By: 0312_luLuEXOticS

Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kim Jongin, Kris, Others

Pairing: HunHan, ninja!ChanBaek n SuDo

Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort

Rate: T

Lenght: 21 of ?

Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje

.

HAPPY READING^^

.

Preview Chapter:

Jongin melirik jaket Sehun dan meraihnya. Mengambil sesuatu yang berdering nyaring dari dalam saku dan melihat siapa yang menelfon. Nama 'Luhannie' terpampang dilayar ponsel Sehun, membuat Jongin tersenyum penuh arti. Well, sepertinya mereka memang berjodoh. Jongin baru saja ingin menghubungi Luhan dengan menggunakan ponsel ini, tapi Luhan sudah terlebih dahulu menelfonnya, lebih tepatnya menelfon Sehun.

Dengan senyum yang masih tercetak di wajah manisnya, Jongin menyentuh tombol hijau di sana. "Sehun—"

"Luhan Hyung? Ada apa?" tanya Jongin seketika menghentikan apa yang akan Luhan ucapkan.

"J-Jongin?"

~O.O~

Pip

Setelah sambungan telepon terputus, Jongin segera menghapus catatan panggilan terakhir dari Luhan untuk menghapus jejak. Dengan begitu, Sehun tidak akan tahu kalau Luhan sempat menelfonnya. Mengutak-atik ponsel Sehun sebentar sebelum mengembalikannya ke tempat semula. Manik mata Jongin tertuju pada gambar note di layar awal ponsel Sehun. Penasaran, dia pun membukanya.

12 April

MEET LUHANNIE DI KAFE BIASA JAM 7 MALAM

Jongin melirik jam di layar ponsel. Pukul 18:25. Satu ide lagi terlintas dibenaknya. Kalau dia saja harus berjuang untuk membuat Sehun kembali padanya, walaupun berakhir dengan sebuah kegagalan yang menyedihkan, maka there is NO WAY dia akan membuat Luhan dan Sehun bersatu dengan mudahnya. Bukankah mereka bilang kalau mereka saling mencintai? Saling percaya? Kalau memang begitu, maka apa yang akan dilakukannya seharusnya bukan hal yang sulit untuk mereka lalui. Kalau keduanya memang benar-benar mempunyai cinta yang sangat besar satu sama lain, maka mereka pasti akan menemukan jalan untuk bersatu.

10 menit berlalu, dan Sehun masih belum kembali dari kamar mandi. Karena penasaran, akhirnya Jongin memutuskan untuk menyusulnya. Lagipula, masih ada satu hal yang harus dilakukannya. Hanya butuh sedikit keberuntungan yang berpihak padanya.

Cklekk

Jongin mengedarkan pandangannya dan melihat Sehun yang tengah mengusap-usap kaos dan celananya dengan tisu yang sebelumnya sudah dibasahkan terlebih dahulu. Tapi matanya tidak terfokus pada Sehun, melainkan benda kecil yang tergeletak manis di atas wastafel. Sepertinya Dewi Fortuna memang sedang berpihak padanya.

"Sehun-ah!" panggilnya membuat perhatian Sehun terarah padanya.

"Eoh? Mengapa kau kemari?" tanya Sehun. Jongin berjalan pelan ke arah Sehun dengan jaket di tangannya. Berdiri di samping Sehun, tepat di depan benda mungil incarannya.

"Tentu saja karena kau tidak kunjung kembali. Makanya aku menyusulmu kemari," jawab Jongin. "Ah, mianhae. Tadi sedikit ramai, jadi harus antri."

"Gwaenchanna!" ucap Jongin. "Kau sudah selesai? Aku rasa kita harus kembali ke bandara sekarang!" tanyanya sembari mengulurkan jaket di tangannya.

"Eum. Tentu saja!" jawab Sehun membenahi pakaiannya dan memakai jaketnya. Namun keningnya berkerut saat menyadari sesuatu. "Kau tidak melihat jam tanganku di situ tadi?" tanya Sehun bingung.

"Jam tangan? Sejak masuk tadi, aku tidak melihat apapun di sini," jawab Jongin ikut mengerutkan keningnya. Menunjukkan kalau dia juga bingung.

"Tapi aku benar-benar ingat kalau tadi aku meletakkannya di sini!"

"Ini salahmu sendiri. Kau tahu sendiri kalau ini kamar mandi umum. Seharusnya kau tidak meletakkannya sembarangan. Apalagi tadi kau bilang kalau di sini sedikit ramai. Bisa jadi ada yang mengambilnya tanpa kau sadari," ucap Jongin enteng. "Memangnya, itu jam tangan penting?" tanyanya kemudian.

"Bukan begitu, walaupun jam tangannya sudah jelak, tapi aku membutuhkannya untuk melihat jam."

"Aeeeeyyy! Pabbo-ya! Kau kan masih punya ponsel!" ujar Jongin mengingatkan.

"Ah! Kau benar!" Sehun menepuk dahinya pelan kemudian mengambil ponsel di saku jaketnya. Tersenyum puas saat melihat jam di ponselnya kemudian kembali memasukkannya ke dalam saku. "Kajja! Bukankah kau bilang kita harus kembali ke bandara? Aku rasa, aku masih memiliki sedikit waktu untuk mengantarmu ke sana."

Jongin hanya mengangguk dan tersenyum tipis kemudian mengikuti langkah Sehun. Dewi Fortuna benar-benar berada di pihaknya.

"Gomawo sudah mau menemui dan mengantarku kembali," ucap Jongin saat tiba di ruang tunggu bandara. "Aniyo! Sahabatku akan pergi. Tentu saja aku aku harus mengantarnya," jawab Sehun tersenyum. "Nah, karena aku sudah berbaik hati mengantarmu, maka kau harus memenangkan kompetisi itu! arrasseo!" tambahnya.

Jongin megangguk matap. "PASTI!" ucapnya. "Ah! Aku hampir lupa. Saengil Chukahae, Sehun-ah! Mianhae, aku tidak menyiapkan apa-apa," ujarnya kemudian saat mengingat tanggal di note Sehun.

"Gwaenchanna! Aku tidak menyangka kalau kau mengingatnya!" Sehun mencibir. "Yaaaah! Tentu saja aku mengingat hari ulang tahun sahabatku!"

"Hehehehehe, arrasseo!" Sehun terkekeh pelan. "Gomawo karena masih mengingatnya." Sehun kembali mengambil ponselnya dan tersenyum. Masih sempat, pikirnya.

"Jja! Kalau begitu, aku harus pergi sekarang. Aku ada janji dengan Luhan!" tukasnya setelah kembali mengobrol beberapa menit dengan Jongin.

"Kau ada janji dengan Luhan Hyung? Sepertinya penting. Apa mau merayakan ulang tahun dengannya?" tanya Jongin pura-pura tidak tahu.

"Hmmmm, kalau semuanya berjalan lancar, mungkin saja."

"Arrasseo! Good luck ya!" ucap Jongin sebelum Sehun meninggalkannya. "AH! SEHUN-AH!" teriaknya membuat Sehun kembali membalikkan badannya. "Sampaikan permintaan maafku untuk Luhan Hyung!" ucapnya sedikit keras, mengingat jarak mereka yang sudah lumayan jauh.

Untuk sesaat, Sehun terdiam bingung. Mengapa Jongin memintanya untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Luhan? Namun dia hanya mengedikkan bahunya dan mengangguk mengiyakan. Kemudian segera berlari keluar dari bandara. Tidak ingin mengulur lebih banyak waktu. Ini bukan saatnya untuk berfikir mengapa Jongin memintanya untuk melakukan itu. Dia bisa menanyakannya pada Luhan nanti.

"TAKSI!" teriak Sehun begitu tiba di luar bandara. Namun beberapa taksi yang ada, semua melewatinya. Pertanda kalau di dalam sudah ada penumpangnya. Baru setelah kurang lebih 5 menit, yang terasa seperti 5 jam baginya, dia berdiri di sana, akhirnya dia bisa mendapatkan taksi yang kosong. Sehun segera menaiki taksi tersebut dan mengatakan alamat tujuannya.

Melirik ponselnya, wajahnya seketika berubah cemas. Dia hanya punya waktu 25 menit sebelum pukul 7. Semoga dia bisa datang tepat waktu, do'anya dalam hati.

~O.O~

"Jadi kau akan bertemu Sehun nanti malam?" tanya Baekhyun pada Luhan saat sarapan pagi. "Eum!" Luhan mengangguk. "Wae?" tanyanya.

"Aniyo. Hanya bertanya," jawab Baekhyun cuek. Entah mengapa, dia mempunya feeling yang tidak bisa dikatakan bagus tentang pertemuan Luhan dan Sehun nanti malam. 'Aku harap, kali ini dia tidak kembali bertindak bodoh!' batinnya.

"Oh ya, Hyung! Bukankah hari ini hari ulang tahun Sehun?" tanya Kyungsoo. Luhan kembali menganggukkan kepalanya. "Lalu, apa kau sudah menyiapkan sesuatu untuknya? Well, aku tahu hubungan kalian sedang menggantung, tapi kan—"

"Arrasseo Eomma. Aku tahu maksudmu. And yes! Tentu saja aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya," jawab Luhan memotong pertanyaan Kyungsoo.

"Jongmalyeo?" pekik Baekhyun tiba-tiba. "Kau membelikan apa untuk Sehun, Hyung? Kapan kau membelinya? Mengapa kami tidak diajak?" tanyanya berturut-turut.

Luhan hanya memutar bola matanya mendengar pertanyaan Baekhyun. "Aku sengaja meminta Kris untuk mengantarkanku membelinya. Karena kalau aku mengajakmu atau Kyungsoo, yang ada nanti kau akan menyuruhku mebelikan eye liner untuk Sehun dan Kyungsoo akan menyuruhku membelikan peralatan dapur," canda Luhan.

Pletakk

"Awww!" Dua jitakan manis dari BaekSoo. "Yaaaaak! Kenapa dijitak? Aku kan hanya bercanda!" Luhan menggembungkan pipinya sambil mengusap-usap kepalanya yang sama sekali tidak sakit.

"Tidak perlu lebay, Hyung! Kami bahkan tidak benar-benar menjitakmu. Hanya menempelkan tangan kami sebentar dengan kepalamu!" Kyungsoo memutar bola matanya. "Hehehehehehe," Luhan nyengir.

"Lalu, apa yang kau belikan untuk Sehun? Apa Kris Hyung yang mengusulkan?" tanya Baekhyun penasaran. "Aniyo. Kris hanya mengantarkanku untuk memilihnya," jawab Luhan seraya membereskan piringnya dan meletakkannya di bak cuci piring. Diikuti Baekhyun dan Kyungsoo yang juga telah menyelesaikan sarapan mereka.

"Lalu, bagaimana kau bisa menentukan apa yang akan kau berikan pada Sehun? Seingatku, bahkan baju untuk kencan saja, kau masih merengek pada Baekhyun Hyung!" tanya Kyungsoo ikut penasaran. Baekhyun mengangguk setuju.

Luhan memberikan tatapan tak setujunya pada BaekSoo yang hanya dianggap sebagai 'another cute glare' oleh keduanya. Karena tatapan maut(?) nya tidak dianggap sama sekali, Luhan pun menghela nafasnya lebay dan berjalan ke kamarnya. Masih diikuti oleh BaekSoo yang berjalan pelan di belakangnya.

Setibanya di dalam kamar, BaekSoo langsung duduk manis di atas ranjang Luhan, sedangkan dia terlihat menngambil sesuatu dari dalam laci di almarinya. "Ini!" ucap Luhan memberikan bungkusan kecil seperti kado pada BaekSoo.

"Jam tangan?" tanya Baekhyun bingung. "Hyung! Mengapa kau memberikan jam tangan untuk Sehun?" tanyanya lagi. "Tentu saja agar dia tidak terlambat setiap kali dia membuat janji. Iya kan Luhan Hyung?" jawab Kyungsoo sok tahu.

Pletak Pletakk

Luhan tersenyum puas setelah membalaskan dendamnya. Dia mengambil kembali jam tangan di tangan Baekhyun dan memasukkannya kembali ke dalam kotak kado di tangan Kyungsoo. Dia lalu memposisikan dirinya di tempat favoritnya jika sedang bersama BaekSoo. Duduk di tengah-tengah keduanya.

"Jam tangan itu, berarti aku ingin dia selalu memakainya dan mengingatku setiap saat. Setiap kali dia melihat jam tangan ini. Agar dia tidak melupakanku," ucap Luhan tersenyum. "Lagi pula, saat itu Sehun pernah mengeluh ingin membeli jam tangan baru. Dan kemarin, terakhir aku bertemu dengannya waktu Eomma datang, aku lihat dia belum membeli jam yang baru. Karena itu aku membelikannya jam tangan. Hehehehe."

"Tapi, aku takut dia tidak datang!" ucap Luhan tiba-tiba berubah jadi sendu.

"Tentu saja Sehun akan datang, Hyung! Kau adalah hal terbaik yang bisa didapatkannya Tidak ada yang lebih baik darimu, Hyung!" Kyungsoo menepuk bahu Luhan pelan. "Dan jika memang dia tidak datang," lanjutnya seraya menatap Baekhyun. "Berarti Sehun adalah manusia paling bodoh di dunia ini!" sahut Baekhyun tersenyum pada Luhan.

Luhan hanya tersenyum dan menatap kado di tangannya. "Lalu, apa kalian akan merayakan ulang tahun Sehun bersama nanti?" tanya Baekhyun lagi.

"Hmmmm, kalau semuanya berjalan lancar, mungkin saja," jawab Luhan menerawang. Semoga kali ini Sehun benar-benar tidak melupakannya, pikirnya kemudian meletakkan kado kecil tersebut ke dalam paper bag di atas nakas.

~O.O~

Pukul 05:50 pm

Luhan sudah rapi dengan jeans abu-abu dan sweater merahnya. Menatap pantulannya di cermin dan merapikan rambut pink nya. Setelah semuanya terlihat sempurna -menurutnya- Luhan pun memasukkan ponselnya ke dalam saku jeans nya dan meraih paper bag yang berisi hadiah untuk Sehun. Tapi tidak hanya itu. Luhan juga mengambil satu kotak kado lagi dari dalam laci meja belajarnya. Sebuah kotak kado berukuran jauh lebih kecil dari kado sebelumnya. Sepertinya, dia menyiapkan dua kado yang berbeda untuk Sehun. Luhan menatapnya sebentar sebelum memasukkannya ke dalam saku sweaternya. 'Semoga aku tidak harus memberikan ini pada Sehun,' batinnya berharap.

"Kau sudah mau berangkat, Hyung?" tanya Kyungsoo saat melihat Luhan berjalan keluar dari kamarnya. Luhan hanya mengangguk dan tersenyum. "Bukankah kalian janjian pukul 7? Itu kan masih satu jam lagi." Baekhyun menimpali.

"Hmmmmm, aku hanya ingin berangkat lebih awal. Dengan begitu, aku bisa berjalan dengan santai dan tidak perlu terburu-buru. Lagipula, sekaligus jalan-jalan sore kan? Hehehehe." Luhan menggaruk tengkuknya. Sebenarnya, dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia sudah siap untuk berangkat bahkan satu jam sebelum waktunya. Mungkin dia hanya terlalu gugup?

"Hhhhh, arrasseo. Kalau begitu, hati-hati di jalan Hyung!" ucap Kyungsoo paham. Mengangguk mengiyakan, Luhan pun berjalan keluar dari rumahnya menuju kafe tempatnya janjian dengan Sehun.

Tring

Suara itu berbunyi saat Luhan masuk ke dalam kafe.

"Selamat datang!" ucap salah satu pelayan sambil membungkukkan badannya. "Oh? Luhan Sunbae!" seru pelayan tersebut saat melihat kalau ternyata Luhan yang datang.

"Annyeong Chen-ah!" Luhan tersenyum ramah dan berjalan ke meja langganannya. "Sunbae sendirian saja?" tanya Chen bingung. "Sehun dimana?" tanyanya lagi.

"Eum. Sebenarnya aku sedang menunggunya," jawab Luhan seadanya. "Owh. Arrasseo! Mau pesan sekarang, Sunbae?" tanya Chen lagi.

"Berapa kali aku bilang untuk berhenti memanggilku Sunbae, Chen-ah! Panggil aku Hyung!" omel Luhan.

"Hehehehehe. Mianhae, Sun— ah, maksudku, Hyung! Habisnya aku terbiasa memanggilmu dengan sebutan 'Sunbae'." Chen terkekeh. "Kalau begitu, apa kau ingin memesan sekarang, Hyung? Atau mau menunggu Sehun datang?" Chen mengulang pertanyaannya.

"Aku rasa, aku akan meminum 'Milk Tea' sambil menunggu Sehun," jawab Luhan. "Arrasseo. Tunggu sebentar, ne!" Luhan mengangguk.

Luhan meraih ponsel di saku celananya untuk melihat jam. Pukul 06:15 pm. Berarti masih 45 menit lagi. Hhhhhh. Tidak bisa kah waktu berjalan lebih cepat? Pikirnya. Dia mengutak-atik ponselnya bosan dan tanpa sengaja dia men-dial panggilan cepat nomor 1. Dia menelfon Sehun.

'Omoooo! Eottokhae! Apa yang harus aku lakukan? Aiiisssh! Tangan pabbo!' paniknya saat menyadari kecerobohannya. Kalau dia meneruskannya sampai Sehun mengangkat, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Tapi, kalau memutuskan sambungan telepon, nanti Sehun akan berfikir yang tidak-tidak. 'Aigoooo! Kau benar-benar jenius, Luhan!' rutuknya dalam hati.

Belum selesai dia berdebat dengan kedua pilihannya, seseorang di seberang sana menjawab panggilan Luhan, membuat mata Luhan terbelalak sempurna. 'Oke, Luhan! Sebaiknya kau katakan saja yang sebenarnya. Bilang saja kalau kau tak sengaja memencet nomernya. Ya! Bilang begitu saja!' putusnya mendekatkan ponselnya ke telinganya.

"Sehun—"

"Luhan Hyung? Ada apa?" ucapannya terputus saat seseorang di seberang sana menyapanya. Suara yang lumayan familiar di telinganya. Tapi itu bukan suara Sehun. itu suara—

"J-Jongin?" tanyanya ragu. Apa dia salah sambung? Luhan menjauhkan ponselnya untuk melihat nomor yang dipanggilnya. Tidak! Itu nomor Sehun. Nama 'Sehunnie' jelas terpampang di layar ponselnya saat ini. Lalu, mengapa Jongin bisa menjawab ponsel Sehun? Luhan menelan ludahnya berat. Apa itu berarti,,,?

"Bukankah ini ponsel Sehun? Mengapa bisa ada di tanganmu?" tanya Luhan menutupi rasa gugupnya.

Jongin terkekeh di seberang sana sebelum menjawab. "Tentu saja karena Sehun sedang bersamaku!" jawabnya enteng membuat kuping Luhan panas. Sehun ada di sana? Tapi—

"Kalau Sehun sedang bersamamu, mengapa bukan dia yang menjawab panggilanku?" tanya Luhan lagi. "Mungkin," Jongin menggantungkan kalimatnya, membuat Luhan geram. "Karena dia tidak ingin mengangkatnya. Dia langsung pergi saat mengetahui kalau kau yang menelfonnya!"

Luhan mengeratkan genggamannya pada ponselnya. "Dan mengapa dia melakukannya?" tanyanya lagi.

Lagi, Luhan bisa mendengar suara tawa di seberang sana. Tawa meremehkan dari Jongin untuknya. "Mungkin karena dia ingin membiarkanku untuk mengangkatnya," jawabnya. "Untuk apa dia menginginkan itu?"

"Karena dia tidak tega padamu, Hyung! Karena dia ingin mengatakan kalau dia ingin kembali padaku tapi terlalu kasihan padamu kalau harus mengatakannya langsung!"

Luhan menutup matanya yang mulai terasa panas. Tidak mungkin. Sehun tidak mungkin melakukannya kan? "Aku tidak percaya!" tukas Luhan. "Aku tidak percaya kalau bukan Sehun yang mengatakannya padaku!"

"Tch! Terserah padamu, Hyung! Yang jelas, saat ini Sehun menolak untuk bicara denganmu. Tapi kalau kau bersikeras ingin bicara dengannya, kau bisa mencoba untuk menghubunginya nanti," ujar Jongin. Dan sebelum dia sempat menjawabnya, Jongin kembali bersuara. "Atau, aku akan membujuknya untuk menghubungimu nanti. Bagaimanapun, dia tidak boleh begitu tidak sopannya kan pada HYUNG nya sendiri, kan?!" ucapnya memberi penekanan pada kata HYUNG kemudian memutus sambungan telepon.

Luhan menatap ponselnya nanar dan mengedipkan matanya yang mulai berair. Apakah Sehun benar-benar melakukan ini padanya? Apakah ini jawaban dari Sehun? Kalau memang benar, ini terlalu kejam untuknya. Bukan karena dia tidak memilih Luhan. Tapi caranya menyampaikannya yang kejam. Mengapa dia tidak mengatakannya langsung padanya? Luhan tidak mungkin menolak keputusan Sehun. Kebahagiaan Sehun. Jadi, mengapa dia harus mengetahuinya dengan cara seperti ini?

"—han Hyung! Luhan Hyung!" suara cempreng Chen yang memanggil namanya dengan sedikit mengguncangkan bahunya menarik Luhan dari lamunannya. "Kau tidak apa-apa? Kau melamun, Hyung! Apa ada masalah?" tanyanya khawatir.

"N-ne? Aaah, a-aku. N-ne! Tentu saja aku tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu!" jawab Luhan sambil memberikan senyuman terbaik yang bisa diberikannya saat itu.

"Syukurlah kalau begitu. Jja! Ini 'Milk tea' nya, Hyung! Selamat menikmati, ne! Tenang saja. Sehun pasti datang sebentar lagi!" ujarnya sebelum kembali untuk melayani pelanggan yang lain.

Luhan menatap punggung Chen yang berlalu dari hadapannya. Chen benar! Sehun pasti akan segera datang. Ini bahkan masih belum jam 7. Jadi Sehun berhak untuk berada dimanapun yang dia mau sekarang. Ya! Sehun yang dikenalnya tidak mungkin seperti ini. Walaupun hanya untuk mengatakan kalau dia memilih Jongin, Sehun pasti akan datang.

Dan dengan itu, dengan keyakinan terakhir yang dimilikinya, Luhan memutuskan untuk tidak pulang dan tetap menunggu Sehun di sana. Sesuai dengan janjinya. Dia akan mempertaruhkan kepercayaan terakhir yang dimilikinya untuk Sehun. Sekali lagi, dia akan mempercayai Sehun.

Dan Luhan pun menunggu dan menunggu. Meskipun dia mulai gusar saat Sehun tak kunjung datang. Meski tangannya mulai menggenggam erat kado kecil yang dia harap tidak diberikannya untuk Sehun saat 3 menit sebelum jam 7, dan Sehun belum juga muncul. Meskipun dia melanggar ucapannya sendiri dan tetap berada di sana meskipun jarum panjang sudah melewati angka 12. Luhan masih menunggu. Masih mempertaruhkan sisa kepercayaan yang dimilikinya. Sampai 25 menit kemudian Luhan menyerah.

Luhan berjalan pelan ke arah kasir untuk membayar pesanannya. Sebelum keluar, dia menghampiri Chen yang berdiri di samping pintu. Mengatakan sesuatu padanya dan memberikan, lebih tepatnya menitipkan, kado kecil yang sebelumnya tergeletak manis di dalam sweaternya pada Chen. Kemudian berjalan keluar dari kafe dengan perasaan sakit dan kecewa yang membuncah yang tak hanya terasa di dadanya, tapi juga di sekujur tubuhnya.

30 menit sudah berlalu dari waktu yang seharusnya, dan Sehun belum datang. Aniya! Sehun bukannya belum datang. Tapi dia memang tidak datang, batinnya. Luhan tersenyum miris menatap apartemen Sehun yang dilewatinya kemudian mempercepat langkahnya. Dia ingin segera pulang. Ingin segera tidur di kasur empuknya, walaupun dia tidak tahu entah dia bisa tidur atau tidak. Yang jelas, Luhan merasa sangat lelah saat ini. Bahkan Luhan tidak menangis.

Tidak ada air mata yang mengalir di pipi merahnya. Entah karena terlalu lelah dengan semua yang terjadi. Entah karena kekecewaan yang terlalu besar. Entah karena rasa sakit yang sangat dalam. Atau memang karena air mata itu sudah kering sebab dia terus mengurasnya selama beberapa hari terakhir, hingga tidak ada lagi yang tersisa untuk malam ini. Yang jelas, air mata itu bahkan seolah enggan untuk keluar.

Luhan terus berjalan dengan tatapan nanar. Dia bisa merasakan kalau matanya mulai berair, tapi hanya sebatas itu. Sesekali, dia menoleh ke belakang. Siapa tahu Sehun datang saat dia baru saja pergi dan sedang berlari ke arahnya. Namun sampai dia tiba di depan rumahnya, Sehun tetap tidak ada. Luhan menghela nafasnya sebelum membuka pintu rumahnya. Sepertinya, kali ini dia benar-benar harus menyerah.

"Aku pulang!" ucapnya lemah setelah menutup kembali pintu rumahnya.

Baekhyun dan Kyungsoo langsung mengalihkan pandangannya dari televisi saat mendengar suara lemah Luhan. OH NO! Not again! Pikir mereka. Namun itu terjadi, Luhan kembali pulang dengan wajah yang sarat akan kekecewaan. Yang membedakan hanya satu, wajah manis itu tidak dibasahi oleh air mata. Wajah manis itu hanya terlihat lelah. Sangat lelah.

"Hyung! Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun hati-hati. Namun Luhan tidak menjawab. Seolah dia tidak menyadari kehadiran Baekhyun dan Kyungsoo di sana. Seolah dia tidak melihat tatapan khawatir yang diberikan oleh keduanya. Luhan terus berjalan lurus ke kamarnya tanpa satu suara pun. Baru saat dia akan membuka pintu kamarnya, Luhan mengeluarkan suaranya dengan sangat pelan, yang bahkan BaekSoo sendiri hampir tidak mendengarnya.

"Mianhae, aku baik-baik saja. Aku hanya terlalu lelah saat ini!"

Blamm

Dan pintu itu tertutup dan terkunci dengan suara 'klik' yang jelas terdengar di tengah kesunyian yang tercipta. Malam itu, untuk pertama kalinya Luhan mengunci pintu kamarnya.

Luhan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur nyamannya begitu dia masuk ke kamarnya. Menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya, meletakkan satu tangannya di atas keningnya, kemudian menutup matanya perlahan.

"Aku tidak perduli kalau Sehun masih mengaharapkan Jongin kembali. Aku tidak perduli kalaupun aku hanya menjadi pelarian dari Jongin. Aku tidak perduli kalaupun Sehunnie bersamaku hanya sampai Jongin kembali. Aku tidak perduli kalaupun jika Jongin datang kembali, Sehunnie akan kembali bersamanya dan meninggalkanku,"

Jadi, inikah akhir kisah cintanya? Pada akhirnya, Sehun memang masih mengharapkan Jongin kembali. Pada akhirnya, dia tetap hanya sebuah pelarian bagi Sehun. Pada akhirnya, Sehun hanya bertahan dengannya sampai Jongin kembali. Dan pada akhirnya, Sehun kembali pada Jongin dan meninggalkannya. Luhan menghadap ke samping dan meraih gulingnya. Guling yang nyaris tidak pernah disentuhnya semenjak dia memiliki 'Bambi'. Dia kembali tersenyum miris sebelum dunia mimpi menyambutnya.

Beberapa saat kemudian Luhan kembali terbangun. Saat samar-samar telinganya menangkap suara bel yang dibunyikan berkali-kali yang disusul oleh suara gaduh dari depan rumahnya. Kamarnya memang paling dekat dari ruang tamu, makanya dia bisa mendengar keributan itu dengan jelas. Suara-suara itu terdengar sangat familiar di telinganya. Bahkan dia yakin sekali kalau salah satu suara itu adalah suara orang yang telah mengambil dan menghancurkan hatinya.

'Sehun?' pikir Luhan sebelum berjalan ke arah pintu kamarnya.

~O.O~

"Ahjussie! Bisa tolong lebih cepat!"

Itu adalah kali ke-5 Sehun meminta -meneriaki- hal yang sama pada supir taksi yang sedang ditumpanginya. Pak supir tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya pelan dan berusaha untuk mempercepat laju taksinya, meskipun bisa dibilang sia-sia. Yaaah, Seoul selalu memilih untuk macet di saat orang-orang sedang sangat terburu-buru.

Sehun kembali melihat jam di ponselnya. 18:45. Dia masih punya 15 menit lagi. Namun jika dia bertahan di dalam taksi yang terjebak di antara banyaknya kendaraan yang memenuhi jalanan kota Seoul ini, dia tidak tahu kapan bisa tiba di sana. Haruskah dia berlari kesana? Bukannya tidak bisa, tapi kalau berlari, dia akan membutuhkan lebih banyak waktu.

Sehun kembali menimbang-nimbang. Entah dia memilih untuk tetap di dalam taksi, atau dia berlari ke kafe, dia akan tetap terlambat. Tapi jika dia berlari, mungkin Luhan akan sedikit memaklumi dan mau memaafkan keterlambatannya kan? Terlambat pun, mungkin hanya sepuluh menit. Meskipun Luhan berkata tidak ada kata terlambat, tapi Sehun tahu Luhan. Dia pasti masih ada di sana.

And he did it. Dia keluar dari taksi setelah menyerahkan beberapa lembar won kepada sang supir kemudian berlari secepat yang dia bisa menuju kafe.

Sehun akhirnya tiba di kafe 25 menit kemudian dan langsung masuk ke dalam. Nafasnya masih terengah-engah karena berlari sejauh itu. Tapi dia tidak perduli. Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe mencari Luhan. Namun NIHIL. Luhan tidak ada di sana.

Luhan sudah pulang? Tapi dia baru terlambat sekitar 10 menit saja. Apa Luhan benar-benar tidak mentoleransi keterlambatannya kali ini?

"Oh! SEHUN-AH!" Dia baru saja akan keluar saat Chen memanggil dan menghamprinya. "Aiiisshhh! Kenapa kau baru datang? Luhan Hyung sudah menunggumu lama. Dia baru saja pulang sekitar 10 menit yang lalu!" ujar Chen. "Dia terlihat kacau!" lanjutnya lagi.

10 menit yang lalu? Berarti Luhan benar-benar tidak menerima kata 'terlambat'?

"10 menit?" tanya Sehun memastikan. "Eum! Dia keluar tepat jam 07:30 pm tadi, dan sekarang pukul 07:40 pm. Berarti ya 10 menit yang lalu!" jawabnya membuat kening Sehun berkerut. Dia lalu menatap horor jam dinding yang ada di kafe.

07:40? Bagaimana bisa? Jam di ponselnya menunjukkan kalau sekarang masih pukul 07:10! Mengapa bisa begini? Berarti dia tidak telat 10 menit melainkan 40 menit?

"Arrasseo! Kalau begitu aku akan ke rumahnya saja!" jawab Sehun dan berbalik namun langsung dihentikan oleh Chen. "Luhan Hyung menitipkan ini untukmu sebelum dia pergi tadi." Chen menyerahkan kado kecil yang dititipkan oleh Luhan beberapa saat yang lalu.

Sehun menerima bungkusan mungil tersebut dan mengernyitkan keningnya. Karena penasaran, dia langsung membukanya untuk melihat isinya.

DEG

Manik mata Sehun langsung membelalak sempurna saat mengetahui isi dari bungkusan mungil tersebut. Bahkan Chen juga menatap benda itu tak percaya. Luhan Hyung memberikan itu untuk Sehun?

Srett

Sebuah memo kecil terjatuh saat Sehun mengambil 'hadiah'nya. Sebuah memo yang tidak kalah mengagetkan dari benda yang ada di tangannya. Sebuah memo yang menegaskan arti dari benda mungil pemberian Luhan.

Sehun-ah! Saengil Chuka Hamnida! Hyung akan selalu menyayangimu!

Your beloved Hyung,

Luhan :)

Sehun menggenggam erat kedua benda di tangannya dan segera berlari menuju rumah Luhan. ANDWAE! Dia tidak menginginkan hal ini. Dia tidak mau hubungannya berakhir seperti ini. Tidak setelah dia benar-benar menyadari kemana sebenarnya hatinya berlabuh. Tidak saat dia ingin memulai awal yang baru dengan Luhan. Tidak setelah dia berlari sejauh itu untuk menggapai Luhan. Tidak sekarang. Tidak selamanya. Dan Sehun pun mempercepat larinya.

Ting Tong Ting Tong Ting Tong

Sehun langsung memencet bel berkali-kali begitu tiba di rumah Luhan. Tidak perduli kalau BaekSoo akan -kembali- memarahinya. Dia sudah siap untuk dimarahi. Asalkan dia bisa bertemu dan berbicara dengan Luhan. Asalkan dia bisa menjelaskan semuanya pada Luhan.

Ting Tong Ting Tong Ting Tong

CKLEKK

"Aigoo! Mengapa tidak sab— Sehun?" seru Kyungsoo saat melihat kedatangan Sehun. "Hyung! Aku harus bertemu dengan Luhan sekarang. Please!" pintanya memelas pada Kyungsoo. "Kau bisa memarahiku nanti Hyung. Tapi sekarang aku benar-benar harus berbicara dan mejelaskan semuanya pada Luhan!" pintanya lagi.

"Sehun-ah. Luhan Hyung—"

"Luhan Hyung mengunci dirinya di kamarnya. Dia bahkan tidak mau berbicara dengan kami. Apa yang membuatmu berfikir kalau dia mau menemuimu?" ucap Baekhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Kyungsoo. "Seriousely Oh Sehun! Kali ini apalagi yang kau lakukan?!" tanya Baekhyun. Namun kali ini dia tidak meneriaki Sehun. Dia menyerah untuk berteriak pada Sehun.

"Hyung! Aku—"

"Pulanglah, Oh Sehun! biarkan Luhan Hyung isirahat. Kau bisa kembali lagi besok!" ucap Baekhyun lagi. Dan sebelum Sehun sempat menjawabnya, pintu itu tertutup rapat.

"Andwae! Hyung! Aku ingin bicara dengan Luhan! Aku harus menjelaskan semuanya padanya! Dia salah paham, Hyung. Hyung jebal! Buka pintunya dan biarkan aku bertemu dengan Luhan!" teriak Sehun sambil menggedor-gedor pintu tak bersalah di depannya.

BaekSoo memutuskan untuk membiarkan Sehun berteriak di sana dan kembali ke ruang tamu. Namun mereka langsung dikejutkan oleh sosok Luhan yang berdiri di depan pintu kamarnya dan menatap ke arah pintu.

"Kau ingin bertemu dan berbicara dengannya, Hyung?" tanya Baekhyun hati-hati sambil mengusap punggung Luhan. Luhan hanya menggeleng lemah sebagai balasan. "Aniyo. Aku masih sangat lelah," ucapnya hendak kembali masuk ke kamarnya. Namun langkahnya langsung terhenti saat Sehun kembali berteriak di luar sana. Masih diiringi dengan suara tangannya yang berbenturan dengan daun pintu.

"Hyung! Jebal! Biarkan aku bicara dengan Luhan! Aku tidak akan pergi sebelum berbicara dengannya. Hyung! Tolong buka pintunya, Hyung!" Bahkan Baekhyun kasihan mendengar teriakan putus asa dari Sehun.

"Sebaiknya kau temui dia, Hyung. Walau hanya sebantar!" ucap Kyungsoo bijak. Kali ini, Luhan menganggukkan kepalanya dan berjalan untuk membukakan pintu.

"Hyung! Aku—" CKLEKK

Kalimat Sehun terputus begitu saja saat melihat siapa yang membuka pintu. Di depannya, Luhan berdiri dengan wajah kusutnya dan menatapnya datar. Luhan memang terlihat sangat lelah. "Luhan-ah! Kau ha—"

"Pulanglah! Sebelum tetangga berdatangan karena keributan yang kau buat. Sebelum mereka memanggil polisi karena kau sudah mengusik ketenangan mereka." Luhan memotong kalimat Sehun.

"Tapi kau harus mendengarkan penjelasanku dulu, Lu! Semua ini—"

"Aku lelah, Sehun-ah! Sangat lelah. Apa kau tidak kasihan melihatku? Aku hanya ingin istirahat. Kali ini saja. Biarkan aku istirahat. Kali ini saja, lakukan apa yang aku pinta." Sehun terdiam. Ini kali kedua Luhan menolaknya.

"Hhhhhhh. Pulanglah. Kau bisa menjelaskannya besok!" Blamm

Dan -lagi- sebelum Sehun sempat mengeluarkan suaranya, pintu itu kembali tertutup di hadapannya. "Hyung!" lirih Sehun sebelum akhirnya meninggalkan rumah Luhan. Melakukan apa yang Luhan pinta. Dia langsung terduduk lemas di atas sofa begitu tiba di apartemennya. Menyandarkan punggungnya dan menekuk lututnya. Menatap benda mungil pemberian Luhan di tangannya.

Sebuah gantungan kunci berbentuk sepatu mungil.

Apakah kali ini hubungannya dengan Luhan benar-benar berakhir?

"Hyung!" lirihnya lagi bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh dari matanya. Dan Sehun pun menangis.

~O.O~

Paginya, Luhan terbangun dengan mata yang hampir menyerupai panda. Bagaimana tidak jika dia terus menangis semalam? Begitu dia meminta Sehun untuk pulang dan menutup pintu, Luhan langsung ambruk dengan air mata yang mulai membasahi wajah manisnya. Dan begitu setetes air mata itu jatuh, maka air mata itu seolah tidak bisa berhenti.

Luhan menatap pantulan wajahnya di cermin. Sedikit menutup mata pandanya dengan make-up, yang diajarkan Baekhyun, dan merapikan penampilannya. Matanya lalu tertuju pada kalung dengan inisial 'H' yang melingkar manis di lehernya. Luhan mendesah pelan dan mengangkat tangannya untuk melepaskan kalung tersebut. Dia sudah tidak berhak untuk memakainya.

"Hyung?" ucap BaekSoo kaget begitu melihatnya keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi. Bahkan Luhan tidak terlihat kalau habis menangis hebat semalam. "Kau akan berangkat kuliah?" tanya Baekhyun.

"Eum. Aku rasa, aku sudah terlalu sering membolos," jawabnya enteng dengan seutas senyum di wajahnya.

"Apa kau baik-baik saja Hyung? Aku bisa membuatkan surat izin untukmu. Jadi istirahatlah!" ucap Kyungsoo prihatin. "Aniyo!" tolak Luhan. "Aku sudah cukup istirahat dan sekarang aku sudah baik-baik saja. Kajja kita berangkat! Aku tidak mau kita terlambat!" ajaknya lalu berjalan pergi.

Dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu dan membalikkan badannya. "Aku hanya ingin minta satu hal dari kalian!" ucapnya serius. BaekSoo mengangguk. "Begitu kita melangkahkan kaki keluar dari rumah nanti, maka kalian harus melupakan apa yang terjadi semalam. Bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa. Padaku, juga pada Sehun. kalian bisa melakukannya?"

BaekSoo menatapnya bingung. Mereka terlihat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu namun akhirnya hanya mengangguk setuju. Luhan pun tersenyum puas dengan jawaban kedua dongsaengnya dan kembali membalikkan badannya. Membuka pintu dan berjalan menuju kampusnya. Menyambut hari baru yang akan mewarnai hidupnya. Hari barunya tanpa seorang Oh Sehun.

~O.O~

Luhan sedang berkutat dengan bukunya di dalam perpustakaan saat tiba-tiba saja Sehun datang menghampirinya. Dia tersenyum tipis pada Sehun dan kembali membaca bukunya. Membiarkan Sehun menatapnya bingung.

Apa Luhan baru saja tersenyum ke arahnya? Apa itu berarti Luhan sudah memaafkannya?

"Mengapa kau berdiri di situ Sehun-ah? Duduklah. Kau bisa mengambil buku di rak jika ingin membaca sesuatu," ucap Luhan tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.

"Aku kemari bukan untuk membaca buku, Lu! Aku—"

"Hyung!" potong Luhan cepat. "Kau harus membiasakan dirimu untuk memanggilku 'Hyung' mulai sekarang, Sehun-ah!" ucapnya menahan perasaan sakit yang melintas di dadanya.

"Shireo! Sampai kapanpun, aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan itu!" tolak Sehun.

"Geurae? Kalau begitu, aku juga tidak akan mendengar apapun yang ingin kau katakan saat ini!" jawab Luhan. "Arrasseo arrasseo! Aku akan memanggilmu 'Hyung'."

"Baiklah!" Luhan menatap jam ponselnya. "Kau punya waktu 5 menit untuk bicara sebelum kelasku dimulai."

5 menit? Oke! Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali kan?

"Ehem!" Sehun berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. "Mianhae, Hyung. Aku—"

"Skip that part! Kau tahu kalau aku sudah memaafkanmu, Sehun-ah. Kau juga tidak mempunyai banyak waktu, karena 1 menitmu baru saja berlalu!"

Sehun mendesah pelan. "Arrasseo!" ucapnya. Dan cerita itu pun mengalir. Sehun menceritakan semuanya. Tentang pertemuannya dengan Jongin. Tentang apa yang dikatakannya pada Jongin. Tentang jam di ponselnya yang entah bagaimana caranya bisa terlambat 30 menit. Semuanya. Tidak ada yang terlewatkan. Dan Luhan hanya mendengarkannya. Terbesit rasa senang dan lega saat mengetahui kalau ternyata Sehun memilihnya. Namun kekecewaannya pada Sehun lebih besar dari semua perasaan yang dirasakannya saat ini.

"5 menitmu sudah habis, dan aku harus segera kembali ke kelas sekarang," ucap Luhan saat Sehun selesai dengan penjelasannya. Membuat Sehun menatapnya tak percaya. Hanya itu reaksi Luhan? Bukankah seharusnya Luhan memeluknya dan kembali padanya setelah mendengar semuanya?

Hhhhh. Luhan mendesah pelan. Dia tahu arti tatapan itu. "Aku sudah memaafkanmu Sehun-ah. Jauh sebelum kau meminta maaf padaku. Kau tahu sendiri kalau aku tidak mungkin bisa marah padamu untuk waktu yang lama. Tapi terlepas dari semua itu, kita sudah mempunyai kesepakatan. Kau terlambat. Tidak hanya 5 atau 10 menit, tapi 40 menit. Disengaja atau tidak, tapi itu yang terjadi!" tutur Luhan sambil merapikan bukunya.

"Maaf, tapi kelasku akan dimulai beberapa menit lagi. Tidak usah terlalu dipikirkan, Sehun-ah! Apapun yang terjadi, kau tetap akan selalu menjadi dongsaeng yang paling aku sayangi!" ucapnya seraya mengacak rambut Sehun pelan kemudian berlalu pergi dari sana.

'Tapi aku tidak ingin kembali menjadi dongsaengmu, Hyung!' lirih Sehun menatap punggung Luhan yang semakin mengecil dalam pandangannya. Dia sudah memutuskannya. Walalupun Luhan menolaknya, dia tidak akan menyerah.

Dan itulah yang dilakukan oleh Sehun beberapa hari terakhir. Menelfon, mengirim pesan, mencuri-curi kesempatan untuk bisara dengan Luhan. Memintanya kembali padanya. Walau Luhan tetap menolaknya, Sehun tidak pernah menyerah. Dia akan mendapatkan Luhan kembali.

Pagi ini Sehun terus mengikuti Luhan kemanapun dia pergi. Menekan rasa sakit di dada kirinya saat melihat Luhan di kantin, bersama dengan keempat dongsaeng anehnya dan pengawal pribadi (read: Kris) di sampingnya. Mengepalkan tangannya saat rasa sakit itu semakin terasa begitu matanya menangkap senyum manis yang disunggingkan oleh Luhan, seolah dia tidak sedih sama sekali. Seolah dia tidak sedih sama sekali. Seolah hubungannya dengan Sehun tidak pernah ada.

Seharusnya dia yang berada di samping Luhan saat ini, pikirnya. Sehun hanya bisa menatap sosok Luhan dari kejauhan. Menunggu kesempatan yang tepat untuk bisa kembali berbicara berdua dengan Luhan.

~O.O~

Luhan baru saja akan keluar dari kamar mandi saat tiba-tiba Sehun mendorongnya untuk kembali masuk ke dalam. Menatapnya dalam dan mengunci pergerakannya. Luhan tahu apa yang diingankan Sehun sebenarnya, namun dia berpura-pura tidak tahu.

"Sehun-ah! Wae Geurae? Apa kau ada masalah?" tanya Luhan.

"Luhan-ah! Sebenarnya apa yang kau inginkan? Bukankah aku sudah memilihmu? Bukankah aku sudah meminta maaf? Bukankah kau bilang kalau kau sudah memaafkanku?" ucap Sehun frustasi.

"Hyung! Kau harus menambahkan kata itu dalam setiap panggilanmu, Sehun-ah. Dan tentu saja aku sudah memaafkanmu!" jawab Luhan. Berusaha cukup sabar menghadapi Sehun.

"Lalu mengapa kau masih seperti ini? Kalau memang kau sudah memaafkanku, mengapa kita tidak bisa kembali seperti dulu?"

"Karena semuanya tidak sesimpel itu, Oh Sehun! Bukankah aku sudah mengatakannya! Aku memaafkanmu. Namun apa yang sudah terjadi tidak bisa dirubah!" Luhan mulai kehilangan kesabarannya.

"Hyung! Mianhae!"

"See! Kau selalu seperti ini. Mengandalkan maafku dalam setiap permasalahan kita. Berhentilah meminta maaf padaku, Sehun-ah! Berhentilah meminta maaf jika kau tidak benar-benar menyesali apa yang kau lakukan!"

"Tapi aku benar-benar menyesal, Hyung!"

"Aniyo. Pada kenyataannya, kau tidak pernah menyesal, Sehun-ah. Kau meminta maaf padaku di hari sebelumnya, tapi kemudian kau melakukannya lagi keesokan harinya. Jika kau benar-benar menyesal, kau tidak akan melakukannya. Meminta maaf berkali-kali untuk alasan yang sama. Jongin!" Sehun terdiam.

"Jika kau meminta maaf karena menyesali perbuatanmu, maka jangan melakukan kesalahan! Daripada meminta maaf padaku, tidak pernahkah terbesit dipikiranmu untuk berhenti melakukan sesuatu yang kemudian menuntutmu untuk meminta maaf padaku sebelum kau benar-benar melakukannya?" tanya Luhan.

"Jika dengan kau bertemu dengan Jongin, kau akan meminta maaf padaku, maka jangan temui Jongin! Jika kau akan menyesal karena keterlambatanmu, maka jangan datang terlambat! Kau bisa mengatakan pada Jongin kalau kau tidak bisa menemuinya, Sehun-ah! Dengan kau tidak datang pun, dia akan tahu apa jawabanmu. Atau kau bisa mengatakan padaku terlebih dahulu sebelumnya. Tapi kau tidak melakukannya, Sehun-ah. Kau hanya melakukan apa yang menurutmu benar tanpa pernah benar-benar memikirkan apa yang akan aku rasakan!" Luhan menarik nafasnya dalam.

"Sekarang katakan padaku! Jika suatu hari aku berkata padamu kalau Kris memintaku menjadi kekasihnya, apa yang akan kau berikan padaku sebagai jawabannya?" tanya Luhan. "Tentu saja aku akan memintamu untuk menolaknya, Hyung! Kau adalah kekasihku!" jawab Sehun pelan.

"Exactly! Lalu apa yang kau pikir aku rasakan saat itu? Saat kau berkata kalau Jongin memintamu kembali padanya? Saat kau berkata kalau kau meragukan perasaanmu sendiri?" Luhan kembali menghela nafasnya.

"Pada kenyataannya, kau tidak pernah benar-benar menghargaiku, Sehun-ah! Kau selalu menganggap remeh semua maaf yang aku berikan selama ini. Dan aku lelah. Lelah untuk memaafkanmu. Lelah untuk rasa sakit dan kecewa yang aku terima. Lelah karena semua yang terjadi. Aku menyerah, Sehun-ah!" Luhan menundukkan wajahnya.

"Tentu saja aku berterima kasih karena kau telah memilihku. Tapi aku tidak yakin kita bisa kembali seperi dulu. Mungkin sejak awal, hubungan ini memang salah. Kau terlalu muda untuk bisa mengerti dan memahami apa yang sebenarnya aku rasakan di balik semua senyuman yang aku tunjukkan. Sekarang semuanya sudah berakhir, Sehun-ah. Kau juga tidak perlu memaksakan dirimu untuk memahamiku. Mungkin memang hubungan Hyung-Dongsaeng lebih cocok untuk kita. Setidaknya, saat itu kita tidak saling menyakiti satu sama lain." Luhan benar-benar menekan air mata yang siap keluar saat itu. Dia harus kuat. Setidaknya di depan Sehun.

"Hyung! Tidak bisakah kau mempercayaiku dan memberiku kesempatan sekali lagi? Kali ini aku benar-benar menyesal, Hyung!" pinta Sehun. Namun Luhan tidak bergeming.

"I believe you ONCE, Sehun-ah! Tapi kau menghancurkan kepercayaanku dan bahkan aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa menyatukannya kembali. Dan kesempatan? Selama ini, kau selalu memilikinya, Sehun-ah. Aku selalu membuka kesempatan itu untukmu. Kau lah yang tidak pernah menyadarinya dan selalu menyia-nyiakannya!" jawab Luhan dengan suara yang mulai bergetar.

"Mianhae, Sehun-ah!" ucapnya kemudian melepaskan dirinya dari kurungan Sehun dan berjalan menuju pintu.

"Hyung!" Panggilan itu menghentikan langkah lemahnya. Luhan menunggu apa yang akan dikatakan Sehun. "I thought, you said that you wouldn't leave me, Hyung!" Dan kalimat itu membuatnya kembali membalikkan badannya. Kesabarannya benar-benar terkuras habis.

"DON'T YOU DARE SAYING THAT I LEFT YOU OH SEHUN!" ucapnya emosi. "Siapa yang meninggalkan siapa sebenarnya, hah? Aku tidak pernah sekalipun meninggalkanmu, Sehun! Karena sejak awal, KAU lah yang meninggalkanku! Saat kau melupakanku dan membiarkanku menunggumu berjam-jam malam itu, KAU MENINGGALKANKU! Tapi aku tetap di sana menunggumu kembali padaku. Lalu saat kau memilih untuk menghabiskan waktu luangmu bersama Jongin, KAU MENINGGALKANKU! Dan aku masih di sana. KAU MENINGGALKANKU LAGI, saat aku lari dari apartemenmu waktu melihatmu yang nyaris berciuman dengan Jongin malam itu dan kau sama sekali tidak mengejarku! Dan lagi-lagi aku menerimamu kembali. Kemudian KAU KEMBALI MENINGGALKANKU, saat kau berkata kalau kau meragukan perasaanmu! Namun aku masih bersabar dan mencoba untuk mempercayaimu. Dan saat kau dengan segala pertimbanganmu memutuskan untuk menemui Jongin terlebih dahulu dan berakhir dengan keterlambatanmu pada janji kita, saat itu lah KAU BENAR-BENAR MENINGGALKANKU! Dan aku sudah terlalu lelah, Sehun-ah! Aku menyerah untuk menunggu dan mempercayaimu."

Tangan Luhan terkepal saat mengucapkan itu semua. Rasanya, semua uneg-uneg yang tersimpan di dalam dadanya menguar begitu saja.

"Apa yang kau harapkan untuk aku lakukan saat kau berulang kali meninggalkanku, Sehun-ah?" Suara Luhan kembali terdengar lembut. "The least thing I could do when you keep leaving me and pushing me away is letting you go! Aku melepasmu. Dengan begitu, kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku lagi. Dengan begitu, aku juga tidak akan pernah merasa ditinggalkan lagi olehmu!" Luhan menghirup nafas dalam-dalam dan menatap lurus pada mata Sehun.

"I didn't leave you, Sehun-ah! But you DID!"

Dan dengan itu, Luhan kembali membalikkan badannya. Membuka pintu kamar mandi setenang mungkin. Seolah-olah dia tidak merasa sakit dengan apa yang baru saja terjadi. Meninggalkan Sehun dengan air mata yang mulai menggenang di kedua matanya sejak Luhan mengatakan itu semua.

Brukk

Sehun terduduk di atas dinginnya lantai saat pintu tertutup sempurna. Menatap nanar tempat dimana Luhan berdiri sebelumnya. "Hyung! Mianhae. Jeongmal mianhae!" lirihnya bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh dari matanya. Dan Sehun pun kembali menangis.

Sehun tahu kalau kali ini dia benar-benar mengacaukan segalanya. Dia tahu kalau kali ini Luhan benar-benar serius dengan kata-katanya. Dia tahu kalau hubungan mereka benar-benar berakhir sekarang. Rasa sakit di dadanya menegaskan semuanya. Sehun tahu itu. Yang Sehun tidak tahu, rasa sakit yang bersarang di dada Luhan akibat semua kesalahan yang dilakukannya jauh lebih besar dari rasa sakit yang bersarang di dadanya saat itu. Yang dia tidak tahu, dia bukan satu-satunya yang menangis saat itu. Yang dia tidak tahu, pertahanan Luhan juga runtuh begitu dia menutup pintu. Yang dia tidak tahu, Luhan juga menangis di luar sana.

"Hyung! Luhan Hyung andwae! Jangan pergi. Jebal!" ucapnya perih. Tapi Luhan tidak ada di sana untuk mendengar lirihannya. Sama sepertinya yang tidak ada saat Luhan menangis perih karenanya.

~O.O~

END

.

.

.

.

.

.

.

Tapi bohong :P

TeBeCe

A/N:

Ada yang tahu mengapa ChenHun kaget karena gantungan kunci dari Luhan? Well, di Korea sana, ada mitos kalau kita gak boleh ngasih sepatu sebagai hadiah buat pasangan kita. Karena itu melambangkan PERPISAHAN. Dan karena bungkusan yang isinya sepatu beneran itu gede banget n gak muat di sakunya Luhan, makanya Liyya ganti dengan gantungan kunci berbentuk sepatu #plakk -_-

Fiuuuuhhhhhhh! #elapkeringat

Chap ini benar-benar menguras tenaga tau gak? #gaknanya -_- Sengaja Liyya panjangin n update lebih cepat, soalnya next chap nya baru muncul mungkin beberapa hari setelah lebaran, hehehehe.

So, karena ada tulisan TeBeCe, berarti ini bakalan hepi ending :D Tapi kalian harus bersabar yaaaaa :) Well, Luhan meledak, dan Sehun sudah terkena ledakan(?) nya. Kita liat aja gimana nasib mereka di-chap depan.

Oke! Karena ini chapter udah panjang bangeeeettt, Liyya g mau cuap-cuap terlalu banyak. Cuma mau ngucapin Met Lebaran N Mohon Maaf Lahir batin MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN buat yang merayakannya yaaaa :D Maaf kalau Liyya ada salah-salah kata selama ini :)

Liyya ucapin BIG THANKS to eonnie, saeng, n chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow

Balasan Review:

YANG PUNYA AKUN,

sari2min | dian deer | ChickenKID | destyrahmasari sofianingsih | Oh SeHan | RamdaniHunhan | HunHan Baby | Nurfadillah | uswatun hasanah | RirinSekarini | Lee MingKyu | ajib4ff | mitahunhan | chyshinji0204 | PandaPanda Taoris | 82NineNine | Novey | asroyasrii | junmakyu | Amortentia Chan | Uchiha Tachi'4'Sora | chocotaro | Xi Ri Rin | RZHH 261220 | Choi Min Gi | ChoiHyoSoo | finkykye | sholaniadinara | WireMomo | fangirl-shipper | dabel17 | jtr97 | IstriLUHAN EXO | ferinaref | Nevada Adhara | XiaLu BlackPearl |

Liyya bales di PM yaaa :D Soalnya kalo dibales di sini, ntar jadinya kepanjangan ffnya ^_^

lili: aigooooo, kepo sih kepo chingu, tapi kenapa mata DO yang jadi korbannya o.O

Makasih udah ngereview^^

HunHanShip: omoooo! Gomawo udah bilang ffnya Liyya bagus. Gomawo juga udah suka sama ffnya Liyya :D Setuju banget deeeeh, walaupun gak tega, tapi emang wajahnya Luhan ntu unyu-unyu minta disiksa(?) gitu emang . Eomma Appa nya Sehun kan emang udah nerima keadaan anaknya chingu :D Ini udah lanjut, moga gak mengecewakan :)

Makasih udah ngereview^^

Hunhanship/Name hunhan: Kyaaaa . Mianhae, HunHan belom bisa sweet2an kayak dulu lagi :( Semoga HunHan kuat dan tabah menjalaninya ya :'( gomawo udah setia nunggu 'The One' :D

Makasih udah ngereview^^

luluhannie: Wkwkwkwkwk . Kan tujuan TBC emang itu, biar readers penasaran ;) Sehun udah cukup menderita belom tuuuh? Udah Liyya suruh lari-lari kesana kemari, tapi malah ditolak mentah-menta sama Lulu -_-

Makasih udah ngereview^^

lena99:Mianhae udah ngerusak mood bahagia kamu dengan kedatangan si Jongin :( Waduuuuuh, permintaannya serem banget deeek . Eonnie masih sayang sama Jongin :) Mending Luhan ama Kris sih emang, lah tapi kan judulnya(?) HunHan :D

Makasih udah ngereview^^

sha na wu:Tenang ajaaa, gak jadi sad End kok :D Liyya udah rundingan sama Luhan kemaren :)

Makasih udah ngereview^^

Im lulu:Weiiitttsss! Tebakannya tepat bangeeeeettt . Jempol Jongin deh buat kamu, hehehehehe. Ne udah update, semoga tambah greget ya :D

Makasih udah ngereview^^

dearluhan:Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir #ngutip kata2nya PatKai -_- Untung aja ini cuma ff ya, kalo enggak, haduuuh, gak tau deh gimana nasib wajah kece nya Jongin .

Makasih udah ngereview^^

Hunhani:Iya noooh. Jongin perannya dari awal nyebelin terus -_-

Makasih udah ngereview^^

Syaliaa:Ehem. Udah tau kan apa yang dilakukan si Jongin? o.O Aiiiih, Liyya juga mau mah kalo tabok Jongin pake bibir . Ceritanya Hepi End kok :D Tenang aja, hehehehehe.

Makasih udah ngereview^^

xihan zhang:Aiiih, Liyya telat ngasih taunya yaa, hehehehehe. Iya, yang datang ntu mamih mertua . Kan TBC ntu biar readers penasaran :D Kai gak jahat kok, dia cuma dibutakan cinta #plakk -_- Wkwkwkwkwkwk, mianhae, kaya'nya KrAy nya gak bisa dikabulkan deh :(

Makasih udah ngereview^^

deerhannie:Harus hepi ending? Oke siiiip, kali ini Eon beneran janji bakal bikin hepi end :D Lah, emang Jonginnya mau dikasih jatah apa deeek? #kepo

Makasih udah ngereview^^

HaHaCe:wkwkwkwkwk . Enggak koook, Liyya cuma becanda aja chap2 kemaren. Pengen liat antusiasme(?) readers, maunya hepi apa end, gitu :D Dari awal buat emang udah punya hepi end kok :) Gomawo udah suka n selalu nunggu 'The One' :D

Makasih udah ngereview^^

ariadna:Liyya juga pengen punya mertua model gitu :D Yaaah, kan emang perannya dia di sini kan buat ganggu HunHan #poorKkamjong -_- Lah, Kyungsoo kan lagi jadi istri sementaranya Suho Appa .

Makasih udah ngereview^^

DiraLeeXiOh: Kekekeke. Balas komen ntu pekerjaan wajib loh buat eonnie, bahkan kadang seharusnya update sore jadi ditunda tengah malam gegara balesan review nya belom kelar . #malahcurhat #plakk -_- Wkwkwkwkwk, tebakannya nyasar jauh banget deeek :D Udah tau kan si Kkamjong mau ngapain? Yaaah, emang itu perannya, mau gimana lagi o.O #ditendangKkamjong -_- Entah kenapa, Eon suka banget bikin perasaan readers campur aduk, habis senang, galoh lagi, trus senang lagi sebentar sebelum kemudian kembali galoh, hehehehe #nyengirkuda .

Makasih udah ngereview^^

HyunRa: Fiuuuh, syukurlah kalau gak GATOT. Jujur, Liyya ngiranya itu bakal garing kriukkriuk kayak kerupuk . Rencana kemaren pengen bikin sad end di sini, trus ada sequel, tapi setelah dipikir ulang, gak jadi deh. Akhirnya memutuskan untuk tetep hepi ending :D

Makasih udah ngereview^^

lele:Kyaaaa! Gomawo udah bilang keren :D Ini udah lanjut, moga masih keren :) Udah tau kan itu Jongin sengaja apa enggak :D

Makasih udah ngereview^^

Hyorim16: Iya deeek, ini Hepi ending kok :D Sehun udah gak lemot, tapi kayaknya dia terlambat menyadari kelemotannya :( Noh Jongin udah macem-macem, bisa langsung dicipok deeeh #dilemparpanci .

Makasih udah ngereview^^

Little Deer:Annyeoooong ^_^ Syukurlah kalau gak mengecewakan :D

Oh, dialog itu, maksudnya: Thehun kan nanya Luhan mana? Nah, si Kyungie bilang, seharusnya kan kamu manggilnya Luhan Hyung, tapi ya udahlah,

Gimana dengan penjelasan singkatnya? Mudah-mudahan jadi ngeh ya :D ato malah tambah membingungkan? o.O Ini konflik terakhir kok deeek, artinya setelah konflik ini berakhir, Hunhan bakal hepili eper apter deh . Iya deek, eon lagi projek ff baru KrisHan sama BaekHan. Tapi yang BaekHan bukan romance. Itu cerita family kaya' 'Saranghae, Nae Appa!' :D

Makasih udah ngereview^^

ki-sl:Kenapaaaa? Tanyakan pada rumput yang bergoyang #plakk -_- Jiaaaah, modus banget tuh nangisnya dipelukan naga . Ini konflik terakhir kok, tenang aja :D

Makasih udah ngereview^^

Sekali lagi Liyya ucapin makasih banget buat yang udar Read n Review #bow

Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi? Jangan takut untuk mengkritik, menyuarakan pendapat, dan bahkan menghina.

So,, see U next chapter?

#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^