Sepanjang sisa hari, L menghabiskan waktu dengan memendam diri di kamar apartemennya, duduk berselonjor kaki di antara kasur dan selimut. Teh mawar dengan campuran saus karamel kental nan melimpah yang biasanya tidak mungkin dilewatkannya telah mendingin, tidak tersentuh di dalam cangkir porselen.

Watari jelas keheranan, tapi bertahun-tahun bersama L telah membuatnya paham, L sedang tidak ingin ditanyai. Keheranan ditelannya, ia menghormati keinginan L. Watari hanya masuk dua kali untuk mengantarkan teh lalu menghidangkan beberapa keping biskuit manis, setelah itu pintu kamar L belum terbuka lagi.

Di kamarnya, L hanya duduk bersandar. Segala posisi favoritnya yang melibatkan gerak tekuk kaki ke depan tubuh telah tersegel oleh rasa sakit pada bagian bawah tubuhnya. Jarang ia lakukan, tetapi ia memilih untuk memeluk bantal. Separuh wajahnya terbenam pada badan bantal, otaknya tak berhenti memutar memori akan segala yang terjadi di ruang klinik juga terus memproses segala kemungkinan yang akan terjadi di hari esok.

Apa pemompaan dan injeksi tetap menjadi menu wajib? Apa nanti benda aneh bergetar akan kembali dihidangkan?

Kedua kelopak mata L menutup turun. Memang seharusnya ia tadi mengambil kesempatan untuk bertanya lebih jelas pada dokter mengenai prosedur pemeriksaan tetapi sungguh tidak memungkinkan. Sulit setelah semua hal itu terjadi.

Desahan meluncur. Misteri akan terungkap esok. Semoga minus kehadiran si alat getar, tentu saja.


Hari Ketiga

L mengambil langkah lambat saat melewati pintu kaca depan klinik. Pemandangan klinik tetap sama, hanya wajah para pasiennya yang berganti dan jumlahnya lebih banyak dua orang dari hari kemarin. Semuanya wajah yang belum pernah L lihat dan si kakek penjulur jari tengah itu juga tetap tidak terlihat. Kapok, barang kali, mengingat bagaimana rasanya jika proses sang dokter prostat termashyur menangani dirinya juga diberlakukan pada orang lain yang berusia lanjut.

Pintu ruangan terbuka, kepala dengan juntaian rambut pirang menyorong keluar. Saat bibir suster hendak bergerak seperti akan melontarkan sebuah nama, kehadiran L tersapu pandangannya. Mata suster terbelalak sedetik sebelum akhirnya wajahnya menghilang ke balik pintu yang kembali tertutup.

L memilih untuk tidak duduk. Persentase kemungkinan si suster akan keluar kembali dan membawa kabar untuknya adalah sebanyak sembilan puluh tiga persen.

Cklek.

"Tuan Lawliet, Dokter Raito telah menunggu. Silakan masuk."

Seperti yang diperkirakan.

L melangkah maju di antara kepungan tatapan heran dan sebal dari kumpulan pasien.

Pasien spesial.

Sesampainya di pintu, sang suster pirang menyunggingkan senyum tipis padanya lalu menggosok-gosok sebelah lengan atas L keras-keras dengan mimik wajah yang bisa dikategorikan ke dalam 'iba' dan juga 'menyemangati'. L kembali berjalan setelah sempat berhenti sejenak – sedikit bingung untuk memperkirakan arti gerak-gerik suster – dan setelah melewati bingkai pintu, suster pirang tersebut tidak menyusul masuk melainkan melangkah keluar sambil menutup pintu.

Blam.

"Selamat sore, Tuan Lawliet." Suara yang L kenali pemiliknya itulah yang pertama menyambut L sebelum sosok Dokter Raito yang duduk dengan santai terlihat olehnya. Wajahnya yang berhiaskan senyum iklan pasta gigi terlihat terlalu cerah. Tatapannya yang ramah dan menjelajah kerap membuat L tidak nyaman. Ia merasa pakaiannya mendadak berkurang opasitinya, mengizinkan mata sang dokter menerawang ke balik lembarnya. Meskipun jelas Dokter Raito telah melihat tubuh polosnya, perasaan ini sangat tidak menyenangkan.

"Selamat sore, Dokter." Kursi kosong di hadapan meja dokter segera terisi. Dengan posisi 'normal' bagi kebanyakan orang, tentu saja.

Setelah dokter menggoreskan pulpen ke atas kartu kesehatan, kedua pasang mata bertemu. "Hari ini pemeriksaan akan berlangsung berbeda."

Gulp. Dokter Raito si Raja Kejutan. Pertanda buruk. Perkataan barusan menambah laju detak jantung L.

Mata cokelat menggerayangi tubuh L. "Anda terlihat sedikit lebih kurus dari awal pertemuan kita, Tuan Lawliet."

Tidak menjawab, L hanya menggerogoti pelan ibu jarinya. Tidak mengejutkan. Kunjungan ke klinik Dokter Raito mengakibatkan efek lain berupa hilangnya nafsu makan.

"Untuk kegiatan pemeriksaan kita, Anda membutuhkan cukup energi, Tuan Lawliet."

L hanya mengangguk pelan, tidak sepenuhnya peduli.

"Apa masih terasa sakit, Tuan Lawliet?"

'Ya. Dan sepanjang malam saya tidak bisa tidur karena merasa getaran alat misterius juga aliran panas obat masih ada di dalam sana.'

Jelas L tidak mungkin mengutarakan apa adanya seperti itu. "Masih, Dokter," ucapnya pelan. Jujur tapi tidak terlalu terbuka.

Dokter Raito tergelak sedikit. "Oh ya, tentu saja."

L tetap terdiam. Tidak ada yang lucu dari derita sepanjang harinya tersebut.

"Nah, Tuan Lawliet…" Dokter Raito bangkit dari kursi. "Saya akan menjelaskan dengan singkat bagaimana prosedur pemeriksaan hari ini." Ia mengambil langkah pelan, mengitari meja menuju kursi L. "Kali ini, agar menghindari 'kejutan tidak terduga', maka sedikit banyak ada beberapa poin yang harus saya sampaikan."

Langkah dokter yang semakin mendekat membuat L menggeliat sedikit karena tidak nyaman. Terlebih lagi, dokter melonggarkan dasinya dengan satu tangan lalu mengambil posisi di belakang kursi L. Dua hari sebelumnya ia segera dipersilakan menuju ke balik bilik tetapi hari ini Dokter Raito bersikap seperti memiliki cukup banyak waktu luang. Bukankah banyak pasien yang menunggu?

"Hari ini, hari ketiga setelah dua kali pertemuan kita, maka saya telah bisa memastikan bahwa otot dalam Anda telah mendapat cukup peregangan." Sepasang tangan bertumpu pada kedua sudut ujung sandaran kursi, lalu merayap turun, membuat kontak perlahan dengan kedua pundak L. Angin dingin terasa menerpa di bawah lapisan kulit sekujur tubuh L.

"Karena itu, maka hari ini saya akan menggunakan alat istimewa. Lebih besar, dengan semburan obat yang lebih kuat."

Gigitan pada ibu jari terhenti mendadak. Le-le-lebih…? Untuk sesaat lamanya, L lupa akan bernapas.

"Dengan fitur getar, tentunya," lanjut Dokter Raito riang.

Sempurna.

Terima kasih. Baik. L kemudian memilih untuk pulang saja.

L bereaksi sedemikian samar, tetapi sepertinya tertangkap oleh Dokter Raito. Suara tawa yang khas pun terdengar. "Tentu tidak, Tuan Lawliet. Saya telah mengatakan bahwa pemeriksaan kali ini akan berbeda. Benar-benar berbeda. Tidak ada alat pompa, tidak ada perangsang prostat bergetar."

L mematung. Benar-benar Raja Kejutan. Tidak ada alat pompa, tidak ada alat getar... Terdengar menjanjikan. Tapi tunggu. Tidak ada alat pompa, bisa berarti menjadi alat sedot. Tak ada alat getar, bisa berarti muncul alat pemijat atau alat-alat mengerikan sejenisnya.

Otak L telah diplot agar berpikir sedemikian rupa untuk melihat berbagai kemungkinan yang bisa muncul dari suatu keadaan dan kali ini, kemampuannya itu tidak memiliki kegunaan selain menambah unsur suspens dalam bab ketiga dari buku 'Pemeriksaan Prostat ala Dokter Raito'.

Jari-jemari tangan Dokter Raito memulai manuver keahlian jari-jarinya. Kedua pundak L dibelainya dengan pijatan lembut. "Tak ada proses injeksi obat." Jemari dokter menjelajah ke area terluar dari bahu. "Tak ada stimulasi prostat."

Lagi, angin dingin terasa merambat di bawah kulit sekujur tubuh, sementara area sentuhan Dokter Raito menghangat. Ibu jari masih terselip manis di antara katupan bibir L yang tidak menunjukkan perubahan ekspresi meskipun sedang berpikir keras. Pemeriksaan prostat tanpa stimulasi prostat? Dunia kedokteran prostat memang dipenuhi misteri.

Putaran roda di dalam kepala L terhenti saat perlahan tetapi sangat pasti, ujung jemari Dokter Raito merambat turun, mulai meninggalkan bilah pundaknya. Melewati tulang selangka makin ke bawah. Tiap pertambahan bilangan jarak, maka semakin cepatlah irama ketuk jantung L. Apa Dokter Raito bisa merasakannya? Paru-paru L ikut berhenti bekerja secara tiba-tiba. Arah jemari dokter terlalu rendah, nyaris mencapai dadanya dan mungkin akan mencapai...

Roda dalam kepala L berputar kembali dengan jauh lebih cepat, menyajikan memori akan di mana lidah serta bibir Dokter Raito sempat berada kemarin dan apa saja yang dilakukannya di bagian itu.

Punggung L beranjak dari sandaran kursi, menginterupsi sentuhan tangan si dokter muda. Sambil tetap duduk, kepalanya menoleh ke arah Dokter Raito dengan ekspresi yang sangat lurus dan sang dokter menyambutnya dengan mimik yang tak kalah lurusnya. "Saya masih belum dapat menangkap maksud Dokter mengenai prosedur yang akan kita jalani."

Senyuman ramah berkembang di wajah dokter. "Begini, Tuan Lawliet." Ia berdehem sebentar. "Karena dalam dua hari pemeriksaan ini Anda telah mengalami proses peregangan otot dalam lewat pemompaan dan penggetaran, maka diperlukan adanya jeda untuk membiarkan otot dalam Anda beristirahat untuk memulihkan diri."

Ibu jari L yang bertengger di bibir digantikan oleh jari telunjuk. Jeda. Membiarkan otot dalamnya untuk beristirahat. Berarti tidak akan ada benda panjang aneh yang dimasukkan ke dalam tubuhnya? Lalu apa yang akan dilakukan dokter untuk melakukan pemeriksaan prostat? Menarik. Mengundang rasa penasaran sekaligus membuat tegang mengingat betapa bidang kedokteran satu ini berulang kali membuat L terkejut.

"Hari ini, kita akan berfokus pada rangsangan lewat daerah lain yang secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada prostat Anda."

Rangsangan di daerah lain. Sedikit menggeliat gugup, L menahan keinginan untuk melirik ke arah dadanya sendiri. Sentuhan Dokter Raito pada dadanya selama ini memang membawa sensasi intens, tapi apa memang dada adalah daerah lain yang dimaksud? Membiarkan Dokter Raito menyentuh dadanya, yang adalah sesama laki-laki, merupakan hal yang amat memalukan.

Dokter Raito bergerak maju, perutnya menyentuh ujung sandaran kursi tempat L duduk. Begitu dekat. Dalam posisi dan cara pandang seperti ini, dokter terlihat begitu menjulang di mata L. Superior dan dominan.

"Jadi," kata Dokter Raito seraya sedikit membungkukkan badan maju – mengurangi jarang pandang antara dirinya dan L – yang segera berbuah refleks L untuk menggerakkan tubuh menjauh. "Proses medis hari ini melibatkan aktivitas mulut Anda."

Hening.

Alis L bertaut. Dari mulut bisa memiliki hubungan ke prostat yang letaknya jauh di bawah sana. Pemeriksaan prostat yang dilakukan Dokter Raito selama ini tidak pernah sederhana dan terkadang memiliki proses berlapis. Dari mulut ke prostat. L berusaha mengusir aneka imaji horor yang terlintas di kepalanya yang timbul akibat membayangkan cara menghubungkan mulut dan prostat secara harafiah. Mungkin saja yang Dokter Raito maksud sebenarnya lebih sederhana dan logis. Metode internis dengan konsumsi obat, misalnya. Tetapi 'aktivitas mulut' terlalu kompleks untuk mengistilahkan pemberian obat telan.

"Nah, Tuan Lawliet," kata sang dokter sambil lebih mencondongkan badan ke depan, "Langsung saja saya katakan, hari ini, saya akan memberikan obat untuk dikonsumsi."

Sesuai dugaan L. Tetapi L meyakini ini bukan sekadar obat yang diberikan lalu langsung ditelan. Ada sesuatu.

Dokter Raito tersenyum hangat. "Aneka bidang kedokteran terus berkembang, salah satunya adalah bidang kedokteran prostat. Obat yang akan saya berikan kepada Anda mungkin tidak pernah Anda temui di tempat lain, baik wujud dan cara mengonsumsinya, tetapi sangat bermanfaat untuk kesehatan prostat dan juga berguna untuk membantu pemulihan diri setelah peregangan."

'Cepat katakan, jangan berbasa-basi,' batin L dengan sedikit tidak sabar. Ia adalah orang yang senang berspekulasi dan ingin mengetahui hal yang tidak diketahuinya, tetapi untuk bidang kesehatan prostat, ia tak mampu menebak. Hampir semua hal yang keluar dari mulut Dokter Raito merupakan kejutan tak terduga.

Dokter Raito terdiam sebentar. "Tuan Lawliet," ujarnya dengan senyuman, "Sekarang kita akan menuju bilik. Semuanya akan jelas nantinya. Saya akan menjelaskan seiring pemeriksaan berlangsung."

Dahi L berkerut. Penjelasan dari Dokter Raito tidak memuaskannya, seperti sengaja menyisakan kejutan yang yang tidak bisa diduga. Lagipula, mengapa pemberian obat perlu untuk pergi ke balik bilik yang berisikan ranjang?

Tidak pernah Anda temui di tempat lain, baik wujud dan cara mengonsumsinya

Dokter Raito beranjak menuju bilik lalu berhenti melangkah. Ia menoleh kepada L dengan gestur mengajak, yang sekaligus terlihat seperti menyebarkan umpan manis yang sulit ditolak L; tantangan.

Mematung sesaat, sang pemuda pucat pun akhirnya bangkit dari kursinya, menghampiri sisi Dokter Raito yang bibirnya tidak lelah menampilkan deretan barisan putih nan rapi. Ketika bersisian, hal yang L yakini seratus persen sebagai telapak milik dokter merayap turun pada punggung bungkuknya. Terus turun, sampai menuju pinggang dan… terhenti sebelum mencapai bokong. Telapak tangan yang sama kemudian memberi dorongan halus, membimbing L maju menuju bilik.

Jika Dokter Raito adalah seorang sutradara, maka ia adalah penyaji adegan suspens yang sangat handal. Degup jantung L mulai kembali naik ritmenya. Walaupun telah dua kali ia berada di balik bilik kain, tetapi cara Dokter Raito 'mengantarkannya' kini seolah mengisyaratkan akan adanya suatu entitas asing yang akan mengejutkannya di balik lembaran kain penutup bilik.

Tak perlu waktu lama untuk sampai ke balik bilik. Tangan Dokter Raito masih tetap berada di tempatnya sementara L tidak mengindahkannya. Mengamati ruang kecil di antara kepungan bilik dengan seksama lebih menarik perhatiannya sekarang. Dan hasilnya nihil. Bahkan baskom peralatan pun absen dari atas meja kecil di samping ranjang. Menciptakan kejutan dari ketiadaan. Itu adalah salah satu sihir andalan Dokter Raito.

Terdengar suara samar yang beriringan dengan suara Dokter Raito.

L pun menoleh, menyaksikan sesuatu yang familier disodorkan kepadanya. Kain penutup mata. Sepertinya Dokter Raito memang ingin membumbui segala hal dengan misteri, bahkan untuk sekedar memberi obat. L menerima pemberian sang dokter muda dengan diam. Semua sihir Dokter Raito selalu dimulai saat ia tidak bisa melihat apapun.

Setelah meminta L untuk duduk di atas matras, kalimat lain keluar dari bibir Dokter Raito. "Mari, saya bantu pakaikan, Tuan Lawliet," tawar Dokter Raito hangat, ia pun mengambil posisi di hadapan L.

L yang terduduk tidak bergeming. Setelah menimbang-nimbang, ia membuka kepalan tangannya yang menggenggam penutup mata, mempersilakan Dokter Raito membantu menutup inderanya.

Dua hari yang telah berlalu membuat L telah cukup akrab dengan kondisi mendengar suara Dokter Raito di tengah kegelapan. Tetapi, kegelapan ini tidak membuat L merasa tenang. Dua kali penglihatannya diselimuti kegelapan, dua kali pula benda panjang aneh dimasukkan ke dalam tubuhnya. Dokter Raito hari ini telah menegaskan tidak akan ada alat pompa ataupun benda bergetar, tetapi tetap saja, L gelisah karena ketidaktahuan tentang akan apa yang akan terjadi.

"Nah, Tuan Lawliet, sekarang berbaringlah. Berbaring menelungkup. Seperti pada pemeriksaan pertama."

Bahkan untuk mengonsumsi obat pun diharuskan memasang posisi. Memendam rasa ingin tahunya yang terus menerus menggedor mulutnya meminta diungkapkan, L menurut dalam diam. Nah, sekarang apa?

"Tuan Lawliet." Suara Dokter Raito mengindikasikan perpindahan posisinya dari sisi ranjang menuju hadapan L yang tertelungkup. "Obat yang akan saya berikan bukanlah obat umumnya yang dikonsumsi dengan diminum. Obat ini dikonsumsi dengan menggunakan aktivitas mulut, yaitu dengan cara dihisap dan dijilat.

"Obatnya berada di permukaan alat khusus yang memiliki wujud benda yang panas dan panjang. Mungkin tidak terasa seperti mengonsumsi sesuatu, tetapi sebenarnya obatnya akan diserap tubuh dan mungkin beberapa kali Anda akan merasakan adanya rasa yang asing. Itu pertanda obatnya tengah dilepaskan. Jika Anda sering mengonsumsi es loli, maka cara mengonsumsinya bisa Anda bayangkan dengan mudah. Dengan minus gigitan tentu saja. Alat ini sangat khusus, permukaannya harus dijaga. Gigitan akan membuat kerusakan minor yang berpotensi pada kerusakan permanen dan mengganggu proses pelepasan obat."

Mematung, L berusaha mencerna tiap perkataan Dokter Raito. Jadi di sini masih diperlukan adanya alat. Alat berwujud benda panas dan panjang. Sepertinya, berdasarkan beberapa kali pertemuannya dengan Dokter Raito tiga hari ini, bidang kedokteran prostat identik dengan benda panjang.

"Harap Anda menjilat dan menghisap permukaan alat dengan merata. Memang secara ukuran dan bentuk fisik alat akan sulit untuk dimasukkan sepenuhnya ke dalam mulut. Untuk itulah, beberapa bagian harus dicapai dengan jilatan. Untuk memaksimalkan efektivitas alat, saya akan memberi dorongan perlahan pada alat ini. Jadi jangan khawatir atau terkejut jika alatnya bergerak dan keluar masuk ke dalam mulut Anda. Hal itu memang dilakukan karena memiliki tujuan.

"Anda pasti pernah mendengar bahwa dalam kegiatan seksual, mulut, baik bibir, lidah, dan rongga dalamnya sering kali diberi peran dalam aktivitas fisik. Memang ada kaitannya sensasi yang dirasakan dan diberikan oleh mulut dalam seksualitas. Oleh karenanya, rangsangan lewat mulut merupakan hal yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada organ reproduksi. Dalam hal ini, prostat Anda. Dikombinasikan dengan obat yang diserap secara internal maka dengan satu cara, Anda dapat memperoleh dua manfaat sekaligus.

"Oh iya, salah satu hal lain yang sangat krusial, tolong jangan menyentuh alat dengan tangan, Tuan Lawliet. Walaupun tahan bersentuhan dengan udara dan mulut, tetapi alat ini harus dijaga agar tetap steril dan keunikan alat ini adalah sangat sensitif pada sentuhan tangan. Jika misalnya Anda ingin memegang sesuatu, julurkan tangan Anda ke depan dan saya akan menyodorkan tangan saya."

Dahi L berkerut. Begitu banyak aturan untuk mengonsumsi obat ini. Bahkan alat pelepas obatnya pun akan bergerak maju mundur. Alat pelepas obat ini sepertinya memiliki hubungan kekerabatan dengan si alat pompa atau setidaknya dirancang oleh orang yang sama. Terdengar suara pelan seperti bunyi karet yang ditarik – Dokter Raito sedang memakai sarung tangan karet. Bunyi berikutnya begitu samar namun renyah di telinga. Saat L sibuk berspekulasi, kelihatannya Dokter Raito telah siap dengan alat ajaibnya.

"Apakah Anda sudah siap, Tuan Lawliet?"

L mengangguk lebih cepat dari yang seharusnya. Cepat selesai saja, pulang, dan lanjutkan ke pemeriksaan tahap berikutnya. Ia sudah mengatur posisi tubuh bahkan mulutnya. Bibirnya sedikit bergetar ketika L memaksanya untuk sedikit membuka, bersiap menerima alat tidak terlihat yang sebentar lagi akan bergerak di atas lidahnya yang kini terasa asin oleh liur.

Tanpa indera penglihatan, indera L yang lain dua kali lipat – hari ini mungkin sudah tiga kali lipat - berubah menjadi sangat sensitif; Suara sekecil apapun, ataupun hawa dari pendingin udara dan wangi steril ruangan. Wajah L menyamping sedikit ketika ia mendeteksi adanya pergerakan tubuh Dokter Raito. Kemungkinan besar alat itu sedang bergerak menuju bukaan mulutnya. Samar-samar L mencium bau tajam, lalu wangi karet, mungkin dari sarung tangan dokter, lalu sedikit manisan beraroma vanila dan aroma asing lainnya berbaur menjadi satu di bawah hidung L saat ini.

Saya sarankan agar Anda membuka atasan Anda."

L mengerjap, kecurigaan berpendar di wajahnya. "Untuk apa Dokter?"

"Agar pakaian Anda tidak kotor, Tuan Lawliet," jawab Dokter Raito tenang.

L terdiam sejenak. "Kalau saya tidak mau?"

Dokter menghela napas. "Ya tidak masalah. Bisa memakai celemek atau sesuatu-"

"Tidak usah, Dokter," kata L tiba-tiba, di kepalanya sedang berputar sebuah ide; suatu strategi tepatnya, dan ia bisa memanfaatkan situasi ini. "Begini saja."

"...Baiklah," gumam Dokter lambat-lambat. "Demi kelangsungan dan kelancaran medis, Saya harap mau mengikuti setiap perkataan saya nanti, seperti ketika harus menjilat dan menghisap." Dokter menunggu sampai L mengangguk, kemudian melanjutkan, "Yang terpenting adalah merasa rileks, dan seharusnya semua akan berjalan dengan lancar."

Di balik kain penutup mata, L membayangkan bentuk fisik alat di depan wajahnya. Otaknya mulai menyusun berbagai macam potret sebuah benda berbentuk panjang dengan hawa panas yang berasal dari substansi obat di dalamnya. Apa warnanya? Dengan tekstur yang terasa seperti silikon di bawah kulitnya, L tidak bisa membayangkan warna lain selain warna kulit, tapi ia mulai membuat daftar seperti warna putih, hitam atau hijau di dalam kepalanya kini—

L mendesah kaget ketika alat itu menggesek pipinya sekali, disertai suara pelan bernada maaf dari sang dokter. Sentuhannya meninggalkan jejak di pipi kiri L yang kini lembab dan terlumuri cairan lengket obat yang menetes. Alatnya memang panas. Lalu sesuatu melumuri bibir penuh L, yang sejak tadi memang sudah basah oleh sapuan lidahnya sendiri karena gugup. Sembilan puluh sembilan persen adalah kepala alatnya. Alat itu melapisi bibir L dengan cairan pekat dan kental berbau agak tajam. L menelan ludah, dan tangannya mulai mengepal dan merenggang di atas kasur. Apa warna cairannya? Mungkin bening - dan ini mengingatkan L pada salah satu iklan pemoles bibir para wanita di televisi, salah satu yang mengandung zat untuk menjaga kelembapan. Bibirnya kini basah oleh cairan kental yang anggap saja sejenis. L mengernyit ketika mendeteksi gerakan mendorong dari kepala alat yang licin seperti kulit berlumur lendir. Perlahan, dengan satu tarikan napas singkat, L membuka mulut.

"Ya..." Dokter Raito menyuarakan kata afirmatif lebih panjang dari yang seharusnya, tangannya mendorong alat panas dan licin itu melewati kedua belah bibir pasiennya. "Baik sekali, mohon maaf tolong buka mulut Anda lebih—Ya."

L terlalu tegang untuk bersuara. Besar. Panas. Tidak muat. Bahkan permukaan alatnya seperti berdetak, seperti berdenyut. Tekstur alatnya tidak rata, namun licin memudahkan alat untuk membuka rongga mulut dan meluncur masuk, tapi setelah melewati deretan gigi, L berspekulasi sembilan puluh persen pangkal alat ini berukuran lebih besar dari kepalanya. Alat itu telah berhasil menyusupi mulut L hingga mencapai gusi dan gigi geraham belakang. "Argh." Erangan meluncur keluar dari dalam tenggorokan L yang menyempit. Detak jantungnya meningkat kian cepat ketika ia menahan diri untuk tidak menelan ludah. Menyesakkan, seperti ingin muntah. Alat itu kemudian didorong lebih jauh.

L terbatuk dengan alat itu masih di dalam, spontan tangannya mencengkeram sesuatu di depannya, sepertinya lutut sang dokter. Paras L memanas menyadari posisi mereka saat ini. Dokter sedang berlutut di hadapannya, di atasnya. Satu tangan dokter langsung menangkap pergelangan tangan L erat, dan L membalasnya dengan remasan.

"Saya mulai memompa." Bahkan L bisa mendeteksi nada tidak sabar terkandung dalam suara Dokter Raito, dan ini semakin memberatkan beban di dadanya. "Bernapaslah melalui hidung."

Alat itu ditarik sedikit demi sedikit sampai hampir melewati bibirnya, lalu mendorong masuk lagi. Pergerakannya menyerupai alat yang dimasukkan dari bawah, jadi L mengerti bahwa ia akan menerima pergerakan memompa yang kurang lebih sama, tapi kini berlangsung di dalam mulut.

"Ukh. Ghh." Terbatuk lagi, reaksi dari dasar tenggorokannya mulai menekan naik. Mual. Setitik air mata membulat pada kain penutup mata L, dan remasan tangannya tangannya pada Dokter menguat. Dokter Raito berdeham, entah menjernihkan tenggorokannya, merasa sakit karena remasan tangan atau bersimpati dengan pasiennya. L kesulitan bernapas dengan jalan masuknya udara terblokir oleh kepadatan alat, lalu ia mencoba bernapas melalui hidung. Dokter Raito berhenti bergerak setiap kali L mengambil napas dalam, lalu melanjutkan pompa ringannya setelah L mengangguk setengah hati.

"Ssh." Dokter menenangkan, satu tangannya yang bebas membelai pipi L dan memijatnya lembut. "Saya akan pelan-pelan saja."

Alatnya menumbuk keluar masuk. Ketika hampir mendorong ke tenggorokkan, L tersedak menahan mual, mencakar tangan dokter dan nyaris menggigit alatnya. Dengan sigap alat ditarik keluar oleh dokter. Pemompaan berlangsung lebih pelan dan berhati-hati jika dibandingkan dengan kembarannya kemarin, tapi tidak akan membuat L menyukai sensasi alat yang bergerak konstan menyesakkan rongga mulutnya. Air liur mulai memenuhi mulut; L akan tersedak jika mencoba menelan ludah, maka L membiarkan liurnya menetes keluar membanjiri dagu lancipnya sembari alat itu bergerak. Bunyi basah yang timbul mengingatkan L pada bunyi ketika alat saudaranya bergerak keluar masuk bokongnya.

"Cobalah untuk menghisap, Tuan Lawliet," Dokter memerintahkan. L melaksanakan himbauan dokter dengan cara menghisap sekuat tenaga, lalu berhenti ketika mendengar suara panggilan dokter yang agak melengking di telinganya. "..Maaf, hisap perlahan saja, alatnya sangat sensitif."

Ternyata memang tidak mudah untuk membayangkan permen-permen loli yang manis sementara apa yang di bawah lidahnya sekarang adalah benda yang sebaliknya. Manisan dan obat. L mengukuhkan keseimbangannya dengan bertumpu pada sikut tangannya dan lututnya, kaki agak sedikit dibuka lebar untuk memudahkan pergerakan. L menggerakkan kepalanya untuk menghisap maju mundur. Dokter Raito sepertinya memberikan apresiasi, tapi sang pasien istimewa fokus pada pekerjaan di tanga– di mulut.

Beberapa saat setelah gerakan menghentak keluar masuk dan menghisap, Dokter menarik alatnya keluar. "Bagaimana Tuan Lawliet?"

L, terengah-engah menyeka dagunya yang berlumur liur dan cairan, hanya mampu menggelengkan kepala. Wajahnya mengernyit dalam dan jika penutup matanya dilepas, dokter bisa melihat bagaimana matanya terpejam erat sekali hingga mengeluarkan butiran air mata. Keringat L menetes di atas kasur berbahan kulit, atau mungkin itu cairan yang lainnya.

"Rasanya tidak enak," desah L spontan beberapa saat kemudian. Ia menelan ludah, mencicipi cairan obat asin pahit, mengernyit jijik.

Dokter Raito bergerak, mungkin mengatur posisi alatnya. Bunyi renyah lainnya terdengar seperti gesekan karet, sobekan plastik, lalu bunyi basah. Sedetik kemudian alatnya kembali menempel di bibir L, menyapukan cairan pekatnya kembali ke bibir bengkak L. Wangi manis pekat merangsang tajam indera penciuman sang pemuda panda, dan hanya dalam sedetik ia tahu apa yang tengah terjadi.

Dokter sedang menyemir substansi baru pada badan alatnya.

Madu.

L membelalakkan mata.

"Benar." Ada kepuasan di dalam suara dokter. "Tidak masalah, demi kelancaran pengobatan, menambah madu murni pada obat yang pahit adalah hal biasa. Saya dengar Anda juga menyukai manisan."

Dahi L berkerut. Dari mana dokter mengetahuinya?

"Silakan melakukan gerakan menjilat. Anda boleh sekalian menghabiskannya."

Menghabiskan.

Jelas tidak ada lain maksudnya selain lelehan madu itu.

Tugas L menjadi lebih mudah. Ia hanya perlu menjulurkan lidah, menyapukannya di setiap bagian yang berlumur madu, mengecap rasa manis, menjilat bibir dan menelannya. Rasa mual sedikit terobati. Di setiap jilatan, alat berdenyut makin kencang, ukuran dan kepadatannya pun bertambah. L tidak boleh memegang alatnya, maka kesempatan ini dimanfaatkannya untuk mempelajari benda misterius tersebut. L menghisap kepala alat sekali, kemudian membawa bibirnya turun dengan tujuan merasakan pangkal alatnya, tapi dihalangi oleh sesuatu yang sepertinya tangan dokter. Melenguh, L menaikkan bibirnya lagi ke atas, meratakan lidahnya di atas permukaan yang tidak mampu mengisi mulutnya. L terlalu fokus membayangkan antara permen loli dan es batangan raksasa hingga tidak sadar tangan dokter sudah memanuver alatnya ke dalam mulut L lagi.

"Argh! Gagk!" L agak terkejut ketika merasakan sepasang tangan menahan sisi kepalanya, nyaris kasar, memaksanya untuk mendongak dan membuka. Tersedak, namun L merelakan mulutnya terbuka sepenuhnya. Substansi madu yang belum terjamah oleh lidahnya tadi menambah rasa di samping rasa pedas, asin dan pahit. Sekujur tubuh L basah oleh peluh atas hasil usaha kerasnya. Pakaian yang melekat di tubuhnya basah dan lengket, terutama kaus seputih mutiara L yang mungkin telah berubah warna di bagian kerah. Sambil menggerakkan kepala maju mundur, tubuh L pun ikut bergerak.

"Ya... Ya..." Dokter Raito mendukung gerakannya dengan desahan 'Ya' dan 'Ya'. "Hisap sedikit...Benar."

Pemompaan bertambah kian cepat. Lidah L semakin kaku dan berat di setiap jilatan dan gesekan. Mulutnya sakit, ngilu, dibuka sedemikian rupa. Bibirnya panas, penuh, membengkak. Rintihan demi rintihan keluar dari sela mulutnya, memberikan getaran pada alat dokter, bersamaan dengan itu semakin memantapkan pemompaan. Tubuhnya yang lemah memudahkan sang dokter dalam menggerakkan alat lebih cepat sekarang, bahkan menumbuk ke dalam tenggorokannya. Air mata membasahi penutup mata L, terus bertahan, ia berpegangan kuat pada satu tangan dokter dan kasur.

"Sebentar lagi." Suara dokter seperti menahan beban berat, tangan berlapis karet menggenggam punggung tangan L kuat hingga mampu meninggalkan memar.

Dari gerakan alatnya L tahu Dokter Raito ingin cepat-cepat menembakkan obatnya. Bahkan napas berat sang dokter pun tidak berhenti mengiringi; mereka berdua adalah pelari dalam sebuah kompetisi, berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai garis akhir.

"...Obatnya akan saya berikan sekarang," desah sang dokter dengan napas tertahan. "Menengadah dan buka mulut Anda lebar-lebar."

Setelah beberapa kali keluar masuk, alatnya ditarik keluar. Wajah L menengadah, mulut terbuka lebar. Dokter bernapas berat beberapa detik sebelum cairan menetes di atas lidah pasiennya, menggelincir turun hingga melewati pangkal lidah L. Beberapa bahkan menciprat di wajah memerah L, menetes turun membasahi pakaiannya. Peringatan Dokter Raito terbukti benar, tapi L tidak menyesalinya.

L menelan obatnya tanpa diminta, kemudian terbatuk sambil menutup mulut.

Penutup mata L dilepas kira-kira dua menit kemudian. Mata L memburam sebentar, dan setetes air mata tumpah dari sudut matanya. Ia sudah tidak bisa melihat alat misterius tadi, begitu cepatnya dokter membereskan alatnya. Dokter Raito menyerahkan sekotak tissue kepada L dan segelas air.

"Saya akan menunggu Anda di luar ruangan," kata dokter, lagi-lagi wajahnya pun lembab oleh peluh seperti kemarin. Senyumnya sekilas saja kali ini.

Dokter Raito tidak lelah memberikan tenaga ekstra di setiap pemeriksaan medis, walau itu hanya memanuver alat ke dalam mulut L, memompa pun perlahan saja. Tapi L, yang diserbu kebimbangan dan kecurigaan, sudah tidak mampu menaruh rasa prihatin. Ia bergerak keluar dari bilik kain dengan langkah cepat, wajah kakunya tidak mampu lagi menyamarkan emosi yang campur aduk.

L bukannya marah.

Gejolak emosi tumbuh setiap kali sang dokter menatapnya begitu intens, sepasang mata cokelat menyembunyikan begitu banyak kejutan; tidak ada yang transparan di sana. Di luar ruangan ini, L adalah seorang detektif yang hanya tahu memecahkan sebuah misteri dan mengangkat fakta ke atas permukaan. Aneh sekali menempatkan Dokter Raito sebagai salah satu misteri besar.

"Besok pemeriksaan dilakukan pada jam lima sore-"

"Dokter, kapan pemeriksaan prostat ini selesai dan saya bisa mengetahui hasilnya?"

Sang dokter brilian berhenti menggores pena, matanya bergulir menatap pasien di hadapannya dalam diam. Di mata L, otak sang dokter sedang berusaha mencerna pertanyaannya ketimbang menghitung berapa lama lagi metode akan selesai.

"Dua kali lagi," jawab Dokter Raito, akhirnya, tangannya kembali mencatat sesuatu di kartu kesehatan, kemudian dengan cepat membuka komputer di sudut meja. Tidak ada senyum, raut wajahnya serius ketika mengetik dan mendata pasiennya. "Misa," panggilnya tiba-tiba.

Suster Misa masuk ke dalam ruangan dengan membawa map, mencuri pandang takut-takut ke dalam. Ia melihat dokter, kemudian L, dan tersenyum agak kaku.

"Panggil pasien berikutnya masuk," kata dokter dingin, kemudian ia menyerahkan kartu itu pada L. "Kita berjumpa lagi besok, Tuan Lawliet."

L hampir bisa melihat dengan mata batin: tulisan 'pasien spesial' di belakang nama di kartu kesehatannya telah terhapus. Ramah tamah masih menghiasi wajah tampan sang dokter muda ketika ia mengantarkan L keluar, tapi L terlalu tahu mana yang palsu dan yang sebenar-benarnya.

Di luar ruangan, suster Misa sedang membimbing seorang pria tua masuk. Ketika berpapasan, L langsung mengenalinya; dia kakek yang pernah ingin mengajaknya ke toilet untuk menghisap jari tengah.

Melihat L, senyum sumringah terukir di wajah tuanya. Matanya yang agak sipit membelai tubuh L dari atas ke bawah, kemudian mengintip ke dalam ruangan, memamerkan giginya yang tidak merata kepada dokter.

"Beruntung sekali, Nak."

Komentar berintonasi girang yang ganjil ditujukan kepada Dokter Raito di ambang pintu. Suster Misa seolah menghindari tatapan mata L yang mencari tahu hubungan mereka berdua. Wanita berambut pirang itu menunduk dengan wajah antara merasa bersalah dan menahan senyum. Tanpa menghiraukan mereka, L tertunduk keluar dari klinik. Di belakangnya, L bertaruh bisa merasakan tatapan mata sang kakek aneh, yang seolah bisa membolongi punggungnya.


Di kediaman L.

"Wammy," panggil L, menyerahkan pakaiannya yang basah kepada pengasuhnya. "Saya minta cairan yang menempel di pakaian diperiksa zat apa saja yang terkandung di dalamnya."

Wammy menangguk pelan, masih dengan dahi berkerut. "Secepatnya, L. Hari ini saya ada banyak pekerjaan. Mungkin kau bisa menunggu hasilnya hingga lusa pagi?"

L mengangguk, menggigiti ibu jari. "Tidak masalah."

Besok adalah hari keempat. Tinggal sekali lagi, dan L mungkin tidak akan pernah datang lagi ke klinik dokter prostat misterius itu.

Ia hanya perlu bertahan.


To Be Continued...