"Aku tidak menyangka kau akan semudah itu melepaskan Zi Tao."
Sang pemuda berambut ikal pirang ke-emasan menatap pemuda lain berambut cokelat terang di hadapannya, sembari menyesap cairan cokelat bening dari dalam cangkir yang dia pegang. Sedikit sinis, ia kemudian menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Memasang senyuman miring sembari menunggu jawaban si pemuda berambut cokelat tadi.
Pemuda yang dulu pernah ia cintai.
Pemuda yang dulu pernah ia sakiti.
Pemuda yang dulu pernah ia tolak.
"Kau sudah tahu jawabannya, Lu."
Pelan. Pemuda itu menjawabnya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, seolah mengamati semut-semut yang berada di bawahnya lebih asyik, ketimbang memandang pemuda bersurai keemasan yang tengah mencengkeram cangkirnya geram.
"Aku tahu apa? Aku tidak tahu apapun tentangmu dan Zi Tao, Hun."
Sosok yang dipanggil "Hun" itu kontan mengangkat kepalanya. Mendesah kecil saat ia mendapati pemuda berparas manis itu ternyata tengah mengamatinya dengan kedua bola matanya yang sudah basah. Bersiap untuk menangis.
"Kau seharusnya tahu betapa sakitnya aku, Hun. Setelah kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu, kau justru pergi dengan Zi Tao dan berniat untuk menikahinya."
Pemuda berambut cokelat itu tercekat. Air mata telah mengalir pelan di wajah pemuda berambut pirang di hadapannya itu. Ia ingin mengulurkan tangannya guna mengusap pipi si pirang. Tapi ia takut jika hal itu malah membuat si pirang merasa semakin sedih.
"Tapi, waktu itu kau sudah menolakku, Lu. Aku pikir—"
Kriet
Si pirang tiba-tiba bangkit berdiri, ia mengepalkan tangannya kuat hingga buku jarinya memutih. Dipandanginya tajam sosok pemuda brunette itu. Ia ingin sekali berteriak dan memaki pemuda di hadapannya itu. Sayang ia tak mampu. Suaranya serasa tertahan di tenggorokan, seolah menghalanginya agar tidak berbicara.
"Ya—waktu itu aku yang salah, Hun. Aku yang salah."
Dan tepat setelah si pirang mengatakannya. Ia kemudian pergi menjauh, berjalan meninggalkan si brunette yang hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena merasa tak sanggup untuk sekedar mengejarnya.
"Mianhae Lu, tolong maafkan aku.."
.
[SEKUEL – Traitor]
.
"How to Save a Family – Series 2"
.
Disclaimer: Semua yang ada di sini, mutlak milik Tuhan Yang Maha Kuasa
.
Author: autumnpanda
.
Rated: M (for mature content)
.
Genres: Romance, Hurt/Comfort, Drama, Family
.
Length: 2 of 2 [Last Chapter]
.
Casts: Wu Yi Fan (Kris), Huang Zi Tao (Zi Tao), Wu Shi Xun (Shi Xun/Sehun), Xi Lu Han (Luhan), Zhang Yi Xing (Yixing), Kim Jongin/Jin Zhong Ren (Jongin/Zhong Ren), slight others
.
Warnings: BL—Boys Love, ManXMan, Lemon (nyempil), Typo, Misstypo, Bad Words, Male Pregnancy, Weird, Strange, Sinetron(?) abis, and so'on *smirk*
.
[NB: Bonus balesan review ada di akhir cerita *berasa mau kasih hadiah aja*]
.
Happy reading :D
.
Huang Zi Tao tersenyum kecil saat melihat Kris yang dengan penuh kasihnya membaringkan tubuh mungil Zi Fan di atas ranjang, dan setelah itu memberikan kecupan sayang di dahi bocah yang telah terbuai di dalam mimpi tersebut.
Sepulang dari rumah sakit kecil —sebut saja itu klinik—, Zi Tao bisa merasakan jika hubungan antara ayah dan anak itu sepertinya semakin membaik. Apalagi akhir-akhir ini Zi Fan, putera tunggalnya itu, tidak pernah bisa lepas dari Kris, ayah dari Zi Fan, barang sedetik pun.
"Kenapa tersenyum seperti itu, peach? Ingin memamerkan senyuman indahmu itu untukku?"
Zi Tao tersentak kaget ketika ia mendapati sebuah lengan kekar tengah melingkari area perutnya dengan apik. Ia tak sadar jika Kris ternyata telah berada di samping tubuhnya dan memeluknya erat.
"Aku hanya merasa bahagia melihat kalian berdua. Apa itu salah?"
Mendapati jawaban sekaligus pertanyaan yang menurutnya lucu, Kris kontan terkekeh geli, sembari menggelengkan kepalanya pelan. Pria berdarah campuran antara Cina dan Kanada itu tiba-tiba mengangkat tubuh Zi Tao, dan menggendongnya ala bridal style sebelum akhirnya ia membawa pemuda itu masuk ke dalam kamar milik mereka berdua —yang letaknya tepat di depan kamar Zi Fan.
"Tidak peach."
Kris kemudian membaringkan tubuh Zi Tao secara perlahan di atas ranjang Queen Size dengan seprai berwarna biru dan bercorak awan putih. Ia kemudian merangkak ke atas tubuh Zi Tao, dan mendekatkan wajah mereka berdua hingga hidung mereka saling menempel.
"Tapi seharusnya aku yang bahagia karena kalian mau menerimaku kembali."
Badump—!
Jantung Zi Tao terdengar berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajah tampan Kris yang tak memiliki jarak —karena hidung mereka berdua masih menempel— membuatnya bisa melihat dengan jelas dua bola mata black pearl Kris yang bersinar saat ia menatapnya.
Ia bisa mengetahui jika wajahnya sudah pasti merona dengan hebohnya. Dan ia ingin sekali berterima kasih kepada Kris karena sudah berhasil membuatnya sekacau ini.
"Aku terlalu mencintaimu, brengsek. Mana bisa aku—, mana bisa aku menolakmu saat kau memintaku untuk kembali padamu?"
Nada Zi Tao saat bicara terdengar bergetar bagi Kris, ia bisa melihat Zi Tao tengah menggulirkan bola matanya kemana-mana, menghindari tatapan matanya yang sering dibilang mematikan.
Bite
"Aduh!"
Dukh—!
Kedua pipi bulat Zi Tao yang menurut Kris menggemaskan itu pun langsung ia gigit dengan gemas sehingga membuat si empunya pipi menjerit kaget, dan refleks memukul bahu Kris cukup keras. Tapi meskipun begitu, Kris justru semakin terkekeh geli dan malah berniat untuk semakin menggoda Zi Tao.
"Jangan marah peach. Kau sangat menggemaskan saat berkata seperti itu. Jadi aku tidak tahan untuk tidak menggigit pipimu yang tadi sewarna dengan apel."
Huang Zi Tao mengerucutkan bibirnya sebal. Jadi prediksinya tentang wajahnya yang memerah tadi benar adanya. Dan sungguh sial karena Kris melihatnya.
"Mungkin jika aku adalah Snow White, aku akan mati karena keracunan pipimu yang menggemaskan ini." ucap Kris sembari membelai pipi sang kekasih dengan sayang.
"Iya, kau Snow White yang dikutuk kalau begitu."
Masih merengut sebal, Zi Tao kemudian mendorong tubuh Kris pelan, dan membuat pemuda itu lalu berbaring di sisi kiri tubuhnya. Zi Tao sendiri segera menggulingkan tubuhnya, dan berbaring menghadap ke arah Kris yang kini sedang mengusap surai kelamnya sayang.
"…"
"Hei—"
"Hm?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apapun peach, asal aku bisa menjawabnya."
"Mengenai 'kawanan' kita dulu. Bagaimana nasib mereka?"
Kris tiba-tiba menghentikan kegiatannya mengusap helaian rambut Zi Tao sejenak. Ia terlihat tengah memasang wajah sendu. Di tambah lagi sekarang cahaya di mata Kris mulai meredup. Seperti enggan untuk mengungkit kembali masa lalunya yang bisa dibilang kelam.
Zi Tao yang mengetahui perubahan di raut wajah pria yang dikasihinya itu segera meraih tangan Kris yang tadi membelai rambutnya, dan menggenggamnya erat. Seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja selama pria itu berada di sisinya.
"Ceritakan saja.."
"Bukankah kau sudah tahu?"
Kris bertanya dengan kedua alisnya yang bertaut. Pandangan matanya kemudian berubah tajam, membuat nyali Zi Tao sedikit nyiut juga.
"Tahu apa?"
"Kau anggota kepolisian 'kan? Seharusnya kau sudah tahu semua berita mengenai 'kawanan-ku' dulu." desis Kris pelan sembari menekankan kata-kata "Kawanan-ku".
Zi Tao sendiri hanya menggelengkan kepalanya kecil, dan semakin mempererat genggaman tangannya pada Kris. Ia lalu menabrakkan onyx miliknya pada black pearl milik Kris, memandangnya dalam diam sebelum akhirnya ia bersuara.
"Aku sama sepertimu Kris-ge. Hanya saja aku— aku berkhianat."
Jeda sebentar, Zi Tao mengambil nafas sejenak. Dan ia pun melanjutkan kembali ceritanya.
"Sebelum kau merencanakan perampokan lima tahun lalu. Para anggota kepolisian berhasil menangkapku dan membawaku ke penjara. Aku yang saat itu masih terlalu kecil untuk bisa berpikir, hanya bisa menangis dan merengek pada mereka agar tidak dimasukkan ke dalam bui."
"…"
"Mereka menyetujui dan berjanji akan melepaskanku saat itu. Asal, aku bersedia memberitahu mereka apa yang akan kau lakukan, dan membantu mereka untuk menangkapmu. Jadi aku—"
Grep
"Hentikan!"
Menuruti perintah yang Kris berikan, Zi Tao segera terdiam dan menghentikan ceritanya. Ia hanya sedikit terkejut karena Kris tiba-tiba menarik tubuhnya dan mendekapnya seerat mungkin.
"Aku tidak mau mengingatnya lagi, peach. Aku tidak mau membencimu lagi."
Kris mengeratkan pelukannya pada tubuh Zi Tao. Ia membenamkan kepala pemuda yang ia peluk itu ke dalam dadanya. Sedang ia sendiri kini sibuk menghirup aroma sampo yang tersisa di kepala Zi Tao.
Zi Tao mengulurkan sebelah tangannya ke arah perut Kris, membalas pelukan pria tersebut. Kedua matanya terasa basah, dan ia ingin menangis kala itu. Bagaimanapun juga, masa lalunya bersama Kris dahulu sudah terlalu membuat mereka berdua sama-sama merasakan sakit yang setimpal.
"Aku mencintaimu, oke?"
"Aku tahu.."
.
.
:::
.
.
Dua pemuda dengan tinggi badan yang hampir setara itu berjalan pelan menembus gelapnya kota di malam hari. Salah seorang dari mereka yang memilik rambut pirang ke-emasan tampak sibuk membenarkan letak topi rajutan yang ia pakai, dan juga mempererat mantel berwarna kelabu yang melingkupi separuh tubuhnya itu.
"Tumben kau mau menyetujui ajakanku pergi ke bar?"
Si pemuda lain yang berambut ikal kecokelatan bertanya pelan. Iris cokelat gelapnya memandang si pemuda pirang dengan pandangan bertanya-tanya. Karena setahu dia, rekan sesama guru di sebuah Taman Kanak-Kanak itu tak akan pernah mau menemaninya pergi ke bar dengan alasan apapun juga.
Jadi, jika sekarang ini sang teman yang juga pernah menjadi kawannya semasa kuliah dulu ini mau menemaninya pergi ke bar, pasti ia sedang dilanda masalah yang cukup serius.
"Nanti saja aku ceritakan."
Si pirang menjawabnya singkat tanpa berbasa-basi. Ia kemudian hanya sibuk meniupi telapak tangannya yang serasa membeku, mengingat musim gugur hampir berakhir dan akan berganti dengan musim dingin. Si pemuda bersurai cokelat ikal itu hanya mengangkat bahunya cuek, dan melanjutkan langkah kakinya ke sebuah bar kecil di pinggiran yang berjarak kurang beberapa langkah lagi di depannya.
"Oh, Xing Xing! Kau datang lagi? Dan kali ini bersama— teman?"
Begitu mereka berdua tiba di bar. Mereka kemudian disambut dengan begitu hebohnya oleh seorang pemuda yang berusia sekitar belasan tahun, dengan pakaian ala bartender dan segera menghampiri dua sosok tadi yang telah duduk di dekat tempat bartender tadi.
"Dia Xi Lu Han, rekan kerjaku yang pernah kuceritakan padamu."
Sosok yang dipanggil "Xing Xing" itu lalu memperkenalkan si pirang bernama "Xi Lu Han" itu kepada bartender muda yang tadi menyambut mereka. Bartender berkulit cokelat eksotis itu lalu menyerahkan dua buah buku menu, dan bersiap mencatat pesanan mereka.
"Oh, Luhan yang itu? Hm, mau pesan apa?"
Bartender itu kemudian bertanya, dan memandangi dua orang di depannya yang sibuk memeriksa buku menu.
"Aku yang biasanya saja. Kalau kau Luhan?"
"Terserah. Sama seperti pesananmu juga boleh." jawab Luhan—si pirang tadi—dan kembali menyerahkan buku menu yang dipegangnya tadi kepada sang bartender.
Mengangguk sekilas, bartender itu kemudian mulai melangkahkan kakinya ke arah meja yang berada di seberang tempat Luhan, dan mulai membuatkan apa yang menjadi pesanan dua orang tadi. Ia juga tak perlu lagi mencatat apa pesanan mereka karena ia tentu sudah hafal dengan makanan yang dipesan tadi. Maklum saja, ia sudah terbiasa karena selalu membuatkan pesanan yang sama setiap harinya.
"Dia kelihatan masih muda. Bukan begitu Yixing?"
Yang dipanggil Yixing kontan menoleh, dan memandang Luhan yang sekarang memandangnya dengan pandangan menggoda. Yixing menganggukkan kepalanya singkat, membenarkan tebakan Luhan.
"Dan berita baiknya dia selalu mencuri-curi pandang ke arahmu." olok Luhan sembari terkekeh kecil, membuat Yixing mengerutkan dahinya.
"Atau tepatnya ke arahmu."
"Hah?"
Luhan memiringkan kepalanya ke kiri. Tidak mengerti akan kata-kata Yixing.
"Kau tidak menyadarinya? Dia memandangmu dengan tatapan tajam tahu."
"Kenapa dia menatapku seperti itu?"
"Karena dia tahu jika aku baru kali ini membawa orang asing kemari."
Yixing menjawab singkat, dan mengangkat bahunya tak peduli. Luhan yang awalnya ingin kembali mengajukan pertanyaan mengurungkan niatnya karena ia mendapati sang bartender tadi mulai berjalan ke arahnya sembari membawa dua buah gelas minuman berwarna seperti susu strawberry namun dengan buih di bagian atasnya.
"Ini pesanan kalian, silahkan dinikmati."
"Terima kasih." ucap Luhan dan mengambil gelas miliknya guna ia amati dengan seksama. Ia kemudian mendekatkan bibirnya pada pinggiran gelas tersebut, dan mulai menyesap cairan yang terasa manis namun membakar di saat yang bersamaan.
"Uwaaah! Apa ini?"
Luhan memekik kaget saat ia merasakan lidahnya seperti terbakar. Ia menjulurkan lidahnya ke luar, dan mengipasinya menggunakan tangan seolah hal itu akan mampu membuat rasa panas di lidahnya berkurang.
"Itu susu strawberry dicampur brandy. Aku rasa kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi." ucap Yixing yang dengan santainya menyesap minuman miliknya dan memandangi Luhan yang masih sibuk mengipasi mulutnya.
"Tapi aku tidak biasa minum minuman beralkohol.." keluh Luhan dan memasang wajah mengkerut.
Yixing kemudian kembali mengangkat bahunya tak mau tahu. Ia lebih suka menikmati minuman favorit miliknya tanpa harus mendengarkan celotehan Luhan. Ia lalu menolehkan kepalanya ke kanan, dan mendapati sosok sang bartender yang kini menatapnya dan Luhan tajam.
"Wei shenme?" tanya Yixing dan menatap bartender tadi dengan alis yang bertaut.
"Kalian mengacuhkanku." gerutu sang bartender tadi sembari mengerucutkan bibirnya imut. Ia lalu memeluk nampan yang tadi ia bawa di depan dadanya, tanda sedang merajuk.
"Berhenti bersikap kekanakan Zhong Ren." ujar Yixing kalem, dan ia kembali menyesap minumannya dengan nikmat. Tak sadar jika kata-katanya tadi membuat sang bartender malah menggeram sebal.
"Jangan sebut aku kekanakan! Lagi pula namaku itu Jongin! Kim Jongin! Jadi jangan pernah merubah namaku seenak jidatmu, lesung pipit sial!"
Sang bartender yang kini kita ketahui bernama Kim Jongin—atau Zhong Ren, dalam kamus Yixing—itu masih merengut kesal, dan melayangkan tatapan tajamnya ke arah Yixing.
"Setelah ini shift-ku selesai."
"Lalu?"
"Aku akan berganti baju dan menemanimu tentu saja."
"Tidak usah."
"Oh, ayolah. Biarkan aku menemanimu malam ini, ya? Ku mohon~"
Pemuda berkulit tan itu lalu menangkupkan kedua tangannya di depan wajah manisnya seraya memohon kepada Yixing. Berharap si pemuda berambut cokelat ikal itu mau menuruti permintaannya agar ia tak berkutat dengan tugas sekolahnya yang mengerikan.
"Tidak usah, lebih baik kau segera pulang dan kerjakan pe-er Fisika milikmu. Dan jangan kira aku tidak mengetahui nilai Matematikamu yang, astaga Jin Zhong Ren kenapa otakmu bodoh sekali, itu ya?"
Yixing menyunggingkan senyum manis ke arah Jongin. Ia merasa yakin jika Jongin tidak akan berkutik lagi setelah ini. Dan dugaannya ternyata tepat. Jongin—yang walaupun masih merajuk—langsung pergi meninggalkannya begitu saja dan berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya. Ia bahkan bisa mendengar Jongin berteriak "Awas saja kalau kau meminta jatah! Jangan harap aku akan memberikannya!" dengan marah, dan kemudian menghilang setelah ia memasuki ruangan khusus karyawan.
"Jadi?"
Yixing ganti menolehkan kepalanya menatap Luhan yang sekarang memandangnya intens, seolah-olah ia ini seseorang yang baru saja telah melakukan kesalahan sehingga patut untuk dicurigai.
"Jadi apa?" tak mengerti, Yixing pun balas bertanya.
"Siapa dia sebenarnya?" Luhan memandang sang rekan itu dengan pandangan menyelidik. Ingin mengorek semua informasi sang sahabat yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.
"Namanya Kim Jongin, dan aku biasa memanggilnya Zhong Ren—kurasa kau sudah mendengarnya 'kan tadi?—. Dia baru berusia delapan belas tahun dan masih berada di tahun terakhir sebuah sekolah menengah atas di kota ini."
Kembali menyesap minumannya, Yixing pun menjawab pertanyaan Luhan enteng.
"Bukan itu maksudku, bodoh! Hubungan kalian itu sebenarnya apa?"
Yixing belum mau menjawab. Ia lebih memilih untuk menenggak brandy milk miliknya terlebih dahulu sampai habis sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Luhan.
"Well, kau bisa menyebut kami sebagai—um, apa ya?—pasangan. Yah seperti itulah."
Luhan tergelak. Ia tak pernah menyangka jika rekannya ini telah memiliki kekasih. Masih SMA pula.
"Siapa yang di 'atas' kalau begitu?" Luhan bertanya lagi, kali ini raut menggoda tak akan bisa luput dari wajahnya yang memerah karena menahan tawa.
"Maksudmu?"
"Oh Yixing, jangan berpura-pura polos seperti itu! Aku berani bertaruh kau pasti melakukannya hampir setiap malam."
"Well, kalau begitu siapa menurutmu?" Yixing balik bertanya, dan menaikkan sebelah alisnya berniat untuk balas menggoda Luhan.
"Kau?"
Luhan menebak dengan asal, tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat Yixing menganggukkan kepalanya dan memasang cengiran bangga.
"KAU GILA?" Luhan menjerit kaget, dan memandang Yixing dengan kedua bola mata besarnya yang semakin membesar.
"Kau yang gila karena berteriak sekencang itu. Memangnya kenapa kalau aku yang mendominasi? Kau keberatan?"
Luhan terdiam. Keberatan? Kenapa harus dia yang keberatan?
"Tidak juga. Aku hanya heran. Kau cukup cantik untuk ukuran seorang lelaki, kau juga lemah lembut dan penyayang anak-anak, hampir menyerupai sosok ibu idaman lah pokoknya. Tapi kenapa justru kau yang di atas?"
Sekarang Yixing yang terdiam, bukannya tak tahu harus menjawab apa. Tapi dia bingung mau dimulai darimana menjawab pertanyaan Luhan tadi.
"Aku hanya bersikap lemah lembut dan menyayangi anak-anak saat aku bekerja sebagai guru. Lagipula kita sedang mengajar di Taman Kanak-Kanak by the way, jadi wajar saja jika aku bersikap seperti itu."
Luhan mengangguk kecil, menyetujui kata-kata Yixing. Karena ia sendiri pun juga menyadari perbedaan mereka di saat mereka menjadi guru, dan di saat senggang seperti ini. Bagaimanapun juga mereka tetaplah dua pemuda dewasa yang sesekali juga perlu bersenang-senang dengan dunia malam.
"Dan untuk masalah hubunganku dengan Zhong Ren, ada suatu hal—semacam penyakit parah—yang membuatku tidak bisa berada di bawah kendalinya. Sekalipun aku di bawah kendalinya, tetap saja harus dia yang aku masuki."
Kedua telinga Luhan memerah mendengarnya. Ia sedikit bingung karena merasa jika pembicaraannya dengan Yixing kini mulai menyerempet ke arah yang berbau ranjang dan sebagainya.
"Err—apa dia tak marah?"
"Tidak. Aku bersyukur dia mau memahami kondisiku. Bukankah hal itu membuktikan jika ia mencintaiku apa adanya? Bukan karena posisi saat kita bercinta, iya kan?"
Gulp—!
Luhan meneguk ludahnya paksa, sedikit-banyak ia mulai mengutuk Yixing yang sudah seenaknya meracuni pikirannya yang masih polos. Luarnya saja Yixing terlihat kalem, lembut, dan menawan. Dalamnya? Sama saja seperti pria berpredikat "seme" kebanyakan.
"Yeah, kalau dilihat-lihat dia memang cukup manis dan sedikit—ingat sedikit—pantas menyandang gelar 'bottom'."
"…"
"…"
"Lalu kau sendiri? Apa yang membuatmu mau menemaniku kemari?"
Mengalihkan pembicaraan, Yixing mulai mencoba mengganti topik pembicaraan mereka berdua. Dengan maksud mencari tahu penyebab sang sahabatnya itu mau menemaninya pergi ke bar tempat kekasihnya bekerja.
Sedang Luhan tampak terdiam. Sepertinya masih enggan untuk menceritakan alasan kenapa ia mau menemani Yixing kemari. Mudah saja, hal itu bisa Yixing lihat dari raut wajah Luhan yang terlihat keruh, ditambah lagi dengan bibir pemuda itu yang melengkung ke bawah.
"Tadi—sebelum aku datang ke sini bersamamu—aku bertemu dengan Shi Xun terlebih dahulu. Dan kami bertengkar, seperti biasa."
Yixing mulai menopang dagunya dengan sebelah tangannya. Kedua iris matanya ia layangkan guna menatap Luhan. Ia memasang kedua telinganya baik-baik, bersiap-siap untuk mendengarkan curahan hati sang sahabat.
.
.
:::
.
.
Kris terlihat mulai menggerakkan tubuhnya di atas Zi Tao. Sedang pemuda manis yang sekarang terbaring pasrah di bawahnya itu tampak begitu mempesona di bawah sinar lampu kamar yang bersinar temaram.
Kris sesekali mengecupi permukaan kulit kecokelatan Zi Tao yang selembut kapas dan semanis susu. Sukses membuat tubuh pemuda yang berukuran cukup kecil itu menggeram rendah sembari sesekali meremas helaian jabrik milik Kris.
"Ugh—tidak bisakah kau segera menyelesaikannya?"
Bertanya dengan raut wajah yang super memerah—Kris bisa melihatnya dengan jelas—, Zi Tao terlihat mencoba membujuk Kris untuk segera bergerak cepat sehingga ia bisa lekas tidur mengingat esok hari adalah tugasnya untuk kembali mengajar di sekolah puteranya.
Kris sendiri tersenyum miring, dan malah semakin berniat menggoda sang kekasih dengan menggerakkan tubuh bagian bawahnya sepelan dan sehalus mungkin.
"Kenapa peach? Kau terlihat sangat tidak sabaran sekali malam ini.."
Bluuush—!
Wajah Zi Tao kembali memerah sempurna. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan sedikit menggerutu dengan begitu sebalnya.
"Besok aku harus mengajar brengsek. Cepat selesaikan atau keluarkan saja milikmu itu dari tubuhku!"
Zi Tao menggeram marah, dan memandang wajah tampan sang pria yang kini masih berada di atas tubuhnya itu dengan mata yang berkilat tajam. Tak sadar jika kata-katanya tadi semakin memancing nafsu Kris untuk terus menggoda tubuhnya.
Sreeet—
"U-ukh! Hei, apa yang—ukh—apa yang kau lakukan?"
Zi Tao mengerang lemah saat ia merasakan sesuatu dari dalamnya terasa ditarik secara paksa. Ada rasa sakit dan panas yang tiba-tiba menghampiri tubuh bagian belakangnya. Membuatnya tanpa sadar hendak menjerit sebelum ia ingat jika Zi Fan sedang tidur di kamar yang lain.
"Kau bilang ingin aku keluar.." ujar Kris sembari memasang cengiran tanpa dosa yang membuat Zi Tao ingin sekali menendang kekasihnya itu sampai ke benua seberang.
"U-ungh, bukan begitu juga maksudku—ahh, Kris, apa yang kau pegang?"
"Aku akan melakukannya dengan cepat sesuai permintaanmu, peach. Berbaliklah.."
Zi Tao menganggukkan kepalanya paham. Ia kemudian memutar tubuhnya hingga tengkurap, masih dengan milik Kris yang berada di dalam tubuhnya. Zi Tao sontak mendesis lirih menahan sakit ketika benda yang berada di dalam rektumnya itu bergesekan kuat dengan dinding-dinding lubangnya.
Kris sendiri segera menarik miliknya hampir keluar, dan beberapa saat kemudian menghujamnya dengan keras dan cepat hingga membuat Zi Tao tersentak dan memekik kaget. Ia lalu menggerakkan tubuhnya cepat, mengikuti irama permainan panas mereka yang terasa semakin membakar tubuh.
Zi Tao sesekali melenguh sambil merintih memanggil nama Kris pelan dan berulang-ulang. Ke sepuluh jemarinya mencengkeram kuat kain sewarna birunya langit siang hari yang menjadi alas tubuh polosnya itu, seolah menahan rasa sakit—tapi juga nikmat—yang kini mendera tubuhnya.
"Kris, Kris, Kris—!"
"Sebut namaku terus seperti itu peach! Tunjukkan kalau kau membutuhkanku.."
"Ukh, Kris! Kris! Kris—!"
Menyeringai lebar, Kris merasa yakin jika pemuda yang sedang di bawah kendalinya itu memang membutuhkan dirinya. Ia juga bisa merasakan dengan jelas saat rektum pemuda itu menyempit dan menjepit miliknya erat di dalam sana. Hell—Kris merasakan dirinya hampir saja datang hanya gara-gara mendengar suara lenguhan dan desahan Zi Tao.
"Kris! Kris! Kriiiiiiiiis—!"
Kris merasa sedikit heran dengan teriakan Zi Tao yang terakhir. Menghentikan dorongan maju-mundur pinggulnya sejenak, ia lalu memandang wajah Zi Tao yang basah dipenuhi peluh, sedang memandangnya tajam.
"Ada apa? Aku lagi enak peach?"
"Enak kepalamu! Ada orang di luar tahu!"
"Hah?" Kris mengernyitkan dahinya bingung. Tak mengerti dengan maksud Zi Tao yang mengatakan jika ada tamu di luar.
—tong! Ting Tong!
Oh iya, benar juga.
"Biarkan saja. Sebentar lagi aku sampai tahu."
Setuju Kris. Lebih baik jangan pedulikan tamu sialan yang sudah mengganggu aktifitas panasmu bersama Zi Tao. Cepat selesaikan urusan ranjang kalian dan segera tidur. —Baik, ini adalah saran yang sangat brilian dari mbak author! Uyeah (⌐Ɛ⌐/'\)
Kembali pada kondisi Zi Tao dan Kris. Pemuda bermata panda itu tampak semakin menajamkan pandangan matanya ke arah Kris. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh Kris agar menjauh—bahkan kalau bisa sekalian keluar—dari tubuhnya.
Tingtongtingtongtingtongtingtong—!
"Buka pintunya Kris. Kumohon.."
Crap—!
Kalau sudah berhadapan dengan pandangan memelas ala Zi Tao sudah bisa dipastikan siapa yang jadi pihak "kalah"—nya kan? Jadi dengan dengusan kecil—yang menandakan betapa sebalnya Kris karena merasa lemah jika dibandingkan dengan puppy eyes Zi Tao tersebut—ia lalu menarik tubuhnya, dan mengeluarkan miliknya dari dalam diri Zi Tao—dengan wajah terpaksa tentu saja—dan menuruti kemauan Zi Tao untuk membukakan pintu rumah mungil tersebut.
"Kris.."
Baru saja ia turun dari ranjang dan bersiap untuk melangkah. Kris tiba-tiba dikejutkan dengan Zi Tao yang memanggil namanya pelan. Menyunggingkan sebuah senyum misterius, Kris dengan percaya diri merasa yakin jika Zi Tao sebenarnya tidak ingin dirinya pergi.
"Ya, sayang?"
"Jangan lupakan celanamu. Kau belum memakainya."
—Huwad de hel? Ar yu kidding mi ma beibeh?
"Tentu, aku baru saja akan mengambilnya." desis Kris geram, begitu mengetahui dugaannya kepada Zi Tao meleset jauh.
Ia kemudian segera mengambil celana miliknya, dan mengenakannya secara asal-asalan. Kemeja berwarna putih—entah milik siapa—yang berada di lantai itu juga tak luput dari jangkauan tangannya, dan Kris segera memakainya walau tak sempat mengancingkan buah bajunya.
Cklek—
"Sia—pa?"
Kris yang baru saja memutar kenop pintu berbahan dasar kayu itu kontan membungkam mulutnya. Matanya menyipit, dan kedua alisnya bertaut sebal begitu ia tahu siapa sosok yang tadi telah mengganggu malam panasnya bersama Zi Tao.
"Kau?"
"…"
"Mau apa kemari?"
"Zi Tao-hyung dimana? Aku ingin bertemu.."
Kedua mata cokelat bening pemuda yang ada di hadapan Kris itu terlihat basah. Pias wajahnya terlihat mendung, dengan bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum menawan itu melengkung ke bawah.
Kris menarik nafas panjang, dan membuka pintu jauh lebih lebar, membiarkan si pemuda berambut cokelat itu masuk. Seusai menutup pintu, Kris segera berjalan ke arah kamar, menemui Zi Tao yang tampak sibuk memakai jubah mandi.
"Siapa yang datang?"
"Shi Xun."
Kris menjawab pertanyaan yang dilontarkan Zi Tao singkat, ia berniat membaringkan tubuhnya sebelum Zi Tao memberikan sebuah pertanyaan lagi untuknya.
"Kenapa malam-malam dia datang kemari?"
Kris menggelengkan kepalanya tak mengerti. Dan mulai tidur memunggungi Zi Tao.
"Dia ingin menemuimu. Wajahnya terlihat kacau."
Zi Tao terdiam. Ia kemudian memegang lengan Kris, dan mengajak pria itu pergi bersamanya.
"Ayo kita temui Shi Xun, dan bantu dia menyelesaikan masalahnya."
Kris diam tak berkutik. Tak bisa membantah maupun melawan. Ia hanya bisa pasrah saat tubuhnya di tarik keluar oleh Zi Tao dari dalam kamar, dan mendapati keadaan Sehun yang jauh lebih berantakan dari yang Kris lihat tadi.
"Shi Xun? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Zi Tao panik ketika ia melihat Sehun tengah menjambak surai cokelatnya kuat.
"Luhan membenciku, hyung.."
"…"
"Dia kembali membenciku seperti dulu."
.
.
:::
.
.
Brak
"Haaaa? Whadda do you saaay? Shi Xun itu—hik, dia brengseeeek!"
Yixing memutar kedua bola matanya bosan. Ia tak henti-hentinya mencoba meraih gelas brandy milk milik Luhan yang isinya tinggal separuh. Ternyata Luhan itu memang orang yang tak tahan dengan alkohol. Masa baru minum setengah gelas brandy yang dicampur dengan susu strawberry—demi Tuhan, itu memang susu—saja sudah mabuk parah seperti ini.
"Lu, berhenti meminumnya kalau kau tidak kuat!"
"Huuung? Apa katamu—hik? Aku kurang cantik? Aku ini manly Xing Xing, manly!" seru Luhan dengan ngawurnya. Pemuda pirang itu mulai beranjak bangkit dari kursi yang tadi didudukinya, dan mulai berjalan terhuyung di dalam bar.
"UWAAAAAH! INI TIDAK ADIIIIL!"
Luhan kembali berteriak kencang. Ia kemudian berputar-putar tidak jelas, dan mulai menaiki satu-persatu meja-meja yang ada di dalam bar. Yixing yang melihat kondisi Luhan yang semakin parah segera menarik tubuh mungil pemuda manis menjurus ke cantik tersebut, dan menyeretnya paksa.
"Luhan, berhentilah bertingkah memalukan, astaga." keluh pemuda dengan satu dimple di sebelah pipinya itu dan menggelengkan kepalanya frustasi. Sedikit menyesal juga kenapa ia tadi menyuruh Jongin untuk pulang terlebih dahulu. Ah, salahnya juga sih.
"INI TIDAK ADIL YIXING! TIDAK ADIL!" jerit Luhan kembali, dan memandang Yixing yang tengah memapah tubuhnya kesal.
"Iya, iya, tidak adil. Tidak ada yang adil di dunia ini kawan." balas Yixing sekenanya, tak begitu ingin menanggapi kata-kata Luhan.
"Hanya karena bokong Tao lebih besar dan lebih seksi daripada punyaku saja Shi Xun lebih memilihnya! Aku juga cantik dan jauh lebih manly ketimbang dia! Tapi kenapa Shi Xun malah memilihnya? KENAPAAAAA—hik?"
Yixing menghela nafas lelah. Ia sudah tidak tahu harus menjawab apalagi untuk menanggapi Luhan.
"Sabar Lu, sabar.."
"Mentang-mentang dulu—hik, mentang-mentang dulu aku pernah menolaknya saja, dia malah lari ke Tao! Tapi kan waktu itu dia tidak tahu kalau aku—hik, kalau aku sudah jatuh cinta padanya! Sialaaaan!"
"Iya, iya.."
"HUWAAAAAAAA~!"
"Lu, berhenti berteriak seperti itu.."
"HUWOWOWOWO—! AAAAARGH!"
"ASTAGA, DEMI TUHAN XI LU HAN! BERHENTILAH MENGOCEH, OKE?" sentak Yixing cukup keras tepat di depan telinga Luhan. Tapi dasar orang yang sedang mabuk. Luhan malah terkekeh kecil dan mengalungkan sebelah lengannya di pundak Yixing. Wajah cantik Luhan-pun semakin memerah seiring parahnya kondisi tubuhnya yang tidak bisa menoleransi kehadiran alkohol.
"Hihihihi, jangan berteriak-teriak seperti itu dear. Suaramu itu—hik, berisik tahuuuu.."
"JUSTRU YANG BERISIK ITU KAU, TAHU?" sentak Yixing lagi, dan sukses membuat Luhan semakin tertawa tak jelas dan mulai menyanyi-nyanyi dengan suara cemprengnya.
"Shun jian Heart Attack—hik. Dong ye—hik, dong ye bu neng dong.."
'Bocah ini sudah gila—!' batin Yixing dan kembali memapah tubuh Luhan menuju ke sebuah bangku yang ada di taman kota. Kebetulan hanya tempat itu yang terlihat sepi malam hari ini mengingat waktu yang memang sudah menunjukkan hampir tengah malam.
"Cui hui le wo de shi jieeee—hik, chen zui zai ni gei de Heart Attack. Kuai shi qu hu xi, dang ni ru ci tie jin—hik! Huwowowowo... Ugh—!"
Yixing melotot horor. Ia segera menolehkan kepalanya menatap Luhan yang sedang memegangi perutnya. Oh tidak, ini buruk Zhang Yi Xing.
"Luhan! Tahan sebentar, jangan mun—"
"HOEKK!"
"—tah dulu."
Terlambat. Isi perut Luhan kini telah keluar—walaupun belum semua—dan mengotori sebagian besar mantel yang Yixing gunakan. Tsk, payah, payah, payah!
"Dasar! Gara-gara kau jadi kotor seperti ini! Jangan salahkan aku jika aku menghubunginya ya?"
Yixing menggerutu kecil. Ia kemudian mendudukkan Luhan yang tengah lemas di atas bangku taman, dan mulai mengambil telepon genggam miliknya seperti hendak menelepon seseorang.
Tuuut tuuut..
Pik—!
"Halo—"
.
.
:::
.
.
Kris duduk diam di salah satu sofa di seberang Sehun. Kedua matanya menatap geram saat Zi Tao dengan sayangnya mulai ikut duduk di sebelah pemuda berambut cokelat terang itu, sembari sesekali mengusap lengan Sehun pelan.
"Jadi, ada yang bisa cerita padaku tentang hubungan si puppy ini dengan Luhan-Luhan yang kalian maksud? Dan—kenapa kau juga disangkut-pautkan peach?" tanya Kris lirih, mencoba memecah kesunyian yang tadi sempat tercipta di antara mereka bertiga.
Zi Tao yang mendengar pertanyaan Kris segera memutar tubuhnya. Dan ganti menatap pria yang ber-status sebagai ayah dari peteranya itu dengan pandangan yang sukar dibaca. Menarik nafas panjang, Zi Tao pun mulai membuka bibirnya dan bercerita.
"Tiga tahun yang lalu, sebelum Shi Xun bertemu denganku, ia sudah terlebih dahulu bertemu dengan Luhan-ge, salah satu rekan kerjaku di sekolah."
"…"
"Shi Xun jatuh cinta padanya, tapi Luhan merasa perasaan Shi Xun hanya perasaan seorang bocah—waktu itu Shi Xun masih menjadi murid SMA—jadi dia menolak perasaan Shi Xun."
"…"
Kris menganggukkan kepalanya kecil. Mulai paham dengan alur kisah pemuda berambut cokelat di hadapannya itu.
"Setahun setelahnya, saat Shi Xun telah lulus sekolah, kami—aku dan Shi Xun—bertemu. Dan kami sepakat untuk bertunangan setelah ia tahu jika Zi Fan tidak memiliki ayah—maksudku belum memiliki ayah—karena kau masih di dalam penjara waktu itu." ucap Zi Tao dan sembari meralat kata-katanya tadi saat ia melihat alis tebal Kris yang berkedut sebal.
"Oh.."
"Dan sekarang ketika kau kembali, Shi Xun membatalkan pertunangan di antara kami agar aku bisa menjadi milikmu lagi."
"Dan kau ingin mengatakan jika semua hal ini disebabkan oleh—diriku?"
"Tepat."
Drrt drrt drrt—
Beberapa saat setelah Zi Tao menjawab pertanyaan Kris—dan dibalas dengan glare tajam dari si pria yang bersangkutan—tiba-tiba saja ponsel milik Sehun bergetar, tanda ada sebuah panggilan masuk.
Oh Sehun pun segera mengambil ponsel miliknya yang berada di saku jaketnya cepat. Dan mengernyit bingung saat ia mendapati sederetan angka dengan kontak "Zhang Yixing" sebagai pemiliknya, tengah melakukan panggilan padanya.
—pik!
"Halo?"
"—!"
Zi Tao memandang Sehun heran ketika pemuda itu tak kunjung bicara. Ia cukup penasaran dengan orang yang menelepon Sehun di jam-jam seperti ini. Apalagi Sehun hanya diam dan malah meremas telepon genggamnya kuat dengan mulut yang terbuka sedikit dan mata yang membelalak lebar.
"Aku mengerti. Aku akan segera ke sana sekarang." ujar Sehun setelahnya, dan mematikan sambungan telepon Yixing.
Pemuda berkulit seputih susu itu segera bangkit dari posisi duduknya, dan kontan berlari keluar dari rumah Zi Tao. Tak mempedulikan ponselnya yang masih tertinggal di atas sofa, membuat Zi Tao dan Kris saling melempar pandangan heran.
Kris yang tanggap kemudian mengambil ponsel milik Sehun, dan melihat Log di ponsel Sehun untuk melihat siapa yang baru saja melakukan panggilan dengan Sehun.
"Barusan yang menelepon Zhang Yixing. Teman guru-mu juga kah?" tanya Kris dan menatap Zi Tao. Membuat yang ditanya segera menganggukkan kepalanya cepat.
"Ini gawat kalau begitu. Kita harus menyusul Shi Xun sekarang."
.
.
:::
.
.
"Halo—"
"…"
"Shi Xun! Gawat gawat! Ini darurat Shi Xun! Emergency! Tolong Luhan! Dia sedang gila sekarang! Dia membutuhkanmu! Cepat kemari oke? Kami ada di taman kota dekat rumah Zi Tao! Aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa agar dia tenang sedikit, ah—GYAAAAA, LUHAAAN! JANGAN BUNUH DIRI DULUUUU!"
"…"
"Hah? Apa? Oh oke, cepatlah Shi Xun!" —pik!
Tut tut tut tut tut..
"Ugh—siapa yang kau telepon barusan?"
Yixing yang ditanya segera menolehkan kepalanya dan menatap Luhan yang masih memegangi perutnya. Luhan merasa jika sekarang ini perutnya terasa mual, dan kepalanya seperti di hantam bebatuan cadas.
Yixing tersenyum tipis, dan mulai membantu memijat tengkuk Luhan agar sahabatnya itu bisa mengeluarkan isi perutnya sekali lagi.
"Zhong Ren. Dia memintaku untuk segera pulang." kilah Yixing membuat Luhan memandangnya tak percaya.
"Uegh—!"
Drap
Drap
Drap
"Lu?"
Baik Yixing dan Luhan segera membalikkan tubuh mereka sejenak, dan memandangi Sehun yang terlihat ngos-ngosan seperti habis berlari. Sehun sendiri kemudian kembali melangkahkan kakinya cepat, dan menghampiri Luhan yang masih berjongkok di balik semak-semak.
"H-Hun?"
Luhan mendelikkan kedua bola mata besarnya kaget, dan ganti memandangi Yixing dengan tatapan kesal.
"Cepat sekali kau datang?" tanya Yixing.
"Aku sedang berada di sekitar sini tadi." jawab Sehun sembari mengusap tengkuknya kikuk. Tak mungkin jika ia bilang jika ia baru saja datang dari rumah Zi Tao. Bisa-bisa Luhan salah paham dan kembali marah padanya.
"Dari rumah Zi Tao?" tanya Yixing lagi, sembari menunjuk ke arah belakang Sehun dimana ada sosok Kris dan Zi Tao yang tengah berlari ke arah mereka. Sehun lalu menolehkan kepalanya sekilas, dan menganggukkan kepalanya kecil.
"Kenapa kau kemari?"
Si pirang yang baru saja selesai berurusan dengan kondisi perutnya itu kemudian bangkit berdiri, dan memandangi pemuda berambut cokelat terang itu nyalang. Apalagi saat ia mendapati Zi Tao telah hadir di antara mereka semua.
"Yixing bilang, kau ingin bunuh diri. Jadi aku segera berlari kemari dan—"
"AKU MABUK DAN INGIN MUNTAH BODOH! BUKAN BUNUH DIRI! KENAPA KAU BERBOHONG SEPERTI ITU, LESUNG PIPIT SIALAN?"
Luhan berteriak keras dan mencengkeram kerah mantel Yixing kuat. Ia bahkan memanggil Yixing dengan nama olok-olokan yang dibuat Jongin. Sedang pemuda berambut cokelat ikal itu hanya memutar kedua matanya bosan, dan segera menyuruh Luhan untuk menyingkirkan tangannya dari kerah mantel yang ia pakai.
"Kalau tidak seperti itu, Shi Xun mana mau cepat datang, heh?"
"…"
"…"
"…"
"…"
"…"
Suasana hening kemudian melanda kelima orang tersebut. Luhan yang masih kesal terpaksa melepas cengkeramannya pada kerah mantel Yixing. Ia kemudian mulai melangkahkan kakinya dan berjalan terhuyung, mendekati Sehun yang berdiri tak jauh darinya.
Tap
Tap
Dua langkah hampir dekat. Dan Luhan kini sudah tepat berada di depan Sehun. Pemuda bersurai pirang itu kemudian mengangkat sebelah tangannya dan—
Plak—!
—menampar sebelah pipi Sehun keras. Hingga menimbulkan bekas kemerahan yang ketara di wajah tampan pemuda beriris cokelat bening itu.
"Itu tamparan untukmu yang sudah membuatku mabuk."
Plak—!
"Itu untuk ganti rugi mantel Yixing yang sudah aku muntahi."
Plak—!
"Untuk kau yang sudah memutuskan Zi Tao, dan malah menyuruhnya kembali pada mantan pacarnya."
Plak—!
"Untuk kau yang sudah membuatku benci padamu."
Plak—!
"Untuk kau yang sudah seenaknya membuatku jatuh cinta pada bocah sial sepertimu."
Grab
Baru saja Luhan akan melayangkan telapak tangannya lagi ke arah wajah Sehun. Pemuda berambut cokelat terang itu dengan sigap segera menangkap pergelangan tangannya, dan mencengkeramnya kuat.
"Lu, pipiku sakit jika kau terus menamparnya seperti itu." ujar Sehun pelan dan memandang iris Luhan yang juga tengah menatapnya.
Luhan membisu. Tak ingin mengomentari atau membalas kata-kata Sehun. Perlahan-lahan ia mulai menundukkan kepalanya. Menyembunyikan kedua matanya yang sudah terlebih dahulu basah.
"Lu.."
Suara Sehun yang lirih memanggil nama Luhan sekali lagi. Memaksa pemuda bersurai pirang itu agar mau tak mau memandangnya kembali.
"Aku masih mencintaimu—" Sehun menarik nafas pelan, dan kemudian menghembuskannya. "—dan perasaan ini tidak akan pernah berubah sampai kapan pun."
Luhan terkesiap. Dipandanginya kedua mata Sehun yang berbinar kala pemuda yang berusia jauh lebih muda daripada dirinya itu mengatakan kalimat tadi. Dada Luhan terasa sesak, perutnya kembali terasa penuh, tapi bedanya Luhan merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam sana dan menggelitik tubuhnya.
"Ta-tapi, kau dan Zi Tao—"
"Zi Tao-hyung mencintai Kris-hyung. Begitu juga sebaliknya. Dan perasaan mereka tetap sama dari dulu sampai sekarang, Lu."
"Aku—"
"Tak percayakah kau padaku?"
"…"
"…"
"…"
"…"
"Aku—percaya.."
.
.
:::
.
.
3 bulan kemudian…
"—sekarang kalian berdua telah resmi menjadi pasangan suami—err—suami. Semoga Tuhan memberkati kalian."
Para hadirin dan tamu undangan yang berada di dalam gereja itu kontan bertepuk tangan meriah. Menyambut kebahagiaan yang dirasakan sepasang pengantin yang kini telah resmi mengikrarkan cinta mereka melalui pernikahan. Tak terkecuali Zi Tao yang kini tengah menutup bibirnya menggunakan sebelah tangannya, menampilkan sebuah cincin berwarna keperakan yang melingkari jari manis miliknya. Menahan rasa haru dan bahagia yang bercampur menjadi satu.
Sesekali ia tertawa kecil, saat melihat Zi Fan—puteranya—yang di daulat sebagai bridesman cilik itu tengah melemparkan kelopak-kelopak mawar berwarna putih dengan begitu brutalnya ke arah sang pengantin yang sedang berciuman mesra.
Zi Tao kemudian merasa seseorang yang duduk di sebelah tubuhnya mengapit lengannya, dan memandangnya penuh kasih.
"Pemandangan yang bagus kan, peach?" tanya sosok itu, sembari menggenggam jemari Zi Tao erat. Ikut memamerkan cincin perak yang menjadi pasangan cincin milik Zi Tao.
"Iya. Indah sekali." balas Zi Tao dan tersenyum manis.
Zi Tao kemudian melongokkan kepalanya ke arah bangku yang berada di seberang mereka. Dimana ada sosok Yixing, guru olahraga di Taman Kanak-Kanak tempat ia mengajar, sedang beradu mulut dengan seorang pemuda manis berkulit tan.
"Lihat mereka Xing Xing! Sudah menikah! Kita kapan?"
"Tunggu dua bulan lagi, Zhong Ren. Setelah kau lulus sekolah, aku pasti menikahimu."
"Tapi dua bulan lagi perutku akan semakin membesar! Bagaimana jika appa dan eomma-ku curiga?"
"Zhong Ren, pelankan suaramu! Kau bisa membuat seluruh orang di gereja ini tahu kalau kau sedang hamil."
"BIAR SAJA MEREKA TAHU!"
"Astaga Zhong Ren. Tutup mulutmu sekarang juga, pantat wajan!"
"Lesung pipit sialan!"
Zi Tao menggelengkan kepalanya pelan. Memaklumi tingkah ajaib pasangan unik di seberangnya itu. Ia kemudian bangkit berdiri, dan mengajak Kris untuk memberi selamat kepada sang pengantin.
"Ayo kita menemui Shi Xun dan Luhan.."
Kris menganggukkan kepalanya setuju, dan ikut menemani Zi Tao berjalan menuju dua pemuda yang dibalut setelan tuxedo berwarna putih, sedang berdiri di dekat air mancur di halaman gereja St. Patrick.
"Shi Xun, Luhan-ge.."
Zi Tao menyapa kedua pemuda itu riang, dan mulai berjalan mendekati mereka. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat Luhan tengah membungkukkan tubuhnya membelakangi mereka, sembari memegangi perut dan juga mulutnya.
"Zi Fan? Apa yang terjadi?" tanya Kris pada sang putera—yang kebetulan berada di sana—dan memandangi Shi Xun serta Luhan bergantian.
"Luhan-mama muntah-muntah. Dia bilang pelutnya cedang cakit."
"Eh?"
Begitu mendengar kata-kata "muntah" Zi Tao sontak membelalakkan kedua matanya kaget, dan mulai meraba perutnya yang entah kenapa terasa bergejolak. Ia kemudian mencengkeram lengan Kris kuat dan—
"HOEK!"
—muntah dengan begitu elitnya di jas hitam yang tengah Kris kenakan.
"Oh, tidak.." desah Kris pasrah, dan memandangi nanar jas hitam mahal yang baru saja dibelinya dengan susah payah.
"Hm, cepeltinya aku akan punya adik bayi balu."
Bocah berusia lima tahun itu berucap pelan. Dan memandangi Luhan dan ibunya bergantian.
"E-eh? Darimana kau tahu kalau mama-mu akan punya bayi?" tanya Sehun dan memandang Zi Fan was-was. Sedikit kagum akan kepandaian pikiran 'anak'-nya tersebut.
"Bukan Luhan-mama yang aku makcud baba. Tapi mommy!" dengus Zi Fan sembari tersenyum mengejek.
Bocah tampan itu kemudian melangkahkan kakinya menjauh. Meninggalkan orang-orang dewasa yang menurutnya menyebalkan itu sembari berceloteh tak terima.
"Kenapa baba beltanya cepelti itu? Apa mama juga akan memiliki bayi cepelti mommy? Dan itu altinya aku akan punya dua adik bayi balu? Arrrggghhh, menyebalkan, catu caja cudah lepot! Cekalang malah ada dua!"
"Xing Xing! Aku tidak mau tahu—kau harus bertanggung jawab dengan bayi yang ada di perutku ini!"
"TIDAAAAAAK! KENAPA MALAH ADA TIGA?"
Sehun yang masih bingung akan kata-kata Zi Fan, memiringkan kepalanya tak mengerti. Baru ketika ia melihat Zi Tao yang kembali muntah, ia kemudian memekik kaget.
"Tunggu—mommy? Maksudnya—?" dan Sehun memotong kata-katanya saat Luhan yang tiba-tiba menjerit heboh.
"ASTAGA HUANG—WU—ZI TAO! KAU HAMIL LAGI?"
.
.
::: Series 2 – FIN :::
.
.
Cuap-cuap si penulis ini epep:
ASDFGHJKL, OMEGAWD OMEGAWD OMEGWAD! AKHIRNYA SELESE JUGA, YATTTAAAAAA! /lempar menyan/
Alhamdulillah ya sodara-sodara, atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkannya kelabilan ekonomi Negara ini hingga membuat kudeta di hati. Akhirnya masa-masa yang suram dan mempertakut kita bisa mengatasi kontroversi hati yang menyebabkan konspirasi kemakmuran kita sedikit terguncang.
SEVENTEEN MY AGE YU NOOOO? /bahasa mbulet/ /mulai gila/
Intinya sih bro, gue seneng gegara epep gue yang ini akhirnya selesai *nangis bombay* /kenapa yang di atas penjelasannya njelimet gitu coba? (-_-)/
Gimandose, gimandose? /lenjeh/ Ada yang terhibur dengan series terakhir ini? Ane harap kagak mengecewakan ya hasilnya? Yah walopun ada adegan yang ga senonoh—tunjuk bagian TaoRis NC—seenggaknya antum-antum sekalian pada puas, walopun lemonnya(?) nanggung di tengah-tengah gegara entu siluman puppy dateng dan ganggu acara—mulai nyalahin Sehun—.
Terus, kayanya di series ini HunHan lebih mendominasi *bahasa ambigu* kok ya? Sengaja sih beb, soalnya jiwa KrisTao saya lagi meredup *lu kate lampu?* Ane sekarang malah lagi aktif jadi sider di fandom tetangga *sider aja bangga* Terus-terus, di sini juga nyempil XingJong—LayKai— kopel pan yak? Sekedar informasi aja ya berooo, saya ini shipper mereka sejak dulu *ga ada yang tanya* Apalagi pas di pidio Weekly Idol EXO yang kedua, mereka pake battle dance segala. Terus, terus, terus, si Xing Xing manggil Kkamjong pake gaya sensual gitu!
RAAAWWWRRRR! OUW—EM—JIIIIII! /gila beneran/
Yep, sebagai bonus—lu kate dorprais pake bonus segala?—ane akan membalas SEMUA review kalian di sini—ngomong aja lu males balesin lewat PM—.
Yaudah, chekidot -
jettaome: [Sehun] Baguth? Thitu yakin kalo epep punya author lenjeh macem dia—tunjuk author— baguth? Gue dibikin aneh tahu ama dia tiap kali muncul di epepnya! /jerit ga terima/ Betewe makathih udah RnR, thalam thayang dari Thehun /acung jempol/
Vicky98Amalia: [Tao] Ini udah dilanjut berooo. Silahkan dinikmati /wink/
Miettenekomiaw: [Gue] "…." /speechless/ E-eto, ini ripiunya panjang banget. Bingung mau balesin apaan. Gue kirim sekotak permen karamel penuh cinta aja ya beb? Makasih udah bilang bagus dan suka /civok/
PiCaPiQi: [Gue] Ini udah dilanjut beb, sorry banget kalo lama :( *kaya epep lo ditungguin aja*
LemonTea07: [Jongin] Kata mbak author-nya, typo adalah sebagian dari seni! Kalo kata teroris, seni adalah ledakan! *BLARRR*
Jonanda Taw: [Zi Fan] Ji Pan juga ga mau pake nama itu! Dulu Ji Pan belom dikacih tau altinya cih, jadi Ji Pan diem aja ._. [Gue] Semoga yang ini alurnya ga kecepetan ya? Makasih udah suka /civok/
PutchanC: [Kris] "…" /liatin orang yang lagi lari di lapangan/
ayulopetyas11: [Tao] Iya, iya, gue tau kalo gue emang manis /kibas daster/ NC kalo kaga di skip, entar ente-ente pade mimisan berat liat bokong seksai ane /tepok dada sok/ /ditendang author gegara narsis/
Panda Qingdao93: [Gue] Kalo gue pengen jadi Jongin! Dia manis—baca: lenjeh—banget di sini /mulai menggila/
Jin Ki Tao: [Gue] Sehunnya emang tunangan sama Tao kok. Tapi dia ga cinta sama Tao. Cintanya mentok di Luhan /eaa/ Siiip, baca karya-karya saya yang lain juga ya kalo gitu? /ketjup/
Kang Hyun Yoo: [Zi Fan] Gyaaaaa! Jangan culik Ji Pan tanteee! Daging Ji Pan alot! Kagak enak dimakan! [Jongin] HUAPAAAAH? XING XING MAU NGEREBUT ENTU NAGA BURIK MESUM? FINE, GUE BAKAL BALIKAN AMA KYUNGSOO! /bisa kita lihat Yixing sedang pundung di pojokan sekarang/
Il Ji Mae noona: [Gue] Ini noona, HunHan-nya udah ane blebekin(?) di sini! Itu, si Ji Pan mah, jalan pikirannya udah dewasa, jadi dia tahu kalo mommy daddy-nya lagi ehem-ehem(?)an /senyum nista/
ABStyle-Noona: [Gue] Maap ya noona, sekuelnya lama /bow/ Ane lagi galo soalnya, mo lanjutin ini epep apa kagak. Tapi syukurlah selesai juga. MAKASIH UDAH RNR! /ketjup mesra/
ajib4ff: [Sehun] Nama marga thehun kalo dibahatha cinain emang jadinya Wu! Tapi amit-amit deh Thehun thodaraan ama tuh naga methum *kaya lo kagak aja Hun -_-* Dulu Thehun emang calon thuaminya Tao-hyung, tapi thi naga burik itu balik lagi dan ngerebut Tao-hyung -_- Lagian thehun thayangnya cuma ama LuLu kok :3 Thehun kan ga kaya tuh naga brewok yang tukang thelingkuh! [Kris] BUNUH GUE AJA HUN! BUNUH GUE! /labil/
: [Gue] Oke, silahkan nikmati epep saya lainnya :3
Ananda fitria: [Gue] Udah ada kan seriesnya selanjutnya? Pairnya campur-campur aja yah? KrisTao—HunHan—XingJong lumayan kece buat saya (y)
ZiTao99: [Gue] Oke, sip!
Dark Shine: [Jongin] Satu lagi makhluk lenjeh -_- /digampar/ Makasih loh udah suka :*
Emaknya Panda: [Zi Fan] Astaogeh! Halmoni baca ini epep! Ji Pan tetep kece kan halmoni di cini? Cucu ciapa dulu coba? /pasang seringai sok cakep punya bapake/
taoris shiperrr: [Gue] Makasih, makasih, makasih udah bilang keren /kibas rambut/ /poles bedak/ Ini yang punya akun Che24 bukan? /asbak/ Kalo begitu ayo kita berjuang sama-sama dan melestarikan epep TaoRis! Fighting! /semangat membara/
JB is Juanda Brother: [Kris] And we need your review :3 /wink/
desty 961201: [Luhan] Apakah ini termasuk dalam kategori happy ending? /sok nanya segala/
Ryu: [Yixing] "…." /diam tanpa kata/ /bingung mau bales apaan/
Athena Chesloock: [Gue] Ini sudah ^^
neby: [Kris] Ini udah di-post kan? Maapin authornya ye, kalo lama apdetnya. Maklum, dia abis semedi di gunung Kelud soalnya ._.v Thanks udah suka sama karya-karya epep dia—terutama yang TaoRis :3— :D
ChrisAidenicKey: [Zi Fan] Coalnya daddy alelgi mobil tante (y) eh, Ji Pan cekelen itu ya emang? Anaknya ciapa dulu coba? /tepok dada bangga/
fitriws21: [Gue] LOL! Udah kan ini?
Lee An: [Sehun] Ini thudah :3
sycarp: [Yixing] Oke (y)
iia: [Gue] /angkat bahu/ *plak*
: [Luhan] Eh? Dua akun? Yang mana ya? /amnesia/ /emangnya tahu?/ Kalo Kris mati, entar Tao-nya diembat sama author (-_-) makanya dia bangkit lagi dari dalam kubur! /BEDA CERITA WOIY! ITU CERITA SEBELAH!/ *author emosi*
Finally, thank you so much-much-much-much for you-you semua yang udah bersedia membaca—apalagi mereview—dan melirik cerita abal ini. Saya merasa tersentuh /usap ingus/ dan tidak menyangka jika kalian begitu mencintai saya /HOEK!/
Sekali lagi terima kasih kawan. Sampai ketemu di epep saya yang lainnya :D
YOU ROCK! :*
