By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Kris, Others
Pairing: HunHan, slight!HunKai, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 20 of ?
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
.
HAPPY READING^^
.
Preview Chapter:
"Luhannie! Aigoooo! Lama tak bertemu kau tambah manis dan cute! Aeeeeeyyy, kyeopta!" ucapnya sambil mencubit pipi Luhan gemas, membuat BaekSoo yang berdiri di belakangnya pun ikut memasang wajah cengo mereka. Luhan tidak begitu suka jika pipinya dicubit seperti itu. Tidak Kris sekalipun. Mungkin hanya BaekSoo dan Sehun yang diijinkan, atau terpaksa diijinkan Luhan untuk melakukannya.
Lalu kenapa Luhan diam saja saat dia mencubit pipi Luhan seperti itu? Orang ini sebenarnya siapa?
~O.O~
"Eo-Eomma!" ucap Luhan tak percaya seraya mengedip-ngedipkan matanya imut. Membuat orang yang dipanggilnya 'Eomma' itu semakin gemas karenanya.
'Eomma?' pikir BaekSoo. Apa itu ibunya Luhan? Well, bisa jadi sih. Mereka kan belum pernah melihat apalagi bertemu dengan orang tuanya Luhan. Hanya saja, wajah mereka tidak mirip. Wajahnya memang terlihat familiar, tapi bukan dari wajah Luhan. Dan lagi, sejak kapan Luhan memanggil ibunya dengan sebutan 'Eomma'? Bukankah seharusnya Luhan memanggilnya 'Mama'?
"Aigoooo! Mengapa bengong begitu? Kau tidak suka dengan kedatangan Eomma?" tanya wanita yang menyebut dirinya 'Eomma' tersebut membuyarkan kekagetan Luhan.
"A-aniyo. Luhan hanya sedikit terkejut. Hehehehe," jawabnya cepat, menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Eomma sendirian saja?" tanya Luhan saat mereka sudah duduk manis di ruang tamu. BaekSoo juga di situ. Hanya saja, sepertinya mereka sedikit terlupakan.
"Aniyo. Eomma ke Seoul bersama Appa. Urusan bisnis." Luhan mengangguk paham.
"Ehem!" Deheman yang lumayan keras itu menyadarkan Luhan kalau sedari tadi BaekSoo juga ada di sana bersamanya. Luhan memberikan cengiran khasnya sebelum memperkenalkan mereka pada tamunya.
"Ah! Eomma, ini Baekhyun dan Kyungsoo. Mereka teman Luhan di sini." Baekhyun dan Kyungsoo pun sontak membungkukkan badan mereka sopan dan memperkenalkan diri mereka.
"Annyeonghaseyo. Byun Baekhyun imnida."
"Annyeonghaseyo. Do Kyungsoo imnida."
"Aigooooo! Tidak perlu seformal itu pada Ahjumma," jawab tamu Luhan ramah.
"Dan Baekhyun-ah, Kyungsoo-ya! Ini ibunya Sehun."
MWO? Mata BaekSoo kembali membulat sempurna. Eomma Sehun? Oh Sehun? Aigooooo! Seandainya saja keadaan sedang tidak serunyam ini, pasti BaekSoo sudah siap menggoda Luhan berabad-abad lamanya karena kejadian ini. Luhan dikunjungi oleh calon mertuanya? Well, walaupun saat ini mereka sedang 'Break'.
"Kalian juga kenal dengan Sehun?" tanya Nyonya Oh. "Ne, Ahjumma!" jawab Baekhyun kompak dengan tersenyum manis.
"Aigooo! Manisnya!" ucap Nyonya Oh gemas. "Katakan pada Ahjumma. Apa Sehun suka membuat masalah? Apa dia membuat Luhannie menangis?"
'BIG YES!' batin BaekSoo. Namun mereka hanya tersenyum canggung dan tidak menjawab. Bagaimana mungkin mereka akan mengatakan itu.
"Aniyo, Eomma!" jawab Luhan akhirnya. "Mana mungkin Sehun begitu. Dia kan sudah berjanji pada Eomma," lanjutnya tersenyum. "Benarkah? Arraseo. Ah! Mianhae Luhannie, Eomma tidak membawa apa-apa kemari. Sebenarnya Eomma sudah menyiapkan beberapa kotak Kimchi untukmu dan juga Sehun. Tapi karena Eomma terlalu senang saat tiba di sini, Eomma melupakannya di bagasi mobil. Tapi Eomma janji, besok sebelum kembali ke Busan, Eomma akan mengantarkannya kemari."
Mata 'owl' Kyungsoo langsung terbuka lebar mendengar kata 'Kimchi'. Asiiiiik! Kalau ada Kimchi kan dia bisa bereksperimen lagi, pikirnya. 'Nanti aku akan meminta Suho Hyung untuk mengajarkanku membuat masakan baru dengan bahan Kimchi,' batinnya tersenyum membayangkan 'little date' nya dengan Suho nanti.
"Gwaenchanna, Eomma. Tidak perlu repot-repot. Eomma bisa meninggalkannya di apartemen Sehun. Nanti biar Luhan yang mengambil ke sana," jawab Luhan.
"Tidak apa-apa. Lagipula, Eomma juga akan tetap ke sini dulu sebelum pulang nanti."
"Ah! Ne. Hmmmm, lalu, Eomma ada perlu apa datang ke rumah Luhan?" tanya Luhan kemudian setelah BaekSoo mengundurkan diri mereka. Mungkin merasa tidak enak kalau harus berada di tengah-tengah Luhan dan Ibunya Sehun.
Mengapa 'Eomma' datang ke rumahnya? Pertanyaan yang terus terlintas dipikirannya sejak melihat 'Eomma' di depan pintu rumahnya tadi. Bukannya dia tidak suka. Hanya saja, di saat hubungannya dengan Sehun seperti ini, dia merasa sedikit tidak enak.
"Wae? Apa Eomma tidak boleh mengunjungi 'calon menantu' Eomma?" Nyonya Oh balik bertanya dengan senyuman anehnya. Persis seperti Sehun jika sedang menggodanya.
BLUSHH
"N-ne?" Luhan merasa pipinya memanas saat mendengar 'gelar' yang diberikan oleh Nyonya Oh untuknya. Untung saja BaekSoo tidak di sini sekarang. Kalau tidak, dia bisa jadi bahan godaan(?) mereka selama beberapa abad kedepan, pikirnya. 'Calong menantu'? Luhan suka gelar itu. Tapi, apakah dia masih bisa menyandang gelar itu sekarang?
"Aigooooo! Kenapa harus malu sama Eomma! Aiiiih, kyeoptaaa!" Lagi-lagi pipi merona Luhan menjadi sasaran. Mengapa Eomma suka sekali mencubit pipinya?
"Kekekekeke." Nyonya Oh kembali terkekeh geli melihat Luhan yang tersipu-sipu di depannya. "Karena Appa ada urusan bisnis di Seoul, Eomma memutuskan untuk ikut. Dan Eomma pikir, daripada harus menunggunya entah dimana dan dengan entah siapa, lebih baik eomma kemari saja. Eomma mau ke apartemen Sehun, tapi terlalu malas kalau harus mencari alamatnya. Eomma kan belum pernah ke sana. Lagipula, Eomma ingin segera bertemu dengan Luhannie," jawab Nyonya Oh panjang lebar.
Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Tapi tunggu! Kalau Eomma bilang dia tidak tahu dimana apartemen Sehun, berarti—
"Jadi, kita ke apartemen Sehun sekarang?" ajak Nyonya Oh.
"N-ne?" ucap Luhan kaget. Bahkan BaekSoo yang berdiri di dapur dan memperhatikan mereka dari sana pun ikut mendelik kaget.
Luhan, walaupun dia sudah bisa menduganya, tapi tetap saja. Mengantar Eomma ke apartemen Sehun berarti bertemu dengan Sehun. Oh My God! Betapa Luhan merindukan namja tampan itu. Tapi dia tidak siap untuk bertemu dengan Sehun. Ini akan menjadi pertemuan pertama mereka sejak kejadian 3 hari yang lalu.
"Kenapa kaget begitu? Luhannie tidak nau mengantarkan Eomma? Atau Luhannie sedang ada masalah dengan Sehun? Kalian bertengkar?" tanya Nyonya Oh yang langsung menancap di hatinya. 'Bukan masalah, Eomma. Tapi badai!' batin Luhan.
"A-aniyo. Tentu saja Luhan akan mengantar Eomma. Hehehehe." Luhan tertawa canggung membuat kening Nyonya Oh berkerut. Tapi dia tidak menyadarinya. "Kalau begitu, Luhan ganti baju dulu, ne! Eomma tunggulah di sini sebentar. Luhan akan segera kembali."
Dengan itu, Luhan segera melesat ke kamarnya. Menjerit tertahan di bantalnya, mengganti bajunya secepat mungkin dan kembali ke ruang tamu. Tidak ingin membuat Nyonya Oh menunggunya terlalu lama.
Setelah berpamitan dengan BaekSoo, Luhan dan Nyonya Oh pun meninggalkan rumahnya menuju apartemen Sehun. Dia bisa melihat BaekSoo yang mengepalkan tangan mereka di depan wajah dan mengucapkan 'HWAITING' tanpa suara untuknya saat dia menutup puntu depan. Aiiiisssshhh! Apa yang harus dia lakukan saat bertemu Sehun nanti?
"Luhannie! Kita mampir ke Super Market dulu, Ne! Tiba-tiba Eomma ingin memasakkan sesuatu untukmu. Lagipula sebentar lagi kan waktunya makan malam, nanti kita bisa makan bersama di sana."
"N-Ne? Ah, iya Eomma." Luhan hanya tersenyum dan mengangguk pasrah.
Selesai berbelanja beberapa bahan makanan, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemen Sehun. Saat tiba di depan pintu, Luhan menimbang-nimbang sebentar, apakah harus memencet bel, atau langsung masuk saja, mengingat karena dia mengetahui passwordnya. Namun akhirnya dia memilih untuk langsung masuk. Toh biasanya juga seperti itu kan? Sehun tidak mungkin keberatan, apalagi ada Eommanya di sini.
Setelah menghela nafas pelan dan mengucapkan 'Hwaiting, Luhan!' dalam hati, dia pun membuka pintu tersebut. Matanya langsung menatap rindu saat pintu itu terbuka memperlihatkan isi apartemen. Padahal seingatnya, baru 5 hari yang lalu dia kemari, tapi entah mengapa dia merasa sangat merindukannya. Untuk sesaat, dia bahkan lupa kalau dia tidak sendirian. Dia juga tidak menyadari tatapan khawatir dan bertanya yang diberikan Nyonya Oh padanya.
'Apa Sehun sedang keluar? Mengapa sepi sekali?' batin Luhan.
"SEHUN-AH! EODDIESSO?!" teriak Nyonya Oh mengagetkan Luhan. Sedetik kemudian, Sehun muncul dari arah dapur dengan sedikit berlari.
"Eom— Luhan?" langkahnya langsung terhenti saat melihat Luhan di sana. Dia mengucek matanya tak percaya melihat Luhan yang berdiri canggung di sebelah Eommanya. Apa dia sedang behalusinasi? Apa dia terlalu merindukan Luhan. Namun suara cempreng sang Eomma menyadarkannya.
"YAAAAK! OH SEHUN! Kau tidak menyapa Eomma mu, eoh? Aeeeeyyy, padahal Eomma jauh-jauh datang dari Busan untuk menemuimu. Kalau begini lebih baik Eomma pulang saja!" ucap Nyonya Oh sewot. "Dan ada apa dengan tatapan kalian berdua? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Nyonya Oh curiga.
"Eh? Eommaaaa! Aku merindukanmu. Jangan ngambek, ne!" rayu Sehun seraya memeluk Ommanya. "Aniyo. Kami tidak bertengkar kok. Aku hanya sedikit terkejut karena kalian datang bersama. Iya. Hanya terkejut," ucap Sehun cepat. "Appa tidak ikut?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Appa masih ada urusan. Mungkin nanti malam dia akan kemari. Mungkin juga besok saat menjemput Eomma. Kau sedang apa di dapur? Sudah makan?"
Sehun menggeleng pelan. "Aku sedang masak ramyun. Hehehehehe."
"Aigooo! Sudah berapa kali Eomma bilang jangan sering-sering makan ramyun! Untung saja tadi Eomma belanja beberapa bahan makanan. Kalian tunggulah di sini! Eomma akan memasak sesuatu untuk kita makan!"
"N-ne?!" kaget Luhan. "A-aku membantu Eomma saja di dapur ya!" pintanya membuat kening Nyonya Oh berkerut. Ada yang salah dengan kedua 'anaknya'. Terakhir dia kemari, Sehun bahkan tidak mengijinkannya terlalu dekat dengan Luhan dan terus memeluk pinggang Luhan posesif.
"Andwae! Kalian tetaplah di sini!" titah Nyonya Oh kemudian beranjak ke dapur. Meninggalkan HunHan dengan aura canggung yang menyelimuti.
Luhan menundukkan wajahnya. Tidak berani menatap Sehun. Tangannya bermain dengan ujung bajunya karena gugup. 'Aiissshh! Eottokhae?' batinnya. Apa yang harus diucapkannya? Keheningan ini benar-benar tidak nyaman. Ditambah lagi, dia bisa merasakan pandangan Sehun yang terus menatapnya intens.
Sehun terus menatap Luhan yang masih setia bermain dengan ujung bajunya. Dia tahu kalau Luhan merasa tidak nyaman saat ini. Hhhhhhh. Sehun menghela nafasnya. Mengapa semuanya jadi begini?
"Mianhae!" ucap Sehun tiba-tiba menarik perhatian Luhan. "Tentang malam itu," lanjutnya. Luhan hanya diam tak menjawab. Kenapa Sehun harus membahasnya lagi?
"Gwaenchanna," jawab Luhan pelan. "Semua sudah terjadi. Berhentilah meminta maaf, Sehun-ah!" lanjutnya. Sehun mengangguk paham.
"Kau mau menonton sesuatu?" tanya Sehun mencoba mencairkan suasana. "A-aniyo. Tidak perlu," jawab Luhan singkat. Setelah itu, mereka kembali terdiam. Tak ada yang bersuara sampai Nyonya Oh memanggil mereka saat makanan sudah matang. Suasanya di meja makan tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Tak ada yang berbicara. Hanya sesekali Nyonya Oh akan bertanya dan mereka akan menjawabnya.
Kalau Luhan berfikir bahwa berdua dengan Sehun di ruang tamu adalah hal terberat yang harus dilaluinya hari itu, dia salah BESAR. Karena sekarang Nyonya Oh sedang memerintahkan Sehun untuk mengantar Luhan pulang. Luhan sudah berkali-kali berkata kalau dia akan baik-baik saja. Kalau jarak rumahnya dari sini hanya beberapa menit saja. Dia juga sampai berkata akan naik taksi saja untuk meyakinkan Nyonya Oh agar mengizinkannya pulang sendirian tanpa perlu diantar Sehun. Namun Nyonya Oh tidak bergeming.
"Kalau kau tidak mau diantar oleh Sehun, lebih baik menginap di sini saja, Luhannie!" ucap Nyonya Oh tersenyum penuh arti dan merupakan kalimat penutup dari perdebatan mereka.
Dan di sinilah dia sekarang, berjalan berdampingan dengan Sehun menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Oh My God! Ini bahkan terasa lebih dari sekedar canggung. Hhhh, seandainya saja Tuhan mau berbaik hati dan menenggelamkannya ke dasar bumi saat itu juga.
"Aku dengar dari Kyungsoo Hyung, katanya tiga hari ini kau melewati makan jam makan siangmu, Lu!" ucap Sehun tiba-tiba.
"Hhhhh, kau lupa menambahkan 'Hyung', Sehun-ah!" jawab Luhan. "Sebenarnya aku bukan melewatinya, hanya menundanya. Ada buku yang sangat ingin ku baca."
Hening.
"Mmmm, Sehun-ah!" panggil Luhan. "Ne?"
"Apa tadi siang kau datang ke perpustakaan?" tanya Luhan. "Eum. Tadinya iya, tapi tidak jadi. Seseorang yang ingin ku hampiri sudah terlebih dahulu pergi," jawab Sehun.
"Jadi kau melihatnya?" tanya Luhan pelan. "Mianhae. Aku sedang membaca buku saat Kris tiba-tiba muncul dan menarikku keluar. Dia hanya khawatir padaku, kau tahu kan? Aku—"
"Aku tahu," jawab Sehun cepat. Luhan menghela nafasnya. "Aku bahkan tidak tahu mengapa aku repot-repot menjelaskan ini padamu," ucap Luhan pelan. Toh mereka bukan sepasang kekasih lagi kan saat ini?
"Kau tahu? Sebenarnya kau tidak perlu mengantarku pulang!" ujar Luhan saat mereka tiba di gerbang rumah Luhan.
"Eomma yang menyuruhnya, kau lupa?" Luhan menundukkan wajahnya. "Aku tahu. Tapi kau kan bisa berpura-pura. Kau bisa menunggu di bawah dan kembali seolah kau sudah mengantarku."
"Tapi aku ingin mengantarmu, Lu! Aku tidak ingin berpura-pura mengantarmu." Jawab Sehun, masih menolak untuk memanggil Luhan dengan embel-embel 'Hyung'.
"Arrasseo. Kalau begitu kau pulanglah. Eomma pasti sudah menunggumu sekarang," ucap Luhan kemudian membalikkan badannya berniat meninggalkan Sehun. Dia sudah tidak tahan kalau harus berdiri di sana lebih lama lagi.
SRETT
GREBB
Semuanya terjadi begitu cepat dan kini dia berada di dalam lingkaran kedua tangan Sehun yang memeluknya erat. Luhan sendiri tidak membalas pelukan itu. Tapi dia juga tidak menolaknya. Dia tidak bisa menolaknya.
"Se-Sehun-ah!"
"Biarkan seperti ini, Lu! Biarkan seperti ini. Sebentar lagi. Hanya sebentar," ucap Sehun cepat sebelum Luhan memintanya untuk melepaskan pelukannya. Sehun menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luhan. Menghirup aroma tubuh Luhan sebanyak yang dia bisa. "Bogoshipeo!" ucapnya. "Aku sangat merindukanmu, Lu!"
Keadaan Luhan tak jauh berbeda dari Sehun. Dia memang tidak membalas pelukan Sehun. Hanya memejamkan matanya dan menempelkan wajahnya di dada Sehun. Menikmati harum maskulin dari tubuh Sehun yang sangat dirindukannya. Luhan sangat merindukan Sehun. Merindukan pelukan ini. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Matanya mulai memanas dan tenggorokannya terasa penuh menahan airmata yang memaksa ingin keluar. Tapi dia harus bertahan. Dia harus menghargai keputusannya sendiri untuk 'putus' dengan Sehun sampai Sehun menentukan pilihannya. Jadi dia harus kuat. Dia tidak boleh menangis.
'Ya Tuhan! Tolong aku. Seseorang, siapapun, tolong aku!' Luhan berteriak dalam hati. Dia benar-benar tidak yakin berapa lama lagi dia bertahan sebelum dia membalas pelukan hangat itu. Sebelum dia mengatakan kalau dia juga sangat merindukan Sehun. Sebelum dia melupakan apa yang diucapkannya pada Sehun tempo hari. Sebelum hatinya menyerah dan akhirnya melupakan semua yang terjadi di antara mereka beberapa hari terakhir ini. Sebelum dia menerima kembali hati Sehun yang bahkan masih belum jelas entah berlabuh kemana. Dan sebelum airmata yang mati-matian ditahannya itu tumpah begitu saja. Yang dia tahu jika dia berada dalam posisi ini lebih lama lagi, semua pertahanannya pasti akan hancur.
"Hyung?!" Luhan berterima kasih pada siapapun itu yang memanggilnya. Panggilan yang membuat Sehun akhirnya melepaskan pelukannya. Sepertinya dia terlalu larut dalam pikirannya sampai tidak mengenali suara dongsaengnya sendiri, suara Baekhyun.
Tanpa melihat Sehun sama sekali, Baekhyun segera menghampiri Luhan. Dia bisa melihatnya. Melihat pertahanan Luhan yang akan segera runtuh. Sebentar lagi Luhan pasti akan menangis, pikirnya. "Hyung! Mengapa masih di luar? Ini kan sudah malam. Ayo masuk!" Baekhyun menatap tak suka pada Sehun kemudian menarik tangan Luhan menuju rumah mereka. Luhan hanya menurut saja, mengikuti langkah Baekhyun dengan wajah yang menunduk. Meninggalkan Sehun yang menatapnya nanar. Dan begitu masuk ke dalam rumah, pertahanan itu benar-benar hancur. Dan Luhan kembali menangis entah untuk yang keberapa kalinya di minggu itu.
"Pulanglah, Sehun-ah. Sudah malam. Kau butuh istirahat. Kau terlihat lelah!" ucap Kyungsoo yang menatap Sehun iba. Sehun hanya mengangguk pelan, mengucapkan 'terima kasih' pada Kyungsoo, dan kemudian berjalan pulang. Kyungsoo benar, dia butuh istirahat.
~O.O~
CKLEKK
Niat awal Sehun untuk istirahat langsung menguap seketika saat melihat ibunya berdiri di balik pintu dengan tangan yang terlipat di depan dada. Nyonya Oh tidak mengucapkan apa-apa dan langsung berjalan untuk duduk di sofa. Mengisyaratkan pada Sehun agar ikut duduk bersamanya.
"Sekarang ceritakan pada Eomma apa yang sebenarnya terjadi!" tukas Nyonya Oh begitu Sehun duduk di sampingnya.
"Eomma—"
"Tidak usah menyangkalnya. Eomma tahu kalian sedang ada masalah. Eomma tidak sepertimu yang suka lamban dalam membaca suasana, Sehun-ah! Eomma bisa langsung tahu kalau ada yang salah begitu melihat reaksi Luhan saat Eomma menyebutkan namamu di depannya!" potong Nyonya Oh.
Sehun menghela nafasnya berat kemudian mengambil posisi tidur dengan paha Ibunya sebagai bantalnya. "Eomma!" ucapnya manja. "Aku membuatnya menangis. Berkali-kali. Berhari-hari, Eomma. Aku mengingkari janjiku sendiri."
Nyonya Oh menghela nafas dan mulai mengusap-usap sayang rambut anaknya. "Biar Eomma tebak," ucapnya. "Jongin datang kemari?" Sehun mengengguk pelan sebagai jawaban. "Lalu?" tanya Nyonya Oh menuntut anaknya untuk menceritakan detailnya. Dan Sehun pun melakukannya. Dia menceritakan semuanya pada Ibunya. Semua uneg-unegnya. Semua bebannya. Semua masalahnya. Semua keluh kesahnya.
PLETAKK
Sebuah jitakan manis di kepala yang sebelumnya diusap sayang oleh Ibunya menjadi hal pertama yang didapatkan Sehun setelah menyelesaikan ceritanya. Sehun sontak bangun dari posisi tidurnya. "Eomma! Mengapa aku dijitak?" protesnya. "Nanti aku tambah lamban, Eomma!"
Pletakk
Satu jitakan lagi mendarat di tempat yang sama dari pelaku yang sama. "Kau! Mengapa sifat lamban Appamu bisa turun padamu? Aigoooo! Tck, tck, tck!" Nyonya Oh berkata sambil menggelengkan kepalanya sebelum Sehun sempat protes atas aksi KDRT nya.
"Bagaimana kau bisa melakukan semua itu pada Luhannie? Eomma tidak tahu mengapa dia masih bertahan denganmu!" tukas Nyonya Oh. "Aiiissshhh! Terimakasih untuk komentar pedasnya, Eomma!" ucap Sehun sarkastik.
Nyonya Oh berdecih pelan kemudian meraih kepala Sehun untuk kembali tidur di pahanya dan kembali mengusap-usap kepala anaknya dengan sayang. "Eomma! Apa yang harus Sehun lakukan?" tanyanya putus asa.
"Mengapa kau bertanya pada Eomma? Kau yang merasakannya, seharusnya kau yang memiliki jawaban itu. Bukan Eomma!" jawab Nyonya Oh lembut. "Eomma sendiri lebih menyukai siapa antara Luhan dan Jongin?"
"Eomma?" Sehun mengangguk. Nyonya Oh terlihat berfikir sejenak sebelum menjawab. "Jujur Eomma lebih menyukai Luhan!"
"Wae?" tanya Sehun lagi.
"Entahlah. Eomma juga tidak tahu," jawab Nyonya Oh. "Bukan berarti Eomma tidak menyukai Jongin. Eomma juga menyukainya. Dia anak yang baik. Tapi Luhannie. Dia seperti memiliki magic. Membuat orang-orang mudah sekali menyukainya. Dia memiliki aura itu. Entah itu wajah manisnya, atau kepolosannya, atau senyum cerianya. Yang jelas, dia bisa membuat orang langsung menyukainya saat melihatnya," lanjutnya tersenyum. Masih mengusap rambut Sehun.
Sehun mengangguk setuju dengan ucapan Ibunya. "Kau tahu? Bahkan Appamu sangat menyukai Luhan."
"Jeongmal?" Sehun menatap Ibunya tak percaya. Appa Sehun bukanlah orang yang gampang menyukai seseorang. Apalagi dia baru sekali bertemu dengan Luhan.
"Eum" Nyonya Oh mengangguk. "Dia tidak mengatakannya, tapi Eomma tahu itu. Eomma bisa merasakannya. Kau pikir mengapa dia menyuruh Eomma membuat banyak Kimchi untukmu, padahal dia tahu kalau kau hanya tingal sendiri di apartemen? Itu karena dia memikirkan Luhan. Dia tahu kau pasti akan membaginya dengan Luhan," ujar Nyonya Oh panjang lebar.
"Apa itu berarti aku harus memilih Luhan?" tanya Sehun kemudian. "Eomma tidak menyuruhmu memilih Luhan, Sehun-ah! Itu kehidupanmu. Itu pilihanmu. Jadi kau harus menentukan sendiri."
"Tapi Eomma! Aku bingung. Aku sangat mencintai Luhan. Tapi sebagian hatiku seperti tidak bisa melepaskan Jongin begitu saja."
Pletakk
Lagi-lagi Nyonya Oh menjitak kepala Sehun. "Kau tidak boleh begitu. Itu namanya serakah! Kalau kau terus seperti ini, kau hanya akan membuatnya semakin tersiksa! It's either you LOVE him or you LEAVE him!" ucap Nyonya Oh sok Inggris. Membuat Sehun terbahak.
"Eomma! Darimana Eomma tahu kalimat bagus seperti itu? Ahahahahaha."
"Kalimat itu bagus kan? Hehehe, Eomma mendengarnya dari drama kesukaan Eomma, kekekekeke." Nyonya Oh ikut terkekeh. Tapi kemudian—
"Yaaaaaak!" Pletakk
"Awwww. Eomma! Appo! Eomma sudah menjitaknya berkali-kali!" sewot Sehun sambil mengusap-usap kepalanya.
"Salahmu sendiri! Seenaknya saja mentertawakan Eomma," ujarnya enteng, "Sekarang pejamkan matamu!" titah Nyonya Oh.
"Kenapa?" tanya Sehun bingung. "Tidak usah bertanya. Lakukan saja!" Sehun pun menutup kedua matanya.
"Nah! Sekarang kosongkan dulu pikiranmu dari semua hal yang mengganggunya. Lupakan Jongin. Lupakan Luhan."
"Yaaaaak! Eomma mau menghipnotisku?"
Pletakk. "OH SEHUN!"
"Hehehehehe. Arrasseo, arrasseo. Aku akan melakukan apa yang Eomma katakan! Peace!" ucapnya dengan cengiran kebanggaannya sambil menunjukkan jari tengah dan telunjukkan yang membentuk 'V'. Lama-lama dia merasa kasihan dengan kepalanya. Bisa-bisa dia jadi benar-benar tambah lamban nanti.
Nyonya Oh tersenyum tipis saat Sehun kembali memejamkan matanya. "Kau ingin meyakinkan hatimu, kan?" Sehun mengangguk. "Kalau begitu, jawab pertanyaan Eomma. Jangan memikirkan apapun. Begitu Eomma bertanya, kau harus langsung menjawabnya. Dan jangan disuarakan. Biar hatimu yang menjawabnya. Arrasseo?!" Sehun kembali mengangguk.
"Pertama-tama, katakan pada Eomma siapa namamu?" tanya Nyonya Oh.
Sehun sontak membuka matanya mendengar pertanyaan konyol itu dan langsung melihat wajah Eommanya yang sepertinya sedang menahan tawa. "Eommaaaaa!" kesalnya.
"Hahahahahahaha. Mian, mian. Habisnya Eomma tidak tahan untuk tidak mengerjaimu. Wajahmu kalau serius begitu sangat menggelikan Sehun-ah. Hehehehehe." Sehun memutar bola matanya malas melihat tingkah Eommanya. Really? Now? Padahal dia tadi sudah sangat serius. Huft.
"Aeeeeeyyy! Tidak perlu sewot. Mianhae. Sekarang pejamkan kembali matamu. Kali ini Eomma tidak akan bercanda lagi."
Sehun pun kembali memejamkan matanya dan mengkosongkan pikirannya seperti yang diinstruksikan Eommanya tadi. Benar-benar kosong. Tanpa Luhan. Tanpa Jongin.
"Sekarang katakan pada dirimu sendiri. Saat kau memejamkan matamu seperti ini, wajah siapa yang terbayang?" tanya Nyonya Oh.
Sehun tersenyum saat wajah manis Luhan yang tersenyum manis padanya terlintas begitu saja di benaknya begitu pertanyaan itu terlontar.
"Lalu, saat kau bangun dari tidurmu, siapa orang pertama yang kau pikirkan?"
Sehun kembali tersenyum. 'Luhan,' batinnya.
"Lalu, saat kau akan menutup harimu dan kembali ke dunia mimpi, siapa yang kau harapkan akan hadir bahkan di dalam mimpimu?"
'Tentu saja Luhan,' batin Sehun lagi.
"Geurom, saat kau merasa bahagia, siapa orang pertama yang ingin kau bagi kebahagiaan itu?"
Sehun terus tersenyum membayangkan senyum lebar yang tercetak di wajah Luhan saat dia sedang bahagia.
"Saat kau sedih dan harimu terasa berat, siapa yang bisa membuat semuanya menjadi lebih baik?"
Nyonya Oh terus bertanya seperti itu dan setiap kali pertanyaan itu terlontar, hati Sehun akan otomatis menyebutkan nama Luhan. Hatinya seolah hanya mengenal nama Luhan.
"Dan pertanyaan terakhir. Kau bisa menjawabnya dengan suara atau tetap seperti tadi, tapi kau harus menjawabnya langsung. Tanpa berfikir dulu. Arraseo?" Sehun menganggukkan kepalanya.
"Jongin atau Luhan? Siapa yang kau cintai?"
'Luhan!' jawab Sehun mantap. Tapi tetap di dalam hatinya. Sehun kemudian membuka matanya perlahan dan tersenyum pada Ibunya. "Eomma!" panggilnya. Tiba-tiba merasa senang. Seolah semua beban yang bersemayam di pikirannya selama beberapa hari terakhir ini menguap begitu saja.
"Kau sudah mendapatkan jawabanmu?" tanya Nyonya Oh kembali mengusap rambut Sehun. Sebenarnya tanpa bertanya pun dia sudah bisa menebaknya. Senyuman di wajah Sehun menunjukkan semuanya.
"Eum," Sehun mengangguk senang. Dia menemukannya. Bagaimana bisa dia meragukan hatinya? It's Luhan. It's always been him. It'll always be him. Bagaimana dia bisa terkecoh dengan kehadiran Jongin? Memang benar kalau Sehun pernah mencintai Jongin. Tapi cinta itu hanya bagian dari masa lalunya. Sekarang, di hatinya hanya ada Luhan. Ahh, seandainya saja dia menyadarinya dari awal. Semua tidak pasti tidak akan serumit ini.
Sehun kembali memejamkan matanya. Perasaannya yang ringan membuat matanya berat. "Gomawo, Eomma!" ucapnya sebelum larut ke dalam dunia mimpi. Malam itu, untuk pertama kalinya Sehun tidur dengan nyenyak. Memimpikan Luhan yang tersenyum manis ke arahnya dan menggenggam tangannya erat.
Sehun sudah menemukan jawaban yang dicarinya. Hanya tinggal menunggu hari Minggu untuk menjelaskannya pada Jongin dan mengatakannya pada Luhan. 2 hari lagi. Dia akan bertahan tanpa Luhan 2 hari lagi. Dan setelah itu, semua akan kembali seperti sedia kala. PASTI.
~O.O~
Ting Tong
"Sebentar!" teriak Baekhyun sembari berlari untuk membukakan pintu. "Eoh? Ahjumma?" ucapnya saat melihat tamunya. "Luhan Hyung sedang mandi, Ahjumma. Silahkan masuk." Baekhyun membuka pintunya lebar-lebar.
"Gwaenchanna. Ahjumma hanya ingin mengantarkan ini. Biar Ahjumma menunggunya di teras saja," jawab Nyonya Oh tersenyum seraya memberikan 'oleh-oleh' yang seharusnya diberikannya kemarin.
"Arrasseo. Aku akan memberitahu Luhan Hyung kalau Ahjumma menunggunya di sini," ucap Baekhyun kemudian kembali masuk setelah mendapat anggukan dari Nyonya Oh.
Selang beberapa menit kemudian, Luhan muncul dengan rambut setengah basah, sepertinya terburu-buru hingga tidak sempat mengeringkannya dengan sempurna. Nyonya Oh langsung berdiri saat melihat Luhan.
"Eomma? Mengapa tidak menghubungi Luhan dulu sebelum ke sini? Jadi, Eomma kan tidak perlu menunggu," ucapnya.
"Tidak apa-apa. Lagipula Eomma hanya ingin pamitan sebentar," jawab Nyonya Oh. "Mau mengantarkan Eomma ke mobil dan memberi salam pada Appa?" tawarnya. Luhan tersenyum dan mengangguk senang.
"Mengapa kau tidak menceritakannya pada Eomma, Luhannie?" tanya Nyonya Oh tiba-tiba saat mereka sedang berjalan menuju mobil. "Ne?"
"Masalahmu dan Sehun. Kenapa tidak menceritakannya pada Eomma?"
"Aaah, mi-mianhae Eomma. Luhan hanya tidak ingin membuat Eomma khawatir," jawabnya pelan dengan kepala tertunduk.
"Aigooo! Anak Eomma!" Nyonya Oh menghentikan langkahnya dan mengacak rambut Luhan. Dia mengusap pipi Luhan sebelum kemudian membawa Luhan dalam pelukannya. Pelukan seorang Ibu.
"Eomma minta maaf, ne! Karena Sehun telah membuatmu menangis," ucapnya mengusap kepala Luhan dengan sayang.
"A-aniyo. Eomma tidak perlu meminta maaf pada Luhan. Tidak ada yang salah, Eomma! Semua terjadi begitu saja," jawab Luhan berusaha menahan air mata yang -lagi-lagi- memaksa untuk keluar. Pelukan ini terlalu hangat. Luhan merasa seperti sedang memeluk Mamanya sendiri. Dan tanpa disadarinya, airmata itu turun perlahan dengan sendirinya dan membasahi pipinya. Uurrghh! Mengapa dia cengeng sekali! Rutuknya dalam hati.
Nyonya Oh tidak menjawab apa-apa. Hanya mengusap-usap punggung Luhan dengan penuh kasih sayang. Menenangkan Luhan yang mulai terisak tanpa suara. Tersenyum lembut saat melihat suaminya menghampiri mereka.
"Aigooo! Anak Appa mengapa menangis?" tanya Tuan Oh membuat Luhan melepas pelukan Nyonya Oh dan segera menghapus airmatanya kemudian menundukkan wajahnya malu. "A-Appa!" ucapnya pelan.
"Jangan terlalu dipikirkan, Luhan-ah! Sehun itu memang sedikit lamban. Maafkan Appa yang menurunkan gen itu pada Sehun, ne!" ucap Tuan Oh membuat Luhan tersenyum geli. Karena secara tidak langsung kan 'Appa' nya mengakui kalau dia juga lamban.
"Nah! Begitu lebih baik. Luhannie memang terlihat paling manis saat tersenyum," ujar Nyonya Oh sambil menghapus jejak air mata di pipi Luhan. "Luhannie harus berjanji pada Eomma, ne! Kalau ada apa-apa lagi, Luhannie harus menceritannya. Jangan menutupinya. Dengan begitu, kita kan bisa kolaborasi untuk memberikan 'anak itu' pelajaran." Luhan kembali tersenyum manis kemudian menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Ne, Eomma!" jawabnya.
"Jja! Kalau begitu, kami pulang dulu! Kalau Sehun macam-macam lagi, mungkin kau bisa memperkenalkan dia dengan tinjumu," ucap Tuan Oh sambil mengepalkan tangannya di depan wajahnya yang langsung dihadiahi cubitan kecil dari istrinya.
"Appa! Jangan mengajarkan kekerasan pada anak-anak!" tuan Oh memutar bola matanya malas. "Mereka sudah di atas 20 tahun, yeobo! Bukan anak-anak lagi!"
"Tapi di mata Eomma, mereka tetap anak-anak!" jawab Nyonya Oh tak mau kalah. Senyum itu kembali menghiasi wajah Luhan saat melihat pertengkaran kecil kedua 'orang tua' nya itu. Entah kenapa, dia seperti melihat dirinya dan Sehun.
"Aiiiissssh! Arrasseo." Tuan Oh akhirnya mengalah. "Luhannie, jaga diri baik-baik di sini, ne! Eomma pasti akan merindukanmu." Nyonya Oh kembali memeluk Luhan. "Pokoknya, Luhannie hanya perlu mengingat satu hal. Tidak perduli apapun yang terjadi nanti di masa depan, Luhannie hanya boleh memanggil kami 'Eomma dan Appa'. Karena apapun yang terjadi, Luhannie tetap anak Eomma. Arrasseo!"
"Ne!" Luhan mengangguk imut dan tersenyum haru. "GOMAWO, EOMMA!" teriaknya sambil melambaikan tangannya saat mobil itu mulai berjalan meninggalkannya.
~O.O~
Minggu pagi, Sehun menghabiskan waktunya dengan menyelesaikan semua tugas-tugas yang akan dikumpulkan besoknya. Ini bukan Minggu biasa. Hari ini Sehun akan mengatakan pada Luhan tentang keputusannya, dan semua akan kembali normal. Sepanjang hari, Sehun terus bersenandung kecil dengan senyum yang setia menghiasi wajah tampannya. Akhirnya hari ini datang juga, pikirnya. Dia juga sudah berencana untuk menemui Luhan terlebih dahulu, baru kemudian menemui Jongin.
Sehun melirik jam dinding yang ada di studionya. Pukul 16:00. Masih ada beberapa jam sebelum waktu janjiannya dengan Luhan. Sebaiknya dia mandi dulu. Sedikit berendam, mungkin. Setelah itu, dia akan mampir ke toko bunga dulu untuk membeli bunga untuk Luhan. Sehun meregangkan badannya yang terasa kaku setelah menggambar begitu lama. Merilekskan otot-otot tubuhnya sebelum kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Selama mandi, Sehun terus memikirkan apa yang akan dilakukannya pada Luhan nanti setelah dia mengungkapkan semuanya. Yang jelas dia harus minta maaf untuk -lagi-lagi- kebodohan yang diperbuatnya. Dia juga akan memeluk Luhan seerat mungkin. Tak perduli Luhan yang meronta karena sesak. Dia sangat merindukan Luhan. Dan bibir itu, dia—
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Suara ponsel nya yang berteriak nyaring menginterupsi lamunannya. Sehun memang sengaja membawanya ke kamar mandi, siapa tahu Luhan akan menghubunginya saat dia sedang mandi, dan membungkusnya dengan plastik agar tidak basah. Dia melirik nama si penelfon dari balik plastik bening yang membungkusnya.
Jongin?
Sehun mengernyitkan keningnya. Mengapa Jongin menelfonnya? Bukankah Sehun sudah memberitahunya kalau dia akan menemuinya sekitar jam 8 malam? Namun saat Sehun hendak menggeser tombol hijau di layar ponselnya, dering itu berhenti.
Sehun mengedikkan bahunya dan meletakkan ponselnya kembali ke tempat sebelumnya. 'Mungkin tidak terlalu penting,' pikirnya kemudian melanjutkan mandi dan lamunannya yang sempat terpotong tadi.
Sekitar 30 menit kemudian, Sehun baru keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri. Dia berjalan pelan menuju almarinya dan mengambil baju yang sudah disiapkannya sejak tadi malam. Jeans biru dongker dengan kaos putih favoritnya yang akan dibungkusnya dengan jaket hitam yang diberikan -dijatuhkan- Luhan malam itu. Memakai jeansnya terlebih dahulu, Sehun beralih menuju cermin di kamarnya dan mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.
Dddrrtt ddrrtt
Sehun meraih ponselnya saat benda itu bergetar di atas nakasnya. 1 pesan dari Jongin?
From: Jongin
Sehun-ah! Bisakah kita bertemu sekarang? Aku menunggumu di bandara.
MWO? Bandara? Mengapa Jongin ada di bandara?
Sehun menatap jam di ponselnya. Pukul 16:45. Masih ada 2 jam sebelum jam 7. Kalau Jongin bilang dia sedang ada di bandara, berarti dia akan segera pergi, kan? Sehun menimbang-nimbang keputusannya. Haruskah dia menemui Jongin terlebih dahulu? Jarak dari apartemennya ke bandara sekitar 30 menit. Berarti dia butuh satu jam untuk perjalanan pulang dan pergi. Jadi dia masih punya sisa waktu satu jam lagi.
Mudah-mudahan waktunya cukup, pikirnya.
Dan dengan itu, Sehun memakai baju dan jaketnya, melirik penampilannya sebentar di cermin, kemudian segera berlari keluar dari apartemennya menuju bandara. Dia hanya akan berbicara beberapa menit saja dengan Jongin, jadi seharusnya waktu itu akan pas dengan perkiraan dan perhitungannya. Sehun lupa. Dia tidak mendengarkan Luhan dengan baik saat itu. Dia terlalu shock dengan pernyataan Luhan untuk 'mengistirahatkan' hubungan mereka. Dia hanya mendengar kalau Luhan akan menunggunya pukul 7 di kafe biasa. Tapi dia tidak mendengar saat Luhan mengimbuhkan kalau dia tidak menerima kata terlambat kali ini.
Tidak sampai 30 menit, Sehun sudah sampai di bandara. Dia memutuskan untuk naik taksi agar lebih cepat sampai. Sehun segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan begitu tiba di sana. Bodohnya dia yang tidak bertanya dimana tepatnya Jongin menunggunya.
"Sehun-ah!"
Sehun menolehkan kepalanya ke asal suara dan mendapati Jongin yang sedang tersenyum dan melambai ke arahnya. Dan tanpa mengulur waktu lagi, Sehun segera menghampirinya.
"Jongin-ah! Aku—"
"Aiiissshhh! Mengapa terburu-buru? Tidak bisakah kita berbicara di tempat yang lebih tenang? Aku rasa, kita bisa berbicara dengan secangkir kopi hangat?" ajak Jongin. Sehun melirik jam di tangannya. Pukul 05:30. Masih ada satu jam. "Baiklah!" ucap Sehun kemudian mengikuti Jongin menuju kafe terdekat.
"Kau mau kemana?" tanya Sehun begitu mereka duduk di dalam kafe. "Jepang!" jawab Jongin singkat.
"Wae? kau ada acara di sana?" tanyanya lagi. "Eum. Dance Competition. Minggu depan. Teman-teman yang lain sudah berangkat 2 hari yang lalu. Tapi aku masih punya urusan yang belum terselesaikan, jadi aku menyusul hari ini."
"Jam berapa pesawatnya lepas landas?" tanya Sehun lagi.
"Sekitar satu jam lagi," jawab Jongin singkat. Well, berarti dia mempunyai cukup waktu, pikir Sehun kemudian menyeruput kopi panasnya.
"Lalu, apa jawabanmu?" tanya Jongin setelah beberapa saat terdiam.
"Ehem," Sehun berdehem sebelum mulai bicara. "Aku... Mianhae!" pada akhirnya hanya kata itu yang keluar. Singkat, namun cukup untuk menjawab pertanyaan Jongin.
"Wae?" tanyanya membuat Sehun mengerutkan hidungnya. "Mengapa kau memilih Luhan Hyung?"
"Sejujurnya, setelah aku memikirkan semuanya, aku sadar kalau sebenarnya dari awal tidak pernah ada kata 'memilih' Jongin-ah. Dari awal, aku tidak pernah memilih antara Luhan dan kau. Dari awal, Luhan sudah di sana. Dia sudah menetap di dalam sini," Sehun menunjuk dada kirinya. "Dia selalu di sana. Hanya aku yang terlalu bodoh hingga terlambat menyadarinya. Mianhae karena aku seolah memberi harapan untukmu."
"Apa aku terlambat? Jika saja aku datang beberapa saat lebih cepat, apa aku masih memiliki kesempatan itu?" Sepertinya Jongin masih tidak terima dengan ucapan Sehun.
"Aniyo. Bukan masalah kau terlambat atau tidak. Bahkan jika kau datang sebelum aku dan Luhan jadian pun, aku tidak yakin kalau aku akan menerimamu kembali. Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak aku menginjakkan kakiku di Seoul. Mungkin semenjak pertama kali aku melihat Luhan di bawah pohon maple itu. Atau mungkin jauh sebelum itu semua. Saat kami belum bertemu. Saat kami hanya bertukar kabar lewat ponsel dan e-mail. Seperti yang kau bilang, aku selalu membicarakan Luhan Hyung saat itu. Mungkin memang sejak saat itu, Luhan sudah di sana. Hanya saja aku belum menyadarinya." Sehun menatap Jongin dengan pandangan menyesal.
"Tapi walaupun begitu, saat itu, saat masih denganmu, perasaan yang aku miliki benar-benar tulus Jongin-ah. Aku benar-benar mencintaimu saat itu. Walaupun mungkin perasaanku pada Luhan mulai ada, tapi aku tidak pernah benar-benar memikirkannya, karena saat itu kau ada di sisiku. Karena saat itu aku mencintaimu. Maafkan aku!" ucap Sehun lagi. Dia benar-benar tidak tega mengatakan ini pada Jongin. Tapi dia harus. Dengan begitu, Jongin akan melepaskannya. Dengan begitu, Jongin tidak perlu mengharapkannya lagi. Dengan begitu, Jongin juga bisa memulai untuk menemukan kebahagiaan barunya.
"Arrasseo!" jawab Jongin pelan. "Sebenarnya aku sudah mengetahuinya sejak dulu. Caramu membicarakan Luhan Hyung sangat berbeda. Aku juga tahu saat itu kau tulus padaku. Karena Oh Sehun yang ku kenal, tidak akan mempermainkan perasaan orang lain. Aku yang terlalu bodoh karena melepasmu begitu saja. Seandainya aku tidak melepasmu, mungkin saat ini Luhan Hyung masih seorang 'Hyung' untukmu." Jongin tersenyum lemah. Dia memang sudah mempersiapkan diri untuk penolakan dari Sehun. Tapi tetap saja, rasanya jauh lebih sakit saat Sehun yang mengatakannya.
"Mianhae, Jongin-ah!" Sehun kembali meminta maaf. "Aniyo, tidak perlu meminta maaf!" Jongin kembali tersenyum penuh arti. "So, kita kembali menjadi teman sekarang?" tanyanya seraya berdiri dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Eum!" Sehun mengangguk dan menerima uluran tangan dari Jongin.
Srett
"Omooo! Mianhae, Sehun-ah! Aku tidak sengaja!" ucap Jongin panik saat tangannya -entah sengaja atau tidak- menyenggol kopi Sehun yang mengakibatkan tumpahnya kopi itu ke celana Sehun dan beberapa noda kopi mengenai kaos putihnya. Untungnya begitu duduk tadi, Sehun langsung melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di sandaran kursi, sehingga tidak ikut terkena noda kopi.
"Aniya. Tidak apa-apa."
"Eummm, sebaiknya kau membersihkannya sedikit di kamar mandi, Sehun-ah. Aku akan mengantarmu," tawar Jongin. Sehun langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku akan ke sana sendiri. Kau tunggulah di sini. Aku akan segera kembali." Sehun pun segera berlalu ke kamar mandi. Tidak menyadari senyum di bibir Jongin saat dia menolak tawarannya.
~I lost my mind
Noreul Choummannasseultte
No hanappego modeungaseun
Get in slow motion~
Jongin melirik jaket Sehun dan meraihnya. Mengambil sesuatu yang berdering nyaring dari dalam saku dan melihat siapa yang menelfon. Nama 'Luhannie' terpampang dilayar ponsel Sehun, membuat Jongin tersenyum penuh arti. Well, sepertinya mereka memang berjodoh. Jongin baru saja ingin menghubungi Luhan dengan menggunakan ponsel ini, tapi Luhan sudah terlebih dahulu menelfonnya, lebih tepatnya menelfon Sehun.
Dengan senyum yang masih tercetak di wajah manisnya, Jongin menyentuh tombol hijau di sana. "Sehun—"
"Luhan Hyung? Ada apa?" tanya Jongin seketika menghentikan apa yang akan Luhan ucapkan.
"J-Jongin?"
~O.O~
TeBeCe
A/N:
Nyiahahahahahahahahaha #ketawanista
Sepertinya ini TeBeCe paling tidak elit sepanjang sejarah 'The One' ya . Siapa yang tebakannya bener? Itu adalah Eomma heboh . Well, do'akan Liyya gak sibuk n bisa upadate sebelum tanggal 7. Karena Liyya mau mudik tanggal ntu. N kalo udah mudik, berarti baru bisa update sekitar seminggu setelah lebaran, soalnya di kampung Neneknya Liyya gak ada warnet -_-
Hmmmm, sebenernya Liyya gak terlalu yakin mau nge-post chap ini. Apalagi part yang bersama Eomma heboh -_- Itu rasa-rasanya GATOT :'( Tapi yasudahlah, semoga gak mengecewakan :D Oke! Siapa yang mau SAD ENDING acung tangan bareng Kkamjong! Kalo emang mau SAD END, berarti chap depan ini ff udah T-A-M-A-T. Tapi kalo mau HEPI END, ya berarti seperti kata lirik lagu, 'Badai pasti berlalu' :D
KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...! . 500+ Reviews. JEONGMAL GOMAWO #bow90° Liyya seneng banget. Makasih ya semuanya, kalian LUAR BIASA #alaArielNoah :D
Liyya ucapin BIG THANKS to Eonnie, Saeng, n Chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
YANG PUNYA AKUN,
sari2min | Nevada Adhara | dian deerChickenKID | destyrahmasariKiela Yue | sofia.ningsih | Oh SeHan | RamdaniHunhanXiaLu BlackPearlHunHan BabyNurfadillah | uswatun hasanah | RirinSekariniLee MingKyuajib4ffmitahunhan | chyshinji0204 | PandaPanda Taoris | 82NineNine | Deer Panda | -Shipper | Novey | asroyasrii | junmakyu | devi15300 | | Amortentia Chan | LittleZhaoUchiha Tachi'4'Sorachocotaro | Xi Ri Rin | RZHH 261220 | Choi Min Gi
Liyya bales di PM yaaa :D Soalnya kalo dibales di sini, ntar jadinya kepanjangan ffnya ^_^
dearluhan:Iya deek, masa galoh nya Thehun udah dimulai neeh :D Thehun kalo udah melas mah nyeseknya ngalah2i Luhan :'( Eon gak tahu berapa lama masa galohnya Thehun, tergantung Luhan sih sebenernya . Sequel 'Saranghae, Nae Appa!', ditunggu aja. Mungkin gak lama lagi bakal brojhol(?) :D
Makasih udah ngereview^^
lena99:Cheonmaa ^_^ Tuh Sehun udah menentukan pilihannya kok :D Cuma sepertinya masih akan ada masalah deh #opps . Wkwkwkwkwk, kalo Cinta Fitri maaaah, ceritanya tak ada habisnya. Mbulet kaya' benang -_- Ini udah update, sehari lebih cepat loooh :D
Makasih udah ngereview^^
Im lulu:Sedikit miris buat Sehun gpp lah yaaa :D Hunhan bersatu gak yaaa? #masihbingung -_- Ddo'akan aja deh :D
Makasih udah ngereview^^
SummerSehun:Omoooo! Liyya juga terharu banget sama persahabatannya mereka :D
Makasih udah ngereview^^
WireMomo:Deng Dong #soundeffecgagal -_- Itu bukan Lay apalagi Xiumin, tapi mamihnya Thehun .
Makasih udah ngereview^^
Karuhi-chan:Yuuupppsss. Bener bangeeet, itu Mamihnya Thehun :D Gomawo udah bilang Daebak yaaa :) Ini udah lanjut, moga gak mengecewakan ^_^
Makasih udah ngereview^^
Ariadna:Uyeeeeaaaaa #ikutanteriak :D Endingnya bisa jadi chap depan, bisa jadi kurang 3 chap lagi :D Mau ending HunHan? Oke siiip, kalo begitu harus berdo'a yang banyak yaaaa . #ikutanbawabannerjumbo
Makasih udah ngereview^^
lili: Wkwkwkwkwkwk, Sehun bisa aja panas, padahal dia kan pemilik kekuatan angin *loh? Hmmmm, sayangnya itu buka Baby Panda -_- tapi itu CaMer nya Luhan, hehehehehe .
Makasih udah ngereview^^
Shizuluhan:Apuaaaahhh? Harus lebih dipanjangin :o Emang ada kebahagiaan tersendiri ya kalo liat Thehun ngegalao . Cadel udah ngambil keputusan tuuuh, tapi kayaknya Jongin mau bikin masalah deh #ooppss ;)
Aeeeeyyy, maldo andwae laaaah. Masa' iya jadi KrisKai -_- Itu namanya memaksakan kehendak bangeeeet. Toh masih banyak yang jomblo kaaan, ada XiuChenLyTao. Anggap ajalah mereka jadian sama salah satu ntu, ato ngejomblo, ato sama yang lain .
Yuuupppsss, betul bangeeet, itu Mamihnya Thehun alias CaMernya Luhan :D
Makasih udah ngereview^^
xihan zhang:Uljimaaaa :'( Ya ampuuun, bacanya tengah malam neeh? Jadi kayak film horor aja, tangisan tengah malam . hehehehehe. Gomawo karena udah suka sama ff nya Liyya :D
Makasih udah ngereview^^
Misterius:Gwaenchanna :D Siapin tissue yang banyak gpp deeek, kan kemungkinan Sad ending, eh enggak ding :P Mudah-mudahan hepi end kok :D Reviewnya sama sekali gak kepanjangan deeek, kurang panjang malah #plakk -_-
Makasih udah ngereview^^
DiraLeeXiOh: OMOOOOO! Pertama-tama, Eonnie mau ngucapin banyaaaaaaaaaaaak terimakasih karena udah nyempetin Revie mulai chapter satu sampe' akhirnya ketemu di chap 19 #hugDira
Kedua, Eon juga mau minta maaf, karena cuma bales di sini doank :( #bow
Gomawo udah mengikuti perjalanan cinta Luhan yang dipenuhi lika-liku tak menentu ini :D Siapa yang datang? Udah tau kan yaaa . Makasih udah bilang Daebak :D Sehun udah milih Luhan, tapi sepertinya Kkamjong berkata lain ;)
Makasih udah ngereview^^
Hyorim16: Iya noooh. Bilangin dong ke Lulu, jangan nagis terus :( Liyya juga kangeeeen banget pengen nulis moment manis kayak awal2 dulu, tapi apa hendak dikata, HunHan kan lagi ribut -_- Tamu nya udah tahu siapa kan :D
Makasih udah ngereview^^
lele:Jangan nagiiissss #pukpukchingu :D Ini udah dilanjut, semoga gak ngecewain yaaa :/
Makasih udah ngereview^^
ki-sl:Yeeeeey, yang perasaannya campur aduk kaya' rujak(?) #plakk -_- Kan di cut di situ justru biar penasaran . makasih buar semangatnya yaaa :D FIGHTING!
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: 4 hari lagi? 2 hari, chingu. Hitungannya kan dari pengakuan Kkamjong :D Kan Luhan kalo udah ngumpul BaekSoo, rempongnya keluar . Naaaaah, mungkin sad dulu, trus hepi gitu kali ya o.O Chap depan Klimaks nya HunkaiHan, tapi masalah Hunhan belom berakhir ;) Omooooo! Makasih banget ya buat sarannya. Itu membantu banget tau gak! #hugChingu :D Gpp review yang panjang, Liyya sukaaa :D
Makasih udah ngereview^^
Little Deer:Annyeoooong ^_^ Yeeeee, gak ketinggalan lagi .
Wkwkwkwkwkwkwk :D Aigoooo! Gomawo udah bilang bagus :D Moga chap ini g mengecewakan ya, soalnya Eon sendiri rada gak pede sama Chap ini -_- Satu dialog yang kamu g ngerti yang mana deeek?
Sehun bakal lebih merana kok :D Mungkin di chap depan, dan depannya lagi #plakk -_- Baekhyun hanya mencoba untuk membuka mata Luhan kok :) Yuuuupppsss! Bener bangeeet, itu Eomma nya Sehun, deeek . Siiip, Eon udah ancang2 buat crita baru kok, tetep Luhan doook, tapi bukan HunHan :D
Makasih udah ngereview^^
HyunRa: Omooo! Gomawo udah bilang keren :D Orang misteriusnya udah tau kan siapa? Mudah-mudahan Hepi end ya :D
Makasih udah ngereview^^
WinterHeaven: Whut whut whuuutttt :o Woles deeeeeekkk . Kalo Sehun terjun ke laut, Luhan sama siapa dooonk :( Gpp kok deeek, review kalo sempet aja, gpp :D Yuuupppsss, 100 jempol buat saeng. Itu memang Eomma nya Sehun :D
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi? Jangan takut untuk mengkritik, menyuarakan pendapat, dan bahkan menghina.
So, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^
