By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Kris, Others
Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 18 of ?
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
.
HAPPY READING^^
.
Preview Chapter:
"Sehun-ah!" ucapnya pelan.
Seandainya saja ini di waktu lain, Luhan mungkin sudah berlari ke pelukan hangat Sehun begitu melihatnya berdiri di depannya. Namun kali ini, dia tidak bisa. Seolah ada sesuatu yang mencegahnya untuk menghampiri Sehun. Dan pada akhirnya, mereka hanya berdiri terpaku di tempat masing-masing. Saling menatap satu sama lain dengan tatapan rindu. Namun sama sekali tidak berniat untuk mengeliminasi jarak yang ada di tengah-tengah mereka.
~O.O~
Luhan terdiam cukup lama di tempatnya. Menatap Sehun yang juga terdiam menatapnya, sebelum kemudian menarik tangan Sehun untuk menjauhi rumahnya. Siap ataupun tidak, mereka memang benar-benar butuh bicara saat ini. Terlebih lagi setelah apa yang dikatakan Jongin padanya tadi. Luhan perlu mendengar semuanya dari sisi Sehun. Dan mereka tidak bisa berbicara di rumah Luhan saat ini, mengingat entah berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan BaekSoo bisa saja tiba-tiba datang.
Sehun sendiri hanya terdiam membiarkan tangannya ditarik oleh Luhan. Membiarkan dirinya yang dibawa entah kemana. Pandangan matanya tidak pernah lepas dari wajah manis Luhan. Sehun bisa melihatnya dengan jelas. Bagaimana cahaya dari wajah indah itu meredup. Bagaimana matanya yang masih tampak sembab akibat semua tangisannya. Dia bisa merasakannya. Bagaimana tangan mungil Luhan yang menarik tangannya sedikit bergetar. Dan itu semua karena dirinya. Ingin rasanya dia menarik tubuh Luhan dalam pelukannya dan mendekap tubuh mungil itu erat-erat. Namun perasaan bersalah yang begitu besar itu menahannya. Dan pada akhirnya, dia hanya mengikuti dengan pasrah kemana Luhan melangkah.
Baru saat Luhan menariknya masuk ke sebuah gedung yang sangat familiar baginya, Sehun menyadari kemana Luhan membawanya. Apartemen Sehun. Sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara. Luhan hanya menatap lurus ke depan tanpa sekalipun menoleh pada Sehun. Bahkan saat mereka berdiri bersampingan di dalam lift pun, Luhan hanya diam di sampingnya. Menatap lurus ke pintu lift, menunggu pintu itu terbuka, seolah hal itu lebih menarik baginya.
Apakah Luhan marah padanya? Well, siapa yang tidak marah. Disengaja ataupun tidak, kejadian tadi malam memang tidak seharusnya terjadi. Mungkin itu memang sebuah kesalahpahaman awalnya. Mungkin memang bukan Sehun yang ingin mencium Jongin, melainkan sebaliknya. Tapi tetap saja. Pada kenyataannya, Sehun sama sekali tidak menolak atau mencegah hal itu terjadi.
"Duduklah dan tunggu di sini!" ucap Luhan memberi isyarat pada Sehun untuk duduk di sofa ruang tamu. Dia kemudian berjalan menuju dapur, entah mengambil apa.
Sehun hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Luhan dari tempatnya duduk. Sehun tersenyum dalam hati melihat Luhan yang terlihat sangat mengenal apartemen Sehun. Dia bahkan bisa mencari entah apapun yang ingin dicarinya tanpa harus bertanya pada Sehun. Bahkan sepertinya, Luhan lebih mengenal apartemennya dibandingkan Sehun sendiri.
Beberapa saat kemudian, Luhan sudah kembali ke ruang tamu dengan ice pack di tangan kanannya dan kotak P3K di tangan kirinya. Well, Sehun mengoreksi ucapannya barusan. Luhan memang lebih mengenal apartemen ini dengan baik dibandingkan dirinya sendiri. Karena seingatnya, dia tidak pernah menyimpan kotak P3K di dalam rumahnya.
Luhan meletakkan ice pack dan kotak P3K yang dibawanya di atas meja dan menarik meja agar lebih dekat dengan sofa. Dia lalu duduk di samping Sehun dan memutar tubuh Sehun agar menghadapnya, kemudian membuka kotak P3K dan mulai mengobati luka kecil di sudut bibir dan tulang pipi Sehun yang bahkan dia sendiri tidak menyadarinya. Terlalu sibuk dengan pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Sehun menatap wajah Luhan lekat-lekat. Menatap lurus ke manik mata Luhan yang selalu berhasil membuat Sehun tenggelam di dalamnya. Walaupun Luhan hanya diam saja, Sehun masih bisa melihat kekhawatiran yang tersembunyi di balik mata itu. Bahkan setelah apa yang terjadi, masih pantaskah dia dikhawatirkan oleh Luhan?
Setelah selesai membersihkan luka kecil Sehun dengan betadine dan menutupnya dengan plester kecil, Luhan meraih ice pack di atas meja dan menempelkannya pada pipi kiri Sehun yang sedikit lebam dan membiru. Pasti sangat nyeri, pikir Luhan.
"Baekhyun yang melakukannya?" tanya Luhan pelan sambil sedikit menekan ice pack di pipi kiri Sehun. Tangan kirinya terangkat untuk mengusap-usap lembut pipi kanan Sehun dengan sayang. Pandangan matanya sama sekali tidak bertemu dengan mata Sehun. Tanpa diberitahu pun, dia bisa menebak dengan mudah kalau ini perbuatan Baekhyun.
Sehun tidak menjawab. Hanya menatap Luhan yang tampak menghindari tatapannya. "Kyungsoo juga melakukannya?" tanya Luhan lagi. Kali ini Sehun mengangguk pelan dan menepuk pipi bagian kanannya dengan jari telunjuknya sebelum menggenggam tangan Luhan yang masih setia mengusap pipinya.
Luhan mngernyitkan alisnya dan menatap mata Sehun. Well, ini sesuatu yang baru bagi Luhan. Biasanya Kyungsoo tidak suka main tangan. Bukan berarti Baekhyun suka. Hanya saja, Kyungsoo tipe orang yang lebih suka membicarakannya baik-baik tanpa harus tersulut emosi.
"Not much. Hanya dua tamparan," ucap Sehun seakan mengerti apa yang dipikirkan Luhan.
"Hhhhh!" Luhan mendesah pelan. "Maafkan mereka. Baekhyun dan Kyungsoo hanya terlalu emosi," ujar Luhan.
"Aniyo. I deserved it, though." Sehun menggelengkan kepalanya. "Yes. You did," jawab Luhan. "Bahkan seharusnya kau juga mendapatkannya dariku," lanjut Luhan kemudian tersenyum tipis.
"Lalu, mengapa kau tidak melakukannya?" tanya Sehun.
Luhan menarik kedua tangannya dari pipi Sehun dan kembali meletakkan ice pack di atas meja. Tanpa menjawab pertanyaan Sehun, Luhan beranjak membereskan semuanya dan mengembalikannya ke tempat asalnya tadi, kemudian kembali duduk di samping Sehun. Matanya tertuju pada televisi di depannya.
"Mianhae, Lu!" ucap Sehun tiba-tiba, membuat Luhan beralih menatapnya. Namun dia tidak berkata apa-apa. Tidak perlu menjawab juga, karena dia yakin Sehun pasti tahu kalau dia bahkan sudah memaafkannya. Hell, Luhan tidak mungkin di sini dan merawat luka kecil Sehun jika dia masih marah padanya.
"Kejadian semalam," Sehun memutuskan ucapannya, mengamati reaksi dari Luhan. "Itu sebuah kesalahpahaman. Well, part of it memang kesalahanku. Tapi kami tidak berciuman, Lu." Sehun berusaha menjelaskan pada Luhan.
"Belum," koreksi Luhan membuat Sehun mengernyitkan keningnya bingung. "Bukan tidak berciuman, Sehun-ah. Tapi belum sempat berciuman. Seandainya aku tidak datang," Luhan menggantungkan kalimatnya.
"Maaf, aku merusak acara kalian," ucapnya menundukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba kerongkongannya terasa penuh dan matanya mulai mamanas. Tapi Luhan menahannya. Dia tidak boleh menangis. Tidak sekarang, tidak di depan Sehun.
Sehun tercekat mendengar ucapan Luhan yang perlahan mulai diproses oleh otak lambannya. Seandainya saja Luhan tidak datang, apakah dia benar-benar akan berciuman dengan Jongin?
"Aniyo. Aku yang seharusnya minta maaf, Lu. Aku menyakitimu lagi. Aku—"
"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Aku tahu kau tidak bermaksud seperti itu, Sehun-ah." Luhan memotong perkataan Sehun. Mereka kembali terdiam setelah itu.
Hening.
"Aku benar-benar minta maaf. Semuanya terjadi begitu cepat, Lu. Saat aku tiba di apartemen, jongin sudah di sana. Dan tiba-tiba saja dia," Sehun menarik nafasnya pelan, memutuskan untuk melewati scene yang 'itu' sebelum melanjutkan kalimatnya. "Lalu tiba-tiba saja kau datang dan aku terlalu terkejut saat itu. Dan saat aku menyadari semuanya, kau sudah pergi. Aku ingin mengejarmu, Lu. Tapi Jongin mengucapkan sesuatu yang membuat semuanya semakin rumit."
Luhan terdiam, menunggu Sehun menyelesaikan ceritanya.
"Jongin, dia... Dia memintaku kembali padanya," Luhan membuang mukanya ke sembarang arah. Mengedipkan matanya berkali-kali. Walaupun dia sudah mengetahuinya dari Jongin, tapi saat mendengarnya langsung dari bibir Sehun, kekasihnya, rasanya lebih menyakitkan.
"Lalu?" tanya Luhan pelan.
"Satu minggu. Dia memintaku untuk memikirkannya terlebih dahulu selama satu minggu ini," jawab Sehun. "Apa yang harus aku lakukan, Lu?" Luhan kembali menatap Sehun saat pertanyaan itu keluar dari bibir manisnya. "Aku, aku ingin sekali menolaknya, Lu. I really do. Tapi aku, aku..." Sehun tidak meneruskan kalimatnya. Dia membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Luhan tersenyum tipis. Meski terasa sakit, tapi dia bisa sedikit mengerti bagaimana perasaan Sehun sekarang. Walau bagaimanapun, Sehun pernah sangat mencintai Jongin. Melupakan mantan kekasih yang diam-diam selalu kau harapkan untuk kembali padamu memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Apalagi jika dia tiba-tiba datang dan memberi harapan padamu.
Luhan meraih tangan Sehun yang menyembunyikan wajahnya. "Sehun-ah!" panggilnya. "Apa kau mencintaiku?" tanyanya kemudian.
"Tentu saja, Lu! Mengapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja aku mencintaimu! Aku sangat mencintaimu!" jawab Sehun cepat. Tak ada keraguan di dalamnya. Luhan tidak bisa menahan senyumnya. Berarti Sehun memang benar-benar mencintainya.
"Lalu, bagaimana dengan Jongin? Bagaimana perasaanmu padanya? Apa kau... Apa kau juga mencintainya?"
Sehun terlihat berfikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Luhan. "Aku, aku tidak tahu, Lu. Mungkin."
Luhan menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit di dalam tenggorokannya dengan susah payah. Jawaban Sehun, dia tidak bisa mengatakan apakah memang Sehun tidak yakin dengan perasaannya pada Jongin, atau dia yakin, hanya tidak ingin membuat Luhan menjadi lebih sedih lagi.
"Katakan padaku, Luhan-ah. Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat bingung sekarang. Aku tidak bisa berfikir dengan benar. Semuanya serasa menekanku perlahan. Aku tidak ingin menyakitimu, Lu. Aku juga tidak ingin membuat Baekhyun Hyung marah dan mengecewakan Kyungsoo Hyung." Sehun menggenggam erat tangan Luhan.
"Katakan apa yang harus aku lakukan, Lu. Aku akan melakukan semua yang kau katakan. Jika kau ingin aku menolak Jongin sekarang tanpa perlu memikirkannya, aku akan melakukannya."
Luhan kembali menelan ludah pahitnya sebelum menyunggingkan senyum manis pada Sehun. "Pikirkanlah baik-baik," ucapnya. Membuat Sehun lagi-lagi menatapnya bingung.
Dia bisa saja meminta Sehun segera menyingkirkan Jongin. Tapi dia tidak melakukannya. Sehun berhak menentukan pilihannya sendiri. Dia harus menentukan pilihannya. Bukan karena Luhan yakin kalau Sehun akan menolak Jongin dan memilihnya. Tapi dia ingin, jika Sehun memang memutuskan untuk menolak Jongin dan memilihnya nanti, itu karena Sehun memang ingin melakukannya. Bukan karena Luhan yang memintanya. Karena dengan begitu, jika suatu hari nanti Jongin kembali lagi, hal yang sama tidak akan terulang lagi.
"Sehun-ah! Kau tahu? Sebuah kapal tidak mungkin berlabuh di dua pelabuhan dalam waktu yang sama. Cinta juga seperti itu. Dia tidak mungkin berlabuh pada dua hati yang berbeda di waktu yang sama," tutur Luhan lembut.
"Kau bilang kau mencintaiku, kan?" Sehun menganggukkan kepalanya. "Namun kau juga merasa kalau kau memiliki perasaan yang sama pada Jongin?" Lagi-lagi Sehun mengangguk, meski sedikit ragu.
"Kau tidak bisa mencintai kami berdua, Sehun-ah. Perasaan itu pasti berbeda. Kau hanya mencintai salah satu dari kami. Di sini," Luhan menyentuh dada Sehun. "Seharusnya hanya ada satu nama. Mungkin, kau merasa mencintainya. Atau mungkin, kau pernah mencintainya. Atau juga, mungkin kau salah mengartikan rasa sayang yang kau miliki padanya sebagai rasa cinta. Mungkin sebenarnya kau hanya mencitainya sebagai 'sahabat', sebagai, 'teman', sebagai..." Luhan menghirup nafas pelan. "Sebagai seorang 'Hyung'," lanjutnya.
"Entah mana yang kau rasakan, selama satu minggu ke depan, pikirkanlah baik-baik." Luhan memberikan senyumnya. "Tanyakan padanya, karena dia tidak mungkin berbohong." Luhan menuntun tangan Sehun menuju dadanya sendiri.
"Dia akan memberitahumu apa yang sebenarnya kau rasakan. Dia akan membantumu menemukan jawabannya. Dan saat dia telah menemukan jawaban itu, aku akan berada di sini. Aku akan menunggunya. Apapun jawabannya nanti, apapun keputusannya nanti, aku akan menerimanya. Karena apapun itu, aku yakin itu akan membuatmu bahagia. Asalkan kau berjanji untuk selalu bahagia dengan keputusan yang telah kau ambil," ucap Luhan tulus.
Dia sendiri tidak tahu, bagaimana dia bisa mengatakan semua itu pada Sehun tanpa embel-embel air mata setetespun. Mungkin air matanya sudah kering. Atau mungkin, otaknya sedang berada dalam mode 'dewasa' dan bukan 'kekanakan' seperti setiap kali dia berada di dekat Sehun. Mungkin juga, dia hanya tidak ingin menangis di hadapan Sehun.
O.O~
Berjalan sendirian menelusuri ramainya kota Seoul bukanlah hal yang disukai Luhan. Lain halnya jika Sehun ada di sampingnya dan menemaninya berjalan. Maka itu akan menjadi hal yang paling disukainya. Namun pada kenyataannya, semua tidak seperti apa yang diharapkan hati kecilnya. Karena pada kenyataannya, di sinilah dia, berjalan tak tentu arah membelah keramaian kota, tanpa Sehun yang menemani. Dia sendirian.
Setelah berbicara dengan Sehun, perasaan Luhan jadi sedikit lebih lega. Sakit memang, namun lega. Sekarang dia tidak perlu bertanya-tanya lagi. Dia bahkan hampir bisa memahami seluruh dilema hati Sehun saat ini. Semuanya menjadi sedikit lebih jelas. Hanya menunggu Sehun memberikan keputusan akhirnya, maka semuanya akan selesai. Entah itu berakhir dengan akhir yang bahagia, ataupun berkhir dengan dia melepaskan Sehun dengan senang hati seperti apa yang diucapkannya pada Jongin, biarkan takdir yang menjawabnya. Luhan akan menerima apapun itu.
Namun, benarkah apa yang dilakukannya sekarang?
Luhan butuh teman bicara saat ini. Biasanya dia akan berlari ke Kyungsoo. Tapi, melihat apa yang dilakukan namja bermata 'owl' itu pada Sehun, Luhan tidak yakin kalau ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakannya pada Kyungsoo, apalagi Baekhyun. Bisa-bisa mereka semakin emosi dan menghancurkan apartemen Sehun.
Oke! Mungkin sedikit melebih-lebihkan. Namun bisa ditebak kalau yang akan terjadi tidak akan jauh-jauh dari itu.
Dan entah bagaimana caranya, Luhan berakhir di sini. Di depan pintu apartemen yang sudah lama sekali tidak dikunjunginya. Mungkin semenjak dia mulai menjalin hubungan dengan Sehun. Atau mungkin sebelum itu. Luhan tidak ingat. Dan tiba-tiba rasa bersalah menghampirinya. Membuatnya mengurungkan niatnya untuk memencet bel apartemen. Dia merasa seperti hanya memanfaatkan sahabatnya. Datang padanya di saat susah, dan melupakannya di saat senang.
Luhan tidak bisa melakukan itu. Dia tidak boleh melakukannya. Meskipun dia sangat membutuhkan sahabatnya untuk mendengar keluh kesahnya, dia tidak boleh egois. Apalagi jika mengingat kalau sahabat yang sedang dibicarakan ini memiliki perasaan khusus padanya. Karena itu lah, setelah mematung cukup lama di depan pintu apartemen itu, Luhan mengabaikan niatnya untuk 'mengunjungi' sahabatnya dan membalikkan tubuhnya. Namun, baru berjalan beberapa langkah, sebuah suara menghentikannya.
"Princess?"
Saat itulah pertahanan Luhan mulai goyah. Melihat wajah khawatir yang ditunjukkan oleh sahabatnya, satu air mata yang sedari tadi tertahan, lolos begitu saja. Dan saat tiba-tiba saja tubuh mungilnya ditarik ke dalam pelukan hangat dari seorang sahabat itu, saat itu juga pertahan Luhan runtuh. Air mata berlomba-lomba membanjiri wajah manisnya. Dan Luhan kembali menangis untuk yang kesekian kalinya. Memegang erat baju sahabatnya dan terisak hebat meski tanpa suara.
~O.O~
"Minumlah!" Kris memberikan segelas coklat hangat pada Luhan yang sudah berhenti menangis. Dia menerimanya dengan patuh dan meminumnya perlahan.
Kris baru saja selesai mandi setelah lelah membersihkan apartemennya dari kerusuhan yang diakibatkan oleh Lay dan Tao, 2 temannya. Mereka memang sering menghabiskan waktu di sini. Mengusik kehidupan tenangnya, menghabiskan semua snacknya, merusuhi apartemennya, kemudian melenggang pulang begitu saja. Meninggalkan pekerjaan cleaning service padanya. Terkadang, Lay juga sering bereksperimen di dapur yang nyaris tidak pernah dipakainya. Namun meskipun begitu, dia sama sekali tidak pernah merasa keberatan. Bahkan dia senang tiap kali Lay dan Tao berkunjung dan merusuhi apartemennya. Dia senang memiliki teman bicara seperti Lay dan teman bermain seperti Tao.
Saat sedang memakai bajunya, tiba-tiba saja dia teringat Luhan. Akhir-akhir ini Kris sering memikirkan Luhan. Entah mengapa, dia seolah merasa kalau Luhan sedang tidak baik-baik saja, dan itu mengganggu pikirannya. Lucu memang, tapi entah karena alasan apa, Kris seperti bisa merasakannya setiap kali Luhan sedang sedih. Orang bilang, jika kita mencintai seseorang dengan sangat tulus, kita bisa merasakan apa yang orang itu rasakan. Well, mungkin itu bisa sedikit menjelaskan mengapa dia sering tiba-tiba teringat pada Luhan dan besoknya dia menemukan kalau Luhan memang sedang sedih.
Kris memutuskan untuk menghubungi Luhan, menanyakan keadaannya. Namun saat ingin menyentuh tombol hijau di layar ponselnya, dia teringat sesuatu. Sehun tidak menyukai kedekatan mereka. Dan Kris tidak ingin membuat masalah dalam hubungan Sehun dan Luhan. Akhirnya dia mengurungkan niatnya. Mengabaikan perasaan tidak enaknya, dan beranjak ke dapur untuk membuat coklat hangat.
Begitu melewati ruang tamu, entah ada angin apa, mata Kris tertuju pada pintu apartemennya. seolah ada sesuatu yang menarik di sana. Dan sesuatu itu, seolah memerintahkannya untuk menghampiri pintu tersebut. Dia melihat layar intercom yang terpasang di sebelah pintu, tapi di luar tidak ada siapa-siapa. Didasari oleh rasa penasarannya, Kris pun membuka pintu apartemenya dan melongokkan kepalanya.
Saat melihat ke arah kirinya, dia melihatnya. Melihat Luhan berjalan menjauhi apartemennya. Walau hanya terlihat dari belakang, tapi Kris tahu dengan pasti kalau itu adalah Luhan. Hell, walaupun itu hanya satu bagian dari tubuh Luhan sekalipun, mungkin Kris masih bisa dengan mudah mengenalinya.
"Princess?" Kris memanggil Luhan untuk meyakinkan kalau dirinya sedang tidak berhalusinasi. Dan saat Luhan berbalik menghadapnya, wajah sendu tanpa cahaya, Kris tahu kalau sesuatu telah terjadi. Dia berjalan menghampiri Luhan yang hanya berdiri mematung di sana. Dan tepat setelah satu air mata itu lolos dari kedua mata indah favoritnya, Kris segera meraih Luhan ke dalam pelukannya. Pelukan seorang sahabat.
"Shhhh, gwaenchanna. Semua akan baik-baik saja," ucapnya sembari mengusap-usap punggung Luhan untuk menenangkannya. Kris mengeratkan pelukannya saat dia merasakan tangan mungil Luhan yang mencengkram erat bajunya. Kris paling tidak suka ketika seseorang membuat bajunya kusut. Namun Luhan adalah pengecualian.
Masih dalam pelukannya, Kris menuntun Luhan untuk memasuki apartemennya. tidak ingin tetangga tiba-tiba muncul dan menatap mereka aneh. Mengira kalau Kris membuat anak orang menangis. Dengan wajah Luhan yang amat tidak seimbang dengan usianya, bisa-bisa Kris dikira ahjusi mesum yang sedang mencoba untuk mengambil 'keuntungan' dari seorang siswa SMP.
"Mianhae," ucap Luhan tiba-tiba menghentikan aktivitas favoritnya tiap kali berada di sisi Luhan. Melamunkan namja manis di sampingnya ini.
"Mianhae aku datang tiba-tiba dan menangis tidak jelas." Luhan menundukkan wajahnya dengan kedua tangan yang masih memegang erat mug yang berisi coklat hangat tadi.
Kris tertawa kecil tanpa suara. "Well, If you are sorry, then tell me what happened! Apa yang terjadi? Mengapa kau datang kemari? Mengapa kau menangis? Dan yang terpenting, mengapa kau tidak membunyikan bel yang tersedia di depan dan malah berbalik pulang?" tanyanya seraya memperhatikan wajah Luhan lekat-lekat. Pipi merah, yang sayangnya bukan karena Luhan sedang tersipu, hidung mungilnya yang juga merah karena tangisannya, mata indahnya yang sembab dengan bulu mata lentiknya yang sedikit basah, dan bibir poutynya yang sedikit lecet, mungkin karena Luhan terus menggigitnya.
'Mengapa kau terlihat sangat sangat rapuh saat ini? Bukankah kau bahagia bersamanya, Lu?'
Belakangan ini Kris memang tidak terlalu memperhatikan Luhan seperti biasanya, terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Kris ingat, terakhir mereka berkomunikasi adalah di hari yang sama saat dia membelikan Luhan novel dari penulis favoritnya beberapa hari yang lalu. Karena itu lah, dia benar-benar has no idea mengapa Luhan seperti ini. Tapi yang pasti hanya satu, semua ini tidak mungkin jauh dari seseorang yang bernama 'Sehun'. Karena jika ada orang yang bisa membuat Luhan tersenyum bahagia dan menangis pilu di hari yang sama, maka Sehun adalah tersangka satu-satunya.
Dan saat Luhan mulai bercerita dengan suara yang terputus-putus, menahan air mata yang siap untuk keluar, Kris hanya bisa mendengarkan dengan sabar seraya mengusap-usap punggung Luhan.
Jongin.
Kris ingat nama itu. Luhan pernah menyebutkan nama itu dulu. Saat Kris menyuruhnya untuk menyatakan perasaannya pada Sehun. Lucu memang, tapi entah kenapa otaknya yang bisa dibilang lemah dalam mengingat sesuatu bisa dengan mudahnya mengingat semua cerita Luhan. Bahkan hal kecil sekalipun, dia pasti akan ingat. Semuanya seperti tersimpan di dalam memorinya tanpa ada yang terlewatkan.
"Hei!" panggil Kris agar Luhan melihatnya. "Mau dengar pendapatku?" Kris selalu bertanya seperti itu setiap Luhan bercerita padanya. Menunggu Luhan menjawab walau hanya sebuah anggukan kecil sebelum melanjutkan ucapannya.
"Menurutku, kau terlalu baik padanya, Lu. Tapi, bukan berarti kau harus jahat padanya. Hanya saja, kau selalu seperti itu. Memaafkannya begitu saja setiap kali Sehun menyakitimu. Bersikap seolah-olah kau baik-baik saja walaupun pada kenyataannya semua itu jauh dari apa yang kau rasakan. Dan itu membuat Sehun, entah sadar ataupun tidak, terus melakukan hal-hal yang bisa menyakitimu. Karena pada akhirnya dia tahu kalau kau akan memaafkannya."
Luhan menatap mug di tangannya sambil mencerna semua ucapan Kris. Benarkah itu? Bukankah sepaang kekasih memang harus saling memaafkan? Karena itulah dia selalu memaafkan Sehun begitu saja. Bukankah Sehun juga akan melakukan hal yang sama jika Luhan melakukan kesalahan nanti?
"Aku tidak mengatakan kalau kau tidak boleh memaafkannya, Lu!" ucap Kris seakan mengerti perdebatan yang sedang terjadi di dalam kepala Luhan.
"Tentu saja kau boleh memaafkannya jika kesalahan itu tidak melewati batas. Hanya saja, cobalah untuk tidak langsung memaafkannya. Kau bisa sedikit memberinya pelajaran agar Sehun juga bisa berfikir. Agar dia bisa merenungkan kesalahan yang diperbuatnya. Agar dia tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Dan setelah dia benar-benar menyesalinya, saat itulah kau menerima penyesalannya dan memaafkannya."
Luhan mengangguk paham. Jadi, itukah yang harus dilakukannya? Tapi, bukannya kalau Luhan tidak langsung memaafkan Sehun, mereka akan berada dalam area 'hening' selama Sehun merenungkan perbuatannya? Itu berarti, tidak ada Sehun selama beberapa hari sampai Sehun menyeali perbuatannya. Lalu, bagaimana dia menjalani harinya tanpa Sehun? Bagaimana kalau Sehun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk masa 'perenungannya'? Bagaimana kalau—
Pletak
Satu sentilan manis dari Kris di keningnya yang sedang berkerut berhasil membuyarkan rentetan pikirannya. "Owwwwcchh! Yaaaaah! What was that for?" Tanpa sadar, Luhan mem-pout-kan bibirnya sambil mengusap jidatnya yang terasa panas setelah di sentil dengan penuh kasih sayang oleh Kris.
"Kau terlalu banyak berfikir, Princess!" jawab Kris dengan wajah tanpa dosa. Senang, karena paling tidak Luhan sudah terlihat sedikit melupakan masalahnya. "Tidak usah memikirkan yang tidak perlu dipikirkan. Just do it. Dan semuanya akan berlalu tanpa kau sadari. Cobalah untuk lebih mengekspresikan semua yang kau rasakan padanya. Jika kau merasa bahagia, maka tersenyumlah semanis mungkin untuknya. Jika kau sedang sedih, maka menangislah di depannya agar dia tahu kalau kau sedang sedih. Jika kau sedang marah, maka marah lah. Tidak ada yang akan melarangmu. Kau juga berhak untuk marah jika dia melakukan kesalahan padamu."
Luhan menghentikan kegiatan 'mari mengusap jidat' nya dan memandang Kris yang tengah meminum coklat -yang sebelumnya- hangat nya. Untuk pertama kalinya dia benar-benar berfikir, bagaimana jika namjachingunya itu Kris? Apakah mereka akan sering menghabiskan waktu seperti ini? Duduk berdampingan di sofa, mungkin menyaksikan acara favorit Luhan bersama sambil meminum segelas coklat hangat dan mengobrol tentang hal-hal kecil.
Luhan tersenyum sendiri dengan apa yang sedang dipikirkannya. Well, Kris memang sangat dewasa. Bukan berarti Sehun tidak dewasa. Sehun memiliki kedewasaan yang berbeda dari Kris. Dia juga sedikit kekanakan terkadang. Tapi Luhan menyukai Sehun yang seperti itu. Sehun yang selalu melakukan hal-hal manis untuk membuatnya tersenyum bahagia. Sehun yang selalu membisikkan kata-kata manis di telinganya, membuat Luhan tersipu. Sehun yang mencium bibirnya dengan lembut, membuat kupu-kupu di perut Luhan berpesta. Sehun yang—
Hhhhh. Luhan mendesah pelan. Lihatlah apa yang dilakukan oleh otaknya. Bukankah dia sedang memikirkan Kris sebelumnya? Tapi otaknya selalu punya rencana lain. Rencana untuk menyingkirkan siapapun yang menyelinap masuk ke dalam pikirannya dan menggantinya dengan nama Sehun. Hanya Sehun.
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Suara nada dering tanda panggilan masuk dari ponselnya berhasil menyadarkan Luhan dari lamunannya. Baekkie? Luhan segera mengangkatnya.
"Yeob—"
"HYUNG! KAU DIMANA? MENGAPA TIDAK ADA DI RUMAH? JANGAN BILANG KALAU KAU SEDANG BERSAMA SEHUN SAAT INI!"
Luhan segera menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya saat mendengar teriakan khawatir Baekhyun. "Yaaaah! Aku—" Kalimatnya terhenti saat Kris mengambil alih ponselnya dan mengaktifkan mode speaker.
"Yaaak! Pendek! Mengapa berteriak seperti itu? Apa kau sengaja ingin membuat Luhan tuli?" ujarnya pada Baekhyun.
"K-Kris Hyung?"
"Ne, ini aku. Wae? Tidak pernah mendengar suara seksi ku?"
"Hyuuuuuuung!" suara Baekhyun terdengar senang. "Pfffttt! Seksi apanya! Bahkan suara Yeollie-ku jauh lebih seksi!" cibir Baekhyun. "Jadi, Luhan Hyung ada di apartemenmu?"
"Eum. Wae?"
"Aniyo. Joahae. Biarkan dia tetap di sana. KAU BOLEH MENGINAP DI SANA JIKA KAU MAU, HYUNG!" teriaknya sebelum memutuskan sambungan telepon.
"WOW! Aku tidak pernah menyangka kalau Baekhyun akan sesenang itu saat mendengar suaraku." Luhan hanya tersenyum tipis menanggapinya. 'Tentu saja dia senang. Jika dia mendengar suaramu, berarti bisa dipastikan kalau aku sedang berada jauh dari jangkauan Sehun,' batinnya.
"Wae?" tanya Luhan tiba-tiba membuat Kris mengangkat satu alisnya tak mengerti. "Bukankah kau bilang kalau kau mencintaiku?" Kris menganggukkan kepalanya. "Lalu mengapa kau membantuku?"
"Apa maksudmu?" Kris balik bertanya.
"Well, you know. Di drama yang sering ku lihat bersama Baekhyun, biasanya di saat seperti ini, sang namja akan berusaha untuk merebut perhatian yeoja nya agar melupakan kekasihnya dan berpaling padanya," ujar Luhan kikuk.
Kris tertawa kecil mendengar ucapan Luhan. "Mengapa aku membantumu?" Luhan mengangguk pelan. "Karena aku mencintaimu, Lu. Karena aku ingin melihatmu tersenyum bahagia. Karena senyum bahagia itu tidak akan ada tanpa Sehun. Dan tentu saja karena aku sahabatmu."
Luhan menatap Kris dengan perasaan bersalah. Merutuki pertanyaan yang seenaknya terlontar dari bibirnya tadi. Namun Kris hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutnya.
"Oke! Cukup dengan aura galau yang menyelimuti ruangan ini!" ucap Kris. "Mau melakukan sesuatu yang menyenangkan sekaligus bisa melepas stress?" tawar Kris. Luhan hanya mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"YAAAAK! WU YI FAN! Jangan terus-terusan memukuli pemainku! Bukankah kau bilang ingin membuatku melepas stress! Tapi kau malah menambah tingkat ke-stress-anku tahu!" omel Luhan sewot saat pemain Kris tak henti-hentinya menghajar pemainnya. Dia semakin kesal saat tulisan 'GAME OVER' terpampang nyata di depan layar dengan pemain Luhan yang sudah terbengkalai tak bernyawa.
"Kau curang! Aku kan tidak pernah bermain game seperti itu. Jelas saja aku kalah," kilah Luhan.
"Whatever you say, Princess!" jawab Kris terkekeh. 'Yang penting kau tidak sedih lagi,' lanjutnya dalam hati.
"Lalu kau mau mencobanya lagi?"
"Shireo! Kita menonton DVD saja, eottae?"
"Joah! Kalau begitu, aku akan mengambil koleksi DVD ku di kamar dulu!" ucap Kris kemudian berlalu ke kamarnya.
"Kau mau menon—" pertanyaannya terhenti saat dilihatnya Luhan telah tertidur dengan nyamannya di atas sofa. Sepertinya dia kelelahan menangis. Kris tersenyum lembut dan meletakkan DVD yang dibawanya di atas meja. Dia lalu mengendong Luhan dan memindahkannya ke kamarnya.
'Aigoo! Mengapa kau bisa seringan ini, Lu?' batinnya. Setelah menyelimuti Luhan dan memastikan bahwa Luhan nyaman di kasurnya, Kris beranjak menuju kamarnya. Untungnya apartemennya memiliki dua kamar. Jadi dia tidak perlu tidur di atas sofa.
Paginya, Luhan tidak menolak saat Kris menawarkan untuk mengantarnya pulang. Hitung-hitung dia bisa kembali tidur selama perjalanan. Kekekeke.
"Kau ingin aku menunggumu dan mengantarmu ke kampus?" tanya Kris saat Luhan turun dari mobilnya.
"Aniyo. Aku akan berangkat bersama Baekhyun dan Kyungsoo saja," jawab Luhan tersenyum.
"Arrasseo. Kalau begitu aku pulang dulu, ne? Ingat apa yang aku katakan, dan jangan menangis lagi!" ucap Kris sambil mengacak rambut Luhan dengan sayang, tanpa sadar kalau ada sepasang mata yang mengamati setiap gerak-geriknya dengan pandangan tak suka.
Luhan memutar bola matanya. "Ne, ne! Aku akan mengingatnya!" jawabnya kemudian berjalan menuju rumahnya. Salah satu alasan Luhan tidak bisa menerima perasaan Kris, karena baginya, Kris sudah seperti saudaranya. Sama seperti Baekhyun dan Kyungsoo. Kris, dengan segala kedewasaan yang dimilikinya, sudah seperti sosok Hyung bagi Luhan. Meskipun pada kenyataannya Luhan lebih tua beberapa bulan darinya. Dan menerima perasaan Kris itu akan terasa seperti INCEST baginya. Bahkan kalaupun dia tidak sedang mencintai Sehun, Luhan tidak yakin kalau dia bisa mencintai Kris dengan cinta yang sama yang dimiliki Kris untuknya.
~O.O~
Sehun terbangun pagi itu dengan kepala yang terasa sangat berat. Sepertinya dia kurang tidur. Bagaimana tidak? Semalaman dia terus memikirkan apa yang Luhan katakan. Dia nyaris tidak bisa tidur sama sekali.
Pukul 05.00
Masih terlalu pagi untuk bangun. Tapi Sehun tidak perduli. Dia tetap beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi. Tetap di kasur pun, toh dia tidak akan bisa tidur lagi. Setidaknya berendam air hangat bisa sedikit meringankan pikirannya. Setelah selesai mandi, Sehun mengganti bajunya dan beranjak ke dapur untuk sarapan. Walau bagaimanapun, dia membutuhkan tenaga untuk menjalani harinya.
Sehun memijit pelan kepalanya yang terasa sedikit berdenyut sembari menunggu air mendidih. Semua kejadian yang melanda beberapa hari belakangan benar-benar membuat kepalanya serasa mau pecah. Terjepit diantara dua cinta yang rumit dan membingungkan. Well, setidaknya Sehun bisa sedikit bernafas lega karana Jongin tidak menghubunginya setelah kejadian malam itu.
Sehun memakan serealnya cepat kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Masih terlalu pagi memang, tapi dia berniat untuk mampir ke tempat Luhan sebelum ke kampus. Selama seminggu ini, dia berniat untuk lebih meluangkan waktu untuk Luhan.
Perjalanan ke rumah Luhan memang salah satu dari hal-hal yang paling disukainya. Membayangkan wajah ceria dan senyum manis Luhan yang menyambutnya di balik pintu. Tangan mungilnya yang melingkar manja di pinggangnya. Semua itu membuat langkahnya terasa sangat ringan. Namun setelah apa yang terjadi, masihkah Luhan akan memberikan reaksi yang sama saat melihatnya berdiri di depan pintu nanti? Mengingat bahwa kemarin saja, Luhan sama sekali tidak memeluknya. Hanya menggenggam tangannya dan menatapnya dengan senyum yang dipaksakan.
Mungkin Luhan akan memberikan wajah terkejutnya saat melihatnya berdiri di depan pintu rumahnya nanti daripada wajah cerianya. Mungkin juga dia akan mengernyitkan keningnya heran daripada menyunggingkan senyumnya. Atau mungkin, Luhan akan terdiam menatapnya di sana daripada berhambur ke pelukannya dan melingkarkan tangannya di pinggang Sehun seperti yang biasa dilakukannya. Dan jangan lupakan Baekhyun dan Kyungsoo yang mungkin juga akan menghajarnya di tempat begitu mereka melihatnya. Tapi siapa yang perduli? Dihajar ataupun tidak, Sehun akan tetap menemui Luhan.
Namun tepat beberapa meter sebelum rumah Luhan, Sehun menghentikan langkahnya seketika saat melihat sebuah ferari merah yang sangat famiiar berhenti di depan rumah Luhan. Refleks, Sehun menyembunyikan tubuhnya agar tak terlihat dari sana saat dia mengintai objek menarik di depannya. Mengapa Kris datang ke rumah Luhan pagi-pagi begini?
Mata Sehun membola sempurna saat melihat sosok yang keluar dari mobil milik Kris. Bukan karena sosok Kris yang terlihat sangat tampan meskipun di pagi hari seperti ini. Bukan. Tapi karena seorang yang lain yang turun dari kursi penumpang saat Kris membukakan pintu untuknya. Namja manis nan cantik berambut pink kalem dengan hidung mungil dan bibir cherry tipis yang juga manis seperti wajahnya.
Itu Luhan! Bukan sembarang Luhan. Tapi itu Luhannya! HIS LUHAN! Apa yang mereka lakukan sepagi ini?
Sehun mengernyitkan keningnya tak suka melihat keintiman keduanya. Hell! Siapa yang akan suka jika melihat kekasihnya tersenyum manis pada orang lain? Senyuman yang seharusnya hanya ditujukan untukmu. Siapa yang akan suka jika melihat orang lain itu mengaca-acak rambut kekasihmu dengan sayang? Dan jangan lupakan tatapan yang diberikannya pada Luhan.
Mungkin jika yang melakukan itu Chanyeol ataupun Suho, Sehun masih bisa menahan kecemburuannya. Tapi ini Kris! The same Kris yang pernah menyatakan cintanya pada Luhan beberapa waktu yang lalu. Yah, meskipun Luhan tidak menerimanya. The same Kris yang Sehun yakin sekali, demi wajah tampannya, masih menyimpan perasaan yang sama pada Luhan. The same Kris yang secara tidak sadar telah dicapnya sebagai rival terberatnya meskipun dia tahu kalau Luhan tidak memiliki perasaan apapun padanya. Well, salahkan Kris dan kesempurnaannya. Wajah, materi, sifat. Semuanya Perfect.
Tangan Sehun terkepal dengan sendirinya melihat pemandangan di depannya. Dia merasa sangat kesal. Kesal karena dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Kesal karena dia hanya bisa melihatnya dari jauh. Kesal karena dadanya, lebih tepatnya hatinya, terasa berdenyut nyeri saat menyaksikan keintiman keduanya. Kesal karena dia baru menyadari satu hal. Luhan masih memakai baju yang sama dengan baju yang dipakainya saat mereka berbicara kemarin.
Lalu dadanya serasa seperti tertohok sesuatu saat menyadari satu hal lainnya. Luhan. Apakah dia juga merasakan hal yang sama saat melihatnya dengan Jongin malam itu? Sehun menggelengkan kepalanya dan tersenyum miris. Tidak. Sakit dan nyeri yang menderu di dadanya saat ini pasti tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dirasakan Luhan.
Sehun baru melanjutkan perjalanannya saat dilihatnya Kris sudah meninggalkan rumah Luhan. Luhan sendiri sudah masuk sejak tadi. Mengurungkan niatnya untuk menemui Luhan, Sehun memilih untuk langsung ke kampus saja. Mungkin saat ini bukan saat yang tepat baginya.
Sepanjang pelajaran yang diikutinya hari itu, Sehun benar-benar tidak bisa fokus. Pikirannya masih berkelana pada kejadian tadi pagi. Mengapa Luhan bisa bersama Kris sepagi itu? Dia bahkan masih mengenakan baju yang dipakainya kemarin. Apa itu berarti Luhan bermalam di tempat Kris?
Sehun mengepalkan tangannya di bawah meja, frustasi. Dia benar-benar tidak bisa konsentrasi kalau begini caranya. Bukannya dia tidak mempercayai Luhan. Tentu saja dia sangat mempercayainya. Hanya saja, dia tidak bisa mempercayai Kris.
Dan tepat saat dosennya mengumumkan berakhirnya kelas, Sehun segera beranjak keluar dari kelasnya. Dia harus bertemu dengan Luhan saat ini juga. Persetan dengan asistensinya. Dia akan memberikan alasan terbaiknya agar diijinkan untuk menghadap dosennya besok. Yang terpenting sekarang adalah Luhan.
Namun, untuk yang kedua kalinya di hari ini, langkahnya terhenti begitu saja saat melihat Luhan berjalan beriringan dengan Kris menuju parkiran. Menuju mobil mewah milik Kris yang sudah menunggu di sana. Tapi kali ini, dia tidak berencana untuk bersembunyi seperti apa yang dilakukannya tadi pagi. Karena itulah, Sehun kembali melangkah mengejar Luhan dan memegang tangannya tepat sebelum Luhan memasuki mobil mewah Kris.
Luhan sempat terkejut saat tiba-tiba saja seseorang memegang tangannya dan mencegahnya untuk masuk mobil Kris. Well, Kris menawarkan diri untuk mengantarnya pulang hari itu, dan Luhan merasa tidak enak kalau harus menolaknya. Tidak setelah apa yang dilakukan Kris untuknya kemarin. Belum lagi BaekSoo yang terus memberinya dukungan untuk menerima tawaran Kris.
Luhan menatap si pelaku dan bernafas lega. Namun wajahnya langsung berubah menjadi penuh tanda tanya saat melihat air muka Sehun yang sepertinya tidak bersahabat. Belum lagi saat Sehun menarik tangannya untuk menjauhi mobil Kris. Apa sekarang mereka sedang dalam kontes tarik menarik tangan? Kemarin dia yang menarik tangan Sehun. Dan sekarang tangannya yang sedang ditarik Sehun entah kemana. Luhan sempat melihat Kris yang sepertinya akan menghentikan entah apa yang ingin dilakukan Sehun padanya, namun segera mengurungkan niatnya saat Luhan menggeleng pelan. Memberi isyarat kalau dia tidak apa-apa.
"Sehun-ah!" panggil Luhan. Namun Sehun sama sekali tidak menoleh padanya dan masih setia menarik tangan Luhan. "Sehun-ah. Ada apa? Kau mau membawaku kemana?" tanya Luhan. Oke, tangannya mulai terasa nyeri karena sepertinya Sehun menggenggam dan menariknya terlalu kuat.
Saat tiba di area parkiran yang lebih sepi dan jauh dari Kris, Sehun menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan menatap Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan. Tangannya masih memegang pergelangan tangan Luhan erat.
"Sehun-ah. Sebe—"
"Mengapa kau bisa bersama Kris Hyung?" tanya Sehun memotong kalimat Luhan. "Aku melihatmu turun dari mobilnya tadi pagi. Dan baru saja aku melihatmu akan menaiki mobilnya lagi. Jelaskan padaku, mengapa kau bisa bersamanya dengan baju yang sama dengan yang kau kenakan kemarin?"
"Well, aku ke apartemen Kris setelah dari apartemenmu kemarin. Kami mengobrol biasa dan aku ketiduran di sana. Kris bilang dia tidak ingin mengganggu tidurku. Karena itu dia membiarkanku bermalam di apartemennya, dan dia mengantarkanku pulang tadi pagi," jawab Luhan.
"Kalian tidak melakukan apa-apa?" tanya Sehun lagi.
"Tentu saja tid— Oh Sehun! Apakah kau sedang menuduhku selingkuh dengan Kris? Kau tidak percaya padaku?" Luhan mengerutkan alisnya. Bagaimana Sehun bisa berfikir seperti itu tentangnya?
"Aku tidak menuduhmu, Lu. Tentu saja aku percaya. It's him yang tidak ku percaya. Dia menyukaimu dan—"
"Lalu kenapa jika Kris menyukaiku? Kau cemburu padanya, Sehun?" Sehun sedikit terkejut mendengar Luhan tiba-tiba memanggil namanya tanpa embel-embel apapun.
"Kris itu sahabatku! Kalau kau saja bisa cemburu pada sahabatku sendiri, padahal dia hanya mengantarkanku pulang, lalu apa yang kau pikir aku rasakan saat kau bersama Jongin?" tanya Luhan lirih.
"Oh, jadi ini semua karena itu? Karena aku menghabiskan waktu bersama Jongin, kau memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama Kris Hyung? Kau ingin membalasku, Lu?"
"WHA—" Luhan memijit pelipisnya frustasi. Sebenarnya dia cukup lelah dengan kecemburuan Sehun pada Kris. Awalnya dulu, Luhan rasa itu hal yang manis. Sehun cemburu, berarti Sehun mencintainya. Tapi kalau seperti ini? Mungkin Kris benar. Sehun terlalu meremehkan dirinya yang selalu memaafkan Sehun begitu saja.
Luhan menghela nafasnya berat bahkan sebelum dia mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Dia menundukkan kepalanya. Menimbang-nimbang apakah dia benar-benar harus melakukannya?
"Kau tahu, Sehun-ah? Aku sudah memikirkannya baik-baik. Hubungan ini..." Luhan menggantungkan kalimatnya dan kembali menatap Sehun. "Aku rasa kita benar-benar perlu untuk memikirkan ulang hubungan ini!"
"What?" Sehun membelalakkan matanya tak percaya. Luhan pasti sedang bercanda, kan?
"Kau ingin hubungan ini berakhir, Lu?" tanyanya. Luhan menggeleng cepat sebagai jawaban.
"Aniyo. Bukan mengakhirinya. Hanya memikirkan ulang. Kau, Jongin, aku. Kita semua butuh waktu untuk berfikir tentang apa yang terjadi diantara kita. Bukankah Jongin memberimu waktu satu minggu?" Sehun tidak menjawabnya.
"Sampai saatnya kau memberikan jawabanmu pada Jongin nanti. Sampai kau benar-benar yakin akan perasaanmu. Kau bisa kembali memanggilku 'Hyung' seperti dulu. Dan di hari itu, di hari yang sama saat kau akan menemui Jongin untuk memberikan jawabanmu, kau bisa memutuskannya, Sehun-ah. Dengan begini, akan terasa lebih adil bagi Jongin. Karena dengan begini, kau tidak memilih antara kekasih dan mantan kekasihmu. You just simply choose orang yang benar-benar kau cintai."
"Aku akan menunggumu di kafe dekat apartemen. Jam 7 tepat. Kau bisa kembali memanggilku 'Luhan' jika kau memutuskan untuk datang. Tapi, jika kau terlambat atau bahkan tidak datang sama sekali, berarti kau bisa tetap memanggilku 'Hyung'. Semuanya tergantung keputusanmu."
Sehun menatap lurus pada mata Luhan. Mencoba mencari isyarat yang mengatakan kalau ini semua hanya gurauan Luhan saja. Namun saat Sehun menelusuri raut wajah Luhan dan menatap lekat ke dalam manik mata Luhan, dia hanya bisa melihat keseriusan Luhan.
~O.O~
TeBeCe
A/N:
#GUBRAKK
Tolong jangan timpuk Liyya dengan wajan dan sejenisnya karena TeBeCe yang muncul di saat yang tidak tepat dengan tidak elitnya -_- Seharusnya TeBeCe tidak muncul di sini. Tapi apa daya, tanpa sadar chap ini terlalu panjang dan Liyya terpaksa memotongnya di sini .
Oke! Liyya mau minta maaf banget karena baru bisa update setelah seminggu. Liyya bener-bener sedikit lebih sibuk dari biasanya karena ini bulan puasa. Jadi jarang ada waktu buat ngetik #alasan
So, bagaimana kelanjutan hubungan HunHan? Kita tunggu aja pada keputusan Sehun ;) FYI aja, percakapan HunHan gak berhenti di situ kok. Masih ada kelanjutannya :D
Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
dian deer: wkwkwkwkwk . Emosinya ke Jongin aja ya, peace :D KrisHan cuma bestfriend aja kok, gak ada hubungan lebih :) Tapi kalau mau di skip juga gpp sih, hehehehe
Makasih udah ngereview^^
ajib4ff: Luhan lagi 'dewasa' mode on, eoooon . Setuju deh sama eonnie. Kalau dia sampe' milih Kkamjong, berarti dia bener-bener 'oon deh -_-
Makasih udah ngereview^^
Xi Ri Rin: Ini udah lanjut yaaaa :)
Makasih udah ngereview^^
RirinSekarini: FF nya gak ikutan puasa kok, cuma rada lelet aja updatenya -_- Ini udah lanjut, mian baru update ya :D
Makasih udah ngereview^^
lili: Waaaaaaah. Punya pengalaman pribadi neh . Mau cakar jongin? Bisa, bisa. Cakar aja, Liyya ikhlas kok #plakk Kyaaaaaa. Makasih udah dibilang bagus :D Ini belom ada apa-apanya mah kalo dibandingin sama author yang laen :)
Makasih udah ngereview^^
lele: Kok dilempar kodok? Iyuuuuuuh #alay -_- Konfliknya sebenernya cuma sati sih, 'kelabilan Sehun'. Tapi jadi menyebar kemana-mana tuh #plakk
Makasih udah ngereview^^
Queen DheVils49: Mianhae gak bisa lanjut ASAP ya #bow Sehun sama Jongin bisa kali ya masuk ke perkumpulan orang-orang babbo se-Korea Selatan o.O #dilemparpanci
Makasih udah ngereview^^
fieeloving13: Virus Jongin? Wkwkwkwkwk . #ikutantendangKaiHun -_- Di chap ne, Sehun udah mulai cemburu buta tuh. Malah Luhan udah negluarin ultimatum(?) tak sedap :(
Makasih udah ngereview^^
Lee MingKyu: Seneng banget neh kaya' nya liat keadaan Sehun yang babak belur ancur gitu -_- LuBaekSoo itu udah kaya' sodara kandung loooh :) Tuh udah ada KrisHan. Moga gak mengecewakan ya :D
Makasih udah ngereview^^
HunHan Baby: Nasib Sehun di chap kemaren emang rada miris ya ternyata #barunyadar #plakk -_-Ini udah lanjut dek, kita ketemu lagi di chap depan ya :D
Makasih udah ngereview^^
lena99: Uljimaaaa #siapinbaskom :'( Adooooh, jangan ngomong gitu dooonk. Eon jadi gak enak neh . Eon juga masih belajar kok. Masih banyaaaaaak yang jauuuh lebih jago dari eon :) Coba ceritanya dipublish aja. Dengan begitu, kita jadi tahu dimana letak kelemahan dan kekurangan dari tulisan kita dari komentar readers. So, kita bisa improvisasi nanti :D Eon juga dulunya pengen banget jadi penulis n suka nulis-nulis di buku juga loh. Tapi seiring berjalannya waktu, eon jadi males. Baru akhir-akhir ini tertarik untuk nulis lagi. Itupun cuma ff aja :D Ini udah ada KrisHannya. Moga kamu suka ya :)
Makasih udah ngereview^^
chyshinji0204: Tenang aja, Thehun udah dirawat tuh sama Lulu. Jadinya udah cakep lagi . Waaaaaah, setuju banget neh. Emang Seme paling Top Markotop #alaPakBondan# buat Luhan itu adalah si Sehun :D
Makasih udah ngereview^^
UnknownLalachI: Jeongmal? Emang ceritanya kan rada pasaran sebenernya -_- Setuju banget sama kata-katanya. Emang ngelupain seseorang itu gak semudah membalikkan telapak tangan . Laaaah, berarti Sehun balikan sama Kkamjong donk o.O
Makasih udah ngereview^^
Shizuluhan: Baby don't Keraaaaaaay #konserbarengBaekSoo . Yaaaah, untungnya Lulu buka Shizu yaaa, jadi Jongin selamat neh :D Lulu emang like an Angel deh ^_^ Sehun tuh ya, butuh pencerahan atau seperti yang dibilang bang Naga 'pelajaran', baru ntar dia bisa sadar. Namanya juga masih labil -_- Ne udah ada KrisHannya chingu. Mudah-mudahan Shizu suka ya :)
Makasih udah ngereview^^
destyrahmasari: Hepi ending, hepi ending, hepi ending #komatkamit loh? #authorsarap -_- Ne udah lanjut, saeng :D
Makasih udah ngereview^^
XiaLu BlackPearl: Ternyata sama aja ya kita. MOS itu emang bikin STRESS -_- hehehehe #mengenangmasa-masasekolah
Makasih udah ngereview^^
sholaniadinara: Chapter-chapter ne emang bakalan bikin nyesek terus :'( Namanya aja ABG, ya gitu deh -_- Hunkai mana yang Seme? Kamu orang ke-sekian yang menanyakannya #siapinpiringcantikbuathadiah . Liyya juga gak tau neh, terserah readers aja deh *loh?
Makasih udah ngereview^^
asroyasrii: Kyungsoo kan sudah menampar hati Sehun dengan kata-katanya yang kalem tapi menusuk itu :D Hadeeeeeh, ne mah gak ada gebuk-gebukannya. Udah gede juga -_- Enak aje maen cium-cium Luhan #selamatkanLuhan :D Hadoooooh, kenapa sad endingnya ekstrim syekalleeeee o.O
Makasih udah ngereview^^
RZHH 261220: KrisHan jelas gak sampek ciuman dooonk ;) Eon juga gak suka kalo Lulu selingkuh gitu. Selingkuh itu kan tugasnya Sehun *eh?
Makasih udah ngereview^^
Name hunhan: Jangan nangis chingu :( Ingat puasa . Hepi ending gak yaaaa #evilsmirk
Makasih udah ngereview^^
ferinaref: Baca 2x? Omooooo.! Eh, tapi ya, ini yang punya akun fb Ferina Refina bukan? Soalnya namanya mirip siih :D Waduh, yang mau bacok Jongin. Tapi gimana donk? Jongin lagi cuti di chap ini o.O Kaya'nya dia emang udah feeling kalau ada yang mau menghajarnya deh -_-
Makasih udah ngereview^^
Nurfadillah: Sebenernya Liyya juga gak suka loh sama ff sad ending :( Apa lagi kalo cast nya HunHan :'( Kata-katanya Luhan emang sengaja Liyya bikin kalem tapi langsung NGEJLEBB .
Makasih udah ngereview^^
choitaemin12: #pukpukLuhan :( Mau tau akhirnya gimana? Stay tune aja ya :D
Makasih udah ngereview^^
Misterius: Gpp kok :D Eon juga gak tau neh mau dibawa kemana hubungannya HunHan. Habisnya Thehun gitu siiih -_- Eh tapi, gimana tuh modelnya hepi ending dengan bumbu sad ending? O.O
Makasih udah ngereview^^
ChickenKID: Kyaaaaaaaaa! Gomawo udah dibilang Daebak :D Tapi sepertinya apa yang dilakukan BaekSoo belum bisa menyadarkan Sehun dari ke-labil-annya deh -_- Memang harus Luhan sendiri neh yang turun tangan :( Luhan kan emang gak selemah penampilannya yang unyu-unyu sangat gitu . Yaaaaa, walaupun ujung-ujungnya nangis juga sih :'(
Makasih udah ngereview^^
Gak punya akun: Pendukung KrisHan neh ceritanya? :D Waduuuuh, golden words nya Mario Teguh dikumandangkan(?) kekekekeke :D
Makasih udah ngereview^^
EXOST Panda: Annyeong ^_^ Gwaenchanna :) Bagaimana hubungan HunHan selanjutnya? Stay tune aja yaaa :D Yaaaah, yang jelas sih, kisah cinta mereka gak semulus kulit putihnya Luhan .
Makasih udah ngereview^^
PandaPanda Taoris: Mau Hunhan hepi ending? Well, sebenernya Liyya juga maunya gitu :D
Makasih udah ngereview^^
uswatun hasanah: Gpp deeeeek ^_^ Eonnie beneran gak nyadar loh, kalau ternyata banyak readers yang was-was tiap ada HunHan moment. Soalnya takut Jongin merusak acara . Ini udah hampir klimaks dek, mungkin ada satu konflik lagi, trus anti-klimaks, trus baru end :D
Makasih udah ngereview^^
Amortentia Chan: Biasnya Jongin? O.O Omooooo! Mianhae, Jongin ternistakan di sini :( Mian juga ya, kaiSoo nya gak ada. Liyya lagi suka liat Appa Umma bersatu soalnya :D wkwkwkwkwk Liyya ketawa sendiri pas baca curhatan mati lampunya .
Makasih udah ngereview^^
xihan zhang: Terimakasih sudah memberikan komentar dan bilang bagus #bow Terimakasih juga sudah memberikan semangat dan mau menunggu :D Semoga chapter ini enggak mengecewakan ya :)
Makasih udah ngereview^^
sari2min: Andwaeeeeee! Jangan sebel ke Luhan kaaaak. Sebelnya ke yang lain aja :( Namanya aja udah cinta buta -_- Giti-gitu kan Sehun juga pernah membuat Luhan bahagia serasa di atas awan .
Makasih udah ngereview^^
dearluhan: Naaaaaaaaah! Eon seneng banget deh ada yang mengerti perasaannya Sehun #pelukSaeng :D Hmmmm, baru masuk Universitas? Sukses yaaaaa ^_^ BTW ngambil jurusan apa? #kepo
Makasih udah ngereview^^
ssjllf: Mudah-mudahan hepi ending ya :D
Makasih udah ngereview^^
Hyorim16: Sudah puaskah? Atau masih kurang puas? Mari kita siksa Sehun lagi wkwkwkwkwk #ketawanista -_- yeeee, walaupun nanti sad ending, gak ada ceritanya Sehun balikan sama Kkamjong ##plakk -_- Gak kepanjangan kok deek. Malah kalau bisa lebih panjang lagi gpp hehehehehe :D
Makasih udah ngereview^^
chocotaro: Annyeong yaaaa ^_^ Gpp kok :) Luhan emang terlalu sensitiv. Tapi juga gak terlalu manja :) Ini udah ada KrisHan moment. Moga gak mengecewakan ya :D hehehehe. Eh, twitternya udah Liyya follback ya :) Gomawo udah follow Liyya. Salam chocotaro shipper :D
Makasih udah ngereview^^
Aileen Xiao: Yeeee. Sehun digebukin #ikutanbahagia #plakk -_- Ini KrisHannya udah nongol chingu. Semoga kamu suka :D Liyya sih bisa janji buat nyiksa Sehun. Tapi kalau nyiksa Jongin? Hmmmm, kaya'nya Liyya gak bisa. Soalnya kan ff nya HunHan, jadi rada gimana gitu kalo mau bikin adegan penyiksaan buat Jongin #Jongin: halaah! Bilang aja nuna malas mau bikin chapter khusus aku *embeeer weeeeekkk :P
Makasih udah ngereview^^
sofianingsih: Apa? Hadiah berkah Ramadhan maunya Hunhan hepi ending? Hmmm, bisa dipertimbangkan deh :D
Makasih udah ngereview^^
Ariadna: Kisah cinta HunHan emang penuh perjuangan ternyata ya. Jadi ikutan gak tega kalau mau bikin sad ending ;)
Makasih udah ngereview^^
abel: Makasih ya udah dibilang keren :D Mudah-mudahan nanti hepi ending. Soalnya readers banyak yang minta begitu :)
Makasih udah ngereview^^
ki-sl: Yeheeeee 3ikutankeprokkeprok . Met puasa juga :D Ne Liyya udah berbaik hati pada Luhan. Mengingat kalau ini adalah bulan puasa. Liyya udah mendatangkan pangeran tak berkuda yang bernama Kris Wu untuk Luhan di chap ini :D
Makasih udah ngereview^^
haejoonma: Eh miaaaaaaan. Karena udah kepanjangan, Suho baru bisa muncul di chap depan ternyata #bowbarengSuho :D Tenang aja, pembalasan masih terus berlangsung kok. Sampe' Sehun bener-bener menyesal deh pokoknya .
Makasih udah ngereview^^
Uchiha Tachi'4'Sora: Luhan emang terlalu baik. Tapi dia juga punya batas kesabaran dooonk ;) Liyya seneng deh kalo kamu suka part yang vs2an ntu :D
Makasih udah ngereview^^
WinterHeaven: wkwkwkwkwkwk. Sumpah Liyya ngakak baca komen kamu. Semangat banget mau voodooin Jongin kekekekeke Ingat dosa loh yaaaa :D
Makasih udah ngereview^^
deerlu54: Huwaaaaa! Gomawo udah dibilang Daebak :D Ide? Inspirasi itu muncul begitu saja saat melihat wajah unyu-unyu nya Luhan . Masalahnya masih ada kok. Cuma eon gak tau apa itu semakin rumit ato semakin gaje -_- Yups. KaiSoo gak ada :D SuLay apa lagi -_- ChenMin masih sama-sama jomblo. Mungkin mereka udah jadian, cuma gak diceritain aja, hehehehehe.
Makasih udah ngereview^^
im lulu: Hepi ending gak ya? Kemungkinan besar sih iya :D BaekSoo vs Kai? Masalahnya yang membuat Luhan menangis semalam itu Thehunnya sih. Lagian kan BaekSoo gak kenam Kkamjong :D
Makasih udah ngereview^^
Little Deer: Aduuuuuuuh! Long time banget neeeeeeeh. Kemana aja deeeek? Hehehehehe. Gwaenchanna ^_^ Eon juga gak tau kenapa Jongin ngebet banget mau balikan sama Thehun. Kaya' gak ada yang lain aja -_- Sehun lagi dilema deeeek. Masalahnya, Kris bukan tipe namja yang menyelesaikan masalah dengan amarah #ceileh bahasanya# Apalagi si Suho Appa. Dia mah, paling cuma nasihatin Sehun. Kasih pencerahan gitu .
Makasih udah ngereview^^
Ryu Que: Lulu kasiaaaah :( Sehun emang pabbo! Jongin gak kejam sih, cuma rada egois aja #plakk .
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: Believe it or no. Liyya selalu dapat inspirasi baru tiap baca komentar kamu, chingu :D Bener banget. Sehun mah cuma pasrah-pasrah aja dengan apa yang dikatakan Luhan :D Liyya juga gak masalah selama Luhan jadi Uke. Sapa pun semenya OKE aja daaaah . Oke. Kalo begitu, Liyya ikutin kata hati aja deh ya. Sesuai planning awal aja :) Apapun endingnya nanti, Luhan pasti tetap bahagia dooonk. Liyya gak rela dunia akhirat kalo Luhan gak bahagia nanti . Waduuuuuh! Ini nih yang gak enak. Kata SEQUEL. Hhhhhh. Sequelnya 'Saranghae, Nae Appa' aja belom kelar -_-
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi? Jangan takut untuk mengkritik, menyuarakan pendapat, dan bahkan menghina.
So, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^
