Halo Pembaca,
Author menulis dan update kilat sebagai permintaan maaf untuk cerita yang sempat hiatus.
Case 2 adalah Vampir!L sesuai permintaan pembaca. Berhubung Author senang cerita yang anti-mainstream, jadi jangan khawatir bagi penggemar yang tidak suka melihat vampir!L yang biasanya lebih seme-ish ketimbang uke-ish. Pembaca mungkin akan terkejut dengan cerita yang Author sajikan di bawah ini.
Kalau banyak permintaan, Author akan mempertimbangkan beberapa Case untuk dibuat sequel-nya. Terutama untuk case yang-2, Author tunggu tanggapannya, walau mungkin arah ceritanya belum terlalu kelihatan mau ke mana dari bab ini.
Disclaimer: Death Note is a Japanese manga written by Tsugumi Ohba with Takeshi Obata as the illustrator.
This is a non-profit fanwork.
Case 2
'Bloodsuckers'
"Sebuah dunia di mana makhluk haus darah paling mengerikan adalah mereka yang mengincar keabadian."
Pemandangan jendela kaca patri, sofa beludru terlembut dan meja kolonial, diletakkan di sebuah kamar tidur raja yang menawarkan suasana penuh kemewahan adalah apa yang dilihat olehnya sehari-hari.
Isi lemari pakaiannya adalah setelan bermerek. Setiap atributnya menampilkan segala hal yang diinginkan oleh setiap orang yang berstatus lebih rendah atau sederajat dengannya. Pada siang hari ia adalah seorang pembisnis nomor satu dan pemegang saham terbesar. Pada malam hari ia akan terlihat di beberapa tempat dengan segelas anggur terbaik, di lounge eksekutif terbaik, mitra terbaik yang menenteng kopor-kopor untuk berjabat tangan. Wanita yang datang dan pergi di atas ranjang dengan fabrik berserat viscose emas dan wewangian musk itu tidak akan melekat di tubuhnya lebih dari semalam. Pada malam berikutnya, tak ada yang tahu apa yang sedang ia kerjakan, tapi apa pun itu pastilah hal yang luar biasa. Tak terjangkau. Kelas atas.
Namun mereka tak tahu ia adalah seorang pemimpi besar. Ia menginginkan lebih dari apa yang mereka bayangkan tentang dirinya.
Pada suatu malam, ia duduk dan berpikir; pencapaian tertinggi apa lagi yang bisa ia raih? Apa yang tidak bisa dapatkan? Apa yang masih belum ia miliki? Ia mendapatkan jawabannya di suatu malam ketika mendapatkan tegukan demi tegukan dari segelas cairan merah pekat yang memabukkan.
Bagi dirinya, seorang manusia penguasa, yang sudah punya segala bentuk yang bersifat material, hanya ada satu yang masih kurang.
Wanita itu membawa dua buah keranjang; buah-buahan masak di tangan kiri, manisan permen dan gulali untuk halloween di tangan kanan.
Rasa lapar menggiring kaki seorang pemuda pucat berambut raven yang berjalan menyusuri tembok bata. Ia terlihat bagaikan penguntit. Wanita itu mengibaskan rambut ikalnya dengan tangan kanan, membuat kantong plastiknya bergoyang pelan, sebutir permen tidak beruntung jatuh ke tanah. Bahu bersandar pada tembok di persimpangan, dengan gerak-gerik mengintai, si pucat mengawasi. Kedua taring mencuat dari sela bibirnya. Jari-jari tangannya merenggang, otot-otot mengejang bersiap untuk menerkam...
...menerkam permen manis itu.
Seorang berpakaian gelap muncul bagaikan tiupan angin, menerjang si pucat yang dari sisi kiri. Kedua tangan gelap itu terbungkus material berkilauan yang membuat mata si pucat membulat. Dengan gesit dan cepat, si pucat melompat mundur dan punggungnya menabrak sesuatu yang ia ketahui sebagai tubuh manusia. Sebelum sempat bergerak, kedua tangan besar berbalut material yang sama dengan penyerangnya merengkuhnya dalam satu pelukan erat.
Pandangan si pucat menebar ke segala arah. Warna perak yang pekat meredup di bawah lampu di sudut gang, tangan-tangan berkekuatan besar dengan rasa dingin menusuk sekaligus menyengat dari material perak, wangi pedas bawang putih di dalam kain berserat kasar.
Pemburu.
Mata si pucat menyipit membentuk celah gelap. Ia diam, waspada di dalam genggaman manusia. Salah satu di antara mereka maju mendekati si pucat. Kacamata hitam melintang di depan matanya, bibirnya membentuk senyuman menyebalkan. "Halo, manis." Lalu sebuah tinju melesak masuk ke perut si pucat, membuat tubuh ringkih tersebut tertekuk ke depan.
Temannya yang lain ikut menghampiri. Tawa tidak bisa lepas dari mulut mereka. "Tertangkap basah, tuan vampir."
Sang vampir menatap manusia ancaman satu persatu dengan dahi berkerut. Mereka tidak berbicara dengan bahasa lokal. Ia menggeliat pelan untuk melepaskan diri, matanya masih bergulir waspada menatap para pemburu Asia satu persatu. Sang vampir tidak menghabiskan waktu beberapa abad hanya untuk duduk menyantap manisan. Sang vampir sudah banyak menghabiskan waktu melakukan studi berbagai hal, termasuk mempelajari bahasa Jepang.
"Hanashiteyo," kata sang vampir dengan suaranya yang tenang dan dalam.
"Rupanya bisa Bahasa Jepang, Mr. Vampire?" Salah satu pemburu terkekeh seraya memandangi sekujur tubuh vampir yang sedang dipegangi dalam cengkeraman sarung tangan perak. Teman-teman yang lain bergabung mengepungnya. "Melepaskanmu? Sayangnya tidak bisa. Anda kami tangkap, Mister."
"Hanashiteyo," ulang si pucat, dengan nada yang lebih tenang.
"Tidak bisa. Anda terbukti bersalah, Tuan."
Si pucat meronta melepaskan diri. Material perak tadi terasa menembus fabrik yang membalut kulitnya. Matanya membulat dengan sensasi panas membakar yang ditimbulkan. "Saya tidak berbuat salah. Tuduhan kalian tidak berarti apa-apa."
"Enam orang saksi telah melihat Anda membuntuti dan hendak menyerang seorang manusia, Tuan."
"Kalian adalah pemburu? Kesaksian Anda sekalian tidak bisa menjadi bukti untuk menangkap saya. Kalian hanya ingin menangkap saya." Udara berhembus dari celah taring sang vampir; mengancam.
"Bisa dikatakan demikian. Kami adalah sekelompok pemburu yang bekerja sama dengan pihak pemerintah kota untuk menjaga ketertiban. Bukan ini saja sudah 457 orang dilaporkan menghilang."
"Aw, aw. Mengancam, rupanya." Taring yang mencuat dari celah bibir si pucat disambut tawa oleh para pemburu.
"Karena saya mendeteksi adanya ancaman dari kalian, manusia pemburu. Saya tidak ingin menyakiti siapapun. Kalian telah salah menuduh," balasnya tenang.
"Untuk hal itu, kita akan buktikan di markas pihak berwajib yang bekerja sama dengan kami." Seorang di antara mereka maju sambil menenteng alat injeksi berisi cairan bening kebiruan; Obat bius yang umum digunakan di kalangan vampir.
"Apakah ada kesaksian dari manusia non-pemburu? Jika tidak, kesaksian Anda sekalian tidak akan dianggap vaild. Pemburu tidak mungkin mau bekerja dengan pihak pemerintah terkecuali ada benefit. Tunjukkan kartu identitas kalian." Sorot mata sang vampir menyerang mereka satu persatu. "Apalagi pemburu berkebangsaan Jepang."
"Vampir cerewet." Dua di antara mereka merogoh saku lalu menunjukkan kartu identitas yang membenarkan perkataan mereka sebelumnya. "Sudah puas, Tuan?" Menoleh kepada rekan pemegang alat penyuntik. "Suntik dia cepat."
Sang vampir menyipitkan mata melihat kartu identitas yang diperlihatkan sekilas hingga kartu itu tenggelam di balik jaket kulit hitam. Selanjutnya, jarum suntik yang berkilat membuat matanya membulat. Salah satu pria asing menghampiri, ibu jarinya telah memasang posisi di permukaan pendorong dari alat penyuntik. Percikan halus menyembur dari ujung jarum. Gerakan manusia terlihat cukup melambat di mata makhluk imortal yang penuh konsentrasi. Selangkah mendekat. Selangkah lagi.
Si pucat menyundul kepalanya mengenai dagu si manusia yang memegang jarum suntik.
DUAAK
Pemburu terpelanting jatuh dengan mulut mengucurkan darah. Aroma darah menguar di udara. Rekannya memasang raut wajah marah. "Vampir kurang ajar!"
"Tidak akan ada yang tersakiti jika kalian melepaskan saya."
Salah seorang pria Asia bertepuk tangan. "Wow. Menyakiti manusia. Tuduhan Anda semakin berat saja."
Saat perhatian si pucat teralih kepada si pria bertepuk tangan, sesuatu yang ramping tajam menembus kulit lengan atas kirinya. Alat suntik bius. Desiran hangat berbaur di bawah kulitnya yang terbungkus kaus putih panjang dan ia mendelik ke lengan kirinya.
Bisikan panas mengudara. "Tenang saja, Mr. Vampire. Saat terbangun nanti, Anda akan berada di tempat yang lebih baik."
Fokus sang vampir memudar dengan sengatan jarum yang menembus kulit pucatnya, cairan menebar di dalam pembuluh darah yang seketika berdenyut kuat dengan rasa dingin yang menyebar ke seluruh tubuh non-manusianya. Sengatan pelumpuh vampir membuat kelopak mata memberat. Dunianya berputar dan terbalik dengan kepala terkulai lemas. Gelap.
Ia seolah tengah melihat cahaya terang dari matahari terbit; waktunya tidur bagi makhluk penghisap darah.
Lalu kemudian matanya membelalak. Sosok-sosok bayangan manusia menghiasi dinding putih yang asing. Ia telah dibawa pergi oleh para pemburu ke suatu tempat. Suara besi yang bergeser dengan permukaan lantai mengusik telinga sensitifnya. Sang vampir tahu pasti itu suara kursi yang bergeser meskipun tidak melihatnya.
"Sudah bangun, Manis?"
Kepala sang vampir bergerak mengikuti sumber suara.
"Pemburu," balasnya dengan suara yang dalam, nada setengah menggertak.
Ia duduk di atas sebuah ranjang dengan kaki dan tangannya terikat oleh borgol perak. Sang vampir mencoba menghentakkan kaki dan tangannya, lalu mengetahui tubuhnya terbelenggu oleh rantai khusus. Kulitnya akan meneteskan darah jika ia mencoba bergerak secara eksesif.
"Tenang." Suara tawa bersahut-sahutan menyambut. Rupanya si pemburu tidak sendiri. Lima orang rekannya lengkap dan sedang duduk-duduk di sofa sudut ruangan. "Saya yakin Anda mengerti benar bagaimana borgol itu bekerja."
"Apa yang kalian inginkan?"
Saya sangat yakin Anda mengerti bagaimana kondisi hubungan antara manusia dan vampir, Tuan..." Pemburu menyisakan nada bergoyang panjang, menciptakan ruang untuk meminta nama sang vampir.
Bagi beberapa kalangan, darah vampir adalah sesuatu yang merupakan candu yang sangat digemari lebih dari minuman anggur dan memiliki khasiat ajaib dalam meningkatkan vitalitas. Semakin tua usia vampir tersebut, maka akan semakin tinggi harga yang harus dibayar bagi konsumennya. Tentunya tidak sedikit pemasok kantong darah ilegal tersebar di berbagai belahan dunia.
Seperti para pemburu ilegal di hadapan si pemuda vampir yang malang ini.
"Kalian ingin darah saya. Silakan ambil. Lalu lepaskan saya."
"Baik, Tuan Panda. Saya sangat yakin Anda tahu bahwa antara manusia dan vampir terjalin ikatan saling memburu bukan sekedar karena darah saja."
Ekspresi wajah si vampir mendadak sengit mendengar kata Panda. "Anda sekalian menginginkan untuk menjual saya?"
"Benar." Para pemburu tersenyum mengejek. "Tubuh Anda merupakan komoditi yang berharga." Telapak tangan manusia menyusuri sebelah paha sang vampir.
Dan tentunya, bukan hanya darah vampir yang digemari oleh manusia...
Dengan mata terpejam, sang vampir tidak berkutik akan sentuhan manusia pada kakinya. "Tidak ada manusia dalam radius beberapa puluh kilometer dari sini. Bau garam, deburan, air." Sang vampir membuka mata, "Ini adalah kapal," -dan mengerjap- "saya Akan dibawa ke mana?"
"Menuju tempat asal bahasa kami. Akhir-akhir ini vampir Inggris banyak peminatnya."
"Oh." Wajah sang vampir datar saja, kemudian memutar kepalanya seperti sedang merenggangkan leher. "Di kapal ini tidak terlalu banyak manusia, benar?"
"Benar. Tetapi jangan coba macam-macam, Mr. Panda. Rantai perak hanya akan menyakitimu. Lagi pula sisa obat bius di dalam darah yang belum menghilang akan melambatkan pergerakan Anda."
Sang vampir mencoba menggerakkan satu kakinya, mengetes setajam apa materialnya. "Tidak terlalu banyak manusia. Lima, delapan, sembilan orang di ruang kemudi." Ia menerka-nerka dengan bantuan indera pendengaran dan penciuman tajamnya. "Hanya memperlambat, tidak mematikan." Ia lantas menatap tajam kepada penangkapnya. "Kita lihat saja nanti."
Pemburu menyeringai. "Wah. Apakah itu ancaman, Tuan?"
Sang vampir meringis sedikit. Goresan sedikit dari rantai hampir membuat kulitnya terkoyak mengeluarkan darah. "Hanya jika Anda berbuat macam-macam."
"Baiklah, kalau demikian, kuharap Anda tidak keberatan dengan pelayan kami selama berlayar, Tuan." Seorang pemburu melirik temannya yang langsung bergegas menghampiri sambil menenteng sebuah mesin, selang, jarum, dan beberapa kantong kosong.
"Permisi, Tuan." Salah satu dari mereka mengamit tangan pucat yang terborgol lalu mendaratkan kecupan pada punggungnya dan menatap sang vampir dalam-dalam. Setelahnya, rekannya menggoreskan jarum di punggung tangan tersebut. Warna putih merekah membentuk garis merah yang melelehkan batu rubi cair. Tanpa memutus kontak mata, pria Asia tersebut lalu menjulurkan lidah, mengecap darah sang vampir.
Masih diam, mata gelap sang vampir yang tadinya membulat kini setengah terpejam. Kontak jarum tidak terlalu menyakitkan, tapi karena beberapa alasan, si pemburu sengaja menusuk punggung tangannya terlalu dalam.
Saat permukaan lidahnya menyentuh lelehan rubi tersebut dan mengonfirmasi rasa, mata sang pemburu terbelalak. Jilatan berubah menjadi isapan kemudian hisapan yang dalam. Mulutnya berbunyi berisik dan tangan pucat dijamahnya erat dan kasar.
"...Hh." Dahi pucat vampir berkerut tak nyaman, terkejut dengan kekasaran yang tiba-tiba. Material perak dari borgol menggores pergelangan tangannya yang telanjang, tak sampai berdarah, namun sukses membuat sang vampir terkesiap. Suara lapar dahaga yang rakus dari manusia mengisi ruangan. Manusia lainnya menonton antara bingung campur penasaran melihat rekannya.
Tersentak dan berhenti menghisap. Ia menengadahkan muka secara perlahan dengan bibir berlumuran darah sambil memandang sang vampir dalam-dalam. Manusia mengatakan bahwa bangsa vampir adalah monster tanpa menyadari bahwa mereka sendiri pun adalah monster. Ekspresi predator kelaparan si pria Asia ini dapat menjadi salah satu bukti hal tersebut. Dia memanggil rekannya. "O-Oi. Dia ini..."
Tangan si pucat yang dijamah mengepal erat.
"Dia ini White."
"?"
"White chocolate. Vampir ini white chocolate-"
Sang vampir mengikuti arah mata si manusia pemburu, kemudian melirik ke teman-teman lainnya yang nampak terkejut dengan wajah penuh pencerahan. White chocolate? Ekspresi dingin mewarnai wajah datarnya. Apa pun arti dari istilah itu, ia tidak akan menyukainya.
"-Dan bahkan Alizo, vampir berumur 500 tahun yang menjadi legenda kesuksesan kita menangkap vampir di dunia vampire hunter pun tidak memiliki rasa darah senikmat dan sedalam vampir ini!" si pemburu berseru, kembali menoleh kepada si pucat. "Hei, Tuan, berapa usiamu? Pasti lebih dari setengah abad!"
"Kalian menangkap Alizo?"
"Ya. Anda mengenalnya? Tenang saja. Ia sekarang tinggal dengan tuannya si bandot mesum itu pasti sangat memanjakannya di Rusia."
Si pucat mengernyit jijik. "Malang sekali. Si bocah yang ceroboh." Ia memutar bola mata dengan tenang, tapi di dalam kepala sedang memproses rencana untuk melarikan diri dari para pemburu dengan level di atas rata-rata itu.
"'Bocah' katanya. Kalian dengar itu?" Pemburu menoleh kepada teman-temannya yang bersemangat, yang secara serentak maju dan berdiri berjejer di tepi tempat tidur sang vampir.
Sang vampir menoleh kepada para manusia pemburu di kanan dan kiri dengan waspada.
"Kutanya sekali lagi. Berapa umurmu?"
" Semakin tua usia saya itu akan menjadi ancaman bagi kalian, Manusia."
"Dan semakin menambah pundi-pundi uang kami."
"Itu kalau kalian bisa sampai dengan selamat ke negeri asal kalian."
"Pasti selamat. Kami profesional, Tuan. Dan lebih baik menurut, Tuan. Atau cahaya mentari cantik akan kami biarkan menyinari kulit Anda... dalam keadaan telanjang."
Sang vampir berambut gelap mendelik ke arah salah satu jendela bulat di dinding kapal, mengetahui matahari pagi akan segera terbit. "Tidak. Saya akan terbakar," katanya datar.
"Berarti Anda mengerti keadaan anda bukan, Tuan?" kata salah satu pemburu yang sudah mencicipi darahnya. Ia sedang menjilati sisa darah di bibir dengan sikap sugestif.
Duduk dengan kaki menekuk dan kedua tangan yang terkunci ditaruh di atas lutut, seolah bersiap untuk melakukan sesuatu, ia berkata, "Bila ingin mengambil darah saya, silakan saja."
"Oh? Anda menjadi sangat kooperatif secara tiba-tiba, Tuan. Kami bukan amatir dalam hal seperti ini, Tuan. Walaupun Anda berusia tua, makhluk mana pun akan kesulitan menyembunyikan aura tajamnya untuk menyerang terus-menerus. Hanya sedetik, tapi kami merasakannya, Tuan."
Sang vampir mengangkat bahu. "Saya tidak melakukan apapun. Saya tidak berdaya dengan rantai-rantai yang mengikat saya ini. Silakan saja ambil darah saya."
"Alizo, dengan tangan dan kaki terikat mampu menjatuhkan salah seorang dari kami dalam keadaan seperti Anda."
"Begitu?" tatapan wajahnya inosen.
"Kalau begitu, selamat beristirahat, Tuan." Bagian lingkar belakang cincin yang dikenakan sang pemburu yang masih mengamit tangan si pucat menampilkan sebuah jarum saat batu perhiasannya ditekan. Jarum tersebut langsung menembus dan sensasi desiran samar kembali melanda daerah yang ditusuk.
Sang vampir melihat bagian dirinya yang diberi injeksi dan menunggu apa efeknya dengan tenang.
"Kami akan beraksi setelah obat ini bekerja, jadi santai saja dulu, Tuan." Si pemburu mengecup punggung tangan pucat nan halus sebelum akhirnya melepaskannya.
Mata sang vampir menebar ke sekeliling ruangan, untuk mendapati banyak pasang mata dan seringai buas terarah kepadanya. Ia menggigit ibu jarinya. "Tuan-tuan sekalian akan menjual saya, betul?"
"Benar. Tahukah Anda apa yang akan terjadi selama masa penjualan dan setelah Anda dibeli, Tuan?"
"Kegiatan yang membuat saya cidera seharusnya ada di luar rencana penjualan."
Kaki dan tangan sang vampir perlahan bergerak gelisah, mengetes sejauh mana material itu bisa dihancurkan dengan daging dan tulang non-manusianya.
"Tidak, Tuan. Sama sekali tidak. Hal yang umum dilakukan adalah salah satu kebutuhan dasar seorang vampir... dan suatu bentuk kebutuhan manusia juga."
Sang vampir tidak mendengarkan, memilih untuk bereksperimen dengan borgol-borgolnya. "Borgol-borgol ini akan melukai saya."
"Itu jika Anda melawan atau terlalu banyak bergerak."
"Dan jika saya terluka maka harga saya akan berkurang?"
"Tidak."
Dengan sengaja, sang vampir sedikit menekankan kakinya pada material.
"Berbeda dengan manusia, vampir memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang menakjubkan. Cukup diberi waktu, maka tidak akan ada masalah-"
"Benarkah?" Sepasang bola mata makhluk imortal yang kelam memercikkan cahaya keemasan, menatap tajam manusia yang sedang berbicara.
"-Kami ingat vampir wanita yang berpikiran sama lalu berkeras melukai diri dengan mengiris-ngiris kulit dan dagingnya tetapi kemampuan tubuhnya mengkhianatinya. Ketika kami sampai, ia langsung kami serahkan pada pembeli langganan kami. Habis perka-"
"Waktu yang akan Anda berikan itu adalah kesempatan bagi saya untuk berbuat sesuatu." Percikan keemasan pada mata sang vampir berpendar sebentar, ia menyeringai melihat salah satu dari pemburu di belakang rekannya yang sedang berbicara ambruk ke lantai.
"Sialan! Dia!"
"Lihat saya." Sang vampir menggerakkan kakinya, membuat rantai borgol perak berdenting.
"Biarkan dia." Pemburu yang paling kiri menengok jam tangan. "Sebentar lagi. Enam. Lima. Empat. Tiga. Dua. Bang. Waktunya obat bekerja."
Memang benar. Rasa tercekat di balik tenggorokannya membuat seolah-olah ruangan di dalam salah satu dek kapal itu berputar. Sang vampir menarik napas dan membuangnya perlahan. Pemburu dan ruangan miring beberapa 45 derajat. Tidak. Kepala si pucat yang membentur ke atas kasur secara tiba-tiba. Tubuhnya melumpuh. Matanya membuka dan menutup, memburam ketika empat sosok mengerubunginya.
"Tutup saja matanya itu."
Gelap sepenuhnya.
"Obat ini akan terus bekerja sampai Anda tiba di rumah penjualan vampir. Tenang saja tuan, nikmati perjalananmu."
Bibir si pucat membuka sedikit, mengeluarkan rintihan terputus-putus. Ia sedang mengendalikan diri untuk menghimpun kekuatan dari dalam agar tetap sadar.
"Bersikeras untuk tetap sadar, heh? Bagus. Nikmati dan rasakan detik-detik saat kami melucuti pakaian Anda."
Bunyi rantai berdenting nyaring, borgol pada tanagn dan kaki sang vampir dibuka secara bersamaan. Semilir angin terasa menyapu bagian tubuh yang lepas dari rantai. Lalu kurang dari setengah detik, kaki putih yang bebas terayun mengenai salah seorang manusia di samping kirinya. Tendangan itu ditangkap dengan sarung tangan perak, kaki yang satu juga langsung ditahan dengan material serupa.
Sang vampir tidak menyerah, berusaha menendang dengan kekuatan tidak manusiawi. Material menggores kulitnya menyebabkan lebih banyak darah yang menetes di atas kasur. Sebelah tangannya dibimbing menuju suatu arah lalu sebuah jarum besar menancapkan diri. Kali ini bukan desiran yang terasa, melainkan hisapan yang terasa samar. Berhenti bergerak, tubuh sang vampir melemah seolah terkena syok oleh injeksi jarum berukuran besar. Semakin banyak darah yang keluar, akan semakin melemahkan pertahanannya. Sang vampir memutuskan untuk diam demi menyimpan energi.
"Nah, jika Anda tenang, semua terasa lebih baik, bukan?" Walau tak bisa melihatnya, sang vampir tahu kalau para manusia di sebelahnya sedang menyeringai.
Bagian-bagian tubuh yang tidak diinjeksi melakukan pergerakan setengah ingin meronta, lalu diam. Tetes demi tetes darah kental bergulir ke dalam kantong kosong.
"Oi, ambil pakaian," salah seorang pemburu yang bertubuh kekar memberi perintah.
"Oke." Pegangan pada kaki sang vampir mengendur.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh si makhluk abadi untuk melancarkan tendangan berikutnya. Kedua kakinya kemudian ditahan sekaligus. Ukuran tubuh manusia yang satu ini di atas rata-rata, bahkan massa otot di telapak tangan yang berada di balik sarung tangan dapat dirasakan oleh si pucat. Kaki yang terikat oleh tangan-tangan kekar manusia meronta keras. Para manusia pemburu ini memang berada di level di atas rata-rata. Mereka telah dilatih mengatasi kekuatan vampir. Seluruh inderanya berpusat pada pendengaran. Suara langkah kaki. Gesekan antara kain. Tekanan pada ranjang. Kedua kakinya direngkuh oleh salah seorang manusia menegang dengan jari-jari kakinya mengepal. Ketika manusia ini melepaskannya, ia tidak akan membuang kesempatan lagi.
Sepasang tangan memegang sejumput kaus putih sang vampir dan langsung merobeknya. Udara lembab khas laut segera membelai-belai. Ia terkesiap dengan serbuan udara dingin. Sekujur tubuhnya meremang dan untuk sesaat terlihat urat-urat timbul di bawah kulit putih susu itu. Ia sedang berusaha melawan.
Suara darah yang terus menitik ikut membawa sekelumit kecil energi di tiap kepergiannya dari tubuh sang vampir. Tak peduli akan rontaan, salah seorang pemburu terus merobek, mengungkap tubuh mulus si pucat lebih banyak.
Sang vampir meronta, punggung membengkok, tubuh menelikung beberapa kali untuk menghindari tangan-tangan rakus yang melucuti sisa fabriknya. Energinya terkuras banyak oleh perlawanan, darah, obat. Kebutuhan mendesak dari ancaman yang akan datang memaksanya untuk terus meronta. Suara robekan terakhir menghentak, meninggalkan tubuh atasnya tanpa kain yang membalut. Lagi-lagi, tak bisa melihat, tetapi ia tahu bahwa para pemburu tengah memandangi tubuh di balik kaus putihnya yang kini tak terlindung.
"Hh...hh..." Meronta sedikit saja, sang vampir sudah membuatnya kehabisan energi. Ia masih menggeliat, dengan berbagai cara menghindari jilatan mata manusia predator. Tangan yang sama yang tadi merobek atasannya kini bergeser menuju celana. kali ini berbekalkan sebilah pisau. Mulut retsleting celananya dibobol lalu tepiannya dirobek dengan mata pisau. Setelahnya, prosesnya terulang lagi. Fabrik ditarik ke dua arah yang berlawanan, menciptakan suara yang menjerit dari rekahan yang tercipta. Ia menekuk kedua kakinya menghindari sobekan dan tarikan. Kulit di bagian paha dalamnya terasa dingin oleh udara. Hanya beberapa tarikan kuat dan bantuan sedikit pisau tajam. Sang vampir menggeliat lebih kencang. Di setiap rontaan si pucat, sapuan udara dingin merayapi sekujur tubuhnya yang terbuka, terutama bagian sensitif pada dadanya.
Para pemburu terus menambah torehan pisau pada permukaan serat kain. Beberapa torehan ikut menggores kulit putih pucat dan membentuk garis merah tipis. Torehan diikuti dengan robekan. Serat kain yang lebih tebal dan kaku hanya memperlambat tindakan para pemburu ini, tidak sanggup menghentikan. Setiap bunyi sobekan adalah sirene tanda bahaya. Kaki-kakinya yang jenjang menghentak kecil kemudian ditahan lebih erat. Kepala sang vampir terlempar ke belakang ketika tubuhnya menggelinjang.
Terus merobek. Semakin minim kain yang bertahan sebagai pembungkus tubuh pucat dan terus bertambah minim. Robekan kain dibuang begitu saja dan berserakan di ranjang. Carik-carik pakaian dalam si vampir ikut terkoyak. Udara dingin, hawa panas dari napas pemburu. Vampir berambut gelap menggigit bibir bawahnya dan mencoba menekuk tubuh, kaki menyilang. Telapak tangan besar yang menahan kakinya sudah cukup membuat memar pada kakinya. Mata bulat di balik penutup mata terpejam erat.
Untuk ke sekian kalinya kaki sang vampir direntangkan kembali. Dengan posisi kaki yang terbuka, semakin banyak robekan yang tercipta. Satu robekan pada pinggul kanannya menjadikan bagian tubuhnya tersebut polos, memperlihatkan lengkungan anggun yang telah diduga pasti menyita perhatian makhluk hidup berjenis manusia yang ada di ruangan tersebut. Darah terus menitik ke dalam kantong. Energinya terasa menguap. Tangan yang menggenggam erat dan membuatnya meringis ini adalah tangan dari pria Asia yang tadi menghisap darahnya. Kelihatannya darah vampir yang dikonsumsinya mulai menunjukkan khasiatnya. Sementara itu, tarikan pada sisa kain yang menutupi tubuhnya telah menjadikan tubuh sang vampir polos seutuhnya.
Sang vampir berbaring lemah dengan tubuh tanpa sehelai benang, kepolosannya terpapar. Pipinya terlempar ke samping dan dadanya naik turun dengan berat. Vampir tidak perlu bernapas, tapi ia membutuhkan asupan energi lebih dari yang seharusnya untuk meraup energi. Sisa tenaganya dipakai untuk menggeliat menyilangkan paha dan menggeser tubuhnya sesekali; Tindakan ini dilakukan hampir secara otomatis.
Salah satu tangan yang memegangi tangan pucat itu merubah diri menjadi belaian. Menyentuh perlahan menuju lengan atasnya. Merayap bak makhluk hidup. "Hei Tuan Vampir, kami mengerti. Pasti berat sekali untukmu yang tidak pernah melakukan aktivitas seksual untuk menerima perlakuan seperti ini."
Seksual. Sebelah mata sang vampir berkedut mendengar pernyataan terbuka si manusia. Jari jemari hangat yang merayapi lengannya berhenti di perbatasan antara leher dengan pundak. Sang vampir menggeser tubuhnya menjauhi jangkauannya. "Saya tidak mengerti apa maksud Anda."
"White chocolate," bisik si pemburu, "Sepertinya Anda tidak paham istilah tersebut, Tuan."
Sang vampir mampu merasakan jilatan mata sang pemburu di sekujur tubuhnya seolah sang pemburu meninggalkan jejak panas di tempat yang dipandangnya. Darah pada kantong berguncang oleh karena getaran tangan manusia, jarum besar dicabut kemudian. Titik merah segera menghilang dari atas kulit pucat.
Si pucat menekuk satu kakinya di luar kesadaran. Ekspresinya tidak berubah. Terlihat tenang, namun nyaris sekarat. Ia sudah lama melupakan masa-masanya hidup sebagai manusia, tapi rasa panas di sekujur leher bagian belakangnya adalah pertanda buruk. "Kalian memiliki hobi yang aneh dalam memberi nama label rasa darah saya."
"'Kalian' di sini adalah seluruh manusia yang memiliki keterkaitan dengan bangsa vampir. Bahkan manusia yang tidak terlibat dengan vampir pun paham akan istilah ini." Seringai. "Darah Anda telah memberi bukti absolut akan virginitas Anda."
"Lalu?"Suara vampir yang lembut dan dalam, lebih berat dari yang sebelumnya. "Tidak semua dari bangsa kami memiliki kebutuhan untuk melengkapi apa yang menurut manusia menjadi kebutuhan utama kami."
"Anda tidak memerlukannya, tetapi saya yakin bangsa manusia dan vampir lainnya akan berpikiran berbeda, apalagi saat melihat... tubuh Anda."
Sementara mereka berbincang, pemburu lainnya sedang membangunkan dua orang manusia yang pingsan dengan darah sang vampir.
"Tubuh saya adalah tipikal...semua kaum kami memilikinya." Rasa panas di sekitar leher pucat itu memekat. Apakah ini yang disebut kecemasan? Ia merasa masih bisa merasakan serpihan sisa manusia di dalam dirinya. Rasa dan gejolak emosi dimiliki oleh seluruh vampir, namun yang satu ini amat melemahkan. "Apa bedanya saya dengan vampir lainnya?"
kedua tangan pucat mengepal keras ketika tubuh lemahnya meronta untuk sekali lepas dari belenggu tangan-tangan. Jilatan tajam dari mata para manusia membuatnya mual.
"Jangan menganggap kami tidak banyak berurusan dengan vampir, Mr. Panda. Tubuh Anda... istimewa. Memenuhi standar tertinggi keindahan baik bagi manusia maupun bangsa Anda. Dan lagi, Anda adalah cokelat putih. Sebelumnya kami akan memberi informasi. Selain umur, yang menentukan tinggi rendahnya harga vampir adalah virginitas mereka. Vampir perjaka atau perawan adalah komoditas yang sangat tinggi nilainya baik dalam tubuh maupun darah. Anda, Mr. Panda, memiliki semua kriteria tersebut. Umur Anda di atas separuh milenium, memiliki paras dan tubuh yang mempesona, dan tak pernah tersentuh aktivitas seksual... Anda tahu berapa tingginya nilai Anda di dunia perdagangan vampir, Tuan? Kami rasa kami semua langsung dapat menikmati pensiun di usia dini."
Konyol.
Sang vampir diam sejenak, otak memproses analisis dan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan situasi saat ini. "Saya tidak mempertanyakannya." Lalu ia menoleh ke arah suara. "Anda sudah mengambil darah saya. Selesai. Saya harap Anda tidak terlalu bodoh untuk menurunkan harga dagangan Anda dengan melakukan sesuatu terhadap tubuh saya."
"Tentu, Tuan." Pemburu mengelus pundak putih itu dengan lembut. Tiga langkah kaki terdengar mendekat. Kelihatannya kelengkapan personel pemburu telah kembali utuh. Genggaman sebelah tangan pada tangan pucat yang lemas meraup lembut kemudian bibir manusia mengecup pelan punggung tangan vampir kembali. Kecupan yang disusul dengan gigitan dalam.
Sang vampir terkesiap pelan, tangannya langsung mengepal. "Hentikan."
Bibir manusia melengkung tersenyum. Darah yang mengalir dari luka pun menjadi santapan lezat, tenggelam dalam hisapan.
"Cukup." Suaranya tetap tenang dan terkendali. "Cukup." Ia menarik tangannya yang dilumat oleh jilatan dan hisapan, terus mengepal.
Suara kecap basah di antara hisapan semakin menjadi-jadi. Kedua kaki yang dipegangi satu orang pemburu kini dipegangi dua orang dan direntangkan. Mengekspos ketelanjangan vampir tersebut. Dua bibir merayap di atas kulit, berhenti pada paha putih susu dan mulai membenamkan gigi.
Terkejut dengan kontak dari deretan gigi dan taring yang menembus ke dalam daging pada kakinya, sang vampir membeku, tidak mampu berkata-kata. Bibirnya setengah terbuka mengeluarkan keterkesiapan kecil. Gigitan dua orang manusia pada pahanya diiringi dengan tangan-tangan yang menggerayangi. Tapi itu belum cukup. Kepala-kepala manusia lain terjulur. Leher, dada, dan pergelangan sebelah tangannya yang lain pun tidak luput dari lumatan. Kedua mata sang vampir membulat di balik penutup mata.
"A...Ah!"
Sang vampir melempar wajahnya ke arah berlawanan dari sentuhan lembab bibir manusia pada lehernya. Matanya terus membulat tidak percaya. Hisap dan terus menghisap. Enam orang pemburu menyesap darahnya dengan rakus, membuat pembuluh darahnya berdesir, ditarik keluar lewat hisapan pada luka. Sensasi panas yang tajam menyelubungi tubuhnya bagai kabut. Ini tidak pernah terjadi di dalam hidup ratusan tahunnya. Lidah, hawa panas lembab di dalam mulut, gigi dan hisapan di atas kulitnya yang mulai berubah warna. Ia sudah kehabisan banyak darah, pertahanannya mulai tergoyahkan. Matanya mulai memburam seiring dengan menipisnya sumber energi. Sang vampir menggeliat pelan, lalu keras, merintih tanpa suara meminta para manusia agar berhenti.
Hisapan demi hisapan tidak kunjung berhenti. Sang vampir yang selalu tenang mulai gemetaran. Kekuatannya menipis seiring berkurangnya darah di tubuhnya. Ia tahu bahwa para pemburu tidak akan menghisap darahnya sampai habis, tetapi sentuhan dan hisapan yang diselingi jilatan sungguh tidak pantas. Matanya membuka dan menutup menerjemahkan semua sensasi yang diberikan sebagai ancaman. Lidah-lidah yang panas, bertekstur kasar, berlumur liur menjijikkan mulai melumuri kulitnya yang terekspos dengan cairan bening mengkilap. Gigitan dan hisapan dari luka mungil yang diakibatkannya menimbulkan reaksi gemetar dari kaki hingga lehernya. Sang vampir menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya meronta.
Tindakan si makhluk abadi hanya disambut tawa mengejek oleh beberapa dari manusia yang menghisap darahnya. Tiap rontaannya membuat gigi yang memancangkan diri pada kulit mulus itu dilukai semakin dalam sesuai arah gerak tubuhnya, membuat aliran darah semakin mengalir.
"Henti...kan. Hh."
Detik-detik terus bergulir, satu-satunya vampir di dalam ruangan ini tetap tidak digubris. Semakin tipisnya tenaga, ia berhenti meronta. Manusia-manusia rakus yang tidak bermaksud untuk membunuhnya ini pasti akan berhenti. Cukup bersabar hingga saat itu tiba.
Di tengah kabut tipis yang menyelubunginya akibat kekurangan asupan energi, samar-samar sang vampir mendengar deru mesin kapal lain mendekati kapal pemburu gelap yang sedang terapung di tengah lautan. Jaraknya tidak jauh, mendekati mereka.
To be Continued...
