Case 2 (pt.5)

'Bloodsuckers'

Sebuah dunia di mana makhluk haus darah paling mengerikan adalah mereka yang mengincar keabadian.

Lekuk tubuh L mungkin tidak mampu lagi membohongi Kira. Bunyi basah erotis yang timbul di setiap gesekan panas yang menghentakkan kelaki-lakiannya adalah fakta yang tak dapat disangkal, terkecuali oleh L, yang terus menggeliat dalam pergolakan antara merespon dan menolak aneka rasa. Titik-titik keringat dan liur panas yang menetes dari dada L diserap satin dingin yang berkerut dan dorongan luar biasa besar membuat L ingin mengoyak fabrik itu menjadi seribu serpihan. Kedua bibir L membuka, kedua mata tertutup, wajah diliputi kenikmatan pekat yang menggulung. Jemari-jemari kakinya mengepal dalam sensasi asing yang tidak mampu L namakan.

"Ki...Kira..."

Kira terdiam sejenak. L menyebut namanya. Ada yang berbeda di dalam suara itu. Sama dengan ekspresi wajahnya yang terlihat begitu hidup sekarang. Ada gairah. Gairah untuk memeluk dan dipeluk. Para vampir memiliki pesona fisik dan sensualitas yang sangat tinggi menjerat, Kira tahu akan hal itu. Dan kini, Lawliet tengah menyebarkan aura pesonanya yang tertinggi. Lawliet telah bermetamorfosis. Pesonanya yang sebelumnya bahkan terlihat sepeti ulat dibandingkan kupu-kupu di hadapannya ini. Kepadatan Kira disambut pelukan hangat Lawliet dari dalam sana. Dalam remasan dinding otot yang intens, pergerakan Kira yang bahkan telah terlubrikasi terasa lebih berat. Setiap mili perpanjanagn tubuhnya diserap dan dikonsumsi dekapan intim Lawliet dengan penuh hasrat.

Kepala Kira mendapat tepukan keras. Ternyata permainan di malam panjang yang sebenarnya baru akan dimulai. Dengan energi baru yang meluap, Kira menyambut dekapan erat, remasan basah Lawliet dengan hentakan yang lebih dari sebelumnya. Tak diizinkannya kumpulan syaraf sensitif di dalam sana lolos. Kira melenguh dalam, betapa ia menikmati bagaimana Lawliet mendekap erat bagian dirinya dalam kerapatan yang menyesakkan dan enggan melepasnya ketika Kira hendak menarik titik tolak baliknya.

"Uhn...nn..." Menanggapi respon hentakan pinggul dominannya yang melambat, L meliukkan tubuh sedikit bergerak mengikuti alur yang Ia rasa tepat. Perpanjangan Kira merambah ke celah sempit yang cepat meregenerasi sel menuju penutupan luka, menyisakan gesekan hangat-basah tanpa rasa sakit. Dengan mata setengah terpejam dan paras merona, L menoleh kepada Kira, lalu ke tubuhnya sendiri, dan daerah yang menyatukan keduanya, apa yang terjadi dengan dirinya. Guratan otot sempit di dada Kira dan punggungnya yang basah dengan aliran keringat dari lehernya... dengan cakarnya L i-ingin- "Ahh...!"

Tertegun menyaksikan kupu-kupu penuh sensualitas di hadapannya yang kini meremasnya dari dalam dengan manja, menyongsong setiap geraknya. Kini L tidak lagi bermain pasif. Kulit merona merah dan mengkilap karena butiran peluh itu nampak begitu ranum. Rintihan si pucat bergema ringan dan untuk sekian lamanya, kedua bola mata sewarna misteri itu terlihat begitu hidup, penuh vitalitas.

"Ah...Ah...!" Sebutir bening terlihat di sudut mata L, yang memercik di atas bantal ketika wajahnya menyamping. Raut lemah, letih, di bawah gelora kenikmatan yang mendera, terpapar jelas. Seketika L merasa tenang; seolah ia adalah seorang detektif di masa lalu yang telah mencapai akhir dari masa kontemplasi panjang. Emosi seperti amarah, jijik, terlecehkan semua membaur menjadi satu rasa yang tidak bisa didefinisikan, dan L mengabaikannya. Partikel hangat menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh yang lambat laun berkumpul di setiap daerah yang disentuh oleh Kira. Gelombang pekat rasa manis dan hangat mengalir menuju guncangan dahsyat. Mulut L terbuka lebar, erangan tinggi dengan napas terputus-putus, dan tubuh yang menggelinjang. Pinggul L menghentak naik menyambut tangan Kira

Dengan otot lidah, titik air jernih tersebut dihapus Kira. Rasa lembut dan uniknya kembali menyadarkan Kira bahwa yang disentuhnya adalah makhluk non-mortal. Pinggul L yang menghentak, membuat dirinya yang menari monoton dalam genggaman Kira serta ekspresinya... Sudah jelas. Sang vampir telah dikuasai oleh sisi liar dasarnya akan kebutuhan hubungan fisik. Kedua tangannya, yang terbelenggu di ujung ranjang terus membentuk formasi jari yang penuh gelora. Apakah jari itu akan mencakar? Ingin memeluk? Atau malah menyakitinya? Sebuah pikiran untuk melepas kedua tangan pucat berlumur darah itu tebersit di benak Kira. Tapi, ini merupakan pertaruhan besar jika untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu.

Sang vampir, meski dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan dan dilemahkan sedemikian rupa masih merupakan makhluk berbahaya yang dapat menyebabkan bahaya fatal bagi nyawa manusia. Kira benci risiko yang dapat berbuah kematian tanpa kesempatan untuk menghindar. Tetapi... dalam keterbatasannya sebagai manusia, ia tahu bahwa dalam hal ini ia pun memiliki kesempatan untuk bertahan. Rasa penasarannya terlampau besar... Tangannya kini telah mencapai mata ikat pinggangnya yang berkilau metalik.

"Hn..."Jemari-jemari L kaku menegang, tersentak ketika ujung jari hangat manusia menggelitik sela jarinya. Kuku pucat L seolah menajam, kemudian, dengan gerakan spontan, ia mencakar kulit yang menyentuhnya.

Bau darah hangat Kira bergelung oleh udara dingin ruangan dan dihisap tajam oleh L. Kedua alisnya bertaut, seolah tidak nyaman, tapi suara-suara yang dihasilkan tidak menunjukkan demikian. Jari jemari L mengepal dan merenggang, antusias untuk mencengkeram sesuatu.

Kira terdiam dan tidak menghindar saat primadona malamnya tengah melukis garis merah pada tangannya. Rasa pedih menjalar tetapi malah membawa senyum di bibir Kira. Lawliet berbahaya. Dirinya yang menahan diri dari aktivitas seksual selama sekian ratus tahun dan dalam tubuh yang telah dilemahkan lewat penjarahan darah dan penyuntikan obat... tubuh dan pikirannya tak sanggup mengendalikan insting liar alaminya. L kini adalah makhluk malam yang sulit mengontrol diri. Kira tahu ia sanggup mempertahankan diri dan memulihkan diri dari luka yang mungkin akan ditimbulkan Lawliet jika ia dilepas, tetapi aktivitas panas yang tengah mereka lakukan ini sebaiknya tidak terusik oleh konfrontasi yang tidak perlu dan bisa dicegah.

Selain itu, menyaksikan sang vampir menggeliat dengan tangan yang terbelenggu dan menggapai-gapai menambah daftar panjang pemandangan yang sedap dilihat malam ini.

Kira lalu menarik kembali tangannya yang kemudian dipindahkan menuju bokong si pucat untuk membalas cakaran tadi dalam remasan dan penetrasi yang dalam.

" AH!" L menggelinjang lagi. Kira bergerak-gerak di dalam tubuh L yang tegang dan tersiksa, berusaha keras untuk bertahan dan lepas. Sisi tergelap, purba, terkekang dan mulai meledak-ledak dengan L yang tidak berhasil menemukan cara untuk mengatasi kondisinya terkecuali lepas. Lepas. "Lepas! Lepaskan saya. Mmh. Ah. Kira!" Lalu menghindari remasan bokongnya yang bulat dan pinggul menghentak naik, untuk bertemu dengan tangan Kira lainnya. Kabut tipis pekat dan aroma persetubuhan memenuhi panca indera L membimbingnya menuju pelepasan. "Le-lepas." Tangan menggapai-gapai. "Ki-kira!"

"Betul, Lawliet." Napas Kira menjadi lebih berat. "Sebut namaku." Tubuh Lawliet yang terkekang di ranjang mengekangnya balik dalam remasan manja nan antusias dari dalam. Menyiksa kumpulan syaraf intim dengan stimulasi tanpa henti dan sergapan organ pribadi dalam sentakan kasar telah membuat tubuh sang vampir menanggapi dengan dobrakan pada pintu yang ditahan Kira dengan jarinya. Ya, dengan sebuah jarinya manusia bernama Kira mampu membuat sang vampir untuk mendesaknya dalam keputusasaan dalam pencarian pelepasan. Wajah semakin merah, matanya menjadi lebih hidup oleh cahaya kemarahan dan keinginan. Sedikit lagi. Kira masih menghadiahi dirinya dengan gesekan nikmat yang basah sekian lamanya sebelum akhirnya ia merasakan momentum yang tepat.

Akhir dari penghalangannya atas kebutuhan L. Jalan menuju puncak tertinggi yang telah didaki Lawliet telah menyongsong. Kini waktunya untuk terjun bebas. Pintu organ Lawliet dalam hentakan cengkeraman Kira dilepas, kesempatan telah dibukanya lebar.

"Ah... ah!" L membenamkan wajah ke sisi lengannya dan menjerit lemah tak tertahankan. Akar-akar kenikmatan membentuk gelembung-gelembung menuju organ vital, menyemburkan tekanan dari dalam. Punggung melengkung, sekujur tubuh menegang, satu sentakan dari pinggul L sendiri. L mengerang-erang, menoleh ke bawah untuk melihat pelepasannya, dengan wajah submisif yang dirundung eforia. Cairan tubuhnya memercik dan membasahi tangan dan dada Kira, perut dan paha seputih susunya. Sedikit memercik hingga ke sudut bibir Kira, yang sedan melemparkan senyum seringai serigala kepala sang vampir yang tidak berdaya.

L menyaksikan pelepasan dan mengakhirinya dengan satu desahan panjang. Otot-otot dalamnya mengerat membungkus Kira, berkedut pelan mengikuti ritme napas - dan jantung yang kembali menyala - yang cepat. Pipi merona, bibir basah penuh berwarna merah muda. Dengan terengah L kembali membenamkan wajahnya, sejauh mungkin menghindari tatapan observan Kira.

Kira menyaksikan tubuh L menjadi boneka kembali kemudian memejamkan mata untuk meresapi dekapan erat dinding otot L. Tangannya, yang berlumur cairan lengket yang pekat dengan aroma tubuh sang vampir akhirnya melepaskan cengkeraman. Kira kini menegakkan punggungnya, lalu memandang L dari posisi tubuhnya yang lebih menjulang. Dia kini serupa elang, serupa pemegang kekuasaan tertinggi yang mengawasi lawannya dari tempat tinggi. Tidak berkedip, tidak bergerak, gerak napasnya begitu samar. Penampakan serupa patung dewa Yunani terulang kembali. Lawliet mungkin telah menemukan pelepasan, tetapi Kira tidak. Ia tetap memadat dan menantang sergapan dinding lunak L dengan kekokohan yang angkuh. Sang patung lalu tersenyum, menjanjikan sebuah mimpi buruk yang nyata dan akan segera datang.

" Hh...ah...n" L butuh beberapa jeda untuk mengembalikan tubuh dan pikirannya menjadi sedia kala. Kabut tipis panas mulai sirna, sehingga L bisa kembali melihat tubuh kokoh manusia penyanderanya dan kegelapan yang memayungi mereka. Tangan yang terikat masih bergerak-gerak, membuat gerakan meremas, kuku tajam menggores ibu jarinya sendiri. L menginginkan untuk tidur menggulung tubuh, mengulum jari, mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya yang masih dipenuhi jejak kenikmatan yang kental. Tapi Kira... telah melihat semuanya. " ...hh..." L menatap Kira dari sudut matanya, dan hawa dingin kembali menjilat lehernya yang berkeringat. Ini belum berakhir.

Bibir Kira tetap sama. Bibirnya lihat membisikkan kata-kata berlumur racun. "Lawliet..."Nama L mengandung definisi dalam nada itu. Defini utama dan pertama yang L tangkap: teror. Kira membungkukkan punggungnya, menjadikan tubuhnya terbentang di atas L dengan batas udara. Bisikan teror menjadi lebih dekat seiring jarak yang menipis, udara menyampaikan peringatan akan mimpi buruk tersebut lebih cepat sepersekian detik ke dalam telinga L. Hanya Kira, L menggarisbawahi itu, hanya Kira-lah yang sanggup merubah nama yang menyertainya selama lebih dari delapan ratus tahun masa hidupnya menjadi kata yang membangkitkan kengerian.

Tanda-tanda kengerian sudah dimulai. Saat Kira mendekatkan torsonya kepada L, bagian padat dirinya yang menjegal dinding-dinding dalam tubuh L mengeluarkan sedikit gerak. Hanya perlu sedikit gerak untuk melancarkan sengatan perih yang menjalar cepat, menyelubungi setiap pertalian syaraf sang vampir.

Teror yang tercium mulai mendera indera L, melenyapkan geletar-geletar kenikmatan yang masih merajai seluruh sistem sarafnya. Bisikan panas memberikan rasa dingin yang mencekam. Desahan L tertahan di dasar tenggorokan, matanya membulat menyelami sepasang bola mata berwarna amber pekat, yang berkilat tajam menampakkan sisi binatang buasnya- "AH." Mata L sontak makin membulat dan tubuhnya pun menghentak. Sakit. Perih. Daerah disana masih teramat sensitif, tekanan lemah pun mampu membuat L mendesah resah lebih vokal dari yang sebelumnya. Kira sedang membawa L menuju tahapan lebih tinggi dalam persetubuhan mereka.

Suara goncangan dari material perak kembali terdengar, dengan minus suara memohon kali ini. Sosok dingin L Lawliet kembali, dengan tambahan rona di pipi dan tubuh yang belepotan oleh liur, darah, tekanan berat tubuh manusia. L berada dalam kondisi terlemahnya

Mata serigala Kira membulat, lebih membesar. Jelas sekali ada rasa tertarik di dalamnya. Kepuasan dirinya yang sebelumnya, melihat L bereaksi, merintih dan menggeliat dalam gairah kenikmatan telah terpenuhi sudah. Seperti L yang kembali ke sosok dingin, Kira, dalam takhta di otak dan hatinya, telah mengambil ancang-ancang dirinya yang sebelumnya. Dirinya yang ingin menyakiti atas penolakan yang L lakukan. Ia mungkin dapat dikatakan kejam... tetapi ia telah memperingatkan L terlebih dahulu sebelumnya. Kira menjilat bibirnya. Cara yang efektif dan menyenangkan. Kenikmatan yang dialami oleh satu arah sementara siksaan bagi yang lainnya. Salah satu cara terbaik yang pernah ada.

"Lawliet..." Kata teror itu kembali dikumandangkan. Ini adalah isyarat tembakan pistol yang memulai suatu lomba lari. Maka Kira pun memulai penyiksaannya. Kini tanpa embel-embel 'manis'. Pinggulnya kembali bergerak. Lamban. Perlahan tetapi kepedihan jelas terasa.

"Hh... Nh." Rahang L terkatup rapat dengan ujung dagunya yang lancip bersandar pada sebelah bahunya. Rona di pipi berangsur kembali ke warna asalnya, tapi jika Kira berniat untuk...lebih jauh- L menggeleng pelan, dengan mata jernih yang memancarkan realisasi tingkat tinggi. L tidak peduli Kira menyakitinya dalam satu malam, apapun yang ia lakukan. "Apapun itu Anda tidak akan berhasil menundukkan saya..." L berbisik amat pelan yang seolah ditujukan pada dirinya sendiri.

Kira memandanginya dengan tatapan dalam. Dengan sinar mata yang terpancar dari seseorang yang telah melihat tubuh telanjang dan segala reaksi yang muncul ketika L melakukan hubungan seksual. Dalam. Ada sesuatu yang mampu membuat wajah terasa panas di sana. "Tapi, Lawliet... tadi kamu sangat menyukai sentuhanku di daerah sini." Kira menghujam titik sensitif di dalam tubuh sang vampir yang langsung berbuah rintihan pedih dari L. "Ups. Sepertinya aku lupa tentang betapa sensitif dan rentannya daerah tersebut akan rasa sakit setelah orgasme. "Memasang topeng ksatria baik hati yang penuh penyesalan."

L sontak menggigit bibir dengan kedua alis bertaut, tapi tidak menunjukkan respon kesakitan selain hentakan dan geliatan tidak nyaman. Kira tidak akan melihat sisi lemahnya untuk kedua kalinya. "Apakah Anda sudah puas?" L mengerutkan bibirnya sebentar lalu membuat seringai kecil. "Kira-kun yang hebat sangat paham tentang tubuh lelaki? Seorang Kira yang hebat mengidamkan sesama jenis." L menyindir.

L menggeser tubuhnya agak menjauh, lalu mimik mukanya berkerut membentuk tatapan jijik ke arah selangkangannya, merasakan benda milik Kira meluncur keluar satu senti dengan bunyi basah berkeriak. "Manusia yang abnormal."

"Ya, tentu. Aku sangat paham. Kira adalah sosok dominan mutlak, Lawliet, bagi siapa pun." Kira membentang senyuman. "Tetapi aku bukan seorang pecinta pria, Lawliet. Aku memahami tubuh manusia dan fungsi-fungsinya. Tidak beralasan jika kau menyebutku abnormal karena kefasihanku dalam memberimu kepuasan," dia menekankan nada empat kata terakhir. "Sebab semuanya kuperoleh dari pengetahuan. Aku justru lebih ingin mendengar kesanmu akan pengalaman intim pertamamu selama lebih dari delapan abad."

" Oh?" L mengerjap dengan mimik inosennya yang khas. "Maafkan saya, Kira-kun, jika perkataan saya menyinggung Anda. Saya hanya merasa... beruntung sekali karena Kira-kun menunjukkan ketertarikannya yang teramat sangat, kepada tubuh saya yang lelaki, nampaknya." L melirik tajam ke sepasang mata cokelat yang tidak pernah bosan menjilat tubuhnya. "Saya kira semua orang akan berpikiran yang sama dan..." L membuat wajah bosan, sama sekali tidak tergugah dengan tekanan di dalam nada suara si manusia. "Memuaskan? Saya rasa saya tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk menamakan sensasi yang melemahkan tubuh saya tadi, bukan orgasmik." L menghela napas. "Yang saya ketahui pasti apa yang terjadi tadi akan cepat terlupakan khususnya setelah malam ini, dan Anda pun tidak akan mengingat apapun nanti."

Kira memasang wajah bingung yang tak kalah inosen. "Aku tidak pernah mendengar bahwa seorang pria bereaksi sedemikian rupa." Kira mengangkat tangannya, memperlihatkan pada L residu cairan sepucat kulit sang vampir. "Karena tidak mengalami kepuasan seksual, Lawliet, manusia ataupun vampir." Hangat. Ketat. Kira mengerahkan kontrol diri sekeras yang ia mampu untuk menahan agar tidak menggagahi tubuh molek yang menghimpit dirinya ini. "Soal bagaimana pandanganku kepadamu..." Kira menjilati tubuh polos L lagi dengan sorot mata tajam. "...Ini merupakan hal yang wajar dalam rangka mengapresiasi keindahan. Dan ini pujian hebat, Lawliet. Kira tidak pernah menganggap tubuh pria itu layak untuk dijadikan objek pemanja mata. Dan..." Ia mendekatkan wajahnya pada paras dingin L. Menantang secara frontal. "Apa perkataan terakhirmu itu ancaman, Lawliet?"

L tidak menjawab ketika ditanyai, diam dengan menatap balik lebih dingin. "Saya mengerti...Kira-kun. Kaum kami dijuluki ancaman, monster, iblis dan seperti binatang buas, tapi di hadapan saya sekarang ada sosok manusia yang serupa," kata L, menyipitkan mata dan dengan berani, membuka kakinya lebar. Di dalam L menghimpit bagian tubuh Kira seraya mengontrol agar tidak ada raut kesakitan maupun jijik terlintas di wajahnya."Sebegitukahnya Kau menginginkan saya, Kira-kun?"

Ekspresi Kira yang tak berubah selama beberapa saat saat L menggambarkan bagaimana sosoknya di matanya pun berubah diiringi geraman kecil saat merasakan himpitan berani dari Lawliet. Kedua alis Kira terangkat tinggi, membentuk ekspresi terkejutan nan polos. "Wow. Jujur saja, aku terkejut, Lawliet. Apalagi mengingat bahwa kau baru saja kehilangan balutan jubah virginitasmu. Apakah ini undangan bagiku?"

L diam sejenak, lalu dengan gerakan tidak terduga lainnya, memutar pinggulnya sedikit. Wajahnya yang serius sama sekali bersih dari gairah dan nafsu mengamati setiap perubahan dan denyutan di tubuh Kira selayaknya seorang observan. "Bagaimana kalau 'ya'?

Satu hentakan keras menghujam tubuh L, membuat L tersentak. "Kalau begitu, kuterima undanganmu, Lawliet." Saatnya kontrol diri Kira ditarik. Momen yang ditunggunya tiba. Ranjang kembali berderit nyaring dalam rangka usaha Kira untuk menghadiahi dirinya dengan gesekan-gesekan nikmat dari tubuh yang menerima dirinya itu. Wajah sang monster telah kembali. Ia tetap sama. Brutal.

"Saya...!" Terjangan. Tusukan. Kira membalas perlakuannya tanpa ampun dan tidak memberi kesempatan bagi L untuk berelaborasi. Seorang oportunis dengan pemikiran radikal, Kira, manusia yang sangat mendambakan dan menjadikannya alat untuk mengklaim imortal. "U...aa...h..." L membuka kakinya lebar untuk mengurangi daya gesek menyakitkan. Tulang pipinya kembali merona dan bibirnya digigit mengeluarkan darah demi menahan rintihan vokal yang keluar. Dengan segenap ketegaran L menegang, tidak berdaya, membiarkan Kira menyetubuhinya dengan brutal sampai berahinya terpuaskan.

Sang vampir menggeliat dalam ekspresi tertahan. Sesuai perhitungan dan keinginan Kira. Lawliet pasti telah merencanakan sesuatu saat mengumbar undangan sedemikian rupa. Walau tidak tahu bagaimana tujuan yang diincar L, menyakitinya jelas mengaburkan konsentrasinya dan malah mungkin akan menggagalkannya. Kira memandangi si vampir menawan yang terus berjuang agar tidak menjerit. Tangguh. Memiliki sesosok tangguh di dalam pelukan membangkitkan antusiasme tersendiri bagi Kira. Antusiasme yang kini berbuah pendarahan kembali bagi L di dalam sana.

Daya tahan L yang luar biasa, tidak manusiawi, kokoh dan imortal, berapa banyak kesakitan yang telah ia arungi semasa hidup abadi maupun sebagai manusia? L memilih untuk memejamkan mata agar bisa membendung lelehan air mata yang dipaksa keluar karena menahan rasa sakitnya. Wajahnya menyamping dan pinggulnya meliuk kesana kemari. Ketika matanya membuka lagi dan berair, L mendesah resah dengan nada tajam. "Ia menginginkan saya sampai seperti ini... Uhn... Ma-nusia lemah."

Bagaikan memiliki sifat fisik, waktu pun seperti membeku. Kira terhenti dan kembali menjadi patung sekian detik lamanya. Saat waktu kembali bergulir, yang ditandai dengan lirikan bola mata Kira, angin dingin terasa seperti membelai bulu roma sang vampir. Kali ini waktu seperti melompat cepat. Adegan Kira memandang dari atas yang sedang L lihat langsung melompat menjadi wajah Kira yang sangat dekat- terlalu dekat dan lumatan rakus pada bibirnya.

"Um...h." L mengunci rahangnya rapat-rapat. Lidah dan sapuan bibir panas Kira hanya menyentuh bibir bengkaknya, yang basah oleh darah manusia terasa meraupnya dengan rakus. L diam menegang di bawah cengkeraman posisi intim mereka, getaran di tubuhnya tertutupi oleh geliat dan lumatan brutal manusia di atasnya. Wajah sang vampir tua datar sekilas datar jika tidak melihat kerutan di kening dan setetes bening yang mengalir turun dari sudut matanya.

"Lawliet." Suara lembut penuh racun manis merambat di sela kuluman. Dua cubitan nakal menyerang pusat kedua belah dada datar L sementara di dalam sana, organ tubuh milik manusia itu berkedut-kedut. Sejauh ini Kira tidak kekurangan akal akan aneka tindakan pelecehan. Untuk hal ini, Lawliet jelas tidak sebanding. Kedua bola mata Kira yang tertutup kelopak pun terbuka. Terlambat. Kerlip jernih di sudut matanya telah memantul di dalam bola mata cokelat yang nampak keemasan itu. "Lawliet."

Setetes bening lagi mengalir dari mata L ketika ia melirik kepada Kira, lalu menoleh lagi ke arah lain. Kedutan di dalam liangnya mengirimkan getaran panas dan membawa kaki dan kedua tangan L melemah. Energi seksual sudah hampir menjadi nutrisi bagi vampir L sekarang, tapi ia memilih untuk tidak memikirkannya. L mengambil satu tarikan napas untuk menahan diri agar tidak menggeliat di bawah cubitan yang menggugah area sensitifnya, walau begitu dadanya sedikit menghentak. Kau ini manusia lemah... Kira..."

Pagutan bibir terlepas, tetapi jarak tidak jauh berkurang. Wajah mereka tetap saling berhadapan dengan kedekatan jarak yang mampu menggugah percepatan detak jantung. "Aku bosan mendengar hal itu berulang-ulang darimu, Lawliet." Bibir basah Kira menepuk-nepuk bibir L yang membengkak ketika mengucapkan kata-kata akibat kedekatan jarak wajah mereka. "Di sisi lain aku juga senang mendengarkan argumenmu."

Dengan keras kepala L mengatupkan bibirnya membentuk bingkai tegas pada rahang. Sebentar saja L membuka suara, "Argumen?"

Membelai sisi wajah L dengan sangat lembut, terlalu kontras dengan segala gerakan persetubuhan brutal yang belum lama dilakukannya. "Ya, Lawliet." Mungkin cara menatap yang ditunjukkan Kira saat ini adalah cara menatap yang sangat cocok untuk dikatakan sebagai cara pandang seseorang kepada kekasih. Hal yang sungguh memuakkan L. "Aku ingin mendengar argumenmu mengenai diriku yang kau sebut sebagai manusia lemah."

L menoleh ke samping, entah untuk menghindari tatapan penuh hasrat Kira yang membuatnya seperti ingin mengosongkan isi perut, atau untuk menghindar agar Kira tidak bisa mengklaim bibirnya. "Apakah perlu membuat argumen tentang sesuatu yang sudah jelas? Manusia yang tergoda mengikuti nafsu tanpa bisa menahannya dengan cermat, haus kekuatan dan kekuasaan hingga melakukan tindak kekerasan fisik seksual dan pemaksaan, adalah lemah."

Kira tertawa elegan. Tubuhnya yang terguncang samar saat tertawa membuat anggota tubuh yang terhimpit di dalam L juga melakukan pergerakan-pergerakan halus. "Ternyata demikian. Lawliet, sepertinya kau salah mengerti. Jika konsep manusia yang ingin menjadi kuat dan memiliki kemampuan dalam kekuasaan adalah sifat dasar semua manusia. Dan vampir pun demikian. Manusia, berabad-abad yang lalu hidup dalam ketakutan dan tertindas di bawah dominasi vampir. Akan tetapi, manusia ingin menjadi kuat dan lepas dari semua itu. Lihatlah sekarang, Lawliet." Matanya melirik ke arah jendela besar. Pemandangan kota manusia berperadaban modern terpantul di mata penuh kepercayaan diri itu. "Kita semua tahu bukan, siapa yang menjadi penguasa bumi ini sekarang. Manusia dengan segala keterbatasannya itulah yang berhasil memaksa para vampir dengan limpahan kekuatan alamiah untuk menyingkir. Ini adalah era para manusia. Dan Lawliet, sekali lagi semua ini dicapai karena keinginan. Keinginan untuk menjadi kuat. Lawliet, ingatkah apa tujuanku? Aku tidak ingin menjadi kuat untuk memulai peperangan. Aku ingin menyatukan dua kaum dalam satu ikatan perdamaian. Para manusia yang kini menjadi kuat akan membagikan apa yang dicapainya kepada bangsamu juga."

L memutar bola matanya, kerutan mungil di sudut bibirnya menandakan L tidak peduli. "Dan manusia lemah juga senang membuat alasan yang panjang lebar. Maaf Kira, tetapi di mata saya ia tidak cukup kuat, ia lemah, dan saya tidak punya cukup alasan untuk menjadikanmu satu dengan kaum kami. Jika ia merasa bangga dengan kekuatan dan ambisi yang ia miliki, menjadi manusia adalah yang terbaik."

" Dan kurasa kamu sering melihat bahwa di kalangan manusia kolot pun ada beberapa yang memiliki pandangan yang meyakini bahwa manusia dari warna kulit dan golongan warna tertentu jauh lebih tinggi nilainya dibandingkan yang tidak serupa atau sama dengan mereka. Ethnocentrism. Manusia-manusia dangkal yang menyedihkan, bukan? Dan Lawliet, apa yang kau katakan tidak ada ubahnya dengan inti pemikiran mereka. Karena aku adalah manusia yang memang wajar memiliki ambisi dan menggunakan kekuatan, lantas kau merendahkan aku? Dan berpikir bahwa kaum vampir yang juga pembunuh dan penyiksa adalah kaum yang lebih baik? Mengingkari asal mula dirimu, Lawliet?"

"Apakah saya mengatakan Kira-kun adalah kaum yang rendah? Tidak. Dia yang menyebut dirinya sendiri." L ingin menyeringai, tapi luapan rasa muaknya malah membentuk raut yang tidak enak dilihat pada wajah sang vampir. "Dan kita tidak sedang berbicara tentang kaum yang direndahkan maupun yang ditinggikan. Tentang hukum alam yang kuat memangsa yang lemah, dan sifat dasar tersebut adalah milik manusia, yang tidak jauh berbeda dengan kaum kami kebanyakan." L menggeleng. "Pertanyaan saya adalah apakah Anda tahu apa yang akan terjadi padamu jika Saya mengubahmu?"

"Lawliet, sebelum aktivitas intim kita," desah Kira, tersenyum dan memandang bak kekasih lagi. "Aku telah mengatakan aku tahu. Aku sangat tahu, bahkan menyebut hal ini sebagai pengorbanan. Aku tahu, bahwa nanti aku akan memiliki nafsu akan darah. Aku tahu bahwa tak akan ada yang dapat menandingi kenikmatan darah dan hubungan seksual bagi kaum vampir. Aku tahu bahwa nanti sinar matahari akan membuatku tidak nyaman dan melemah. Aku tahu bahwa perak akan menyakitiku dan merebut kekuatanku, bahkan hanya lewat sentuhan. Aku tahu bahwa kekuatan yang akan aku peroleh sangat luar biasa sehingga mungkin aku dapat menyakiti siapapun tanpa keinginanku. Aku tahu, Lawliet. Dan aku siap. Aku siap dan aku mampu melewati semua itu. Seperti diriku saat ini. Aku sangat mampu untuk memusnahkan ribuan titik persembunyian para vampir di dunia ini dengan kekuasaanku. Bahkan vampir pun tak akan sanggup menahan rudal tempur, bukan? Aku mampu, tetapi tidak kulakukan. Aku bukan sosok yang sedemikian kejam dan terbuai oleh kekuasaan, Lawliet."

"Apapun kebusukan yang Anda miliki dan semua omong kosong Anda barusan, tetap saja, saya menemukan keberanian yang impresif." Pandangan mata L melunak, bukan datar dan bukan kekaguman. "Tapi ucapan Anda barusan membuktikannya, bahwa Anda egois, begitu egoisnya hingga amat lemah di mata saya. Anda berkata ingin menanamkan kedamaian di kedua belah pihak? Tapi tidak memikirkan kepentingan Saya. Mengubahmu menjadi penghisap darah adalah ritual yang akan berimbas kepada kehidupan saya, dan Kau semestinya mengerti kenapa saya amat keberatan." L memicingkan mata dan merapatkan sedikit kakinya, menghimpit Kira. "Dan jangan katakan saya egois; saya adalah pihak yang dirugikan, saya tidak ingin mengambil resiko untuk mengorbankan diri demi seseorang yang tidak bisa menghargai orang lain."

"Pengorbanan, Lawliet. Pengorbanan. Untuk sesuatu yang besar membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Tentu kau tahu bukan, bahwa berbagai penemuan manusia yang sekarang telah dianggap hal yang umum dalam pengembangan awalnya banyak yang memakan korban jiwa? Pesawat terbang, nuklir, obat-obatan. Dengan adanya pengorbanan dan perjuangan tanpa henti semua itu dapat terwujud. Dunia penuh kedamaian. Tidakkah kau menginginkannya, L? Tak ada perbudakan dan peperangan. Antar manusia, antar vampir, antar kaum. Semua butuh pengorbanan, Lawliet. Ini bukan soal keegoisan semata. Aku pun siap menanggung bagian sulitnya, Lawliet. Aku telah memilihmu. Kau vampir murni, mampu menahan diri dan menolak untuk membunuh. Tak ada vampir yang sedemikian tepat untuk rencana ini selain dirimu."

"Kira, Kau-"

"Aku telah merelakan diri untuk selamanya terikat denganmu, Lawliet. Aku tidak takut. Nah, Lawliet, apakah kau takut?" Kira menatap tajam. Dua sorot mata cokelatnya menusuk seperti sepasang taring. "Takut akan ikatan? Takut bahwa kenyataannya, aku, seorang manusia yang telah memegang peranan besar dalam hidupmu menjadi suatu bagian yang vital?"

"Mohon maaf. Tapi saya tetap menolak. Saya tidak tertarik untuk ikut serta mewujudkan impian-impian sangat berarti bagi dirimu sendiri itu, Kira-kun. Katakan kenapa saya harus berkorban besar untukmu? Saya tidak memiliki alasan yang cukup untuk menyerahkan hidup saya." L dengan lantang membalas tatapan mengancam Kira, tidak tampak sedikit pun ketakutan, membuat kedua pasang mata beradu dengan memercikkan api di udara. "Dan takut? Asumsi yang konyol, Kira-kun. Apakah kau pernah memikirkan orang lain selain dirimu sendiri? Jika posisi kita sekarang di balik, bagaimana rasanya, Kira? Dipaksa untuk menyerahkan hidupmu di bawah kendali seseorang? Kau yang tidak memiliki kemampuan untuk berempati, terlalu menggelikan bagi saya untuk dapat mewujudkan mimpi berbau bangsawan tersebut."

Sepasang mata tajam Kira kembali menjadi tatapan kekasih lagi. "Lawliet, jika aku berada di posisimu, maka aku akan mencoba untuk memahami dan berpikir. Aku akan berpikir dan bukannya melancarkan ratusan alasan yang muncul akibat sifat paranoid saja. Membiarkan manusia dan vampir terus berperang adalah hal yan jauh lebih egois. Dan Lawliet, yang akan terjadi di antara kita setelah menjalankan ritual adalah ikatan. Hal ini tidak berarti aku, sebagai manusia yang kau ubah memiliki kuasa atasmu atau mengendalikanmu. Apakah Wammy sang legenda menjadi pengendalimu, Lawliet? Tidak, bukan? Apakah kau takut jika ikatan kita nantinya berarti memberikanku hak untuk berhubungan badan denganmu sebebas-bebasnya? Tidak, bukan? Wammy dan kau tidak mengalami itu semua."

L menajamkan matanya.

"Kuberitahu padamu, Lawliet. Lebih dari separuh hidupku kucurahkan untuk memikirkan semua masalah ini. Ini bukan mengenai kebangsawanan. Ini lebih dari itu, Lawliet." Percikan api dari adu sorot mata tajam kembali muncul. Sengit.

"Itu dirimu, saya berbeda. Dan saya masih belum memiliki alasan yang kuat untuk mengorbankan diri. Untuk menjadikanmu vampir, untuk membentuk ikatan seumur hidup dengan manusia sepertimu. Saya memilih mati abadi."

"Lawliet."

"Hm." Mendadak L mengeluarkan suara seperti menjernihkan tenggorokan, ia sedang mendengus menahan tawa. "Tentang impian yang berbau kebangsawanan, memang. Beberapa masa yang lalu saya pernah berharap bisa melihat sikap demikian muncul dari kaum mortal yang saya temui dalam perjalanan, tapi malam ini saya melihat hal yang sebaliknya." L mengukir bingkai wajah Kira dengan matanya, ada sedikit keprihatinan di mata L yang ditutupi oleh sarkasme. "Saya paham benar itu adalah mimpi-mimpi Anda, dan saya hargai. Lalu apa hubungannya dengan saya? Dan, sekali lagi, saya masih belum memiliki alasan yang kuat untuk mengorbankan diri." Lalu matanya kembali menajam. "Hubungan saya dengan Wammy adalah di antara kami berdua. Dan jangan terlalu percaya dengan sejarah kehidupan kami yang mungkin Anda dengar dari mulut ke mulut itu. Kau tidak mengenal siapa kami sesungguhnya."

"Lawliet... aku tahu ini berat. Tetapi semuanya akan berbeda nantinya, saat kau menyaksikan dunia baru itu dengan mata kepalamu sendiri. Saat kau melihatnya, kau akan mengerti bahwa sikapmu sekarang ini tidak berguna. Dan jikalau aku dapat mengubah pemikiranmu akan pengorbanan diri itu, adakah yang dapat kulakukan untuk itu?" Menghela napas panjang, Kira menggelengkan kepala perlahan, menyayangkan sikap L yang terus berkeras. "Soal Wammy... aku ingin mendengarnya, bagaimana hubungan sang vampir legendaris itu dengan sang vampir mulia L Lawliet. Bersediakah, Lawliet?"

"Tidak, Kira-kun yang terhormat, saya tidak bersedia." L menggeleng lemah. "Kira-kun. Maafkan saya, tapi tidak ada yang bisa mengubah pendirian saya saat ini, terkecuali Anda membunuh saya, dan membiarkan saya melihat realisasi dunia baru yang sudah Anda bentuk, mungkin di neraka saya bisa berubah pikiran. Kira-kun punya rasa keingintahuan yang tinggi terhadap kehidupan orang lain. Tidak bisakah mengurus dirinya sendiri? Dan Ia terus memaksa orang lain untuk mengikuti keinginannya, sungguh egois. Carilah vampir lainnya, Kira-kun, biarkan saya pergi. Kau sudah merenggut separuh diri saya, bisakah kau mengembalikannya? Jika tidak-" L menghela napas panjang, wajah letihnya tersembunyi di balik helaian rambut hitamnya yang acak-acakan. "-maka Saya tidak akan mau memenuhi permintaanmu. Bisakah Kau melakukannya?"

"Aku telah mengatakannya, L," bisik Kira. Pengorbanan itu perlu. "Untuk sesuatu yang besar dan baik, terkadang korban memang harus berjatuhan." Senyuman dingin iblis menghembuskan jalinan napas hangat. "Membunuhmu? Aku lebih memilih jika kau menjadi perhiasan ranjangku untuk seterusnya."

Kira mengigit perlahan dan mengulum cuping telinga L. Kira dapat merasakannya. Sentuhannya membuat dinding lunak nan rapat di dalam sana berkontraksi, memijatnya dengan lembut. L sedari tadi berhasil menyulut kemarahan Kira, tetapi Kira mampu bertahan untuk tidak melakukan gerakan persetubuhan satu kali pun selama dialog berlangsung. Sedikit lagi. Jika Lawliet memancingnya lebih dari ini, maka darah akan kembali tertumpah di atas satin.

"Lawliet, jangan serta-merta menyalahkanku atas apa yang telah terjadi." Kira menarik wajahnya ke hadapan L lagi. Bibirnya kembali menggetuk-getuk bibir L saat ia berkata-kata. "Jika seandainya kita tidak bertemu sekalipun, kau tahu bahwa kau akan mengalami hal yang kurang lebih sama, atau bahkan lebih buruk dari manusia lainnya. Wajah para pemburu dan pasukan keamanan dari rumah penjualan budak yang mengejarmu tadi sudah meneriakkan bagaimana nasib yang akan menimpamu. Aku yakin, kamu tidak hanya akan mengerti rasanya disentuh dan dimasuki, Lawliet, tetapi mungkin juga akan mengenal istilah dan rasa penetrasi ganda dan perkosaan publik jika tertangkap mereka."

L menghembuskan napas perlahan, gemetaran. "Sangat kotor... Kira..."Sedikit sentuhan basah sudah membuat leher dan punggungnya meremang; L mengutuknya. L mengutuk tubuh dengan kebutuhan biologis yang akan makan waktu lama baginya untuk terbiasa. Ia akan mengulangi penelitian panjang untuk mensubstitusi kebutuhan utama dengan sesuatu yang lain. Tapi L tidak mau memikirkannya saat ini. Sontak L memutus kontak bibir, menoleh ke samping. "Inilah saya, Kira-kun. Tidak ada yang perlu ditutupi. Katakanlah saya- saya yang sudah direnggut harga dirinya oleh Anda dan mereka, tidak memikirkan kepentingan orang lain. Saya memiliki perspektif yang sama dengan kaum barbarian, yang sangat bertentangan dengan Anda bangsawan. Mungkin memang begitu adanya. Kita berbeda, Kira-kun, kita tidak sepaham."

L menarik napas tajam, beban berat terasa di sekitar perut bawahnya. Apakah Kira menekannya? L menoleh ke bawah. Tidak. Ini adalah reaksi dari tubuhnya.

"Anda berniat memperlakukan saya sebagai budak? Yang membedakan Anda dengan barbarian di luar sana adalah kelas, kekuasaan, otak. Selebihnya..." L menatap tajam wajah Kira. "...sampah."

Kedua alis Kira bertaut. Sudah cukup. Darah di balik pembuluhnya terasa memanas. Kejengkelan kentara pada nada suaranya yang tenang: "Baik." Kira lalu bangkit duduk. Tubuh atasnya yang mundur mendadak menyebabkan bagian tubuhnya yang berada di dalam melakukan sedikit gerakan mengungkit dan membuat L meringis. "Lawliet." L merasakan Kira menarik dirinya. Ketika L bersiap untuk menerima hentakan balik, tetapi hal menyakitkan itu tidak terjadi. Kira menarik diri sepenuhnya. Bagian itu kini berlumur cairan merah segar yang berasal dari diri L. "Seandainya kau dapat melihat bagian tubuhmu yang ini..." Kira menyenggol mulut bukaan intim L dengan jarinya. "Ah, tetapi sepertinya kau bisa merasakannya, bukan? Bagian ini berkontraksi saat aku menarik diri. Apa kau merindukanku secepat ini, Lawliet? Merindukan diriku mengisinya kembali?" Seringai dingin memupuk frustrasi L.

Saat L hendak berpikir, mendadak napasnya terasa tertahan dan bobot tubuh bertumpu pada punggung atasnya. Kira mengangkat pinggul telanjangnya dengan kedua kaki yang terentang lebar. Mata sang iblis tengah mengamati bagian intimnya dengan seksama.

Mata L membulat. "Kira, apa yang akan Kau-" L mendesis dari sela giginya yang mengertak, taringnya yang tajam mencuat terabaikan menjadi ornamen yang sama sekali tidak membawa ancaman. "Hah..." Dengan bertumpu kepada tulang punggung dan leher, napas L tertahan. Pelipisnya berdenyut cepat. Kedutan di sekujur tubuhnya terpusat pada perut dan bagian intimnya, berada tepat di bawah pengawasan mata binatang buas. "Nnh." L menggoyangkan tangannya yang terikat dan mengayunkan kakinya. "Cukup! Sudah! Hentikan semua ini, Kira!"

"Sekali pun pada akhirnya kita tidak membentuk ikatan, apakah Kau bisa melupakanku, Lawliet?"

Kira menenggelamkan wajah pada paha bagian dalam, dengan gigi-gigi yang menggerus kulit seputih susu dan menimbulkan bunyi hisapan basah yang audibel di dalam kamar yang temaram.


To be Continued