By: 0312_luLuEXOticS

Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Others

Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo

Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort

Rate: T

Lenght: 14 of ?

Disclaimer: Semua cast milik orang tuanya masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja. Cerita murni dari hasil imajinajis(?) saya ^^).

Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje

A/N: Ada yang tahu film 'A Moment to Remember'? Oke, Liyya tau kalo itu filem jadul BeGeTe. Tapi Liyya suka banget sama itu film ^_^

.

HAPPY READING^^

.

Preview Chapter:

"Xiao Lu! Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku minta maaf, Lu. Please be there. Please be oke. Please be save," lirih Sehun. Tidak menyadari setetes air mata yang berhasil lolos dari kelopak matanya. Bisakah dia menjadi lebih bodoh dari ini?

~O.O~

Sehun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman kota begitu dia turun dari taksi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tentu saja, cuaca seperti ini, siapa yang mau bertahan di sini? Namun Sehun tidak putus asa. Dia yakin sekali kalau Luhan masih di sekitar sini. Perasaannya mengatakan begitu.

Tapi dimana tepatnya Luhan berada sekarang?

Apa di toko seberang jalan?

Aniyo. Sehun menggelengkan kepalanya. Dia mengenal Luhan dengan baik. Luhan pasti akan mencari tempat berteduh yang sekiranya Sehun bisa langsung melihatnya saat dia datang. Jadi tidak mungkin Luhan ada di dalam sana.

Lalu dimana?

Sehun menjambak rambutnya frustasi. Dia merasa benar-benar tidak berguna sekarang. Bukankah dia berjanji untuk membuat Luhan bahagia? Lalu apa yang dilakukannya sekarang? Bukankah dia mencintai Luhan? Lalu mengapa hatinya goyah ketika melihat Jongin kembali?

Ayo Sehun! Pikirkan! Bukankah kau bilang kau mengenal Luhan dengan baik? Ayo pikirkan! Kemana kira-kira Luhan berteduh?

Pandangan mata Sehun kemudian tertuju pada sebuah box telepon umum di sisi taman kota. Bukankah kata Baekhyun dan Kyungsoo, Luhan tidak membawa ponselnya? Apakah mungkin dia di sana?

Tanpa berfikir panjang lagi, Sehun langsung berlari menuju box telepon umum tersebut. Samar-samar, dia bisa melihat sesosok tubuh yang terlihat seperti sedang meringkuk di dalam sana. Sehun semakin mempercepat lajunya, tidak perduli kalau dirinya sudah basah kuyup sekarang.

Saat membuka pintu box telepon umum untuk memastikan, Sehun bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak seketika. Matanya memanas. Pemandangan di depannya membuat tenggorokannya tercekat. Seperti ada sesuatu yang tersangkut di sana dan membuatnya sulit untuk menelan ludahnya.

Di depannya, Luhan, Luhannya, orang yang dijanjikannya kebahagiaan, terduduk sambil melipat lututnya. Menyembunyikan wajahnya di celah antara lutut dan dadanya dengan tangannya yang menutupi kedua telinganya. Tubuhnya bergetar, menggigil, dan nafasnya tersenggal-senggal.

"Lu-Luhan!" Sehun segera berlutut di depan Luhan. Memegang kedua pipinya yang terasa sangat dingin saat itu. Wajah Luhan benar-benar pucat. Pipinya basah dengan air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya. Hatinya tertohok saat Luhan tersenyum padanya dan memanggil namanya.

"Sehun-ah. Kau datang." Dan senyum itu pun hilang bersamaan dengan hilangnya kesadaran Luhan.

"Lu! Bangun, Lu!" Sehun mengguncang-guncangkan tubuh Luhan. Namun Luhan benar-benar telah kehilangan kesadarannya. Sehun lalu menyandarkan tubuh Luhan pada dinding dan keluar untuk memanggil taksi, menggendong tubuh mungil Luhan dan membawanya ke dalam taksi. Menempatkannya di pangkuannya. Di pelukannya.

"Mianhae, Lu! Mianhae! Mianhae!" Sehun terus mengucapkan kalimat itu selama perjalanan menuju rumah Luhan. Dia tahu kalau mungkin saja dia akan dikubur hidup-hidup oleh Baekhyun dan Kyungsoo saat mereka melihat keadaan Luhan yang seperti ini. Tapi dia juga tidak bisa membawa Luhan ke Rumah Sakit. Luhan tidak suka berada di sana. BaekSoo bisa dipikirkan nanti, pikirnya. Luhan jauh lebih penting saat ini.

Sehun terus mendekap erat tubuh Luhan yang masih menggigil. Apa yang telah dilakukannya pada Luhan? Sehun semakin mempererat pelukannya dan terus mengulang-ulang kata maaf di telinga Luhan.

Begitu tiba di rumah Luhan, BaekSoo sudah menunggunya di teras rumah. Dari wajahnya, terlihat jelas kalau Baekhyun habis menangis. Bahkan dia masih menangis. Baekhyun langsung menghampirinya dan membantunya membaringkan Luhan di sofa ruang tamu. Sedangkan Kyungsoo berlalu ke kamar Luhan untuk mengambil pakaian kering untuk Luhan.

"Hyung! Hyung! Apa yang terjadi? Hyung, bangunlah!" Baekhyun terisak melihat keadaan Luhan yang seperti ini. Saat Kyungsoo kembali dari kamar Luhan, Baekhyun langsung mendorong Sehun agar menjauh dari sofa dan dengan dibantu oleh Kyungsoo, dia mulai membuka satu persatu pakaian basah yang dikenakan Luhan. Masih menangis. Dia tidak tahu apakah dia harus memarahi Sehun saat ini, atau mengurus Luhan terlebih dahulu. Dan dia memilih yang kedua.

Sehun hanya memperhatikan BaekSoo melakukan semua pekerjaan tersebut, tidak berani untuk membantu. Bahkan saat BaekSoo mengangkat tubuh Luhan untuk kemudian dibaringkan di kamarnya, tanpa meminta bantuannya, Sehun hanya mengikuti mereka dari belakang. BaekSoo juga tidak memperdulikannya. Mereka seperti lupa kalau Sehun ada di sana.

~O.O~

"Mind to tell apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Luhan Hyung bisa seperti itu?" tanya Kyungsoo dingin. Setelah mengompres Luhan dan yakin kalau Luhan sudah cukup hangat dalam balutan selimut tebalnya, BaekSoo langsung menarik Sehun ke ruang tamu untuk diinterogasi.

Sehun mendudukkan wajahnya dalam-dalam. Sama sekali tidak berani menatap BaekSoo yang duduk di depannya. "Luhan Hyung, dia menungguku di dalam bilik telepon umum di taman kota," ujarnya pelan.

"WHAT! Bagaimana bisa? Bukannya tadi kau bilang kau tidak tahu dimana Luhan Hyung? Lalu mengapa dia bisa menunggumu di sana?" Kali ini Baekhyun yang bersuara. Terlihat sekali dari nada bicaranya kalau dia sedang menahan kekesalannya saat itu.

"A-aku, aku lupa kalau ada janji dengan Luhan Hyung," jawab Sehun.

"KAU—" Baekhyun sudah akan maju untuk menampar, memukul, apapun untuk melampiaskan kekesalannya pada Sehun, tapi Kyungsoo memegang erat tangannya yang sudah terkepal di sisi tubuhnya. Seberapapun dia ingin menghajar Sehun saat ini, dia mengurungkannya. Karena dia tahu, Luhan tidak akan suka. Selain itu, mereka juga belum mendengar alasan Sehun.

"And why did you forget?" tanya Kyungsoo, masih dengan nada dinginnya. "A-aku tertidur setelah mengerjakan tugas-tugasku. Saat aku bangun, ponselku mati dan temaku datang. Dia bilang Jung Seonsaeng-nim memintaku menemuinya. Sepertinya ada yang salah dengan tugas yang aku serahkan sebelumnya." Sehun menggenggam erat kedua tangannya. Mencoba untuk menutupi rasa gugupnya. Dia benar-benar tidak pintar berbohong.

"Hah!" Baekhyun mendengus kasar dan menggelengkan kepalanya tak percaya. "YOU ARE IMPOSSIBLE, OH SEHUN!" Dia segera berjalan memasuki kamar Luhan dan meninggalkan HunSoo di sana. Lebih baik dia melihat keadaan Luhan sekarang. Dia benar-benar tidak tahu apa yang akan mungkin dilakukannya pada Sehun jika terus berada dalam satu ruangan yang sama dengannya.

"Aku tahu kalau itu bukan Jung Seonsaeng-nim, Sehun! Last time I checked, seorang dosen tidak akan mencium pipi mahasiswanya. At least, tidak kalau dosen itu sudah berkeluarga," jelas Kyungsoo.

Sehun langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan Kyungsoo. Kyungsoo melihatnya?

"Hyung, aku—"

"Hhhhh!" Kyungsoo mendesah pelan. "Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan, Oh Sehun. Itu masalahmu dengan Luhan Hyung. Aku juga tidak tahu mengapa kau harus berbohong pada kami. Mengapa kau jadi seperti ini?" ucapnya. "Tapi please! Bisakah kau untuk tidak menyakiti Luhan Hyung seperti ini? Bagaimana mungkin kau tega melihatnya seperti itu?"

Sehun terdiam dan kembali menundukkan kepalanya. Hell, dia memang pihak yang bersalah saat ini. Sangat bersalah. Dia merasa sangat malu pada Baekhyun dan Kyungsoo. Dan dia merasa sangat bersalah pada Luhan.

"Aku hanya minta satu hal. Apapun masalah itu, jangan sakiti Luhan Hyung. Kali ini, kami melepaskanmu Oh Sehun. Bukan karena kami tidak marah. Baekhyun Hyung dan aku sangat marah. Terlebih Baekhyun Hyung. Kau bisa melihatnya sendiri, kan? Tapi kami memberikan kesempatan untukmu membereskan semuanya. Jangan katakan apapun pada Luhan Hyung. Kami juga tidak akan mengatakannya. Masalahmu dengan namja itu, selesaikanlah tanpa harus melibatkan Luhan Hyung. Can you?" Sehun hanya terdiam dan mengangguk pelan. "I will," ucapnya. "Mianhae, Hyung."

"Bukan padaku, Sehun-ah. Bukan pada Baekhyun Hyung juga. Tapi Luhan Hyung. Kau harus minta maaf padanya." Kyungsoo pun menyusul Baekhyun ke kamar Luhan. Namun beberapa saat kemudian, dia kembali lagi dan menyodorkan sepasang piyama untuk Sehun.

"Pakailah. Bajumu basah. Aku tidak mau kau juga ikut sakit. Kau harus bertanggung jawab dan menjaga Luhan Hyung. Karena itu, kau tidak boleh sakit," ucapnya kemudian kembali beranjak ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Luhan.

"Gomawo, Hyung." Sehun mengambil piyama di tangan Kyungsoo dan berjalan ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Saat dia keluar dari kamar mandi, Baekhyun sudah menunggunya di depan pintu dan menarik kerahnya. Mungkin terlihat sedikit lucu, mengingat Baekhyun lebih pendek darinya. Dan jika di lain waktu, Sehun pasti akan tertawa. Tapi saat ini, dia tidak bisa tertawa. Tidak dengan aura membunuh yang keluar dari tatapan dari kedua mata Baekhyun yang merah karena terus menangis.

"Neo! Dengarkan baik-baik, Oh Sehun! Mungkin Kyungsoo masih bisa bersabar dan berbaik sangka padamu, tapi aku bukan Kyungsoo! Aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja saat ini! Aku tidak mau tahu apa hubunganmu dengan namja yang dilihat Kyungsoo. Yang jelas, itu tidak baik untuk Luhan Hyung. Hell, kau bahkan melupakannya! Apapun itu, aku mau kau selesaikan masalahmu dengan namja itu segera, Oh Sehun! Atau lepaskan HYUNGKU!" Sehun tertegun mendengar ucapan Baekhyun. Bukan karena dia takut. Tapi, melepaskan Luhan? Bisakah dia? Jawabannya TIDAK. Dia tidak akan pernah bisa melepaskan Luhan.

"Sehun-ah. Masuklah! Sepertinya tidur Luhan Hyung tidak nyenyak. Dia terus memanggil namamu dalam tidurnya. Mungkin dia membutuhkanmu sekarang." Kyungsoo tiba-tiba keluar dari kamar Luhan dan memanggil Sehun.

"Urusan kita belum selesai, Oh Sehun! Ingat kata-kataku dengan baik!" ancam Baekhyun. Semarah apapun dia. Sebesar apapun keinginannya untuk menghajar Sehun saat itu juga. Tapi Baekhyun sadar. Dia harus menahan emosinya. Yang terpenting sekarang adalah Luhan dan apa yang diibutuhkan dan diinginkan Luhan. Jika memang Luhan membutuhkan Sehun. Jika memang dia menginginkan Sehun. Maka Baekhyun tidak akan menghalanginya. Tidak kali ini. Setidaknya, dia akan memberikan Sehun kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dulu.

~O.O~

Sehun membuka pintu kamar Luhan perlahan dan duduk di lantai menghadap Luhan. Kyungsoo benar, tidur Luhan tidak tenang seperti biasanya. Keningnya sedikit berkerut. Pipinya sedikit merah. Bukan karena rona yang biasanya muncul saat dia tersipu, namun karena suhu tubuhnya yang panas. Bibir cherry pink yang selalu menyunggingkan senyum itu, kini terlihat sangat kering dan sedikit membiru karena kedinginan sebelumnya. Wajah manisnya juga terlihat sangat pucat.

"Se-hun-ah. Se-hun-ah," lirih Luhan. Sangat lirih.

Tes. Tes. Tes

Air mata Sehun jatuh begitu saja melihat keadaan Luhan yang seperti ini. Ya Tuhan! Apa yang telah dilakukannya? Bagaimana bisa dia membuat 'malaikat' yang selalu memberikannya kebahagian dan kekuatan jadi seperti ini? Pantaskah dia menyebut dirinya sebagai kekasih Luhan? Sehun merasa gagal.

"Hyung! Luhan Hyung! Mianhae. Jeongmal mianhae Hyung!" ucapnya di sela-sela air matanya yang terus mengalir. Dia terus minta maaf pada Luhan walaupun Luhan jelas-jelas tidak bisa mendengar maafnya. Sehun tidak pernah memanggil Luhan dengan sebutan 'Hyung' selama mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Namun saat ini, Sehun bahkan merasa sangat tidak pantas untuk disebut sebagai kekasih Luhan. Seorang kekasih tidak akan memperlakukan kekasihnya seperti ini kan? Lalu, bagaimana bisa dia memperlakukan Luhan seperti ini? Bagaimana mungkin dia masih berani menyebut dirinya sebagai kekasih Luhan setelah apa yang terjadi?

"Se-hun-ah. Se-hun-ah," lirih Luhan lagi.

Sehun segera membawa tangan Luhan ke dalam genggamannya. Menggenggamnya erat dan mencium kening panas Luhan. Berharap dengan begitu, Luhan bisa sedikit tenang dan berhenti mengigau. Mencoba menyampaikan pada Luhan kalau dia di sini, di sampingnya. Kalau dia menyesal. Sangat menyesal.

"Sshhhh, aku di sini, Hyung. Aku di sini. Maaf karena aku membuatmu sakit," ucap Sehun menghapus air matanya kemudian mengusap lembur surai Luhan dengan tangannya yang bebas.

Dan dia berhasil. Luhan, seolah bisa merasakan kehadiran Sehun, berhenti mengigau dan memanggil nama Sehun. Seolah mengerti pesan yang disampaikan oleh Sehun melalui genggaman tangannya dan ciuman di keningnya, berhenti mengerutkan keningnya. Dan karena semua perlakuan Sehun padanya, perlahan Luhan mulai tenang dan tidak gelisah lagi dalam tidurnya. Sehun bahkan bisa merasakan kalau Luhan membalas genggaman tangannya tak kalah erat. Seolah takut kalau Sehun akan meninggalkannya. Dan itu membuat hatinya semakin sakit.

Sehun melepas genggaman tangannya pada Luhan untuk mengganti kompresnya, membuat Luhan kembali mengerutkan keningnya dan mulai gelisah. Sehun ingin sekali membawa Luhan kedalam pelukannya. Namun dia harus memastikan satu hal dulu. Setelah mengganti kompresnya, Sehun berjalan keluar kamar. Kyungsoo dan Baekhyun terdiam di ruang tamu.

"H-Hyung!" panggilnya. "Wae?" jawab Kyungsoo. Baekhyun hanya terdiam, sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Sehun.

"Aku, aku... Bolehkah aku tidur dengan Luhan Hyung?" tanyanya.

Oke! Pertanyaan itu berhasil membuat Baekhyun menatapnya dengan tatapan 'apa kau gila?' dan berdiri dari duduknya. Dia baru akan mengeluarkan sumpah serapahnya dan mengatakan kalau dia yang akan tidur dengan Luhan sebelum Kyungsoo memotong ucapannya yang bahkan belum sempat diucapkan olehnya.

"Tentu saja. Luhan Hyung memang membutuhkanmu di sisinya. Tidurlah. Besok, jika keadaan Luhan Hyung belum membaik, kita akan membawanya ke Rumah Sakit. Suka ataupun tidak."

WHAT THE HELL! Baekhyun menatap sebal pada Kyungsoo setelah Sehun kembali ke kamar Luhan. Bagaimana mungkin dia membiarkan Sehun tidur di dalam sana? THAT Sehun. Orang yang menyebabkan Luhan seperti itu!

"Dia membutuhkan Sehun, Hyung. Aku tahu kau marah. Aku juga begitu. Tapi jika saat Luhan Hyung bangun besok Sehun tidak di sisinya, dia pasti akan semakin sedih. Hyung pasti akan mengira kalau Sehun benar-benar melupakannya dan tidak perduli padanya. Hyung lihat sendirikan tadi bagaimana Luhan Hyung menjadi tenang hanya dengan kehadiran Sehun di sampingnya?"

Baekhyun ingin sekali membantah semua ucapa Kyungsoo. Tapi dia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Sebenci apapun dia untuk mengakuinya, tapi Kyungsoo benar. Luhan memang membutuhkan Sehun di sisinya.

Huft. Baekhyun mem-poutkan bibirnya dan berlalu ke kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Dia butuh Chanyeol sekarang. Atau mood nya tidak akan membaik sampai besok, mengingat obat mujarab pembangkit moodnya (read: Luhan) tengah terbaring tak berdaya di kamarnya bersama dengan si penyebab semua itu.

CKLEK

Saat Sehun kembali ke kamar Luhan, dia bisa melihat Luhan kembali bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan di balik kelopak matanya. Sehun tidak menunggu lagi. Dia langsung naik ke kasur Luhan dan merebahkan tubuhnya di samping Luhan. Seperti biasa, meraih kepala Luhan dan mengganti bantal yang digunakan Luhan dengan lengannya.

Out of insting, Luhan memiringkan tubuhnya menghadap Sehun dan meringkuk manja pada Sehun. Nafasnya kembali teratur. Dan Sehun bersumpah kalau dia melihat Luhan tersenyum dalam tidurnya.

Sehun mengusap-usap pipi Luhan lembut. Menghilangkan kegelisahan Luhan. Pipi Luhan terasa sangat panas di tangan dinginnya. Sehun mencium puncak kepala Luhan dengan sangat lembut dan berkali-kali mengucapkan kata maaf. Tangan kanannya bergerak ke pinggang ramping Luhan, memeluknya erat. Dan tangan kirinya, pengganti bantal Luhan, terus bergerak mengusap-usap surai Luhan. Air mata Sehun kembali mengalir bersamaan dengan rasa bersalah yang kembali menyeruak dalam dirinya.

Sehun hampir tidak bisa tidur malam itu. Terlalu takut kalau-kalau tiba-tiba Luhan terbangun dan dia tidak mengetahuinnya. Kalau-kalau Luhan membutuhkan sesuatu tapi tidak tega untuk membangunkannya. Dia baru bisa tidur menjelang subuh, dengan memeluk Luhan sangat erat.

~O.O~

"Euunghh," Luhan melenguh pelan saat bias-bias matahari mulai masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Kepalanya terasa sangat berat, membuatnya ingin terus tidur. Namun saat dia merasakan sebuah tangan yang melingkar posesif di pinggangnya, dia memaksakan matanya agar terbuka.

Hal pertama yang dilihatnya saat membuka matanya adalah dada bidang Sehun yang terbalut piyama. Pipi Luhan langsung memanas saat menyadari kalau dia berada di pelukan Sehun sekarang. Pandangan Luhan kemudian beralih ke leher putih Sehun, kemudian dagunya, bibir merahnya, hidung mancungnya, kemudian matanya.

"Morning, Deer!" ucap Sehun dengan suara seraknya. Luhan langsung terbelalak kaget saat melihat mata Sehun yang terbuka sempurna. Dia kemudian kembali menyembunyikan wajahnya yang sudah merona sempurna di ceruk leher Sehun. Luhan tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar suara Sehun yang menurutnya sexy, dan dia sangat menyukainya. Demi apapun, dia bahkan akan dengan senang hati kalaupun harus menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan mendengar suara itu.

"Feel better?" tanya Sehun. Luhan kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap Sehun. "Eum," Dia mengangguk perlahan dan mem-pout-kan bibirnya. "Tapi kepalaku masih terasa berat."

Sehun menghela nafasnya. "Mianhae, Lu! Gara-gara kebodohanku, kau jadi jatuh sakit," ucap Sehun. Luhan bisa mendengar nada penyesalan dalam kata-kata Sehun. Dia tersenyum dan menggeleng pelan.

"Aniyo. Aku tahu kalau Sehunnie pasti punya alasan kuat. Aku yang bodoh karena melupakan ponselku di rumah. Hehehe," jawab Luhan sambil terkekeh pelan. Kepalanya akan terasa pening jika dia tertawa lebar.

Sehun kemudian bangun dan menyandarkan punggungnya pada night stand. "Tetap saja. Aku merasa bersalah. Kau pasti sangat ketakutan di sana. Di tengah cuaca seperti itu, sendirian. Seharusnya aku ada di sana menemanimu, Lu. Seharusnya aku—" Perkataan Sehun terhenti saat Luhan ikut bangun dan menempelkan bibirnya pada bibir Sehun.

Luhan mengusap pipi Sehun setelah menjauhkan wajahnya dari Sehun. "Gwaenchanna. Yang penting Sehunnie datang dan juga, aku sudah baikan," ucap Luhan dengan senyum manisnya yang justru membuat Sehun semakin merasa bersalah. Seandainya saja dia tahu alasan sebenarnya. Seandainya dia tahu kalau Sehun lupa. Seandainya dia tahu kalau Sehun bertemu dengan Jongin. Masih bisakah Sehun melihat senyum itu?

"Ehem!" Suara yang berasal dari pintu kamar Luhan itu berhasil menarik perhatian pasangan yang sedang berlovey dovey di atas kasur itu. Baekhyun, mengabaikan Sehun yang terus menatapnya, memasuki kamar Luhan dengan semangkuk bubur di tangannya. Sedangkan Kyungsoo mengekor di belakangnya dengan air minum dan obat.

Baekhyun meletakkan mangkuk bubur yang dibawanya di atas nakas dan duduk di sisi kasur, di samping Luhan. Sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Sehun di samping Luhan.

"Hyung! Kau sudah baikan? Apa masih pusing?" tanya nya kemudian memegang dahi Luhan. 'Sudah tidak panas,' pikirnya. Luhan tersenyum dan mengangguk imut. "Gwaenchanna. Hanya sedikit pusing. nanti juga hilang setelah istirahat. Jadi, tidak perlu minum obat lagi, ne?" ucapnya meilrik Kyungsoo saat mengucapkan kata 'obat'.

"Ck. Arrasseo. Sepertinya memang Sehun adalah obat paling mujarab. Kau bahkan tidak makan apalagi minum obat semalam, Hyung. Tapi sekarang kau sudah baik-baik saja," ujar Kyungsoo membuat Luhan kembali tersipu.

"Hehehehe." Luhan terkekeh.

Pletak

Baekhyun dengan tidak elitnya menjitak pelan kepala Luhan kemudian memeluknya. "Pabbo! Bagaimana bisa kau tertawa seperti itu, Hyung! Apa Hyung tahu seberapa khawatirnya aku kemarin? Apa Hyung tahu seberapa paniknya aku saat aku tahu kalau Hyung sendirian di luar sana di tengah cuaca yang seperti itu? Apa Hyung tahu seberapa frustasinya aku karena tidak tahu bagaimana keadaan Hyung yang entah ada di mana? Apa Hyung tahu seberapa kesalnya aku saat tidak bisa melakukan apa-apa selain mondar-mandir di dalam rumah? Apa Hyung tahu seberapa sedihnya aku saat melihat keadaan Hyung waktu Sehun PABBO membawamu pulang? Bagaimana bisa Hyung tertawa seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa!" Baekhyun terisak di bahu mungil Luhan. Bagaimana mungkin Luhan memaafkan Sehun begitu saja!

"Ba-Baekhyun-ah. Gwaenchanna. Hyung baik-baik saja. Baekkie tidak perlu khawatir lagi, ne? Maafkan Hyung karena membuatmu khawatir," ucap Luhan mengelus-elus punggung Baekhyun.

"Hyung harus janji. Jangan pernah membuatku khawatir seperti kemarin lagi. Jangan meninggalkan ponselmu di rumah. Hyung harus mengatakan padaku kemana Hyung pergi agar jika terjadi sesuatu, aku tahu Hyung ada dimana."

"Arrasseo. Hyung janji. Mianhae. Uljima, ne? Jangan menangis lagi. Nanti kau akan terlihat seperti hantu karena eyelinermu berantakan."

"Hyuuuuuung!" Baekhyun memukul lengan Luhan pelan, membuat Luhan tersenyum.

Luhan lalu beralih menatap Kyungsoo yang masih berdiri di tempatnya. Kyungsoo mungkin tidak mengatakan apa-apa. Tapi dia tahu kalau keadaan Kyungsoo kemarin tidak jauh berbeda dengan Baekhyun. Hanya saja, Kyungsoo bukan tipe yang suka bermanja seperti Baekhyun. Dia selalu terlihat lebih tenang, kecuali di saat-saat tertentu.

"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu juga padaku?" tanya nya pada Kyungsoo sambil memiringkan wajahnya. Kyungsoo pun ikut duduk di samping Luhan. Baekhyun masih memeluk Luhan.

"Tentu saja ada. Hyung pabbo! Pabbo! Pabbo! Pabbo!" ucapnya seiring dengan air matanya yang berjatuhan kemudian ikut memeluk Luhan. "Jangan melakukan itu lagi, Hyung. Aku hampir gila kemarin. Aku sangat khawatir, Hyung!"

"Mianhae. Mianhae membuat kalian khawatir," ucap Luhan berusaha menahan tangisnya. "Gomawo karena sudah menghawatirkanku."

Terima kasih Tuhan, karena memberikanku teman sekaligus keluarga yang sangat menyayangiku.

Sehun hanya menyaksikan semua itu dari tempatnya. Baru kali ini dia berfikir, kalau ternyata cintanya jauh lebih kecil dibandingkan dengan cinta Baekhyun dan Kyungsoo. Meskipun cinta yang mereka miliki berbeda.

~O.O~

"Sehun-ah. Nanti aku mau popcorn yang manis, ne!" ucap Luhan manja sambil terus memeluk lengan Sehun yang duduk di sampingnya, mereka berada di dalam bis menuju bioskop.

Setelah kencan gagal beberapa hari yang lalu, Sehun memutuskan untuk menebusnya dengan acara kencan seharian bersama Luhan. Beberapa hari ini, Sehun hampir tidak tidur setiap malamnya untuk menyelesaikan semua desainnya sebelum hari Sabtu. Karena dia ingin mengajak Luhan jalan-jalan hari itu.

"Hmmmm, kau hanya ingin popcornnya? Tidak ingin melihat filmnya?" tanya Sehun. "Apa kita beli popcornnya saja lalu pulang?" tanya nya lagi.

"Aiiisssh. Sehun-aaaaaaaah!" Luhan mem-pout-kan bibirnya kesal.

Sehun terkekeh pelan dan mengacak rambut Luhan pelan, bibir Luhan semakin manyun. 'Aiiisssh, mengapa Sehun suka sekali mengacak rambutku? Aku kan jadi terlihat seperti anak kecil,' pikirnya kesal. Tapi bibirnya yang membentuk seulas senyum tipis dan pipinya yang merona benar-benar mengkhianati dirinya.

"Arrasseo," ucap Sehun kemudian menarik tangannya dari Luhan dan beralih melingkarkannya di bahu Luhan. Memeluknya posesif dan membawanya lebih dekat dengan tubuhnya.

"Hmmmm, Sehun-ah!" panggil Luhan. "Hmm?"

"Apa Baekkie masih marah padamu?" tanya Luhan. Dia tahu kalau Baekhyun mengacuhkan Sehun. Dari saat dia bangun hari itu, dia bisa melihatnya. Baekhyun bahkan tidak menggodanya beberapa hari ini. Dia juga tidak pernah menanyakan bagaimana hubungannya dengan Sehun.

Sehun mengangguk pelan sebagai jawabannya. "Sepertinya begitu. I deserve it, though. Aku melupakan janjiku. Aku membuatmu menunggu di sana berjam-jam dalam cuaca yang seperti itu. Dan aku membuat Hyung tersayangnya sakit."

"Eum, kau memeng pantas mendapatkan amukan dari Baekhyun. Karena itu, jangan mengulanginya, ne? Kau tidak tahu seberapa takutnya aku saat itu." Luhan menyandarkan kepalanya di dada Sehun. "Aku kira saat itu, kau benar-benar tidak akan datang, dan itu membuatku sangat takut."

Sehun semakin mengeratkan pelukannya. "Mianhae, Lu." Luhan mendongakkan kepalanya dan menatap Sehun yang juga menatapnya. "Aniya." Luhan menggelengkan kepalanya. "Bukan salahmu kalau tiba-tiba Jung Seonsaeng-nim menyuruhmu menemuinya. Lagipula, school goes firts, right? Aku juga salah karena meninggalkan ponselku begitu saja," tuturnya dan tersenyum pada Sehun.

"Eum," Sehun mengalihkan pandangannya dari mata Luhan saat mendengar ucapan Luhan. Untung saja saat itu tidak ramai penumpang dan mereka duduk dibangku paling belakang. Dia mencium puncak kepala Luhan. 'Mianhae, Lu!' batinnya. Kenyataan bahwa Luhan mempercayai alasan konyolnya begitu saja membuatnya semakin bersalah.

Luhan tersenyum dan memejamkan matanya saat Sehun mencium puncak kepalanya. meskipun Luhan merasa sedikit aneh dengan sikap Sehun belakangan ini, tapi Luhan mencoba untuk mengabaikannya. Semenjak insiden tempo hari, Sehun belum pernah menciumnya. When I said kissing, it means kissing on the lips. Sehun menciumnya, tapi hanya di pipi, di dahi, di pelipis saat Sehun memeluknya, atau di puncak kepala seperti yang dilakukannya sekarang. Namun walaupun begitu, Luhan tetap menyukai dan menikmati ciuman Sehun. Mungkin Sehun masih merasa bersalah atas insiden itu, pikirnya.

"Berhentilah merasa bersalah, Sehun-ah. Bukankah kita sudah membicarakan hal ini? Yang sudah terjadi tidak bisa dirubah. Dan soal Baekhyun, jangan terlalu diambil hati. Dia hanya terlalu menyayangiku. Aku akan bicara padanya nanti, ne?" Bukannya Luhan membela Sehun, dia hanya tidak ingin dua orang yang paling disayanginya jadi seperti ini.

"Arrasseo. Kalau begitu, aku akan berusaha membuat Hyung yang disayanginya itu senang agar Baekhyun Hyung bisa memaafkanku," ucap Sehun.

"Eum, itu lebih baik. Kau harus membuaku senang. Karena itu, hari ini kau harus membelikanku es krim, mengajakku jalan-jalan, mentraktirku makan, mengajakku nonton, membelikanku popcorn, dan membelikanku Bubble Tea. Arasseo!" Luhan menghitung jarinya imut setiap menyebutkan satu per satu tugas yang harus dilakukan Sehun hari itu.

Sehun tersenyum dan mendongakkan dagu Luhan agar menatapnya. "Arrasseo," ucapnya tepat di depan wajah Luhan. "Aku akan melakukan semua itu untukmu. Yang penting Xiao Lu senang," lanjutnya kemudian mencium hidung mungil Luhan sekilas. Sebenarnya dia ingin sekali mencium bibir cherry itu. Namun perasaan bersalah itu menahannya.

BLUSSSHH

Luhan tersipu. Sehun memang sering menciumnya. Tapi ini pertama kali Sehun mencium hindungnya. Dan rasanya berbeda. Luhan merasa ciuman di hidung itu lebih sweet dan juga terkesan sedikit genit(?), dan itu membuatnya merona. Belum lagi panggilan itu. Xiao Lu. Luhan senang sekali saat Sehun memanggilnya dengan sebutan itu. Aiiissh, dia benar-benar tidak bisa mengontrol rona pipinya juka sudah menyangkut Sehun.

"Kau mau nonton film apa, Lu?" tanya Sehun saat mereka tiba di bioskop.

"Hmmmm," Luhan memiringkan kepalanya dan mengetuk-ketukkan jari telunjuknya di dagunya sambil melihat daftar film yang diputar hari ini. Sehun hanya berdiri di sampingnya, tangan melingkar posesif, memandang setiap pergerakan imut Luhan.

"Itu. Ayo kita nonton yang itu, Sehun-ah." Luhan menunjuk salah satu poster film yang terpampang di sana.

"A Moment to Remember?" tanya Sehun meyakinkan. "Eum," angguk Luhan. "Kata Baekhyun film itu bagus," ujarnya.

"Arrasseo. Kalau begitu, biar aku membeli tiketnya dulu, ne? Kau tunggulah di sini. Aku akan segera kembali," Sehun mengusap pipi Luhan. "Oke! Jangan lupa popcornku!" jawab Luhan.

"Siiip! Popcorn manis kan?" Sehun mengacungkan jempolnya kemudian berlalu untuk membeli tiket dan popcorn untuk Luhan.

"Kajja!" Sehun menggandeng tangan Luhan begitu dia kembali dengan 2 buah tiket, satu kotak popcorn dan, apa itu? Tissue? Mengapa Sehun membeli tissue?

"Sehun-ah. Tissue itu untuk apa?" tanya Luhan. Sehun hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Luhan. Sebenarnya Luhan sedikit kesal karena Sehun tidak menjawab pertanyaannya. Tapi biarlah. Mungkin Sehun membutuhkannya.

Baru setelah mereka menonton setengah dari film tersebut, Luhan tahu untuk apa Sehun membeli tissue itu. Dan saat film berakhir, tissue itu sudah beralih ke tong sampah.

"Huweeeeee. Kalau tahu ceritanya akan sesedih itu, aku lebih baik tidak menontonnya," ucap Luhan frustasi saat keluar dari studio. Dia suka film romance, tapi dia tidak suka kalau sad romance. Huft. Awas kau Baekhyun!

Kekekeke. Sehun terkekeh melihat Luhan yang terus mengomel di sebelahnya semenjak keluar dari studio tadi. Padahal sekarang mereka sudah agak jauh dari gedung bioskop dan sedang berjalan menuju toko es krim.

"Sudahlah, Lu. Berhenti mengomel. Ingat apa yang aku katakan jika kau mem-pout-kan bibirmu." Sehun melepaskan tautan tangan mereka dan merangkul pundak Luhan.

BLUSSSHHH

"Wae? Apa kau akan menciumku? Kalau begitu aku akan terus mem-pout-kan bibirku hari ini." Luhan menghentikan langkahnya. Walaupun pipinya merona saat Sehun mengucapkan itu, tapi dia benar-benar ingin Sehun menciumnya saat ini. Dia merindukan saat-saat dimana Sehun akan mencuri-curi ciuman darinya. Mencium bibirnya sekilas dan membuatnya tersipu.

Sehun menatap Luhan yang terus mem-poutkan bibirnya. Tepatnya, Sehun menatap bibir cherry Luhan dan susah payah menelan ludahnya. Oke! Pertahanannya sudah hancur. Dia menginginkan bibir itu. 3 hari tanpa merasakan bibir lembut Luhan di bibirnya hampir membuatnya gila.

Dan tanpa berfikir lagi, Sehun langsung mencium bibir itu. Melumatnya lembut, menyesap manisnya bibir Luhan. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luhan dan membawa tubuh Luhan agar lebih dekat dengan tubuhnya. Menjilat, menggigit lembut bibir bawah Luhan. Meminta akses untuk menjelajahi goa hangat miliknya. Dan menyapa dan menggelitik setiap inchinya begitu Luhan membuka mulutnya untuk Sehun.

Ciuman Sehun yang terkesan tiba-tiba itu membuat Luhan sedikit terkejut. Namun dia cepat melingkarkan tangannya di leher Sehun. Membalas lumatan-lumatan lembut Sehun di bibirnya. Membuka mulutnya menyambut lidah Sehun. Menjinjitkan kakinya agar sejajar dengan Sehun. Menekan tengkuk Sehun agar memperdalam ciumannya. Dia bahkan sudah tidak perduli kalau mereka berada di tempat umum sekarang. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya Sehun dan bibirnya. Dia sangat merindukan ciuman lembut Sehun.

Pipi Luhan memerah sempurna saat Sehun melepaskan ciumannya. Bibir plump nya terlihat sedikit membengkak, membuat Sehun ingin merasakannya lagi. Namun keinginan itu segera ditepisnya saat dia menyadari para pejalan kaki di sekitarnya yang memperhatikan mereka. Sehun pun segera menarik tangan Luhan yang masih mengatur nafasnya akibat ciuman Sehun dan mengajaknya berlari untuk segera meninggalkan tempat itu. Menghindari tatapan dari orang-orang di sekitarnya.

~O.O~

"Hyung!" panggil Baekhyun saat melihat Luhan datang ke kafe. Mengabaikan Sehun yang berjalan di samping Luhan, Baekhyun langsung menghampirinya dan menarik tangan Luhan untuk masuk ke dalam dan mencarikannya meja kosong untuk duduk. Sehun mengikutinya di belakang.

Setelah melakukan rentetan tugas yang disebutkan Luhan tadi, mereka memutuskan untuk mengakhiri hari ini dengan segelas Bubble Tea dan sepotong kue. Dan di sinilah mereka. Di kafe tempat Baekhyun dan Kyungsoo berkerja. Walaupun Luhan tahu kalau Baekhyun masih mengacuhkan Sehun, tapi dia tetap bersikeras untuk membeli Bubble Tea di sini. Siapa tahu nanti Baekhyun akan berhenti mengacuhkan Sehun jika dia melihat Luhan sedang bahagia. Kekekeke.

"Hai Sehun," sapa Kyungsoo saat melihat Sehun berjalan di belakang BaekHan. Untung saja Kyungsoo sudah tidak marah lagi padanya. Atau dia benar-benar akan merasa sangat canggung di sana. "Hai Kyungsoo Hyung," sapa Sehun kemudian mengambil posisi di depan Luhan, karena Baekhyun duduk di samping Luhan.

"Seperti biasa?" tanya Kyungsoo kemudian. "Eum," Kyungsoo mengangguk kemudian berlalu untuk membuatkan pesanan mereka setelah menyapa Luhan.

"So, bagaimana harimu, Hyung?" tanya Baekhyun.

"Almost PERFECT!" jawab Luhan dengan senyum super manisnya. "Best Day Ever!" lanjutnya.

"Jeongmal? Tidak ada air mata?" tanya Baekhyun lagi. Mendengar kata air mata, Luhan langsung teringat film yang ia tonton tadi di bioskop.

Pletak

Satu jitakan manis mendarat di kepala Baekhyun membuat Sehun tertawa pelan. Namun tawa itu langsung berhenti saat Baekhyun memberikan death glarenya. "Awwww. Appo Hyung! Kenapa menjitakku?" Baekhyun mengusap-usap kepalanya. "Kau, dongsaeng nakal. Mengapa merekomendasikan film seperti itu padaku? Kau kan tahu kalau aku tidak suka film yang menguras air mata," jawab Luhan sewot.

"Film apa?" tanya Baekhyun. "Film tentang yeoja yang memiliki penghapus di otaknya."

"Ahahahaha. Film itu? Wae? Kau tidak bisa menahan air matamu? Haaah, pasti studio bioskop banjir tadi. Ckckck, kasian cleaning service nya. Ahahahaha." Baekhyun tertawa membayangkan Luhan menangisi film itu di tengah studio bioskop.

"Yaaaaaak!"

"Hehehe. Peace, Hyung." Baekhyun mengacungkan kedua jari tengah dan telunjuknya. "Tapi film itu kan bagus, Hyung."

"Eum. Memang bagus. Yeaah, walaupun harus menguras air mata. Tapi memang bagus," ucap Luhan.

"Lalu, apa lagi yang kau lakukan hari ini, Hyung?" tanya Baekhyun lagi.

"Hmmmm, banyak. Sehun mengajakku jalan-jalan. Berputar-putar di Myeongdong, membeli es krim, makan Tteokbokki di pinggir jalan, dan sekarang Bubble Tea," jawab Luhan antusias.

Baekhyun memperhatikan air muka Luhan saat menceritakan tentang kegiatannya hari ini. Luhan terlihat sangat bahagia.

"Karena itu, Baekki-ya. Jangan marah lagi, ne? Sehun kan sudah meminta maaf. Dia juga sudah menebusnya hari ini. Aku akan sedih kalau dua orang yang aku sayangi tidak akur. Ne? Jebaaaalll!" pinta Luhan.

Hhhhh. Baekhyun mendesah pelan. Well, kalau Luhan sangat bahagia seperti ini, bagaimana mungkin dia akan menghancurkan kebahagiaan itu.

"Arrasseoyo. Aku akan berhenti mengacuhkannya. Happy?" ucap Baekhyun sedikit tidak ikhlas. Oke! Kali ini dia akan memaafkan Sehun. Lagipula, sepertinya Sehun benar-benar menyesali perbuatannya tempo hari.

"Jeongmal?" Baekhyun mengangguk pelan.

"Assaaaa! Kalau begini, maka hari ini bukan lagi 'almost perfect', tapi ABSOLUTELY PERFECT." Luhan tersenyum senang. "Sekarang kalian harus berjabat tangan dulu," Luhan menarik tangan Sehun dan Baekhyun untuk berjabat tangan.

"Mianhae, Hyung," ujar Sehun. "Gwaenchanna. Sebuah kesalahan, everyone does it. Everione forgets. Yang penting kau tidak boleh mengulanginya lagi, Oh Sehun. Atau aku akan mengambil Luhan Hyung!" balas Baekhyun. Setelah itu, suasana menjadi sedikit mencair. Baekhyun benar-benar mencoba untuk tidak mengacuhkan Sehun.

"Gomawo, Lu!" ucap Sehun saat Baekhyun kembali bekerja. Sekarang dia sudah berpindah duduk di samping Luhan, menyandarkan kepalanya di bahu sempit Luhan. "Gomawo, karena memaafkanku."

"Yaaaaah! Apa perlu berkata seperti itu? Sehunnie juga, kalau aku melakukan kesalahan pasti akan mendengarkan penjelasanku dan memaafkanku kan?" jawab Luhan sambil meminum bubble tea nya.

"But still, aku ingin mengucapkannya. Kau juga membuat Baekhyun Hyung memaafkanku." Sehun meluruskan duduknya, menatap Luhan dan mencium bibirnya sekilas. Membuat darah Luhan seolah mengalir ke pipinya. Dia sangat senang karena Sehun sudah kembali seperti sebelumnya.

"Luhan-ah!" panggil Sehun yang berhasil membuat kupu-kupu di perut Luhan serasa berterbangan kesana kemari. Sehun memang tidak pernah memanggilnya dengan sebutan 'Hyung'. Namun biasanya dia hanya memanggil 'Lu', atau 'Xiao Lu', atau 'Hannie'. Ini pertama kalinya Sehun memanggil nama lengkapnya. Dan namanya benar-benar terdengar manis saat Sehun yang memanggilnya.

"Sarang—"

"Sehun?" ucapan Sehun terpotong oleh sebuah suara yang memanggilnya dari arah sampingnya. Suara yang berhasil membuat tubuh Sehun sedikit menegang. Tanpa harus menolehkan kepalanya pun, Sehun tahu suara ini.

Kim Jongin.

Panggilan itu juga berhasil menarik perhatian Luhan. Bahkan Baekhyun yang sedang melayani customer mengalihkan pandangannya pada pemuda itu. Dan jangan lupakan Kyungsoo yang menatap namja tersebut dengan mata bulatnya. Dia tahu namja itu. Mungkin malam itu dia tidak melihat dengan jelas. Tapi dia yakin sekali kalau pemuda yang memanggil Sehun barusan adalah pemuda yang sama yang mencium pipi Sehun beberapa hari yang lalu.

Sehun berdiri dan menolehkan kepalanya menatap Jongin yang berdiri beberapa meter darinya dan melambaikan tangannya pada Sehun. Bahkan Jongin perlahan mulai melangkah ke arahnya. Sehun pikir, dia tidak akan bertemu Jongin lagi. Tapi, mengapa Jongin bisa di sini sekarang?

Tidak ada yang menyadari kalau sebenarnya Jongin sudah cukup lama berdiri di sana untuk mendengar percakapan manis antara Sehun dan Luhan. Tepat saat Baekhyun meninggalkan keduanya. Dia ingin memanggil Sehun dari tadi. Hanya menunggu waktu yang tepat saja. Dan saat Sehun sepertinya ingin mengucapkan kalimat 'itu', itulah waktu yang tepat menurutnya.

"Nugu?" Luhan ikut berdiri dan bertanya pelan pada Sehun. Saat ini Jongin sudah berada tepat berada di depan mereka. Luhan memperhatikan wajah Jongin lekat-lekat. Sepertinya dia pernah melihatnya.

"Ah!" pekik Luhan tiba-tiba. "Kau! Bukankah kau namja yang aku tabrak waktu itu?" tanya Luhan pada Jongin kemudian beralih pada Sehun. "Kau ingat kan? Yang aku ceritakan itu. Sehun-ah, kau mengenalnya?"

Sehun menatap Luhan. Luhan sudah bertemu dengan Jongin? 4 hari yang lalu? Berarti di hari yang sama dengan insiden itu?

"Ne. Kita bertemu lagi. Maaf untuk kejadian waktu itu," ucap Jongin. Kejadian saat dia sengaja membuat Luhan menabraknya, juga karena merusak rencana kencan Luhan.

"Ah, aniyo. Aku yang menabrak. Jadi seharusnya kan aku yang meminta maaf." Luhan tersenyum manis pada Jongin.

Jongin hanya tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya pada Sehun yang masih terkejut di tempatnya. "Sehun-ah! Kita bertemu lagi. Kau tidak ingin memperkenalkan kami?" tanya nya menyadarkan Sehun dari keterkejutannya.

"Eh? Ah, ne. Kenalkan, ini Luhan Hyung. Namjachinguku!" Jongin mengeraskan rahangnya saat mendengar kata 'namjachingu' dari bibir Sehun. Namun dia dengan cepat menyembunyikannya dan menyambut uluran tangan Luhan. "Annyeong!" ucap Luhan yang hanya dibalas dengan senyum dari Jongin.

"Dan Luhan. Ini... Ini Jongin. Kim Jongin. Chinguku!"

WHAT? Luhan menatap Sehun tak percaya. Bahkan Baekhyun terlihat shock di tempatnya berdiri. Dan sekali lagi, jangan lupakan Kyungsoo dengan mata bulatnya yang semakin membulat sempurna saking kagetnya.

Sepertinya Luhan harus berfikir ulang untuk mengklaim hari ini sebagai the ABSOLUTELY PERFECT day baginya.

~O.O~

TeBeCe

A/N:

Yo yo yoooowww... #ngerapAlaChanyeol

Another chapter gagal yang Liyya share :'( dan TeBeCe yang amat sangat tidak elit -_- Gak tau kenapa, Liyya emang gak terlalu bisa nulis scene yang mendramatisir(?) kayak gini. Ternyata emang lebih gampang bikin scene yang manis maniiisss :)

Mianhae kalau mengecewakan. Kemarin banyak yang berharap kalau BaekSoo akan membunuh Sehun. Well, mau bagaimana? Kalau Luhan saja langsung memaafkan gitu O.O Emang cinta buta kali ya :D Tapi bagaimana kalau Sehun mengulang kesalahannya? Apa BaekSoo akan memaafkannya begitu saja? ;)

Jongin muncul lagiiiiii. Walaupun lagi-lagi di akhir cerita -_- Dan udah ada gambaran kan untuk chapter depan? Yups! Chapter depan bakal ada HunHan vs Jongin di kafe. Jangan lupakan BaekSoo yang sedang terbelalak kaget di tempat yang sama ;)

Tidak henti-hentinya Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow

Balasan Review:

destyrahmasari: Sehun emang tega :'( aiiih, bijak bangeeet. Eon suka deh #apaancoba -_- makasih udah nunggu chap selanjutnya ya :) moga masih mau nunggu lagi ;)

Makasih udah ngereview^^

: wakkss . jangan kutuk Sehun jadi kodok O.O ntar ceritanya ganti jadi pangeran kodok donk o.O #plakk

Makasih udah ngereview^^

Lee MingKyu: Ooooowwwhhh #angguk2# Sehun tuh sebenernya emang cinta banget sama Luhan. Cuma sedikit ragu aja :/ Luhan gak dibawa ke RS kok ^_^ Phobianya emang parah banget, ntar eon suruh Thehun bawa dia ke Psikiater aja :)

Makasih udah ngereview^^

RirinSekarini: Luhan emang kesian chingu :'( Emang kalo phobia beneran sampe' kayak gitu ya takutnya? #kepo

Makasih udah ngereview^^

fieeloving13: Apa,,,? Masa' iya Luhan jadi koma. Ntar siapa yang jadi pemeran di ff nya? Eon kan sering bikin PoV nya Luhan :)

Makasih udah ngereview^^

ferinaref: huweeeee :'( #sodorinemberbiargakbanjir #abaikan Ne udah lanjut Rina(?) ^_^

Makasih udah ngereview^^

mitahunhan: Jangan bunuh Kkamjooong o.O Sehunnya udah nyesel kok. Tapi gak tau dia bakal ngulangin kesalahannya apa enggak ;)

Makasih udah ngereview^^

ajib4ff: Yups. Eon bener. Cuma Sehun yang bisa nolongin Sehun. Buktinya, dipeluk Sehun semalaman, Luhan langsung sembuh tuh. Kekuatan cinta kali ya #plakk Siip eooon, kalo Luhan udah aman, kita kolaborasi mukul Sehun, Oke ;)

Makasih udah ngereview^^

Kiela Yue: Iya Riiin, soalnya Liyya sering nemuin orang-orang nyebut Sehun begono. Hehehehe. Liyya juga kesal Riiiiiiiiiiiiiiiiin. Berani-beraninya dia membiarkan Lulu kita ketakutan begitu :'( BaekSoo masih sedikit kalem neh Riiin, ntar di problem selanjutnya baru deh tuh duo meledak ;)

Makasih udah ngereview^^

dian deer: Weiittss, jangan benci Kkamjong yaaa ;) Eon juga suka ChanLu loooh :D

Makasih udah ngereview^^

Shizuluhan: Uljima Shizu :'( Kamu juga fobia ya? Liyya sampe' nanya mbah google loh masalah fobia. Takutnya g ada orang fobia petir. Eh ternyata ada ya. Liyya juga takut tempat gelap loh. Yang bener-bener gelap. Sama kaya' Shizu. Liyya juga gak suka tempat yang sempit. Liatnya aja udah bikin sesak nafas rasanya :( Udah tau kan gima reaksi BaekSoo?

Makasih udah ngereview^^

Aileen Xiao: Gwaenchanna chingu. Mau baca aja Liyya udah seneng banget looh :D Sehun sudah bertanggung jawab kok. Jongin begitu kan karena Sehunnya juga terkesan gak nolak :/ Sehun bakal tersiksa kok, tapi bukan di chapter ini ;)

Makasih udah ngereview^^

chyshinji0204: Sehun ketularan penyakitnya Lay tuuuh. Jadi pelupa gitu -_- BaekSoo emang ngamuk. Cuma masih bisa menahan diri :) Nanti ada waktunya Sehun tersiksa kok. Tunggu aja ;)

Makasih udah ngereview^^

weisheme: Ini udah lanjut :)

Makasih udah ngereview^^

Nevada Adhara: Gomawo udah bilang Daebak ^_^ Liyya juga kasian sebenernya sama Lulu :( tapi mau gimana lagi? Happy ending ato Sad ending yaaaa? Enaknya gimana? ;)

Makasih udah ngereview^^

HunHan Baby: Ayo kita bekap Sehun bareng-bareng :D Ini udah lanjut dek, moga gak mengecewakan ya :)

Makasih udah ngereview^^

asroyasrii: Yaaah, dia telat neg. Gpp kok :) Namanya juga cinte, kadang kan suka egois gitu :/ Gak elit emng ya? Tapi namanya penyakit mau gimana coba? Kenapa malah minta acara duel-duelan O.O kekekekeke.

Makasih udah ngereview^^

Queen DheVils49: Kyaaaaa! Luhan emang mengenaskan gitu nasibnya #lemparKkamjongpakepanci #dilemparbalik -_-

Makasih udah ngereview^^

Eunsoo1: #ikutanpelukLulu :'(kalau gak ada Jongin, cinta hunhan gak bakal ada yang nguji :)

Makasih udah ngereview^^

kyunggf: Ini udah lanjut :) makasih udah nunggu ya :D

Makasih udah ngereview^^

kaihankrishan: Liyya juga Luhan biased looh. Tapi liyya HunHan Shipper yang juga menyukai semua Semenya Luhan #plakk :D

Makasih udah ngereview^^

fangirl-shipper: Annyeong Saeng :) Welcome yaaa :D Gpp walaupun baru review sekarang ^_^ Sehun pasti bakal menderita kok, tapi gak sekarang ;) Kenapa dengan KrisHan?

Makasih udah ngereview^^

eunhuna: Hmmmm, jadi gitu ceritanya #angguk2 Ayo kita tendang Sehun n Jongin bareng-bareng saeng ::D Sehun pasti bakal mendapatkan hukumannya kok. Tapi nanti ;)

Makasih udah ngereview^^

WinterHeaven: Huweeeee #ikutannagissambilmelukSaeng :'( Chap ini udah ada HunHan moment lagi kaaan, walaupun ga semanis yang dulu-dulu :( Kita do'akan aja biar Sehun cepet melupakan Kkamjong yaaa :D

Makasih udah ngereview^^

rinie hun: kekekekeke. Ini udah lanjut. Moga gak mengecewakan ya :)

Makasih udah ngereview^^

Little Deer: Apa,,? Perasaan campur aduk kayak gado-gado? Kalo begitu, eon mau thunya yaa #plakk# Namanya aja Hurt/Comfort. Jadi kadang sedih, trus manis lagi, ntar sedih lagi, trus hepi deeh :D Eon juga gak paham Saeng sama jalan pikirannya Sehun -_- iyaaaa. Luhan fobia sama petir. Kasian banget kaaan :'( Itu luhannya udah sakit Saeng. Tapi segera sembuh dengan kekuatan cinta #plakk #lebay hehehehe

Makasih udah ngereview^^

Deer Panda: Ini udah lanjut loooh. Moga gak mengecewakan yaaa :)

Makasih udah ngereview^^

ThegorgeousLu: Sehun Pabbooooooooo! #ikutancekekSehun# Luhan selalu tersenyum kalau melihat Sehun :'( Hunkai moment pasti masih ada dooonk. Tapi di chap ini, Liyya mau bikin lulu hepi dulu :)

Makasih udah ngereview^^

ChickenKID: Gpp kok, yang penting kan udah baca :) wkwkwkwk. Eon malas banget kalo liat foto-foto Lulu sama mantannya -_- Jangan ngambek lagi ke lulu yaaa, itu kan masa lalu ;) Ini udah lanjut Saeng. Semoga gak mengecewakan yaaa :D

Makasih udah ngereview^^

uswatun hasanah: Nama kamu ngingetin eon sama temen Eonnie. Namanya sama :) Gomawo udah baca n review yaaaa. Mianhae kalau balasan review nya eon rangkum jadi satu #bowlagi Chap-chap awal banyak typonya ya? Kalo chap yang akhir-akhir ini gimana? Masih banyakkah? Gpp walaupun loncat-loncat saeng :) Kalo saeng bisa menggoda Kkamjong dan membuatnya melupakan Thehun, eon kasih hadiah deeeh ;) Hunhan alhamdulillah BELOM berantem di sini. Hehehehe. Oh ya, Gomawo juga udah baca n repiu 'Saranghae, Nae Appa' yaaa :D

Makasih udah ngereview^^

Park Jihyun24: Yo yo yo. Uljima yo. #sodorintissue :D

Makasih udah ngereview^^

sari2min: Huwaaaa. Makasih banget kaaak, udah repiu tiap chapternya. Jeongmal-jeongmal Gomawo #bow # Mian ya kak, kalo balasannya cuma satu di sini #bow90° Luhan emang sedikit pecicilan. Udah segede gitu masa' masih pake boxer Spongebob cobaa -_- Thehun suka gitu deh kak. Rada ababil gitu. Sekali bilang ini, sekali bilang itu. namanya juga masih bocah :)

Makasih udah ngereview^^

: Sukurlah kalo kamu sukaa :D Eon juga Hunhan Shipper koook ;) Endnya tetep Hunhan gak ya,,? #ketawaepil# HWAITING!

Makasih udah ngereview^^

Amortentia Chan: Sebenernya gak tega Saeng :'( Secara Luhan kan bias aku :( Gara-gara Jongin noooh #dilemparwajan -_- Crack Pair gak yaaa? Semuanya official kok. Kecuali SuD.O, soalnya eon suka kalo Umma Appa bersatu ;) Wkwkwkwkwk, apa hubungannya 'Saranghae, Nae Appa' sama menyadarkan buat review? Biasanya yang komen kan pada bilang 'ff ini menyadarkan biar g berburuk sangka sama orang tua, selalu menghargai orang tua' gitu o.O Tapi gpp deh, Eon seneng kalo Saeng jadi sadar n berhenti jadi Silent Reader :D

Makasih udah ngereview^^

XiaLu BlackPearl: Marathon yaaa? Gomawo udah baca :D Pas bagian Valentine emang sengaja eon bikin yang super duper sweet. Soalnya habis itu kan Luhan mau disiksa #plakk# Eon g bakal jahat-jahat banget kok sama Lulu. Cuma jahat dikit aja #plakk

Makasih udah ngereview^^

Hyorim16: Gwaenchanna. Gomawo udah baca :D Ini udah lanjut. Moga gak mengecewakan yaaaa :)

Makasih udah ngereview^^

ki-si: Annyeong :) Makasih udah berkenan baca n review ya :D Kamu ngerasa BaekSoo Cuma ada saat luhan sedih doank? Hmmm, sebenernya enggak sih, tapi mungkin karena ini ceritanya fokus ke Luhan, jadi ngerasa begitu. Soalnya kan Liyya sering make Luhan PoV.

Makasih udah ngereview^^

Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi?

So, see U next chapter?

#Kiss N Hug readers satu-satu