Hari kelima
Kondisi L yang jauh lebih dingin beberapa hari ini mungkin cukup mengkhawatirkan Wammy. Ia masuk ke dalam ruangan dengan membawa teh manis hangat dan sebotol pil penenang yang langsung ditolak mentah-mentah.
Wammy sudah memeriksa noda dan cairan yang membekas pada pakaian.
"..."
L tidak terkejut dengan hasilnya.
Wammy melontarkan beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Pria tua itu berspekulasi cukup jauh tentang L yang menjalin hubungan dengan seseorang. Spekulasi terakhirlah yang cukup menghenyakkan L, tentang percobaan penipuan dan pelecehan seksual. Pengasuhnya terlihat cemas, di balik kacamata bundar itu, di balik tatapan lembutnya, Wammy sedang merencanakan untuk melaporkan kasus penipuan pada pihak berwenang.
Tapi L menolaknya.
"Saya akan bicara dengan dokter itu. Malam ini."
Kata-kata itu tidak membuat Wammy tenang. "Lawliet, kau tahu apa risikonya."
"Saya memang menjalin hubungan dengannya," L berbohong, keras kepala. "Mohon jangan campuri urusan pribadi Saya."
Wammy keluar dari kamar dengan cangkir dan piring kosong. Dari ekspresi wajahnya, ia tidak percaya dengan apa pun yang akan keluar dari mulut L sekarang.
L berbaring menggulung di tempat tidurnya. Perubahan ekspresi yang intens di wajahnya menandakan ia telah tiba pada satu keputusan penting. Ia menatap kepada jendela apartemennya yang terbuka lebar, menghirup dalam-dalam semilir angin dari jantung kota Tokyo. Tangannya yang tremor bergetar membentuk kepalan tinju.
L sudah tiba di klinik pada pukul tujuh.
SEDANG ISTIRAHAT
Praktek dibuka kembali pada pukul 20.00 malam.
Tulisan besar pada pintu kaca klinik diabaikan oleh L, ia masuk ke dalam.
Suster Misa sedang duduk menyilangkan kaki sambil membaca majalah wanita. Matanya mengerjap pelan ketika L masuk, dahi berkerut, ia langsung membungkuk hormat. "Selamat datang Tuan Lawliet. Maaf untuk sekarang dokter sedang beristirahat, ia akan membuka kliniknya pada pukul delapan" katanya, lalu memeriksa jadwal L di antara tumpukan kartu pasien. "Anda ditunggu oleh dokter pada jam..."
"Apa dokter ada di dalam?"
"Ada, tapi sedang istirahat. Dokter akan menerima Anda- Tuan Lawliet?"
"Saya ada janji, penting dan pribadi, dengannya sekarang," terang L, berjalan melewati suster Misa, dan masuk ke dalam ruangan Dokter Raito.
Dokter Raito sedang duduk menyesap tehnya dengan lembaran medis di tangan. Sebagaimana reaksi suster jaga di ruang tunggu, Raito langsung menyapukan pandangan terkejut kepada pintu yang mendobrak terbuka. Cangkir di tangannya agak bergoyang, tapi dengan cepat ia mengendalikan diri, dan meletakkannya di atas meja.
"Selamat malam Dokter," kata L, tanpa senyum di wajahnya.
"Ah, Tuan Lawliet," balas sang dokter, secara elegan berdiri dari kursi, membenarkan jubah putih dan merapikan penampilannya. Raito menyambut L yang menghambur masuk dengan senyum profesional yang mungkin sanggup menenangkan hati pasien mana pun yang menatapnya. "Maaf tapi Saya tidak sedang dalam jam praktek-"
"Bukankah saya pasien istimewa Anda, Dokter? Dan saya tidak berbicara tentang praktek dokter prostat, jika itu memang pekerjaan Anda yang terhormat."
Senyum hangat di wajah tampan itu memudar, berganti menjadi realisasi yang nampak jelas di matanya. Isi kepalanya yang cerdas itu pasti mampu menjabarkan situasi apa pun di hadapannya.
Tapi tak ada tanggapan verbal. Sang pasien yang datang lebih dini pun menepukkan telapak sepatunya dua langkah ke depan. Tangan terkepal di saku, keras. Mata cokelat sang dokter menyapu kontur timbul yang jelas dari kedua pinggul, mudah sekali untuk mengetahui bagaimana sikap tangan yang tersembunyi. Sikap tangan yang umumnya dibentuk orang saat siap melayangkan pukulan. Terperangkap di dalam kantong jins lusuh, tapi dapat melompat keluar kapan saja.
Sang dokter masih bergeming. Memudar memang, tapi bibirnya masih menarik senyum. Lengkung bibir di wajah yang membeku seiring proses pemikiran yang ama tersembunyinya dengan sepasang tinju L.
"Saya adalah dokter prostat, Tuan Lawliet," katanya, "itu memanglah pekerjaan saya."
Sosok bersetelan putih sang penggelut medis terlihat semakin besar pada bulatan hitam dari kornea lawan bicaranya yang semakin mendekat. "Saya tahu. Tapi kelihatannya Anda memiliki okupasi ekstra." Sol sepatu karet usang menggesek permukaan lantai keramik lagi. "… yang jauh lebih rendah dan menjijikan untuk seseorang yang memiliki titel edukasi tinggi dan reputasi setinggi milik Anda."
Wajah bintang layar perak tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan walau sepasang mata yang sedikit memicing mengawasi tungkai pengayuh langkah dengan mata berkilat waspada.
Bibir L bergetar lebih dari biasa saat suara merambat keluar dari rongga mulutnya. "Seperti misalnya memeperkan lendir pribadi ke wajah, tubuh dan mulut pasien," kata L lagi, wajahnya minim ekspresi tetapi terkesan meludahkan kata-kata seperti sedang mengecap sesuatu yang pahit. "Pasien yang tidak tahu menahu, yang membayar dengan pengharapan akan memeroleh profesionalisme dan dukungan medis." Kepalan jari menghasilkan suara keletekan yang lolos dari bungkaman pori-pori fabrik. "Bukan untuk ditipu dan dilecehkan, diperlakukan seperti seorang sundal."
Alis sang dokter yang lebat sedikit menurun. Matanya tetap konstan, tak ada penyesalan baik di sana atau pun dalam gestur tubuh. "Lawliet…"
Tinju L melompat keluar dari naungan saku. Tidak melayang untuk menghantam tengkorak berbalut kulit dan daging lawan bicaranya, tetapi untuk membantunya mencengkeram keseimbangan dari udara kosong. Memutarkan tubuhnya, L lalu melontar maju dengan kaki terayun ke belakang, siap menerjang si dokter dengan daya hempas ke depan.
Hidung dokter yang jadi sasaran bergeser dari jangkauan — reflek menghindar luar biasa dari sang dokter, tetapi cukup terlambat. Punggung kaki L menghantam tepi rahangnya dan si dokter terdorong ke kursinya, mendarat dalam posisi terduduk. Sikunya yang terlontar menyenggol cangkir beruap dan segera saja kurva cokelat kemerahan yang terbentuk dari komposisi likuid meliukkan diri di udara. Bunyi cipratan menyusul kemudian dan noda minuman rendaman daun menyilangi busana mayoritas putih pembalut torso sang dokter. Selempang cair yang meresap dan mulai meninggalkan pola yang lebih abstrak.
Cangkir porselen bergoyang sebentar di meja, lalu tergelincir dari tepian. Bunyi nyaring beresonansi dan pecahan putih yang berkerlip samar melenting dari sekitar radius benturan fatal.
Ketukan sepatu tumit tinggi mendekat dari arah pintu dan Suster Misa tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Matanya sedikit memberi kesan kerlipan yang mirip dengan pecahan perabot barusan. Apa yang terlihat di dalam ruangan jelas merupakan perkelahian. Tapi sang suster tidak lantas bersembunyi ke balik pintu. Berdiri tegap, tatapannya mencari-cari balasan dari dokter muda yang rambutnya lebih teracak dari normal.
"Misa, keluar," ucap si dokter. Tenang.
Alis si gadis pirang menukik, membingkai sorot mata khawatir. "T-Tapi-"
"Mohon keluar, Misa." Manik cokelat yang terhalangi timbunan poni hanya menatap lurus ke arah si pasien penyerang.
Bola mata yang selalu terlihat bulat milik pemuda yang dipandangi seperti berlapiskan sepuhan es. Dingin. "Harap keluar, Nona Misa," L ikut bicara, "ini murni urusan antara saya dan partner Anda."
Ragu-ragu, akhirnya sang perawat berjalan mundur perlahan sambil membawa gagang pintu bersama dalam genggamannya. Pintu kemudian kembali tertutup, mengisolir area panas dari konfrontasi kedua pria muda.
Tak ada lagi bekas senyum ramah, sang dokter kini bergeser mengarah kepada L. "Lalu tujuan Anda datang kemari, Tuan Lawliet, adalah membicarakan prihal?"
Jawaban dari L adalah aksi, maju mencengkeram kerah jubah putih sang dokter.
"Wow wow." Raito mengangkat tangan oleh sergapan mendadak. "Saya bisa melapor kepada yang berwenang atas penyerangan di ruang kerja saya ini, Tuan Lawliet-"
"Atau saya yang melapor atas tindak pelecehan seksual yang terjadi selama empat hari," desis L.
Perlahan sekali, mata cokelat menyipit tajam, dengan bilah-bilah gigi putih menampakkan diri. Dokter Raito membiarkan dirinya ditarik hingga bibirnya berjarak kurang 1 sentimeter dari daun telinga Lawliet.
"Silakan saja," bisiknya panas. "Hasil visum pun hanya akan membeberkan fakta tidak adanya tindak kekerasan."
L bergeming. Cengkeramannya menguat pada kerah Raito.
Jemari nakal membelai pipi Lawliet yang memanas. "Getaran yang Kau rasakan itu masih tersisa, bukan?" Bibir menelusuri cekungan mungil di balik daun telinganya. "Saat Kau berada di puncak kenikmatan karena 'alat'-ku dan tidak sekali pun Kau memintaku untuk berhenti."
L melepaskan sang dokter.
Raito mengira Lawliet akan mendorong atau menendangnya, sampai tarikan kuat pada kerahnya kembali. Tubuhnya terasa ringan karena kaget oleh tekanan gravitasi, sol sepatu mahalnya menggelincir bersamaan ketika mereka berputar. Ranjang pasien berderit saat dua sosok pria terguling jatuh di atasnya. Raito terbelalak. L membantingnya ke atas kasur.
Lawliet terengah, mendaki di atas tubuh Dokter Raito. Tinjunya yang pucat masih mengepal pada pinggiran kerah yang basah oleh air teh. Tubuh bungkuk akibat skoliosis dan beban stres yang dipikulnya saat ini terbalut oleh kaus putih yang lembab oleh keringat dingin. Mata Raito bergulir menelusuri kejenjangan leher di atasnya, putih tanpa noda dan halus dalam sentuhan. Tatapannya jatuh hingga lekukan lain pada bagian pinggul si pasien istimewa dan kedua kaki yang terbuka dengan tumpuan lutut pada sisi kanan dan kiri. Mata dokter kembali bergulir naik, disambut oleh mata segelap langit malam yang memercikkan emosi luar biasa.
Raito menahan diri untuk tidak meraih wajah dan bibir merona milik seseorang di atasnya itu. Ia tergelak. "Lawliet, Kau terlihat sedang ingin memerkosaku."
Tangan Lawliet berkedut. Kukunya menancap dalam menembus fabrik putih dalam kepalannya. "Mata dibayar mata adalah moto saya. Tetapi saya tidak sakit jiwa seperti Anda, dokter yang terhormat, saya tidak akan membalas tindakan amoral seperti yang Anda lakukan."
Tatapan Raito melembut. "Oh? Asumsiku sekarang Kau ingin aku bertanggung jawab. Apa cukup dengan kata maaf? Atau dengan cara menikahimu karena aku sudah merenggut kepolosanmu." Dokter Raito tidak terdengar bercanda walau senyum menggoda terukir di wajahnya.
"Dokter," L bernapas berat, "...Apa Anda menyukai saya?"
Seringai meredup di wajah Dokter Raito.
Untuk beberapa saat keheningan mengisi ruangan.
"Lawliet-"
Perkataan Raito terputus, dengan bibir yang menempel di atas bibirnya.
Lawliet menautkan bibirnya dengan penuh desperasi, penuh amarah, tidak memberi ruang untuk bergerak, untuk Raito menarik napas. Tapi pria yang mendapat banyak penghargaan dalam bidang medis itu tidak hanya handal dalam menangani problema penyakit pasiennya. Raito merengkuh pinggang ramping di atasnya, mengejutkan Lawliet dengan remasan kuat dari telapak tangannya yang lebar. Tangan itu membelai turun kedua sisi tubuh kurus L, sampai pada lekukan yang padat berisi memberikan keleluasaan bagi penjarian Raito untuk merenggang lebar, dan menancapkan kukunya ke dalam bongkahan daging di sana. Raito memberi remasan yang kedua di tengah ciuman mereka.
Tindakannya memberikan kejutan bagi Lawliet, mengendurkan serangannya dan napasnya mulai putus-putus. Raito menyembunyikan seringainya, menggigiti bibir penuh Lawliet, menjulurkan lidahnya yang hangat meminta untuk mengecap lebih dalam.
"Unh. A-Ah-"
Satu tangan pada bokong melayang ke belakang kepala L, menarik ke arah Raito untuk memperdalam ciuman. Dari sudut mata sang dokter ia bisa melihat mata Lawliet setengah terbuka, kemudian tertutup ketika Raito meremas bagian tubuhnya lagi. Ah. Ia terkesiap dan bibir itu terbuka, memberi jalan bagi Raito merasakan hawa panas dari mulutnya melingkupi otot lidah yang menjulur masuk.
Di tengah pertarungan panas itu Lawliet merasa dunianya kembali berputar. Punggungnya kini bergesekan dengan permukaan ranjang. Posisi telah berbalik. Lawliet terbelalak, nyaris panik, terdesak mendorong dada sang dokter di atasnya.
Apa Kau kira bisa menang? Oh, Lawliet...
Kedua bibir bertemu kembali. Pipi Lawliet yang putih bersemu merah muda, yang berusaha ditutupi dengan lengannya. Raito mencengkeram kedua pergelangan tangan Lawliet dan menahannya di kedua sisi. Penolakan keras datang dari Lawliet yang menekuk lututnya, menentang, tidak suka berada di bawah. Raito menahan dengan berat tubuhnya dan menikmati setiap rintihan lirih yang keluar dari bibir penuh itu.
"Dokter!" L mendesiskan titel itu ketika gigi sang dokter menancap dalam di leher. Terus menggeliat, L yang kesakitan menahan erangannya dengan mencakari punggung Raito.
"Benar, Lawliet. Kalau Kau ingin mencakarku, di sana tempatnya, tapi lakukan dengan lebih lembut."
Tidak ada penutup mata. Tidak ada alat bohong-bohongan. Mata bertemu dengan mata. Raito telah melucuti pakaian Lawliet sebelum protes mengudara dan meletakkan sepasang kaki bertumpu pada bahu dan punggungnya. Raito menanggalkan kemeja putihnya yang telah lembab dan melemparkannya ke sisi ranjang.
"Kau membuatku tergila-gila, Lawliet," Raito membungkuk, memenetrasi lubang telinga yang memerah itu dengan lidahnya. "Aku tidak berhenti memperhatikanmu, bahkan sebelum Kau datang ke klinikku. Aku sudah mencari info tentangmu."
L mendengarkan di antara napas yang memburu, mencakari punggung dokter lebih dalam. Ia merasakan desakan yang cukup menekan di antara kedua kakinya; sesuatu yang membengkak dan masih terkunci rapat dalam gerigi resleting celana sang dokter. L menggigit bibirnya dan merintih saat kedua tangan pemuda di atasnya menelusuri sisi tubuhnya, dan berhenti untuk meremas kuat pinggulnya.
"Hn!"
Tiga jari menerobos masuk dengan secara ahli memijat titik tersensitif di antara rektum. Lawliet menggigit ibu jari kuat-kuat, namun tak sanggup menahan desahan yang bergulir keluar dari tenggorokannya. Ia mencengkeram punggung sang dokter dengan kedua kaki terbuka lebih lebar.
"Kau bereaksi, Lawliet."
Tiga jari. Keluar masuk. Memijat lembut pada awalnya, lalu menjadi kencang. Lawliet merasakan cairan keluar dari kejantanannya dan perasaan ingin buang air yang luar biasa akibat sensasi yang ditimbulkan. Matanya terpejam ketika mendengar bunyi relesting yang diturunkan. Bunyi gesekan ranjang terdengar setelahnya. Berat tubuh Raito menekannya. Tangan Lawliet mencengkeram seprai di antara tumpuan tangan sang dokter di kedua belah sisi tubuhnya.
"AHHHHHH." Lawliet tak kuasa menahan teriakannya.
Tak ada kelembutan dan kehatian-hatian sebagaimana perlakuan yang Lawliet rasakan di hari pertama atau pun kedua. Kini saling berhadapan, menyatukan bagian tubuhnya dengan Lawliet, kegilaan tercetak secara nyata di wajah Dokter Raito. Sang dokter bergerak cepat, menyiksa tubuh di bawahnya, tidak pernah luput menghujam kelenjar prostat, tidak memedulikan rintihan pasiennya yang menginginkan pelepasan.
"Hahh—Hah—Ahhh." Lawliet tidak pernah merasakan panas yang begitu nikmatnya yang menjalari setiap sel-sel di tubuhnya hingga ke kepala yang membuatnya menjadi tidak berdaya. Lawliet terkulai lemah; kepala di atas bantal dan kedua tangan sang dokter meremat pergelangan tangannya. Sementara sang dokter menjadikan tubuhnya sebagai alat pemuas nafsu. Tubuh mereka yang berlumur peluk bergerak-gerak secara harmonis.
Satu desahan paling kuat dari Lawliet mengantarkan pada klimaks yang berikutnya. Raito dengan cepat menarik kejantanannya dan menggosok dirinya. Napasnya berat, penuh kepuasan ketika menyemprotkan cairan putihnya ke perut dan dada datar pasiennya. Beberapa dari cairan itu sampai ke sudut bibir Lawliet, seolah sangat disengaja. Senyum terpatri di wajah Raito.
Lawliet baru saja ingin segera beranjak dari ranjang dan mengambil pakaiannya ketika Raito menariknya.
Raito menyapu lembut kulit di bawah telinga hingga daerah tulang selangka L yang masih berlumur peluh, terlihat begitu menggiurkan, dan memberikan gigitan yang cukup dalam. Lawliet terkesiap, meremas pundak Raito dan mendorongnya.
"Cukup."
Masih sempoyongan, Lawliet menarik diri dan meraih kausnya. Ia menjejakkan kaki di atas lantai yang dingin. Hawa dingin itu tidak sedingin raut wajahnya ketika ia menatap Dokter Raito.
Lawliet sambil mengunci resleting celana jeansnya yang kelonggaran. "Apakah itu adalah sebuah hobi, dokter? Mempermainkan pasien Anda dan melampiaskan frustrasi seksual Anda kepada mereka? Sudah berapa banyakkah yang menjadi korban Anda? Ah... bukan itu pertanyaannya. Saya ini adalah korban yang ke berapa, dokter?"
"Mereka?" Raito mendengus tertawa. "Tidak ada kata 'mereka', Lawliet, hanya ada Kau." Raito mengunci matanya. "Hanya Kau seorang yang menggiringku untuk melakukan semua tindakan ini. Dan Kau menyalahkanku?"
Diam sebentar, Lawliet meremas pergelangan tangannya yang akan segera membiru.
"Kalau begitu kenapa dengan cara seperti ini?" tanyanya tanpa menoleh.
Raito menjulurkan tangannya untuk meraih pinggiran celana Lawliet. Satu jarinya masuk menyentuh ujung karet celana dalam, namun Lawliet menepisnya.
"Yang tadi adalah yang terakhir, dokter."
Raito mengerjap. "Apa?"
Mata Lawliet mendingin. "Anda terlihat puas, Dokter Raito," gumamnya. "Bagaimana rasanya akhirnya dapat benar-benar menyentuh saya, untuk yang terakhir kalinya?"
Raito diam, matanya terus mengikuti setiap pergerakan lemah Lawliet. Ia tidak membantu Lawliet berpakaian, hanya berbaring dengan tumpuan sikunya di atas ranjang.
"Dan saya kasihan padamu, Dokter. Saya tidak yakin kau bisa menemukan seseorang yang akan benar-benar Kau cintai." L menyentuh kenop pintu dan berhenti di sana, melirik kepada Raito untuk terakhir kalinya. "Selamat tinggal."
Pintu tertutup pelan.
Raito duduk tertegun.
Raito menatap sekelibat isi ruang prakteknya dan menghela napas. Meja masih berguling di lantai dan ia membutuhkan pertolongan Misa untuk membenarkannya ke tempat semula. Tapi rasa ngilu yang ia rasakan dalam dadanya saat ini bukan karena serangan Lawliet atau dari aktivitas persetubuhan.
Dari jendela ruangannya, Raito melihat Lawliet berjalan keluar dari gedung rumah sakit.
Kaus seputih mutiara yang membalut tubuh itu- tubuhnya yang bungkuk yang beberapa saat lalu ada di dekapan Raito, tidak akan kembali. Lawliet tidak melirik sedikit pun ke jendela klinik Dokter Raito di lantai 5 rumah sakit itu.
Raito menunggu hingga punggung Lawliet menghilang di balik keramaian trotoar lalu menutup kerai jendela.
END of Case 1
Next case would be...
Please choose between:
a. Vampire!L, or
b. AiberxL
