Hari ini Ichigo, Sado, Ishida, dan Inoue pulang. Ichigo kembali ke rumahnya sendirian. Ia membuka pintu dan masuk.

"Aku pulang…!" sapa Ichigo melepas sepatunya. Yuzu yang mendengar suara kakanya menghapus air matanya. Senyum terkembang di wajahnya. Yuzu dan Isshin berlari ke pintu depan.

"Ichigo….!" Isshin melompat dan hendak mendekap Ichigo tetapi nasib malang menimpa Isshin. Ia ditendang oleh Ichigo hingga terpental ke langit. Kon yang melihat dari kejauhan hanya sweatdrop.

"Kakak….!" Yuzu berlari dan memeluk Ichigo. Dia menangis lagi, sementara Ichigo hanya tersenyum.

"Kakak, kenapa baru pulang?" tanya Yuzu di sela isaknya. Ichigo masih tersenyum mengelus kepala adiknya.

"Kakak banyak urusan. Bagaimana kabarmu dan Karin? baik-baik saja kan?"

"Kabar kami baik-baik saja. Setiap hari aku selalu menangis dan tidak bisa tidur karena kakak tidak pulang-pulang…" kata Yuzu sesenggukan. Ichigo masih membelai rambut Yuzu dengan sayang.

"Maaf ya, kakak sudah membuatmu cemas…." kata Ichigo menyesal.

" Ya. Kalau mau pergi, bilang lebih dulu, jadinya aku tidak perlu seperti ini, menangis setiap hari dan tidak bisa tidur!" gerutu Yuzu kesal. Ichigo hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut adiknya.

"Ngomong-ngomong, kemana Karin?" tanay Ichigo melihat sekitar.

"Entahlah, aku tidak tahu kemana Karin pergi. Sudah dua hari dia tidak pulang…." Yuzu kembali menangis mengingat Karin pergi tanpa kabar, bahkan ia belum kembali. Ichigo yang mendengarnya terpana.

"Pergi?" Ichigo terkejut mengetahui adik tomboynya pergi tanpa kabar.

" Ya. Pagi hari ketika aku bangun, aku tidak menemukan Karin. Aku cari di seluruh ruang tetapi tidak ada. Saat menuju meja belajar di kamarnya, aku menemukan secarik kertas di meja bertuliskan, 'Aku akan segera kembali. Jangan mencariku dan jangan mengkhawatirkanku', begitu…" Yuzu menangis sesenggukan. Ichigo hanya diam tertegun, tidak tahu harus berbuat apa. Yuzu semakin mendera tangisnya.

"Sudahlah, Yuzu, ayah yakin kalau ia pasti pulang…" Muncul Isshin dengan wajah babak belur karena digebugi preman jembatan Karakura karena saat jatuh Isshin menimpa mereka dengan posisi tidak elit (?) #author dicincang Isshin#. Yuzupun berhenti menangis dan tersenyum.

"Ya, ayah…" kata Yuzu tersenyum dan mengangguk. Ichigo hanya menarik nafas dalam dan tertegun.

The Truth of Story

Disclaimer : This is Tite Kubo mind. I only lend his Character Story, ok ?

Warning : Gaje, AU, Typho(s)

Don't Like Don't Read !

"Tinggal masalah terakhir. Dimarahi Yuzu dan Ayah, apalagi kak Ichigo, itupun jika kakak sudah pulang. Gawat! Siap-siap babak belur!" Keluh Karin sweatdrop. Ia membayangkan dirinya dimarahi Ichigo yang galak. Ia kembali menghela napas pasrah.

"Aku juga, membolos berhari-hari. Dimarahi guru dan seniorku di dojo serta ditanyai teman-teman. Aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan dan bagaimana sikapku terhadap Ichigo dan yang lain jika Ichigo dan yang lain pulang mengingat tentang masalah yang sebenarnya terjadi dan juga aku pernah memukul Ichigo ketika dia bungkam terhadap Inoue ketika kutanyai keberadaannya." Kata Tatsuki menghela napas berat. Mereka berpisah di pertigaan jalan gang.

"Kita berpisah disini. Sampai jumapa dan hati-hati…" kata Tatsuki.

"Ya, kau juga, sampai jumpa dan hati-hati…" Tatsuki tersenyum dan merekapun berpisah.

Mereka saling senyum dan melangkah masing-masing. Karin belok ke kiri, Tatsuki belok ke kanan. Namun, ada dua orang yang sedari tadi mengawasi mereka. Awalnya Karin dan Tatsuki tidak menyadarinya tetapi lama-lama mereka menyadarinya.

"Siapa kau? keluarlah!" kata Tatsuki dan Karin bersamaan namun mereka tidak keluar.

"Dasar pengecut!"kata Tatsuki kesal dan muncul Wonderweiss, Loly, dan Menoly. Karin dan Tatsuki terkejut melihatnya.

"kalian…?"

"Siapa kau?" tanay Karin. Wonderweiss sedikit tersenyum dan tiba-tiba dia menyerang Karin dengan Ceronya. Karin menghindar dan bangunan hancur.

'Apakah ini yang namanya Cero? Kekuatannya dahsyat sekali. Sekali kena, habislah semua. Aku harus berhati-hati!' Gumam Karin terkejut. Wonderweiss menunjuk ke arah Karin. Karin terkejut dan bersiap menghindar.

"Hehehe…" Wonderweiss tertawa girang. Karin yang melihatnya menaikkan satu alisnya, bingung.

"Apanya yang lucu?!" Tanya Karin sweatdrop.

"Kupu-kupu…" Tunjuk Wonderweiss.

"Apa?" Karin cengo melihatnya. Karin melihat ke atas. Terlihat kupu-kupu melintas di kepala Wonderweiss. Wonderweisspun menangkapnya.

"Dasar anak Autis! Idiot!" gerutu Karin sweatdrop.

Di tempat lain, Tatsuki berhadapan dengan Loly dan Menoly.

"Siapa kalian? Kenapa kalian membuntutiku?" tanay Tatsuki kesal.

"Kami ingin mencari perempuan menjijikan bernama Inoue!" kata Loly kesal.

"Jaga bicaramu! kau pikir dirimu tidak? kau lebih menjijikkan dan lebih memuakkan daripada kotoran Anjing!" gerutu Tatsuki kesal.

"Apa kau bilang?" Loly hendak menyerang Tatsuki tetapi ditahan oleh Menoly.

"Huh, sebenarnya, ada keperluan apa kalian mencarinya?"

"Aku ingin membunuhnya!"

"Kalau kau bisa!" Jawab Tatsuki dingin.

"Apa?" gerutu Loly kesal.

"Memangnya apa alasan kalian ingin membunuhnya?" tanya Tatsuki bingung. Ia menyilangkan kedua tangannya.

"Asal kau tahu saja. Di Las Noches, dia berlaga sebagai putri. Disayangi, dihormati, dipuji, dilayani dengan agung." kata Loly.

"Lalu, tuan Aizen yang awalnya sayang pada kami, kini, dia lebih menyayanginya!" jelas Menoly penuh emosi.

"Jadi kalian merasa kalau dia pilih kasih?"

"Begitulah…" jawab Loly menghela napas bosan.

"Kalau masalah itu aku tidak ikut campur dan aku sama sekali tidak peduli. Tetapi, jika kau berani melukainya, kau tidak akan kumaafkan!" Jawab Tatsuki serius.

"Huh, lagi-lagi kau membelanya. Kenapa semua orang membelanya? Apa hebatnya dia?"

"Itu karena Inoue orang yang baik, penyabar, ramah, dan suka mengalah demi kepentingan orang lain…" jelas Tatsuki.

"Benarkah demikian?" ejek Menoly sinis.

"Terserah kau sajalah. Aku mau pulang, permisi!" dan Tatsuki pergi meninggalkan Loly dan Menoly. Loly yang geram menyerang Tatsuki tetapi Tatsuki menangkis tangan Loly dan menendangnya. Loly jatuh dan Tatsuki melompat lalu mendarat menginjak dada Loly. Menoly hendak menolong tetapi dengan kekuatan magnum Tatsuki memukul wajahnya. Lalu Tatsuki menendang dan Menoly jatuh tersungkur beberapa meter dari tempat Tatsuki dan Loly berada. Tatsuki melepas injakannya dan pergi.

"Kembalilah ke tempat kalian dan jangan membuat keonaran disini!"

Karin masih sweatdrop melihat tingkah Wonderweiss yang lebih asik menangkap dan mengejar kupu-kupu daripada keberadaannya disini.

"Hey, kau, siapa kau? Ada apa kau datang kemari?" Tanya Karin mulai kesal. Wonderweiss berhasil menangkapnya dan memebelainya. Karin mengeluh sweatdrop (lagi).

'Apa sebaiknya aku tinggalkan saja dia? Tetapi kalau ya, bisa-bisa dia menghancurkan kota ini!' gumam Karin mengeluh. Namun, kupu-kupu yang ia pegang ia remas. Karin terkejut melihatnya.

"Hey, apa yang kau lakukan?" Wonderweiss menumpahkan kupu-kupu yang sudah tidak bernyawa lagi, lalu, menyerang Karin. Karin menghindar dan membalas serangan. Wonderweiss menangkis serangan Karin dan menghindar.

"Hey, jangan membuat kekacauan disini!" Wonderweiss tidak menghiraukan dan menjulurkan tangannnya namun Karin menghindar.

Wonderweiss hendak mengeluarkan Bala miliknya tetapi ditangkis oleh Loly dan Bala teralih menghancurkan bangunan dan pohon. Muncul ledakan dan kobaran api.

"Ayo kita pergi!" muncul Garganta dan mereka masuk ke dalamnya. Garganta menutup lalu menghilang.

"Baru pernah aku bertemu orang seperti itu!" kata Karin sweatdrop dan Karin kembali melanjutkan perjalanannya.

Pagi hari di rumah Kurosaki, Yuzu menanti pulangnya Karin. Dia duduk menatap kosong pintu depan. Ichigo hanya diam melihatnya.

"Karin…." Yuzu menangis lagi. Terdengar suara bel. Yuzu gembira karena Karin pulang tetapi ternyata…

"Asami ? " kata Yuzu terkejut.

" Yuzu, aku datang kemari membawa bajumu yang aku pinjam kemarin. Ini aku kembalikan. Aku sudah mencuci dan menyetrikanya." Yuzu menerima baju dari Asami sambil diam tidak menjawab.

"Terima kasih, permisi." kata Asami mohon diri. Ia pergi meninggalkan Yuzu yang masih mematung. Pintu tertutup lagi. Yuzu kembali duduk. Selang beberapa menit. Bel terdengar lagi. Yuzu kembali membuka pintu.

"Maaf, apakah ini rumah Kitaoka?" tanya seseorang pemuda dengan jas yang dikenakan dengan rapi sambil membawa koper hitam.

"Bukan, ini rumah keluarga Kurosaki."

"Oh, terima kasih, permisi." dan pintu kembali tertutup. Lalu beberapa menit kemudian terdengar bel berbunyi. Yuzu membukanya pasrah. Ternyata SPM panci. Pintu tertutup lagi dan Yuzu menangis.

"Karin…" Isshin yang melihatnya sedih.

"Ichigo, kau cari dia, bawa dia pulang!" perintah Ichigo.

"Baiklah, ayah." dan Ichigo beranjak meninggalkan ayah dan Yuzu keluar rumah untuk mencari Karin.

Malam hari, cuaca sangat cerah. Bulan bersinar terang bersama bintang. Suasana terlihat sepi ditambah gonggongan anjing yang terdengar menakutkan. Angin berhembus pelan menyibakkkan rambut oranye Ichigo. Ichigo mendesah pelan. Sudah sedari siang Ichigo mencari Karin namun tidak kunjung ketemu.

"Ichigo!" Sapa seseorang yang ternyata Rukia. Dibelakangnya ada Sado dan Ishida.

"Rukia, Sado, Ishida?" Ichigo terkejut melihat mereka bertiga.

"Sedang apa kau disini? Sendirian pula?" tanya Ishida bingung.

"Aku sedang mencari adikku, Karin. Sudah 4 hari dia menghilang tetapi belum juga pulang. Adikku, Yuzu, terus saja menangis dan mengkahawatirkannya. Apa kalian melihat Karin?" tanya Ichigo. Dia berusaha menahan kekhawatirannya yang membuncah.

"Tidak, seharian ini aku tidak melihatnya." jawab Rukia.

"Baiklah, ayo kita cari adikmu!" usul Ishida.

"Memangnya kita akan mencarinya kemana? aku sudah mencari di tempat-tempat yang sering Karin kunjungi tetapi tidak ada…?" kata Ichigo putus asa.

"Ichigo yang ku kenal adalah Ichigo yang kuat, tidak mudah putus asa, dan selalu semangat serta selalu tersenyum walau apapun yang terjadi, bukan yang seperti ini!" kata Rukia kesal. Ia menjitak kepala Ichigo.

"Aduh, sakit tahu! " kata Ichigo memegangi kepalanya yang benjol. Di seberang sana tidak jauh dari tempat Ichigo dan yang lain berdiri, ada Karin yang berjalan pulang. Ia yang melihat Ichigo dan yang lain terkejut.

"Kakak? sedang apa ia disini?" gumam Karin bingung. Ichigo yang tidak sengaja menoleh melihat Karin. Ichigo yang melihatnya terkejut, begitupula Karin.

"Karin….?" Rukia, Sado, dan Ishida menoleh. Mereka juga terkejut melihat Karin ada disitu. Ichigo berlari memeluk adiknya. Karin hanya terkejut dan tersenyum.

"Kakak? Sedang apa kakak disini?" tanya Karin tanpa dosa sedikitpun.

"Huh, seharusnya aku yang bertanya begitu! Dari mana saja kau? sudah 4 hari menghilang dan tidak pulang. Kau tahu betapa khawatirnya kami?! Yuzu sampai menangis tidak kunjung makan dan istirahat!" teriak Ichigo marah.

"Maafkan aku, aku pergi untuk menenangkan hati dan pikiran. Sekarang hati dan pikiranku sudah tenang. Jadi, ayo kita pulang. Tetapi… Oh, ya, ada yang ingin kusampaikan pada kakak…" kata Karin. Ichigo menaikkan satu alisnya, bingung.

"Apa?"

"Ini tentang teman kakak, aku mohon berjanjilah padaku. Tolong lindungi dia, jangan biarkan dia terbawa lagi dalam arus kegelapan, itupun jika kakak masih menganggapnya teman…" Lalu Karin berjalan pergi meninggalkan Ichigo dan yang lain.

"Apa maksud perkataanmu?" tanya Ichigo pelan. Dia terkejut mendengar kata-kata Karin. Begitupula Rukia, Ishida, dan Sado. Karin tidak menjawab dan dia berlalu saja.

"Karin!" teriak Ichigo. Ichigo meminta penjelasan Karin karena ia tidak paham dengan maksud kata-kata Karin tetapi Karin pergi menjauh dan hanya Rukia, Sado, Ishida, dan malam yang mendengar teriakannya.

Flashback :

Karin berjalan menyusuri lorong gang. Lalu dia kembali bertemu Tatsuki. Mereka saling pandang.

"Kakak….." Tatsuki melihat pohon-pohon dan bangunan yang hancur.

"Apakah yang melakukannya adalah Arrancar?" tanyanya.

"Eh, darimana kakak tahu?" tanya Karin menghela napas lelah.

"Aku juga berhadapan dengan mereka. Dua orang perempuan yang kehilangan kasih sayang karena tuannya lebih menyayangi sang putri tawanan." jelas Tatsuki. Karin juga menghela napas panjang sebagai respon.

"Ya, yang kuhadapi adalah Arrancar autis vs idiot tingkat tinggi. Tetapi, Cero dan Balanya luar biasa hebat." kata Karin.

"Mereka mengincar Inoue…"

"Eh?" Karin menoleh menatap Tatsuki. Tatsuki tidak menoleh dan meemjamkan matanya. Angin berhembus membelai rambutnya dan rambut Karin.

"Dua perempuan itu ingin membunuh Inoue…" Mata Tatsukipun terbuka.

"Apa? Tidak mungkin!"

"Aku bertarung dengan mereka. Beruntung mereka tidak mengeluarkan Resurreccion mereka. Mereka bukan tandinganku tetapi sekiranya aku berhasil menghalau mereka bertemu Inoue dan merekapun pergi." Karin menatap ke depan nun jauh di sana. Angin kembali membelai rambutnya.

" Aku berjanji akan melindungi Inoue semampuku walau apapun yang terjadi dan walau nyawa taruhannya. Mungkin orang lain yang mendengarnya hanya tertawa mengejek. Aku sadar dan aku tahu, aku tidak pantas mengatakan ini karena aku bukanlah orang yang kuat seperti Ichigo dan yang lain tetapi ini adalah janjiku, janjiku pada Inoue sejak pertama kami bertemu…" ucap Tatsuki tegas. Karin memandang Tatsuki dalam diam.

"Melindungi ya…" Karin menatap ke atas, menatap bulan yang bersinar terang ditemano bintang-bintang yang berkelip. Kembali angin memebelai rambutnya. Lalu, ia tersenyum simpul.

' Ya, akupun juga begitu, Tatsuki…..' gumam Karin dalam. Ia menatap bulan dan bintang yang bersinar terang.

End of flashback

TBC

Yay, editing chapter 2 selesai. (Gubrak saking lelahnya).

Awalnya aku mau nyantumin 1 years after Winter War tetapi nanti alurnya jadi tidak nyambung karena kan dalam Winter War Arc Wonderweiss tewas di tangan Yamamoto jii-san. Jadi, aku cantumkan saja secara tidak langsung yaitu awal plot New Captain Arc. (Masalahnya, dalam anime, setelah Ichigo berhasil mengalahkan Grimmjow, minggu depannya malah selipan plot ini).

Jujur, mungkin absurd bin gaje juga menyertakan Wonderweiss dalam aksi Menoly dan Loly ini. Dalam anime, manga, dan OVA kan hanya mereka berdua. Apalagi mereka tidak akrab sama sekali dengan Menoly dan Loly. Tetapi, aku selalu membayangkan bagaimana jikalau Wonderweiss bertemu Karin dan bagaimana rekasi Karin melihat betapa idiot dan autisnya Wonderweiss. Aku juga membayangkan kalau mereka adalah lawan yang sepadan (secara fisik dan usia(?)) walau faktanya 100% bertolak belakang dan berbanding terbalik.

Tetapi, tetap, Mohon reviewnya, minna… Arigatou Gozaimasu… ^_^