Satu bab penuh lemon. You've been warned.
Case 2 (pt.4)
'Bloodsuckers'
Sebuah dunia di mana makhluk haus darah paling mengerikan adalah mereka yang mengincar keabadian.
Satu kecupan melayang sekali lagi. Bagai batu yang dilemparkan ke dalam kolam tenang dan menciptakan rambatan gelombang melingkar, satu kecupan yang sangat intim menghasilkan desiran yang menjalar di seluruh tubuh L. Setelah salam ringan dari bibirnya tersebut berakhir, Kira menengadah, menatap L yang terbelalak dan menggumamkan mantra larangan dan penolakan.
"Kau tidak siap dengan ini semua, Lawliet? Aku akan berhenti jika kau menyambut ajakan kerja sama dariku."
Mata L membulat menatap langit-langit kamar, menatap bias pantulan bulan dan kerlipan lampu gedung pencakar langit. kehidupannya sedang terancam, apa pun pilihannya, L tidak akan menjalani kehidupan sebagaimana yang telah dibangunnya selama delapan ratus tahun lebih.
"Tidak adakah cara agar Anda mau melepaskan saya?"
"Jadikan aku vampir. Jika kau tidak bersedia, jadilah aksesori cantik ranjangku. Hanya itu.
Mata L terpejam sebentar, napas berat, lalu membuka. Ia berkata, "Tidak. Anda tidak akan mendapatkan yang Anda mau."
"Kau yakin?" Permukaan ibu jari memijat kerutan otot mungil sang vampir. "Aku sedang dalam perjalanan mendapatkannya."
L menggeliat dan melempar wajahnya ke samping, mencoba untuk menghindari tatapan mata Kira pada wajah paniknya. Bagian tubuh yang disentuh oleh Kira mulai berkedut pelan. Rasa panas yang timbul dari bawah perlahan menjalar ke seluruh tubuh L. Tubuhnya bereaksi. Buruk. Ini buruk. Susah payah L mengendalikan dirinya untuk tidak jatuh.
"Tidak, Kira."
Dalam keremangan, mata Kira menyala oleh amarah. Kedua kaki L direngkuh dan direntangkan lebar. "Tapi, apa benar Kau tidak menginginkan hal ini, Lawliet? Kau bahkan tidak berusaha menendangku sama sekali." Kira memberi pandangan dalam dari matanya yang memicing. "Sengaja, hah?"
Menggeliat hebat, tapi tidak bisa berbuat apa-apa dengan pegangan kokoh pada kakinya. L menjawab marah, "Saya tidak akan hanya sekedar menendang Anda jika saja kaki saya tidak dibatasi ruang geraknya, Kira-sama."
"Saat kau memiliki kesempatan, kenapa kau tidak melakukannya, Lawliet?"Kira mengangkat kaki kiri L, menaruh di atas pundak kanannya lalu mengecup betisnya. Kontak mata di antara mereka sama sekali tidak terputus.
"Saya melakukannya sekarang." L memberi tendangan yang mengenai sisi pipi Kira.
Wajah kira berpaling ke arah lain, tetapi ia tidak jatuh. Ia tetap duduk seperti telah mempersiapkan diri untuk menerima tendangan itu. Disengaja. Beberapa tetes merah kental menitik di atas satin dan meskipun hidung L tidak dapat menangkap aroma tajam ini, ia tahu pasti. Itu darah. Wajah iblis tampan Kira dengan seringaian yang tidak berubah kembali masuk ke area pandang L. Darah menitik dari hidungnya. Tidak banyak, mengingat darah vampir yang dikonsumsi mampu meningkatkan proses pemulihan tubuh, tetapi setitik kecil darah mampu membuat L terusik. Kira mengusapkan ibu jari kanannya pada aliran darah tersebut kemudian memandangnya.
"Warna merah segar yang sangat disukai vampir. Kamu menyukainya, Lawliet?"
Bunyi tetesan cairan pekat menarik perhatian L sepenuhnya. Pandangan langsung tertuju ke sana; ke bulatan merah di atas satin putih yang segera menyerapnya. Benang-benang halus itu seakan mengirim aroma dan rasa yang bisa L rasakan di atas lidahnya. L bergeming.
"Aku telah banyak meminum darah vampir terbaik, Lawliet. Darah manusia yang sering mengonsumsi darah vampir akan lebih menarik dan lebih lezat bagi kaummu, bukan?" Kira meniupkan udara ke atas ibu jari berlumur darahnya. Bagi indera L, aroma yang luar biasa menggoda menguar dengan dahsyat. "Ayo, Lawliet. Ini darah manusia berkualitas tinggi yang lezat, salah satu kebutuhan utama vampir yang kau tolak selama ini." Kira merangkak di antara kedua kaki L yang terbentang lebar dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang lain - tangan yang jarinya terulas darah segar dijulurkan kepada L.
Senyuman dan cara Kira memandangnya memukul kepala L dengan palu kesadaran. Gelombang pemahaman melingkupi sekujur tubuh L. Kira tidak menyerah, menginginkan L hilang kendali akan darah lalu memutuskan untuk menggigitnya, meminum darahnya hingga batas hidup dan mati. Menjelang kematian, si manusia akan menggigit dan meminum darah sang vampir; Inilah ritual pengubahan manusia menjadi vampir. Seiring merebaknya kesadaran L, jari Kira telah sedemikian dekat. Darah manusia yang hangat, kental melewati bibir L. Jari dioleskan pada ujung lidah L, melumuri dengan kobaran api berwujud rubi cair.
Mata L terpejam rapat dan menghindari tangan Kira. Terlambat. Sensasi mengerikan merebak hingga menyentuh sisi terdalam L, yang ia ketahui telah lama tertimbun oleh lelehan madu di atas kue panekuk dan manisan stroberinya. Eksperimen ratusan tahun seolah berakhir dengan sebuah polesan pada bibir, meleleh di atas lidahnya. Rasa luar biasa yang membakar, membangkitkan L hingga ia sejenak lupa dengan apa yang terjadi. Seakan mendapat pukulan keras pada kepalanya, L membuang muka, meludahkan cairan yang meleleh menyebar di dalam mulut. Wajah L amat tersiksa.
"Diludahkan? Darah manusia yang sangat diidamkan oleh sisi vampirmu?" Kira tertawa keras. "Kau sungguh keras kepala, Lawliet. Dalam beberapa sisi kita memiliki kemiripan." Kira mengamati wajah L yang berkerut tak nyaman. Kedua mata besarnya berkilauan oleh lapisan kristal leleh, wajah pucatnya mampu memberikan rona segar. Satu kata terluncur dari bibir Kira. "Indah." Wajah iblisnya kembali membentuk seringaian serius. "Baik, L Lawliet, meskipun kau mampu menolak darah, tetapi kamu tidak akan mampu menahan kebutuhan lainnya yang dapat dipaksakan penuh oleh pihak lain, bukan?"
"Ahh. Hh." Erangan meluncur keluar dari bibir L, kedua taringnya sudah tidak bisa ditutupi. Indah? Bagi L apa pun yang keluar dari mulut Kira adalah ancaman. Dengan belaian halus pada kakinya, L mulai meronta keras. Ikatan tali pinggang perak pada pergelangan tangan membuat satin di bawahnya basah oleh bercak darah. "Lepas!"pinta L.
"Tidak akan." Sang iblis tampan menatap dengan dagu terangkat tinggi. Angkuh. Penuh dominasi. Ia melonggarkan dasi lalu melepasnya dan menggeletakkan begitu saja di sisi tubuhnya. Hal yang dapat dipaksakan oleh pihak lain. "Kurasa kau mengerti dengan baik sekali tentang hal apakah itu." Kira mulai melepas deretan kancing kemeja putihnya.
Kancing teratas terbuka, kancing berikutnya, dan berikutnya; L menyaksikannya dengan perlawanan sia-sia. Wajahnya mati-matian ingin menerkam. Sebelah kakinya menekuk, bersiap untuk melancarkan sedikit tendangan tanpa perlu melukai. L tidak akan tinggal diam, tidak akan menyerah sampai akhir. "Saya tidak akan mengikuti kemauanmu, Kira! Apapun yang Kau lakukan tidak ada artinya."
Kira tertawa dengan satu tarikan napas, baik karena perlawanan gigih L maupun perkataannya. "Ada." Kemeja menuruni bahu dan menyusuri lengan. "Tentu ada, Lawliet." Kemeja dan kasur berbenturan dalam suara ringan. "Menghabiskan malam bersama memiliki arti besar bagi dirimu dan diriku. Jangan mengatakan pengalaman pertamamu tidak berarti, Lawliet."
L memaksakan wajahnya untuk terlihat tenang. Kakinya mulai berdenyut dan menghentak. "Pengalaman pertama? Mungkin itu hanya ada di kamus Kira-kun, tidak di kamus saya. Saya tidak akan menganggap hal sekecil apa pun yang Kira-kun lakukan pada saya sebagai sesuatu yang besar. Begitukah para manusia pemburu? Melampiaskan berahinya dan memaksa, saya, imortal yang ia anggap lebih rendah dan tidak berpengalaman hanya untuk mendapatkan kemauannya? Demi memuaskan harga diri? Hal rendah apalagi yang mereka punya?"
Penerangan ruangan yang remang. Cahaya sari kerlip lampu metropolitan. Semuanya berpadu membalur tubuh Kira yang bertelanjang dada, menghasilkan siluet bayangan yang timbul di atas permukaan kulit dan struktur ototnya. Kira telah bertransformasi menjadi patung dewa Yunani klasik. Manusia yang berdiam di dalam sosok patung dengan mata yang menatap nyalang.
"Lidahmu sungguh tajam Lawliet. Kau memiliki taring imajiner di dalam setiap kata-kata yang terlontar dari mulutmu. Apa yang kulakukan padamu memiliki makna lebih dari pada sekedar melampiaskan gairah atau pertukaran cairan tubuh. Ini hukuman, Lawliet. Sebuah dunia yang luar biasa tertunda perwujudannya karena kekeraskepalaanmu. Dunia yang baru itu menghukummu lewat diriku." Senyuman Kira merekah menjadi seringai predator. "Kecil katamu? Akan kubuat hal kecil ini tak terlupakan di sepanjang hidupmu, Lawliet."
L membalas keangkuhan dengan satu tatapan mata; tajam, dingin, berkilat. "Kita lihat saja nanti, desisnya, tapi tidak ada ancaman terkandung di dalam suaranya, hanya ada keyakinan dan keteguhan hati. L tahu Kira tidak akan mampu merusak tatanan fondasi kehidupannya, apapun yang akan ia lakukan nanti. "Kira, Makhluk sombong seperti Anda." L menggeleng lagi. "Saya tidak ingin berkesan repetitif, tapi kesombongan Kira-kun akan berimbas pada dirinya sendiri. Ia akan menyesal. Anda setaraf dengan kriminal atau bahkan lebih rendah dari itu."
Sang patung dewa Yunani beralih rupa menjadi patung Lucifer. Bilah-bilah gigi dalam senyumnya terlihat begitu tajam, sedemikian tajam hingga udara yang terhembus dari antaranya terasa mampu menyayat kulit. "Benar. Kita akan lihat nanti, Lawliet. Kita akan lihat apakah kau akan berteriak dan menyebut namaku, menjerit dan mendesah karena sentuhanku... yang tidak akan lembut. Camkan itu, Lawliet." Nama L diucapkan dengan lambat, dalam dan berbisa.
"Hanya ada di dalam lamunanmu, Kira-kun. Tetapi, seburuk-buruknya Anda, saya apresiasi Anda yang memiliki ekspektasi terlalu tinggi." L menyeringai tipis menganggap perkataan Kira sebagai candaan konyol, menentang perasaan panik yang mulai membuncah di dalam dada. "...saya hanya menunggu hingga ia menyerah dan kecewa."
"Silakan membantah terus, Lawliet. Akan kulihat apa kau masih membantah setelah semuanya menjadi kenyataan." Bunyi retsleting meluncur turun menjadi akhir perkataannya.
Bunyi logam terdengar halus, teredam di balik kedua tangan Kira tapi bunyi itu terdengar seperti genderang. Darah L berdesir, kakinya yang setengah menekuk dihantamkannya ke pangkal paha sang iblis. Bunyi riuh dari gesekan kulit, ranjang, erangan dan material perak mengisi di ruangan. L mengunci mulutnya untuk tidak melontarkan makian. "Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari saya, Kira-kun. Apa ia terlalu tuli atau tidak bisa mengerti ucapan saya?" L mencoba untuk menggeser tubuhnya.
Sang patung gagah terhentak sejenak, kedua tangannya menopang tubuhnya sehingga ia tidak terjatuh. Setelah berdiam sebentar, mata Kira yang terpejam terbuka kembali, memancarkan amarah. "Usaha yang bagus, Lawliet." Ia duduk di atas kaki L, menahannya sebelum tubuhnya tergeser sempurna. "Dan berkat darahmu yang sungguh luar biasa, aku pulih dengan cepat." Kira memandangi luka berdarah pada pergelangan tangan L hasil gesekan dengan material perak sambil meneruskan kembali melepas retsletingnya.
"Keras kepala. Keras hati. Mirip. Kita mirip." Kira menurunkan celananya beserta lapisan terdalam sekaligus, perlahan, menuruni paha yang bergantian diangkat untuk melepas celana tanpa melepaskan tindihannya pada kaki L. Ketelanjangan akan memudahkannya untuk bergerak. Bergerak lebih leluasa untuk menyentuh dan menyakiti. Selain itu, semakin banyak kulit yang saling menyentuh antar mereka akan semakin mempermalukan dan mengganggu L.
L mendesis marah. "Mirip? Saya bukan kriminal, pemaksa, makhluk busuk seperti Tuan Kira." Ketika Kira menurunkan fabrik pembungkus tubuh bagian bawahnya, ekspresi datar nyaris tersapu bersih dari wajah L. Di hadapannya adalah imitasi dari patung Dewa yang menampilkan keperkasaan. Ya, para dewa Yunani kuno akan marah bisa mereka disamakan. Duduk di atasnya, mencengkeramnya, L akan selangkah lagi berada di bawah kendali. Terguncang, L menggeliat, panik. Kakinya menghentak gelisah tidak berdaya. Paha mereka saling bergesekan satu sama lain di tengah pergumulan. L terkesiap dan melempar wajahnya ke kanan, dengan siku tangannya seperti ingin menutupi wajahnya yang mulai menunjukkan kepanikan. "Apa Anda pikir akan berhasil dengan cara ini?"
"Lawliet," Kira memanggil lembut. "Lawliet... tatap aku." Tangan kanannya membelai liukan pinggul L. "Hal ini tidak perlu terjadi Lawliet, jika seandainya kamu bersedia bekerjasama."Kira duduk dengan posisi sedemikian rupa sehingga sesuatu yang terbungkus selaput hangat menyentuh kaki L secara langsung.
L terus melempar wajahnya ke samping, sepenuhnya menghindari Kira. "Tidak," balasnya ketus.
Kira menghela napas panjang. Nada suaranya masih terdengar lembut, ia berkata, "Lawliet, keteguhanmu ini hanya akan membuatmu menderita." Kira memegangi kedua paha L dan merentangkannya lebar, kini nada suaranya menjadi lebih menggertak. "Jawab, Lawliet. Hentikan kekeraskepalaanmu itu!"
" Uh!"L menjawab dengan tubuhnya menggeliat kencang, dan berusaha menutup kedua kakinya. Darah mengucur dari luka sayatan di pergelangan tangan pucat yang mulai menggenangi fabrik yang ada di bawahnya. "Tidak. Tidak. Kira!"
L dapat merasakan seberapa besar amarah Kira lewat getaran pada tangan yang memeganginya. Kaki L direntangkan sampai ke batas yang tubuh L mampu sediakan dengan tenaga pemaksaan yang besar. Kira bergerak maju, mengisi ruang yang telah tersedia dan terus bergerak maju hingga L merasakan sesuatu yang padat memberi kecupan panas pada bagian intimnya. "Lawliet..." Suara Kira terdengar melunak kembali. "Satu gerakan saja maka hidupmu selama 863 tahun akan berubah drastis untuk selamanya. Kau akan kehilangan virginitasmu, kehilangan kendali terhadap nafsu dan gairah akan seksualitas. Gaya hidupmu akan berubah, demikian pula caramu memandang segala sesuatu di dunia ini, di dalam hidup ini."
Mata L terpejam erat.
"Tetapi," Kira menekankan nada suaranya, "semuanya dapat kau pertahankan Lawliet. Segalanya, virginitasmu, kendali akan seksualitasmu, tatanan hidupmu. Cukup menerima ajakanku, Lawliet. Hanya itu, maka semua ini akan menjadi hal yang tidak lebih dari sekedar mimpi buruk. Pertimbangkan kembali, Lawliet."
Kira menjabarkan fakta-fakta mengerikan tentang apa yang akan terjadi pada hidupnya kelak, secara lantang. L tidak mampu menghentikannya. Tidak. Tidak. L mendengar dirinya berbisik dengan suara bergetar marah, bersamaan dengan itu ancaman dari bagian tubuh Kira yang begitu panas mengirim geletar-geletar kecil hingga ke ubun-ubun kepala. "Apakah jika saya mengabulkan keinginan Anda, saya akan dilepaskan? Anda tidak akan pernah muncul lagi di kehidupan saya?"
Kira mendengus. "Lawliet, Kau tahu jika aku menjadi vampir, bukankah kita-"
"Lebih baik Anda bunuh saya."
Mata bertemu mata. Senyuman iblis yang sama kembali terbentuk. Wajah L lalu dibelai lembut dengan sebelah tangan.
"Baik. Baik, Lawliet. Aku tidak akan membunuhmu. Tetapi aku akan memberikan kenangan hebat yang akan menghantuimu setiap detik, bahkan di dalam mimpimu." Kedua tangan Kira meraba pinggul L, lalu berjalan serong menuju dada L, menyapu kedua puting pada saat perjalanannya, lalu bertopangan pada kasur untuk mendukung Kira yang menghadap L. Kontak mata terhenti, wajah Kira menuruni lembah leher menuju ke sisi, tepat di atas tempat Kira menggigit tadi -yang kini telah pulih- kemudian, bilah-bilah gigi menancapkan diri. Aliran merah manis mengalir, menghilang di dalam sapuan lidah, tenggelam di dalam tegukan. Manis. Hangat. Lezat. Nikmat.
Detik-detik ketika tangan panas menyusuri lekuk tubuhnya, merayapi dada, L merasa telah jatuh ke dasar jurang. Sensasi dari deretan gigi mengoyak kulit, berlanjut hingga hisapan dan jilatan rakus membuat sekujur tubuh L gemetaran. Jeritan tertahan mendesak keluar dari dasar tenggorokan, meluncur melewati lidah, berakhir dengan erangan lemah. L cepat-cepat menutup rahangnya dan menggigil.
Topangan tangan melepaskan diri, tubuh Kira melekat pada figur ramping sang vampir. Kedua tangan menyusuri kembali sisi tubuh L, turun ke pinggul lalu memegangi kedua paha, kembali membuka rentangan yang telah mengendur. Sesuatu yang padat dan panas karena darah berdenyut, memberi kecupan terakhir sebelum meluncur masuk.
Jeritan lemah L terhenti, mata membulat. Sesuatu yang panas bertambah intensitasnya, seketika melebur di antara kedua kaki L dalam satu hentakan maju. Desahan apresiasi Kira berhembus di atas lehernya, melenguh di sela gigitan, dan L tahu apa yang terjadi. Syok seperti disengat listrik, darah berdesir, napas tercekat. Benda padat itu didorong masuk, tidak peduli betapa sempit celah dan gesekan tajam tercipta dari dinding yang kering. Ia sedang dipenetrasi.
"Ti-tidak. Kira! ...!"
Lorong yang sempit, rapat, panas. Ia terus mendorong masuk, terus masuk hingga ia tak dapat maju lebih dalam lagi. Dalam kecapannya, Kira merasakan partikel-partikel yang amat halus meletup di dalam darah sang vampir, lalu larut, memberikan rasa yang berbeda. Lebih gelap, lebih pahit, tetapi tetap, nikmat dalam sesapannya. Sang vampir telah mengalami transformasinya.
Kira sedang memaksakan penyatuan tubuh, menyesaki L dengan serbuan hawa panas dan cairan tubuh manusia. Kepadatannya seolah bertambah di setiap inci. L merasakan denyutan hidup menjalar hingga ke sekujur tubuh bersamaan dengan rasa sakit luar biasa. "AH...!" L gemetar hebat, tidak kuasa menghentikan diri untuk mengerang. Kira tidak berhenti. Mendorong. Jauh. Terlalu dalam. Rasa panas yang menggigit menguasai L hingga ke puncak kepala. "K-Keluarkan!"
Terengah, Kira meresapi kehangatan dan kelembutan sang vampir. Ia... sempit. Sangat ketat. Sensasi penetrasi terbaik yang pernah ia rasakan. Dengan segenap pengendalian, ditahannya keinginan dirinya untuk bergerak brutal dalam kehangatan kepitan daging non-mortal ini. Belum saatnya. Belum.
"Kenapa, Lawliet?" Kira tertawa tanpa nafas dan berkata terengah, "Sakit? Bukankah kau sudah mengetahui apa dan bagaimana konsekuensi kekeraskepalaanmu tadi? Jangan bilang aku tidak memperingatkan sebelumnya." Gigitannya terhenti, ia mengarahkan wajahnya ke hadapan L untuk menikmati wajah sang vampir yang selalu tenang kini berkerut-kerut menahan sakit. "'Keluarkan'? Sejak kapan kau bisa memerintahku?" Kira menggoyangkan pinggulnya sebentar, menyebabkan anggota tubuhnya yang berdiam di dalam tubuh L bergerak dan menjamah pelan seirama arah gerak pinggulnya. "Oh ya, Lawliet. Rasa darahmu mulai berubah. Kini kau masuk klasifikasi dark chocolate. Darahmu di dalam botol kristal di atasmeja itu adalah sisa peninggalan dirimu yang patut dikenang. Dan satu hal lagi, Lawliet. Tubuhmu lezat. Aku menikmati sekali menyentuh bagian ini," menggoyangkan panggul lagi, "dan berdiam di dalam sini."
L merasakan benda asing yang telah memaksa masuk dan mengambil tempat di dalam tubuhnya. "Nnh ...!" L sekuat tenaga menahan diri dengan mengatupkan rahangnya kuat. Tidak ada lagi wajah tanpa ekspresi. Ujung taring yang tajam mencuat keluar, tapi tidak menjadi ancaman yang berarti di bawah hidung Kira. L melempar wajahnya ke samping, sebisa mungkin menghindari tatapan manusia lapar dengan sisi lengannya. "...un...!" Keringat bergulir turun di lehernya seraya L menahan diri untuk tidak berkeluh kesah. Sakit. Sesuatu telah terkoyak. Apakah ini yang dinamakan hubungan intim? Luapan berahi dari dua orang yang berbuah penyatuan dan pergumulan yang mengerikan. L menggigil kesakitan. "K-keluarkan..."dan matanya terpejam rapat saat Kira, dengan mimik penuh kenikmatan, meliukkan pinggul sempitnya. Sebagaimana tangan, anggota badan Kira membelai L dari dalam.
Apakah rasa sakit ini akan menjadi kebutuhan utama? Kira yang membenamkan dirinya cukup dalam telah memberikan jawaban. Raut wajah Kira menampakkan keangkuhan luar biasa, yang secepatnya disapu bersih oleh kenikmatan murni, satu desahan, satu hentakan kasar, yang bertolak belakang dengan L yang meringis kesakitan.
"Ah!"
"Lawliet..." Suara Kira tergantikan oleh bunyi basah yang berasal dari jilatan pada dada putih L yang naik-turun dalam irama cepat. Kedua kaki L, tetap bergelayut dalam cengkeraman, kini mengait pada kedua sudut siku Kira. Bunga yang mahkotanya mekar sempurna. Panggul Kira mengambil jarak, yang ikut membawa sebagian anggota tubuhnya merayap keluar, lalu dalam satu hentakan, ruang dalam tubuh L kembali terisi penuh. Keras. Kira tak memberi jeda waktu untuk sekedar membuat L merasakan sepenuhnya seberapa besar rasa sakit yang ia terima tadi. Kira kembali mengambil jarak dan menyentak. Keras. Satu sentakan lagi yang disusul sentakan lain.
Basah. Hangat. Pergerakan mulai lebih licin, terlumasi. Sesuatu yang cair dan hangat menghambur keluar, pecah dalam tumbukan. Warna merahnya menyelubungi bagian tubuh Kira yang terus membelai kasar L dan menitik di atas satin.
"Unh...!" Wajah L menyamping, ke kanan dan ke kiri. Bibir dan kening berkerut tidak nyaman, bergolak oleh luapan emosi; jijik, sakit, kecemasan, panik, ternoda dan kotor. Tidak ada yang bisa ditutupi dari tubuh L. Terkulai lemah di bawah manusia yang memadatinya dengan kekuatan, digunakan dan menjadi pemuas. L, makhluk imortal, tidak terkalahkan. Kini ia terlihat tidak lebih seperti seonggok daging tanpa tulang, dengan tubuh terbuka lebar, terpapar telanjang, bergoyang sesuai dengan ritme erotis si pelaku dominan. Darah mengalir dari luka pada leher dan bukaan pribadinya.
Kira nampak terpuaskan dengan kehangatan tubuh lembut sang vampir, yang dipaksa tunduk dalam kuasa tubuhnya, dan puas akan rupa menawan L yang dingin bak pahatan es, kini mulai meleleh. Ternyata ada emosi lain di baliknya. Kumpulan ekspresi lezat yang membuktikan superioritas sang iblis. Satu hentakan, satu hentakan lagi, disusul hentakan berikutnya. Es semakin meleleh. Bagi Kira, ini merupakan salah satu peristiwa paling luar biasa yang mengguncang kelima indera. Ekspresi, lekukan dan pesona fisik sang vampir yang berbalut aroma manis yang beralih sensual. Dendang suara penuh emosi yang erotik, kulit putih yang mengelabui dalam tampilan pahatan marmernya. Ini beludru. Beludru yang lembut dan hangat. Dan... darah. Dalam kecapan, energi cair berwarna merah menyebarkan segala gejolak yang semuanya memiliki satu kesepakatan dalam nama. Tetapi ini hanyalah awal dari deretan anak tangga. Kira ingin merasakan lebih. Gerakannya berbuah derit tempat tidur dan bentuk-bentuk suara yang menimbulkan rasa panas.
"Hh...Ki..hh." L merasakannya di dalam tubuhnya; noda. Zat dan partikel berwarna muram yang membaur menjadi satu mengalir di dalam darah hingga mencapai jantung, yang kemudian menghasilkan satu debaran keras yang mengetuk tulang rusuk. Sudut bibir Kira terangkat naik, bibir bawahnya penuh memerah karena darah dengan polesan liurnya sendiri. L merapatkan kedua tangannya untuk menyembunyikan rona samar di pipi, hembusan napas berat yang memutih dari sela bibir bengkaknya, rambutnya yang semakin acak-acakan. L telah terbiasa menghadapi kekerasan. Tapi bisakah ia bertahan?
Isi kepala L disesaki oleh pusaran serbuan sensasi yang ganjil, yang menyengsarakan, sebagaimana bentuk penyatuan anggota tubuh sang iblis dengannya. Denyutan organ menambah percepatan jantung L, hingga ia tidak bisa mendengarkan suara apapun selain napas tidak teraturnya, tepukan antar kulit dan daging dan remasan beringas kedua tangan pada bagian bawah-belakang tubuhnya, dan bunyi yang cukup vokal milik si binatang buas.
Di tengah gairah yang meluap dari aktivitas penyatuan fisik ini, Kira mulai berdecak sebal. Sampai kapan vampir ini mau bersikap sedemikian keras kepala? Kira tahu dengan pasti, bahwa hubungan seksual, bagaimana pun bentuk dan perlakuannya, merupakan hal yang merupakan salah satu kebutuhan dasar vampir. Sekasar dan sesakit apapun, para vampir mampu menemukan sisi dari hubungan badan yang dapat merangsang gairah dan kepuasan, tidak terkecuali Lawliet. Menyakiti Lawliet memang menyenangkan, tapi belum cukup. Sang vampir membangkitkan sisi serakah sang iblis dalam tubuh manusia tampannya. Ia telah melihat wajah kesakitan Lawliet dan ia sekarang dipenuhi dorongan untuk melihat sang vampir pucat membentuk ekspresi yang lain.
Sebelah tangan Kira lalu mendorong kaki vampir yang dipegangnya, mengangkat sedemikian tinggi hingga lutut pucat beradu dengan dada sang vampir sendiri. Dengan ritme yang lebih cepat dan hentakan brutal, didorong pinggulnya ke arah rekahan dari bunga yang mekar sempurna. Lelehan merah menitik lebih banyak. Kira terus mengarahkan diri dan tiap sentuhan kasar pada buntalan berisi kumpulan syaraf di dalam sana tak pernah luput. Sentuhannya makin kasar dan ia terus menunggu respon harapannya dari L. Reaksi yang berasal dari insting dasar seorang vampir.
Posisi punggung L kini melengkung memaksa agar keduanya menyatu lebih intim. Dimanuver seenaknya dengan kedua tangan terkunci, L hanya bisa meliukkan tubuhnya senyaman mungkin dan meringis tidak nyaman. Kira mempercepat tempo permainan. Ujung anggota badan Kira menumbuk dengan presisi pada sesuatu di dalam tubuh L yang mengirim getaran kecil dan darah yang berdesir di antara tungkai-tungkainya yang lemah. L menggigil, melempar wajah ke kanan ke kiri sementara predator sedang menyantapnya dengan cara mengabsorsi setiap detil perubahan mimik mukanya, dan dengan gesekan tubuh yang meningkat cepat, dan meraung.
"Hh...ah...ter-terlalu..."
L menggelinjang sekali dan kedua tangannya mengepal. Raut mukanya yang tegang mengendur, memperlihatkan raut lelah. Kira melihatnya. L membenamkan wajah ke dalam lengannya lagi lalu dipaksa untuk terbuka lebih lebar. Mata L menggelap berwarna seperti arang panas. Darahnya seperti menguap ke permukaan pori-pori, sekujur tubuh terlapisi kabut panas yang menolak hawa dingin ruangan sementara sang iblis mulai menguasainya dengan tumbukan demi tumbukan keras. "AH!"
Ada sesuatu yang berbeda pada rintihan L. Ada sesuatu di dalamnya, yang sama dengan yang terlukis di wajah L sebelum akhirnya menghilang dari pandangannya. Sesuatu yang sedari tadi ia tunggu kemunculannya. Terkekeh dengan kepulan uap hangat, Kira mendorong sebelah kaki L lebih ke atas, sesuatu yang memungkinkan untuk dapat dilakukan oleh kelenturan tubuh milik sang vampir tak beruntung. Pinggul mangsa yang terangkat memampukan kaki Kira menopang diri secara lebih mantap, berimbas pada bertambahnya tenaga yang dikerahkannya dalam tiap sentakan. Kira tenggelam dalam buaian sensasi. Himpitan daging sang makhluk imortal, energi yang begitu meluap-luap di dalam tubuhnya
Ini akan panjang.
Tidak memedulikan tajamnya taring penanda vampir milik L, Kira meraup bibir L dalam satu cumbuan buas. Sedikit goresan pada bibir sang iblis, satu titik merah meluncur turun ke dalam lidah L. Kobaran api yang sama seperti yang ia rasakan sebelumnya.
"Uhnn!" L tersedak dengan sapuan bibir di atas bibir yang mendadak. Keningnya berkerut dalam, sebutir air yang jernih mengkilap dari sudut matanya yang terpejam menahan mual. Kira memberikan penetrasi tambahan dengan lidahnya, jeroannya, otot lunak meliuk dan panas bergairah. "Nhh. Fuu." L menggeliat ingin melepaskan diri dengan harapan tipis di bawah 2% untuk Kira melepasnya cuma-cuma. Pergerakan L terkunci dengan tumbukan konstan, invansi mulut, posisi mustahil dengan tangan-tangannya yang terus membelai setiap bagian yang menarik matanya - dan kini di dalam mulut - menaikkan bulu roma. Kira menguasai, ujung lidah menyentuh langit-langit dan dinding mulut, di belakang deretan gigi, menelusuri dengan desahan puas di sela ciuman. L menerima dengan mulut membuka lebar di luar kemauan.
Cairan milik Kira meresap di atas permukaan lidah L, bercampur dengan buih saliva yang mulai mengalir turun melewati pangkal lidah L. "...Mmffh!" Mata L mendelik, pemberontakannya menguat. Ia menjerit tertahan, punggung melengkung dan mencoba menarik wajahnya sampai Kira melepaskan bibir bengkaknya.
Terlihat bola-bola opal berwarna merah meletup, masing-masing pecah menjadi dua. Lukisan bulan abu-abu mendapat sapuan warna krimson. Di ambang sungai L berdiri di bawah siraman sinar matahari cukup terik ia memayungi wajah dengan tangan sambil tertunduk. Sungai jernih menyesuaikan diri dengan oranye senja, lalu memantulkan bayangan lelaki tua dengan jas hitam. Wammy mendatangi, memberitahukan betapa bahaya mendekati sungai itu. L melihat warna airnya sudah berubah, dan dengan rasa pahit di lidah, dan bau amis. Sekali lagi, kegelapan menyelubungi dengan paksa. Untuk beberapa saat L membeku. Perlawanannya terhenti.
L Diam tidak bergerak, dan dengan wajah letih, dan dengan rambut tergerai acak-acakan ke samping, ia bagaikan boneka kain di tangan Kira. kedua matanya perlahan terpejam. Kepalanya terlempar ke belakang. Helaian rambut hitam mengkilap bergoyang lemah mengikuti irama tubuh seseorang yang sedang bersanggama. Bibir L setengah terbuka, napas hangat berhambur keluar beserta rintihan.
Perlawanan sang vampir terhenti. Sang manekin beludru terdiam dan bersikap pasif responsif. Tanpa energi yang membalutnya, tubuh kurusnya tergeletak dengan rapuh dan ringan. Kira memutus cumbuan di antara mereka, menarik bibirnya yang tersambung benang cair jernih kemerahan yang terulur manis dengan milik sang vampir hingga benang tersebut terputus. Butir cairan dengan warna serupa meleleh dari sudut bibir L yang terus terdiam. Kira yakin telah berhasil mendorong sejumlah darah menuju pangkal lidah Lawliet untuk kemudian membawanya ke dalam liang kerongkongan. Ia memandangi wajah sang vampir rupawan, menunggu reaksi di sana. Matanya terus terpejam erat dan bibirnya terus meliukkan desah napas sensual. Apakah si vampir mulai menikmatinya?
Kerinduan tak terduga mendadak menyergap iblis tampan sementara dirinya terus menggali kepuasan dari tubuh beludru L. Hanya sekejap berlalu, tetapi ia merindukan Lawliet si vampir pemberontak. Ia menghentikan gerak panggulnya lalu mengangkat sebelah kaki terjuntai L yang lain, membuat kedua lutut kini bertemu dada atas L yang naik turun seirama rintihan manis. Menumpukan bobot tubuh pada tubuh L, Kira kembali menghujamkan diri dengan brutal. Cairan merah semakin banyak mengalir dan membaluri satin. Tubuh sang vampir yang terus memulihkan diri tunduk di dalam gerusan kekuatan penetrasi.
Seringainya mendekati daun telinga L lalu berbisik seduktif. Kira mendesah, "Lawliet."
L tidak banyak reaksi selain rintihan samarnya yang teredam oleh bunyi gesekan ranjang, deru napas Kira dan bunyi tumbukan antar kulit. Kira terus menggempur tubuhnya dengan serangan-serangan seksual. Panggulnya terus menyatu dalam tepukan riuh. Tiap tepukan mengirimkan getaran pada kedua bongkah bokong L yang terangkat tinggi. Kira membelai liang telinga L dalam jilatan lembut.
"Nn...ah..." Kedua alis L bertaut, wajah sedikit tersentak ke samping merasakan polesan liur hangat pada daerah sensitifnya. Selain itu tidak ada perlawanan. Tubuhnya menelikung beberapa saat untuk kemudian kembali melemah. Lidah Kira terus menggelitik sembari mengirimkan getaran racun seduktifnya ke dalam liang telinga L. Satu tangannya yang memegangi kaki L dilepasnya untuk merayapi lekukan ramping vampir pucat dan terhenti di pinggul. Tak hanya itu, tangan Kira menyusup di antara kaki L dan mencengkeram bagian vitalnya dalam raupan kasar dan menghentakkan seritmik dengan gerak hujaman panggulnya.
"Nnh...!" Wajahnya terlempar ke belakang, kakinya sontak bergerak ingin mengatup. Tubuh yang tadi lemah menghentak sekali ke arah Kira, dengan pinggul meliuk tajam. Selain bibir bawah L yang memerah dan mengeluarkan darah karena gigitan, tidak terlihat ekspresi sakit ataupun ketidaknyamanan di wajah sang vampir.
Reaksi sang vampir berbeda dari yang sudah-sudah. Kira yang menangkap gelagat bahwa L mulai ikut terhanyut dalam permainannya, menghentak-hentakkan genggamannya secepat dan sekasar mungkin, tetap satu ritme dengan gerak hujamannya. Lawliet... terasa begitu panas.
Lagi, pinggul L meliuk tajam seolah ingin menghindari tangan Kira. Ketersiapan melesat keluar dari bibirnya, "Nh...a-ahh..." dan menghentak kecil, dan menelikung, "Ki-Kira..." dan kedua mata perlahan terbuka, hanya sedikit, menciptakan dua buah celah sempit berwarna hitam yang tidak terbaca, tetapi sepasang bola mata hitam kelam menyerupai arang panas.
Kira menahan diri untuk tidak terus menerus terperangah. Ini dia reaksi yang diinginkannya. "Betul, Lawliet. Sebut namaku..."
Hentakan di dua bagian secara bertubi-tubi terus menerpa tubuh L. Kedua mata terpejam lagi, tubuh mulai bergerak gelisah. Bukan memberontak keras seperti sebelumnya, L hanya menggeliat lemah, menahan pergolakan dari dalam. Ia menggeleng, masih keras kepala, rintihannya semakin konsisten. L telah seibarat dengan kendi air yang diletakkan di pojok suatu tempat tinggi. Hanya perlu sedikit dorongan untuk menjatuhkan dan memecahkannya, membuat apa yang di dalamnya tumpah ruah. Sedikit lagi tambahan rangsangan. Rabaan, jilatan, sentuhan pada area termanis dalam lorong intimnya, remasan, dan cengkeraman naik-turun dalam ritme tanpa ampun. Terus mendorong kendi rapuh tersebut dari ketinggian riskan. Kira tahu, gairah yang tersimpan dalam peti yang terkunci rapat selama 863 tahun akhirnya akan terbuka lebar.
L menggeliat, lalu menggeleng lagi, dan mengerang. "Ah. Ah... Kira..." Wajahnya perlahan mulai menampakkan ekspresi seperti seorang manusia di ambang penyelesaian, wajah-wajah mereka yang sudah mengalami kesakitan sejak lama dan hampir mencapai batasnya. Rintihan-rintihan inkonsisten dan konsisten, dan gerak tubuh yang tidak lagi mengikuti ritme manusia yang menguasainya secara badaniah, tubuh vampir L mulai menyesuaikan setiap gerakan, perlahan tapi pasti sedikit menghentak berlawanan. "Henti..Ki-Kira..."
"Lawliet..."Racun dalam nada kembali bergaung di dalam telinga L. "Lawliet..." Ranjang berderit sangat riuh, suara deritnya begitu tajam seakan berasal dari engsel berkarat. Kendi terus terdorong dan hampir melepaskan pijakannya dari tepian. Kaki L yang terbuka lebar mulai menekuk dan menutup, punggung melengkung lebih dalam, kepala terlempar ke belakang dalam persanggamaan intens. Mata setengah terbuka. Dada membusung merespon sentuhan bibir dan tangan mortal. Bau anyir darah manis bercampur keringat mengisi ruangan lembab.
"Ah! Kira!"
Mata Kira yang terpejam saat mendaratkan ciuman terbuka kembali. Nyanyian erotik berlirikkan namanya, bagian tubuh lembut sang vampir mengalami... perubahan. Kepadatan dari hal yang cair. Desiran panas. Tawa gelap Kira tak dapat terbendung. "Kotak Pandora mulai terbuka rupanya, Lawliet." Nama yang terakhir disebutkan dengan tekanan lembut tetapi memenetrasi liang telinga L dengan sangat dalam. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Kira melebarkan sepasang kaki pucat yang meringkuk lemas dengan lutut di atas dada, membukanya ke dua sisi tubuh seperti mahkota bunga yang sebenarnya. "Lawliet..."
Mata L membuka dan menutup. Sebutir air di sudut matanya menetes ketika matanya kembali membuka, "Ti..dak..Ah...ah...!" dan erangan vokal dengan nada sedikit lebih tinggi mengiringi gerak pinggul L yang sesekali merespon pada setiap sentakan berani Kira, dan di hentakan lainnya menerima penetrasi intim. Kedua tangan L yang terikat pun tidak berhenti menggeliat, gelisah. "Le-lepas...Kira..."
Paras sang vampir merona kemerahan, lezat bak buah yang telah matang. Buah matang yang akan merekah dan meneteskan sari-sarinya yang manis. Sungguh pikiran yang menyenangkan Kira. Setiap penolakan L, penyangkalannya terus menerus menghasilkan kontradiksi. Tubuh manusia itu jujur. Prinsip yang sama berlaku pula terhadap kaum vampir sepertinya. Respon samar terhadap invasinya... racun manis telah merasuk. "Lawliet..." Kira terus menggumamkan nama sang vampir yang terus menyangkal. Rambatan gelombang bunyi pun terus memenuhi telinga hingga otak. Malam yang benar-benar panjang.
"...Hh...hh... Lawliet. Lawliet." Suara manis bisikan iblis bergaung di dalam kepalanya. Suara yang memenetrasi baik mental maupun fisik, getaran-getaran yang secara non-visual memberikan efek panas yang bagaikan buih mendidih di bawah kulit L, menyeruak keluar dari pembuluh darah di pergelangan tangannya yang tergores oleh material tidak bersahabat.
"Lepas... Sa-saya..."L ingin merengkuh... Ia hanya ingin merengkuh... tubuhnya...sesuatu... meremuk sesuatu.
L sedang dalam ambang batasnya sebelum jatuh ke jurang, ia hanya ingin berpegangan. Mata L membuka perlahan, dengan kepala setengah menoleh menghadapi wajah tampan sang iblis yang diluapi oleh gairah yang bergelora tiada habis. L menggigit bibir bawahnya yang basah dan dua buah bola arang panas mendidih di matanya dapat terbaca sebagai desperasi, permohonan akan sesuatu yang tidak akan diutarakan secara lisan oleh sang imortal yang telah remuk dinding pertahanannya. L menyaksikan dengan mata letih ke arah area di mana Kira menyentuhnya secara intim.
Keremangan dan kerlip metropolitan. Dua hal yang cukup untuk membuat tubuh kokoh Kira bermandikan bulir-bulir lelehan intan hangat. Kira mengadakan perayaan atas dirinya sendiri. Betapa ia sungguh mutlak malam ini. Tak akan ia biarkan si kendi malang mendorong balik. Sudah saatnya ia tumpah dan pecah. Dalam jalinan energi dan keperkasaannya, di dalam tubuh L telah dinyatakan perintah untuk larut. Tunduk. Submisif. "Lawliet..." Ritme hujaman semakin cepat. Kedalaman yang disentuh Kira semakin dangkal, tetapi terus tepat menjamah kumpulan syaraf manis. "Lawliet..."
Kenyataannya kendi itu tidak perlu jatuh. Berawal dari retakan kecil yang akan menjadi banyak, menjadi retakan besar, dan akan pecah. Bagian bawah-tengah tubuh L terasa diselubungi oleh uap panas dan membawa L untuk menggeliat adalah awal menambah retakan-retakan kecil. L melempar wajah ke kanan dan ke kiri sambil menggoyangkan tangannya yang terikat, yang membentuk kepalan-kepalan, mengharapkan untuk meraih, menyergap, merengkuh sesuatu sebelum kenci itu pecah. Rintihan lirih dan hentakan tubuhnya yang mulai konsisten adalah permohonan bisu dari L
"Ah...un... L-lepas..." Kalimat yang terdengar erat dengan pemberontakan diucapkan dengan bibir basahnya setengah terbuka, diiringi rintihan dengan gigi menggemeretak dan tubuh yang menggigil. Aliran darahnya menjadikan lapisan bulu angsa di balik tubuh bantal penyangga seolah diambil dari angsa merah.
Kira tidak memutus suara deritan menggigit dari ranjang. Keduanya terguncang kasar berdasarkan gerak pendominasi. Sang vampir terus memulihkan diri meskipun Kira menggerus dinding lembut terdalamnya dengan tusukan konstan. Dinding yang sama mencengkeram Kira dengan himpitan kontraksi dan menjadikan lenguhan rendah Kira semakin terdengar vokal. Bibir Kira memindahkan diri, menuju dada L dan mencicipi kulit pucat hangat di sana. Lidah menyapu bak kuas, memulaskan tinta bening lalu Kira menyeruput salah satu dari gundukan mungil. Dengan membentuk senyum, Kira membenamkan ujung deretan giginya, memberi sebuah stempel jejak yang menekuk ke dalam.
Tumbukan konstan di bagian spesifik membuat tubuh L menggeliat untuk menghindar. Belaian halus tegas pada organ intimnya memberikan reaksi. L merasa penuh, membengkak, dan imbasnya otot-otot liang dalam berkontraksi membungkus Kira. "Ahhh...!" Secara sontak dada L membusung, punggung melengkung. Saraf-saraf L menegang di bawah sensasi belaian basah-hangat yang menyapu dada kirinya. Darah berkumpul, membulatkan kedua tonjolan mungil, mengeras perih, berikut dada satunya. Suara erangan yang keluar nyaris seperti pengakuan kekalahan. Tangan mengepal erat dan bibir digigit kuat-kuat. Kaki L merenggang dalam posisi yang sangat memudahkan bagi predator untuk meluncur mulus keluar masuk.
L menatap langit-langit kamar yang buram meredup. Kaki terbuka, tangan terikat, submisif dengan predator menyantapnya menggunakan lidah, sentuhan, menyatu. Terdapat perbandingan yang kontras pada dada kanan dan kirinya, di mana yang kiri telah bengkak memerah bekas lumatan, berlapis oleh saliva bening yang mengkilap. Seringai di bibir Kira memanaskan pipi L, dan dengan jantung berdentum L hanya bisa menunggu dengan penuh antisipasi teror intimasi selanjutnya.
Kira sangat tahu bahwa sang vampir merasakan kenikmatan atas semua sentuhannya, termasuk yang menyakitkan sekali pun. Sungguh vampir nakal yang gemar menyangkal! Melawan, bergeser, menggeliat. Kira membiarkan L terus melakukan itu karena keterbatasan ruang gerak dan tingkat akurasi yang dilancarkan dalam serangannya tidak membiarkan syaraf-syaraf manis itu lolos. Menyiksa sang vampir polos lewat kenikmatan. Betapa Kira menyukai hal itu. Tubuh L terus menerus meresponnya yang meskipun tanpa sadar ataupun tidak diakui sang vampir. Caranya meremas di sekeliling kepadatannya, melumerkan dengan kehangatan juga memanjakan dengan kelembutan.
Sebagai seorang penakluk, merupakan hal yang sangat lezat bagi Kira ketika menyaksikan sesosok makhluk berusia sedemikian panjang dan dengan kekuatannya juga kekerasan hatinya terbaring di bawah tubuh dan menggeliat karena sentuhan, merintih dan mendesah. Tak ada yang pernah mampu memberikan pengalaman bercinta seintens Lawliet. Kepuasan ego dan bagaimana tubuhnya dimanjakan meskipun tanpa aspek konsensual di dalamnya. Lawliet telah menjadi primadona semua malam panas panjangnya.
To be Continued...
AN: Yang menanti tentang misteri kenapa L terus menolak Raito, Author masih belum sempat menjelaskannya di bab ini. Mohon maaf. Sampai ketemu di bab selanjutnya.
