Hari kedua
Sehari kemarin L mengabaikan Watari yang datang menanyakan bagaimana pemeriksaan prostat yang pertama. Begitu sampai di kamar, L akan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur, meringis beberapa kali akibat merasakan ngilu pada daerah intimnya.
Sore ini L akan pergi mengunjungi Dokter untuk pemeriksaan tahap kedua. Mungkin L akan meminta obat penghilang rasa sakit.
Datang kembali ke klinik, L melihat hanya segelintir pria tua duduk di ruang tunggu. Kakek aneh yang ingin jari tengahnya dihisap kemarin juga tidak ada. L curiga mungkin mereka mengalami rasa sakit yang sama dengannya kemudian enggan datang ke klinik lagi. Tidak. Yagami Raito adalah dokter terkemuka di bidangnya. L tidak pernah mendengar seseorang mengeluhkan metode pengobatan sang dokter muda. Rasa sakit dan ngilu di sekujur tubuh adalah keluhan paling ringan seorang pasien di dunia kedokteran baginya. Ya. L tidak boleh mengeluh.
Suster Misa yang terlihat bingung. Wajahnya seolah melontarkan pertanyaan 'Anda datang lagi? Sudah ada janji?', sebelum wanita berambut pirang itu melesat masuk ke dalam ruangan Dokter Raito.
L duduk, sedikit termangu, di ruang tunggu – duduk dengan posisi normal. Alangkah tidak menyenangkan hanya karena dari sebuah pemeriksaan kesehatan, ia harus kehilangan beberapa persen kemampuan untuk berpikir. L menggigit ibu jarinya tidak sabar. Pasien lainnya, seperti biasa, mengamati tingkah laku L dengan wajah tidak nyaman.
Suster Misa keluar dari ruangan Dokter dengan senyuman tipis. L hampir bisa membaca sekelumit rasa kasihan berpendar di wajah putihnya.
"Tuan Lawliet bisa langsung masuk ke dalam sekarang juga."
Menoleh ke pasien lainnya, L mendapati mereka membalas menatap dengan heran bercampur kesal. Dokter Raito seolah memperlakukan L sebagai pasien istimewa.
Di dalam ruangan, raut wajah bersahabat langsung menyambut L. Dokter Raito berdiri di belakang meja, satu tangan bertumpu pada sandaran kursi, tangan lainnya sedang memegangi kartu kesehatan L.
"Apa kabar, Tuan Lawliet?" Akan tetapi suaranya tidak sehangat wajahnya.
Untuk beberapa alasan L tidak mampu menatap sepasang mata cokelat di hadapannya. Ia menyambut jabatan hangat dan cepat-cepat menarik tangannya lagi. Mata Dokter Raito menyipit sebentar, lagi-lagi menjilat tubuh L dengan tatapan intens.
"Saya baik, Dokter. Terima kasih banyak."
Dokter Raito menorehkan beberapa kalimat di atas catatan kesehatan L, kemudian bangkit dari kursi. "Waktu kita tidak banyak, mari kita mulai saja pemeriksaannya."
L mengangguk, menyetujui ide itu, sehingga ia tidak terlalu lama menunggu dengan dada berdebar tidak nyaman. Mereka masuk ke bilik kain.
"Apakah masih terasa sakit?"
Pertanyaan sang dokter membuat L terdiam sejenak.
"Sejujurnya, ya, Dokter. Rasanya tidak enak." Tidak ada gunanya berbohong.
Dokter Raito menghampirinya dan mengangkat tangannya. L mengira tangan ahli itu akan bergerak menjamah bokongnya lagi, tapi tidak, sang dokter menyodorkan penutup mata.
L mengambilnya dengan rasa panas tumbuh di dalam perutnya, jantungnya pun mulai berdegup pelan, bersamaan dengan kedutan pelan di daerah selangkangannya. Apa ia akan merasakan lagi sensasi asing seperti kemarin? Tapi di bawah sana masih terasa sakit. Tubuhnya masih belum terbiasa.
"Nantinya Anda akan terbiasa," kata Dokter Raito, seolah-olah bisa membaca pikiran L. "Rasa sakit itu muncul karena otot-otot bagian dalammu tidak pernah mendapatkan perenggangan sebelumnya... sungguh, merupakan suatu kehormatan bagi saya... untuk dapat menyentuhmu."
Apakah itu adalah komplimen? L tidak merasa senang, hanya merasakan sedikit rasa panas di pipinya.
"Berbeda dengan yang kemarin, hari ini kita akan melakukan pemeriksaan dengan cara yang berbeda. Lepaskan pakaian Anda dan naik ke atas ranjang."
Kali ini, L hanya melepas resleting celana dan pakaian dalam, membiarkan tubuh bagian atasnya untuk tetap terbungkus pakaian. Ia tahu tidak ada gunanya melepas kaus putihnya.
Tiba-tiba, Dokter Raito meraih punggung tangannya dari belakang. L terkesiap.
"Sebaiknya kaus putihmu juga dilepaskan." Napas panas terasa di belakang tengkuk L. "Aktivitas kita bisa membuatmu berkeringat."
Mata segelap malam L membelalak. Perlahan, tangan Dokter Raito bergerak untuk meraih ujung kaus putih L, dan menariknya. Seiring sejalan, ujung jari menggores kulit di bawah pakaian longgar L. Terkesiap, L memejamkan mata ketika jemari lentik itu secara tidak sengaja membelai kedua putingnya, yang kemudian mengeras akibat reaksi syok yang diterima. Berhati-hati L mengangkat kedua tangan. Denyutan gugup di leher L pasti bisa terdeteksi jelas oleh pria di belakangnya.
Kini L telah berdiri, di hadapan Dokter Raito, sekali lagi tanpa sehelai benang pun.
Kembali bersentuhan dengan matras kulit, dada L mulai naik turun dengan berat. Penutup mata kembali membutakan penglihatan si pemuda pucat.
"Duduk berlutut saja," instruksi Dokter Rato. "Tidak perlu berbaring."
Ketegangan di tubuh L sedikit mencair ketika mendengar arahan dokter. Posisi berlutut terasa lebih nyaman ketimbang memperlihatkan tubuh polos secara terbuka seperti kemarin. Tapi degupan jantung L di telinganya sendiri tidak menenangkan, apalagi setelah L mendengar suara dentingan logam, disusul suara lain seperti mesin yang menderu. Seperti suara yang muncul dari... alat pencukur jenggot milik Watari. Perlahan terdengar bunyi derit pelan dari ranjang, dan matras yang tertekan-
"Uhn." Sentuhan kesat dari ujung jari Dokter Raito kembali, tidak pada bokong, tetapi pada dada L. Posisi Dokter Raito tepat berada di belakangnya, karena L merasakan dada bidang menempel pada punggungnya.
"Rileks." Sang dokter menghembuskan napas di belakang telinga L. "Tubuh Anda selalu bereaksi setiap kali dengan sentuhan. Saya akan mencoba melemaskan otot-otot di tubuh Anda, Tuan Lawliet."
Tangan kesat Dokter Raito bergerak naik turun di dada si pemuda pucat. Dari perut datar L, kemudian naik kembali ke atas hingga mencapai tulang selangka. Ia seperti sedang menggosok kulit L untuk membuatnya panas. Beberapa kali bergesekan dengan kulit sensitif di dada L. Hembusan napas konstan di belakang tengkuk L pun membuat bulu roma di lehernya berdiri.
"Dokter... sebentar."
Tangan Dokter Raito berhenti tepat di atas kedua tonjolan di dada.
"Ya?"
"Saya merasa tidak nyaman. Bolehkah saya mengubah posisi duduk saya? Menghadap langsung kepada dokter saja."
Terdengar suara lenguhan tertahan, atau tawa yang tertahan, apapun itu, Dokter Raito setuju. "Silahkan saja Tuan Lawliet. Malah akan lebih memudahkan saya."
L menelan ludah, menyadari keputusannya tidak terlalu tepat. Menghadap kepada dokter berarti membuka diri, akan tetapi L lebih memilih untuk berhadapan langsung dengan dokter yang menanganinya, ketimbang membelakangi. Walau indera penglihatannya ditutup.
Setelah berputar haluan, tangan sang dokter merayap ke belakang punggung L. Jemari lentik itu menyusuri setiap lekukan tulang menonjol di bawah kulit halusnya. L menahan napas. Tangan itu semakin turun, hingga mencapai bantalan bokong yang menyembunyikan otot mungilnya – yang masih terasa sakit, tapi kemudian tangan dokter merayap kembali ke atas. L menghembuskan napas lega.
Dokter Raito menarik napas. "Apa sudah mulai merasa rileks? Katakan bila Anda sudah sia-"
"Saya sudah siap," tukas L cepat.
Keantusiasan L disambut oleh kedua tangan dokter tiba-tiba menangkup bantalan bokong L di belakang dan mengangkatnya. Terkesiap, tangan L terangkat untuk menjaga keseimbangan tubuh, langsung mencengkeram sesuatu yang ia perkirakan sebagai bahu Dokter Raito.
"Dokter..."
"Maaf," Suara seratus persen serius di telinga L. "Berlutut dan lebarkan kaki Anda, sedikit angkat pinggul ke belakang, busungkan dada sedikit. Ya."
Satu tangan dokter absen untuk meraih sesuatu di sebelah ranjang. Kemudian, cairan dingin pekat meluncur dari punggung L, mengalir menyusuri punggung melengkung L hingga mencapai awal lipatan bokong.
Dokter Raito membuka lipatannya, memperlihatkan apa yang bersembunyi di tengah. Cairan pelumas yang sempat terhenti, kini mengalir mulus ke dalam belahan, dan berkumpul di lingkaran otot yang berkedut pelan. Dua buah jari kesat – yang L perkirakan adalah dua buah ibu jari sang dokter – menyusul, meratakan pelumas. Perlahan menekan masuk, keduanya menembus cincin ketat L, menjejali L dengan cairan dingin pelumas yang melumuri kedua jari tersebut.
"Nhh!"
Kedua ibu jari sudah masuk separuh. "Maaf. Sakitkah? Ototmu masih belum terbiasa," sambil berkata begitu, dokter menyundul-nyundul kedua ibu jarinya, keluar masuk, membuka menutup, merangsang bukaan otot L agar terbiasa dengan eksistensinya. "Lemaskan tubuhmu dan tarik napas panjang."
L nyaris membenamkan wajah di bahu dokter. "Tidak apa-apa, Dokter, saya hanya-"
"Terkejut? Maaf, saya harusnya memberi tahu apa yang akan saya lakukan terlebih dahulu."
"Tidak. Tidak perlu, Dokter."
Diam sejenak, kemudian Dokter Raito menarik jarinya keluar, berikut tangannya dari tubuh L. Kekosongan dan absennya sentuhan kembali terasa. Hening. L menunggu dengan dahi berkerut. Tak lama kemudian terdengar suara alat menderu, alat pencukur jenggot yang tadi. Apakah alat yang bergetar itu akan dimasukkan ke dalam tubuhnya? A-Atau-
"Kali ini saya akan menggunakan alat perangsang lainnya sebelum injeksi," tutur Dokter Raito, "Alat ini memiliki fitur getar yang akan mempermudah proses peregangan dinding otot."
Alat dengan fitur getar? L meneguk ludah perlahan-lahan agar tidak kentara. Kenapa metode medis untuk prostat memiliki banyak kejutan? Dalam hal ini mungkin lebih tepat jika Dokter Raito-lah yang penuh kejutan.
"Maaf jika ini tiba-tiba, tetapi saya tidak memberi tahu saat di meja saya tadi agar menghindari kemungkinan Tuan Lawliet membatalkan pemeriksaan karena…"
Kerutan menjembatani kedua bilah alis L. Ia lantas berkata cepat, "Saya bukan orang yang mudah takut atau mundur, Dokter."
Suara tergetar pelan terdengar dari arah wajah dokter. Ia seperti tertawa, mungkin. "Tentu, Tuan Lawliet. Maafkan perkataan saya barusan." Ia berdehem pelan. "Lagipula ini merupakan alat medis prostat terbaru dengan teknologi paling mutakhir. Alat spesial untuk pasien istimewa."
Kenapa Dokter Raito seperti gemar memberinya kejutan? Lagi-lagi peralatan baru. L mendadak merasa dokter memperlakukannya seperti kelinci uji coba.
"Bukan maksud saya untuk mengujicobakan alat baru kepada Anda, Tuan Lawliet…"
Dua buah tarikan napas dihirup L dengan sangat cepat. Apa sedemikian mudahnya dirinya bisa terbaca oleh orang lain?
"Seperti yang saya katakan tadi, ini alat terbaru juga sangat efektif. Tetapi, sayangnya, tidak semua orang sanggup menerima alat ini di dalam tubuh mereka, saya rasa. Alat spesial untuk pasien istimewa."
Otak L berputar cepat. Apakah perkataan barusan menyiratkan pujian? Mengingat semua perlakuan medis kemarin, memang tidak semua orang, seperti orang lanjut usia misalnya, sanggup menahannya. Apa memang ada perlakuan berbeda antara pasien muda dan yang lebih lanjut umurnya dalam kedokteran prostat? Dan semua pemikiran L buyar saat sesuatu yang bergetar mengecup lipatan bokonya, membuatnya tersentak.
"Maaf mengejutkan," kata Dokter Raito, "Tapi alat ini harus segera diaplikasikan selagi proses peregangan dengan jari belum lama dilakukan."
L menahan napasnya selama beberapa detik. Benda bergetar itu… terlalu bergetar. Benda seperti itu akan dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Ia tadi memang telah mengatakan bahwa ia tidak akan mundur. Itu benar. Sampai saat ini L memang tidak akan membatalkan pengobatan. Ia hanya harus mengorbankan sedikit rasa nyamannya seperti yang telah ia lakukan kemarin.
"Saya siap," tukas L sebelum Dokter Raito sempat bertanya.
Hening sejenak.
"Baiklah, Tuan Lawliet. Sebelumnya saya akan memberikan pelumasan ekstra kepada alat perangsang ini dahulu. Apalagi, baru saja kemarin Anda mendapatkan injeksi prostat."
Mengangguk, L pun melebarkan jarak di antara kedua kakinya agar jika pelumasan alat telah dilakukan, proses berikutnya dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dan lebih cepat agar pemeriksaan hari kedua ini juga segera berakhir.
Dokter Raito menggumam sesaat yang tidak bisa ditangkap sempurna oleh L, tetapi terdengar seperti 'Bagus'.
"Nah, Tuan Lawliet, alatnya telah selesai dilumasi. Saya akan segera memasang alat ini di dalam tubuh Anda."
Wajah L tidak terlihat berubah, bahkan saat benda bergetar tersebut menyentuh bagian belakang tubuhnya yang sensitif dan ikut menggetarkan kedua sisi bokongnya. Rasanya benar-benar aneh, ditambah lagi permukaan benda tersebut basah, hasil dilumuri cairan pelumas secara tebal.
"Baiklah, akan saya masukkan."
Gigi L terkatup erat saat benda bergetar itu memasuki lingkar cincin ototnya. Tangannya yang berada pada kedua pundak dokter meremas sekejap sebelum akhirnya berpindah ke belakang tengkuk dokter, menyambung dalam lingkaran dekapan.
"Tahan, Tuan Lawliet… Sedikit lagi," ujar Dokter Raito seiring bertambahnya jumlah senti dari panjang alat yang berpindah ke dalam tubuh hangat L yang merespon dengan tepukan otot nan rapat.
"Hnnn!" Sebenarnya L ingin mengiyakan, tapi kata-katanya bertransformasi menjadi aneka rintihan ringan yang juga bergetar seperti alat perangsang prostat tersebut. Berdasarkan pengalaman sehari sebelumnya, L berusaha melemaskan ototnya dan kedua tangannya yang mengunci di balik leher dokter saling menggenggam erat sebagai gantinya. Kakinya pun semakin terbuka lebar kala dokter berusaha memasukkan benda bergetar itu.
"Bagus, benar begitu, Tuan Lawliet. Jangan terlalu menekan, lemaskan ototmu," bimbing sang dokter muda. Alat tersebut sudah hampir sepenuhnya di dalam. Telapak tangan dokter yang berlumuran cairan kental bersuhu rendah pun mulai merayapi bokong L, terus memberikan gaya dorong pada si benda bergetar.
L terengah. Benda ini terasa... aktif. L tidak tahu harus menggunakan kosakata apa untuk menjabarkannya. Pikirannya telah tersita pada getaran yang dihasilkan alat asing itu, mengguncang-guncang dinding dalamnya, desirannya menjalar melalui pembuluh-pembuluh darah. Secara bentuk, L merasa benda ini memiliki banyak kemiripan dengan tabung silikon kemarin. Panjang, gemuk, berujung tumpul, hanya terasa lebih keras, lebih tebal, dan seperti ada rongga di dalamnya.
"Berhasil, Tuan Lawliet," umum Dokter Raito dengan nada senang. "Anda sungguh cepat memahami." Dan kedua belah bokong L pun mendapat sepasang tepukan ringan. Cara memberi afeksi seorang dokter prostat kepada pasien, mungkin.
L mendengar, tapi ia sedang tidak ingin merespon. Getaran dari si benda getar masih menjadi prioritasnya, setidaknya sampai alat ini dikeluarkan.
"Nah, sekarang saya akan-"
"T-tunggu, Dokter!" sergah L saat kedua belah kakinya dilebarkan oleh dokter. Berlutut dengan kedua kaki yang terbuka lebar membuat L kehilangan keseimbangan. Lengannya yang mengalung pada leher dokter menjadi tumpuannya, membuat kepala dokter tertarik dan menyentuh pundak kanannya.
"Maaf, Tuan Lawliet," tutur Dokter Raito halus, desah napasnya melinting pelan, berbaur dengan keringat dingin L, menyebarkan suhu yang semakin dingin. Belaian udara terus merembet, turun, akhirnya menyapa puting kanan L.
Dekapan lingkar lengan L berubah menjadi dorongan pada dua sisi pundak dokter, kembali memberikan jarak.
Kembali hening sejenak. Yang terdengar adalah desah napas L dan bunyi deru getaran alat yang sedikit teredam oleh dinding intim L.
"Apa Anda suda-"
"Saya siap, Dokter," tukas L cepat, walaupun ia tidak tahu apa yang akan dilakukan dokter berikutnya. Ia hanya ingin benda ribut ini segera ditarik keluar.
"Baik. Nah, sekarang, saya harap Anda mengikuti instruksi saya, Tuan Lawliet."
L mengangguk. Ia agak sedikit heran saat sepasang tangan dokter menyentuh kedua punggung tangannya, menariknya perlahan ke arah belakang punggung dokter, seperti meminta untuk… dipeluk.
"Ini berguna untuk kenyamanan Anda sendiri, Tuan Lawliet. Saat proses perangsangan prostat berlangsung, kemungkinan besar akan mengakibatkan timbulnya keinginan untuk mencengkeram atau meremas sesuatu. Saya bersedia menjadi sukarelawan," jelas dokter sambil tergelak sedikit.
Tubuh L berkeringat dingin, tetapi wajahnya terasa menghangat. Apa dokter menyinggung soal sprei yang tertarik berantakan saat pemeriksaan kemarin?
"Santai saja, Tuan Lawliet. Mari kita buat pemeriksaan hari ini menjadi menyenangkan," ajak Dokter Raito. L bisa membayangkan senyuman lebar yang khas mengungkap deretan gigi putih sang dokter. "Sekarang, buka kaki Anda, perlahan. Yak, begitu."
Tangan dokter menuntun pinggang L, mengarahkannya maju ke depan. Aneh. Ke arah tubuh dokter? Paras L kembali meningkat suhunya saat ia merasakan kedua kaki dokter menyelinap di antara dua kaki telanjangnya yang terbuka dan gemetaran.
"Tenang, Tuan Lawliet. Anda tidak dapat melihatnya karena penutup mata, tapi saya sudah mempersiapkan alat bantu yang membutuhkan penopang, dalam hal ini, penopangnya adalah tubuh saya sendiri. Anda cukup diam di posisi Anda, Tuan Lawliet. Saya, dengan perantara kedua tangan saya akan membimbing Anda dan tetap dengarkan instruksi saya."
L ingin menelan ludah, tetapi rongga mulutnya sungguh terasa kering. Perkataan dokter, posisi yang memalukan ini, benda aneh bergetar yang ada di dalamnya… pemeriksaan prostat sungguh lebih menyiksa dibandingkan tidak duduk berjongkok seharian. "B-baik, d-dokter…" Suaranya pun tambah bergetar. Jika misalnya ada pemeriksaan berikutnya dan masih melibatkan benda bergetar ini… tidak. Jangan ada benda bergetar-getar lagi.
"Siap, Tuan Lawliet?" tanya sang dokter dengan penuh kelembutan namun L menangkap adanya semacam desakan di sana.
Setelah menarik napas, L pun menjawab dengan suara yang cukup mantap. "Siap, dokter."
"Baiklah, kita mulai."
Maka dua telapak yang masih berlumuran sisa pelumas menangkup kedua lekuk bokong L, nyaris seperti menyediakan alas untuk L duduk, menyebabkan kedua kaki L terbuka semakin lebar dan mampu menapak di atas ranjang. Saat L berusaha mengikuti bimbingan tangan sang dokter, sesuatu terasa menekan dari bawah, tepat di liang intim yang terdapat si benda bergetar. Belum sempat L bertanya atau berseru, sesuatu yang tidak diketahui itu seperti menyatu dengan si benda getar, seolah mengisi rongga yang L perkirakan tadi. Dengan satu tumbukan, kedua lengkungan belakangnya bertemu dengan hal lain lagi yang berlapiskan kain... tubuh manusia. Tubuh sang dokter.
Jari-jemari L mulai melukiskan peta kerutan pada punggung jas putih Dokter Raito. "Ahh."
Gigi L terkatup erat, setitik cairan bening bergilir di tepi mulutnya. Entah apa yang dilakukan Dokter Raito, tapi satu dorongan tadi terlalu… kuat. Pikiran L tak bisa menemukan kata selain itu. benda aneh yang baru ikut memasuki tubuhnya, menyebabkan si benda bergetar terasa semakin dalam. Getarannya kini mulai mencapai sekelumit daerah yang tadinya belum tersentuh. Apakah benda ini akan sulit untuk dikeluarkan nantinya? Apa dorongan tadi malah membuat bagian dalamnya terluka? Kaki L terasa melemas, terkulai di kedua sisi tubuh sang dokter muda, membuat kedua telapak milik dokter berperan menjadi alas duduk yang sebenarnya. Kepalanya pun tertunduk, dahinya bersandar pada pundak kiri dokter.
"Shh. Tenang, Tuan Lawliet," bisik Dokter Raito lembut, "Semuanya baik-baik saja. Prosesnya berjalan dengan baik dan sempurna. Berikutnya saya akan memberi dorongan lebih pelan, saya berjanji."
Nada suara sang dokter memang punya persuasi untuk menenangkan, tetapi napas terengah yang samar di dalamnya membuat wajah L terasa semakin panas, entah kenapa. Dan sepertinya wajahnya makin memanas saja, telapak tangan basah dokter yang menyangganya, ikut bergetar-getar akibat ulah si benda getar bandel di dalam tubuhnya. L yakin, mengangkat wajahnya sama saja dengan memamerkan darah yang membias pada kulit wajahnya kepada dokter.
Kembali hening, yang ada hanyalah suara deru teredam benda nakal yang terhimpit otot tubuh L.
'Bahkan suaranya pun memalukan,' batin L.
"Tuan Lawliet?" tanya Dokter Raito, sepertinya khawatir akan kondisi diam L.
"Tidak apa-apa. Mohon tunggu sebentar, saya hanya tidak terbiasa dengan pengalaman ini."
Tak ada jawaban, tapi L yakin bahwa Dokter Raito menganggukkan kepalanya. Sambil tetap menunduk, L mengeruk sebanyak mungkin napas, berharap melimpahnya pasokan oksigen ke paru-parunya mampu membuat darah di wajahnya mengalir lebih cepat untuk mengurusi kesibukan lain selain memberi warna pada mukanya. Setelah yakin panas di wajahnya sirna yang memakan beberapa saat, L kemudian berkata, "Saya siap, Dokter." Akhirnya.
"Baik, Tuan Lawliet. Pertama, saya akan mengangkat kedua sisi bagian belakang Anda lalu menurunkannya ke bawah, saya butuh sedikit bantuan Anda di sini untuk ikut mendorong tubuh Anda turun, setelahnya, saat tangan saya mendorong ke atas, Anda ikut mendorong ke atas, kembali ke posisi awal. Proses ini akan kita ulangi sampai alatnya bekerja pada prostat Anda."
Sungguh nada suara yang terdengar begitu hangat dan sabar. L sedikit merasa tidak enak pada sang dokter. Sedari tadi ia bersandar pada bahu dokter sementara dokter sendiri juga sedang menahan berat tubuhnya pada kedua telapak tangan yang menempel di bokongnya. Gigi L mengait pada sisi kiri bibirnya saat ia memikirkan hal yang terakhir. Dokter Raito juga adalah orang yang paling banyak dan paling lama menyentuh bokongnya juga melihatnya dalam posisi memalukan tanpa secarik kain pun.
"Nah, Tuan Lawliet," kata Dokter Raito, kedua tangannya mulai mendorong ke atas, membuat L serta-merta ikut menaikkan pinggulnya. "Yak, bagus."
Merintih, L memindahkan tangannya dari punggung dokter menuju pundak sebagai bantuan topangan. Tekanan pada rongga intimnya berkurang, sesuatu yang mengisi di dalam alat getar mengerikan itu sepertinya tertarik keluar, walau tidak sepenuhnya. Napas L tertahan saat getaran di dalam tubuhnya seolah merambat menuju dua arah, ke dalam tubuhnya dan juga dari alat getar menuju alat pengisi, dan akhirnya pada dasarnya, tubuh Dokter Raito. Sebenarnya alat apa yang Dokter Raito gunakan sehingga seperti sedemikian melekat pada tubuhnya?
Rasa curiga mulai muncul. Jangan-jangan penutup mata ini bukannya bagian dari prosedur pemeriksaan prostat, tapi karena alasan pribadi Dokter Raito sendiri. Apakah kemasyhuran Dokter Raito dalam bidang prostat selama ini karena ia menggunakan metode khusus yang tidak boleh diketahui orang lain?
L adalah L. Sekali rasa penasarannya terpancing, ia akan mencoba mencari tahu. Tapi tidak dengan mengintip ke luar penutup mata tentunya. L mencintai misteri, ia ingin tantangan. Maka kesempatan pada hari ini akan dicoba untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Ia akan mencoba untuk semakin merasakan benda yang ada di dalam tubuhnya.
"Yak, Tuan Lawliet. Kita mulai."
Kedua tangan diturunkan, L ikut menurunkan pinggulnya ke bawah. Sepasang alisnya bertaut dan menimbulkan gelombang kerutan dahi saat sensasi itu terulang lagi. Benda kedua selain benda bergetar perlahan mulai masuk, meluncur ke lorong dalam dengan mulus. Keduanya terasa begitu pas, sangat kompatibel untuk yang satu mengisi yang lain. Dokter Raito memegang janjinya, dorongannya kali ini pelan dan lembut tetapi tanpa kehilangan kemantapan dan keahliannya sebagai dokter prostat. Saat kedua benda asing di dalam tubuh L menyatu, tumbukannya mendorong ujung tumpul si alat getar tepat menuju kumpulan syaraf sensitif di dalam sana, menciptakan gesekan lembut diiringi rangsangan getar.
"Ahn!"
L langsung menutup mulut dengan sebelah tangan. Sensasi yang ditimbulkan tadi… terlalu kuat. Dokter Raito menghentikan gerakannya, kembali membiarkan L terduduk di atas kursi bentukan kedua telapaknya tepat menempel pada tubuhnya, suatu posisi yang membuat kedua alat tertanam dengan dalam pada tubuh si pemuda pucat.
"D-Dokter." L megap-megap, aliran liur sedikit mengalir di sudut bibirnya. Tekanan dari alat kedua menyebabkan alat perangsang berfitur getar terus menggelitik titik prostatnya secara presisi dan dengan deruman tanpa henti. Apalagi, bagian depan tubuh dokter yang condong ke arahnya membuat bagian pribadi lainnya sedikit terhimpit. Getaran dari si alat sumber masalah juga menghadiahi L dengan membuat area pribadi tersebut bergesekan dengan samar namun konstan pada perut Dokter Raito, yang dirasakan L melalui perantara organ pekanya, ternyata kokoh berotot. Kekokohannya membuat tiap getaran dan gesekan semakin intens.
L tercekat. Apa Dokter Raito tidak menyadari kontak ini? Bagaimana bila anggota tubuhnya yang satu ini bereaksi serupa dengan apa yang terjadi kemarin?
Satu hentakan dari bawah dan mata L terpejam rapat. Bibirnya berkerut, kepala terlempar ke belakang dan dadanya sedikit membusung ke depan. Ia hampir jatuh jika tidak diselamatkan oleh tangan Dokter Raito, yang membawa tubuhnya turun dan alat bergetar hampir tidak bisa melawan kontraksi pada dinding ototnya, sehingga kini bergeser lebih ke dalam dan bersanggama pada buntalan syaraf prostatnya.
Tidak mampu berteriak karena lemas dan syok, L mencengkeram punggung Dokter Raito. Rintihan demi rintihan tertahan di dalam tenggorokan.
"Keluarkan," bisik sang dokter, sembari memanuver pinggul L untuk naik perlahan. "Jangan ditahan."
Sebelum L sempat mempertanyakan, sang dokter melepaskan pegangannya. L jatuh, bunyi benturan antara kakinya dan kaki sang dokter terdengar riuh. Ujung benda tumpul yang kedua menghentakkan benda bergetar. Alat yang kedua, benda berbentuk tabung licin dan hangat, bergerak. Sensasinya begitu kuat hingga L tidak sanggup berkata-kata, mulut menganga lebar. Ia menahan teriakan dengan cara meremas punggung dan leher belakang Dokter Raito. Dadanya yang agak membusung menghadap langsung ke depan wajah sang dokter.
Apa ini? Lembut, hangat dan basah melumuri putingnya. Ada hembusan napas panas menyertai. Benda seperti daging lembut dengan permukaan kasar itu bergerak memutar seperti cacing, melumuri putingnya dengan substansi hangat, dan... Ah! Suara kecupan dan rasa seperti putingnya ditarik masuk ke dalam rongga hangat. Pikiran L yang kacau hanya mampu menyimpulkan satu benda yang paling mungkin: mulut Dokter Raito. L menjerit kecil ketika merasakan tekanan yang mengapit bulatan mungilnya, rasanya seperti sebuah gigitan.
Sementara itu alat kedokteran menumbuk masuk ke dalam tubuhnya. Naik turun seirama dengan pergerakan pinggul dengan kecepatan yang menggetarkan. Getaran ditambah dorongan dari alat yang kedua bergesekan konstan dengan kelenjar prostat L. Tubuh menelikung, L berpegangan kuat pada sang dokter dan melempar kepalanya ke belakang. Menerima serbuan rasa. Di bagian bawah tubuhnya. Di dalam. Pada dada. Pada alat kelaminnya. Rintihan demi rintihan semakin kuat dan tidak beraturan, yang L sadari berasal dari mulutnya sendiri.
Ah!
...Ah!
Seperti ingin...meledak.
Perasaan aneh seperti kemarin.
Sesuatu yang kesat menyentuh organ kelamin L dan ia tahu sepenuhnya itu adalah tangan Dokter Raito. Tangan itu menghentakkan bagian intimnya. Menghentak. Menghentak. "Keluarkan," bisik sang dokter, bibir menempel pada daun telinga L.
Mata L membelalak. Keluarkan? Dia akan orgasme dan... itu akan membuat kotor pakaian sang dokter.
Menghentak.
Kemudian, dunia di luar penutup matanya berputar. Darah seketika berkumpul di dalam kepala L. Di balik kain hitam ia melihat bintik-bintik putih kekuningan. Dokter Raito mendorong tubuhnya ke belakang. Punggung L berbenturan dengan matras. Syok, tangan L langsung berpindah dari bahu dokter untuk melepas kain penutup mata, lalu kemudian ditahan oleh tangan kesat berlapis karet.
"Maaf mengejutkan Anda." Sang dokter terengah, punggung tangan mengelus dagu L yang basah oleh liur. "Mohon jangan dibuka penutup matanya, ini belum selesai."
Jantung L yang beberapa detik lalu seperti berhenti karena terkejut, kini kembali berdetak cepat. Kakinya dibuka lebar, dengan Dokter berada di atasnya. Posisi yang mengerikan. Benda bergetar membuatnya menggigil hebat. Jemari kaki L menekuk, dan L meremas lengannya sendiri, defensif, berharap bisa menenangkan tubuhnya dan untuk tidak terpengaruh oleh getaran di dalam. Reaksi tubuhnya memalukan dan tidak seharusnya. Entah apa yang dipikirkan Dokter Raito melihat kondisi ringkihnya saat ini.
Alat kedua telah ditarik keluar sepertinya. Rasa lapang hanya berlangsung sebentar, jemari kesat dengan cepat menyelinap masuk mengisi lubang kosong.
"Ah!"
Pintu masuk L begitu licin hingga jemari kesat itu bisa meluncur masuk dengan mudah. Ujung jari sang dokter menekuk, mengusap dinding dalamnya lembut. L bisa merasakan ujung jari berlapis karet bergesekan dengan benda bergetar, ia menahan diri untuk tidak menggeliat dan menggosokkan kedua kakinya.
"Dapat. Keluarkan dengan otot Anda."
Bunyi deru getaran terdengar jelas ketika benda itu meluncur keluar, disertai dengan bunyi basah. L bisa melihat dengan mata batin, benda apapun itu, hingga kini masih bergetar walau berkilau licin dengan cairan tubuh.
Menarik napas panjang, L menggigil. Bahkan setelah alat keluar pun, otot dinding dalamnya masih terus bergetar.
"Setelah Anda mengalami orgasme, saya bisa menembakkan obatnya di dalam," suara yang tenang nyaris tanpa napas – walau napas itu begitu panas di depan dada L. "Tuan Lawliet. Ini amat penting untuk pemeriksaan."
"Dokter- HAAH!"
Alat yang menyerupai tabung silikon melesat masuk. Sensasi seperti disengat listrik; sensasi yang melemahkan pinggul dan tubuh bagian bawah L hingga ia merasa alat itu akan larut bersamanya. Dokter Raito dengan mahir memompa, menggesekkan alat dengan dinding lembut sang pasien istimewa. Tubuh L terangkat naik, kini kembali duduk di atas pangkuan kedua tangan sang dokter. Alat menusuk keluar masuk dari bawah. Pemompaan semakin cepat dan konsisten. Beberapa kali ia tersedak melepaskan erangan disertai dengan hentakan kecil pada pinggulnya. Alat kelamin L terus mengayunkan pukulan ke- ugh, dengan hampir sekuat tenaga L menggoreskan kukunya ke punggung sang dokter, yang membalasnya dengan geraman.
"Ma...nnhh." Kalimat apologi dari mulut L berganti menjadi rintihan.
Dokter Raito bisa mengerti. "Tidak apa, Tuan Lawliet."
Lemas, L membenamkan pipinya di salah satu bahu dokter. Napas dokter panas, tidak teratur, di depan dadanya, dan ketika sentuhan seperti bibir menekan tonjolan merah muda di sana, gerakan menjilat dan menghisap, L menyerah. Suka atau tidak suka, tubuhnya merespon setiap gerakan. Tangan dokter tidak perlu menuntun bokongnya untuk menerima alat, pinggul L telah bergerak otomatis, menciptakan harmoni gerakan memompa dan hentakan. Gelombang kenikmatan menekan dari bawah menjalar hingga ke ubun-ubun dan erangan tidak terbendung. Tempat di mana alat itu keluar dan masuk terasa perih, tapi di dalam, L tidak mampu menahan rasa panas ini lebih lama lagi.
Satu tarikan napas panjang dan L melihat putih di balik matanya. Ia membiarkan dirinya jatuh sesaat ke jurang kenikmatan, tanpa perlu merasa khawatir telah berbuat memalukan karena mengotori pakaian orang lain. Wajah dan leher L panas. Sekujur tubuh basah oleh peluh. L terus berpegangan kuat pada Dokter Raito hingga ia mendengar suara melenguh yang tertahan di belakang daun telinganya, disertai hembusan napas lembab.
Dan—
"Ah!"
Cairan hangat menggenangi dinding otot L yang merapat, obat telah ditembakkan rupanya. Perih. Panas. Cairan obat mengisi dan melumuri dinding intim L yang terluka memberikan sensasi yang berbeda. Tapi rasa sakit hampir tidak terasa, L tidak mengakuinya ketika ia membuka lebih lebar kedua kaki, mengerang ketika Dokter Raito menepuk dan meremas bokongnya, pergerakan yang mendorong tubuh L untuk meresapi cairan yang ditembakkan.
Pegangan L pada dokter melemah, gelombang kenikmatan sudah surut. Sang dokter memompa naik turun beberapa kali sampai alatnya ditarik keluar, disertai bunyi basah dan sedikit luapan cairan obat. L berbaring lemah dengan kedua kaki menekuk, menggulung tubuh, menggigit ibu jarinya. Masih tersisa kedutan bergolak dari bawah. L memejamkan mata untuk memulihkan diri selama beberapa menit.
Ketika L melepas penutup matanya, Dokter Raito telah keluar dari bilik kain. L berdiri dan meraih pakaiannya. Bulu romanya berdiri ketika merasakan cairan itu mengalir dari sela kedua kakinya. Gelombang kenikmatan masih pekat. L ingin merintih tapi menahan suara di dasar tenggorokan.
Di luar bilik kain, Dokter Raito sedang berdiri di pojok ruangan untuk berganti pakaian. Punggung telanjang sang dokter kokoh dan berotot sempurna. Kulitnya agak mengkilap dengan peluh, ada beberapa garis seperti goresan kuku walau tidak kentara.
Panas. L menelan ludah.
Dokter Raito tersenyum Ke arahnya, kulit wajahnya juga mengkilap oleh peluh, terutama di daerah keningnya. "Maaf," desahnya. Bibir dokter pun seperti memerah.
Darah sekali lagi memadati pipi L. Dengan terhuyung L menghampiri meja Dokter. Dia berani bersumpah di dalam sana masih terus bergetar. Terasa kebas. Terasa aneh.
L mengalihkan matanya ke kartu kesehatan di atas meja ketika melihat sang dokter membasahi bibirnya. Reaksi tubuh L adalah rasa panas dan kedua tonjolan mungil di dadanya mengeras, secara reflek L membawa lengannya ke depan sedikit menutupi dadanya. Stimulasi prostat membutuhkan sejumlah rangsangan pada area lain di tubuh, walau begitu L tidak ingin percaya bahwa bibir dokter – dan lidah itu – telah menyentuh daerah intimnya yang lain.
"Istirahat, Tuan Lawliet," kata Dokter Raito tenang. "Besok kita akan melakukan pemeriksaan tahap selanjutnya."
"Dokter." Kalimat L tertahan.
Dokter Raito menarik tangan L, membantunya berdiri. Sepasang mata cokelat menatap dalam seolah tidak ingin melepaskan wajah si pasien istimewa. Wajah mereka semakin dekat, hingga L bisa mendengar suara detak jantung dokter—sontak L mundur ke belakang sampai tersandung kaki kursi. Dokter menguatkan pegangan pada pergelangan tangan dan menariknya. Hidung L nyaris berbenturan dengan dada dokter.
"Sampai bertemu besok," desahnya di depan wajah L.
Sambil mengangguk cepat, L mengambil kartu kesehatan dari tangan dokter. Dokter Raito melepaskan pegangannya perlahan, senyum ramah tersungging di wajahnya ketika ia membukakan pintu. L, masih dengan mata membelalak, berhambur keluar hingga ia bertemu muka dengan Suster Misa.
"Tuan Lawliet?" tanya sang suster.
L sudah keluar dari klinik.
To Be Continued...
