By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Others
Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 17 of ?
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
.
HAPPY READING^^
.
Preview Chapter:
Sehun bisa melihat satu tetes air mata yang berhasil lolos dari mata indah Luhan tepat sebelum Luhan berbalik. Dan itu membuat dadanya serasa terhimpit sesuatu yang sangat berat. Dan segera setelah dia berhasil mendapatkan kesadarannya kembali, Sehun bergegas untuk berlari mengejar Luhan. Namun sesuatu menahan pergerakannya. Sesuatu yang melingkar erat di lengan kirinya.
~O.O~
Luhan melangkah riang memasuki rumahnya. Terlihat sekali kalau perasaannya sedang amat sangat bahagia dengan senyum lebar yang tidak pernah lepas dari wajah manisnya. Setelah mengunci pintu depan, dia langsung menghampiri BaekSoo yang sedang menonton televisi sambil menikmati pizza dan mendudukkan dirinya di tengah-tengah keduanya. Mengabaikan protesan yang keluar dari mulut BaekSoo. Sebenarnya, walaupun mereka protes karena Luhan yang datang tiba-tiba dan mengganggu kegiatan mereka, keduanya justru tersenyum dalam hati melihat keceriaan Luhan yang sempat hilang selama beberapa hari terakhir ini.
"Kelihatannya kau senang sekali, Hyung?" tanya Baekhyun basa-basi, karena tidak perlu ditanya pun, wajah Luhan sudah menunjukkan semuanya.
"Eum! Aku senang sekali, Baekkie-ya!" jawab Luhan kemudian memeluk Baekhyun dari samping dan mulai bercerita tentang kegiatannya hari ini. "Bukankah Sehun itu sangat baik dan romantis! Dia bahkan tidak marah saat aku menyuruhnya memboncengku ke sana kemari. Kalian tahu apa yang dia katakan padaku?" tanya Luhan beralih memeluk Kyungsoo kali ini. BaekSoo tidak menjawab. Hanya menunggu Luhan melanjutkan ceritanya.
"Dia bilang, 'Walaupun lelah, tapi menyenangkan. Karena kau ada di sini bersamaku'. Kyaaaaaa! Bukankah Sehunnie sangat manis?!" serunya senang. Kyungsoo hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya setuju.
"Hmmmm, baguslah kalau dia membuatmu senang, Hyung!" Baekhyun memberi komentar seadanya dan kembali memfokuskan perhatiannya pada acara televisi. Sepertinya Baekhyun masih sedikit kesal pada Sehun. Luhan menatap Baekhyun paham. Mungkin Baekhyun masih butuh waktu.
"Ah! Aku membeli sesuatu untuk kalian!" seru Luhan mengalihkan pembicaraan.
"Jeongmal? Aaaah, aku kira kau akan melupakan kami, Hyung!" ujar Kyungsoo. "Tentu saja aku tidak akan melupakan kalian! Tunggu sebentar." Luhan meraih plastik yang berisikan piyama kembar 3 yang dibelinya tadi.
"Tada...!" ucapnya sambil memamerkan piyama putih bermotif rusa pilihannya. Oke! Sepertinya putih adalah warna favoritnya, mengingat isi lemarinya yang didominasi oleh pakaian berwarna putih.
"Whoaaa! Piyama baru untuk pajama party!" pekik Baekhyun senang. "Hyung memang yang terbaik!" ucapnya menunjukkan kedua jempolnya pada Luhan. "Lalu, yang di plastik satunya isinya apa, Hyung?" tanya Kyungsoo.
Luhan mengernyitkan dahinya bingung. 'Memangnya dia membeli apa lagi selain piyama untuk mereka bertiga?' pikirnya sambil meraih plastik tersebut.
"Ah!" Luhan menepuk kepalanya saat melihat isi plastik. Bagaimana dia bisa lupa kalau dia juga membelikan jaket untuk Sehun? Hhhhhh. Salahkan Sehun dan ciuman-ciumannya sebelum mereka berpisah yang membuatnya lupa daratan. Luhan melirik jam dinding di atas televisi sekilas. Sudah 30 menit berlalu sejak Sehun meninggalkan rumahnya. Seharusnya sekarang Sehun sudah berada di apartemennya.
"Kenapa, Hyung? Jangan bilang kau salah membawa kantung plastik orang lain!" ucap Baekhyun sarkastik yang langsung mendapatkan sentilan sayang dari Luhan. "Enak saja! Itu jaket milik Sehun tahu!" ujar Luhan sewot mengabaikan 'the pouty' Baekhyun.
"Aiiissshh. Ya sudah lah. Kalau begitu aku mau ke apartemen Sehun dulu untuk mengantarkan ini," ucapnya seraya memasukkan kembali jaket di tangannya ke dalam kantung plastik.
"Hyung! Andwae! Jangan keluar sendiri. Ini sudah malam. Biar aku temani, ne?" cegah Baekhyun. "Aku juga ikut," sahut Kyungsoo yang menganggukkan kepalanya setuju. Luhan hanya menatap kedua dongsaengnya malas sebelum bersuara. "Yaaaaaaah! Memangnya aku ini anak kecil? Aku bahkan lebih tua dari kalian berdua. Lagi pula, apartemennya Sehun itu bukan di Busan sana. Hanya butuh beberapa menit jalan kaki dari sini."
"Tapi tetap saja kau akan jalan sendirian," ucap Baekhyun. "Lagi pula, mengapa tidak diberikan besok saja sih?" lanjut Kyungsoo. 'Tentu saja karena aku ingin melihat Sehun memakai ini besok!' batin Luhan.
"Kalau kalian tidak membiarkanku pergi sekarang juga, maka malam akan semakin larut."
"Aiiisssh. Baiklah, baiklah. Tapi jangan lama-lama, Hyung!" ucap BaekSoo menyerah pada akhirnya. "Ya, ya, ya. Aku kan hanya akan memberikan ini saja dan langsung pulang, bukan untuk makan malam di sana," jawab Luhan dan beranjak dari duduknya. Saat dia tiba di depan pintu, dia kembali membalikkan badannya. "Ya! Byun Baekhyun! Do Kyungsoo! Pizza nya jangan dihabiskan! Awas saja kalau saat aku pulang nanti Pizza nya sudah lenyap!" ancamnya sebelum menghilang di balik pintu.
'Luhan pabo! Mengapa kau bisa lupa untuk memberikan jaket ini pada Sehun sebelum dia pulang tadi? Sekarang kau harus berjalan ke apartemennya Sehun untuk mengantarkannya kan! Dasar pabo, pabo, pabo!' Luhan merutuki dirinya sepanjang perjalanan ke apartemen Sehun.
'Ah, tapi tidak apa-apa. Dengan begini, aku kan jadi bisa bertemu dengan Sehun lagi. Kekekeke. Aaaaaaahhh. Sehun pasti akan terlihat sangat tampan saat memakainya besok. Lagipula, Sehun kan memang sudah tampan. Kekeke," batinnya sambil terus memeluk kantung plastik yang dibawanya erat-erat. Seolah itu adalah hal paling berharga yang dimilikinnya saat ini.
Luhan terus berjalan sambil tersenyum sendiri memikirkan dan membayangkan bagaimana kira-kira reaksi Sehun saat melihatnya yang tiba-tiba muncul di apartemennya malam-malam begini.
Sehun pasti akan senang sekali saat melihatnya beridiri di depan pintu apartemennya nanti. Lalu saat menyadari kalau Luhan berjalan sendiri ke sana pada jam segini, Sehun pasti akan mengkhawatirkannya. Kemudian dia akan menceramahinya karena tidak mau menunggu hari esok untuk memberikan jaketnya. Lalu saat Luhan memberikan alasannya, Sehun pasti akan mendesah pelan dan berkata, 'Kenapa tidak memintaku untuk kembali ke rumahmu dan mengambilnya?'. Dan Luhan akan tertawa kecil sebagai jawaban sebelum dengan senang hati meminta hadiahnya pada Sehun. Mungkin semangkuk es krim?
Aniya. Luhan menggelengkan kepalanya. Sehun pasti tidak akan membiarkannya makan es krim malam-malam begini. Lalu apa yang akan dimintanya? Aaaaah. Luhan tahu. Sesuatu yang menguntungkan untuk keduanya. Seperti, sebuah ciuman selamat tidur? Kekekeke.
BLUSSHHH. Aigooo. Membayangkannya saja sudah membuat pipinya terasa panas dan merona sempurna.
Luhan terkekeh sendiri membayangkan semua itu. Luhan sangat mengenal sifat-sifat Sehun. Dan dia tahu, apa yang akan terjadi nanti pasti akan sama persis seperti apa yang baru saja dibayangkannya. Well, mungkin memang akan sama persis, kalau saja—
'Sehun? Jongin?'
— dia tidak melihat apa yang saat ini sedang disaksikan oleh kedua mata indahnya yang mulai memanas seiring dengan hatinya yang terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum.
Luhan melihatnya. Dia melihat dengan jelas Sehun dan Jongin yang berdiri hanya beberapa meter darinya. Melihat bagaimana Jongin mendekatkan wajahnya pada Sehun seolah ingin menciumnya. Melihat bagaimana Sehun sama sekali tidak menolak apa yang akan dilakukan Jongin padanya. Dan tepat saat kedua bibir itu hampir bertemu, Luhan benar-benar merasa lemas pada seluruh persendian tubuhnya. Seolah seluruh kekuatan di tubuhnya sirna. Dan plastik di tangannya pun terjatuh begitu saja.
Trak
Dan suara itu sepertinya berhasil menarik perhatian kedua insan yang nyaris berciuman di depannya itu dan menolehkan kepala mereka ke arahnya.
"Luhan...!"
Luhan tidak mendengar suara Sehun yang memanggil namanya. Karena saat ini, telinganya berdengung keras, memblokir semua suara yang masuk sehingga dia tidak bisa mendengar apapun. Luhhan tercekat dan terpaku di tempatnya berdiri. Dia hanya menatap nanar pada Sehun yang juga menatapnya terkejut. Bibirnya bergetar dan kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Sehun sendiri hanya terdiam di sana. Sama sekali tidak menghampirinya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma-maaf. A-aku rasa, a-aku datang di saat y-yang tidak te-tepat," ucapnya terbata dengan suaranya yang bergetar sebelum membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Sehun yang masih mematung di tempatnya. Dia sudah tidak sanggup untuk berdiri seperti orang bodoh di sana lebih lama lagi. Meninggalkan jaket Sehun yang terbungkus aman di dalam kantung plastik yang terlupakan di atas jalanan yang dingin. Sedingin perasaan Luhan saat ini.
Luhan berlari meninggalkan apartemen Sehun dengan air mata yang terus berlomba-lomba membasahi wajah manisnya. Namun sedetik kemudian, Luhan memperlambat laju langkahnya dan menoleh ke belakang. Berharap dia akan melihat Sehun yang berlari ke arahnya. Berharap Sehun akan datang mengerjarnya dan menjelaskan semuanya. Berkata kalau semua yang dia lihat hanyalah sebuah kesalah pahaman belaka. Karena terlepas dari apa yang dilihatnya barusan. Terlepas dari seberapa nyatanya hal itu untuk menjadi sebuah kesalahpahaman belaka. Luhan pasti akan mempercayai apapun yang dikatakan Sehun.
Namun lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan dan pahitnya kenyataan yang terjadi. Karena bahkan saat dia sudah memperlambat jalannya dan hampir sampai di rumahnya, Sehun tak kunjung datang seperti harapannya. Bahkan tidak bayangannya sekalipun.
Luhan terus berjalan menuju rumahnya sambil memukul dadanya yang terasa benar-benar sakit. Seolah dengan begitu, dia bisa mengurangi rasa sakitnya. Bayangan kejadian barusan terus berputar di kepalanya, dan itu membuat dadanya terasa benar-benar sesak.
'Oh Sehun. Itukah yang selama ini kau lakukan dengan Jongin setiap kali kalian bersama?'
"Aku tidak perduli kalaupun jika Jongin datang kembali, Sehunnie akan kembali bersamanya dan meninggalkanku,"
Luhan menelan ludahnya kasar mengingat apa yang pernah diucapkannya pada Sehun. 'Jadi, pada akhirnya kau akan benar-benar meninggalkanku untuk Jongin, Sehun-ah?' batinnya miris.
Saat tiba di depan pintu rumahnya, Luhan menghapus seluruh jejak air mata dari wajahnya. Dia menutup matanya erat agar kristal bening itu berhenti mengalir. Menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu rumahnya pelan.
CKLEK
"Oh, Hyung! Kau sudah pul—" Ucapan Baekhyun berhenti di kerongkongannya begitu melihat Luhan. "Hyung? Kau kenapa?" tanya nya kemudian. Walau tidak ada air mata di wajahnya, Baekhyun tahu kalau Luhan tidak sedang baik-baik saja. Hidung semerah tomat. Mata sembab. Tatapan kosong yang seolah kehilangan cahayanya. Luhan jelas baru saja menangis.
"Ba-Baek, Baekhyun-ah! Hiks." Dan air mata itu membasahi pipi Luhan. Kali ini dia tidak menahannya. Luhan pasrah saja saat Baekhyun dan Kyungsoo memeluknya khawatir. Dia pasrah saja saat Baekhyun menuntunnya untuk duduk di atas sofa. Dia pasrah saja saat Baekhyun menenggelamkan wajahnya di dada mungilnya, saat Kyungsoo mengusap-usap sayang punggungnya. Luhan hanya menangis dan terus menangis. Meluapkan semua emosinya. Semua kesedihannya. Kemarahannya. Kekecewaannya.
BaekSoo saling melempar pandangan bingung satu sama lain. Bukankah satu jam yang lalu Luhan masih tersenyum manis sambil terus memamerkan acara kencannya dengan Sehun? Bukankah baru satu jam lalu Luhan pergi ke apartemen Sehun dengan penuh semangat? Baru saja mereka akhirnya melihat senyum ceria Luhan dalam satu minggu ini, mengapa Luhan jadi bersedih lagi? Apa yang terjadi di apartemen Sehun hingga membuat Luhan menangis hebat seperti ini?
"Hyung! Apa yang terjadi, hmm?" Baekhyun tahu seharusnya dia menunggu tangisan Luhan reda. Menunggu Luhan agar lebih tenang sebelum bertanya apa yang terjadi. Tapi sepertinya lidahnya punya rencana lain. Rencana yang bertentangan dengan apa yang diperintahkan hatinya.
"Hyung?!" Kali ini suara lembut Kyungsoo yang masih diselimuti kekhawatiran yang terdengar. Entah ditujukan pada siapa, mengingat kedua orang di depannya sekarang sama-sama Hyungnya. Entah pada Luhan agar dia segera menceritakan apa yang terjadi. Atau pada Baekhyun agar dia berhenti bertanya dan membiarkan Luhan mengeluarkan semua emosinya dulu.
'Kali ini apalagi yang kau lakukan, Oh Sehun?' batin Kyungsoo prihatin sambil terus mengusap-usap punggung Luhan. Mencoba sedikit menenangkannya. "Hyung." Hanya itu yang keluar dari bibir mungilnya yang bergetar menahan air matanya saat mendengar isakan Luhan yang semakin menjadi-jadi. Baekhyun sendiri sudah menangis dalam diam sambil terus memeluk Luhan erat. Baekhyun memang paling tidak bisa melihat Luhan menangis.
Setelah beberapa saat menangis hebat, Luhan mulai bisa mengendalikan emosinya dan menceritakan apa yang terjadi. "Baekhyun-ah. Hiks hiks," ucap Luhan di sela-sela isakannya. "Sehunnie, hiks, Jongin, hiks. Mereka, mereka..." Dan Luhan kembali menangis tersedu-sedu saat mengingat kembali kejadian tadi. Tangannya menggenggam erat baju bagian depan Baekhyun. Seolah hidupnya bergantung padanya.
'Kau keterlaluan, Oh Sehun!' Baekhyun semakin meneratkan pelukannya. Membuat mental note dalam hati untuk memberi Sehun pelajaran.
~O.O~
Sehun menatap Jongin tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya. Dia mencoba menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa sangan sulit akibat ucapan Jongin. Tangan Jongin masih melingkar erat di pergelangan tangannya. "J-Jongin-ah. Apa—"
"Kau mendengarnya dengan sangat jelas, Sehun-ah!" potong Jongin. "Kembalilah padaku. Kita mulai dari awal lagi. Kita perbaiki semuanya," lanjutnya mantap.
"M-MWO?! Memulainya dari awal? Kau gila Kim Jongin," Sehun menggelengkan kepalanya tak percaya. Setelah semuanya, setelah setahun lebih menghilang, setelah Sehun mulai bisa mencintai orang lain, Jongin memintanya untuk memulai lagi dari awal dengannya?
"Wae?" tanya Sehun kemudian. "Mengapa kau mengakhiri semuanya saat itu. Bukankah kau yang bilang kalau kau ingin menjadi namja normal seperti namja lainnya? Mencintai dan dicintai oleh seorang wanita seperti seharusnya? Lalu mengapa?" Sehun menggantungkan pertanyaannya. "Mengapa kau tiba-tiba datang kembali dan menghancurkan apa yang aku miliki sekarang? Wae? Mengapa kau melakukannya padaku Kim Jongin? Apa kau begitu membenciku sehingga kau melakukan ini semua? Kau jelas tahu kalau aku bersama Luhan sekarang. Jadi mengapa? Mengapa kau membuatku bingung seperti ini? Mengapa kau membuatku terus menyakiti Luhan?"
"Karena aku terlalu mencintaimu," jawab Jongin tegas. "Karena aku terlalu mencintaimu, aku benci mendengar semua ceritamu tentang Luhan Hyung. Karena aku terlalu mencintaimu, aku benci saat kau selalu mengelu-elukan Luhan Hyung di depanku. Karena aku terlalu mencintaimu, aku benci saat kau terkesan seperti mengabaikanku untuk Luhan Hyung. Karena aku terlalu mencintaimu, aku memutuskan untuk meninggalkanmu sebelum kau meninggalkanku." Jongin mengeraskan rahangnya dan menghirup nafas perlahan menahan emosi yang terasa meluap-luap di sekujur tubuhnya.
"Karena aku terlalu mencintaimu, bahkan setelah setahun berpisah yang ada dalam pikiranku hanya Oh Sehun. Karena aku terlalu mencintaimu, bahkan aku tidak bisa mencintai yang lain. Karena aku terlalu mencintaimu, bahkan saat aku berkencan dengan orang lain, aku selalu membayangkan kalau itu adalah kau, Oh Sehun. Karena aku terlalu mencintaimu, aku mengabaikan semua ego dan harga diriku untuk memintamu kembali padaku. Karena aku terlalu mencintaimu, aku menghalalkan segala cara agar kau mau kembali padaku. Bahkan aku telah menyakiti orang yang seharusnya tidak boleh aku sakiti."
Lagi, Sehun menatap Jongin tak percaya. Jadi selama ini Jongin berfikir seperti itu?
"Kau bisa mengatakannya padaku, Jongin-ah. Seharusnya kau mengatakannya jika kau tidak menyukainya. Luhan adalah Hyung ku. Aku hanya terlalu senang saat itu. Seperti seorang kakak yang senang saat adiknya lahir. Aku sangat senang saat memiliki Luhan sebagai Hyungku. Tidak ada perasaan lain. Kau mengenalku dengan baik. Kita sahabat sebelum menjadi sepasang kekasih. Kau sangat tahu bagaimana aku yang tidak pandai membaca perasaan orang lain. Bagaimana aku yang tidak sensitif pada perasaan orang lain. Kau hanya perlu mengatakannya dan kita bisa memperbaiki semuanya. Bukan dengan mengakhiri hubungan kita begitu saja."
"Aku tahu aku salah. Karena itu, tidak bisakan kita mengulanginya lagi dari awal? Tidak bisakah kau meninggalkan Luhan Hyung dan kembali padaku?" pinta Jongin lagi.
"J-Jongin-ah. A-aku—" Sehun membuka mulutnya namu kembali menutupnya sebelum satu kalimat pun sempat terucap. Apa yang harus diucapkannya? Seharusnya sudah jelas bukan? Sehun mencintai Luhan. Lalu mengapa dia ragu untuk mengatakannya? Perasaan bersalah karena membuat Jongin merasakan itu semua di masa lalu membuatnya ragu. Lalu apa yang harus dia lakukan?
"See! Kau bahkan tidak bisa menolakku dengan tegas walaupun kau jelas-jelas memiliki Luhan Hyung sekarang!" tegas Jongin. "Wae? Kau takut Luhan Hyung akan marah?" tanya nya.
'NO!' batin Sehun. Kalau saja Luhan marah padanya, itu akan jauh lebih baik dari pada harus melihat Luhan menangis. Tapi kenyataannya, Luhan tidak mungkin marah padanya. Dia pasti akan berkata, 'Aku baik-baik saja' kemudian menangis di belakangnya. Itulah Luhan yang Sehun kenal.
"Jongin-ah. Aku tidak—"
"Jangan dijawab sekarang, please! Kau bahkan belum mempertimbangkannya. Paling tidak, pikirkanlah dulu. Pikirkan baik-baik. Aku akan menunggu jawabannya. Satu minggu. Hanya satu minggu saja. Tak bisakah kau melakukannya untukku?"
Sehun menatap Jongin lekat-lekat. Apa yang harus dijawabnya? Dia mencintai Luhan. Karena itu, seharusnya dia menjawab 'tidak', kan? Lalu mengapa—
"Aku akan memikirkannya."
— lidahnya berkata lain?
Sehun terdiam di kamarnya. Menatap jaket hitam yang 'sepertinya' dibelikan oleh Luhan untuknya. Mendekapnya erat bersamaan dengan wajah terluka Luhan yang terus berputar di kepalanya. Ya Tuhan! Kali ini apa lagi yang dilakukannya? Lagi-lagi dia membuat mata indah itu mengeluarkan liquid beningnya.
Sehun merutuki dirinya yang tidak langsung mengejar Luhan tadi. Bagaimana bisa? Dia sendiri terlalu terkejut dengan pengakuan Jongin padanya. Semuanya terjadi begitu cepat. Sangat cepat. Hingga bahkan sebelum otak lambannya sempat mencerna apa yang sedang terjadi, Luhan telah hilang dari pandangan matanya.
'Shit'
Sehun mengumpat pelan. Dari tadi, dia terus berusaha menghubungi Luhan. Mengiriminya pesan. Menelfonnya. Namun tak kunjung ada jawaban dari seberang sana. Luhan tidak membalas pesan-pesannya. Dia juga tidak mengangkat panggilannya. Dan entah pada percobaan yang keberapa, akhirnya Luhan mengangkat telfonnya.
"STOP CALLING, OH SEHUN!" Pip
Atau lebih tepatnya seseorang yang berteriak marah padanya dari seberang sana. Dan yang jelas itu bukan Luhan. Itu suara Baekhyun. Dan pada panggilan berikutnya, Sehun langsung disambut oleh voicemail dari ponsel Luhan. Sepertinya Baekhyun mematikan ponselnya.
Great! Sehun menjambak rambutnya frustasi. Sepertinya dia harus berhadapan dengan Baekhyun dulu sebelum bisa menjelaskan semuanya pada Luhan besok.
~O.O~
Paginya, Sehun memutuskan untuk mencegat Luhan di gerbang kampus saja. Karena kalau Sehun mendatangi rumahnya, Sehun tidak yakin kalau Luhan mau menemuinya. Setidaknya kalau mereka berpapasan di sana, Luhan tidak mungkin lari darinya. Walaupun dia harus berhadapan dengan Baekhyun dan Kyungsoo terlebih dahulu.
Namun sepertinya Sehun harus kembali bersabar kalau ingin bertemu dengan Luhan. Karena yang saat ini berjalan menuju arahnya, semakin cepat ketika melihat Sehun yang berdiri di depan gerbang, dengan tangan terkepal kuat di sisi tubuhnya bukanlah Luhan. Hanya ChanBaek dan SuDo. Tidak ada Luhan diantara mereka.
'Oke, Sehun. Kau harus bisa menghadapinya. Ini salahmu, remember. Kau harus menerima apapun resikonya,' batinnya saat melihat aura dan tatapan membunuh dari Baekhyun.
Baekhyun berjalan cepat mendahului Chanyeol dan SuDo. Saat ini, emosinya sudah diubun-ubun. Kalau saja dia tidak harus menenangkan Luhan semalaman sampai Luhan tertidur di pelukannya, dia pasti sudah mendatangi apartemen namja tampan yang saat ini dengan seenaknya sedang berdiri tanpa dosa di depan gerbang itu.
"Hyu—"
BUGH
Dan satu pukulan keras melayang di wajah bagian kiri Sehun, membuatnya tersungkur ke belakang dan terjatuh karena tidak siap menerima serangan Baekhyun yang tiba-tiba. Tangan Baekhyun mungkin kecil, tapi dia tetap anggota Hapkido saat di sekolahnya dulu. Tubuhnya mungkin mungil, tapi Baekhyun memastikan untuk mengerahkan seluruh tenaganya dalam pukulannya tadi. Menunjukkan pada Sehun kalau dia benar-benar marah.
"KAU! HOW DARE YOU! BERANI-BERANINYA KAU MELAKUKAN ITU PADA LUHAN HYUNG!" Baekhyun menarik kerah jaket Sehun, memaksanya berdiri.
BUGH
Satu pukulan lagi. Masih di tempat yang sama. "PERTAMA! KAU MELUPAKAN JANJI KENCAN KALIAN. MEMBIARKANNYA MENUNGGUMU SENDIRIAN DI SANA, DI DALAM BOX TELEPON, DI TENGAH-TENGAH CUACA MENGERIKAN SEPERTI ITU!"
BUGH
"KEDUA! KAU MENGABAIKAN LUHAN HYUNG HANYA DEMI NAMJA ITU! MENGHABISKAN SEMUA WAKTU LUANGMU BERSAMANYA TANPA MEMIKIRKAN BAGAIMANA PERASAAN LUHAN HYUNG!" Bakhyun tahu, Luhan mungkin tidak akan suka kalau dia tahu Baekhyun menghajar Sehun. Tapi saat ini dia tidak perduli. Bahkan Chanyeol dan SuDo tidak menghentikannya.
"Luhan Hyung mungkin memberikanmu izin untuk menghabiskan waktumu dengan namja itu. Tapi seharusnya KAU, lebih dari siapapun, tahu bagaimana perasaannya, Oh Sehun! Kau bahkan tidak suka melihat Luhan Hyung yang hanya berbicara dengan Kris Hyung. Dan dia menghargai itu. LALU APA YANG MEMBUATMU BERFIKIR KALAU LUHAN HYUNG AKAN SENANG SAAT KAU PERGI BERSAMA NAMJA ITU?!"
BUGH
Awww. Sehun memegang rahang kirinya yang terasa berdenyut. Dia bisa merasakan sesuatu yang asin di sudut bibirnya dan mengusapnya pelan.
"DAN SEKARANG! KAU MEMBUATNYA MELIHATMU BERCIUMAN DENGAN NAMJA ITU DAN SAMA SEKALI TIDAK BERUSAHA MENGEJARNYA!" Baekhyun kembali mencengkram kerah Sehun kuat. Sehun ingin menjawab, kalau mereka tidak berciuman. Well, mungkin hampir, tapi tetap saja dia tidak berciuman dengan Jongin. Namun dia hanya diam. Menjawab perkataan Baekhyun bukanlah ide yang baik. Lagipula, dia memang bersalah.
"I CLEARLY TOLD YOU, OH SEHUN! Selesaikan masalahmu dengan namja itu segera! Atau lepaskan HYUNGKU!" ucapnya tegas, membuat Sehun mendongakkan wajahnya untuk menatap Baekhyun.
"Kenapa kau melakukan itu pada Luhan Hyung? Apa salahnya pada mu, Oh Sehun? Apa yang dilakukannya padamu sehingga kau melakukan hal ini padanya? Kesalahan apa yang dia perbuat hingga kau menyakitinya seperti ini? Apa yang dimiliki oleh namja itu yang tidak dimiliki oleh Luhan Hyung sampai-sampai kau lebih memilihnya dari pada Luhan Hyung?!" Baekhyun memukul-mukul dada Sehun lemah. Air mata Baekhyun sudah mengalir deras saat ini. Dan rasanya semua tenaganya ikut terkuras bersama dengan air matanya.
"Dia tidak melakukan apapun, Oh Sehun! Dia tidak melakukan apapun selain mempercayaimu. Mempercayai setiap perkataan yang kau ucapkan padanya. Dia tidak melakukan apapun selain mencintaimu walaupun kau tidak mencintainya. Dia tidak melakukan apapun selain bersabar dan menunggu kau berbalik mencintainya. Dia tidak melakukan apapun sealain memaafkanmu begitu saja setiap kali kau melakukan kesalahan padanya. Dia tidak melakukan apapun selain berusaha membuatmu bahagia. Dia, hanya terlalu mencintaimu!"
Sehun terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Karena semua yang dikatakan Baekhyun memang benar. Luhan tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya.
"Apa semua yang dilakukannya itu terlihat sebagai sebuah kesalahan bagimu? Apakah terlalu mencintaimu itu sebuah kesalahan? Karena itukah kau melakukan semua ini padanya sebagai balasannya?" tanya Baekhyun sinis. "Jawab aku, Oh Sehun! Apa lidahmu sudah tak berfungsi lagi? Mengapa kau tidak menjawabnya? Apa karena itu kau tega menyakiti Luhan Hyung seperti ini? Tidak sekali. Tidak dua kali. Kau menyakitinya berkali-kali."
Baekhyun terus memukul Sehun lebih keras kali ini. Emosinya tiba-tiba kembali memuncak. Kalau bukan karena Chanyeol yang menariknya ke dalam pelukannya untuk menenangkannya, dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya pada Sehun.
"Baekhyun-ah. Sudahlah. Kau harus tenang. Orang-orang menyaksikan. Luhan Hyung juga tidak akan suka kalau kau seperti ini!" ucap Chanyeol lembut sambil terus mengusap-usap punggung Baekhyun.
"Tapi dia keterlaluan, hiks. Apa salah Hyungku padanya, Chanyeol-ah? Hiks hiks. Kau tidak melihat bagaimana, hiks, keadaan Luhan Hyung sehabis menunggunya, hiks, selama berjam-jam di tengah cuaca yang sangat buruk. Kau, hiks, tahu sendiri kalau Luhan Hyung, hiks, memiliki Astraphobia . Luhan Hyung bahkan masih saja, hiks, membelanya setelah itu. Dia bahkan masih saja mencintainya. Hiks hiks. Aku tidak terima melihat Hyungku diperlakukan seperti ini. Aku tidak bisa, Chanyeol-ah. Hiks hiks. Aku tidak bisa!" ucap Baekhyun lirih di tengah isakannya sambil menggenggam erat baju Chanyeol dan menangis di pelukannya. Chanyeol mengeratkan pelukannya, sesekali mencium puncak kepala Baekhyun.
"Chanyeol-ah!" panggil Suho. "Sebaiknya kau bawa Baekhyun pergi dari sini. Biarkan dia tenang dulu!" ucapnya. Chanyeol hanya mengangguk paham. Setelah menatap Sehun sebentar dan menggelengkan kepalanya, dia segera membawa Baekhyun yang masih menangis di pelukannya ke tempat yang lebih tenang. Tempat yang tidak ada Sehun di sana.
Setelah Baekhyun pergi, Sehun memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap Suho serta Kyungsoo yang perlahan mulai mendekatinya dengan tatapan dinginnya. Mengingat Kyungsoo yang bersifat lebih dewasa daripada Baekhyun, mungkin saja dia bisa lebih mengerti.
"Hyu—"
PLAKK
Satu tamparan keras, kali ini di pipi kanannya, dari Kyungsoo yang menatapnya marah. Memang tidak sesakit pukulan Baekhyun tadi. Namun pipinya tetap terasa panas dan perih. Sepertinya Kyungsoo masih memiliki hati nurani untuk tidak menamparnya di tempat yang sama dengan pukulan Baekhyun.
"Bukankah kau sudah berjanji untuk berhenti menyakitinya? Bukankah kau sudah berjanji untuk menyelesaikan masalahmu dengan namja itu segera tanpa harus melibatkan Luhan Hyung?" tanya nya dingin.
"Hyung! Aku—"
PLAKK
Kyungsoo menamparnya lagi. Sama sekali tidak memberi kesempatan untuk Sehun berbicara. Well, dia memang tidak membutuhkan jawaban Sehun. Yang dia butuhkan hanyalah agar Sehun mendengarkan dan mengerti apa yang akan dia katakan.
"Lalu apa yang terjadi semalam? Apa kau sangat suka melihatnya menangis? Apa perkataanku dan Baekhyun Hyung malam itu kurang jelas untukmu? Baiklah, aku akan mengatakannya lagi. Jika kau masih mencintai namja itu. Jika kau masih memiliki perasaan pada namja itu. Jika kau merasa berat untuk melepaskan namja itu. Mengapa tidak kembali saja padanya? TINGGALKAN LUHAN HYUNG! Biarkan dia bahagia dengan orang lain!"
Sehun menatap Kyungsoo tak percaya. Bahkan Kyungsoo yang notabene nya sangat tenang pun menyuruhnya meninggalkan Luhan?
"Kejadian yang lalu, aku masih bisa bersikap tenang, Oh Sehun. Tapi benar kata Baekhyun Hyung. Kali ini kau sudah keterlaluan. Aku tidak tahu apa yang dilihat Luhan Hyung darimu hingga dia benar-benar mencintaimu seperti ini. Karena dari apa yang aku lihat. Kau bahkan tidak pantas mendapatkannya. Aku kira kau bisa membahagiakannya. Aku kira kau benar-benar akan menepati janjimu. Aku KECEWA padamu, Oh Sehun!"
Setelah mengungkapkan apa yang ingin diucapkannya, Kyungsoo menarik tangan Suho untuk segera beranjak dari sana. Dia sudah ingin menangis dari tadi. Tapi dia tidak ingin menangis di depan Sehun. Karena jika dia menangis, dia tidak akan bisa mengatakan itu semua pada Sehun.
Sehun berdiri mematung di tempatnya. Memikirkan semua perkataan Baekhyun dan Kyungsoo. Sama sekali tidak memperdulikan pipinya yang panas dan rahangnya yang masih terasa berdenyut akibat pukulan Baekhyun. Tidak memerdulikan tatapan dari orang-orang yang sedari tadi menyaksikan 'pertunjukan' singkat yang dilakukannya bersama dengan BaekSoo. Sebagian menatap dengan wajah prihatin. Sebagian lagi dengan wajah bertanya.
Perlahan, Sehun mulai melangkahkan kakinya menuju gedung Fakultas Tehnik. Tentu saja dia ingin segera menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi dan menjelaskan semuanya pada Luhan. Tapi pertama, dia harus mengikuti kelasnya terlebih dahulu. Lagipula, dengan sikap Baekhyun dan Kyungsoo yang sepertinya amat sangat marah padanya, Sehun yakin akan sulit untuk menemui Luhan saat ini. Mungkin nanti sore saja. Saat BaekSoo berada di kafe, dia akan menemui Luhan di rumahnya. Luhan tidak mungkin mengikuti BaekSoo ke tempat kerja mereka demi menghindarinya, kan?
~O.O~
"Euuunngghhh," Luhan terbangun dari tidurnya saat merasakan pening di kepalanya. Sepertinya dia terlalu banyak menangis semalam. Dia kembali memejamkan matanya sebelum kemudian bangun perlahan dan duduk bersandar di night stand tempat tidurnya.
'Jam berapa ini?' pikirnya kemudian melirik jam di atas nakas.
11.00 am.
Sepertinya Baekhyun dan Kyungsoo membiarkannya untuk membolos pelajaran kali ini. Luhan mendesah pelan dan memijit kepalanya yang masih terasa sedikit pening. Perlahan air matanya mulai memupuk di kelopak matanya saat pikirannya kembali mengingat kejadian tadi malam. Namun Luhan segera menghapusnya kasar sebelum liquid itu sempat jatuh dari kedua mata indahnya.
Berhentilah bersikap cengeng Luhan! Kau itu seorang namja. Kau tidak boleh terus-terusan menangis seperti ini!
Luhan kembali menghela nafasnya dan bangun dari kasurnya. Menatap keadaannya yang terlihat acak-acakan dan menyedihkan di cermin. Mata sembab, hidung merah, rambut berantakan, jejak-jejak air mata yang menghiasi pipinya. Kau benar-benar terlihat menyedihkan, Luhan!
Dia kemudian beranjak menuju kamar mandinya. Mungkin berendam beberapa saat di dalam air hangat bisa sedikit menenangkan pikirannya yang sedang kalut saat ini. Luhan memang selalu melakukan itu jika pikirannya sedang kacau.
Satu jam kemudian, Luhan keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang sudah sedikit lebih tenang. Dia kembali melihat pantulannya di depan cermin. Well, matanya masih sedikit sembab. Tapi paling tidak, dia terlihat lebih baik sekarang. Better than before.
Setelah puas memandang pantulan bayangannya di cermin, Luhan mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang tergeletak manis di atas nakas dalam keadaan mati. Mengira kalau ponselnya kehabisan baterai, Luhan mengambil charger di dalam laci, menghubungkannya dengan ponselnya untuk mengisi daya dan menghidupkanya.
Matanya berkedip berkali-kali saat melihat puluhan pesan dan voicemail yang masuk.
Luhan-ah! Mianhae. Bisakah kau mengangkat telfonnya? - satu pesan dari Sehun.
Xiao Lu! Aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong angkat telfonnya. - another one.
Hannie! Kau marah? Mianhae! Semua itu hanya kesalahpahaman. - masih dari Sehun.
'Lu! Kau sedang menangis? Aku benar-benar minta maaf. Uljima. Semua itu benar-benar hanya sebuah kesalahpahaman. Please, kita perlu bicara, Lu. Mianhae. Aku tahu, mungkin kau belum bisa membicarakannya sekarang. Mungkin kau tidak ingin menemuiku sekarang. Karena itu, bisakah, bisakah kau menghubungiku kalau kau sudah siap untuk bicara?'
Luhan bisa mendengar nada penyesalan dari suara Sehun lewat voicemail yang diterimanya. Sejujurnya, Luhan sama sekali tidak marah. Dia tidak bisa marah pada Sehun. Dia hanya kecewa. Kecewa karena Sehun tidak segera mengejarnya untuk menjelaskan semuanya.
Luhan terus menatap ponselnya. Membaca puluhan pesan singkat dari Sehun yang berisi permintaan maaf. Menimbang-nimbang apakah dia harus menghubunginya sekarang atau menunggu sampai dia benar-benar siap untuk bertemu dengan Sehun.
Ddrrrtt ddrrrtt
Luhan nyaris terlonjak kaget saat ponsel itu tiba-tiba bergetar. 1 pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Mengernyitkan keningnya bingung, Luhan membuka isi pesan tersebut.
From: 8201068712***
Luhan Hyung! Bisakah kita bertemu?
Ada yang ingin aku bicarakan.
Jongin
Dan di sinilah dia sekarang. Di sebuah kafe di dekat rumanya. Duduk berseberangan dengan namja yang sepertinya ingin mengambil Sehun darinya.
"Ehem!" Luhan berdehem pelan untuk mencairkan suasana. "Bukankah kau bilang tadi ingin membicarakan sesuatu, Jongin-ah?" tanya Luhan. Pasalnya sudah hampir setengah jam mereka di sini, namun Jongin hanya menatapnya tanpa membuka suara.
"Tch!" Jongin mendecih pelan dan tersenyum aneh. "Sehun benar-benar tidak melebih-lebihkan saat bercerita tentangmu, Hyung!" Jongin memulai pembicaraannya, membuat kening Luhan berkerut tak paham.
"Luhan Hyung itu cute. Manis. Baik. Pengertian." Luhan tidak tahu apakah dia harus merasa tersanjung karena Sehun mengatakan itu pada Jongin atau terganggu karena suara Jongin jelas terdengar tidak suka saat menceritakannya.
"Well, Sehun benar. Buktinya, kau bahkan tidak terlihat marah setelah apa yang kau lihat tadi malam." Jongin kembali tersenyum. Senyuman yang mengintimidasi menurut Luhan. Dia hanya diam menunggu Jongin menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya.
"Aku meminta Sehun untuk kembali padaku tadi malam!" ujar Jongin tegas. Membuat Luhan terkejut dan hampir saja tersedak minumannya. "Thanks to certain someone, semuanya jadi lebih mudah bagiku untuk bisa dekat dengan Sehun dan sedikit mengintip perasaannya padaku."
"Aku membutuhkan Sehun untuk menyelesaikan urusanku." Tiba-tiba Luhan teringat apa yang Jongin katakan saat itu. Jadi inikah yang dimaksud oleh Jongin dengan urusan dengan 'teman lama' nya? Dia ingin Sehun kembali padanya?
Seandainya saja Luhan itu Baekhyun, dia yakin kalau Jongin hanya tinggal nama sekarang. "Lalu mengapa kau mengatakannya padaku?" tanya Luhan mencoba untuk tetap terlihat tenang.
"Karena kau pernah berkata sebelumnya kalau kau akan dengan senang hati membantuku untuk menyelesaikan 'urusan' ku," jawab Jongin. "Karena itu, aku ingin menagih ucapanmu. Aku ingin kau membantuku." Jongin memperhatikan wajah Luhan lekat-lekat sebelum melanjutkan kata-katanya. "Lepaskan Sehun!"
'WHAT?'
Luhan membelalakkan matanya sempurna. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengucapkan hal itu seolah-olah mereka sedang membicarakan menu apa yang akan mereka makan nanti malam? Namun detik kemudian, Luhan kembali memasang wajah tenangnya. Walau dalam hati, dia ingin sekali mencabik-cabik wajah namja di depannya ini. Masa bodoh kalau tubuhnya lebih kecil darinya.
"Mengapa kau butuh bantuanku untuk itu? Kalau Sehun memang ingin kembali padamu, dia pasti akan datang padamu tanpa perlu aku melepasnya untukmu," tanya Luhan setenang mungkin. Dia tidak boleh terlihat gugup saat ini. Dia tidak boleh terlihat meragukan cinta Sehun saat ini, atau Jongin akan mengetahuinya dan berusaha menyudutkannya.
"Karena Sehun terlalu baik untuk bisa melepasmu. Dia tidak akan tega kalau harus memutuskanmu," jawab Jongin tak kalah tenang. "Lagi pula, tidakkah kau merasa kalau hubungan kalian itu tidak Sehat, Hyung? Tidakkah kau merasa kalau Sehun terbebani saat bersamamu? 4 tahun bukan gap usia yang sedikit, Hyung. Kau jauh lebih tua dari Sehun. Apakah kau tidak merasa kasihan melihatnya yang terus berusaha menyeimbangkan diri denganmu? Melihatnya terus berusaha menjadi sedikit lebih dewasa agar pantas bersanding denganmu? Dengan gap usia yang seperti itu, bukankah seharusnya kau yang menjaga Sehun? Yang memanjakannya? Bukan sebaliknya."
"Kau juga tidak tahu apa-apa tentang Sehun. Kau hanya tahu apa yang ingin kau ketahui saja. Kau bahkan tidak tahu kalau dia tidak menyukai Strawberry Cake Hyung. Sekarang katakan padaku. Kau tahu kan kalau Sehun suka dance? Lalu, tidakkah kau merasa aneh karena tidak pernah melihat Sehun melakukan hal yang paling disukainya? Apa kau tidak pernah bertanya-tanya dalam hati mengapa Sehun tidak pernah melakukan dance lagi? Bukankah kalian saling mencintai. Bukankah seharusnya tidak ada rahasia di antara kalian? Lalu mengapa Sehun sama sekali tidak pernah membicarakan soal itu padamu?"
Jongin terseyum licik saat Luhan tidak bisa menjawab pertanyaannya. "Kau bahkan tidak bisa menjawabnya, Hyung. Berarti kau juga mengakui kalau aku benar," ucapnya. "Just admit it, Hyung! Selama ini kau selalu merasa memberi kebahagiaan pada Sehun. Tapi pada kenyataannya, Sehunlah yang selalu memberi tanpa pernah menerima." Luhan masih terdiam.
"Bukankah kau ingin melihat Sehun bahagia? Kalau begitu lepaskan dia untukku. Setidaknya kami tidak memiliki perbedaan usia. Sehun tidak perlu berusaha agar terlihat lebih dewasa saat bersamaku. Kami juga memiliki banyak kesamaan. Bahkan kami mempunyai hobi yang sama. Kami saling melengkapi, Hyung. Dan aku sangat mencintainya." Jongin terus memojokkan Luhan. Dia tahu kalau sedikit banyak, Luhan mulai berfikir kalau perkataannya sangat benar.
"Wae?" tanya Luhan tiba-tiba. "Jika kau sangat mencintainya, lalu mengapa kau mengakhiri semuanya saat itu? mengapa kau meninggalkannya begitu saja dan berkata kalau kau ingin menjadi namja yang normal?" Jongin mengerutkan keningnya tak suka mendengar pertanyaan Luhan. Pertanyaan yang persis sama seperti pertanyaan yang dilontarkan Sehun tadi malam.
"Karena aku tidak suka melihatnnya yang terlalu dekat denganmu. Karena aku merasa kalau Sehun lebih memilihmu dari pada aku," jawab Jongin jujur.
Lagi-lagi Luhan menatap Jongin tak percaya. Well, dia memikirkan banyak kemungkinan-kemungkinan mengapa Jongin memutuskan Sehun saat itu. Tapi jelas sekali kalau ini tidak ada dalam sekian banyak kemungkinan yang terlintas di benaknya. Jongin cemburu padanya?
"Tch. Bagaimana kau bisa berkata kalau kau sangat mencintainya tapi kau malah memutuskannya karena alasan seperti itu?" Luhan menggelengkan kepalanya. "Demi Tuhan, Kim Jongin! Sehun dan aku hanya berhubungan melalui telfon. Kami tidak pernah bertemu. Dia hanya menganggapku sebagai Hyung nya. Sedangkan kau memiliki Sehun di sana. Kau bisa bertemu dengan Sehun kapanpun kau mau. Sehun pasti akan selalu ada di sana jika kau memintanya."
"Bukankah kau bilang kalau kau mengenal Sehun dengan baik? Well, aku rasa kau tidak mengenalnya sebaik yang kau kira, Jongin-ah. Kau hanya mengenal Sehun dari luar. Kau tidak mengenal Sehun dari dalam. Kau bahkan tidak mempercayai cinta yang Sehun punya untukmu." Luhan menyeringai di dalam hatinya karena berhasil membalik kata-kata Jongin.
"Kau tidak berhak berkata kalau Sehun lebih memilihku hanya karena dia selalu menyebut namaku dalam setiap ceritanya. Kau tidak ada di sana ketika Sehun patah hati saat kau memutuskannya. Kau tidak mendengar bagaimana dia menangis karena kau meninggalkannya. Kau tidak ada di sana untuk menghiburnya saat dia sedang bersedih, Kim Jongin. Kau tidak pernah ada! Jadi, bagaimana mungkin aku melepaskan Sehun untuk seseorang yang tidak pernah ada untuknya?"
JLEB
Perkataan Luhan telak menusuk tepat di hatinya. Jongin mengepalkan tangannya di atas meja dan mengeraskan rahangnya mendengar semua ucapan Luhan. Berani-beraninya dia berkata kalau dia tidak mengenal Sehun dengan baik. Dia lebih dulu mengenal Sehun. Jauh sebelum Luhan hadir di tengah-tengah mereka. Dia lebih lama menghabiskan waktu bersama Sehun dari pada Luhan. Tentu saja dia lebih mengenal Sehun.
Luhan meneguk minumannya. Membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering sehabis mengatakan itu semua. Lalu dia teringat sesuatu. Dia belum memberikan jawaban atas permintaan Jongin tadi.
"Hhhhh. Aku minta maaf kalau aku tidak bisa memenuhi ucapanku untuk membantumu, Jongin-ah. Karena jauh sebelum aku membuat janji untuk membantumu, aku sudah berjanji terlebih dahulu pada Sehun kalau aku tidak akan pernah meninggalkannya. Karena itu, aku tidak bisa melepaskan Sehun. Kecuali jika dia yang meninggalkanku, maka aku tidak akan pernah melepasnya!" tegas Luhan.
"Permisi, tapi aku harus pulang sekarang. Aku rasa semuanya sudah jelas. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Biarkan Sehun yang memutuskan apakah dia akan kembali padamu, atau tetap berada di sisiku!" ucap Luhan kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Terima kasih untuk minumannya," lanjutnya kemudian sedikit membungkukkan badannya sopan.
"Kalau begitu aku akan membuatnya meninggalkanmu, Hyung!" tukas Jongin saat Luhan telah berada di belakangnya. Membuat Luhan kembali membalikkan badannya untuk menghadap Jongin.
Luhan tersenyum sangat manis sebelum menjawabnya. "Silahkan. Jika memang Sehun yang memintanya. Jika memang Sehun memilihmu dan meninggalkanku. Maka aku, akan dengan senang hati melepaskannya!" jawab Luhan tenang kemudian kembali membalikkan badannya dan meninggalkan Jongin di sana.
Luhan berjalan pelan menyusuri trotoar yang berada di sepanjang pinggiran jalan menuju rumahnya. Pembicaraannya dengan Jongin barusan sama sekali tidak membantu pikirannya yang sedang kalut dan bingung. Kenyataan bahwa Jongin bercerita tentang ciuman itu dengan santainya justru memperburuk suasana hatinya. Bahkan pandangannya mulai terasa kabur karena air mata yang seenaknya saja memberontak ingin keluar. Untung saja dia bisa menahannya agar tidak terjatuh saat bertemu dengan Jongin tadi.
Luhan merutuki dirinya sendiri yang terlalu lemah dan gampang menangis. Semuanya karena Sehun. Luhan ingat sekali kalau dia bukanlah namja yang cengeng sebelum kenal dengan Sehun dulu. Dia bahkan tidak menangis ketika harus berpisah dengan orang tuanya karena meneruskan sekolahnya di Korea. Dia juga tidak menangis walaupun dia sangat merindukan orang tuanya dan tidak bisa merayakan Natal di Beijing. Lalu mengapa Sehun mudah sekali menguras air matanya?
Luhan lalu teringat kalau Sehun memintanya menghubunginya jika dia sudah siap untuk berbicara dengan Sehun. Well, dia sudah bertemu dan berbicara dengan Jongin kan? Mengapa tidak sekalian menuntaskannya sekarang? Mumpung Baekhyun dan Kyungsoo tidak ada di rumah. Karena Luhan yakin sekali kalau mereka berdua tidak akan mengizinkannya bertemu dengan Sehun dalam waktu dekat ini. Tetapi, walau bagaimanapun, Luhan perlu berbicara dengan Sehun saat ini.
Dan dengan itu Luhan meraih ponsel di saku jaketnya dan menghubungi nomor Sehun.
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Luhan tersentak kaget saat mendengar nada dering yang tak asing lagi di telinganya. Dia sudah berada di dekat rumahnya saat ini, dan suara itu berasal dari arah rumahnya. Luhan mendongakkan kepalanya menatap namja tampan yang tengah berdiri di depan pintu pagarnya dengan ponsel di tangan kanannya yang juga menatap dirinya.
"Sehun-ah!" ucapnya pelan.
Seandainya saja ini di waktu lain, Luhan mungkin sudah berlari ke pelukan hangat Sehun begitu melihatnya berdiri di depannya. Namun kali ini, dia tidak bisa. Seolah ada sesuatu yang mencegahnya untuk menghampiri Sehun. Dan pada akhirnya, mereka hanya berdiri terpaku di tempat masing-masing. Saling menatap satu sama lain dengan tatapan rindu. Namun sama sekali tidak berniat untuk mengeliminasi jarak yang ada di tengah-tengah mereka.
~O.O~
TeBeCe
A/N:
Alohaaaaaaaaaaaaa! #tebarbonekavoodooJongin #diteleportkejamvan
Akhirnya chap ini update juga. Seperti yang Liyya bilang, chap ini berisi BaekSoo vs Sehun dan Luhan vs Kai. Bukan adegan jambak-jambakan loh ya. Luhan kan orang yang berhati lembut. Jadi dia menghadapinya dengan tenang ;)
Chap depan, baru kita kembali lagi ke main kopel kita 'HunHan'. Tapi bukan sweet moment. Sekali lagi BUKAN sweet moment. Chap depan juga bakal ada KrisHan buat chingu sekalian yang menunggu-nunggu KrisHan moment :D Ini ff mau jadi HunHan hepi end ato sad end, Liyya akan ambil suara terbanyak dari kalian semua :)
Okay! Karena chap ini udah kepanjangan, Liyya gak bakal cuap-cuap lebih lama :) Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
Amortentia Chan: Kenapa Luhan harus melihat mereka? Karena kalo g gitu ceritanya gak jalan dooonk . Benr banget tuh, lagi puasa gak boleh emosi, hehehehe :D Liyya sih suka banget sama KrisHan, tapi berhubung ne epep nya HunHan, jadi ya g boleh KrisHan donk ;) Sama-sama ya. Liyya juga maap2an mumpung bulan Ramadhan.
Makasih udah ngereview^^
XiaLu BlackPearl: Eon juga penasaran. Enaknya Sehun diapain ya O.O Jongin bakal segera out kok, tapi permasalah HunHan masih lanjut ;)
Makasih udah ngereview^^
fieeloving13: wkwkwkwkwk . Ternyata jadi tambah sebel ya -_- Dan ternyata juga banyak yang bilang kalo g tenang pas baca HunHan momentnya. Takut2 kalo ada Kkamjong nongol tiba2 kekekekeke :D Hepi ending ato sad ending, eon ikut apa kata readers aja deh :)
Makasih udah ngereview^^
Nurfadillah: Itu yang vs2an udah loh ya ^_^ moga gak mengecewakan :D HunHan moment lagi krisis :) Kalo ntar jadi hepi ending, berarti bakal ada HunHan moment lagi di chap terakhir. Kalo sad ending, berarti ya gak ada ;)
Makasih udah ngereview^^
sofianingsih: Iya, Lulu nangis terus di sini :'( Jongout emang selalu always modus mode On deeeh -_-
Makasih udah ngereview^^
Name hunhan: Mau hepi ending? Nanti Liyya liat suara terbanyak dulu ya :)
Makasih udah ngereview^^
RirinSekarini: Puasa dooonk :D Selamat puasa juga yaaaa ^_^ Ne udah beneran semakin rame deh ya :) Baru pertengkaran BaekSoo n Thehun. Belom yang HunHannya #opps ;) Iya neh, sementara ini, HunHan momentnya ikutan puasa dulu ya :D
Makasih udah ngereview^^
Kiela Yue: Sehun emang diam-diam selalu berfikir, Riiin. Cuma dia lamban banget mikirnya -_- Jongin tuh yaaaaa, blang blang blang. Udah kaya' Bl*ster tau gak . Bukannya Lulu udah mulai menderita dari kapan taon ya Riiin o.O #plakk
Makasih udah ngereview^^
ajib4ff: Kalo hadiahnya begituan, mending langsung saeng simpat buat pribadi eooon . kekekeke
Makasih udah ngereview^^
Shizuluhan: Chap kemaren emang Liyya ambil sedikit dari PoV nya Sehun, chingu. Biar pada tau juga gimana perasaannya Sehun yang sebenarnya. Biasanya emang dari PoV nya Luhan. Soalnya basically ini kan kisah cintanya Luhan #maklum, Liyya Luhan HARD Shipper . Sepertinya chap2 setelah ini emang bakalan diisi dengan KrisHan ;) HunKai ciuman ato enggak, udah tahu kan jawabannya :D Perang dunianya kaya' nya kurang seru ya. Abisnya gak tega bayangin wajah tamvannya Sehun jadi babak belur -_- Ntar Lulu tambah nagis gimana dong o.O Eh, sama banget. Liyya juga suka semuanya asal Luhan tetep jadi UKE nya. Biar sama Kyungsoo sekalipun ;)
Makasih udah ngereview^^
Lil' deer: Emang belom sempet ciuman, tapi kalo aja tuh kresek g jatuh, pasti mereka udah ciuman di sana :'( Betul banget. Mulai chap depan, bakal jadi masa-masa kegelapan buat HunHan :( Eon aja nyesek nulisnya. Makanya eon g jadi bikin HunKai kissing -_-
Makasih udah ngereview^^
dian deer: wkwkwkwkwk . Ini komentar penuh esmosi ke Jongong yaaa. Jadi inget eon yang juga berkomentar penuh esmosi pas baca satu ff yang Lulu tersakiti mulai chap 1 sampe' ending malah -_- HunHan hepi ending? Well, silahkan di vote yaaaa :D
Makasih udah ngereview^^
chyshinji0204: Kalo konflik HunHan udah selesai, ntar kalo hepi end, y berarti ada HunHan moment di chap terakhir. Kalo jadinya sad ending ya... #evilsmirk
Makasih udah ngereview^^
HunHan Baby: Yups, Luhan vs Jongin. Tapi g sampe' jotos-jotosan kaya' Baekkie dooonk :D Ya itu tujuannya, biar Thehun g jadi ngejar Lulu -_- hehehehehe
Makasih udah ngereview^^
Zukazuka: Kaya'nya emang itu kebiasaannya dia deh ya. Abis diajak terbang, dijatohin lagi -_-
Makasih udah ngereview^^
Queen DheVils49: Yang suruh ya perasaannya :D hehehehe. Yaaaah, namanya juga menyesal karena udah mutusin Sehun dengan seenak upil #plakk -_- Tapi yang lebih pabo lagi si Thehun neh. Yang mau aja. Padahal udah disakitin :(
Makasih udah ngereview^^
PandaPanda Taoris: Annyeong ^_^ Reader baru, ne? Welcome yaaa :D Moga betah di sini. Gomawo udah dibilang Daebak :D
Makasih udah ngereview^^
junmakyu: Kamjong emang ngeselin tingkat DEWA -_- Dan sayangnya, si Cadel emang g ngejar Luhan :'( Tuh Thehun udah diserbu BaekSoo #evilsmirk
Makasih udah ngereview^^
fangirl-shipper: Gwaenchanna ^_^ Yang penting udah baca n masih mau repiu :) Eon juga sebenernya gpp banget kalo Lulu sama Kris. Tapi eon juga mau HunHan :'( #authorlabil -_- Ini udah lanjut. Moga g galau lagi ya .
Makasih udah ngereview^^
choitaemin12: wkwkwkwkwk. Gomawo udah dibilang bagus. Kan HunHan lagi krisis, makanya momennya Cuma secuil-secuil gitu :D
Makasih udah ngereview^^
destyrahmasari: Luhan salah paham, tapi Sehun juga g berusaha menjelaskan tuh :( Mudah-mudahan chap ini masih 'greget' yaaa :)
Makasih udah ngereview^^
ssjllf: wkwkwkwk . Wae? Kkamjong jadi keceh banget loh dengan rambut Blonde nya. Jadi terlihat lebih cerah(?) #plakk -_- Hepi ending ato enggak, silahka di vote ya :D
Makasih udah ngereview^^
Lee MingKyu: Konflinya emang udah hampir klimaks, saeng :D Kalo mau Hepi ending silahkan di vote yaaaa :D
Makasih udah ngereview^^
Aileen Xiao: muehehehehehe . Untung aja ne bulan puasa ya. Jadi Liyya gak jadi dimarahin :D Hepi ending gak yaaa? HunHan moment terpaksa dikikis dulu. Ntar kalo hepi end, pasti bakal muncul lagi HunHan moment nya ;)
Makasih udah ngereview^^
eunhuna: Emang sengaja dibikin yang JLEB deeeh . Noh Jongin udah sehat wal-afiat. Silahkan dimarah-marah :D
Makasih udah ngereview^^
ChickenKID: Emang udah keliatan kan kalo dia cinteh sama Luhan. Cuma dia kaya' masih merasa bersalah gitu sama Jongin -_- Hunkai emang gak kisseu. Lebih tepatnya belom sempat kisseu. Soalnya udah ketahuan duluan :(
Makasih udah ngereview^^
lena99: Hiks. Eonnie juga ikutan nangis kok bareng Lulu :'( Aduuuh, eon juga gak ngerti ntu mana yang Seme diantara mereka. Gimana enaknya aja deh. Eh, malahan ya, diantara sekian banyak ff KaiHun/HunKai yang pernah eon temukan neh (gak baca tapi) malah 75% ntu Kai yang jadi uke nya. Rebutan Sehun sama Luhan gitu -_-
Makasih udah ngereview^^
lele: Ini udah muncul vs2annya. Mian kalo gak sesuai dengan harapan ya :( Kesengsaraan Sehun baru dari BaekSoo. Dari Luhan pasti ada. Tapi di next chapter ;)
Makasih udah ngereview^^
ki-sl: ecieeeeee, yang hatinya lagi porak-poranda . #plakk #abaikan -_- Boleh banget kalo mau gantiin Baekhyun. Sekalian aja tuh Sehun dimasukin ke kandang macan ya :D Gomawo udah masukin Liyya di jajaran author favorit ^_^ #bow
Makasih udah ngereview^^
rinie hun: Siapa yang menang donk kalo vs-annya kaya' yang di atas? Liyya aja bingung o.O
Makasih udah ngereview^^
Little Zhao: Jongong emang berwajah songong gituuuu -_- Tapi cakeeeeppp . Siap-siap galao ya deeek, karena mulai chap depan Hunhan bakal masuk masa-masa kegelapan #evilsmirk
Makasih udah ngereview^^
haejoonma: Luhannya emang kasian. Liyya juga gak tega sebenernya :'( Sehun pasti dapat balasannya kok ;) Suho biased neeehhh :D Appa bakal nyempil, mungkin di chapter depan. Di sini juga ada. Dia dapat satu baris doank tapi -_-
Makasih udah ngereview^^
Eunsoo01: Mau Hepi ending? Nanti Liyya liat dari suara terbanyak ya :D
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: Kenapa Luhan datang ke apartemen Sehun? Udah tau kan jawabannya :D Jongin g tau apa-apa kok tentang kedatangan Luhan :) Betul banget. Kalao Sehun tidak segera mengambil keputusan, Luhan akan benar-benar terlepas dari genggamannya :( Sukurlah kalo angle Sehun nya sukses. Liyya berusaha banget biar alurnya g berubah dari plot yang seharusnya :D Apaaaa? Update seminggu 2 kali? O.O #kabuuur
Makasih udah ngereview^^
Xi Ri Rin: Ini udah lanjut yaaaa :D
Makasih udah ngereview^^
sari2min: Muahahahahaha. Padahal kan kalo Sehun menderita, Lulu juga ikut menderita kaaakkk . Jongin gak tau kok kalo Lulu mau datang. Dia Cuma mengikuti(?) instingnya aja. Insting seorang rival(?) #plakk -_- Sehun udah mulai menderita kaaak. Chap depan malah penderitaan datang dari Luhan loooh ;)
Makasih udah ngereview^^
Hyorim16: Eon aja gregetan kok . Untungnya aja ini masih bulan puasa yaaa. Jadi Kkamjong selamat deh dari timpukan sandal -_- Gwaenchanna :) Ini udah lanjut yaa :D
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi? Jangan takut untuk mengkritik, menyuarakan pendapat, dan bahkan menghina.
So, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu
