By: 0312_luLuEXOticS
Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kris, Others
Pairing: HunHan, ninja!ChanBaek n SuDo
Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort
Rate: T
Lenght: 22 of ?
Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje
A/N: Hai haaaaiiiii #tebarAngpao
Mumpung masih suasana Lebaran, Liyya mau ngucapin lagi neh, MINAL AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YAAAAAA :D Maafin Liyya kalo ada salah-salah kata, kalo udah bikin biasnya jadi antagonis *lirikKkamjong* n menjebalkan *lirikSehun* n mengenaskan *lirikbiassendiri aka Luhan* n para cameo jarang muncul *lirikChanBaekSuDoKris*
.
HAPPY READING^^
.
~O.O~
Hari-hari setelah 'toilet insident' dimana Luhan meninggalkannya, atau seperti yang Luhan katakan 'melepasnya', merupakan hari-hari terburuk sepanjang sejarah hidup Sehun. Tentu saja Sehun tidak menyerah saat itu. Dia meminta, membujuk, memohon agar Luhan mau kembali padanya. Setiap hari menghampirinya, mendatanginya di perpustakaan, di rumahnya, bahkan di kantin jika Kris tidak di sana. Tidak perduli Baekhyun yang menatapnya malas. Tidak perduli tatapan prihatin dari Kyungsoo dan Suho. Dan jelas tidak memperdulikan Chanyeol yang menatapnya kasihan.
Tapi Luhan tidak bergeming sama sekali. Sama seperti Sehun yang tidak perduli dengan sekitarnya, Luhan juga tidak perduli dengan semua permintaan dan permohonan Sehun agar dia kembali padanya. Luhan juga tetap kekeuh pada pendiriannya. Dia tidak ingin menerima Sehun kembali. Tidak ingin jatuh di lubang yang sama lagi, entah untuk yang keberapa kalinya.
Jika ditolak Luhan sudah sangat buruk dan menyakitkan, itu belum seberapa. The worst part is when your lover dosn't even look at you the same way you look at him anymore. Yang lebih menyakitkan adalah saat Luhan bahkan tidak menganggap serius semua permintaan Sehun. Yang paling menyakitkan adalah saat Luhan hanya tersenyum dan terkadang tertawa kecil menanggapi semua permohonannya sambil mengacak rambutnya sayang, seakan semua yang diucapkan Sehun adalah sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu. Yang lebih menyesakkan adalah saat Luhan bersikap seolah mereka tidak pernah memiliki hubungan khusus. Seolah mereka tidak pernah pacaran. Seolah Jongin tidak pernah hadir dalam kehidupan mereka. Seolah Sehun adalah Sehun yang sama yang memanggilnya Hyung setahun yang lalu. Sehun yang sama yang tidak pernah menyakitinya.
Luhan tidak pernah menolaknya saat Sehun datang menghampirinya. Tidak pernah mengabaikannya saat Sehun berbicara padanya. Namun Luhan juga tidak pernah benar-benar menerimanya. Dia hanya menerima Sehun yang datang sebagai seorang Dongsaeng. Dia tidak akan merespon apapun yang diucapkan Sehun jika dia tidak memanggilnya dengan sebutan 'Hyung'.
"Itu tidak sopan, Sehun-ah!"
Luhan akan mengatakan itu sambil tersenyum setiap kali Sehun memanggilnya tanpa embel-embel Hyung. Tapi Sehun tidak pernah menyerah. Walaupun Luhan menolaknya seribu kalipun, dia akan tetap kembali pada Luhan. Bahkan jika lututnya harus berdarah sekalipun, dia siap berlutut di depan Luhan agar dia mau kembali padanya. Sehun akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali kepercayaan Luhan.
Namun pada kenyataannya, semua memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Hubungan mereka memang baik-baik saja. Tapi Sehun lelah hanya menjadi seorang Dongsaeng bagi Luhan. Hatinya terasa perih oleh tiap senyuman yang Luhan berikan padanya. Matanya juga sakit tiap kali melihat kedekatan Luhan dengan Kris. Dan lambat laun, Sehun mulai kehilangan kesadarannya.
Tidak! Dia tidak pingsan. Dia hanya kehilangan kesadaran akan apa yang terjadi di sekitarnya. Terlalu stres dengan tugas yang menumpuk. Terlalu lelah mengejar Luhan yang nyatanya semakin jauh darinya. Terlalu lelah dengan semua usahanya yang seakan menguap di udara tanpa hasil.
Sehun bahkan tidak bisa menyebutkan kapan dia bangun tidur dan apa saja yang dilakukannya dalam satu hati. Dia hanya bangun saat alarmnya berbunyi, mandi, sarapan ramen, berangkat kuliah, tugas, pulang kuliah, tugas lagi, makan malam ramen, tugas lagi, kemudian tertidur di studionya. Rutinitas yang sama yang dilakukannya tanpa sadar setelah usaha kesekiannya untuk membujuk Luhan lagi-lagi gagal. Satu-satunya hal yang dilakukannya dengan kesadaran penuh hanya saat dia menatap Luhan dari kejauhan. Menatap Luhan yang tersenyum bahagia -menurutnya- bersama teman-temannya. Dan satu hal lagi yang dilakukannya dengan penuh kesadaran adalah saat dia mengirim pesan selamat pagi -disertai dengan ucapan maaf- dan selamat tidur -yang juga disertai dengan ucapan maaf- untuk Luhan setiap harinya.
Bukan Sehun ingin menyerah untuk mendapatkan Luhan kembali. Dia hanya menahan dirinya. Karena saat dia melihat senyuman bahagia yang terpatri di bibir Luhan, dia tidak bisa bersikap egois dan merusaknya. Dia yang selama ini lebih sering membuat wajah manis itu basah oleh air mata, merasa tidak pantas untuk melakukannya. Mungkin Luhan memang lebih bahagia sekarang, pikirnya. Dan Sehun kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Hidup seperti 'zombie' yang menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya dengan semangkuk ramen yang menemani setiap harinya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai fisik dan batinnya kelelahan dan akhirnya berhenti bekerja. Tapi dia tidak perduli. Dia hanya ingin mengalihkan pikirannya dari Luhan. Karena setiap dia menganggur, Luhan akan seenaknya masuk ke dalam pikirannya. Ironis, karena tempat dia menyepi bersama dengan tugas-tugasnya justru tempat yang di penuhi oleh Luhan.
~O.O~
"Eomma! Apa kita tidak menyimpan obat sakit mata?" tanya Luhan yang baru bangun tidur saat masuk ke dapur. "Aniyo. Sepertinya aku tidak pernah membeli obat mata, Hyung," jawab Kyungsoo yang sedang membuatkan sarapan untuk mereka.
"Hyung! Kau sakit?" tanya Baekhyun khawatir. Luhan tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Aniyo. Hanya saja, mataku perih," jawabnya.
"Benarkah? Tapi tadi malam matamu masih baik-baik saja." Baekhyun mengerutkan keningnya. "Apa kau menangis lagi, Hyung?" tanyanya curiga.
"Aiiissshh. Aniyo! Aku tidak menangis. Aku juga tidak tahu mengapa mataku perih setiap kali aku bangun tidur!" Baekhyun meneliti raut wajah Luhan. Sepertinya Luhan memang tidak berbohong.
"Mungkin karena Hyung sering bergadang! Makanya, berhentilah mengerjakan tugas atau membaca hingga larut malam!" omel Kyungsoo sembari menghidangkan sarapan mereka.
'Tapi hanya itu satu-satunya cara agar aku tidak memikirkan Sehun!' jawab Luhan dalam hati. Tapi dia hanya mengangguk patuh. "Arrasseo, Eomma! Aku tidak akan bergadang sampai larut malam lagi," jawabnya.
Sejak hubungannya dengan Sehun berakhir, Luhan memang sering mengalami insomnia. Bukan insomnia sebenarnya. Dia hanya tidak bisa tidur. Karena setiap dia memejamkan matanya, wajah sedih Sehun selalu muncul dan menghantuinya. Wajah Sehun saat Luhan mengatakan kalau dia melepasnya. Wajah Sehun yang setiap hari datang padanya meminta maaf dan memohon pada Luhan untuk kembali padanya. Setiap dia memejamkan matanya, suara Sehun lirih Sehun yang memanggil namanya akan terdengar jelas di telinganya. Membuat dada krinya berdenyut. Karena itu, Luhan selalu membaca buku atau mengerjakan tugasnya hingga larut malam sampai dia kelelahan dan tertidur.
Tapi Luhan tidak pernah menceritakan itu pada Baekhyun dan Kyungsoo. Dia hanya menyimpannya sendiri dan bersikap seolah dia baik-baik saja di depan keduanya. Menunjukkan senyum tipisnya dan tertawa bersama mereka.
Di depan Sehun pun Luhan bersikap sama. Mencoba sekuat tenaga untuk terlihat baik-baik saja. Menahan sebisa mungkin air mata yang mengancam untuk keluar setiap melihat Sehun memohon padanya. Sehun tidak tahu, betapa Luhan ingin memeluknya setiap kali Sehun datang padanya. Sehun tidak tahu, betapa Luhan ingin menganggukkan kepalanya setiap kali Sehun memintanya untuk kembali padanya. Sehun tidak tahu, betapa Luhan sangat terluka melihat wajah sedih yang ditunjukkan Sehun padanya. Sehun tidak tahu, betapa Luhan ingin melupakan semua yang terjadi dan berkata kalau dia baik-baik saja. Kalau mereka baik-baik saja. Kalau semuanya baik-baik saja.
Sehun tidak pernah tahu itu semua, karena memang Luhan tidak menunjukkannya. Seberapa besar pun keinginan Luhan untuk kembali pada Sehun, kekecewaan yang ditelannya menahannya untuk membalas rengkuhan Sehun. Luhan terlalu takut untuk kembali memulai hubungan itu. Bagaimana kalau Sehun tidak benar-benar menyesal? Bagaimana jika Sehun membuatnya kecewa lagi? Sekarang memang sudah tidak ada Jongin dalam kehidupan mereka. Tapi, bagaimana jika suatu hari nanti Jongin kembali masuk dan Sehun kembali meragukan hatinya? Bagaimana jika Sehun kembali meninggalkannya untuk yang kesekian kalinya?
Luhan menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir semua pikiran buruk yang menghampirinya. Dia sedang berada di depan BaekSoo sekarang, dan dia tidak boleh terlihat sedih dan cemas. Dia harus terlihat baik-baik saja.
"Apa sangat sakit, Hyung? Matamu terlihat merah sekali!" tanya Baekhyun. "Nanti aku akan meminta Chanyeol untuk membelikan obatnya. Di dekat kontrakannya kan ada Apotek," lanjutnya.
"Aniya. Gwaenchanna, Baekhyun-ah! Aku akan membelinya sendiri nanti. Lagi pula tidak begitu sakit kok, hanya terasa perih saat membuka mata waktu aku bangun tidur. Tapi beberapa menit kemudian sudah tidak apa-apa. Sekarang saja sudah tidak terasa sakit," jawab Luhan sambil tersenyum manis.
"Benarkah?" tanya Kyungsoo. "Eum," angguk Luhan. "Kalian sudah mandi?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. BaekSoo mengangguk sebagai jawaban.
"Arrasseo. Kalau begitu aku mandi dulu, ne!" ucapnya kemudian bangun untuk mencuci piring makannya sebelum kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Meninggalkan BaekSoo yang menatapnya simpati.
Usai mandi, Luhan mengambil random baju dari lemarinya untuk dipakai. Pandangan matanya langsung tertuju pada box kecil yang terbuat dari kaca yang disimpannya di sana dan tangan kurusnya terangkat untuk menyentuhnya. Box kecil yang berisi miniatur rumah impiannya. Hadiah pemberian dari Sehun beberapa hari yang lalu. Saat ulang tahunnya.
Saat itu, dia baru saja pulang dari noraebang untuk merayakan ulang tahunnya bersama dengan Kris, ChanBaek, dan SuDo. Ide Baekhyun. Mungkin dia ingin menghibur Luhan. Karena walau bagaimanapun, hari itu adalah hari ulang tahunnya. Ada juga Lay dan Tao yang ikut merayakan bersamanya. Tentu saja Luhan juga mengajak Sehun. Tapi Sehun tidak datang. Luhan tahu. Dia menyadarinya. Sehun akan selalu absen jika dia sedang bersama Kris.
'Terkejut' adalah hal yang wajar ketika dia pulang dan menemukan paket tanpa nama yang tergeletak manis di depan pintu rumahnya. Paket dengan hanya namanya yang tertulis di bungkusnya. Paket tanpa sedikitpun petunjuk tentang siapa yang mengirimnya. Tapi begitu paket itu dibuka, Luhan langsung tahu. Rumah itu, mereka merancangnya bersama. Beberapa hari setelah Valentine. Luhan yang mendeskripsikan, Sehun yang menggambar.
Tuhan tahu seberapa susahnya Luhan untuk tidak menangis di depan teman-temannya yang menatapnya bingung saat itu. Tapi dia berhasil. Dengan satu senyuman dan ucapan 'terima kasih' karena telah merayakan ulang tahunnya, Luhan membawa miniatur rumah yang terlihat cantik di dalam box kaca transparant itu ke kamarnya. Meletakkannya di atas meja belajarnya. Menatapnya berjam-jam dengan air mata yang dia sendiri tidak sadar kalau sudah membasahi wajah manisnya.
Tuhan tahu seberapa kuatnya dia menahan keinginannya agar tidak berlari ke apartement Sehun, memeluknya erat, dan melupakan semua yang terjadi. Dan lagi, dia berhasil. Malam itu, Luhan kembali menangis. Dan dengan satu pesan 'Gomawo, Sehun-ah!' yang dikirimnya untuk Sehun, Luhan pun menyimpan miniatur rumahnya di dalam lemari pakaiannya. Tidak ingin meletakkannya di tempat yang terlihat jelas. Tidak ingin terus menangis karena melihatnya.
"Hyung! Kau sudah siap?" Panggilan Baekhyun dari luar kamar menyadarkan Luhan dari lamunannya. 'Aiiissshh!' rutuknya pelan saat menyadari kalau air matanya kembali mengalir tanpa seizinnya dan menutup pintu lemari dengan sedikit keras.
"Hyung?!" Panggilan itu terdengar lagi, kali ini suara Kyungsoo. Luhan segera menghapus air matanya kasar dan merapikan penampilannya di cermin. "Ne! Sebentar lagi, Kyungsoo ya!" teriaknya kemudian menghapus jejak air mata di pipinya. Dan setelah yakin kalau semuanya terlihat baik-baik saja, Luhan pun berjalan menuju pintu kamarnya dan membukanya.
"Kajja!" ucapnya pada Baekhyun dan Kyungsoo yang sudah menunggunya di ruang tamu.
~O.O~
Luhan mengedarkan pandangannya ke sekeliling perpustakaan. Mencari seseorang yang biasanya akan selalu mendatanginya saat dia sedang membaca buku di sana. Namun sampai kelas selanjutnya hampir dimulai dan Luhan merapikan semua buku-bukunya, orang tersebut tidak juga muncul.
'Mungkin Sehun ke kantin,' pikir Luhan. Tapi bahkan sampai Luhan pulang kuliah, tidak ada Sehun yang menunggunya di gerbang kampus.
Dan besoknya, Luhan pun mengganti jadwal kunjungan perpustakaannya menjadi jadwal makan siang di kantin bersama dengan teman-temannya. Mengabaikan tatapan penuh tanya yang didapatkannya. Luhan hanya ingin melihat Sehun. Namun lagi, Sehun tidak muncul.
'Mungkin Sehun sedang sibuk dengan asistensi,' pikirnya lagi meskipun sedikit ragu.
Namun saat keesokan hari dan beberapa hari berikutnya Sehun tetap tidak muncul, Luhan mulai khawatir. Pikiran-pikiran aneh mulai terbentuk di dalam kepalanya. Namun Luhan segera menepis pikiran aneh itu.
Mungkin Sehun sudah lelah untuk menghadapinya. Mungkin Sehun menyerah untuk membujuknya. Luhan mengedikkan bahunya dan membawa nampan makanannya menuju mejanya. ChanBaek dan SuDo sudah menunggunya di sana.
"Hyung! Kau tidak apa-apa? Kau terlihat tidak sehat, Hyung!" tanya Chanyeol saat Luhan meletakkan makanannya dan duduk di depannya. Pertanyaan yang membuat Baekhyun dan SuDo juga ikut memperhatikannya.
"Chanyeol Hyung benar. Apa terjadi sesuatu?" tanya Kyungsoo. Luhan mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya. "Aniyo. Aku tidak apa-apa. Mengapa ka—"
"Luhan Hyung!"
Ucapan Luhan terhenti saat seseorang memanggilnya. Mereka sontak mengalihkan perhatian mereka pada si pemanggil yang terlihat sedang berlari ke arah mereka.
"Hosh hosh, annyeonghasseyo, Sunbae!" ucapnya dengan sedikit terengah karena habis berlari sambil sedikit membungkukkan badannya sopan pada Luhan dan teman-temannya.
"Chen-ah! Wae geurae? Mengapa berlari? Apa terjadi sesuatu?" tanya Luhan tiba-tiba merasa cemas.
"Hyung! Kau tahu dimana Sehun?" tanya Chen to the point. "Well, aku tahu kalau Hyung dan Sehun sudah tidak ada hubungan khusus lagi, tapi aku tidak tahu harus bertanya kemana, Hyung!" ucap Chen panjang lebar saat menyadari wajah bingung Luhan.
"Tapi, mengapa kau mencari Sehun?" tanya Baekhyun.
"Ah! Itu, teman Sehun kemarin datang ke kafe. Mereka bilang, sudah 2 hari Sehun tidak masuk. Karena mereka kira aku masih tinggal dengan Sehun, makanya mereka bertanya padaku!" jawab Chen.
"Lalu, apa kau tidak mencari ke apartemennya?" tanya Kyungsoo. "Eum, aku sudah kesana, tapi sepertinya tidak ada orang. Ponsel Sehun juga mati."
"Apa mungkin dia pulang ke Busan?" tanya Kyungsoo lagi. "Entahlah, Sunbae. Aku tidak tahu nomor orang tuanya Sehun, karena itu aku mencari Luhan Hyung," jawab Chen kembali mengalihkan perhatiannya pada Luhan yang dari tadi terdiam di tempatnya.
"Hyung!" panggil Chen. Namun Luhan tetap diam. "Hyung!" panggilnya lagi.
"Ne? Ah, arrasseo. Aku akan menelfon Eomma Sehun dan bertanya apakah Sehun ada di sana nanti," ucap Luhan. "Geurae? Baiklah, Hyung. Gomawo!" Chen membungkukkan badannya lagi sebelum meninggalkan kantin.
Setelah Chen pergi, Luhan tidak membuang waktu lagi untuk menghubungi Eomma Sehun.
"Yeoboseyo?" ucap suara di seberang sana. "Ah, Eomma?! Ini Luhan."
"Luhannie? Aigoooo! Anak Eomma. Wae geurae? Apa anak itu membuat masalah lagi?" tanya Nyonya Oh. Dari pertanyaan Nyonya Oh, sepertinya Sehun tidak ada di Busan.
"A-aniyo. Sehun tidak membuat masalah Eomma," jawab Luhan. "Luhan tiba-tiba mengingat Eomma dan ingin menelfon," lanjutnya. "Eomma sehat?" tanyanya basa-basi. Panggilan itu berlangsung selama beberapa menit sebelum akhirnya Nyonya Oh pamit karena sepertinya ada tamu.
Sehun juga tidak ada di Busan. Jadi, dia dimana? Apa terjadi sesuatu pada Sehun? Apa dia baik-baik saja? Itukah alasan dia tidak pernah melihat Sehun belakangan ini? Atau, apakah Sehun benar-benar telah menyerah padanya dan menyusul Jongin ke Jepang? Sehun berasal dari keluarga kaya, jadi tiket ke Jepang bukan hal mahal untuknya.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus melintas dalam benaknya. Dan pertanyaan, atau lebih tepatnya tebakannya, yang terakhir berhasil membuat pikirannya semakin kacau.
"Hyung! Kau tidak ingin mengunjunginya ke apartemen?" tanya Kyungsoo membuyarkan lamunan Luhan. "Tapi Chen bilang, apartemen Sehun sedang kosong," jawab Luhan.
"Karena tidak ada yang menjawab dan membukakan pintu, makanya terlihat seperti kosong, Hyung! Kau kan tahu passwordnya, jadi bisa langsung memastikan. Aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Kyungsoo lagi.
'Nado!' batin Luhan. Tapi apa dia masih berhak untuk masuk begitu saja ke apartemen Sehun? Bagaimana jika Sehun marah dan menganggapnya lancang? Bagaimana jika ke-absen-an Sehun justru karena dia tidak ingin bertemu dengannya? Bukankah kedatangannya hanya akan mengganggu dan membuat Sehun semakin terluka nantinya?
"Hyung, pergilah! Aku tahu kau mengkhawatirkannya," ucap Baekhyun yang entah sejak kapan sudah berada di sebelahnya dan menggenggam erat tangannya. "Tapi bagaimana jika Sehun menghilang karena ingin menghindariku? Bagaimana jika dia justru tidak ingin melihatku?"
"Kau tidak akan tahu jika kau tidak kesana, Hyung!" timpal Suho. "Aku—"
"Jangan sampai kau menyesal karena tidak ke sana, Hyung!"
Ucapan terakhir dari Suho tersebut akhirnya membuatnya seperti ini. Berdiri di depan rumah Sehun, menatap pada bel dan gagang pintu bergantian. Menimbang-nimbang untuk menekan bel atau langsung masuk ke dalam.
Setelah beberapa menit, yang terasa seperti beberapa jam baginya, akhirnya Luhan memutuskan untuk menekan bel. Chen benar, tidak ada yang membukakan pintu. Bahkan setelah beberapa saat dia menunggu, pintu itu tetap tidak terbuka. Luhan mulai merasakannya lagi, kecemasan tanpa sebab yang dirasakannya beberapa hari ini. Dan tanpa menunda lagi, Luhan pun membuka pintu apartemen Sehun.
Ya Tuhan! Betapa Luhan rindu sekali dengan apartemen ini. Apartemen yang tidak pernah lagi dikunjungiya selama hampir 3 minggu. Apartemen yang sempat menjadi rumah kedua baginya. Tempat yang menyimpan banyak memori indah di dalamnya.
Luhan menelan ludahnya kasar sebelum melangkahkan kaki kurusnya ke dalam. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. 'Masih sama,' pikirnya. Hanya saja, kali ini terlihat sedikit berantakan.
"Sehun-ah!" panggilnya. Tak ada jawaban.
"Sehun-ah!" Luhan berjalan ke kamar Sehun, tapi Sehun juga tidak di sana.
"Sehun-ah!" panggilnya lagi. Kali ini berjalan ke dapur dan langsung disambut dengan keadaan dapur yang amat sangat berantakan. Bungkus ramen dimana-mana, piring yang menumpuk di bak cuci piring. Dapur Sehun benar-benar kacau. Tapi sekarang bukan waktunya untuk bersih-bersih. Dia harus mencari Sehun.
Luhan sudah mencari Sehun ke seluruh ruangan yang ada di sana, tapi Sehun tetap tidak ada. Mungkin Sehun memang tidak di sini. Mungkin Sehun memang sedang pergi. Menenangkan dirinya, atau bisa jadi menyusul Jongin ke Jepang. Mungkin. Tapi mengapa Luhan bisa meraakan kalau Sehun ada di rumah?
"Ah! Studio belajar!" ucapnya saat menyadari kalau dia melupakan satu ruangan itu. Luhan memang belum pernah masuk ke sana. Sehun tidak mengizinkannya. Entah apa yang di sembunyikan di dalam sana.
Cklekk
"Sehun—"
Kalimat itu langsung berhenti saat manik mata indahnya melihat ke dalam ruangan. Jika dinding kamar para K-Popers akan dipenuhi dengan poster-poster artis idolanya, dinding studio belajar Sehun hampir dipenuhi dengan foto-foto Luhan. Foto-foto yang dia sendiri tidak pernah tahu kalau dia pernah berpose seperti itu. Foto-foto yang sepertinya Sehun ambil diam-diam tanpa sepengetahuannya. Dan di tengah ruangan, sebuah foto ukuran jumbo yang dibingkai cantik terpajang di sana. Foto selca yang diambilnya bersama Sehun di hari Valentine. Saat Sehun mengatakan cintanya pada Luhan.
Luhan pasti akan melihat foto-foto itu satu persatu agar lebih jelas jika saja dia tidak menyadari seseorang yang tergeletak lemah di tengah ruangan dengan posisi telungkup. Di antara tumpukan kertas gambar dan maket setengah jadi.
"SEHUN-AH!" pekiknya panik dan langsung menghampiri Sehun. Hal pertama yang refleks dilakukan Luhan adalah memegang dahi Sehun. Dia langsung mengerutkan keningnya saat merasakan panas dari dahi itu. Sehun sakit. Demam. Dan badannya panas sekali. Sepertinya dia pingsan. Luhan tidak membuang waktu dan langsung mengangkat tubuh Sehun.
Brukk
Dengan susah payah dan penuh perjuangan, akhirnya Luhan berhasil menggendong Sehun menuju kamarnya dan menidurkannya di atas kasur. Setelah itu Luhan langsung pergi ke dapur dan kembali dengan sebaskom air dan kain untuk mengompres Sehun.
"Sehun-ah! Mengapa bisa begini?" ujarnya lirih sambil mengusap pipi Sehun sayang.
~O.O~
"Eeungghh,"
Beberapa saat kemudian Sehun terbangun saat merasakan sesuatu yang dingin di atas keningnya. Kepalanya terasa sangat berat hingga dia kesulitan untuk melihat sekitar. Kerongkongannya juga terasa sangat sakit saat ini. Lalu dia teringat sesuatu. Bukankah sebelumnya dia berada di studionya? Karena seingatnya, beberapa hari terakhir, di bahkan hampir tidak pernah masuk ke kamarnya sendiri. Dia juga ingat, dia merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk tidak ke kampus. Karena terlalu malas untuk berjalan ke kamar, akhirnya dia tetap bertahan di studionya. Setelah itu, dia hampir tidak mengingat apapun lagi. Lalu, mengapa dia bisa terbaring di atas kasur nyamannya?
"Sehun-ah! Kau sudah sadar?!" pekik Luhan menjawab semua pertanyaan Sehun. Sehun tidak menjawab, hanya memlihat Luhan yang berjalan ke arahnya dengan nampan di tangannya. Luhan kemudian meletakkan nampan tersebut di atas nakas dan duduk di pinggir ranjang di dekat Sehun. Tangannya terulur untuk mengambil kain yang masih berada di atas dahi Sehun dan memeriksa suhu tubuhnya.
"Aiisshh, eottokhae? Suhunya masih sangat panas," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. "Sebaiknya kau makan dulu, Sehun-ah! Agar kau bisa meminum obatmu. Hyung sudah membuatkan bubur," ucapnya.
"Mau disuapi?" tawar Luhan. Sehun masih terdiam. Terlalu kaget dengan kedatangan Luhan. Dia hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban atas tawaran Luhan.
"Baiklah!" Luhan tersenyum manis dan membantu Sehun untuk duduk bersandar. Dia kemudian mengambil mangkuk bubur dari atas nampan dan mulai menyuapi Sehun yang menerima setiap suapan dari Luhan dengan patuh.
Sehun hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Luhan. Dia tidak berkata apa-apa dan hanya menatap wajah Luhan lekat-lekat. Dia bisa melihat kekhawatiran di wajah manis itu. Setitik harapan terbesit di hatinya saat melihat wajah khawatir Luhan.
Luhan mengkhawatirkannya? Luhan datang ke apartemennya karena khawatir? Apa itu berarti Luhan masih mencintainya? Jika dengan cara seperti ini dia bisa menarik perhatian Luhan, maka Sehun rela kalau harus sakit setiap hari.
'Oh Sehun! Kau benar-benar menyedihkan!' batinnya miris.
"Aku melihat banyak bungkus ramen di dapur," ucap Luhan memecah keheningan di antara mereka. "Oh Sehun! Tell me! Kapan terakhir kali kau makan nasi?" tanyanya. Sehun menggelengkan kepalanya dan mengucapkan 'Molla' tanpa suara.
Luhan mendesah pelan. "Pabbo-ya! Karena itu kau jadi sakit seperti ini, Sehun-ah! Kau tidak tahu seberapa khawatirnya aku saat melihatmu tergeletak di ruang belajarmu? Seandainya aku tidak datang bagaimana, eoh?!" omel Luhan.
Sehun masih diam tak besuara. Menikmati wajah khawatir Luhan. Merekamnya di dalam memori ingatannya. Agar saat Luhan melangkahkan kaki keluar dari apartemennya nanti, dia masih bisa mengingatnya. Agar saat Sehun sembuh dan semua kembali seperti hari-hari kemarin, dia masih bisa mengenangnya.
"Aiiissshhh! Mengapa kau diam saja? Apa kau sengaja ingin membuatku khawatir?" omel Luhan lagi.
"Mianhae!" ucap Sehun lirih. Tenggorokannya terasa sakit hanya dengan mengucapkan satu kata tersebut.
Hhhhhhhh. Luhan kembali mendesah pelan dan meletakkan mangkuk bubur yang telah kosong kembali ke atas nampan dan mengambil obat dan air dari sana. "Sudahlah. Sebaiknya sekarang kau minum obat agar bisa istirahat," ucapnya memberikan obat dan air di tangannya pada Sehun yang -lagi-lagi- menerimanya dengan patuh. Sehun meminum obat tersebut tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari Luhan.
"Sekarang istirahatlah. You need that!" titah Luhan kemudian beranjak untuk membawa mangkuk dan gelas tadi kembali ke dapur.
Srett
Grebb
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya di tengah rasa pening yang menderu kepalanya dan linu di seluruh badannya, Sehun menarik Luhan untuk kembali duduk di sampingnya dan langsung memeluk tubuh Luhan erat. Sedikit mengernyitkan keningnya saat menyadari kalau tubuh yang berada di dalam pelukannya saat itu terasa lebih kurus dari saat terakhir dia memeluknya.
"Se-Sehun-ah!"
Deg
Luhan bisa merasakan jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Bahkan sampai sekarangpun, pelukan Sehun masih memiliki efek itu pada jantungnya. Nafas Sehun yang terasa panas di kulitnya sama sekali tidak membantu.
"Gajima. Luhan-ah!" ucapnya dengan nafas berat dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luhan.
Luhan memejamkan matanya erat. Merutuki kupu-kupu di perutnya yang berpesta karena panggilan itu. Menggigit bibir bawahnya kuat, menahan diri untuk tidak membalas pelukan Sehun. Pelukan yang sangat dirindukannya.
"Hyung!" panggil Sehun saat Luhan terdiam. Tiba-tiba teringat ucapan Luhan kalau dia tidak akan merespon Sehun yang memanggil namanya dengan tanpa embel-embel 'Hyung'. Mengira kalau Luhan diam karena itu.
"Luhan Hyung!" panggilnya lagi dengan suara paraunya. "Don't go, please! I'm sorry for leaving you, Hyung. I really am," ucapnya lagi, membuat Luhan tersentak. Bukan karena ucapan itu. Tapi karena dia bisa merasakan lehernya yang basah. Sehun menangis? Karena dirinya?
"Sehun-ah! Ireojima! Kau membuat semuanya semakin sulit untukku!" Luhan berusaha untuk melepas pelukan Sehun. Namun Sehun justru mempererat pelukannya.
"Aniyo!" Sehun menggelengkan kepalanya. "Kau lah yang mempersulit dirimu sendiri, Hyung! Aku tahu kalau perasaan itu masih ada. Kenapa kita tidak bisa memulainya lagi, Hyung? Wae?" Sehun menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat panas, tapi dia tidak perduli.
"Kau tahu jawabannya, Sehun-ah! Kita sudah pernah membicarakan ini," jawab Luhan pelan. "Aku—"
"Jalmothaesseo, Hyung! Aku tahu aku salah. Aku meragukan perasaankku. Aku meninggalkanmu. Membuatmu menangis. Aku benar-benar menyesal, Hyung! Karena itu aku minta maaf, Hyung!"
"Sehun-ah! Aku—"
"Andwae! Jangan ucapkan kata itu lagi, Hyung! Jebal. Aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahanku. Karena itu, aku mohon Hyung. Don't leave me. I beg you!"
Leher Luhan semakin basah karena Sehun yang mulai terisak. Luhan mengulurkan kedua tangannya membalas pelukan Sehun dan mengusap-usap pelan punggungnya. Mencoba untuk menenangkannya. Namun memilih untuk diam dan tidak menjawab Sehun yang terus meminta maaf di sela isakannya. Bohong kalau dia tidak tersentuh sama sekali saat mendengar tangisan Sehun. Namun dia masih belum bisa untuk kembali percaya padanya. Kejadian di masa lalu, membuatnya membangun sebuah dinding tak kasat mata sebagai pelindung hatinya.
Setelah beberapa lama dalam posisi seperti itu, Luhan bisa merasakan kalau nafas Sehun mulai teratur. Tidak ada lagi isakan yang terdengar. Pelukan Sehun pun mulai melonggar. Sehun tertidur. Sepertinya pengaruh obat yang diminumnya mulai bekerja.
Luhan membaringkan tubuh Sehun dengan amat pelan agar tidak membangunkannya, kemudian menarik selimut Sehun hingga dagunya dan kembali mengompres Sehun. Dia lalu ikut membaringkan tubuhnya di samping Sehun. Menghadapnya dengan kepala yang ditumpu pada siku kanannya.
"Mianhae, Sehun-ah! Jeongmal mianhae. Aku membuatmu menangis," lirihnya seraya mengelus sayang pipi Sehun yang masih terasa sangat panas. "Aku mohon, jangan seperti ini lagi. Jangan sakit lagi. Jangan menangis lagi karenaku. Kau harus menjaga dirimu dengan baik, Sehun-ah. Kau harus bahagia."
Luhan mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun. Menatap lekat tiap lekuk wajah tampan mantan kekasihnya itu. Alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung, pipi tirusnya, dagunya yang membentuk huruf 'V' dengan sempurna, sayangnya dia tidak bisa melihat mata tajam Sehun yang menjadi favoritnya. Tatapannya kemudian berhenti pada bibir tipis Sehun yang pernah, dan masih, menjadi candu tersendiri baginya. Perlahan, Luhan semakin mendekatkan wajahnya, menutup matanya, kemudian mengecup bibir itu cukup lama. Hanya menempelkannya saja.
"Mianhae, Sehun-ah! Karena aku masih mencintaimu!"
Luhan kemudian segera turun dari kasur Sehun dan mengambil nampan di atas nakas untuk dibawa kembali ke dapur. "Kau harus cepat sembuh, ne!" ucapnya pelan setelah mencium ujung hidung Sehun dan melangkah keluar dari kamar itu, bersamaan dengan suara bel yang terdengar.
~O.O~
Tiga hari sudah berlalu semenjak Luhan mengunjungi Sehun waktu itu. Dan selama tiga hari ini pula, keadaan Luhan kembali memburuk. Luhan jadi lebih sering melamun. Bayangan saat Sehun menangis sambil memeluknya waktu itu terus menghantui pikirannya.
Apakah dia terlalu jahat? Apakah dia terlalu kejam pada Sehun?
Pertanyaan-pertanyaan sejenis terus berputar di dalam otaknya, dan itu membuatnya tidak tenang. Kalau biasanya dia masih bisa menahan diri untuk tidak melamun dan berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan Dongsaengnya, kali ini dia tidak bisa. Pikiran itu muncul dengan sendirinya dan menarik Luhan dari alam sadarnya.
"Hyung!" panggil Baekhyun. Mereka sedang makan siang di kantin, tapi sedari tadi Luhan sama sekali tidak menyantap makanannya. Hanya memainkannya dengan sendok di tangannya dengan pandangan mata kosong.
"Hyung!" panggilnya lagi.
"Luhan Hyung!" Kali ini Baekhyun mengguncang pelan tubuh Luhan, dan berhasil. Luhan tersadar dari lamunannya. "Eoh? Baekhyung-ah! Wae?" tanyanya.
Baekhyun menghela nafasnya. "Kau membunuh makanan di piringmu, Hyung," ucapnya membuat Luhan menlirik pada strawberry cake yang sudah tidak berbentuk di atas piringnya. "Ah! M-mianhae. Tapi sepertinya aku tidak lapar," jawab Luhan.
"Aku mau ke kamar mandi!" ucapnya kemudian berlalu dengan langkah gontai sebelum ada yang sempat mengeluarkan suara.
Baekhyun ingin sekali mengejar Luhan, namun Chanyeol menahannya. "Mungkin Luhan Hyung sedang ingin sendiri, Baekkie-ah!" ucapnya.
"Tapi ini sudah berhari-hari. Dia selalu berkata kalau dia baik-baik saja, tapi aku tahu itu tidak benar! Pasti sesuatu terjadi di apartemen Sehun." Chanyeol membawa Baekhyun ke dalam pelukannya. Mencoba untuk menenangkan kekasihnya tersebut. "Tapi kita tidak bisa memaksa Luhan Hyung untuk bercerita, chagi-ya. Dari pada terus bertanya mengapa Luhan Hyung jadi seperti ini, bukankah lebih baik kita menghiburnya?" usulnya.
"Menghiburnya? Eottae?"
"Hmmmmm, kita bisa mengajaknya ke Lotte World. Bukankah Luhan Hyung sangat menyukai Lotte World?"
Seketika wajah Baekhyun berubah sedikit lebih cerah saat mendengar ide Chanyeol. Luhan memang sangat menyukai Lotte World. Bagaimana dia bisa lupa? Baekhyun mengangguk setuju dan mencium Chanyeol di bibir, sebagai hadiah atas ide briliantnya, yang tentu saja tidak disia-siakan oleh Chanyeol yang langsung melumat pelan bibir Baekhyun.
Baekhyun lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Suho, Kyungsoo, dan Kris.
SOS untuk Lulu Hyung. Lotte World, pulang kuliah!
Dan mereka pun berangkat menuju Lotte World sore itu setelah Luhan mengangguk setuju dengan wajah seantusias mungkin. Tidak ingin membuat Dongsaengnya kecewa.
Tersenyum puas karena berhasil membujuk Luhan, mereka berjalan memasuki area Lotte World. Tanpa tahu kalau tidak ada ide yang lebih buruk dari pada mengajak Luhan ke sana saat itu. Karena begitu kakinya melangkah masuk dan pandangan matanya mengitari sekelilingnya, semua bayangan Sehun berada di sana.
Luhan berusaha mengatur nafasnya yang terasa mulai sesak saat memori itu berputar di kepalanya. Saat dia menarik tangan Sehun ke sana kemari dan mengunjungi tiap wahana yang ada. Saat mereka istirahat untuk memakan bekal yang Luhan bawa. Saat Sehun membelikannya permen kapas. Saat Sehun memenangkan boneka 'Bambi' yang selalu menjadi teman tidurnya. Dan yang terakhir—
Luhan menatap horor pemandangan yang terpampang nyata di depannya. Entah bagaimana caranya, saat ini mereka sudah mencoba semua wahana yang ada tanpa di sadarinya. Tinggal satu. Bianglala.
Luhan ingin menolak, namun sekali lagi, dia tidak ingin membuat Dongsaengnya kecewa dan semakin khawatir padanya. Karena itu, dia menurut saja saat tangan besar Kris menggenggam tangan mungilnya dan menuntunnya menuju wahana tersebut. Selama antrian, Luhan tidak pernah berhenti berdo'a agar ada keajaiban untuknya. Mungkin dengan wahana itu rusak secara tiba-tiba, atau macet. Namun sampai antrian habis dan Kris kembali menarik tangannya untuk memasuki salah satu bilik, do'a Luhan tidak ada yang dikabulkan.
"Aku bahkan pernah melihat yang lebih indah dari ini Hyung!" - Suara Sehun menggema di telinganya.
"Aniyo,, Aku bisa, tapi Hyung tidak bisa."- Luhan menutup telinganya erat dengan tangannya yang mulai bergetar. Mencoba untuk meredam suara Sehun.
"Kau bahkan terlihat lebih indah lagi saat tersipu seperti itu Hyung!" - Sepertinya usahanya sia-sia. Karena suara itu kembali terdengar.
Luhan menutup matanya erat-erat. Dia mulai merasa kesulitan bernafas. Layaknya kaset rusak, suara Sehun terus terdengar di telinganya, berulang-ulang.
Grebb
Mengira kalau Luhan takut, Kris langsung memeluk Luhan. Namun kemudian dia menyadari kalau Luhan seperti ini bukan karena takut. Ada sesuatu yang lain yang membuatnya seperti ini.
"Luhan-ah! Ssshhh, gwaenchanna!" ucapnya menenangkan sambil mengusap-usap punggung Luhan. Sepertinya berhasil, karena detik berikutnya, Luhan mulai bernafas normal lagi meski tubuhya masih sedikit bergetar. Kris terus memeluk Luhan sampai Bianglala tersebut berhenti.
"Mianhae!" ucap Luhan sebelum mereka keluar dari dalam bilik. Kris hanya tersenyum dan mengacak rambut Luhan kemudian kembali menyatukan tangan mereka dan menuntunnya keluar dari sana. Luhan kembali memasang senyumnya saat melihat BaekSoo.
"Apa kau senang, Hyung?" tanya Baekhyun. "Eum," angguk Luhan. "So. Happy!" Luhan kembali tersenyum. "Jeongmalyeo?" tanya Kyungsoo tak percaya, tapi bukan pada Luhan, melainkan Kris.
Kris menatap Luhan yang juga menatapnya penuh harap kemudian menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Luhan. "Tentu saja. Aku sampai harus memegangnya karena dia terlalu bersemangat," ucapnya membuat BaekSoo tersenyum lega.
Setelah makan malam bersama di restoran yang berada tak jauh dari Lotte World, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. ChanBaekSuDo pulang bersama menggunakan mobil Suho, dan Kris bersama Luhan dengan mobilnya.
"Gomawo," ujar Luhan saat mereka sudah berada di dalam mobil. Kris tidak perlu bertanya untuk apa Luhan berterima kasih padanya dan hanya mengangguk.
"Apa karena Sehun?" tanya Kris. "Bisakah kita tidak membicarakannya?" pinta Luhan. Biasanya Kris akan meng-iya-kan apapun permintaan Luhan, tapi sepertinya tidak kali ini.
"Aniyo. Aku tidak bisa," jawabnya. "Kris-ah!"
"Kalau kau masih sangat mencintainya, kenapa kau tidak kembali saja padanya, Lu!" ucap Kris.
"Bukankah kau yang menyuruhku untuk bersikap tegas pada Sehun? Aku melakukannya. Aku mengambil sikapku!"
Hhhhhh. Kris menghela nafasnya. "Aku menyuruhmu bersikap tegas, Lu. Bukan menyakiti diri sendiri!"
"Aku—"
"Bukankah Sehun sudah meminta maaf berkali-kali? Aku bisa melihat ketulusan di sana. Tidak mungkin kalau kau tidak melihatnya juga!" Luhan tidak menjawab.
"Aku tahu Sehun melakukan kesalahan. But, think about it. Semua itu tidak sepenuhnya kesalahan Sehun! Pria itu, Jongin, dia pasti melakukan sesuatu agar kalian jadi seperti ini!" tutur Kris dengan sabar.
"Aku tahu!" jawab Luhan singkat. "You know? Then why?"
Luhan menarik nafarnya pelan dan menatap lurus ke depan. "Jongin mungkin melakukan sesuatu, Kris. Tapi Sehun yang memegang kendali penuh. Apapun yang Jongin coba lakukan, semua itu tidak akan terjadi jika Sehun tidak membiarkannya."
Luhan beralih menatap Kris. "Ketika Jongin menahan Sehun untuk tidak mengajarku waktu itu, dia tidak akan berhasil jika Sehun tidak membiarkan tangannya ditarik begitu saja olehnya. Jongin juga tidak akan menaruh harapan pada Sehun jika saja dia bisa lebih tegas pada perasaannya dari awal. Jika saja waktu itu Sehun langsung menemuiku setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya pada Jongin dan tidak membuang waktu lagi dengan berbincang dengan Jongin, dia tidak mungkin terlambat. Jongin memang melakukan sesuatu, Kris. Dia melakukan semua yang dia inginkan sebisanya. Tapi Sehunlah yang membuat semua keinginan itu terwujudkan!"
"Luhan-ah!" Kris masih mencoba membujuk Luhan. "Can we stop it here, please!" pinta Luhan. Dia sedang tidak ingin membicarakan Sehun sekarang.
"But—"
"Aku bisa pulang dengan taksi jika kau tidak berniat mengantarku. Aku yakin supir taksi tidak akan mengintrigasiku!" potong Luhan cepat dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Aiiissshhh! Arrasseo! Aku tidak akan menanyakannya lagi." Kris mengacak rambutnya frustasi dan mulai menjalankan mobilnya. Dia tidak tahu kalau Luhan bisa se-keras kepala ini. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang mengeluarkan suara. Hanya sesekali Kris akan melirik pada Luhan yang duduk sedikit membelakanginya. Menyandarkan sisi tubuhnya pada sandaran kursi, masih memandang keluar jendela. Sepertinya Luhan kembali melamun.
"Kita sudah samp—"
Kalimat itu tehenti begitu saja saat dilihatnya kalau Luhan sudah tertidur. Mungkin dia kelelahan, pikirnya. Karena tidak ingin membangunkannya, Kris memutuskan untuk menggendongnya ke dalam. Tubuh Luhan sangat kurus, dia bahkan tidak merasa berat sama sekali. Untungnya dia tidak perlu membunyikan bel, karena Baekhyun sudah terlebih dahulu membukakan pintu. Sepertinya dia mendengar suara mobil Kris.
Saat melihat Luhan yang tertidur di gendongan Kris, Baekhyun tersenyum gemas. Luhan bisa terlihat sangat imut jika sedang tertidur. Namun saat Kris membaringkan Luhan di kasurnya, Baekhyun mengernyitkan keningnya.
Wajah tidur Luhan bukan wajah damai seperti biasanya. Seperti ada yang mengganggu tidurnya. Keningnya berkerut, dan Baekhyun bisa melihat bola mata Luhan yang bergerak tak tenang di balik kelopak matanya. Deru nafasnya juga tidak teratur. Luhan seperti seseorang yang sedang bermimpi buruk.
"Luhan Hyung, mengapa tidur seperti itu? Apa dia bermimpi buruk?" tanya Kyungsoo yang baru saja masuk ke dalam kamar Luhan. Tidak ada yang menjawab, karena jelas tidak ada yang tahu jawabannya. Namun sejurus kemudian, ketiga namja yang terjaga dan sedang menatap Luhan itu kembali mengernyitkan kening mereka saat menyadari satu hal lain. Satu hal yang membuat BaekSoo saling berpandangan.
"Eomma! Apa kita tidak menyimpan obat sakit mata?"
"Aniyo. Hanya saja, mataku perih,"
"Aku tidak menangis. Aku juga tidak tahu mengapa mataku perih setiap kali aku bangun tidur!"
Karena itukah Luhan selalu mengeluh setiap paginya? Baekhyun mendudukkan dirinya di samping Luhan dan menjulurkan tangannya untuk mengusap wajah Hyung kesayangannya itu.
Baekhyun selalu tahu kalau Luhan tidak baik-baik saja. Dia selalu tahu kalau senyum yang diberikannya selama ini hanyalah senyum palsu yang dipaksakannya agar dia dan Kyungsoo tidak khawatir. Dia selalu tahu kalau Luhan masih sangat mencintai Sehun. Tapi dia berpura-pura percaya pada akting Luhan. Berharap dengan begitu, lambat laun Luhan akan benar-benar baik-baik saja. Luhan akan kembali menjadi Luhan yang dulu. Dan dia sedikit merasa senang saat isakan Luhan sudah tidak pernah terdengar lagi. Luhan benar. Dia tidak berbohong. Dia memang tidak pernah menangis lagi. Tapi Baekhyun tidak pernah tahu kalau Luhan menangis dalam tidurnya.
Baekhyun terus mengusap rambut Luhan untuk membuatnya tenang. Namun sepertinya tidak berhasil. Dia tahu mengapa. Dia tahu alasannya. Karena satu-satunya orang yang bisa membuat Luhan tenang hanya Sehun. Seberapapun dia benci untuk mengakuinya, tapi itulah kenyataannya. Terbukti saat Baekhyun meraih boneka 'Bambi' pemberian Sehun dan melingkarkan tangan Luhan pada boneka tersebut, nafas Luhan mulai sedikit teratur. Meskipun keningnya masih berkerut, tapi setidaknya Luhan sudah berhenti menangis.
See? Bahkan hanya sebuah boneka yang diberikn Sehun bisa memberikan efek yang begitu besar pada Luhan.
"Hyung! Mengapa jadi seperti ini?" lirihnya. "Sebegitu besarnya kah kau mencintainya, Hyung? Mengapa kau memendamnya sendiri, Hyung? Mengapa tidak membaginya? Bukankah kita saudara?" Baekhyun bisa merasakan matanya yang memanas karena melihat Luhan yang seperti ini. Dia kemudian menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Kyungsoo saat Kyungsoo berdiri di sampingnya dan memeluknya.
"Kita harus melakukan sesuatu!" ucap Kris tiba-tiba. "Mereka berdua sama-sama bodoh! Saling menyiksa dan menyakiti diri sendiri!" lanjutnya. "Kalian mau membantuku, kan?" tanyanya kemudian yang langsung disambut dengan anggukan antusias dari Kyungsoo.
Baekhyun sendiri masih terlihat ragu. Namun kemudian, dia kembali menoleh pada Luhan yang masih tertidur dan menganggukkan kepalanya setuju. Demi kebahagiaan Luhan, dia akan memberikan satu kesempatan lagi untuk Sehun. Semoga dia melakukan hal yang benar saat menyetujui ajakan Kris tadi.
Dan dengan anggukan dari Baekhyun, Kris mengeluarkan ponselnya, mengetikkan beberapa kata kemudian mengirimnya.
Bisa kita bertemu? Kita perlu bicara!
~O.O~
TeBeCe
A/N:
Annyeoooooong ^_^
Lama tak jumpa, ada yang kangen kah? Ada yang nunggu kah? Ada yang ingat kah? Atau udah pada lupa?
Mianhae, baru bisa post sekarang #bow Sebenernya Liyya mau post chapter ini beberapa hari yang lalu. Tapi Liyya gak enak badan -_-
Mianhae, karena sepertinya chap ini tidak memuaskan, sangat mengecewakan, dan terlalu mendramatisir(?) :(
Mianhae lagi, karena Liyya gak tau mau nyiksa Sehun model gimana. Pengennya dia teriksaaaaaaaaaaaa untuk waktu yang lamaaaaa *ketawaEvil* Tapi liat sendiri kan? Kalo Sehun merana, Luhan jadi lebih merana lagi noooh #nunjukLuhanyanglaginangisdalamtidur :'(
Hmmm, kayaknya A/N kali ini isinya permintaan maaf aja deh. Kebawa suasana Lebaran kali ya O.O Untuk selanjutnya, kita lihat aja Thehun bakal ngapain untuk memenangkan hati Luhan kembali ;)
Liyya ucapin BIG THANKS to eonnie, saeng, n chingu sekalian yang sudah berkenan mampir, ngelirik, membaca apalagi yang berkenan nge-review, nge-fav, n nge-follow ff gaje nya Liyya. Jeongmal2, neomu2 gomawo, #deepbow
Balasan Review:
YANG PUNYA AKUN,
sari2min | Nevada Adhara | dian deerChickenKID | destyrahmasari sofianingsihXiaLu BlackPearlHunHan BabyNurfadillahRirinSekariniLee MingKyuajib4ffmitahunhan | chyshinji0204 | PandaPanda Taoris | 82NineNine | NiedhaEunHaeKyuMin-Shipper | Novey | asroyasrii | junmakyu | Amortentia Chan | Uchiha Tachi'4'Sorachocotaro | Xi Ri Rin | RZHH 261220 | ChoiHyoSoo | finkykye | sholaniadinara | fangirl-shipper | jtr97 | ferinaref | TYSLAulia | fahrikpop | Queen DheVils49 | Oh Dhan Mi | Dear Boys | verastef | MelisaCitraL | HyunRa | zahradwhd | ArinaKey88 | EXOST Panda |
Liyya bales di PM yaaa :D Soalnya kalo dibales di sini, ntar jadinya kepanjangan ffnya ^_^
Name hunhan: Hmmmm, sabar ya :D HunHan segera bersatu kok :) Tinggal selangkah lagi ^_^
Makasih udah ngereview^^
xihan zhang:Huhuhuhu :'( Emang alur cerita yang chingu bayangkan gimana? Hmmm, sorry for make you cry :( Hope you wouldn't cry while reading this chapter :D
Makasih udah ngereview^^
Love sehun:Annyeong deeek ^_^ Welcome to 'The One' ya :D Gomawo udah bilang Daebak . Mian baru bisa update #bow
Makasih udah ngereview^^
WinterHeaven: wkwkwkwkwk . Untung gak jantungan beneran yaaa #plakk -_- Tenang aja dek, pasti happily ever after kok :D
Makasih udah ngereview^^
lili: Huweeeeeeeee :'( Mianhae udah menambah tingkat kegalauan(?) kamu :( Semoga di chap ini udah gak galau .
Makasih udah ngereview^^
nenden yi: Kyaaaaaaaaaaaa . Deskripsinya mantab banget :D Intinya perasaan campur aduk lah ya #hugbalik :D Sekarang udah selesai puasanya, jadi bisa emosi sesuka hati, bisa nangis2 juga :'( Hmmm, kirain reader baru, ternyata udah sering komen yaaa :D Liyya imnida :) Jangan dicubit pipinya, nanti teteh jadi tambah tembem(?) Ini udah lanjut dek, Minal aidin wal faizin juga ya. Mmuuuaaaccchhh #ciyumbalik
Makasih udah ngereview^^
lena99:Uljimaaaaaa :'( Ini udah abis loh jahatnya Jongin #plakk -_- wkwkwkwkwk. HunHan gak bakal berakhir tragis kok :D Eon juga geli sendiri waktu baca mitos itu. menurut mereka, sepatu itu kan buat lari, nah, ntar pacar kita jadi lari dengan sepatu itu, gitu -_- Appuaaahhh :o Chap 30? Hmmm, paling chap 25 udah selesai dek :D
Makasih udah ngereview^^
ariadna:Muehehehehe, Liyya juga baru tahu pas nyari-nyari tentang arti hadiah gitu -_- Chap ini lumayan lama yaaa . SeLu pasti berakhir bahagia kok :D
Makasih udah ngereview^^
Hyorim16: Hiyaaaaaa, jangan benci Jongin #hugJongin :( Luhan belajar dari Eonnie tuh, kursus dulu sebelum ngomong ke Sehun . Wkwkwkwkwk, ternyata banyak yang tertipu sama tulisan END ya? Sebenernya mau END di situ, tapi berhubung udah janji mau bikin HEPPY END, ya gak jadi :D
Makasih udah ngereview^^
Im lulu:Ayo gigit manja(?) Jongin bareng-bareng #ditabokKyungsoo -_- Wkwkwkwkwk, Liyya udah mendengarkan curahan hati semua HunHan shipper kok, makanya Liyya memutuskan untuk bikin Hepi Ending :D Liyya kan HunHan Shipper juga .
Makasih udah ngereview^^
Misterius:Wakakakakakak. Anda tertipu #plakk #ditimpukreaders :( Gwaenchanna, eon janji bakal Hepi end kok :D
Makasih udah ngereview^^
DiraLeeXiOh: Jangan sedih lagi yaaaa, HunHan segera bahagia kok, janji deh :D Emang gitu deeek, kalo Seme yang tersiksa ntu rasanya NYESEK gimanaaaa gitu, beda sama kalo Uke yang tersiksa :/ Yaaaah, kasian emang, Sehun serasa gak punya sapa-sapa di sana. cuma punya Luhan and the geng sama Chen2 :( Pengennya bikin Sehun hepi di chap ini, eh gak taunya dia malah semakin mengenaskan :'( Minal Aidin juga deeek :D Itu ada HunHan moment nyempil dikit -_- Eon udah ngirim Chen buat Sehun :D Balasan untuk Kkamjong? Dibayangin sendiri aja yaaaa .
Makasih udah ngereview^^
Shizuluhan:Kyaaaaaaaaaaa! Chingu nya Liyya kembali . Sehun itu menuruni kepribadian Appa nya. Romantis tapi lemoooottt -_- Iya doooonk, dari panggilannya aja udah beda. Jongin kan kalo manggil 'Bibi', Luhan manggilnya 'Eomma' :D Akhirnya Luhan bisa bener-bener tegas ya, tapi dia malah menyiksa diri sendiri :( Hunhan pasti bersatu kok :D Kyaaaaaaaa, mianhae tulisan END kemaren udah bikin Shock o.O wkwkwkwkwk .
Makasih udah ngereview^^
Puu:Huweeeee, kasian Kkamjong disebelin banyak orang #pukpukJongin . Liyya juga cinta kok sama Jongin :) Kaya'nya apapun yang terjadi, Luhan tetep teraniyaya deh :'( Sama-sama yaaaa. Gpp meskipun jarang repiu, ada yang baca aja Liyya udah seneng banget kok ^_^ Gomawo udah setia nunggu 'The One' ya,,
Makasih udah ngereview^^
Guest:?
Makasih udah ngereview^^
Little Deer:Annyeoooong ^_^
Uljima deeeeek :'( Eon juga nangis loh waktu nulis. Miris banget :'( Jongin antagonis? Soalnya emang Eon maunya gitu. Sekali antagonis ya antagonis aja sampek akhir :D Sebenernya bukan antagonis, cuma sedikit egois aja dek :( Chap ini sampek ending nanti, Jongin udah bener-bener gak ada kok :D Maaf lahir batin juga yaaa :D Reviewnya gak kepanjangan kok, kurang panjang malah #plakk #Saengietepar .
Makasih udah ngereview^^
ThegorgeousLu: Balasan repiu nya Liyya rangkum di sini ya :D
Alhamdulillah ya kalau menurut chingu part yang 'KDRT' itu menyenangkan :D Liyya kira bakal garing kriuk-kriuk, beneran deh -_- Orang tuanya Sehun emang sayang banget sama XiaoLu. Semacam jatuh cinta(?) pada pandangan pertama gitu :D
Jongin mengusili HunHan di saat terakhir. Dia kan gak tau kalo luhan bakal meledak gitu :( Maafkan Jongin yaaa,, Hmmm, mianhae, penderitaan Sehunnya gak Liyya jabarkan panjang lebar, soalnya kalo Sehun menderita, Luhan lebih menderita lagi :( Chap depan, Sehun bakal mulai Romance Mode On deh buat memperjuangkan Luhan kembali :D
Masalah mitos itu, katanya kalo di Korea sana sih begitu chingu. Kalo di indonesia mah enggak :D Emang Chingu asalnya dari mana sebelum ke Indonesia?
Makasih udah ngereview^^
hunhan-v: Gomawo udah bilang seru? Kemarin, endingnya cuma pura-pura doank kok :D Liyya lagi dalam Usil MODE ON .
Makasih udah ngereview^^
wulanOdult: Wkwkwkwkwk . Si Odult emang sakit, tapi cuma demam doank -_- N sepertinya hati Luhan tidak tergoyahkan(?) :(
Makasih udah ngereview^^
Hunhanie:Wkwkwkwkwk, ternyata si END menipu banyak orang . Pasti Hepi End kok :D
Makasih udah ngereview^^
BabyByunie:Wakkksss . 3 hari marathon, chingu? Sehun masih labil gak jelas gitu -_- Luhan yang dibutakan oleh cinta -_- Haduuuuh, emang kurang sebenernya, tapi ditolak Luhan mentah-mentah itu udah efek paling jera loh buat Sehun :(
Naaaaaah, itu tujuannya tulisan END di sana, soalnya beberapa ada yang minta Sad End. Jadi kalo vote buat Sad End, bisa nganggep itu endingnya. Kalo mau yang Hepi End, mari kita lanjuuuutttt . Kkamjong kan emang orang baik sebenernya, cuma dia sedikit egois aja karena rasa sayangnya ke Sehun :D
Liyya juga paling favorit part nya BaekSoo yang itu #ketawanista :D Sehun's parents, indeed, are the best parents ever!
Makasih udah ngereview^^
yaumil lulu:Iya deeek :D Ini udah lanjut. Mian kalo lelet #bow Gomawo udah bilang bagus yaaa ^_^
Makasih udah ngereview^^
ki-sl:Sama-sama yaaaaaaaaaa :D Liyya juga Maaf Lahir Batin neeeh :D Salamnya nanti Liyya sampaikan deh .
Chap kemaren menguras emosi? Kalo chap ini gimana? o.O Kenapa jadi HunHan yang sengsara? Karena ini ff nya HunHan. Masa' Liyya mau nyeritain penderitaannya Jongin o.O Gomawo udah selalu nunggu 'The One' yaaaa ^_^
Makasih udah ngereview^^
Seperti biasa, boleh minta RnR nya lagi? Jangan takut untuk mengkritik, menyuarakan pendapat, dan bahkan menghina.
So,, see U next chapter?
#Kiss N Hug readers satu-satu ^_^
