By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Others
Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 15 of ?
Disclaimer: Semua cast milik orang tuanya masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja. Cerita murni dari hasil imajinajis(?) saya ^^).
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
A/N: Banyak yang sebel karena Sehun bohongin Luhan ya? Padahalkan itu atas perintah BaekSoo. Hehehehe.
.
HAPPY READING^^
.
Preview Chapter:
"Dan Luhan. Ini... Ini Jongin. Kim Jongin. Chinguku!"
WHAT? Luhan menatap Sehun tak percaya. Bahkan Baekhyun terlihat shock di tempatnya berdiri. Dan sekali lagi, jangan lupakan Kyungsoo dengan mata bulatnya yang semakin membulat sempurna saking kagetnya.
Sepertinya Luhan harus berfikir ulang untuk mengklaim hari ini sebagai the ABSOLUTELY PERFECT day baginya.
~O.O~
Kalau ada yang bertanya bagaimana Jongin bisa berakhir di kafe yang sama dengan Sehun, jawabannya adalah 'takdir'. Well, paling tidak itu menurutnya. Jangan mengira Jongin mengikuti acara kencan HunHan seharian ini. Seberapa kuatpun keinginannya untuk mendapatkan Sehun, Jongin cukup tahu untuk tidak membuat hati dan matanya perih karena harus menyaksikan kemesraan mereka. Apalagi seharian?
Hell to the No!
Jongin sama sekali tidak berencana untuk menguntit Sehun. Hmmm, oke, hanya sedikit. Dia berencana untuk melakukan kunjungan keduanya ke apartemen Sehun. Karena setelah berkali-kali memencet bel tetap tidak ada jawaban, akhirnya Jongin menyerah. Bodohnya dia yang tidak menanyakan nomor ponsel Sehun beberapa hari yang lalu. Sebenarnya dia bisa saja menanyakannya paa Minseok. Tapi dia ragu kalau Minseok akan memberikannya. Belum lagi ceramah agama yang harus dia dengarkan.
'Apa Sehun pergi ke kampus?' pikirnya. 'Tapi ini kan hari Sabtu. Dan lagi, sekarang sudah sore.'
Jongin memukul kepalanya pelan saat menyadari sesuatu. Hari libur. Sehun tidak di apartemennya. Kemana lagi kalau bukan bersama Luhan.
Hhhh. Jongin mendesah pelan dan berjalan meninggalkan apartemen Sehun. Mungkin besok saja dia kembali lagi. Pagi-pagi sekali mungkin. Sebelum Luhan membawa Sehun entah kemana.
Dan tebakan Jongin tidak pernah lebih tepat dari ini saat dia melihat Sehun dan Luhan memasuki sebuah kafe di seberang jalan. Jongin menimbang-nimbang apakah harus menemui Sehun saat itu juga, saat dia bersama Luhan, atau sebaiknya menunggu hari esok. Tanpa menyadari, kalau perlahan, langkah kakinya sudah menuntunnya untuk menyebrang jalan dan masuk ke dalam kafe. Jongin sudah menyerah sebelumnya. Tapi Tuhan malah mempertemukannya dengan Sehun. Mungkin ini yang dinamakan takdir, pikirnya.
"Annyeong, aku Kim Jongin. Temannya Sehun. Senang akhirnya bertemu denganmu," Jongin memutuskan kalimatnya dan tersenyum pada Luhan. "Luhan Hyung," lanjutnya.
Luhan menatap Jongin dengan wajah bingungnya. Wajah yang membuat semua orang ingin mencubit pipinya, melipatnya, dan menyimpannya di dalam saku mereka. Semua orang. Well, kecuali Jongin mungkin. Karena wajah itu justru membuatnya semakin ingin membencinya. Wajah yang membuat Sehun berpaling darinya.
"Sehun sering bercerita tentangmu. Luhan Hyung begini, Luhan Hyung begitu. Dan itu membuatku sangat penasaran," jelas Jongin saat menangkap kebingungan Luhan.
"Ah, ne. Aku juga senang bertemu denganmu, Jongin-sii," balas Luhan canggung. Sehun bercerita tentangnya pada Jongin?
"Tidak perlu seformal itu, Hyung. Kau bisa memanggilku Jongin. Sehun memanggilku begitu," ucap Jongin dan tersenyum lagi. Dan entah mengapa, senyum itu membuat Luhan sedikit bergidik. Bukan karena senyuman itu jelek. Tidak sama sekali. Bahkan Luhan mengakui kalau senyuman itu sangat menawan. Namun untuk suatu alasan yang dia sendiri tidak tahu, dia merasa kalau ada sesuatu dibalik senyum itu. Sesuatu yang tidak baik untuknya.
"Boleh aku bergabung di sini? Aku baru di Seoul, jadi tidak punya teman. Dan duduk sendirian itu tidak menyenangkan," pinta Jongin. Luhan ingin sekali menjawab tidak. Tapi dia tidak mungkin melakukannya, kan? Lagipula, Jongin hanya ingin berteman, kan?
"N-ne. Tentu saja, J-Jongin-ah. Kau bisa bergabung di sini," jawab Luhan, mencoba untuk mengusir pikiran-pikiran buruk yang sempat menghampirinya. Dia mempersilahkan Jongin untuk duduk di depannya.
Selama interaksi antara Luhan-Jongin, Sehun hanya terdiam sambil terus menatap Jongin. Sebenarnya apa yang diingan Jongin darinya? Bukankah Jongin sendiri yang mengatakan kalau hubungan mereka sudah berakhir? Lalu mengapa tiba-tiba datang. Not to mention kalau Jongin selalu datang di saat yang paling tidak tepat.
"Kau tidak ingin memesan sesuatu?" tanya Sehun akhirnya. Jongin tersenyum menatap Sehun. "Kau tahu aku tidak suka Bubble Tea, Oh Sehun," ujarnya membuat Sehun ikut tersenyum. "Well, di sini juga ada Capuchino. Kau suka itu, kan?" tanya Sehun lagi. Jongin hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ternyata Seoul tidak seluas yang aku duga. Baru beberapa hari yang lalu aku bertemu denganmu. Dan sekarang kita berjumpa lagi di sini. Kekekeke." Jongin terkekeh pelan kemudian menyeruput Capuchinonya.
"Kalian sudah bertemu sebelum ini?" tanya Luhan. Tepatnya pada Sehun. Kenapa Sehun tidak cerita padanya kalau dia bertemu dengan Jongin?
"Eum," angguk Jongin. "Hmmmm," Jongin terlihat seperti mengingat-ingat sesuatu. "Apa itu hari Selasa sore?" ucapnya kemudian. "Ah ya, 4 hari yang lalu. Berarti hari Selasa. Apa Sehun tidak cerita, Hyung?" tanya Jongin. Lagi-lagi menunjukkan senyum itu.
"Aniyo," jawab Luhan pelan kemudian menatap Sehun. Wajah Sehun terlihat sedikit menegang. Apakah Sehun menyembunyikan sesuatu darinya? "Tapi, Sehun-ah. Bukankah kau bilang kalau Jung Seonsaeng-nim memintamu untuk menemuinya hari itu?" tanya Luhan. Sebenarnya dia merasa tidak enak kalau harus bertanya seperti itu. Itu sama saja seperti dia mencurigai Sehun. Sama saja seperti dia tidak mempercayai Sehun.
Sehun benar-benar tidak tahu apa yang harus diucapkannya saat itu. Haruskah dia menceritakan yang sebenarnya pada Luhan? Tapi bagaimana kalau Luhan marah padanya? Bagaimana kalau Luhan menangis? Belum lagi Kyungsoo dan Baekhyun yang jelas-jelas melarangnya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Luhan. Apa yang harus dikatakannya untuk menjawab pertanyaan Luhan?
"Lu, aku—"
"Aaah, jadi waktu itu kau mau menemui dosenmu? Pantas saja kau seperti terburu-buru." Sehun beralih menatap Jongin tak percaya. Apa maksud Jongin yang tiba-tiba terkesan seperti membantunya?
"Kami hanya bertemu sekilas, Hyung. Waktu itu, aku sedang menunggu Hyung ku di daerah dekat apartemen Sehun, benar kan?" ucap Jongin.
"N-ne. Kami hanya bertemu sekilas. Karena itu aku tidak bilang apa-apa padamu, Lu."
"Kau tahu, Hyung? Karena terlalu sebentar, aku sampai lupa tidak menanyakan nomor ponsel Sehun. Kekekeke." Jongin terkekeh pelan.
"Benarkah?" tanya Luhan entah pada siapapun. Mungkin pertanyaan barusan lebih tepat kalau ditujukan pada dirinya sendiri. Karena entah mengapa, walaupun Sehun mengangguk membenarkan penjelasan Jongin dan ikut terkekeh pelan, Luhan seperti tidak bisa percaya sepenuhnya. Berdosakah dia karena untuk pertama kalinya dia meragukan Sehun?
Luhan tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Bertemu dengan mantan kekasih dari namjachingunya. Berada di tengah-tengah antara namjachingu dan mantan kekasih dari namjachingunya. Bukan hanya sekedar mantan kekasih. Tapi, Jongin adalah cinta pertama Sehun. Cinta yang membuat Luhan menunggu sangat lama hanya untuk mendengar kata 'CINTA' keluar dari bibir tipisnya. Cinta yang membuat Sehun meragukan hatinya sendiri selama berbulan-bulan. Dan sekarang, setelah Sehun akhirnya yakin pada hatinya. Saat Luhan merasa semuanya sempurna. Saat Luhan berfikir kalau dia tidak akan pernah bisa merasa lebih bahagia dari ini. Apakah dia harus kehilangan itu semua?
Melihat Luhan yang sepertinya tengah berkelana dalam dunianya sendiri, Sehun menggenggam tangan Luhan dengan satu tangannya. Menyadarkan Luhan dari lamunannya. "Luhan-ah! Kau tidak apa-apa? Mengapa kau hanya diam saja? Apa kepalamu pusing lagi?" tanyanya sambil mengusap-usap pipi Luhan dengan tangan satunya. Tidak menyadari Jongin yang mengeraskan rahangnya di depan mereka.
Nama itu lagi. Bahkan hanya dengan mendengar Sehun memanggilnya dengan nama aslinya, Luhan melupakan keraguan yang sempat terbesit di hatinya. Aniya. Sehun tidak mungkin berbohong padanya.
Luhan tersenyum manis dan memegang tangan Sehun yang tengah mengusap-usap pipinya yang merona. "Aniyo. Aku tidak apa-apa. Just thinking of something," jawab Luhan meyakinkan.
Jongin menatap malas kedua insan yang justru bermesraan di depannya ini. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sedikit mengerutkan keningnya saat tatapannya bertemu dengan dua pelayan kafe yang menatapnya tajam seolah ingin membunuhnya. Ada apa dengan tatapan mereka?
"Memikirkan apa sampai kau melamun seperti itu? Hmm?" tanya Sehun, masih mengusap lembut pipi Luhan. Luhan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia melepas tangan Sehun dari pipinya dan beralih pada Strawberry Cake nya. Ya, Sehun tidak mungkin berbohong.
"Aku tidak tahu kalau kau menyukai Strawberry Cake, Sehun-ah." Jongin menatap sepotong Strawberry Cake di depan Sehun. "Seingatku, kau tidak menyukainya dulu," lanjutnya.
"Kau tidak menyukai Strawberry Cake?" tanya Luhan. Mengapa dia baru tahu? Tapi, bukankah mereka selalu memesan ini kalau ke sini? Dan Sehun selalu menghabiskan cake-nya. Itu adalah pesanan tetap mereka sejak pertama kali ke sini. Ah, ya. Saat itu, Luhan yang memilihkannya untuk Sehun. Dia terlalu sibuk mengurusi duo dongsaeng usilnya saat itu.
"Kau tidak tahu, Hyung? Hhhmm, apa aku yang salah ya? Tapi aku ingat sekali, saat MOS dulu, kami disuruh membawa Strawberry Cake dan memakannya sebagai sarapan pagi kami. Aku yakin sekali saat itu Sehun memilih lari 50 kali putaran daripada harus menghabiskan cake-nya. Kekeke. Kau masih ingat itu kan Sehun?"
Sehun tertawa canggung mendengar kilasan memori yang disebutkan Jongin. "Tentu saja aku mengingatnya. Aku bahkan sampai harus dilarikan ke UKS karena pingsan saat menjalani hukumanku. Hehehehe." Dan tanpa dia sadari, mereka mulai membahas masa lalu. Membuat Luhan tersingkirkan secara perlahan dari obrolan mereka, dan membuat Jongin mengulum senyumnya.
"Itu salahmu sendiri. Siapa suruh menerima hukuman sepagi itu. Jelas-jelas kita belum sarapan," cibir Jongin. "Lagipula, apa susahnya sih memakan sepotong kue saja?"
"Memang hanya sepotong kue. Tapi aku tidak suka Strawberry." Sehun mengedikkan bahunya kemudian meminum bubble tea yang sempat terlupakan.
"Lalu, mengapa sekarang aku melihatmu yang terlihat sangat akrab dengan Strawberry Cake?" Jongin mengulang pertanyaannya tadi.
"Hmmm, entahlah. Mungkin karena itu cake pertama yang Luhan pilihkan untukku. Karena itu aku menyukainya," jawab Sehun seraya kembali meraih tangan Luhan dan menyatukan tangan mereka. Mengusap-usap punggung telapak tangan Luhan dengan ibu jarinya. "Aku rasa, semua yang berkaitan dengan Luhan, aku menyukainya," lanjutnya dan tersenyum manis pada Luhan. Membuat rona merah favoritnya muncul di kedua pipi Luhan.
"Ehm!" Luhan berdehem menutupi malu nya. "So, Jongin-ah. Apa yang kau lakukan di Seoul? Apa kau akan sekolah di sini?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan. Tidak ada salahnya kan bersikap ramah. Sepertinya Jongin tidak memiliki niat buruk padanya. Lagipula, apa yang terjadi pada hubungannya dengan Sehun sebelumnya bukan salah Jongin.
"Aniya. Aku hanya berlibur di sini. Sekaligus ingin menyelesaikan sebuah urusan dengan 'teman' lama," jawab Jongin.
Luhan mengerutkan keningnya. Bukankah Jongin bilang tadi dia tidak mempunyai teman di Seoul?
"Hmmmm. Sepertinya masalah serius?" Luhan tersenyum. "Ada yang bisa kami bantu? Kau bisa menghubungiku kalau membutuhkan bantuan. Kita kan berteman sekarang," tawar Luhan tulus.
"Kau benar ingin membantuku, Hyung?" Jongin mengangkat sebelah alisnya. "Eum," Luhan mengangguk mantap. Well, membantu teman tidak ada salahnya kan?
"Hmmmm, aku akan sungkan kalau harus merepotkanmu, Hyung." Jongin menunjukkan wajah menyesalnya. "Tapi, sebagai gantinya. Bolehkah aku meminjam Sehun beberapa hari ke depan? Aku membutuhkan Sehun untuk menyelesaikan urusanku."
"Eh?" Luhan membelalakkan matanya meminta pertanyaan Jongin. Begitu juga dengan Sehun.
Bahkan Baekhyun dan Kyungsoo yang sedari tadi memperhatikan mereka juga kaget atas apa yang diucapkan Jongin. Kalau saja ini bukan di tempatnya bekerja, Baekhyun pasti sudah mengusirnya dari tadi. Apa-apaan! Namja itu, datang tiba-tiba dan mengganggu hari sempurna Hyungnya, lalu kemudian bagaimana dia bisa meminta hal seperti itu pada Luhan?
Luhan mengedipkan matanya berkali-kali, seolah masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Jongin. Dia tidak salah dengar kan? Jongin meminta Sehun untuk menemaninya beberapa hari ke depan? Sehunnya? Bisakah dia melakukan itu?
Jawabannya sudah jelas. TIDAK.
Namun, ucapan dan tatapan Jongin yang ditujukan kepadanya, seolah memiliki makna yang tersirat. Seolah-olah dia berkata 'Apakah kau bisa mempertahankan Sehun jika dia berada jauh darimu beberapa hari saja?' atau 'Apa kau percaya pada Sehun walaupun saat Sehun bersama denganku?'. Sesuatu seperti itu. Dan Luhan merasa tertantang. Walaupun dia tahu mungkin dia akan kehilangan Sehun, tapi dia ingin mencobanya. Dia ingin membuktikannya. Kepercayaannya pada Sehun, itu tidak sia-sia, kan? Sehun bisa menjaga kepercayaan yang Luhan berikan, kan? Lagipula, dia tidak mau terkesan seperti kekasih yang overprotektif.
Dan dengan itu, Luhan mengangguk pasti. "Tentu saja!" jawabnya mantap. Membuat Sehun menatapnya tak percaya.
WHAT!? BaekSoo membelalakkan matanya. Apa maksud Luhan Hyung berkata seperti itu? apakah dia terlalu terpukul dengan kedatangan Jongin yang mengusik hari bahagianya? Sehun jelas melupakannya 4 hari yang lalu karena bertemu dengan Jongin. Dan sekarang, Luhan membiarkan Sehun 'dipinjam' oleh Jongin? Yang benar saja! Oh, right. Luhan masih belum tahu tentang masalah itu.
Ucapan Luhan sedikit mengagetkan Jongin. Bagaimana mungkin Luhan melepaskan namjachingunya begitu saja? Jongin yakin sekali kalau Luhan tahu hubungan antara Sehun dengannya di masa lalu. Namun kekagetan itu hanya sekilas. Karena sejurus kemudian, Jongin mengangkat satu ujung bibirnya. Membentuk sebuah senyuman manis namun terkesan sedikit licik. Sepertinya Luhan menangkap pesan di balik kata-katanya.
"Karena kau bilang kau tidak mempunyai teman di sini, aku rasa Sehun pasti bisa membantu," ucap Luhan kemudian menatap Sehun. "Betul kan, Sehun-ah?" tanyanya dengan tatapan 'Aku bisa mempercayaimu, kan?'.
Sehun masih menatap Luhan bingung. apa yang harus dijawabnya? Di satu sisi, dia ingin menolak permintaan konyol Jongin dan Luhan. Namun di sisi lain, dia ingin menerimanya. Apakah dia ingin menghabiskan waktu dengan Jongin? Jawabannya IYA. Tapi bagaimana dengan Luhan? Dia merasa, kalau dia meyetujui permintaan Luhan kali ini, dia akan menyakiti Luhan pada akhirnya.
"Waeyo? Kau tidak mau?" tanya Jongin. "Aaaahh, sayang sekali. padahal kan Luhan Hyung sudah memberikan izinnya."
"Luhan-ah, kau serius?" tanya Sehun tidak memperdulikan ucapan Jongin sebelumnya. "Eum. Membantu teman tidak ada salahnya kan? Wae? Sehunnie keberatan?" tanya Luhan. 'Please say 'yes'. Katakan kalau kau keberatan,' jerit Luhan dalam hati. Namun jawaban Sehun justru membuat harinya benar-benar menjerit perih.
"Entahlah. Kalau memang aku sedang tidak ada kegiatan, aku rasa aku bisa." Jongin tersenyum menang mendengar jawaban Sehun. Walaupun Sehun tidak menerimanya dengan jelas, tapi dia juga tidak menolaknya kan? Setidaknya, dia satu langkah lebih maju dari tujuannya.
~Urin doisang nuneul majuhaji aneulka
Sotonghaji aneulka
Saranghaji aneulka
Luhan mendongakkan kepalanya menatap Jongin yang mengundurkan dirinya sebentar untuk menerima panggilan di ponselnya. Luhan ingat sekali nada dering ini. Nada dering yang sama yang digunakan Sehun sampai beberapa bulan yang lalu. Mereka bahkan menggunakan nada dering yang sama?
"Hey. Xiao Lu!" panggil Sehun lembut. "Kau tidak apa-apa? Kau melamun lagi." Sehun menatapnya khawatir. "Aniyo. Gwaenchanna." Luhan hanya tersenyum dan kembali memakan Strawberry Cake nya.
"Sehun-ah!"
"Hmm?"
"Setelah ini, bisakah kau mengantarku pulang?" pinta Luhan. "Aeeeyy, pertanyaan macam apa itu, Lu? Tentu saja aku akan mengantarmu pulang," jawab Sehun. "Tapi, bukankah kau bilang masih ingin jalan-jalan dulu? Tidak jadi ke sungai Han?" tanya Sehun.
Luhan menggeleng pelang. "Aniyo. Tiba-tiba aku merasa sedikit pusing. Lagipula, sepertinya sebentar lagi akan hujan."
"Kepalamu pusing lagi? Apa kau kelelahan, Lu? Apa kita mampir ke apotik dulu untuk membeli obat?" tanya Sehun khawatir.
"Tidak perlu. Kita langsung pulang saja. Aku ingin istirahat," jawab Luhan menyandarkan kepalanya di bahu Sehun. "Arrasseo."
"Apa Luhan Hyung sakit?" tanya Jongin saat kembali. "Aniyo. Hanya sedikit lelah. Minseok Hyung yang menelfon?" tanya Sehun. "Eum. Sepertinya aku harus pulang sekarang. Hyung sudah mengomel. Hehehe"
"Geurae? Baiklah kalau begitu. Kami juga sudah mau pulang," ucap Sehun. Dan setelah saling bertukar nomor ponsel, Jongin pun meninggalkan kafe. Sebenarnya dia ingin meminta Sehun untuk mengantarkannya. Tapi, sepertinya Sehun tidak akan bisa meninggalkan Luhan sendiri. Mungkin lain kali. Saat Luhan tidak ada di tengah mereka.
~O.O~
Sehun paling tidak suka keheningan yang seperti ini jika sedang bersama Luhan. Bukan comfortable silent seperti biasanya. Namun keheningan yang sama seperti saat Sehun mengatakan kalau dia akan merayakan Christmas di Busan. Luhan terlihat murung. Dan Sehun jadi kebingungan sekarang.
Apa Luhan memikirkan Jongin? Tentu saja iya. Dasar Sehun pabbo, rutuknya.
"Luhan-ah? Mengapa kau diam saja? Apa sangat sakit?" tanya Sehun pada Luhan yang saat ini berada di punggungnya.
Luhan tidak menjawab apa-apa. Dia hanya mengangguk pelan dan mengeratkan rangkulannya pada leher Sehun. Tapi tidak sampai membuat Sehun tercekik.
'Sakit sekali, Sehun-ah. Tapi bukan di kepala. Di tempat lain. Di dadaku. Rasanya seperti terhimpit sesuatu. Apakah ini akan menjadi yang terakhir kalinya kau menggendongku seperti ini?' Luhan menghirup harum tubuh Sehun sebanyak yang dia inginkan.
Sehun menghembuskan nafasnya pelan. Bukankah tadi sore mereka masih baik-baik saja? Masih saling bercanda dan melemparkan senyum manis. Bahkan Sehun masih bisa merasakan manisnya bibir Luhan saat menciumnya tadi siang. Lalu, mengapa tiba-tiba semuanya jadi begini?
"Kau yakin tidak mau ku temani sampai Baekhyun Hyung dan Kyungsoo Eomma datang?" tanya Sehun setelah menurunkan Luhan dari gendongannya seraya menyibakkan poni Luhan. Walau dengan cahaya teras yang sedikit redup, Sehun bisa melihat dengan jelas wajah sendu Luhan. Ayolah. Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan Luhan dalam keadaan seperti ini?
"Gwaenchanna, Sehun-ah. Pulanglah! Kau pasti lelah. Seharian jalan-jalan dan harus menggendongku sepanjang perjalanan pulang." Luhan tersenyum tipis, berusaha meyakinkan Sehun.
"Tapi kau tidak baik-baik saja, Lu! Aku bisa melihatnya!" Sehun beralih menangkup kedua pipi Luhan agar menatapnya. "Tell me! Apa ini karena Jongin? Apa karena permintaan Jongin tadi? Kalau kau keberatan, kau tinggal bilang padaku, Lu. Aku pasti akan menolaknya," tegas Sehun.
Luhan langsung menyembunyikan kepalanya di dada bidang Sehun. Menyembunyikan air mata yang memaksa untuk keluar. Menutup matanya erat-erat untuk menahannya. Sehun membalas pelukan Luhan seraya mengelus-elus punggungnya perlahan. Mencoba menghilangkan kegelisahan yang sedang dirasakan Luhan saat ini.
'Aku ingin kau menolaknya Sehun. Tapi bukan karena aku yang memintamu. Aku ingin kau menolak ajakan Jongin karena memang kau tidak ingin melakukannya.'
"Sehun-ah!" panggil Luhan pelan. "Hmm?"
"Aku..." Luhan menggantungkan kalimatnya. 'Aku bisa mempercayaimu kan? Kau tidak akan menghianatiku kan?'
"Kau kenapa, Lu?" tanya Sehun seraya mendongakkan wajah Luhan. Menatap mata Luhan yang juga menatap maniknya intens. Sehun bersumpah dia bisa melihat keraguan dan kesedihan di mata indah itu.
"Kiss me, please!" pinta Luhan masih menatapnya. Luhan mengucapkan kalimat itu antara sadar dan tidak. Dia hanya ingin Sehun menciumnya. Merasakan bibir Sehun yang selalu berhasil membuatnya hatinya tenang. Yang selalu berhasil meyakinkan Luhan kalau Sehun akan selalu bersamanya. Kalau semua akan baik-baik saja. Kalau Sehun adalah miliknya. Kalau Sehun akan selalu mencintainya.
Sehun bukan tidak tahu mengapa Luhan seperti ini. Jujur, dia sendiri juga tidak yakin dengan perasaannya sekarang. Dia mencintai Luhan. Sangat mencintainya. Lalu bagaimana dengan perasaannya pada Jongin?
Sehun tersenyum manis, menangkupkan tangannya pada pipi Luhan dan menempelkan bibirnya dengan bibir manis Luhan. Hanya menempelkan. Hanya sebuah ciuman manis. Tidak ada lumatan-lumatan lembut seperti biasanya, apalagi perang lidah seperti ciuman mereka akhir-akhir ini. Dan itu berlangsung cukup lama sampai Luhan melepaskan ciuman mereka.
Ciuman Sehun kali ini, bukan hanya tidak bisa membuatnya tenang. Ciuman Sehun kali ini, justru semakin membuatnya ragu. Bukan karena Sehun tidak menciumnya seperti biasa. Bukan karena Sehun tidak melumat bibirnya. Tapi, karena Luhan sendiri bisa merasakan keraguan Sehun dalam ciuman itu. Luhan bisa merasakan kalau Sehun juga tidak yakin pada perasaannya sendiri. Dan itu membuatnya terluka. Kalau Sehun saja tidak yakin akan perasaannya sendiri, lalu bagaimana dengan dirinya?
"Pulanglah, Sehun-ah. Sebentar lagi Baekhyun dan Kyungsoo juga akan pulang. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, ne!" ucap Luhan seraya memberikan senyum manisnya pada Sehun. Senyuman yang justru membuat Sehun semakin khawatir sebenarnya.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Sehun memastikan. "Eum," Luhan mengangguk pelan kemudian mencium bibir Sehun dan melumatnya pelan. Kalau memang ini mungkin menjadi hari terakhirnya bisa mencium Sehun, merasakan bibir itu, maka Luhan benar-benar ingin mengingat bagaimana rasanya bibir itu.
"Berapa kali harus aku bilang kalau aku tidak apa-apa. Aku bukan anak SD Sehun-ah. Aku bahkan lebih tua darimu." Luhan mem-pout-kan bibirnya membuat Sehun terkekeh kecil.
"Arrasseo, arrasseo! Aku kan hanya khawatir, Lu!" Sehun mengacak rambut Luhan kemudian meraihnya kedalam pelukan eratnya. "Kau tahu kan? Aku mencintaimu. Saranghae, Xiao Lu!" ucapnya. "Aku benar-benar sangat mencintaimu!"
Luhan tersenyum tipis dalam pelukan Sehun. Seharusnya kalimat itu membuatnya bahagia kan? Seharusnya kalimat itu bisa menghapus semua keraguannya kan? Sehun mencintainya. Kalimat itu membuktikannya. Namun mengapa hatinya masih gelisah? Pada kenyataannya, kalimat itu tidak membantu kegelisahannya sama sekali. Karena lagi-lagi, Luhan bisa merasakan sedikit keraguan dari kalimat Sehun. Seolah-olah kalimat itu tidak sampai ke hatinya.
"Arra. Nado, Sehun-ah. Aku juga sangat mencintaimu!" Namun Luhan memutuskan untuk menyingkirkan keraguannya. Tidak. Dia tidak boleh meragukan cinta Sehun. Setelah apa yang Sehun lakukan untuk membahagiakannya, Luhan tidak berhak untuk meragukan Sehun. Namun—
"Aku tidak perduli kalau Sehun masih mengaharapkan Jongin kembali." — Ucapannya malam itu kembali terngiang di telinga Luhan bersamaan dengan menghilangnya sosok Sehun di ujung jalan sana.
Apakah sampai saat ini Sehun masih mengharapkan Jongin kembali?
~O.O~
Dua hari semenjak pertemuan keduanya dengan Jongin di kafe, Sehun tidak pernah mendengar kabar dari Jongin lagi. Mungkin dia tidak bersungguh-sungguh saat mengatakan akan meminjam dirinya dari Luhan. Seharusnya dia lega, karena itu berarti dia bisa menghabiskan waktunya dengan Luhan. Namun, mengapa ada bagian kecil di sudut hatinya yang merasa kecewa? Apa Jongin benar-benar hanya bercanda saat itu?
Beep. Beep.
Ponsel Sehun berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk. Sehun langsung meraih ponsel di saku jaketnya untuk membaca pesan tersebut.
From: Xiao Lu
Sehunnie! Masih menunggu dosen untuk asistensi?
Sehun tersenyum sendiri saat membaca pesan dari kekasih imutnya itu.
To: Xiao Lu
Eum, wae?
.
From: Xiao Lu
Aniyo. Just asking :) Kau mau aku temani? Kelasku sudah selesai.
.
To: Xiao Lu
Kau mau jalan ke sini dan menungguku? Apa kau begitu merindukanku, Xiao Lu? ;)
.
From: Xiao Lu
Aiiiihhh, PeDe mode On, I see :)
.
To: Xiao Lu
Kekekeke. That's who I am :)
.
From: Xiao Lu
Kekekeke. I know :) So?
.
To: Xiao Lu
Aniyo. Tidak perlu. Lebih baik kau makan siang saja. Jangan hanya makan kue dan minum bubble tea, Xiao Lu. Lihatlah, badanmu semakin hari semakin kecil saja.
.
From: Xiao Lu
Yaaaaaahhh! Tidak perlu mengatakan itu juga kan -_- Andwae, aku ingin makan bersama Sehunnie *pouting*
.
To: Xiao Lu
Tapi aku masih lama, Lu. Aku tidak mau kau pingsan saat aku tidak bersamamu.
.
From: Xiao Lu
Sehun-aaaaaahhh, aku tidak selemah itu! Arrasseo. Aku akan makan duluan setelah itu menunggumu di perpus seperti biasa, ne?
.
To: Xiao Lu
Baiklah. Jangan melirik namja lain saat aku tak ada, ne! ;)
.
From: Xiao Lu
You know I won't. Tapi kalau yeoja? O.O
.
To: Xiao Lu
Yaaaaaakkk!
.
From: Xiao Lu
Kekekekeke. Arrasseoyo. Hmmmm, Sehun-ah?
.
To: Xiao Lu
Kenapa? Kau ingin mengatakan sesuatu?
.
From: Xiao Lu
Apa nanti kau ada acara? Aku ingin membeli buku. Kau bisa mengantarku?
Sehun tersenyum membaca pesan Luhan. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja Sehun akan mengantarkannya dengan senang hati. Dasar Xiao Lu. Kekekeke. Dia baru akan membalas pesan Luhan saat dia menerima satu pesan lainnya. Mengira itu dari Luhan, Sehun langsung membukanya.
From: 8201068712***
Sehun-ah! Bisa kita bertemu siang ini?
Jongin
Jongin? Tanpa pikir panjang lagi, tangan Sehun seolah bergerak sendiri dan langsung menjawab pesan tersebut. Bahkan sebelum bertanya pada Luhan.
Tentu saja!
~O.O~
Luhan mengetuk-ketukkan jemarinya di atas meja saat Sehun tidak kunjung membalas pesannya. Apa itu berarti Sehun tidak bisa menemaninya?
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Dia terlonjak kaget saat ponselnya berdering. Sehunnie? Bukankah mereka tadi saling mengirim pesan? Mengapa tiba-tiba Sehun menelponnya?
"Sehun-ah? Ada apa? Bukannya kau sedang menunggu dosenmu?" tanya Luhan.
"Luhan-ah!" Sehun memanggilnya tanpa menjawab pertanyaannya. Suaranya terdengar seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi ragu. "Wae?"
"Errmm, Jongin menghubungiku. Katanya dia ingin bertemu." Luhan bisa merasakan dadanya mulai berdenyut saat mendengar nama itu. "Jongin? Kenapa dia ingin menemuimu?"
"Aku juga tidak tahu. Apa aku harus menemuinya? Atau aku tolak saja?" Pertanyaan itu lagi. Mengapa Sehun tidak bisa memilih sendiri jawabannya? Atau Sehun punya jawaban, tapi takut menyakiti perasaannya?
"Aniyo. Temui saja. Mungkin Jongin butuh bantuanmu. You know. Tentang urusan yang dikatakannya waktu itu," jawab Luhan mencoba untuk terdengar ceria.
"Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau bilang akan membeli buku?"
"Cih, gwaenchanna. Hanya sebuah buku. Aku bisa membelinya kapan-kapan. Atau aku bisa meminta Baekhyun atau Kyungsoo untuk mengantarku nanti," jawab Luhan.
BOHONG. Buku itu bukan HANYA sebuah buku. Launching novel dari penulis favoritnya yang juga dihadiri oleh si penulis langsung. Dan itu berarti, kalau Luhan membeli novelnya hari ini, dia bisa bertemu langsung dengan penulisnya, dan dia juga bisa mendapatkan tanda tangan di novelnya. Tapi bukan salah Sehun yang tidak bisa menemaninya. Salah Luhan yang tidak memberitahu Sehun dari jauh hari. Alasannya, karena Sehun tidak pernah membiarkan Luhan pergi sendiri. Siapa yang menyangka kalau Jongin akan mendahuluinya?
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Sehun dari seberang sana. Luhan mengangguk pelan. Namun saat menyadari kalau Sehun tidak bisa melihatnya, Luhan langsung menjawab singkat. "Ne."
"Arrasseo. Kalau begitu, nanti setelah aku selesai dengan urusan Jongin, aku akan mengunjungimu, ne?"
"Ne!" Luhan menyahut pelan sebelum sambungan telefon terputus. Sehun bahkan tidak bertanya dia akan pulang dengan siapa. Sehun bahkan tidak bertanya bagaimana makan siangnya tanpa Sehun. Sehun hanya menelfonnya untuk menanyakan tentang ajakan Jongin.
Tiba-tiba saja nafsu makan Luhan menghilang. Dia bergegas membereskan barang-barangnya dan beranjak pulang. Lebih baik dia istirahat di rumah. Setidaknya itu dapat mengalihkan pikirannya dari Sehun dan apa yang akan dilakukannya dengan Jongin nanti.
GREBB
Luhan menghentikan langkahnya saat seseorang menutup matanya dari belakang. Dia tahu tangan siapa ini. Dia juga tahu wangi parfum maskulin ini. Dia sangat mengenalnya, hingga dia merasa amat kecewa karena orang yang sedang menutup matanya kini bukanlah Sehunnya. Tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan senyumnya karena prilaku kekanakan sahabatnya ini.
"Tidak bisakah kau menyapaku dengan normal, Tuan Wu?" tanya Luhan tanpa berusaha melepaskan tangan itu dari matanya.
"Hehehehehe. Jawabannya tidak bisa. Kalau aku menyapamu dengan normal, berarti aku sama dengan temanmu yang lain. Aku harus mempunyai ciri khas sendiri agar kau mengingatku, 'Princess'!" jawab Kris.
"Chh, tanpa harus begitu pun aku tahu kalau itu kau. Siapa lagi yang tingginya seperti tiang listrik di kampus ini," balas Luhan sambil melanjutkan perjalanannya.
"Well, terima kasih untuk pujiannya, Princess!"
"Well, sama-sama, Tuan Wu! Kekekeke"
Kris menemani Luhan berjalan menelusuri koridor sambil terus mengajaknya bercanda. Dia bisa merasakan kalau Luhan sedang bersedih saat ini.
"Tidak bersama Sehun?" tanya Kris akhirnya setelah menimbang cukup lama. "Sehun sedang ada urusan." Luhan mengedikkan bahunya pelan. Berusaha menutupi hatinya yang sedikit tergores saat Kris menanyakan Sehun.
"Hmmmm," Kris mengangguk mengerti. Tepat seperti dugaannya.
"Hey, kau tidak akan ke toko buku? Aku dengar penulis favoritmu sedang launching novel barunya di sana." Luhan menghentikan langkahnya dan menatap Kris sesaat sebelum kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Bahkan Kris tahu tentang itu, mengapa Sehun tidak?
"Aniyo," jawab Luhan singkat. "Aku tidak ada waktu ke sana," lanjutnya lagi. Kris tahu kalau Luhan berbohong. Luhan yang dia kenal tidak mungkin melewatkan kesempatan langka seperti ini.
"Apa Sehun tidak bisa menemanimu?" tanya Kris kemudian. "Tidak. Bahkan tadi dia menawariku, tapi aku sedang sibuk saat ini." Bohong lagi, pikir Kris.
"If you say so." Kris mengedikkan bahunya. "Lalu, kau akan pulang dengan siapa sekarang? Bukankah kau bilang kalau Sehun sedang ada urusan?"
"Tentu saja aku akan pulang sendiri Kris Wu." Luhan memutar bola matanya. "Aeeeyyy, tidak perlu sewot begitu. Tell me, apa Princess lagi datang bulan?"
"Yaaaaaaaaaaaakkk!" Luhan meninju lengan Kris pelan. "Ahahahahaha. Habisnya kau sewot, Lu." Kris memegang perutnya menahan tawa. "Kalau begitu, mau aku antar pulang? Kau tahu, langit sedikit mendung. Sepertinya akan segera hujan," tawar Kris.
Sebenarnya Luhan ingin sekali mengangguk setuju dan menerima tawaran Kris. Tumpangan gratis. Dia tidak perlu membayar ongkos bis. Dia juga tidak perlu berjalan kaki yang pastinya akan membosankan tanpa Sehun. Dan dia juga tidak perlu takut kehujanan. Ya, walaupun hujan akhir-akhir ini tanpa kilat dan petir yang mengiringi, tapi kan kalau kehujanan bisa sakit. Dan itu akan membuat semua orang khawatir. Belum lagi kalau harus mendengarkan ceramah dari BaekSoo yang pasti akan menganggapnya sengaja hujan-hujanan.
NO WAY!
Tapi—
"Hmmmm, aku rasa aku pulang sendiri saja. Kalau memang hujan, aku akan membeli payung di toko depan kampus. Atau aku kan bisa berteduh. Atau aku bisa mampir ke kafe nanti."
—Luhan tidak bisa menerima tawaran itu. Tidak saat dia tahu kalau Sehun tidak menyukai kedekatannya dengan Kris. Tidak saat dia tahu sebesar apa rasa cemburu Sehun jika nama Luhan dan Kris berada dalam satu kalimat. Walaupun Sehun tidak mungkin mengetahuinya, tapi dia tidak bisa. Dia merasa seperti mengkhianati Sehun jika menerima tawaran Kris.
Lagi-lagi Kris mengangguk paham. "Arrasseo. Kalau begitu, pakai ini saja!" Kris merogoh tas ranselnya dan mengambil sebuah payung kemudian menyodorkannya pada Luhan. "You know, daripada harus membeli yang baru, sebaiknya pakai ini saja. Aku kan membawa mobil, jadi aku tidak memerlukannya."
"Gomawo," ucap Luhan menerima payung yang pemberian Kris. Dia sudah merasa sangat tidak enak pada Kris karena menolak niat baiknya. Jadi dia tidak mungkin menolaknya lagi.
"Oke! Kalau begitu aku duluan ya. Sampai jumpa, Princess!"
Luhan hanya tersenyum mengiringi kepergian Kris kemudian kembali meneruskan perjalanannya. Well, sepertinya perjalanan pulang kali ini akan terasa lebih panjang. Gwaenchanna, toh dia masih bisa melihat Sehun nanti malam kan? Sehun berjanji akan mengunjunginya begitu urusan Jongin selesai.
Tapi sampai jam 10 malam dia menunggu, Sehun sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Bahkan sampai Luhan beranjak untuk tidur, tidak ada pesan dari Sehun.
"Aku tidak perduli kalaupun aku hanya menjadi pelarian dari Jongin." — Lagi-lagi ucapannya malam itu terngiang di telinga Luhan.
Apakah selama ini dia benar-benar hanya pelarian bagi Sehun?
~O.O~
"Whoaaaa! Hari Sabtu dan Hyung manisku sedang duduk manis di depan televisi?" ucap Baekhyun tak percaya. Tidak biasanya Luhan berada di rumah hari Sabtu. "Tidak ada kencan hari ini, Hyung?" tanya Baekhyun.
"Sehun sedang sibuk," jawab Luhan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Sibuk dengan namja bernama Kim Jongin itu? Kau tahu, Hyung? Aku rasa, aku mulai tidak menyukai Sehun!" seru Baekhyun yang berhasil menarik perhatian Luhan yang kemudian menatapnya dengan tatapan 'apa maksudmu?'. Kyungsoo yang berada di samping Luhan pun ikut menatapnya, tiba-tiba penasaran dengan apa yang akan diucapkan Baekhyun selanjutnya.
"Kau tahu dengan jelas apa maksudku, Hyung. Kita semua tahu seberapa sibuknya Sehun akhir-akhir ini. Kalian bahkan jarang makan siang tepat waktu. Kau selalu menunggunya, Hyung. Tapi ketika that Kim Jongin datang, dia seolah-olah memiliki banyak waktu luang hanya untuk menemani Jongin entah kemana. Now tell me, Hyung. Mengapa dia bisa begitu?" tanya Baekhyun. Dia sudah cukup lelah melihat perlakuan Sehun yang terkesan seperti mengabaikan Luhan. Hanya karena Luhan mengizinkannya, bukan berarti dia bisa menerima ajakan Jongin setiap saat kan!
"Kau tahu sendiri Baekkie-yah, Sehun hanya membantu Jongin untuk menyelesaikan urusannya." Sebenarnya Luhan sendiri ragu apa itu jawaban yang sebenarnyanya, namun dia tidak memiliki jawaban lain. Atau lebih tepatnya, dia tidak ingin mengetahui kemungkinan adanya jawaban lain selain itu.
"Hyung! Bahkan dia melupakan kencan kalian dan membiarkanmu menunggu di tengah cuaca seperti itu! Padahal dia tahu tentang phobiamu!" Baekhyun mulai meninggikan suaranya.
"Aku pikir kita sudah selesai membahas ini, Baekhyun-ah. Lagipula, kejadian waktu itu tidak ada hubungannya dengan Jongin. Kau tahu sendiri kan alasan Sehun lupa. Jung Seonsaeng-nim memanggilnya," jawab Luhan tenang. Dia tahu kalau Baekhyun mulai emosi. Tapi, beradu mulut dengan Baekhyun tidak ada gunanya.
"Dan kau percaya?" tanya Baekhyun singkat. Luhan mengerutkan keningnya. Apa maksud Baekhyun? Tentu saja Luhan percaya pada Sehun. "Kalau saja kau tahu alasan yang sebenarnya," ucap Baekhyun pelan. Sangat pelan. Namun entah kenapa, Luhan mendengarnya dengan jelas.
"Apa maksudmu dengan alasan yang sebenarnya?" tanya Luhan membuat Kyungsoo membulatkan matanya. Tidak. Luhan tidak boleh tahu hal ini, pikirnya.
"Dia—"
Ting Tong
"Aku akan membuka pintunya," ucap Kyungsoo canggung kemudian berjalan ke arah pintu.
Luhan sendiri sama sekali tidak memperhatikannya. Perhatiannya masih tertuju pada Baekhyun. Masih menagih penjelasan dari kalimat Baekhyun sebelumnya. Apa maksud Baekhyun mengatakan itu? Apa Baekhyun mengetahui apa yang tidak diketahuinya?
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Baekhyun-ah," tagih Luhan.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Merutuki dirinya karena terbawa emosi dan mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakannya. Apa yang harus dikatakannya sekarang? Apa dia katakan saja? 'Kyungsoo sialan! Berani-beraninya dia meninggalkanku dalam keadaan seperti ini!' rutuknya dalam hati.
"Baekhyun-ah! You know something, don't you?" tagih Luhan lagi. Baekhyun menatap Luhan gugup. Oke! Persetan dengan Oh Sehun yang sudah berani menyakiti Hyung tersayangnya. Luhan berhak untuk tahu.
"Dia—"
"Luhan Hyung!" panggil Kyungsoo tepat pada waktunya. Membuat Luhan mengalihkan pandangannya dari Baekhyun ke Kyungsoo. Tidak menyadari Baekhyun yang menghembuskan nafas lega dan mengucapkan 'terima kasih' pada Kyungsoo tanpa suara.
"Ada paket untukmu," ucap Kyungsoo kemudian berjalan menuju sofa Luhan duduk dan meletakkan paket itu di atas meja. "Dari siapa Kyungie?" tanya Luhan bingung. Sepertinya melupakan pertanyaannya yang belum dijawab oleh Baekhyun.
"Molla Hyung. Tidak ada nama pengirimnya. Kita buka saja," usul Kyungsoo yang langsung diangguki oleh Baekhyun. Lumayan untuk mengalihkan perhatian Luhan dari pertanyaannya tadi, pikirnya.
Luhan ikut mengangguk setuju dan membuka paket itu dengan hati-hati. Matanya langsung membelalak antara kaget dan senang saat melihat isinya.
"Hyung! Bukankah itu buku yang sangat ingin kau beli?" tanya Kyungsoo mengambil buku yang ada di dalam kardus paket. "Bahkan ada tanda tangan asli dari penulisnya!" seru Baekhyun.
"Tapi, mengapa tidak ada nama pengirimnya? Apa penulisnya yang mengirimkannya padamu langsung? Ah, itu tidak mungkin. Lalu siapa?" tanya Baekhyun. "Apa mungkin ini dari Sehun?" tanya Kyungsoo kemudian.
Luhan meraih buku yang berada di tangan Kyungsoo dan membuka halaman pertamanya. Dia lalu menggeleng pelan dan tersenyum. "Aniyo. Ini bukan dari Sehun," jawabnya singkat.
Aku harus mengantri dan berdesakan selama berjam-jam demi buku ini. Jadi jangan murung lagi! Karena Princess tidak pantas murung. Princess hanya pantas tersenyum.
"You know Hyung. Saat ini, untuk pertama kalinya aku berfikir. Seandainya saja yang menjadi kekasihmu itu Kris Hyung," ucap Baekhyun tiba-tiba. "Dan untuk pertama kalinya, aku sepikiran dengan Baekhyun Hyung," sahut Kyungsoo.
Luhan memutar bola matanya malas mendengar ucapan BaekSoo. "Lalu kenapa kalau pacarku itu Kris? Tidak akan ada yang berbeda."
"Jelas ada Hyung!" jawab Baekhyun.
"Pertama, Kris Hyung tidak akan melupakan kencan kalian." -Kyungsoo.
"Kris Hyung tidak akan membuatmu menangis dan akan membuatmu selalu tersenyum seperti saat ini." -Baekhyun.
"Dia tidak punya sejarah perpisahan yang tidak menyenangkan dan mantan kekasih yang tiba-tiba datang dan merusak semuanya." -Kyungsoo.
"Dan yang terpenting, Kris Hyung tidak akan mengabaikanmu dan memilih untuk menemani mantan kekasihnya," ucap Baekhyun menutup penjelasan kolaborasinya dengan Kyungsoo. Mungkin ucapannya sedikit, aniya, sangat menusuk untuk Luhan. Tapi Luhan perlu membuka matanya dan melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Luhan terkekeh pelan mendengarkan penjelasan BaekSoo dan mengacak rambut mereka berdua bergantian. "Kalian terlalu melebih-lebihkan. Ayolah, Sehun hanya melakukan satu kesalahan dan kalian melupakan semua hal yang sudah dilakukannya untuk membuatku bahagia? Saat Natal, saat Valentine, dan masih banyak lagi. Mengapa kalian hanya melihat kesalahan kecil yang dilakukannya dan melupakan itu semua? Itu tidak adil untuk Sehun."
"Lalu bagaimana dengan namja itu?" tanya Baekhyun masih berikeras untuk menyadarkan Luhan. "Sehun hanya ingin membantu Jongin. Apa salahnya sesama teman saling membantu. Seperti kita. Lagipula, aku yang mengizinkannya, kan? Kalian dengar sendiri saat di kafe waktu itu."
"Tapi Hyung—"
"Baekhyun-ah. Jebal!"
'Jangan membuatku merasa ragu lebih dari ini. Jangan membuatku merasa bersalah pada Sehun karena meragukannya lebih dari ini. Jangan membuatku merasa sakit lebih dari ini. Jangan membuatku memikirkan kemungkinan terburuk yang mugkin terjadi pada hubungan kami lebih dari ini. Aku mohon.'
Baekhyun terdiam saat melihat tatapan memohon Luhan. "Mianhae, Hyung," ucapnya kemudian memeluk Luhan erat. "Aku hanya takut kau terluka. Aku tidak ingin melihatmu terluka, Hyung." Luhan membalas pelukan Baekhyun dan mengerjapkan matanya berkali-kali agar air matanya tidak tumpah. Agar Baekhyun tidak melihatnya menangis. "Arrasseo!" jawab Luhan. "Aku tahu."
"Aku tidak perduli kalaupun Sehunnie bersamaku hanya sampai Jongin kembali." — Lagi, Luhan seolah bisa mendengar kata-kata yang ditujukannya pada Sehun saat menyatakan perasaannya malam itu.
Apa semuanya benar-benar akan berakhir sekarang? Saat Jongin kembali?
~O.O~
TeBeCe
A/N:
Akhirnya selesai juga. Fiuuuh #elapkeringat
Mianhae karena chapter ini lelet. Liyya keasyikan main Cooking Academy 3, tau-tau udah beberapa hari berlangsung n Liyya belom ngetik sama sekali -_-
Oke! Bagaimana dengan chapter ini? Membosankan? Mari kita bergalau-galau ria bersama Luhan :D Penderitaan Luhan belom berakhir kok, tenang aja ;) Masih ada mungkin satu chapter lagi buat penderitaan Luhan, setelah itu baru hukum karma berlaku ;)
Tidak henti-hentinya Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
destyrahmasari: muehehehehe, gomawo karena masih setia nunggu chap selanjutnya #hugDesty :* :*
Makasih udah ngereview^^
sari2min: Jongin emang selalu muncul di saat yang paling tepat kak #ikutanSmirk Luhan emang terbutakan oleh cinta. Baekkie aja sampe' sebel noh. Nanti ada saatnya HunHan renggang kak. Tenang aja ;) Luhan bakal meledak kalau saatnya(?) sudah tiba :D
Makasih udah ngereview^^
: Jongout habis Liyya SMS biar muncul di saat yang tepat . Sabar yaaaa, Jongin bakal terus menghantui HunHan sampe' Sehun bener-bener menegaskan pilihannya ;)
Makasih udah ngereview^^
chyshinji0204: Jongin belajar dari sasaeng fans mungkin -_- eh tapi tenang, Jongin gak nguntit HunHan kok, dia cuma kebetulan berpapasan(?) Emang sih gak lama lagi udah gak eksis dianya. Tapi, kalau Sehun milih Jongin gimanaaa? O.O
Makasih udah ngereview^^
Oh YoungHun: Terakhirnya HunHan? Bisa dipertimbangkan #plakk
Makasih udah ngereview^^
LuhanDeer: Iya, udah sampe' sini . wkwkwkwk. Mau KrisHan tapi gak rela kalo gak HunHan? Trus gimana donk? o.O
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: Nanti Luhan pasti bakalan tahu kok alasan sebenarnya. Entah dari sapa itu -_- Luhan emang terlalu baik #hugLuhan :( Wuiiih, Jongin makin nempel aja mah sama Sehun -_-
Makasih udah ngereview^^
eunhuna: huweeee #sodorintissu emang ngenes banget kalo jadi Luhan, Liyya juga pernah merasakan itu kok :(
Makasih udah ngereview^^
RirinSekarini: ooowwwhhh, gitu ya #angguk2 :) Jongin gak Cuma berani muncul. Tapi dia juga berani minta begituan sama Luhaaaan -_-
Makasih udah ngereview^^
ferinaref: Liyya juga gak tega liat Luhan yang clueless gitu :( Gimana jadinya kalau dia tau alasan yang sebenarnya o.O
Makasih udah ngereview^^
fieeloving13: Jongin bakal sering-sering datang n ngerusuh, itukan tugasnya dia #plakk #ditendangKkamjong -_- muehehehe, gwaenchanna Saeng :D
Makasih udah ngereview^^
Kiela Yue: Sebenernya kurang tuh marahinnya. Kalau bukan karena Luhan, mungkin Sehun udah tinggal nama doank di tangan BaekSoo -_- Emang tugasnya Kkamjong ntu untuk ngerusak moment indah HunHan Riiin #dilemparpanci #poppoRinabaliik :*
Makasih udah ngereview^^
dian deer: wkwkwkwk, emang tamvan atau tidak itu tergantung yang melihat kok :D Reviewnya gak kepanjangan kok. Eon malah senang banget kalo baca repiu yang super panjang :)
Makasih udah ngereview^^
HunHan Baby: Oke oke oke, Kakak juga gak tau mau balas apa di sini hehehehe. Ini udah lanjut dek, tapi hepi end gak ya? Enaknya gimana?
Makasih udah ngereview^^
Little Deer: Apa? Lama? Perasaan Cuma selang berapa hari doank, Saeng. Gak nyampe' seminggu juga . Sehun bohong kan demi kemaslahatan(?) umat. Gak liat tuh BaekSoo yang udah siap2 dengan pisau di tangan o.O Luhan itu terlalu baik n terlalu cinteh sama Sehun -_- Iya saeng. Eon berusaha keras banget neh membiasakan diri gak mubazir koma. Gomawo buat sarannya ya, n setelah eon liat-liat lagi, ternyata emang lebih rapi begini .
Makasih udah ngereview^^
XiaLu BlackPearl: hayo, gimana dong #apa-an? O.O Ini udah lanjut ya :D
Makasih udah ngereview^^
Queen DheVils49: Jangankan kamu, Liyya aja sebel sampe' ubun-ubun coba -_-
Makasih udah ngereview^^
verastef: Emang lebih seru bikin HunHan yang sweet, Saeng. Makanya chap ini rada lelet :/
Makasih udah ngereview^^
haejoonma: Emang itu tugasnya Kkamjong kan o.O #dilemparwajan -_- Luhan Sehun bersatu gak ya? Enaknya gimana?
Makasih udah ngereview^^
kyunggf: Dan inilah yang terjadi. Udah kejawabkan? Liyya pasti semangat nulis dengan dukungan dari kamu ;) #gombalnularSehun #plakk -_-
Makasih udah ngereview^^
Lee MingKyu: Sehun ngibul atas titah dari duo usil yang tiba-tiba jadi menyeramkan ntu #nunjukBaekSoo Sehun pasti bakal tersiksa karena gak boleh deket-deket Luhan kok. Tapi nanti yaaa ;)
Makasih udah ngereview^^
Shizuluhan: Kenapa Sehun berbohong? Tanyakan pada rumput yang bergoyang #ditendangShizu Lah kalau Jongin gak menghancurkan hubungannya HunHan, trus dia ngapain donk di sini? O.O Oke, ini udah lanjut :D
Makasih udah ngereview^^
ajib4ff: Emang sedih eon kalo dibo'ongin gitu. Apalagi dia satu-satunya orang yang gak tau :( Tapi chap ini gak sampe' membutuhkan ember kok eooon, tenang aja :D
Makasih udah ngereview^^
Nevada Adhara: Greget? Aseeeekkk . oke, ini udah lanjut ya :)
Makasih udah ngereview^^
finky'lulu: Kkamjong emang tegaaaa :'( Gwaenchanna. Gomawo udah repiu yaaa :) Mungkin Sehun masih ada rasa sama Jongin. Mungkin juga, dia merasa kalau dia masih ada rasa sama Jongin #mbulet
Makasih udah ngereview^^
ki-si: Iya neh, soalnya kamu review nya pas Liyya mau post chap baru :) Ayo kita kolaborasi buat nabok Sehun n Jongin #ditabokbalik -_- Jujur juga, Liyya aja nggak tega bikin Luhan tersiksa begini :(
Makasih udah ngereview^^
ssjllf: Hiyaaaa #ikutantendangKkamjong :) Namanya juga Hurt/Comfort. Kan sedih-sedih dulu, baru entar seneng-seneng :D
Makasih udah ngereview^^
fangirl-shipper: Sama dooonk. Eon juga suka banget sama KrisHan. Makanya maksain KrisHan buat nyempil-nyempil disini . Fighting!
Makasih udah ngereview^^
rinie hun: Hehehehe. Mudah-mudahan setelah baca chap ini gak ilfil ya sama ceritanya :)
Makasih udah ngereview^^
ChickenKID: Eon juga ngarep banget punya sahabat kaya' BaekSoo :D HunHan kalo kisseu emang rada gak tau tempat gitu deeeh -_- Soalnya bikin moment manis gitu lebih menyenangkan, Saeng. Hehehehe. Kebodohan Thehun bakal kebongkar. Tapi gak sekarang ;) #hugbalik
Makasih udah ngereview^^
uswatun hasanah: Yeee, nama pasaran tapi artinya kan bagus bangeeeettt. Karena itu banyak ortu yang suka menamakan anaknya dengan nama ini :D
Kkamjong bakal terus muncul sampe' Sehun bener-bener menentukan pilihan hatinya, Saeng. Endingnya enaknya gimana? HunHan? Ato HunKai? Ato KrisHan? Ato menjomblo semua? #plakk #abaikan
Makasih udah ngereview^^
lena99: Gpp kok saeng. Yang penting masih mau baca :) Jangankan kamu, eon aja rasanya pengen bikin Sehun tiba-tiba terbunuh secara misterius gara-gara ntu #plakk hehehehe. Yaaah, Lulu kan gak tau kalao dibo'ongin sama si Cadel -_-
Makasih udah ngereview^^
Hyorim16: Kkamjong emang gitu, datang tak diundang pulang tak diantar #Kai: maksud lo?
Ini udah lanjut yaaaa :D
Makasih udah ngereview^^
EXOXOKAI: Apa? Hapenya basyah? #sodorinkainlap . wkwkwkwkw jadi curhat neh yaaa, gpp kok :D Chap ini gak semenyesakkan chap kemaren kok. Jadi hape nya aman lah yaaa :) Gomawo udah dibilang keyeeen :D Kita sama-sama HUNHAN SHIPPER!
Makasih udah ngereview^^
Ryu Que: Tugasnya Kai di sini kan ngerusak hubungannya HunHan #plakk Lulu emang terlalu baek n terlalu cinta sama Sehun :/ Hhhhh, kalau ditanya HunKai ntu mana yang Seme mana yang Uke, Liyya juga gak tau #plakk terserah reader yang menilai deh, enaknya gimana O.O
Makasih udah ngereview^^
WinterHeaven: Eonnie sebenernya g pengen ngeganggu HunHan, saeng. Tapi eon diancam sama Kkamjong #Kai: udah dijadiin antagonis, difitnah pula #Eon: hehehehe, Piiiisss :)
Makasih udah ngereview^^
LittleZhao: Muahahahaha. Bayangin lagu michigo yang bener2 bikin kita serasa jadi orang gila, tiba-tiba berubah jadi don't go . Waduuuuh, kasian Kkamjong, dari tadi ditendang teruuus -_- Om bebek emang paling sip kalo disuruh ngelindungi Luhan :) Eiits, jangan panggil kak author. Panggilnya kak Liyya aja :D
Makasih udah ngereview^^
: Liyya juga ngerasa banget kok kalo chap2 awal ntu kurang greget. Ceritanya rada monoton. Kan Cuma menceritakan awal mula Hunhan berkenalan. Sehun emang ababiiillll #ditendangSehun# udah punya Luhan, masih ijooo aja matanya waktu liat Kkamjong -_- Apaaaa? #cengo Luhan atau Sehunnya mati? Yaaah, gak Hurt/Comfort donk jadinya, malah jadi Forever Hurt ntar O.O
Makasih udah ngereview^^
Guest: Oke siiip, ini udah next yaaa :)
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi?
So, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu
