By: 0312_luLuEXOticS

Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim jongin, Others

Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo

Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort

Rate: T

Lenght: 13 of ?

Disclaimer: Semua cast milik orang tuanya masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja. Cerita murni dari hasil imajinajis(?) saya ^^).

Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje

A/N: HUNKAI ALLERT! SAD GAGAL! AND NO HUNHAN MOMENTS! Oh ya, ntar ada telepon umum muncul. Tapi jangan bayangin telepon umumnya Indonesia ya? TU nya kaya' yang di luar Negeri gitu. Yang bentuknya kaya' satu bilik gitu ^_^

.

HAPPY READING^^

.

Preview Chapter:

"A-aku juga merindukanmu, Jongin-ah!" ucapnya tanpa sadar. Entah karena terlalu terkejut atau apa, namun untuk sesaat, dia seperti lupa dengan keadaan sekitarnya. Dia seperti berada di dunia lain saat melihat Jongin. Jongin yang tidak pernah menyapanya lagi setelah mereka putus. Jongin yang tidak pernah menghubunginya selama hampir setahun. Jongin yang selama ini diharapkannya untuk kembali padanya. Jongin... yang dirindukannya.

Sehun bahkan lupa kalau sedari tadi Luhan sedang menunggunya di taman kota. Sendirian.

~O.O~

Mereka bertahan dengan posisi saling berpelukan di depan pintu cukup lama. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Jongin tersenyum tipis saat Sehun membalas ucapannya. Sehun masih merindukannya? Dia juga membalas pelukannya. Apakah itu berarti masih ada harapan untuknya?

Setelah melepaskan pelukannya, Sehun mempersilahkan Jongin masuk dan menyuruhnya menunggu di ruang tamu sementara Sehun kembali ke kamarnya untuk mengganti bajunya dengan baju yang sedikit lebih layak. Sehun kemudian memakai jaketnya dan bergegas kembali ke ruang tamu. Sama sekali tidak melirik ponsel di nakasnya.

Sehun sendiri masih bingung. Dia bahkan tidak menyadari bagaimana caranya sekarang dia telah berada di sebuah cafe dekat apartemennya. Satu detik dia masih berada di pintu apartemennya, berfikir kalau mungkin saja dia masih berada di dunia mimpi. Detik berikutnya, dia sudah berada di sini. Dia juga tidak mengingat bagaimana dia sudah tidak lagi mengenakan baju tidurnya melainkan sebuah kemeja dan 'long coat' nya. Semuanya seolah-olah terjadi begitu saja. Tubuhnya tersa seperti bergerak tanpa ada perintah dari otaknya.

"Bagaimana keadaanmu, Sehun-ah?" tanya Jongin membuka percakapan setelah cukup lama terdiam. Dia cukup maklum dengan kebingungan Sehun saat ini. Siapa yang tidak bingung kalau tiba-tiba seseorang yang telah menghilang dari kehidupanya selama hampir setahun tiba-tiba muncul di hadapannya dan berkata kalau dia merindukannya? Apalagi kalau mereka pernah punya hubungan yang spesial di masa lalu.

"A-aku baik-baik saja. Kau sendiri?" tanya Sehun sedikit terbata. Perhatiannya teralih ke luar cafe saat samar-samar dia mendengar suara rintik hujan di luar sana. Well, ini musim semi, apalagi yang kau harapkan selain hujan yang tiba-tiba muncul. Sesuatu dalam dirinya merasakan sesuatu yang aneh saat melihat hujan turun semakin deras. Dia merasa khawatir. Tapi mengapa?

"Yeah, aku bisa melihat kalau kau baik-baik saja." Jongin tersenyum manis dan menyesap coklat hangatnya perlahan. "Aku juga baik-baik saja. Akhir-akhir ini sedikit sibuk dengan dance class ku," lanjutnya setelah meletakkan cangkir yang berisi coklat hangat itu kembali ke tempatnya.

"Hmmm, lalu, apa yang membuatmu datang ke Seoul? Apa ada acara di sini? Dance Competition mungkin?" tanya Sehun mulai bisa berbaur dengan suasana dan terbiasa dengan kehadiran Jongin. Namun dia kembali menatap ke luar cafe saat suara gemuruh petir terdengar. Ini hujan pertama di musim semi kan? Kenapa sudah diiringi dengan petir? Lagi-lagi dia merasa cemas.

"Hehehehe. Aniyo. Sekarang sedang masa liburan, jadi aku memutuskan untuk mengunjungi Minseok Hyung di sini," jawab Jongin terkekeh pelan. "Aku juga ingin bertemu denganmu."

Kalimat terakhir itu berhasil membuat Sehun mengalihkan pandangannya dari luar sana dan menatap Jongin intens. "Wae?" Mengapa tiba-tiba Jongin ingin mengunjunginya? Setelah hampir setahun berlalu, mengapa baru sekarang?

"Karena aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu," jawab Jongin membalas tatapan Sehun.

"Hhhhh," Sehun mendesah pelan. "Kau tahu kalau yang terjadi saat itu bukan salahmu, Jongin-ah. Tidak perlu meminta maaf dan tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua terjadi begitu saja. Bukan salahmu kalau kau ingin bahagia. Semua orang ingin," tutur Sehun.

Jongin masih setia menatap Sehun. 'Jika kau tahu tujuanku yang sebenarnya, apa kau masih bisa berkata seperti ini, Sehunnie? Aku mungkin akan menghancurkan kebahagiaan 'dia' demi kebahagiaanku,'

"Tetap saja. Aku merasa tidak enak padamu." Jongin kembali meminum coklat hangatnya untuk menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menjalarinya saat dia berfikir tentang keegoisannya. Bohong kalau dia tidak merasa bersalah pada Luhan, namun rasa bersalah itu terlalu lemah jika dibandingkan dengan keinginannya untuk mendapatkan Sehun kembali.

"Sudahlah. Yang lalu sudah berlalu." Sehun tersenyum pada Jongin. Mengisyaratkan kalau semuanya baik-baik saja. "Lalu, kau kemana saja selama ini? Kau menghilang beberapa hari setelah kejadian 'itu'!" tanya nya kemudian.

"Sebenarnya aku tidak kemana-mana. Saat itu aku hanya mengikuti orang tuaku berlibur ke Daegu. Sekaligus memikirkan semua yang terjadi. Setelah itu aku kembali lagi ke Busan dan sekolah lagi. Dance Major," jawab Jongin.

Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Dance memang selalu menjadi prioritas Jongin. Dan dia tahu itu. Jadi dia tidak terkejut saat Jongin bilang kalau dia mengambil 'dance' sebagai pilihannya.

"Masih suka 'dance' ternyata." Sehun tertawa kecil membuat Jongin ikut tersenyum. Dia senang sekali karena kecanggungan beberapa saat yang lalu telah luntur.

"Ya, begitulah. Kau sendiri? Tidak mau belajar dance lagi?" tanya Jongin. Dia bisa melihat air muka Sehun sedikit berubah murung saat mendengar pertanyaannya, dan dia merutuki kebodohannya yang bertanya seperti itu.

Sehun tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Jongin. "Tidak. Aku tidak pernah belajar dance lagi sekarang. Tentu saja aku ingin. Tapi, kau tahu sendiri kenapa," ujarnya.

"Mianhae, seharusnya aku tidak menanyakannya." Jongin menundukkan wajahnya merasa bersalah. "Gwaenchanna, tidak perlu meminta maaf. Aku tahu kalau kau hanya perduli padaku, karena itu kau menanyakannya," jawab Sehun tersenyum.

"Emmm, jadi sekarang kau tinggal di rumah Minseok Hyung?" tanya nya kemudian mengalihkan pembicaraan. Jongin mengangguk sebagai jawaban.

"Lalu, dari mana kau tahu apartemenku? Minseok Hyung yang memberitahumu?" tanyanya lagi. Sehun memang sempat bertemu dengan Minseok beberapa kali. Bagaimana tidak? Mereka belajar di kampus yang sama. Hanya berbeda jurusan saja. Sehun juga sempat memberitahukan alamat tempat tinggal barunya pada Minseok.

"Aniyo." Jongin menggelengkan kepalanya. "Aku sempat mengunjungi rumahmu beberapa waktu yang lalu. Dan saat aku berkata kalau aku akan berlibur ke Seoul, Bibi memeberikan alamatmu dan berkata untuk mengunjungimu," jawab Jongin.

Jongin tidak bohong. Dia memang sempat mengunjungi rumah Sehun sebelum memutuskan untuk datang ke Seoul. Saat itu Jongin yakin sekali kalau Sehun sedang liburan semester. Karena itulah Jongin berani mengunjungi rumah Sehun. Namun saat dia kesana, dia hanya disambut oleh Nyonya Oh. Untung saja Bibi -ya, Jongin memanggil Nyonya Oh dengan sebutan 'Bibi'- tidak langsung mengusirnya begitu melihat wajahnya. Padahal Jongin yakin sekali kalau Bibi tahu semua yang terjadi antara dirinya dan Sehun. Bibi justru mempersilahkannya masuk dan mengatakan kalau Sehun baru saja kembali ke Seoul. Dia hanya pulang 2 minggu saja walaupun dia libur selama sebulan lebih. Jongin tidak bertanya mengapa. Lebih tepatnya dia tidak ingin bertanya mengapa.

"Kau datang ke rumah dan bertemu dengan Eomma?" tanya Sehun. "Eum," Jongin mengangguk pelan. "Mengapa memasang ekspresi sepeti itu? Apa kau terkejut karena aku berhasil keluar dari kediaman keluarga Oh dengan selamat setelah apa yang kuperbuat pada anaknya?"

"Yaaaaaa, kurang lebih seperti itu." Sehun tertawa kecil. "Yaaaakkk! Oh Sehun!" Jongin meninju lengan Sehun pelan dan ikut tertawa.

~Urin doisang nuneul majuhaji aneulka

Sotonghaji aneulka

Saranghaji aneulka

Obrolan mereka terhenti saat alunan musik yang sangat familiar itu berdering dari ponsel Jongin. Sehun menatap kepergian Jongin. Dia masih menggunakan nada dering itu? Sehun dulu juga menggunakan lagu itu sebagai nada deringnya. Mereka sama-sama menyukai lagu itu dan sering memakainya sebagai background music saat berlatih dance.

Kemudian Sehun kembali mengalihkan pandangannya pada pemandangan di luar sana. Hujan masih terus mengguyur kota Seoul, lengkap dengan gemuruhnya yang bersahut-sahutan. Rasa gelisah yang diabaikannya tadi kembali mendatanginya.

"Maaf sedikit lama." Sehun tersadar dari pikirannya saat suara Jongin menyapa gendang telinganya. Dia beralih menatap Jongin yang kembali duduk di depannya dan tersenyum kikuk. Dia bahkan tidak sadar kalau Jongin sudah selesai menjawab telfonnya.

"Kau melamun, Oh Sehun!" ucap Jongin. "Apa kau memikirkan sesuatu? Apa kau ada masalah?" tanya nya kemudian.

Sehun menggeleng pelan. Sangat pelan. "Entahlah," jawabnya. "Hanya saja, aku tidak tahu mengapa, tapi perasaanku tidak enak. Seperti mencemaskan sesuatu. Aku merasa seperti ada yang terlupakan, tapi aku tidak tahu apa," lanjutnya. Jongin terdiam tidak menanggapi.

'Kau memikirkan 'dia', Sehunnie? Jika aku mengungkit tentang 'dia' sekarang, apa kau akan meninggalkanku?'

"Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja." Sehun kembali mencoba mengabaikan perasaan cemasnya. "Siapa yang menelfon?" tanya nya mengalihkan pembicaraan.

"Eoh? Ah, itu Minseok Hyung dan ke-overprotective-annya. Dia bertanya dimana aku sekarang. Dia juga menitipkan salamnya untukmu," jawab Jongin membuat Sehun tersenyum. Minseok memang sangat menyayangi Jongin.

"Dia hanya terlalu menyayangimu," ujar Sehun. "Bukankah semua Hyung seperti itu?" Jongin hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Sehun.

"Tapi dia terlalu overprotektif. Anyways, aku harus pulang sekarang. Sudah setengah 8 malam, dan Minseok Hyung sudah menyuruhku untuk segera pulang." Jongin menghabiskan coklat hangat yang saat ini sudah berubah menjadi es coklat.

Ucapan Jongin membuat kening Sehun berkerut. Setengah 8 malam? "WOW! Waktu berlalu dengan cepat, huh!" ucap Sehun yang diangguki oleh Jongin. "Di luar masih hujan, kau yakin akan pulang di tengah hujan seperti ini?" tanya nya.

"Eum. Sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat." Jongin memandang ke luar kafe sebentar kemudian kembali menatap Sehun. "Lagipula, aku bisa menggunakan taksi."

Sehun mengangguk setuju. "Kau benar. Naik taksi lebih aman. Sepertinya hujan memang tidak akan berhenti dalam waktu dekat." Mereka pun berjalan keluar dari kafe.

"Tunggu di sini sebentar. Aku akan ke toko sebelah untuk membeli sesuatu," ucap Sehun saat mereka sudah berada di depan kafe. Beberapa menit kemudian, Sehun kembali dengan sebuah payung di tangannya.

"Kau hanya membeli satu?" tanya Jongin menatap payung yang dibawa Sehun. "Eum, untukmu," jawabnya kemudian memberikan payung tersebut pada Jongin.

"Lalu kau sendiri? Bagaimana kau pulang?"

"Well, apartemenku hanya berjarak beberapa gedung saja dari sini. Aku bisa berlari, atau aku bisa kembali ke toko tadi dan membeli satu lagi." Sehun terkekeh dan menggaruk tengkuknya.

Jongin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia membuka payungnya kemudian menarik Sehun untuk berdiri bersamanya dalam satu payung. "Bagaimana kalau begini saja? Kau mengantarku sampai aku masuk ke dalam taksi, kemudian kau bisa membawa payung ini saat kau pulang nanti. Jadi, tidak perlu berlari apalagi membeli yang baru. Buang-buang uang saja," ujar Jongin.

Sehun hanya mengangguk pelan dan mengikuti apa yang Jongin katakan. Dia bahkan tidak menolak saat Jongin menggenggam tangannya dan memintanya untuk membawakan payungnya. Mereka berjalan menembus hujan di bawah satu payung dengan posisi yang sangat dekat. Bahu saling menempel, jemari tangan yang bertautan.

"Terima kasih untuk hari ini, Sehun-ah." Jongin mencium pipi Sehun sekilas sebelum masuk ke dalam taksi dan membuka jendelanya. "Aku harap kita masih bisa bertemu lagi," ucap Jongin sebelum taksi yang ditumpanginya membawanya jauh dari Sehun yang masih terpaku di tempatnya.

~O.O~

Kyungsoo baru saja pulang dari kafe tempatnya bekerja saat dia melihat seseorang yang sepertinya mirip dengan Sehun sedang berjalan bersama seorang namja tampan di bawah satu payung di seberang sana. Dia berada di dalam mobil Suho dan sedang menunggu lampu hijau. Seseorang yang mirip dengan Sehun itu terlihat menghentikan sebuah taksi untuk namja di sampingnya. Mata bulatnya terus memperhatikan gerak-gerik kedua namja di seberang jalan tersebut.

"Chagiya, kau melihat apa?" tanya Suho saat menyadari kalau Kyungsoo tidak mendengarkan celotehannya sejak mobil mereka berhenti. Dia kemudian mengikuti arah tatapan Kyungsoo.

"Bukankah itu Sehun?" tanya nya membuat Kyungsoo menoleh padanya. "Kau juga merasa kalau itu Sehun, Hyung?" Kyungsoo balik bertanya. "Tentu saja. Memangnya siapa lagi kalau bukan Sehun?" Oke! Kalau Suho juga berkata seperti itu, berarti itu memang Sehun.

Kyungsoo kembali melihat Sehun. Matanya membelalak sempurna saat dia melihat namja itu mencium pipi Sehun dan berlalu bersama taksi yang ditumpanginya. Siapa namja itu? Mengapa dia mencium pipi Sehun?

"Mungkin itu hanya temannya. Atau saudaranya. Atau sahabatnya," ucap Suho seolah mengerti tatapan penuh tanya yang tersirat di wajah manis kekasihnya itu. Mobil mereka sudah kembali berjalan. "Itu kan hanya ciuman di pipi. Bukankah kau, Baekhyun, dan Luhan Hyung juga sering melakukannya? Ciuman persahabatan?" ucapnya lagi. Dia menggenggam tangan Kyungsoo dengan tangannya yang menganggur, mencoba meyakinkan namja manis itu.

"Semoga saja begitu," lirihnya. "Hyung!" Kyungsoo menatap Suho. "Bisakah kau menyetir lebih cepat? Aku ingin melihat Luhan Hyung," pintanya. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Apalagi sekarang hujan lebat. Kilat dan petir juga bersahut-sahutan. Kyungsoo tahu pasti kalau Luhan akan sangat ketakutan jika cuaca seperti ini muncul. Bukannya seperti anak kecil, tapi Luhan punya trauma tersendiri dengan cuaca seperti ini. Lebih tepatnya, Luhan fobia pada petir dan suara gemuruhnya.

Kyungsoo mengetahui ini setelah beberapa bulan Luhan tinggal bersamanya dan Baekhyun. Saat itu hujan deras, dan samar-samar dia mendengar suara isakan dari kamar Luhan. Setelah berunding dengan Baekhyun secara kilat, mereka memutuskan untuk mengetuk kamar Luhan dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Namun mereka tidak mendapatkan jawaban apapun. Hanya suara isakan yang semakin terdengar jelas seiring dengan satu suara gemuruh yang cukup menggelegar.

Akhirnya dia dan Baekhyun memutuskan untuk langsung masuk ke kamar Luhan. Di sana, mereka melihat Luhan duduk di atas kasur dengan menekuk lututnya dan menutup mata dan telinganya dengan erat. Hidungnya merah dan pipinya basah karena air mata. Kyungsoo baru pertama kali melihat seseorang yang sebegitu takut pada petir.

Malam itu akhirnya dia dan Baekhyun tidur di kamar Luhan. Dan besoknya, Luhan menceritakan tentang fobianya pada mereka. Semenjak itulah, mereka bertiga menjadi sangat dekat dan tak terpisahkan.

Suho tidak menjawab permintaan Kyungsoo tadi. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan mempercepat laju mobilnya. Kyungsoo kemudian meraih ponselnya dan menghubungi nomor Luhan. Dua kali mencoba, tidak ada yang mengangkatnya. Kyungsoo langsung mendesah lega saat panggilannya diterima pada percobaannya yang ke-tiga. Namun rasa lega itu segera berganti saat yang didengarnya bukan suara lembut Luhan, melainkan suara cempreng Baekhyun.

"Wae?" terdengar suara di seberang sana.

"Hyung! Apa Luhan Hyung di rumah?" tanya Kyungsoo segera.

"Aniyo, dia kelu—"

"Mwo! Dia tidak di rumah?"

"Memangnya ada apa? Jangan membuatku takut, Do Kyungsoo!" Suara Baekhyun terdengar khawatir.

"Aniyo, aku sudah di depan rumah. Akan kuceritakan nanti," Pip. Dan Kyungsoo pun memutuskan sambungan teleponnya.

Baekhyun menatap layar ponsel Luhan bingung. Dia sedang menikmati kopi hangat sambil menonton drama favoritnya saat mendengar ponsel Luhan berdering. Baekhyun pun mencari asal suara dan akhirnya menemukan ponsel Luhan di saku jaketnya.

Kenapa Kyungsoo menanyakan Luhan? Kenapa suaranya terdengar khawatir? Tanpa diragukan lagi, perasaan cemas itu mulai ikut menghantuinya. Ada apa sebenarnya? Apa terjadi sesuatu pada Luhan?

Saat mendengar pintu depan ditutup dengan sedikit keras, Baekhyun segera keluar dari kamar Luhan dan langsung berhadapan dengan wajah khawatir Kyungsoo.

"Kyungsoo-ya ad—"

"Luhan Hyung pergi kemana, Hyung?" Kyungsoo langsung memotong peranyaan Baekhyun. "Aku juga tidak tahu. Yang jelas dia pergi keluar sejak sore tadi. Sepertinya ada kencan dengan Sehun. Hyung terlihat buru-buru saat berangkat. Bahkan dia lupa tidak membawa jaket dan ponselnya. Padahal dia sudah menyiapkannya sebelum mandi," jawab Baekhyun panjang lebar.

"Sehun? Kau yakin kalau Luhan Hyung pergi dengan Sehun?" tanya Kyungsoo lagi.

"Tentu saja. Memang siapa lagi yang bisa membuat Lulu Hyung lupa segalanya selain makhluk albino itu?" Baekhyun mencoba untuk melelehkan sedikit saja aura tegang yang tercipta di sana. Namun sepertinya tidak berhasil. Wajah Kyungsoo justru semakin berkerut. "Mengapa kau bertanya seperti itu, Kyungsoo-ya? Ada apa?"

Kyungsoo mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan memijit pelipisnya pelan. "Entahlah Hyung. Aku melihat Sehun tadi. Well, tidak jelas sebenarnya. Tapi wajahnya mirip dengan Sehun. Bahkan Suho Hyung yakin kalau itu memang Sehun. Dia bersama seseorang. Tapi," Kyungsoo menatap Baekhyun.

"Tapi?" tanya Baekhyun tak sabar. Sepertinya dia tidak akan menyukai arah pembicaraan ini.

"Tapi orang yang bersama Sehun saat itu jelas bukan Luhan Hyung. Karena terakhir kali aku memastikannya, Luhan Hyung beberapa centi lebih pendek dari Sehun, dan Sehun tidak mungkin membiarkan Luhan Hyung pulang naik taksi. Kalaupun Sehun membiarkan Luhan Hyung pulang naik taksi, dia pasti tidak akan membiarkannya sendirian," jelasnya.

Baekhyun terdiam mencoba mencerna penjelasan dari Kyungsoo. Sedikit tak percaya dengan kemungkinan yang terjadi saat itu. Luhan Hyung pasti dengan Sehun sekarang kan? Luhan Hyung pasti baik-baik saja kan? Mengingat seberapa takutnya Luhan pada petir, Sehun pasti menjaganya kan? Sehun harus menjaganya atau Baekhyun tidak akan memaafkannya.

"Aku juga sudah bertanya pada Kris Hyung. Tapi dia bilang Luhan Hyung tidak bersamanya." Kyungsoo berkata lagi.

"Hyung? Eottokhae? Apa kita hubungi Sehun saja? Cuaca di luar cukup buruk, Hyung. Aku takut terjadi sesuatu pada Luhan Hyung," tanya Kyungsoo. Baekhyun menganggukkan kepalanya berkali-kali dan meraih ponselnya untuk menghubungi Sehun. Namun tidak ada jawaban. Sepertinya ponsel Sehun mati.

'SHIT' Baekhyun mengumpat pelan. Kemana Sehun? Mengapa dia tidak mengangkat telfonnya? Baekhyun kemudian mengirim beberapa pesan untuk Sehun sebelum kembali mencoba untuk menelfonnya.

Masih tidak aktif.

Tiba-tiba Baekhyun merasakan mual di perutnya karena terlalu khawatir. Dia berjalan mondar-mandir di depan Kyungsoo sambil terus mencoba menghubungi Sehun. Air matanya sudah menggenang di kelopak matanya. Dia hampir saja membanting ponselnya karena frustasi saat Sehun tidak kunjung menjawab panggilannya. Namun suara Sehun di seberang sana mengurungkan niatnya.

"OH SEHUN!"

~O.O~

Sehun melangkah pelan menyusuri trotoar menuju apartemennya. Tangan kanannya memegang payung yang dibelinya untuk Jongin erat, sedangkan tangan kirinya memegang pipinya yang sempat dicium Jongin tadi. Bohong kalau dia berkata dia tidak menyukainya. Tentu saja dia menyukainya. Namun hanya suka. Dia tidak merasakan apapun selain itu. Tidak seperti saat Luhan yang menciumnya.

JDEEEER!

Suara itu menarik perhatian Sehun. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Perasaan itu, rasa cemas dan khawatir yang sempat menghampirinya di kafe tadi, Sehun kembali merasakannya, dan dia tidak suka itu. Sehun mempercepat laju kakinya. Entah karena alasan apa, sesuatu dalam dirinya seolah memerintahkannya untuk segera sampai di apartemennya. Perasaannya mengatakan kalau dia akan menemukan jawaban dari kegelisahan yang tiba-tiba muncul itu di sana.

Sehun melepaskan jaketnya yang telah basah kuyup dan melemparnya ke mesin cuci di dekat dapur begitu tiba di rumah. Setelah itu dia langsung ke kamarnya, mengganti pakaiannya yang juga basah, mengambil handuk di lemari dan mengeringkan rambutnya. Manik matanya tertuju pada ponselnya yang mati di atas nakasnya.

Pasti Luhan sudah mengiriminya ribuan SMS. Sehun tersenyum dan segera menghidupkan ponselnya. Tiba-tiba dia merasa sangat merindukan Luhan. Haruskah dia memberitahu Luhan kalau Jongin datang menemuinya? Luhan pasti lebih suka kalau dia berkata jujur. Lagipula, itu hanya sebuah kunjungan kan? Tapi, bagaimana kalau Luhan marah? Aniya. Walau bagaimanapun, dia harus menceritakan semuanya pada Luhan sebelum kesalahpahaman terjadi.

Sehun mengerutkan keningnya melihat pemberitahuan di layar ponselnya saat ponselnya menyala. 32 pesan masuk? Mengapa Kris mengiriminya SMS? Dan Baekhyun?

Sehun sengaja tidak membuka SMS dari Kris dan Baekhyun. Dia mencari pesan dari Luhan. Alisnya terangkat saat dia tidak menemukan satupun pesan dari Luhan. Well, ini aneh, pikirnya. Hhhmm, mungkin ada hubungannya dengan pesan-pesan dari Baekhyun.

~I lost my mind

Noreul Choummannasseultte

No hanappego modeungaseun

Get in slow motion~

Belum sempat Sehun membuka pesan dari Baekhyun, ternyata Baekhyun sudah memanggilnya duluan.

"Yeob—"

"OH SEHUN!" pekik Baekhyun dari seberang sana. "KAU KEMANA SAJA? MENGAPA BARU MENGANGKAT PANGGILANKU SEKARANG?" Suara Baekhyun terdengar kesal, marah, dan khawatir?

"M-mian Hyung. Ponselku mati dan aku baru menghidupkannya," jawab Sehun gugup. Mendengar nada suara Baekhyun, entah mengapa dia jadi semakin cemas. Apa terjadi sesuatu?

"Aiiisssh, lupakan! Kau dimana sekarang?" tanya Baekhyun.

"Aku di apartemen. Waeyo?"

"Apa Luhan Hyung bersamamu?" tanya Baekhyun lagi.

"Aniyo. Mengapa Luhan Hyung bisa bersamaku? Bukankah seharusnya dia di rumah sekarang?" Sehun balik bertanya, bingung. Sepertinya dia benar-benar lupa pada acara kencannya dengan Luhan hari ini.

"Molla! Hyung tidak ada di sini. Dia juga tidak bersama Kris Hyung. Dan dia meninggalkan ponselnya di rumah. K-karena itu aku kira, aku kira, hiks." Baekhyun mulai terisak. "Dia pergi tadi sore. Katanya dia terlambat. Dia sangat buru-buru bahkan Baekhyun Hyung belum sempat bertanya dia akan kemana. Sehun-ah, apa kau benar-benar tidak tahu dia dimana?" Kali ini suara Kyungsoo. Sepertinya Kyungsoo mengambil alih pembicaraan karena Baekhyun mulai menangis hebat.

Apa? Luhan keluar mulai tadi sore? Apa mungkin?

"Sehun-ah?" Kyungsoo memanggilnya saat Sehun diam saja. Sehun tidak menjawab panggilan Kyungsoo dan segera berjalan menuju meja belajarnya. Dia menatap HOROR pada kalender meja yang berdiri manis di atasnya.

23 Maret: Taman Kota jam 5 sore

BRUKK

Seketika itu Sehun jatuh terduduk di lantai kamarnya. "Sehun-ah? Suara apa itu? Kau tidak apa-apa?" tanya Kyungsoo khawatir.

"H-Hyung!" panggil Sehun. "A-aku akan rasa aku tahu dimana Luhan. A-aku akan mencarinya. Kalian tunggulah di rumah." Pip.

Sehun segera menyambar jaketnya, memasukkan ponsel ke saku celananya dan bergegas keluar dari apartemennya.

"SHIT!" Sehun mengumpat kasar. Bagaimana mungkin dia bisa lupa acara kencan mereka? Oh ya Sehun! Jangan lupakan keterkejutanmu saat melihat Jongin tadi. Sehun terus merutuki dirinya sambil terus berlari keluar dari gedung apartemennya menuju taman kota. Ya. Luhan pasti ada di sana. Dia pasti sedang menunggunya di sana. Sendirian. Di tengah cuaca yang seperti ini. Jika memang benar keluar dari rumahnya pukul 5 sore tadi, bererti Luhan telah menunggunya selama berjam-jam.

Sehun tidak memperdulikan rintik hujan yang terus membasahi tubuhnya saat dia menunggu taksi. Terlalu sibuk untuk merutuki dirinya dan kekhawatirannya. Luhan pasti sangat ketakutan sekarang. Dia ingat sekali kalau BaekSoo pernah berkata padanya kalau Luhan takut pada petir. Dan mungkin saja dia sedang menangis dan menyebut namanya sekarang. Bukan 'mungkin', tapi 'pasti'. Ya. Luhan pasti sedang menangis sekarang. Karena itukah sejak tadi da merasa cemas?

'GREAT OH SEHUN! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN! KENAPA KAU BISA SEBODOH INI!' pekiknya dalam hati. Lagi-lagi dia membuat Luhan menangis.

"Ahjussie! Tolong antarkan ke taman kota," ucapnya cepat pada supir taksi. Jarak taman kota dan apartemennya seharusnya hanya 10 menit dengan taksi. Tapi entah mengapa kali ini rasanya lama sekali.

"Xiao Lu! Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku minta maaf, Lu. Please be there. Please be oke. Please be save," lirih Sehun. Tidak menyadari setetes air mata yang berhasil lolos dari kelopak matanya. Bisakah dia menjadi lebih bodoh dari ini?

~O.O~

Luhan tersenyum lega saat dia belum melihat penampakan Sehun saat tiba di taman. Berarti dia tidak terlambat. Dia pun melangkah ringan menuju bangku yang tersedia di sana dan duduk di salah satu bangku untuk menunggu. Sehun pasti akan segera datang, pikirnya.

Senyumnya semakin merekah saat melihat stan es krim di seberang jalan. Karena Sehun terlambat, dia berfikir untuk menghukum Sehun dengan memintanya membelikan es krim untuknya nanti. Luhan tertawa sendiri karena ide bagusnya itu.

Setelah beberapa menit, Luhan melihat jam tangannya. Pukul 05.35 pm dan Sehun belum datang. Tumben? Biasanya Sehun tidak pernah terlambat. Apa tugasnya belum selesai? Tapi mengapa dia tidak mengirim pesan?

Luhan menepuk jidatnya pelan saat menyadari kalau ponselnya tertinggal bersama dengan jaketnya. Jaket yang seharusnya dipakai sekarang. Luhan sengaja meletakkan ponselnya di saku jaket yang sudah di siapkannya sejak sebelum dia melangkah ke kamar mandi agar dia tidak lupa untuk membawanya. Namun justru dia meninggalkan semuanya. Salahkan dia yang terlalu asik dengan game di PC nya sampai dia hampir melewatkan acara kencannya. GREAT! Sekarang bagaimana dia akan menghubungi Sehun?

Luhan tersadar dari lamunannya saat merasakan kalau lengan kemejanya ditarik-tarik oleh seseorang. Luhan menatap si pelaku. Seorang gadis kecil dengan mata memerah, sepertinya habis menangis.

"Hei, adik kecil. Mengapa menangis?" Luhan berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anak tersebut dan mengusap kepalanya.

Gadis kecil itu tidak menjawab. Air matanya semakin deras mengalir. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Luhan meraih gadis tersebut dalam pelukan hangatnya sambil terus mengusap-usap punggung mungilnya.

"Shhh, gwaenchanna. Oppa ada di sini. Uljima, ne!" ucapnya sambil menghapus air mata yang membasahi pipi gadis manis itu. "Sekarang, katakan pada Oppa. Mengapa gadis cantik sepertimu menangis?" tanya nya.

"Oppa! Minnie terpisah dari Eomma. Tadi Minnie melihat seekor anak anjing yang sangat lucu saat Eomma sedang membelikan es krim untuk Minnie. Minnie ingin bermain dengan anak anjing lucu itu. Tapi dia malah berlari. Minni langsung mengejarnya. Tau-tau Minnie sudah ada di sini, hiks hiks. Minnie takut, Oppa." Gadis kecil itu kembali menangis. "Oppa. Bantu Minnie menemukan Eomma, ne?" pintanya.

Luhan menggaruk kepalanya bingung. Apa yang harus dilakukannya?

"Hmmm, bagaimana kalau begini saja. Pasti sekarang Eomma juga sedang mencari Minnie. Dari pada kita saling mencari, yang mungkin bisa menyebabkan saling menyalip, lebih baik Minnie di sini saja. Oppa akan menemani Minnie menunggu Eomma datang, ne?" tawar Luhan.

Minnie mengangguk senang dan duduk di samping Luhan. "Oppa juga sedang menunggu seseorang?" tanyanya imut. "Ne!" Luhan mengangguk. Dia sedikit senang karena ada teman menunggu. Yaaah, walaupun hanya seorang gadis kecil.

Minnie terus berceloteh ria menceritakan segala hal pada Luhan, dan Luhan mendengarnya dengan wajahnya yang dibuat seantusias mungkin agar Minnie senang. Sesekali dia akan tertawa saat Minnie menceritakan hal lucu -menurutnya. Dia jadi ingat hari pertama dia bertemu dengan Baekhyun. Saat itu Baekhyun juga berceloteh panjang lebar padanya, apalagi saat dia tahu kalau Luhan dari China.

"Minnie-yaaaa!" keduanya menoleh saat seorang wanita paruh baya memanggil nama Minnie dan berlari ke arah mereka.

"Eomma!" Minnie ikut berlari menuju Eommanya dan langsung berhambur ke dalam pelukan sayang sang Eomma. "Aigoooo! Eomma mencarimu kemana-mana. Jangan pernah pergi seperti itu lagi, ne!" ucap wanita itu.

"Mianhae Eomma." Minnie mem-pout-kan wajahnya imut. Sesaat kemudian dia teringat pada Luhan. "Ah, Eomma! Oppa cantik itu menemaniku menunggu Eomma tadi," ucap Minnie sambil menunjuk ke arah Luhan.

Luhan langsung membungkukkan badannya sopan saat ibunya Minnie melihatnya. "Terimakasih sudah menemani Minnie," ucapnya pada Luhan.

Luhan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aniya, hanya kebetulan saya juga sedang menunggu seseorang." Luhan kemudian mengalihkan pandangannya pada Minnie. "Nah, sekarang 'Princess' sudah bertemu Eomma. Jadi, tidak boleh menangis lagi, ne! Lain kali jangan membuat Eomma khawatir lagi. Arrachi!" ucapnya.

"Ne! Oppa gomawo!" jawab Minnie kemudian mencium pipi Luhan, membuat Luhan tertawa kecil. "Annyeong 'Yeppeo' Oppa!" Minnie melambaikan tangannya pada Luhan saat akan pergi dengan Eommanya.

Hhhhhh. Luhan mendesah pelan. Sekarang dia kembali sendirian di sini. Langit mulai terlihat mendung. Luhan melirik jam tangannya. Pukul 06.15 pm. Mengapa Sehun belum datang? Apa dia lupa? Aniya! Sehun tidak mungkin lupa. Mungkin dia masih sibuk. Atau mungkin dia sedang berjalan menuju ke sini.

'Apa aku menyusulnya ke apartemen saja ya?' pikirnya.

Tes. Tes. Tes.

Perlahan, satu persatu rintik hujan mulai turun dan membasahi bumi. Hujan pertama di musim semi. Luhan menoleh ke sana kemari mencari tempat untuk berteduh agar tidak basah. Dia melihat sebuah telepon umum yang tersedia di sisi taman kota dan berlari ke sana. Sekalian saja menghubungi Sehun, pikirnya.

Luhan segera meraih gagang telepon dan menekan deretan digit demi digit yang sudah dihafalnya secara otomatis di kepalanya. Untung dia tidak lupa membawa dompetnya. Satu kali, dua kali, tiga kali, tidak ada jawaban.

'Aiiissssh, dimana Sehun? Mengepa ponselnya tidak aktif?'

Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya Luhan menyerah. Seperinya memang ponsel Sehun yang mati. Luhan menyandarkan punggungnya pada bilik telepon umum dan memeluk tubuhnya sendiri. Dingin. Dia merutuki dirinya yang hanya mengenakan kemeja setipis ini. Belum lagi kemejanya sedikit basah terkena hujan saat dia berlari dari taman kota ke sini tadi.

JDEEERRR!

Refleks Luhan langsung berjongkok sambil menutup telinga dan matanya. Dia menutup matanya rapat-rapat agar tidak melihat kilatan putih yang diiringi suara gemuruh itu. Luhan paling benci cuaca seperti ini. Dia suka hujan. Tapi dia benci hujan yang diiringi kilat dan petir. Jantungnya berdetak cepat saat suara petir itu saling bersahutan. Namun getaran yang terasa pada dinding bilik tidak membantu mengurangi rasa takutnya. Bukan takut biasa. Tapi Luhan memang memiliki fobia pada cahaya dan suara petir. Astraphobia. Apalagi dia sendirian saat ini.

'Sehun-ah.' Nama itu terdengar lirih dari bibir mungilnya.

Tubuh Luhan mulai bergetar hebat saking takutnya karena kilat dan petir itu tidak kunjung berhenti. Keringat dingin pun mulai ikut membasahi kemejanya yang memang sudah basah. Walaupun dia menutup indera pendengarannya dengan kuat, suara itu masih jelas terdengar. Dia juga bisa merasakan getaran pada dinding bilik setiap kali gemuruh itu menggelegar.

"Sehun-ah, eodiesso? Aku takut. Hiks." Satu isakan berhasil lolos dari bibir manisnya. Biasanya dia akan merangkak menuju kamar Baekhyun dan Kyungsoo kemudian memaksa mereka untuk tidur bersamanya. Berada di tengah-tengah BaekSoo membuatnya merasa aman.

Luhan ingin pergi dari sana. Dia ingin pulang. Atau paling tidak dia ingin berada di tempat yang tertutup. Bukan di bilik telepon umum yang transparan seperti ini. Paling tidak, jika di dalam ruangan tertutup, dia tidak melihat kilat petirnya. Dia hanya harus mendengar suara gemuruhnya saja. Tangisan Luhan semakin keras seiring dengan hujan yang semakin deras pula. Saat ini dia sudah terisak hebat.

Luhan tidak tahu sudah berapa lama dia berlindung di dalam bilik tersebut. Dia memberanikan diri untuk membuka matanya sedikit demi melihat keadaan sekitar. Saat ini, langit sudah benar-benar gelap. Mega merah yang masih dilihatnya tadi sudah tenggelam sempurna. mengapa Sehun masih belum datang? Berapa lama lagi dia harus berada di sini?

"Sehun-ah. Hiks hiks. Kau dimana? Aku benar-benar takut. Hiks hiks. Baekkie-ya. Hiks. Kyungie-ya. Kenapa petirnya tidak berhenti? Hyung takut. Hiks hiks." Luhan terus menangis terisak. Dia terduduk dan melipat lututnya. Tidak perduli kalau celananya akan kotor nantinya. Luhan menyembunyikan wajahnya di celah antara lutut dan dadanya. Kedua matanya kembali ditutup rapat dengan air mata yang terus mengalir. Kedua tangannya masih menutupi telinganya agar tidak mendengar suara petir yang terus bergemuruh. Walaupun pada kenyataannya, hal itu sia-sia. Karena Luhan masih bisa mendengarnya dengan jelas. Sangat jelas.

Luhan menggerakkan tubuhnya ke depan dan belakang sambil terus mengucapkan nama Sehun bagaikan mantra. Seolah-olah dengan begitu, Sehun akan secara ajaib muncul di depannya dan memeluknya erat seperti biasa. Menenangkannya dan berkata kalau semua akan baik-baik saja. Kalau Luhan tidak perlu takut karena Sehun ada bersamanya. Kalau dia akan aman bersama Sehun. Karena Sehun akan melindunginya.

Perlahan, Luhan bisa merasakan kalau rasa panik mulai menyerangnya, menyebabkannya sulit untuk bernafas. Dia tidak pernah sampai mendapatkan serangan panik karena fobianya. Hanya sekali, itupun tidak separah ini. Saat itu hujan deras. Suasananya persis seperti apa yang terjadi sekarang. Bedanya, waktu itu Luhan menangis di balik selimut tebalnya di dalam kamar. Baekhyun dan Kyungsoo sedang keluar untuk membeli keperluan bulanan seperti biasa. Luhan benar-benar takut saat itu. Namun tiba-tiba sesorang menyibakkan selimutnya dan dua pasang tangan memeluknya erat dari sisi kiri dan kanannya. Dan nafas Luhan pun seolah kembali ke dalam paru-parunya seketika. Saat Luhan menyadari kehadiran BaekSoo yang memeluknya, keduanya basah kuyup, membuat Luhan ikut basah. Sepertinya mereka segera berlari pulang saat melihat cuaca yang semakin tidak bersahabat itu. Luhan sangat berterima kasih pada BaekSoo karena sangat mengkhawatirkannya saat itu.

Namun kali ini Luhan benar-benar sendiri. Kali ini, tidak adakah yang datang untuk menolongnya? Tidak adakah yang akan datang untuk menenangkannya? Apakah tidak ada yang mengkhawatirkannya? As stupid as it sounds, Luhan bahkan berfikir, mungkinkah ini akhir dari hidupnya? Apakah dia akan mati karena fobianya?

Tubuh Luhan semakin bergetar. Bukan hanya karena takut. Dia juga menggigil kedinginan. Bagaimana tidak? Walaupun suara gemuruh tidak separah tadi, namun hujan masih turun dengan derasnya. Di tambah dengan angin dingin yang serasa menusuk hingga ke dalam tulangnya. Kemeja tipis yang dipakainya benar-benar tidak membantunya merasa hangat. Kenyataan bahwa kemeja tersebut basah justru memperburuk keadaan. Luhan mulai merasa pening. Kepalanya terasa berat dan nafasnya semakin sulit.

'Sehun-ah. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan sekarang? Kau dimana? Bukankah janji kita sudah sejak sore tadi?' batinnya.

"Sehun-ah. Hiks. Sehun-ah," ucapnya terus menerus di sela-sela nafasnya yang semakin berat.

Tepat saat Luhan hampir kehilangan kesadarannya, seseorang membuka bilik telepon umum tempatnya berteduh. Samar-samar, Luhan mendengar seseorang itu memanggil namanya dan berlutut di depannya. Memegang kedua pipi dinginnya dengan kedua tangan dinginnya. Suara namja itu sangat familiar. Luhan memaksakan dirinya mendongak untuk melihat namja yang memanggilnya. Wajah itu terlalu familiar baginya. Bahkan di tengah kesadarannya yang mulai menipis pun, dia masih bisa mengenali wajah itu. Refleks, Luhan tersenyum lemah dan memanggil nama namja tersebut dalam sisa-sisa kesadarannya. Dia memanggil, lebih tepatnya melirihkan nama namja itu sekali lagi dan mengucapka sesuatu sebelum kemudian semuanya menjadi gelap.

"Sehun-ah. Kau datang."

~O.O~

TeBeCe

A/N:

Huweeeeeeeee. Jangan timpuk Liyya pake panci, wajan, dan sebagainya karena membuat Luhan terkapar tak berdaya seperti itu :'( Mana tempatnya gak elit lagi. Payphone sodara sodaraaaa -_-

*Jongin: Noona, kenapa aku dibuat jadi antagonis gini?

*Me: Udahlah, terima aja peranmu, ne! #senyumInnocent #diteleportKkamjong

So, bagaimana chapter ini? Cinta HunHan sedang diuji. Apa masih kurang JLEB n kurang nyesek buat Xiao Lu? Weeiiittsss, Lulu bakal sakit neh kaya' nya. Gimana reaksi Baekhyun dan Kyungsoo saat Sehun membawa Luhan dengan keadaannya yang seperti itu? Kita liat di chapter depan ya ;)

Tidak henti-hentinya Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow

Balasan Review:

sari2min: Iya kaaak :) Sama dong, Liyya juga suka cinta segitiganya KaiLuHun sama KrisLayhan. Karena ada Luhannya aja sih sebenernya :)

Makasih udah ngereview^^

Park Jihyun24: Kasihan Lulu? Well, chap ini kyknya dia lebih kasihan lagi #mewek bareng Lulu

Makasih udah ngereview^^

destyrahmasari: Luhan udah terlanjur sakit tuh saeng :'( Gimana dong? Ne udah lanjut, semoga suka ya :)

Makasih udah ngereview^^

dian deer: Jangan gak semangat donk :'( Ini kan ujian buat mereka berdua, biar tambah cinta gitu #plakk* Kenapa gak suka moment KrisHan? Eon suka banget padahal :)

Makasih udah ngereview^^

RirinSekarini: Ada apa dengan Jongin? O.O Ini udah lanjut, moga gak kecewa ya ;)

Makasih udah ngereview^^

ajib4ff: #ikutanjitakCadel* Itu udah kejawabkan gimana nasibnya Luhan eooon :) Hmmmm, TaoRis? Aduuuh, saeng g bisa bikin TaoRis eoon :'( Gini aja deh, gimana kalo anggep aja TaoRis jadian nantinya #plakk# mianhae #bow

Makasih udah ngereview^^

ferinaref: Gimana gimana? Tissue nya berguna gak? Hehehehe

Makasih udah ngereview^^

Little Deer: Eon gak bakalan bosen sama kamu, saeng ;) Whoaaaa, Eon jadi author fav? Gomawo :D Luhan emang agak kebo gitu ya, dia emang g mau bangun sebelum diobrak-abrik BaekSoo :) Iya tuh. Thehun ketagihan sama bibir manisnya Luhan. Bikin iri tau gak sih -_- Jongin gak ada rencana buruk kok buat Hunhan, dia Cuma punya rencana baik buat dirinya sendiri aja #plakk #samaaja -_- HunKai nya gak banyak kok, Cuma setengah chapter doank ;) Tapi chap depan bakal ada lagi, tenang aja hehehehe #ketawanista :D Saeng HunHan Shipper? Sama donk :) Eon juga loooh

Makasih udah ngereview^^

Deer Panda: Wakkss . Ada judul lagu EXO muncul tuh #Heart Attack# Kita berdo'a aja deh semoga HunHan tetap jaya ya ;)

Makasih udah ngereview^^

Lee MingKyu: What? o.O Ketinggalan? Gpp saeng :) Luhan gak jadi pelampiasan kok. Thehun mah cintah sama Lulu. Cuma sedikit goyah aja. Udah tau kan gimana nasib Luhan? #poorLulu :'(

Makasih udah ngereview^^

Name HunHan: Gomawo udah dibilang Daebak yaaaa, jadi terharu :D Ini udah lanjut chingu :) Moga suka

Makasih udah ngereview^^

Eunsoo1: Liyya juga gak tega menyakiti Lulu Deer di sini :'( Hunhan berpisah gak ya? Kita liat aja nanti deh ;)

Makasih udah ngereview^^

vnyj: Annyeong juga saengie :)Lulu kan emang selalu kiyuuut dimana-mana ;)

Makasih udah ngereview^^

Shizuluhan: Sukurlah kalo Shizu suka sama moment KrisHannya :) Liyya juga suka loooh. Sehun kan emang udah dari kapan taon #lebay# kangen sama Jongin, chingu. Itu karena terlalu shock makanya dia lupa :'(

Makasih udah ngereview^^

rinie hun: Iya neh. Plus story nya juga lagi musim hujan #apahubungannya O.O Mudah-mudahan aja ya :D

Makasih udah ngereview^^

eunhuna: Novel 'Kata Hati'? itu novelnya sapa chingu? Aku g tahu :( Mian kalo jalan ceritanya agak mirip. Tapi Liyya beneran gak tahu novel itu. Liyya lebih suka baca komik soalnya daripada baca novel ;)

Makasih udah ngereview^^

fieeloving13: Luhan emang kasian ya. Baru aja seneng udah sedih lagi #ikutanmewek :'( Kenapa Jongin muncul? Karena Eonnie yang nyuruh donk #plakk

Makasih udah ngereview^^

HunHan Baby: Huweeee, Luhannya udah terlanjur nunggu super lama n sakit tuh. Gimana dong? :( Ini udah lanjut dek. Makasih udah nunggu ya :D

Makasih udah ngereview^^

: Sehunnie mah emang matanya masih merah kuning ijo, sewarna lah sama rambut nya -_- Jongin baru ngejar sekarang karena kemaren-kemaren masih belom dapet izin dari Liyya #plakk

Makasih udah ngereview^^

zukazuka: Liyya suka user name nya :) Jongin gak nyari masalah kok. Dia Cuma nyari kebahagiaan aja -_- Sehun terlalu shock, chingu. Makanya jadi melongo gitu ;)

Makasih udah ngereview^^

Queen DheVils49: Makasih ya udah dibilang bagus :D #bowbarengluhan# Ini udah lanjut looooh, moga gak mengecewakan ya ;)

Makasih udah ngereview^^

junmakyu: Muehehehe. Sebenernya liyya juga gak tega pake banget kok kalo Luhan tersakiti lagi :'(

Makasih udah ngereview^^

ChickenKID: Wuiiiih, orang sibuk nih ya kayaknya :D Eon juga ngerasa agak nyesek kok waktu bikin Jongin PoV nya :'( Kasiman dia. Tapi ya ntu dia, salahnya sendiri dulu ninggalin Sehun. Thehun terlalu kaget saeng, makanya dia secara gak nyadar membalas pelukan Jongin :( Udah tau kan gimana nasib Luhan?

Makasih udah ngereview^^

WinterHeaven: Gpp kok saeng :D Tuh Hunnie nyadar kalo dia ada janji sama Lulu. Sayangnya dia amat sangat terlambat nyadarnya :'( kasiman lulu #mewekbarengLulu# Tentu saja Eonnie Hunhan Shipper #winkwink#

Makasih udah ngereview^^

Kiela Yue: Rinaaaaaaaaaaaa! Sehun mah emang genit Riiin, dari dulu :D What? mau ratingnya nambah? Haduuuuh, Liyya belom sempet berguru ke bang Naga #plakk# Kkamjong udah mengambil langkah(?), tapi mari kita percaya pada kekuatan cintanya Hunhan ;)

Makasih udah ngereview^^

ThegorgeousLu: Kalo gak nekad bukan Jongin namanya :D Cinta Hunhan diuji neh, moga aja tetep langgeng mereka :) Kai Cuma liburan aja kok. Dia gak kuliah di SNU :D

Makasih udah ngereview^^

lena99: Saya juga g tau mana yang Uke mana yang Seme dalam hubungan HunKai ini -_-

Makasih udah ngereview^^

ssjllf: Kan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian :D Liyya umurnya sama kaya' Luhan, 23 taon :)

Makasih udah ngereview^^

Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi?

So, see U next chapter?

#Kiss N Hug readers satu-satu