Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Jolly Roger Fantasy belongs to Iisaka Yukako
Rate: T
Genre: Romance/ Adventure
Main Pairing: Naruto x Hinata
Warning: OOC, OOC dan OOC, Typo, AU, alur cepat, EYD berantakan, minim deskripsi, perubahan latar tempat yang begitu cepat, cerita tidak berbeda jauh dengan komik aslinya.
Sebelum membaca cerita, perhatikan WARNING terlebih dahulu!
Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini. Jika ada kesamaan ide, saya tidak tahu apa-apa.
Btw, apakah ff yang terinspirasi dari sebuah komik termasuk plagiat? Karena saya tidak meminta ijin kepada mangakanya terlebih dahulu. ._.a
DON'T LIKE DON'T READ!
Yosh ... douzo!
.
.
.
Princess and Pirate
Sebelumnya:
Keesokan harinya...
"Teuchi-jisan. Apa persediaan makan kita masih ada?"
"Untuk beras kita masih punya, tapi bahan lainnya sudah menipis."
"Kalau begitu, kita singgah ke pulau terdekat."
"Berarti kita akan mampir ke Suna?" Iruka-san-yang berada di antara mereka terlihat ragu menyampaikannya.
Naruto terlihat berpikir. "Ya. Kita akan ke Suna."
"Tapi..."
"Tidak apa-apa."
"Hah ... baiklah."
Hinata yang tidak mengerti apa-apa menatap mereka bingung.
"Kenapa Naruto terlihat sedih ketika ingin ke Suna?" Hinata membatin.
Iruka-san yang mengerti, berbisik. "Nanti akan kuceritakan."
"Eh?"
"Terlihat jelas diwajahmu."
"Iya."
Dan kapal pun segera berlayar menuju Suna.
.
.
CHAPTER 4
.
.
Dermaga Suna sudah ada di depan mata. Kapal-kapal besar maupun kecil berjejer rapi disana. Entah itu kapal bajak laut lain, kapal nelayan atau pun kapal milik pribadi. Di sebelah kanan dermaga terdapat hamparan gurun pasir yang sangat luas. Sejauh mata memandang, hanya pasir dan pasir yang bisa dilihat. Sedangkan di sebelah kiri dermaga, terdapat sebuah desa kecil serta pasar yang selalu ramai. Tak jauh dari sana, sebuah istana yang sangat megah berdiri dikelilingi beberapa bangunan yang tak kalah besarnya. Di sanalah pusat dari Suna tersebut. Sistem pemerintahan di daerah Suna berupa kerajaan, sama seperti daerah lain. Kadang-kadang raja dari kerajaan tetangga datang berkunjung hanya sekedar untuk membahas kerjasama sampai acara jodoh-menjodoh.
Kapal Naruto pun sudah merapat ke dermaga. Beberapa awak kapal segera turun untuk membeli perlengkapan kapal. Begitu juga dengan Iruka-san. Dia bertugas untuk membeli bahan makanan yang sudah hampir menipis. Hinata dan Kyuubi ikut bersamanya. Awalnya dia menolak, tapi karena mereka tetap bersikeras, apa boleh buat. Naruto juga mengijinkan. Ngomong-ngomong tentang Naruto, dia tetap berada di kapal. Para awak kapal sudah mengerti kenapa Naruto tidak berjalan-jalan seperti biasanya. Hinata yang memang sudah penasaran dari kemarin, langsung mengajak Iruka-san bergegas meninggalkan kapal.
.
.
"Jadi, begini ceritanya." Setelah merasa sudah agak cukup jauh, Iruka-san memulai ceritanya sambil berjalan. Hinata hanya diam mendengarkan.
"Sebenarnya-" Iruka-san memberi sedikit jeda. "-Kapten Naruto adalah seorang pangeran."
"Eh?"
"Dia adalah putra kedua dari Namikaze Minato bersama Namikaze Kushina, raja dari Kerajaan Suna ini."
Tidak ada tanggapan dari Hinata, Iruka-san menambahkan. "Dia mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Deidara dan adik perempuan bernama Temari. Dia sangat menyayangi kedua saudaranya itu."
Hinata masih mendengarkan dengan baik begitupun Kyuubi.
"Tapi kakaknya-Deidara, merasa iri padanya. Karena kapten Naruto anak yang ceria dan sangat akrab dengan semua orang sehingga dia disayang oleh mereka."
"..."
"Suatu hari, kira-kira saat Deidara-sama berumur 7 tahun sedangkan Kapten Naruto berumur 5 tahun. Saat itu ada seekor burung yang sedang terluka, Kapten melihat itu. Kapten yang notabenenya baik hati, merasa kasihan dan ingin merawat burung itu hingga sembuh. Kemudian dia membawa burung itu ke dalam istana, mengobatinya dan memberikan sebuah kandang untuk burung kecil itu dan menyimpannya di kebun istana. Kapten bermain dengan burung itu seharian. Tapi ketika hari sudah malam, Kapten segera masuk dan berjanji akan mengunjungi burung itu kembali besok. Keesokan harinya..."
Karena merasa Iruka-san tidak melanjutkan ceritanya, Hinata kemudian bertanya. "Apa yang terjadi?"
Iruka-san menghela nafas pelan. "Saat Kapten Naruto mengunjungi burung itu lagi, dia sudah mati. Sebuah belati menancap di tubuhnya. Kapten tahu milik siapa belati itu. Dari situlah Kapten mengerti betapa bencinya Deidara-sama padanya. Sebelumnya kapten sudah mengira, tapi dia tidak memperdulikan hal itu. Dan sejak saat itu, Kapten Naruto memutuskan untuk meninggalkan istana. Aku sudah melarangnya karena Kapten masih terlalu kecil untuk berkelana. Tapi Kapten Naruto tetap bersikeras. Dia mengatakan bahwa untuk apa tinggal di Istana jika kakaknya sendiri membencinya. Melihat matanya yang penuh dengan semangat, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku memutuskan untuk ikut dengannya dan dia sangat senang akan hal itu."
Iruka-san mengambil napas pendek kemudian menghembuskannya dan melanjutkan ceritanya lagi.
"Pada malam harinya, kami berdua menyelinap keluar istana dengan berbekal beberapa helai pakaian dan makanan sebanyak yang bisa kami bawa. Aku membeli sebuah kapal kecil dari kenalanku dan petualangan pun dimulai. Untuk melindungi diri Kapten Naruto, aku mengajarinya ilmu bela diri dan berlatih pedang. Karena keseriusannya dalam berlatih, dia menjadi sangat hebat seperti sekarang ini. Selama itu kami selalu singgah dari desa ke desa untuk menambah pengalaman. Saat umur 12 tahun, Kapten memutuskan untuk menjadi bajak laut. Kami mendapatkan awak kapal karena Kapten sangat baik pada semua orang, sehingga beberapa dari mereka ingin ikut bersamanya. Selama 5 tahun menjadi bajak laut, kami terus mencari harta karun juga mengincar Kyuubi untuk menemukan pulau harta karun yang tiada duanya. Dan akhirnya kami mendapatkannya bersama denganmu."
"Kenapa Iruka-san mengetahui semua tentang Naruto?"
"Karena aku yang mengurus Naruto dari dia masih bayi. Aku berhutang budi pada orangtuanya karena telah merawatku sejak kecil. Padahal mereka hanya menemukanku tergeletak di tepi jalan. Mereka menerimaku apa adanya."
Hinata mengangguk mengerti. "Oh ... apa kalian tidak pernah kembali lagi ke Suna?"
"Kami pernah sekali kembali ke sini, tapi itu pun tanpa pengetahuan orang lain."
"Apakah orang dari istana tidak mencari kalian?"
"Sepertinya pernah. Tapi karena kami tidak menetap, akhirnya mereka tidak pernah menemukan kami. Satu lagi, raja tidak tau kalau Kapten Naruto menjadi bajak laut. Orang-orang juga tidak mengetahui kalau bajak laut yang selama ini mereka kenal adalah seorang putra mahkota kerajaan Suna. Itu disebabkan karena Kapten Naruto mengganti namanya. Sebenarnya nama asli kapten Naruto adalah Namikaze Naru."
Hinata mulai paham tentang kehidupan Naruto. Ternyata Naruto kecil sudah melewati kejadian menyedihkan begitu.
"Eh. Kita sudah sampai di pasarnya. Hinata-san tunggu di sini. Aku ingin membeli sayur-sayuran di situ dulu."
"Iya." Hinata asyik melihat daerah sekitar tanpa menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya. Tangan orang tersebut terulur dan langsung membekap Hinata. "Hmmphhh."
"Pii~" Hinata mendengar samar-samar suara Kyuubi yang memberontak dan seketika itu juga kesadarannya menghilang.
"Hinata-san ... aku sudah-lho! Hinata-san? Kamu di mana?"
.
.
"Mmmh..."
Hinata memegang kepalanya yang terasa sakit. Saat matanya benar-benar terbuka, dia melihat sekeliling yang terasa asing baginya.
"Dimana aku?" Hinata coba mengingat kembali kejadian yang baru dia alami.
"Tadi aku pergi bersama Iruka-san kepasar. Kemudian aku menunggu Iruka-san yang sedang membeli sayuran dan saat itu juga ada seseorang yang membiusku." Hinata bergumam sendiri.
"Pii..."
"Ah, Kyuubi. Syukurlah kau juga ada di sini. Setidaknya aku tidak sendirian. Tapi, kita dimana?"
Krek.
Bunyi pintu terbuka -menandakan ada seseorang yang masuk-membuat Hinata dan Kyuubi mengalihkan pandangannya ke asal suara.
Terdapat seorang pria berambut pirang berponi yang menutupi setengah wajahnya dan rambutnya diikat setengah masuk dengan seringai menakutkan.
"Kau sudah bangun, Hinata-chan?"
"Si-siapa kau? Bagaimana kau tahu namaku?"
"Aku?" tunjuk laki-laki itu pada dirinya sendiri. "Aku adalah calon tunanganmu yang kau tinggal kabur. Dan bagaimana aku tahu kau adalah Hinata, itu dari fotomu."
Seringai itu lagi. Hinata benci melihatnya.
"Terus apa maumu?"
"Aku hanya ingin mengambilmu kembali, Hinata-hime."
"Cih. Aku tak sudi."
"Terserah kau saja. Tapi yang harus kau tahu, kau tak bisa lari dari sini. Karena kapal ini akan segera berangkat. Aku akan membawamu kembali ke tempatmu."
"Aku tidak mau. Lepaskan aku. Keluarkan aku dari sini."
Laki-laki itu menghiraukan Hinata. Dia malah berlalu pergi kemudian mengunci kamar Hinata."
"Oh, Tuhan. Apa yang harus kulakukan?" Hinata terlihat bingung. "Naruto..."
.
.
"Iruka-san dan Hinata kenapa lama sekali?"
Teuchi-jisan yang pusing melihat Naruto mondar-mandir terus akhirnya angkat bicara. "Sabarlah, Kapten. Sebentar lagi mereka pasti akan kembali."
"KAPTEN!"
"Tuh 'kan. Itu dia datang."
Tapi suara Iruka-san yang beda dari biasanya membuat Naruto merasa heran. "Ada apa Iruka-san? Lho, mana Hinata?" naruto bertanya panik.
"Itulah masalahnya Kapten. Saat aku kembali dari membeli sayuran, dia sudah tidak ada."
"APA?"
"Maafkan aku Kapten karena tidak bisa menjaga Hinata-san dengan baik." Iruka-san menunduk menyesali kecerobohannya.
"Sial." Erang Naruto frustasi.
"Maaf mengganggu, Kapten. Kapal yang baru saja berangkat itu terlihat mencurigakan. Salah satu dari kita juga tadi melihat ada seorang gadis yang mirip Hinata-san digendong oleh seorang laki-laki berambut pirang." ujar salah satu awak kapal.
"Apa? Kalau begitu cepat bentangkan layar. Kita kejar mereka."
"Baik!"
Dan pengejaran Hinata pun segera dilakukan. Awak kapal pun hulu balang dalam mengendalikan kapal. Mereka tidak mau melihat Kapten mereka mengamuk karena kehilangan Hinata.
.
.
"Bagaimana caranya aku keluar dari sini?" Hinata melihat sekelilingnya, mencari jalan agar dia bisa pergi secepat mungkin dari sini. Bagaimana caranya kembali ke kapal Naruto, akan dipikirkannya nanti. Tiba-tiba dia melihat sebuah jendela kecil berbentuk lingkaran. "Kurasa aku bisa keluar melalui jendela itu."
Hinata kemudian mengambil sebuah kursi, meletakkannya di bawah jendela yang tidak terlalu tinggi itu dan kemudian melompatinya. Tidak lupa dengan Kyuubi dipelukannya.
Hup. Berhasil.
Kemudian dia mengendap-endap agar tidak ketahuan awak kapal juga laki-laki aneh itu. Beberapa kali hampir saja dia kelihatan jika tidak cepat-cepat sembunyi.
Saat dia hendak melangkah keluar, ada seseorang yang menarik tangannya. "Kya, lepaskan." Hinata memberontak.
"Ssst ... diamlah. Ini aku, Naruto."
"Eh! Ah ... Na-Naruto. Bagaimana-"
"Ceritanya panjang. Lebih baik kita segera keluar dari sini."
Saat hendak pergi, mereka terkejut karena para awak kapal sudah mengepung mereka.
"Wah... Wah... Ada tikus kecil yang menyusup rupanya."
…
Naruto kini sudah terikat di tiang depan kapal sedangkan Hinata sudah berdiri di samping laki-laki itu. Kedua pergelangan tangan Hinata dipegang oleh awak kapal dan Kyuubi dipegang awak lainnya.
"Nii.. Dei-nii."
Hinata bingung. "Nii? Naruto memanggil orang itu kakak? Dan Dei? Ah, jangan-jangan..."
"Wah ... ternyata kau masih mengenaliku ya, Naru-chan? Tak kusangka kau lah bajak laut yang terkenal itu. Kau merubah namamu menjadi Naruto ya? Luar biasa."
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ck. Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan dikapalku? Oh ... aku tau. Kau ingin menculik tunanganku 'kan?" Deidara menyeringai.
"Tu-tunangan?"
"Bohong. Kau jangan percaya, Naruto."
"Hinata-chan. Kau memang tunanganku. Kita..."
"Aku tak pernah mau bertunangan denganmu."
"Hm ... kalau begitu, aku akan membuatmu menerima pertunangan kita." Deidara tersenyum licik. Hinata merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Aku akan memberikan dua pilihan. Kau mau menjadi tunanganku dan menikah denganku atau Naruto … mati."
Hinata merasa seperti disambar petir. Bagaimana bisa dia memilih salah satu pilihan itu.
"Kau tau, Hinata-chan. Naruto tidak menginginkanmu. Dia hanya ingin Kyuubi dan mencari harta karun. Dia memanfaatkanmu. Walaupun kau sudah menjadi bekasnya, aku akan menerimamu."
"Jangan lakukan itu Hinata. Dia hanya menggertakmu."
Dugh.
"Argh..." Naruto merasakan sakit setelah tendangan tepat di perutnya.
"Kau lihat Hinata-chan. Dia bisa lebih parah dari itu."
Hinata berpikir keras. Jika dia memilih menerima tunangan Deidara, Naruto akan selamat. Tapi konsekuensinya adalah kebahagiaan Hinata. Dia sama sekali tidak mencintai Deidara. Tapi dia...
"Baiklah. Aku mau menjadi tunanganmu. Tapi bebaskan Naruto."
"Jangan Hinata..."
"Kau dengar sendiri 'kan, Naru-chan? Dia memilihku." Deidara tersenyum puas.
"Hinata..."
"Tepati janjimu. Lepaskan Naruto."
Deidara langsung menyuruh anak buahnya melepaskan ikatan Naruto. Kemudian dia mengajak Hinata untuk masuk karena di luar sedang hujan deras.
Saat hampir memasuki kapal, Hinata menyentakkan tangannya yang dipegang Deidara dan menuju ke pinggir kapal. Semua terkejut melihat aksinya yang tiba-tiba.
"Sampai kapan pun aku tak akan bertunangan denganmu." Setelah mengatakan itu, Hinata langsung terjun ke laut bersama Kyuubi.
"HINATAAAA!" Naruto yang melihatnya juga ikut terjun. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Hinata.
"Dei-sama. Apa yang harus dilakukan?"
"Sekarang sedang ada badai. Lebih baik kita mencari mereka besok."
"Baik."
...
Matahari bersinar terik. Membuat seseorang yang sedang terbaring di atas pasir menutup matanya dengan punggung tangannya. Setelah merasa matanya mulai bisa beradaptasi, dia segera bangkit untuk duduk. "I-ini dimana?"
"Kau sudah sadar, Hinata?"
"Eh?" Hinata kemudian menoleh ke asal suara, didapatinya Naruto sedang duduk di sampingnya dengan memperlihatkan wajah khawatir. "Naruto? Kenapa-"
"Kemarin aku mengikutimu terjun ke laut. Tapi karena ada badai, aku jadi tidak bisa menemukanmu. Kyuubi lah yang membawa kita ke sini. Makhluk itu sangat ajaib."
"Pii~" Kyuubi berseru girang.
"Terima kasih, Kyuubi."
"Pii. Pii. Pii."
"Baiklah. Kita tunggu kapal datang menjemput dan lanjutkan mencari harta karun." Naruto berteriak semangat.
Hinata merasa hatinya ditusuk ribuan jarum mendengar penuturan Naruto. "Ternyata benar."
"Ha?"
"Kau ... kau hanya ingin mencari harta karun 'kan? Kau tak pernah menganggapku 'kan?
"Apa maksudmu, Hinata?"
"Aku ... jika tahu begini lebih baik aku menerima Deidara." Hinata berteriak histeris. Dia merasa kecewa, entah karena apa.
Ketika dia melihat ke arah Naruto, dia terkejut mendapati pandangan Naruto berubah gelap.
Hinata jadi takut melihat Naruto seperti itu. "Na-Naruto ... A-aku-"
"Jadi, kau pikir aku hanya memanfaatkanmu? Kau pikir lebih baik jika bersama Dei-nii?" Naruto merangkak mendekati Hinata.
"Na-Naruto..."
"Tidak akan kuberikan."
"Eh..."
"Kau tidak akan kuberikan pada siapapun." Naruto kemudian menarik tangan Hinata kasar, mendekatkan wajahnya, kemudian mencium Hinata dengan brutal.
"Mmmmh..."
"Sampai kapanpun tidak akan kuberikan." Naruto kembali mencium Hinata, mengunci tangannya agar tidak bisa bergerak. Hinata hanya bisa menangis. Dia tidak menyangka Naruto akan melakukan ini padanya.
"Pii..." Kyuubi memukul-mukul punggung Naruto agar menghentikan perbuatannya.
Naruto tersadar dan menyesali perbuatannya. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia akan melindungi Hinata. Tapi sekarang dirinya lah yang melukai gadis itu. Dia hanya menunduk lesu.
"Ma-maafkan aku Hinata. Aku khilaf."
Tubuh Hinata terlihat bergetar dalam tangisnya. Dia pasti sangat ketakutan.
Naruto kemudian memeluk Hinata lembut, berusaha untuk menenangkannya. "Maafkan aku. Aku terbawa emosi saat mendengar kau lebih memilih Deidara. Egois memang, tapi aku ingin kau hanya menjadi milikku." jelas Naruto sambil membelai rambut Hinata. Perlahan, isakan tangis Hinata sudah tidak terdengar.
"Aku memang bodoh karena tidak mengatakannya langsung. Jadi, kau mau memaafkanku 'kan, Hinata? Apa kau masih mau pergi bersamaku?"
Hinata terlihat berpikir. Dia juga merasa bersalah karena tidak percaya Naruto, padahal Naruto setulus itu padanya. "I-iya. Aku mau." Akhirnya dia menjawab dengan senyum termanisnya.
Naruto tersenyum bahagia. "Terima kasih, Hinata. Aku memang senang mencari harta karun, tapi harta yang yang lebih berharga sudah kutemukan."
"Eh?"
Naruto sedikit merenggangkan pelukannya, ingin melihat wajah Hinata. Rona merah terlihat jelas disana. Kemudian dia memiringkan wajahnya dan semakin mendekati wajah Hinata. Hinata hanya menutup matanya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Terasa hembusan napas hangat Naruto yang semakin dekat dan kemudian dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Lembut, hangat, dan basah. Ciuman yang didasari rasa kasih sayang, tidak seperti ciuman tadi. Kyuubi menutup matanya dengan ekornya, tidak mau mengintip kemesraan mereka. Karena merasa pasokan udara semakin tipis, Naruto melepaskan ciumannya.
"Dan kamulah hartaku itu." bisik Naruto. Hinata tersenyum bahagia mendengar penuturan Naruto tersebut.
"Kapten!"
"Akhirnya mereka menemukan kita."
"Syukurlah. Apa kalian baik-baik saja?"
Naruto dan Hinata telah naik ke kapal. Masih terlihat semburat tipis di pipi Hinata. "Iya. Ayo kita berangkat."
"Iya!"
.
.
-TBC-
Balasan review :
Hinata uzumaki: iya nih. Naruto emang paling takut ama hantu. Ckckck *saya juga* :D
Um,, makasih dah ripiu..^^
Yume Shinkou: haha.. di chap ini dah dicerita'in. baca aja :D
Makasih dah ripiu ^^ … oia, shikatema-nya mungkin di chap depan. Maaf ya belum muncul sekarang. hehe
Roxas Sora Coolz: hehe.. udah saya panjangin nih. Makasih ripiunya :D
KATROK: ship.. dah lanjut.
Matsumoto Rika: iya.. saya usaha'in nggak akan berhenti.^^ makasih dah ripiu :D
ZephyrAmfoter: hehe.. dikomik aslinya emang kaya' gitu. :D
Iya, makasih. :D
NaHi's Lover: makasih.. :D ini lanjutannya.
28 Februari 2011
Love shower,
Maru
Salam damai NHL ^^v
