The One

By: 0312_luLuEXOticS

Cast: Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Kim Joon Myun, Kris, Others

Pairing: HunHan, ninja!ChanBaek n SuDo

Genre: BL, Fluff, Romance, Hurt&Comfort

Rate: T

Lenght: 23 of ?

Warning: Boys Love, typo(s) bertebaran, abal, gaje

A/N: Annyeong^^
Sebelum mulai cerita, Liyya cuma mau minta maaf karena sepertinya chap kemaren banyak yang kecewa :( Semoga chap ini gak tambah kecewa ya :)

Yang masalah dialog sama narasi, Liyya berusaha nyeimbangin antara keduanya, chap kemaren emang 70% narasi, soalnya emang isinya deskripsi dari perasaan masing-masing main cast kita :D

.

HAPPY READING^^

.

~O.O~

Sedikit kembali ke waktu Luhan meninggalkan apartemen Sehun

"Eeungghh,"

Sehun melenguh pelan saat bias-bias cahaya yang berasal dari lampu kamarnya itu memaksa untuk menembus kelopak matanya yang tertutup dan mengusik tidurnya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum membuka matanya dengan sempurna. Kepalanya masih terasa sangat pening. Tangannya terulur untuk memijat keningnya namun langsung terhenti saat jari-jarinya bersentuhan dengan sesuatu yang dingin. Sehun mengernyitkan keningnya menatap kain yang telah berpindah ke tangannya.

'Mengapa kain ini ada di atas keningnya?'

Sehun terduduk seketika saat samar-samar dia mengingat kejadian beberapa saat lalu dan langsung merutuki dirinya karena kepalanya terasa seperti diputar dan diremas karenanya. Dan memori itu terputar kembali. Memori saat Luhan menyuapinya. Wajah Luhan yang sarat akan kekhawatiran saat melihat keadaanya. Saat dia dengan sangat menyedihkannya menangis tergugu di pelukan Luhan.

Lalu dimana Luhan sekarang? Apa dia hanya bermimpi? Tapi mengapa itu terasa sangat nyata dan menyakitkan? Sehun bahkan masih bisa merasakan hangatnya pelukan Luhan saat dia menangis tersedu tadi. Sehun tersenyum miris. Mungkin itu memang hanya mimpi. Tidak mungkin Luhan datang ke apartemennya. Untuk apa dia mengkhawatirkan Sehun saat dia sudah bisa bahagia di sana.

Sehun ingin percaya kalau itu bukan mimpi. Namun, kenyataan bahwa saat itu dia juga bisa merasakan bibir Luhan yang menempel di bibirnya cukup lama justru membuktikan kalau dia memang bermimpi. Luhan tidak mungkin menciumnya. Saat mereka masih pacaran dulu saja, Luhan nyaris tidak pernah melakukannya. Jadi dia tidak punya alasan untuk melakukannya saat mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.

Cklekk

Sehun terpaku saat melihat seseorang membuka pintu kamarnya. Untuk sesaat, dia masih berharap kalau apa yang baru saja diingatnya itu bukan sekedar mimpi. Kalau orang yang berdiri di pintu kamarnya saat ini memang Luhan. Namun harapannya menguar saat melihat sosok yang saat ini melangkah masuk dan berganti dengan kerutan di keningnya. Bingung dan sedikit kecewa.

"Yaaaaahhh! Mengapa kau menatapku seperti itu, eoh?" cibir Chen saat melihat wajah kecewa temannya itu. "Kau kecewa karena aku bukan Luhan Hyung?"

"A-aniyo. Hanya saja, bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemen ku?" tanya Sehun bingung.

"Tentu saja karena Luhan Hyung yang membukakan pintunya!" jawab Chen meletakkan baki yang dibawanya di atas nakas.

"Luhan? Dia datang kemari?"

"Tentu saja! Kau pikir siapa yang menemukanmu tergeletak tak berdaya di studiomu?"

Sehun mengerutkan keningnya dan menatap kain yang masih berada di tangannya. Berarti dia tidak bermimpi. Luhan benar-benar kemari. Dia mengkhawatirkan Sehun. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Namun senyum itu segera memudar.

"Makanlah! Luhan Hyung membuatnya untukmu!" titah Chen. "Aigoooo! Mengapa kau jadi seperti ini, Sehun-ah? Kau seharusnya memperjuangkan Luhan Hyung! Bukannya malah tenggelam dalam kesedihan dan menjadi sakit seperti ini!" omelnya kemudian duduk di tepi ranjang dan menyerahkan semangkuk bubur pada Sehun.

Sehun hanya menerima mangkuk dari Chen dan memakan buburnya dalam diam. "Aku sudah memutuskan. Aku akan berhenti mengejar Luhan!" ujarnya setelah beberapa saat terdiam.

Pletakk

"Owwcchh! Yaaaak! Aku sedang sakit! Mengapa kau malah menganiayaku?!"

"Agar isi dari kepala itu bisa bekerja dengan baik!" jawab Chen acuh. "Mengapa kau ingin berhenti?" tanya nya.

"Karena sepertinya sekarang dia sudah lebih bahagia!"

Chen menepuk pelan jidatnya sendiri saat mendengar jawaban dari Sehun. "Aiiissshh! Benar-benar bodoh!" Chen menggelengkan kepalanya. "Neo! Kau pikir Luhan Hyung bahagia sekarang? Apa panas dari tubuhmu membuat otakmu konslet? Atau matamu yang bermasalah?" tanya nya berapi-api(?). "Oh Sehun! dilihat dari sisi manapun, Luhan Hyung itu tidak sedang bahagia!" tukas nya kemudian.

"Tapi dia selalu tersenyum dan tertawa bersama teman-temannya! Dia bahkan tidak memperdulikanku lagi!" Sehun membela diri.

Pukk

Kali ini Chen menyentil kening Sehun, sedikit lebih pelan. "Aigoooo! Sepertinya matamu benar-benar bermasalah, Oh Sehun! Perlu ku antar ke dokter mata?" ujarnya sarkastik. "Luhan Hyung itu, dia memang tersenyum. Tapi dia tidak benar-benar tersenyum. Bahkan orang rabun pun bisa melihatnya! Senyum Luhan Hyung tidak pernah benar-benar tulus semenjak kalian berpisah. Dan apa tadi kau bilang? Luhan Hyung tidak memperdulikanmu?"

Pletakk

Chen kembali menjitak kepala Sehun geram. "Kau tahu, saat aku berkata pada Luhan Hyung kalau kau tiba-tiba menghilang dari peredaran, dia terlihat sangat khawatir. Saat itu dia bisa saja memberi tahuku kunci pintu apartemenmu agar aku bisa mengecek keberadaanmu di dalam, tapi dia tidak melakukannya! Kau tahu kenapa? Karena dia terlalu mengkhawatirkanmu dan dia ingin memastikannya sendiri!"

"Kalau dia tidak perduli padamu, dia tidak akan membuatkan bubur yang sedang kau makan itu untukmu! Kalau dia tidak perduli, dia tidak akan memohon padaku untuk merawatmu sekarang dan berjanji akan menggantikanku di kafe."

"Luhan Hyung menggantikanmu di kafe?" tanya Sehun.

"Tentu saja tidak! Aku tidak mengizinkannya. Dia sudah cukup lelah dengan segala permasalahannya, mengapa aku harus membuatnya lebih lelah lagi?"

"Kau sudah dewasa, Sehun-ah! Kau sudah bukan anak kecil lagi. Jadi berfikirlah sedikit lebih dewasa. Cobalah bertindak dengan berfikir dari sisi Luhan Hyung. Bagaimana kira-kira perasaannya ketika kau melakukan apa yang akan kau lakukan padanya. Seperti Luhan Hyung yang selalu melakukan sesuatu dengan melihat dari sisimu. Untuk kebahagiaanmu!" Chen menepuk-nepuk pundak Sehun pelan.

"Habiskan buburmu dan minum obatnya. Aku ada di luar jika kau butuh sesuatu!" Chen tersenyum kemudian meninggalkan Sehun di kamarnya. Merenung memikirkan semua perkataan Chen tadi.

~O.O~

Triiing

Hhhhhh. Sehun menghela nafasnya menatap kafe yang entah sudah berapa lama tidak pernah dikunjunginya lagi. Kalau bukan karena mendapat pesan singkat dari Kris yang mengajaknya untuk bicara semalam, Sehun mungkin tidak akan pernah melangkahkan kakinya lagi ke kafe ini. Selain karena tempat ini penuh dengan Luhan, dia juga merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan yang selalu diberikan Baekhyun untuknya. Entah apa yang mau dibicarakan oleh Kris, Sehun sendiri tidak tahu. Tapi dia tahu pasti kalau itu tidak akan jauh dari satu kata. Lebih tepatnya satu nama. LUHAN.

Mungkin seperti yang lain, Kris juga ingin menyuruhnya menjauhi Luhan?

Sehun kembali menghela nafasnya dan mencari sudut yang nyaman untuk mereka bicara nanti dan berakhir pada meja yang biasanya digunakannya bersama Luhan. Entahlah, seberapapun dia mencoba untuk mengkosongkan pikirannya dari Luhan, namun tubuhnya berkata lain dan justru membawanya ke sana. Sehun duduk diam di sana menunggu Kris. Memfokuskan pandangannya ke luar jendela.

Sejujurnya, beberapa hari ini, dia terus memikirkan apa yang dikatakan Chen padanya. Dia ingin kembali melakukan aksinya meminta Luhan untuk kembali padanya, namun kemungkinan untuk kembali diabaikan dan ditolak itu selalu menahannya. Dia sering melihat Luhan di arena kampus. Luhan tersenyum manis. Selalu tersenyum. Tapi Sehun baru menyadarinya sekarang, senyum itu bukan senyum Luhannya. Senyum itu, terlalu dipaksakan. Senyum itu, terlalu datar untuk ukuran seorang Luhan.

"Long time no see, Sehun-ah!"

Suara itu membangunkan Sehun dari lamunannya. Namja manis bermata bulat berdiri di depannya dengan kertas dan bolpoin di tangannya, tersenyum manis padanya. Do Kyungsoo. Padahal biasanya Baekhyun lah yang bertugas menerima dan mencatat pesanan. Hhhhh, sepertinya Baekhyun masih terlalu marah padanya.

"Hai, Hyung!" sapanya. Kyungsoo kembali tersenyum. "Kau tidak memanggilku 'Eomma' lagi?" tanya nya.

"Aku masih boleh memanggilmu seperti itu?" Sehun balik bertanya. "Tentu saja. Kecuali kalau kau tidak mau." Kyungsoo mengedikkan bahunya.

Hening. Keduanya merasa canggung bahkan untuk berbingcang ringan sekalipun.

"Kris Hyung masih harus mengantarkan Luhan Hyung pulang terlebih dahulu. Kau ingin memesan sesuatu sambil menunggunya?" tanya Kyungsoo memecah keheningan.

Sehun ingin bertanya dari mana Kyungsoo tahu kalau dia sedang menunggu Kris. Namun, kalimat pertama Kyungsoo seolah membuat suaranya tercekat di tenggorokannya. 'Kris mengantar Luhan?' Of course he does! Mereka selalu bersama beberapa minggu ini.

"Aku mau pesan yang biasanya saja," ucapnya mengabaikan beberapa jarum yang seolah menusuk dada kirinya. Kyungsoo mengangguk. "Tunggu sebentar, ne!" ucapnya sebelum meninggalkan Sehun yang kembali melamun.

Triiing

Sehun mengalihkan perhatiannya menuju pintu masuk saat mendengar suara itu. tiba-tiba merasa gugup saat melihat Kris berjalan menuju mejanya. "Maaf!" ujarnya sembari menarik kursi di depan Sehun dan duduk di sana. "Sudah lama menunggu?" tanya nya.

"Nope!" Sehun menggelengkan kepalanya.

"Sudah memesan sesuatu?" tanya nya lagi yang diangguki oleh Sehun. "Well, this is so awkward!" serunya kemudian.

"It is!" jawab Sehun singkat.

"Yaaa! Apa kau tidak bisa merubah ekspresi wajahmu? Aku hanya mengajakmu ngobrol, bukan berperang!" cibir Kris, tidak tahan melihat wajah datar Sehun.

"Sorry! Bawaan lahir!" jawab Sehun asal. Dia tidak ingin terlihat ketus sebenarnya. Tapi bagaimana dia bisa berwajah ramah yang dihadapinya saat ini adalah orang yang dianggapnya sebagai 'Rival' terbesarnya? Belum lagi kenyataan bahwa ini pertama kalinya mereka berbincang setelah saling mengenal, lebih tepatnya saling tahu, selama beberapa bulan ini.

Hhhhhhh. Kris menghela nafasnya. Bukan dia tidak paham dengan kondisi Sehun. Justru dia sangat paham. Tapi siapa yang tahan berhadapan dengan wajah tanpa ekspresi seperti itu? Kalau bukan untuk Luhan, dia tidak akan mau berbicara dengan orang yang bahkan tidak menyukainya ini.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? Kalau ini menyangkut Luhan, maka itu tidak ada hubungannya denganku. Seperti yang kau tahu, dia sudah bukan kekasihku!" ujar Sehun datar.

'Aigoooo! Sabar Kris! Kau harus sabar!' batin Kris.

"Geurae? Kalau begitu, aku boleh memilikinya sekarang?" pancingnya. Sehun langsung menatap Kris tak suka dan mengerutkan keningnya, menghasil tawa kecil dari Kris. "Thought so!" ucapnya di tengah tawanya.

"Aiiisshhh! Sepertinya kau memang tidak bisa bercanda saat ini," ujar Kris saat melihat aura Sehun yang semakin menghitam. "Aku juga tidak terlalu suka basa-basi. Jadi kita langsung ke inti saja!" lanjutnya. Sehun tidak menjawab. Menunggu Kris melanjutkan ucapannya.

"Luhan. Kau masih mencintainya?" tanya Kris. Sehun memutar bola matanya mendengar pertanyaan itu. Namun dia tetap menganggukkan kepalanya. "Baguslah kalau begitu," ucap Kris. "Aku akan membantumu untuk membuat Luhan kembali padamu," lanjutnya.

"Apa mak—"

"Aku juga! Apapun rencananya, aku akan membantu!" Sehun baru saja akan bertanya saat Kyungsoo tiba-tiba muncul dan ikut masuk dalam pembicaraan mereka dengan segelas -yang sepertinya berisi- Ice Americano dan segelas Hot Chocolate di nampannya. Baekhyun berdiri di belakannya dengan 2 piring kue.

"Aku tidak bisa berkata kalau aku akan membantumu, Sehun." ujar Baekhyun pelan. "Tapi aku tidak akan menghalangi apapun yang akan kau lakukan nanti," lanjutnya kemudian kembali bekerja setelah meletakkan piring-piring berisi cake itu di atas meja.

"Jangan dimasukkan ke hati," ucap Kyungsoo kemudian meletakkan gelas yang berisi Hot Chocolate di depan Sehun. Menghasilkan tatapan 'Mana Bubble Tea-ku?' dari Sehun. "There is NO WAY aku akan membiarkanmu minum Bubble Tea saat kau baru saja sembuh. Luhan Hyung bisa membunuhku jika dia tahu," Kyungsoo tersenyum menjawab silent question Sehun yang menatap Hot Chocolate nya.

"Mengapa kalian mau membantuku?" tanya Sehun setelah meneguk minumannya.

"Tentu saja karena kami menyayangi kalian berdua," jawab Kyungsoo. "Kau tahu? Luhan Hyung, he seems so broken, Sehun-ah. Kau tidak tahu? Dia bahkan menangis dalam tidurnya. Kau sendiri juga sampai jatuh sakit karena masalah ini. Dan aku, kami, sudah sangat lelah melihat kalian yang terus menyakiti diri sendiri seperti ini."

Luhan menangis dalam tidurnya? Karena dirinya? Tapi—

"Tapi kau tahu sendiri kalau Luhan tidak akan menerimaku kembali, Hyung. Kau melihatnya sendiri bagaimana dia selalu menolak dan mengabaikanku. Apapun yang aku lakukan, dia tetap bersikeras dengan pendiriannya!"

"Memangnya apa yang sudah kau lakukan, Sehun?" tanya Kris. Sehun menatap Kris dengan tatapan yang sulit diartikan. Haruskah dia menjawabnya? Mengatakan kalau dia sudah memohon, meminta, memaksa Luhan agar kembali padanya.

"Karena dari yang ku lihat, kau bahkan tidak melakukan apapun kecuali satu hal!" tukas Kris. "Apa mak—"

"Kris Hyung benar! Aku juga melihatnya, Sehun-ah. Kau tidak melakukan apapun kecuali meminta maaf padanya," sahut Kyungsoo. "Tapi, bukankah itu yang harus aku lakukan, Hyung? Aku melakukan kesalahan, dan aku minta maaf!" Sehun mencoba membela diri.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. "Aniyo! Kau melakukan kesalahan, maka kau harus memperbaiki dan menebusnya, Sehun-ah! Maaf tidaklah cukup. Karena setiap maaf yang kau ucapkan pada Luhan Hyung, itu akan semakin menyakitinya. Setiap maaf yang kau ucapkan, itu akan membuatnya mengingat semua alasanmu meminta maaf padanya. Semua kesalahanmu. Semua rasa sakitnya. Karena itulah Luhan Hyung tidak, ani, dia belum bisa menerimamu."

"Kau harus melakukan hal lain selain meminta maaf pada Luhan, Sehun-ah! Impress him! Lakukan sesuatu yang membuatnya mengingat moment-moment bahagia kalian. Lakukan sesuatu yang membuatnya ingat kalau kau tidak hanya memberikan rasa sakit untuknya. Kalau dia juga pernah merasa sangat bahagia saat bersamamu. Lakukan sesuatu yang membuatnya berfikir kalau kau benar-benar tulus mencintainya. Kalau kau benar-benar pantas mendapatkan kesempata itu," ujar Kris.

"Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," akunya.

"Kau pasti bisa, Sehun-ah! Aku mengenalmu. Kami mengenalmu. You used to be THE SWEETEST BOYFRIEND ever! Memberikan kejutan-kejutan kecil untuk Luhan Hyung. Membuatnya tersenyum bahagia. Bahkan Baekhyun Hyung dan aku sering merasa iri pada Luhan Hyung karena dia memilikimu," tutur Kyungsoo. "Pikirkanlah dengan baik apa yang akan kau lakukan kali ini, Hyung pasti akan membantumu!" lanjutnya tersenyum memberi semangat untuk Sehun.

"So, apa kau menerima bantuan kami?" tanya Kris setelah Kyungsoo pergi.

"Why?" Sehun balik bertanya. "Aku bisa mengerti dengan alasan Kyungsoo Hyung dan Baekhyun Hyung. Tapi mengapa kau juga ingin membantu? Bukankah kau mencintai Luhan? Ini akan menjadi kesempatanmu untuk membuatnya membalas perasaanmu. Jadi, mengapa kau melepaskan kesempatan ini?"

Kris tersenyum mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan Luhan saat itu. "Mengapa aku membantumu?" Sehun mengangguk pelan. "Well, seperti yang kau katakan tadi. Alasan pertama karena aku mencintainya. Karena aku ingin melihatnya tersenyum bahagia. Karena senyum bahagia itu tidak akan ada tanpa seseorang yang bernama Sehun. Dan tentu saja karena aku sahabatnya." Jawaban yang sama yang diberikannya pada Luhan saat itu.

"I didn't give up on Luhan for nothing, Sehun-ah! Aku menyerah untuk mengejar Luhan karena aku percaya kalau kau bisa membahagiakannya. Yaaaah, mungkin kau pernah beberapa kali berbuat bodoh dan membuatnya menangis. Tapi kau juga membuatnya senang. Kau membuatnya tersenyum. Kau membuatnya bahagia. Kau melakukan hal yang tidak bisa ku lakukan."

Sehun menatap Kris cukup lama. Untuk pertama kalinya dia melihat Kris bukan sebagai seorang saingan, melainkan seorang teman, seorang 'Hyung'.

"Jadi, apa kau masih berminat untuk memperjuangkan cinta Luhan?" tanya Kris saat Sehun hanya diam menatapnya. Dia tersenyum puas begitu Sehun menganggukkan kepalanya, kali ini terlihat lebih yakin dari sebelumnya.

"Baiklah. Karena hari ini hari Senin, dan kita tidak ingin mengganggu kuliah Luhan, jadi kau bisa melakukannya malam Minggu nanti. Kau punya waktu 5 hari untuk memikirkan kejutan apa yang akan kau berikan untuknya, Sehun-ah. Dan selama 5 hari itu, kau bisa mendekati Luhan perlahan. Tapi bukan untuk memohon maaf tentunya," jelas Kris panjang lebar.

"Kau tahu? Awalnya, aku ingin mengurung kalian berdua di suatu tempat atau mengirim kalian ke pulau tak berpenghuni agar semuanya cepat selesai. Tapi aku sadar, peranku di sini hanya sebagai pembantu dari si pejuang. Jadi, semua ide harus dari dirimu, sang pejuang itu sendiri. Kau harus berusaha untuk memperjuangkan cinta Luhan. Kau bisa menghubungiku atau Kyungsoo jika butuh bantuan. Kami pasti akan membantu. And about Baekhyun, aku juga tidak yakin, tapi jika kau mulai bisa mendekati Luhan, aku rasa dia akan membantumu. Kau mengerti?"

Sehun mengangguk paham. Sepertinya hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. "Lalu, bagaimana jika Luhan tetap tidak mau menerimaku?" tanya nya kemudian.

"That Princess? Tch! Believe me dia tidak akan menolakmu jika kau melakukannya dengan benar. Tapi, jika dia memang tidak bisa menerimamu, maka kau juga harus bisa menerima kenyataan itu. Aku tahu pasti itu akan berat, tapi pikirkanlah dari sisi Luhan. Karena semua itu juga tidak mudah baginya."

"Aku," Sehun menggantungkan kalimatnya ragu. "Aku tidak tahu apakah aku bisa menerimanya atau tidak," ucapnya. "You MUST, Sehun-ah! You HAVE to. Jika kau benar-benar mencintainya seperti yang kau katakan, maka kau harus bisa belajar untuk melepasnya demi kebahagiaannya!" ucap Kris tegas.

"Just remember one thing! Jika Luhan menerimamu kembali nanti, kau harus benar-benar memperlakukan dia dengan baik. Karena jika kali ini kau melakukan kesalahan dan mengacaukan semuanya, membuatnya menangis lagi, maka aku tidak akan segan-segan mengambil Luhan dari sisimu dengan kedua tanganku sendiri! Deal?!" Kris menjulurkan tangan kanannya yang tanpa ragu langsung disambut oleh Sehun.

"DEAL!" jawab Sehun mantap.

Dan perjuangan Sehun pun dimulai.

~O.O~

Day 1

"Loh? Mengapa kau yang menyiapkan sarapan, Baekhyun-ah? Dimana Kyungsoo?" tanya Luhan heran saat melihat Baekhyun yang sedang berkutat dengan susu dan sereal di meja makan. 'Tidak biasanya Baekhyun membuatkan sarapan,' pikirnya.

"Aaaah! Kau mengagetkanku, Hyuuuung!" rengek Baekhyun. Untung saja botol susu di tangannya tidak jatuh. "Mengapa kau berjalan tanpa suara? Tubuhmu terlalu ringan, Hyung! Makanya, kau seharusnya makan yang banyak!" omelnya.

"Yaaah! Aku kan hanya bertanya Kyungsoo dimana? Mengapa kau malah mengomeliku?" Luhan memanyunkan bibirnya kemudian mengambil botol susu di tangan Baekhyun dan menuangkannya ke dalam mangkuk serealnya.

"Kyungie," Baekhyun memotong kalimatnya sendiri. Apa yang harus dikatakannya? Tidak mungkin dia berkata kalau Kyungsoo pergi ke apartemen Sehun kan?

"Kyungie?"

"Dia berangkat duluan. Sepertinya tadi Suho Hyung menyuruhnya berangkat lebih awal," bohong Baekhyun. "Owwhh!" Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya paham sambil memakan serealnya. Mempercayai apa yang diucapkan Baekhyun.

"Kalau begitu, kita berangkat berdua saja?" tanya Luhan. Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban. "Joah!" ujar Luhan tersenyum.

Tiba di kelas, Luhan langsung dikejutkan dengan Kyungsoo yang sedang berdiri di samping mejanya dengan posisi tubuh membelakangi Luhan. 'Apa yang dilakukannya di mejaku?' pikir Luhan.

"Kyungsoo-ya! Apa yang kau lakukan di sana? Bukankah kau ada urusan dengan Suho?" tanya Luhan mengagetkan Kyungsoo.

"Aaaah! Kau mengagetkanku, Hyuuuung!" rengeknya. Membuat Luhan merasa dejavu dengan kalimat itu. Mengapa semua orang menganggapnya mengagetkan mereka? Pikirnya lebay. Karena pada kenyataannya hanya BaekSoo yang menganggap begitu, bukan semua orang.

"Kau sedang apa di mejaku?" tanya Luhan penasaran dan berjalan mendekati Kyungsoo. "Ah! Ini, aku baru saja masuk dan melihat ini di atas mejamu, Hyung. Karena penasaran, aku ingin melihatnya dari dekat dan kau tiba-tiba saja muncul," jawab Kyungsoo menunjuk benda yang berada di meja Luhan.

Segelas Bubble tea? Dengan sebuah memo yang menempel di sisi gelas. Juga setangkai Tulip di sampingnya. Tulip yang sama yang ditemukannya di depan pintu rumahnya tadi pagi. Tulip putih. Lambang permohonan maaf yang sangat dalam.

'Hhhhhh! Hampir saja ketahuan,' batin Kyungsoo lega saat melihat Luhan yang langsung terpaku heran menatap Bubble tea dan Tulip nyasar di atas mejanya.

Luhan langsung duduk di kursinya dan mengulurkan tangannya untuk meraih Bubble Tea tersebut. Kening berkerut karena bingung dan penasaran. Dia lalu membaca memo yang menempel manis di sana.

Bubble Tea yang membawa kebahagiaan luar biasa padaku karena bisa mengenalmu, Hyung. Karena itu, aku berharap Bubble Tea ini juga akan membawa kebahagiaan luar biasa untukmu hari ini :) Aku menyayangimu, Hannie Hyung!

0412_Bubbleboy

Luhan menatap nama yang tertera di memo tersebut. 0412_Bubbleboy. Luhan ingat sekali nama itu. Username yang digunakan Sehun saat pertama kali mereka berkenalan di chat room saat itu. Username yang mirip dengan username yang digunakannya. Dia ingat hari itu, adalah pertama kalinya dia menemukan sesuatu, lebih tepatnya seseorang, yang lebih disukainya daripada Bubble tea. Seseorang yang bernama Oh Sehun.

Tanpa sadar, bibir Luhan menyunggingkan sebuah senyuman manis saat mengingat kejadian itu. Ada sesuatu yang terasa menggelitik perutnya, membuatnya tanpa sadar memperlebar(?) senyumannya. Sepertinya kupu-kupu di perutnya mulai terbangun. Luhan menatap Bubble Tea di tangannya kemudian membawanya mendekat pada mulutnya. Menyeruput pelan minuman favoritnya. Luhan tidak tahu apa alasannya, tapi dia benar-benar bisa merasakan kalau hari ini pasti akan lebih cerah dari hari-hari mendungnya kemarin.

Dan Luhan kembali tersenyum kecil, pandangan tidak lepas dari memo di atas mejanya. Tidak menyadari BaekSoo yang menatapnya senang. Dan jelas tidak menyadari seorang namja lumayan tinggi berkulit seputih susu yang sedang menatapnya dari pintu kelas. Seseorang yang langsung tersenyum saat Kyungsoo berbalik padanya dan menungangkat kedua jempolnya untuknya, mengucapkan kalimat 'Good job, Sehun-ah!' tanpa suara padanya.

Dan seperti dugaan Luhan, hari itu memang terasa lebih cerah. Meski Sehun tidak datang menghampirinya di kantin. Meski dia tidak melihat Sehun seharian. Dia kembali tersenyum saat mendapatkan another White Tulip di depan pintu rumahnya. Luhan mengambil vas kosong di ruang tamu, mengisinya dengan air, membawanya ke kamarnya dan meletakkan Tulip-tulip yang didapatkannya ke dalam vas.

. . .

Day 2

Hari ini, Luhan masih mendapatkan sebuah Tulip putih di depan pintu rumahnya begitu dia membuka pintu. Namun, dia tidak mendapatkan Bubble Tea di atas meja nya. Lebih dari itu, sebuah mp3 mini lengkap dengan headset nya duduk manis di sana. Sebuah sticky note kecil bertuliskan 'Press it' menempel tepat tombil 'play'. Luhan memasang headset di telinganya dan menekan tombol 'play'. Dan sebuah lagu yang familiar terdengar dari dalam sana. Magic Castle.

Luhan ingat lagu itu. lagu yang dinyanyikannya untuk Sehun saat dia bersedih karena Jongin memutuskannya. Setelah lagu itu behenti, Luhan kembali akan menekan tombol yang sama, namun sebuah suara yang sangat familiar di telinganya menghentikan niatnya.

Hannie Hyung! Kau ingat lagu ini? Kau menyanyikannya untukku saat itu Hyung. Dan sejak saat itu, lagu ini menjadi lagu favoritku. Sama dengan judulnya, lagu ini memberi kekuatan magis padaku saat aku mendengarnya. Entah memang karena lagunya, atau simply karena kau yang menyanyikannya, semua kesedihan seketika lenyap saat aku mendengarkan lagu ini. Karena itu, Hyung. Seperti hatiku yang merasa lebih tenang saat kau menyanyikan lagu ini untukku, aku harap kekuatan magis itu juga bisa menembus relung hatimu dan menghilangkan semua kesedihan dan rasa sakit yang ada di sana :D Kau tahu? Aku saaaaaaaangat menyayangimu, Hannie Hyung!

Luhan kembali tersenyum. Tangannya kemudian meraih another White Tulip di atas mejanya. Menciumnya sekilas kemudian memasukkannya ke dalam tasnya. Entah siapa yang menyuruhnya, Luhan bahkan membawa semacam tempat khusus untuk menyumpan Tulip-tulipnya sebelum nanti ditaruh ke dalam vas di kamarnya. Seolah dia tahu kalau hari-harinya akan dipenuhi dengan Tulip itu.

Sama seperti kemarin, Luhan kembali mendapatkan Tulip putih saat dia makan siang di kantin. Another one saat dia kembali ke kelasnya, dan saat dia dan Kris melewati gerbang kampusnya waktu akan pulang. Jangan lupakan Tulip yang juga tergeletak manis di depan pintu rumahnya. Meskipun sebersit luka masih terasa di sudut hatinya setiap kali dia mengingat Sehun, Luhan tetap tidak bisa menahan senyum yang tersungging di bibir ranumnya.

. . .

Day 3

My Angel

Luhan mengedipkan matanya berkali-kali menatap lukisan dengan judul tersebut di atas mejanya. Tadi saat dia masuk ke kelasnya, sebuah gulungan kertas dengan pita biru tergeletak cantik di sana. Lengkap dengan Tulip putih yang selalu menemani setiap hadiah kecil dari Sehun. Tapi kali ini, tak ada memo yang menyertai.

Luhan segera membuka gulungan kertas tersebut. Sedikit -banyak- terkejut saat melihat potret lukisan dirinya di sana. Dia tahu kalau Sehun juga pintar melukis, tapi dia tidak tahu kalau lukisan Sehun sebagus ini. Wajah di dalam lukisan itu terlihat sangat mirip dengan wajahnya.

Di Lukisan itu, Luhan terlihat sedang menutup matanya dengan headset di telinganya. Menikmati -entah apapun itu- musik yang mengalun darinya. Dengan latar belakang pohon mapple dan sinar matahari senja, semuanya terlihat semakin sempurna. Manik mata 'rusa' nya kemudian tertuju pada kalimat yang tertulis di bawah lukisan itu.

Chajatda, Nae Angel Hyung!

Luhan ingat kata-kata itu. Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Sehun saat mereka bertemu tahun lalu. Saat Sehun menutup matanya dari belakang. Saat dada bidang Sehun menempel erat dengan punggungnya untuk pertama kali.

Hanya sebuah lukisan dan kalimat singkat. Tapi itu cukup mampu untuk membuat Luhan tersenyum sepanjang hari.

. . .

Oke, karena chap ini entah bagaimana caranya jadi panjang bgt -_- J adi Liyya putuskan untuk bagi jadi 2 part. Ini part A, part B nya bisa langsung dibaca :D Review di salah satu part aja gpp kok :) Karena emang ini seharusnya cuma 1 chapter :D