Hari Keempat
L melangkah pelan di atas deretan petak trotoar. Tak lama, halaman dengan taman beraneka tanaman hias menyambut dengan papan nama besar bertuliskan nama lengkap dan gelar Dokter Raito di depannya. Pemandangan familier dengan yang tercetak di atas lembaran surat kabar ataupun layar gelas yang menyajikan aneka rekomendasi dan akhirnya telah membawanya kemari. Dihelanya napas panjang, setelahnya L beranjak menuju pintu kaca.
Sepi. Hanya ada tiga orang saja yang menunggu di bangku panjang, itu pun sudah termasuk seorang wanita yang menemani seorang pria paruh baya. Si kakek ganjil yang secara tak terduga menampakkan diri saat ia hendak pulang kemarin juga kembali tidak muncul. Apakah efek pengobatan ekstrem ala Dokter Raito bagi para pasiennya akhirnya menemui titik kulminasi? Ataukah ini adalah suatu wujud protes diam karena Dokter Raito, entah kenapa, terang-terangan memperlakukan L, sang pasien baru dengan istimewa?
Suster Misa belum menampakkan diri dari balik pintu. Entah kenapa, melihat dari sikap Dokter Raito kemarin, enam puluh lima persen L meyakini bahwa hari ini tak akan ada keistimewaan lagi yang diberlakukan padanya. Oleh karenanya, L memilih untuk duduk di bangku, menunggu namanya yang akan dipanggil entah kapan. Akhirnya, selain hari pertama, L merasakan bagaimana rasanya menjadi pasien yang menunggu.
Deru detik saling beradu dengan ritme ketukan gigi L pada permukaan kukunya. Kali ini tidak ada hiasan dinding berisikan info kesehatan yang menarik perhatiannya. Duduk di atas kursi tepat di depan pintu, pandangan L menatap lurus ke depan. Redanya rasa sakit memungkinkan L duduk dengan posisi yang mampu mendukung keutuhan kemampuan berpikirnya untuk tetap seratus persen.
Tak ada suara-suara jeritan atau erangan yang terdengar. Ada dua hal yang sama-sama memiliki kemungkinan sebanyak lima puluh persen yang mampu menjelaskan terlintas di dalam kepala. Pertama, dinding ruang pemeriksaan kedap suara. Hal ini membawa kelegaan tersendiri bagi L dikarenakan aneka suara memalukan yang pernah lari dari mulutnya tidak akan sampai ke telinga-telinga usil para pasien yang menunggu di luar. Sedangkan yang kedua, tidak lain adalah proses pengobatan yang dijalankan Dokter Raito terhadap pasien di dalam sana berbeda dengan penanganan dirinya yang terbilang ekstrem. Lebih lembut, perlahan dan penuh toleransi.
Penjelasan kedua jelas tidak membuat L senang. Jika memang Dokter Raito menangani dirinya dengan metode yang berbeda, L tidak merasa tersanjung atau diistimewakan. Rasanya seperti Dokter Raito menjahilinya atau seperti menjadikannya kelinci percobaan – tuduhan yang telah beberapa kali sempat bergulir. Tidak peduli jika alasan Dokter Raito yang menganggapnya spesial sehingga memerlukan peralatan yang tidak biasa atau karena dirinya yang masih memiliki kebugaran tubuh muda yang sanggup menanggung semua prosesi. Dokter Raito telah menyiksanya dengan rasa sakit dan ketidaknyamanan yang tidak perlu jika dibandingkan proses lain yang lebih umum.
Ini hanya hipotesis, tetapi memiliki kekokohan karena tidak ada kabar berita yang menyebutkan betapa menyiksanya teknik medis Dokter Raito ataupun adanya pasien lanjut usia yang terserang trauma sedemikian rupa karena teror alat getar dan saudara-saudaranya. Memang Dokter Raito mengatakan bahwa ini merupakan teknologi terbaru, tetapi… tetap ada yang mengganjal di dada detektif muda tersebut. Sebenarnya apa yang tersembunyi di balik profil serba-cemerlang dokter muda kenamaan itu?
Lima belas menit kemudian, pintu ruang periksa terbuka. Sosok Suster Misa yang sedang menuntun keluar seorang kakek berkaki gemetar muncul dari balik daun pintu. Meja dokter yang berada jauh di belakangnya pun terlihat, begitu pun juga dengan dokter berambut cokelat yang tengah menulis di atas lembaran kertas.
Misa terpaku saat menyaksikan pemuda pucat yang duduk serampangan tepat di seberang pintu. Kali ini sang suster tidak perlu untuk bergegas memberi tahu sang dokter; Dokter Raito menyongsong tatapan L dari mejanya, berbingkaikan lengan Suster Misa yang tengah bertopang di pinggang dan mengabur dalam fokus penglihatan L. Lurus. Tajam. Senyuman cerah muncul kemudian, terlambat. Kesan tatapan tadi tidak dapat dihapuskan dengan senyuman bilah-bilah gigi neonnya. Keramahan yang muncul terlalu drastis di wajah dokter hanya menimbulkan deraian pelan bulu roma.
Sang pasien berkaki gemetar berlalu. Suster Misa kemudian memutar separuh tubuhnya dengan artistik ke arah Dokter Raito, yang dapat dipastikan seratus persen berkaitan dengan kehadiran L, yaitu untuk meminta konfirmasi. L melihat dengan jelas sebuah anggukan. Tatapan sepasang lingkaran cokelat terus menembus barikade jernih kornea matanya tanpa putus. Emosi asing kembali menggelegak di dada L, emosi yang sama seperti saat-saat terakhirnya kemarin sebelum meninggalkan ruangan di depan matanya. Getir.
Suster Misa kembali berpaling ke arah L, melontarkan senyuman superramah dengan kerlingan mata ceria. "Tuan Lawliet, silakan masuk menemui dokter."
Oh. Baik, rupanya titel kasat mata yang disandang L belum terhapus sepenuhnya. Sesaat L sempat melihat ada seorang pasien tua yang seolah hendak mengajukan protes, tetapi akhirnya hanya bisa takluk, membisu pasrah di hadapan bibir yang menyunggingkan senyum riang berbalut polesan kilatan rona merah muda cantik milik Suster Misa.
Tanpa melepaskan jepitan giginya di atas kuku pucatnya, L bangkit berdiri dengan gerakan kaki luwes nan efisien. Absennya aneka peralatan misterius sehari lamanya dari dalam tubuhnya - di bawah sana – ternyata cukup mampu melonggarkan segel rasa sakit pengunci keleluasaan kakinya.
Berdiri di ambang pintu, L merasakan degup jantungnya meningkat drastis dalam jumlah ketukan per menit. Sebanyak sembilan puluh enam persen L meyakini bahwa ini dikarenakan karena tatapan Dokter Raito dan juga kehadiran sang dokter muda itu sendiri. Terlalu banyak kejutan dalam tiga hari persinggungannya dengan bidang medis prostat dan hari ini. Entah tema apa yang akan dibawakan oleh sang Raja Kejutan setelah ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang merupakan teritori sang dokter misterius.
"Silakan masuk, Tuan Lawliet." Dokter Raito mempersilakan dengan ramah sementara Suster Misa terus tersenyum cemerlang di sisi L, bersiap untuk menutup pintu.
Tak ada gunanya mengulur waktu dan L tidak memiliki keinginan untuk mundur. Dokter Raito nampak semakin memenuhi bingkai jangkauan matanya seiring pertambahan jumlah langkah yang diambil. Dan… 'Blam'. Pintu tertutup di belakang punggung bungkuk L.
Sepasang mata cokelat madu ramah terlihat memandang antusias, tidak berkedip sejauh yang L perhatikan sejak ia memasuki ruangan. "Selamat sore, Tuan Lawliet. Dari pose duduk Anda tadi, sepertinya keadaan Anda telah membaik."
"Selamat sore, Dokter Raito." Ibu jari L bergoyang pelan searah getaran pelan gigi dan bibir yang tercipta dari aktivitas membentuk kata. "Ya. Anda benar tentang perkataan kemarin tentang jeda untuk mengistirahatkan bagian tubuh saya. Tubuh saya sangat mengapresiasi kesempatan menjauh sejenak dari aneka peralatan misterius untuk segera berusaha memulihkan diri."
Penekanan pada dua kata, peralatan misterius. Sedikit terpicing, detektif muda secara seksama untuk memantau adanya perubahan garis wajah, lengkung senyum dan kedua bola mata milik dokter prostat yang tetap terlihat konstan. Tak ada kerutan, tak ada kedutan. Jika Dokter Raito memang menyembunyikan sesuatu tentang perkara medisnya kepada L, ia sepertinya juga menyembunyikan fakta lain bahwa ia adalah aktor luar biasa berbakat yang mampu membuat para penggelut dunia sinema terperangah.
Tertawa kecil, Dokter Raito menutup pena emasnya lalu menggeletakkannya di atas tumpukan kertas berkolom banyak. "Saya mencium adanya sikap anti-'peralatan misterius' di sini, Tuan Lawliet." Tetap tertawa, kedua mata dengan warna menyerupai manisan itu memantulkan cahaya lampu dengan ramah. "Ah, saya sampai lupa mempersilakan Anda untuk duduk. Silakan, Tuan Lawliet."
Cih. Pengalihan yang cukup baik jika memang itu adalah tujuannya. Tetapi sebagai detektif berpengalaman, L tahu ia bahwa ia sangat mampu untuk mengembalikan percakapan kembali pada jalurnya semula. Kembali duduk bersandar dengan kedua kaki di depan dada, L kembali membidik dengan senapan verbalnya.
"Kembali tentang peralatan misterius, Dokter Raito." Ekspresi simpatik sang dokter tetap tidak berubah. "Peralatan misterius adalah peralatan misterius bagi saya karena saya tidak melihat bagaimana rupa dan aplikasinya, Dokter Raito."
Cukup frontal, tetapi masih dalam batas kewajaran. Ungkapan rasa penasaran yang sangat pantas untuk disampaikan. Kini L berbalik berusaha menembus barikade kornea mata beriris cokelat tersebut.
"Kali ini saya mencium adanya rasa penasaran yang teramat besar yang hanya dapat dipuaskan dengan pengungkapan visual." Kembali tertawa kecil, mimik Dokter Raito seolah mengonfirmasi bahwa keingintahuan L merupakan hal yang teramat wajar dan ia tidak merasakan akan terjadinya masalah yang mengancamnya jika hal tersebut terjadi.
Pupil mata L membesar. Ini dia. Namun perkataan ini keluar dari mulut sang dokter jauh lebih cepat dari yang L perkirakan. Pancingan? Tantangan? Persetujuankah jikalau begitu? "Kalau begitu, saya ingin mendengar menu pemeriksaan untuk hari keempat ini, Dokter Raito."
Berdehem dua kali, Dokter Raito membuka sebuah map putih di sudut meja dan membaca apa yang tertera di sebuah kolom. "Baiklah. Saya telah melakukan pertimbangan dan sudah memutuskan bahwa pemeriksaan pada hari ini tidak akan melibatkan alat injeksi prostat. Fokus hari ini adalah rangsangan dan pengecekan vitalitas organ reproduksi."
Suara dokter mengumandangkan kabar gembira dan juga kabar buruk sekaligus. Sekali lagi L bebas dari invasi si alat pompa beserta saudaranya yang gemar menggetarkan diri, tetapi… fokus kepada rangsangan juga pengecekan vitalitas organ reproduksi. Terdengar seperti kalimat pembuka kisah horor baginya. Dua kali Dokter Raito mengusung tema rangsangan, dua kali pula L mengalami pengalaman memalukan yang melibatkan area dada dan juga membuatnya harus menelan substansi asing dengan rasa yang menyebabkan mual hebat.
"Dan kali ini, saya memberikan keistimewaan khusus untuk Anda, Tuan Lawliet." Senyum selebritinya terkembang lebar. "Hari ini saya tidak akan menutup mata Anda. Semoga dengan demikian rasa penasaran Anda dapat terpuaskan."
Alis tipis L tertekuk di balik persembunyian poni. Apa yang ia katakan sebelumnya mengenai peralatan misterius tak terlihat bukanlah merupakan sebuah permintaan agar ia dapat melihat langsung proses medis tanpa penutup mata, tetapi Dokter Raito begitu sigap untuk memenuhinya. Begitu sigap… tetapi jikalau menu pada hari ini melibatkan alat pompa injeksi beserta alat penuh getaran, apakah Dokter Raito akan sesigap ini untuk memenuhi keinginannya? Jika tujuan Dokter Raito adalah untuk mengikis rasa penasaran dan aneka spekulasi di kepala L, sayangnya ia belum berhasil.
"Saya ingin mendengar rinciannya, Dokter." Memamah kukunya dalam diam, L tak menghentikan partisipasinya dalam adu tatap mata dengan sang dokter muda.
Dengan wajah yang sepertinya tidak mengenal kram akibat tersenyum lebar tanpa henti, Dokter Raito mengucapkan satu kata yang teramat vulgar bagi pendengaran pemuda pucat. "Masturbasi."
Mata L membulat. Lebar.
"Ya. Anda tidak salah mendengar, Tuan Lawliet. Saya yakin Anda mengerti benar arti dari kata tadi. Saya menyadari bahwa hal itu terdengar begitu tidak senonoh, tetapi itu adalah prosedur yang paling sederhana untuk memeriksa bagaimana vitalitas organ reproduksi Anda, Tuan Lawliet."
"Tetapi, Dokter… A-Anda baru saja meminta saya untuk… melakukan hal tadi di hadapan Anda. "
Jari-jemari Dokter Raito saling bertaut, membentuk pose pembicara bijak. "Saya dapat mengerti sikap resistensi Anda, Tuan Lawliet. Ini merupakan suatu sikap umum yang saya temui dari pasien-pasien yang menjalani pemeriksaan vitalitas organ reproduksi. Malu, ngeri. Saya pasti terkesan begitu lancang untuk memasuki wilayah penuh privasi orang lain. Tapi, hei, saya adalah orang yang telah melihat tubuh telanjang para pasien tersebut dan juga pernah memasukkan berbagai benda asing ke dalam tubuh mereka, bukan? Seharusnya rasa risih dan malu tersebut dapat ditanggulangi, tetapi nyatanya… tidak." Dokter Raito mengulum bibirnya sesaat, kemudian memasang senyuman yang jauh lebih ringan.
"Saya mengerti. Hal ini berbeda. Saya meminta pasien untuk turut bertindak aktif kali ini dan hal ini juga berkaitan dengan kebiasaan para pasien untuk melakukan hal tersebut secara privat. Tentunya saya akan terlihat sebagai orang mesum yang memandangi para pasien yang mayoritas berusia lanjut sedang melakukan aktivitas seksual, bukan?" Dokter Raito terkekeh. "Tetapi pada akhirnya, semua pasien saya dapat mengerti. Ini berkaitan tentang kesehatan organ reproduksi, oleh karenanya saya pun meminta pengertian yang sama dari Anda, Tuan Lawliet."
Tulang rusuk L terasa berderak-derak diterpa debaran jantung nan riuh. Lagi-lagi kejutan baru dari sang dokter. Memang benar, ia telah membiarkan Dokter Raito menyaksikan bahkan menyentuh tubuhnya yang telanjang tetapi… meminta dirinya untuk melakukan aktivitas dengan nama seronok tersebut di hadapan dokter terlalu…
"Saya tidak nyaman akan topik pemeriksaan kali ini, Dokter Raito."
"Saya mengerti."
"Tidak. Dokter mungkin tidak dapat mengerti. Saya… tidak pernah melakukan aktivitas seperti itu, Dokter." Jari-jari kaki L tertekuk di tepi bantalan kursi.
Wajah Dokter Raito dipenuhi dengan keterkejutan yang begitu murni dan spontan. "Wow. Anda sungguh merupakan orang yang sangat unik, Tuan Lawliet." Dan L sangat menghargai sang dokter muda yang tidak terlihat menganggapnya sebagai hal yang lucu atau berekspresi seperti menemukan fenomena aneh yang berasal dari dunia lain. "Tentunya ada alasan kuat yang mendasari hal itu dan saya amat menghargainya."
"Saya hanya tidak merasa membutuhkan atau menginginkan aktivitas tersebut."
Mengangguk-angguk, Dokter Raito memasang ekspresi santai. "Saya dapat mengerti. Ini mengenai ideologi dan cara pandang Anda dan saya sangat menghargainya. Tetapi, untuk hal ini, Tuan Lawliet, sama sekali bukan merupakan pemenuhan keinginan tubuh akan kebutuhan seksual. Hal yang sama berlaku pada pemeriksaan dan injeksi prostat. Saya memasukkan benda asing ke dalam liang ekskresi pasien dan melakukan beberapa rangsangan; sebuah tindakan penetrasi, tetapi bukan berarti saya sedang bercinta dengan pasien tersebut, bukan?"
Wajah L sedikit memanas. Tapi ia tahu, tak ada rona merah yang terbentuk akibat biasan warna aliran darah. Setidaknya belum.
"Jadi bagaimana, Tuan Lawliet?" Kedua telapak tangan dokter mekar di kedua sisi tubuhnya, membentuk gestur bertanya yang komikal. L tahu bahwa sembilan puluh tujuh persen Dokter Raito sedang berusaha mencairkan suasana.
Tentu tidak. Ini memalukan bagi L. Tetapi bagaimana dengan determinasi L yang telah terlanjur terbentuk sebelumnya untuk mencoba mencari tahu apa yang disembunyikan Dokter Raito? Apalagi dengan mata terbuka.
"Baik, Dokter. Saya setuju."
Namun sedetik kemudian L mendadak merasakan keraguan. Keyakinannya sedikit terguncang saat dirinya membayangkan apa dan bagaimana yang akan terjadi nanti.
"Baik, Tuan Lawliet." Senyuman gemilang Dokter Raito sekali lagi terkembang. "Silakan Anda menuju bilik dan melepas pakaian di sana sementara saya akan mempersiapkan beberapa peralatan yang diperlukan."
Peralatan.
Ternyata tetap akan ada peralatan yang dilibatkan di sini. Meneguk ludah, L berhenti menggigiti ibu jarinya. Point of no return. Lalu ia pun bangkit dan melangkah ke dalam bilik hijau muda familier.
Di atas ranjang periksa terdapat selembar handuk biru tua. Seraya melirik ke arah sumber suara dari luar – Dokter Raito sepertinya sedang membongkar lacinya – L mulai melepaskan kancing celananya. Pakaian dalam merosot kemudian, menyisakan ujung longgar kaus putih yang menutupi bagian-bagian pribadinya.
Dokter Raito memang telah melihat seluruh bagian tubuhnya tanpa kecuali, tetapi L tetap ingin menutupi diri. Menunggu seorang pria mendatangi tanpa mengenakan celana terasa tidak benar. Bergegas, L duduk di atas ranjang dengan posisi yang lumrah dilakukan oleh masyarakat umum kemudian meraih handuk dan membentangkan di atas pangkuannya. Detak jantungnya bergema di rongga telinganya sendiri.
Langkah sepatu kulit sang dokter yang mendekati bilik terasa seperti tabuhan genderang pengumuman akan suatu kejutan. Dan saat itu pun tiba. Tirai tersibak, sosok Dokter Raito yang membawa sebuah baskom metalik yang ditutupi selembar kain putih. Sepasang mata L terpicing, ia tidak senang. Matanya tidak ditutup kali ini, tetapi peralatan rupanya tetap tersembunyi dari pandangannya, setidaknya hingga saatnya alat-alat misterius itu beraksi. Apakah rupa peralatan tersebut dapat mengintimidasi dan mengakibatkannya mundur dari pemeriksaan jika ia melihat bagaimana bentuknya?
"Saya menutup baskom agar perhatian Anda tidak teralih, Tuan Lawliet." Dokter Raito menangkap jalan pemikiran L. "Ada apa di dalam sini, Anda dapat melihatnya nanti."
Baskom berdentang saat diletakkan di atas meja kecil. Merogoh saku jas putihnya, sepasang sarung tangan karet yang terlihat baru menampakkan diri untuk kemudian membungkus kedua tangan sang dokter.
"Nah, sekarang Anda dapat membuka handuk Anda, Tuan Lawliet. Anda dapat mulai menstimulasi diri sendiri."
Jantung L berderap riuh. Rasanya ia pun patut memeriksakan diri ke dokter jantung. Getaran melanda ujung-ujung jari L. Ia paham sekali teori bagaimana cara pria menstimulasi dirinya sendiri, tetapi hanya sebatas itu. Ia tidak pernah tertarik untuk mencari tahu mengenai hal-hal seksual lebih jauh baik di dunia maya atau buku-buku yang juga umumnya turut menyajikan gambar-gambar yang tidak pantas dan hanya membuat mulutnya terasa pahit saat melihatnya. Selama ini ia hanya akan mencari tahu jika ia ingin tahu ataupun jika ada kasus yang memiliki keterkaitan, tetapi selalu berakhir pada studi mendalam mengenai landasan hukum dan pasal-pasal pendukungnya ketimbang pemahaman akan praktek kegiatan itu sendiri.
Sempat muncul pertimbangan untuk menanyakan dokter apakah ia dapat melakukan hal yang diminta dengan tetap terbungkus handuk akan tetapi L menyadari bahwa Dokter Raito ingin benar-benar melihat semua prosesnya. Lembar handuk tersingkap perlahan. Tidak berani memandang Dokter Raito, L menyentuh bagian pribadinya dengan napas tertahan. Rasanya aneh. Seperti membiarkan orang lain melihat dirinya saat hendak bersiap membuang air kecil.
"Tenanglah, Tuan Lawliet. Saya telah berkali-kali menyaksikan pasien melakukan hal ini. Sebagai dokter, saya sangat mengerti prinsip mengenai hal ini dan tentunya tidak akan berpikiran negatif tentang apa yang akan Anda lakukan."
Atas nama medis. L mendengus dengan perasaan sedikit jengkel. Tetap tidak memandang ke arah wajah sang dokter, L mulai mencoba melemaskan kekakuan ototnya. Rasa mual sedikit berkurang, tetapi tidak dengan gemetar tangannya. Perlahan, L membalurkan sentuhan deretan jarinya ke atas permukaan kulit organ privatnya. Rasa panas menyebar, L menggigit sudut bibirnya. Rasanya aneh.
Tak ada tanggapan verbal dari Dokter Raito. Tetapi pemuda pucat itu mengetahui, bahwa tatapan sang dokter tengah terpusat kepadanya, delapan puluh lima persen kepada gesekan jari-jemarinya.
Sepertinya apa yang L lakukan telah tepat. Ia merasakan darahnya berdesir di bawah permukaan kulit, memenuhi jalinan pembuluh darah, memberi perubahan kepadatan daging.
Dan rasanya darah pun tengah sibuk mengaliri pembuluh-pembuluh di wajahnya dengan cepat. Dengan paras memanas, L terus menyentuh dirinya sendiri sembari menahan kepungan sensasi yang menjalari seluruh tubuhnya hingga menyergap tenggorokannya, meminta untuk diungkapkan ke dalam aneka nada. Rasa yang terbentuk tak bisa disangkal L, begitu menyenangkan. Beberapa kali napasnya tertahan, keringat dingin mulai mengaliri pelipisnya. Rupanya inilah alasan yang menyebabkan banyak pria melakukan aktivitas ini.
"Aaah." Tak dapat tertahan sepenuhnya, desahan berat bergulir halus. Sebelum L sempat membombardir diri dengan penyesalan, bobot tubuh manusia mengisi ruang kosong di sebelahnya untuk duduk bersama. Dokter Raito.
"Tenang, Tuan Lawliet. Saya duduk di sini untuk melakukan peran saya," bisik Dokter Raito di antara helai rambut hitamnya. Terlalu dekat.
Tiap detak jantung memompa dosis adrenalin ke seluruh penjuru tubuh sang detektif muda. Tangannya gemetar, nyaris menggigil – begitu juga dengan bagian-bagian tubuhnya yang lain. Sensasi menakjubkan langsung surut rasanya. Jika mendadak ia kehilangan kepadatan organ tubuh pribadinya, apakah Dokter Raito akan langsung menduga bahwa ia juga menderita impotensi dini?
"Tidak. Jangan berhenti. Teruslah menyentuh. Jika tidak, Anda akan kehilangan stimulasi dan mempersulit tindakan yang akan saya ambil."
Meneguk ludah sejenak, L menggerakkan tangannya kembali. Rupanya tanpa ia sadari, ia sempat berhenti sejenak. Seiring aktivitasnya menyentuh diri, L melirik ke arah wajah dokter dan tersentak saat mendapati bahwa sang dokter tengah memandangnya dengan tatapan dalam, dengan jarak antar-wajah yang bahkan tidak menggenapi separuh ukuran tertinggi pada penggaris anak sekolah dasar. Apa kedekatan ini memang perlu?
"Nah, Tuan Lawliet, saya akan mulai melakukan pemijatan prostat sementara Anda terus menyentuh diri Anda. Sekarang, saya harap Anda mengangkat kedua kaki Anda dan membukanya lebar."
Syok. L nyaris ternganga. Dokter Raito akan melakukan pemijatan prostat saat…
"Tapi Dokter-"
"Memalukan. Saya paham. Tetapi kita telah melakukan hal yang sama pada pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya. Mungkin karena mata Anda tidak tertutup sehingga Anda melihat semuanya sehingga terasa sangat risih." Dokter tertawa ringan. "Apakah sebaiknya saya menyarankan Anda kembali untuk memakai penutup mata?"
Menggigit bibir, L terdiam sejenak. Dokter Raito benar dan rupanya memang penutup mata memiliki fungsi yang cukup krusial pada pemeriksaan prostat. Membayangkan Dokter Raito memandangi area bukaan intimnya sementara ia membuka kedua kakinya lebar seraya menyentuh diri. Sungguh terasa amat mengerikan. Bulu kuduk L meremang. Udara ruangan terasa jauh lebih dingin. Tetapi bagaimana dengan kecurigaan L yang mengharuskannya melihat sendiri bagaimana aksi sang dokter saat memeriksanya?
"Baik, Dokter," putus L. Jawabannya begitu mantap. "Saya bersedia dan saya tidak memerlukan penutup mata."
Tersenyum sekilas, Dokter Raito lalu menunduk, merogoh sakunya. Sebuah botol kecil tersembul dari balik genggaman. Terdapat label medis melingkari badannya.
"Sekarang Anda dapat melihat langsung mengenai apa yang saya sebut sebagai cairan pelumas, Tuan Lawliet." Dokter Raito memainkan botol berbadan silinder tersebut di antara jarinya.
Apa Dokter Raito baru saja bersikap seperti menyindir tentang keingintahuannya dan penolakannya atas penutup mata? Konsentrasi L sedikit buyar, ritme gerakannya sempat terganggu. Terlebih saat Dokter Raito bangkit lalu berdiri di hadapannya.
"Angkat dan lebarkan kedua kaki Anda, Tuan Lawliet. Saya hendak memulai memberi peregangan dan pijatan prostat."
L menarik napas singkat, melebarkan kedua kakinya perlahan sekali. Mimik serius di wajah Dokter Raito menenangkannya. Tak ada lagi yang L inginkan selain profesionalisme; Sejumlah uang yang diberikannya seharusnya menjadi penjamin kenyamanan. L memutuskan untuk segera mengakhiri semuanya.
Dengan itu kedua kaki terbuka lebih lebar. Parasnya memanas dan kedua tangan mengepal. Jari-jari ahli yang sebelumnya hanya bisa dirasakan di balik penutup mata, kini terpapar jelas di bawahnya. L mendelik, melihat prosesnya dengan degupan kencang di dalam dada. Posisinya memberikan keleluasaan bagi sang dokter untuk bekerja, untuk bisa menyusupinya dengan tiga buah jari yang langsung bergerak tanpa meminta izin.
Prosesnya lebih menegangkan dari autopsi. Setengah jari sudah tenggelam ke dalam celah sempit.
"Mohon sentuh dirimu, Lawliet."
Tersentak kaget dengan perintah itu, L langsung mencengkeram kemaluannya.
Dokter Raito mengamati segalanya. Bagaimana jari-jarinya yang tegang memilin kaku, menghentak tidak sabar.
Wajahnya panas, bagian tubuh atas hingga wajah mungkin sudah berubah warna. Sedikit rintihan bergulir keluar dari dalam kerongkongan yang menyempit. Fiturnya yang ramping menghentak. L menahan gejolak untuk memejamkan mata dan merasakan sensasinya.
Secara ahli sang dokter memutar jarinya. Jari-jari itu membelai banyak bagian sensitif yang melemahkan saraf, tidak menumbuk seperti alat, tapi memuntir. Kaki L melebar tanpa sadar. Desahan menguat. Wajahnya yang memerah menyamping, sejauh mungkin menghindari wajah dokter. Napas hangat bergulir dari sisi wajahnya. Sangat dekat. L bisa merasakan bibir hangat menyusuri daun telinga dan lehernya. Sensasi itu bercampur dengan kepadatan bagian tubuhnya dan tekanan yang menyempit di bagian bawah.
Ketegangan berpusat pada bagian intim dan setiap area yang dibelai oleh jari. Keluar masuknya jari menambah intens gejolaknya.
"Dokter," erang L dengan mata melebar. Melihat proses keluar masuknya jari yang kian cepat, menimbulkan bunyi yang memalukan. Tumbukannya berpusat pada benjolan prostat, yang memercikkan sengatan langsung menuju organnya yang mengeras, menguatkan sensasi untuk melepaskan sesuatu. Telapak tangan L yang basah menggosok naik dan turun. Organnya sudah membengkak, terstimulasi dalam. Napasnya putus-putus dan dadanya membusung, bisikan dokter di telinganya tidak lagi terdengar.
Lebih banyak lagi cairan tubuh melumuri tangannya yang lemah. Badan yang mulai menggigil lebih hebat adalah tanda L akan melepaskan cairan tubuhnya. Mata L terpejam erat, tidak memikirkan apa pun, ia membiarkan dirinya jatuh ke dalam tangan Dokter Raito. Ketika itu, jari sang dokter sudah menggelincir masuk begitu dalam, dan berhenti bergerak, terbungkus dengan kerapatan otot-ototnya.
"Selesai, Tuan Lawliet." Segaris senyum tipis menghiasi wajah dokter.
L hendak menjawab, tapi hanya bisa megap-megap kehabisan udara. Buram, L bisa melihat pantulan merah muda pada rona di pipinya melalui mata cokelat Dokter Raito. Rasa malu yang sulit diungkapkan membuat wajah L tertunduk.
"Pemeriksaan hari ini selesai," kata sang dokter, merebahkan tubuh L yang masih panas oleh aktivitas mereka barusan ke tempat tidur. "Tarik napas dalam-dalam. Lima menit berbaring, lalu Anda sudah boleh pulang." Dokter Raito berjalan melewati bilik kain, kembali ke meja kerjanya. "Besok ada perubahan jadwal pemeriksaan, pukul delapan malam, karena Saya harus menangani beberapa pasien di rumah sakit."
L berbaring telentang, mengatur napasnya yang tidak karuan. Ia menyeka keringat di dahi dengan handuk putih yang dipersiapkan sang dokter dan langsung bangun dari tidurnya. Rasa pusing menyertai, sedikit oleng, bintik-bintik hitam bermunculan, efek dari orgasme. L langsung berpakaian.
"Besok adalah yang terakhir," gumam L.
Dokter Raito tidak menatapnya sama sekali, hanya mengangguk.
"Terima kasih banyak untuk hari ini, Dokter."
L tidak menyempatkan diri untuk duduk di depan meja konsultasi. Ia sudah membayar, pemeriksaan selesai, ia segera keluar dari ruangan tanpa menoleh kepada sang dokter.
Suster Misa sedang berdiri ambang pintu, terkejut melihat L, ia mengambil langkah mundur. L berjalan melewatinya tanpa membalas senyum.
Kondisi L yang jauh lebih dingin beberapa hari ini mungkin cukup mengkhawatirkan Wammy. Ia masuk ke dalam ruangan dengan membawa teh manis hangat dan sebotol pil penenang yang langsung ditolak mentah-mentah.
Wammy sudah memeriksa noda dan cairan yang membekas pada pakaian.
"..."
L tidak terkejut dengan hasilnya.
Wammy melontarkan beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Pria tua itu berspekulasi cukup jauh tentang L yang menjalin hubungan dengan seseorang. Spekulasi terakhirlah yang cukup menghenyakkan L, tentang percobaan penipuan dan pelecehan seksual. Pengasuhnya terlihat cemas, di balik kacamata bundar itu, di balik tatapan lembutnya, Wammy sedang merencanakan untuk melaporkan kasus penipuan pada pihak berwenang.
Tapi L menolaknya.
"Saya akan bicara dengan dokter itu. Malam ini."
Kata-kata itu tidak membuat Wammy tenang. "Lawliet, kau tahu apa risikonya."
"Saya memang menjalin hubungan dengannya," L berbohong, keras kepala. "Mohon jangan campuri urusan pribadi Saya."
Wammy keluar dari kamar dengan cangkir dan piring kosong. Dari ekspresi wajahnya, ia tidak percaya dengan apa pun yang akan keluar dari mulut L sekarang.
L berbaring menggulung di tempat tidurnya. Perubahan ekspresi yang intens di wajahnya menandakan ia telah tiba pada satu keputusan penting. Ia menatap kepada jendela apartemennya yang terbuka lebar, menghirup dalam-dalam semilir angin dari jantung kota Tokyo. Tangannya yang tremor bergetar membentuk kepalan tinju.
To Be Continued...
