By: 0312_luLuEXOticS

Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Kris, Others

Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo

Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort

Rate: T

Lenght: 19 of ?

Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje

.

HAPPY READING^^

.

Preview Chapter:

"Aku akan menunggumu di kafe dekat apartemen. Jam 7 tepat. Kau bisa kembali memanggilku 'Luhan' jika kau memutuskan untuk datang. Tapi, jika kau terlambat atau bahkan tidak datang sama sekali, berarti kau bisa tetap memanggilku 'Hyung'. Semuanya tergantung keputusanmu."

Sehun menatap lurus pada mata Luhan. Mencoba mencari isyarat yang mengatakan kalau ini semua hanya gurauan Luhan saja. Namun saat Sehun menelusuri raut wajah Luhan dan menatap lekat ke dalam manik mata Luhan, dia hanya bisa melihat keseriusan Luhan.

~O.O~

"Andwae!" tolak Sehun mentah-mentah. "Bukankankah hubungan kita baik-baik saja sebelumnya? Kenapa tiba-tiba berkata seperti ini? kau bercanda kan?" Luhan menggelengkan kepalanya tak percaya. Oh Sehun. Are you really that clueless?

"Apa kau benar-benar befikir begitu?" Luhan balik bertanya. "Kalau hubungan kita baik-baik saja, Baekhyun tidak mungkin memukulmu! Kalau hubungan kita memang baik-baik saja, Kyungsoo tidak mungkin menamparmu! Kalau hubungan kita baik-baik saja, kita tidak mungkin berdiri di sini dan membicarakan hal ini sekarang!" ucapnya lembut namun ada ketegasan di setiap kata-katanya.

'Jika hubungan ini baik-baik saja, kau tidak mungkin mempertanyakan hatimu sendiri!'

"Apa ini karena kejadian malam itu?" tanya Sehun. "Lu! Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya dan meminta maaf padamu? Bukankah kemarin kau bilang sudah kau memaafkanku?"

"Aku sudah memaafkanmu, Sehun-ah!" jawab Luhan putus asa. Kenapa Sehun sangat sulit untuk mengerti? Apa dia benar-benar tidak bisa membaca situasi yang terjadi diantara mereka saat ini?

"Lalu kenapa tiba-tiba kau seperti ini?" tanya Sehun frustasi. "Apa ini karena 'dia'?"

"Eh?"

"Apa ini karena Kris Hyung?" Sehun memperjelas pertanyaannya.

Luhan mendesah pelan. "Mengapa lagi-lagi Kris dibawa dalam masalah ini?"

"Karena kau seperti ini setelah bersamanya kemarin, Lu! Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Apa Kris Hyung menyuruhmu untuk melakukan ini?"

"And why should he ask me to do that?!"

"Tentu saja karena dia mencintaimu! Karena dengan begitu, dia bisa mengambilmu dariku. Dia bisa menjadikanmu miliknya. Dia—"

"Oh Sehun!" Sehun tersentak kaget dan spontan menghentikan rentetan kalimatnya saat Luhan memanggilnya dengan nada sedikit tinggi.

"Kris tidak ada hubungannya sama sekali dalam masalah kita. Mengapa kau selalu membawa-bawa nama Kris? Berapa kali harus ku katakan kalau Kris itu sahabatku! He is my BESTFRIEND! Aku tidak memiliki perasaan romantis untuknya. And YOU, out of all people should know that!"

Sehun terlihat membuka mulutnya hendak menjawab perkataan Luhan, namun langsung menutupnya kembali saat Luhan melanjutkan ucapannya.

"Dia hanya berbaik hati menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Apa itu salah? Mereka bilang akan ada hujan badai hari ini. Lalu kau ingin aku melakukan apa? Apa aku harus menolak tawaran Kris dan tetap di sini sendiri di tengah hujan? Lalu, apa aku harus menunggu namjachinguku yang entah dimana dan mungkin saja sedang menghabiskan waktunya bersama mantan kekasihnya sementara aku di sini ketakutan?!"

Luhan segera menutup mulutnya setelah mengatakan hal itu. Dia melirik Sehun, takut-takut kalau Sehun akan marah dan terluka karena ucapannya. Luhan sendiri tidak tahu bagaimana kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya. Sure, dia sedikit curiga saat Jongin bercerita tentang pertemuan singkatnya dengan Sehun hari itu. Ada yang aneh dari reaksi Sehun saat Jongin menyebutkan tentang pertemuan mereka. Tapi bukan berarti dia bisa menuduh Sehun, kan? Luhan sudah memutuskan untuk percaya pada Sehun sepenuhnya. Lagi pula, Sehun sudah membenarkan cerita Jongin. Jadi seharusnya memang itu yang terjadi, kan?

Namun saat Luhan menatap lekat ekspresi yang diberikan Sehun setelah Luhan mengatakan itu semua, Luhan tahu kalau cerita itu tidak sepenuhnya benar. Karena daripada ekspresi marah dan terluka atas tuduhan tidak langsungnya seperti yang Luhan pikirkan, ekspresi Sehun saat ini lebih terlihat seperti terkejut dan, bersalah? Dan satu kata dari Sehun mengkonfirmasi semuanya. Hanya satu kata saja, tapi bisa membuat tembok kasat mata bernama kepercayaan yang dibangunnya untuk Sehun retak seketika.

"H-Hyung."

Sehun tidak suka memanggilnya dengan sebutan 'Hyung'. Dia tidak pernah memanggilnya dengan sebutan 'Hyung' kecuali saat dia benar-benar merasa bersalah pada Luhan. Apa itu berarti tuduhan tak langsung yang dilontarkannya itu benar? Apa karena itu Sehun merasa bersalah padanya? No no no! Sehun tidak mungkin melakukannya, kan?

"Katakan kalau itu tidak benar, Sehun-ah. Katakan kalau apa yang ku katakan tadi tidak benar! Tolong katakan kalau kau tidak benar-benar melakukan hal itu padaku!" Luhan masih mencoba untuk menepis kenyataan pahit itu. Dia masih ingin mempercayai Sehun. Tapi wajah Sehun benar-benar berkata lain.

"Hyung!"

Luhan memundurkan kakinya dan menatap Sehun tak percaya. Dari semua luka yang pernah dirasakannya, luka ini terasa lebih sakit. Sehun membohongi dirinya. Bagaimana mungkin Sehun tega melakukan ini padanya?

"Jung Seonsaeng-nim, eoh?" Luhan tersenyum miris kemudian menggigit bibir bawahnya kuat. Menahan air mata yang lagi-lagi menggenang di pelupuk matanya. Satu tangannya mencengkram dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.

"Tch," Luhan mendecih. "Aku tidak percaya kalau aku mempercayai alasanmu, Sehun." Luhan menggelengkan kepalanya. Seolah mempertegas apa yang diucapkannya. "But, it's you, Sehun-ah! Bahkan jika seandainya kau berkata bahwa matahari terbit dari barat, aku pasti tidak akan ragu untuk mempercayainya." Luhan menghentikan ucapannya untuk mengambil nafas berat.

"Aku mempercayaimu, Sehun-ah. Sangat mempercayaimu. Tapi kau—" kalimat itu terhenti begitu saja bersamaan dengan setetes demi setetes air mata yang dengan seenaknya jatuh tanpa seijinnya. Bahkan untuk mengucapkan kata itu pun, Luhan tidak bisa. Rasanya terlalu sakit. Sehun mengkhianati kepercayaannya.

"Lu!" Sehun memajukan langkahnya yang langsung terhenti saat Luhan memundurkan langkahnya dan mengisyaratkannya untuk berhenti dengan tangannya yang terangkat dan telapak tangan yang menghadap Sehun. Hatinya berdenyut saat Luhan melakukannya.

"Don't, please!" pinta Luhan lirih dengan suara yang bergetar. Luhan menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Sehun. Menyembunyikan air matanya. Berusaha menstabilkan nafas saat dirasanya kalau dia mulai kesulitan bernafas. "A-aku, sebaiknya aku pulang!" ucapnya setelah berhasil menstabilkan deru nafasnya.

"Lu! Aku—"

~I lost my mind

Noreul Choummannasseultte

No hanappego modeungaseun

Get in slow motion~

Suara ponsel Sehun yang berteriak nyaring menghentikan ucapannya. Luhan bisa tahu siapa yang menelpon dari ekspresi Sehun saat melihat layar ponselnya.

Luhan mendengus pelan saat melihat Sehun yang sepertinya sedang menimbang-nimbang untuk menerima panggilan itu atau mengabaikannya.

"Well, sepertinya 'that chingu' membutuhkanmu sekarang. Angkatlah! Lagi pula aku akan pulang!" ucap Luhan dingin setelah menghapus kasar air matanya. Dan sebelum Sehun sempat mengucapkan apapun, Luhan segera berbalik meninggalkannya dengan langkah cepat, setengah berlari. Dia ingin segera pergi dari situ. Dia ingin segera berada di dalam kamarnya.

GREBB

SRETT

Luhan secara refleks menepis kasar tangan Sehun yang mencoba untuk menghentikan langkahnya. Membuat Sehun kaget dan terpaku di tempatnya. Menatap tak percaya pada Luhan yang baru saja menepis tangannya. Ini pertama kalinya Luhan melakukan ini padanya.

"M-mianhae, Sehun-ah!" ucapnya saat sadar kalau dia baru saja menepis tangan Sehun dengan kasar. Bahkan di saat seperti ini, Luhan masih bisa meminta maaf atas perlakuannya. "Please! Aku mohon jangan sekarang! Aku ingin sendiri! Aku butuh waktu untuk sendiri. Di sini," Luhan memegang dada kirinya. "Rasanya sakit sekali, Sehun-ah. Jebal! Biarkan aku sendiri. Kali ini saja. Please!" pinta Luhan dengan suara bergetar menahan tangisnya.

Dan saat Sehun tidak menjawab apa-apa, Luhan kembali berbalik meninggalkannya. Kali ini memilih untuk berlari. Dia bahkan melupakan Kris yang menunggunya di sebelah mobil ferari nya. Dia hanya ingin terus berlari. Bersama dengan air mata yang kembali jatuh berlomba-lomba. Bersama dengan rintik air hujan yang mulai jatuh satu persatu. Bersama dengan rasa sakit di dadanya. Bersama dengan kesedihannya. Bersama dengan kekecewaannya.

Dia bahkan sempat kembali menepis tangan seseorang yang kembali menahan langkahnya. Mengira kalau itu Sehun. Saat tangan itu beralih pada kedua bahu mungilnya dan dia mendongakkan kepalanya, baru Luhan tahu kalau itu bukan Sehun, melainkan Kris. Luhan pasrah saja saat Kris membawanya menuju mobilnya. Dia merasa sangat lelah. Bahkan untuk sekedar menolak ajakan Kris. Tidak menyadari kalau Sehun masih melihatnya.

Sehun berdiri terpaku beberapa saat setelah Luhan pergi. Menatap nanar bayangan mobil Kris yang mulai tak terlihat oleh indera penglihatannya. Meremas kuat dada kirinya yang terasa sangat sakit. Dia tetap berdiri di sana. Tidak perduli rintik hujan yang mulai membasahi tubuhnya. Membasahi bajunya, ranselnya, bukunya, tugas-tugasnya. Dia tidak merasakan dinginnya air hujan yang menusuk kulit putihnya.

Pikirannya terpaku pada kejadian beberapa saat lalu. Saat Luhan memintanya untuk memikirkan hubungan mereka. Saat Luhan untuk pertama kalinya berbicara dengan nada tinggi padanya. Saat Luhan secara tidak sengaja mengetahui kebenaran yang terjadi malam itu. Luhan yang menatapnya dengan pandangan terluka dan kecewa. Luhan yang memundurkan langkahnya saat dia mendekatinya. Luhan yang menyuruhnya menerima panggilan Jongin dengan nada dinginnya. Luhan yang menepis tangannya. Luhan yang memintanya untuk membiarkannya sendirian. Luhan yang berlari menjauhinya. Luhan yang menangis di tengah gerimis hujan. Luhan yang mengangguk pasrah saat Kris mengatakan sesuatu padanya dan membawanya menuju mobilnya. Luhan. Luhan. Luhan.

Apakah kali ini dia benar-benar merusak semuanya? Apakah kali ini Luhan tidak akan memaafkannya? Apakah dia akan kehilangan Luhan?

"Hyung!" panggilnya lirih.

~I lost my mind

Noreul Choummannasseultte

No hanappego modeungaseun

Get in slow motion~

Lagi. Ponsel Sehun berdering. Namun dia tidak mendengarnya. Dia tidak bisa mendengar apapun saat itu. Hanya suara hatinya yang retak. Hanya suara detak jantung yang berpacu keras. Hanya kalimat Luhan sebelum dia pergi tadi.

"Rasanya sakit sekali, Sehun-ah. Jebal! Biarkan aku sendiri. Kali ini saja. Please!"

"Hyung! Mianhae. Jeongmal mianhae." Sehun masih memegang dada kirinya. Seperti ini kah rasa sakitnya saat seseorang yang kau cintai mengabaikanmu? Rasa sakit saat Jongin meninggalkannya dulu bahkan tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan ini.

Hari itu, Seoul memang diguyur hujan lebat seperti yang dikatakan Luhan. Dan walaupun tidak ada badai yang mengiringinya, baik Sehun maupun Luhan tetap bisa merasakan 'badai' itu. 'Badai' yang menghantam hubungan mereka.

~O.O~

Kris menyetir mobilnya menuju rumah Luhan sambil sesekali melirik pada Luhan yang meringkuk di kursi penumpang di sampingnya. Luhan duduk sedikit membelakanginya. Menyandarkan sisi tubuhnya pada sandaran kursi dengan pandangan tertuju ke luar jendela. Kris ingin bertanya tentang apa yang terjadi.

Tentu saja dia tahu kalau Sehun marah karena Luhan menerima ajakannya pulang. Yang dia tidak mengerti, mengapa tiba-tiba keadaan jadi berbalik. Bukan Luhan yang terdiam mendengar amarah Sehun, tapi sebaliknya. Yeah, meskipun Luhan tidak marah-marah, tapi pada satu titik percakapan yang entah apa itu, Sehun benar-benar terdiam seribu bahasa. Dan yang lebih tidak dimengertinya lagi, Luhan yang memundurkan langkahnya saat Sehun mencoba mendekatinya. Disusul dengan Luhan yang menepis tangan Sehun dan berlari darinya dengan air mata yang sudah membasahi wajah manisnya.

Saat melihat Luhan ternyata bukan berlari ke arahnya, Kris segera mengemudikan mobilnya menuju gerbang untuk mencegat Luhan. Luhan bahkan menepis tangannya tadi. Mungkin Luhan mengira kalau dia adalah Sehun. Untung saja Luhan tidak menolak saat Kris menuntunnya untuk memasuki mobilnya. Dalam keadaan seperti ini, Kris tidak mungkin membiarkan Luhan berjalan pulang sendirian.

Kris kembali melirik Luhan yang masih memunggunginya. Walau ingin bertanya, dia menahannya. Apapun masalah Luhan dan Sehun, itu bukan urusannya. Dia tidak berhak untuk ikut campur. Kalau memang Luhan percaya padanya untuk membagi ceritanya, Luhan akan menceritakannya sendiri. Seperti kemarin, saat Luhan tiba-tiba muncul di depan pintu apartemennya.

Perjalanan menuju rumah Luhan mereka lalui dalam diam. Walaupun tak ada suara, Kris tahu kalau Luhan masih menangis. Punggungnya yang bergetar dan isakan tertahannya menunjukkan semuanya. Dan begitu tiba di tempat tujuan, Kris bahkan belum sempat membuka pintu mobilnya saat Luhan tiba-tiba keluar dari mobilnya dan berlari menembus hujan menuju rumahnya. Kris terkejut tentunya. Namun dia tidak mengejar Luhan. Hanya melihat dari dalam mobilnya. Mungkin Luhan memang sedang ingin sendiri. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. Dan Kris tidak akan memaksanya.

Dengan itu, Kris kembali melajukan mobilnya. Membelah jalanan Seoul yang terlihat sepi karena hujan. Mengabaikan pikirannya yang masih dipenuhi tanda tanya. Apapun itu, semoga semuanya segera normal kembali.

~O.O~

BLAMM

Luhan tidak bermaksud untuk membanting pintu. Itu terjadi begitu saja. Mungkin karena pikirannya yang masih berkecamuk. Mungkin karena rasa kecewanya pada Sehun. Mungkin juga karena merasa bersalah karena telah meninggalkan Sehun begitu saja di tengah hujan. Atau mungkin karena merasa bersalah telah meninggalkan Kris yang pasti tengah bertanya-tanya sekarang. Dan mungkin juga karena semuanya. Pikirannya terasa penuh saat ini. Dia bahkan masih harus memastikan satu hal lagi.

"Ah, Luhan Hyu— YA! KENAPA KAU BASAH KUYUP, HYUNG! BAEKHYUN HYUNG! AMBILKAN HANDUK!" Kyungsoo langsung berteriak panik begitu menemukan Luhan yang basah kuyup sedang berdiri di depannya. Luhan sendiri hanya terdiam sambil menatapnya tajam. Seolah mencari dan memastikan sesuatu dari dirinya.

"Hyung! Mengapa kau bisa basah kuyup begini, eoh? Bukankah kau diantar oleh Kris Hyung dengan mobilnya? Kenapa baru tiba sekarang? Tadi kan katanya mau langsung pulang!" tanya Baekhyun panjang lebar sembari menuntun Luhan untuk duduk di sofa, diikuti Kyungsoo. Tidak menyadari tatapan tajam Luhan yang kini beralih padanya. Tatapan yang sama yang diberikannya pada Kyungsoo beberapa detik lalu.

Tidak seperti Baekhyun yang tidak menyadarinya, mungkin terlalu sibuk dengan kegiatannya mengeringkan rambut Luhan dengan handuk yang dibawanya, Kyungsoo di sisi lain menyadari itu. Ada yang tidak beres dari tatapan itu. Luhan tidak pernah menatap mereka dengan tatapan seperti itu. Tidak bahkan saat mereka melakukan kesalahan. Tidak bahkan saat mereka keterlaluan waktu menggodanya. Tidak bahkan saat Luhan marah. Well, pada kenyataannya, Luhan tidak pernah marah pada mereka selama ini. Apalagi pada Baekhyun. Lalu mengapa?

"Hyung! Kalau memang kau tidak membawa payung, kau kan bisa menelfonku. Aku akan menjemputmu ke depan. Jadi kau tidak perlu hujan-hujanan seperti ini! Nanti kalau kau sakit bagaimana, Hyung! Bisa—"

GREBB

Pegangan tangan Luhan pada lengan Baekhyun berhasil menghentikan kegiatan 'mengeringkan rambut basah Luhan' yang sedang ditekuninya sekaligus omelan dan ocehannya. Baru saat itu Baekhyun menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tatapan Luhan padanya.

"Hyung! Kau ken—"

"Katakan padaku kalau kalian tidak mengetahuinya!" ucap Luhan dingin dan berdiri di hadapan BaekSoo.

"Mengetahui apa, Hyung?" tanya Baekhyun gugup sekaligus bingung.

"Sehun dan Jongin. Malam itu. Saat aku menunggunya sendiri di taman kota." Luhan menatap Baekhyun dan Kyungsoo bergantian. "Katakan padaku kalau kalian tidak mengetahui apa-apa soal itu! Please!" Luhan memohon. Air mata itu kembali mengalir seenaknya di pipi merahnya. Kalau ternyata Kyungsoo dan Baekhyun juga mengetahui kebenaran dan menyembunyikannya darinya. Lalu pada siapa dia harus percaya?

BaekSoo membelalakkan matanya mendengar pernyataan Luhan. Mereka saling menatap sebentar sebelum kemudian menatap Luhan kembali. "Hyung! Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Baekhyun.

Luhan menutup matanya rapat dan menghela nafas berat. Pertanyaan Baekhyun cukup membuktikan kalau mereka berdua memang mengetahui kebenarannya.

"Apa Sehun yang memberitahumu? Atau Jongin? Hyung, mianhae! Kami—"

"Was it fun?" Luhan mendongakkan kepalanya dan menatap BaekSoo dengan tatapan tajamnya. Namun ada luka dibalik tatapan itu. Luka yang sangat dalam.

"Ne?" tanya Kyungsoo bingung.

"I said. Was. It. Fun?" Luhan mengulang kembali pertanyaannya dengan penekanan di setiap katanya.

"Apa maksudmu, Hyung?"

"Melihatku yang begitu bodoh! Melihatku yang tidak tahu apa-apa! Melihatku yang dengan gampangnya mempercayai alasannya. Apakah itu menyenangkan untuk kalian?" Luhan berteriak frustasi.

Brukk

Luhan menjatuhkan tubuhnya di depan BaekSoo yang masih tercengang dengan ledakan emosi Luhan yang tiba-tiba. Luhan berlutut di depan keduanya dan menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.

"Mengapa kalian tidak mengatakannya padaku? Apakah kalian merasa terhibur melihatku, satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa? Apakah kalian senang melihatku yang tampak bodoh? Ani. Bukan hanya tampak. Tapi aku benar-benar bodoh. Sangat bodoh. Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku bahkan merasa tidak bisa bernafas tanpa Sehun. Lalu aku harus bagaimana?"

Kyungsoo yang tadinya terdiam langsung berhambur memeluk Luhan saat mendengar tangisan putus asa Luhan. Tidak perduli kalau bajunya juga akan ikut basah.

"Hyung! Uljima! Mianhae, Hyung. Aku yang salah. Jangan menangis seperti ini, Hyung! Aku yang meminta Sehun untuk berbohong padamu. Aku yang salah. Tolong jangan menangis lagi!" ucap Kyungsoo ikut menangis.

Baekhyun masih melihat Luhan dan Kyungsoo dari tempatnya duduk. Bukan dia tidak ingin ikut memeluk Luhan. Namun saat ini emosinya ikut tersulut saat mendengar tangisan Luhan. Dia lelah melihat Hyung nya menangis. Bukan karena lelah untuk menenangkannya. Dia lelah melihat Hyung nya disakiti. Dia lelah melihat Luhan yang tidak pernah berusaha tegas pada Sehun.

SRETT

Baekhyun berlutut di depan Luhan, menariknya dari pelukan Kyungsoo dan memaksa Luhan untuk membuka tangannya. Menangkup wajah basah Luhan dalam tangkupan kedua telapak tangannya. Menatap mata sembab Luhan tajam.

"Mengapa kau terus menangis untuknya, Hyung! Apa hebatnya Sehun hingga kau selalu mengeluarkan air mata berhargamu untuknya?! Memang aku dan Kyungsoo mengetahui nya. Lalu apa yang kau harapkan? Kau ingin kami mengatakan, 'Luhan Hyung. Sehun melupakanmu yang ketakutan di sana karena mantan kekasihnya yang bernama Jongin datang menemuinya'. Itukah yang kau inginkan dari kami? Apa kau ingin kami mengatakan itu? Lalu apa? Apa yang akan kau lakukan setelah keu mengetahuinya? Kau akan memarahi Sehun? Kau akan memutuskannya? Kau akan membencinya?!"

"Hyung! Ireojima! Jangan seperti ini. Kasihan Luhan Hyung!" pinta Kyungsoo. Luhan sudah cukup terpukul saat mengetahui kenyataannya. Mengapa Baekhyun malah memarahinya?

Tapi Baekhyun tidak memperdulikannya. Dia masih tetap menatap tajam pada Luhan yang juga menatapnya di balik air matanya. "Mengapa tidak menjawabnya, Hyung?"

"Aku... Aku..." Luhan tidak bisa meneruskan kata-katanya. Karena dia tahu apa yang akan dilakukannya meskipun Sehun mengatakan yang sebenarnya saat itu. Dia akan dengan bodohnya memaafkan Sehun.

"Kau tidak bisa menjawabnya? Baiklah. Biar aku yang menjawabnya untukmu!" ucap Baekhyun. "Kau akan tetap memaafkannya dengan mudah. Meskipun kau merasa kecewa padanya, meskipun kau merasa sedih. Dan kau, dengan bodohnya akan tetap tersenyum manis padanya. Kau tidak mungkin memarahinya, Hyung. Apalagi memutuskannya!"

"Hyung, sudahlah. Luhan Hyung bahkan belum mengganti bajunya." Kyungsoo masih terus berusaha agar Baekhyun berhenti memarahi dan menyudutkan Luhan. Dia tidak tega. Namun, lagi-lagi Baekhyun mengabaikannya.

"Kau memang bodoh karena terlalu mudah memaafkannya. Kau memang bodoh karena terlalu mencintainya. Kau memang bodoh karena selalu menutup matamu dari semua kesalahan-kesalahan yang dilakukannya padamu. Kau memang bodoh karena terlalu mempercayainya!" Baekhyun memindahkan satu tangannya untuk menghapus air mata Luhan.

"Lalu kenapa memangnya? Mengapa kalau kau bodoh karena mencintainya? Semua orang begitu jika sudah menyangkut masalah cinta. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku pun akan percaya pada apa pun yang dikatakan Chanyeol padaku. Aku pun akan memaafkannya jika dia melakukan kesalahan. Bedanya, aku mungkin tidak akan langsung memaafkannya. Aku mungkin akan marah padanya beberapa waktu sebelum memaafkannya. Lalu mengapa memangnya jika kau tidak bisa marah pada Sehun? Mengapa memangnya jika kau tidak sepertiku dan bisa langsung memaafkannya?"

Baekhyun melembutkan suaranya dan mengusap sayang pipi Luhan. "Itulah dirimu, Hyung! Kau terlalu baik padanya hingga terkadang aku yang tidak rela saat dia menyakitimu tapi dengan mudahnya mendapatkan maaf darimu. Itulah dirimu! Hyungku yang baik hati. Hyungku yang selalu memikirkan perasaan orang lain di atas perasaannya. Hyungku yang selalu menempatkan kebahagiaan orang yang dicintainya sebagai hal yang paling penting. Hyungku yang mencintai seseorang dengan segenap hatinya. Hyungku yang selalu menutupi kesedihannya agar dongsaengnya tidak khawatir. Hyungku yang bodoh." Baekhyun melepas tangannya dari pipi Luhan dan beralih memeluknya erat.

"Mianhae, Hyung! Kyungsoo dan aku tidak memberitahukannya padamu. Mianhae, kami juga melarang Sehun untuk berkata jujur padamu. Karena kami tahu, jika kami berkata jujur, maka kau akan seperti ini. Kami hanya tidak mau kau terluka Hyung!" ucap Baekhyun pelan. Perlahan tapi pasti, liquid bening yang sejak tadi tertahan mulai mengalir bebas dari matanya.

"Aku tahu kalau kami salah karena membohongimu. Setidaknya jika kami tidak berbohong, rasa sakit itu tidak akan berkali lipat. Kau tidak akan merasa dikhianati. Mianhae, Hyung!" Luhan hanya diam. Masih menangis di pelukan Baekhyun.

"Tapi itu tidak benar, Hyung! Aku, Kyungsoo. Kami sama sekali tidak merasa terhibur, Hyung! Itu benar-benar tidak menyenangkan! Kau tidak tahu berapa kali aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Tapi aku tidak bisa. It wasn't fun at all, Hyung!"

"Mianhae, Baekhyun-ah! Mianhae Hyung mengatakan itu semua. Mianhae. Mianhae." Kyungsoo tersenyum saat melihat Luhan membalas pelukan Baekhyun dengan erat. Dia kemudian memanjukan tubuhnya untuk memeluk kedua Hyungnya. "Aku menyayangi kalian, Hyungdeul!" ucapnya. "Nado!" jawab BaekHan bersamaan.

"Baekhyun-ah!" panggil Luhan saat tangisnya reda. Dia juga sudah mengganti bajunya yang basah dan sedang duduk di meja makan bersama Baekhyun. Menunggu Kyungsoo yang menawarkan diri untuk memasakkan spageti untuk dinner mereka. Dia juga sudah menceritakan kejadian tempo hari. Saat Jongin mengajaknya bertemu. Saat dia merawat luka Sehun.

"Sehunnie," Luhan menggantungkan kata-katany. "Apakah aku harus melepaskannya? Sepertinya Jongin benar. Aku, secara tidak sadar, telah memaksa Sehun untuk menyeimbangiku. Membuatnya harus bersikap dewasa, padahal dia jauh lebih muda dariku. Mungkin, Sehun akan lebih bahagia jika bersama Jongin."

Pletakk

Baekhyun menyentil jidat Luhan. "Pabbo!" ucap Baekhyun dengan wajah tanpa dosa. "Walaupun aku saat ini tidak begitu menyukai Sehun, tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku juga menyukainya. Maksudku, terlepas dari kejadian beberapa hari belakangan ini, Sehun selalu membuatmu tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyum yang Kris hyung buat. Walaupun terkadang dia sedikit pabbo dan lemot dalam membaca suasana, tapi dia membuatmu bahagia, Hyung. Aku tahu kau mencintainya. Kau juga sudah berjuang untuk membuatnya membalas perasaanmu. Jangan sia-siakan perjuangan itu. Kau berhak medapatkan kebahagiaanmu, Hyung! Kau lebih berhak mendapatkan Sehun daripada Jongin!" lanjutnya sambil mengacak rambut Luhan.

"Baekhyun Hyung benar!" timpal Kyungsoo sembari meletakkan piring-piring berisi spageti di atas meja makan. "Mungkin Sehun memang meyebalkan akhir-akhir ini dengan segala keragu-raguannya. Tapi aku yakin, jauh di dalam lubuk hatinya, dia mencintaimu lebih dari apapun, Hyung. Dia hanya terlalu lamban untuk menyadarinya. Yang perlu kau lakukan adalah membuatnya yakin akan perasaannya. Kita tunggu saja apa keputusannya nanti."

"Begitukah? Lalu, bagaimana jika dia memilih Jongin?"

"Well, jika dia melakukan itu," ucap Baekhyun menatap Kyungsoo. "Berarti Sehun adalah manusia paling bodoh di dunia ini!" sahut Kyungsoo.

Baekhyun mengangguk setuju. "It's just. Kali ini jika dia melakukan kesalahan lagi, cobalah untuk membuatnya berfikir sebelum dia mendapatkan maaf darimu!"

Luhan mengangguk paham. Mungkin dia memang perlu sedikit tegas pada Sehun. Biarkan Sehun menentukan pilihannya. Jika memang dia bukan yang terpilih, mungkin memang Sehun bukan takdirnya. Luhan tidak akan marah. Toh dia sendiri yang meminta Sehun untuk memilih. Apapun pilihan Sehun nanti, Luhan akan menghargainya. Dia akan menerimanya.

~O.O~

Tiga hari telah berlalu sejak kejadian di parkiran hari itu. Sudah tiga hari pula Sehun tidak bertemu apalagi berbicara dengan Luhan. Dan selama tiga hari ini juga, Sehun hampir tidak tidur setiap malamnya. Bagaimana dia bisa tidur? Setiap kali memejamkan matanya, yang terlihat adalah wajah terluka Luhan saat itu. Jika dia memejamkan matanya, dia seolah bisa merasakan tangan halus Luhan yang secara refleks menepis kasar tangannya waktu itu. Setiap dia memejamkan matanya, dadanya berdenyut sakit mengingat saat Luhan menolaknya.

Sehun juga tidak bertemu dengan Jongin semenjak Jongin memintanya untuk kembali padanya. Tentu saja Jongin menghubunginya. Tapi biasanya dia akan mengabaikannya, atau mengiriminya pesan singkat, meminta maaf karena dia sedang sibuk dan tidak bisa menemani Jongin. Menurutnya, begini lebih baik dan juga lebih adil. Tidak bertemu keduanya sampai waktu perjanjian mereka. Sampai dia menentukan pilihannya. Terimakasih untuk semua tugas-tugas menyebalkannya, setidaknya pikirannya jadi sedikit teralihkan.

Hhhhhh. Sehun mendesah pelan sembari melempar batu-batu kerikil kecil ke dalam danau. Saat ini dia sedang duduk di taman belakang kampus. Tempat pertama kalinya dia bertemu dengan Luhan. Tempat pertama kalinya dia terpesona pada sosok Luhan. Dan mungkin juga, tempat pertama kalinya dia jatuh dalam pesona Luhan.

Melirik sketch book yang tergeletak manis di sampingnya, lagi-lagi Sehun mendesah. Sudah setengah jam lebih dia duduk termenung di sini, berniat untuk mencari inspirasi dalam gambarnya. Namun sampai sekarang, kertas itu masih putih bersih. Pikirannya kacau. Otaknya seperti buntu dan tidak bisa digunakan untuk berfikir. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Pukk

Sebuah roti yang terlempar ke pangkuannya membangunkan Sehun dari lamunannya. Mengambil roti tersebut, Sehun kemudian menolehkan kepalanya pada si pelaku pelemparan. Namja berwajah angelic yang berdiri di dekatnya dan bergerak untuk duduk di sampingnya.

"Makanlah! Kau pasti belum makan, kan?" ucap namja itu.

Sehun tertsenyum tipis dan membuka bungkus roti itu kemudian menggigitnya. "Kenapa tiba-tiba menemuiku, Hyung?" tanyanya. "Tch! Wae? aku tidak boleh menemui temanku?"

"Aniyo. Bukan begitu. Tentu saja boleh. Hanya saja, tidak biasanya. Dimana Kyungsoo Hyung?"

"Yaaaaak! Memangnya aku ekornya yang selalu menempel padanya? Aku kan hanya namjachingunya saja."

"Aku kan hanya bertanya, Hyung! Tidak perlu sewot begitu!" cibir Sehun.

"Aku ingin bicara!" ucap Suho membuat Sehun berhenti menggigit rotinya. "Wae? Kau juga ingin menyuruhku untuk meninggalkan Luhan Hyung? Seperti Baekhyun Hyung dan Kyungsoo Hyung?" tanyanya. "Mengapa kau berfikir aku akan mengatakan itu?"

"Molla. Karena kau kekasih Kyungsoo Hyung?"

"Geurae? Kalau aku tidak tahu detail permasalahannya, bagaimana mungkin aku bisa memutuskan untuk berpihak pada siapa?"

"Tch! Kalau pun kau tahu, kau pasti akan mengambil posisi di samping Kyungsoo Hyung!"

"Menurutmu begitu?" Sehun mengangguk. "Kalau begitu, mengapa tidak kau ceritakan dulu agar aku bisa memutuskannya?!"

Sehun menatap Suho ragu. Haruskah dia menceritakannya pada Suho? Tapi buat apa? Toh pada akhirnya Suho juga akan sama seperti Baekhyun dan Kyungsoo yang memintanya untuk meninggalkan Luhan. Namun sesuatu dalam dirinya seperti menyuruhnya untuk memulai cerita. Sehun akui, dia memang ingin sekali bercerita pada seseorang. Membagi beban pikirannya. Meminta bantuan orang itu agar bisa memberikannya solusi. Namun dia tidak tahu harus bercerita pada siapa. Dan sekarang, di sampingnya, ada Suho yang berkata kalau dia ingin mendengar cerita itu dan siap membantu. Haruskah dia melakukannya?

"Bukankah Hyung sudah diceritakan oleh Kyungsoo Hyung?" tanyanya. "Aniyo. Kyungsoo tidak menceritakannya padaku. Dan aku juga tidak bertanya. Itu adalah masalah Luhan Hyung denganmu. Jika memang Kyungsoo membutuhkan bantuanku, dia akan menceritakannya tanpa perlu aku minta."

"Lalu mengapa bertanya padaku?"

"Karena ini masalahmu. Akan lebih bijak jika aku bertanya padamu. Lagipula, kau itu sudah seperti adikku, Sehun-ah. Aku tahu ini tidak mudah untukmu. Karena itu, aku ingin kau berbagi beban itu," jawab Suho tersenyum tulus.

Dan itulah bagaimana akhirnya Sehun menceritakan semua masalahnya. Mengeluarkan semua bebannya. Dari mulai kedatangan tak terduga Jongin sampai kejadian saat mereka hampir berciuman. Tentu saja kejadian dua hari lalu juga tak terlewatkan. Suho sendiri hanya mendengarkan semuanya dalam diam.

"Aku benar-benar bingung, Hyung!" ucap Sehun mengakhiri ceritanya. Dadanya terasa lebih lapang setelah menceritakan semuanya pada Suho.

"Gwaenchanna. Aku mengerti perasaanmu, Sehun-ah!" ujar Suho setelah terdiam beberapa lama.

"Eh?"

"Eum. Melupakan seseorang yang pernah menempati tempat spesial di hatimu memang tidak mudah. Aku pernah merasakannya. Hanya saja, jangan dipikirkan berlarut-larut, kau harus cepat mengambil keputusan. Atau kau akan kehilangan keduanya nanti." Suho memegang pundak Sehun dan menepuknya pelan.

"Tidakkah kau berfikir apa yang menimpa hubunganmu dengan Luhan Hyung hampir sama dengan apa yang terjadi sebelumnya? Bedanya, kalau dulu Jongin langsung mengambil keputusan sepihak dan memutuskan untuk meninggalkanmu begitu saja. Luhan Hyung memberikanmu kesempatan untuk memikirkannya. Kau tahu kenapa?" Sehun menggeleng pelan.

"Karena Luhan Hyung menempatkan kebahagiaanmu di atas kebahagiaannya! Karena itu dia memberikanmu kesempatan untuk memilih kebahagiaanmu. Entah itu dengannya, atau tanpanya. Yang terpenting kau tetap bahagia. Itulah Luhan Hyung yang ku kenal."

Sehun terdiam memikirkan perkataan Suho. Luhan memikirkan kebahagiaannya? Bahkan setelah semua luka yang didapatkannya?

"Bukankah aku pernah berkata kalau Luhan Hyung itu seperti permata?" Suho menatap danau kecil yang terhampar di depan mereka. "Aku berkata seperti itu bukan hanya karena keindahannya luar yang dimiliki oleh Luhan Hyung saja. Di dalamnya, keindahan itu justru lebih indah. Luhan Hyung itu orang paling baik yang pernah aku temui."

"Aku tahu," ucap Sehun pelan.

"Aku tidak akan memihak siapa pun. Tidak Jongin, tidak Luhan Hyung. Semua itu ada di tanganmu, Sehun-ah. Kau harus benar-benar memikirkannya dengan baik. Jangan sampai kau menyesali keputusanmu sendiri. Jangan sampai apa yang kau putuskan justru tidak memberimu kebahagiaan. Tanya pada jantungmu. Mana yang membuatnya berdetak lebih cepat saat kau bersamanya. Luhan Hyung atau Jongin? Tanya hatimu. Mana yang membuatnya terasa hampa saat kau tidak bersamanya. Tanya pikiranmu. Mana yang selalu memenuhinya di setiap harinya. Tanya perasaanmu. Diantara mereka berdua, mana yang paling ingin kau bahagiakan. Dengan begitu kau pasti akan mendapatkan jawabanmu." Sehun kembali menganggukkan kepalanya.

"Satu lagi. Aku harap kau bisa memaafkan apa yang dilakukan Baekhyun dan Kyungsoo tempo hari," ucap Suho.

"Tentu saja, Hyung. Bukan salah mereka. Aku yang membuat mereka membenciku," jawab Sehun pelan.

"Aniyo. Siapa yang berkata kalau mereka membencimu? Mereka mungkin marah, Sehun-ah. Tapi mereka tidak membencimu! Malah sebenarnya mereka menyayangimu." ujar Suho membuat kening Sehun berkerut. Apa Suho sedang berusaha menghiburnya kali ini? Jelas-jelas BaekSoo menghajarnya dengan tatapan benci mereka.

"Mereka hanya terlalu menyayangi Luhan Hyung. Apalagi Baekhyun. Tapi mereka menyayangimu. Walau bagaimanapun, kau pernah membuat Luhan Hyung sangat bahagia. Karena itulah mereka tidak bisa membencimu. Mungkin sekarang mereka masih marah padamu. Tapi seiring berjalannya waktu, saat Luhan Hyung kembali tersenyum ceria, mereka juga akan melupakan semuanya. Kau mengerti maksudku?"

"Eum," Sehun mengangguk paham. "Gomawo, Hyung. Karena sudah mau mendengarku," ucapnya tulus. "Tentu saja. Karena itu, kalau ada masalah lagi, jangan disimpan sendiri. Kau bisa menceritakannya padaku. Arrasseo!"

"Ne!"

"Hyung!" suara panggilan itu berhasil menarik perhatian keduanya. Di sana terlihat Kyungsoo yang berjalan setengah berlari menuju tempat mereka duduk

"Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau di sini!" ucapnya dengan nafas yang terengah-engah. "Oh! Annyeong, Sehun-ah!" sapanya saat melihat Sehun yang duduk di samping Suho. Sehun hanya memandangi Kyungsoo sedikit terkejut. Bukankah Kyungsoo marah padanya? Atau tidak?

"Hehehehe. Tadi aku sedang menuju kelasmu. Lalu aku melihat Sehun termenung sendirian di sini. Karena kelasmu masih lama bubarnya, jadi aku ke sini dulu," ujar Suho seraya menyibakkan poni Kyungsoo dengan sayang.

"Geurae? Arrasseo. Ya sudah kalau begitu. Ayo kita makan sekarang, Hyung. Aku lapar," manja Kyungsoo. "Baekhyun Hyung dan Chanyeol Hyung juga sudah menunggu di kantin."

"Aigoooo! Uri 'Umma' lapar? Baiklah!" Suho mengacak rambut Kyungsoo pelan kemudian beralih pada Sehun. "Sehun-ah, kau mau ikut ke kantin?" tawarnya.

"A-aku..." jawabnya ragu. Jika dia ikut, apakah mereka akan menerimanya? Baekhyun Hyung dan juga—

"Kenapa Luhan tidak menunggu bersama Chanyeol Hyung dan Baekhyun Hyung?" Pertanyaan itu keluar begitu saja sebelum Sehun sempat menyaring kata-kata yang akan diucapkannya.

"Luhan?" Kyungsoo menaikkan satu alisnya. "Bukankah seharusnya Luhan Hyung? Aniways, kau tidak tahu? Luhan Hyung sudah 3 hari ini selalu melewatkan makan siangnya. Dia lebih memilih untuk duduk di perpus dan berkutat dengan buku-bukunya. Katanya sih dia akan makan di sana saja. Tapi aku tidak yakin," jawabnya panjang lebar.

"Ah! Mengapa kau tidak coba ke sana saja, Sehun-ah. Jangan lupa bawakan roti atau sesuatu untuk mengisi perutnya. Dia bisa sakit kalau seperti itu terus. Lagipula, kau kan dongsaeng kesayangannya. Harus perhatian dong pada Hyung nya!"

JLEBB

Kalimat terakhir itu berhasil menembus dada Sehun langsung menusuk hatinya. Dongsaeng? Hyung? Apa dia benar-benar kembali menjadi dongsaeng kecilnya Luhan sekarang?

"Kyungsoo benar. Coba saja kau hampiri dia di sana, Sehun-ah! Siapa tahu kalau kau yang mengajaknya, Luhan Hyung mau!" sahut Suho. Sehun tidak menjawabnya. Dia, tidak tahu harus menjawab apa.

"Kalau begitu, kami ke kantin dulu, ne! Jangan lupa apa yang ku katakan tadi!" ucap Suho lagi sebelum menggenggam tangan Kyungsoo dan berlalu.

"Kalian membicarakan apa, Hyung?" tanya Kyungsoo yang samar-samar masih bisa di dengar oleh Sehun.

"Hanya berbincang saja. Kau tidak perlu tahu, chagi-ya. Ini urusan antar namja!" jawab Suho sembari mencubit hidung Kyungsoo kemudian berlari sebelum—

"YAAAAAK! Apa maksudmu dengan 'antar namja'! Memangnya aku ini yeoja? Aku juga NAMJA! KIM JOON MYUN! KEMBALI!" teriak Kyungsoo yang hanya dijawab oleh gelak tawa dari sang 'Appa'. Kemudian dia pun berlari menyusul -mengejar- Suho. Meninggalkan Sehun yang menatap iri pada mereka.

Bukankah dia dan Luhan dulu juga seperti itu? dia suka menggoda Luhan dan membuatnya kesal sebelum berlari untuk menghindari amukan imut Luhan, yang kemudian akan berakhir dengan kecupan dan lumatan manis di bibir. Lalu mengapa sekarang jadi seperti ini?

Sehun merindukan saat-saat itu. Saat dimana dia suka mencuri-curi ciuman dari bibir manis Luhan. Saat dimana dia membuat Luhan tersipu malu karena ulahnya. Saat dimana Luhan tersenyum manis karena 'little suprise' nya. Saat dimana dia merengkuh tubuh mungil Luhan ke dalam pelukannya. Dia sangat merindukan itu semua.

"Yaaakk! Lepaskan aku! Aku kan sudah bilang, aku tidak mau ke kantin!"

Suara yang begitu familiar di telinga itu berhasil menarik Sehun kembali ke alam sadarnya. Menatap ke sekelilingnya, dia baru menyadari kalau dia telah berada di dekat perpustakaan kampus. Bagaimana dia bisa tiba-tiba berada di sini? Seingatnya dia tadi masih berada di belakang kampus. Dia tidak menyadarinya. Bahwa selama dia memikirkan Luhan tadi, kakinya melangkah dengan sendirinya. Membawanya ke tempat Luhan.

"Yaaaaah! Aku tidak lapar! Dan aku mau membaca buku di sana! Aku akan makan setelah selesai membaca. Kenapa kau terus-terusan menarikku?! Aku kan bukan anak kecil!"

Sehun mengalihkan padangannya ke asal suara. Suara Luhan, lebih jelasnya. Dan jantungnya langsung memompa lebih cepat saat melihat sosok yang selalu mengisi pikirannya itu. Dan lebih cepat lagi saat dia menyadari kalau Luhan tidak sendirian. Ada seseorang bersamanya. Seseorang yang menarik tangan Luhan. Seseorang yang sepertinya selalu berada di dekat Luhan akhir-akhir ini.

"NO! Can't do it. Ini waktunya makan siang. Itu berarti kau harus makan sekarang, Princess! Tidak ada penolakan!"

Crack

Sehun seolah bisa mendengar suara retak di hatinya saat menyaksikan pemandangan di depannya. Ini bahkan terasa lebih sakit dari pada ucapan Kyungsoo tadi. Seperti menabur garam di atas luka yang masih terbuka.

"Hyung!" lirihnya. Sangat lirih bahkan dia hampir tidak mendengarnya. Dia segera menyembunyikan tubuhnya saat dia melihat Luhan menoleh ke arahnya. Tidak ingin melihat lebih lama lagi. Sehun pun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan area perpustakaan. Sepertinya dia memang harus fokus mengerjakan tugas-tugasnya untuk mengalihkan pikirannya dari Luhan.

~O.O~

Luhan menatap sebal namja jangkung di depannya. Dia sedang bersantai membaca buku di perpustakaan, mencoba mengalihkan pikirannya yang tidak bisa diajak kompromi dan terus memikirkan Sehun. Dan tiba-tiba saja Kris datang dan langsung dengan senaknya menariknya keluar dari perpus. "Yaaakk! Lepaskan aku! Aku kan sudah bilang, aku tidak mau ke kantin!" omelnya kesal. Tapi Kris sama sekali tidak menggubrisnya.

"Yaaaaah! Aku tidak lapar! Dan aku mau membaca buku di sana! Aku akan makan setelah selesai membaca. Kenapa kau terus-terusan menarikku?! Aku kan bukan anak kecil!" omelnya lagi sambil mem-pout-kan bibirnya.

"NO! Can't do it. Ini waktunya makan siang. Itu berarti kau harus makan sekarang, Princess! Tidak ada penolakan!" jawab Kris sambil mengedikkan bahunya acuh.

Huft. Luhan menggembungkan pipinya sebal. Dia tidak mau ke kantin. Bagaimana jika Sehun ada di sana? Bagaimana jika tubuhnya tiba-tiba berlari ke arah Sehun dan berhambur ke pelukan hangat Sehun saat melihatnya nanti. Karena demi eyeliner yang sangat dicintai Baekhyun, Luhan sangat merindukan Sehun. Dia baru saja ingin kembali melancarkan aksi 'mari kita mengomeli Wu Yi Fan' saat tiba-tiba—

"Hyung!"

DEG

Luhan spontan menghentikan langkahnya. Dan entah dapat kekuatan darimana, dia juga berhasil membuat langkah Kris terhenti dan menatap heran ke arahnya. Luhan mengacuhkan tatapan heran dari Kris dan menolehkan kepalanya ke sisi kanan. Tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Bagaimana mungkin?

"Hei, ada apa?" tanya Kris khawatir membuat Luhan mengalihkan perhatiannya padanya. "Kau tidak mendengarnya?" tanya Luhan heran.

"Mendengar apa? Dari tadi yang terdengar hanya omelanmu saja."

Luhan tidak menanggapinya. Dia kembali melihat pada sisi kanan gedung perpustakaan, tempat yang dia yakin sekali sebagai asal suara. Suara itu. Suara Sehun. Sehunnya. Dia yakin sekali kalau itu suara Sehun. Dia mendengarnya. Sangat jelas di telinganya. Suara itu terdengar sangat sedih. Jantungnya bahkan berdetak cepat. Berarti itu memang suara Sehun. Tapi mengapa tidak ada seorang pun di sana?

"Sebenarnya kau mendengar apa, Lu?" tanya Kris penasaran. Luhan kembali menatap Kris dan menggelengkan kepalanya pelan. "Aniyo. Mungkin hanya perasaanku saja," jawabnya. "Sudahlah. Bukankah kau mau mengajakku makan. Kalau begitu kau harus bertanggung jawab untuk membayarnya. Dan aku tidak mau di kantin."

"Oke. Aku akan mentraktirmu. Tapi, kenapa tiba-tiba? Bukankah tadi masih bersikeras untuk bertahan di sini?"

"Yaaah! Kau mau mentraktirku tidak? Sepertinya aku terlalu lapar hingga membayangkan sesuatu," jawab Luhan asal. 'Atau mungkin, aku terlalu merindukan Sehun!' lanjutnya dalam hati.

Kris hanya mengedikkan bahunya mendengar jawaban aneh Luhan dan kembali menariknya. Yang penting Luhan sudah mau makan, pikirnya.

. . . . .

"Hyung! Apa Sehun tidak menghampirimu di perpustakaan tadi?" tanya Kyungsoo. Mereka -LuBaekSoo- sedang mengerjakan tugas kelompok di ruang tamu sore itu. Dan pertanyaan itu sukses membuat pertanyaan lain terbentuk dalam pikiran Luhan.

"Apa maksudmu dengan 'Sehun menghampiriku di perpustakaan'?" tanya Luhan heran. Baekhyun juga menatap Kyungsoo. Menunggu jawaban.

"Well, tadi waktu aku mencari Suho Hyung, dia sedang berbicara dengan Sehun. Waktu Sehun menanyakanmu, ya aku bilang saja kalau kau di perpus dan menyuruhnya menghampirimu. Siapa tahu kau mau makan kalau Sehun yang mengajak," jawab Kyungsoo polos.

"MWOOOOO!" Luhan berteriak kencang. Sama sekali tidak prihatin pada telinga BaekSoo yang berdengung saat mendengar teriakan Luhan.

"Yaaaak, Hyung! Jangan berteriak!" Baekhyun mencubit lengan Luhan. Tapi Luhan terlalu larut dalam pikirannya untuk merasakan cubitan itu.

Kyungsoo menyuruh Sehun menghampirinya. Berarti ada kemungkinan Sehun ke sana. Apa itu berarti dia tidak membayangkan sesuatu tadi siang? Apa itu berarti suara lirih yang didengarnya itu memang suara Sehun? Kalau begitu, berarti lagi-lagi Sehun melihatnya bersama Kris. Apa itu yang membuat suara itu terdengar begitu sedih? Apa itu berarti dia telah menyakiti Sehun?

"Hyung! Gwaenchanna?" tanya Baekhyun khawatir. Bagaimana tidak? Luhan tiba-tiba terdiam dengan wajah tanpa ekspresi. Seolah jiwanya tidak di sana. "Hyung!" panggil Baekhyun sambil mengguncang bahu Luhan, membuatnya tersadar.

"Huweee! Mengapa kau menyuruh Sehun untuk menghampiriku di perpus? Eottokhaeeee! Sehun mungkin salah paham!" rengek Luhan tiba-tiba membuat BaekSoo saling melempar pandang cengo.

What the—

Ting Tong

"Aku akan membuka pintunya," ucap Kyungsoo cepat kemudian berjalan ke arah pintu. Kalau ada hubungannya dengan Sehun, tadi siang, dan perpus. Berarti ada hubungannya dengannya juga. Oke! Lebih baik dia cari aman saja. Kekekeke.

O.O

Matanya membola sempurna melihat tamu di depannya. Orang ini mencari siapa?

"Apa Luhannie ada?" tanya tamu tersebut. Luhannie? Luhan Hyung?

"Oh. Ne! Luhan Hyung ada di dalam. Tunggu sebentar ya!?" jawab Kyungsoo sopan yang hanya diangguki orang itu.

"Hyung! Ada yang mencarimu!" panggil Kyungsoo menghentikan rengekan Luhan, membuat Baekhyun bernafas lega.

"Nugu?" tanyanya. "Molla. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya," jawab Kyungsoo. Luhan berdecak kesal dan berjalan menuju pintu depan. Diikuti oleh 'the curious' BaekSoo yang berjalan di belakangnya.

O.O

Luhan tanpa sadar mengkopi ekspresi Kyungsoo dan mengedipkan matanya imut saat melihat tamu yang bahkan dalam tidurnya pun tidak pernah terfikir akan mengunjunginya.

"Luhannie! Aigoooo! Lama tak bertemu kau tambah manis dan cute! Aeeeeeyyy, kyeopta!" ucapnya sambil mencubit pipi Luhan gemas, membuat BaekSoo yang berdiri di belakangnya pun ikut memasang wajah cengo mereka. Luhan tidak begitu suka jika pipinya dicubit seperti itu. Tidak Kris sekalipun. Mungkin hanya BaekSoo dan Sehun yang diijinkan, atau terpaksa diijinkan Luhan untuk melakukannya.

Lalu kenapa Luhan diam saja saat dia mencubit pipi Luhan seperti itu? Orang ini sebenarnya siapa?

~O.O~

TeBeCe

A/N:

Ulalaaaaaaaa! #tebarfotocengonyaLuBaekSoo

Mian kalau kepanjangan #bow# Semoga chapter ini tidak mengecewakan yaaaa :D Bagaimana dengan 'badai' yang menghantam hubungan HunHan? Apa akan seperti kata lagu jadul, 'Badai pasti berlalu'? Atau tidak? Hehehehehe #ketawanista

Semoga ada yang suka SuD.O little moment up there :) Ada yang tau siapa tamu tak diundang itu? Tapi Liyya yakin semuanya tau kok. Mudah banget nebaknya malah -_- Dan apa Sehunnya masih kurang merana? Liyya siap bikin dia lebih merana lagi. #EVILSMIRK

Liyya masih bingung mau buat sad end ato hepi end. Kedua plot itu ada di pikiran Liyya dan saling bersaing(?). Jadi, Liyya belom bisa menjanjikan #plakk #dilemparpanci

Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow

Balasan Review:

Amortentia Chan: Sehun memang aneh. Padahal Lulu kan Cuma diantar pulang, gitu aja dia udah nyolot -_- Jangankan kamu, Liyya juga mau kalo ada cowok macam bangNaga . kekekeke

Makasih udah ngereview^^

sofianingsih: Met bergalao-galao ria deh kalo begitu :D Hehehehehe. Moga chap ne gak galau lagi ;)

Makasih udah ngereview^^

lena99: Ternyata emang ff nya ala-ala sinetron gitu ya, kekekekeke. Kalo belom kesampean ngajak temen, coba publish yang ada dulu aja ;) Good Luck yaaaa :D

Makasih udah ngereview^^

dian deer: Omoooo! Mianhae kalo kakak selalu ketawa dan bikin kamu kesal :( Hadoooooh, walaupun Lulu tiba-tiba jadi cewek juga ne ff gak mungkin jadi KaiHun :D

Makasih udah ngereview^^

Xi Ri Rin: Thank you :D

Makasih udah ngereview^^

destyrahmasari: Yaaaaaahhh, mau gimana donk, soalnya kepanjangan. Masa' iya kelebihan hampir 1500 kata -_- Ya udah dipotong di situ aja. Sekalian bikin penasaran . hehehehe

Makasih udah ngereview^^

lili: Hadooooooh, itu cowok berarti sama bego nya donk sama Sehun -_- #peace :D Moment KrisHan nya dirunggu aja. Mudah-mudahan ada lagi ya :D

Makasih udah ngereview^^

Name hunhan: Aseeeeekkk, yang punya pengalaman pribadi kyk gini . Kamu jadi Jongin? Waaaaaah, harus tobat tuh #plakk #peace :D Liyya juga suka banget sama karakternya Kris di sini .

Makasih udah ngereview^^

Shizuluhan: Sukurlah kalo Shizu suka sama KrisHan moment nya ^_^ Kyaaaaaaaaa! Kita sama kalo begitu . Liyya juga kalo bayangin KrisHan ntu kaya' Ken n Barbie :D

Yeah, Luhan sepertinya udah mulai tegas. Tapi mian, di chap ini lagi-lagi lulu harus sedikit tersakiti :'( BaekSoo muncul lagi di chapter ini :D

Makasih udah ngereview^^

ajib4ff: Sehun emang serba salah eon. Saeng juga gak tau maunya dia itu apa sebenernya -_- Mau banget eoooooooooonnnn . Ayo kita keroyok Thehun bareng-bareng #kumpulinmasa

Makasih udah ngereview^^

Ariadna: Endingnya mungkin 3 ato 4 chapter lagi. Ato mungkin malah 2 chapter lagi kalo jadi sad ending ;) Sapa bilang Kris jadi sad character? Dia mungkin bertepuk sebelah tangan, tapi dia cukup bahagia dengan keadaannya kok ^_^

Makasih udah ngereview^^

XiaLu BlackPearl: Apa? Chemistry? Waaaah, jodoh neh kayaknya #plakk . Chap ini suasananya jadi makin kacau kan yaaa O.O Emang sayang banget sebenarnya karena Luhan Cuma nganggap sahabat doank. Tapi mau gimana lagi? Hatinya udah dbawa kabur Sehun ^_^

Makasih udah ngereview^^

Hunhanie: Gomawo udah dibilang seru ^_^ Hehehehe. Mungkin di ff lain kali ya, baru KrisHan bisa bersatu ;)

Makasih udah ngereview^^

thehunnie: Seneng banget ada yang Love ff nya Liyya #pelukthehunnie . Chap ini masih galau kah? Atau tambah galau?

Makasih udah ngereview^^

uswatun hasanah: Sehunnie emang rada childish. Eiiiits, jangan dukung Krishan dooonk, kasian Thehun -_- Konfliknya gak ber-part2 kok. Kan emang gitu rentetannya. Intro-isi cerita- klimaks-anti klimaks- resolusi- trus end deeeeh :D BaekSoo udah capek ribut terus sama Thehun. Toh Thehunnya juga gak nyadar -_- jadi kali ini, Luhan yang turun tangan. Gomawo atas pengertiannya yaaaa #huguswah

Makasih udah ngereview^^

HunHan Baby: Kakak juga gak tau kenapa bisa kayak gini cobaaa #authorgaje -_- Mianhae kalo updatenya lama. Soalnya rada sibuk di rumah :D

Makasih udah ngereview^^

Lee MingKyu: Horeeeeee. Chap iniJongin gak muncul lagi ^_^ Apa? krisHan kurang banyak? Ntar eon buatin lagi waktu HunHan putus #opps :P

Makasih udah ngereview^^

ki-sl: Miaaaaaaan. Itu TeBeCe terpaksa :/ Tapi lumayan bikin penasaran kan? Hehehehehe :D Kayaknya chap ini, Liyya berdosa lagi ya karena bikin Luhan –lagi2- mewek :'( Gomawo buat semangatnya :D FIGHTING!

Makasih udah ngereview^^

asroyasrii: Hadooooooh. Adekku satu ini kokobsesi banget sama charadeath yaaaa o.O Nanti eon buatin deh yang begituan. Tapi di sini, ANDWAAAAEEEEE! Lulu gak boleh go to heaven -_- Tenang aja. FF nya g ikutan libur kok :)

Makasih udah ngereview^^

RirinSekarini: wkwkwkwkwk . Berarti bagus donk kalo air matanya gagal keluar :D kekekekeke

Makasih udah ngereview^^

sholaniadinara: Whut whut whuuuttsss O.O Santae deeeeekkk . Kalo Liyya jadi lulu juga, pasti udah Liyya embat(?) tuh Naga tamvan . Liyya tau tato ituuuuuuuuuu :D

Makasih udah ngereview^^

RZHH 261220: kan emang Lulu nganggep Kris udah kaya' Hyung nya :D Eon juga gak pahim loh kenapa Sehun menyebalkan begitu. Dirinya tukang selingkuh, eh giliran Luhan yang Cuma jalan doank dy udah nyolot #ditopanSehun -_- Penasaran Sehun milih sapa? Stay tune yaaa :D

Makasih udah ngereview^^

junmakyu: Liyya juga gregetan tingkat DEWA sama ke-PABBO-annya Thehun loooh -_- Ultimatum dari luhan udah jelas banget. Tinggal tunggu apa yang dilakukan Sehun aja ;)

Makasih udah ngereview^^

Queen DheVils49: Jongin lagi cuti. Sepertinya dia takut diamuk masa setelah apa yang dilakukannya ke Luhan . untuuuuung aja hp nya g jadi dibanting. Ntar gimana dong baca chap selanjutnya o.O Gomawo buat pengertiannya yaaaaaaaa :D

Makasih udah ngereview^^

RamdaniHunhan: Betul bangeeeeeetttt! Liyya mau nyiksa Sehun dulu deh pokoknya :D Mudah-mudahan END nya tetep Hunhan yaaa ;)

Makasih udah ngereview^^

xihan zhang: Sukurlah kalo g mengecewakan :D Omooo! Liyya bener-bener terharu ada yang menunggu sampe nge-cek kelanjutan ff ini #hugxihan . Jeongmal gomawo yaaaa :D

Makasih udah ngereview^^

Nurfadillah: Gorok aja gpp . Nanti Liyya bantu deh :P Hunhan harus bersatu? Kita liat keputusan Sehun yaaa. Ato ke-pabbo-annya? ;)

Makasih udah ngereview^^

chocotaro: Emang pengennya diputusin aja sih. Tapi Luhan masih memegang janjinya untuk gak ninggalin Sehun :'( Iya, mungkin 3-4 chapter lagi. Tapi kalo end nya sad, ya mungkin 2 chap lagi :D Untuk sequel, nanti Liyya pikirin kalo iniudah tamat ya ^_^

Makasih udah ngereview^^

LittleZhao: Gpp deeeeek ^_^ Aigooo, gomawo udah bilang keren :D Kakak juga suka banget sama KrisHan :) Namanya juga lagi cemburu, ya gitu deh -_-

Makasih udah ngereview^^

Hyorim16: Thanks to Kris, akhirnya Lulu bisa sedikit tegas ke si Thehun :D Kris kan emang romantiiisss . Sehun juga emang lemooot -_- Sad ending ato Hepi ending, kita liat aja nanti. Eon punya plot untuk keduanya kok :D

Makasih udah ngereview^^

sari2min: Yeeeeeeyyy, akhirnya kakak gak sebel lagi neh ke Lulu? Tenang aja kak. Hunhan pasti breakdulu. Biar Sehun memohon-mohon nanti ;)

Makasih udah ngereview^^

Uchiha Tachi'4'Sora: Gomawo banget karena kamu udah suka part yang si apartemen ntu :D Liyya juga kagum Luhan bisa ngomong begitu :) Semoga aja hepi ending. Tapi gak yakin kalo semua punya pasangan :D Apaaaa? Mending bangnaga sama Liyya aja laaaaahhh #tarikKriskekamar(?)

Makasih udah ngereview^^

ChickenKID: wkwkwkwkwk . Udah ilang kah penasarannya? Tau gak? Itu pas adegan ngobatin yang bikin lama ngetiknya. Soalnya eon bingung, mau di taman ato di rumah. Kalodi taman kan lebih romantis, tp kan mereka bukan lagi dalam masa romantis -_- trus masa' iya Lulu harus ke alfam**t dulu o.O Akhirnya ya udah deh, di apartemennya Sehun aja :D #curhat

Karena Luhan udah membuat ultimatum, kita tunggu keputusan Sehun aja ya. Semoga Sehun ga PABBO kaliini -_-

Makasih udah ngereview^^

Guest: Annyeoooong ^_^ Tenang aja, pembalasan masih tetap berlanjut kok :D Krishan moment nya ditunggu aja. Mudah-mudahan ada lagi :D

Makasih udah ngereview^^

chyshinji0204: Seneng banget liat lulu tegas begitu. Walaupun ujung-ujungnya dia mewek lagi :'(

Makasih udah ngereview^^

Guest: Annyeooong ^_^ Gomawo udah bilang daebak :D Ini udah lanjut yaaaa

Makasih udah ngereview^^

dearluhan: Biar deh Sehun cepet tua. Biar cepet dewasa juga dia nya ;) Kris emang berbanding terbalik ya sama jongin. Dia dipuji sama semua readers. Sedangkan Jongin? #pukpukJongin *Kai: gak usah sok baiklu thor -_- *Liyya: hehehehehe #nyengirkuda

Muahahahahahahahaha :D Pernah gak yaaaaa?

Makasih udah ngereview^^

lele: Luhan emang lagi dalam 'balas dendam mode on' #evilsmirk Mianhae g bisa cepet update kayak biasanya #bow Di rumah rada sibuk soalnya :D

Makasih udah ngereview^^

Devi permata: Annyeoooong ^_^ Gomawo udah bilang Daebak n udah berkenan baca yaaa :D

Makasih udah ngereview^^

Aileen Xiao: Andwaeeeee! Jangan salahin Liyya kalo jadi sebel sama Jongin. Ntar Liyya diserbu teleporters loooh :/ Naaaah, kalo jadi sedikit suka Krishan, baru gpp nyalahin Liyya . nah loh? Baru mulai chapter aja, luhan dah mewek lagi tuuuh *Luhan: Liyya! Kenapa aku ceritanya nangis terus? #pouting *Liyya: hehehehehe #senyuminnocent

Makasih udah ngereview^^

im lulu: Liyya juga greget banget sama thehun -_- #gigitSehun *loh?

Makasih udah ngereview^^

HyunRa: Kenapa Krishan momennya? Kamu gak suka KrisHan kah? O.O TBC emang makhluk(?) pengganggu #tendangTBC -_- Luhan lagi 'dewasa mode on' tuuuuh :D Sehun kan emang masih bocah -_-

Makasih udah ngereview^^

miftahunhan: Betul bangeeeeeeeeeeetttt . Mari kita buat Sehun menderita kalau begitu :D

Makasih udah ngereview^^

82NineNine: Annyeong ^_^ Eon ikutan seneng kalau kamu seneng bacanya :D Kalo eon jadi Luhan juga, tuh Thehun udah tinggal nama aja kali ya -_- Tapi Luhan terlalu cinta sih sama Thehun :/ Sehun pasti mendapatkan gilirannya kok. Tapi mau gak mau ya, kalo Sehun sedih, Luhan juga bakal sedih donk O.O Tapi paling tidak dia gak menderita sendirian kan #plakk -_- Gwaenchanna, toh kita udah ketemu di chap ini kan :D

Makasih udah ngereview^^

Nevada Adhara: muehehehehe :D Gomawo udah bilang keren . Semoga Thehun milih Luhan ya :)

Makasih udah ngereview^^

Guest: Sehun emang gitu, gak sadar diri dianya mah #dilemparpanci -_- Kai gak jahat kok dek, dia cuma rada egois aja #plakk hehehehehe. Hepi end? Mudah-mudahan aja ya :D

Makasih udah ngereview^^

devi15300: oooowwwwhhh, ini deerlu54? Oke siiip :D Kalo dari wajah saeng? Hmmmmm, kaya' nya harus bersemedi dulu baru keluar inspirasinya #plakk *becanda kok . loh, kok habis manggil-manggil trus gak jadi? Wae? o.O

Makasih udah ngereview^^

Little Deer: Annyeoooong ^_^ Untung gak ketinggalan yaaaa :D Gpp deeeek. Bisa dimaklumi. Eon kan juga mantan mahasiswa .

Wkwkwkwkwkwkwk :D Luhan habis dapat pencerahan dari bang Naga tuuuh o.O Jongin emang sengaja eon liburkan dulu. Masih mau fokus sama perkembangan hubungan HunHan. Baekhyun kan lagi seneng-senengnya sama Kris tuh ;) TBC ntu makanan pokok bagi kita semua(?) deeek, hohohoho. Kalo ini end, ntar eon bikin yang lain dooonk. Tp pengennya yang 1shot aja. Capek ternyata bikin ff chaptered -_- Mungkin sekitar 3-4 chapter lagi tamatnya. Ato kalo sad end, ya 2 chapter lagi :D Eon juga pengennya hepi end. Gak mau Hunkai, tp kalo KrisHan gpp kekekekekeke #ditendangSehun .

Makasih udah ngereview^^

ThegorgeousLu: Sukurlah kalo kamu suka chap kemaren :D Sehunemang ekspresif kalo nyangkut perasaannya dia -_- Tenang aja, mari kita Bully Sehun . Padahal diksi yang Liyya pake' ntu diksi apa adanya loooh :D kekekekekeke

Yaaaaaaakkk! Yang bilang mau publish sequel Saranghae, Nae Appa minggu ini sapaaaa? O.O Tapi Liyya usahakan sebelum lebaran deh :D

Makasih udah ngereview^^

Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi? Jangan takut untuk mengkritik, menyuarakan pendapat, dan bahkan menghina.

So, see U next chapter?

#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^