Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Jolly Roger Fantasy belongs to Iisaka Yukako

Rate: T

Genre: Romance/ Adventure

Main Pairing: Naruto x Hinata

Slight Shikamaru x Temari

Warning: OOC, OOC dan OOC, Typo, AU, alur cepat, EYD berantakan, minim deskripsi, perubahan latar tempat yang begitu cepat, setiap chapter relatif pendek, cerita tidak berbeda jauh dengan komik aslinya.

Sebelum membaca cerita, perhatikan WARNING terlebih dahulu!

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini. Jika ada kesamaan ide, saya tidak tahu apa-apa.

Btw, apakah ff yang terinspirasi dari sebuah komik termasuk plagiat? Karena saya tidak meminta ijin kepada mangakanya terlebih dahulu. ._.a

DON'T LIKE DON'T READ!

Yosh ... douzo!

.

.

.

Princess and Pirate

Sebelumnya:

"Hinataaa ... awaaaas."

Jleb.

Bunyi tusukan pedang terdengar di telinga Hinata. Tapi itu bukan berasal dari tubuhnya. Tepat saat itu juga dia merasa ada seseorang yang memeluknya.
Perlahan-lahan Hinata membuka matanya. Apa yang terjadi? Dia melihat darah segar mengalir dari bahu kanan Naruto. Sedangkan musuh mereka tadi telah dikalahkan oleh Iruka-san. "Kapten Naruto! Kau tak apa-apa?"

"Ah, iya. Aku baik-baik saja." Padahal wajah Naruto jelas menahan kesakitan. Naruto tidak memperdulikan dirinya sendiri. Dia lebih mengkhawatirkan Hinata.

"Bagaimana keadaanmu, Hinata?"

"Dasar bodoh."

Hinata memukul dada Naruto dengan kepalan tangannya dan kemudian memeluk Naruto diiringi isakan tangis dari bibirnya.

Hinata kesal pada dirinya sendiri. Bukannya menolong mereka, dia malah menyusahkan bahkan menyebabkan Naruto terluka. Naruto hanya membelai rambut Hinata untuk menenangkannya. Dan Kyuubi hanya berdiri di bahu kiri Naruto.

"Kapten! Semua musuh telah dilumpuhkan. Mereka semua sudah kembali ke kapalnya." Lapor Teuchi-jisan.

"Terima kasih karena kalian telah berjuang keras. Segera masuk ke dalam dan obati luka kalian."

"Kapten juga harus mengobati luka kapten."

"Iya, aku juga akan mengobati lukaku." Naruto tahu dia tak akan menang jika berdebat dengan Iruka-san. Jadi lebih baik dia menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh orang yang telah dianggapnya ayah itu. "Baiklah! Kalau begitu kami masuk dulu."

Awak kapal langsung meninggalkan Naruto dan Hinata bertiga dengan Kyuubi. Hinata terlihat sangat lelah. Wajar saja, sepertinya dia baru pertama kali mengalami hal seperti ini.

"Hinata, ayo kita masuk. Lebih baik kau istirahat."

"Um.." Hinata mengangguk lemah. Mereka bertigapun segera masuk menyusul yang lain.

.

.

CHAPTER 3

.

.

Tok. Tok. Tok.

Terdengar bunyi ketukan pintu dimana Hinata berada. Kemudian pintu itu terbuka dan munculah sesosok pemuda berambut pirang jabrik dengan membawa sebuah nampan berisi makanan dan beberapa obat. Tidak ada yang mempersilahkannya masuk sebenarnya, tapi dia masuk juga.

Orang itu-Naruto-menghampiri tempat tidur Hinata. Hinata masih tidur pulas bersama Kyuubi. Naruto memperhatikan wajah damai itu, dan dia pun tersenyum tipis. "Cantik."

Saat itu juga, Hinata bergerak dan mulai mengerjapkan matanya. Ketika kesadarannya benar-benar telah kembali, Hinata agak terkejut melihat Naruto ada di ruangannya. Dia malu karena Naruto melihat wajah tidurnya dan keadaannya yang sekarang agak berantakan.

"Na-Naruto. Kenapa kau ada disini?" Hinata langsung menutupi tubuhnya dengan selimut karena dia hanya memakai gaun tidur tipis-yang diberi Naruto tadi malam. Naruto dapat dari mana, dia tidak bertanya.

Naruto agak salah tingkah. "Itu ... aku hanya ingin mengantarkan makanan dan obatan untukmu. Aku letakkan disini, ya!" nampan yang dari tadi dipegang Naruto, diletakkannya diatas meja dekat tempat tidur Hinata.

"Ah, iya. Terima kasih." Kemudian Hinata ingat sesuatu. "Bagaimana dengan lukamu sendiri, Naruto?"

Tanpa menunggu jawaban dari Naruto, Hinata langsung menarik tubuh Naruto mendekat dan menyingkap bajunya. Berani juga, dia.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya ingin melihat lukamu." Hinata terus berusaha untuk melihat luka Naruto. Dan betapa kagetnya dia ketika melihat tubuh Naruto. Luka-luka akibat pertempuran terlihat jelas di kulit tannya. Dan satu goresan lebar melintang di bagian punggungnya.

"Lihat! Luka kemarin hanya sekecil ini. Tidak berarti apa-apa." Naruto menunjuk luka dibahu kanannya.

Entah sejak kapan, air mata sudah mengalir di pipi Hinata. Dia langsung menghambur ke pelukan Naruto dan menangis sejadi-jadinya didada bidang tersebut. Hinata merasa kagum, terharu, sedih, kaget, semua bercampur aduk. Dia menganggap Naruto sangat hebat. Sudah banyak kejadian yang dia alami selama ini. Naruto yang tiba-tiba dipeluk merasa kaget. Tapi akhirnya dia mebelai punggung yang sedikit bergetar itu. "Sudahlah, aku baik-baik saja. Ini sudah biasa untukku."

Sedikit demi sedikit Hinata mulai tenang. "Um..."

Kresek. Kresek.

"Siapa diluar?" Naruto melemparkan belatinya ke arah pintu.

Gubrak.

Awak-awak kapal yang dari tadi mengintip mereka dari balik pintu jatuh tersungkur dengan tidak elitnya.

Naruto menatap garang awak kapalnya. "Apa yang kalian lakukan disini?"

"Eh, kami hanya-wah ... apa dia sudah menjadi milikmu, kapten?" Iruka-san yang melihat keadaan Naruto bertelanjang dada serta Hinata berada dipelukannya bertanya mesum.

Naruto dan Hinata saling pandang terus menyadari bahwa mereka masih berpelukan dan segera melepaskan diri.

Naruto dan Hinata merona. "Ti-tidak. Kami hanya-ah, sudahlah. Cepat keluar dan kerjakan kembali tugas kalian."

"Hahahaha..." Awak kapal tertawa girang karena telah berhasil menggoda kapten mereka, membuat Kyuubi yang masih tidur jadi terbangun.

"Dasar mereka itu. Oh iya, Hinata. Habiskan sarapanmu dan jangan lupa minum obatnya."

"Iya, terima kasih."

"Hm ... aku keluar dulu." Naruto setelah mengambil bajunya langsung berjalan keluar. Hinata hanya memperhatikan punggung Naruto sampai pintu tertutup.

"Baiklah, Kyuubi. Ayo kita makan."

"Pii~" Kyuubi berseru girang.

Malam haripun tiba. Awak-awak kapal saling berkumpul untuk berbagi cerita. Hinata juga bergabung di antara mereka. Dia duduk disebelah Naruto dengan memangku Kyuubi.

Suara tawa mengiringi cerita-cerita mereka. Kali ini giliran Teuchi-jisan yang bercerita dan merupakan bencana bagi Naruto. Pasalnya, Teuchi-jisan sering kali menceritakan kisah horror.

"Suatu malam disebuah jalan dekat hutan." Teuchi-jisan memulai ceritanya. Kegelapan dengan suara gagak menjadi latar belakangnya. "Ada seorang pemuda yang berjalan sendirian. Tiba-tiba dia mendengar suara perempuan menangis." lanjutnya. Yang lain mendengarkan dengan seksama sedangkan Naruto sudah gemetaran.

"Kemudian, dia mencari asal suara itu. Dia melihat seorang gadis duduk ditepi jalan sambil menutup wajahnya." Teuchi-jisan bercerita sambil mengelilingi awak kapal lainnya.

"Pemuda itu pun langsung mendatangi gadis itu. Diapun bertanya, kenapa menangis? Gadis itu pun melepaskan tangan yang menutupi wajahnya." kali ini Teuchi-jisan menghampiri Naruto. Inilah bagian klimaksnya. Naruto semakin gemetar sedangkan yang lain tegang menunggu reaksi Naruto.

"Ketika pemuda itu melihat wajah sang gadis, dia kaget karena wajah tersebut penuh dengan darah yang mengalir dari matanya. 'Huhuhu... Wajahku.. . Tolong.' kata perempuan itu sambil menangkap tangan si pemuda dan-"

"Huwaa..." Naruto berteriak histeris dan seketika itu juga memeluk seseorang yang berada paling dekat dengannya-Hinata.

"Eh..." Hinata kaget plus blushing mendapati Naruto yang tiba-tiba memeluknya.

Awak kapal hanya tersenyum jahil melihat mereka. Ada juga yang tertawa terbahak-bahak karena reaksi Naruto yang ketakutan.

"Ah ... maaf." Naruto langsung melepas pelukannya ketika sadar dengan apa yang telah dia lakukan.

"Ti-tidak apa-apa."

"Haha, Kapten Naruto memang begitu. Dia memang pemberani dengan hal seperti petarungan atau hal nyata lainnya tetapi takut pada hal gaib."

"Iruka-san. Jangan bicara yang tidak-tidak."

Dan acara berbagi cerita pun diganti dengan kejar-kejaran antara Naruto dan Iruka-san.

"Hihi..." Hinata hanya tertawa geli melihat tingkah mereka. Dia tidak menyangka bahwa Naruto yang pemberani takut dengan 'Hantu'. Bahkan Hinata sempat merasakan tubuh Naruto yang gemetaran.

Tapi satu hal yang Hinata tahu. Dia bersyukur karena berada diantara mereka. Semua awak ramah dan baik padanya. Dia juga senang bertemu Naruto. Entah kenapa dia jadi dberdebar jika berada disisi Naruto.

Saat melihat Naruto tertawa lepas seperti sekarang ini, Hinata jadi ikutan tertawa. Entah sihir apa yang digunakan si kepala durian itu.

"Pii..."

Sepertinya Kyuubi juga senang disini. Tanpa sengaja pandangan Naruto dan Hinata bertemu. Naruto tersenyum dan sukses membuat Hinata merona.

Hari sudah semakin larut. Mereka memutuskan untuk segera tidur agar besok tidak kelelahan.

Keesokan harinya...

"Teuchi-jisan. Apa persediaan makan kita masih ada?"

"Untuk beras kita masih punya, tapi bahan lainnya sudah menipis."

"Kalau begitu, kita singgah ke pulau terdekat."

"Berarti kita akan mampir ke Suna?" Iruka-san-yang berada di antara mereka terlihat ragu menyampaikannya.

Naruto terlihat berpikir. "Ya. Kita akan ke Suna."

"Tapi..."

"Tidak apa-apa."

"Hah ... baiklah."

Hinata yang tidak mengerti apa-apa menatap mereka bingung.

"Kenapa Naruto terlihat sedih ketika ingin ke Suna?" Hinata membatin.

Iruka-san yang mengerti, berbisik. "Nanti akan kuceritakan."

"Eh?"

"Terlihat jelas diwajahmu."

"Iya."

Dan kapal pun segera berlayar menuju Suna.

-TBC-

Balasan review :

Ans Micky Namikaze: ah.. makasih. semoga di chap ini romancenya keliatan. Hehe. Makasih atas koreksinya. Saya emang bingung menulis kata-kata. Akhirnya jadi –errr- begitulah. Hehe ripiu lagi ya… :D

Matsumoto Rika: hehe.. syukurlah cerita ini jadi seru. Terima kasih atas doanya. :D dah apdet nih.^^

KATROK: ni dah lanjut :D makasih dah ripiu ^^

ZephyrAmfoter: hm.. maaf. Kaya'nya kali ini juga singkat deh. 0.0 Um… Makasih dukungannya. :D

Yume Shinkou: hehe ga pa-pa.. Um,, saya akan usahain di chap depan akan munculin request-annya. Makasih dah ripiu ^^

Rurippe no Kimi: hehe.. kaya'nya saya belum pantes deh di panggil senpai. :D Rippe dah mau baca dan ripiu aja saya dah senang.^^ dan makasih dah di fave. Iya, saya kelas 3 SMA. :D

NaHi's Lover: ah.. makasih. Ni dah apdet. Hehe makasih ripiunya :D

Tanigawa Rizumi-chan: hehe.. makasih. Ni lanjutannya :D

21 Februari 2011

Love shower,

Maru

Salam damai NHL ^^v