aBy: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Others
Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 16 of ?
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
A/N: Karena ini bulan Ramadhan, Liyya mau maap2an neh sama chingu, saeng n eonnie semua yaaa :D Mungkin mulai chap depan updatenya bakal lebih lama dari biasanya. Soalnya kalo puasaan, kegiatan Liyya bertambah #soksibuk :) Tapi Liyya usahakan seminggu sekali tetep update. Selamat menunaikan ibadah puasa buat yang menjalani ya ^_^
.
HAPPY READING^^
.
~O.O~
Sehun sering kali berfikir tentang apa sebenarnya yang dia rasakan saat ini. Atau lebih tepatnya, apa yang sebenarnya dia inginkan. Jika saja dia memiliki seorang teman untuk berbagi cerita, mungkin semuanya tidak akan serumit ini. Seandainya dia punya satu saja, mungkin dia bisa bertanya apakah yang dilakukannya saat ini benar atau salah? Paling tidak Sehun bisa mendapatkan nasihat dari seseorang yang berada di luar lingkaran hubungannya dengan Luhan.
Bukannya Sehun tidak mempunyai teman sama sekali. Tentu saja dia punya. Hanya saja, tidak begitu dekat. Karena semenjak dia menginjakkan kakinya di Seoul, dunianya seolah berputar hanya di sekitar Luhan. Dan saat dia menyadarinya, dia sudah tidak bisa berada jauh dari Luhan untuk membangun persahabatan dengan orang lain. Luhan adalah sahabatnya. Dan pada kenyataannya, teman dekat yang Sehun punya selain Luhan hanyalah keempat pengikut Luhan. Sebenarnya hanya 2 pengikut, dan 2 pengikut dari pengikutnya. Dan dalam masalah kali ini, dia tidak mungkin meminta pendapat mereka. Dia juga tidak bisa bercerita begitu saja pada Luhan tentang apa yang dia rasakan saat ini tanpa menyakiti Luhan. Dia butuh seseorang yang benar-benar netral. Tidak memihak Luhan ataupun Jongin.
Karena itu, saat ini, Sehun benar-benar seperti orang yang tersesat dan kehilangan arahnya. Hanya mengandalkan instingnya dalam memutuskan dan melakukan segala sesuatu.
Mungkin karena usianya yang terhitung masih sangat muda dan jauh lebih muda jika dibandingkan dengan Luhan, sehingga terkadang Sehun cenderung melakukan hal-hal yang menurutnya memang harus dilakukan. Dengan cara yang menurutnya benar, tanpa berfikir matang-matang apakah perbuatannya itu akan menyakiti Luhan atau tidak.
Seperti apa yang dilakukannya sekarang. Sehun perlu untuk memastikan apa yang dia rasakan terhadap Jongin, karena itu dia menghabiskan waktu bersama Jongin. Cara yang menurutnya benar, dengan izin dari Luhan di tangannya. Tanpa mencoba untuk menyelam lebih dalam lagi ke dalam perasaan Luhan untuk mengetahui apa yang sebenarnya Luhan inginkan. Apakah dia benar-benar rela Sehun 'dipinjam' Jongin begitu saja?
Mungkin juga karena Sehun terbiasa dimanja oleh orang tuanya sebagai anak tunggal, hingga terkadang dia merasa kalau dia selalu bisa melakukan apa yang dia inginkan tanpa harus memikirkan perasaan orang lain. Dia menjadi kurang peka akan apa yang orang lain rasakan. Atau juga, mungkin karena Luhan yang selalu ada di sana dan selalu bersedia membukakan pintu maafnya selebar mungkin untuk Sehun setiap kali dia melakukan kesalahan.
Entah apapun itu alasannya, yang jelas dia berada di sini sekarang. Di dalam gedung bioskop yang sama yang didatanginya dengan Luhan beberapa hari yang lalu. Hanya saja, kali ini orang yang duduk di sampingnya bukanlah Luhan, melainkan Jongin.
Sehun sendiri heran pada Jongin. Bukankah saat itu dia bilang dia butuh bantuan Sehun untuk menyelesaikan sebuah 'urusan' dengan teman lama. Namun yang terjadi beberapa hari ini justru tidak ada hubungannya dengan itu. Jongin bahkan tidak bercerita tentang 'teman' lama yang dimaksud olehnya. Dan sampai sekarang, Sehun masih tidak punya ide sama sekali tentang 'teman' lama itu. Not even the name. Bahkan jauh dari itu semua, yang dilakukannya bersama Jongin beberapa hari ini just simply walking around Seoul.
Mereka hanya berkeliling kota Seoul, dengan alasan Jongin ingin menjelajahi kota Seoul mumpung sedang berlibur di sini. Sebenarnya hampir sama dengan apa yang Sehun lakukan bersama Luhan. Hanya saja, Jongin berbeda dengan Luhan. Dia tidak bermanja-manja seperti yang biasa Luhan lakukan. Jongin tidak mem-pout-kan bibirnya jika Sehun menolak apa yang dia minta. Jongin tidak merengek manja padanya untuk mendapatkan sesuatu dari Sehun.
Jalan beriringan bersama Jongin memang terasa menyenangkan. Mereka mempunyai banyak hobby dan menyukai banyak hal yang sama. Sehun selalu senang bisa menghabiskan waktu bersama Jongin. Namun, Sehun bisa merasakan seperti ada yang kurang. Bukan seperti. Tapi memang ada yang kurang.
Ya. Luhan tidak ada di sana bersamanya.
Setiap melewati tempat-tempat tertentu, Sehun selalu membayangkan bagaimana jika Luhan ada di sini?
Luhan pasti akan sangat senang saat melihat stan permen kapas di sana dan menarik Sehun untuk membelinya. Luhan pasti akan merengek manja pada Sehun dengan segala keimutannya yang tidak bisa ditolak agar Sehun membelikan es krim itu. Luhan pasti akan tersenyum senang saat melihat anak-anak kecil yang bermain dan berlarian di sekitar taman itu. Luhan begini. Luhan begitu. Luhan. Luhan. Luhan. Dan tanpa sadar, satu senyuman manis tercetak di bibir tipisnya.
Sehun tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Semua pikiran-pikiran itu membuatnya merinduka 'rusa' imutnya itu. apalagi dengan frekuensi pertemuan mereka yang akhir-akhir ini bisa dibilang sangat jarang semenjak kemunculan Jongin. Dan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, Sehun benar-benar menahan diri untuk tidak berlari meninggalkan Jongin dan menghampiri Luhan di tempatnya sana. Seberapapun dia ingin menemui Luhan, seberapapun dia kalau tahu dia salah karena melakukan ini pada Luhan, seberapapun dia merasa jika apa yang dilakukannya sedikit banyak akan membuat Luhan terluka, seberapapun dia tahu kalau Luhan pasti akan merasa sangat sedih, dia tetap melakukannya. Menerima semua ajakan Jongin setiap kali Jongin mengajaknya.
Bukan karena dia lebih mengutamakan Jongin dari pada Luhan. Bukan karena dia lebih memilih Jongin dari pada Luhan. Sama sekali bukan seperti itu.
Sehun hanya merasa kalau dia perlu melakukan ini. Dia harus melakukan ini. Karena walau bagaimanapun, dia benar-benar ingin memastikan perasaannya pada Jongin. Apakah dia memang masih memiliki perasaan itu pada Jongin? Dan satu-satunya jalan yang dia tahu hanya ini. Dia tidak tahu cara yang lain selain ini.
Mungkin bagi mereka yang hanya menyaksikan dari luar, Sehun terkesan seperti orang yang sangat egois. Mengabaikan kekasihnya sendiri untuk seorang mantan kekasih. Mengabaikan seseorang yang selalu ada di suka dan dukamu untuk seseorang yang pernah menorehkan luka di hatimu. Mungkin akan terlihat sangat bodoh di mata mereka. Tapi tidak bagi Sehun. Semua itu tidak segampang apa yang dipikirkan orang lain. Semua itu tidak sesimpel yang terlihat dari luar.
Perasaannya sedang terombang-ambing. Antara rasa penasaran akan perasaannya sendiri dan rasa bersalah yang tidak bisa dibilang kecil pada Luhan, seseorang yang benar-benar dicintainya.
Mungkin juga mereka akan berkata, 'bukankah Sehun jelas-jelas mengatakan kalau dia mencintai Luhan? Sangat mencintai Luhan. Lalu menapa harus repot-repot memikirkan perasaannya pada Jongin?'.
Sekali lagi, bagi Sehun yang merasakannya, semua itu tidak semudah itu. Sehun selalu berfikir. Bagaimana jika dia memang masih memiliki perasaan pada Jongin? Apa yang akan dia lakukan? Yang kemudian akan berlanjut pada pertanyaan selanjutnya. Siapa yang akan dia pilih? Dan dengan Jongin yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya yang nyaris sempurna, bersikap seolah-olah sesuatu yang bisa dibilang buruk tidak pernah terjadi di masa lalu, dan mendekatinya seolah memberi harapan padanya, semua itu semakin mempersulit dirinya. Lalu bagaimana dengan Luhan?
Dan sekali lagi, pikiran Sehun yang memang terhitung masih muda itu tidak bisa mencernanya dengan cepat. Dia membutuhkan waktu untuk memecahkan semua masalah yang dihadapi. Memecahkan dilema yang dirasakan oleh hatinya. That's too much for him. Mungkin secara sikapnya pada Luhan, Sehun terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan Luhan yang cenderung kekanak-kanakan. Namun jauh di dalam lubuk hati Sehun, dia tetap lebih muda dari Luhan. Dan terkadang orang-orang melupakan kenyataan itu saat dia bersama dengan Luhan.
Namun, pada kenyataannya, he is, indeed, still a boy. A very young boy, yang memiliki lebih sedikit pengalaman dalam 'solving problems' dibandingkan dengan Luhan. A very young boy, yang terkadang masih membutuhkan bimbingan dari seseorang agar tidak tersesat dan salah jalan. Belum lagi, biasanya dia punya orang tua yang selalu siap membantunya. So, when he's all alone seperti saat ini, Sehun menjadi sangat bingung. Tidak ada tempat berbagi, tidak ada tempat bertanya.
"Sehun-ah," panggil Jongin saat film yang diputar saat itu sudah selesai.
"Sehun-ah!" panggilnya lagi saat Sehun tidak merespon panggilannya. Kali ini, sedikit lebih keras.
"OH SEHUN!" panggilnya lebih keras kali ini, dan berhasil. Sehun terlonjak kaget dan terbangun dari lamunannya saat mendengar panggilan Jongin yang bisa dibilang sangat keras. Terbukti hampir semua mata melirik pada mereka sesaat.
Sehun baru menyadari kalau lampu di dalam studio sudah menyala kembali. Dia menatap orang-orang yang mulai beranjak dari tempat duduk mereka. Kenapa semua orang beranjak dari tempat duduknya? Apa film nya sudah selesai? Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada layar raksasa di depannya. Oh. Ternyata filmnya memang sudah selesai.
"Kau melamun, oh Sehun!" Sehun menolehkan kepalanya dan mendapati Jongin yang berdiri di sampingnya dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya. Dia tersenyum canggung pada Jongin.
"Mianhae. Hanya memikirkan sesuatu," jawabnya kemudian beranjak dari tempat duduknya dan bersiap-siap keluar dari studio. Jongin menatap tidak suka pada Sehun yang kini berjalan di depannya. 'Pasti Luhan!', pikirnya. Dia berdecak pelan kemudian menyusul Sehun dan berjalan dalam diam di sampingnya.
"Memikirkan Luhan Hyung?" tanya Jongin. Saat ini mereka sudah duduk di kafetaria yang ada di dekat gedung bioskop. Sehun tidak menjawabnya. Mungkin dia tidak mendengar pertanyaan Jongin yang tenggelam dalam kebisingan di sekitar mereka. Atau mungkin, dia pura-pura tidak mendengarnya.
"Apa Luhan Hyung tidak suka kalau kau menghabiskan waktu bersamaku? Dia marah?" tanya Jongin lagi. Kali ini Sehun menatapnya dan menggelengkan kepalanya. "Aniyo. Luhan tidak marah," jawabnya singkat. 'Dia mungkin sedih, tapi dia tidak marah', lanjutnya dalam hati.
"Lalu? Apa kau ada masalah dengannya?"
Sehun menghela nafasnya pelan dan kembali menggelengkan kepalanya. Dia sedang benar-benar tidak ingin membicarakan Luhan saat ini. Karena jika terus membicarakannya, Sehun tidak yakin seberapa lama lagi dia akan bertahan di tempatnya sekarang sebelum dia berlari ke rumah Luhan untuk memeluknya.
Setelah itu, keduanya terdiam. Jongin tahu wajah itu. Sehun memasang wajah datar seperti itu saat dia benar-benar tidak ingin membicarakan sesuatu. Atau dalam kasus ini, seseorang.
"So, ada perkembangan dengan 'teman' lama itu?" tanya Sehun membuka pembicaraan setelah beberapa saat terdiam.
"Eum," Jongin mengangguk pelan dan tersenyum. "Sekarang semuanya sudah lebih baik dengannya. Hanya ada sedikit lagi masalah. Mungkin tidak lama lagi, semuanya akan selesai," jawabnya.
Sehun mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Jongin. Sudah hampir selesai? Tapi seingatnya, mereka tidak pernah membahasnya. Namun dia hanya mengedikkan bahunya. Toh urusan Jongin dan 'teman' lamanya itu bukan urusannya.
"Sehun-ah," panggil Jongin. "Hmmm?"
"Setelah ini, bisa temani aku membeli sepatu? Aku butuh sepatu baru untuk berlatih dance. Katanya, di Seoul sepatunya bagus-bagus. Aku ingin mengajak Minseok Hyung, tapi dia kan tidak tahu apa-apa tentang dance. Bisa-bisa aku dipilihkan sepatu fantofel nanti. Kalau denganmu kan, aku bisa sekalian bertanya-tanya pendapatmu."
"Tentu saja. Setelah kita selesai makan, aku akan membawamu ke tempat penjualan sepatu terbaik di Seoul." Sehun tersenyum pada Jongin dan mengacungkan jempolnya. Terlepas dari perasaannya yang masih terombang-ambing, Jongin masih tetap sahabatnya. Bahkan Jongin adalah satu-satunya sahabat yang pernah Sehun punya. Selain Luhan tentunya. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa Sehun tidak bisa menolak ajakan Jongin.
Setelah selesai makan, mereka beranjak menuju tempat yang direkomendasikan oleh Sehun saat di kafetaria tadi. Mereka memilih untuk berjalan kaki saja, karena kata Sehun, tokonya tidak terlalu jauh dari sana. Sehun tidak pernah menolak saat Jongin menyatukan tangannya dengan tangan Sehun. Dia hanya membiarkannya saja.
Saat tiba di toko sepatu, Jongin membulatkan matanya tak percaya. Sehun benar, toko ini memang benar-benar memiliki koleksi sepatu terbaik yang pernah dilihatnya. Sehun hanya duduk di kursi yang tersedia sementara Jongin berjalan ke sana kemari memilih sepatu yang akan dibelinya. Sesekali dia akan menoleh pada Sehun untuk menanyakan pendapat Sehun tentang sepatu yang dipegangnya, yang akan dijawab sekenanya oleh Sehun.
Duduk sendirian sambil menunggu Jongin, Sehun secara tidak sadar akan melirik pada jam tangan yang melingkar manis di tangan kirinya. Menunggu hari ini berakhir. Secara tidak sadar juga, wajahnya akan menjadi cerah setiap kali Jongin mengajaknya untuk pulang dan mengakhiri hari mereka. Dan bertambah cerah saat dia tiba di gedung apartemennya. Berfikir untuk segera menelfon Luhan segera setelah tiba di sana. Selalu seperti itu setiap kalinya.
Namun yang terjadi, setelah dia memasuki apartemennya, semua pikiran itu menguap seketika. Tergantikan dengan tugasnya yang menumpuk karena harus menemani Jongin sepulang kuliah. Kemudian Sehun akan dengan penuh perjuangan menahan pergolakan batinnya, untuk menghubungi Luhan setelah dia menyelesaikan tugasnya saja. Karena jika dia bersikeras untuk menghubungi Luhan sebelumnya, maka yang terjadi adalah tugasnya tidak akan pernah selesai. Simply karena Sehun tidak mungkin bisa berhenti nantinya. Apalagi setelah beberapa waktu tidak bertemu. Tidak akan pernah ada kata cukup dalam kamusnya jika sudah menyangkut rindunya pada Luhan. Dan mungkin saja, hal itu akan berakibat dengan kegagalannya pada mata kuliah yang diambilnya, karena dia melalaikan tugasnya. Dan dengan ide yang menurutnya sangat briliant itu, dia mulai menggambar.
Namun lagi, tentu saja tugas-tugas itu benar-benar memakan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikannya. Hingga saat Sehun selesai mengerjakan semuanya, malam sudah amat sangat larut dan dia sudah terlalu lelah dan mengantuk. Bahkan untuk berjalan ke kamarnya dan tidur di atas kasur empuknya saja Sehun enggan. Dan akhirnya, Sehun lebih sering berakhir dengan tertidur di studio (ruang menggambar) nya, di tengah-tengah kertas gambar, pensil, drawing pen, dan pensil warna yang tergeletak berserakan di sepanjang lantai. Lalu di pagi harinya, Sehun akan bangun kesiangan dan tidak bisa berangkat bersama Luhan. Dan pada akhirnya Sehun hanya bisa melepas rindunya lewat pesan singkat.
~O.O~
Minggu pagi yang cerah. Suara nyanyian burung berkicau di luar sana terdengar dengan jelas. Sang Surya juga sudah menampakkan dirinya dan menyinari bumi. Memberi semangat pada anak adam yang akan memulai aktivitas Minggunya.
Terlepas dari semua keindahan pagi hari itu, Luhan sama sekali tidak terbangun dari tidurnya. Dia masih setia di bawah selimut hangatnya dengan memeluk boneka 'bambi' kesayangannya. Setelah 'pertikaian' kecil dengan Baekhyun kemarin, mereka (LuBaekSoo) memutuskan untuk mengadakan 'movie marathon'. Sudah lama sekali mereka tidak melakukan itu. Hitung-hitung mempererat kebersamaan mereka. No Boyfriend Day, kata Baekhyun.
Malamnya, Luhan memutuskan untuk mengisi waktu senggangnya dengan membaca novel pemberian Kris. Mungkin dengan begitu, dia bisa melupakan kegalauan hatinya untuk sementara. Tidak banyak membantu memang, mengingat setiap beberapa menit sekali, Luhan akan mengalihkan pandangannya dari novel yang dibacanya menuju ponsel yang tergeletak manis di sampingnya. Kalau-kalau ada pesan dari Sehun. Dia baru menyelesaikan bacaannya menjelang pagi, dan sekarang dia merasa sangat mengantuk. Toh hari ini hari Minggu, pikirnya.
Beberapa hari tanpa Sehun, rasanya dia akan meledak. Kalau saja dia tidak memiliki pertahanan yang kuat, dia pasti sudah menghampiri dimanapun Sehun dan Jongin berada dan menarik Sehun jauh-jauh dari Jongin. Tapi tentu saja itu tidak terjadi. Luhan masih terlalu waras untuk melakukan itu. Paling tidak, dia bisa bertemu Sehun di dalam mimpinya. Untungnya namja bernama Kim Jongin itu tidak ikut menghantuinya di dalam mimpi.
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Tidur Luhan benar-benar terusik saat suara musik nan cempreng itu mengalun dengan seenaknya dari ponselnya. Memutuskan untuk mengabaikannya, Luhan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya dan menenggelamkan telinganya di bantal empuknya. Namun suara itu tak kungjung berhenti.
Oh My God!
Ini bahkan masih pukul 8 pagi. Mengapa ada orang yang menelfonnya jam segini? Apa orang itu tidak mengerti bagaimana cintanya Luhan pada kasurnya saat hari Minggu tiba? Bahkan Mama dan Baba Luhan cukup tahu untuk tidak menelfonnya sepagi ini.
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Uurrggghh! Tidak bisakah dia bahagia bersama Sehun walaupun hanya dalam mimpinya? Lihat saja, kalau panggilan itu bukan panggilan penting, Luhan akan akan dengan senang hati membunuh siapapun yang berani mengganggu mimpi indahnya.
Tanpa melihat siapa yang memanggil, karena matanya masih terpejam rapat, Luhan menerima panggilan itu dengan setengah hati.
"Hmmm?" gumamnya malas-malasan. Tak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara kekehan kecil dari seberang sana. Suara kekehan yang berhasil meningkatkan tingkat kesadarannya dari 0.5% menjadi 75%. Suara yang membuat jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik.
"Kau masih tidur, Lu? Ini sudah jam berapa?" tanya suara di seberang sana masih tertawa kecil. Dan suara itu berhasil membuat tingkat kesadarannya menjadi 200%. Terbukti dengan posisinya yang berubah dari berbaring menjadi duduk manis di atas kasurnya. Dengan rambut berantakan, mata yang terbelalak sempurna, dan mulut yang sedikit menganga seolah tak percaya dengan apa yang saat ini dia dengar.
"Lu?" panggil suara itu. "Kau masih di sana, kan?" Ya Tuhan! Betapa Luhan merindukan suara itu. suara yang memanggilnya dengan lembut. Suara yang hampir tidak bisa didengarnya beberapa hari ini karena 'namja itu'. Suara yang mungkin hanya bisa didengarnya di dalam mimpi. Oke! Mungkin sedikit melebih-lebihkan, tapi itulah yang dirasakan Luhan saat ini. dia bahkan masih belum bisa mengeluarkan satu kata pun karena terlalu terkejut.
"Lu?" panggil suara itu lagi. "Jangan bilang kau tidur lagi!" Masih tidak ada jawaban dari Luhan. "Oke! Aku rasa aku menelfon di saat yang tidak tepat." NO. Sehun-ah, andwae. Namun kata itu hanya sampai di kerongkongannya. Tidak sampai keluar dari bibirnya.
"Kalau begitu aku akan menghubungimu lagi nanti, ne!"
"ANDWAE!" jerit Luhan tanpa sadar. Oke! Jeritan itu keluar lebih keras dari seharusnya. "Ma-maksudku aku tidak tidur. Well, tadi iya, tapi sekarang tidak. Hanya sedikit terkejut karena kau menelfon sepagi ini. Apalagi aku bangun tidur, jadi, yeah refleks ku sedikit lambat." Dia mulai berceloteh tidak jelas.
Luhan lalu menepuk judatnya pelan saat menyadari apa yang dilakukannya. Dan perlahan, pipinya mulai memanas. Hanya dengan suaranya pun, Sehun bisa membuatnya tersipu seperti gadis SMA yang sedang jatuh cinta. Well, dia memang sedang jatuh cinta. Namun dia tetap bukan seorang gadis.
Luhan mengembil boneka 'Bambi' yang tergeltak tak berdaya dan memeluknya erat. Pipinya semakin merona saat lagi-lagi suara kekehan kecil itu terdengar di telinga Luhan.
"Apa kau menelfonku hanya untuk mentertawakanku, Oh Sehun?" tanya Luhan tanpa sadar mem-pout-kan bibirnya. "Hehehehe. Aniyo," jawab Sehun, masih terkekeh.
"Lalu?"
"Aku merindukanmu." Kali ini, Luhan bisa memastikan tak ada keraguan dalam suara Sehun. Dan itu membuat sebuah senyum manis terukir dengan sendirinya di wajah manisnya. 'Nado,' batinnya. 'Neomu bogosipheo!'
"Luhan-ah! Mau menghabiskan waktu bersama? I'm on my way to your house."
Butuh beberapa detik untuk ide itu dicerna dengan sempurna oleh otak Luhan yang baru saja bekerja setelah beristirahat selama beberapa jam sebelumnya. Sehun mengajaknya keluar. Dan sekarang Sehun sedang dalam perjalanan ke sini? Mwo?
"M-mwo? Kau sudah di tengah perjalanan?" tanya Luhan memastikan apa yang dicerna oleh otaknya benar.
"Ne. Mungkin 15 menit lagi aku tiba di sana," jawab Sehun santai.
"Apa? 15 menit? Yaaaaaahhh, bagaimana bisa kau mengajakku tiba-tiba? Dan aku hanya punya waktu 15 menit untuk besiap-siap? That's not FAIR!" Luhan segera beranjak dari kasurnya. Berjalan menuju lemari untuk memilih baju. Uurrgh! Baekhyun masih tidur jam segini, dan dia tidak memiliki banyak waktu untuk membangunkan Baekhyun dan memintanya memilihkan baju. Well, kalau begitu, dia hanya perlu memakai baju yang biasa saja. Jeans abu-abu dan Hoodie putih kedengarannya cukup bagus.
"Wae? Kau tidak mau keluar denganku? Atau 15 menit itu terlalu lama untuk bersiap-siap? Kalau begitu, aku bisa berlari ke sana agar sampai lebih cepat," goda Sehun.
"Yaaaaaahhh! Oh Sehun! Aku perintahkan kau untuk memperlambat langkahmu!" titah Luhan dengan childish nya membuat Sehun semakin tertawa di seberang sana.
"Kekekeke. Arrasseo, aku akan memperlambat langkahku, Xiao Lu."
"Good. Sekarang jalan perlahan, aku akan memutuskan panggilannya karena tidak mungkin aku mandi dengan ponsel yang masih tersambung denganmu, oke!"
"Siip!"
Luhan segera berlari ke kamar mandi dengan jeans dan Hoodie pilihannya di tangannya. Aiisshh, mengapa Sehun harus mengajaknya tiba-tiba. Kalau dia mengatakannya lebih awal kan dia bisa lebih siap.
Sekitar 10 menit kemudian, Luhan baru keluar dari kamar mandi. Sudah wangi dan sudah berpakaian lengkap. Hanya perlu merapikan rambutnya saja. Setelah mengecek penampilannya sekali lagi di depan cermin, Luhan meraih ponsel di atas tempat tidurnya dan beranjak keluar. Dia melihat Kyungsoo sedang menyaksikan acara memasak favoritnya di ruang tamu dan memutuskan untuk ikut menonton sambil menunggu kedatangan Sehun. Mengingat ini sudah hampir 20 menit, sepertinya Sehun benar-benar mengikuti perintahnya untuk berjalan perlahan. Kekekekeke.
"Whoaaaa! Luhan Hyung!" pekik Kyungsoo sedikit kaget saat Luhan memposisikan tubuhnya untuk duduk di sampingnya. Kyungsoo melirik jam dinding yang tergantung manis di atas televisi untuk memastikan apa yang dilihatnya saat ini benar-benar terjadi pada waktu yang seharusnya. Dia sempat berfikir mungkin jam dinding itu mati, karena jelas sekali sekarang masih pukul 8.30 dan seharusnya Luhan baru bangun setengah sampai satu jam lagi. Namun bunyi tik tok dari jarum jam yang terus berputar membuktikan kalau jam itu sedang tidak rusak.
Luhan menatap malas Kyungsoo yang melihatnya dengan tatapan yang sama seperti saat hari pertama mereka memulai semester sebulan yang lalu. Well, Luhan memakluminya. Dia sendiri hampir tidak percaya bisa bangun 'sepagi' ini di hari Minggu tercintanya.
"Hyung mau keluar?" tanya Kyungsoo setelah sembuh dari masa ketergaketannya. Luhan mengangguk semangat.
"Dengan Sehun?" tanya nya lagi yang dijawab dengan anggukan yang sama dari Luhan. Sebenarnya jawabannya sudah jelas. Melihat Luhan yang sudah rapi dan terlihat sangat imut dalam Hoodie putih dan senyuman manis, yang akhir-akhir ini jarang muncul, yang terus menghiasi wajahnya, pasti Luhan akan keluar dengan Sehun. Tidak mungkin Luhan akan tersenyum secerah itu di pagi hari Minggu jika Chanyeol yang mengajaknya kan?
"Kyungie-ya!" panggil Luhan. "Apa outfitku bagus? Aku tidak punya cukup waktu untuk membangunkan Baekkie dan memintanya memilihkan baju untukku, jadi aku mengambil secara acak. Apa terlihat menggelikan?"
Kyungsoo benar-benar tidak dapat menahan senyumnya mendengar pertanyaan polos Luhan yang disajikannya dengan wajah serius. Seolah itu merupakan pertanyaan penting baginya. Kyungsoo memegang kedua pundak Luhan dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arahnya. Luhan selalu seperti ini jika akan 'keluar' bersama Sehun. Padahal, tanpa bantuan Baekhyun pun, Luhan akan tetap terlihat manis dan imut menurut kebanyakan orang, atau 'tampan' dan 'manly' menurut Luhan sendiri. Bahkan jikalau seandainya pun Luhan mengambil baju secara acak dengan warna yang menyerupai jemuran alias berwarna warni, Luhan pasti akan tetap terlihat baik-baik saja.
Kyungsoo memutar tubuh Luhan ke kiri dan ke kanan, berpura-pura mengecek penampilan Luhan. Dia lalu merapikan rambut Luhan dan tersenyum manis seperti seorang ibu yang merapikan rambut anaknya. "You are PERFECT, Hyung!" serunya membuat Luhan tersenyum puas. Kyungsoo tidak berbohong. Luhan memang terlihat sangat manis tenggelam di dalam Hoodie putihnya. White always suits him best, menurut Kyungsoo.
Ting Tong
"I'll get it!" seru Luhan semangat dan segera berlari untuk membukakan pintu. Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan mengikutinya dari belakang.
"Sehun-aaaaah!" ucapnya senang dan langsung memeluk Sehun ketika pintu terbuka sempurna. Sehun tersenyum manis dan membalas pelukan Luhan dengan erat. Sangat erat. Dia benar-benar merindukan Luhan.
"Hai, Sehun!" sapa Kyungsoo dari belakang Luhan. "Hai, Hyung!" Sehun melepaskan pelukan Luhan untuk membalas sapaan dari Kyungsoo. Namun, satu tangannya tidak pernah lepas dari pinggang ramping Luhan.
"Boleh aku meminjamnya hari ini?" tanya Sehun yang mendapat pukulan kecil di bahunya dan cute glare dari Luhan. "Memangnya aku barang," gumam Luhan pelan yang masih bisa didengar oleh HunSoo.
"Tentu saja. He's all yours. Tapi dengan satu syarat," jawab Kyungsoo. "Syarat?"
"Eum," angguknya. "Promise me! Luhan Hyung akan pulang dengan aura dan senyum yang sama seperti apa yang aku lihat pagi ini. Kau sanggup?"
Sehun tersenyum PeDe mendengar syarat yang diajukan Kyungsoo. "Tentu saja," jawabnya yakin. "Kalau begitu, bisa kami pergi sekarang, Eomma?" tanya nya kemudian yang mendapat anggukan persetujuan dari yang ditanya.
Kyungsoo menatap kepergian HunHan dengan tersenyum. Dari sana, dia bisa melihat senyum manis tidak pernah lepas dari wajah Luhan yang bergelayut manja pada lengan Sehun. Luhan mungkin bisa selalu tersenyum jika bersama dengan Kris. Namun Kyungsoo tidak yakin kalau senyum itu akan sama dengan senyum yang dimiliki Luhan setiap kali Sehun berada di dekatnya. Senyum yang seolah-olah dia tidak pernah sebahagia itu. Senyum yang membuat wajah manisnya terlihat semakin cerah. Senyum yang menujukkan kalau dia sangat bahagia sekarang. Dan sebaliknya, Sehun mungkin terkadang membuat Luhan menangis. Namun tetap saja, tidak ada yang bisa membuat Luhan tersenyum seperti itu selain Sehun.
Kyungsoo akui, Sehun memang bersalah atas apa yang dilakukannya pada Luhan tempo hari. Tapi seperti yang Luhan katakan kemarin, dibalik satu kesalahan tak termaafkan Sehun, dia sudah melakukan banyak hal untuk membuat Luhan bahagia. Bahkan rasanya, semua yang Sehun lakukan selama ini hanya untuk satu tujuan. Membuat Luhan bahagia. Dan Kyungsoo selalu berterima kasih pada Sehun untuk itu.
Mungkin benar apa yang dikatakan Luhan. Sehun hanya ingin membantu Jongin. Sehun tidak mungkin berbuat macam-macam di belakang Luhan. Afterall, Jongin adalah sahabat Sehun. Sama halnya seperti Luhan, Baekhyun dan dirinya.
Kyungsoo menghela nafasnya pelan sebelum menutup kembali pintu depan. Semoga saja memang seperti itu. aku pegang janjimu, Sehun-ah!
~O.O~
"SEHUN-AAAH! Ayo lebih cepat lagi! Kalau pelan seperti ini anginnya tidak terasa!" Luhan terus berteriak-teriak di belakang Sehun seperti anak kecil. Ada yang tahu sedang apa mereka?
Saat ini Sehun dan Luhan sedang bersepeda di sekitar sungai Han. Sehun tengah mengayuh sepedanya ke segala penjuru menuruti permintaan Luhan, dan Luhan sendiri sedang duduk manis di bangku penumpang di belakang Sehun sembari berteriak-teriak memberi semangat pada Sehun. Karena hari masih terbilang pagi, jadi Sehun mengajak Luhan untuk menghirup udara segar di dekat sungai Han sambil bersepeda santai. Siapa sangka penyakit manja Luhan kambuh di saat seperti ini. Saat Sehun ingin menyewa dua sepeda tadi, Luhan langsung menolak ide itu mentah-mentah. Dan akhirnya mereka menyewa satu sepeda saja.
"Hosh, hosh, Lu, kita sudah berkeliling seperti ini hampir satu jam. Apa kau tidak bosan?" tanya Sehun di tengah nafasnya yang tersengal-sengal. Jujur saja dia sudah sangat lelah. Kakinya serasa akan segera lepas dari tempatnya jika mereka masih melanjutkan acara 'mari bersepeda' lebih lama lagi. Awalnya dia berfikir ini akan menjadi sangat romantis. Membonceng Luhan yang melingkarkan tangannya di pinggangnya, mengayuh sepeda dengan santai. Namun yang terjadi jauh dari apa yang dibayangkannya. Tidak ada yang namanya 'mengayuh sepeda dengan santai' dalam kamus Luhan ternyata. Luhan justru memintanya untuk mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh. Dan ini sudah berlangsung hampir satu jam lamanya.
"Sebenarnya aku dari tadi sudah bosan," ucap Luhan dengan sebuah 'smirk' manis di wajahnya. Tentu saja Sehun tidak bisa melihatnya. "MWO? Aiiishh, mengapa tidak bilang dari tadi?" tanya Sehun frustasi. Dia langsung menghentikan kayuhannya ketika mendengar jawaban Luhan dan membalikkan badannya. Menatap Luhan tak percaya.
"Hmmmm, aku kira Sehunnie yang senang dengan ide ini. Makanya aku terus memberikan semangat," jawab Luhan sok polos. "Sehunnie sudah lelah? Kalau begitu kita berhenti saja. Aku juga sudah lapar," lanjut Luhan masih dengan wajah tanpa dosa nya.
Hhhhhh. Sehun menghela nafasnya. Dengan wajahnya yang seperti itu, bagaimana dia bisa kesal pada Luhan?
"Arrasseo, kalau begitu tunggulah di sini. Aku akan mengembalikan sepedanya. Setelah itu, baru kita sarapan. Ne?" Dengan sebuah anggukan kecil dan senyuman manis dari Luhan, Sehun kembali mengayuh sepedanya menuju tempat penyewaan tadi.
Setelah Sehun hilang dari pandangannya, Luhan segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada BaekSoo.
Mission Success ^_^
Luhan terkekeh pelan setelah mengirim pesan itu. Dia sudah saling berkirim pesan dengan BaekSoo semenjak di bis tadi. Saat Luhan berkata kalau mereka akan bersepeda di sekitar sungai Han, Baekhyun langsung mencetuskan ide jahilnya dan menyuruh Luhan untuk merealisasikan idenya tersebut. Menolak untuk menyewa dua sepeda. Meminta Sehun memboncengnya dengan kekuatan penuh. Menyuruhnya membawa Luhan ke sana kemari sampai Sehun benar-benar lelah. Hitung-hitung sebagai balasan dari perasaan Luhan yang lelah selama beberapa hari ini, kata Baekhyun.
Luhan hanya menuruti perintah Baekhyun. Sebenarnya sedikit tidak tega kalau harus melakukan itu pada Sehun. Tapi sekali ini saja, tidak apa-apa kan?
Senyuman puas Luhan langsung berubah menjadi rasa bersalah saat melihat Sehun yang berjalan pelan ke arahnya. Dilihat dari caranya berjalan, sepertinya Sehun benar-benar kelelahan. Namun Sehun tetap menunjukkan senyumnya saat menyadari kalau Luhan memperhatikannya.
"Kajja! Bukankah tadi kau bilang kalau lapar?" ajak Sehun saat sudah berada di depan Luhan yang duduk di atas rerumputan. Sehun mengulurkan tangannya untuk membantu Luhan berdiri.
"Sehunnie tidak ingin istirahat dulu? Apa tidak capek?" tanya Luhan merasa bersalah. Sehun menggeleng pelan dan menarik tangan Luhan untuk beridiri. "Aniyo. Tadi capek, sekarang sudah tidak," jawabnya. "Kajja! Masih ada tempat yang harus didatangi," lanjutnya seraya menautkan jemarinya dengan jemari Luhan, meninggalkan sungai Han.
Setelah selesai mengisi perut mereka, Sehun mengajak Luhan untuk melihat festival Sakura di Yeouido. Menikmati pemandangan indah pohon-pohon sakura yang berjejer indah di sepanjang jalan. Bunga sakura di musim semi memang yang terbaik. Mereka memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon sakura yang tumbuh di atas rerumputan. Sekedar melepas lelah sebelum melanjutkan kencan mereka dan mengistirahatkan perut mereka yang baru saja terisi.
Luhan duduk dengan menyandarkan punggungnya pada pohon sakura di belakangnya. Sedangkan Sehun lebih memilih untuk rebahan dengan menggunakan paha Luhan sebagai bantalnya. Mengagumi wajah sempurna Luhan dari bawah sana dan meraih tangan Luhan untuk memegang pipinya.
"Mianhae," ucap Luhan mulai membelai pipi Sehun dengan lembut. "Aku membuatmu kelelahan seperti itu," lanjutnya saat Sehun menatapnya bingung.
Sehun tersenyum kecil dan mencium tangan Luhan yang mengusap pipinya dan menggenggamnya erat. "Aniyo. Walaupun lelah, tapi menyenangkan. Karena kau ada di sini bersamaku," jawab Sehun membuat pipi Luhan merona.
"Sehun-aaah. Berhenti menggombal. Aku sedang serius," rengeknya manja. "Kekekeke. Aku tidak menggombal, Lu. Aku juga sedang serius." Sehun tertawa kecil mendengar rengekan Luhan.
"Xiao Lu ingin pergi kemana setelah ini?" tanya Sehun. "Hmmmm, entahlah. Aku ikut saja. Kemanapun, asal dengan Sehunnie," jawab Luhan tersenyum malu.
"Arrasseo. Kita ke Mall saja? Aku ingin membeli beberapa perlengkapan menggambarku. Bukankah beberapa hari yang lalu kau bilang ingin membeli buku?" Luhan tersenyum dan mengangguk setuju. "Ke Mall juga boleh. Aku juga ingin membeli sesuatu untuk Baekkie dan Kyungie. Atau mereka akan cemberut karena aku pulang tanpa membawa apa-apa untuk mereka."
~O.O~
"WHOAAAAAAA! Sehun-ah! Ikannya banyak sekali!" seru Luhan kagum saat melihat akuarium besar yang berisi ribuan ikan dan penghuni laut lainnya yang berada di COEX Mall. Sebelum membeli beberapa hal yang dibutuhkannya, Sehun memang mengajak Luhan untuk melihat-lihat akuarium terlebih dahulu. Dia tahu kalau Luhan menyukai hal-hal seperti ini.
"Aiiisshh, kenapa aku tidak pernah ke sini sebelumnya? Baekhyun dan Kyungsoo hanya mengajakku ke Myeongdong. Kalau belanja bulanan hanya di supermarket biasa."
"Itu karena mereka tahu, kalau mereka mengajakmu ke sini, nanti kau akan sulit untuk diajak pulang," jawab Sehun. "Yaaaaah! Aku kan bukan anak kecil. Aku tahu kapan waktunya pulang." Luhan mem-pout-kan bibirnya.
"Kau memang bukan anak kecil, Lu," ucap Sehun. "But you act like one," lanjutnya kemudian tertawa saat mendapatkan cute glare dari Luhan. "Uuurrgghh! Sehun JELEK!" sewotnya kemudian melangkah pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal dan meninggalkan Sehun yang masih tertawa.
"Sehun-ah? Apa menurutmu Baekhyun dan Kyungsoo akan menyukainya?" tanya Luhan. Saat ini mereka sedang berada di toko baju. Luhan berniat membelikan baju untuk Kyungsoo dan Baekhyun. Bukan baju sebenarnya, lebih tepatnya piyama baru untuk kebutuhan pajama party mereka.
"Kau tidak tahu, Lu? Hyung dan Eomma akan menyukai apapun yang kau berikan. Apalagi kembar 3 seperti itu. They will definitely LIKE it!" jawab Sehun.
"Jeongmal? Hmmm, kalau begitu aku akan membayarnya dulu. Kau ikut atau mau menungguku di sini?"
"Aku tunggu di sini saja. Sambil melihat-lihat. Kau bisa ke kasir sendiri?"
"Yaaaah! Memangnya aku anak SD. Tentu saja aku bisa! Ya sudah, aku ke kasir dulu, ne?" Dengan anggukan dari Sehun, Luhan pun berjalan menuju kasir untuk membayar piyamanya. Di tengah perjalanan, matanya tertuju pada jaket hitam yang tergantung manis beberapa meter di depannya. Membayangkan Sehun mengenakan jaket itu, pasti sangat tampan, pikirnya.
Tanpa pikir panjang, Luhan pun mengambil jaket tersebut dan meminta ukuran yang sesuai dengan ukuran Sehun pada salah satu SPG. Setelah mendapatkannya, dia lalu membawanya bersamaan dengan piyama yang akan dibelinya. Kalau dipikir-pikir, Luhan memang belum pernah membelikan baju untuk Sehun.
Hari sudah menjelang malam saat Sehun mengantarkan Luhan pulang ke rumahnya. "Xiao Lu senang hari ini?" tanya Sehun saat mereka tiba di pintu pagar rumah Luhan. "Eum. Aku sangat senang sekali. rasanya sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama." Luhan memeluk pinggang Sehun erat. Tidak rela kalau hari ini harus berakhir. Mengapa waktu selalu terasa lebih cepat dari biasanya jika dia sedang bersama Sehun?
"Mianhae. Aku tidak bisa menemanimu akhir-akhir ini," sesal Sehun membalas pelukan Luhan. Menenggelamkan tubuh Luhan dalam dekapannya dan mengistirahatkan kepalanya di ceruk leher Luhan. "Aniyo. Aku mengerti. Lalu, bagaimana dengan urusan yang Jongin katakan? Apa sudah ada perkembangan?" tanya nya penasaran.
"Eum, Jongin bilang sebentar lagi urusannya selesai," jawab Sehun sesuai dengan apa yang Jongin katakan padanya kemarin. "Jeongmal?" Sehun menganggukkan kepalanya pelan.
'Apa itu berarti semua akan kembali seperti semula setelah ini?' Luhan bertanya-tanya dalam hati. 'Semoga saja.'
"Gomawo untuk hari ini. aku benar-benar sangat senang. Mmmm, kau tidak ingin masuk ke dalam?" tanya Luhan.
Sehun tersenyum dan menggeleng sebagai jawaban. "Aku juga sangat senang, Lu. Aniyo. Kau butuh istirahat. Kalau aku masuk ke dalam, maka istirahatmu akan tertunda," ujarnya sembari membelai pipi Luhan.
"Arrasseo." Luhan mengangguk paham. "Hubungi aku ketika kau sudah sampai di apartemen."
"Pasti," jawab Sehun. Dan setelah mencium Luhan tepat di bibir berkali-kali seolah enggan untuk melepaskannya, dan mencium kening Luhan cukup lama, Sehun pun beranjak meninggalkan Luhan dengan senyum ceria Luhan mengiringi perjalanan pulangnya.
Sehun berjalan pelan sambil bersenandung senang. Hari ini benar-benar hari terbaiknya minggu ini. Tanpa mengetahui kalau hari terburuknya mungkin baru saja akan dimulai begitu dia tiba di apartemennya.
Sebelum pulang ke apartemennya, Sehun mampir ke mini market terlebih dahulu untuk membeli beberapa bungkus mi ramyun. Dia sangat lapar sekarang tetapi terlalu malas untuk memakan sesuatu yang berat seperti nasi. Dia juga membeli beberapa snack dan minuman kaleng untuk mengisi kulkasnya yang hampir kosong.
Mungkin sekitar 45 menit kemudian dia baru tiba di gedung apartemennya dan langsung disambut dengan pemandangan Jongin yang sedang menunggunya di depan gedung. Mengapa Jongin menunggunya di sini? Sehun pun berlari mempercepat langkahnya untuk menghampiri Jongin.
"Jongin-ah!" panggilnya menarik perhatian Jongin. "Kau menungguku? Mengapa berdiri di sini dan tidak masuk ke dalam?" tanya Sehun setelah berada di depan Jongin.
"Gwaenchanna. Tadi aku sudah ke atas, tapi ternyata kau tidak di dalam. Jadi aku memutuskan untuk menunggu di sini saja," jawab Jongin.
"Tadi? Kau sudah lama menungguku? Mengapa tidak memberitahuku?"
"Lumayan lama. Aku sudah mengirimimu beberapa pesan. Tapi sepertinya kau tidak menerima semua pesanku."
"Benarkah?" tanya Sehun tak percaya. Dia segera mengambil ponsel di sakunya untuk mengecek pesan-pesan Jongin. 10 pesan masuk dari Jongin? Mengapa dia tidak menyadarinya? Great! Tentu saja. Jika Luhan berada di sampingnya, Sehun memang hampir tidak menyadari apapun.
"Mianhae. Aku tidak tahu," ucap Sehun meminta maaf. "So, apa yang membawamu kemari? Apa ada hubungannya dengan urusanmu dengan 'teman' lama itu?" tanya Sehun.
"Eum," Jongin mengangguk. "Sebenarnya aku kesini untuk menyelesaikan 'itu', Sehun-ah!" jawabnya membuat Sehun mengerutkan dahinya. Apa hubungannya antara menyelesaikan urusan 'itu' dengan dirinya?
Namun belum sempat Sehun bertanya, dia sudah dikejutkan dengan Jongin yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Sehun. Seketika otak Sehun memilih untuk berhenti bekerja. Mengapa Jongin terlihat seperti ingin menciumnya? Hati Sehun sudah berteriak dan memberontak, memerintahkannya untuk menjauhkan wajahnya dari wajah Jongin yang semakin mendekat. Namun sekali lagi, otak Sehun sedang berhenti bekerja. Jadi dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Terlalu kaget dengan tindakan Jongin yang tiba-tiba. Sampai—
Trak
Suara itu berhasil membuat otaknya seketika terbangun dari mati surinya. Sehun menolehkan kepalanya ke asal suara. Feelingnya tiba-tiba mengatakan kalau 'something bad' akan terjadi. Matanya langsung terbuka sempurna saat mengetahui apa atau lebih tepatnya 'siapa' yang membuat suara tadi.
"Luhan...!"
Di sana, tepat beberapa meter dari tempatnya dan Jongin berdiri, Luhan sedang menatap kearah mereka terkejut. Matanya memerah seiring dengan Kristal bening yang seolah mendesak untuk keluar. Bibirnya sedikit bergetar, begitu juga dengan tangan yang terkepal di sisi tubuhnya. Menahan entah apapun yang ingin keluar dari dirinya. Amarah? Kesedihan? Dan tatapan itu. Tatapan yang mengatakan kalau Luhan terluka atas apa yang di saksikannya. Sangat terluka.
"Ma-maaf. A-aku rasa, a-aku datang di saat y-yang tidak te-tepat," ucapnya terbata sebelum membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Sehun yang masih terkejut dan mencoba untuk memproses apa yang tengah terjadi saat ini, di tempatnya berdiri.
Sehun bisa melihat satu tetes air mata yang berhasil lolos dari mata indah Luhan tepat sebelum Luhan berbalik. Dan itu membuat dadanya serasa terhimpit sesuatu yang sangat berat. Dan segera setelah dia berhasil mendapatkan kesadarannya kembali, Sehun bergegas untuk berlari mengejar Luhan. Namun sesuatu menahan pergerakannya. Sesuatu yang melingkar erat di lengan kirinya.
Tangan Jongin.
~O.O~
TeBeCe
A/N:
Annyeoooong! #Lambai2 sambil pasang wajah innocent* Gimana chapter ini? moga gak gagal ya :)
Di chap ini, sengaja Liyya buka dengan penggambaran bagaimana perasaan Sehun yang sebenarnya tentang semua yang terjadi antara Jongin, Luhan, dan dia. So? Setelah mengetahui perasaan Sehun, masih ingin chapter 'HUKUM KARMA' untuk Sehun?
Seharusnya chap ini gak ada HunHan momennya sama sekali. Tapi karena Liyya merasa bersalah di chap kemaren udah membuat Luhan GALAU tingkat DEWA, jadi Liyya bikinin. Itung2 sebagai momen perpisahan. Jadi setelah chap ini, bakalan gak ada HunHan momen lagi sampe' chap akhir. Itupun kalau hepi ending, muehehehehe #ketawaepilbarengJongin# Oya, Liyya mau minta maaf karena kemarin ada yang sempat minta BaekSoo ngerjain Kkamjong. Tapi berhubung BaekSoo gak kenal Kkamjong sehingga akan sulit, jadi Liyya bikin mereka sedikit mengerjai Sehun aja, yang dibantu dengan wajah innocent nya Luhan :D Mianhae juga kalau semakin hari Suho Appa sama Chanyeol jadi jarang muncul. Soalnya Liyya lagi fokus ke masalahnya HunHan #bow
Maaf membuat TeBeCe muncul di tempat yang paling tidak elit -_- Kira-kira apa yang terjadi pada XiaoLu setelah ini? Sedikit bocoran, chap depan bakal ada Luhan vs Jongin loooh ;) Bakal ada BaekSoo vs Sehun juga #wink2
Oke! Sepertinya cuap-cuap Liyya kali ini bener-bener kepanjangan. Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
Luhan Deer: Liyya juga suka banget sama bangNaga :D Moga setelah chap ini gak galo lagi ya ;)
Makasih udah ngereview^^
fieeloving13: Kekekekeke. Sayangnya, walaupun eon suka pake banget sama KrisHan, eon gak ikhlas kalo di sini Lulu sama bangNaga #plakk #disemburNaga -_- Setelah chap ini, masih sebelkah sama Kkamjong? Atau tambah sebel o.O
Makasih udah ngereview^^
dearluhan: Omooo! #histeris# Eon suka banget sama komennya yang panjaaaang :) Gwaenchanna. Emang chap2 sebelumnya gak greget mungkin ;) Semoga setelah chap ini sesuatu yang 'greget' itu gak hilang yaa :D
Makasih udah ngereview^^
: Habis ujian? Maaf chap ini baru muncul sekarang . Semoga kamu tetep suka :)
Makasih udah ngereview^^
ferinaref: Muehehehe, jangan di-becek2, ntar gak tamvan lagi donk ;)
Makasih udah ngereview^^
Lee MingKyu: Jeongmal? Ini eon semangat nulisnya. Soalnya reviewnya bikin semangat :D Setelah chap ini, jadi cinteh ato makin benci sama karakternya Kai? Gomawo udah dipaporitin ff nya #kisseubalik :*
Makasih udah ngereview^^
ajib4ff: Chap ini gak parah ternyata eooon. Kecuali yang itu #lirikscenesebelumTeBeCe -_- Jangan gebukin Sehun eooon. Dia juga lagi galau tuuuh :(
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: Jongin emang nyebelin loh di sini -_- Chap ini, sesuai dengan permintaan kamu, Liyya udah bikinin Sehun PoV loh ;) Tenang aja, Luhan itu udah nganggep Kris sahabatnya. Dia gak mungkin jadiin Kris pelarian. Hanya sekedar teman curhat ;)
Makasih udah ngereview^^
Aileen Xiao: Kekekeke. Liyya juga sebenarnya g kuat mau nyiksa Luhan. Dia kan ultimate bias nya Liyya :( Chap depan mungkin Sehun bakal sedikit tersiksa. Dan Jongin? Kita liat aja nanti, ne? ;)
Makasih udah ngereview^^
dian deer: Muahahahaha. Sumpah eon ngakak baca komennya. HunHan belom goodbye kok. Sabar aja :) Kalo Jongin dibawa ke neraka, ntar tambah hamsyong dooonk . #dilemparwajan
Makasih udah ngereview^^
mitahunhan: Sehun lagi galauuuu . Jangan tendang Jongin ke kutub. Tendang ke kamar Liyya aja ;)
Makasih udah ngereview^^
Name hunhan: Uljima chingu-yaaa #sodorinsaputangan# Chap ne udah ada hepi nya dikit kan :D Gomawo udah dibilang daebak :)
Makasih udah ngereview^^
Akita Fisayu: Kkamjong ilang kalau Sehun udah menentukan pilihannya :D Kopelnya Kkamjong? Saya juga gak tahu, biarkan dia mencarinya sendiri #plakk -_-
Kekekeke, walaupun saya suka banget sama KrisHan, tapi sepertnya di sini Luhan n Kris gak jodoh deh ;)
Makasih udah ngereview^^
destyrahmasari: Huweeeee. Gak tega sebenarnya :'( Hukum karmanya chapter depan mungkin, kalau reader masih mau hukum karma berlangsung :) #hugbalik :*
Makasih udah ngereview^^
zukazuka muehehehehe, seandainya saja membuang Jongin itu seperti membalikkan telapak tangan .
Makasih udah ngereview^^
XiaLu BlackPearl: Lulu kasian emang, tapi sebenarnya Thehun juga kasian kok :(
Makasih udah ngereview^^
HunHan Baby: Mau HunHan hepi ending? Oke, bisa dipertimbangkan :D Setelah baca chap ini, masih mau hukum karma berlaku? Gak mungkin kabur deh kakak kalo baca review dari reader. Seneng banget malah. Emang rada ngaret chap kemaren. Mungkin setelah ini juga akan begitu -_-
Makasih udah ngereview^^
Eunsoo01: HunHan harus terpisah :'( Gimana dong? Tapi mungkin gak akan lama kok terpisahnya :)
Makasih udah ngereview^^
RirinSekarini: Siiip. Puasa, ff tetep jalan. Cuma updatenya jadi rada molor aja :)
Makasih udah ngereview^^
Little Deer: huweee, jangan mewek :'( Jongin bakalan gangguin HunHan sampe' Sehun menentukan pilihannya. Sehun baru 1 kali kok bohongin Luhan. Dia gak pernah bohong sama Luhan kecuali masalah insiden menyesakkan kemaren ntu :( Kenapa Luhan gak pacaran sama Kris? Karena di list pairing gak ada tulisan KrisHan ;) #plakk -_-
Makasih udah ngereview^^
Amortentia Chan: Andwaeeeee! Luhan gak boleh pacaran sama Kris. Kris itu milik Liyya #plakk #disemburNaga
Makasih udah ngereview^^
Ryu Que: Duijhang emang baek banget . Tao ada kok. Jadi cameo di chap berapa gitu? Lupa -_- Barengan sama Lay juga :)
Makasih udah ngereview^^
Queen DheVils49: Nah, Sehun aja masih bingung tuh sama perasaannya o.O Semoga saja yaaaa. Amiiin :D
Makasih udah ngereview^^
uswatun hasanah: Eon juga gak tau kenapa bisa Lulu dibikin kaya' gini. Tau-tau pas ngedit, udah begini -_- Penderitaan Luhan masih ada. Tapi nanti imbang sama penderitaannya Sehun juga kok :)
Makasih udah ngereview^^
ChickenKID: Sehun gak labil ternyata. Dia Cuma sedang bingung n tersesat. Ayo dikasih pencerahan . Luhan terlalu sabar dan terlalu cinta ke Sehun. Tapi kesabaran itu pasti ada batasnya donk ;)
Makasih udah ngereview^^
lena99: Ayo kita bunuh Jongin rame-rame :D Kekekeke. Sehun sebenernya gak 'oon. Dia Cuma sedang bingung aja :(
Makasih udah ngereview^^
haejoonma: Kan udah bilang kemaren, emang itu tugasnya Kkamjong . Hmmmm, Lulu sama bang Naga? Ooooh tidak bisaaaa *smirk*
Makasih udah ngereview^^
asroyasrii: Mau KrisHan? Hmmm, kapan-kapan yaaa. Karena di ff ini, Lulu Cuma milik Sehun :D Jangan buang Sehun ke ciliwung, ntar Lulu tambah kejer nangisnya :'(
Makasih udah ngereview^^
Shizuluhan: ff favorit? Huwaaa, gomawoooo #bow# Sehun sebenernya gak ragu sama Lulu. Dia ragu sama kkamjongnya -_- Jangan bakar Hunkai. Bakar Kai aja #plakk hehehehehe. Baby deer itu memang tipe pacar yang super setia #hugLuhan Sukurlah kalo Shizu suka sama Krishan moment nya :) Penderitaan Lulu belom berakhir. Tapi nanti imbang sama penderitaannya Sehun ;)
Makasih udah ngereview^^
lele: Reader baru? Annyeong ^_^ Welcome yaaa :) Makasih udah dibilang bagus :D
Makasih udah ngereview^^
sari2min: Ternyata di chap ini, Liyya gak meng-ekspose penderitaannya Luhan kak. Change of Plans gitu deeeh -_- Pengen ngejelasin perasaannya si Cadel :) Sepertinya chap depan Luhan bakal meledak kok. Plus BaekSoo juga yang kayaknya udah pada asah pisau di sana #domana? *gak tau #plakk . Pengennya Luhan sama Kris aja. Tapi apa hendak dikata. Luhan cintehnya sama Thehun :/
Makasih udah ngereview^^
: Gpp kok :) Yang penting udah berkenan baca :D Sukurlah kalo feel nya dapat hehehehe. Liyya waktu nulis juga galau bareng Luhan kok . Kris mau gak ya sama chingu? Nanti aku tanyakan dulu deh ;)
Makasih udah ngereview^^
Uchiha Tachi'4'Sora: Sebelumnya maaf kalau UN nya salah. Soalnya Liyya ketik manual :) Prince n Princess. Liyya juga suka bayangin KrisHan seperti itu. makanya Liyya make 'Princess' sebagai nama panggilan Luhan dari Kris :D
Makasih udah ngereview^^
: Naaaaaah. Akhirnyaaaaa. Ada juga yang paham banget sama apa yang dirasakan Sehun . Awalnya Liyya bingung mau gimana ngejelasin perasaan Sehun. Tapi habis baca komen kamu, Liyya langsung dapat pencerahan. Gomawo yaaaa :D
Makasih udah ngereview^^
: Betul banget ntu. Perjalanan cinta itu emang penuh lika liku . Eonnie juga sebenernya g sabar pengen nulis chap endingnya, hehehehe.
Makasih udah ngereview^^
ssjllf: Kris emang so sweet :) #ikutanciumKris :*
Makasih udah ngereview^^
Lee TaeHyunie: Pasti bukan kaiHun dooonk ;) HunHan bersatu atau tidak, itu tergantung permintaan readers :D
Makasih udah ngereview^^
ki-sl: Muahahahaha. Yakin lah sumpah Liyya gak tega sebenernya. Tapi entah kenapa, ada kesenangan tersendiri kalau nulis bagian Luhan yang njleb2 gitu #plakk #authorsarap #fanskurangajhar -_- Chap depan Sehun bakal mulai tersiksa kok ;) Makasih buat semangatnya :D
Makasih udah ngereview^^
WinterHeaven: Huweeeee #ikutannangiskejer yang REAL ntu cuma HunHan . Ini udah next. Gak terlalu nyesek kan? ;)
Makasih udah ngereview^^
Nurfadillah: Reader baru? Welcome yaaa ^_^ Sehun gak plinplan sebenarnya. Dia Cuma sedikit bingun #plakk Mungkin Eomma Sehun bakal datang saat Sehun benar-benar tersesat nanti ;)
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi? Jangan takut untuk mengkritik, menyuarakan pendapat, dan bahkan menghina.
So, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu
