By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Kim Minseok, Kris, Others
Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 12 of ?
Disclaimer: Semua cast milik orang tuanya masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja. Cerita murni dari hasil imajinajis(?) saya ^^).
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
HAPPY READING^^
Preview Chapter:
'Kau tahu? Aku telah melakukan kesalahan besar karena melepasmu saat itu. karena itu, kali ini, aku tidak akan melepasmu lagi, Sehunnie. Aku, pasti akan mendapatkanmu kembali.
~O.O~
"Morning Eomma!" ucap Luhan saat keluar dari kamarnya menuju dapur dalam keadaan rapi dan siap berangkat ke kampus. Sungguh sebuah pemandangan yang memuat kening Kyungsoo berkerut. Sekarang masih jam 7 dan Luhan sudah rapi? Padahal mereka baru memulai kelas pertama jam 8.30. Not to mention kalau ini adalah hari pertama kuliah.
Luhan terus berjalan menuju kulkas untuk mengambil susu tanpa memperdulikan Kyungsoo dengan keningnya yang berkerut dan tatapan anehnya. "Kita akan sarapan apa hari ini? Mau aku bantu membuatnya?" tanya Luhan sambil menuangkan susu ke dalam gelas sebelum meminumnya dan duduk di salah satu kursi.
"Kau tidak apa-apa, Hyung? Apa kau tidak enak badan? Apa seminggu di rumah Sehun membuat mentalmu sedikit terganggu karena terlalu bahagia?" tanya Kyungsoo dengan frontalnya yang langsung mendapatkan death -cute- glare dari Luhan. Seminggu setelah Valentine kemarin, Luhan memang menghabiskan sisa liburan semester mereka di apartemen Sehun. "Kena—"
"EOMMAAAAAA! LUHAN HYUNG HILAAAANG! DIA TIDAK ADA DI KAM— eh?" teriakan panik Baekhyun yang terlihat tengah berlari tergesa-gesa dari arah kamar Luhan karena pemiliknya menghilang langsung berganti dengan ekspresi kaget saat dia melihat kalau orang yang sedang dicarinya (read: Luhan) berada di dapur sedang menatapnya malas. Dia mengucek-kucek matanya seakan tak percaya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal sebelum kembali mengeluarkan suaranya. "Luhan Hyung ada di sini? Kok bisa? Aku bahkan belum membangunkanmu. Kau tidak apa-apa Hyung?" tanya Baekhyun persis seperti Kyungsoo.
Ada apa dengan orang-orang yang terkejut karena Luhan bangun pagi? Pasalnya satu setengah tahun tinggal bersama, ini pertama kalinya Luhan bangun sepagi ini tanpa harus dibangunkan Baekhyun atau Kyungsoo.
Luhan memutar bola matanya malas melihat reaksi lebay dari kedua dongsaengnya. "Yaaaaahhhh, apa maksud kalian bertanya seperti itu? Apa aku tidak boleh bangun pagi? Aku kan hanya ingin meringankan satu tugas pagi kalian." Luhan mem-poutkan bibirnya.
Baekhyun langsung menghampirinya dan duduk di samping Luhan. "Aeeyyyy, tidak perlu berbelit-belit dengan kami Hyung. Katakan, ada apa sebenarnya?" Baekhyun tersenyum jahil dan mentoel dagu Luhan membuat Luhan salah tingkah. Apa yang harus dia katakan?
"K-kenapa k-kalian tidak mempercayaiku?" tanya nya terbata karena gugup. Hal terakhir yang diinginkannya di pagi cerianya adalah godaan usil dari kedua dongsaengnya. "Karena kami mengenalmu dengan baik, Hyung!" jawab Kyungsoo. Luhan tidak menjawab. Dia melihat BaekSoo bergantian, berharap mereka akan melepaskannya. Namun keduanya justru memberikannya seringaian manis dengan satu alis terangkat. "So?" tanya Baekhyun.
"Aiiissshh, arasseo!" ucap Luhan akhirnya. "Akuhanyatidakinginbangunterlambatkarena—"
"Whoaaaaa, Hyung! Pelan-pelan! Kalau kau berbicara tanpa spasi, bagaimana kami bisa mengerti?" ucap Baekhyun memotong kalimat Luhan.
Luhan menggigit bibir bawahnya, kebiasaan jika dia merasa gugup, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan menuju bak cuci piring untuk mencuci gelasnya tadi. Alasan. Sebenarnya dia hanya ingin menghindari tatapan BaekSoo. Setidaknya dalam posisi seperti ini, Luhan tidak bisa melihat mereka. Walaupun Luhan bisa merasakan tatapan mereka.
"Sehun bilang, karena sekarang apartemen dan rumah kita searah, jadi mulai hari ini, dia akan menjemputku dan berangkat ke kampus bersama. Kalian kan tahu kalau Sehun itu 'morning person'. Jadi aku hanya tidak ingin kalau saat Sehun datang ternyata aku masih belum siap," jawab Luhan dengan pipi merona.
Greb
"Aigoooooo, aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan Sehun." Kyungsoo memeluk Luhan dari belakang. Sedikit aneh, karena biasanya Baekhyun lah yang akan memeluknya duluan.
"Hyuuuung! Kau melupakan kami!" ucap Baekhyun dari tempatnya duduknya. Luhan reflek melepaskan pelukan Kyungsoo dan membalikkan wajahnya. Dia menatap Baekhyun yang terlihat, errmmmm, sedih? Luhan langsung berjalan menuju Baekhyun dan duduk di sampingnya.
"Apa maksudmu Baekkie-ya? Tentu aku tidak melupakan kalian. Sehun memang akan menjemputku dan akan berangkat bersamaku. Tapi bukan berarti aku melupakanmu dan Kyungsoo. Kita tetap akan berangkat bersama. Seperti biasa. Hanya saja kali ini dengan Sehun juga. Jadi kita akan berangkat berempat. Aku—"
"Bbffttt, bwuahahahahahaha!" Baekhyun tertawa puas melihat wajah panik Luhan. "Ahahaha, Hyung! Kau seharusnya melihat wajahmu saat panik tadi. Ahahahaha, bagaimana kau bisa mempercayainya Hyung? Apa aktingku begitu bagus? Ahahahaha!" Baekhyun terus tertawa sambil memegangi perutnya. Saat dia merasakan aura membunuh yang mulai tumbuh di sekitar Luhan, Baekhyun langsung mengambil langkah seribu.
"YAAAAAKKK! BYUN BAEKHYUUUUN! KEMARI KAUUU!" teriak Luhan sambil berusaha mengejar Baekhyun. Bagaimana mungkin dia bercanda seperti itu? Luhan benar-benar panik tadi. Dia bahkan sudah ingin menangis saat menjelaskannya tadi agar Baekhyun percaya padanya.
"Huaaaaaa! Ada 'rusa' ngamuk! Tolong aku Eomma!" pekik Baekhyun sambil berlari ke sana kemari demi menghindari kejaran Luhan. Sebenarnya dia tidak sepenuhnya bercanda. Dia memang merasakan kalau Luhan perlahan semakin jauh darinya. Namun dia sedikit lega saat mendengar jawaban Luhan tadi. 'Kekekeke, kapan lagi bisa menggoda Luhan Hyung pagi-pagi begini?' pikirnya. Mungkin setelah ini dia akan jarang bisa menggoda Luhan lagi. Atau lebih tepatnya, Luhan yang akan jarang ada di sini untuk digoda olehnya.
Kyungsoo yang melihatnya hanya tersenyum maklum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua Hyungnya. Sesaat tadi, dia juga sempat mengira kalau Baekhyun serius berfikir seperti itu. 'Syukurlah semua masih baik-baik saja,' pikirnya kemudian melanjutkan acara membuatkan sarapan yang sempat tertunda.
~O.O~
Setelah kerusuhan yang sempat terjadi sebelumnya, sekarang keadaan sudah kembali tenang. LuBaekSoo terlihat sedang menikmati Nasi Goreng Kimchi buatan Kyungsoo. "Hyung!" panggil Kyungsoo menarik perhatian Luhan. "Jadi mulai sekarang Sehun akan berangkat bersama kita?" tanyanya.
""Eum," Luhan mengangguk. "Tapi, jadwal kuliah kita kan berbeda, Hyung?" tanya Baekhyun.
"Not really," jawab Luhan. "Saat pengaturan jadwal kemarin, kami sudah mengatur jadwal Sehun agar sebisa mungkin sama dengan jadwal kita, hehehe," lanjutnya.
Luhan memang menemani Sehun saat dia mengatur jadwal kuliahnya. Sehun juga meminta print out jadwal kuliah Luhan yang sudah diuruskan BaekSoo sebelumnya untuk menyamakan jadwal mereka. Dengan begitu, mereka bisa berangkat kuliah, makan siang, dan pulang bersama. Kecuali kalau ada kelas tambahan.
"Aigooooo. Kalian benar-benar dimabuk cinta, Hyung," komentar Kyungsoo sambil tersenyum. "Yaaaaahhh, mengapa aku tidak pernah berfikiran seperti ini sebelumnya? Kalau begitu kan aku juga bisa meminta Chanyeol untuk menyesuaikan jadwalnya dengan jadwalku," ucap Baekhyun yang dihadiahi tatapan malas dari Luhan dan Kyungsoo.
Ting Tong
"Ah, itu pasti Sehun. Biar aku yang buka," ucap Luhan saat mendengar suara bel. Dia pun segera berlari untuk membukakan pintu.
"Sehun-aaaah!" Luhan langsung memeluk Sehun segera setelah pintu itu terbuka. Semenjak Sehun menyatakan perasaannya di hari Valentine kemarin, Luhan jadi semakin manja.
Sehun tersenyum dan membalas pelukan Luhan. "Happy to see me?" tanya Sehun yang dijawab anggukan dari Luhan yang masih dalam pelukannya. Sehun tersenyum lagi dan melepaskan pelukannya. "Me too!" ucapnya kemudian mencium bibir Luhan sekilas, membuat Luhan merona.
"Aigooooo! Too much sweetness in the morning," ucap Baekhyun berpura-pura menutup wajahnya dengan kedua tangannya begitu melihat pemandangan di depannya. Membuat Luhan yang mendengarnya semakin merona.
"Pagi Hyung! Pagi Eomma!" sapa Sehun tersenyum saat melihat Baekhyun dan Kyungsoo. "Morning to you too!" sahut Kyungsoo membalas sapaan Sehun.
"Hyung! Kau akan tetap berdiri di situ dan memandangi Sehun? Atau kau akan mengambil tasmu jadi kita bisa berangkat sekarang?" goda Baekhyun. Luhan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Baekhyun yang menurutnya tidak perlu untuk dijawab dan berjalan ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Namun, dia masih sempat menjitak Baekhyun saat melewatinya.
"Yaaakk! Hyung! Sudah berapa kali ku bilang jangan menjitakku! Nanti aku tidak pintar lagi!" protes Baekhyun yang tentu saja dianggap angin lalu oleh Luhan. Sedangkan HunSoo hanya terkekeh mendengar protesan Baekhyun.
"Kajjaaaa!" ucap Luhan semangat dan langsung menggandeng tangan Sehun saat dia telah kembali dengan tas ranselnya.
Awal semester, semoga menjadi awal yang indah untuk semuanya.
~O.O~
Terlihat seorang namja yang tengah duduk di ruang tunggu yang teletak di dalam terminal. Dia terus memeriksa jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya. Sangat jelas kalau dia tengah menunggu seseorang di sana. Sudah setengah jam dia menunggu di situ, namun seseorang yang seharusnya menjemputnya belum juga muncul. Tidak mungkin kan kalau dia pergi sendiri. Bisa-bisa dia tersesat, mengingat ini adalah pertama kalinya dia berada di Seoul.
"Kkamjong-ah!" merasa namanya dipanggil, pemuda itu langsung menolehkan kepalanya ke asal suara. Seorang pemuda chubby -sang pelaku pemanggilan- berlari tergesa ke arahnya dan langsung memeluknya erat. "Mianhae, aku terlambat. Seoul bisa menjadi sangat menyebalkan dengan kemacetannya kadang-kadang," ucapnya di sela-sela nafasnya yang masih terengah-engah.
"Kau sudah lama menungguku?" tanya nya lagi. "Aniyo, aku juga baru saja tiba, Minseok Hyung," jawab pemuda itu tersenyum.
"Geurae? Hhhh, syukurlah kalau begitu. Kajja!" ajaknya yang diangguki oleh pemuda tersebut. Mereka pun berjalan keluar dari terminal menuju arah parkiran.
"Jadi, mengapa kau baru datang sekarang? Kau bilang akan ke Seoul awal bulan. Bukankah itu 2 minggu yang lalu?" tanya Xiumin saat mereka sudah berada di dalam mobilnya.
"Kekekeke, tiba-tiba saja ada urusan mendadak Hyung. Jadi baru bisa datang sekarang," jawab pemuda tersebut.
"Hhhhmm," Minseok mengangguk paham. "Jadi, ada apa dengan Seoul? Aku tahu kau tidak mungkin kemari hanya karena ingin berlibur," tanyanya to the point.
"Aku ingin mengunjungimu Hyung! Apa aku tidak boleh mengunjungi Hyungku sendiri?" yang ditanya menjawab dengan pertanyaan lain.
"Jangan membuatku tertawa, Kim Jongin! Aku sudah berada di Seoul selama hampir 3 tahun, dan kau sama sekali belum pernah mengunjungiku. Jadi jangan berbelit-belit dan katakan padaku yang sebenarnya!" ucap Minseok.
"Aiiissshh, mengapa aku tidak bisa berbohong padamu, Hyung? Arasseo, akan ku beri tahu," jawab Jongin kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menatap bangunan-bangunan tinggi kota Seoul dan pemandangan lain di luar sana. Apa saja selain Hyungnya.
"Aku ingin menemui temanku!" ucapnya setelah terdiam beberapa lama. Minseok mendengus pelan saat mendengar ucapan adiknya. Dia tahu siapa 'teman' yang dimaksud oleh Jongin. Mereka mungkin jarang bersama, tapi dia tahu semua tentang apa yang terjadi pada Jongin. Karena Jongin selalu menceritakan semuanya padanya. Termasuk tentang—
"Oh Sehun?" tanya Minseok. Sebenarnya ucapannya barusan lebih bisa dikatakan sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
Untuk sesaat, tubuh Jongin sedikit menegang saat nama itu disebutkan oleh Minseok. Namun dia hanya terdiam sambil terus menatap ke luar jendela. Sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Minseok. Dia tidak perlu menjawabnya.
"Hhhhh," Minseok menghela nafasnya. "Jongin-ah! Bukankah kau bilang kalau semuanya sudah berakhir? Setelah semuanya, mengapa masih mengejarnya? Mengapa baru mengejarnya sekarang? Aku kira kau sudah melupakannya. Lagipula, Sehun sekarang sud—"
"Aku hanya ingin mencobanya lagi, Hyung. Aku ingin memperbaiki semuanya," jawab Jongin memotong perkataan Minseok.
"Apa yang ingin kau perbaiki? Sehun bahkan mungkin sudah melupakanmu! Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi, Jongin-ah," ucap Minseok tenang. Dia tahu kalau Sehun sekarang sudah memiliki kekasih, dan dia tidak ingin adiknya terluka.
"Aku tidak akan tahu kalau aku belum mencobanya, Hyung. Bisakah kita tidak membicarakannya, Hyung? Please!" Jongin menatap Minseok dengan tatapan memohonnya. Dia benar-benar tidak ingin membahasnya sekarang. Hari ini, dia hanya ingin beristirahat.
"Hyung!" panggilnya memecah kesunyian yang tercipta selama beberapa saat tadi. "Bisakah... Bisakah kita melewati Seoul National University? Aku hanya ingin tahu seperti apa kampus tempat 'dia' kuliah," pintanya.
Minseok mendesah pelan sebelum berbelok menuju SNU. "Tentu saja," jawabnya.
Setelah itu, mereka kembali terdiam. Jongin kembali menatap ke luar jendela. Namun kali ini, bukan karena ingin menghindari tatapan dari Hyungnya. Dia ingin mengingat jalan dari SNU menuju apartemen Hyungnya. Agar saat dia ingin mengunjungi kampus itu nanti, dia tidak perlu meminta Hyungnya untuk mengantarkannya.
~O.O~
"Hhhhhhh!" Sehun mendesah pelan saat menatap ruangan dosennya yang masih tertutup. Dia sudah berada di sini sejak istirahat makan siang tadi. Dan sekarang, waktu istirahat sudah lewat dan dia belum juga bertemu dengan dosennya yang menyuruhnya untuk menunggu sejak tadi. Untung saja setelah istirahat, dia tidak ada kelas yang harus diikuti lagi. Ini sudah kali kesekian semenjak semester baru dimulai Sehun tidak bisa menghabiskan istirahat siangnya bersama Luhan. 'Kalau begini, apa gunanya menyesuaikan jadwal?' pikirnya.
Siapa yang menyangka kalau jurusan Arsitektur itu serumit ini? Dulu, dia kira, para mahasiswa hanya perlu menggambar sebuah rancangan rumah yang bagus saja. Namun ternyata semuanya jauh dari hanya sekedar rancangan. Para mahasiswa harus menggambarnya dan harus melakukan asistensi berkali-kali sampai mendapatkan acc bagi setiap gambar yang mereka buat dari dosen yang bertugas sebelum menuju tahap berikutnya.
Huft. Padahal saat semester satu kemarin tidak serumit ini. Dia bahkan baru menginjak minggu ke tiga di semester 2 nya, dan dia sudah kalang kabut seperti ini. Untungnya, pelajaran lain belum mengharuskannya untuk menjalani rutinitas asistensi ini. Mungkin mulai bulan depan?
Dan di sini lah dia. Di depan ruangan dosen yang bertugas untuk memeriksa gambarnya, menunggu gilirannya untuk masuk. Entah apa saja yang dibicarakan oleh temannya yang sekarang tengah berada bersama sang dosen di ruangan itu. 'Kenapa lama sekali? Apa mereka mengadakan arisan di sana?' pikirnya kesal. Saat ini, hanya tinggal dia dan satu orang temannya, Junho.
Saat pintu terbuka dan Junho masuk ke ruangan itu, Sehun meraih ponsel di saku jaketnya dan mengirim pesan singkat untuk Luhan.
To: Xiao Lu
Mianhae, Lu. Sepertinya akan sedikit lebih lama? Kau dimana sekarang?
Dddrrtt ddrrtt. Belum sempat Sehun memasukkan ponselnya kembali, Luhan telah membalas pesannya.
From: Xiao Lu
Gwaenchanna^^ Aku di perpustakaan sekarang. Baekhyun dan Kyungsoo sudah pulang.
To: Xiao Lu
Hmmmm, mengapa tidak pulang bersama mereka? Dengan begitu kau kan tidak perlu kelaparan karena menungguku
From: Xiao Lu
Aku tidak perlu menunggumu, tapi aku INGIN menunggumu ^^ Siapa bilang aku kelaparan?
Sehun tersenyum tipis saat membaca balasan dari Luhan. Itu adalah ucapan Sehun setiap kali Luhan mengatakan padanya kalau dia tidak perlu melakukan sesuatu untuknya.
To: Xiao Lu
That's my LINE. Tidak ada yang bilang. Aku bisa merasakannya ;)
From: Xiao Lu
Cih, kau harus menghilangkan kebiasaan gombalmu Tuan Oh!
To: Xiao Lu
Can't do it. Tidak saat kau selalu berada di dalam pikiranku, soon-to-be-Nyonya Oh! Bahkan aku bisa melihatmu tersipu dari sini, kekekeke
From: Xiao Lu
Aisssssh, Sehun-aaaaaahhh /
Kekekeke. Sehun terkekeh geli. Menggoda Luhan dan membuatnya tersipu adalah hal yang tidak akan pernah membuatnya bosan. Dia juga tidak akan pernah berencana untuk berhenti melakukannya.
To: Xiao Lu
Cuuuttteeeee!
From: Xiao Lu
Aniyaaaaaaa! Aku MANLY! *pouting*
Sehun memutar bola matanya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang mengaku kalau dia MANLY tapi mengimbuhkan tulisan '*pouting*' pada pesannya.
To: Xiao Lu
Whatever, Xiao Lu. Ah, sebentar lagi giliranku. Aku akan menemuimu 30 menit lagi. Kau masih kuat menunggu ku?
From: Xiao Lu
Sure. Hwaiting!
To: Xiao Lu
Kekeke. Arasseo. See you, then. Saranghae :*
Tanpa menunggu balasan dari Luhan, Sehun memasukkan ponselnya kembali ke saku jaketnya dan berjalan ke dalam ruang dosennya. Dia tidak perlu menunggu balasan sms dari Luhan untuk mengetahui apa jawaban Luhan.
~O.O~
Luhan berjalan menyusuri rak-rak buku yang berjejer di perpustakaan. Akhir-akhir ini, kesempatan untuk makan siang bersama Sehun semakin langka. Dan sudah hampir seminggu ini Luhan menghabiskan waktu makan siangnya di perpustakaan. Dari pada harus makan siang tanpa Sehun, pikirnya. Luhan akan menunggu Sehun selesai dengan semua tugas-tugasnya baru kemudian mereka akan makan siang bersama. Kecuali jika dia ada kelas setelah istirahat siang.
Saat mendapatkan buku yang dicarinya, Luhan mencari tempat yang nyaman untuk membacanya. Dia berjalan menuju meja yang terletak di pojok ruangan. Jauh dari pintu masuk. Dengan begitu dia tidak akan terganggu. Luhan pun mulai hanyut dalam bacaannya. 'On the Street Where You Live'. Sebuah novel suspense karya Mary Higgins Clark. Luhan mungkin tidak suka menonton film horor atau suspense, dia lebih suka film yang manis dan memiliki 'happy ending'. Namun untuk urusan bacaan, Luhan lebih suka bacaan yang bergenre suspense seperti ini.
"Aku tidak tahu kalau 'Princess' suka membaca novel tentang pembunuhan sadis seperti itu," ucap suara dari belakang Luhan. Tanpa menoleh pun, Luhan tahu itu suara siapa. Hanya ada satu orang yang memanggilnya 'Princess' tanpa memperdulikan death -cute- glare yang diberikannya.
"Aku juga baru tahu kalau Tuan Wu datang ke perpustakaan," jawabnya dengan pandangan masih tertuju pada buku bacaannya.
"Kekekekeke. Once in a while I guess." Kris terkekeh dan menarik kursi di depan Luhan. Sebenarnya dia tidak ada niat sama sekali untuk mengunjungi perpustakaan. Dia baru saja keluar dari gedung fakultasnya saat dia melihat Luhan berjalan sendirian menuju perpustakaan. 'Bukankah ini jam makan siang?' batinnya. Karena penasaran, Kris pun mengikutinya.
"Bagaimana kabarmu, Kris?" Luhan tersenyum senang menatap Kris yang sudah duduk manis di depannya. Sudah lama sekali dia tidak berbincang dengan Kris. Sepertinya sejak dia jadian dengan Sehun. Apalagi, Sehun tidak terlalu suka dengan Kris. Errrrmmm, cemburu mungkin? Jangankan Kris, dia bahkan jarang menghabiskan waktu bersama BaekSoo sekarang. Selain karena dia yang disibukkan oleh Sehun, BaekSoo tentunya punya acara sendiri bersama ChanHo.
"Masih single." Kris tersenyum pada Luhan. "Lalu, mengapa 'Princess' berada di sini sendirian saat jam makan siang? Bukannya duduk manis di kantin bersama 'Prince' dan ke-empat pengawalnya?" tanyanya.
Luhan tertawa kecil mendengar julukan Kris untuk ke-empat dongsaeng ajaibnya. Sepertinya julukan 'pengawal' tidak buruk, mengingat bagaimana posesif nya BaekSoo padanya.
"Sehun harus asistensi sekarang," jawab Luhan singkat, kembali membaca bukunya, menyembunyikan rona di pipinya yang dengan seenaknya muncul hanya karena membicarakan Sehun.
"Hmmm," Kris menganggukkan kepalanya. "Jadi kau melewatkan jam makan siangmu agar bisa makan siang bersama Sehun saat dia selesai asistensi nanti." Tak perlu penjelasan dari Luhan untuk menyimpulkan jawaban singkat nya. Luhan hanya mengangguk pelan.
"So, bagaimana hubungan kalian sekarang?" tanya Kris lagi. "Well, kami baik-baik saja, I guess." Luhan menjawabnya, sedikit tidak yakin kalau itu adalah jawaban yang diinginkan Kris.
"Semakin mesra, I see," ucap Kris mengerlingkan matanya menggoda Luhan. Dia kembali terkekeh saat melihat Luhan menundukkan wajahnya tersipu. Kris senang melihat Luhan yang terlihat sangat bahagia sekarang.
Mereka terus mengobrol beberapa saat sampai ponsel Luhan bergetar di atas meja. 1 pesan dari Sehun.
From: Sehunnie
Mianhae, Lu. Sepertinya akan sedikit lebih lama? Kau dimana sekarang?
Luhan tersenyum manis dan membalas pesan Sehun. Sama sekali tidak menyadari Kris yang terus menatapnya. Bahkan bukunya terbengkalai begitu ada pesan dari Sehun. Beberapa kali dia tersipu saat membaca pesan-pesan itu.
Hhhhhh, seandainya senyum itu ditujukan untuknya. Seandainya rona merah itu muncul karena dirinya. Tapi Kris paham, lebih dari apapun. Dia tidak akan pernah mendapatkannya. Tidak senyum itu, tidak juga rona itu. Everything is about Sehun and Sehun only.
Kris sendiri tidak mengerti mengapa begitu sulit melupakan Luhan. Ini bukan pertama kalinya dia jatuh cinta. Luhan tentu bukan yang pertama. Namun dia tidak bisa melupakan Luhan begitu saja seperti saat dia melupakan pacar-pacar sebelumnya. Apa karena Luhan menolaknya? Mengingat kalau dia belum pernah ditolak sebelumnya. Namun, walaupun begitu, rasa cintanya tidak semerta-merta membuatnya memaksakan keinginannya untuk memiliki Luhan. Melihat Luhan tersenyum bahagia seperti ini sudah cukup baginya.
"Kris!" panggil Luhan pelan.
"Wu Fan!" panggilnya lagi, sedikit lebih keras.
"KRIS!" Luhan berteriak kesal karena Kris tak kunjung menjawab panggilannya. Dia tidak perduli dengan tatapan terganggu dari para penghuni perpustakaan atau kalau harus ditegur oleh petugas perpustakaan karana teriakannya barusan.
Kris langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Luhan. Dia baru tahu kalau suara Luhan bisa berubah seperti BaekSoo kalau berteriak, kekeke.
"Aigoooo, mengapa 'Princess' berteriak seperti itu? Imej itu tidak cocok dengan wajah manis mu, Lu," cibir Kris.
"Salah sendiri. Aku sudah memanggilmu berkali-kali. Tapi kau tidak mendengarkanku. Memangnya kau sedang memikirkan apa? Apa kau ada masalah?" tanya Luhan.
Kris menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. "Aniyo. Aku hanya terpesona saat melihat senyummu," ucapnya sambil mengedikkan bahunya. Luhan hanya memutar bola matanya mendengar penuturan sahabatnya itu. Mengapa semua orang suka sekali menggombal? Luhan bukannya tidak tahu kalau Kris masih menyimpan perasaan padanya. Namun mereka sudah sepakat untuk tidak pernah membahas itu lagi dan tetap bersahabat saja.
"Anyways, Aku harus pergi sekarang. Kau masih mau tetap di sini?" tanya Luhan sambil membereskan bukunya dan berisp-siap pergi. Kris mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Arasseo. Kalau begitu aku duluan ya," ucap Luhan melambaikan tangannya pada Kris.
Luhan melangkahkan kakinya sambil bersenandung pelan menuju gedung kuliah Sehun. Memang Sehun menyuruhnya menunggu di perpustakaan, tapi Luhan ingin memberi sedikit kejutan mungkin? Siapa tahu Sehun akan mengijinkannya makan es krim setelah itu, hehehehe.
Setelah 15 menit menunggu, Luhan melihat Sehun keluar -setengah berlari- dari fakultasnya. Luhan memang menunggu di depan fakultas dan tidak masuk ke dalam. Sehun terlihat sedikit terkejut saat mendapati Luhan di depan fakultasnya sedang menunggunya dan melambai ke arahnya dengan senyum manisnya yang selalu berhasil membuat semua kelelahan Sehun sirna. Bahkan sekarang dia sudah tidak merasa lelah ataupun kesal karena rutinitas asistensinya.
Sehun mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Luhan. Tidak perduli dengan tatapan dari orang-orang di sekelilingnya dan wajah Luhan yang merona. "Hhhhh, akhirnya aku bisa memelukmu, Xiao Lu." Sehun membenamkan wajahnya di ceruk leher Luhan dan mencium leher putih itu sekilas, membuat Luhan menutup matanya erat-erat karena sensasi aneh di perutnya saat Sehun melakukannya.
"Mengapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau menungguku di perpustakaan?" tanya Sehun sembari menyibak poni Luhan dengan tangan kanannya setelah dia melepaskan pelukannya, sedangkan tangan kirinya masih melingkar manis di pinggang Luhan.
Luhan hanya tersenyum senang karena perlakuan Sehun. Dia merasa sangat dicintai saat Sehun memperlakukannya seperti ini dan memanjakannya.
"Aku hanya ingin segera bertemu denganmu," jawabnya masih tersenyum dan memainkan cardigan yang dikenakan Sehun. "Kau tidak ingin memberiku hadiah karena telah menunggumu?" tanya Luhan memandang Sehun penuh harap.
"Kau ingin hadiah?" Sehun balik bertanya sambil mengusap pipi merona milik Luhan. "Eum," Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya antusias. "Hadiah apa?" tanyanya lagi.
"Apa saja," jawab Luhan. Dia ingin sekali menjawab 'es krim' sebenarnya. "Apa saja?" tanya Sehun memastikan. "Ne," jawabnya.
Sehun terkekeh pelan, dia tahu kalau Luhan akan meminta es krim padanya, mengingat kalau selama 3 bulan musim dingin, Sehun melarangnya untuk memakan es krim, tapi terlalu takut untuk mengatakannya. Tentu saja Sehun akan membelikannya, satu es krim tidak masalah kan? Tapi Sehun juga ingin menggodanya terlebih dahulu.
Chu~
Sehun mencium bibir Luhan, melumat, dan mengulum bibir manis Luhan dengan lembut. Mengeratkan pelukannya di pinggang Luhan agar Luhan tidak terjatuh. Dia tahu kalau kaki Luhan akan berubah menjadi seperti jelly setiap Sehun menciumnya. Ujung bibirnya sedikit terangkat saat dia merasakan kalau Luhan mulai membalas ciumannya. Aaaaaahh, seandainya saja dia bisa menghabiskan waktu seharian untuk mengecap bibir manis itu.
Saat dirasa kalau pasokan udara mulai menipis, Sehun melepaskan tautan bibirnya. Dia tersenyum saat melihat wajah Luhan yang sudah merah padam saat ini. Bahkan mungkin lebih merah dari mawar merah yang diberikannya untuk Luhan saat Valentine kemarin.
"Suka dengan hadiahku?" tanya Sehun sambil mengusap bibir Luhan yang terlihat sedikit membengkak dan sedikit basah akibat ciumannya barusan.
"Sehun-aaaaaah!" Luhan yang sudah sangat malu langsung memukul dada Sehun pelan dan menyembunyikan wajahnya di sana. Bagaimana tidak? Mereka baru saja berciuman sedikit panas di tempat umum. Dengan semua mata yang memandang ke arah mereka. Bagaimana mungkin Sehun bisa bersikap seolah-olah itu hal yang biasa saja?
"Wae? Kau tidak menyukainya? Tapi seingatku kau menikmatinya tadi!" Sehun mengusap kepala Luhan. "Y-yaaaah! Jangan berkata seperti itu, Sehun-aaaah! Aku maluuu!" rengek Luhan manja masih menolak untuk mengangkat wajahnya.
Sehun tersenyum, dia sangat menyukai Luhan yang manja seperti ini. "Arraseo, arrasseo," ucapnya. "Aigoooo. Kalau kau terus seperti ini, lama-kelamaan aku bisa terserang diabetes, Xiao Lu. Kau terlalu manis." Luhan semakin menyembunyikan wajahnya di dada Sehun.
"Kekekeke," lagi-lagi Sehun tertawa kecil. "Jadi, kau mau es krim?" Luhan langsung melepaskan pelukannya dan menatap Sehun tak percaya. Benarkah yang dia dengar? Sehun menawarkannya es krim.
"Ya sudah kalau tidak mau," ucap Sehun sebelum Luhan sempat menjawabnya. Dia mencium bibir Luhan sekilas kemudian berjalan meninggalkannya sebelum Luhan sempat merespon ucapannya.
"Yaaaaakkk! Siapa bilang aku tidak mau?" Luhan langsung mengejar Sehun dan menautkan jemarinya dengan jemari Sehun. "Aku bahkan belum sempat menjawabnya karena kau—" Luhan menghentikan kalimatnya dan menatp ke arah lain.
"Karena aku apa?" tanya Sehun menggodanya.
"Aiiissssh! Lupakan saja! Ya sudah kalau tidak mau membelikanku es krim. Kita pulang saja!" ucap Luhan sewot. Dia melepaskan tautan jemarinya dengan Sehun dan mem-pout-kan bibirnya kemudian berjalan mendahului Sehun dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Aeeey, jangan cemberut. Aku kan hanya bercanda." Sehun langsung menarik tangan Luhan dan memegang dagu Luhan agar menatapnya. Luhan sendiri masih mem-poutkan bibirnya.
"Sudah berapa kali aku bilang padamu. Stop pouting in front of me, Xiao Lu! Kau membuatku ingin menciummu lagi, dan lagi," ucap Sehun kemudian mendekatkan wajahnya dengan Luhan. Refleks, Luhan menutup matanya saat wajah Sehun semakin dekat dengan wajahnya. Dia semakin menutup matanya saat nafas Sehun terasa hangat menerpa wajahnya. Namun sampai beberapa saat, Luhan belum juga merasakan bibir Sehun pada bibirnya.
Luhan lalu membuka matanya dan langsung bertatapan dengan seringaian tampan Sehun. "Mengapa kau menutup matamu, Lu?" tanya Sehun sok innocent. Sontak Luhan membuka mulutnya tak percaya dan membelalakkan matanya medengar pertanyaan Sehun.
"Yaaaaak! Oh Se—"
Chu~
Sehun langsung mencium bibir Luhan, membungkam apapun yang ingin dikatakan Luhan sebelumnya. "Jangan marah-marah, Lu!" Sehun mencuiumnya lagi, hanya sekilas. "Bisa-bisa nanti cantiknya hilang." Sehun mencubit pipi Luhan sambil mengerlingkan matanya dan berlari sebelum Luhan mengamuk padanya.
"Yaaaaaaaaakk! OH SEHUN MENYEBALKAN! KEMBALIIII!" Luhan segera mengejar Sehun yang tengah tertawa puas karena berhasil menggodanya berkali-kali hari ini.
Mereka sama sekali tidak menyadari seseorang yang mengikuti mereka sedari tadi sambil terus memandang keduanya dengan tatapan tidak suka.
~O.O~
Jongin melihat semuanya sejak tadi. Ini hari ketiga dia berada di Seoul dan dia memutuskan untuk mulai mencari Sehun. Sebenarnya dia bisa saja langsung ke rumah Sehun. Tapi dia ingin melihat keadaan Sehun dulu sebelum mengunjunginya.
Jongin baru saja sampai di SNU dan sedang mencari-cari letak Fakultas Tehnik saat dia melihat sesorang yang familiar baginya keluar dari perpustakaan. Walaupun belum pernah bertemu, dia tahu kalau itu Luhan. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan wajah Luhan yang dilihatnya setiap hari di ponsel Sehun? Ya, Sehun menjadikan foto Luhan sebagai wallpaper layar ponselnya.
Jongin memutuskan untuk mengikuti Luhan. Siapa tahu dia akan menemui Sehun. Dan tebakan Jongin benar sekali saat melihat gedung tujuan Luhan. Fakultas Tehnik. Pasti dia ingin menemui Sehun, pikirnya. Karena Luhan tidak masuk ke dalam, dia memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Dia duduk sedikit jauh dari tempat Luhan duduk namun masih bisa melihat Luhan dengan jelas. Pandangannya sama sekali tidak beralih dari wajah Luhan. Luhan persis seperti apa yang dilihatnya di foto setahun yang lalu. Cantik, untuk ukuran seorang namja.
Saat Luhan berdiri dan melambai pada seseorang yang baru saja keluar dari gedung tersebut, Jongin mengikuti arah tatapan Luhan dan melihat seseorang yang dicarinya di sana. Oh Sehun berdiri di sana dengan wajahnya yang sedikit terkejut. Dia terlihat sangat tampan. Namun ekspresi terkejut itu hanya bertahan beberapa detik saja, karena detik berikutnya, Sehun tersenyum sangat manis hingga membuat dada Jongin sedikit berkedut mengingat kalau senyum itu dulu hanya ditujukan padanya.
Dadanya terasa menyempit saat dia melihat Sehun memeluk tubuh Luhan erat. Semakin sakit saat Sehun menyibak poni Luhan dan menatapnya dengan lembut. Dia bahkan bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka saat itu. Jongin segera mengalihkan pandangannya saat Sehun mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan. Tidak perlu mendapatkan nilai A untuk mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.
Untuk sesaat, dia merasa ragu dengan apa yang akan dia lakukan. Apakah dia benar-benar akan melakukannya? Sehun terlihat sangat bahagia sekarang. Apakah dia harus merusaknya? Lalu bagaimana dengan Luhan? Dia bahkan tidak memiliki salah apa-apa padanya. Tegakah dia membuat wajah 'malaikat' itu menangis karenanya? Dan yang terpenting, apakah Sehun masih mencintainya? Apakah dia terlambat?
Namun perasaan ragu itu hanya sesaat. Setiap orang berhak untuk bahagia dan mencari kebahagiaannya. Jongin juga salah satu dari setiap orang itu. Bukan salahnya kalau kebahagiaannya nanti akan menyakiti orang lain. Menyakiti Luhan. Dia teringat kembali pada ucapannya pada Minseok kemarin.
Dia tidak akan tahu sebelum mencobanya.
Jongin terus mengikuti Sehun dan Luhan yang mulai berjalan meninggalkan area kampus. Dia ikut berhenti saat mereka berhenti. Hatinya memberontak, memerintahkannya untuk tidak melihat adegan yang sedang berlangsung di depannya. Namun tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Hatinya merasa sakit saat Sehun menggoda dan mencium Luhan. Namun tidak ada air mata yang keluar. Namja tidak boleh menangis. Dia hanya menatap keduanya yang saat ini sudah kembali bergandengan tangan mesra dengan tatapan dinginnya.
'Seharusnya aku yang digoda oleh Sehun. Seharusnya tubuhku yang dipeluk oleh Sehun. Seharusnya tanganku yang digenggam dengan mesra oleh Sehun. Seharusnya bibirku yang dicium oleh Sehun.'
Jongin terus menatap kedua insan yang semakin jauh dari tempatnya berdiri. Dia memutuskan untuk kembali ke apartemen Minseok saja. Dia perlu istirahat setelah menyaksikan semuanya hari ini.
'Aku pasti akan memperbaiki semuanya. Aku pasti akan mendapatkanmu kembali Sehunnie. Tangan itu, tubuh itu, bibir itu, dan ungkapan cinta itu. Aku akan mengembalikan semuanya ke tempat yang seharusnya. Bersamaku!'
~O.O~
"Aku berangkaaatttt!" Luhan berteriak saat keluar dari rumahnya. Dia berlari dengan tergesa. Hampir pukul 05.00 pm. Bagaimana mungkin dia lupa kalau sore ini dia akan berkencan dengan Sehun. Semester baru ini, Sehun terlihat benar-benar sibuk dengan semua tugas-tugasnya hingga mereka jarang punya waktu untuk berkencan. Karena itu Luhan sangat senang saat Sehun mengajaknya kencan di tengah-tengah waktu sibuknya. Saking senangnya, dia tidak sadar kalau hanya mengenakan selembar kemeja tipis yang membalut tubuh kurusnya.
Luhan terus berlari agar cepat sampai ke tempat tujuan. Mereka berjanji akan bertemu di taman kota. Sebenarnya, Luhan lebih suka kalau langsung ke tempat Sehun saja. Tapi Sehun menolaknya. Dengan alasan karena taman kota dan apartemen Sehun berlawanan arah kalau dari rumah Luhan. Dia tidak mau kalau Luhan harus jauh-jauh berjalan ke apartemennya kemudian kembali menyusuri jalan yang telah dilalui sebelumnya untuk ke taman. Luhan tersenyum saat mengingatnya. Sehun selalu memikirkan Luhan di atas segalanya.
Luhan terus tersenyum sambil memikirkan Sehun, hingga dia tidak melihat seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Orang tersebut hanya menatap Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan sambil terus melangkahkan kakinya ke arah Luhan.
Brukk
Karena terlalu larut dalam pikirannya, ditambah keterburu-buruannya, Luhan mmenabrak orang tersebut. Dia hampir saja jatuh terpental kalau bukan karena orang itu cepat menangkap lengan Luhan.
"Mianhae, mianhae, maaf," tanpa melihat orang yang ditabraknya, Luhan terus meminta maaf sambil mebungkukkan badannya berkali-kali. 'Luhan pabbo!' rutuknya dalam hati. "Maafkan aku. Tadi aku sedikit melamun dan terburu-buru, jadinya tidak melihat ke depan. Jeongmal mianhae," ucapnya lagi saat dirasa kalau korbannya tidak meresponnya sama sekali. Luhan terus menundukkan wajahnya dan menggaruk tengkunya, takut kalau orang yang ditabraknya akan marah.
"Gwaenchanna!" Luhan mengangkat kepalanya saat mendengar pemuda yang ditabrak Luhan mengeluarkan suaranya setelah terdiam beberapa saat. "Aku juga tidak berhati-hati," lanjutnya lagi dengan menunjukkan senyuman manisnya pada Luhan.
Untuk beberapa saat, Luhan mematung di tempatnya berdiri. Wajah tampan, kulit tan, bibir yang sedikit tebal, dan pandangan mata yang tajam. Luhan sepertinya pernah melihat pria ini di suatu tempat. Tapi dimana?
"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat melamun lagi," ucap pemuda itu saat melihat Luhan yang sepertinya sedang sibuk dengan dunianya. "Ah, aniyo. Aku baik-baik saja. Tapi, maaf. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Luhan. Entah mengapa, tapi dia yakin sekali kalau pernah melihat pemuda ini.
"Aniyo. Aku tidak ingat kalau kita pernah bertemu sebelumnya," jawabnya tersenyum lagi.
"Benarkah?" tanya Luhan pelan. "Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Sekali lagi aku minta maaf karena telah menabrakmu." Luhan kembali membungkukkan badannya.
"It's okay!" pemuda itu tersenyum lagi. "Errrmmm, bukankah kau bilang kalau kau sedang terburu-buru tadi?" tanyanya.
Luhan menepuk jidatnya sendiri saat pertanyaan itu terlontar dari bibir pemuda di hadapannya. Bagaimana dia bisa melupakannya?
"Kau benar. Kalau begitu, aku pergi dulu, ne!" Luhan pun berjalan meninggalkan pemuda itu. "Sekali lagi maaf karena menabrakmu!" teriak Luhan saat jarak mereka cukup jauh.
Luhan terus berlari melanjutkan perjalanannya menuju taman kota dengan diikuti oleh tatapan dari namja yang ditabraknya tadi yang terus memandangnya. Pemuda itu menatap siuluet tubuh Luhan yang mulai tak terlihat dengan senyuman aneh yang tersungging di bibirnya.
"Tentu saja kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi bukan berarti kau belum pernah melihatku, Luhan Hyung!" ucapnya kemudian berbalik untuk meneruskan perjalanannya.
~O.O~
Sehun terbangun dari tidurnya saat mendengar suara bel apartemennya. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah seharian mengerjakan gambar-gambar yang harus dikumpulkannya besok. Dia sengaja mengerjakan semuanya sekaligus agar bisa menghabiskan waktu dengan Luhan setelahnya. Sehun menyelesaikan semua gambarnya pukul pukul 3 tadi, dan memutuskan untuk tidur sebentar. Toh acara kencannya dan Luhan masih 2 jam lagi.
Ting Tong
Lagi-lagi bel apartemennya berbunyi. Dia segera meraih jam yang terletak di nakas tempat tidurnya. Matanya terbelalak sempurna saat melihat benda penunjuk waktu tersebut. Pukul 05.20 pm.
'SHIT' umpatnya pelan. Bagaimana mungkin dia bisa ketiduran selama ini? Bukankah dia sudah memasang alarm di ponselnya pukul setengah 5? Mengapa dia tidak mendengar alarm nya? Apa Luhan kemari karena dia tidak kunjung datang? Tapi mengapa tidak langsung masuk? Luhan kan tahu passwordnya.
Saat melihat ponselnya, lagi-lagi dia mengumpat pelan. Sepertinya baterai ponselnya habis, karena sekarang ponselnya mati total. Jadi ini sebabnya alarm nya tidak berbunyi. Dia segera mencari charger untuk mengisi daya baterai ponselnya. Luhan pasti sudah berkali-kali menghubunginya.
Ting Tong
Namun, belum sempat Sehun menghidupkan kembali ponselnya, bel kembali berdering. 'Aiiissshh, siapa sih. Mengganggu saja. Tidak tau orang sedang terburu-buru apa!' Sehun menggerutu sambil memakai bajunya. Dia meletakkan ponselnya ke atas nakas dan segera menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Tanpa melihat dari layar intercomnya, Sehun langsung membuka pintu apartemennya.
Sehun tercekat dan mengedi-kedipkan matanya berkali-kali seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Seorang namja manis, tampan, berkulit tan, sedang berdiri di depan pintu apartemennya dan tersenyum manis padanya. Namja manis yang pernah menghabiskan hari-hari bersamanya dulu. Namja manis yang juga pernah bahkan mungkin masih mengisi salah satu sisi hatinya saat ini.
"J-Jongin?" ucap Sehun terbata.
Jongin hanya terkekeh kecil menanggapi reaksi Sehun saat melihatnya. "Annyeong, Sehun-ah!" ucapnya sambil melambaikan tangan kanannya pada Sehun. Melihat Sehun yang sepertinya masih terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba, Jongin langsung memeluk Sehun erat.
"Bogosipheo, Sehun-ah!" ujarnya tepat di telinga Sehun. Membuat Sehun terbangun dari keterkejutannya dan refleks membalas pelukan Jongin.
"A-aku juga merindukanmu, Jongin-ah!" ucapnya tanpa sadar. Entah karena terlalu terkejut atau apa, namun untuk sesaat, dia seperti lupa dengan keadaan sekitarnya. Dia seperti berada di dunia lain saat melihat Jongin. Jongin yang tidak pernah menyapanya lagi setelah mereka putus. Jongin yang tidak pernah menghubunginya selama hampir setahun. Jongin yang selama ini diharapkannya untuk kembali padanya. Jongin... yang dirindukannya.
Sehun bahkan lupa kalau sedari tadi Luhan sedang menunggunya di taman kota.
Sendirian.
~O.O~
TeBeCe
A/N:
Akhirnyaaaaaaaa! Another produk gagal, I guess :'( Setelah blank berhari-hari karena sedikit kesalahan dan kebodohan Liyya yang terburu-buru di chapter kemaren, Liyya berhasil menyelesaikan chapter ini. #tebarsenyumJongin
Mianhae, padahal Liyya sudah menjanjikan HunKai moment di chap ini. Seperti yang Liyya bilang tadi. Chap kemaren ada sedikit kesalahan. Jongin bilang kalau dia mau ke Seoul awal bulan kan ya? Liyya gak nyadar kalau kemaren ceritanya masih bulan Februari -_- Dan seharusnya Jongin datang awal April. Hohohohoho. Jadinya Jongin datang pertengahan Maret deeh ;'( Chap depan baru kita berkelana bersama HunKai #evilsmirk
Omooooo,,! Luhan dilupakan! Dia menunggu sendirian. Huweeeee! Sehun jahat! #jitakSehun# Bagaimana nasib Luhan? Apa Sehun bener-bener melupakan Luhan? Jawabannya ada di chapter depan ;) #diserbureaders
Tidak henti-hentinya Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
destyrahmasari: Eon juga iri sama Luhan, hohohoho. Ne udah lanjut, maaf kalau mengecewakan :/
Makasih udah ngereview^^
: Jangan kena diabetes duluuuu ;) Saya? Romantis? muehehehehe, lebih tepatnya itu impian pribadi saya #plakk
Makasih udah ngereview^^
Oh Han Ri: Udah aku baca loh ff nya :)
Makasih udah ngereview^^
ferinaref: Muehehehe, kebanyakan gula neh pas bikin ^^ Itu Kkamjong udah muncul loooh, udah punya rencana juga ;) Sepertinya Lulu bakal tersakiti lagi :'(
Makasih udah ngereview^^
RirinSekarini: Ati-ati kalo senyam senyum sendiri chingu ;) Endingnya HunHan kah,,? Kita lihat nanti yaaa ;)
Makasih udah ngereview^^
Akita Fisayu: Ngebut neeeh, gomawo nyempetin review tiap chapter :) Jangan tendang Kkamjong :( Kasian dia. Baru juga muncul, masa' iya mau ditendang. Hehehehe
Makasih udah ngereview^^
KokkiBear: Jonginnya jahat banget gak yaaaaa? Lihat aja deh dari apa yang bakal dia lakuin nanti ;)
Makasih udah ngereview^^
ajib4ff: Betul banget eooooon #lemparvideoValentineHunHan# HunHan kan emang selalu always manis eooon :)
Makasih udah ngereview^^
dian deer: Malapetaka segera menghampiri Luhan :o #PrayforLuhan# untung Luhan masih punya BaekSoo. Jangan lupakan Kris yang selalu di sampingnya juga ;)
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: Gomawo udah baca 'Saranghae, Nae Appa' yaaaa ^^ Chap kemaren emang sengaja Liyya bikin full HunHan romance, kecuali bagian bawahnya -_- yaaah, itung2 pengobat hati Luhan gitu lah ya ;)
Makasih udah ngereview^^
asroyasrii: Yups, itu adalah Kkamjong! Tenang aja, kalau ada HunKai, nanti pasti ada KrisHan nyempil2 ;) Tuh aja Kris udah maksa-maksa buat muncul di chap ini #disemburNaga
Makasih udah ngereview^^
HunHan Baby: Ini udah lanjut dek :) Berdo'a aja biar HunHan gak dapat masalah ya ;)
Makasih udah ngereview^^
Name HunHan: Omoooo! Gomawo udah bilang Daebak #bow# Liyya juga gak tega sebenarnya kalau Lulu tersakiti. Tapi ini sudah tuntutan peran -_-
Makasih udah ngereview^^
LittleZhao: Muehehehehe, ini akibat sering baca ff romanticnya HunHan, saeng ;) Yups, yang itu adalah Kkamjong. Noh udah nongol dia nya -_- Ini udah update, thanks for waiting ya :)
Makasih udah ngereview^^
eunhuna: Liyya yang nulis aja meleleh sendiri loooh #abaikan# Liyya juga mau dipeluk seharian sama Luhan :)
Makasih udah ngereview^^
WireMomo: KYAAAA! Kamu juga KEREN kok ;) Rela gak rela, Kkamjong udah muncul tuh ;) Gak tau deh gimana nasib Luhan ntar :'( Gpp saeng. Udah direpiu aja Eon udah seneng banget :)
Makasih udah ngereview^^
chyshinji0204: Iya dooonk! Itu kan rumah kedua buat Luhan #plakk# Tenang aja, mereka gak bakal NC-an kok, tuh liat aja Rated ceritanya ;) Kkamjong udah nongooool. Luhan bakal merana :'( #prayforLuhan
Makasih udah ngereview^^
Shizuluhan: KYAAAA! Gomawo udah dibilang DAEBAK yaaaa :) Sayangnya yang muncul di ending itu memang Jongin -_- Siapin hati aja yaaaa. Tenang aja chingu, Kris selalu siap buat Luhan ;)
Makasih udah ngereview^^
Little Deer: Gomawo udah dibilang DAEBAK ya saeng ;) Betul sekaliiii, emang itu membentuk nama OH SEHUN kok :D BaekSoo itu kan sudah seperti keluarga buat Luhan. Apalagi si Baek ;) Jongin udah keluaaaaaarrr. Sad? Pastinya laaah. Tapi ya gak sad-sad banget yaaa. Gak tega sama Lulu -_-
Makasih udah ngereview^^
ssjllf: Yups betul sekaliiii. Itu Kkamjooong .
Makasih udah ngereview^^
Ryu Que: Panggil eonnie? Ya gpp bangeeeeeettttt :D Setelah penantian selama 11 chapter, akhirnya dia bilang Saranghae juga :)
Makasih udah ngereview^^
ChickenKID: Muahahahaha . Ilmu dari mana yaaa o.O Yang jelas bukan dari Eyang Subur lah yaaa #abaikan# Kalau eon jadi Luhan, eon mungkin juga bakalan langsung pingsan di tempat kalo dibegituin sama Thehun :) Ini udah lanjut saeng. Semoga g mengecewakan yaaa :)
Makasih udah ngereview^^
rinie hun: Kai udah comeback stage tuuuh #nunjukJongin# hehehehe :)
Makasih udah ngereview^^
Park Jihyun24: Gpp kok saeng :D udah direpiu aja eon udah seneeeeng banget. Kkamjong muncul tp chap ini belom nyesek kok :)
Makasih udah ngereview^^
Riyoung Kim: Yups, itu Jongin yang mau ke Seoul. Noh udah muncul dia di atas ;)
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi?
So, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^
