersenyum manis saat merasakan hangatnya tangan Sehun yang seolah masih tertinggal di pipinya.
Sepuluh menit kemudian, Sehun kembali dengan satu cup Vanilla Latte di tangan kanannya dan sebuah syal berwarna merah senada dengan beanie yang dikenakan Luhan di tangan krinya. Sehun memberikan Vanilla Latte yang dibelinya pada Luhan. "Minumlah!" ucapnya. Kemudian dia sedikit membungkukkan badannya di depan Luhan dan memasangkan syal di tangan kirinya pada Luhan. Setelah puas dengan hasil karyanya, Sehun tersenyum manis dan kembali duduk di samping Luhan.
"Better?" tanya Sehun. "Eum, gomawo, Sehun-ah." Luhan tersenyum manis. "Kenapa cup nya hanya satu? Kau tidak membeli apa-apa? Syal nya juga hanya satu. Kau tidak kedinginan?" tanya Luhan.
"Aniyo. Berada di dekat Hannie Hyung membuatku hangat," jawab Sehun.
BLUSHHHHH. Lagi-lagi Luhan merona. Sudah lama sekali sejak dia mendengar panggilan itu dari Sehun.
"Tell him, and you will know." Luhan teringat kata-kata Kris sebulan yang lalu. Haruskah dia mengatakannya sekarang?
"Kalau Hyung tetap tidak mau berkata yang sejujurnya pada Sehun, Hyung tidak akan pernah tahu kenyataannya." —Kali ini suara Kyungsoo yang terdengar di telinganya. Bagaimana jika dia memang tidak siap untuk mengetahui kenyataannya?
"Saat pulang dari kencanmu nanti, kami ingin mendengar 'berita bahagia'. Arasseo! HWAITING HYUNG!" Siapa yang tidak ingin mendengar 'berita bahagia'? Dia juga ingin, tapi bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?
"Hyung! Kau baik-baik saja? Kau terlihat tidak fokus Hyung. Ada masalah?" Luhan menggelengkan kepalanya. "Apa kau lelah? Kita pulang sekarang?" lagi-lagi Luhan menggeleng. "Lalu kenapa Hyung? Jangan bilang kau tidak enak badan karena kedinginan! Kau sakit Hyung?" tanya Sehun khawatir.
"Aniyooo. Aku baik-baik saja Sehun-ah. Hanya memikirkan sesuatu." Luhan tersenyum meyakinkan. "Memikirkan apa? Tidak mau bercerita padaku?"
"Kalau aku mengatakannya, apakah Sehunnie mau menjawabnya dan berjanji tidak akan marah padaku?" tanya Luhan. Sehun sedikit terkejut dengan pertanyaan Luhan. Mana mungkin dia bisa marah pada Luhan. "Aku janji!"
Luhan menghela nafasnya pelan. "Sehun-ah! Saat itu, saat hubunganmu dan Jongin berakhir dan kau menelfonku, kau tidak pernah mengatakan alasannya. Sebenarnya, apa yang terjadi saat itu? Mengapa hubungan kalian berakhir?"
Sehun menatap Luhan lama, mencoba mencari tahu kemana arah pembicaraan ini tertuju. Mengapa Luhan tiba-tiba bertanya tentang Jongin? Sebenarnya Sehun agak malas kalau harus membicarakan jongin. Tapi dia sudah berjanji untuk menjawab pertanyaan Luhan.
Sehun mengalihkan pandangannya dari Luhan dan menatap sungai Han di depannya. "Jongin memutuskanku. Saat itu, dia berkata kalau dia lelah dengan hubungan kami. Aku sendiri tidak tahu apa yang salah. Hubungan kami baik-baik saja sebelumnya. Kami bahagia. Tentu saja aku menolaknya. Tapi—" Luhan menggigit bibir bawahnya saat dia merasakan sakit di bagian dadanya.
"—dia bilang, hubungan kami sudah salah sejak awal. Seorang pria tidak seharusnya menyukai pria yang lain. Dia bilang, dia ingin menjadi namja yang normal. Dia bilang, dia... ingin bahagia. Karena itu aku melepasnya. Karena secara tidak langsung, dia berkata kalau dia tidak bahagia saat bersamaku."
Luhan dapat melihat gurat kesedihan dari mata Sehun yang menatap lurus ke depan. Dan itu, membuat hati Luhan terasa sakit. Pertama karena Sehun terlihat sedih. Dan kedua, karena Sehun sepertinya masih mencintai jongin.
"Lalu, mengapa Sehunnie tidak pernah mencoba untuk menjalin hubungan dengan seseorang lagi? Apakah..." Luhan menelan ludahnya kasar. "Apakah kau masih mencintai Jongin?"
Sehun tersenyum tipis. "Aku rasa, aku hanya terlalu takut hal itu akan terulang. Atau mungkin juga karena aku masih mengharapkan Jongin." Luhan merasakan hatinya pecah saat Sehun mengucapkan kalimat itu. Sehun masih mengharapkan jongin. Tapi dia tidak berkata kalau masih mencintainya kan?
"Lalu, jika suatu saat nanti Jongin datang dan memintamu kembali padanya, apakah Sehunnie akan menerimanya kembali?" tanya Luhan lagi. "Aku rasa... Iya," jawab Sehun membuat Luhan semakin menggigit bibir bawahnya. Untungnya saat itu Sehun tidak melihat ke arahnya. Benarkah Luhan sama sekali tidak punya harapan? Benarkah tidak ada tempat di hati Sehun untuknya?
"Sudahlah Hyung, aku sudah menjawab semua pertanyanmu kan?" Sehun tersenyum manis pada Luhan. "Kita pulang sekarang? Aku tidak mau Eomma dan Hyung mengomeliku karena membawamu kabur sampai larut malam. Kajja!" ucapnya kemudian berdiri dan berjalan perlahan. Tidak menyadari kalau Luhan tidak mengikutinya.
Luhan berfikir, selama ini, Sehun selalu bersikap manis padanya, memperhatikannya dan mengkhawatirkannya. Dia bahkan hampir mencium Luhan 2 kali. Apakah itu benar-benar tidak berarti apa-apa untuk Sehun? Apakah itu berarti, Luhan masih mempunyai harapan? Apakah itu berarti, Luhan bisa membuat Sehun melupakan Jongin dan membalas perasaan Luhan padanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus melayang-layang di dalam pikiran Luhan. Dia butuh jawaban.
"Tell him, and you will know." Lagi-lagi suara Kris terngiang di telinganya. Tiba-tiba saja rasa itu meluap. Luhan benar-benar tidak bisa menahannya lagi.
"Kalau itu terjadi, kami akan ada di sini, Hyung." "Dua dari dongsaengmu itu tidak dijuluki 'Happy Virus' tanpa alasan kan!" Dan perkataan Kyungsoo dan Baekhyun memberinya sedikit keberanian yang dia butuhkan saat itu. Dia akan melakukannya. Apapun resikonya, dia siap.
Grepp
Luhan berlari menuju Sehun dan memeluknya dari belakang. Memeluknya sangat erat seolah-olah Sehun akan menghilang jika dia merenggangkan pelukannya.
Kalau dibilang kaget, itu bisa dimaklumi. Sehun kaget tiba-tiba Luhan memeluknya. Bukan karena ketiba-tiba-annya, melainkan justru karena pelukan itu sendiri. Pasalnya Luhan tidak pernah memeluknya.
"Hyung?" tanya Sehun. Walaupun dia terkejut karena pelukan Luhan, namun dia juga tidak berusaha melepaskan pelukan itu. Dia merasa nyaman saat Luhan melingkarkan tangan mungilnya di pinggangnya.
"Aku menyukaimu, Oh Sehun. Aku mencintaimu, dari dulu. Saat kau belum jadian dengan Jongin. Saat kau masih bersama Jongin. Saat kau berpisah dari Jongin. Dan sekarang, saat kau masih mengharapkan Jongin kembali padamu. Aku... Mencintaimu!" ucap Luhan akhirnya. Dadanya terasa sedikit lega setelah mengatakan itu semua.
"Hyung?" Kali ini Sehun lebih dari sekedar terkejut. Luhan, Hyung yang selama ini disayanginya dan diam-diam disukainya, mencintainya?
"Aku tidak perduli kalau Sehun masih mengaharapkan Jongin kembali. Aku tidak perduli kalaupun aku hanya menjadi pelarian dari Jongin. Aku tidak perduli kalaupun Sehunnie bersamaku hanya sampai Jongin kembali. Aku tidak perduli kalaupun jika Jongin datang kembali, Sehunnie akan kembali bersamanya dan meninggalkanku." Sehun terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa saat itu. Lidahnya terasa kelu.
"Aku tidak akan meninggalkan Sehunnie seperti dia yang meninggalkanmu. Aku akan selalu bahagia jika bersama Sehunnie. Aku tidak akan memilih untuk menjadi normal asalkan Sehunnie bersamaku. Aku tidak akan mengecewakan Sehunnie apalagi membuat Sehunnie terluka dan sedih. Aku akan berusaha menyembuhkan luka yang dia tinggalkan di hati Sehunnie. Aku mencintaimu. Karena itu," Luhan menggigit bibir bawahnya. Dia tidak boleh menangis dan terlihat menyedihkan di depan Sehun.
"Karena itu... Berikan aku kesempatan untuk membuat Sehunnie bahagia. Karena itu, Sehunnie, jadilah namjachinguku!"
Akhirnya dia mengatakannya. Luhan akhirnya mengatakan semua yang dia sembunyikan selama lebih dari satu tahun dari Sehun. Luhan mengatakan semua isi hatinya. Sekarang hanya tinggal menunggu jawaban dari Sehun.
Saat dirasakannya kalau Sehun sama sekali tidak menanggapi apa yang Luhan katakan, dia benar-benar ingin menangis. Rasanya dia ingin melepaskan pelukannya dan berlari ke rumahnya kemudian menangis sejadi-jadinya di pelukan Baekhyun dan Kyungsoo. Luhan menenggelamkan wajahnya di punggung Sehun. Berusaha menahan airmatanya.
Sehun mengangkat tangannya untuk menggenggam tangan Luhan yang melingkar di pinggangnya setelah berhasil mencerna semua kalimat Luhan. Perlahan dia melepaskan pelukan Luhan dan membalikkan badannya untuk menghadap Luhan.
Luhan tertunduk sambil terus menggigit bibirnya. Dia tidak berani menatap Sehun. Wajahnya sudah memerah sempurna. Pipinya panas. Jantungnya berdetak tidak karuan. Luhan mengepalkan erat-erat tangannya yang sedikit bergetar. Belum lagi kemungkinan kalau Sehun akan marah padanya dan menolaknya membuatnya semakin takut.
Sehun meraih dagu Luhan agar Luhan menatapnya. Perlahan, dia menangkup wajah Luhan dengan kedua tangannya dan mengusap-usap pipi Luhan. Sehun menatap lurus pada mata bening Luhan. Dia bisa melihat ketulusan Luhan di sana. Tiba-tiba dia kembali mengingat nasihat Suho saat mereka berada di Hanok Village. Dia akan mengambil kesempatan yang dimilikinya.
"Hyung, aku, aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Jujur aku menyukaimu Hyung. Lebih dari rasa suka seorang dongsaeng pada Hyungnya. Aku menyukaimu sebagai seorang namja. Aku bahagia setiap berada di dekatmu Hyung. Aku resah kalau Hyung jauh dari jangkauanku. Aku tidak suka melihatmu tersenyum manis pada namja lain. Aku juga menyukaimu Hyung." Sehun menarik nafasnya. "Tapi aku belum bisa mengatakan kalau aku mencintaimu. Aku belum bisa memastikan siapa yang sebenarnya aku cintai."
Luhan menatap Sehun. Ada sedikit rasa bahagia di hatinya. Setidaknya, Sehun menyukainya, bukan sebagai Hyung, melainkan sebagai seorang namja.
"Jadi, apakah Hyung masih mau menerima hatiku yang masih ragu-ragu ini? Maukah Hyung membantuku untuk memastikan siapa yang sebenarnya aku cintai? Maukah Hyung membantuku membuatnya yakin kalau orang itu adalah kau, Hyung?" tanya Sehun.
Luhan tersenyum manis dan langsung memeluk Sehun, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Sehun dan menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Aku mau," ucap Luhan sambil terus memeluk Sehun erat. Airmata yang ditahannya tumpah begitu saja. Bukan karena sedih, namun kali ini karena bahagia. Walaupun Sehun belum mencintainya, tapi Sehun menyukainya, dan Luhan tahu kalau Sehun akan berusaha untuk mencintainya.
~O.O~
Perjalanan pulang dari sungai Han, Sehun dan Luhan memutuskan untuk berjalan kaki saja. Keduanya ingin menghabiskan waktu bersama sedikit lebih lama lagi. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Mereka hanya menikmati momen indah yang mereka miliki saat itu. Sepanjang perjalanan, Sehun sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Luhan. Sehun terus tersenyum sambil sesekali melirik Luhan, yang tersipu sambil memeluk erat boneka 'Bambi' nya, di sampingnya. Dia sangat bahagia malam itu. Walaupun hatinya masih ragu, tapi Sehun akan berusaha untuk benar-benar mencintai Luhan dan memastikan kalau hatinya hanya untuk Luhan.
Saat keduanya sudah tiba dan berdiri di teras rumah Luhan, keduanya masih terdiam. Dan entah mengapa Luhan merasa seperi 'Dejavu'. Suasana saat itu persis seperti kejadian saat pertama kali Sehun mengantarnya pulang. Hanya saja, kali ini sedikit bebeda, mengingat status mereka yang sudah berbeda pula. Luhan tidak bisa menahan senyumnya saat melirik tangannya yang masih digenggam Sehun.
"Masuklah, Hyung. Anginnya semakin dingin. Aku tidak mau kau sakit lagi," ucap Sehun sambil mengusap pipi dingin Luhan dengan tangannya yang bebas. Luhan tersenyum dan mengangguk pelan. Dia melepaskan genggaman tangan Sehun, membuat Sehun sedikit kecewa.
Luhan kemudian meletakkan 'Bambi' nya di kursi yang ada di teras dan melepaskan syal yang dipakainya. "Karena Sehunnie sudah mengantarkanku sampai rumah, sekarang Sehunnie yang lebih membutuhkan ini. Biar Sehunnie tidak kedinginan di perjalanan," ucapnya sambil mengikatnya di leher Sehun.
"Kalau begitu, aku masuk dulu, ne!" ucap Luhan dan membalikkan badannya. "Hyung!" panggil Sehun sebelum Luhan membuka pintu rumahnya. Luhan kembali menghadap Sehun dan memiringkan kepalanya. "Wae?" tanya nya.
"Aku..." Sehun terlihat ragu untuk meneruskan kalimatnya. "Ah, aniya. Good Night Hyung," ucapnya sambil tersenyum manis pada Luhan.
"Eum, hati-hati di jalan, ne!" ucapnya. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk.
Sehun mengangguk dan membalikkan badannya. Namun sampai beberapa detik, Sehun sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Membuat Luhan bingung. Dia terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu. Saat Luhan akan bertanya ada apa, tiba-tiba Sehun kembali menghadapnya. Dan tanpa aba-aba, Sehun menangkup wajah Luhan dan menyatukan bibirnya dengan bibir cherry Luhan. Sehun melumat bibir Luhan lembut. Hanya lumatan-lumatan kecil, tanpa nafsu.
Luhan membelalakkan matanya saat dia merasakan bibir lembut Sehun di bibirnya. Luhan bisa merasakan ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya saat itu. Jantungnya benar-benar berdetak berkali-kali lebih cepat. Perlahan dia menutup matanya dan membalas ciuman Sehun.
Setelah beberapa saat, Sehun melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Luhan perlahan. Sehun mengusap pelan bibir Luhan yang terlihat semakin memerah akibat ciumannya tadi.
"Kau tidak tahu seberapa besar aku ingin melakukannya Hyung." Sehun mengerlingkan matanya pada Luhan, membuat Luhan semakin merona. Sehun kemudian kembali mengecup bibir Luhan sekilas. "Masuklah!" Luhan menggeleng. "Aku ingin melihat Sehunnie pergi," jawab Luhan malu-malu.
"Arrasseo." Sehun beralih mencium kening Luhan agak lama. "Annyeong, Hannie Hyung" ucapnya tersenyum manis kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan rumah Luhan.
Luhan tersenyum lebar di teras rumahnya sambil menyentuh bibirnya. Dia bahkan masih bisa merasakan bibir manis Sehun di bibirnya. Luhan merasa sangat bahagia saat itu. Tidak hanya dia resmi jadian dengan the Love of his Life. Oh Sehun juga menciumnya! Di bibir!
Luhan membalikkan badannya. Mengambil 'Bambi' nya, memeluknya erat kemudian membuka pintu rumahnya dan masuk kedalam. Masih dengan senyuman lebar di wajahnya.
Saat tiba di dalam rumah, Luhan langsung diserang dengan 2 pelukan erat dari BaekSoo. "Chukahaeeeeeeeeeee!" ucap BaekSoo berbarengan setelah melepaskan pelukan mereka sambil melompat-lompat di depan Luhan. Walaupun dia sedikit tersipu karena ucapan selamat dari BaekSoo, namun Luhan tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya.
"Hyung! Kau harus menceritakan pada kami semuanya. Every. Single. Detail!" ucap Baekhyun. "Benar kata Baekkie Hyung. Kau harus menceritakannya Hyung. Mulai awal. Tidak boleh ada yang terlwati!" Kyungsoo menimpali. Luhan hanya mengengguk mengiyakan.
"Assaaaaaaa! Kita akan pajama party di kamarnya Lulu Hyuuuung!" ucap Baekhyun semangat kemudian berlalu ke kamarnya untuk mengambil bantal dan perlengkapan lainnya. "Asiiiiiikkk, Hyung mandilah dulu, aku akan menyiapkan cemilannya," ucap Kyungsoo dan berlalu ke dapur. "Baekkie Hyuuung! Bawakan bantal dan gulingku sekaliaaaaannn!"
Luhan terkekeh kecil melihat kelakuan kedua dongsaengnya. Dia yang jadian, mengapa mereka yang heboh? Luhan meletakkan tasnya di atas meja belajarnya dan berjalan ke ranjangnya untuk meletakkan 'Bambi' nya. Saat dia akan beranjak ke kamar mandi, ponselnya bergetar.
1 pesan dari Sehun. Luhan segera membukanya.
Aku tahu kau pasti belum tidur dan belum akan tidur dalam waktu dekat. Pasti Baekhyun Hyung dan Kyungsoo Eomma sedang menginterogasimu kan? Bilang pada mereka berdua Jangan membuat 'namjachinguku' tidur terlalu larut, atau aku akan marah!
Jaljayo, Xiao Lu! Sweet dream! Nae Angel! :*
Luhan langsung terduduk lemas di atas kasurnya saat membaca tulisan 'namjachingu' di pesan yang dikirimkan Sehun. Luhan lalu merebahkan tubuhnya dan memeluk 'Bambi' nya seerat mungkin. "Kyaaaaaaaaaaaaa! Sehun menyebutku sebagai namjachingu nyaaaa!" teriaknya sambil berguling-guling di atas kasur nya.
~O.O~
TeBeCe
A/N:
Haihaaaaiiiii!
#lambailambaibarengLuBaekSoo
Liyya balik lagi. Kemaren sempet down gegara langkanya HunHan moment. Tapi dukungan dan semangat dari eonnie, saeng, n chingu semua menguatkan Liyya. Kalau memang HunHan moment lagi langka, maka Liyya akan membuat HunHan moment sendiri di ff nya Liyya.
HunHan udah jadian! Yeheeeeee! #nyalakankembangapi+petasan
Maaf banget di chap ini gak ada ChanHo. Mereka lagi practice waktu kita shooting chap ini #plakk* Maaf juga kalau kurang sweet, kurang bagus, dan kurang-kurang yang lainnya, #bow
Udah tahu kan kenapa HunKai putus? Itu masih versi nya Sehun. Nanti ada yang lebih rinci lagi di versinya Kai *evilsmirk*
Liyya mau ngucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
dian deer: huwaaaa,,, Kita sehati saeng -_- Aku sebel banget liat foto2 itu,, huft,, Eh eh,,, Ada yang jadian tuuuhhh,,, :)
Makasih udah ngereview^^
ajib4ff: Eooooooooonnn,,, Deer eyes nya Lulu memang sesuatu ya,,, Si Kris Cuma manas2in Thehun doank kok eoonn, tidak ada maksud tersembunyi,, Muehehehehe,, Bukannya gak mau bantuin balas dendam eon,, Cuma gak mau ikutan ketiban sial aja #Plakk
Makasih udah ngereview^^
Lee MingKyu: Aku juga lebih suka kedekatan hunHan aja daripada Hun2 yang lainnya,,, :'( Ada yang jadian tuuuuhhh,,, #nunjukHunHan
Makasih udah ngereview^^
RirinSekarini: Perkumpulan orang2 gila lah ya ceritanya ne -_- Ini udah Liyya lanjutin. Semangat karena readers tercintaaaahhh :* Kaya' nya semenjak habis kombek, kopel EXO pada salah GAUL tuh,, Semoga segera kembali ke jalan yang benar,,,
Makasih udah ngereview^^
hunhanshipper: Gpp Saeeeng,, Ayo kita seru-seruan curhat n fangirlingan HunHan. Eon seneng banget kalo dapet temen sesama HunHan Hard Shipper gini,, Eon juga anti banget sama seme!Luhan. Lulu ngomong gt kan karena dy cowok, tapi mw gimanapun dy nyangkal, emang kenyataannya dy cantik kok ^_^ Suka pake banget pas liat foto yg di Mubank ntuuuu,,, My HunHan feels,,,
Makasih udah ngereview^^
chyshinji0204: HunHan emang selalu maniiisss ^_^ HunHan udah jadian tuh, wlwpun Sehun masih rada ragu gt. Semoga aja dy nepatin janjinya untuk benar-benar mencintai Luhan ya,,, Huweeeeeeee,, Eon juga sebel banget kalo liat Sehun selingkuh sana sini gitu #jitakSehun
Makasih udah ngereview^^
Oh Min Hun: Tuh hunHan udah jadian,, Tapi yang nembak bukan Sehun -_- Huwaaaaaaaaaaa,,,, Aku sedih banget melihat hubungan HunHan yang sekarang :'(
Makasih udah ngereview^^
jenny: Aku bukan Cuma agak sebel chingu,, Tapi sebel bangeeeeeetttt,,, Ni udah lanjut,,
Makasih udah ngereview^^
eunhuna: *tos dulu* Eon juga sebel banget melihat perselingkuhannya Sehun #Plakk,, Ne HunHan udah bersatu looohhh
Makasih udah ngereview^^
sofia ningsih: AMIIIIIINNN,,,! Semoga mereka semua segera kembali ke kopel nya masing-masing,, ;) Ne Liyya udah semangat 45 nerusin ff nya,, ^_^
Makasih udah ngereview^^
ferinaref: Ni udah update lagiii *kecupbalik* Appa Suho kan selalu memperhatikan anak-anaknya #disiramSuho
Makasih udah ngereview^^
Kiela Yue: Lulu itu emang gak mau belajar dari pengalaman yaaa,, *geleng-geleng* Sehun galauuuuu,, Luhan galaaaaaauu,, Liyya ikutan galaaaauuuuu #abaikan# Sehun alhamdulillah gak telat kok,,, Walaupun masih galau-galau gitu. Mudah-mudahan aja dia beneran menjaga uri Lulu dan gak selingkuh-selingkuh lagi ;)
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: KrisHan momentnya udah noh di atas ;) Huweeeeee,,, review muaku banget chinguuuuu,, Luhan jadi seme itu yaaa,, Beneran serasa makan somay yang isinya cuma pare doaaank,, Pahiiiiiiiittttt . Weeeiiitttssss,,, Aku juga tergila-gila banget sama KrisHan,, :)
Makasih udah ngereview^^
riniehun: Ini udah lanjut,,, HunHan juga udah jadian,, Moga gak mengecewakan ya,,, :)
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi?
So, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^
